Pilihan di Tengah Keadaan Berbahaya

09 Februari 2023

Oleh Qin Mo, Tiongkok

Pada suatu musim dingin beberapa tahun yang lalu, seorang pemimpin tingkat atas memberitahuku bahwa para pemimpin dan pekerja dari gereja tetangga telah ditangkap polisi. Ada beberapa pekerjaan tindak lanjut yang harus ditangani di gereja tersebut, dan saudara-saudari tidak memiliki siapa pun untuk mendukung mereka. Beberapa dari mereka merasa waswas, negatif, dan lemah, serta tak mampu turut serta dalam kehidupan bergereja. Dia bertanya apakah aku bersedia memimpin pekerjaan di gereja tersebut. Aku merasa sedikit bimbang saat mendengar permintaannya, "Beberapa saudara-saudari di gereja itu baru saja ditangkap. Jika aku mengambil alih pekerjaan di sana, bagaimana jika aku juga ditangkap? Mengingat usiaku yang sudah lanjut, apakah tubuhku akan benar-benar mampu menahan siksaan dan pukulan si naga merah yang sangat besar? Jika aku tidak mampu menahan siksaan dan menjadi seorang Yudas, mengkhianati Tuhan, bukankah imanku selama bertahun-tahun ini akan menjadi sia-sia?" Namun kemudian aku berpikir, mengingat sulitnya keadaan saat ini, pekerjaan gereja membutuhkan seseorang untuk turun tangan di momen yang genting ini, jadi aku menyetujuinya dengan enggan.

Setibanya aku di gereja itu, Saudari Wang Xinjing menginformasikan bahwa para pemimpin, pekerja, dan beberapa saudara-saudari telah ditangkap, dan dia hanya bisa menghubungi segelintir saudara-saudari dari keseluruhan orang di gereja tersebut. Dia tidak dapat menghubungi mayoritas anggota gereja, sehingga mereka tidak bisa berkumpul. Mendengar perkataannya, kupikir, "Betapa mengerikan situasi ini. Kini si naga merah yang sangat besar memanfaatkan tetangga kami untuk mengawasi kami. Bagaimana jika saat aku datang dan mendukung saudara-saudari ini, tetangga mereka memperhatikan dan melaporkanku ke polisi? Selain itu, ada banyak saudara-saudari yang sudah ditangkap; jika salah seorang dari mereka tidak sanggup menanggung siksaan dan mengkhianati saudara-saudari lainnya, polisi akan mengawasi mereka. Jadi, jika aku pergi menemui saudara-saudari ini, bukankah aku hanya akan masuk ke dalam perangkap mereka? Jika aku ditangkap, tidak mampu menahan siksaan dan menjadi seorang Yudas, bukankah hari-hariku sebagai orang percaya telah berakhir? Itu berarti aku pasti tidak akan memperoleh keselamatan." Makin memikirkannya, makin aku menjadi takut; aku berpikir bahwa melaksanakan tugasku di sana benar-benar terlalu berbahaya. Rasanya seperti berjalan di ladang ranjau; salah satu langkah saja, semuanya akan berakhir. Pada saat itu, aku benar-benar menyesal telah pergi untuk mengelola pekerjaan di sana, dan aku tidak merasa termotivasi untuk melaksanakan tugasku. Lalu aku ingat bahwa Wang Xinjing adalah salah seorang anggota gereja tersebut dan dia lebih familier dengan situasi di sana secara keseluruhan, jadi akan lebih baik jika dia yang pergi untuk mengunjungi saudara-saudari. Aku sendiri baru sampai dan belum sepenuhnya memahami situasinya. Aku bisa meminta Wang Xinjing untuk pergi mengunjungi saudara-saudari, dan dengan demikian, aku tidak perlu membahayakan diriku sendiri. Namun kemudian aku berpikir, "Wang Xinjing tidak memahami banyak prinsip dengan baik dan kurang berpengalaman. Mengingat semua ini, mampukah dia benar-benar menindaklanjuti pekerjaan dengan baik? Akankah dia mampu menyelesaikan masalah saudara-saudari? Di sisi lain, jika aku sendiri yang pergi, bukankah itu berarti aku akan membuat diriku sendiri menghadapi bencana?" Setelah berulang kali menimbangnya di benakku, kuputuskan untuk menyuruh Wang Xinjing melaksanakan pekerjaan itu. Namun setelah beberapa hari, dia masih belum membuat kemajuan apa pun. Melihat hal ini, aku tahu bahwa aku harus pergi untuk mendukung saudara-saudari. Jika tidak, masalah mereka tidak akan diselesaikan, dan itu akan merugikan jalan masuk kehidupan mereka. Namun, mengingat betapa berbahayanya keadaan pada saat itu, aku berisiko ditangkap setiap kali aku menghubungi saudara-saudari. Jadi, aku benar-benar tidak berani melaksanakan pekerjaan itu sendiri. Akibatnya, satu bulan lebih telah berlalu, tetapi pekerjaan gereja belum banyak mengalami kemajuan. Wang Xinjing hidup dalam keadaan negatif. Aku hidup dalam keadaan waswas dan takut, jadi aku tidak berani bekerja sama dengannya dalam pekerjaan itu.

Suatu hari, aku tiba-tiba jatuh sakit, dan penyebab penyakit itu tidak dapat dipastikan. Pada saat itu, aku sadar bahwa mungkin ini adalah cara Tuhan untuk mendisiplinkanku, jadi aku berdoa kepada-Nya, memohon kepada-Nya untuk mencerahkanku agar aku bisa mengetahui maksud-Nya. Kemudian, aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Kesedihan Tuhan disebabkan oleh umat manusia, yang kepadanya Dia telah memiliki pengharapan, tetapi yang telah jatuh ke dalam kegelapan, dan itu karena pekerjaan yang Dia lakukan dalam diri manusia tidak memenuhi maksud-maksud-Nya, karena umat manusia yang dikasihi-Nya itu tidak semuanya bisa hidup dalam terang. Tuhan merasa sedih bagi umat manusia yang tidak bersalah, bagi orang yang jujur tetapi tidak tahu apa-apa, dan bagi orang yang baik tetapi tidak memiliki pandangannya sendiri. Kesedihan-Nya adalah lambang kebaikan-Nya dan belas kasihan-Nya, lambang keindahan dan kebajikan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Sangatlah Penting untuk Memahami Watak Tuhan"). Firman Tuhan sangat berkesan bagiku. Terutama saat aku membaca firman Tuhan, "Kesedihan Tuhan disebabkan oleh umat manusia, yang kepadanya Dia telah memiliki pengharapan, tetapi yang telah jatuh ke dalam kegelapan," aku merasakan perasaan bersalah yang mendalam. Karena penangkapan si naga merah yang sangat besar, saudara-saudari tidak bisa menjalani kehidupan bergereja yang normal, sehingga mereka tenggelam dalam perasaan putus asa serta kegelapan dan kehidupan mereka dirugikan. Melihat ini, Tuhan merasa cemas dan sedih, serta sangat berharap seseorang akan mempertimbangkan maksud-Nya dan segera datang untuk membantu serta mendukung saudara-saudari sehingga mereka dapat menjalani kehidupan bergereja yang normal. Namun adapun aku, aku menyerahkan pekerjaanku kepada saudariku demi keselamatanku sendiri dan bersembunyi untuk menjalani kehidupan yang tercela dan tanpa tujuan. Aku jelas-jelas tahu bahwa saudara-saudari tidak dapat menjalani kehidupan bergereja yang normal, dan jalan masuk kehidupan mereka telah dirugikan, tetapi aku tidak bertindak untuk menyelesaikan masalah ini. Aku begitu egois dan tercela! Aku ingat bagaimana biasanya ketika aku tidak berada dalam situasi yang berbahaya, aku yakin bahwa aku setia dan mampu meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diriku. Aku bahkan sering bersekutu kepada orang lain bahwa kita harus mencintai dan memuaskan Tuhan. Namun, ketika dihadapkan dengan situasi ini, aku hanya bisa memikirkan keselamatanku sendiri. Aku sama sekali tidak mempertimbangkan maksud Tuhan atau apakah kehidupan saudara-saudari dirugikan atau tidak. Aku sadar bahwa aku hanya membicarakan kata-kata dan doktrin; aku sedang menipu Tuhan dan juga manusia. Setelah menyadari hal ini, aku merasa sangat menyesal dan berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku selalu melindungi kepentinganku sendiri dan telah gagal mempertimbangkan maksud-Mu. Aku benar-benar tidak berhati nurani dan tidak bernalar! Tuhan, aku siap mempertimbangkan maksud-Mu dan melakukan yang terbaik untuk mendukung saudara-saudariku." Setelah itu, aku pergi untuk membantu dan mendukung mereka, berusaha untuk menyelesaikan masalah dan mengatasi kesulitan mereka.

Suatu hari, aku mendengar seorang saudari berkata, "Dua tahun lalu, lebih dari sepuluh saudara-saudari di gereja ini ditangkap. Bahkan saat ini, beberapa dari mereka masih belum dibebaskan. Polisi bahkan mengancam akan menghancurleburkan gereja kami." Aku sangat marah saat mendengarnya; setan-setan ini sangat bengis! Namun, aku juga tanpa sadar menjadi takut, dan berpikir, "Baru dua tahun berlalu, mereka telah datang dan menangkap lebih banyak anggota. Dan mereka bahkan mengancam akan menghancurleburkan gereja. Jika polisi tahu bahwa aku adalah pemimpin gereja, bukankah aku akan menjadi target utama mereka?" Memikirkan bagaimana saudara-saudari telah disiksa setelah ditangkap membuatku gemetar ketakutan, "Jika aku benar-benar ditangkap, akankah aku mampu menahan siksaan itu? Jika aku dipukuli sampai mati atau menjadi seorang Yudas, bukankah hidupku telah berakhir?" Pada saat itu, aku mendengar bahwa ada jauh lebih banyak saudara-saudari yang telah ditangkap, dan sepertinya benar-benar terlalu berbahaya bagiku untuk melaksanakan tugasku di lingkungan seperti ini. Pemikiran bahwa aku bisa ditangkap polisi kapan saja membuatku merasa waswas dan takut. Aku berdoa kepada Tuhan dan membaca firman-Nya: "Betapa pun 'sangat berkuasanya' Iblis, betapa pun lancang dan ambisiusnya dia, betapa pun besarnya kemampuannya untuk menimbulkan kerusakan, betapa pun luasnya kemampuannya untuk merusak dan memikat manusia, betapa pun cerdiknya tipu muslihat dan rencana jahat yang digunakannya untuk mengintimidasi manusia, atau betapa pun beragamnya wujud keberadaannya, dia tidak pernah mampu menciptakan satu pun makhluk hidup, menetapkan hukum atau aturan bagi keberadaan segala sesuatu, ataupun memerintah atau berdaulat atas objek apa pun, baik yang hidup maupun yang mati. Di dalam alam semesta dan cakrawala, tidak ada satu orang atau benda pun yang dijadikan olehnya atau yang ada karenanya; tidak ada satu orang atau benda pun yang berada di bawah kedaulatannya atau diperintah olehnya. Sebaliknya, dia tidak hanya harus ada di bawah kekuasaan Tuhan, tetapi juga harus taat pada semua perintah dan titah Tuhan. Tanpa seizin Tuhan, Iblis tidak dapat dengan mudahnya menyentuh bahkan setetes air pun atau sebutir pasir di tanah pun; tanpa seizin Tuhan, Iblis bahkan tidak bisa sembarangan mengganggu semut di atas tanah, apalagi umat manusia, yang diciptakan oleh Tuhan. Di mata Tuhan, Iblis lebih rendah daripada bunga bakung di gunung, daripada burung-burung yang terbang di udara, daripada ikan di laut, dan daripada belatung di tanah. Perannya di antara segala sesuatu adalah melayani segala sesuatu, melayani umat manusia, dan melayani pekerjaan Tuhan serta rencana pengelolaan-Nya" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik I"). Melalui firman Tuhan, aku menyadari bahwa semua hal berada di bawah kedaulatan Tuhan. Sebuas apa pun Iblis, dia tetaplah berada di tangan Tuhan. Tanpa seizin Tuhan, Iblis tidak akan berani bertindak sembarangan. Aku teringat saat Ayub diuji, tanpa seizin Tuhan, Iblis hanya bisa melukai dagingnya, tetapi tidak bisa merenggut nyawa Ayub. Dalam situasi yang kualami, bukankah sepenuhnya terserah Tuhan apakah aku akan ditangkap atau tidak? Sebuas dan seganas apa pun Iblis, tanpa seizin Tuhan, dia tidak akan bisa berhasil sekalipun si naga merah yang sangat besar berusaha menangkapku. Jika Tuhan mengizinkannya, aku tidak akan bisa lari sekalipun aku mencoba melakukannya. Hidupku berada di tangan Tuhan, dan Iblis tidak punya kuasa atas hidupku. Dengan merenungkan firman Tuhan, aku memperoleh pengetahuan tentang otoritas serta kedaulatan-Nya, dan aku tidak lagi terlalu waswas dan merasa jauh lebih bebas. Aku ingin mengatur saudara-saudari untuk mulai lagi menjalani kehidupan bergereja mereka sesegera mungkin. Selama waktu itu, Wang Xinjing dan aku berdoa dan mengandalkan Tuhan. Kami memikirkan cara untuk menghubungi saudara-saudari dan memberi mereka dukungan. Hasilnya, lambat laun mereka mulai menghadiri pertemuan, menjalani kehidupan bergereja, dan melaksanakan tugas dengan segenap kemampuan mereka.

Beberapa waktu kemudian, seorang saudari yang telah ditangkap dan kemudian dibebaskan memberitahuku bahwa aku telah dikhianati. Polisi sudah tahu bahwa aku adalah pemimpin dan di desa mana aku tinggal, dan mereka bahkan berkata telah meminta Biro Keamanan untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapku. Saat mengetahui hal itu, aku sangat terkejut; aku merasa sangat cemas dan takut. Mengingat bahwa polisi sudah memiliki begitu banyak informasi tentangku, aku bisa saja ditangkap kapan pun dan di mana pun. Dan jika aku ditangkap, aku pasti akan disiksa. Makin aku memikirkannya, makin aku menjadi takut, dan untuk sesaat, aku merasa lemah. Percaya kepada Tuhan di negeri si naga merah yang sangat besar terasa seperti berjalan di atas lapisan es tipis; bahaya mematikan menungguku di setiap langkah. Saat itu, aku berpikir, "Aku bisa pergi dan bersembunyi di rumah kerabatku untuk sementara. Setelah situasi di sini mereda, aku bisa melanjutkan tugasku." Namun, aku ingat bahwa beberapa saudara-saudari masih merasa waswas, negatif, dan lemah, serta sangat membutuhkan penyiraman dan dukungan. Jika aku meninggalkan posisiku di momen genting ini, bukankah itu berarti aku memberontak terhadap Tuhan dan menyakiti hati-Nya? Aku merasa gelisah dan tersiksa, dan tidak tahu apa yang harus kulakukan, jadi aku berdoa kepada Tuhan, memohon agar Dia memberiku kekuatan dan iman untuk terus melaksanakan tugasku. Kemudian, aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Di Tiongkok daratan, si naga merah yang sangat besar secara konsisten dan kejam menindas, menangkap, dan menganiaya orang-orang yang percaya kepada Tuhan, sering kali menempatkan diri mereka di lingkungan yang berbahaya. Sebagai contoh, pemerintah menggunakan berbagai dalih untuk menangkap orang-orang percaya. Setiap kali mereka menemukan daerah tempat tinggal para antikristus, apa yang pertama kali dipikirkan para antikristus? Yang mereka pikirkan bukan tentang mengatur pekerjaan gereja dengan baik, tetapi bagaimana caranya melepaskan diri dari situasi berbahaya ini. Ketika gereja menghadapi penindasan dan penangkapan, para antikristus tidak pernah menangani buntut peristiwanya. Mereka tidak mengatur sumber daya atau personel gereja yang penting. Sebaliknya, mereka mencari dalih dan alasan agar dapat mencari tempat yang aman bagi diri mereka sendiri dan tidak melakukan apa pun. ... Di lubuk hati para antikristus, keselamatan pribadi mereka selalu didahulukan. Ini adalah masalah dalam hati mereka yang selalu menjadi kekhawatiran mereka. Mereka berpikir, 'Aku tidak boleh mendapat masalah. Siapa pun yang mungkin tertangkap, aku tidak boleh tertangkap. Aku harus tetap hidup. Aku masih menantikan untuk mengambil bagian dalam kemuliaan tuhan ketika pekerjaan tuhan selesai. Jika aku tertangkap, aku akan bertindak seperti Yudas, dan semuanya akan berakhir bagiku. Tidak akan ada kesudahan yang baik bagiku. Aku akan dihukum.' ... Setelah mereka merasa tenang dan merasa bahwa mereka sudah terbebas dari bahaya, bahwa bahaya sudah berlalu, para antikristus melanjutkan melakukan beberapa pekerjaan dangkal. Para antikristus cukup teliti dalam pengaturan mereka, tetapi itu tergantung pada siapa mereka berurusan. Mereka berpikir dengan sangat hati-hati mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan mereka sendiri, sedangkan jika menyangkut pekerjaan gereja atau tugas-tugas mereka sendiri, mereka memperlihatkan keegoisan dan kehinaan mereka sendiri serta tidak menunjukkan tanggung jawab, bahkan tidak memiliki sedikit pun hati nurani atau nalar. Justru karena perilaku inilah mereka digolongkan sebagai antikristus" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Dua)). Tuhan mengungkapkan bahwa antikristus itu sangat egois, tercela, dan tidak memiliki kemanusiaan. Mereka hanya memedulikan kepentingan dan keselamatan mereka sendiri dan sama sekali tidak mementingkan pekerjaan gereja. Di masa-masa damai, mereka menampilkan kesan palsu bahwa mereka bersemangat melaksanakan tugas mereka, tetapi begitu ada tanda bahaya sekecil apa pun atau situasi yang mungkin akan membahayakan keselamatan pribadi, mereka menarik diri dan bersembunyi. Sebanyak apa pun hal ini merugikan pekerjaan gereja dan kehidupan saudara-saudari, para antikristus ini sama sekali tak peduli. Aku menyadari bahwa tindakanku tidak ada bedanya dengan tindakan antikristus. Ketika tidak ada bahaya, dari luarnya aku terlihat seolah-olah aku sanggup menderita dan mengorbankan diri dalam tugasku, tetapi ketika situasi mulai berbahaya, aku menghindar, hanya berpikir untuk melindungi diriku sendiri, dan melimpahkan tugas yang berisiko kepada saudari lain. Aku hanya mengawasi secara pasif saat pekerjaan gereja tidak mengalami kemajuan dan saudara-saudari tidak lagi memiliki kehidupan bergereja yang normal. Aku tidak berusaha lebih keras untuk menghadapi situasi yang sulit itu, tidak melaksanakan pekerjaan gereja, dan baru tersadar setelah didisiplinkan. Begitu kudengar bahwa aku telah dikhianati dan polisi sedang mencariku, aku ingin meninggalkan posisiku, sama sekali tidak mempertimbangkan pekerjaan gereja. Aku sangat egois dan tercela! Kenyataan situasi itu menyingkapkan bahwa aku sama egoisnya dengan seorang antikristus. Setiap kali merasa berada dalam bahaya, aku selalu ingin meninggalkan tugasku dan mencari cara untuk memastikan keselamatanku. Aku tidak memiliki sedikit pun kesetiaan kepada Tuhan, dan ini menjijikkan bagi-Nya. Setelah menyadari bahwa aku adalah orang seperti ini, aku menyesal dan merasa bersalah. Aku membaca satu bagian firman Tuhan: "Teramat sulit bagi Tuhan untuk menjalankan pekerjaan-Nya di negeri si naga merah yang sangat besar, tetapi lewat kesulitan inilah Tuhan mengerjakan satu tahap pekerjaan-Nya, agar Dia bisa menyingkapkan hikmat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menakjubkan, dan Tuhan menggunakan kesempatan ini untuk melengkapi kelompok orang ini. Melalui penderitaan manusialah, melalui kualitas mereka, dan melalui semua watak Iblis orang-orang di negeri yang najis inilah Tuhan mengerjakan pekerjaan penyucian dan penaklukan-Nya, agar dari ini, Dia bisa mendapatkan kemuliaan dan mereka yang bersaksi tentang perbuatan-perbuatan-Nya. Seperti itulah keseluruhan makna penting dari semua harga yang telah Tuhan bayar bagi kelompok orang ini" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Apakah Pekerjaan Tuhan Sesederhana yang Manusia Bayangkan?"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku memahami bahwa tidak dapat dihindari, dan juga merupakan penetapan Tuhan bahwa kami orang-orang percaya yang hidup di bawah kekuasaan PKT akan mengalami penganiayaan dan kesengsaraan. Tuhan menjadikan penganiayaan si naga merah yang sangat besar sebagai cara untuk menyempurnakan iman dan kasih kita. Namun, ketika dihadapkan dengan situasi berbahaya, aku tidak mencari maksud Tuhan dan merasa waswas maupun takut, hanya memedulikan keselamatanku sendiri dan bahkan tidak ingin melaksanakan tugasku. Kulihat imanku benar-benar lemah, dan bukannya memberi kesaksian di hadapan Tuhan, aku telah menjadi bahan tertawaan Iblis. Menyadari hal ini, aku merasa sangat menyesal dan berutang, dan aku tidak mau lagi meninggalkan posisiku serta menjalani kehidupan yang tercela dan tanpa tujuan. Aku siap untuk tunduk dan menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan. Aku bersedia membiarkan Tuhan mengatur apakah aku akan ditangkap atau tidak, dan apakah aku akan hidup atau mati. Jika aku ditangkap oleh si naga merah yang sangat besar, itu adalah atas seizin Tuhan, dan sekalipun itu berarti kematianku, aku akan tetap teguh dalam kesaksianku bagi-Nya. Jika mereka tidak menangkapku, itu adalah karena belas kasih serta perlindungan Tuhan, dan aku akan jauh lebih bertekad untuk melaksanakan tugasku dengan semestinya. Setelah menyadari hal ini, aku merasa sedikit lebih damai, dan kecemasan serta ketakutanku yang sebelumnya telah sirna.

Setelah itu, aku merenungkan mengapa aku hanya mempertimbangkan kepentinganku sendiri ketika dihadapkan dengan bahaya, bukannya mempertimbangkan maksud Tuhan. Suatu hari aku menemukan satu bagian firman Tuhan: "Manusia yang rusak semuanya hidup untuk diri mereka sendiri. Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya—ini merangkum natur manusia. Orang-orang semuanya percaya kepada Tuhan demi diri mereka sendiri; mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri mereka demi diberkati, dan penderitaan yang mereka tanggung serta harga yang mereka bayar dalam melaksanakan tugas mereka juga demi diberi upah. Singkatnya, semuanya itu demi tujuan diberkati, diberi upah, dan masuk ke dalam kerajaan surga. Di dunia, orang bekerja untuk keuntungan mereka sendiri, dan di rumah Tuhan, mereka melaksanakan tugas untuk memperoleh berkat. Demi memperoleh berkat, orang meninggalkan segala sesuatu dan dapat menanggung banyak penderitaan. Semua ini adalah bukti paling jelas bahwa orang memiliki natur Iblis. Orang-orang yang wataknya telah berubah itu berbeda. Mereka berpikir bahwa hidup berdasarkan kebenaran barulah bermakna bagi manusia, bahwa mereka harus tunduk kepada Tuhan serta takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan bahwa ini adalah dasar menjadi manusia. Mereka berpikir bahwa menerima amanat Tuhan adalah tanggung jawab yang sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan, bahwa hanya mereka yang melaksanakan tugas makhluk ciptaan yang layak disebut manusia, dan bahwa jika mereka tidak mampu mengasihi Tuhan dan membalas kasih-Nya, mereka tidak layak disebut manusia. Mereka berpikir bahwa hidup untuk diri sendiri sungguh kosong dan tidak bermakna, bahwa orang harus hidup untuk memuaskan Tuhan dan melaksanakan tugas mereka dengan baik, dan menjalani kehidupan yang bermakna, sehingga sekalipun mereka mati, mereka akan merasa puas, dan bahwa mereka tidak memiliki penyesalan sedikit pun dan tidak hidup dengan sia-sia" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Melalui firman Tuhan, aku mengerti bahwa selama ini aku selalu melindungi diri sendiri dalam situasi bahaya dan ingin meninggalkan tugasku dan menjalani kehidupan yang hina, karena pemikiranku dikuasai oleh falsafah Iblis, seperti "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya", "Biarkan hal-hal berlalu jika tidak memengaruhi seseorang secara pribadi", "Jangan pernah bangun pagi kecuali ada untungnya", dan sebagainya. Falsafah-falsafah ini telah menjadi bagian dari naturku, dan aku selalu mengutamakan kepentingan pribadi dalam situasi apa pun. Aku akan mengkhianati Tuhan setiap kali kepentinganku terancam. Aku ingat bahwa sejak datang ke gereja itu dan ditempatkan dalam keadaan berbahaya, aku hanya memikirkan keselamatanku sendiri. Meskipun aku tahu bahwa aku harus mendukung saudara-saudari itu secepat mungkin agar mereka dapat menjalani kehidupan bergereja mereka, aku tetap bersembunyi karena aku takut ditangkap dan disiksa, melimpahkan pekerjaanku kepada saudariku tanpa sedikit pun mempertimbangkan pekerjaan gereja atau keselamatan saudariku. Bahkan saat aku melihat bahwa terlalu berat bagi saudari itu untuk bekerja sendirian, dan saudara-saudari tidak dapat menjalani kehidupan bergereja mereka, aku tetap tidak bertindak dan tidak melaksanakan tugasku. Aku hidup berdasarkan falsafah Iblis. Aku bertindak egois dan tercela, sama sekali tidak memiliki kemanusiaan, hati nurani, atau nalar. Tuhan menyelamatkan mereka yang setia dan tunduk kepada-Nya, mereka yang mengabaikan kepentingan pribadi dan melindungi pekerjaan gereja pada saat-saat genting; hanya orang-orang seperti itulah yang memperoleh perkenanan Tuhan. Namun pada saat-saat genting, aku melarikan diri dari tanggung jawab dan sama sekali tidak memiliki ketulusan terhadap Tuhan. Melihat betapa egois dan tercelanya diriku, meskipun aku mampu menghindari polisi dan menjalani kehidupan yang tercela dan tanpa tujuan, untuk apa Tuhan memilih untuk menyelamatkanku? Aku berpikir bahwa demi menyelamatkan umat manusia, Tuhan berinkarnasi di Tiongkok dan menanggung penghinaan serta penderitaan luar biasa, menantang bahaya besar demi mengungkapkan firman-Nya dan melaksanakan pekerjaan-Nya, mengalami pengejaran dan penganiayaan tanpa henti oleh si naga merah yang sangat besar, serta menerima penolakan dan fitnah dari dunia keagamaan, tetapi Tuhan tidak pernah menyerah untuk menyelamatkan kita. Tuhan telah memberikan segenap diri-Nya dalam upaya-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Esensi Tuhan adalah sangat tidak egois, sangat baik dan indah. Sedangkan aku, aku sama sekali tidak tulus terhadap Tuhan; aku masih hidup berdasarkan falsafah Iblis, aku egois, tercela, suka berkhianat, dan licik. Aku hanya mempertimbangkan keselamatanku sendiri saat melaksanakan tugasku dan sama sekali tidak melindungi pekerjaan gereja. Jika aku tidak bertobat, Tuhan akan sangat membenciku dan menyingkirkanku.

Selama saat teduhku, aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Mereka yang melayani Tuhan harus menjadi sahabat karib Tuhan, mereka harus berkenan kepada Tuhan, dan mampu menunjukkan kesetiaan tertinggi kepada Tuhan. Apakah engkau melakukannya di belakang atau di depan umum, engkau dapat memperoleh sukacita Tuhan di hadapan Tuhan, engkau mampu tetap teguh di hadapan Tuhan, dan dengan cara apa pun orang lain memperlakukanmu, engkau selalu menempuh jalan yang seharusnya kautempuh, dan memikirkan beban Tuhan. Hanya orang-orang seperti inilah yang adalah sahabat karib Tuhan. Sahabat karib Tuhan mampu melayani-Nya secara langsung karena mereka telah diberikan amanat agung Tuhan dan beban Tuhan, mereka mampu menjadikan hati Tuhan menjadi hati mereka, dan menjadikan beban Tuhan sebagai beban mereka sendiri, dan mereka tidak memikirkan untung atau rugi dari masa depan mereka—bahkan ketika masa depan mereka berarti mereka tidak akan memiliki apa-apa, mereka akan selalu percaya kepada Tuhan dengan hati yang mengasihi Tuhan. Karena itu, orang semacam ini adalah sahabat karib Tuhan. Sahabat karib Tuhan adalah orang kepercayaan-Nya juga; hanya orang kepercayaan Tuhan yang bisa ikut merasakan keresahan-Nya, dan pemikiran-Nya, dan meskipun daging mereka sakit dan lemah, mereka mampu menanggung rasa sakit dan meninggalkan apa yang mereka cintai demi memuaskan Tuhan. Tuhan memberi beban lebih banyak kepada orang-orang semacam itu, dan apa yang ingin Tuhan lakukan dipersaksikan dalam kesaksian orang-orang semacam itu. Dengan demikian, orang-orang ini memperkenan Tuhan, mereka adalah para pelayan Tuhan yang sejalan dengan maksud-maksud-Nya, dan hanya orang semacam ini yang bisa memerintah bersama Tuhan. Saat engkau telah benar-benar menjadi sahabat karib Tuhan adalah saat engkau benar-benar akan memerintah bersama dengan Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Bagaimana Melayani Sesuai dengan Maksud-Maksud Tuhan"). Melalui firman Tuhan, aku menyadari bahwa Tuhan mengasihi mereka yang memikirkan maksud-maksud-Nya dan memikul beban-Nya. Situasi apa pun yang muncul, seberat apa pun penderitaan yang harus mereka tanggung, dan sekalipun jalan di depan terlihat suram, mereka mampu melepaskan apa yang mereka cintai untuk memuaskan Tuhan dan tidak memikirkan kepentingan mereka sendiri. Hanya orang-orang seperti itulah yang pada akhirnya akan didapatkan oleh Tuhan. Pada saat genting, ketika saudara-saudari ditangkap, aku tahu bahwa seharusnya aku mempertimbangkan maksud Tuhan, turut merasakan kekhawatiran-Nya dan pemikiran-Nya, melindungi pekerjaan gereja, dan memenuhi tanggung jawab serta melaksanakan tugasku dengan baik. Setelah menyadari hal ini, aku bertekad: Apa pun bahaya yang kuhadapi, aku akan melaksanakan tugasku dengan baik untuk menghibur hati Tuhan.

Suatu hari, aku mendengar bahwa seorang pemimpin dari gereja tetangga telah ditangkap. Aku menyadari bahwa buku-buku gereja harus segera dipindahkan ke tempat lain, karena kalau tidak, buku-buku itu akan jatuh ke tangan si naga merah yang sangat besar. Jadi, aku pun langsung menghubungi Saudari Zhang Yi untuk membantu memindahkan buku-buku itu bersama-sama. Saat tiba di tempat pertemuan kami, dia bergegas menghampiriku dengan raut wajah gugup, dan memberitahuku bahwa dia dibuntuti. Sulit baginya untuk pada akhirnya melepaskan diri dari pengejarnya, dan dia memintaku untuk memindahkan buku-buku itu secepat mungkin. Aku sangat kaget mendengarnya, merasa gugup dan takut. Kupikir, "Polisi bersembunyi, sedangkan keberadaan kami sepenuhnya terlihat. Jika polisi melacak dan menangkapku, mereka pasti akan memukuliku sampai mati!" Makin aku memikirkannya, makin aku takut, dan aku ingin menyuruh orang lain untuk memindahkan buku-buku itu. Namun, aku ingat bahwa Zhang Yi telah mengatur waktu pertemuan untuk kami bertemu dengan saudara-saudari yang menjaga buku-buku itu, dan tidak ada waktu lagi untuk mencari gantinya. Selain itu, makin banyak penundaan selama pemindahan, makin besar risikonya. Sambil terus menimbangnya di benakku, aku menyadari bahwa aku sedang bersikap waswas, jadi, aku terus-menerus berseru kepada Tuhan di dalam hatiku agar memberiku iman dan kekuatan. Tepat pada saat itu, aku teringat akan satu bagian firman Tuhan: "Ketika orang-orang yang setia kepada Tuhan tahu dengan jelas bahwa suatu keadaan menjadi berbahaya, mereka tetap berani mengambil risiko dengan bertindak untuk menangani buntut peristiwa yang terjadi, dan mereka meminimalkan kerugian rumah Tuhan sebelum mereka sendiri mengungsi. Mereka tidak mengutamakan keselamatan mereka sendiri. Katakan kepada-Ku, di negeri si naga merah yang sangat besar yang jahat ini, siapa yang bisa memastikan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan dan melakukan tugasnya sama sekali tidak akan menghadapi bahaya? Tugas apa pun yang orang laksanakan, itu selalu mengandung risiko—tetapi pelaksanaan tugas diamanatkan oleh Tuhan, dan sementara mengikuti Tuhan, orang harus mengambil risiko dalam melakukan tugasnya. Orang harus berhikmat, dan perlu mengambil tindakan untuk memastikan keselamatan dirinya, tetapi orang tidak boleh mengutamakan keselamatan pribadinya. Mereka harus memikirkan maksud Tuhan, mengutamakan pekerjaan rumah-Nya dan mengutamakan penyebaran Injil. Menyelesaikan apa yang Tuhan amanatkan kepada mereka adalah hal yang terpenting dan yang harus diutamakan" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Dua)). Mereka yang setia kepada Tuhan mampu mempertimbangkan maksud-Nya. Betapa pun berbahaya keadaannya, mereka mampu mempertaruhkan segalanya untuk menyelesaikan pekerjaan tindak lanjut yang diperlukan serta memenuhi tanggung jawab mereka. Aku ingat bagaimana selama bertahun-tahun aku menjadi orang yang percaya, aku telah menikmati begitu banyak penyiraman dan perbekalan firman Tuhan, jadi kini saatnya bagiku untuk melaksanakan tugasku, aku tidak boleh mengkhianati hati nuraniku dan diam saja sementara kepentingan gereja dirugikan. Betapa pun berbahaya keadaannya, aku harus mencari cara untuk memindahkan buku-buku itu dari sana. Aku tidak boleh membiarkan buku-buku itu jatuh ke tangan si naga merah yang sangat besar. Aku memikirkan perkataan Tuhan Yesus: "Barangsiapa yang akan menyelamatkan hidupnya akan kehilangan hidupnya: tetapi barangsiapa akan kehilangan hidupnya demi Aku, dia akan menyelamatkan hidupnya" (Lukas 9:24). Meskipun aku ditangkap dan dipukuli sampai mati karena melaksanakan tugasku, itu akan menjadi hal yang bermakna dan diperkenan oleh Tuhan. Aku ingat bagaimana Petrus disalibkan terbalik bagi Tuhan dan tidak mementingkan nyawanya sendiri, memberi kesaksian yang kuat dan bergaung bagi Tuhan. Aku tahu bahwa aku harus meneladani Petrus, setia kepada Tuhan dalam situasi apa pun, dan melaksanakan tugasku dengan baik untuk menghibur hati Tuhan. Firman Tuhan memberiku iman dan kekuatan untuk tidak lagi hidup dalam ketakutan. Aku bekerja sama dengan saudara-saudari lain, menggunakan hikmat untuk menghindari polisi, dan dengan pemeliharaan serta perlindungan Tuhan, kami berhasil memindahkan buku-buku itu. Syukur kepada Tuhan!

Sebelumnya: Aib dari Masa Laluku

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp