Hanya Melihat Orang Melalui Firman Tuhanlah Yang Tepat
Oleh Saudari Shan Xin, Korea Satu hari, pada Maret tahun ini, tiba-tiba kudengar gereja mengasingkan kakakku untuk merenung. Jantungku...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Ayahku gagap, dan aku pun mengalami hal yang sama sejak kecil. Saat tidak berhadapan dengan orang asing, aku baik-baik saja. Namun, setiap kali bertemu orang baru, aku menjadi gugup dan berbicara dengan gagap. Kakak laki-laki dan perempuanku sering berkata, "Lihat cara bicaramu, apa kau tidak bisa berbicara lebih pelan?" Kritikan mereka membuatku sangat sedih. Bahkan saudara kandungku sendiri tidak menyukaiku dan memandang rendah diriku. Aku merasa sangat rendah diri dan sering menangis karena merasa diperlakukan tidak adil. Di sekolah dasar, suatu kali guru menunjukku untuk menjawab pertanyaan, dan aku menjadi sangat gugup, Saat berbicara, tiba-tiba aku tergagap dan tidak bisa mengucapkan apa-apa, lalu semua teman sekelasku tertawa terbahak-bahak. Itu sangat memalukan. Sejak saat itu, aku tidak pernah mengangkat tangan untuk bicara setiap kali guru meminta kami melakukannya, karena takut ditertawakan teman-teman sekelas. Kejadian serupa di tahun-tahun itu membayangi hatiku yang masih belia. Aku terus-menerus merasa tidak layak dan sangat rendah diri. Aku juga sangat bingung dan bertanya-tanya, "Mengapa aku tidak bisa berbicara selancar orang lain? Mengapa aku gagap?" Setelah menikah, suamiku pun mengolok-olokku karena gagap. Dia berkata, "Kau sudah dewasa, tetapi bicara saja tidak becus. Kalau kau seekor sapi, kau sudah kutukar sejak dahulu." Setiap kali aku berbicara dengan anak-anakku, terkadang aku juga gagap saat sedang cemas, anak-anakku pun menertawakanku, "Lihat, Mama gagap lagi. Kenapa tidak pelan-pelan saja bicaranya?" Anak-anak dan suamiku sering berkata seperti itu kepadaku. Aku merasa seperti orang yang tidak berguna dalam hidup dan harga diriku hancur berantakan. Setelah itu, aku mulai menghindari banyak berbicara, dan tidak berani berbicara di depan orang asing, karena dengan begitu, tidak ada yang tahu kalau aku gagap, dan mereka tidak akan mengejekku.
Pada tahun 2003, aku menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Aku tahu bahwa aku gagap, jadi saat mengikuti pertemuan dengan saudara-saudari, aku jarang bersekutu. Saudara-saudari mendorongku untuk lebih banyak bersekutu dan terbuka saja, karena itulah satu-satunya jalan untuk bertumbuh dalam kehidupan. Mereka juga berkata, "Setiap orang pasti punya kekurangan, jangan biarkan kekuranganmu mengekangmu." Saat kulihat bahwa mereka tidak merendahkanku, tetapi justru mendorong dan membantuku, aku sangat tersentuh dan merasa bahwa percaya kepada Tuhan itu benar-benar indah. Aku belum pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya, dan sejak saat itu, aku tidak lagi terlalu merasa terkekang.
Beberapa waktu kemudian, aku dipilih menjadi pemimpin gereja. Suatu hari, para pemimpin tingkat atas menugaskanku untuk melaksanakan tugasku di Gereja Chengdong. Aku berpikir dalam hati, "Kalau aku pergi ke Gereja Chengdong, dan saudara-saudari tahu bahwa aku gagap, apa yang akan mereka pikirkan tentangku? Akankah mereka menertawakanku? Itu akan sangat memalukan! Aku tidak mau pergi." Pemimpin tingkat atas menyadari apa yang kupikirkan dan bersekutu denganku. Dia berkata bahwa ini adalah kesempatan untuk dilatih. Setelah mempertimbangkan dengan nalar, aku setuju untuk menerima tugas tersebut. Di Gereja Chengdong, saat aku berkumpul bersama para pemimpin dan diaken, aku merasa agak gugup karena semua wajah di sana asing, dan aku takut mereka akan meremehkanku jika aku terus gagap, jadi aku berharap pertemuan itu cepat selesai. Namun, makin gugup aku, makin parah pula gagapku, dan aku merasa sangat malu. Saat melihat sekeliling, aku melihat beberapa saudara-saudari menundukkan kepala, dan yang lain diam saja. Hatiku menjadi sangat sedih. Aku berpikir dalam hati, "Pasti mereka sedang berpikir, 'Kenapa orang gagap bisa sampai di sini?' Kalau aku tidak bersekutu, mereka akan berkata bahwa aku tidak memiliki kenyataan kebenaran, tetapi kalau aku teruskan, aku hanya akan makin gagap." Aku tidak punya pilihan selain terus berusaha dan melanjutkan persekutuan. Di pertemuan itu, aku sering tergagap-gagap, dan aku hampir tidak bisa menyelesaikannya. Awalnya aku berencana untuk bertanya tentang kondisi mereka, tetapi aku berpikir, "Bagaimana kalau mereka memang punya masalah atau kesulitan? Aku harus bersekutu dengan mereka menggunakan firman Tuhan. Kalau aku gagap lagi, mereka pasti akan menertawakanku. Lupakan saja, lebih baik tidak usah bertanya." Akhirnya, tidak ada hasil yang dicapai dari pertemuan itu, dan pekerjaan yang perlu dijalankan pun tidak dilaksanakan dengan baik, sehingga pekerjaan menjadi tertunda. Dalam perjalanan pulang, aku merasa sangat tersiksa dan mengeluh dalam hati, "Mengapa aku harus gagap? Mengapa orang lain tidak gagap?" Aku merasa sangat rendah diri, aku mengganggap diriku lebih rendah daripada orang lain. Sejak saat itu, setiap kali menghadiri pertemuan dengan para pemimpin dan diaken, aku merasa terkekang. Aku takut akan gagap lagi dan ditertawakan atau diremehkan, jadi aku berusaha untuk bersekutu seminimal mungkin. Aku hanya menyampaikan beberapa komentar umum tentang pekerjaan yang perlu dijalankan, yang akibatnya, pada akhirnya pekerjaan itu tidak membuahkan hasil yang baik. Aku tahu bahwa terus-menerus terkekang oleh kegagapanku telah memengaruhi pekerjaan, jadi aku sering membawa keadaanku ke hadapan Tuhan dalam doa, memohon agar Tuhan membimbingku supaya aku tidak terkekang oleh hal ini. Kadang-kadang, saat aku mulai gagap lagi ketika berbicara, aku menutupi mulutku dengan tangan agar orang lain tidak melihat bibirku bergetar karena gagap. Selama pertemuan, aku selalu meminta saudara-saudari lain untuk membacakan firman Tuhan, dan kalau benar-benar tidak bisa kuhindari, aku hanya membaca bagian-bagian pendek saja. Dengan cara ini, makin sedikit orang yang tahu bahwa aku gagap. Namun, hidup seperti ini sangat menyakitkan. Aku merasa sangat tertekan dan lelah. Hal ini juga memengaruhi performa tugasku.
Suatu kali, aku membuka diri kepada seorang saudari, "Aku gagap saat berbicara, dan aku takut kalian semua akan meremehkanku, jadi aku tidak punya keberanian untuk bersekutu." Saudari itu berkata, "Aku bahkan tidak menyadari kau gagap saat berbicara. Kadang-kadang saat aku mendengarmu berhenti di tengah kalimat, aku hanya berpikir kau terlalu terkekang untuk terus berbicara." Saudari itu juga mendorongku, katanya, "Tidak ada manusia yang sempurna. Pernahkah kau bertemu orang yang tidak punya kekurangan? Firman Tuhan mengatakan bahwa setiap orang memiliki kelemahan dan kekurangan. Jangan terkekang oleh hal ini, kejarlah kebenaran dengan sungguh-sungguh. Kegagapanmu itu karena gugup, tetapi kau tidak perlu khawatir soal itu. Fokus saja pada tugasmu, perlahan-lahan kau tidak akan terkekang lagi oleh kegagapanmu." Aku merasa agak lega mendengar perkataan saudari itu. Beberapa waktu kemudian, aku menonton sebuah video kesaksian pengalaman, yang menerangi hatiku dan sangat menguatkanku. Salah satu bagian firman Tuhan yang dikutip dalam video itu secara langsung membahas keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Dalam situasi tertentu, ada masalah yang tak mampu kauatasi, seperti mudah merasa gugup saat berbicara kepada orang lain. Engkau mungkin memiliki ide atau sudut pandangmu sendiri saat menghadapi situasi tertentu, tetapi engkau tidak mampu mengungkapkannya dengan jelas. Engkau merasa sangat gugup ketika ada banyak orang yang hadir; bicaramu tidak jelas dan bibirmu gemetar. Beberapa orang di antaramu bahkan menjadi gagap; ada juga orang yang menjadi tak mampu berkata-kata saat ada lawan jenis, sama sekali tidak tahu apa yang harus mereka katakan dan lakukan. Apakah situasi seperti itu mudah diatasi? (Tidak.) Setidaknya dalam jangka pendek, tidak mudah bagimu untuk mengatasi masalah ini karena ini merupakan bagian dari kondisi bawaanmu. Jika setelah beberapa bulan berlatih, engkau masih merasa gugup, jika kegugupan itu berubah menjadi tekanan, yang berdampak negatif terhadapmu sehingga engkau takut berbicara, bertemu orang, menghadiri persekutuan, atau menyampaikan khotbah, dan ketakutan tersebut mampu melumpuhkanmu; dalam kasus seperti itu, engkau tidak perlu berusaha untuk mengatasi kesulitan ini. … Jadi, jika engkau tidak mampu mengatasi masalah ini dalam jangka pendek, tidak perlu memusingkannya, jangan berjuang melawannya, dan jangan menantang dirimu sendiri. Tentu saja, meskipun engkau tidak mampu mengatasinya, engkau tidak boleh menjadi negatif. Sekalipun engkau tidak pernah mampu mengatasinya seumur hidupmu, Tuhan tidak akan menghukummu, karena ini bukanlah perwujudan dari watak rusakmu. Demam panggungmu, kegugupan dan ketakutanmu, semua perwujudan ini tidak mencerminkan watak rusakmu; entah itu adalah bawaanmu atau disebabkan oleh lingkungan di kemudian hari dalam hidupmu, paling-paling itu merupakan cacat, kekurangan dalam kemanusiaanmu. Jika engkau tidak mampu mengubahnya dalam jangka panjang, atau bahkan seumur hidupmu, jangan terus memikirkannya, jangan biarkan hal itu mengekangmu, dan engkau juga tidak boleh menjadi negatif karenanya, karena ini bukanlah watak rusakmu; tidak ada gunanya berusaha mengubahnya atau berusaha melawannya, biarkan itu ada, dan perlakukan hal itu dengan benar, karena engkau dapat hidup berdampingan dengan cacat ini, dengan kekurangan ini; memiliki cacat atau kekurangan ini tidak akan memengaruhimu dalam percaya kepada Tuhan, dalam mengikut Tuhan. Asalkan engkau mampu menerima kebenaran, engkau tetap dapat hidup secara normal, tetap dapat diselamatkan; itu tidak akan memengaruhimu dalam menerima kebenaran dan tidak akan memengaruhi keselamatanmu. Oleh karena itu, engkau tidak boleh sering dikekang oleh cacat atau kekurangan tertentu dalam kemanusiaanmu, juga tidak boleh sering menjadi negatif dan berkecil hati, atau bahkan melepaskan tugasmu dan tidak lagi mengejar kebenaran, kehilangan kesempatanmu untuk diselamatkan, untuk alasan yang sama. Itu benar-benar tidak sepadan; itulah yang akan dilakukan orang yang bodoh dan tidak mengerti" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku mulai memahami bahwa gagap adalah kekurangan dan cacat dalam diri manusia, itu bukanlah watak rusak dan tidak memengaruhi pengejaran kebenaran atau keselamatan seseorang. Aku tidak boleh terus-menerus terkekang atau bersikap negatif hanya karena satu kekurangan, apalagi sampai menyerah dalam mengejar kebenaran, karena jika begitu, aku akan kehilangan kesempatan untuk diselamatkan dan itu adalah perilaku yang bodoh dan tidak berakal. Aku merenungkan bahwa selama bertahun-tahun, karena masalah gagapku, meskipun tahu bahwa aku seharusnya terbuka dan bersekutu untuk memperoleh pencerahan dan bimbingan Tuhan selama pertemuan, aku tidak berani bersekutu karena takut saudara-saudari akan menyadari bahwa aku gagap. Setelah pergi ke Gereja Chengdong, aku menjadi makin terkekang oleh kegagapanku, dan makin aku takut orang lain menyadarinya, aku pun makin gugup dan gagapku makin parah. Akibatnya, aku sama sekali tidak menikmati pertemuan. Aku tidak menyelidiki atau mengatasi persoalan serta kesulitan yang dihadapi para pemimpin dan diaken, dan pertemuan pun diakhiri secara tergesa-gesa tanpa dijalankannya pekerjaan dengan baik. Aku sering terkekang oleh kegagapanku dan tidak berani terbuka serta bersekutu selama pertemuan. Ini bukan hanya merugikan jalan masuk kehidupanku sendiri, tetapi juga tidak bermanfaat bagi saudara-saudari. Selain itu, pekerjaan gereja pun tertunda. Aku melihat betapa bodoh dan tidak berakalnya diriku selama ini. Tuhan berkata: "Jika engkau tidak mampu mengubahnya dalam jangka panjang, atau bahkan seumur hidupmu, jangan terus memikirkannya, jangan biarkan hal itu mengekangmu, dan engkau juga tidak boleh menjadi negatif karenanya, karena ini bukanlah watak rusakmu; tidak ada gunanya berusaha mengubahnya atau berusaha melawannya, biarkan itu ada, dan perlakukan hal itu dengan benar, karena engkau dapat hidup berdampingan dengan cacat ini, dengan kekurangan ini; memiliki cacat atau kekurangan ini tidak akan memengaruhimu dalam percaya kepada Tuhan, dalam mengikut Tuhan. Asalkan engkau mampu menerima kebenaran, engkau tetap dapat hidup secara normal, tetap dapat diselamatkan; itu tidak akan memengaruhimu dalam menerima kebenaran dan tidak akan memengaruhi keselamatanmu." Saat membaca firman Tuhan, hatiku terasa hangat dan dipenuhi dorongan. Aku teringat bahwa sejak kecil, aku sering dipandang rendah dan diremehkan karena masalah gagapku. Aku sering tenggelam dalam perasaan rendah diri, kupikir diriku tidak sebaik orang lain. Namun, Tuhan tidak menjauhiku, bahkan mendorongku untuk dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran dan keselamatan. Aku merasakan bahwa Tuhan benar-benar mengasihi manusia, dan beban berat di dalam hatiku pun akhirnya terangkat. Karena Tuhan tidak merendahkan kelemahanku, aku pun harus menghadapi hal ini dengan benar. Sekalipun kelemahanku ini tidak akan berubah di sepanjang hidupku, aku tidak boleh terus terkekang olehnya. Sebaliknya, aku harus fokus mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku dengan baik. Setelah menyadari hal-hal ini, aku datang ke hadapan Tuhan dan berdoa: "Oh Tuhan, sekarang aku memahami maksud-Mu. Aku rela menghadapi kekurangan dan kelemahanku dengan benar, serta berhenti mengeluh. Aku mau tunduk dan melaksanakan tugasku dengan baik."
Setelah berdoa, aku merenung lebih dalam, "Mengapa aku selalu terkekang oleh kegagapanku? Watak rusak seperti apa yang menyebabkan hal ini?" Kemudian, aku mencari firman Tuhan untuk kubaca. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Bukannya mencari kebenaran, kebanyakan orang memiliki agenda picik mereka sendiri. Kepentingan, reputasi, dan tempat atau kedudukan mereka di benak orang lain sangatlah penting bagi mereka. Hanya hal-hal inilah yang mereka hargai. Mereka menggenggam erat hal-hal ini dan menganggapnya sebagai hidup mereka. Dan bagaimana hal-hal ini dipandang atau diperlakukan oleh Tuhan, itu dianggap kurang penting; untuk saat ini, mereka mengabaikan hal itu; untuk saat ini, mereka hanya memikirkan apakah mereka adalah pemimpin kelompok atau bukan, apakah orang lain menghormati mereka, apakah perkataan mereka berbobot. Perhatian utama mereka adalah menduduki posisi tersebut. Ketika berada dalam kelompok, hampir semua orang mencari kedudukan dan peluang seperti ini. Jika mereka sangat berbakat, tentu saja mereka ingin menjadi yang terbaik; jika mereka memiliki kemampuan yang biasa-biasa saja, mereka tetap ingin memiliki kedudukan yang lebih tinggi dalam kelompok tersebut; dan jika mereka memiliki kedudukan yang rendah dalam kelompok, karena memiliki kualitas dan kemampuan rata-rata, mereka juga ingin orang lain menghormati mereka, mereka tidak mau orang lain memandang rendah diri mereka. Reputasi dan martabat orang-orang ini adalah batas minimum yang harus mereka miliki: mereka harus memegang erat hal-hal ini. Mereka boleh saja tidak memiliki integritas dan tidak mendapatkan perkenanan atau penerimaan Tuhan, tetapi mereka sama sekali tidak boleh kehilangan rasa hormat, status, atau harga diri yang telah mereka bangun di benak orang-orang—yang merupakan watak Iblis. Namun, kebanyakan orang tidak memiliki kesadaran akan hal ini. Keyakinan mereka adalah, mereka harus memegang erat reputasi ini sampai akhir. Mereka tidak menyadari bahwa hanya jika hal-hal yang sia-sia dan dangkal ini dilepaskan dan dikesampingkan sepenuhnya, barulah mereka akan menjadi manusia sejati. Jika orang mempertahankan hal-hal yang seharusnya dibuang ini sebagai hidup mereka, mereka akan kehilangan hidup mereka. Mereka tidak tahu apa yang dipertaruhkan. ... Setelah engkau disorot kamera, lalu apa? Memangnya kenapa jika orang-orang mengagumimu? Memangnya kenapa jika mereka memujamu? Apakah semua ini membuktikan bahwa engkau memiliki kenyataan kebenaran? Tak satu pun dari hal ini yang bernilai. Ketika engkau mampu mengatasi hal-hal ini—ketika engkau menjadi acuh tak acuh terhadapnya, dan tidak lagi merasa semua itu penting, ketika reputasi, kesombongan, status, dan kekaguman orang tidak lagi mengendalikan pemikiran dan perilakumu, dan juga tidak mengendalikan bagaimana engkau melaksanakan tugasmu—maka pelaksanaan tugasmu akan menjadi semakin efektif dan semakin murni" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Melalui pengungkapan firman Tuhan, aku menyadari bahwa sebesar apa pun kemampuan atau kualitas seseorang, semua orang pasti ingin dikagumi oleh orang lain. Ketika kuingat kembali, sejak kecil aku sudah gagap, bahkan saudara kandungku sendiri menjauhi dan meremehkanku. Di sekolah pun, aku sering diejek oleh teman-teman sekelas, jadi aku merasa sangat rendah diri. Setelah menikah, bahkan suami dan anak-anakku juga mengolok-olok aku, yang makin melukai harga diriku. Aku bahkan menangis karena merasa diperlakukan tidak adil. Ternyata aku sangat mengkhawatirkan harga diriku! Aku berpikir tentang bagaimana sejak kecil, aku telah dipengaruhi oleh racun Iblis seperti "Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya", dan "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang". Aku terutama sangat memedulikan harga diriku. Karena aku gagap, aku takut ditertawakan dan diremehkan, hasilnya aku sering tenggelam dalam perasaan negatif dan sakit hati yang tak bisa kuhindari. Aku tidak bisa bersekutu sebagaimana mestinya dalam pertemuan, ataupun mengerjakan hal yang seharusnya bisa kukerjakan dengan baik. Namun, rumah Tuhan tidak meremehkan atau memperlakukanku berdasarkan kelemahanku. Sebaliknya, aku justru dipercayakan tugas kepemimpinan dan didorong untuk mengejar kebenaran dan keselamatan dengan baik. Bukankah ini adalah kasih Tuhan? Namun, karena aku terlalu terobsesi dengan harga diriku, aku justru tidak melaksanakan tugas yang seharusnya kulaksanakan. Bukankah aku memberontak terhadap Tuhan? Kenyataannya, sekalipun aku dikagumi oleh orang lain, itu tidak ada artinya tanpa perkenan Tuhan. Pengejaran reputasi dan status tidak akan mengubah watak hidupku, malah justru akan membuatku makin negatif, dan pada akhirnya aku akan dibenci, ditolak, dan disingkirkan oleh Tuhan karena tidak melaksanakan tugasku dengan baik. Saat menyadari hal ini, aku merasa takut sekaligus bersalah. Tak pernah kubayangkan bahwa tenggelam dalam keangkuhan dan status bisa membawa akibat yang begitu serius. Sejak saat itu, aku ingin melepaskan harga diri dan status, menangani kegagapanku dengan benar, dan bersekutu dengan normal bersama saudara-saudariku.
Suatu hari, aku sedang membahas sebuah tugas bersama rekan kerjaku dan aku kembali merasa gugup. Aku khawatir tentang apa yang dia pikirkan tentangku jika aku mulai gagap. Sebelumnya, dia pernah memberi tahu bahwa aku sering berhenti di tengah kalimat, dan karena kami belum lama bekerja sama, dia belum tahu bahwa aku gagap. Aku berpikir, "Kalau aku berhenti lagi di tengah kalimat, akankah dia menjauhiku?" Saat aku berbicara, tiba-tiba aku tersendat dan terdiam. Saudari itu berkata, "Kenapa kau terus-menerus berhenti di tengah kalimat? Kau tidak bisa mengungkapkan pikiranmu dengan jelas?" Aku pun berpikir, "Apakah dia akan menjauhiku sekarang?" Aku merasa agak terkekang. Pada saat itu, aku menyadari bahwa pikiranku keliru, dan aku berdoa kepada Tuhan di dalam hati, "Tuhan, aku takut saudari ini akan meremehkanku karena aku gagap. Aku tidak mau terkekang oleh hal ini lagi. Tolong tuntun aku agar aku bisa menangani kelemahanku dengan benar." Setelah berdoa, aku teringat sebuah bagian firman Tuhan yang pernah kubaca, jadi aku membacanya lagi. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Aku sangat tersentuh dan terinspirasi saat membaca bagian firman Tuhan ini, terutama ketika Tuhan berkata: "" Kelemahan dan kekuranganku bukanlah sesuatu yang negatif, juga bukanlah watak rusak, dan selama aku dengan rajin mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku sesuai prinsip, Tuhan akan menuntunku. Aku tidak boleh terkekang oleh kegagapanku lagi. Apa pun yang mungkin dipikirkan saudara-saudari, aku harus terbuka dan menceritakan kelemahanku ini, dan aku tidak boleh merasa malu, apalagi sampai terkekang. Aku harus menghadapinya dengan benar. Jadi, aku berkata kepada saudari itu, "Aku sudah gagap sejak kecil. Ke depannya, aku akan berusaha untuk berbicara lebih pelan dan menyelesaikan kalimatku agar orang lain bisa memahamiku." Setelah berkata begitu, aku tidak lagi merasa terkekang.
Belakangan, ketika membaca firman Tuhan di pertemuan dan tersendat, aku akan membacanya dengan perlahan-lahan. Terkadang, saat aku gugup dan mulai gagap, aku berhenti sejenak, menyesuaikan pola pikirku, lalu berbicara lagi. Hal itu cukup membantuku. Firman Tuhanlah yang menuntunku untuk memahami kelemahanku ini dengan benar. Sekarang aku tidak lagi terkekang olehnya dan akhirnya merasa bebas. Terima kasih Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudari Shan Xin, Korea Satu hari, pada Maret tahun ini, tiba-tiba kudengar gereja mengasingkan kakakku untuk merenung. Jantungku...
Oleh Saudari Yi Chen, TiongkokTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Setiap langkah dari pekerjaan Tuhan—entah itu firman yang keras, atau...
Aku menyirami para anggota baru di gereja. Suatu malam di bulan September 2008, seperti biasa, aku menunggu pasangan Yu Hui dan Xin Ming...
Pada bulan Agustus 2023, aku menjadi pemimpin di sebuah gereja. Pada tanggal 29, datang sepucuk surat dari para pemimpin tingkat atas....