Apakah Memercayai Tuhan Hanya karena Kasih Karunia Itu Benar?
Pada akhir tahun 2016, anakku terus mengalami diare dan tidak ada obat apa pun yang dapat membantu. Tak disangka, penyakit anakku sembuh...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada tahun 1997, aku mulai percaya kepada Tuhan karena penyakit, dan tak lama kemudian, kondisiku membaik. Aku sangat bersyukur atas kasih karunia Tuhan. Pada musim semi tahun 2003, aku mengetahui bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali, dan Dia adalah Tuhan Yang Mahakuasa. Dengan membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, aku memahami bahwa rencana pengelolaan Tuhan selama enam ribu tahun dibagi menjadi tiga tahap, dan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa sedang melakukan tahap pekerjaan terakhir, yaitu pekerjaan penghakiman. Semua yang menerima penghakiman serta hajaran firman Tuhan dan disucikan watak rusaknya dapat diselamatkan oleh Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan-Nya. Jadi, aku menerima Tuhan Yang Mahakuasa dan secara aktif mengabdikan diri untuk memberitakan Injil. Meskipun keluargaku berusaha menghentikanku, tetangga mengejekku, dan si naga merah yang sangat besar membuntutiku serta berusaha menangkapku, setiap kali aku memikirkan bagaimana Tuhan telah menyembuhkan penyakitku dan tempat tujuan indah yang telah Dia janjikan kepada manusia, aku merasa bahwa menderita sedikit kesulitan ini sangatlah sepadan.
Tak terasa sudah awal tahun 2021, dan aku sedang menyiram orang-orang baru di gereja. Selama waktu itu, aku sering merasakan nyeri tumpul di perut bagian bawahku. Awalnya, aku tidak terlalu memikirkannya dan mengira aku hanya masuk angin karena cuaca dingin. Namun pada akhir Juni, rasa nyerinya jauh makin parah, dan air seniku sering berdarah, jadi keluargaku melarikanku ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan, dokter berkata dengan serius, "Mengapa Ibu tidak datang lebih awal? Rahim Ibu seukuran orang hamil sepuluh minggu, dan penuh dengan benjolan. Ini bukan hanya darah dalam air kencing; ini perdarahan rahim. Kondisinya tidak terlihat baik. Ibu harus segera dioperasi." Setelah mendengar ini, aku tiba-tiba merasa bingung. "Bagaimana ini bisa terjadi?" pikirku. "Aku telah melaksanakan tugasku selama ini. Seharusnya aku mendapatkan perlindungan Tuhan!" Sesampainya di rumah, aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku tahu bahwa aku terkena penyakit ini atas izin-Mu, tetapi perkataan dokter membuatku takut. Mohon bimbinglah aku agar aku dapat memahami maksud-Mu." Aku teringat akan sebaris firman Tuhan, "Percayalah bahwa Tuhan pasti adalah Yang Mahakuasa bagimu." Jadi, aku membuka komputerku dan menemukan bagian firman Tuhan itu: "Jangan tergesa-gesa mencari solusi tentang apa yang tak kaupahami; seringlah bawa permasalahanmu ke hadapan Tuhan, persembahkanlah hati yang tulus kepada-Nya. Percayalah bahwa Tuhan pasti adalah Yang Mahakuasa bagimu. Engkau harus bertekad menginginkan Tuhan dengan sungguh-sungguh, dengan lapar mencari sambil menolak alasan, niat, dan tipuan Iblis. Jangan berkecil hati. Jangan lemah. Carilah dengan segenap hati; nantikan dengan segenap hati. Bekerjasamalah secara aktif dengan Tuhan dan singkirkan penghalang dalam batinmu" (persekutuan Tuhan). Saat aku merenungkan firman-Nya, hatiku berangsur-angsur menjadi tenang. Aku tahu pasti ada maksud Tuhan di balik penyakitku ini. Meskipun aku belum memahaminya, aku tahu bahwa aku harus berdoa, mencari, dan menantikan bimbingan Tuhan. Tuhan mahakuasa, dan Dia berdaulat atas takdirku. Dokter membuat diagnosis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka, tetapi aku tidak boleh takut oleh perkataan mereka. Aku harus memiliki iman kepada Tuhan. Memikirkan hal ini, aku tidak lagi merasa takut. Pada awal Juli, aku menjalani operasi pengangkatan rahim, indung telur, dan saluran tuba. Dokter memberitahuku, "Ibu sangat beruntung. Laporan patologi menyatakan bahwa benjolannya bersifat jinak." Dalam hati, diam-diam aku bersyukur kepada Tuhan. Setelah beristirahat selama lebih dari dua puluh hari, aku mulai melaksanakan tugasku lagi.
Kupikir penyakitku sudah sembuh, tetapi tak kusangka, ini baru permulaan. Setelah menjalani tiga operasi besar dalam hidupku—pengangkatan kantung empedu, operasi usus buntu, dan sekarang pengangkatan rahim—tak lama kemudian, aku mulai menderita serangkaian komplikasi pascaoperasi. Suatu malam di awal Agustus, aku tiba-tiba mengalami nyeri perut yang hebat, dan keluargaku melarikanku ke rumah sakit. Diagnosisnya adalah penyumbatan usus. Dokter segera memasukkan selang untuk mengosongkan perutku dan membersihkan ususku. Selang itu mengiritasi kerongkonganku, membuatku muntah terus-menerus. Ditambah dengan nyeri perut yang tak tertahankan, aku tidak bisa duduk diam maupun berbaring. Seluruh penderitaan itu, yang berlangsung sepanjang hari dan malam, membuatku kelelahan luar biasa. Kemudian, pada pukul sebelas malam keesokan harinya, aku kembali menderita gelombang rasa sakit yang sangat menyiksa. Melihat betapa pucatnya aku, suamiku segera pergi mencari dokter. Berdasarkan hasil CT scan, aku mengalami kebocoran usus dan ada banyak cairan di perutku, sehingga harus segera dioperasi. Saat itu, aku hampir pingsan karena rasa sakit, dengan air mata dan keringat mengalir di wajahku. Berulang kali, aku berseru dalam hati, "Tuhan, selamatkan aku! Oh, Tuhan …" Dalam keadaan linglung, firman Tuhan muncul di benakku: "Percayalah bahwa Tuhan pasti adalah Yang Mahakuasa bagimu" (persekutuan Tuhan). Entah sudah berapa lama waktu berlalu, seorang dokter membangunkanku dengan mengguncang tubuhku, bertanya, "Bagaimana keadaan Ibu? Bagaimana Ibu bisa tertidur?" Baru pada saat itulah aku menyadari bahwa di tengah rasa sakit yang begitu menyiksa, aku benar-benar tertidur. Karena sudah terlalu larut untuk menghubungi ahli bedah, mereka hanya bisa mengirimku kembali ke kamar untuk observasi. Tanpa disangka, aku tidur nyenyak sampai lewat pukul tujuh keesokan paginya. Ketika dokter datang untuk memeriksaku, dia berkata dengan ekspresi bingung, "CT scan jelas menunjukkan adanya cairan di perut Ibu. Bagaimana kondisi Ibu bisa stabil sekarang?" Dalam hati, aku terus bersyukur kepada Tuhan. Seminggu kemudian, aku diizinkan pulang.
Karena refluks empedu yang disebabkan oleh pengangkatan kantung empedu, perutku sering kembung dan terasa panas. Nyeri di dada dan punggungku sangat parah, dan sepanjang hari aku tidak bisa makan atau tidur dengan nyenyak. Aku pergi ke beberapa rumah sakit yang berbeda dan mencoba banyak obat tradisional Tiongkok, tetapi tidak ada yang mempan. Insomniaku juga makin parah; terkadang aku tidak bisa tidur sama sekali sepanjang malam. Melihat tubuhku makin kurus setiap hari, aku hidup dalam keadaan cemas dan khawatir terus-menerus. "Jika terus seperti ini, apakah aku masih bisa melaksanakan tugasku?" pikirku. "Jika aku tidak bisa makan atau tidur, apakah aku akan mati? Dan jika aku mati, bagaimana mungkin aku masih bisa diselamatkan?" Aku pun sedikit salah paham terhadap Tuhan. "Aku telah melaksanakan tugasku dalam suka dan duka selama bertahun-tahun aku beriman kepada Tuhan. Meskipun aku sudah sakit selama lebih dari setahun, aku tidak berhenti melaksanakan tugasku. Mengapa Tuhan tidak melindungiku? Mungkinkah Tuhan menggunakan penyakit ini untuk menyingkapkan dan menyingkirkan aku?" Berulang kali, aku berdoa kepada Tuhan sambil menangis, "Ya Tuhan, aku sangat lemah. Aku khawatir tidak akan mampu melaksanakan tugasku, dan aku bahkan lebih takut jika aku mati, aku tidak bisa diselamatkan. Tuhan, aku memohon kepada-Mu untuk membimbingku, supaya aku dapat menemukan jalan penerapan dalam firman-Mu." Kemudian aku melihat firman Tuhan: "Ketika penyakit menimpa, jalan apa yang harus orang tempuh? Bagaimana mereka harus memilih? Orang tidak boleh tenggelam dalam kesedihan, kecemasan, dan kekhawatiran, dan memikirkan prospek masa depan dan jalan mereka sendiri. Sebaliknya, makin orang mendapati diri mereka mengalami saat-saat seperti ini dan berada dalam situasi dan konteks khusus seperti ini, dan makin mereka mendapati diri mereka berada dalam kesulitan nyata seperti ini, mereka harus makin mencari kebenaran dan mengejar kebenaran. Hanya dengan melakukannya, barulah khotbah yang selama ini kaudengarkan dan kebenaran yang selama ini kaupahami tidak akan sia-sia dan akan berdampak bagimu. Makin engkau mendapati dirimu berada dalam kesulitan seperti ini, makin engkau harus melepaskan keinginanmu sendiri dan tunduk pada pengaturan Tuhan. Tujuan Tuhan menetapkan situasi seperti ini dan mengatur kondisi ini bagimu bukanlah untuk membuatmu tenggelam dalam kesedihan, kecemasan, dan kekhawatiran, dan bukan agar engkau mencobai Tuhan untuk melihat apakah Dia akan menyembuhkanmu ketika penyakit menimpamu, dan dengan demikian mencari tahu kebenaran tentang masalah ini; Tuhan mengatur situasi dan keadaan khusus ini bagimu agar engkau dapat memetik pelajaran nyata dalam situasi dan keadaan seperti itu, agar engkau memperoleh jalan masuk yang lebih dalam ke dalam kebenaran dan ketundukan kepada Tuhan, dan agar engkau tahu dengan lebih jelas dan akurat tentang bagaimana Tuhan mengatur semua orang, peristiwa dan hal-hal. Nasib manusia berada di tangan Tuhan dan, entah manusia mampu merasakannya atau tidak, entah mereka benar-benar menyadarinya atau tidak, mereka harus tunduk dan tidak menentang, tidak menolak, dan tentu saja tidak mencobai Tuhan. Bagaimanapun juga, engkau akan mati, dan jika engkau menentang, menolak, dan mencobai Tuhan, maka dapat dipastikan akan seperti apa kesudahanmu. Sebaliknya, jika dalam situasi dan keadaan yang sama engkau mampu mencari bagaimana seharusnya makhluk ciptaan tunduk pada pengaturan Sang Pencipta, mencari pelajaran apa yang harus kaupetik dan watak rusak apa yang harus kauketahui dalam situasi yang Tuhan atur bagimu, dan memahami maksud Tuhan dalam situasi seperti itu, serta memberikan kesaksianmu dengan baik untuk memenuhi tuntutan Tuhan, maka inilah yang harus kaulakukan. Ketika Tuhan mengatur agar seseorang menderita suatu penyakit, entah berat atau ringan, tujuan Dia melakukannya bukanlah untuk membuatmu merasakan seluk-beluk jatuh sakit, kerugian yang penyakit itu timbulkan pada dirimu, ketidaknyamanan dan kesulitan yang disebabkan penyakit itu terhadapmu, dan segala macam perasaan yang kaurasakan karena penyakit tersebut—tujuan Dia bukanlah agar engkau merasakan penyakit melalui sakitnya dirimu. Sebaliknya, tujuan Dia adalah agar engkau memetik pelajaran dari penyakit, belajar bagaimana memahami maksud Tuhan, belajar memahami watak rusak yang kauperlihatkan dan sikapmu yang keliru terhadap Tuhan saat engkau sakit dan belajar bagaimana tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, sehingga engkau mampu benar-benar tunduk kepada Tuhan dan mampu tetap teguh dalam kesaksianmu—inilah yang terpenting. Tuhan ingin menyelamatkanmu dan mentahirkanmu melalui penyakit. Hal apa tentang dirimu yang ingin Tuhan tahirkan? Dia ingin mentahirkanmu dari semua keinginan yang berlebihan dan tuntutanmu terhadap Tuhan, dan bahkan mentahirkanmu dari berbagai perhitungan, penilaian, dan perencanaan yang kaubuat dengan segala cara untuk bertahan hidup dan untuk terus hidup. Tuhan tidak menuntutmu untuk membuat rencana, Dia tidak menuntutmu untuk menilai, dan Dia tidak mengizinkanmu memiliki keinginan yang berlebihan terhadap-Nya; Dia hanya memintamu untuk tunduk kepada-Nya dan, dalam penerapanmu dan pengalaman akan ketundukan, untuk engkau mengetahui sikapmu sendiri terhadap penyakit, dan mengetahui sikapmu terhadap kondisi tubuh yang Dia berikan kepadamu, serta keinginan pribadimu. Setelah engkau mengetahui hal-hal ini, engkau akan mampu memahami betapa bermanfaatnya lingkungan penyakit yang telah Tuhan atur bagimu atau kondisi tubuh yang telah Dia berikan kepadamu; dan engkau akan mampu menyadari betapa bermanfaatnya pengaturan itu untuk mengubah watakmu, untuk engkau memperoleh keselamatan, dan untuk jalan masuk kehidupanmu" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti. Maksud Tuhan mengizinkanku menghadapi penyakit ini bukanlah agar aku tenggelam dalam kesedihan, kecemasan, dan kekhawatiran, melainkan agar aku mencari kebenaran, memetik pelajaran, dan mengenali watak rusak yang telah kuperlihatkan. Itu juga untuk menguji apakah aku memiliki iman dan ketundukan yang sejati kepada Tuhan. Jika kuingat kembali saat aku sakit selama setahun yang lalu atau lebih, aku telah mencoba segala macam pengobatan—obat tradisional Tiongkok, obat Barat, dan pengobatan kampung. Aku telah menemui dokter-dokter dan para spesialis terkenal, tetapi kondisiku bukan saja tidak membaik, malah makin parah. Aku hidup dalam keadaan sedih, cemas, dan khawatir, takut bahwa seiring berkembangnya penyakitku, aku tidak akan mampu melaksanakan tugasku, dan bahkan lebih takut jika aku mati, aku tidak akan bisa diselamatkan. Hatiku pedih dan lemah, dan aku telah kehilangan iman kepada Tuhan. Dulu, ketika aku sakit dan melihat perlindungan serta kasih karunia Tuhan, aku sangat bersyukur kepada-Nya. Namun sekarang, setelah penyakitku parah dan aku tidak bisa melihat kasih karunia serta berkat-Nya, aku curiga bahwa Tuhan menggunakan penyakitku untuk menyingkapkan dan menyingkirkan aku. Aku bahkan mencoba menggunakan pengorbananku dalam meninggalkan segalanya dan penderitaanku selama bertahun-tahun aku percaya kepada Tuhan sebagai modal untuk tawar-menawar dengan-Nya, mengeluh tentang mengapa Dia tidak melindungiku. Kenyataannya, Tuhan menggunakan penyakit ini untuk menyingkapkan ketidakmurnian dalam imanku, dan untuk membuatku mengenali kerusakanku sendiri, serta tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Setelah memahami niat Tuhan yang tekun, aku merasakan penyesalan yang mendalam. Aku berlutut dan berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku bersedia menyerahkan diriku ke tangan-Mu dan tunduk pada pengaturan serta penataan-Mu. Kiranya Engkau membimbingku."
Selama beberapa waktu berikutnya, aku terus minum obat tradisional Tiongkok, tetapi kondisiku masih belum membaik. Perutku terasa seperti terbakar, dan aku sangat mual hingga tidak bisa makan. Seluruh tubuhku sakit, dan pada malam hari, aku hanya bisa mengandalkan obat tidur agar bisa tidur dua atau tiga jam saja. Kemudian, aku bukan hanya tidak bisa melaksanakan tugasku, bahkan mengikuti pertemuan pun aku tidak bisa. Pada bulan Juli 2023, berdasarkan kondisiku, gereja menyarankan agar aku menghentikan sementara kehidupan bergereja untuk beristirahat dan menyembuhkan penyakitku di rumah. Aku sangat menderita. "Sebesar apa pun penderitaanku sebelumnya, aku bertahan dan tetap melaksanakan tugasku, berpikir bahwa Tuhan akan menyembuhkanku," pikirku. "Namun sekarang, aku bahkan tidak bisa menghadiri pertemuan ibadah. Akankah aku mampu memberikan kesaksian? Bukankah aku hanya menunggu untuk disingkirkan oleh Tuhan?" Secercah harapan terakhir yang kumiliki hancur. Hari itu, aku pulang, menghempaskan diri ke tempat tidur, dan menangis tersedu-sedu. Aku memikirkan bagaimana saudara-saudari di sekitarku semuanya sehat dan dapat menghadiri pertemuan serta melaksanakan tugas mereka dengan normal. Bahkan beberapa orang tidak percaya pun sehat. Mengapa aku terus-menerus didera penyakit?
Pada akhir Agustus, aku kembali dirawat di rumah sakit karena penyumbatan usus. Selama waktu itu, sakit yang kurasakan setiap hari di perut, lambung, dan punggungku membuatku sangat menderita. Aku hampir tidak bisa makan apa pun, jadi aku hanya bisa mengandalkan infus protein dan glukosa untuk nutrisi. Berat badanku turun lebih dari 20 kilogram dalam waktu singkat. Suamiku berhenti bekerja untuk menemaniku di rumah sakit, memijat punggungku setiap hari. Beberapa kali, aku merasakan air matanya jatuh di punggungku. Aku tahu hidupku mungkin tidak lama lagi. Pada malam hari, ketika aku tidak bisa tidur, momen-momen saat aku beriman selama dua puluh tahun terlintas di benakku. Suamiku melarangku percaya kepada Tuhan dan bahkan mengancam akan menceraikanku, tetapi aku tidak berkompromi. Orang-orang dunia mengejek, mencemooh, dan menghinaku, tetapi aku tidak mundur. Si naga merah yang sangat besar melacak dan menganiayaku, tetapi aku tidak kehilangan iman. Kupikir Tuhan akan melihat bagaimana aku telah meninggalkan segalanya dan menderita selama bertahun-tahun dan akan melindungiku sampai akhir, mengizinkanku melihat kemegahan kerajaan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa apa yang kuhadapi sekarang mungkin adalah akhir hidupku. Hatiku hancur, dan aku pun berpikir, "Setelah semua penderitaan itu, pada akhirnya aku tetap harus mati. Jika aku tahu akan jadi begini, mengapa aku mulai percaya kepada Tuhan sejak awal?" Selama beberapa hari, aku berbaring di ranjang rumah sakit, tidak berdoa atau membaca firman Tuhan. Yang bisa kupikirkan hanyalah gambaran tentang apa yang terjadi setelah kematian. Terutama aku memikirkan bagaimana alam roh diselimuti kabut gelap dan suram, begitu gelap hingga kau tidak bisa melihat tanganmu sendiri di depan wajahmu, tanpa ada keluarga yang menemanimu di sana, dan aku gemetar ketakutan. Suatu hari, saudara laki-lakiku dan istrinya datang ke rumah sakit untuk menjengukku. Melihatku begitu kurus dan lemah, kakakku berkata dengan mata berkaca-kaca, "Jangan menyerah. Kau harus lebih banyak berdoa dan mengandalkan Tuhan!" Kata-katanya membuatku merasa sangat bersalah dan gelisah. Aku berpikir, "Sejak aku sakit, ketika Tuhan menunjukkan kasih karunia dan berkat kepadaku, aku bersyukur kepada-Nya dan merasa bahwa percaya kepada Tuhan luar biasa. Namun sekarang, setelah kematian sudah di depan mata, aku mulai mengeluh kepada-Nya dan bahkan menyesali imanku. Ini adalah pengkhianatan terhadap Tuhan!" Selama masa itu, aku diinfus selama lebih dari sepuluh jam setiap hari. Pada hari kesembilan, kedua lenganku begitu bengkak hingga mereka tidak bisa memasang infus lagi, jadi aku tidak punya pilihan selain pulang. Setelah kembali ke rumah, aku berdoa kepada Tuhan berulang kali, "Ya Tuhan, menghadapi kematian, hatiku dipenuhi rasa takut dan tidak berdaya serta kesalahpahaman, keluhan, dan tuntutan yang tidak masuk akal terhadap-Mu. Tuhan, mohon bimbinglah aku untuk mengenali kerusakanku sendiri dan memahami maksud-Mu."
Bersandar di tempat tidurku, aku membuka komputerku dan melihat firman Tuhan: "Di benak semua orang, yang dapat mereka pikirkan hanyalah semua anugerah, berkat, dan janji yang Yahweh berikan kepada manusia, tetapi mereka tidak pernah berpikir—atau tidak dapat membayangkan—situasi seperti apa yang akan terjadi ketika Yahweh mengambil semua hal ini dari mereka. Semua orang yang percaya kepada Tuhan hanya siap menerima kasih karunia, berkat, dan janji Tuhan, dan hanya mau menerima kebaikan Tuhan dan belas kasihan-Nya. Namun, tak seorang pun yang menantikan atau bersiap untuk menerima hajaran dan penghakiman Tuhan, ujian dan pemurnian-Nya, atau perampasan-Nya, dan tak seorang pun membuat persiapan untuk menerima penghakiman dan hajaran Tuhan, perampasan-Nya, atau kutukan-Nya. Apakah hubungan antara manusia dan Tuhan seperti ini normal atau tidak normal? (Tidak normal.) Mengapa engkau mengatakan bahwa itu tidak normal? Di mana kekurangannya? Kekurangannya adalah orang tidak memiliki kebenaran. Itu karena manusia memiliki terlalu banyak gagasan dan imajinasi, selalu salah paham terhadap Tuhan, dan tidak membereskan semua hal ini dengan mencari kebenaran—inilah yang membuat masalah cenderung terjadi. Secara khusus, orang hanya percaya kepada Tuhan demi untuk diberkati. Mereka hanya ingin bertransaksi dengan Tuhan dan menuntut segala sesuatu dari-Nya, tetapi tidak mengejar kebenaran. Ini sangat berbahaya. Begitu mereka menemukan sesuatu yang bertentangan dengan gagasannya, mereka langsung memiliki gagasan, keluhan, dan kesalahpahaman berkenaan dengan Tuhan, dan bahkan bisa sampai mengkhianati Dia. Apakah konsekuensi dari hal ini serius? Jalan apa yang ditempuh sebagian besar orang dalam iman mereka kepada Tuhan? Meskipun engkau semua mungkin telah mendengarkan begitu banyak khotbah dan merasa bahwa engkau telah memahami cukup banyak kebenaran, sebenarnya engkau semua masih menempuh jalan percaya kepada Tuhan hanya untuk makan roti sampai kenyang" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (11)"). "Ayub memang seorang yang beriman. Ketika Tuhan memberkatinya, dia bersyukur kepada Tuhan. Ketika Tuhan mendisiplinkannya dan mengambil semua yang dimilikinya, dia tetap bersyukur kepada Tuhan. Setelah mengalami segala sesuatu sampai akhir, ketika dia sudah tua dan Tuhan telah mengambil semua harta milik dan anak-anaknya, bagaimana reaksi Ayub? Dia bukan saja tidak mengeluh, melainkan dia juga mampu menolak Iblis, dan dia memuji Tuhan dari hatinya, mengagungkan nama Tuhan, dan bersaksi bagi-Nya. ... Orang sering mengatakan, 'Segala sesuatu yang Tuhan lakukan bagi manusia adalah bermanfaat dan mengandung maksud baik-Nya.' Apakah ini kebenaran? (Ya.) Namun, mampukah engkau menerimanya? Engkau mampu menerimanya ketika Tuhan memberkatimu, tetapi mampukah engkau menerimanya ketika Dia mengambil milikmu? Engkau tidak bisa, tapi Ayub bisa. Ayub menyampaikan pernyataan ini sebagai kebenaran—bukankah dia mencintai kebenaran? Tuhan mengambil semua harta miliknya, menyebabkan dia mengalami kerugian yang sangat besar, dan dia juga ditimpa penyakit parah. Namun, inilah pernyataan yang dia buat, 'Segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah benar, dan mengandung maksud baik Tuhan,' membuktikan bahwa dia sepenuhnya memahami dalam hatinya bahwa segala sesuatu yang dia miliki dianugerahkan oleh Tuhan. Justru karena dia memahami bahwa ini adalah kebenaran, sebesar apa pun rasa sakit yang dideritanya, dia tidak memiliki keluhan dan masih mampu memuji Tuhan. Apa pun yang dikatakan istrinya, dia mampu tetap teguh dalam kesaksiannya dan mengagungkan Tuhan di dalam hatinya. Itulah sebabnya kita mengatakan Ayub mencintai kebenaran. Selain itu, cara apa pun yang Tuhan gunakan untuk mengujinya, dia mampu menerima dan tunduk tanpa mengeluh. Bahkan ketika Iblis mengambil harta miliknya dan berusaha membunuhnya, atau menimpakannya dengan bisul—yang semuanya tidak sesuai dengan gagasan manusia—bagaimana tanggapan Ayub? Apakah dia mengeluh tentang Tuhan? Dia tidak mengucapkan satu kata keluhan pun tentang Tuhan, tetapi berkata bahwa nama Tuhan harus diagungkan. Ini membuktikan bahwa Ayub bisa tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, dan juga membuktikan bahwa Ayub mencintai kebenaran, serta mencintai keadilan. Dalam hatinya, dia berkata, 'Tuhan begitu adil kepada manusia dan begitu benar! Apa pun yang Tuhan lakukan adalah benar!' Jadi, dia bisa memuji Tuhan. Dia berkata, 'Apa pun yang Tuhan lakukan, aku tidak akan mengeluh. Di mata Tuhan, makhluk ciptaan hanyalah ulat. Bagaimana pun Tuhan memperlakukanku, itu baik dan dapat dibenarkan.' Dia percaya segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah benar, adalah sesuatu yang positif. Sebesar apa pun kerugian pada harta miliknya, sebanyak apa pun kesulitan yang dihadapinya atau sebesar apa pun rasa sakit yang ditanggungnya, dia tidak mengeluh tentang Tuhan, dan masih bisa tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Ini adalah perwujudan dari mencintai kebenaran" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Mengenal Diri Sendiri Sangat Penting untuk Mengejar Kebenaran"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku diliputi rasa malu! Dalam pandanganku, percaya kepada Tuhan berarti menerima kasih karunia dan berkat dari-Nya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari aku akan menghadapi penghakiman dan hajaran, atau ujian dan pemurnian Tuhan, apalagi memperlengkapi diriku dengan kebenaran terlebih dahulu untuk menghadapi penghakiman Tuhan. Meskipun aku hafal pengalaman Ayub dan dapat melafalkan dari ingatan firman yang sangat penting yang dia ucapkan ketika dia tetap teguh dalam kesaksiannya, yang kupahami hanyalah doktrin. Ayub mengalami ujian Tuhan karena dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dia kehilangan semua harta benda dan anak-anaknya, dan tubuhnya dipenuhi bisul yang menyakitkan. Dia diejek oleh istrinya dan dicemooh oleh teman-temannya, tetapi dia tetap berpegang teguh pada integritasnya. Dalam penderitaannya yang luar biasa, dia lebih memilih mengutuk hari kelahirannya sendiri daripada mengeluh tentang Tuhan atau meninggalkan nama-Nya. Dia menganggap, "Segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah benar, dan mengandung maksud baik Tuhan" sebagai kebenaran tertinggi yang harus diterapkan. Asalkan sesuatu berasal dari Tuhan, entah baik ataupun buruk, dia dapat menerimanya dan tunduk. Dengan iman, ketundukan, dan rasa takutnya akan Tuhan, dia mengalahkan Iblis dan memberi kesaksian yang menggema bagi Tuhan. Secara doktrin, aku tahu bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan itu benar dan mengandung maksud baik-Nya, tetapi ketika penyakit kronisku membawaku ke ambang kematian, tingkat pertumbuhanku yang sebenarnya tersingkap sepenuhnya. Aku mulai menghitung jasa-jasaku sendiri, mengeluh mengapa Tuhan tidak melindungiku, dan bahkan menyesali imanku dan semua yang telah kutinggalkan dan kukorbankan. Ketika Tuhan memberkatiku, aku penuh rasa syukur kepada-Nya, tetapi ketika apa yang Dia lakukan bertentangan dengan gagasanku, aku berargumen dengan-Nya dan menentang-Nya. Aku benar-benar tidak memiliki hati nurani dan nalar; aku sangat tidak memiliki kemanusiaan! Kemudian aku bersujud di tanah dan berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, Engkau adalah Sang Pencipta, dan aku adalah makhluk ciptaan. Apa pun yang Engkau lakukan, seharusnya aku tidak mengeluh atau menuntut apa pun terhadap-Mu. Tuhan, aku bersedia tunduk pada pengaturan dan penataan-Mu."
Selama beberapa hari berikutnya, aku mulai membereskan urusanku. Aku mengemasi buku-buku firman Tuhan dan memberi tahu seorang saudari di mana aku meletakkannya. Aku juga berdoa dan mencari cara untuk menghadapi kematian dengan benar. Aku melihat satu bagian firman Tuhan: "Dengan cara seperti inilah engkau harus memandang masalah kematian. Setiap orang pasti akan menghadapi kematian dalam hidupnya, artinya, kematian adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh setiap orang pada akhir perjalanan mereka. Namun, kematian memiliki berbagai natur. Salah satunya adalah, pada waktu yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, orang telah menyelesaikan misinya sendiri dan Tuhan mengakhiri kehidupan jasmaninya, maka kehidupan jasmaninya telah mencapai akhir, meskipun ini bukan berarti bahwa hidupnya sudah berakhir. Ketika seseorang tidak lagi memiliki daging, hidupnya sudah berakhir—benarkah demikian? (Tidak.) Dalam wujud apa hidupmu setelah engkau mati tergantung pada bagaimana engkau memperlakukan pekerjaan dan firman Tuhan semasa engkau masih hidup—ini sangat penting. Dalam wujud apa engkau akan ada setelah engkau mati, atau apakah engkau akan tetap ada atau tidak, itu akan tergantung pada sikapmu terhadap Tuhan dan terhadap kebenaran selagi engkau hidup. Jika selagi engkau hidup, saat engkau menghadapi kematian dan segala macam penyakit, sikapmu terhadap kebenaran adalah sikap yang memberontak, melawan, dan merasa muak akan kebenaran, maka saat kehidupan dagingmu telah berakhir, dalam wujud apakah engkau akan ada setelah kematianmu? Engkau pasti akan ada dalam wujud yang lain, dan hidupmu pasti tidak akan berlanjut. Sebaliknya, jika selagi engkau hidup, saat engkau memiliki kesadaran di dalam daging, sikapmu terhadap kebenaran dan terhadap Tuhan adalah sikap yang tunduk dan setia dan engkau memiliki iman yang sejati, sekalipun kehidupan jasmanimu telah berakhir, hidupmu akan terus ada dalam wujud lain di alam lain. Inilah definisi dari kematian" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (4)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku merasa sangat tenang. Setiap orang harus menghadapi kematian, tetapi natur kematian setiap orang dan kesudahannya setelah kematian sangatlah berbeda. Apakah mereka kembali ke hadapan Sang Pencipta atau turun ke neraka bersama Iblis bergantung pada sikap mereka terhadap Tuhan dan kebenaran selama mereka masih hidup. Aku teringat akan ayat dalam Alkitab yang mengatakan, "Maka Ayub pun meninggal, sesudah tua dan lanjut umurnya" (Ayub 42:17). Ayub takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan sepanjang hidupnya. Di tengah serangan dan siksaan Iblis, dia tetap teguh dalam kesaksiannya bagi Tuhan, yang membawa penghiburan bagi hati Tuhan. Dalam menghadapi kematian, Ayub mampu tunduk dari hatinya. Pikirannya tenang dan damai, tanpa kekhawatiran atau ketakutan. Saat itu aku memahami bahwa kematian itu sendiri bukanlah hal yang menakutkan. Yang menakutkan adalah menjalani hidup tanpa mengejar atau mendapatkan kebenaran, masih hidup berdasarkan watak rusak dan falsafah Iblis seseorang, dan masih memberontak terhadap Tuhan serta menentang-Nya. Tidak peduli seberapa nyaman dan berapa lama kehidupan fisik seperti itu berlangsung, itu hanya sementara, dan setelah kematian, seseorang masih harus pergi ke neraka untuk dihukum. Namun jika, selama masih hidup, seseorang dapat mengejar kebenaran dan mendapatkan kebenaran sebagai hidupnya, hidup dalam kenyataan takut akan Tuhan dan tunduk kepada-Nya seperti yang dilakukan Ayub, dan tetap teguh dalam kesaksiannya untuk mempermalukan Iblis, maka sekalipun tubuh fisiknya mati suatu hari nanti, dia tetaplah orang yang diperkenan oleh Tuhan. Dalam menghadapi kematian, yang telah kuperlihatkan hanyalah kesalahpahaman, keluhan, dan tuntutan yang tidak masuk akal terhadap Tuhan. Aku penuh dengan pemberontakan dan penentangan terhadap-Nya. Sekalipun aku terus hidup, jika watak rusakku tidak berubah, pada akhirnya aku akan tetap disingkirkan dan dihukum.
Kemudian, aku mulai merenung. Setelah mengalami penyakit selama hampir tiga tahun, aku telah memperlihatkan begitu banyak pemberontakan dan kesalahpahaman terhadap Tuhan. Meskipun aku tahu bahwa segala sesuatu yang Dia lakukan itu benar dan bahwa aku harus tunduk, ketika menghadapi kematian, aku tetap tidak mampu tunduk, apa pun yang terjadi. Aku bahkan bisa berargumen dengan Tuhan dan menentang-Nya. Aspek apa dari watak rusakku yang menyebabkan hal ini? Suatu hari, aku melihat firman Tuhan: "Sebelum memutuskan untuk melaksanakan tugas mereka, di lubuk hatinya, antikristus dipenuhi dengan pengharapan akan masa depan mereka, untuk memperoleh berkat, tempat tujuan yang baik, dan bahkan mahkota dan mereka memiliki keyakinan penuh dalam memperoleh hal-hal ini. Mereka datang ke rumah Tuhan untuk melaksanakan tugas mereka dengan niat dan cita-cita seperti itu. Jadi, apakah pelaksanaan tugas mereka mengandung ketulusan, iman yang sejati, dan kesetiaan yang Tuhan tuntut? Pada saat ini, kesetiaan, iman, atau ketulusan mereka yang sejati belum terlihat, karena semua orang memiliki pola pikir yang sepenuhnya transaksional sebelum mereka melaksanakan tugas mereka; semua orang mengambil keputusan untuk melaksanakan tugas dengan dimotivasi oleh kepentingan, dan juga berdasarkan prasyarat dari ambisi dan hasrat mereka yang meluap-luap. Apa niat antikristus dalam melaksanakan tugas mereka? Niat mereka adalah untuk bertransaksi, untuk melakukan pertukaran. Dapat dikatakan bahwa ini adalah syarat-syarat yang mereka tetapkan untuk melaksanakan tugas: 'Jika aku melaksanakan tugasku, aku harus memperoleh berkat dan mendapatkan tempat tujuan yang baik. Aku harus memperoleh semua berkat dan manfaat yang tuhan katakan telah dipersiapkan bagi manusia. Jika aku tidak dapat memperolehnya, aku tidak akan melaksanakan tugas ini.' Mereka datang ke rumah Tuhan untuk melaksanakan tugas mereka dengan niat, ambisi, dan hasrat seperti itu. Tampaknya seolah mereka memang memiliki ketulusan, dan tentu saja, bagi mereka yang baru percaya dan baru mulai melaksanakan tugas mereka, itu juga dapat disebut sebagai semangat. Namun, tidak ada iman atau kesetiaan sejati dalam hal ini; hanya ada tingkat semangat tertentu. Itu tidak dapat disebut ketulusan. Dilihat dari sikap antikristus terhadap pelaksanaan tugas mereka, ini sepenuhnya bersifat transaksional dan dipenuhi dengan hasrat mereka akan keuntungan, seperti menerima berkat, masuk ke dalam kerajaan surga, memperoleh mahkota, dan menerima upah. Jadi, sebelum diusir, ada banyak antikristus yang di luarnya terlihat melaksanakan tugas mereka dan bahkan meninggalkan dan menderita lebih banyak daripada orang kebanyakan. Apa yang mereka korbankan dan harga yang mereka bayar setara dengan Paulus, dan mereka juga tidak kurang sibuk dibandingkan Paulus. Ini adalah sesuatu yang dapat dilihat semua orang. Dalam hal perilaku dan tekad mereka untuk menderita dan membayar harga, mereka seharusnya menerima sesuatu. Namun, Tuhan tidak memandang orang berdasarkan perilaku lahiriah mereka, tetapi berdasarkan esensi mereka, watak mereka, apa yang mereka perlihatkan, serta natur dan esensi dari setiap hal yang mereka lakukan" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tujuh)). Tuhan menyingkapkan bahwa antikristus melaksanakan tugas mereka hanya untuk mendapat berkat dan upah. Jika tidak ada kesudahan yang baik, tidak ada upah atau berkat, seorang antikristus tidak akan percaya kepada Tuhan, apalagi menderita demi tugas mereka. Yang dilakukan antikristus hanyalah berusaha tawar-menawar dengan Tuhan, berkhayal untuk menukar harga yang kecil dengan berkat yang besar. Aku merenungkan diriku sendiri. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan dan mengetahui janji serta berkat-Nya, dan bahwa orang bisa masuk ke kerajaan surga dan memperoleh hidup yang kekal, aku menjadi aktif dalam memberitakan Injil dan melaksanakan tugasku. Tidak peduli bagaimana keluargaku berusaha menghentikanku, bagaimana orang-orang di sekitarku mengejek atau menghinaku, atau bahkan ketika aku dianiaya oleh si naga merah yang sangat besar, aku tidak mundur. Bahkan ketika aku didera penyakit dan tidak bisa makan ataupun tidur, aku tetap melaksanakan tugasku. Namun, ketika penyakitku makin parah dan aku menghadapi ancaman kematian, aku mengeluh tentang mengapa Tuhan tidak melindungiku dan bahkan menyesal telah bertahun-tahun meninggalkan segalanya dan mengorbankan diri, serta menyesali imanku. Yang kuperlihatkan hanyalah pemberontakan dan pengkhianatan terhadap Tuhan. Aku teringat akan Paulus. Dia melakukan perjalanan ke penjuru Eropa untuk memberitakan Injil, dan dia sangat menderita serta membayar harga yang mahal, tetapi penderitaannya dan harga yang dia bayar itu hanya untuk mendapatkan berkat dan mahkota. Dia berkata, "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik. Aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Paulus menggunakan penderitaannya dan harga yang dia bayar sebagai modal tawar-menawar untuk mencoba bertransaksi dengan Tuhan, secara terbuka berseru melawan-Nya. Maksudnya, berdasarkan apa yang telah dia korbankan dan capai, Tuhan harus memberinya upah, mahkota, dan tempat tujuan yang baik; jika tidak, Tuhan tidaklah benar. Watak yang kuperlihatkan sama dengan Paulus. Berdasarkan perbuatanku, aku pantas binasa, tetapi Tuhan masih mengizinkanku hidup. Ini adalah kesempatan bagiku untuk bertobat, sebuah tindakan belas kasihan dan kasih karunia Tuhan yang besar.
Dulu aku percaya bahwa tidak peduli apakah aku menghadapi penganiayaan, kesengsaraan, atau penyakit yang mengancam nyawa, asalkan aku bisa terus melaksanakan tugasku, aku akan mendapatkan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan serta akan mampu bertahan hidup dan diselamatkan. Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa pandangan ini benar-benar konyol. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Apakah seseorang pada akhirnya dapat memperoleh keselamatan, itu tidak bergantung pada tugas apa yang mereka laksanakan, melainkan pada apakah mereka mampu memahami dan memperoleh kebenaran, dan pada akhirnya mencapai ketundukan mutlak kepada Tuhan dan tunduk sepenuhnya pada pengaturan-Nya, tidak lagi memikirkan masa depan dan nasib mereka, serta menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar. Tuhan itu benar dan kudus, Dia menggunakan standar ini untuk mengukur seluruh umat manusia, dan standar ini tidak akan pernah berubah—engkau harus mengingat hal ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah membaca firman Tuhan, akhirnya aku memahami bahwa diselamatkan bukanlah tentang melaksanakan tugasku secara lahiriah. Yang krusial adalah mengejar dan mendapatkan kebenaran dalam proses pelaksanaan tugas seseorang untuk mencapai perubahan watak, dan memetik pelajaran di berbagai lingkungan yang Tuhan atur, menjadi mampu tunduk kepada Tuhan dan tunduk sepenuhnya pada pengaturan-Nya sama seperti Ayub. Hanya dengan begitu, seseorang dapat memenuhi syarat yang dibutuhkan untuk diselamatkan dan bertahan hidup. Aku bertekad dalam doaku. Apa pun kesudahanku nantinya, aku bersedia menjadi makhluk ciptaan yang memiliki nalar. Jika Tuhan masih mengizinkanku hidup, aku bersedia memulai lagi dari awal, melepaskan niatku untuk mendapat berkat, dan berhenti mencoba tawar-menawar dengan Tuhan. Aku akan melaksanakan tugasku untuk mendapatkan kebenaran dan membalas kasih Tuhan. Jika Tuhan telah menetapkan bahwa hidupku harus berakhir saat ini, aku bersedia tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya. Setelah itu, keadaanku jauh membaik. Meskipun penyakitku masih belum membaik, dan aku kesakitan di sekujur tubuhku hampir sepanjang waktu, dan terkadang pikiranku bahkan tidak terlalu jernih, hatiku damai. Aku berdoa kepada Tuhan berulang kali, bersedia menyerahkan hidup dan matiku ke tangan-Nya. Aku akan tunduk pada apa pun yang Dia atur.
Setelah itu, kesehatanku makin memburuk. Bahkan seteguk air pun membuatku mual dan muntah. Aku bahkan tidak punya tenaga untuk berjalan. Yang paling kuingat adalah malam tanggal 18 September. Aku bolak balik di tempat tidur sepanjang malam, tidak bisa tidur. Menjelang subuh, aku demam, dan rasa sakit di sekujur tubuhku tak tertahankan. Aku berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, sepertinya aku tidak akan bertahan. Meskipun ada banyak hal yang enggan kutinggalkan, aku adalah makhluk ciptaan. Entah aku hidup atau mati, entah aku memiliki kesudahan dan tempat tujuan yang baik atau tidak, yang kupinta hanyalah tunduk pada pengaturan dan penataan-Mu." Aku teringat akan firman Tuhan: "Tuhan Yang Mahakuasa adalah tabib yang mahakuasa!" "Firman Tuhan adalah obat yang manjur! Firman Tuhan mempermalukan setan-setan dan Iblis! Memahami firman Tuhan memberi kita dukungan. Firman-Nya bertindak cepat untuk menyelamatkan hati kita! Firman-Nya menghalau segala sesuatu dan menjadikan segala sesuatu damai" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 6"). Ya, Tuhan mahakuasa. Hidup dan mati ada dalam satu kehendak Tuhan. Dokter bisa mengobati penyakit, tetapi mereka tidak bisa menyelamatkan nyawa. Tuhan adalah satu-satunya sandaranku, dan hanya dengan hidup dalam firman-Nya, rohku bisa menemukan kedamaian. Saat merenungkan firman Tuhan, tanpa sadar aku tertidur. Selama lebih dari dua tahun, baru saat itulah aku tertidur tanpa minum obat tidur, dan aku tidur selama hampir empat jam. Ketika aku bangun, kondisi mentalku jauh membaik, dan rasa sakitnya sudah jauh berkurang. Rasanya luar biasa hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kemudian, sesuatu yang bahkan lebih ajaib terjadi. Suatu hari setelah makan malam, saat suamiku sedang membantuku berjalan-jalan di lantai bawah, kami bertemu dengan seorang wanita seusiaku. Dia menatapku dan bertanya, "Bu, kenapa Ibu begitu lemah?" Suamiku memberitahunya tentang kondisiku. Dia berkata, "Saya punya teman yang persis seperti ini. Dia dirawat di rumah sakit kecil di dekat sini, dan sekarang dia sudah sembuh total." Keesokan harinya, suamiku membawaku ke rumah sakit itu. Hanya dengan obat Barat seharga beberapa puluh yuan, penyakitku sembuh. Sebulan kemudian, aku melaksanakan tugasku dengan normal lagi. Lima bulan kemudian, berat badanku kembali naik lebih dari 20 kilogram. Baik saudara-saudari maupun orang-orang tidak percaya yang mengenalku semuanya berkata bahwa itu adalah mukjizat. Aku tahu dengan jelas dalam hatiku bahwa itu sepenuhnya adalah belas kasihan dan kasih karunia Tuhan, serta perbuatan ajaib Tuhan. Jika mengingat betapa aku memberontak sebelumnya, terus-menerus mencoba tawar-menawar dengan Tuhan dan menipu-Nya dalam tugasku, aku benar-benar tidak layak menikmati kasih karunia yang begitu besar dari Tuhan. Kenyataan bahwa aku masih hidup hari ini dan mampu melaksanakan tugasku adalah belas kasihan dan kasih Tuhan yang sangat besar bagiku. Aku bersyukur kepada Tuhan dari lubuk hatiku, dan aku menghargai kesempatan berharga ini untuk melaksanakan tugasku.
Meskipun dagingku menanggung penderitaan saat aku mengalami penyakit ini, yang kudapatkan adalah harta yang tak ternilai. Aku pun memahami bahwa percaya kepada Tuhan bukanlah tentang mendapatkan berkat atau keuntungan, melainkan tentang mengejar kebenaran untuk disucikan. Mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan adalah tanggung jawabku, dan mencapai ketundukan kepada Tuhan serta takut akan Dia adalah tujuan yang harus kukejar. Melalui pengalaman ini, aku menjadi sangat memahami bahwa "Ketika penyakit menimpa, itu adalah kasih Tuhan, dan maksud baik Tuhan tentu terkandung di dalamnya" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 6"). Ini adalah kebenaran, dan ini juga merupakan fakta! Pengalaman ini adalah harta paling berharga dalam hidupku. Ini adalah kasih khusus Tuhan, jenis kasih yang berbeda. Syukur kepada Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Pada akhir tahun 2016, anakku terus mengalami diare dan tidak ada obat apa pun yang dapat membantu. Tak disangka, penyakit anakku sembuh...
Pada tahun 1999, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan dapat menyambut Tuhan...
Pada bulan Agustus 2001, seorang saudari bersaksi kepadaku bahwa Tuhan telah berinkarnasi untuk kedua kalinya untuk melakukan pekerjaan...
Aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman ketika berusia empat puluhan. Aku melihat bahwa pekerjaan Tuhan di akhir zaman...