Sikap Pura-Pura Telah Menghancurkanku
Saudari terkasih,Semoga surat ini sampai kepadamu dengan baik!Terakhir kali kau menulis untuk menanyakan tentang keuntungan yang kuperoleh...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada bulan Juni 2018, para pemimpin mengatur agar aku melatih saudara-saudari dalam berakting. Aku sangat senang. Aku berpikir, "Sepertinya kemampuan aktingku telah diakui para pemimpin, jadi aku harus bekerja sama dengan sungguh-sungguh." Pada awalnya, aku hanya bertanggung jawab untuk melatih saudara-saudari di tim kami dalam berakting. Namun kemudian, sutradara mengatur agar aku bekerja sama dengan dua saudari untuk melatih para aktor dari negara-negara lain dan mengatur pembelajaran kelompok. Itu membuatku makin senang dan aku berjalan dengan kepala tegak ke mana pun aku pergi. Setiap kali saudara-saudari bertanya tentang akting kepadaku, aku tidak dapat menahan kegembiraanku saat melihat rasa iri dan kekaguman di mata mereka. Pada bulan Januari 2024, para pemimpin mengatur agar aku memerankan karakter utama dalam sebuah film. Aku sangat senang mendengar berita itu, tetapi aku juga sedikit khawatir. "Dulu aku selalu memerankan tokoh jahat, dan bahkan ketika aku memerankan karakter positif, itu hanyalah peran kecil dengan waktu tampil yang sebentar. Namun kali ini, aku adalah pemeran utamanya. Peran ini sangat penting; jika aku mengacaukannya, itu akan sangat memalukan! Selain itu, karakter utama dalam film ini mengalami banyak pengalaman emosional yang belum pernah kualami. Jika aku tidak bisa melakukannya dengan baik, bukankah saudara-saudari akan meremehkanku? Mereka akan berkata bahwa setelah bertahun-tahun melaksanakan tugasku sebagai aktor dan bahkan melatih orang lain berakting, aku sendiri bahkan tidak bisa berakting dengan baik dan kemampuanku tidak memenuhi standar." Namun, kemudian aku berpikir, "Fakta bahwa para pemimpin memintaku untuk menjadi pemeran utama menunjukkan bahwa mereka mengakui kemampuan aktingku dan percaya bahwa aku mampu memainkan peran ini. Aku akan menyelesaikan setiap kesulitan sendiri perlahan-lahan tanpa sepengetahuan orang lain; jangan sampai saudara-saudari meremehkanku. Lagi pula, memainkan peran ini adalah peninggian dari Tuhan bagiku. Aku harus memiliki hati nurani, dan tidak boleh menghindari tugasku." Jadi, aku bergabung dengan saudara-saudari, dan kami mencurahkan diri untuk berlatih dan syuting.
Dalam suatu adegan emosional, aku tidak bisa mendalami karakter dan menjadi sangat cemas. "Ini adalah adegan yang sangat penting. Jika aku tidak berakting dengan baik, apa yang akan saudara-saudari pikirkan tentangku? Aku belum pernah melakukan adegan seperti ini sebelumnya, dan aku tidak terlalu memahami beberapa detailnya. Apa yang harus kulakukan?" Aku bergegas menonton klip dan video film serupa, sangat takut aku akan menghambat syuting karena aku tidak dapat menemukan emosi yang tepat. Seorang saudara menyadari kesulitanku dan menyarankan, "Jika kau tidak yakin bagaimana memainkan bagian ini, kau bisa bertanya kepada saudara-saudari yang pernah memainkan peran positif sebelumnya. Mereka pasti tahu beberapa detailnya, sehingga kau punya arah dalam berakting." Setelah mendengar ini, aku berpikir, "Bertanya kepada mereka? Bagaimana mungkin aku bisa mengesampingkan harga diriku? Meminta bantuan saat dulu aku memainkan peran kecil tidak masalah, tetapi kali ini aku adalah pemeran utamanya. Aku mendapatkan peran utama karena aku aktor yang bagus. Jika aku meminta bantuan, apa yang akan saudara-saudari pikirkan tentangku saat mereka mengetahuinya? Mereka pasti akan berkata, 'Kau tidak mengerti apa-apa, dan aktingmu tidak terlalu bagus!' Lagi pula, dulu akulah yang melatih mereka dalam berakting. Sekarang, jika aku meminta nasihat mereka, bukankah itu hanya akan menunjukkan bahwa kemampuan aktingku buruk dan semua yang kuajarkan kepada mereka sebelumnya hanyalah teori? Maka semua orang akan benar-benar melihat kelemahanku yang sebenarnya." Meskipun aku mengiyakannya, aku sebenarnya tidak pergi dan bertanya kepada siapa pun. Kemudian, sutradara mengingatkanku beberapa kali untuk meminta bantuan saudara-saudari, tetapi aku selalu mengurungkannya setelah berpikir bahwa itu akan membuatku kehilangan muka. Agar tidak diremehkan orang lain, aku memutar otak mencari cara untuk membangkitkan emosiku, bahkan meniru cara aktor yang tidak percaya dalam berakting. Aku berpikir, "Aku harus melakukan adegan ini dengan benar, apa pun yang terjadi. Aku tidak boleh membiarkan mereka melihat bahwa kemampuan aktingku tidak cukup baik. Jika aku mengacaukan ini, aku akan benar-benar kehilangan muka!" Selama syuting, aku berusaha semaksimal mungkin untuk mengeluarkan emosiku, tetapi penampilanku tetap terasa hambar. Sutradara melihatku kesulitan dan bersekutu denganku tentang emosi dalam adegan tersebut. Agar orang-orang tidak menyadari bahwa kemampuan aktingku tidak memadai, aku berkata, "Aku sudah mengerti semua emosi ini, hanya saja aku belum merasakannya sepenuhnya. Aku hanya butuh sedikit lebih banyak waktu untuk mendalaminya." Namun, apa pun yang telah kucoba, tidak ada yang berhasil dengan baik. Setelah syuting, sutradara mengatakan penampilanku terasa dibuat-buat, tegang, dan terlalu melankolis. Aku merasa sangat tidak enak ketika mendengar ini. Aku ingin memainkan peran itu dengan baik, tetapi sebelum ini, aku jarang merenungkan pola pikir dan emosi yang seharusnya dimiliki oleh karakter seperti ini, jadi aku tidak bisa melakukannya dengan benar. Aku tahu bahwa seharusnya aku mencari bantuan dari saudara-saudari, tetapi setelah berpikir untuk bertanya kepada orang lain, aku justru ingin mundur. "Lagi pula, dulu aku melatih orang lain berakting, dan sekarang aku adalah pemeran utamanya. Aku tidak boleh membiarkan semua orang tahu bahwa aku tidak mampu melakukannya. Lupakan saja. Aku akan belajar sendiri cara melakukannya. Aku hanya belum merasakan emosiku sepenuhnya kali ini. Nanti saat aku punya sedikit waktu untuk mendalaminya, masalah ini akan teratasi."
Suatu kali, sutradara menghubungi seorang saudari yang pernah memainkan peran utama sebelumnya untuk membahas masalah dalam akting kami dan membagikan apa yang telah dia pelajari dari penampilannya kepada kami. Namun, aku tidak benar-benar mendengarkan. Aku berpikir, "Dulu akulah yang memimpin pembelajaran semua orang, dan sekarang malah sebaliknya: Mereka meminta saudari ini untuk mengajariku cara berakting. Ini benar-benar memalukan! Jika aku mengajukan pertanyaan dasar tentang akting kepadanya, apa yang akan dia pikirkan tentangku? Bukankah dia akan berkata bahwa aku bahkan belum menguasai teknik akting yang telah kuajarkan kepada semua orang selama bertahun-tahun ini, dan bahwa semua yang telah kukatakan hanyalah teori? Aku akan benar-benar kehilangan muka!" Jadi, meskipun aku duduk di sana mendengarkan, batinku tersiksa. Aku benar-benar ingin membuka diri tentang kesulitanku dan berbicara dengan saudari itu, tetapi aku berpikir, "Jika aku memberitahunya kesulitanku, bukankah dia akan melihat kelemahanku yang sebenarnya? Tidak boleh! Aku tidak boleh mengatakan apa-apa." Jadi, aku benar-benar tidak bisa bertanya apa pun, aku tidak menyimak apa pun yang dia persekutukan, dan aku hanya ingin sesi itu segera berakhir. Kemudian, ketika kami mulai syuting lagi, masalahku masih belum terpecahkan. Progres syuting berjalan sangat lambat. Jadwal syuting semula terus diundur. Beberapa adegan yang sudah selesai harus diambil ulang sebagian atau bahkan diambil ulang sepenuhnya setelah itu karena penampilan dan emosiku tidak tepat. Ketika draf kasar pertama selesai, aku tercengang saat melihat video yang telah diedit. Ekspresiku menyedihkan, dan penampilanku tampak dipaksakan serta tidak wajar. Aku sama sekali tidak menampilkan kualitas esensial karakter tersebut. Aku bahkan terlihat agak menyedihkan dan tidak berpendirian. Penampilan itu sama sekali tidak dapat mencapai efek memberi kesaksian tentang Tuhan. Aku sangat terpukul ketika seorang saudari berkata, "Aku bisa melihatmu menangis sedih, tetapi aku sama sekali tidak tersentuh olehnya." Aku benar-benar terkejut. Aku berpikir, "Padahal aku sudah bekerja sangat keras. Mengapa jadinya seperti ini? Apa yang akan saudara-saudari pikirkan tentangku? Mereka pasti akan bertanya-tanya mengapa aku menjadi pemeran utama, padahal aktingku tidak terlalu bagus!" Selama hari-hari itu, aku menghindari saudara-saudari setiap kali aku melihat mereka. Aku merasa terlalu malu untuk menghadapi siapa pun. Aku benar-benar merasa putus asa dan tidak punya energi untuk melaksanakan tugasku. Kemudian, aku merenungkan diriku sendiri. Aku tahu aku memiliki kekurangan, tetapi aku tidak mampu membuka diri kepada orang lain. Apa akar dari masalah ini?
Suatu kali selama saat teduhku, aku membaca suatu bagian firman Tuhan dan mendapatkan sedikit pemahaman tentang keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Manusia pada dasarnya adalah makhluk ciptaan. Mampukah makhluk ciptaan mencapai kemahakuasaan? Mampukah mereka mencapai kesempurnaan dan keadaan tanpa cela? Mampukah mereka mencapai kemahiran dalam segala sesuatu, memahami segala sesuatu, melihat segala sesuatu dengan jelas, dan cakap dalam segala sesuatu? Mereka tidak mampu. Namun, di dalam diri manusia, ada sebuah watak yang rusak, sebuah kelemahan yang fatal: Begitu mereka mempelajari sebuah keterampilan atau profesi, manusia merasa bahwa mereka cakap, bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki status dan nilai, dan bahwa mereka adalah para profesional. Apa pun kemampuan mereka yang sebenarnya, mereka semua ingin mengemas diri mereka sebagai individu yang terkenal atau luar biasa, untuk menjadi tokoh yang cukup ternama, dan membuat orang lain mengira bahwa mereka sempurna dan tanpa cela, tanpa kekurangan sedikit pun; mereka ingin dilihat oleh orang lain sebagai individu yang cakap, berkuasa, luar biasa, atau terkenal dan hebat, dengan citra yang agung dan mengesankan, kemampuan untuk melakukan apa saja, dan tidak ada yang tidak dapat mereka lakukan. Mereka merasa bahwa jika mereka mencari bantuan orang lain, mereka akan terlihat tidak mampu dan lebih rendah, serta orang-orang akan memandang rendah mereka. Karena alasan ini, mereka selalu ingin berpura-pura. Ada orang-orang yang, ketika disuruh melakukan sesuatu, berkata mereka tahu bagaimana melakukannya padahal sebenarnya mereka tidak tahu. Setelah itu, diam-diam, mereka mencari tahu tentang hal tersebut dan mencoba mempelajari bagaimana melakukannya, tetapi ternyata setelah mempelajarinya selama beberapa hari, mereka tetap tidak mengerti cara melakukannya. Ketika ditanya sudah sampai di mana mereka dalam pekerjaan itu, mereka berkata, 'Itu hampir selesai, sedikit lagi!' Namun, di dalam hati, mereka berpikir, 'Itu masih jauh dari selesai, aku tidak tahu harus bagaimana, aku tak tahu harus berbuat apa! Aku tak boleh sampai ketahuan, aku harus terus berpura-pura, aku tak boleh membiarkan orang melihat kekurangan dan kebodohanku, aku tak boleh membiarkan mereka memandang rendah diriku!' Masalah apa ini? Ini adalah penderitaan hanya untuk mempertahankan reputasi dengan segala cara. Watak macam apa ini? Kecongkakan orang semacam itu tidak mengenal batas, mereka telah kehilangan seluruh nalar mereka. Mereka tidak mau menjadi orang biasa, mereka tidak mau menjadi orang kebanyakan, orang normal, melainkan mau menjadi manusia super, individu yang luar biasa, atau orang yang cakap. Ini masalah yang sangat besar! Mengenai kelemahan, kekurangan, ketidaktahuan, kebodohan, dan kurangnya pemahaman dalam kemanusiaan yang normal, mereka akan menutupi semuanya, dan tidak membiarkan orang lain melihatnya—mereka terus menyamarkan diri mereka. ... Katakan kepada-Ku, bukankah orang-orang semacam ini selalu hidup dalam ketidakjelasan? Bukankah mereka sedang bermimpi? Mereka tidak mengenal diri mereka sendiri, mereka tidak tahu siapa diri mereka, dan mereka tidak tahu bagaimana hidup dalam kemanusiaan yang normal. Mereka tidak pernah melakukan apa yang seharusnya dilakukan manusia dengan cara yang praktis dan realistis, juga tidak pernah hidup seperti orang normal. Jika engkau selalu hidup dalam ketidakjelasan, dan dengan cara yang bingung, tidak melakukan segala sesuatu dengan cara yang praktis dan realistis, dan selalu hidup berdasarkan imajinasimu, ini berarti masalah—engkau tidak tahu cara berperilaku, dan jalan hidup yang telah kaupilih itu salah" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Lima Syarat yang Harus Dimiliki untuk Masuk ke Jalur yang Benar dalam Kepercayaan kepada Tuhan"). Aku merasa tersentak saat membaca firman Tuhan. Keadaanku persis seperti yang telah Tuhan singkapkan. Tuhan berfirman bahwa begitu orang mempelajari suatu keterampilan, mereka pikir mereka mampu dan ingin berpura-pura, tampil sebagai seorang ahli. Meskipun memiliki kekurangan, mereka tak mau meminta bantuan orang lain, karena menganggap hal ini sebagai kelemahan yang akan membuat orang lain meremehkan mereka. Jadi, mereka menutupi diri. Bukankah aku orang seperti itu? Aku telah merasa unggul sebagai seorang ahli dan tidak bisa turun. Aku berpikir bahwa terpilih sebagai pemeran utama dalam film ini menunjukkan bahwa kemampuan aktingku bagus, jadi ketika aku menghadapi kesulitan, aku mencoba mencari tahu sendiri alih-alih meminta bantuan, karena aku merasa bahwa dengan bertanya kepada orang lain, aku akan merendahkan diriku sendiri. Agar orang lain tidak melihat kelemahanku yang sebenarnya dan meremehkanku, aku tidak mau membuka diri tentang kekurangan dan kesulitanku. Akibatnya, aku tidak pernah bisa menemukan emosi yang tepat saat syuting. Seorang saudara mengingatkanku untuk bertanya kepada saudara-saudari yang berpengalaman, tetapi aku khawatir mereka akan mengetahui bahwa aku bahkan tidak bisa memecahkan masalah sekecil itu dan bahwa mereka akan meremehkanku, jadi aku tidak bertanya. Ketika sutradara melihatku kesulitan, dia mencoba membantuku menganalisis emosi karakter tersebut. Namun, aku takut dia akan meremehkanku, jadi aku mencari alasan, mengatakan bahwa aku tidak bisa melakukannya karena aku belum bisa merasakan emosinya dengan cukup kuat. Maksudku adalah, bukan aktingku yang bermasalah; jika aku bisa merasakan emosinya dengan benar, aku pasti bisa menampilkan adegan itu. Aku terus-menerus berusaha menjaga gengsiku, tidak ingin ada yang berkata bahwa aku tidak mampu melakukannya. Kemudian, ketika sutradara membawa seorang saudari untuk membagikan pengalaman aktingnya, aku makin merasa bahwa bersikap terbuka dan bertanya kepadanya akan makin memperlihatkan kekuranganku. Jadi, meskipun ada banyak hal yang ingin kutanyakan, aku tidak sanggup membuka mulut. Berulang kali, aku menutupi diri dan berpura-pura. Ini berarti masalahku tidak pernah terpecahkan, dan pengambilan gambar ulang yang terus-menerus menunda kemajuan film tersebut. Tuhan berfirman: "Watak macam apa ini? Kecongkakan orang semacam itu tidak mengenal batas, mereka telah kehilangan seluruh nalar mereka. Mereka tidak mau menjadi orang biasa, mereka tidak mau menjadi orang kebanyakan, orang normal, melainkan mau menjadi manusia super, individu yang luar biasa, atau orang yang cakap. Ini masalah yang sangat besar!" Aku selalu berpikir bahwa menjadi pemeran utama dan selalu melatih saudara-saudari cara berakting berarti aku adalah salah satu yang terbaik, jadi aku tidak boleh membiarkan siapa pun melihat kekurangan atau kelemahanku. Aku sangat congkak! Aku hanyalah makhluk ciptaan; memiliki kekurangan sangatlah wajar. Lagi pula, aku jarang memainkan peran positif. Seharusnya aku menyikapi ketidakmampuanku untuk memerankannya dan menghadapi masalahku dengan benar, serta membuka diri dan meminta bantuan saudara-saudari. Itulah satu-satunya cara aku bisa menutup kekuranganku dan melaksanakan tugasku dengan baik. Namun, aku sangat congkak hingga tidak memiliki nalar. Aku berpikir bahwa karena aku telah melatih orang lain dan menjadi pemeran utama, aku lebih baik dari semua orang dan harus mengungguli mereka dalam segala hal. Jadi aku terus-menerus menutupi diri dan berpura-pura. Pada akhirnya, aku tidak hanya gagal melaksanakan tugasku dengan baik, tetapi aku juga menunda pekerjaan gereja. Setelah menyadari hal ini, aku benar-benar menyesal dan berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku sangat congkak. Aku tak bisa menghadapi masalah dan kekuranganku sendiri selama ini. Aku terus-menerus hidup dalam keadaan menutupi diri dan berpura-pura, dan aku telah sangat menunda kemajuan film ini. Ya Tuhan, aku bersedia untuk bertobat. Mohon tuntunlah aku untuk merenungkan diriku lebih dalam dan memetik pelajaran."
Suatu hari, aku membaca firman Tuhan dan mendapatkan lebih banyak pemahaman tentang diriku sendiri. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Apa pun konteksnya, tugas apa pun yang mereka laksanakan, antikristus akan berusaha memberi kesan bahwa mereka tidak lemah, bahwa mereka selalu kuat, penuh iman, dan tidak pernah negatif, sehingga orang tidak pernah melihat tingkat pertumbuhan mereka yang sebenarnya atau sikap mereka yang sebenarnya terhadap Tuhan. Sebenarnya, di lubuk hati mereka, apakah mereka benar-benar yakin bahwa tidak ada yang tidak mampu mereka lakukan? Apakah mereka benar-benar yakin bahwa mereka tidak memiliki kelemahan, kenegatifan, atau tidak memperlihatkan kerusakan? Sama sekali tidak. Mereka pandai berpura-pura, mahir menyembunyikan berbagai hal. Mereka suka memperlihatkan sisi mereka yang kuat dan mengesankan kepada orang-orang; mereka tidak mau orang-orang melihat sisi mereka yang lemah dan sebenarnya. Tujuan mereka jelas: Sederhananya, untuk mempertahankan gengsi dan harga diri mereka, melindungi tempat yang mereka miliki di hati orang-orang. Mereka berpikir bahwa jika mereka membuka diri di hadapan orang lain tentang kenegatifan dan kelemahan mereka sendiri, dan tentang sisi mereka yang memberontak dan rusak, ini akan sangat merusak status dan reputasi mereka, dan lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya. Jadi, mereka lebih memilih mati daripada mengakui bahwa mereka mengalami saat-saat ketika mereka lemah, memberontak, dan negatif. Sekalipun suatu hari semua orang melihat sisi mereka yang lemah dan memberontak, ketika orang melihat bahwa mereka rusak dan sama sekali belum berubah, mereka akan tetap berpura-pura. Mereka berpikir jika mereka mengakui bahwa mereka memiliki watak yang rusak, bahwa mereka orang biasa, seseorang yang tidak penting, mereka akan kehilangan tempat mereka di hati orang-orang, akan kehilangan pemujaan dan kekaguman semua orang, dan dengan demikian mereka akan sepenuhnya gagal. Jadi, apa pun yang terjadi, mereka tidak akan membuka diri kepada orang-orang dengan polos; apa pun yang terjadi, mereka tidak akan menyerahkan kekuasaan dan status mereka kepada orang lain; sebaliknya, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk bersaing, dan tidak akan pernah menyerah" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Sepuluh)). Tuhan berfirman bahwa untuk melindungi reputasi dan status mereka, antikristus tidak pernah membuka diri kepada orang lain tentang sisi negatif, lemah, pemberontak, atau rusak mereka. Mereka percaya bahwa melakukan hal itu akan membuat mereka tampak rendah dan akan mengorbankan status serta citra baik mereka di hati orang lain. Mereka menutupi diri dan berpura-pura di setiap kesempatan, dan bahkan jika kelemahan mereka yang sebenarnya telah terlihat, mereka terus menutupi diri. Apa yang telah kuperlihatkan juga merupakan watak antikristus. Aku terus-menerus hidup berdasarkan racun Iblis seperti "Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya" dan "Harga diri itu tak ternilai harganya", merasa bahwa apa pun yang terjadi, aku tidak boleh membiarkan orang lain meremehkanku dan aku harus mempertahankan citra yang baik di hati mereka. Aku ingat ibuku sering memberitahuku saat aku masih kecil, "Selalu tunjukkan sisi terbaikmu." "Bukankah seluruh hidup seseorang adalah demi harga diri? Kita tidak boleh membiarkan orang lain meremehkan kita. Apa pun sepadan, asalkan itu membuat orang lain mengagumimu." Karena dididik dengan cara seperti ini oleh ibuku, aku menjaga harga diriku di setiap kesempatan, selalu berusaha menunjukkan sisi terbaikku kepada orang lain. Bahkan jika aku tidak mengerti atau tidak tahu cara melakukan sesuatu, aku berpura-pura tahu dan memaksakan diri untuk melakukannya. Setelah percaya kepada Tuhan, aku tetap seperti itu. Ketika para pemimpin memintaku melatih saudara-saudari dalam berakting dan mengatur semua orang untuk belajar bersama, aku melihat bahwa mereka semua menghargaiku, dan aku mulai percaya bahwa kemampuan aktingku sudah matang. Ketika aku terpilih sebagai pemeran utama kali ini, aku tidak berani meminta bantuan siapa pun dengan mudah, bahkan ketika aku mengalami kesulitan. Aku menutupi diri dengan sekuat tenaga, sangat takut kehilangan citra baikku di mata saudara-saudari. Kemudian, ketika sutradara mengundang seorang saudari untuk membagikan pengalamannya dan membantuku, aku tak mau membuka diri dan mencari bantuan meskipun aku jelas memiliki banyak kesulitan, semuanya demi melindungi citra baikku. Karena aku tidak bisa mendalami karakter, aku sangat menunda kemajuan film tersebut. Dalam tugasku, aku bukan hanya gagal meninggikan Tuhan atau memberi kesaksian tentang-Nya; aku justru terus-menerus melindungi citra baikku di mata saudara-saudari. Aku bahkan rela menunda syuting daripada menerima bantuan saudari itu. Aku sama sekali tidak memiliki hati nurani atau nalar! Aku menempuh jalan antikristus! Jika aku terus seperti ini, pada akhirnya aku akan dibenci dan ditolak serta disingkirkan oleh Tuhan. Aku harus segera mengubah perspektif di balik pengejaranku dan berhenti mempertahankan citra serta statusku. Aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan Yang Mahakuasa, Engkau masih memberiku kesempatan untuk melaksanakan tugasku hari ini. Ini adalah belas kasihan-Mu yang besar. Aku tidak bisa terus memberontak terhadap dan menentang-Mu. Mohon tuntunlah aku agar aku bisa membuka diri, menjadi orang yang jujur, serta melaksanakan tugasku dengan baik dan memuaskan-Mu."
Kemudian, ada beberapa perubahan dalam naskah, dan film itu harus disyuting ulang. Gereja membiarkanku terus memainkan peran tersebut. Aku bersyukur tetapi juga sangat malu. Aku bertekad untuk bertobat dengan sungguh-sungguh, menyesuaikan pola pikirku, dan mencurahkan segalanya pada pekerjaan itu. Suatu hari, aku membaca satu bagian dari firman Tuhan dan menemukan jalan penerapan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Katakan kepada-Ku, bagaimana engkau bisa menjadi seseorang yang biasa dan normal? Bagaimana engkau, seperti yang Tuhan firmankan, dapat menempatkan dirimu di posisi yang benar sebagai makhluk ciptaan, tidak berusaha untuk menjadi sosok yang hebat atau manusia super? Bagaimana seharusnya engkau menerapkan menjadi orang biasa dan normal? Bagaimana ini bisa dicapai? Siapa yang ingin berbicara? (Pertama-tama, kami harus mengakui bahwa kami adalah orang biasa, orang yang sangat awam, dan bahwa ada banyak hal yang tidak kami mengerti, tidak kami pahami, dan tidak dapat kami ketahui yang sebenarnya. Kami harus mengakui bahwa kami rusak dan bercacat cela. Setelah itu, kami harus memiliki hati yang tulus dan sering datang ke hadapan Tuhan untuk mencari.) Pertama, jangan memberikan gelar pada dirimu sendiri lalu membiarkannya mengekangmu, dengan berkata, 'Aku adalah pemimpin, aku adalah pemimpin tim, aku adalah pengawas, atau aku adalah orang yang paling berpengetahuan dan mahir secara teknis di bidang ini.' Jangan terhambat oleh gelar yang kauberikan sendiri. Begitu ini terjadi, itu akan mengikatmu dengan erat; perkataan dan tindakanmu akan terpengaruh olehnya, begitu pula pemikiran dan penilaianmu yang normal. Engkau harus membebaskan dirimu dari kekangan status ini. Pertama, turunlah dari posisi gelar resmi ini, dan ambillah posisi sebagai orang biasa. Pola pikirmu kemudian akan menjadi agak normal. Engkau juga harus mengakui: 'Aku tidak tahu bagaimana melakukan ini, dan aku tidak memahami itu—aku harus melakukan riset dan belajar,' atau 'Aku belum pernah mengalami ini, jadi aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.' Ketika engkau bisa mengatakan apa yang sebenarnya kaupikirkan dan berbicara dengan jujur seperti ini, engkau akan memiliki nalar yang normal. Jika engkau membiarkan orang lain mengetahui dirimu yang sebenarnya, mereka akan memiliki pandangan yang normal tentang dirimu, dan engkau tidak akan perlu berpura-pura. Engkau tidak akan lagi merasa sangat tertekan, dan engkau akan mampu berkomunikasi dengan orang lain secara normal. Hidup seperti ini bebas dan mudah. Siapa pun yang merasa hidup ini terlalu melelahkan, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Jangan berpura-pura atau menyembunyikan apa pun. Pertama-tama, engkau harus membuka diri tentang apa yang kaupikirkan di dalam hatimu dan pemikiranmu yang sebenarnya, sehingga semua orang menyadari dan memahaminya. Dengan cara ini, kekhawatiranmu, serta penghalang dan kecurigaan antara engkau dan orang lain, semuanya akan dihilangkan. Selain itu, ada hal lain yang juga mengikatmu, yaitu engkau selalu menganggap dirimu sebagai pemimpin tim, pemimpin dan pekerja, seseorang yang memiliki gelar, dengan status dan kedudukan—jika engkau kemudian berkata bahwa engkau tidak memahami hal ini dan tidak mampu melakukan hal itu, bukankah itu merendahkan dirimu sendiri? Ketika engkau melepaskan belenggu-belenggu ini di dalam hatimu, ketika engkau berhenti menganggap dirimu sebagai pemimpin atau pekerja, dan ketika engkau berhenti berpikir bahwa engkau lebih baik daripada orang lain dan sebaliknya merasa bahwa engkau adalah orang biasa, sama seperti orang lain, dan bahwa ada beberapa bidang di mana engkau lebih rendah daripada orang lain, maka ketika engkau mempersekutukan kebenaran dan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dengan pola pikir ini, baik hasil maupun suasananya akan berbeda. ... Setiap orang, entah pemimpin dan pekerja atau saudara-saudari, adalah manusia biasa. Mereka semua harus menerapkan prinsip ini. Setiap orang mempunyai andil dan tanggung jawab dalam menerapkan firman Tuhan. Mungkin engkau adalah seorang pemimpin, pekerja, ketua tim, pengawas, atau orang yang sangat dihormati dalam kelompok. Siapa pun dirimu, engkau harus belajar menerapkan dengan cara seperti ini. Lepaskan gelar dan aura kemuliaan yang kaukenakan di kepalamu, lepaskan mahkota yang telah orang lain anugerahkan kepadamu. Kemudian, engkau akan merasa mudah untuk menjadi manusia yang normal dan, dengan mudah, engkau akan bertindak berdasarkan hati nurani dan akal sehat. Tentu saja, setelah itu, tidak cukup sekadar mengakui bahwa engkau tidak mengerti dan tidak tahu. Ini bukanlah solusi akhir yang dapat menyelesaikan masalah. Apa solusi akhirnya? Bawalah segala persoalan dan kesulitan ke hadapan Tuhan untuk kaudoakan dan kaucari. Tidaklah cukup jika satu orang berdoa sendirian. Sebaliknya, engkau harus memanjatkan doa mengenai masalah ini dan memikul tanggung jawab serta kewajiban ini bersama semua orang. Itulah cara yang luar biasa untuk melakukan segala hal! Engkau akan terhindar dari upaya menjadi sosok yang hebat dan manusia super. Jika engkau mampu melakukan hal ini, secara tidak sadar engkau akan mengambil posisi yang tepat sebagai makhluk ciptaan dan melepaskan dirimu dari kekangan ambisi dan keinginan untuk menjadi manusia super dan tokoh yang hebat" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menghargai Firman Tuhan adalah Landasan Kepercayaan kepada Tuhan"). Firman Tuhan sudah sangat jelas. Aku hanyalah makhluk ciptaan yang kecil. Aku tidak pernah mempelajari pengetahuan akting profesional sama sekali. Mampu melaksanakan tugasku sebagai aktor di rumah Tuhan hari ini adalah peninggian dari Tuhan, dan itu mustahil tanpa pencerahan dan bimbingan Roh Kudus. Aku ingat suatu kali saat syuting, emosiku tidak cukup kuat. Aku mencoba segala cara, tetapi tidak membuahkan hasil. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Kemudian, di bawah tuntunan Tuhan, aku bisa mendalami karakter, dan syuting pun berhasil. Aku tidak akan pernah bisa melakukannya tanpa pencerahan dan bimbingan Tuhan. Sekarang aku harus melepaskan gengsi dan statusku, menghadapi kekuranganku dengan jujur, dan melakukan yang terbaik dalam hal-hal yang mampu kulakukan, dan jika ada sesuatu yang tidak bisa kulakukan atau tidak kupahami, aku harus lebih banyak meminta bantuan saudara-saudari, dan juga lebih banyak berdoa dan mengandalkan Tuhan. Jadi, aku membuat daftar masalah dalam penampilanku dan mengirimkannya kepada beberapa saudara-saudari, meminta bantuan mereka. Saat aku mengirim pesan itu, aku merasa beban berat terangkat dari pundakku, dan hatiku merasa tenang. Aku segera mendapat balasan dari mereka. Mereka semua memberiku beberapa saran untuk masalahku dan juga memberitahuku bagaimana mereka menemukan emosi yang tepat selama syuting. Mereka menjabarkan beberapa jalan penerapan bagiku dan mendorongku untuk memerankan peran itu dengan sungguh-sungguh. Aku sangat tersentuh dan hatiku terasa hangat saat membaca saran dan dorongan mereka. Nasihat mereka sangat membantuku, dan aku kemudian tahu bagaimana memecahkan masalah dalam penampilanku.
Aku segera mencurahkan diriku dalam sesi syuting berikutnya. Ketika tiba saatnya untuk merekam adegan emosional lagi, aku mengikuti metode yang diajarkan saudara-saudari kepadaku dan mendiskusikan detail spesifik dari penampilan itu dengan sutradara terlebih dahulu. Ketika aku tidak bisa mendalami karakter, aku membuka diri tentang hal itu, dan sutradara serta saudara-saudari semuanya datang dan membantuku. Setelah syuting, aku mengirimkan video itu kepada saudara-saudari dan bertanya kepada mereka masalah apa yang masih ada dalam penampilanku. Ketika mereka menunjukkan masalah, aku segera melakukan penyesuaian dan memperbaikinya. Saat aku berakting lagi, emosiku jauh lebih kuat. Aku mendalami karakter dengan cepat, dan hasil syuting jauh lebih baik dari sebelumnya. Beberapa klip sangat menyentuh bagi saudara-saudari yang menontonnya, dan kemajuan syuting meningkat secara signifikan.
Sekarang, setiap kali aku tidak memahami sesuatu dan berpikir untuk menutupi diri dan berpura-pura, aku secara sadar berlatih menjadi orang yang jujur. Aku membuka diri tentang masalahku dan mencari prinsip serta jalan keluar bersama saudara-saudari, dan masalah yang tidak kupahami pun terselesaikan dengan cepat. Melalui pengalaman ini, aku menyadari bahwa menutupi diri dan berpura-pura tidak dapat menyelesaikan masalah apa pun. Hanya dengan menerapkan firman Tuhan, membuka diri dengan terus terang, dan menjadi orang yang jujur, kita dapat menyelesaikan masalah dan melaksanakan tugas kita dengan baik; hanya dengan begitu kita dapat memiliki kedamaian dan ketenangan sejati di hati kita. Syukur kepada Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Saudari terkasih,Semoga surat ini sampai kepadamu dengan baik!Terakhir kali kau menulis untuk menanyakan tentang keuntungan yang kuperoleh...
Aku membuat berbagai video di gereja. Ketika pertama kali aku mulai pelatihan, aku meminta bantuan dari orang-orang saat aku tidak memahami...
Pada bulan Maret 2021, aku bertanggung jawab atas pekerjaan video. Awalnya, aku merasa memiliki banyak kekurangan. Jika ada sesuatu yang...
Pada Maret 2024, pengawas datang untuk merangkum masalah dan membahas pekerjaan bersama kami. Saat kami bersama-sama membahas sebuah...