Kenapa Ada Begitu Banyak Rintangan untuk Menerima Jalan yang Benar
Oleh Saudari Joselyn, Ekuador Tahun 2008, aku dan ibuku mulai beriman kepada Tuhan, lalu setelah itu, aku menghadiri pertemuan di gereja...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Ketika aku masih kecil, kedua orang tuaku percaya kepada Tuhan. Karena penasaran, aku juga membaca beberapa buku firman Tuhan dan mengetahui bahwa langit dan bumi dan segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan, dan bahwa Tuhan mengatur nasib, hidup, dan mati kita. Pada tahun 2012, orang tuaku berhenti percaya, tetapi nenekku masih percaya, dan dia biasa membaca firman Tuhan bersamaku. Pada bulan Mei 2021, aku secara resmi menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Di sela-sela kesibukanku bekerja, aku menggunakan waktu luangku untuk menghadiri pertemuan. Ayahku tidak keberatan karena saat itu aku bekerja di bidang tata rambut, dengan penghasilan delapan hingga sepuluh ribu yuan sebulan. Kerabat dan teman-teman kami semua berkata bahwa aku cukup sukses, dan ayahku sangat senang serta bangga mendengarnya. Kemudian, melalui menghadiri pertemuan dan membaca firman Tuhan, aku menjadi mengerti bahwa sebagai makhluk ciptaan, aku harus melaksanakan tugasku untuk membalas kasih Tuhan. Namun, karena pekerjaanku, aku tidak punya waktu untuk melaksanakan tugasku. Namun kemudian, aku sadar bahwa mengikuti pertemuan dengan saudara-saudari selama setahun terakhir ini telah membuat hatiku merasa puas dan tidak lagi hampa seperti sebelumnya. Jadi, aku ingin melaksanakan tugasku secara penuh waktu. Apalagi ketika aku teringat firman Tuhan: "Segala macam bencana akan menimpa susul-menyusul; semua negara dan tempat akan mengalami bencana: Wabah, kelaparan, banjir, kekeringan, dan gempa bumi terjadi di mana-mana. Bencana-bencana ini tidak hanya terjadi di satu atau dua tempat saja, juga tidak akan berakhir dalam satu atau dua hari; sebaliknya, bencana-bencana ini akan meluas ke wilayah yang makin besar, dan akan bertambah parah. Selama masa ini, segala macam wabah serangga akan muncul berturut-turut, dan fenomena kanibalisme akan terjadi di mana-mana. Inilah penghakiman-Ku atas berlaksa-laksa bangsa dan suku" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 65"). Aku menyadari pekerjaan Tuhan akan segera berakhir. Bencana-bencana makin lama makin parah, terutama dalam dua tahun terakhir, dan hanya dengan datang ke hadapan Tuhan kita dapat diselamatkan dan bertahan hidup. Karena makin sedikit waktunya, aku harus segera mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku. Ketika memikirkan hal ini, aku memilih untuk melaksanakan tugasku secara penuh waktu. Selama waktu itu, aku mengikuti pertemuan dan membaca firman Tuhan setiap hari, dan hatiku merasakan sukacita yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dua bulan kemudian, aku berhenti dari pekerjaanku. Ketika ayahku melihat aku tidak bekerja, dia sama sekali tidak senang. Dia berkata, "Bagus kalau kau punya iman, tetapi kau tidak bisa begitu saja berhenti bekerja. Kau bisa seperti dahulu, sebagian waktu bekerja dan mengikuti pertemuan di waktu lainnya. Jika tidak bekerja, dengan apa kau akan hidup? Ini adalah masa terbaik dalam hidupmu untuk mengejar karier. Aku mengatakan ini hanya demi kebaikanmu sendiri. Jika tidak mendengarkanku, suatu hari nanti kau yang akan menyesal!" Aku merasa sangat sedih setelah mendengar perkataannya. Aku selalu mendengarkannya dalam segala hal seumur hidupku, sejak aku masih kecil. Betapa hancur hatinya jika aku tidak mendengarkannya kali ini? Namun, aku lalu teringat betapa hampanya hatiku ketika aku bekerja, dan betapa sekarang hatiku terasa begitu puas setelah melaksanakan tugasku. Aku sekarang mengerti apa yang bermakna dan berharga untuk dikejar dalam hidup. Selain itu, pekerjaan Tuhan akan segera berakhir, jadi aku harus memanfaatkan waktu yang terbatas ini untuk mengejar kebenaran. Memperoleh kebenaran dan hidup—itulah yang paling penting. Dengan pertimbangan ini, aku berkata kepada ayahku, "Dunia kerja penuh dengan intrik dan perselisihan. Dengan melaksanakan tugasku sekarang, aku berjalan di jalan hidup yang benar." Namun, dia masih berusaha menghalangiku percaya kepada Tuhan.
Suatu hari, ayahku mengirimiku pesan: "Jangan mengecewakanku." Air mata segera mengalir di wajahku. Aku berpikir dalam hati, "Selama bertahun-tahun ini, ayahku ingin aku menjadi unggul dari yang lain. Dia telah membayar harga yang mahal untuk membinaku. Sekarang setelah aku tidak bekerja lagi, harapannya hancur. Dia pasti sangat menderita! Aku sudah dewasa, tetapi aku masih membuatnya mengkhawatirkanku. Bukankah itu tidak berbakti? Sejak aku kecil, ayahku membelikan apa pun yang kuinginkan; dia selalu memanjakanku. Jika nantinya aku tidak lagi bekerja aku akan mengecewakannya setelah semua upaya dan pengorbanan dirinya untukku. Apa yang akan dipikirkan kerabat dan teman-teman kami tentangku?" Di tengah keadaan negatifku, aku teringat satu bagian firman Tuhan, jadi aku mencarinya untuk membacanya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Katakan kepada-Ku, berasal dari siapakah segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia? Siapakah yang paling terbeban mengenai hidup manusia? (Tuhan.) Hanya Tuhanlah yang paling mengasihi manusia. Apakah orang tua dan kerabat benar-benar mengasihi mereka? Apakah kasih yang mereka berikan itu kasih sejati? Dapatkah itu menyelamatkan orang dari pengaruh Iblis? Tidak bisa. Orang-orang mati rasa dan bodoh, tidak mampu mengetahui yang sebenarnya mengenai hal-hal ini, dan selalu berkata, 'Bagaimana caranya Tuhan mengasihiku? Aku tidak merasakannya. Bagaimanapun juga, ibu dan ayahku adalah yang paling menyayangiku. Mereka membiayai studiku dan membuatku mempelajari keterampilan teknis, sehingga aku bisa berhasil ketika aku besar nanti, menjadi orang yang berhasil, menjadi bintang, selebritas. Orang tuaku menghabiskan begitu banyak uang untuk mendidikku dan membiayai pendidikanku, berhemat dan menabung untuk membeli makanan. Betapa besarnya kasih itu! Aku tidak pernah bisa membalas mereka!' Apakah menurutmu itu kasih? Apa konsekuensinya orang tuamu menjadikanmu orang yang berhasil, menjadi selebritas di dunia ini, memiliki pekerjaan yang baik, dan berbaur dengan dunia? Konsekuensinya, mereka akan terus-menerus membuatmu mengejar kesuksesan, membawa kehormatan bagi keluargamu, dan berbaur dengan tren jahat dunia, sehingga pada akhirnya engkau akan jatuh ke dalam pusaran dosa, mengalami kebinasaan dan binasa, ditelan oleh Iblis. Apakah itu kasih? Itu bukan mengasihimu, itu merusakmu, menghancurkanmu. Suatu hari, engkau akan tenggelam begitu rendah sehingga engkau tidak akan mampu bertobat, begitu rendah sehingga engkau tidak akan mampu melepaskan dirimu sendiri, dan engkau akan masuk neraka. Baru pada saat itulah engkau akan menyadari, 'Oh, kasih orang tua adalah kasih kedagingan, kasih seperti itu tidak ada gunanya dalam kepercayaanku kepada Tuhan atau dalam memperoleh kebenaran—itu bukanlah kasih sejati!' Engkau semua mungkin belum menyadari hal ini. Ada orang-orang yang berkata, 'Aku tidak dapat merasakan bagaimana Tuhan mengasihiku. Aku tetap merasa bahwa ibuku adalah yang paling menyayangiku. Dia adalah orang yang paling dekat denganku di dunia ini. Ada lagu berjudul "Ibu adalah yang Terbaik di Dunia ini". Sebutan itu cocok dengan kenyataan; itu benar sekali!' Suatu hari, ketika engkau benar-benar memiliki jalan masuk kehidupan, dan ketika engkau telah memperoleh kebenaran, engkau akan berkata, 'Ibuku bukanlah orang yang paling mengasihiku, ayahku juga bukan. Tuhanlah yang paling mengasihiku. Dialah yang paling patut kukasihi, karena Dia memberiku hidup, dan Dia selalu memimpinku, membekaliku, dan menyelamatkanku dari pengaruh Iblis. Hanya Tuhan yang dapat memberikan hidup kepada manusia, yang dapat memimpin manusia, dan yang berdaulat atas segala sesuatu.' Hanya setelah engkau memahami kebenaran dan telah sepenuhnya memperoleh kebenaran barulah engkau akan mampu menghayati firman ini secara mendalam" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Untuk Memperoleh Kebenaran, Orang Harus Memetik Pelajaran dari Orang-Orang, Peristiwa dan Hal-Hal di Sekitar Mereka"). Dahulu aku berpikir bahwa semua tenaga dan uang yang ayah curahkan untuk membinaku adalah kasih. Namun, setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa apa yang dirasakan ayahku untukku bukanlah kasih sejati. Tujuannya adalah agar aku mencurahkan jiwa dan raga untuk mengejar karier, menghasilkan lebih banyak uang, dan menjadi unggul dari yang lain, sehingga aku bisa dikagumi dan membuat kerabat serta teman-teman kami ingin menjadi sepertiku, dan dia juga menjadi tampak hebat. Aku teringat bagaimana ketika masih bekerja, aku hanya bisa mengikuti pertemuan seminggu sekali, dan aku tidak punya waktu sama sekali untuk melaksanakan tugasku. Semua waktu dan tenagaku dihabiskan untuk bekerja dan menghasilkan uang, serta membandingkan diri dengan teman-teman dan rekan kerjaku. Pikiranku dipenuhi dengan cara menghasilkan uang, dan untuk menghasilkan lebih banyak, aku melakukan intrik terhadap rekan kerjaku dan menipu pelanggan. Pikiranku dikuasai sepenuhnya oleh ketenaran dan keuntungan, dan hatiku menjadi makin hampa juga pedih. Hanya melalui kasih dan keselamatan Tuhanlah aku cukup beruntung untuk menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, datang ke gereja, dan mulai melaksanakan tugasku. Aku tidak lagi hidup dalam tren jahat dunia, mengejar ketenaran dan keuntungan. Jika aku tidak melaksanakan tugasku, aku akan tetap terjebak dalam pusaran ketenaran dan keuntungan; aku akan menjadi makin jahat, dan aku akan benar-benar kehilangan kesempatanku untuk diselamatkan. Setelah menyadari hal ini, aku bertekad dalam hati: Aku benar-benar harus melaksanakan tugasku dengan baik di gereja. Aku teringat firman Tuhan: "Jika orang tuamu memiliki kemanusiaan yang buruk, jika mereka terus-menerus menghalangimu agar tidak percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasmu, dan jika mereka bahkan membencimu dan mengutukmu karena engkau percaya kepada Tuhan, apa yang seharusnya kaulakukan? Kebenaran apa yang seharusnya kauterapkan? (Penolakan.) Pada saat ini, engkau harus menolak mereka. Engkau tidak lagi memiliki kewajiban apa pun untuk berbakti kepada mereka. Jika mereka percaya kepada Tuhan, mereka adalah keluarga, orang tuamu. Jika mereka tidak percaya kepada Tuhan dan bahkan menentang Tuhan, engkau dan mereka sedang menempuh jalan yang berbeda. Mereka percaya kepada Iblis dan menyembah si raja setan, dan mereka menempuh jalan Iblis; mereka berada di jalan yang berbeda denganmu. Engkau dan mereka bukan lagi satu keluarga. Mereka menganggap orang-orang yang percaya kepada Tuhan sebagai lawan dan musuh mereka, jadi engkau tidak memiliki kewajiban lagi untuk merawat mereka dan harus sepenuhnya memutuskan ikatanmu dengan mereka" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Apa yang Dimaksud dengan Kenyataan Kebenaran?"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa aku dan ayahku berada di dua jalan yang berbeda: Ayahku bekerja keras mencari uang serta mengejar ketenaran dan keuntungan agar orang lain memandang tinggi dirinya; dia berada di jalan Iblis. Sedangkan aku, aku percaya kepada Tuhan dan sedang melaksanakan tugasku; aku berada di jalan mengejar kebenaran dan diselamatkan. Sebelumnya aku hidup dalam perasaan daging, mengira bahwa dengan berhenti bekerja, aku menyakiti dan mematahkan harapan ayahku, serta selalu mengecewakannya. Namun hari ini, setelah membaca firman Tuhan, aku mampu sedikit membedakan ayahku. Dia tidak percaya kepada Tuhan dan bahkan mencoba menghalangiku percaya. Kami tidak berada di jalan yang sama, jadi aku tidak bisa lagi memandangnya dari sudut pandang kerabat secara daging. Begitu menyadari hal ini, aku tidak lagi terkekang oleh perasaanku.
Pada bulan Desember 2022, aku harus meninggalkan rumah karena aku sangat sibuk dengan tugasku, dan aku hanya pulang seminggu sekali. Suatu kali ketika aku pulang, ayahku berkata kepadaku dengan keras, "Kapan kau akan mencari pekerjaan? Jika kau tidak mau bekerja, jangan tinggal di sini. Pulanglah ke kampung halaman kita di desa!" Aku mulai khawatir, "Jika aku tidak mendengarkannya, apakah dia benar-benar akan mengirimku kembali ke kampung halaman? Apakah aku masih bisa melaksanakan tugasku kalau begitu?" Setelah itu, aku selalu menyelinap diam-diam untuk melaksanakan tugasku. Suatu kali, saat aku hendak pergi melaksanakan tugasku, ayahku memergokiku. Dia berkata dengan kasar, "Jika kau menyelinap keluar lagi, tidak usah pulang. Jika kau pulang, akan kupatahkan kakimu! Ini bukan gertak sambal. Coba saja kalau berani!" Aku agak takut, dan berpikir, "Jika aku pergi lalu pulang, akankah dia benar-benar mematahkan kakiku? Haruskah aku melanjutkan tugasku?" Aku merasa sangat bimbang, bertanya-tanya, "Namun, jika aku tidak pergi, bagaimana dengan tugasku? Pekerjaan gereja begitu sibuk, dan tidak kembali tepat waktu akan menunda pekerjaan." Aku berdoa kepada Tuhan dan mencari kehendak-Nya. Kemudian aku teringat firman Tuhan: "Apa pun yang menimpamu, apakah itu ujian atau cobaan, atau engkau sedang dipangkas, dan bagaimanapun orang memperlakukanmu, engkau harus pertama-tama mengesampingkan hal-hal ini dan datang ke hadirat Tuhan dalam doa yang tekun, mencari kebenaran dan menyesuaikan keadaanmu. Hal inilah yang harus kaubereskan terlebih dahulu. Engkau harus berkata, 'Sebesar apa pun masalah ini, meskipun langit sendiri runtuh, aku harus melakukan tugasku dengan baik. Selama aku masih bernapas, aku tidak akan melepaskan tugasku.' Jadi, bagaimana engkau melaksanakan tugasmu dengan baik? Engkau tidak boleh sekadar asal-asalan, atau hadir secara fisik tetapi membiarkan pikiranmu menerawang—engkau harus memfokuskan hati dan pikiranmu pada tugasmu" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Jalan Masuk Kehidupan Dimulai dengan Pelaksanaan Tugas"). Firman Tuhan memberiku iman. Apa pun yang terjadi, sekalipun ayahku benar-benar mematahkan kakiku, aku harus memenuhi tanggung jawabku dan tidak boleh melepaskan tugasku. Saat merenungkan ini, aku segera merasakan kekuatanku muncul lalu kutinggalkan rumah untuk melaksanakan tugasku. Ketika aku pulang lagi kemudian, ayahku tidak memukulku, tetapi dia masih mencoba membujukku untuk pergi bekerja. Namun, aku tidak terkekang olehnya dan terus melaksanakan tugasku.
Pada bulan Februari 2023, aku tidak pulang selama sebulan karena aku sangat sibuk dengan tugasku dan naga merah yang sangat besar sedang menganiaya dan menangkap orang-orang percaya dengan kejam. Ayahku berkata dengan marah, "Kali ini, aku akan merantaimu supaya kau tidak bisa pergi!" Sejak aku kecil, ayahku tidak pernah berbicara kepadaku seperti itu—wajahnya memerah, urat lehernya menonjol karena marah. Aku sangat ketakutan. Malam itu, adik perempuanku berkata kepadaku sambil menangis, "Kak, jangan pergi. Ayah terus marah-marah setiap kali Kakak pergi. Kakak bahkan tidak memikirkan Ibu dan aku." Keesokan harinya, ketika hendak pergi melaksanakan tugasku, ibuku menghentikanku dan berkata, "Dengarkan saja ayahmu dan carilah pekerjaan untuk saat ini! Kenapa kau begitu keras kepala?" Hatiku terasa sangat lemah. Aku berpikir dalam hati, "Sebelum ini, Ibu dan Adik tidak pernah keberatan dengan imanku atau tugasku, tetapi sekarang mereka memihak Ayah. Jika aku terus melaksanakan tugasku, ayahku akan bertengkar dengan ibuku setiap hari. Bagaimana jika hubungan mereka hancur dan mereka bercerai? Jika aku tidak mendengarkan ayahku, apakah aku masih bisa tinggal di rumah ini lagi?" Aku agak khawatir dan takut, dan berpikir untuk mencari pekerjaan serta melepaskan tugasku. Namun, selama beberapa bulan terakhir melaksanakan tugasku, aku merasakan damai dan sukacita di hatiku. Sekarang, segala macam bencana sedang melanda, dan pekerjaan Tuhan mendekati akhir. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menerima keselamatan Tuhan. Jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, hatiku lemah dan pedih. Aku takut keluarga ini benar-benar akan hancur, tetapi aku tidak ingin terkekang. Tolong beri aku iman untuk tetap teguh dalam kesaksianku." Setelah itu, aku mencari firman Tuhan untuk dibaca. Tuhan berfirman: "Engkau harus menanggung semuanya; bagi-Ku, engkau harus bersedia meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti-Ku dengan segenap kekuatanmu, dan bersedia membayar harga berapa pun. Sekaranglah saatnya Aku akan mengujimu: Akankah engkau memberikan kesetiaanmu kepada-Ku? Dapatkah engkau mengikuti-Ku sampai akhir perjalanan dengan setia? Janganlah takut; dengan topangan-Ku, siapa yang mampu menghalangi jalan ini? Ingatlah ini! Ingatlah! Segala sesuatu mengandung maksud baik-Ku dan berada dalam pemeriksaan-Ku. Dapatkah engkau mengikuti firman-Ku dalam semua yang kaukatakan dan lakukan? Ketika ujian api menimpamu, akankah engkau berlutut dan berseru? Ataukah engkau akan meringkuk ketakutan, tidak mampu maju?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 10"). "Engkau harus memiliki keberanian-Ku di dalam dirimu, dan engkau harus memiliki prinsip dalam hal menghadapi kerabat yang tidak percaya. Namun demi Aku, engkau juga tidak boleh menyerah dalam menghadapi kekuatan gelap apa pun. Engkau harus mengandalkan hikmat-Ku untuk menempuh jalan yang sempurna, dan tidak membiarkan konspirasi Iblis apa pun berhasil. Lakukan semua yang mampu kaulakukan untuk menempatkan hatimu di hadapan-Ku, dan Aku akan menghiburmu dan membawa kedamaian dan sukacita dalam hatimu. Jangan peduli tentang bagaimana engkau terlihat di depan orang lain; bukankah lebih berharga dan berbobot untuk memuaskan-Ku? Bukankah itu justru akan membawa kedamaian dan kebahagiaan abadi sepanjang hidupmu?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 10"). Firman Tuhan memberiku iman. Aku tidak boleh takut akan ini atau itu; aku harus memiliki iman kepada Tuhan. Aku tidak bisa melepaskan tugasku hanya karena aku takut keluargaku akan hancur. Aku menyadari bahwa keterikatan emosionalku dengan keluargaku terlalu kuat. Aku belum sepenuhnya menyerahkan hatiku kepada Tuhan, dan aku tidak memiliki tekad untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti Dia. Bagaimana aku bisa memiliki kesetiaan kepada Tuhan? Betapa pun sulitnya, aku harus mengandalkan Tuhan dan bersaksi bagi-Nya. Tuhan berdaulat atas pernikahan dan nasib manusia; setiap orang memiliki nasibnya sendiri. Apa yang terjadi dengan pernikahan orang tuaku dan apakah keluarga ini akan hancur, itu ada di tangan Tuhan. Bagaimana nasibku di masa depan juga ada di tangan Tuhan; keputusan akhir bukan ditentukan ayahku. Aku harus berpegang pada tugasku dan memuaskan Tuhan. Jika aku mendengarkan ayahku dan berhenti melaksanakan tugasku, aku tidak perlu menderita penganiayaan dari keluargaku, tetapi itu berarti mengkhianati Tuhan, dan itu akan menjadi penderitaan abadi!
Hari-hari berlalu. Pagi-pagi sekali, aku bersiap-siap pergi untuk melaksanakan tugasku. Di luar dugaan, ayahku sudah bangun jam empat atau lima pagi untuk mengawasiku. Jam enam lewat sedikit, dia masuk ke kamarku dan memutar video rumor tak berdasar PKT yang memfitnah Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Aku tahu laporan berita itu tidak benar, apalagi karena aku telah memahami beberapa kebenaran setelah begitu lama melaksanakan tugasku, jadi aku tidak terpengaruh oleh rumor tak berdasar itu. Melihat sikapku tidak berubah, ayahku mencoba membujukku, berkata, "Akhir-akhir ini aku sangat khawatir dan mencemaskanmu. Aku sendiri yang membesarkanmu selama ini. Aku melakukan ini demi kebaikanmu saja—akankah aku mencelakaimu? Jika kau pergi bekerja sekarang, akan kubelikan kau ponsel baru seharga lebih dari sepuluh ribu yuan. Saat adikmu libur, aku akan memberimu uang supaya kalian berdua bisa pergi jalan-jalan ke Sanya." Ketika mendengar ayahku mengatakan ini, aku merasa jika kali ini tidak mendengarkannya, aku akan benar-benar mengecewakannya. Namun, aku juga tahu bahwa percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku adalah jalan hidup yang benar, dan aku tidak bisa melepaskannya. Aku merasa bimbang. Aku menyadari keadaanku salah, jadi aku berdoa kepada Tuhan dalam hati, meminta Dia menjaga hatiku agar tidak terpengaruh oleh perkataan ayahku. Ayahku melihat aku tidak mengatakan apa-apa dan kembali ke ruang tamu.
Setelah itu, aku membaca firman Tuhan, dan menyadari bahwa tindakan ayahku yang menghalangi imanku kepada Tuhan adalah gangguan Iblis. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ketika orang belum diselamatkan, hidup mereka sering diganggu, dan bahkan dikendalikan oleh Iblis. Dengan kata lain, orang yang belum diselamatkan adalah tawanan Iblis, mereka tidak memiliki kebebasan, mereka belum dilepaskan oleh Iblis, mereka tidak memenuhi syarat atau berhak untuk menyembah Tuhan, dan mereka dikejar dengan gigih dan diserang secara kejam oleh Iblis. Orang-orang semacam itu sama sekali tidak memiliki kebahagiaan, tidak memiliki hak atas keberadaan yang normal, dan terlebih lagi tidak memiliki martabat" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"). "Tuhan memiliki banyak sarana dan jalan untuk menguji manusia, tetapi tiap-tiap sarana dan jalan itu memerlukan 'kerja sama' musuh Tuhan: Iblis. Dengan kata lain, setelah memberikan kepada manusia senjata yang dapat digunakan untuk berperang melawan Iblis, Tuhan menyerahkan manusia kepada Iblis dan membiarkan Iblis 'menguji' tingkat pertumbuhan manusia. Jika manusia bisa melepaskan diri dari formasi perang Iblis, jika manusia bisa meloloskan diri dari pengepungan Iblis dan tetap hidup, maka manusia akan lulus ujian. Namun, jika manusia gagal untuk meninggalkan formasi perang Iblis, dan menyerah kepada Iblis, maka dia tidak akan lulus ujian. Aspek apa pun dari manusia yang diperiksa oleh Tuhan, kriteria untuk pemeriksaan-Nya adalah apakah manusia berdiri teguh atau tidak dalam kesaksiannya saat diserang oleh Iblis, dan apakah dia telah meninggalkan Tuhan atau tidak serta pasrah dan menyerah kepada Iblis ketika dijerat Iblis. Dapat dikatakan bahwa apakah manusia bisa diselamatkan atau tidak tergantung pada apakah dia mampu mengalahkan dan menundukkan Iblis, dan apakah dia bisa memperoleh kebebasan atau tidak, itu bergantung pada apakah dia mampu mengangkat sendiri senjata yang diberikan kepadanya oleh Tuhan untuk mengalahkan perbudakan Iblis, membuat Iblis menyerah total dan tidak mengganggunya lagi. Jika Iblis menyerah total dan melepaskan seseorang, ini berarti bahwa Iblis tidak akan pernah lagi mencoba untuk merampas orang ini dari Tuhan, tidak akan pernah lagi menuduh dan mengganggu orang ini, tidak akan pernah lagi dengan sembrono menyiksa atau menyerang mereka; hanya orang seperti inilah yang telah benar-benar didapatkan oleh Tuhan. Ini adalah seluruh proses di mana Tuhan mendapatkan manusia" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa aku belum sepenuhnya keluar dari formasi pertempuran Iblis. Iblis masih menggunakan ayahku untuk terus menggangguku, mencekokiku dengan rumor rekayasa PKT. Ketika melihatku tidak mau mendengarkan, dia menggunakan kasih sayang keluarga dan kata-kata manis, mencoba segala taktik, baik keras maupun halus, dalam upaya membuatku mengkhianati Tuhan. Itu sangat menjijikkan! Aku teringat ketika Ayub menghadapi pencobaan Iblis. Semua ternaknya yang memenuhi bukit lenyap, sekujur tubuhnya dipenuhi bisul yang busuk, dan istrinya mendesaknya untuk meninggalkan Tuhan. Namun, Ayub berkata: "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21). "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima kesukaran?" (Ayub 2:10). Ketika Ayub menghadapi ujiannya, dia tidak meninggalkan Tuhan, dan dia tetap teguh dalam kesaksiannya bagi Tuhan. Aku harus mengikuti teladan Ayub, mengalahkan Iblis dengan menggunakan senjata firman Tuhan di tengah kepungannya, dan tetap teguh dalam kesaksianku bagi Tuhan. Aku berdoa kepada Tuhan dan bertekad, meminta Dia memberiku iman untuk tetap teguh dalam kesaksianku.
Aku membaca beberapa bagian firman Tuhan lagi dan mendapatkan pemahaman tentang diriku sendiri. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Engkau harus menderita demi kebenaran, engkau harus mengorbankan diri demi kebenaran, engkau harus menanggung penghinaan demi kebenaran, dan engkau harus mengalami lebih banyak penderitaan demi memperoleh lebih banyak kebenaran. Inilah yang harus kaulakukan. Jangan membuang kebenaran demi nikmatnya keharmonisan keluarga, dan jangan kehilangan martabat dan integritas seumur hidupmu demi kenikmatan sesaat. Engkau harus mengejar segala sesuatu yang indah dan baik, dan engkau harus mengejar jalan hidup yang lebih bermakna. Jika engkau menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja dan duniawi, serta tidak memiliki tujuan apa pun untuk dikejar, bukankah artinya engkau menyia-nyiakan hidupmu? Apa yang dapat kauperoleh dari kehidupan semacam itu? Engkau harus meninggalkan seluruh kenikmatan daging demi satu kebenaran, dan jangan membuang seluruh kebenaran demi sedikit kenikmatan. Orang-orang seperti ini tidak memiliki integritas atau martabat; keberadaan mereka tidak ada artinya!" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). "Engkau semua sudah mengikuti-Ku selama bertahun-tahun ini, tetapi tidak pernah memberikan sedikit pun kesetiaan kepada-Ku. Sebaliknya, engkau semua mengitari orang-orang yang kaukasihi dan segala sesuatu yang kausukai—sampai sedemikian rupa hingga setiap saat dan ke mana pun engkau pergi, engkau semua menyimpan semua itu rapat-rapat di dalam hatimu dan tidak pernah meninggalkannya. Setiap kali engkau semua bersemangat atau berhasrat tentang apa pun yang kausukai, itu terjadi selagi engkau mengikuti-Ku, atau bahkan selagi engkau mendengarkan firman-Ku. Oleh karena itu, Kukatakan engkau semua menggunakan kesetiaan yang Kuminta darimu justru untuk setia kepada 'kesayanganmu' dan menghargainya. Sekalipun engkau semua mungkin mengorbankan satu atau dua hal untuk-Ku, hal itu tidak mewakili keseluruhanmu, dan tidak menunjukkan bahwa kepada-Kulah engkau sungguh-sungguh setia" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kepada Siapa Sebenarnya Engkau Setia?"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa aku harus menderita demi kebenaran dan bahwa aku tidak boleh membuang kebenaran hanya untuk menikmati keharmonisan keluarga. Selama aku percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku, aku berusaha dengan saksama untuk mempertahankan keluarga ini, takut hubunganku dengan mereka akan hancur dan aku tidak bisa pulang ke rumah. Menghadapi bujukan dan ancaman ayahku yang berulang-ulang, hatiku merasa sangat lemah, dan aku terjebak dalam dilema, ragu untuk pergi melaksanakan tugasku lagi. Aku sadar bahwa aku selalu setia kepada keluarga, bukan kepada Tuhan, dan tentu saja aku tidak mengutamakan mengejar kebenaran. Karena keterikatan emosionalku dengan keluargaku begitu kuat, aku telah beberapa kali jatuh ke dalam pencobaan Iblis dan hampir mengkhianati Tuhan. Baru saat itulah aku menyadari bahwa Iblis telah membuat orang hidup dalam kasih sayang keluarga, menikmati daging, dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Maksud Tuhan adalah agar kita melaksanakan tugas kita sebagai makhluk ciptaan, mengejar kebenaran, hidup dalam keserupaan dengan manusia yang sejati, dan memperoleh keselamatan. Jika aku mendengarkan ayahku dan pergi bekerja kali ini hanya untuk melindungi kepentingan dagingku, aku mungkin menikmati keharmonisan keluarga, tetapi aku akan kehilangan kesempatanku untuk mendapatkan kebenaran. Bukankah itu hanyalah kehampaan dan penderitaan? Aku harus memilih jalan yang benar. Suatu pagi, ayahku tiba-tiba harus pergi keluar untuk suatu urusan. Aku gunakan kesempatan itu untuk pergi dan melaksanakan tugasku lagi.
Dua bulan kemudian, aku menerima surat dari gereja yang mengatakan bahwa ayahku telah melaporkanku ke polisi, dan juga telah melaporkan nenekku serta saudara-saudari di kampung halaman kami, yang menyebabkan mereka semua ditangkap. Ayahku telah menggunakan segala macam cara untuk dengan gila-gilaan menganiaya dan menghalangiku melaksanakan tugas. Ketika dia melihat aku tidak mau mendengarkan, dia benar-benar berbalik memusuhiku dan melapor ke polisi, bahkan menyerahkan nenekku. Esensinya adalah setan! Begitu aku melihat esensinya dengan jelas, aku tidak lagi terkekang oleh perasaanku. Mulai hari itu, aku tidak lagi pulang ke rumah. Sejak itu, aku melaksanakan tugasku secara penuh waktu. Syukur kepada Tuhan karena telah menuntunku untuk membuat pilihan yang benar!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudari Joselyn, Ekuador Tahun 2008, aku dan ibuku mulai beriman kepada Tuhan, lalu setelah itu, aku menghadiri pertemuan di gereja...
Oleh Saudari Mildred, MalaysiaTak lama setelah aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, Pendeta Lee mengetahuinya....
Oleh Saudari Fang Xia, TiongkokAku mantan guru, dan suamiku mantan insinyur. Hubungan kami baik-baik saja selama masa pernikahan kami, dan...
Aku benar-benar memandang tinggi Pendeta Li di gereja lamaku. Dia tinggalkan keluarga dan karirnya serta bepergian ke mana-mana untuk...