Aku Tidak Menyesal Tidak Mengikuti Ujian Masuk Sekolah Pascasarjana

01 April 2026

Sejak aku kecil, orang tuaku mendidikku tentang pentingnya belajar dengan giat. Kata mereka, aku hanya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik jika punya gelar yang bagus, dan hanya dengan begitu, aku bisa menjalani sisa hidupku tanpa perlu khawatir soal sandang dan pangan, serta dipandang tinggi oleh orang lain. Ayahku sering menjadikan dirinya sebagai contoh. Dia bilang, dialah orang pertama di desanya yang masuk universitas, dan itulah yang membuatnya bisa meninggalkan desa dan datang ke kota. Sekarang dia duduk di kantor ber-AC, minum teh, berpenghasilan tinggi, dan menikmati tunjangan yang bagus. Semua ini dia dapatkan berkat gelarnya. Kemudian, ibuku mulai percaya kepada Tuhan. Dia sering menceritakan kisah-kisah Alkitab kepadaku dan memintaku membaca firman Tuhan. Aku pun tahu bahwa Tuhan selalu berada di sisi kita, menjaga dan melindungi kita, dan bahwa Dia sekarang sedang mengungkapkan kebenaran untuk menyelamatkan kita. Aku merasa sangat bahagia dan bersedia percaya kepada Tuhan. Ibuku bersekutu denganku bahwa percaya kepada Tuhan adalah hal terpenting dalam hidup, dan bahwa aku harus memperlakukannya dengan serius. Namun, aku tidak bisa memahaminya, dan aku justru lebih setuju dengan pandangan ayahku bahwa "Segala sesuatu bernilai rendah, hanya pendidikan yang mulia". Aku percaya bahwa hanya dengan mendapatkan gelar yang lebih tinggi, aku bisa memiliki kehidupan yang baik, menonjol dari orang banyak, serta membuat orang lain iri dan hormat kepadaku: Belajar adalah hal terpenting dalam hidupku. Rencana hidupku adalah masuk universitas dengan lancar, lalu menempuh pendidikan magister, doktor, dan pascadoktoral, dan akhirnya menjadi seorang profesor, sehingga aku menjadi orang yang paling menonjol di antara kerabat dan teman-temanku, serta menjadi teladan bagi anak-anak mereka. Lalu aku akan membawa kehormatan bagi keluargaku dan aku akan menjalani hidup tanpa penyesalan. Sejak sekolah dasar, hampir setiap pagi aku terbangun oleh suara kaset bahasa Inggris, dan selama liburan, ayahku tidak pernah membiarkanku pergi bermain. Dia juga mendaftarkanku ke kelas bimbingan belajar pada akhir pekan serta selama liburan musim dingin dan musim panas. Meskipun aku merasa sangat lelah, aku merasa bahwa inilah yang seharusnya kulakukan, dan setiap kali aku melakukan sesuatu yang menunda waktu belajarku, aku merasa bersalah.

Agar aku bisa masuk ke universitas yang lebih baik, ayahku menghabiskan banyak uang untuk memindahkanku dari sekolah menengah di kota kabupaten ke sekolah di ibu kota provinsi. Di sekolah ini, jika kau masuk peringkat dua ratus teratas dalam ujian penerimaan langsung setiap semester, kau bisa langsung diterima di universitas-universitas unggulan seperti Tsinghua, Peking, dan Tongji. Namun, masuk ke sekolah ini tidaklah mudah; kau harus lulus ujian masuk. Agar aku bisa masuk ke sekolah ini tanpa masalah, ayahku kembali menghabiskan banyak uang untuk mendaftarkanku ke bimbingan belajar privat. Aku mengikuti kelas sejak membuka mata di pagi hari hingga tidur di malam hari. Aku bahkan bermimpi tertimpa rumus-rumus dan huruf-huruf. Aku merasa tertekan dan tak berdaya, tetapi yang bisa kulakukan untuk melampiaskan perasaanku hanyalah menangis, lalu terus melangkah maju. Akhirnya aku berhasil masuk ke sekolah itu, persis seperti yang kuinginkan. Setelah aku pindah, aku melihat bahwa persaingan di antara para siswa di sekolah ini benar-benar sengit. Semua orang berjuang untuk masuk ke peringkat dua ratus teratas demi mengamankan tempat penerimaan langsung. Di lingkungan seperti itu, aku merasakan banyak tekanan dan tidak berani bersantai sama sekali. Aku bergadang untuk belajar setiap malam, tidak berani tidur sebelum jam satu atau dua pagi, dan bangun sedikit terlambat di akhir pekan terasa seperti dosa. Aku sering berpikir: Akankah hari-hari yang sangat melelahkan ini berakhir? Namun, kemudian aku berpikir, "Jika aku tidak bekerja keras sekarang dan gagal masuk ke universitas yang bagus, lalu akhirnya dipandang rendah karena tidak diterima, aku akan lebih menyesalinya. Begitu aku masuk ke universitas yang bagus, semuanya akan baik-baik saja." Saat aku memikirkan hal ini, secercah harapan muncul di hatiku. Namun, tak kusangka, aku hanya berhasil masuk ke perguruan tinggi sarjana biasa. Aku sangat kecewa. Terutama, aku merasa sangat malu ketika bertemu dengan beberapa teman sekelas di perguruan tinggi ini yang dulu bersekolah di kota kabupatenku dan memiliki nilai yang lebih buruk dariku. "Aku bahkan pindah ke sekolah menengah yang bagus hanya untuk masuk ke universitas yang bagus, tetapi pada akhirnya, aku tidak diterima. Mereka pasti mentertawakanku, mengatakan bahwa hanya inilah kemampuanku, dan bahwa aku tidak lebih baik dari mereka, bukan?" Jadi, aku menetapkan tujuan hidup yang baru: "Aku gagal masuk universitas terkemuka untuk gelar sarjanaku, jadi aku akan masuk universitas unggulan untuk gelar magisterku! Saat aku punya gelar yang lebih tinggi, semua teman dan kerabatku pasti akan mengakuiku. Betapa mulianya itu!" Memikirkan hal itu membuatku sangat termotivasi. Setelah itu, setiap kali ada waktu, aku pergi ke perpustakaan untuk belajar. Saat ada kelas bimbingan belajar untuk ujian masuk sekolah pascasarjana di sekolah, aku juga mendaftar lebih awal. Waktu itu, aku menghadiri pertemuan dua kali seminggu. Aku bisa mendapatkan sesuatu dari setiap pertemuan, dan aku juga suka menghadirinya. Seorang saudari yang menghadiri pertemuan bersamaku adalah adik kelasku. Dia punya rasa terbeban yang besar dalam tugasnya dan bahkan dipilih sebagai pemimpin gereja. Dia menggunakan waktunya sebanyak mungkin untuk pertemuan dan tugasnya, tetapi aku tidak bisa. Aku merasa bahwa belajar adalah hal terpenting dalam hidup, jadi aku mendedikasikan lebih banyak waktu luangku untuk mempersiapkan ujian masuk sekolah pascasarjana. Kemudian, aku dipilih sebagai diaken penyiraman, dan jumlah pertemuan yang kuhadiri setiap minggu juga sedikit bertambah. Aku menyelesaikan dengan sungguh-sungguh setiap tugas yang diatur pemimpin untukku. Namun, karena aku masih mengikuti kelas persiapan ujian masuk sekolah pascasarjana, waktu untuk tugasku jadi berkurang. Selama pertemuan, jika saudara-saudariku punya masalah, aku ingin bersekutu untuk menyelesaikannya dengan cepat supaya aku bisa menghemat lebih banyak waktu untuk mempersiapkan ujian. Terkadang, saat pertemuan hampir berakhir, aku melihat saudara-saudariku ingin lanjut bersekutu, dan aku juga ingin berkumpul lebih lama lagi, tetapi kemudian aku teringat bahwa aku sudah tertinggal dalam pelajaran hari itu, dan jika aku melanjutkan pertemuan, aku akan makin tertinggal dan itu akan memengaruhi keberhasilanku dalam ujian, jadi aku mencari alasan untuk pergi. Setelahnya, aku merasa tertegur dalam hati, tetapi kemudian aku memikirkan bagaimana orang lain akan memandang rendah diriku jika aku gagal dalam ujian masuk sekolah pascasarjana, jadi aku menekan perasaan tertegur itu.

Pada tanggal 26 Agustus 2016, aku dipilih sebagai pemimpin gereja. Ketika hasil ini diumumkan, ada rasa senang bercampur khawatir di hatiku. Aku senang karena dipilih sebagai pemimpin gereja berarti aku akan punya lebih banyak kesempatan untuk berlatih. Aku khawatir karena pada paruh kedua tahun itu, aku akan berada di tahun keempat universitas, dan ujian masuk sekolah pascasarjana nasional sudah di depan mata. Aku sudah belajar giat selama bertahun-tahun demi ujian ini, dan beberapa bulan terakhir ini adalah waktu yang krusial untuk persiapan. Jika aku tidak lulus, aku akan dicap sebagai "kandidat yang gagal" atau "pengulang". Betapa memalukannya itu! Selain itu, masuk sekolah pascasarjana adalah langkah penting dalam perjalananku mencapai tujuan hidupku yang mulia. Jika masuk sekolah pascasarjana saja tidak bisa, bagaimana aku bisa mendapatkan gelar yang lebih tinggi? Untuk apa aku bergadang dan belajar giat selama bertahun-tahun ini? Bukankah untuk mendapatkan gelar yang lebih tinggi? Jika saat ini aku menerima tugas sebagai pemimpin gereja, aku perlu berpartisipasi dalam lebih banyak pekerjaan gereja, dan aku tidak akan punya waktu atau tenaga untuk mempersiapkan ujian masuk sekolah pascasarjana. Bisa dibilang aku akan merelakan masa depanku, dan akibatnya, aku akan menyandang gelar "sarjana" selamanya. Sekarang, lulusan universitas ada di mana-mana. Aku tidak akan punya keunggulan apa pun dalam mencari pekerjaan. Jika aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, bagaimana aku bisa menonjol dan membawa kehormatan bagi keluargaku? Aku tidak ingin dipandang rendah selamanya, jadi aku menyatakan bahwa aku tidak bersedia menjadi pemimpin. Setelah mendengar kekhawatiranku, pengkhotbah membacakanku satu bagian firman Tuhan, yang menggerakkan hatiku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Jika engkau adalah orang yang memikirkan maksud Tuhan, engkau akan mengembangkan beban sejati bagi gereja. Sebenarnya, alih-alih menyebutnya beban bagi gereja, lebih tepat menyebutnya sebagai beban yang kautanggung bagi hidupmu sendiri, karena tujuan dari beban yang engkau kembangkan bagi gereja ini dimaksudkan agar engkau menggunakan pengalaman semacam itu untuk disempurnakan oleh Tuhan. Oleh sebab itu, barang siapa memikul beban terberat bagi gereja dan barang siapa terbeban untuk memiliki jalan masuk kehidupan—merekalah yang akan menjadi orang-orang yang disempurnakan oleh Tuhan. Sudahkah engkau melihatnya dengan jelas? Jika gereja tempatmu berada tercerai berai bagai pasir, tetapi engkau tak merasa khawatir maupun cemas, dan engkau bahkan menutup mata saat saudara-saudarimu tidak makan dan minum firman Tuhan dengan normal, berarti engkau tidak memikul beban. Orang-orang semacam ini bukanlah jenis orang yang disukai oleh Tuhan. Mereka yang disukai-Nya selalu lapar dan haus akan kebenaran serta memikirkan maksud-Nya. Dengan demikian, engkau harus memperhatikan beban Tuhan sekarang juga; jangan tunggu watak kebenaran Tuhan tersingkap bagi seluruh umat manusia, baru engkau mau memperhatikan beban-Nya. Bukankah semuanya sudah terlambat saat itu? Sekarang adalah kesempatan bagus untuk disempurnakan oleh Tuhan. Jika membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja, engkau akan menyesalinya seumur hidup, sama seperti Musa yang tidak dapat memasuki tanah perjanjian Kanaan dan menyesalinya sepanjang sisa hidupnya, serta meninggal dengan penyesalan mendalam. Begitu Tuhan menyingkapkan watak kebenaran-Nya kepada seluruh umat manusia, engkau akan dipenuhi penyesalan. Bahkan jika Tuhan tidak menghajarmu, engkau akan menghajar dirimu sendiri karena penyesalan mendalam. Sebagian orang tidak yakin akan hal ini, tetapi jika engkau tidak percaya, tunggu dan lihat saja. Ada sebagian orang yang satu-satunya tujuannya adalah untuk menggenapi firman ini. Bersediakah engkau mengorbankan dirimu demi firman ini?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pikirkan Maksud Tuhan Agar Dapat Mencapai Kesempurnaan"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa sekarang adalah saat yang krusial di mana Tuhan menyempurnakan orang-orang, dan Tuhan menyempurnakan orang-orang melalui pelaksanaan tugas mereka. Sebagai seorang pemimpin, aku akan dapat berinteraksi dengan lebih banyak saudara-saudari dan menghadapi lebih banyak masalah. Semua masalah ini perlu diselesaikan dengan mencari kebenaran, dan makin banyak masalah yang kuselesaikan, makin banyak kebenaran yang akan kupahami. Dalam proses melaksanakan tugasku, aku akan memperlihatkan banyak watak yang rusak. Dengan mencari kebenaran, perspektif keliru di balik pengejaranku akan dibetulkan, dan watak rusakku lambat laun akan teratasi. Proses ini juga merupakan proses penyucian. Tanpa melaksanakan tugas, kau tidak bisa mendapatkan kebenaran, dan kau juga akan kehilangan kesempatan untuk disucikan dan memperoleh keselamatan. Aku menyadari bahwa jika aku tidak memanfaatkan kesempatan ini, dan pada saat pekerjaan Tuhan berakhir aku belum memperlengkapi diriku dengan banyak kebenaran, lalu watak rusakku belum berubah, pada akhirnya aku akan dihancurkan, dan saat itu sudah terlambat untuk menyesal. Aku berpikir bahwa, selama periode ini, dengan memperlengkapi diriku dengan kebenaran tentang visi melalui pelaksanaan tugasku, aku telah memahami tujuan pekerjaan pengelolaan Tuhan, makna pekerjaan penghakiman Tuhan, dan memperoleh sedikit pengetahuan tentang pekerjaan Tuhan. Selain itu, ketika berbagai hal menimpaku sebelumnya, aku tidak tahu bagaimana merenungkan diriku sendiri. Aku selalu mengira kemanusiaanku baik, dan bahwa aku jujur serta baik hati. Namun, melalui pengungkapan firman Tuhan dan fakta-fakta yang tersingkap, akhirnya aku menyadari bahwa aku memiliki motif tersembunyi dalam membayar harga dan mengorbankan diri, bahwa aku mencoba tawar-menawar dengan Tuhan, dan bahwa aku sama sekali bukan orang yang jujur. Seandainya aku tidak melaksanakan tugas, aku tidak akan pernah memperoleh pengetahuan ini atau mendapatkan hasil-hasil ini. Hari itu, aku telah dipilih sebagai pemimpin, dan Tuhan berharap aku akan memahami lebih banyak kebenaran dengan melaksanakan tugasku. Tuhan ingin menyelamatkanku, tetapi aku tidak tahu apa yang baik untukku. Aku hanya mempertimbangkan apakah aku bisa dipandang tinggi oleh orang lain di masa depan, dan apakah aku bisa menonjol dari orang banyak serta membawa kehormatan bagi keluargaku. Aku ingin menepis kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku untuk disempurnakan. Aku benar-benar picik, bodoh, dan bebal! Kemudian aku teringat bagaimana, selama periode melaksanakan tugas penyiraman, saudara-saudariku berharap ada lebih banyak pertemuan dan persekutuan, tetapi aku hanya berpikir untuk buru-buru kembali mempersiapkan ujianku, dan sama sekali tidak memikirkan pekerjaan gereja. Aku benar-benar sangat egois dan tidak punya kemanusiaan!

Aku selalu percaya bahwa memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan gelar yang lebih tinggi akan menjamin masa depan yang baik dan kehidupan yang nyaman untukku. Namun, apakah pandangan ini benar-benar dapat dipertahankan? Suatu hari, aku membaca firman Tuhan ini: "Sebagian orang memilih jurusan yang bagus di perguruan tinggi dan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang memuaskan setelah lulus, mengambil langkah pertama yang penuh kemenangan dalam perjalanan hidup mereka. Sebagian orang belajar dan menguasai banyak keterampilan berbeda, tetapi tidak pernah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan mereka atau tidak pernah menemukan posisi mereka, apalagi memiliki karier; di awal perjalanan hidupnya, mereka mendapati diri mereka selalu terhalang di setiap langkah, tertimpa berbagai kesulitan, prospek mereka suram, dan kehidupan mereka tak menentu. Sebagian orang sangat rajin dalam studi mereka, tetapi selalu nyaris meraih namun kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi; mereka seakan ditakdirkan untuk tak pernah mencapai kesuksesan, aspirasi pertama dalam perjalanan hidup mereka telah menguap begitu saja. Tanpa mengetahui apakah jalan di depan mereka mulus atau berbatu, mereka merasakan untuk pertama kalinya betapa nasib manusia dipenuhi berbagai variabel, dan karenanya mereka memandang hidup ini dengan harapan dan ketakutan. Sebagian orang, walaupun tidak berpendidikan tinggi, menulis buku dan mencapai sedikit ketenaran; sebagian orang, meski nyaris buta huruf, mampu menghasilkan uang dalam berbisnis dan karenanya mampu menyokong diri mereka sendiri .... Pekerjaan yang orang pilih, bagaimana orang mencari nafkah: apakah orang memiliki kendali mengenai apakah mereka mengambil pilihan yang baik atau buruk dalam hal-hal ini? Apakah hal-hal ini selaras dengan keinginan dan keputusan orang? Kebanyakan orang memiliki keinginan berikut: bekerja lebih sedikit tetapi berpenghasilan lebih banyak, tidak berjerih lelah di bawah terik matahari dan hujan, berpakaian bagus, tampak gemilang dan bersinar ke mana pun mereka pergi, berkedudukan lebih tinggi dibanding orang lain, dan membawa kehormatan bagi leluhur mereka. Manusia mengharapkan kesempurnaan, tetapi saat mereka mengambil langkah pertama dalam perjalanan hidupnya, mereka berangsur-angsur menyadari betapa tidak sempurnanya nasib manusia, dan untuk pertama kalinya mereka benar-benar memahami fakta bahwa, meskipun orang dapat membuat rencana yang berani untuk masa depannya dan meskipun orang dapat memiliki banyak khayalan yang liar, tidak seorang pun yang punya kemampuan atau kuasa untuk mewujudkan impian mereka sendiri, dan tidak seorang pun mampu untuk mengendalikan masa depan mereka. Akan selalu ada jarak antara mimpi seseorang dan kenyataan yang harus dihadapinya; segala sesuatu tidak pernah menjadi seperti yang orang inginkan, dan dihadapkan pada kenyataan seperti itu, orang tidak akan pernah mencapai kepuasan atau rasa cukup. Sebagian orang akan melakukan apa pun yang terbayangkan oleh mereka, akan mengerahkan segala upaya dan mengorbankan banyak hal demi penghidupan dan masa depan mereka, dalam upaya mengubah nasib mereka sendiri. Namun, pada akhirnya, sekalipun mereka dapat mewujudkan mimpi dan keinginan mereka melalui kerja keras mereka sendiri, mereka tidak pernah bisa mengubah nasib mereka, dan segigih apa pun mereka berusaha, mereka tidak pernah dapat melampaui nasib yang telah ditentukan bagi mereka. Apa pun perbedaan dalam kemampuan dan kecerdasan mereka, dan apakah mereka memiliki tekad atau tidak, semua orang adalah setara di hadapan nasib, yang tidak membedakan antara yang besar dan yang kecil, yang tinggi dan yang rendah, yang terpandang dan yang hina. Pekerjaan apa yang ditekuni seseorang, apa yang dilakukannya untuk mencari nafkah, dan seberapa banyak kekayaan yang dimilikinya dalam hidup, tidaklah ditentukan oleh orang tua mereka, bakat mereka, atau upaya dan ambisi mereka—melainkan bergantung pada penetapan Sang Pencipta" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). Setelah membaca bagian firman Tuhan ini, aku menyadari bahwa prospek dan nasib seperti apa yang dimiliki seseorang tidak ditentukan oleh jurusan apa yang mereka ambil atau gelar apa yang mereka miliki, tetapi oleh takdir Tuhan. Aku melihat orang-orang di sekitarku. Banyak yang sudah belajar dengan baik dan memperoleh gelar yang lebih tinggi, tetapi pada akhirnya mereka tidak mendapatkan pekerjaan yang bagus. Beberapa teman sekolahku punya nilai akademik yang buruk, tetapi ketika lulus, mereka kebetulan beruntung dengan adanya reformasi kebijakan dan bekerja di tempat yang bagus. Beberapa teman sekolahku yang lain masuk sekolah pascasarjana, tetapi pada akhirnya, mereka melakukan pekerjaan yang sama dengan orang-orang yang bergelar diploma. Selain itu, bisa atau tidaknya kau masuk ke sekolah yang bagus bukanlah kau yang menentukan. Contohnya adalah aku. Untuk masuk ke universitas yang bagus, aku secara khusus pindah ke sekolah menengah yang bagus dan belajar sampai larut malam setiap hari. Kupikir dengan usaha keras, aku bisa melangkah masuk ke universitas unggulan, lalu menonjol dari orang banyak dan membawa kehormatan bagi keluargaku. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya, aku hanya masuk ke perguruan tinggi biasa. Sama halnya dengan sekarang. Jika aku ditakdirkan masuk ke sekolah pascasarjana terkemuka, aku akan masuk ke sana. Jika aku tidak ditakdirkan demikian, sekeras apa pun usaha yang kukerahkan, aku tidak akan lulus ujian. Yang bisa kulakukan hanyalah tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, dan mengalami segala sesuatu dengan apa adanya sembari melaksanakan tugasku dengan baik. Setelah memikirkan hal ini, hatiku terasa lega, dan aku menerima tugas sebagai pemimpin. Setelah menjadi pemimpin, aku melihat bahwa semua hal di gereja, baik besar maupun kecil, perlu diselesaikan dengan hati-hati. Aku baru berlatih sebentar dan belum memahami prinsip-prinsipnya, dan belum tahu cara menangani banyak hal. Jadi, aku harus berusaha keras mencari prinsip dan bersekutu dengan saudara-saudariku. Pada dasarnya aku tidak punya waktu ataupun tenaga untuk mempelajari pengetahuan. Di saat yang sama, aku makin merasa bahwa menghafal pengetahuan dari buku teks membosankan dan menjemukan, dan pengetahuan ini tidak ada kegunaan praktisnya. Aku selalu harus memaksakan diri untuk menghafal hal-hal itu. Namun, melaksanakan tugasku berbeda. Melaksanakan tugasku bisa memberiku hasil nyata, dan hatiku merasa sukacita. Misalnya, dalam melaksanakan pekerjaan pembersihan gereja, aku perlu mencari kebenaran dalam aspek membedakan dan mengaitkannya dengan perilaku orang, yang bisa meningkatkan kemampuanku untuk membedakan. Aku juga sering menemui kesulitan dalam melakukan pekerjaan gereja. Aku pun berpaling kepada Tuhan untuk berdoa dan mencari, lalu menerima pencerahan dan bimbingan Tuhan. Imanku kepada Tuhan juga bertumbuh. Meskipun aku tidak melihat Tuhan dengan mata kepalaku sendiri seperti Ayub, aku bisa merasakan bahwa Tuhan ada di sisiku kapan pun dan di mana pun, dan merupakan satu-satunya sandaranku. Hatiku sangat tenang, dan perasaan puas di hatiku itu adalah sesuatu yang tidak bisa didapatkan dari mempelajari pengetahuan. Namun, setiap kali aku kembali ke universitas dan melihat semua temanku sibuk mempersiapkan ujian masuk sekolah pascasarjana, dan juga mendengar semua guru, siswa, serta orang tua membicarakan ujian masuk sekolah pascasarjana, sementara aku sibuk dengan pekerjaan gereja dan waktuku untuk mempersiapkan ujian makin berkurang, aku pun khawatir tentang apa yang akan mereka pikirkan tentangku. Apakah mereka akan berpikir aku tidak bersungguh-sungguh dalam studiku dan tidak melakukan hal-hal yang seharusnya kulakukan? Lalu aku berpikir bahwa sejak kecil, aku telah bekerja keras untuk mendapatkan gelar yang lebih tinggi. Apakah aku akan menyerah begitu saja? Kalau begitu aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk menonjol dari orang banyak. Memikirkan hal-hal ini, hatiku masih belum bisa melepaskannya, jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku selalu ingin mengejar gelar yang lebih tinggi, dan di hatiku aku masih ingin mengikuti ujian masuk sekolah pascasarjana. Aku tidak bisa sepenuhnya melepaskannya. Mohon bimbing aku untuk memahami kebenaran supaya aku tidak terpengaruh oleh masalah ujian masuk sekolah pascasarjana dan bisa melaksanakan tugasku dengan baik."

Setelah berdoa, aku mencari firman Tuhan yang berkaitan dengan ketenaran dan keuntungan. Aku membaca firman Tuhan ini: "Selama proses orang memperoleh pengetahuan, dengan menggunakan segala macam metode, baik dengan bercerita, sekadar memberi mereka pengetahuan tertentu, atau membiarkan mereka memuaskan keinginan atau aspirasi mereka, sebenarnya ke jalan mana Iblis ingin menuntun manusia? Orang berpikir tidak ada salahnya mempelajari pengetahuan, bahwa itu sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan. Mengatakannya dengan cara yang terdengar menarik, menetapkan aspirasi yang tinggi atau memiliki ambisi berarti memiliki dorongan, dan ini seharusnya menjadi jalan yang benar dalam hidup. Jika orang mampu mewujudkan aspirasi mereka sendiri, atau membangun karier yang sukses dalam masa hidup mereka, bukankah itu cara hidup yang lebih mulia? Dengan demikian, orang tidak hanya dapat mengharumkan nama leluhurnya tetapi juga memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak bagi generasi mendatang—bukankah ini hal yang baik? Ini adalah hal yang baik di mata orang-orang duniawi, dan bagi mereka hal ini tentunya merupakan hal yang tepat dan positif. Namun, apakah Iblis, dengan motifnya yang jahat, menuntun orang ke jalan semacam ini dan hanya itu? Tentu saja tidak. Sebenarnya, sebesar apa pun aspirasi manusia, serealistis dan sepantas apa pun keinginan manusia, semua yang ingin dicapai manusia, semua yang dicari manusia, terkait erat dengan dua kata. Kedua kata ini sangat penting bagi setiap orang sepanjang hidupnya, dan itulah hal-hal yang ingin Iblis tanamkan dalam diri manusia. Apakah kedua kata ini? Kedua kata ini adalah 'ketenaran' dan 'keuntungan'. Iblis menggunakan metode yang sangat lembut, metode yang sangat sesuai dengan gagasan manusia, dan yang tidak terlalu agresif, untuk membuat orang tanpa sadar menerima cara dan hukumnya untuk bertahan hidup, mengembangkan tujuan dan arah hidup mereka, dan mulai memiliki aspirasi hidup. Semuluk apa pun kedengarannya penjabaran tentang aspirasi hidup orang, aspirasi ini selalu berkisar pada ketenaran dan keuntungan. Segala sesuatu yang dikejar oleh orang hebat atau terkenal mana pun—atau, yang sebenarnya dikejar oleh semua orang—sepanjang hidup mereka, hanya berkaitan dengan dua kata ini: 'ketenaran' dan 'keuntungan'. Orang mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk menikmati status yang tinggi dan kekayaan yang besar, serta menikmati hidup. Mereka mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk mencari kesenangan dan menikmati kesenangan daging dengan semaunya sendiri. Demi ketenaran dan keuntungan yang mereka inginkan ini, orang-orang tanpa sadar dan dengan senang hati menyerahkan tubuh, hati, dan bahkan semua yang mereka miliki, termasuk prospek dan nasib mereka kepada Iblis. Mereka melakukannya tanpa keraguan, tanpa sejenak pun merasa ragu, dan tanpa pernah terpikir untuk mendapatkan kembali semua yang pernah mereka miliki. Dapatkah orang tetap memegang kendali atas diri mereka sendiri setelah mereka menyerahkan diri kepada Iblis dan menjadi setia kepadanya dengan cara ini? Tentu saja tidak. Mereka sama sekali dan sepenuhnya dikendalikan oleh Iblis. Mereka telah sama sekali dan sepenuhnya tenggelam dalam rawa ini, dan tidak mampu membebaskan diri mereka. Begitu seseorang terperosok dalam ketenaran dan keuntungan, mereka tidak lagi mencari apa yang cerah, apa yang adil, atau hal-hal yang indah dan baik. Ini karena godaan ketenaran dan keuntungan terlalu besar bagi manusia, dan inilah hal-hal yang dapat dikejar orang tanpa henti sepanjang hidup mereka dan bahkan sampai selama-lamanya. Bukankah inilah situasi sebenarnya? Ada orang-orang yang akan berkata bahwa mempelajari pengetahuan tidak lebih dari membaca buku dan mempelajari beberapa hal yang belum kauketahui agar tidak ketinggalan zaman atau tertinggal oleh dunia. Pengetahuan dipelajari hanya agar engkau dapat menyediakan makanan di mejamu, demi masa depanmu sendiri, atau untuk menyediakan kebutuhan dasar. Adakah orang yang akan belajar keras selama satu dekade hanya demi kebutuhan dasar, hanya untuk menyelesaikan masalah makanan? Tidak, tidak ada yang seperti ini. Jadi, mengapa orang menderita kesukaran ini selama bertahun-tahun? Ini adalah demi ketenaran dan keuntungan. Ketenaran dan keuntungan menanti mereka di kejauhan, menarik mereka, dan mereka percaya bahwa hanya melalui kerajinan, kesukaran, dan perjuangan mereka sendiri, mereka dapat menempuh jalan yang mengarah pada ketenaran serta keuntungan, dan dengan demikian memperoleh hal-hal ini. Orang seperti itu harus menderita kesukaran-kesukaran ini demi jalan masa depan mereka sendiri, demi kesenangan masa depan mereka, dan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. ... Ide-ide dan pernyataan-pernyataan ini memengaruhi generasi demi generasi; banyak orang menerima ide-ide ini, dan mereka mengejar, berjuang, dan bahkan bersedia mengorbankan hidup mereka demi memenuhi 'aspirasi luhur' ini. Inilah cara dan metode yang digunakan Iblis dalam memakai pengetahuan untuk merusak manusia. Jadi, setelah Iblis menuntun orang di jalan ini, apakah mereka mampu tunduk dan menyembah Tuhan? Apakah mereka mampu menerima firman Tuhan dan mengejar kebenaran? Sama sekali tidak—karena mereka telah disesatkan oleh Iblis. Sekarang, mari kita pertimbangkan hal ini: Di dalam pengetahuan, ide-ide, dan pandangan yang Iblis tanamkan dalam diri manusia, apakah terdapat kebenaran tentang ketundukan dan penyembahan kepada Tuhan? Apakah terdapat kebenaran tentang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Apakah terdapat sedikit saja firman Tuhan? Apakah terdapat sesuatu di dalamnya yang berasal dari kebenaran? Sama sekali tidak—hal-hal ini sama sekali tidak ada" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). "Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi serta mengkhianati Tuhan dan menjadi makin jahat. Dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis. Melihat tindakan Iblis sekarang, bukankah motif berbahaya Iblis sepenuhnya patut untuk dibenci? Mungkin sekarang ini engkau semua masih belum mampu mengetahui yang sebenarnya tentang motif berbahaya Iblis karena mengira bahwa tanpa ketenaran dan keuntungan, hidup itu tidak akan ada artinya, dan orang tidak akan mampu lagi melihat arah ke depan, tidak mampu lagi melihat tujuan mereka, serta masa depan mereka akan menjadi gelap, redup, dan suram. Namun, perlahan-lahan, suatu hari nanti engkau semua akan menyadari bahwa ketenaran dan keuntungan adalah belenggu besar yang Iblis kenakan pada manusia. Ketika hari itu tiba, engkau akan sepenuhnya menentang kendali Iblis dan sepenuhnya menentang belenggu yang dibawa kepadamu oleh Iblis. Ketika engkau ingin membebaskan diri dari semua hal yang telah Iblis tanamkan dalam dirimu ini, engkau kemudian akan sepenuhnya memutuskan hubungan dengan Iblis, dan engkau akan benar-benar membenci semua yang telah Iblis bawa kepadamu. Baru setelah itulah, engkau akan memiliki kasih dan kerinduan yang sejati kepada Tuhan" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI").

Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa dari luar, tidak ada yang salah dengan mengejar pengetahuan, tetapi di baliknya tersembunyi niat jahat Iblis. Tuhan menciptakan manusia. Sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan bagi orang-orang untuk percaya kepada Tuhan dan menyembah-Nya, serta melaksanakan tugas mereka; ini adalah hal-hal positif. Namun Iblis, untuk memperebutkan orang-orang dengan Tuhan, menggunakan pengetahuan untuk menyesatkan mereka, menuntun mereka ke jalan mengejar ketenaran dan keuntungan, membuat orang menganggap pengejaran akan ketenaran dan keuntungan sebagai hal yang positif, sehingga mereka menghabiskan seluruh waktu dan tenaga mereka demi ketenaran dan keuntungan, dan sama sekali tidak berpikir untuk melaksanakan tugas mereka atau menyembah Tuhan, sehingga menjadi jauh dari Tuhan, mengkhianati Tuhan, dan akhirnya ditelan oleh Iblis. Aku teringat bahwa sejak kecil, aku telah menerima pandangan yang ditanamkan oleh ayahku, bahwa "Segala sesuatu bernilai rendah, hanya pendidikan yang mulia". Aku percaya bahwa agar tidak dipandang rendah, aku harus giat belajar dan memperoleh gelar yang lebih tinggi. Demi ujian masuk, aku menjejalkan pengetahuan ke dalam otakku seperti robot dari pagi hingga malam setiap hari. Rasanya kepalaku hampir meledak. Tertekan dan menderita, aku tidak punya cara untuk melampiaskan perasaanku selain menangis. Meski begitu, aku tidak pernah berpikir untuk menyerah, karena aku percaya bahwa memperoleh ketenaran dan keuntungan sama dengan memiliki masa depan yang cerah. Menonjol dari orang banyak dan membawa kehormatan bagi keluargaku itu seperti umpan yang tergantung di hadapanku, menggodaku untuk menghabiskan seluruh waktu dan tenagaku. Kemudian, meskipun aku juga menghadiri pertemuan dan melaksanakan tugasku, yang kupikirkan dalam benakku adalah bagaimana menyisihkan lebih banyak waktu untuk belajar. Aku tidak berniat untuk mengatasi kesulitan dan masalah saudara-saudariku, takut itu akan menyita waktu belajarku. Saudara-saudari memilihku sebagai pemimpin, yang merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk berlatih, supaya aku bisa mendapatkan kebenaran dan bertumbuh dalam hidup. Namun, aku ingin menolak. Aku menganggap pengejaran akan ketenaran dan keuntungan sebagai hal yang positif, dan bersedia membayar harga berapa pun untuk mendapatkannya. Namun, ketika aku tidak melaksanakan tugasku dengan baik, aku sama sekali tidak merasa tertegur oleh hati nuraniku. Aku benar-benar tidak membedakan mana yang benar dan mana yang salah! Aku menyadari bahwa mengejar ketenaran dan keuntungan hanya akan menjauhkanku dari Tuhan dan membuatku mengkhianati Tuhan, dan pada akhirnya, aku akan sepenuhnya kehilangan keselamatan dari Tuhan dan ditelan oleh Iblis. Pada akhir zaman, Tuhan telah menjadi daging untuk mengungkapkan firman guna menyelamatkan umat manusia. Ini adalah saat yang krusial bagi keselamatan manusia, tetapi aku menyia-nyiakan tahun-tahun terbaik dalam hidupku untuk mempelajari pengetahuan yang tidak berguna ini, melewatkan kesempatan terbaik untuk mendapatkan keselamatan dari Tuhan. Ketika pekerjaan Tuhan berakhir dan malapetaka dahsyat datang, tidak peduli seberapa banyak pengetahuan atau uang yang kumiliki atau seberapa besar reputasiku, itu tidak akan bisa menyelamatkan hidupku. Apa artinya semua itu? Setelah memikirkan hal ini, aku menyadari konsekuensi serius dari mengejar ketenaran dan keuntungan, dan makin merasa bahwa mempersiapkan ujian masuk sekolah pascasarjana hanya akan menyia-nyiakan masa mudaku. Aku tidak boleh tertipu oleh Iblis lagi. Aku harus melepaskan pengejaran akan ketenaran dan keuntungan, dan mencurahkan lebih banyak waktu serta tenaga untuk melaksanakan tugasku.

Pada bulan Desember 2016, saat tanggal ujian makin dekat, aku melihat buku-buku persiapan ujian masuk sekolah pascasarjana di mejaku yang sudah beberapa hari tidak kubuka, dan hatiku masih agak bimbang: "Haruskah aku pergi mengikuti ujian atau tidak? Bagaimanapun, aku sudah bekerja keras selama lebih dari sepuluh tahun. Bagaimana jika aku lulus? Namun jika aku lulus, aku harus memulai kembali masa belajar yang berat, akan ada lebih banyak persaingan terbuka dan terselubung di antara teman sekelas, dan pengejaran berbagai sertifikat yang tak ada habisnya. Memikirkannya saja sudah membuatku merasa tertekan dan sesak! Itu juga pasti akan menyita waktu yang seharusnya kugunakan untuk melaksanakan tugasku. Namun jika aku tidak mengikuti ujian masuk sekolah pascasarjana, apa yang bisa kulakukan di masa depan? Sekarang masyarakat sangat menghargai gelar. Jika aku tidak punya gelar yang lebih tinggi, mencari pekerjaan tidak akan mudah. Bagaimanapun, ini menyangkut masa depanku!" Memikirkan hal ini, aku mondar-mandir di ruang belajar. Apa yang harus kupilih? Aku teringat akan salah satu dari sebelas tuntutan terakhir Tuhan bagi manusia: "Demi Aku, apakah engkau sanggup untuk tidak mempertimbangkan, merencanakan, atau mempersiapkan upaya untuk jalanmu bertahan hidup di masa depan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Masalah yang Sangat Serius: Pengkhianatan (2)"). Lalu aku membaca firman Tuhan: "Hal-hal yang manusia harapkan dan kejar adalah kerinduan yang muncul dari pengejarannya akan keinginan daging yang berlebihan, bukan tempat tujuan yang ditentukan bagi manusia. Sementara itu, apa yang telah dipersiapkan Tuhan bagi manusia adalah berkat dan janji yang menjadi hak manusia setelah dia disucikan, yang dipersiapkan Tuhan bagi manusia setelah menciptakan dunia, dan yang tidak tercemar oleh pilihan, gagasan, imajinasi atau daging manusia. Tempat tujuan ini tidak dipersiapkan untuk orang tertentu tetapi merupakan tempat perhentian bagi seluruh umat manusia. Karena itu, tempat tujuan ini adalah tempat tujuan yang paling sesuai bagi umat manusia" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Memulihkan Kehidupan Normal Manusia dan Membawanya ke Tempat Tujuan yang Indah"). "Sekaranglah saatnya Roh-Ku melakukan pekerjaan besar, dan saatnya Aku memulai pekerjaan-Ku di antara bangsa-bangsa kafir. Lebih dari itu, sekaranglah saatnya Aku menggolongkan semua makhluk ciptaan, menempatkan setiap dari mereka ke dalam kategorinya masing-masing, supaya pekerjaan-Ku dapat berlangsung lebih cepat dan lebih mampu mencapai hasil. Karena itu, yang masih Kuminta dari engkau semua adalah agar engkau mempersembahkan segenap dirimu bagi seluruh pekerjaan-Ku, dan terlebih lagi, agar engkau dapat mengenali dengan jelas dan melihat dengan tepat semua pekerjaan yang telah Kulakukan di dalam dirimu, serta mengorbankan seluruh tenagamu agar pekerjaan-Ku dapat mencapai hasil yang lebih besar. Inilah yang harus kaupahami. Jangan lagi saling bersaing, mencari rencana cadangan, ataupun mencari kenyamanan bagi dagingmu, agar tidak menunda pekerjaan-Ku, dan menghambat masa depanmu yang indah. Melakukannya bukan saja tidak akan melindungimu, melainkan hanya akan mendatangkan kehancuran bagimu. Bukankah ini berarti engkau bodoh? Hal yang sekarang ini kaunikmati justru adalah hal yang merusak masa depanmu, sedangkan penderitaan yang sekarang ini kautanggung justru adalah hal yang melindungimu. Engkau harus menyadari hal-hal ini dengan jelas, agar menghindarkan dirimu terjatuh ke dalam pencobaan yang akan sulit bagimu untuk melepaskan diri darinya, dan agar menghindarkan dirimu terjerumus ke dalam kabut tebal dan tidak pernah dapat lagi menemukan matahari. Saat kabut tebal itu tersibak, engkau akan mendapati dirimu berada di tengah penghakiman pada hari besar itu" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan Menyebarkan Injil juga Merupakan Pekerjaan Menyelamatkan Manusia"). Aku merenungkan firman Tuhan berulang-ulang, dan makin aku merenungkannya, hatiku menjadi makin terang. Maksud Tuhan adalah agar orang-orang bisa kembali ke hadapan Sang Pencipta dan melaksanakan tugas mereka, menerima penghakiman serta hajaran Tuhan, dan watak rusak mereka disucikan, sehingga memperoleh tempat tujuan indah yang Tuhan siapkan bagi mereka. Sebaliknya, apa yang kukejar—menonjol dari orang banyak dan membawa kehormatan bagi keluargaku—secara lahiriah tampak sesuai dengan kepentingan dagingku, tetapi pada hakikatnya, itu menjauhkanku dari Tuhan dan membuatku mengkhianati Tuhan, dan pada akhirnya menjadi kehancuranku. Aku teringat bagaimana seluruh keluargaku, yang beranggotakan empat orang, sebelumnya pernah percaya kepada Tuhan, tetapi kemudian ayah dan saudara perempuanku, karena takut iman mereka kepada Tuhan ketahuan oleh atasan mereka dan memengaruhi masa depan mereka, lambat laun berhenti menghadiri pertemuan, dan akhirnya berhenti percaya kepada Tuhan sama sekali. Meskipun kemudian mereka memperoleh status yang tinggi dan kehidupan materi yang baik, mereka selalu waspada terhadap orang lain, tidak punya teman sejati, dan takut dicurangi; mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan bermain siasat dan terlibat dalam intrik, begitu khawatir sampai tidak bisa tidur di malam hari. Mereka dipermainkan dan disiksa oleh Iblis, dan hidup dalam penderitaan yang luar biasa. Konsekuensi dari pengejaran mereka akan ketenaran dan keuntungan juga menjadi pengingat bagiku bahwa mengejar ketenaran dan keuntungan tidak membawa manfaat: itu adalah jalan buntu. Aku tidak boleh mengikuti jalan kegagalan mereka. Aku harus berusaha melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan baik, dan mengejar masa depan sejati yang telah Tuhan siapkan bagi manusia. Setelah memahami hal ini, aku tidak lagi merasakan dinginnya musim dingin. Meskipun aku sudah membayar biaya pendaftaran ujian masuk sekolah pascasarjana, dan ruang ujianku sudah ditentukan, aku memutuskan untuk tidak mengikutinya, karena bahkan jika aku lulus, itu bukan jalan hidup yang benar, dan ketenaran itu tidak ada artinya.

Setelah membuat keputusan ini, aku merasakan kelegaan di sekujur tubuhku. Ketika aku kembali ke sekolah dan melihat teman-temanku mengkhawatirkan ujian masuk sekolah pascasarjana, aku tahu ini adalah Iblis yang menyiksa mereka, dan hatiku tidak lagi tertarik pada ujian masuk sekolah pascasarjana. Sejak saat itu, aku mendedikasikan diriku sepenuhnya untuk melaksanakan tugasku. Setahun kemudian, ayahku didiagnosis menderita kanker lambung stadium akhir, dan dia meninggal enam bulan kemudian. Melihat bahwa pengetahuan, ketenaran, dan keuntungan tidak ada gunanya di hadapan kematian, aku menjadi makin yakin dalam hatiku bahwa percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran adalah satu-satunya jalan bagi orang-orang untuk hidup. Sekarang aku melaksanakan tugasku secara penuh waktu, jauh dari hiruk-pikuk dan perselisihan dunia, dan aku merasa sangat damai dan tenang di hatiku. Setiap hari, aku berinteraksi dengan saudara-saudariku, dan kami melaksanakan tugas kami serta bersekutu tentang kebenaran bersama-sama. Aku juga fokus mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhan, dan telah memperoleh sedikit pengetahuan tentang watak rusakku sendiri. Hasil ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kudapat dari sekolah bertahun-tahun dan memperoleh ketenaran serta keuntungan yang besar. Aku bersyukur atas bimbingan firman Tuhan karena memungkinkanku memahami apa itu masa depan yang sejati, dan membuat pilihan yang bijaksana.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Aku Berhenti Kuliah

Oleh Saudari Lin Ran, TiongkokSejak aku kecil, orang tuaku bilang, karena mereka tak punya anak laki-laki, hanya ada aku dan kakak...

Keputusan yang Tak Terubahkan

Oleh Saudari Bai Yang, TiongkokSaat aku berusia 15 tahun, ayahku mendadak sakit dan meninggal dunia. Ibuku tak mampu menerima pukulan ini...

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp