Pilihan Seorang Guru
Ketika matahari terbenam di ufuk barat, di saat senja, pintu sebuah rumah peternakan kecil terbuka, dengan sehelai kain putih yang terikat...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Ketika aku masih muda, dua sepupuku telah mencapai kesuksesan di usia muda, dan memiliki mobil dan rumah. Setiap merayakan Tahun Baru, ketika kami mengunjungi para kerabat, mereka terus-menerus memuji sepupuku dan melemparkan pandangan penuh kekaguman ke arah mereka. Kesan yang luar biasa dari sepupu-sepupuku itu terpatri secara mendalam di hatiku. Pada waktu itu, keluargaku adalah yang termiskin di antara kerabat kami dan orang-orang memandang rendah kami. Jadi, aku iri pada sepupu-sepupuku yang mampu menarik perhatian orang lain di mana pun mereka berada. Aku merasa seperti inilah cara hidup yang bermartabat dan bernilai. Diam-diam aku bersumpah pada diriku sendiri, "Di masa depan, aku pasti akan menonjol dan mencapai sesuatu, dan aku akan membuat kerabat dan teman-temanku mengagumiku."
Pada usia enam belas tahun, Aku, yang masih naif, memulai perjalanan kerjaku dengan memiliki mimpi di dalam hatiku. Aku mengalami kesulitan mencari pekerjaan seorang diri di kota Guangzhou yang masih asing, dan aku bahkan harus tidur di samping hamparan bunga di dekat stasiun kereta api karena tidak punya uang. Cita-citaku memang indah, tetapi kenyataannya sangat keras, dan sekeras apa pun aku bekerja, aku tak pernah bisa menghasilkan banyak uang. Pada waktu itu, ibuku memberitakan Injil Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman kepadaku, dan aku menghadiri pertemuan selama beberapa waktu, tetapi karena aku ingin menghasilkan uang dan menjalani kehidupan yang lebih baik, aku terus pergi ke tempat-tempat lain untuk bekerja. Pada tahun 2014, aku bergabung dengan sebuah perusahaan jaringan terkenal sebagai tenaga penjual, berpikir, "Banyak selebriti dan orang kaya yang memulai kariernya di bidang penjualan. Bidang penjualan tidak hanya melatih orang tetapi juga meningkatkan keterampilan bisnis seseorang." Dengan pemikiran ini, aku dengan penuh semangat menenggelamkan diri dalam pekerjaan ini. Untuk mencapai hasil, aku sering melakukan perjalanan ke berbagai provinsi dan kota untuk perjalanan bisnis, bekerja siang dan malam, hampir tidak pernah makan tepat waktu atau tidur dengan nyenyak. Sebagai orang yang cenderung mengalami mabuk perjalanan, aku merasa pusing dan kelelahan karena bepergian setiap hari. Di musim panas, saat aku mencari barang di dalam truk, keringat membasahi sekujur tubuhku, celanaku menempel di kakiku seolah-olah baru saja dicuci. Pada suatu musim dingin, kaca depan mobilku pecah, dan aku berkendara lebih dari seratus kilometer melawan angin dingin yang menggigit dan salju. Setelah keluar dari mobil, aku sangat kedinginan sampai-sampai tak mampu berjalan dengan mantap. Aku sangat yakin bahwa "hanya mereka yang menanggung kesukaran yang dapat mengendarai Land Rover," dan bahwa kesukaran yang kualami hari ini akan membuka jalan menuju kesuksesan di masa mendatang. Tujuanku adalah untuk mencapai impianku melalui usahaku sendiri. Di perusahaan, aku berinteraksi dengan banyak manajer produk, dan aku iri pada orang-orang terpandang yang berpakaian perlente tersebut, berharap suatu hari nanti, aku juga bisa menjadi manajer produk, dan mendapatkan kekaguman dan pujian dari orang lain.
Dua tahun berlalu dalam sekejap mata, dan aku akhirnya dipromosikan untuk menjadi manajer produk. Setelah itu, aku beberapa kali dinobatkan sebagai yang terbaik di departemen penjualan dan dinilai sebagai manajer produk yang unggul. Rekan-rekan kerja memandangku dengan rasa iri dan berkata, "Produk ini tidak akan bisa berjalan tanpamu." Manajer pabrik juga sering mengajakku keluar untuk menghadiri kegiatan sosial dan sering membawakan hadiah untukku. Kesombonganku terpuaskan, dan aku sangat bahagia. Aku merasa kemampuan kerjaku kuat, dan aku berjalan dengan penuh rasa percaya diri. Karena didorong oleh ambisiku, jabatan manajer produk tidak lagi cukup bagiku, dan aku ingin naik satu langkah lagi, agar kerabatku yang kaya dan berkuasa akan melihat bahwa aku lebih baik daripada mereka. Karena seringnya melakukan perjalanan bisnis dan menghadiri kegiatan sosial, aku merasa sangat lelah dan letih setiap hari, dan tidur sebanyak apa pun tidak bisa mengatasinya. Kondisi kulitku mulai memburuk, dan aku hanya bisa mengandalkan salep untuk meredakannya sementara waktu. Aku juga mempertimbangkan untuk pulang ke rumah untuk memulihkan kesehatanku, tetapi ketika berpikir tentang betapa banyaknya usaha yang telah kulakukan untuk mencapai apa yang kumiliki, aku tahu bahwa begitu aku mengambil cuti untuk pulang, produk yang menjadi tanggung jawabku akan diambil alih oleh orang lain, dan kemudian aku akan kehilangan kedudukanku sebagai manajer, dan semua kejayaan dan pujian akan hilang. Kuputuskan aku tidak boleh menyerah begitu saja, dan sesulit apa pun keadaannya, aku harus bertahan.
Beberapa waktu kemudian, seorang manajer provinsi dari sebuah pabrik bihun meneleponku, mengatakan dia ingin menyerahkan bisnis penjualan bihun untuk dua kota kepadaku. Aku berpikir, "Jika aku bekerja dengan baik, aku mungkin akan menjadi manajer provinsi di masa depan. Agar menonjol, aku harus berani menerima tantangan agar memperoleh kedudukan yang lebih tinggi." Jadi, aku mengundurkan diri dari pekerjaan yang telah kujalani selama bertahun-tahun, dan menjadi manajer kota dari pabrik bihun tersebut. Ketika orang-orang di desa mendengar bahwa aku telah menjadi manajer kota, mereka berkata kepadaku dengan rasa iri, "Setelah kau mapan, ajaklah anakku untuk bekerja denganmu." Mendengar perkataannya membuatku merasa sangat senang, dan kesombonganku terpuaskan. Aku hanya berharap suatu hari nanti aku bisa menjadi manajer provinsi, sehingga pada saat itu, di mana pun aku berada, orang akan menyebutku orang terpandang, dan kerabatku pasti akan memandangku dengan penuh kekaguman. Pemikiran ini benar-benar membuatku bersemangat. Namun tanpa diduga, sesuatu yang tak terduga terjadi. Pada awal tahun 2021, penjualan di pabrik secara keseluruhan turun secara signifikan, dan dengan cemas aku melihat tumpukan demi tumpukan bihun yang hampir kedaluwarsa. Ditambah lagi, semua perjalanan bisnis, begadang, dan makan tidak teratur, telah membuat pencernaanku terganggu dan aku diare setiap hari. Lebih buruk lagi, psoriasisku memburuk secara signifikan, dan kulitku gatal tak tertahankan. Kulit kepalaku dipenuhi keropeng tebal dan terasa sangat perih, lalu menjadi sangat keras sehingga untuk berkedip pun sulit. Aku pergi ke banyak tempat untuk berobat, tetapi semua pengobatan dan suntikan tidak ada hasilnya. Aku tersiksa oleh kondisiku sampai-sampai merasa sangat kelelahan. Namun, semua sakit hati, rasa sakit, dan kelemahan ini adalah hal-hal yang tidak bisa kuceritakan kepada orang lain, karena aku takut mereka akan mengejek atau meremehkanku. Ketika merasa tak tahan lagi, aku akan menelepon ibuku untuk melampiaskan kekesalanku, dan setiap kali ibuku akan berkata, "Berhentilah bekerja dan pulanglah!" Namun kedudukan ini kuperoleh setelah bekerja begitu keras, bagaimana mungkin aku akan melepaskan semuanya begitu saja? Aku tidak sanggup melakukannya. Masih ada keyakinan di dalam hatiku, dan aku teringat pepatah: "Sekalipun hidup seperti semut, orang haruslah berambisi seperti angsa, dan meskipun hidup itu setipis kertas, orang harus pantang menyerah dalam menjalaninya." Menurutku, "Karena aku ingin menonjol dan mencapai hal-hal besar, tentu saja penderitaan tidak bisa dihindari." Karena itu, aku bertahan hingga bulan Juni, tetapi kinerja pabrik tetap tidak membaik. Tak lama kemudian, masalah psoriasisku terus memburuk, dan itu menyebar ke seluruh wajahku. Aku mengenakan masker saat mengunjungi toko dan menyelenggarakan acara, dan para staf menghindariku ketika bertemu denganku. Aku merasa sangat tertekan, berpikir, "Aku telah berjuang keras setiap hari dan menanggung tekanan yang begitu besar, tetapi inilah hasilnya. Apakah perjuanganku benar-benar sepadan?" Beberapa hari kemudian, seorang rekan kerja menelepon untuk memberitahuku bahwa pemimpin kami telah didiagnosis menderita kanker dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Setelah menutup telepon, aku tidak bisa tenang untuk waktu yang lama. Aku berdiri di depan cermin, melihat wajahku yang dipenuhi bintik-bintik merah, dan aku tenggelam dalam pemikiran mendalam, "Manajer provinsi baru berusia empat puluhan; bagaimana mungkin sesuatu yang begitu mengancam nyawa bisa terjadi begitu tiba-tiba? Dia menghasilkan banyak uang dan telah menjadi terkenal, tetapi betapa pun banyaknya uang yang dia hasilkan atau betapa pun terkenal dirinya, itu tidak bisa membeli kembali kesehatannya. Aku baru berusia tiga puluhan, dan tubuhku sudah terganggu dengan begitu banyak masalah. Jika aku terus seperti ini, apakah aku akan berakhir seperti dia? Jika aku mempertaruhkan kesehatanku untuk mencapai hasil seperti itu, apa artinya uang dan penghargaan yang tinggi?" Selama beberapa hari berikutnya, aku merasa benar-benar bingung dan tidak berdaya, seolah-olah aku tidak bisa bergerak maju dalam hidup. Di bawah tekanan ganda antara rasa sakit fisik dan tekanan mental, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku, dan dengan berat hati, aku memilih pulang ke rumah untuk mengobati penyakitku.
Setelah kembali ke rumah, aku menghabiskan hari-hariku dengan cemberut dan merasa tertekan, sambil berpikir, "Setelah bertahun-tahun berjuang, rasanya aku kembali ke tempat aku memulai. Aku telah kehilangan semua ketenaran dan keuntunganku, dan aku berakhir dengan tubuh yang penuh dengan penyakit. Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup ini?" Ibuku melihat bahwa aku tidak bahagia dan memberiku bimbingannya, menyampaikan bahwa kita tidak dapat mengendalikan takdir kita dan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Tuhan. Kemudian dia membacakan beberapa bagian firman Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Pekerjaan apa yang dipilih seseorang, bagaimana seseorang mencari nafkah, apakah pilihan yang mereka buat itu baik atau buruk—apakah orang punya pilihan dalam hal-hal ini? Apakah semua itu didasarkan pada keinginan dan keputusan orang? Kebanyakan orang ingin bekerja lebih sedikit dan berpenghasilan lebih banyak, tidak bekerja keras di bawah terik matahari dan hujan, berpakaian pantas, tampil memukau ke mana pun mereka pergi, unggul dari yang lain, dan membawa kehormatan bagi leluhur mereka. Orang memiliki keinginan yang begitu 'sempurna', tetapi ketika mereka mengambil langkah pertama di jalan kehidupan, mereka secara berangsur mulai melihat betapa tidak sempurnanya takdir manusia, dan benar-benar menyadari untuk pertama kalinya bahwa, meskipun seseorang dapat membuat rencana yang berani untuk masa depannya dan dengan bebas menyimpan segala macam mimpi, tak ada seorang pun yang memiliki kemampuan atau kekuatan untuk mewujudkan mimpi mereka sendiri, ataupun kemampuan untuk mengendalikan masa depan mereka sendiri. Akan selalu ada kesenjangan antara mimpi orang dan kenyataan yang mereka hadapi; segala sesuatunya tidak akan pernah bisa berjalan seperti yang mereka bayangkan, dan dihadapkan pada kenyataan semacam itu, orang tidak akan pernah bisa menemukan kepuasan atau kesenangan. Bahkan ada orang-orang yang berulang kali mencoba memikirkan segala macam pendekatan dan menjajaki setiap saluran yang memungkinkan, serta melakukan segala macam upaya dan pengorbanan, demi mata pencaharian dan prospek mereka, serta demi mengubah nasib mereka. Namun pada akhirnya, sekalipun mereka dapat mewujudkan mimpi dan keinginan mereka melalui kerja keras mereka sendiri, mereka tidak akan pernah dapat mengubah nasib mereka, dan sekeras apa pun mereka berjuang, mereka tidak akan pernah dapat melampaui takdir mereka. Apa pun perbedaan dalam kemampuan dan kecerdasan mereka, dan apakah mereka memiliki tekad atau tidak, semua orang adalah setara di hadapan nasib, yang tidak membedakan antara yang besar dan yang kecil, yang tinggi dan yang rendah, yang terpandang dan yang hina. Pekerjaan apa yang ditekuni seseorang, apa yang dilakukannya untuk mencari nafkah, dan seberapa banyak kekayaan yang dimilikinya dalam hidup, tidaklah ditentukan oleh orang tua mereka, bakat mereka, atau upaya dan ambisi mereka—melainkan bergantung pada penetapan Sang Pencipta" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). Firman Tuhan itu sungguh benar. Semua orang ingin menjalani kehidupan yang baik dan bekerja keras untuk mencapai hal ini, tetapi pada akhirnya, takdir seseorang bukanlah sesuatu yang dapat mereka putuskan. Aku teringat para sepupuku. Mereka tidak bekerja sekeras itu, tetapi mereka mampu menjadi pemimpin dalam industri apa pun di tempat mereka bekerja dan menikmati manfaat yang baik. Aku berjuang selama lebih dari sepuluh tahun untuk mencapai kesuksesan yang sama seperti mereka, tetapi yang kudapatkan hanyalah tubuh yang penuh dengan penyakit, dan uang yang kuperoleh semuanya habis untuk biaya rumah sakit. Kemudian aku teringat akan seorang karyawan. Kinerja penjualannya tidak mengesankan, tetapi dia menerima lebih dari sepuluh rumah sebagai ganti rugi atas pembongkaran rumahnya. Hal ini membuatku sadar bahwa apa yang sudah ditakdirkan akan terjadi, dan betapa pun kerasnya kita bekerja, jika sesuatu tidak ditakdirkan untuk kita, semuanya itu akan sia-sia. Nasib seseorang tidak berada di tangannya, dan tidak ada upaya apa pun yang dapat mengubahnya. Belakangan, saudara-saudari mendengar tentang situasiku dan menyampaikan persekutuan kepadaku, berkata bahwa penyakit ini juga diizinkan oleh Tuhan, dan tanpa penderitaan ini, aku mungkin tidak akan kembali kepada Tuhan. Aku merasa sangat tersentuh. Aku ingat bahwa aku pernah percaya kepada Tuhan sebelumnya, tetapi meninggalkan-Nya di tengah jalan demi mengejar kekayaan, ketenaran, dan keuntungan. Jika aku tidak jatuh sakit, aku mungkin masih berkeliaran dan tersesat di dunia ini. Setelah bertahun-tahun, Tuhan masih belum meninggalkanku, dan melalui penyakit ini, Dia membawaku kembali ke rumah-Nya untuk terus percaya kepada-Nya. Penyakit ini benar-benar merupakan keselamatan dari Tuhan untukku, dan aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Setelah itu, aku aktif menghadiri pertemuan, serta makan dan minum firman Tuhan.
Dalam suatu pertemuan, seorang saudari membacakan dua bagian firman Tuhan. Tuhan berfirman: "Orang mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk menikmati status yang tinggi dan kekayaan yang besar, serta menikmati hidup. Mereka mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk mencari kesenangan dan menikmati kesenangan daging dengan semaunya sendiri. Demi ketenaran dan keuntungan yang mereka inginkan ini, orang-orang tanpa sadar dan dengan senang hati menyerahkan tubuh, hati, dan bahkan semua yang mereka miliki, termasuk prospek dan nasib mereka, kepada Iblis. Mereka melakukannya tanpa menahan apa pun, tanpa sejenak pun merasa ragu, dan tanpa pernah menyadari bahwa mereka seharusnya merebut kembali semua yang pernah mereka miliki. Dapatkah orang tetap memegang kendali atas diri mereka sendiri setelah mereka menyerahkan diri kepada Iblis dan menjadi setia kepadanya dengan cara ini? Tentu saja tidak. Mereka sama sekali dan sepenuhnya dikendalikan oleh Iblis. Mereka telah sama sekali dan sepenuhnya tenggelam dalam rawa ini, dan tidak mampu membebaskan diri mereka. Begitu seseorang terperosok dalam ketenaran dan keuntungan, mereka tidak lagi mencari apa yang terang, apa yang adil, atau hal-hal yang indah dan baik. Ini karena godaan ketenaran dan keuntungan terlalu besar bagi manusia, dan inilah hal-hal yang dapat dikejar orang tanpa henti sepanjang hidup mereka dan bahkan sampai selama-lamanya. Bukankah inilah situasi sebenarnya?" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). "Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pemikiran orang-orang, membuat mereka hanya memikirkan kedua hal ini, dan membuat mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan serta memikul beban berat demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan segala yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan membuat setiap penilaian atau keputusan demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara inilah, Iblis mengenakan belenggu tak kasatmata pada orang-orang, dan dengan belenggu-belenggu ini, mereka tidak punya kemampuan ataupun keberanian untuk melepaskan diri. Tanpa sadar, mereka mengenakan belenggu ini sementara berjalan selangkah demi selangkah, dengan begitu susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi serta mengkhianati Tuhan dan menjadi makin jahat. Dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis. Melihat tindakan Iblis sekarang, bukankah motif licik dan jahat Iblis sepenuhnya patut untuk dibenci? Mungkin sekarang ini engkau semua masih belum mampu mengetahui yang sebenarnya tentang motif licik Iblis karena mengira bahwa tanpa ketenaran dan keuntungan, hidup itu tidak akan ada artinya, dan orang tidak akan mampu lagi melihat arah ke depan, tidak mampu lagi melihat tujuan mereka, serta masa depan mereka akan menjadi gelap, redup, dan suram. Namun, perlahan-lahan, suatu hari nanti engkau semua akan menyadari bahwa ketenaran dan keuntungan adalah belenggu besar yang Iblis kenakan pada manusia. Ketika hari itu tiba, engkau akan sepenuhnya menentang kendali Iblis dan sepenuhnya menentang belenggu yang dibawa kepadamu oleh Iblis. Ketika engkau ingin membebaskan diri dari semua hal yang telah Iblis tanamkan dalam dirimu ini, engkau kemudian akan sepenuhnya memutuskan hubungan dengan Iblis, dan engkau akan benar-benar membenci semua yang telah Iblis bawa kepadamu. Baru setelah itulah, engkau akan memiliki kasih dan kerinduan yang sejati kepada Tuhan" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). Firman Tuhan membuatku sangat terharu. Seolah-olah aku baru saja terbangun dari mimpi. Aku menyadari bahwa ketenaran dan keuntungan yang kukejar sejak kecil adalah jebakan yang dipasang oleh Iblis. Dahulu kukira mengejar ketenaran dan keuntungan adalah hal yang dapat dibenarkan, bahwa hidup itu berarti tidak hanya terpuaskan dengan mengisi perut, tetapi juga harus dengan mengejar ketenaran dan keuntungan, dan hanya dengan hidup seperti ini, barulah orang dapat menjalani kehidupan yang bermartabat dan bernilai. Kini aku mengerti bahwa mengejar kekayaan, ketenaran, dan keuntungan adalah seperti ngengat yang terbang ke dalam nyala api, sepertinya semua yang kita lihat adalah terang, tetapi ketika kita benar-benar terjun ke dalamnya, kita bisa saja akan kehilangan nyawa. Saat mengingat kembali semuanya, aku menyadari bahwa aku telah menyerap berbagai ideologi Iblis sejak usia muda, seperti "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang," dan "Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah," "Orang yang baik memiliki tujuan yang luasnya hingga keempat penjuru bumi," dan seterusnya. Karena dipengaruhi oleh pandangan seperti ini, aku menetapkan cita-cita dan aspirasi yang tinggi sejak usia dini, dan mulai bepergian di usia remaja, mencari peluang untuk mewujudkan impianku. Meskipun mengalami banyak kegagalan, aku tidak pernah menyerah. Terutama ketika aku mendengar pepatah populer, "Sekalipun hidup seperti semut, orang harus berambisi seperti angsa, dan meskipun hidup itu setipis kertas, orang harus pantang menyerah dalam menjalaninya," aku bertekad untuk membuat diriku terkenal, menjadi orang yang terkenal, dan mendapatkan kekaguman dari orang-orang. Saat mengingat kembali, aku sangat tersiksa oleh penyakit dan hanya bisa mengandalkan pengobatan untuk bertahan hidup, tetapi untuk memperoleh kekaguman yang kucari, aku mengatasi banyak kesulitan, dan setelah beberapa tahun berusaha, aku akhirnya menjadi manajer produk dan mendapatkan kekaguman dari orang lain. Namun, aku masih belum puas. Aku ingin menjadi manajer provinsi dan membuat kerabatku memandangiku dengan penuh kekaguman, aku berhenti dari pekerjaanku selama bertahun-tahun untuk menjadi manajer kota. Ketika penjualan menurun, aku memikirkan segala macam solusi yang mungkin, menghadapi tekanan dan rasa sakit dari penyakitku setiap hari sambil meneliti strategi pemasaran. Aku merasa lelah dan letih, tetapi hanya setelah tubuhku benar-benar menyerah, barulah aku berhenti bekerja untuk sementara waktu. Aku mengorbankan diriku sepenuhnya dan mengabaikan kesehatanku demi mengejar ketenaran dan keuntungan, tetapi yang kudapatkan hanyalah penderitaan. Mengejar uang, ketenaran, dan keuntungan benar-benar merugikanku! Meskipun aku tahu bahwa Tuhan mengungkapkan kebenaran pada akhir zaman untuk melakukan pekerjaan menyelamatkan manusia, aku dituntun oleh ketenaran dan keuntungan seperti seekor anjing yang diikat dengan rantai, dan tidak memiliki keinginan untuk datang ke hadapan Tuhan. Aku menghabiskan lebih dari satu dekade untuk mengejar ketenaran dan keuntungan, dan aku menjadi makin jauh dari Tuhan. Jika bukan karena penyakit ini, aku akan terus mengejar seperti ini, dan pada akhirnya, itu akan membawaku pada kehancuran. Firman Tuhanlah yang membantuku melihat dengan jelas penderitaan yang diakibatkan oleh pengejaran akan ketenaran dan keuntungan, dan aku bersedia untuk melepaskan semua ini dengan segenap hatiku dan tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan.
Kemudian, aku membaca dua bagian lagi dari firman Tuhan, dan hatiku jauh lebih dicerahkan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Karena kedaulatan dan penetapan Sang Pencipta, jiwa kesepian yang awalnya tidak memiliki apa pun memperoleh orang tua dan keluarga, kesempatan menjadi anggota dari umat manusia, kesempatan untuk mengalami kehidupan manusia dan perjalanan melalui dunia manusia; jiwa ini juga memperoleh kesempatan untuk mengalami kedaulatan Sang Pencipta, untuk mengenal keajaiban ciptaan dari Sang Pencipta, dan terlebih dari itu, kesempatan untuk mengenal dan menyerahkan diri pada otoritas Sang Pencipta. Namun, sebagian besar orang tidak benar-benar memanfaatkan kesempatan yang langka dan cepat berlalu ini. Orang menghabiskan energi seumur hidup untuk berjuang melawan nasib, menghabiskan seluruh masa kehidupan mereka dengan sibuk berusaha menafkahi keluarga dan bergegas ke sana kemari untuk mendapatkan prestise dan keuntungan. Hal-hal yang orang hargai adalah cinta keluarga, uang, serta ketenaran dan keuntungan, dan mereka memandang hal-hal ini sebagai hal paling berharga dalam hidup. Semua orang mengeluh tentang nasib buruk, tetapi mereka tetap mengesampingkan masalah yang seharusnya paling mereka pahami dan selidiki: mengapa manusia hidup, bagaimana manusia seharusnya hidup, dan apa nilai serta makna hidup manusia. Mereka menghabiskan seluruh hidup mereka, seberapa pun lamanya, hanya untuk sibuk mengejar ketenaran dan keuntungan, sampai masa muda mereka berlalu dan mereka telah menjadi beruban dan keriput, sampai mereka menyadari bahwa ketenaran dan keuntungan tidak dapat menghentikan mereka dari penuaan, bahwa uang tidak dapat mengisi kehampaan hati mereka, dan sampai mereka memahami bahwa tak seorang pun dapat luput dari hukum kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian, dan bahwa tak seorang pun dapat menghindari pengaturan nasib. Hanya ketika mereka harus menghadapi titik akhir hidup ini, barulah mereka benar-benar memahami bahwa sekalipun orang memiliki kekayaan yang besar, meskipun orang memiliki status yang terhormat dan kedudukannya tinggi, mereka tidak bisa luput dari kematian dan harus kembali pada kedudukannya yang semula: jiwa yang kesepian, tanpa memiliki apa pun" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). "Orang menghabiskan seluruh hidup mereka untuk mengejar uang serta ketenaran dan keuntungan; mereka memperlakukan hal-hal ini sebagai tali penyelamat, sebagai satu-satunya penopang mereka—seolah-olah memiliki semua itu berarti mereka dapat terus hidup dan luput dari kematian. Namun, hanya ketika mereka akan segera mati, barulah mereka menyadari betapa jauhnya uang, ketenaran, dan keuntungan dari mereka, dan di hadapan kematian, betapa lemah dan tidak berdayanya mereka, betapa rentannya mereka, dan betapa kesepian, tanpa sandaran, dan tanpa ada tempat untuk berpaling. Mereka menyadari bahwa uang atau ketenaran dan keuntungan tidak dapat ditukar dengan nyawa, bahwa sekaya apa pun seseorang, setinggi apa pun status mereka, semuanya sama-sama miskin dan tidak berarti di hadapan kematian. Mereka menyadari bahwa uang tidak dapat membeli nyawa, bahwa ketenaran dan keuntungan tidak dapat membuat orang mampu luput dari kematian, bahwa baik uang maupun ketenaran dan keuntungan tidak dapat memperpanjang hidup seseorang satu menit pun, satu detik pun. Makin orang merasa seperti ini, makin mereka mendambakan untuk terus hidup; semakin orang merasa seperti ini, semakin mereka takut akan kematian yang mendekat. Hanya pada titik inilah, mereka benar-benar menyadari bahwa hidup mereka bukan milik mereka, bukan milik mereka untuk dikendalikan, dan bahwa seseorang tidak punya kendali atas hidup atau matinya—itu berada di luar kendali siapa pun" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). Persekutuan yang firman Tuhan sampaikan ini sangat jelas. Uang, ketenaran, dan keuntungan tidak dapat membeli nyawa seseorang, juga tidak dapat menyelamatkannya dari kematian, dan pada akhirnya, pengejaran akan hal-hal ini sia-sia belaka. Dahulu aku mengira memiliki ketenaran dan keuntungan dapat membuat hidupku menjadi bernilai, bahwa hal-hal ini bermakna, sehingga aku selalu bercita-cita untuk menjadi orang yang berhasil. Selama bertahun-tahun, aku sangat menderita untuk memperoleh ketenaran dan keuntungan. Sepertinya aku menghasilkan uang, mengenakan pakaian bagus, dan mendapatkan kekaguman dari orang lain, tetapi hanya setelah jatuh sakit, barulah kusadari bahwa uang, ketenaran, dan keuntungan, serta pujian orang lain, tidak dapat melakukan apa pun untuk meringankan penderitaanku, juga tidak dapat memulihkan kesehatanku. Aku teringat pada manajer provinsi yang terkena kanker di usia empat puluhan, dan ketua dewan yang meninggal dunia karena sakit. Mereka memiliki ketenaran dan keuntungan, tetapi ketika meninggal, mereka tidak bisa membawa semua ini. Meskipun telah bekerja sangat keras untuk menghasilkan banyak uang, mereka meninggal dengan tangan kosong. Lalu, apa pentingnya mengejar ketenaran dan keuntungan? Sebagaimana yang Tuhan Yesus katakan: "Apa untungnya jika seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Atau apa yang bisa diberikan seseorang sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26).
Suatu hari, aku mendengar sebuah nyanyian pujian gereja yang berjudul, "Terima Kasih Tuhan Karena Telah Menyelamatkanku" dan bait kedua benar-benar membuatku terharu. "Dahulu aku bekerja keras dan terburu-buru demi ketenaran, keuntungan, dan status, selalu pamer dan mencari kekaguman orang lain dalam tugasku. Karena bersaing demi ketenaran dan keuntungan, aku telah jatuh karena pencobaan Iblis. Sering kali aku khawatir dan bimbang, kehilangan arahku. Hanya melalui penghakiman dan hajaran Tuhan, barulah aku tersadar, menyadari bahwa mengejar ketenaran, keuntungan, dan status sepenuhnya hampa. Seseorang yang tidak lebih baik dari sampah, tetapi masih ingin lebih menonjol dari yang lain— betapa bodoh dan congkaknya, sama sekali tidak bernalar! Ya Tuhan! Aku begitu memberontak, menghancurkan hati-Mu. Hanya melalui penghakiman, barulah aku melihat betapa berharganya memperoleh kebenaran. Kumohon kepada-Mu, hakimilah aku dan tahirkanlah aku dari kerusakanku, agar aku dapat hidup serupa dengan manusia dan memperoleh keselamatan" (Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru). Nyanyian pujian ini mengingatkanku akan hal menyakitkan yang kualami, dan ingatan tentang pengejaranku akan ketenaran dan keuntungan terlintas di benakku. Dahulu aku begitu sibuk mengejar ketenaran dan keuntungan, menjadi makin jauh dari Tuhan di bawah pencobaan ketenaran dan keuntungan. Aku mengalami begitu banyak penderitaan dan kesukaran untuk memperoleh ketenaran dan keuntungan, dan perjalananku dipenuhi dengan sakit hati dan rasa sakit. Namun, kasih Tuhan kembali kualami, dan meskipun aku memberontak terhadap Tuhan selama bertahun-tahun, Dia masih belum menyerah terhadapku, dan mengizinkanku untuk kembali ke rumah-Nya. Hanya memikirkan hal ini sudah membuat air mata mengalir di pipiku, dan perasaan berutang kepada Tuhan membanjiri hatiku. Aku berpikir bahwa sejak saat itu, aku harus percaya kepada Tuhan dengan benar dan membalas kasih-Nya.
Beberapa waktu kemudian, aku melaksanakan tugasku di gereja. Suatu kali, aku membaca satu bagian firman Tuhan: "Makhluk ciptaan hidup di bawah kekuasaan Sang Pencipta, dan mereka menerima semua yang disediakan oleh Tuhan serta segala sesuatu yang berasal dari Tuhan, jadi mereka harus memenuhi tanggung jawab dan kewajiban mereka. Hal ini sangat wajar dan dibenarkan, serta ditetapkan oleh Tuhan. Dari sini dapat dipahami bahwa jika manusia mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, itu lebih adil, indah, dan mulia daripada apa pun yang dilakukan selama hidup di dunia manusia ini; tidak ada apa pun di antara manusia yang lebih bermakna atau berharga, dan tidak ada apa pun yang memberikan makna dan nilai yang lebih besar bagi kehidupan manusia ciptaan, selain melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan. ... Atas dasar makhluk ciptaan melaksanakan tugas mereka, Sang Pencipta telah melakukan pekerjaan yang jauh lebih besar di antara manusia, Dia telah melakukan tahap pekerjaan lebih lanjut dalam diri manusia. Pekerjaan apakah itu? Dia membekali manusia dengan kebenaran, memungkinkan mereka untuk memperoleh kebenaran dari Tuhan saat mereka melaksanakan tugas mereka dan dengan demikian membuang watak rusak mereka dan disucikan, mulai memenuhi maksud-maksud Tuhan dan mulai menempuh jalan yang benar dalam hidup, serta pada akhirnya, mampu takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, memperoleh keselamatan penuh, serta tidak lagi mengalami siksaan Iblis. Inilah hasil akhir yang ingin Tuhan capai dengan membuat manusia melaksanakan tugas-tugas mereka. Oleh karena itu, selama proses pelaksanaan tugasmu, Tuhan tidak hanya membuatmu melihat satu hal dengan jelas dan memahami sedikit kebenaran, dan Dia juga tidak hanya membiarkanmu menikmati kasih karunia serta berkat yang kauterima dengan melaksanakan tugasmu sebagai makhluk ciptaan. Sebaliknya, Dia memungkinkanmu untuk disucikan dan diselamatkan, dan, pada akhirnya, hidup dalam terang wajah Sang Pencipta" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tujuh)). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa sebagai makhluk ciptaan, aku harus melaksanakan tugasku, dan bahwa ini adalah tanggung jawab dan kewajiban manusia. Hanya dengan melaksanakan tugasku, barulah ada kesempatan bagiku untuk mendapatkan kebenaran dan hidup, membuang watak rusakku, ditahirkan dan diubahkan, dan pada akhirnya menerima keselamatan dari Tuhan. Melaksanakan tugas dengan baik adalah hal yang paling penting dan berharga dalam hidup. Sejak saat itu, aku makan dan minum firman Tuhan setiap hari, dan hatiku dipenuhi dengan kedamaian dan sukacita. Selama melaksanakan tugasku, setiap kali aku memperlihatkan kerusakanku, aku membaca firman Tuhan untuk merenungkan dan mengenal diriku sendiri, dan dengan cara itu, membereskan watak rusakku. Semua ini adalah hasil dari melaksanakan tugasku. Setelah beberapa waktu, kesehatanku juga membaik.
Pada tahun 2022, setelah Festival Musim Semi, sepupuku meneleponku dan berkata bahwa manajer perusahaanku sebelumnya telah dipindahkan, dan wakil presiden menginginkanku untuk bekerja kembali sebagai manajer. Mendengar perkataan sepupuku, aku berpikir, "Aku telah bekerja keras di perusahaan ini selama bertahun-tahun. Jika aku tidak kembali, semua koneksiku akan hilang. Selain itu, merek produk ini termasuk bidang yang sangat berpotensi untuk pengembangan perusahaan, dan ini adalah posisi manajerial. Ini tidak hanya akan memberiku prestise, tetapi aku juga akan berinteraksi dengan manajemen menengah dan senior, membuatku menjadi terkenal dan mendapat keuntungan. Ini adalah kedudukan yang membuat banyak orang iri, dan jika aku tidak menerimanya, aku mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi. Namun pekerjaan ini sangat sibuk, dan aku tidak akan punya waktu untuk membaca firman Tuhan atau melaksanakan tugasku." Aku kemudian teringat akan rasa sakit yang kuderita sebelumnya karena pengejaranku akan ketenaran dan keuntungan, dan aku tidak ingin kembali ke dunia sekuler dan terus-menerus dirugikan oleh Iblis. Jadi aku menolak kedudukan itu. Sepupuku heran dan terus mengingatkanku bahwa kesempatan seperti itu jarang terjadi, dan dia menyuruhku untuk memikirkannya lagi dan menjawabnya besok. Pada saat itu, aku berpikir, "Aku sudah tidak bekerja di perusahaan ini selama lebih dari setahun, jadi mengapa mereka tiba-tiba menginginkanku untuk kembali menjadi manajer setelah aku baru saja mulai melaksanakan tugasku?" Menjadi jelas bagiku bahwa ini adalah pencobaan Iblis, dan aku teringat akan apa yang Tuhan katakan: "Di luarnya, setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada diri manusia terlihat sebagai interaksi antara manusia, seolah-olah lahir dari pengaturan manusia atau dari gangguan manusia. Namun di balik setiap langkah pekerjaan, dan semua yang terjadi, adalah pertaruhan yang Iblis buat di hadapan Tuhan, dan hal ini menuntut orang-orang untuk tetap teguh dalam kesaksian mereka bagi Tuhan. Misalnya, ketika Ayub diuji: Di balik layar, Iblis bertaruh dengan Tuhan, dan apa yang Ayub hadapi adalah tindakan dan gangguan orang-orang. Di balik setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada engkau semua adalah pertaruhan antara Iblis dengan Tuhan—di balik itu ada peperangan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"). Di luarnya, sepupuku terdengar memintaku untuk kembali menjadi manajer, tetapi sebenarnya, ini adalah tipu muslihat Iblis. Iblis sedang mencoba menggunakan ini untuk menarikku kembali ke jalan mengejar ketenaran dan keuntungan. Pada saat itu, aku sedang melaksanakan tugasku untuk menyirami orang lain, dan ada orang-orang baru yang perlu disirami dan didukung. Aku tidak boleh meninggalkan tugasku hanya karena pekerjaan. Sekarang, pekerjaan Tuhan akan segera berakhir, dan ini adalah kesempatan sekali seumur hidup bagiku untuk dapat percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku. Aku harus menghabiskan waktuku untuk melaksanakan tugasku dan mengejar kebenaran. Ini lebih berharga daripada menjadi seorang manajer. Keesokan harinya, aku menolak tawaran sepupuku dan merasakan kelegaan yang luar biasa di dalam hatiku. Meskipun sekarang aku bukan seorang manajer dan hidupku tidak begitu glamor, hidupku terasa stabil. Aku memiliki sandang dan pangan, dan mampu bertahan hidup. Aku bersedia menghabiskan seluruh hari-hariku untuk melaksanakan tugasku dan dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran untuk memuaskan Tuhan.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Ketika matahari terbenam di ufuk barat, di saat senja, pintu sebuah rumah peternakan kecil terbuka, dengan sehelai kain putih yang terikat...
Aku terlahir di keluarga sederhana di desa, dan kondisi hidup kami di rumah cukup pas-pasan. Tetanggaku adalah guru, dan keluarganya sudah...
Oleh Saudari Tian Tian, TiongkokPada satu musim semi, aku dan beberapa dokter senior piknik dan masak-masak. Dalam perjalanan, beberapa...
Oleh Saudari Song Zihan, TiongkokWaktu kecil, kesehatanku buruk dan sebagian besar uang keluarga kami biasanya digunakan untuk perawatan...