Mengikuti Tuhan Adalah Pilihan Terbaik dalam Hidupku

01 April 2026

Waktu aku masih sekolah, setiap kali aku bermalas-malasan dalam belajar, ibuku mengomeliku, "Lihat bibi tertuamu; dia kuliah dan dapat pekerjaan tetap, jadi dia tidak perlu khawatir soal sandang pangan. Ke mana pun dia pergi, orang-orang menghormati dan memandang tinggi dirinya. Kalau sekarang tidak giat belajar, kau tidak bisa masuk universitas dan akan berakhir seperti adik perempuan ayahmu, bekerja di pabrik. Orang-orang akan memandang rendah dirimu!" Aku iri pada bibi tertuaku, dan berharap suatu hari nanti bisa menjadi seperti dia, memiliki ketenaran dan keuntungan, serta menjalani kehidupan yang membuat orang iri dan kagum. Jadi, aku belajar sangat giat. Namun, aku tidak lulus saat pertama kali mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saat itu, rasanya seluruh duniaku kelabu. Aku tidak mau dipandang rendah seumur hidupku, jadi aku memilih untuk mengulang setahun meskipun ada tekanan. Waktu itu, aku belajar sampai lewat tengah malam setiap hari. Intensitas belajar yang tinggi, ditambah tekanan karena mengulang setahun, membuatku sangat kelelahan secara fisik dan mental, melemahkan sistem imunku, dan aku terkena flu hampir setiap bulan. Namun, bahkan saat sakit, aku tidak berani meminta izin libur, takut ketinggalan poin-poin penting, mendapat nilai buruk dalam ujian, dan kembali kehilangan kesempatan untuk kuliah. Tahun berikutnya, aku diterima di universitas keguruan. Semua kerabat dan teman datang untuk memberiku selamat, berkata, "Setelah lulus dan menjadi guru, kau akan memiliki status sosial yang tinggi, dihormati, dan hidup tanpa rasa khawatir!" Mendengar mereka mengatakan ini membuatku sangat bahagia.

Setelah lulus, aku mulai mengajar di sebuah sekolah dasar pusat. Untuk membuat namaku dikenal di tempat kerja, dan agar dihargai oleh pimpinan sekolah serta dipandang tinggi oleh rekan-rekan kerjaku, aku ingin tampil menonjol di kelas terbuka pertamaku. Aku mulai mempersiapkan diri sebulan sebelumnya. Setiap hari, selain kelas regulerku, aku menghabiskan seluruh waktuku mencari materi terkait kelas terbuka, berkonsultasi dengan guru-guru berpengalaman, lalu menghafalkan rencana pembelajaran. Aku berlatih di depan cermin berulang-ulang setiap hari sampai aku bisa menyampaikan seluruh rencana pengajaran dari awal hingga akhir. Meskipun sangat melelahkan, ketika aku melihat pimpinan sekolah terus mengangguk setuju pada rapat evaluasi, semua rasa lelahku lenyap dalam sekejap. Aku berpikir, "Sekarang pimpinan sekolah sudah melihat potensiku. Semester depan, mereka mungkin mengizinkanku menangani kelas terbuka di tingkat kecamatan. Dengan begitu, aku akan punya lebih banyak kesempatan untuk bersinar." Memikirkan hal ini, aku merasa semuanya sepadan, tidak peduli seberapa lelahnya aku. Pada semester kedua, aku mendapat kesempatan untuk mengajar pelajaran demonstrasi di kecamatan pusat, yang membuatku bersemangat sekaligus gugup. Aku gugup karena jika aku tidak mengajar dengan baik, pimpinan sekolah pasti akan berpikir kemampuanku biasa saja, dan akan sulit mendapatkan kesempatan seperti itu lagi di masa depan. Aku bersemangat karena jika aku melakukannya dengan baik, aku akan memiliki pijakan yang kuat di sekolah pusat, dan mungkin bahkan memiliki kesempatan untuk menangani kelas terbuka di tingkat distrik atau bahkan kota. Itu akan sangat bergengsi! Jadi aku kembali bersiap dengan teliti, hanya tidur tiga atau empat jam sehari. Namun, pada hari pelajaran itu, karena aku terlalu gugup, penampilanku di kelas tidak sesuai harapanku. Namun, pimpinan sekolah dan guru-guru lain masih sangat mengapresiasiku. Pada saat itu, aku merasa bahwa tidak peduli seberapa sulit atau melelahkannya itu, semuanya sepadan. Aku merasa bahwa hidup memang seharusnya begini. Jika aku tidak bisa mendapatkan penghargaan tinggi dan pujian dari pimpinan sekolah dan rekan-rekan kerjaku, apa gunanya bekerja? Tidak lama kemudian, pimpinan sekolah mendekatiku, mengatakan bahwa sekolah ingin mempercepat pembinaanku, dan memintaku untuk juga menjabat sebagai petugas keselamatan sekolah. Dalam hati, aku sangat senang, karena pekerjaan keselamatan bukanlah sesuatu yang bisa ditangani oleh setiap guru. Jika aku melakukannya dengan baik, peluangku untuk diakui sebagai guru yang unggul akan lebih besar di masa mendatang, dan rekan-rekan kerjaku juga akan memiliki pandangan yang berbeda terhadap diriku, jadi aku menyetujuinya. Namun, kurang dari sebulan setelah mengambil peran itu, aku sangat kelelahan. Aku menerima dokumen keselamatan setiap beberapa hari, dan sebagian besar perlu diterbitkan, diterapkan, dan dilaporkan kembali. Aku juga harus mengatur materi dari sekolah-sekolah tingkat bawah. Selain itu, aku juga bertanggung jawab atas mata pelajaran yang kuajar. Setiap hari, aku masih sibuk di kantor setelah rekan-rekan kerjaku pulang, dan aku bahkan tidak bisa beristirahat di akhir pekan. Awalnya aku ingin meminta guru lain untuk bekerja bersamaku, tetapi ketika aku teringat kepala sekolah pernah berkata bahwa seseorang harus serba bisa agar diakui sebagai guru yang unggul di tingkat distrik atau di atasnya, aku membuang pikiran itu. Setelah beberapa bulan, aku merasa bahwa bekerja seperti ini terlalu melelahkan, tetapi aku tidak mau menyerah di tengah jalan dan membiarkan orang lain berkata aku tidak kompeten, jadi aku memaksakan diri untuk bertahan. Setelah setiap masa sibuk, aku selalu merasakan kehampaan di hatiku. Kupikir aku perlu bersantai karena tekanan kerja yang terlalu besar, jadi aku pergi di akhir pekan untuk bersenang-senang dan menyantap makanan lezat, bahkan bepergian ke Tiongkok bagian barat. Namun, setelah makan dan bersenang-senang, hatiku masih terasa sangat hampa. Aku membicarakan hal ini dengan beberapa teman, tetapi mereka semua berkata aku mempermasalahkan hal sepele, bahwa aku punya pekerjaan dan kondisi hidup yang begitu baik, jadi tidak masuk akal bagiku untuk merasa hampa. Baru pada tahun 2007, ketika ibuku memberitakan Injil Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman kepadaku, dengan membaca firman Tuhan dan menjalani kehidupan bergereja, perasaan hampa di hatiku perlahan menghilang.

Suatu hari saat pertemuan, aku membaca satu bagian firman Tuhan dan menemukan akar dari kehampaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tanpa adanya tempat bagi Tuhan di dalam hatinya, dunia batin mereka gelap, tanpa pengharapan dan hampa. ... Tak seorang pun dapat mengisi kehampaan dalam hati manusia, karena tak seorang pun dapat menjadi hidup manusia, dan tidak ada teori sosial yang dapat membebaskan manusia dari masalah kehampaan. Sains, pengetahuan, kebebasan, demokrasi, kenikmatan, dan kenyamanan hanya memberi kepada manusia penghiburan yang sementara. Bahkan memiliki hal-hal ini pun, manusia pasti tetap berbuat dosa dan mengeluh tentang ketidakadilan masyarakat. Memiliki hal-hal ini tidak dapat menghalangi kerinduan dan keinginan manusia untuk menjelajah. Ini karena manusia diciptakan oleh Tuhan dan pengorbanan serta penjelajahannya yang sia-sia hanya dapat makin membuatnya menderita, dan menyebabkan manusia berada dalam keadaan cemas yang terus-menerus, tidak tahu cara menghadapi masa depan umat manusia, atau cara menghadapi jalan yang terbentang di depan, sampai-sampai manusia bahkan menjadi takut pada sains dan ilmu pengetahuan dan bahkan lebih takut lagi pada perasaan yang hampa" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 2: Tuhan Berdaulat Atas Nasib Seluruh Umat Manusia"). Aku sadar bahwa aku merasa hampa karena aku tidak mengenal Tuhan atau menyembah-Nya, dan tidak ada tempat bagi Tuhan di hatiku. Sejak kecil, aku menerima pendidikan ateis, tidak tahu bahwa umat manusia diciptakan oleh Tuhan, apalagi mengerti bahwa orang harus percaya kepada Tuhan dan menyembah-Nya. Aku percaya bahwa memiliki pekerjaan yang baik dan menerima penghargaan tinggi serta pujian orang lain adalah kebahagiaan, dan aku bekerja mati-matian demi hal ini. Kemudian, aku mendapatkan apresiasi dari pimpinan sekolah dan penghargaan tinggi dari rekan-rekanku, tetapi hal-hal ini hanya memberiku kenikmatan sementara; hatiku masih hampa. Kupikir makan, minum, dan bersenang-senang bisa menghilangkan kehampaan di hatiku, tetapi setelah kenikmatan itu berlalu, aku masih merasa hampa. Bagaimanapun, manusia diciptakan oleh Tuhan, dan kita membutuhkan penyediaan Tuhan untuk hidup kita. Hanya dengan kembali ke hadapan Tuhan, kita bisa menemukan kedamaian dan sukacita. Setelah itu, aku sering menghadiri pertemuan dan membaca firman Tuhan, dan juga menggunakan waktu luangku untuk memberitakan Injil. Hatiku terasa sangat damai. Namun suatu hari, ketika aku menghadapi ancaman penangkapan, hidupku yang damai pun hancur.

Pada bulan Desember 2012, perihal kepercayaanku kepada Tuhan diketahui oleh pimpinan sekolah. Hal itu bahkan mengejutkan biro pendidikan dan biro keamanan nasional. Kepala sekolah berbicara denganku selama tiga hari berturut-turut, menggunakan ateisme dan materialisme untuk membujukku melepaskan imanku. Aku berdebat dengan kepala sekolah, bersaksi tentang pekerjaan Tuhan kepadanya. Ketika dia tidak bisa memenangkan perdebatan itu, dia berhenti berusaha mengubah pemikiranku, tetapi dia melarangku memberitakan Injil di sekolah. Setelah itu, sekolah tidak lagi mengaturku untuk mengikuti observasi kelas di luar, juga tidak membiarkanku berpartisipasi dalam kegiatan pengajaran dan penelitian. Rekan-rekanku juga menjauh dariku. Aku merasa sangat pedih dan putus asa karena tidak dihargai lagi oleh pimpinan sekolah, dan diperlakukan sebagai orang aneh oleh rekan-rekanku. Kemudian, aku teringat bagaimana Nuh mengikuti kehendak Tuhan dan membangun bahtera. Saat itu, banyak orang menyebut Nuh bodoh, tetapi Nuh tidak peduli bagaimana orang-orang di sekitarnya menghakimi dan memfitnahnya. Dengan hati yang tulus, dia mendengarkan firman Tuhan, membangun bahtera sambil memberitakan Injil. Akhirnya, ketika air bah datang, keluarga Nuh yang terdiri dari delapan orang selamat. Lalu aku teringat bagaimana Tuhan Yesus, untuk menebus umat manusia, dianiaya oleh pemerintah, ditolak dan difitnah oleh orang-orang dunia, dan bahkan dipaku di kayu salib. Tuhan telah menderita begitu banyak untuk menyelamatkan umat manusia. Apa artinya penderitaan kecil yang kutanggung ini? Aku menempuh jalan yang benar dalam hidup dengan percaya kepada Tuhan; ini adalah perbuatan yang adil, dan tidak ada yang memalukan. Aku tidak boleh membiarkan tatapan dingin orang lain memengaruhi hubungan normalku dengan Tuhan: Aku tetap harus menghadiri pertemuan dan memberitakan Injil. Setelah itu, aku pergi bekerja seperti biasa, dan sepulang sekolah, aku pergi menghadiri pertemuan.

Tak kusangka, seminggu sebelum sekolah dimulai pada Agustus 2013, aku menerima telepon dari kepala sekolah, yang menyuruhku mengajar matematika untuk dua kelas dan juga menjadi wali kelas untuk satu kelas. Aku berpikir, "Kalau begini, bagaimana aku punya waktu untuk pertemuan dan tugasku?" Aku bertanya dengan bingung, "Mengapa tahun ini diatur seperti ini?" Kepala sekolah berkata, "Dengan begini, kau tidak akan punya waktu untuk percaya kepada Tuhan dan menghadiri pertemuan!" Dia juga mengancamku, "Jika kau tidak mau mengambil pekerjaan di sekolah pusat, aku akan mengaturmu ke sekolah tingkat bawah!" Aku berpikir dalam hati, "Guru-guru di sekolah pusat lebih sering mengikuti kegiatan daripada guru-guru di sekolah tingkat bawah, jadi mereka punya lebih banyak kesempatan untuk bersinar. Jika aku pergi ke sekolah tingkat bawah, aku tidak akan mendapatkan fasilitas ini lagi, dan aku akan merasa rendah diri dibandingkan guru-guru dari sekolah pusat saat melihat mereka. Ditambah lagi, apa yang akan dipikirkan guru-guru di sekolah tingkat bawah tentang aku? Akankah mereka berpikir aku didemosikan karena kemampuanku terlalu buruk? Namun, jika aku tetap di sekolah pusat, kapan aku punya waktu untuk percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku?" Aku kemudian berdoa dalam hati kepada Tuhan, "Ya Tuhan, apa yang harus kupilih?" Saat itu juga, aku teringat akan satu bagian firman Tuhan: "Dalam semua pergumulan antara yang positif dan negatif, hitam dan putih—antara keluarga dan Tuhan, anak-anak dan Tuhan, keharmonisan dan keretakan, kekayaan dan kemiskinan, status tinggi dan status biasa, didukung dan ditolak, dan sebagainya—engkau semua tentu mengetahui pilihanmu! Antara keluarga yang harmonis dan yang retak, engkau semua memilih yang pertama, dan memilihnya tanpa keraguan; antara kekayaan dan tugas, lagi-lagi engkau semua memilih yang pertama, tanpa sedikit pun keinginan untuk berbalik; antara kemewahan dan kemiskinan, engkau semua memilih yang pertama; ketika memilih antara anak-anak, istri, suami, atau Aku, engkau semua memilih yang pertama; dan antara gagasan dan kebenaran, engkau semua tetap memilih yang pertama. Dihadapkan pada segala macam perbuatan jahatmu, Aku sama sekali kehilangan keyakinan akan dirimu, Aku benar-benar tercengang. Ternyata hatimu begitu sulit untuk dilunakkan. Hati dan usaha yang telah Kucurahkan selama bertahun-tahun secara mengejutkan tidak membawa apa-apa bagi-Ku selain engkau semua meninggalkan-Ku dan bersikap pasrah, tetapi harapan-Ku terhadap engkau semua makin bertumbuh setiap hari, karena hari-Ku sudah sepenuhnya diperlihatkan di hadapan semua orang. Namun sekarang, engkau semua masih saja mengejar hal-hal yang gelap dan jahat, dan menolak untuk melepaskan hal-hal tersebut. Lalu, akan seperti apa kesudahanmu?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kepada Siapa Sebenarnya Engkau Setia?"). Di akhir zaman, Tuhan terutama mengungkapkan firman untuk menyucikan dan menyelamatkan manusia. Tuhan berharap kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu membaca firman-Nya untuk memahami kebenaran, melaksanakan tugas kita dengan baik, dan membuang watak rusak kita untuk memperoleh keselamatan. Namun, saat dihadapkan pada pilihan, yang kupedulikan tetaplah ketenaran dan keuntunganku sendiri, bukan hidupku atau bagaimana melaksanakan tugasku dengan baik. Aku sudah terlalu mengecewakan Tuhan! Jika aku tetap di sekolah pusat, aku pasti akan masih berjuang demi berbagai penghargaan. Dengan beban kerja seberat itu, bahkan menghadiri pertemuan dan membaca firman Tuhan akan terpengaruh, apalagi melaksanakan tugasku. Bagaimana aku masih bisa percaya kepada Tuhan kalau begitu? Jika aku pergi ke sekolah tingkat bawah, beban kerjanya akan lebih ringan, dan aku bisa menghadiri pertemuan serta melaksanakan tugasku dengan normal. Sekalipun aku menerima lebih sedikit penghargaan pribadi dan dipandang rendah oleh rekan-rekanku, itu hanya masalah gengsi; namun, hidupku tidak akan menderita kerugian, dan itulah yang paling penting. Setelah memahami hal ini, aku berkata kepada kepala sekolah, "Saya memilih untuk pergi ke sekolah tingkat bawah." Kepala sekolah begitu marah hingga dia langsung menutup telepon.

Di sekolah tingkat bawah, aku mengajar di siang hari dan pergi ke pertemuan serta melaksanakan tugasku di malam hari. Setahun kemudian, karena nilai ujian akhir kelas yang kuajar lebih tinggi daripada yang di sekolah pusat, kepala sekolah memindahkanku kembali ke sekolah pusat. Namun, masa-masa indah itu tidak berlangsung lama. Kapten Brigade Keamanan Nasional datang ke rumahku lagi untuk bertanya tentang imanku. Agar polisi tidak mengikutiku dan melibatkan saudara-saudari, aku tidak punya pilihan selain berhenti menghadiri pertemuan untuk sementara waktu. Tanpa kehidupan bergereja, tanpa tugasku, seiring berjalannya waktu, hatiku makin jauh dari Tuhan, dan tanpa sadar aku kembali terjerumus ke dalam persaingan yang ketat. Murid-murid yang kuajar hampir selalu memenangkan semua juara satu dan dua dalam kompetisi setiap tahun, dan nilai ujian akhir kelas kami selalu berada di peringkat teratas. Kepala sekolah juga mengapresiasi pekerjaanku dalam rapat-rapat. Kelas yang kuajar tidak hanya memiliki suasana belajar yang baik, tetapi juga semangat kelas yang baik, dan para orang tua juga sangat mendukung pekerjaanku. Dalam dua tahun setelah kembali ke sekolah pusat, meskipun aku menerima lebih banyak bunga dan tepuk tangan daripada sebelumnya, hatiku sering terasa berat dan sesak. Aku tahu itu karena pekerjaan menyita terlalu banyak waktu dan energiku, sehingga waktuku untuk membaca firman Tuhan terlalu sedikit, dan hatiku jauh dari Tuhan. Pada waktu itu, aku melihat banyak saudara-saudari yang telah berhenti dari pekerjaan mereka dan melepaskan keluarga mereka untuk fokus melaksanakan tugas mereka dengan segenap hati. Aku sangat iri, dan juga ingin berhenti dari pekerjaanku dan melaksanakan tugasku dengan segenap hati dan pikiran. Namun, tepat saat aku hendak menulis surat pengunduran diri, aku menerima banyak salam dari orang tua muridku, yang berharap aku akan terus mengajar anak-anak mereka. Melihat hal-hal ini, hatiku goyah lagi. "Jika aku pergi, bukankah murid-muridku dan orang tua mereka akan kecewa? Apa yang akan dipikirkan pimpinan sekolah dan rekan-rekan kerjaku tentang aku? Ayahku selalu berusaha menghalangiku dan ibuku untuk percaya kepada Tuhan, dan bahkan menceraikan ibuku. Jika dia tahu aku berhenti dari pekerjaanku untuk melaksanakan tugasku secara penuh waktu, dia pasti akan berusaha menghentikanku, dan aku mungkin harus meninggalkan rumah juga. Aku bekerja keras selama sembilan belas tahun untuk mendapatkan pekerjaan yang membuat orang lain iri, dan untuk memiliki pencapaian yang kumiliki hari ini. Semua kerabat, teman, dan rekan kerjaku iri padaku. Begitu aku mengundurkan diri, pekerjaanku akan hilang, ketenaran dan keuntunganku akan hilang, dan aku harus melepaskan kondisi kehidupanku yang nyaman. Apa yang akan dikatakan semua orang tentangku nanti?" Hatiku terasa seperti ditarik ke sana kemari. Rasanya sangat menyakitkan. Aku diam-diam berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku tahu bahwa melaksanakan tugasku secara penuh waktu adalah hal yang baik, tetapi aku tidak bisa melepaskan pekerjaan ini. Jika aku tidak mendapatkan penghargaan tinggi dan pujian orang-orang, bisakah hidupku bahagia? Ya Tuhan, tolong bantu aku melihat masalah ini dengan jelas." Tidak lama kemudian, kepala sekolah mempromosikanku menjadi kepala keuangan. Posisi ini adalah pekerjaan yang menjemukan dan mengharuskanku menghadiri banyak rapat. Di siang hari, aku harus pergi ke banyak departemen, dan di malam hari atau di akhir pekan, aku sering menerima telepon yang memintaku mengantarkan materi, jadi waktu untuk pekerjaanku dan tugasku sering berbenturan. Selama pertemuan, aku tidak pernah bisa menenangkan hatiku, selalu takut pimpinan sekolah akan meneleponku untuk suatu urusan. Terkadang saat aku sedang membaca firman Tuhan di rumah, dan pimpinan sekolah menelepon, yang berarti aku harus segera pergi dan menangani sesuatu. Aku merasa hatiku sangat jauh dari Tuhan, dan hidupku sangat melelahkan, tetapi aku enggan melepaskan pekerjaanku. Aku sering berdoa, meminta Tuhan untuk membantuku.

Suatu hari di bulan Juni 2018, aku naik lift bersama lebih dari dua puluh rekan kerja. Setelah mulai bergerak, lift itu tiba-tiba jatuh. Kami semua pun ketakutan. Lift itu macet, dan kami semua terjebak di dalamnya. Karena tidak ada sirkulasi udara di dalam lift, tak lama kemudian, kami mulai kesulitan bernapas. Aku tidak bisa menahan rasa cemas. "Bagaimana jika staf perawatan tidak datang? Akankah aku mati lemas di sini?" Pada saat itu, kemuliaan dan uang yang kudapat dari pekerjaanku sebagai guru tidak lagi penting. Yang bisa kupikirkan hanyalah bagaimana caranya bertahan hidup. Aku pun teringat bahwa selama percaya kepada Tuhan bertahun-tahun ini, setiap kali aku dalam kesulitan, tidak berdaya, dan tersesat, selalu Tuhanlah yang membukakan jalan keluar bagiku, dan membimbingku dengan firman-Nya, memberiku jalan untuk diikuti. Percaya kepada Tuhan, aku bisa mengalami pekerjaan Tuhan, mengenal otoritas Tuhan, dan merasakan perbuatan ajaib Sang Pencipta. Ini adalah berkatku. Seharusnya aku melepaskan pekerjaanku dan melaksanakan tugasku secara penuh waktu, tetapi aku tidak melakukannya demi menikmati ketenaran dan keuntungan. Sekarang, menghadapi kematian, aku akhirnya menyadari bahwa ketenaran, keuntungan, dan status, semuanya hanyalah awan yang berlalu, dan sama sekali tidak berarti. Pada saat itu, aku ingin meminta pertolongan Tuhan, tetapi aku terlalu malu untuk berbicara. "Apakah Tuhan masih akan berbelas kasihan kepadaku? Apakah aku masih punya kesempatan untuk mengejar kehidupan yang bermakna?" Aku hanya bisa mencurahkan isi hatiku kepada Tuhan, "Ya Tuhan, setelah percaya kepada-Mu, aku tidak mengejar kebenaran sebagaimana mestinya. Baru melalui kejadian hari ini, tiba-tiba aku memahami: Tanpa kebenaran, betapa takut dan tidak berdayanya aku saat kematian datang! Ya Tuhan, bahkan jika aku mati di sini hari ini, aku akan tetap tunduk pada pengaturan-Mu. Jika aku bisa keluar hidup-hidup, aku pasti akan memikirkan kembali kehidupanku di masa depan." Tepat pada saat itu, aku melihat semua rekanku berjongkok karena kekurangan oksigen, tetapi aku tiba-tiba merasakan aliran udara segar melewati hidungku. Aku terkejut dan sangat gembira, mengetahui bahwa itu adalah Tuhan yang menunjukkan belas kasihan kepadaku. Begitu pintu lift terbuka, semua rekanku bersorak, tetapi hatiku dipenuhi rasa syukur kepada Tuhan. Aku tahu Tuhan telah menggunakan kerusakan lift itu untuk membuatku merenungkan makna dan nilai kehidupan.

Kemudian, aku melihat dua bagian firman Tuhan, dan memperoleh pemahaman yang lebih jelas tentang esensi ketenaran dan keuntungan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Segala sesuatu yang dikejar oleh orang hebat atau terkenal mana pun—atau, yang sebenarnya dikejar oleh semua orang—sepanjang hidup mereka, hanya berkaitan dengan dua kata ini: 'ketenaran' dan 'keuntungan'. Orang mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk menikmati status yang tinggi dan kekayaan yang besar, serta menikmati hidup. Mereka mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk mencari kesenangan dan menikmati kesenangan daging dengan semaunya sendiri. Demi ketenaran dan keuntungan yang mereka inginkan ini, orang-orang tanpa sadar dan dengan senang hati menyerahkan tubuh, hati, dan bahkan semua yang mereka miliki, termasuk prospek dan nasib mereka kepada Iblis. Mereka melakukannya tanpa keraguan, tanpa sejenak pun merasa ragu, dan tanpa pernah terpikir untuk mendapatkan kembali semua yang pernah mereka miliki. Dapatkah orang tetap memegang kendali atas diri mereka sendiri setelah mereka menyerahkan diri kepada Iblis dan menjadi setia kepadanya dengan cara ini? Tentu saja tidak. Mereka sama sekali dan sepenuhnya dikendalikan oleh Iblis. Mereka telah sama sekali dan sepenuhnya tenggelam dalam rawa ini, dan tidak mampu membebaskan diri mereka. Begitu seseorang terperosok dalam ketenaran dan keuntungan, mereka tidak lagi mencari apa yang cerah, apa yang adil, atau hal-hal yang indah dan baik. Ini karena godaan ketenaran dan keuntungan terlalu besar bagi manusia, dan inilah hal-hal yang dapat dikejar orang tanpa henti sepanjang hidup mereka dan bahkan sampai selama-lamanya. Bukankah inilah situasi sebenarnya?" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). "Sekarang, mari kita tinjau: apa yang Iblis gunakan untuk membuat manusia tetap berada dalam kendalinya? (Ketenaran dan keuntungan.) Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pemikiran orang-orang, membuat mereka hanya memikirkan kedua hal ini, dan membuat mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan serta memikul beban berat demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan segala yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan membuat setiap penilaian atau keputusan adalah demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara inilah, Iblis mengenakan belenggu tak kasatmata pada orang-orang, dan dengan belenggu-belenggu ini, mereka tidak punya kemampuan ataupun keberanian untuk melepaskan diri. Tanpa sadar, mereka memikul belenggu berjalan selangkah demi selangkah, dengan begitu susah payah. ... Mungkin sekarang ini engkau semua masih belum mampu mengetahui yang sebenarnya tentang motif berbahaya Iblis karena mengira bahwa tanpa ketenaran dan keuntungan, hidup itu tidak akan ada artinya, dan orang tidak akan mampu lagi melihat arah ke depan, tidak mampu lagi melihat tujuan mereka, serta masa depan mereka akan menjadi gelap, redup, dan suram" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). Dari pengungkapan firman Tuhan, aku melihat bahwa ketenaran dan keuntungan tidak bisa membawa kebahagiaan; sebaliknya, itu adalah alat yang digunakan Iblis untuk merusak, mengikat, dan mengendalikan orang. Iblis menanamkan pemikiran yang keliru ke dalam diri kita, membuat kita secara keliru percaya bahwa dengan ketenaran dan keuntungan, kita memiliki segalanya, bahwa kita tidak hanya bisa menikmati kehidupan berkualitas tinggi, tetapi kita juga bisa dipandang tinggi oleh orang lain. Hal itu membuat kita merasa bahwa kehidupan seperti itu berharga, dan bahwa hidup dengan cara ini membawa kebahagiaan. Akibatnya, seluruh masyarakat berjuang demi ketenaran dan keuntungan. Namun, kita tidak mengetahui niat jahat Iblis yang tersembunyi di balik ketenaran dan keuntungan. Dalam mengejar ketenaran dan keuntungan, kita perlu menghabiskan banyak waktu dan energi, terlibat dalam pertarungan terbuka dan terselubung, menggunakan banyak taktik, dan tidak hanya mengorbankan kesehatan kita tetapi juga membuang hati nurani, martabat, dan integritas kita. Setelah memperoleh ketenaran dan keuntungan, kita memang menikmati kepuasan sesaat, tetapi itu hanya sekilas. Yang tersisa sebagian besar adalah kehampaan, rasa sakit, dan kepahitan yang tak berujung. Ketika Tuhan datang untuk menyelamatkan kita dan menuntut kita untuk mengejar kebenaran dan menempuh jalan hidup yang benar, kita menolak kebenaran karena keterikatan kita pada ketenaran, keuntungan, dan kesombongan, kehilangan kesempatan kita akan keselamatan dari Tuhan, dan akhirnya binasa bersama Iblis. Inilah niat jahat Iblis yang membuat kita mengejar ketenaran dan keuntungan. Sejak aku kecil, orang tuaku menceritakan keadaan yang berbeda dari kedua bibiku, menanamkan pemikiran seperti "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang" dan "Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya" ke dalam diriku. Aku percaya bahwa hanya dengan masuk universitas dan memiliki pekerjaan stabil yang membuat orang memandang tinggi diriku, aku akan memiliki kehidupan yang bahagia. Demi hal inilah aku giat belajar. Pertama kali aku gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, rasanya duniaku runtuh. Agar berhasil dalam ujian, aku memilih untuk mengulang setahun meskipun ada tekanan yang sangat besar, dengan aku selalu tegang setiap hari. Tubuhku kelelahan hingga melampaui batasnya, dan aku sangat kesakitan. Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, aku mempersiapkan setiap kelas terbuka dengan teliti dan mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh pimpinan sekolah dengan baik, sering bekerja lembur agar tampil menonjol di antara lebih dari seratus guru, dan agar dipuji serta diperhatikan oleh pimpinan sekolah dan rekan-rekan kerjaku. Setelah mendapat pujian dari pimpinan sekolah dan rekan-rekan kerjaku, meskipun aku dihormati, aku kelelahan secara fisik dan mental, dan jiwaku terasa hampa. Setelah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, aku tahu bahwa waktu pekerjaan penyelamatan Tuhan di akhir zaman itu singkat, dan bahwa aku harus mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku secara penuh waktu. Inilah yang paling bermanfaat bagi hidupku. Namun, racun Iblis "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang" dan "Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya" telah berakar dalam di hatiku, membuatku tidak rela melepaskan pekerjaanku, ketenaran, dan keuntungan untuk mengejar kebenaran dengan segenap hati, dan menyiksaku sampai aku benar-benar kelelahan. Faktanya, sebanyak apa pun ketenaran dan keuntungan yang kau miliki, semuanya hanyalah awan yang berlalu. Tanpa memperoleh kebenaran, orang akan mati saat bencana datang. Ini sama seperti tsunami Samudra Hindia tahun 2004, berapa banyak orang yang kehilangan nyawa di surga liburan? Di antara mereka, ada banyak orang yang memiliki reputasi dan status. Saat bencana melanda, uang, ketenaran, dan keuntungan tidak bisa menyelamatkan mereka. Terlalu banyak fakta membuktikan bahwa Sebesar apa pun ketenaran dan keuntungan yang dimiliki seseorang, semuanya hampa, dan nyawa bisa hilang dalam sekejap. Jika aku tetap keras kepala dan tidak sadar, jika aku tidak memanfaatkan waktu untuk mengejar kebenaran, dan pada saat pekerjaan Tuhan berakhir aku belum memperlengkapi diriku dengan cukup kebenaran dan watakku belum berubah, aku akan jatuh ke dalam bencana, dan pada saat itu sudah terlambat untuk menyesal. Insiden lift ini menyadarkanku. Saat bencana melanda, hanya Tuhan yang bisa menyelamatkanku. Kejadian ini bukan Tuhan mencoba mengambil nyawaku, melainkan mendorongku untuk merenungkan kehidupan dan melihat dengan jelas bahaya yang ditimbulkan oleh ketenaran dan keuntungan padaku, agar aku bisa segera sadar dan menempuh jalan hidup yang benar.

Kemudian, kapten Brigade Keamanan Nasional menelepon lagi untuk memeriksa keberadaanku, dan juga berkata bahwa aku memiliki catatan kepolisian, jadi aku harus melapor kepadanya setiap kali aku bepergian jauh. Jika mereka tahu aku masih percaya kepada Tuhan, mereka akan menangkapku. Aku sangat geram, dan juga menyadari bahwa selama aku masih bekerja dalam sistem PKT, aku akan terikat erat oleh mereka, sama sekali tidak bisa melaksanakan tugasku. Ini makin memperkuat tekadku untuk meninggalkan pekerjaanku. Selama liburan musim panas, aku melaksanakan tugasku bersama saudara-saudari. Tanpa terjerat pekerjaan, hatiku jauh lebih tenang, dan aku juga membaca firman Tuhan dan menghadiri pertemuan dengan normal. Suatu hari, pengawas bertanya apakah aku bersedia melaksanakan tugasku secara penuh waktu, dan juga membacakan satu bagian firman Tuhan untukku: "Saat engkau mengikuti Tuhan, menjauhkan dirimu dari tempat-tempat orang berbuat dosa, dan menjauhkan dirimu dari kelompok orang jahat, paling tidak pikiran dan hatimu tidak akan terus mengalami kerusakan dan diinjak-injak oleh Iblis. Engkau telah datang ke tempat yang kudus, datang ke hadapan Tuhan. Bukankah ini suatu berkat yang luar biasa? Orang bereinkarnasi dari generasi ke generasi, hingga saat ini, dan berapa banyak kesempatan semacam itu yang mereka miliki? Bukankah hanya orang-orang yang lahir pada akhir zaman yang memiliki kesempatan ini? Betapa luar biasanya hal ini! Ini sama sekali bukan kerugian, ini adalah berkat yang terbesar. Engkau seharusnya sangat bahagia! Sebagai makhluk ciptaan, di antara semua ciptaan, di antara beberapa miliar manusia di bumi, berapa banyak orang yang memiliki kesempatan untuk bersaksi tentang perbuatan Sang Pencipta dalam identitas mereka sebagai makhluk ciptaan, untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka di antara pekerjaan Tuhan? Siapa yang memiliki kesempatan seperti itu? Apakah ada banyak orang yang seperti itu? Terlalu sedikit! Berapa rasionya? Satu dari sepuluh ribu? Tidak, bahkan lebih sedikit lagi! Terutama engkau yang dapat menggunakan keahlian dan pengetahuan yang telah engkau pelajari untuk melaksanakan tugasmu, bukankah engkau sangat diberkati? Engkau bukan bersaksi tentang seorang manusia, dan apa yang kaulakukan ini bukan sebuah karier—yang engkau layani adalah Sang Pencipta. Ini adalah hal yang paling indah dan berharga! Bukankah engkau seharusnya merasa bangga? (Ya.) Saat engkau melaksanakan tugasmu, engkau mendapatkan penyiraman dan perbekalan Tuhan. Memiliki lingkungan dan kesempatan yang sebaik itu, jika engkau tidak memperoleh sesuatu yang substansial, jika engkau tidak memperoleh kebenaran, bukankah engkau akan merasa menyesal seumur hidupmu? Jadi, engkau semua harus memanfaatkan kesempatan untuk melaksanakan tugasmu, dan jangan biarkan kesempatan itu berlalu begitu saja; kejarlah kebenaran dengan sungguh-sungguh saat engkau melaksanakan tugasmu, dan dapatkan itu. Ini adalah hal paling berharga yang dapat engkau lakukan, kehidupan yang paling bermakna! Tidak ada orang atau sekelompok orang di antara semua makhluk ciptaan yang lebih diberkati daripada engkau semua. Untuk apakah orang-orang tidak percaya hidup? Mereka hidup untuk bereinkarnasi, dan untuk keramaian dunia ini. Untuk apa engkau semua hidup? Engkau hidup untuk melaksanakan tugas makhluk ciptaan. Nilai kehidupan seperti itu sangat besar!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Dengan Menyerahkan Hatinya kepada Tuhan, Orang Dapat Memperoleh Kebenaran"). Saat aku merenungkan firman Tuhan, aku memahami bahwa jika kita ingin menjalani kehidupan yang bernilai dan bermakna, kita harus mengejar kebenaran, melaksanakan tugas kita, dan membaca lebih banyak firman Tuhan untuk memahami lebih banyak kebenaran. Hanya dengan cara ini, kita bisa membedakan kesesatan, kekeliruan, dan berbagai tipu muslihat Iblis, dan membebaskan diri dari belenggu serta kendali Iblis untuk hidup dalam terang. Begitu juga denganku. Aku tidak hanya memiliki keinginan yang kuat akan ketenaran dan status, tetapi aku juga memiliki banyak watak rusak seperti keegoisan, watak yang keras kepala, dan kecongkakan. Jika aku tidak bersungguh-sungguh membaca firman Tuhan dan mengalami penghakiman serta hajaran dari firman-Nya, watak rusak ini tidak akan bisa diatasi, dan aku akan tetap hidup dalam penderitaan dan kegelapan. Dengan melepaskan pekerjaanku, aku akan memiliki lebih banyak waktu untuk melaksanakan tugasku, mengejar kebenaran untuk mengatasi kerusakanku, dan hidup di hadapan Tuhan. Kehidupan seperti itu akan menjadi yang paling membahagiakan. Tepat seperti yang Tuhan katakan: "Saat engkau mengikuti Tuhan, menjauhkan dirimu dari tempat-tempat orang berbuat dosa, dan menjauhkan dirimu dari kelompok orang jahat, paling tidak pikiran dan hatimu tidak akan terus mengalami kerusakan dan diinjak-injak oleh Iblis. Engkau telah datang ke tempat yang kudus, datang ke hadapan Tuhan. Bukankah ini suatu berkat yang luar biasa?" Kemudian aku teringat akan Petrus. Dia meninggalkan segalanya untuk mengikuti Tuhan Yesus, dan mengejar kebenaran serta ketundukan kepada Tuhan seumur hidupnya. Setelah mengalami ratusan ujian, dia akhirnya disempurnakan. Kehidupan seperti itu adalah yang paling bermakna dan bernilai. Setelah memahami hal ini, aku memperoleh iman dan mulai bersiap meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasku.

Tepat saat aku bersiap menulis surat pengunduran diri, aku menerima sertifikat pengangkatan jabatan profesional senior dari dinas pendidikan kota. Dengan sertifikat ini, aku bisa menikmati remunerasi dan tunjangan guru senior. Aku tidak hanya akan dihormati di tempat kerja, tetapi gaji tahunanku juga akan meningkat lebih dari sepuluh ribu yuan. Tak lama kemudian, Kepala Bagian Pengajaran sekolah memintaku mengisi formulir untuk penghargaan guru unggul di tingkat distrik. Aku hampir tidak percaya. Dari lebih dari seratus guru di sekolah, hanya ada dua kuota per tahun. Ini adalah kehormatan yang diimpikan semua guru! Jika aku tidak mengundurkan diri, aku bisa pergi ke auditorium pemerintah distrik untuk menerima penghargaan pada Hari Guru dalam beberapa hari. Namaku akan diterbitkan di koran pendidikan kota, dan aku juga akan menerima bonus dari sekolah. Dengan dua kehormatan ini di tangan, semester depan aku pasti akan sangat dihormati, dan entah berapa banyak lagi rekan kerjaku yang akan iri padaku. Namun, aku segera sadar bahwa ini adalah pencobaan Iblis. Aku teringat akan firman Tuhan: "Jika engkau bangkit dan berperang melawan Iblis, menggunakan imanmu kepada Tuhan serta ketundukanmu, dan rasa takutmu akan Tuhan sebagai senjatamu untuk berperang hidup dan mati melawan Iblis, sehingga engkau akan mengalahkan Iblis sepenuhnya dan membuatnya lari terbirit-birit dan menjadi ketakutan setiap kali dia melihatmu, hanya setelah itulah dia akan sepenuhnya menghentikan serangan dan tuduhannya terhadapmu, dan pada saat itu, engkau akan diselamatkan dan menjadi bebas" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"). Iblis tahu aku peduli pada ketenaran dan keuntungan, jadi dia menggunakan dua kehormatan ini untuk mencobaiku, berharap dengan sia-sia agar aku tetap di tempat kerja untuk bersaing demi ketenaran dan keuntungan, dihancurkan dan dikendalikan olehnya. Iblis selalu menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengikat hatiku dan menghalangiku mengejar kebenaran. Aku tidak boleh jatuh ke dalam tipu muslihatnya lagi. Yang terpenting, aku tidak mau melewatkan kesempatan sekali dalam seribu tahun ini bagi Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang. Aku harus melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dengan baik, memercayakan masa depan hidupku kepada Tuhan, dan mengejar untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Tepat seperti yang dikatakan firman Tuhan: "Jika engkau memiliki status yang tinggi, reputasi yang bagus, banyak pengetahuan, banyak aset, dan dukungan dari banyak orang, tetapi engkau tetap tidak terganggu oleh hal-hal ini dan masih datang ke hadapan Tuhan untuk menerima panggilan-Nya dan amanat-Nya serta melakukan apa yang diminta-Nya darimu, maka semua yang kaulakukan pasti merupakan usaha yang paling bermakna di bumi dan usaha umat manusia yang paling adil" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 2: Tuhan Berdaulat Atas Nasib Seluruh Umat Manusia"). Di dunia ini, tidak ada yang lebih bermakna atau bernilai daripada melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dengan baik. Jika kurenungkan masa lalu, aku telah bekerja keras dan mendapatkan apresiasi dari pimpinan sekolah dan orang tua, tetapi aku belum melaksanakan tugasku sendiri dengan baik atau mendapatkan perkenanan Tuhan, dan hatiku masih hampa. Sekarang bencana dahsyat sudah dimulai, dan waktu tidak menunggu siapa pun. Banyak orang belum mendengar Injil Tuhan di akhir zaman dan tidak memiliki arah yang benar dalam hidup. Aku harus bergegas dan memberitakan Injil agar lebih banyak orang menerima keselamatan dari Tuhan. Ini adalah maksud Tuhan yang mendesak. Setelah memahami hal ini, aku menyerahkan surat pengunduran diriku kepada kepala sekolah. Kepala sekolah sangat terkejut dan berkata, "Banyak orang berjuang mati-matian demi gelar ini, tetapi kau ingin melepaskannya. Kau harus berpikir baik-baik! Jika kau melepaskan pekerjaan sebagus ini, bagaimana kau akan hidup ke depannya? Jika masalahnya adalah beban kerja, kami akan mengurangi beban kerjamu tahun ini. Aku akan merenovasi kantorku dan menjadikannya kantor keuangan untukmu. Kuharap kau akan terus bekerja di sini." Mendengar perkataan kepala sekolah, aku tidak lagi ragu dan dengan tegas memilih untuk pergi. Setelah kembali ke rumah, aku meninggalkan surat untuk ayahku, lalu mengambil barang-barangku dan meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasku.

Aku mengenang kembali bagaimana, selama bertahun-tahun, aku telah mengejar ketenaran dan keuntungan, dan hanya puas dengan percaya kepada Tuhan di waktu luangku, tidak banyak melaksanakan tugas, dan hanya tahu cara menikmati kasih karunia Tuhan. Aku tidak bisa mengenali watak rusakku, sudut pandangku yang keliru, dan berbagai racun Iblis, dan watak hidupku belum berubah sama sekali. Sekarang, aku sedang melaksanakan tugasku di gereja, dan dengan sering membaca firman Tuhan, aku bisa memahami banyak kebenaran. Biasanya, ketika aku memperlihatkan watak rusak apa pun, saudara-saudari langsung menunjukkannya, dan mereka bersekutu denganku serta membantuku menggunakan firman Tuhan. Aku sudah mulai mengenal diriku sendiri, dan hidupku juga telah mengalami kemajuan. Dari lubuk hatiku, aku merasa bahwa mengikuti Tuhan adalah pilihan terbaik yang telah kubuat dalam hidup ini. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Keputusan yang Tak Terubahkan

Oleh Saudari Bai Yang, TiongkokSaat aku berusia 15 tahun, ayahku mendadak sakit dan meninggal dunia. Ibuku tak mampu menerima pukulan ini...

Memilih Antara Sekolah dan Tugas

Oleh Saudari Lu Yang, TiongkokSejauh yang kuingat, orang tuaku tak pernah akur. Mereka selalu bertengkar, dan terkadang ayah akan memukul...

Hubungi kami via WhatsApp