Pelajaran yang Dipetik dari Kegagalan yang Menyakitkan

08 Mei 2026

Pada tahun 2014, aku mulai melaksanakan tugas akting di gereja. Selain berakting dan mengasah keterampilanku, sisa waktuku kuatur sendiri sesukaku, jadi hidupku relatif bebas dan nyaman. Karena aku suka berakting dan bersedia berupaya keras dalam penampilanku, keterampilanku meningkat secara signifikan setelah berakting dalam dua film, jadi pemimpin memintaku untuk berlatih melaksanakan tugas sebagai sutradara. Saat itu aku cukup enggan, pikirku, "Tanggung jawab sutradara begitu banyak. Kau harus terlibat dalam segala hal yang dilakukan tim, dan kau harus memeriksa rekaman setelah syuting. Itu sangat melelahkan secara mental dan fisik. Jika aku bekerja sekeras ini setiap hari, aku akan benar-benar kelelahan dan kuyu!" Namun, setelah berpikir bahwa menolak tugas tidak sesuai dengan maksud Tuhan, aku pun menerimanya dengan enggan. Semua saudari turut senang ketika mengetahui aku dipromosikan untuk melaksanakan tugas sebagai sutradara, tetapi aku berpikir, "Ini jelas pekerjaan yang sangat melelahkan. Aku tidak berambisi memikul amanat yang besar, karena makin berat bebannya, makin melelahkan bagi daging. Aku hanya ingin menjadi aktor biasa. Selama aku tidak bermalas-malasan, itu tidak masalah."

Ketika aku bertanggung jawab menyutradarai film pertamaku, koordinator mengatur jadwal yang padat setiap hari. Setelah setiap syuting, kami masih harus mendiskusikan masalah akting, pengambilan gambar, atau lokasi syuting untuk adegan berikutnya. Saat syuting, aku duduk di depan monitor dan tidak berani lengah sedetik pun. Jika aku kehilangan fokus, aku tidak bisa menilai apakah penampilannya akurat dan harus menonton rekaman atau syuting ulang. Terkadang, setelah syuting selesai di lokasi dan anggota kru lainnya pulang, aku masih harus tinggal untuk menangani pekerjaan lain. Terlebih lagi, film ini memiliki banyak tokoh protagonis dan antagonis, dan aku harus membimbing para aktor dalam adegan mereka, berlatih bersama mereka, dan melatih mereka, mengawasi semuanya. Untuk setiap adegan, aku harus mendalami karakter-karakternya terlebih dahulu dan sangat memahaminya agar dapat menilai apakah penampilan para aktor sesuai dengan karakter mereka. Ini terutama berlaku untuk adegan emosional: Ketika seorang aktor tidak bisa masuk ke dalam karakter, aku harus mencari cara agar mereka berada di keadaan emosi yang tepat. Aku hanya merasa bahwa menjadi sutradara sangat menguras mental! Sebagai aktor, yang harus kulakukan hanyalah menampilkan bagianku sendiri dengan baik, itu saja. Tugas itu jauh lebih santai. Dari lubuk hatiku, aku membenci tugas sebagai sutradara. Setelah itu, aku mulai bersikap asal-asalan dalam tugasku. Selama syuting, ketika aku melihat para aktor kesulitan mencapai efek yang diinginkan, alih-alih memikirkan cara melatih mereka agar penampilannya lebih baik, aku malah buru-buru menyetujui pengambilan gambarnya. Akibatnya, ketika pemimpin meninjau klip film, dia mendapati penampilannya tidak memenuhi standar, dan kami harus syuting ulang. Di lain waktu, saudari yang bekerja sama denganku memintaku untuk menambahkan beberapa gerakan fisik ke dalam penampilan para aktor selama latihan. Kupikir itu terlalu merepotkan, jadi aku tidak melakukannya. Akibatnya, penampilannya kurang maksimal, dan tepat sebelum syuting dimulai, dia harus melatih para aktor di tempat untuk memasukkan gerakan tersebut, yang menunda syuting. Saat itu, aku merasa tidak enak hati, mengetahui bahwa aku tidak memenuhi tanggung jawabku. Namun setelah itu, setiap kali tiba waktunya untuk benar-benar melakukan pekerjaan itu, aku masih merasa bahwa melaksanakan tugas ini terlalu melelahkan dan merepotkan. Dua bulan berlalu tanpa terasa, dan para aktor terus-menerus mengalami masalah dengan penampilan mereka. Koordinator mengingatkanku beberapa kali untuk membimbing para aktor dalam adegan mereka secara lebih detail, tetapi bukan hanya tidak mendengarkan, aku pun menentang, pikirku, "Harus lebih detail itu sangat merepotkan! Harus latihan berapa lama?" Aku bahkan mencoba membantah, dengan berkata, "Ketika aku menjadi aktor, tidak ada yang melatihku sedetail itu. Bukankah akting adalah tanggung jawab aktor itu sendiri?" Ketika tiba waktunya untuk berlatih, aku tetap memberi para aktor garis besar saja, tanpa detail apa pun, sehingga sering kali syuting harus diulang dan jadwal produksi tertunda.

Setelah beberapa waktu, Saudara Elias ditugaskan untuk bekerja sama denganku dalam melaksanakan tugas sebagai sutradara. Koordinator berkata kepadaku, "Sepertinya kau kesulitan melaksanakan tugas sebagai sutradara sendirian. Mulai sekarang, tanggung jawab utamamu adalah membimbing para aktor dalam adegan mereka, dan Saudara Elias akan mengawasi berbagai hal dari monitor." Aku sebenarnya cukup senang mendengarnya. Pikirku, "Bagus! Aku tidak perlu menonton monitor dan mengawasi berbagai hal lagi. Dengan begini, waktuku akan lebih fleksibel, dan aku tidak akan terlalu lelah." Setelah itu, begitu selesai berlatih dengan para aktor, aku pergi dan melakukan urusan pribadiku sendiri. Aku tidak peduli bagaimana penampilan mereka, dan akibatnya, selalu ada masalah dalam penampilan para aktor selama syuting yang sebenarnya. Koordinator menyuruhku merenungkan sikapku terhadap tugasku, tetapi aku berpikir, "Apa yang harus kurenungkan jika para aktor tidak tampil dengan baik? Jadi sekarang ini salahku?" Makin aku memikirkannya, makin aku merasa tugas ini adalah pekerjaan yang tidak dihargai. Selama hari-hari itu, beberapa aktor yang kulatih terus mengalami masalah selama syuting. Koordinator kembali mengingatkanku untuk merenungkan sikapku terhadap tugasku, dan baru pada saat itulah aku mulai merenung. Jika kuingat kembali, meskipun tubuhku terasa nyaman selama beberapa hari terakhir, aku merasakan kegelisahan yang tak bisa kujelaskan di hatiku, jadi aku berdoa kepada Tuhan dan merenungkan diriku sendiri, dan teringat akan satu bagian firman Tuhan: "'Engkau suka bersikap licik dan bermalas-malasan, bukan? Engkau suka bermalas-malasan dan menikmati kenyamanan, bukan? Kalau begitu, nikmatilah kenyamanan untuk selamanya!' Tuhan akan memberikan anugerah dan kesempatan ini kepada orang lain." Aku kemudian mencari seluruh bagian itu untuk kubaca. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Jika engkau melaksanakan tugasmu dengan asal-asalan, dan memperlakukannya dengan sikap yang tidak menghargai, akan seperti apa hasilnya? Engkau tidak akan melaksanakan tugas dengan baik, bahkan dalam tugas yang mampu kaulaksanakan dengan baik—pelaksanaan tugasmu tidak akan memenuhi standar, dan Tuhan akan sangat tidak puas dengan sikapmu terhadap tugasmu. Jika engkau bisa berdoa kepada Tuhan, mencari kebenaran, dan mencurahkan segenap hati dan pikiranmu ke dalamnya, jika engkau bisa bekerja sama dengan cara seperti ini, maka Tuhan akan mempersiapkan segala sesuatu untukmu sebelumnya, sehingga segala sesuatu berjalan lancar dan membuahkan hasil yang baik saat engkau menangani berbagai hal. Engkau tidak perlu mengerahkan tenaga yang sangat besar; saat engkau berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja sama, Tuhan mengatur segala sesuatu untukmu. Jika engkau penuh tipu daya dan malas, jika engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik, dan selalu menempuh jalan yang salah, Tuhan tidak akan bekerja di dalam dirimu; engkau akan kehilangan kesempatan ini, dan Tuhan akan berkata, 'Tidak mungkin memakaimu. Menyingkirlah. Engkau suka bersikap licik dan bermalas-malasan, bukan? Engkau suka bermalas-malasan dan menikmati kenyamanan, bukan? Kalau begitu, nikmatilah kenyamanan untuk selamanya!' Tuhan akan memberikan anugerah dan kesempatan ini kepada orang lain. Bagaimana menurutmu: Apakah ini kerugian atau keuntungan? (Kerugian.) Ini adalah kerugian yang sangat besar!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah membacanya, aku memahami bahwa sikap seseorang terhadap tugasnya sangatlah penting. Jika orang dapat melaksanakan tugas mereka dengan segenap hati dan pikiran, Tuhan akan mencerahkan dan membimbing mereka, dan mereka akan mencapai hasil yang baik. Namun, jika mereka bersikap sembrono atau asal-asalan, tugas yang seharusnya bisa dilaksanakan dengan baik dengan sedikit usaha akan berakhir buruk. Aku melihat dengan jelas bahwa penampilan para aktor belum sesuai standar, tetapi agar tidak repot, aku tidak melatih mereka dengan sabar dan malah buru-buru menyetujui pengambilan gambarnya, sehingga harus syuting ulang ketika penampilannya tidak memenuhi standar. Saat berlatih, aku hanya memberi para aktor garis besar tanpa detail apa pun, yang menyebabkan beberapa dari mereka mengalami masalah dengan penampilan mereka di lokasi syuting, sehingga harus terus mengulang dan jadwal pun tertunda. Ini semua karena aku yang bersikap asal-asalan dan mengambil jalan pintas dalam tugasku. Koordinator telah mengingatkanku beberapa kali untuk merenungkan sikapku terhadap tugasku, tetapi aku hanya membantah dan mencari alasan. Aku selalu bersikap asal-asalan dalam tugasku, yang terus-menerus menimbulkan masalah, jadi koordinator tidak lagi mengizinkanku mengawasi berbagai hal dari monitor. Namun aku bukan hanya tidak merenungkan diriku sendiri, melainkan justru senang karena tubuhku bisa lebih santai. Aku benar-benar sudah mati rasa! Gereja telah membinaku sebagai aktor, memberiku banyak kesempatan untuk berlatih. Dengan pencerahan dan bimbingan Roh Kudus, aku juga telah mengumpulkan beberapa pengalaman akting. Sekarang, saat gereja sedang membinaku untuk menjadi sutradara dan membutuhkanku untuk menerapkan apa yang telah kupelajari pada tugasku, aku menentang, mengeluh, dan bersikap asal-asalan hanya karena aku harus mencurahkan waktu serta usaha dan tubuhku harus menderita. Aku sangat tidak memiliki kemanusiaan, benar-benar menjijikkan bagi Tuhan! Terutama setelah membaca firman Tuhan ini, "Engkau suka bersikap licik dan bermalas-malasan, bukan?" "Tuhan akan memberikan anugerah dan kesempatan ini kepada orang lain." Aku menyadari bahwa alasan aku tidak diminta untuk mengawasi berbagai hal dari monitor lagi adalah karena aku telah mengambil jalan pintas dan tidak bertanggung jawab dalam tugasku. Aku tidak layak dipercaya lagi, jadi kesempatan untuk melaksanakan bagian tugas ini diberikan kepada orang lain. Aku sudah berada di tepi jurang yang berbahaya; jika aku tidak bertobat, bahkan mungkin aku akan kehilangan kesempatan untuk membimbing para aktor dalam adegan mereka. Jadi setelah itu, aku mulai berlatih bersama para aktor dengan serius. Setiap kali melihat ada yang kurang dalam penampilan aktor, aku segera menunjukkannya dan melatih mereka dengan sabar. Aku juga mencari beberapa video referensi untuk dipelajari bersama para aktor. Pada akhirnya, syuting film itu selesai dengan lancar.

Kupikir aku sudah sedikit berubah, tetapi aku tidak pernah menyangka akan kembali ke kebiasaan lamaku saat syuting film berikutnya. Saat itu, aku masih bertanggung jawab untuk melatih para aktor. Aktris utama dalam film ini adalah Saudari Isabel. Dia baru saja mulai berlatih akting dan ada banyak kekurangan dalam penampilannya, yang berarti tenaga mental yang harus kucurahkan dan harga yang harus kubayar lebih besar dari sebelumnya. Saat kami pertama kali mulai syuting, aku masih bisa bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku segera menunjukkan di mana kekurangan penampilan para aktor, dan terkadang aku sendiri juga memberikan contoh bagi mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, harus melatih para aktor untuk setiap adegan mulai terasa menguras pikiran. Ditambah lagi, saudara yang bekerja sama denganku, Saudara Vincent, cukup proaktif dalam tugasnya dan sangat bersungguh-sungguh dalam melatih para aktor, jadi rasa terbebanku sendiri berangsur-angsur berkurang. Aku juga berhenti mengkhawatirkan pekerjaan lainnya. Beberapa kali, aku melihat bahwa Saudari Isabel belum memahami karakternya dengan baik. Awalnya aku berencana meluangkan waktu di malam hari untuk berbicara dengannya, tetapi kemudian aku memikirkan betapa lelahnya aku setelah seharian membimbing latihan adegan. Jika aku melatihnya di malam hari, aku pasti tidak akan punya tenaga untuk syuting keesokan harinya. Jadi, aku hanya berpikir, "Sudahlah, aku tidak akan melatihnya." Akibatnya, selama syuting keesokan harinya, penampilan Saudari Isabel bermasalah, sehingga kemajuan kami tertunda. Aku sangat menyesal tidak memenuhi tanggung jawabku, tetapi setelah itu, setiap kali ada harga yang harus dibayar, aku tetap memikirkan tubuhku dan tidak bisa menerapkan kebenaran. Lambat laun, aku merasa makin sulit untuk melatih para aktor, sampai pada titik di mana aku bahkan tidak bisa melihat masalah dalam penampilan mereka lagi. Karena masalah akting, sering kali kami harus mengulang. Ditambah berbagai faktor lain, film itu tidak bisa diselesaikan, dan pada akhirnya, tim film itu dibubarkan. Malam ketika kami dibubarkan, aku bolak-balik di tempat tidur, tidak bisa tidur. Jika kuingat lagi, sejak aku diminta melaksanakan tugas sebagai sutradara, aku tidak pernah benar-benar tunduk. Aku selalu tidak menyukai tugas itu karena terlalu melelahkan. Aku bertanya pada diriku sendiri dengan jujur, "Mungkinkah aku percaya kepada Tuhan hanya untuk menikmati kenyamanan daging? Bukankah ini berarti memberontak terhadap Tuhan?" Selama pertemuan, pemimpin memangkasku, berkata, "Rumah Tuhan membinamu menjadi sutradara, tetapi tak kusangka, kau begitu tidak bertanggung jawab. Kau benar-benar tidak layak dipercaya!" Selama waktu itu, hatiku selalu terasa kosong. Saat aku berpikir bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk menebus kesalahan, air mata kepedihan mengalir di wajahku tanpa kusadari. Aku sering menderita karena tidak melaksanakan tugasku dengan baik dan karena pelanggaran yang telah kulakukan. Aku merasa sangat berutang kepada Tuhan sehingga aku bahkan malu untuk berdoa kepada-Nya, selalu merasa bahwa Tuhan jijik dan muak padaku, bahwa Dia telah menyembunyikan wajah-Nya dariku dan mengabaikanku. Rasanya seolah-olah aku telah disisihkan oleh Tuhan, dan rohku berada dalam kegelapan serta penderitaan. Kemudian, aku diatur untuk memberitakan Injil. Meskipun aku masih melaksanakan tugas, masalah ini tetap menjadi simpul yang belum terurai di hatiku. Aku berdoa dan mencari berkali-kali setelah itu, "Tuhan, di mana sebenarnya kegagalanku? Mohon cerahkan dan bimbing aku untuk mengenal diriku sendiri."

Suatu hari, ketika aku membaca firman Tuhan yang menyingkapkan dan menggolongkan orang-orang malas, hatiku terasa sangat tertohok. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang malas tidak bisa melakukan apa pun. Untuk meringkasnya dalam empat kata, mereka adalah orang yang tidak berguna; mereka memiliki kecacatan kelas dua. Sehebat apa pun kualitas yang dimiliki oleh para pemalas, itu tidak lebih dari sekadar hiasan; meskipun mereka memiliki kualitas yang bagus, tetapi tidak ada gunanya. Mereka terlalu malas—mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, tetapi mereka tidak melakukannya, dan bahkan sekalipun mereka tahu ada sesuatu yang menjadi masalah, mereka tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, dan meskipun mereka tahu kesulitan apa yang harus mereka tanggung agar pekerjaan menjadi efektif, mereka tidak mau menanggung kesulitan yang berharga ini, jadi mereka tidak memperoleh kebenaran apa pun, dan mereka tidak dapat melakukan pekerjaan nyata apa pun. Mereka tidak ingin menanggung kesukaran yang seharusnya orang alami; mereka hanya tahu menikmati kenyamanan, menikmati saat bersenang-senang dan bersantai, serta kenikmatan hidup yang bebas dan tenang. Bukankah mereka tidak berguna? Orang yang tidak mampu menanggung kesukaran tidak layak untuk hidup. Mereka yang selalu menjalani hidup sebagai parasit adalah orang-orang yang tidak berhati nurani atau tidak bernalar; mereka adalah binatang buas, dan orang-orang seperti itu bahkan tidak layak untuk berjerih payah. Karena mereka tidak mampu menanggung kesukaran, bahkan ketika mereka berjerih payah, mereka tidak mampu melakukannya dengan benar, dan jika mereka ingin memperoleh kebenaran, bahkan harapan untuk itu makin kecil. Seseorang yang tidak mampu menderita dan tidak mencintai kebenaran adalah orang yang tidak berguna; mereka tidak memenuhi syarat bahkan untuk berjerih payah. Mereka adalah binatang buas, tanpa sedikit pun kemanusiaan. Orang-orang seperti itu harus disingkirkan; hanya ini yang sesuai dengan maksud Tuhan" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (8)"). Saat merenungkannya, momen demi momen saat aku melaksanakan tugas sebagai sutradara muncul di benakku. Rumah Tuhan telah mengatur agar aku menjadi sutradara untuk melatih para aktor dalam penampilan mereka. Aku telah melihat dengan jelas bahwa penampilan aktris utama memiliki kekurangan, tetapi agar aku tidak terlalu lelah, aku tidak melatihnya, bahkan gagal memenuhi tanggung jawabku yang paling mendasar. Melihat Saudara Vincent begitu proaktif, aku memanfaatkan situasi itu dan lepas tangan dari pekerjaanku. Di atas kertas, aku juga seorang sutradara, tetapi kenyataannya, hanya Saudara Vincent yang menyutradarai. Hal ini menyebabkan banyak aspek pekerjaan tidak dilakukan dengan benar, dan pada akhirnya, film itu tidak dapat diselesaikan dan seluruh tim dibubarkan. Harga yang telah dibayar saudara-saudari selama beberapa bulan dan semua yang telah dikeluarkan rumah Tuhan, telah menjadi sia-sia. Aku menyandang gelar sutradara tetapi tidak melakukan pekerjaan nyata, dan gagal menjalankan fungsiku yang semestinya. Bukankah aku hanya pajangan, sama sekali tidak berguna? Aku malas dan tidak peduli, dan selalu bersikap asal-asalan dalam tugasku. Tuhan telah membangkitkan orang, peristiwa, dan hal-hal untuk mengingatkanku berkali-kali, tetapi aku tidak pernah benar-benar bertobat. Pada akhirnya, aku kehilangan pekerjaan Roh Kudus; aku tidak bisa mengidentifikasi masalah dalam tugasku, dan rohku terasa sangat gelap dan menderita. Aku selalu hidup berdasarkan pandangan Iblis seperti "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya" dan "Hidup ini singkat, jadi nikmatilah selagi bisa". Aku percaya bahwa dalam beberapa dekade kehidupan, orang tidak seharusnya membuat dirinya terlalu lelah; hidup bebas dan nyaman setiap hari saja sudah cukup. Di bawah kendali pemikiran semacam ini, aku menjadi malas dan berhenti mengejar kemajuan. Aku ingat bahwa saat masih sekolah, sementara orang lain belajar giat untuk menjadi nomor satu, aku merasa bahwa belajar terlalu melelahkan dan putus sekolah lebih awal. Setelah menikah, aku tidak iri pada orang lain yang membeli mobil dan rumah karena aku tidak ingin menjadi budak hipotek atau kredit mobil dan menempatkan diriku di bawah begitu banyak tekanan. Setelah percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku di rumah Tuhan, aku tidak ingin mengambil pekerjaan penting. Aku puas hanya dengan melaksanakan tugas, berpikir bahwa bersikap asal-asalan dan mendapatkan kesudahan yang tidak binasa ketika pekerjaan Tuhan berakhir saja sudah cukup. Gereja membinaku menjadi sutradara, berharap aku bisa menggunakan keterampilanku untuk melaksanakan tugasku dengan baik, tetapi aku merasa tugas itu terlalu melelahkan dan menentangnya dari lubuk hatiku. Meskipun aku menerimanya, aku selalu mengambil jalan pintas dan bersikap asal-asalan. Aku teringat akan satu baris dari Alkitab: "Karena jika kita dengan sengaja berbuat dosa setelah menerima pengetahuan kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu" (Ibrani 10:26). Aku tahu betul bahwa bersikap asal-asalan dan mengambil jalan pintas dalam tugasku tidak sesuai dengan maksud Tuhan, tetapi aku tetap melakukannya demi kenyamanan daging, menunda pekerjaan film. Bukankah ini menentang Tuhan? Hidup berdasarkan sudut pandang Iblis, aku menikmati kenyamanan dan tidak bertanggung jawab dalam tugasku, meninggalkan pelanggaran satu demi satu. Tuhan berfirman: "Pelanggaran akan Menuntun Manusia ke Neraka" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan). Hidup berdasarkan racun Iblis, aku menempuh jalan kebinasaan dan kehancuran. Sebagai sutradara, aku seharusnya memberi contoh bagi tim, tetapi aku tidak menempuh jalan yang benar. Aku hanya memikirkan kenyamanan dagingku sendiri dan menghindari kerja keras, serta bersikap asal-asalan dan mengambil jalan pintas dalam tugasku. Akibatnya, saudara-saudari menghabiskan waktu berbulan-bulan tanpa hasil, dan pada akhirnya seluruh tim dibubarkan. Aku tidak bisa memikul tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi seseorang. Aku hanyalah orang yang tidak berguna, dan pantas untuk disingkirkan! Aku juga menyadari bahwa Tuhan menyisihkanku adalah penghakiman-Nya yang tanpa kata atas diriku. Ini adalah watak benar Tuhan yang menimpaku, dan itu adalah kasih serta keselamatan Tuhan bagiku. Jika tidak, aku tidak akan merenungkan perspektif keliru di balik pengejaranku. Aku memikirkan firman Tuhan: "Demi umat manusia, Dia melakukan perjalanan ke sana kemari dan menyibukkan diri; Dia diam-diam memberikan setiap tetes hidup-Nya; Dia mendedikasikan setiap menit dan detik hidup-Nya ...." (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II"). Saat aku merenungkan kalimat ini dengan saksama, "Demi umat manusia, Dia melakukan perjalanan ke sana kemari dan menyibukkan diri," hatiku dipenuhi rasa haru sekaligus penyesalan. Untuk menyelamatkan umat manusia, Tuhan datang dari surga ke bumi dua kali dalam daging, menanggung penghinaan yang luar biasa. Pertama kali, Dia disalibkan dan menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus umat manusia. Pada akhir zaman, Tuhan telah menjadi daging lagi, mengungkapkan begitu banyak kebenaran untuk menyiram dan membekali kita. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah demi menyelamatkan orang-orang, dan semuanya adalah kasih bagi mereka. Namun, apa yang kuberikan kepada Tuhan sebagai balasannya? Hanya pemberontakan dan penentangan. Rumah Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melaksanakan tugas. Ini adalah belas kasihan Tuhan dan kesempatan bagiku untuk bertobat. Jika watak lamaku tidak berubah, ketika pekerjaan Tuhan berakhir, aku pasti akan menjadi sasaran pemusnahan.

Selama waktu itu, aku berulang kali menyanyikan "Ketundukan Nuh kepada Tuhan Mendapatkan Perkenanan-Nya":

1  Di antara semua manusia, Nuh adalah sosok yang takut akan Tuhan, tunduk kepada Tuhan, dan menyelesaikan amanat Tuhan yang paling layak untuk diteladani; dia diperkenan oleh Tuhan dan harus menjadi teladan bagi mereka yang mengikuti Tuhan saat ini. Dan apa yang paling berharga tentang dirinya? Dia hanya memiliki satu sikap terhadap firman Tuhan: mendengarkan dan menerima, menerima dan tunduk, dan tunduk sampai mati. Sikap inilah, yang paling berharga dari semuanya, yang membuatnya mendapat perkenanan Tuhan. Jika berkaitan dengan firman Tuhan, dia tidak bersikap asal-asalan, dia tidak melakukan dengan asal-asalan, dan dia tidak memeriksa, menganalisis, menentang, atau menolak firman Tuhan di dalam benaknya dan kemudian tidak memikirkannya lagi; sebaliknya, dia mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menerima firman Tuhan, sedikit demi sedikit, di dalam hatinya, dan kemudian merenungkan bagaimana menerapkannya, bagaimana melaksanakannya, bagaimana menjalankannya seperti maksud awal, tanpa membuatnya menyimpang.

2  Dan saat dia merenungkan firman Tuhan, dia berkata sendiri dalam hatinya, "Semua ini adalah firman Tuhan, semua ini adalah perintah Tuhan, amanat Tuhan, aku terikat tugas, aku harus tunduk, aku tidak boleh meninggalkan detail apa pun, aku tidak boleh menentang apa pun keinginan Tuhan, aku juga tidak boleh sedikit pun mengabaikan salah satu rincian dari apa yang Dia katakan, karena jika tidak, aku akan tidak layak disebut manusia, aku akan tidak layak untuk menerima amanat Tuhan, dan tidak layak untuk ditinggikan-Nya. Dalam hidup ini, jika aku gagal menyelesaikan semua yang Tuhan telah katakan dan percayakan kepadaku, maka aku akan ditinggalkan dengan penyesalan. Terlebih lagi, aku tidak akan layak menerima amanat Tuhan dan peninggian-Nya terhadap diriku, dan akan malu untuk kembali ke menghadap Sang Pencipta."

3  Segala sesuatu yang telah Nuh pikirkan dan renungkan di dalam hatinya, setiap sudut pandang dan sikapnya, semua ini menentukan bahwa dia akhirnya mampu menerapkan firman Tuhan, dan membuat firman Tuhan menjadi kenyataan, membuat firman Tuhan tercapai, membuatnya terpenuhi dan terlaksana melalui kerja kerasnya dan menjadi kenyataan melalui dirinya sehingga amanat Tuhan tidak gagal. Nuh layak akan amanat Tuhan, dia adalah orang yang dipercaya oleh Tuhan, dan orang yang diperkenan oleh Tuhan. Tuhan mengetahui setiap perkataan dan perbuatan manusia, Dia mengetahui pemikiran dan ide mereka. Di mata Tuhan, karena Nuh bisa berpikir seperti ini, Dia tidak salah memilih; Nuh dapat memikul amanat Tuhan dan kepercayaan Tuhan, dan dia mampu menyelesaikan amanat Tuhan: dia adalah satu-satunya pilihan di antara seluruh umat manusia.

—Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Lampiran Tiga (Bagian Dua)

Nuh adalah orang yang memiliki hati nurani dan kemanusiaan. Dia menyikapi amanat Tuhan dengan segenap hati dan pikirannya, menganggap pembangunan bahtera sebagai tanggung jawab dan misi hidupnya. Ketika Nuh membangun bahtera, tidak ada yang mengawasi atau mendorongnya, dan dia menghadapi banyak kesulitan. Namun, setiap kali dia berpikir bahwa ini adalah amanat dan peninggian Tuhan, dia merasa termotivasi. Nuh memperlakukan Tuhan sebagai Sang Pencipta; dia tunduk kepada Tuhan dan memiliki hati yang tulus kepada Tuhan. Aku kemudian merenungkan apa yang difirmankan Tuhan, Tuhan berfirman: "... membuat firman Tuhan tercapai, membuatnya terpenuhi dan terlaksana melalui kerja kerasnya dan menjadi kenyataan melalui dirinya sehingga amanat Tuhan tidak gagal." Tuhan sedang berbicara tentang kehidupan nyata Nuh. Nuh tidak tahu teknik membangun bahtera, dan teknologi saat itu tidak secanggih sekarang. Terlebih lagi, dia harus mencari semua bahannya sendiri, membangun bahtera sedikit demi sedikit dengan tenaganya sendiri. Nuh juga harus mengumpulkan segala jenis makhluk hidup, menyiapkan segala jenis makanan untuk berbagai hewan, dan merawat serta membesarkan mereka dengan saksama. Ini bukan tugas yang mudah. Jika Nuh merasa tugas itu terlalu berat dan melelahkan serta bersikap asal-asalan, bahtera itu tidak akan pernah bisa dibangun, dan semua makhluk hidup akan menghadapi kepunahan. Namun, di hadapan begitu banyak kesulitan, Nuh tidak mundur sedikit pun. Sebaliknya, dia mengikuti tuntutan Tuhan sepenuhnya tanpa kompromi, dan bertekun selama 120 tahun untuk menyelesaikan amanat Tuhan. Aku melihat bahwa hati Nuh tulus; dia memikirkan maksud Tuhan dan menunjukkan kesetiaan serta ketundukan kepada Tuhan. Memikirkan hal ini, aku sangat tergerak, dan aku benar-benar mengagumi Nuh. Sebaliknya, jika melihat diriku sendiri, bahkan setelah mendengar begitu banyak firman Tuhan, aku tidak menunjukkan sedikit pun ketundukan atau kesetiaan kepada-Nya. Tugas yang kulaksanakan jauh lebih sederhana daripada Nuh yang membangun bahtera, tetapi aku tidak mau berpikir sedikit lebih keras dan juga bersikap asal-asalan. Aku melihat bahwa aku sangat tidak memiliki kemanusiaan, tidak layak disebut manusia. Nuh sangat ingin melaksanakan apa yang mendesak bagi Tuhan dan mempertimbangkan apa yang Tuhan pertimbangkan, memastikan bahwa maksud Tuhan tidak akan gagal dalam dirinya. Selelah atau seletih apa pun tubuhnya, sikapnya terhadap amanat Tuhan adalah mendengarkan, menerima, dan tunduk. Selama dia masih hidup, dia terus membangun bahtera, tetap tunduk sampai mati. Sikap Nuh yang berharga ini membawa penghiburan bagi hati Tuhan. Hanya orang-orang seperti Nuh yang benar-benar memiliki kemanusiaan. Aku berpikir tentang bagaimana rumah Tuhan menyuruh kita memberitakan Injil dan bersaksi tentang Tuhan dengan membuat film. Meskipun bentuknya berbeda dengan membangun bahtera, maksud Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia masih sama. Film yang dibuat dengan baik tidak hanya dapat mengatasi gagasan orang, tetapi juga membimbing mereka yang merindukan kedatangan Tuhan kembali untuk mencari dan menyelidiki jalan yang benar. Membuat film yang bagus sangatlah penting, karena berkaitan dengan maksud Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Aku tidak boleh malas dan menganggapnya terlalu merepotkan lagi. Aku harus meneladani Nuh, belajar memikirkan maksud Tuhan, dan melaksanakan tugasku dengan baik.

Pada bulan Mei 2024, gereja mengatur agar aku melaksanakan tugas paruh waktu untuk meninjau video kesaksian pengalaman. Aku menyadari bahwa ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku untuk bertobat, dan aku sangat menghargainya, meninjau setiap video dengan saksama. Ketika tugasku bertentangan dengan jadwal harianku, aku memberontak terhadap dagingku dan memprioritaskan tugasku. Menerapkan cara ini, aku tidak lagi merasa lelah. Pada bulan Oktober, pemimpin mengatur agar aku pergi ke tim film lagi untuk melatih para aktor. Mendengar berita ini, aku sangat senang. Agar tidak menunda latihan, aku bangun lebih pagi dan tidur larut malam, atau menggunakan waktu istirahat makan siangku untuk meninjau video. Saat berlatih dengan para aktor, aku melakukan yang terbaik untuk melatih mereka dan banyak berlatih bersama mereka. Dengan melakukan itu, hatiku terasa benar-benar damai dan mantap.

Suatu kali, aku sedang berbicara dengan seorang saudari tentang pengalaman kegagalanku di masa lalu, dan dia membimbingku untuk merenungkan dan memahami perspektif di balik pengejaranku. Aku teringat akan satu bagian dari firman Tuhan: "Semua orang harus berusaha menjalani kehidupan yang bermakna dan tidak boleh puas dengan keadaan mereka saat ini. Mereka harus menghidupi citra Petrus, dan mereka harus memiliki pengetahuan dan pengalaman Petrus. Mereka harus mengejar hal-hal yang lebih tinggi dan lebih mendalam. Mereka harus mengejar kasih kepada Tuhan yang lebih dalam dan lebih murni, dan kehidupan yang bernilai dan bermakna. Hanya inilah kehidupan; hanya dengan begitu, barulah mereka akan sama seperti Petrus. Engkau harus berfokus untuk memasuki sisi positif dengan proaktif, dan tidak boleh pasif serta membiarkan dirimu mundur karena engkau merasa puas dengan kenyamanan sesaat, sembari mengabaikan kebenaran yang lebih mendalam, lebih terperinci, dan lebih nyata. Engkau harus memiliki kasih yang nyata, dan engkau harus menemukan segala cara yang mungkin untuk membebaskan dirimu dari kehidupan yang bejat dan tanpa beban ini, yang tidak ada bedanya dengan kehidupan binatang. Engkau harus menjalani kehidupan yang bermakna, kehidupan yang bernilai, dan engkau tidak boleh membodohi dirimu sendiri, atau memperlakukan hidupmu seperti mainan untuk dipermainkan. Bagi semua orang yang memiliki tekad dan yang mengasihi Tuhan, tidak ada kebenaran yang tidak dapat dicapai, dan tidak ada keadilan yang tidak dapat mereka tegakkan. Bagaimana seharusnya engkau menjalani hidupmu? Bagaimana seharusnya engkau mengasihi Tuhan dan menjadikan kasih ini sebagai sarana untuk memenuhi maksud-Nya? Tidak ada hal yang lebih besar dalam hidupmu. Di atas segalanya, engkau harus memiliki tekad dan ketekunan seperti ini, dan janganlah menjadi pengecut yang lemah. Engkau harus belajar bagaimana mengalami kehidupan yang bermakna dan mengalami kebenaran yang bermakna, dan tidak boleh memperlakukan dirimu dengan sikap asal-asalan seperti itu. Tanpa kausadari, hidupmu akan berlalu; setelah itu, masih akan adakah kesempatan seperti ini bagimu untuk mengasihi Tuhan? Bisakah manusia mengasihi Tuhan setelah dia mati? Engkau harus memiliki tekad dan hati nurani yang sama seperti Petrus; engkau harus menjalani kehidupan yang bermakna, dan janganlah bermain-main dengan dirimu sendiri. Sebagai manusia, dan sebagai orang yang mengejar Tuhan, engkau harus mampu memikirkan dan menyikapi hidupmu dengan saksama—memikirkan bagaimana engkau seharusnya mempersembahkan diri bagi Tuhan, bagaimana engkau harus memiliki iman yang lebih bermakna kepada Tuhan, dan karena engkau mengasihi Tuhan, bagaimana engkau harus mengasihi-Nya dengan cara yang lebih murni, lebih indah, dan lebih baik" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). Aku pernah membaca bagian ini sebelumnya, tetapi aku tidak pernah berpikir apakah pandangan hidup dan nilai-nilai hidupku benar. Setelah membacanya, aku memahami bahwa orang harus mengejar kehidupan yang bernilai dan bermakna. Setelah Petrus mulai mengikuti Tuhan Yesus, dia bepergian ke mana-mana untuk memberitakan jalan Tuhan. Dia tidak mengejar kehidupan yang nyaman, tetapi hanya mengejar kasih kepada Tuhan dan memuaskan Tuhan serta melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan baik. Pada akhirnya, dia disalibkan terbalik demi Tuhan, mencapai kasih tertinggi kepada Tuhan dan ketundukan sampai mati. Dia mendapatkan perkenanan Tuhan, dan hidupnya bernilai serta bermakna. Namun, yang kukejar adalah kehidupan yang nyaman, selalu ingin hidup tanpa banyak khawatir. Hidup seperti itu tidak bermakna; itu hanya membuang-buang waktu. Dulu aku berpikir bahwa melaksanakan tugas sebagai sutradara berarti waktu istirahatku sedikit berkurang dan aku harus berpikir lebih keras daripada orang lain, dan sedikit lebih melelahkan bagi tubuhku. Namun, itu berarti aku bisa melakukan bagianku dalam pekerjaan Injil—betapa bernilainya hal itu! Jika aku melakukannya dengan baik, hatiku akan damai dan tenang setiap kali memikirkannya. Namun sekarang, setiap kali aku mengingat pengalaman kegagalan itu, hatiku dipenuhi penyesalan dan kepedihan. Aku sangat berharap bisa memutar waktu kembali agar aku bisa menebus utangku! Kejadian itu telah menjadi pelanggaran dan penyesalan besar dalam hidupku. Aku harus berusaha membuang watak rusakku dan melaksanakan tugasku dengan baik. Ini adalah tujuan yang benar untuk dikejar. Aku teringat akan firman Tuhan: "Babi tidak mengejar kehidupan manusia, mereka tidak berupaya supaya ditahirkan, dan mereka tidak mengerti makna hidup. Setiap hari, setelah makan sampai kenyang, mereka hanya tidur. Aku telah menganugerahkan jalan yang benar kepadamu, tetapi engkau tidak mendapatkannya, engkau tetap bertangan kosong. Apakah engkau bersedia melanjutkan kehidupan ini, kehidupan seekor babi?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). Jika seseorang hidup hanya untuk menikmati kenyamanan daging dan tidak memiliki tujuan untuk dikejar, dia tidak ada bedanya dengan binatang. Aku tidak boleh terus merosot seperti ini. Aku harus memusatkan pikiran dan tenagaku untuk mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku dengan baik. Itulah satu-satunya cara untuk hidup seperti manusia sejati!

Setelah itu, aku berdoa kepada Tuhan agar Dia mendidik dan mendisiplinkanku jika aku bersikap asal-asalan lagi dalam tugasku. Aku juga sering merenungkan sikapku terhadap tugasku. Setiap kali aku tergoda untuk bersikap asal-asalan, aku segera berdoa dan memberontak terhadap dagingku. Suatu sore, aku sedang berlatih dialog dengan seorang aktris. Setelah mengoreksinya beberapa kali, dia masih belum membaik. Aku mulai merasa itu terlalu merepotkan dan tidak mau mengajarinya lagi. Saat itu, aku teringat akan satu bagian firman Tuhan yang kubaca dua hari sebelumnya: "Engkau ingin bersikap asal-asalan ketika melaksanakan tugasmu. Engkau berusaha bermalas-malasan, dan berusaha menghindari pemeriksaan Tuhan. Pada saat-saat seperti itu, bergegaslah menghadap Tuhan untuk berdoa, dan renungkan apakah ini cara bertindak yang benar. Kemudian pikirkanlah: 'Mengapa aku percaya kepada Tuhan? Sikap asal-asalan seperti itu mungkin bisa lolos dari perhatian oleh manusia, tetapi apakah itu tidak akan diketahui oleh Tuhan? Terlebih lagi, aku percaya kepada Tuhan bukan untuk bermalas-malasan—tetapi untuk diselamatkan. Tindakanku demikian bukanlah ungkapan kemanusiaan yang normal, itu juga tidak disukai oleh Tuhan. Tidak, aku boleh bermalas-malasan dan melakukan apa yang kuinginkan di dunia luar, tetapi sekarang aku berada di rumah Tuhan, aku berada di bawah kedaulatan Tuhan, di bawah pemeriksaan oleh mata Tuhan. Aku seorang manusia, aku harus bertindak sesuai hati nuraniku, dan tak boleh bertindak sekehendakku sendiri. Aku harus bertindak sesuai dengan firman Tuhan, aku tidak boleh asal-asalan, aku tidak boleh bermalas-malasan. Jadi, bagaimana aku harus bertindak agar tidak bermalas-malasan, tidak asal-asalan? Aku harus berusaha keras. Baru saja aku merasa terlalu repot untuk melakukannya seperti ini, aku ingin menghindari kesukaran itu, tetapi sekarang aku mengerti: Mungkin banyak kesukaran untuk melakukannya seperti itu, tetapi itu efektif, dan begitulah seharusnya hal itu dilakukan.' Ketika engkau sedang bekerja dan masih merasa takut akan kesukaran, pada saat-saat seperti itu engkau harus berdoa kepada Tuhan: 'Ya Tuhan! Aku orang yang malas dan licik, kumohon kepada-Mu agar mendisiplinkan diriku dan menegurku, sehingga hati nuraniku merasakan sesuatu, dan aku memiliki rasa malu. Aku tidak ingin asal-asalan. Kumohon bimbinglah dan cerahkanlah aku, tunjukkanlah kepadaku pemberontakan dan keburukanku.' Ketika engkau berdoa seperti itu, merenungkan dirimu dan berusaha mengenal dirimu sendiri, ini akan menimbulkan perasaan menyesal, dan engkau akan mampu membenci keburukanmu, dan keadaanmu yang salah akan mulai berubah" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menghargai Firman Tuhan adalah Landasan Kepercayaan kepada Tuhan"). Aku berdoa untuk memberontak terhadap pikiran dan pandanganku yang salah. Kemudian aku menganalisis setiap baris dialog dengan aktris itu dan mencari tahu di mana masalahnya. Setelah itu, dia menyampaikan dialognya dengan jauh lebih baik, dan syuting keesokan harinya berjalan sangat lancar. Dengan menerapkan cara ini, hatiku terasa sangat damai dan tenang. Setelah itu, sutradara memintaku pergi bersama aktris itu untuk merekam narasi. Aku pun menanggapinya dengan serius. Aku tidak merasa lelah bahkan ketika kami merekam sampai dini hari. Kemudian, ketika film itu selesai dan aku melihat video yang sudah diedit, aku sangat tersentuh. Meskipun aku hanya memainkan peran kecil dalam film ini, aku merasa bahwa melaksanakan tugas ini bernilai dan bermakna! Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp