Ada Apa di Balik Sikap Pura-Pura Pahamku

02 Juni 2026

Oleh Miao Xiao, Tiongkok

Pada bulan Februari 2023, aku diangkat menjadi pengawas pekerjaan penyiraman. Saat itu, aku mengawasi pekerjaan beberapa pemimpin tim penyiraman. Aku merasa memiliki keterampilan dalam menyiram pendatang baru, jadi aku yakin orang-orang akan mengagumiku karena melaksanakan tugas ini. Mau tak mau aku merasa puas dengan diriku sendiri. Namun, meskipun senang, aku juga khawatir. Aku cukup pandai membantu pemimpin tim dalam hal masalah dan kesulitan para anggota baru, tetapi sebagai pengawas, aku juga harus mengatasi masalah dan kesulitan para pemimpin tim. Biasanya aku hanya fokus pada pekerjaan, bukan pada jalan masuk kehidupanku sendiri, jadi pemahamanku tentang kebenaran cukup dangkal. Aku bisa menemukan firman Tuhan untuk mengatasi keadaan dan masalah umum, tetapi saat menghadapi masalah yang lebih rumit, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas dan tidak tahu harus melakukan apa. Sebelumnya, aku berada di tingkat yang sama dengan pemimpin tim lainnya, jadi tidak masalah jika aku tidak bisa mengatasi masalah dan kesulitan mereka. Namun, sekarang aku adalah pengawas. Jika aku tidak bisa mengatasi kesulitan mereka, apa yang akan mereka pikirkan tentangku? Apakah mereka akan mengatakan aku tidak mampu melaksanakan tugas ini? Akan sangat memalukan jika aku tidak bisa menyelesaikan masalah mereka lalu diberhentikan karena pekerjaanku tidak menghasilkan apa pun! Agar semua orang mengira aku adalah pengawas yang memenuhi standar, dalam setiap pertemuan, aku menonjolkan kelebihanku, seperti memahami masalah dan kesulitan para pendatang baru dan menunjukkan jalan penerapan, atau mengoreksi penyimpangan para pemimpin tim dalam pekerjaan penyiraman mereka. Kupikir selama aku mengelola pekerjaan para pemimpin tim dengan baik dan pekerjaan itu membuahkan hasil, aku tidak akan dipandang rendah atau diberhentikan. Namun, aku jarang menanyakan kesulitan para pemimpin tim dalam tugas mereka—aku bahkan tidak berani bertanya. Aku takut jika aku bertanya dan tidak bisa mengatasinya, aku akan kehilangan muka. Hal ini sangat terasa terutama saat seorang pemimpin datang ke pertemuan kami. Untuk memunculkan kesan baik dan membuatnya berpikir bahwa aku layak melaksanakan tugas pengawas, aku tidak mencari bantuan bahkan ketika aku mengalami kesulitan dan masalah. Aku selalu bersikap seolah-olah aku tidak memiliki kesulitan sama sekali. Saat mengatasi keadaan para pemimpin tim, aku juga sangat berhati-hati. Aku menunggu pemimpinku selesai bersekutu, lalu aku menimpali dan memberikan sedikit persekutuan, untuk menunjukkan bahwa pandanganku sama dengan pandangannya. Dengan begitu, dia tidak akan melihat kekurangan atau penyimpanganku.

Setelah beberapa lama, aku mendengar para pemimpin tim mengeluh bahwa fokus mereka hanya mondar-mandir melakukan pekerjaan, tetapi belum mencapai jalan masuk kehidupan apa pun. Aku merasa sangat bersalah. Aku tahu bahwa jika pertemuan hanya tentang menindaklanjuti pekerjaan dan tidak mengatasi kesulitan mereka, ini akan memengaruhi jalan masuk kehidupan saudara-saudari, dan mereka tidak akan mendapatkan hasil yang baik dalam tugas. Aku terpikir untuk mengatasi kesulitan mereka terlebih dahulu dalam pertemuan-pertemuan mendatang, sebelum berlanjut ke soal pekerjaan. Namun, kemudian aku khawatir, "Bagaimana jika aku tidak bisa menyelesaikannya? Bukankah itu akan sangat memalukan?" Jadi aku kembali enggan menerapkan seperti itu. Aku hanya menanyakan keadaan para pemimpin tim ketika keadaan mereka sudah sangat buruk dan aku tidak punya pilihan. Terkadang, ketika aku tidak bisa melihat masalah mereka dengan jelas dan tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku tidak mau membuka diri dan mencari solusi bersama. Aku hanya memaksa diri untuk mencari bagian firman Tuhan dan memberikan persekutuan secara asal-asalan sekadar untuk menyelesaikannya ala kadarnya. Begitulah, aku terus-menerus hidup dalam ketakutan bahwa saudara-saudariku akan memandang rendah diriku. Aku merasa tertekan, khususnya selama pertemuan, dan hidup dalam kegelapan dan kepedihan, tidak mampu menemukan jalan keluar. Aku bahkan menyesal telah setuju untuk melaksanakan tugas ini.

Kemudian, aku berterus terang tentang keadaanku kepada saudara-saudariku. Seorang saudari mengatakan aku telah meninggikan diri, dan dia juga membantuku menemukan bagian firman Tuhan untuk kubaca. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Semua manusia yang rusak memiliki satu kekurangan yang umum: Ketika mereka tidak memiliki status, mereka tidak berlagak atau bersikap tertentu saat berinteraksi atau berbicara dengan orang lain. Cara bicara mereka tidak memiliki nada yang dibuat-buat, serta biasa dan normal. Mereka tidak berpura-pura, atau tidak khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentang mereka. Mereka tidak merasakan tekanan psikologis apa pun, dan mampu terbuka serta berinteraksi dengan orang lain dalam persekutuan dan pembicaraan dari hati ke hati. Orang lain merasa bahwa mereka ramah dan mudah didekati, serta menganggap mereka cukup baik. Segera setelah mereka memperoleh status, mereka menjadi tinggi dan berkuasa, mereka mengabaikan orang-orang biasa, tak seorang pun dapat mendekati mereka; mereka merasa bahwa mereka mulia, dan bahwa mereka berbeda dengan orang-orang biasa. Mereka memandang rendah orang biasa, berlagak ketika mereka berbicara, dan berhenti bersekutu secara terbuka dengan orang lain. Mengapa mereka tidak lagi bersekutu secara terbuka? Mereka merasa sekarang mereka memiliki status, dan mereka adalah pemimpin. Mereka berpikir bahwa pemimpin harus memiliki citra tertentu, lebih tinggi daripada orang biasa, memiliki tingkat pertumbuhan dan ketahanan yang lebih besar; mereka yakin jika dibandingkan dengan orang biasa, pemimpin harus memiliki kesabaran yang lebih besar, mampu lebih menderita dan mengorbankan diri, dan mampu menahan pencobaan apa pun dari Iblis. Sekalipun orang tua atau anggota keluarga mereka yang lain meninggal, mereka merasa bahwa mereka harus memiliki pengendalian diri untuk tidak menangis, atau bahwa mereka harus menangis secara diam-diam, tidak terlihat, dan tidak di depan orang lain. Mereka berpikir bahwa mereka tidak boleh membiarkan siapa pun melihat kekurangan atau cacat mereka ataupun kelemahan mereka, dan bahwa mereka bahkan tidak boleh membiarkan siapa pun tahu jika mereka telah menjadi negatif; sebaliknya, mereka harus menyembunyikan semua hal semacam itu. Mereka percaya inilah seharusnya cara bertindak orang yang memiliki status. Jika mereka menekan diri mereka sendiri sampai sejauh ini, bukankah status telah menjadi tuhan atau penguasa mereka? Dengan demikian, apakah mereka masih memiliki kemanusiaan yang normal? Ketika mereka memiliki ide-ide ini, menempatkan diri mereka dalam batasan ini, dan bertindak dengan berpura-pura seperti ini, bukankah mereka telah terpikat oleh status?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagaimana Mengatasi Pencobaan dan Keterikatan Status"). Bagian firman Tuhan ini langsung bicara tentang keadaanku. Aku menyadari bahwa aku selalu hidup dalam kegelapan, tidak mampu lepas, karena aku hidup di tengah belenggu status. Sebelum menjadi pengawas, aku berada di tingkat yang sama dengan pemimpin tim lainnya; tidak ada perbedaan status di antara kami. Meskipun jalan masuk kehidupanku agak dangkal dan ada beberapa masalah yang tidak bisa kuselesaikan, aku tidak merasakan tekanan apa pun. Namun, sejak menjadi pengawas, aku meninggikan diri. Aku merasa karena aku bertanggung jawab atas pekerjaan mereka, aku harus lebih baik dari mereka dalam segala hal, dan jika ada sesuatu yang tidak kuketahui atau tidak bisa kulakukan, mereka memandang rendah diriku dan mengatakan aku tidak layak untuk tugas itu. Agar pemimpin tim tidak memandang rendah diriku, aku tidak mau menanyakan keadaan mereka selama pertemuan dan hanya mau menanyakan masalah pekerjaan saja. Ketika pemimpinku datang ke pertemuan, aku takut masalahku sendiri akan terungkap di hadapannya, jadi aku menutupi kekuranganku. Aku tidak mau melaporkan kesulitan dalam pekerjaan, menciptakan kesan palsu bagi pemimpin agar dia mengira aku bisa menyelesaikan masalah dan layak menjadi pengawas. Setelah menjadi pengawas, aku tidak memikirkan cara melaksanakan tugasku dengan baik atau mengatasi kesulitan saudara-saudari. Yang kupikirkan hanyalah cara melindungi reputasi dan statusku sendiri. Aku benar-benar sangat egois!

Setelah itu, aku mencari dan merenung: Mengapa aku selalu berpura-pura dan menyembunyikan jati diriku untuk melindungi reputasi dan statusku? Watak rusak apa yang mengendalikan hal ini? Aku membaca firman Tuhan: "Kebenaran apa pun, firman yang benar, dan hal-hal positif, semuanya diperuntukkan bagi mereka yang mencintai kebenaran, mencintai firman Tuhan, dan memiliki aspirasi yang besar akan Tuhan. Setelah mendengarkan kebenaran, mereka yang tidak memiliki kualifikasi ini juga akan berkata bahwa kebenaran itu benar dan kebenaran itu baik, tetapi mereka akan merenungkannya dan berpikir, 'Untuk apa aku hidup? Aku hidup demi gengsi, status, mahkota, sinar kemuliaan, dan upah Tuhan. Tanpa hal-hal ini, masihkah aku punya martabat? Apa makna hidupku? Bukankah percaya kepada Tuhan hanyalah sarana untuk mengejar upah dan mahkota? Sekarang aku sudah mengorbankan banyak dari hati dan usahaku, dan setelah sedemikian lama menanti, akhirnya saatnya telah tiba bagi Tuhan untuk mengupahi orang yang baik dan menghukum orang yang jahat. Inilah saatnya aku harus dinobatkan dan menerima upahku. Bagaimana aku bisa menyerahkan ini kepada orang lain? Menjadi manusia normal, manusia biasa, sama seperti orang biasa lainnya, apa gunanya hidup seperti itu? Aku tidak sebodoh itu!' Bukankah orang seperti itu tidak dapat diperbaiki lagi? (Ya.) Jangan berusaha membujuk orang-orang seperti itu. Kebenaran bukan untuk mereka, dan yang mereka inginkan bukanlah kebenaran. Orang semacam ini hanya mencari berkat dan mahkota. Keinginan dan ambisi mereka melampaui batas yang manusia normal perlukan. Ada orang-orang yang tidak mampu membayangkan mengapa orang seperti ini berpaut pada status dan kekuasaan dan tidak mau melepaskannya. Inilah esensi dan natur bawaan orang seperti ini. Engkau tidak mampu memahaminya karena esensimu berbeda dengan esensi mereka, dan mereka juga tidak mampu memahamimu. Mereka tidak paham mengapa engkau begitu bodoh. Engkau tidak menginginkan mahkota, sinar kemuliaan, dan gengsi yang siap pakai dan sebaliknya menjadi manusia biasa. Mereka menganggapmu sebagai orang yang tidak dapat dipahami. Tipe orang seperti ini berpikir, 'Engkau mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh, engkau menerapkan apa yang Tuhan perintahkan, engkau melakukan apa yang Tuhan perintahkan, dan engkau tunduk pada apa pun yang Tuhan perintahkan kepadamu. Bagaimana engkau bisa begitu bodoh?' Mereka menganggap bahwa menjadi orang yang jujur dan menerapkan kebenaran adalah hal yang bodoh, tak tahu apa-apa, dan dungu. Mereka yakin bahwa mereka cerdik dalam mengejar ilmu dan berperan sebagai orang yang unggul. Dengan beranggapan bahwa mereka memahami segalanya, mereka menyimpulkan bahwa 'kehidupan orang yang tidak memiliki status dan gengsi, tidak mengenakan mahkota di kepala mereka, dan tidak berharga di antara manusia serta tidak memiliki otoritas untuk berbicara adalah tidak berharga. Jika orang tidak hidup demi ketenaran, mereka harus hidup demi keuntungan pribadi. Jika bukan demi keuntungan pribadi, mereka harus hidup demi ketenaran.' Bukankah ini logika Iblis? Hidup berdasarkan logika Iblis, mereka tidak dapat diperbaiki. Mereka tak pernah mampu menerima firman Tuhan, hal-hal positif, atau nasihat benar apa pun. Jika mereka tidak mampu menerima hal ini, lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Kita tidak mengucapkan firman ini untuk mereka. Firman ini hanya ditujukan kepada orang yang memiliki kemanusiaan yang normal, hanya kepada orang yang memiliki aspirasi yang besar akan Tuhan. Firman ini hanya untuk orang-orang seperti ini. Hanya orang-orang seperti inilah yang mampu dengan sungguh-sungguh mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan, memperoleh pemahaman akan kebenaran, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, melaksanakan tugas mereka sesuai tuntutan Tuhan, menerapkan dan mengalami firman Tuhan di lingkungan yang telah Tuhan atur, dan secara bertahap masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Sedangkan orang-orang yang menghina serta bersikap memusuhi terhadap hal-hal positif dan firman Tuhan di dalam hati, mereka tidak rela menjalani hidup yang biasa-biasa saja dan tidak menonjol, tidak mampu menjadi manusia biasa, tidak mampu menghadap ke hadirat Tuhan dengan sungguh-sungguh, serta tidak mampu mencari dan menantikan hal-hal yang tidak mereka pahami dengan sepenuh hati. Mereka tidak puas menjadi orang seperti itu. Oleh karena itu, mustahil bagi orang seperti itu untuk diselamatkan. Kerajaan surga tidak dipersiapkan bagi orang-orang seperti ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menghargai Firman Tuhan adalah Landasan Kepercayaan kepada Tuhan"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa Tuhan menyelamatkan mereka yang mengasihi dan menerima kebenaran. Saat Tuhan mengatur lingkungan bagi mereka, orang-orang seperti itu mampu mencari kebenaran, melepaskan keinginan pribadi mereka, dan melakukan penerapan sesuai dengan firman Tuhan. Mereka yang tidak mengasihi kebenaran hanya percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas demi memuaskan keinginan mereka akan reputasi dan status. Apa pun yang mereka lakukan, yang mereka pikirkan hanyalah apakah itu menguntungkan reputasi dan status mereka, bukannya bagaimana cara melaksanakan tugas dengan cara yang sesuai maksud Tuhan. Orang-orang seperti itu membuat Tuhan muak dan benci. Aku telah dipengaruhi oleh racun Iblis, "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang," dan aku menjadikan reputasi serta status sebagai tujuan yang benar dalam pengejaranku. Aku selalu ingin dikagumi dan tidak pernah mau dipandang rendah. Saat gereja mengaturku untuk melaksanakan tugas sebagai pengawas, aku sangat sadar bahwa jalan masuk kehidupanku cukup dangkal, dan saat dihadapkan pada masalah dan kesulitan yang tidak bisa kuatasi, aku harus berdoa bersama para pemimpin tim dan mencari kebenaran bersama untuk menyelesaikannya. Namun, aku takut jika menerapkan seperti itu, aku akan terlalu banyak menyingkapkan kekuranganku dan mereka akan memandang rendah diriku. Jadi selama pertemuan, aku sama sekali tidak mengatasi kesulitan mereka dan hanya fokus menindaklanjuti pekerjaan. Dengan begitu, tidak hanya para pemimpin tim bisa melihatku punya ide-ide untuk mengelola pekerjaan, tetapi jika pekerjaan itu membuahkan hasil yang baik, aku tidak akan diberhentikan. Saat pemimpin datang ke pertemuan, aku menunggu dia menyampaikan pandangannya sebelum ikut menimpali, untuk menutupi kekuranganku. Apa pun yang bisa menyingkapkan siapa diriku yang sebenarnya dan memengaruhi citraku di mata orang lain, aku akan berusaha sekuat tenaga menyembunyikannya, menggunakan tipu daya dan kecurangan. Aku sangat tercela! Meskipun aku memeras otak untuk mengelabui pemimpinku dan para pemimpin tim untuk sementara waktu, aku tidak menjadi orang yang jujur atau menempuh jalan yang benar, dan aku tidak bisa menipu Tuhan. Aku tidak bisa menerima bimbingan Tuhan dalam tugasku, dan pekerjaan gereja pun terpengaruh. Bukankah di sini Tuhan sedang menghakimiku dengan fakta-fakta? Aku telah menggunakan tipu daya untuk menyesatkan orang agar mengagumiku, tetapi seiring berjalannya waktu, saudara-saudari pada akhirnya akan melihat siapa aku sebenarnya, dan pada akhirnya, aku akan mereka tolak. Ketika membayangkan ini, aku pun takut. Jika aku tidak bertobat, hanya masalah waktu saja sebelum aku diberhentikan. Bahkan yang lebih buruk lagi, aku akan dibenci dan ditinggalkan oleh Tuhan.

Setelah itu, aku mencari kebenaran-kebenaran yang relevan dengan masalahku. Aku membaca firman Tuhan: "Katakan kepada-Ku, bagaimana engkau bisa menjadi seseorang yang biasa dan normal? Bagaimana engkau, seperti yang Tuhan firmankan, dapat menempatkan dirimu di posisi yang benar sebagai makhluk ciptaan, tidak berusaha untuk menjadi sosok yang hebat atau manusia super? Bagaimana seharusnya engkau menerapkan menjadi orang biasa dan normal? Bagaimana ini bisa dicapai? Siapa yang ingin berbicara? (Pertama-tama, kami harus mengakui bahwa kami adalah orang biasa, orang yang sangat awam, dan bahwa ada banyak hal yang tidak kami mengerti, tidak kami pahami, dan tidak dapat kami ketahui yang sebenarnya. Kami harus mengakui bahwa kami rusak dan bercacat cela. Setelah itu, kami harus memiliki hati yang tulus dan sering datang ke hadapan Tuhan untuk mencari.) Pertama, jangan memberikan gelar pada dirimu sendiri lalu membiarkannya mengekangmu, dengan berkata, 'Aku adalah pemimpin, aku adalah pemimpin tim, aku adalah pengawas, atau aku adalah orang yang paling berpengetahuan dan mahir secara teknis di bidang ini.' Jangan terhambat oleh gelar yang kauberikan sendiri. Begitu ini terjadi, itu akan mengikatmu dengan erat; perkataan dan tindakanmu akan terpengaruh olehnya, begitu pula pemikiran dan penilaianmu yang normal. Engkau harus membebaskan dirimu dari kekangan status ini. Pertama, turunlah dari posisi gelar resmi ini, dan ambillah posisi sebagai orang biasa. Pola pikirmu kemudian akan menjadi agak normal. Engkau juga harus mengakui: 'Aku tidak tahu bagaimana melakukan ini, dan aku tidak memahami itu—aku harus melakukan riset dan belajar,' atau 'Aku belum pernah mengalami ini, jadi aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.' Ketika engkau bisa mengatakan apa yang sebenarnya kaupikirkan dan berbicara dengan jujur seperti ini, engkau akan memiliki nalar yang normal. Jika engkau membiarkan orang lain mengetahui dirimu yang sebenarnya, mereka akan memiliki pandangan yang normal tentang dirimu, dan engkau tidak akan perlu berpura-pura. Engkau tidak akan lagi merasa sangat tertekan, dan engkau akan mampu berkomunikasi dengan orang lain secara normal. Hidup seperti ini bebas dan mudah. Siapa pun yang merasa hidup ini terlalu melelahkan, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Jangan berpura-pura atau menyembunyikan apa pun. Pertama-tama, engkau harus membuka diri tentang apa yang kaupikirkan di dalam hatimu dan pemikiranmu yang sebenarnya, sehingga semua orang menyadari dan memahaminya. Dengan cara ini, kekhawatiranmu, serta penghalang dan kecurigaan antara engkau dan orang lain, semuanya akan dihilangkan. Selain itu, ada hal lain yang juga mengikatmu, yaitu engkau selalu menganggap dirimu sebagai pemimpin tim, pemimpin dan pekerja, seseorang yang memiliki gelar, dengan status dan kedudukan—jika engkau kemudian berkata bahwa engkau tidak memahami hal ini dan tidak mampu melakukan hal itu, bukankah itu merendahkan dirimu sendiri? Ketika engkau melepaskan belenggu-belenggu ini di dalam hatimu, ketika engkau berhenti menganggap dirimu sebagai pemimpin atau pekerja, dan ketika engkau berhenti berpikir bahwa engkau lebih baik daripada orang lain dan sebaliknya merasa bahwa engkau adalah orang biasa, sama seperti orang lain, dan bahwa ada beberapa bidang di mana engkau lebih rendah daripada orang lain, maka ketika engkau mempersekutukan kebenaran dan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dengan pola pikir ini, baik hasil maupun suasananya akan berbeda. ... Setiap orang, entah pemimpin dan pekerja atau saudara-saudari, adalah manusia biasa. Mereka semua harus menerapkan prinsip ini. Setiap orang mempunyai andil dan tanggung jawab dalam menerapkan firman Tuhan. Mungkin engkau adalah seorang pemimpin, pekerja, ketua tim, pengawas, atau orang yang sangat dihormati dalam kelompok. Siapa pun dirimu, engkau harus belajar menerapkan dengan cara seperti ini. Lepaskan gelar dan aura kemuliaan yang kaukenakan di kepalamu, lepaskan mahkota yang telah orang lain anugerahkan kepadamu. Kemudian, engkau akan merasa mudah untuk menjadi manusia yang normal dan, dengan mudah, engkau akan bertindak berdasarkan hati nurani dan akal sehat. Tentu saja, setelah itu, tidak cukup sekadar mengakui bahwa engkau tidak mengerti dan tidak tahu. Ini bukanlah solusi akhir yang dapat menyelesaikan masalah. Apa solusi akhirnya? Bawalah segala persoalan dan kesulitan ke hadapan Tuhan untuk kaudoakan dan kaucari. Tidaklah cukup jika satu orang berdoa sendirian. Sebaliknya, engkau harus memanjatkan doa mengenai masalah ini dan memikul tanggung jawab serta kewajiban ini bersama semua orang. Itulah cara yang luar biasa untuk melakukan segala hal! Engkau akan terhindar dari upaya menjadi sosok yang hebat dan manusia super. Jika engkau mampu melakukan hal ini, secara tidak sadar engkau akan mengambil posisi yang tepat sebagai makhluk ciptaan dan melepaskan dirimu dari kekangan ambisi dan keinginan untuk menjadi manusia super dan tokoh yang hebat" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menghargai Firman Tuhan adalah Landasan Kepercayaan kepada Tuhan"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami maksud Tuhan dan mendapatkan jalan penerapan serta jalan masuk. Untuk melepaskan diri dari belenggu dan kekangan status, aku harus merendahkan diriku, berhenti menganggap tinggi diriku, dan mengakui bahwa aku hanyalah orang biasa, tidak lebih baik dari siapa pun. Aku juga harus berperilaku dengan membumi sesuai dengan tuntutan Tuhan dan menjadi orang biasa yang normal dengan nurani dan nalar. Tuhan menganugerahiku kesempatan menjadi pengawas agar punya peluang untuk melatih diri. Namun, karena tingkat pertumbuhanku yang sebenarnya belum berubah dan jalan masuk kehidupanku dangkal, aku tidak bisa memahami dengan benar hal-hal yang belum pernah kualami, dan beberapa masalah terlalu rumit untuk kuselesaikan—semua itu sangatlah normal. Aku harus menjadi orang yang jujur seperti yang Tuhan tuntut, serta membuka diri dan mencari kebenaran bersama semua orang untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. Setelah itu, aku mulai berlatih dan memiliki jalan masuk kehidupan sesuai dengan tuntutan Tuhan. Setiap kali aku menghadapi sesuatu yang tidak bisa kulihat dengan jelas, aku akan berterus terang, mengungkapkan apa adanya serta mencari dan memiliki jalan masuk bersama para pemimpin tim.

Kemudian, aku pergi ke pertemuan dengan para pemimpin tim penyiraman. Sebelum dimulai, aku berpikir, "Kami sudah lama tidak bertemu secara langsung karena lingkungan penangkapan PKT yang berbahaya. Saudara-saudari pasti memiliki banyak kesulitan dan masalah yang perlu dipersekutukan dan diselesaikan. Bagaimana jika aku tidak bisa memahami yang sebenarnya dan menyelesaikannya? Apakah mereka akan memandang rendah diriku?" Aku menyadari bahwa aku sedang memikirkan reputasi dan status lagi, jadi aku berdoa dalam hatiku, memohon kepada Tuhan untuk menjaga hatiku agar aku bisa membuka diri tentang kekuranganku serta mencari dan memiliki jalan masuk bersama semua orang. Setelah berdoa, aku merasa sedikit lebih tenang. Aku pertama-tama menanyakan tentang keadaan para pemimpin tim. Aku mendengar salah satu dari mereka memiliki masalah dengan cara pemimpin menindaklanjuti pekerjaan. Aku tidak tahu harus menyelesaikannya dengan aspek firman Tuhan yang mana, jadi aku berterus terang kepada semua orang dan meminta mereka untuk mencari kebenaran bersama guna membantu menemukan solusinya. Pada saat itu, aku teringat akan kebenaran dalam aspek tentang bagaimana menyikapi pengawasan orang lain, jadi aku menemukannya dan kami membacanya bersama. Setelah membacanya, semua orang mengatakan bahwa firman Tuhan ini sangat bagus dan bisa menyelesaikan masalah ini. Meskipun masih memiliki banyak kekurangan, saat aku berhenti berpura-pura dan menyamar demi reputasi dan status serta mau menerapkan sesuai dengan firman Tuhan, aku bisa menerima bimbingan Tuhan, dan menyelesaikan beberapa masalah para pemimpin tim. Terkadang, dengan berterus terang dan mencari, aku juga bisa mendapatkan beberapa terang dan wawasan dari pemahaman berdasarkan pengalaman saudara-saudari. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan.

Kemudian, peringatan dari saudara-saudari membuatku menyadari bahwa dangkalnya jalan masuk kehidupanku serta ketidakmampuanku menyelesaikan masalah para pemimpin tim terutama adalah karena dalam tugasku, aku selalu hanya fokus melakukan berbagai hal dan bukannya jalan masuk kehidupanku. Jika terus begini, aku pasti tidak akan bisa melaksanakan tugasku dengan baik, jadi aku mencari firman Tuhan tentang hal ini. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Menerima kebenaran dan mengejar kebenaran adalah jalan yang paling realistis dan nyata untuk memperoleh keselamatan. Jika engkau tidak dapat memperoleh kebenaran, engkau percaya kepada Tuhan dengan sia-sia. Mereka yang mengucapkan kata-kata dan doktrin yang kosong, yang selalu meneriakkan slogan, melontarkan ide yang muluk-muluk, dan selalu mematuhi aturan, tanpa berfokus pada menerapkan kebenaran, mereka tidak memperoleh apa pun, tidak peduli berapa tahun mereka percaya. Siapakah orang yang memperoleh sesuatu? Mereka yang melaksanakan tugasnya dengan tulus dan bersedia menerapkan kebenaran, mereka yang memperlakukan apa yang telah Tuhan amanatkan kepada mereka sebagai misi mereka, mereka yang rela menghabiskan seluruh hidup mereka mengorbankan diri untuk Tuhan dan tidak bersiasat demi kepentingan mereka sendiri, dan mereka yang berperilaku dengan cara yang nyata dan realistis, serta tunduk pada pengaturan Tuhan. Dalam melaksanakan tugasnya, orang-orang semacam itu mampu memahami prinsip-prinsip kebenaran, dengan saksama melaksanakan setiap tugas dengan baik, dan mencapai hasil bersaksi tentang Tuhan, serta memenuhi maksud-maksud Tuhan. Ketika menghadapi kesulitan saat melaksanakan tugas, mereka mampu berdoa kepada Tuhan dan berusaha memahami maksud-maksud Tuhan, mereka mampu tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, dan mereka mampu mencari kebenaran serta menerapkan kebenaran saat melakukan sesuatu. Mereka tidak meneriakkan slogan atau melontarkan ide yang muluk-muluk, tetapi hanya berfokus melakukan segala sesuatu dengan cara yang nyata dan realistis, serta menangani hal-hal dengan teliti berdasarkan prinsip. Mereka sepenuh hati dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, dan mengalami segala sesuatu dengan hati mereka. Dalam sebagian besar hal, mereka mampu menerapkan kebenaran, memperoleh pengetahuan dan pemahaman melalui pengalaman, serta memetik pelajaran dan memperoleh hasil yang nyata. Ketika mereka memiliki pemikiran yang tidak benar atau keadaan yang salah, mereka mampu berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Kebenaran apa pun yang mereka pahami, mereka memiliki pengalaman dan wawasan tentangnya, dan mampu membagikan kesaksian pengalaman mereka. Orang-orang semacam itu pada akhirnya dapat memperoleh kebenaran. Mereka yang tidak peduli, di dalam hatinya tidak pernah merenungkan hal-hal tentang menerapkan kebenaran. Mereka hanya berfokus mengerahkan upaya dan mengambil tindakan, serta menonjolkan diri dan pamer, tanpa pernah mencari cara untuk menerapkan kebenaran. Ini membuat mereka sulit untuk memperoleh kebenaran. Pikirkanlah—orang macam apa tepatnya yang dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran? (Mereka yang bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu, yang pragmatis, dan yang melaksanakan tugas mereka dengan cara yang nyata dan realistis.) Benar. Hanya mereka yang melaksanakan tugas mereka dengan cara yang nyata dan realistis serta dengan tekun mencari kebenaran yang dapat memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan. Selain itu, orang-orang semacam itu berfokus pada apa yang nyata dalam segala hal; mereka relatif pragmatis, mencintai hal-hal positif, mampu menerima kebenaran dan menerapkan kebenaran, dan pada akhirnya mereka dapat memperoleh kebenaran dan mencapai ketundukan kepada Tuhan. Orang macam manakah engkau semua? (Orang yang tidak praktis, yang selalu ingin melakukan sesuatu demi penampilan, dan mengandalkan tipu muslihat.) Adakah yang bisa diperoleh dengan melakukan hal ini? (Tidak ada.) Sudahkah engkau menemukan cara untuk memecahkan masalahmu? Jika engkau mampu menyadari masalahmu dan mulai membalikkan keadaan, akan tahukah engkau ketika gagasan, imajinasi, dan perspektifmu tentang berbagai hal telah berubah? (Kurasa hal-hal itu sudah agak berubah.) Asalkan ada hasil dan kemajuan, engkau harus mempersekutukannya dan membiarkan orang lain belajar darinya. Meskipun pengalamanmu terbatas, itu tetap merupakan pengalaman pertumbuhan dalam hidup. Proses pertumbuhan dalam hidupmu adalah pengalamanmu dalam percaya kepada Tuhan, dalam kehidupanmu yang bertumbuh dengan mengalami firman Tuhan. Pengalaman-pengalaman ini paling berharga" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Dalam Kepercayaan kepada Tuhan, yang Terpenting adalah Menerapkan dan Mengalami Firman-Nya"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari jalan masuk kehidupanku dangkal karena, dalam tugasku, aku biasanya hanya berfokus pada mengerahkan upaya dan bekerja serta meningkatkan hasil pekerjaan agar orang lain memandang tinggi diriku. Aku tidak berfokus mencari kebenaran dan memahami maksud Tuhan dalam segala hal, serta menerapkan sesuai dengan tuntutan-Nya. Inilah sebabnya hidupku tidak banyak bertumbuh meskipun sudah lama percaya kepada Tuhan. Aku teringat bagaimana Paulus, yang meskipun percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tidak pernah berfokus untuk merenungkan dan mengenal dirinya, dan sama sekali tidak memahami watak rusaknya. Meskipun dia banyak menderita dalam memberitakan Injil, natur menentang Tuhan di dalam dirinya tidak berubah sama sekali, dan dia pada akhirnya disingkirkan. Namun, Petrus berfokus untuk berusaha memahami maksud Tuhan, baik dalam hal besar maupun kecil. Dia tidak hanya memahami kerusakan dan kekurangannya sendiri, tetapi juga berusaha bertindak sejalan dengan maksud Tuhan dalam segala hal, dan pada akhirnya, dia mendapatkan perkenanan Tuhan. Jalan yang Petrus tempuh dalam kepercayaannya kepada Tuhan adalah untuk mengejar jalan masuk kehidupan. Hidupnya berharga dan bermakna. Ke depannya, aku tidak bisa hanya berfokus melakukan pekerjaan lahiriah dalam tugasku; aku harus berfokus pada jalan masuk kehidupan dan perubahan watakku. Setelah itu, aku mulai dengan sadar merenungkan watak rusak mana yang kuperlihatkan dalam setiap hal, dan aku akan mencari firman Tuhan yang relevan dengan masalahku serta membuat catatan. Setelah beberapa waktu menerapkan seperti ini, aku mendapatkan beberapa pemahaman tentang watak rusakku. Aku lebih merasakan sedikit kelegaan dan damai di hatiku, dan aku bisa melihat berbagai hal dengan lebih jelas dari sebelumnya. Sedikit kemajuan yang kubuat ini semuanya adalah hasil dari bimbingan firman Tuhan. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Harga dari Kemunafikan

Pada bulan Juni 2021, aku terpilih menjadi pemimpin gereja. Saat itu, sejujurnya ini cukup di luar dugaan karena aku masih lumayan muda...

Hubungi kami via WhatsApp