Apa yang Tersembunyi Di Balik "Citra Baik"
Oleh Saudari Wei Chen, KoreaPada Desember 2019, aku bekerja sebagai diaken penginjilan di gereja. Setelah beberapa waktu, aku sadar ketika...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada tahun 2021, saat gereja sedang melakukan pekerjaan pembersihan, aku mendapati bahwa ketika pemimpin distrik, Li Jing, mengetahui ada orang yang memperlihatkan watak rusak—seperti congkak dan merasa diri benar, egois, memikirkan daging, atau suka berdebat—dia tidak akan bersekutu untuk membantu mereka, tetapi akan mengeluarkan mereka tanpa persetujuan bertanda tangan lebih dari 80% anggota gereja. Dia juga menyita buku-buku firman Tuhan milik mereka. Saudara-saudari semuanya hidup dalam ketakutan. Aku juga khawatir dengan situasiku sendiri. Aku tahu watakku cukup congkak, dan aku kurang terbeban dalam tugasku. Terkadang aku bahkan memikirkan dagingku dan bersikap asal-asalan. Melihat cara Li Jing menyelidiki orang, kurasa giliranku hanya menunggu waktu saja. Suatu kali, aku berterus terang kepada Li Jing tentang keadaanku, dan dia berkata, "Ini adalah satu langkah dalam pekerjaan Tuhan. Setiap orang harus mengalami dikeluarkan. Tidak perlu takut!" Saat mendengarnya berkata begitu, aku merasa ada yang tidak beres. Selama waktu Tuhan bekerja dan menyelamatkan umat manusia, setiap orang akan memperlihatkan beberapa watak rusak. Namun, selama seseorang bisa menerima kebenaran dan mampu bertobat serta berubah, mereka bisa diselamatkan. Tuhan tidak melihat perwujudan kerusakan sesaat dari seseorang; Dia mengukur dan menggolongkan mereka berdasarkan perilaku konsisten dan esensi natur mereka. Mereka yang secara konsisten menyebabkan kekacauan dan gangguan di gereja, yang banyak berbuat jahat serta menolak untuk bertobat—esensi mereka adalah orang jahat, dan mereka harus dikeluarkan dan disingkirkan. Mengeluarkan seseorang hanya karena perwujudan kerusakan sesaat adalah hal yang tidak sesuai dengan prinsip! Namun, kemudian aku punya pikiran lain: "Bagaimanapun, aku tidak melaksanakan tugas semacam itu, jadi aku tidak memahami banyak prinsip. Jika aku bicara sembarangan, mungkin akulah yang selanjutnya akan diselidiki. Bagaimana jika aku dikeluarkan? Perjalanan imanku akan berakhir saat itu. 'Makin sedikit masalah, makin baik'; 'Kehati-hatian adalah pangkal keselamatan.' Bagaimana Li Jing dan yang lainnya menanganinya adalah urusan mereka; itu tidak ada hubungannya denganku. Asalkan bukan aku yang diselidiki, itu sudah cukup bagiku." Jadi, aku tidak berkata apa-apa. Sejak saat itu, kapan pun ada yang berbicara tentang mengeluarkan orang, aku akan menghindari topik itu, takut jika salah bicara akan membuatku menjadi target penyelidikan.
Suatu hari, aku menerima surat dari Li Jing yang memintaku menulis evaluasi tentang Wang Yu dengan berdasarkan beberapa perwujudan orang yang tidak mengejar kebenaran, yang dirangkumnya di surat itu. Aku cukup terkejut saat membacanya. Aku sudah bekerja sama dengan Wang Yu selama lebih dari tiga tahun. Dia selalu sangat proaktif dalam tugasnya dan memang memiliki watak yang agak congkak, tetapi dia tidak pernah mengekang siapa pun atau mengganggu pekerjaan gereja. Mengapa dia diselidiki? Aku benar-benar tidak mengerti. Surat itu menginstruksikanku untuk menuliskan perwujudan sikap tidak mengejar kebenaran dari Wang Yu, termasuk tidak menerima pemangkasan, suka berdebat, dan melindungi kepentingannya sendiri. Surat itu juga mengatakan aku tidak boleh menulis tentang hal lain. Aku berpikir dalam hati, "Dalam tingkatan tertentu, semua orang pun memperlihatkan kerusakan semacam ini. Jika aku menulis evaluasi hanya berdasarkan ini, hasilnya akan sepenuhnya negatif. Ini tidak benar! Bukankah evaluasi seharusnya didasarkan pada apa yang kau lihat secara pribadi, laporan yang objektif dan adil tentang kelebihan dan kekurangan seseorang? Mengapa mereka hanya mengizinkanku menuliskan kekurangannya dan bukan kelebihannya? Sepertinya pemimpin tidak memiliki kesan yang baik terhadap Wang Yu. Kali ini, dia benar-benar terancam akan dikeluarkan." Saat memikirkan ini, aku mulai mengkhawatirkan Wang Yu. Berulang kali kubaca surat itu, aku membatin, "Li Jing adalah orang yang terutama menindaklanjuti pekerjaan ini. Dia adalah pemimpin distrik, dan aku hanyalah orang percaya biasa. Aku bukan tandingannya. Di masa genting seperti ini, sebaiknya aku tidak mencari masalah. Lebih baik kutulis saja." Namun, ketika mulai menulis, aku merasa buntu. Aku teringat bagaimana ketika Wang Yu dipangkas, dia terkadang membela diri dan membantah, tetapi setelah itu, dia mampu mencari kebenaran, merenungkan dirinya sendiri, dan memperoleh pengenalan diri. Dia juga telah menunjukkan beberapa perubahan dan jalan masuk, dan pada umumnya dia menjaga kepentingan gereja. Bukankah ini semua perwujudan dari mengejar kebenaran? Namun, Li Jing hanya ingin aku menuliskan perwujudan Wang Yu yang tidak mengejar kebenaran. Bagaimana aku harus menulisnya? Lalu aku punya pikiran lain: "Li Jing mengenal Wang Yu dengan baik. Apakah dia meminta informasi ini dariku karena dia menemukan masalah pada dirinya? Kalau tidak, kenapa dia menyelidikinya? Aku memahami sangat sedikit kebenaran, kemampuan membedakanku buruk, dan sudut pandangku belum tentu akurat. Lebih baik aku tidak sembarangan mengutarakan pendapatku. Dia adalah pemimpin tingkat yang lebih tinggi; dia telah menangani lebih banyak masalah dan berinteraksi dengan lebih banyak orang. Mungkin dia melihat hal-hal dari sudut pandang yang berbeda dariku. Lagipula, bagaimana jika aku mengatakan sesuatu yang tidak akurat? Li Jing akan berkata, 'Kau sudah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan dan masih tidak memahami kebenaran. Kau sudah bekerja sama dengan Wang Yu begitu lama dan tidak memiliki sedikit pun kemampuan membedakan? Kau benar-benar orang bingung!' Saat ini, Li Jing sedang menyelidiki siapa pun yang memperlihatkan kerusakan. Jika dia melihatku sebagai orang yang bingung dan kurang memiliki kemampuan membedakan, apakah dia akan menyelidikiku juga? Bukankah aku akan berada dalam bahaya kalau begitu? Aku bisa dikeluarkan kapan saja, dan kesempatanku untuk memperoleh keselamatan akan hancur. Aku harus berhati-hati! Hal yang paling mendesak saat ini adalah menjaga diriku sendiri dan tidak mengutarakan pendapatku. Jika aku menyingkapkan masalahku dan dikeluarkan, aku tidak akan memiliki kesudahan yang baik." Jadi, aku berusaha memikirkan cara menuliskan perwujudan Wang Yu yang tidak mengejar kebenaran, sebagaimana diminta oleh surat itu. Namun, makin lama menulis, makin aku merasa bahwa Wang Yu hanya memperlihatkan beberapa kerusakan, dan dia sudah merenungkan serta mengenal dirinya setelah itu. Aku berhenti menulis, berpikir, "Hal-hal yang kutulis ini bukanlah perwujudannya yang tidak mengejar kebenaran. Bukankah ini justru bertentangan dengan Li Jing?" Jadi, aku berkompromi dan menulis sedikit lagi tentang perwujudan kerusakan Wang Yu. Namun, begitu tiba di bagian akhir, di mana aku harus menyatakan pandanganku sendiri, aku kembali ragu. "Jika aku mengatakan Wang Yu tidak mengejar kebenaran, itu akan bertentangan dengan hati nuraniku. Membungkam hati nurani dan tidak mengatakan yang sebenarnya adalah pelanggaran di hadapan Tuhan! Namun, jika kukatakan dia mengejar kebenaran, itu akan berbeda dari pandangan Li Jing. Jika dia memiliki penilaian buruk terhadapku dan kemudian menyelidikiku, itu akan berbahaya bagiku. Lebih baik aku menjaga diriku sendiri dan tidak terseret ke dalam masalah ini." Jadi, aku menulis: "Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas." Pikirku, "Apakah Wang Yu mengejar kebenaran atau tidak, terserah Li Jing untuk menganalisis dan memutuskannya. Aku tidak akan mengambil kesimpulan." Saat itu, aku bahkan menganggap diriku cukup pintar. Begitulah, evaluasi itu kuserahkan. Segera setelah itu, Wang Yu diberhentikan dari tugasnya memberitakan Injil karena alasan yang tidak diketahui. Selama waktu itu, aku melihat bahwa dia agak negatif dan tidak banyak bicara. Aku merasa sedikit tidak nyaman, tetapi kemudian aku berpikir, "Bukan evaluasiku saja yang menyebabkan ini," jadi aku tidak merenungkan masalahku sendiri.
Beberapa waktu kemudian, seorang pemimpin tingkat atas datang untuk menyelidiki situasi pekerjaan pembersihan itu. Mereka mendapati bahwa beberapa saudara-saudari telah dikeluarkan hanya karena memperlihatkan kerusakan, dan ini adalah akibat pemimpin distrik Li Jing dan mereka yang bertanggung jawab atas pekerjaan pembersihan yang bertindak sewenang-wenang dan semaunya sendiri, tidak sesuai dengan prinsip. Setelah dipastikan, saudara-saudari yang telah dikeluarkan secara keliru ini diterima kembali ke dalam gereja. Adapun Li Jing, dia tidak menunjukkan penyesalan atas apa yang telah dilakukannya dan bahkan membantah serta mencoba membenarkan tindakannya. Pada akhirnya, dia digolongkan sebagai antikristus dan diusir. Beberapa staf yang bertanggung jawab atas pekerjaan pembersihan juga diberhentikan. Setelah Wang Yu kembali ke gereja, dia melaksanakan tugas tulis-menulis. Selama pertemuan, Wang Yu membagikan pemahaman berdasarkan pengalamannya pada waktu-waktu itu. Dia berkata bahwa ketika dia pertama kali memperhatikan perubahan sikap saudara-saudari terhadapnya, dia tahu dia sedang diselidiki. Bayangan bahwa dia kini menghadapi kemungkinan dikeluarkan setelah bertahun-tahun beriman, bahwa perjalanan imannya akan segera berakhir, membuatnya sungguh merasa putus asa, pedih, dan tersiksa. Dia tidak bisa makan atau tidur. Namun, dia tahu bahwa menghadapi situasi seperti itu bukanlah suatu kebetulan, dia pun bersedia untuk tunduk, memetik pelajaran, serta merenungkan dan mengenal dirinya sendiri. Setelah itu, dia merenungkan beberapa perwujudannya sendiri yang tidak menerima kebenaran dan memiliki watak congkak. Dia berkata bahwa dahulu dia merasa telah melaksanakan lebih banyak tugas daripada orang lain, memahami lebih banyak kebenaran dibanding mereka, dan selalu merasa dirinya cukup baik. Dia bahkan memandang rendah saudara-saudari ketika dia melihat penyimpangan dalam tugas mereka. Dia berkata jika dia tidak diberhentikan dari tugasnya kali ini, dia tidak akan pernah benar-benar merenungkan dirinya sendiri. Dia merasa bahwa karena begitu rusak dan memberontak, sekalipun dia dikeluarkan, itu adalah kebenaran Tuhan, dan dia tidak seharusnya mengeluh sedikit pun.... Mendengar persekutuannya, untuk beberapa lama aku sangat gelisah dan begitu menyesali diri. Aku bertanya pada diriku sendiri, "Bukankah aku ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang dialami Wang Yu selama masa ini? Bagaimana tindakanku dalam perkara ini? Mengapa aku tidak menuliskan pemikiranku yang sebenarnya? Mengapa aku menulis, 'Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas?' Mengapa aku tidak memiliki rasa keadilan? Bagaimana Tuhan menggolongkan perilaku semacam ini?" Saat memikirkan hal-hal ini, rasanya seperti ada jarum yang menusuk hatiku. Aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku jelas tahu bahwa Wang Yu bukanlah orang yang tidak mengejar kebenaran, tetapi aku tidak menyatakan pandanganku dengan jelas. Watak rusak apa yang mengendalikanku? Ya Tuhan, mohon tuntun aku untuk mengenal diriku sendiri."
Suatu hari, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang sangat menyentuh hatiku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada beberapa penyenang orang di setiap gereja. ... Orang-orang ini tidak mengejar kebenaran; mereka hanya berusaha menjalani kehidupan yang mudah, mendambakan kenyamanan daging. Mereka terlalu egois dan terlalu licik. Apakah ada banyak orang-orang semacam itu di tengah masyarakat? Partai politik mana pun yang berkuasa, siapa pun yang menjabat, mereka disukai, mereka dapat menangani hubungan sosial mereka dengan sangat baik, dan mereka hidup dengan nyaman; gerakan politik apa pun yang muncul, mereka tidak akan terjebak di dalamnya. Orang-orang macam apa mereka ini? Mereka adalah orang-orang yang paling licik, paling lihai, yang dikenal sebagai 'belut yang licin' dan 'ular tua'. Mereka hidup berdasarkan falsafah Iblis, tidak memiliki prinsip sedikit pun. Siapa pun yang berkuasa, para penyenang orang akan menuruti mereka, menyanjung mereka, dan memuji mereka. Para penyenang orang tidak melakukan apa pun selain membela atasannya, dan tidak pernah menyinggung mereka. Betapapun banyaknya kejahatan yang dilakukan atasannya, mereka tidak melawan maupun mendukungnya, tetapi menyimpan pemikiran mereka di dalam hati. Mereka sangat disukai, tidak soal siapa yang berkuasa. Iblis dan raja-raja setan menyukai orang-orang semacam ini. Mengapa raja-raja setan menyukai orang-orang semacam ini? Karena orang-orang semacam ini tidak menghancurkan pekerjaan raja-raja setan dan tidak menjadi ancaman bagi mereka. Orang-orang semacam ini tidak berprinsip dan tidak memiliki acuan dalam berperilaku, serta tidak memiliki integritas dan martabat; mereka hanya mengikuti tren-tren masyarakat dan tunduk di hadapan raja-raja setan, menyesuaikan diri dengan selera raja-raja setan. Bukankah ada juga orang-orang semacam itu di gereja? Dapatkah orang-orang semacam itu menjadi pemenang? Apakah mereka prajurit Kristus yang baik? Apakah mereka adalah saksi bagi Tuhan? Ketika orang-orang jahat dan antikristus memunculkan diri mereka dan mengganggu pekerjaan gereja, mampukah orang-orang semacam itu bangkit dan berperang melawan mereka, menyingkapkan, mengenali, dan meninggalkan mereka, mengakhiri perbuatan jahat mereka serta menjadi kesaksian bagi Tuhan? Mereka tentu saja tidak mampu. Belut-belut yang licin ini bukanlah mereka yang akan Tuhan sempurnakan atau bukan mereka yang akan Dia selamatkan. Mereka tidak pernah menjadi kesaksian bagi Tuhan atau menjunjung tinggi kepentingan rumah-Nya. Di mata Tuhan, orang-orang ini bukanlah mereka yang mengikuti atau tunduk kepada-Nya, melainkan mereka yang secara membabi buta membuat masalah, anggota gerombolan Iblis. Merekalah yang akan Dia singkirkan ketika pekerjaan-Nya selesai. Tuhan tidak menghargai orang-orang yang hina semacam itu. Mereka tidak memiliki kebenaran maupun hidup; mereka adalah binatang buas dan setan-setan; mereka tidak layak menerima keselamatan Tuhan dan menikmati kasih-Nya. Jadi, Tuhan membuang dan menyingkirkan orang-orang semacam itu dengan mudah, dan gereja harus segera mengeluarkan mereka sebagai pengikut yang bukan orang percaya. ... Orang-orang semacam ini menyusup ke dalam rumah Tuhan hanya untuk menyaksikan kehebohan dan membuat masalah secara membabi buta. Mereka tidak memiliki rasa keadilan dan tidak memiliki rasa tanggung jawab; mereka bahkan tidak memiliki simpati terhadap orang-orang baik yang dirugikan oleh orang-orang jahat. Menyebut orang-orang semacam itu sebagai setan-setan dan Iblis adalah hal yang paling tepat. Jika seseorang yang memiliki rasa keadilan menyingkapkan orang-orang jahat, mereka bahkan tidak akan menyemangati atau mendukungnya. Jadi, jangan pernah memercayai orang-orang ini; mereka adalah belut yang licin, bunglon, ular tua. Mereka bukanlah orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, melainkan hamba-hamba Iblis. Orang-orang ini tidak akan pernah dapat diselamatkan, dan Tuhan tidak menginginkan mereka; inilah keinginan Tuhan yang jelas" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (19)"). Tuhan menyingkapkan bahwa orang licik itu tidak tulus kepada siapa pun; mereka licin dan licik, dan mereka ahli dalam melihat ke mana arah angin bertiup. Mereka tidak memiliki prinsip atau standar batasan dalam cara berperilakunya serta tidak dapat dipercaya. Khususnya ketika kubaca firman Tuhan ini: "Jangan pernah memercayai orang-orang ini; mereka adalah belut yang licin, bunglon, ular tua. Mereka bukanlah orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, melainkan hamba-hamba Iblis. Orang-orang ini tidak akan pernah dapat diselamatkan, dan Tuhan tidak menginginkan mereka; inilah keinginan Tuhan yang jelas," hatiku rasanya sangat tertusuk. Aku merasa diriku persis dengan orang macam itu. Saat merenungkan diri, aku sadar bahwa setelah Li Jing mengeluarkan saudara-saudari yang hanya memperlihatkan beberapa kerusakan, aku menjadi khawatir bahwa aku juga akan dikeluarkan suatu hari nanti. Jadi, aku mulai melihat ke mana arah angin bertiup. Aku melihat dengan jelas bahwa Li Jing tidak mengikuti prinsip dalam mengeluarkan orang, dan aku memiliki keraguan di hatiku ketika mendengar kekeliruan yang dia sebarkan. Namun, aku bertindak seperti pengecut, bersembunyi di dalam cangkangku dan tidak menilai apa yang benar atau salah. Aku bahkan akan menghindari topik itu dan tetap diam dengan hati-hati setiap kali mendengar seseorang membahas pekerjaan pembersihan. Ketika Li Jing memintaku menulis evaluasi tentang Wang Yu, alih-alih menuliskan fakta situasi yang kupahami berdasarkan prinsip, aku mencoba menebak pendapat Li Jing tentangnya. Aku takut jika pandanganku berbeda darinya, aku juga akan diselidiki. Jadi aku mengambil jalan tengah, menulis beberapa hal baik dan beberapa hal buruk, hanya menggambarkan urutan kejadian tanpa menyatakan pandanganku sendiri. Aku tahu betul bahwa Wang Yu seharusnya tidak menjadi target untuk dikeluarkan, dan aku tahu bahwa Li Jing tidak mengikuti prinsip dalam menyelidiki dan mengeluarkan orang. Namun, aku menjilat pihak yang punya kuasa, bertindak berdasarkan falsafah Iblis seperti "Orang bijak mengalah pada keadaan" dan "Orang yang bijaksana pandai melindungi diri." Demi melindungi diriku sendiri, aku mengambil jalan tengah, berusaha untuk tidak menyakiti atau menyinggung siapa pun, dan hanya berkata aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dengan begitu, jika salah mengeluarkan Wang Yu, itu akan menjadi tanggung jawab Li Jing, dan itu tidak ada hubungannya denganku. Aku sangat licin! Bukankah aku hanyalah orang yang licin bagai belut? Dalam hal sekecil menulis evaluasi, aku memeras otak mencoba menyenangkan semua orang. Aku begitu licin dan licik! Agar kepentinganku terhindar dari kerugian, aku memanipulasi pikiran dan menggunakan tipu daya, tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan, dan sebaliknya mengatakan hal-hal yang samar dan kabur. Apa bedanya itu dengan cara Iblis berbicara? Aku teringat bagaimana Tuhan bertanya kepada Iblis: "Dari mana engkau?" (Ayub 1:7). Iblis kemudian menjawab, "Dari berkeliling ke sana ke mari di bumi, dan dari menjelajahinya ke atas ke bawah" (Ayub 1:7). Jawaban Iblis atas pertanyaan Tuhan itu ambigu, sehingga mustahil untuk memahami kebenarannya. Aku juga sama. Aku jelas tahu bahwa Wang Yu mengejar kebenaran dan aku bahkan telah menuliskan beberapa perwujudannya dalam mengejar kebenaran, tetapi aku masih mengatakan hal-hal yang ambigu dan samar seperti "Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas." Aku begitu licin dan licik! Makin kurenungkan, makin aku jijik dengan diriku sendiri. Aku merasa sangat malu dan terhina hingga tidak sanggup menatap Wang Yu.
Selama saat teduhku, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang menyingkapkan para pemimpin palsu yang sangat relevan dengan keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada juga pemimpin palsu yang memiliki sedikit kualitas dan mampu melaksanakan sedikit pekerjaan, dan yang mengetahui sedikit tentang prinsip untuk menangani setiap jenis orang. Namun, mereka takut menyinggung orang, jadi ketika mereka menemukan orang-orang jahat dan antikristus yang menyebabkan kekacauan serta gangguan, mereka tidak berani menyingkapkan, menghentikan, atau membatasi mereka. Mereka hidup berdasarkan falsafah Iblis dan membiarkan hal-hal berlalu jika tidak memengaruhi seseorang secara pribadi. Mereka sama sekali tidak peduli tentang seperti apa hasil pekerjaan gereja, atau seberapa banyak dampak yang timbul terhadap jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan; mereka menganggap hal-hal seperti itu tidak ada hubungannya dengan mereka. Jadi, selama masa jabatan pemimpin palsu semacam itu, tatanan kehidupan bergereja yang normal tidak dapat dipertahankan, dan tugas serta jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan menjadi tidak terlindungi. Apa natur dari masalah ini? Ini bukan berarti bahwa pemimpin palsu ini tidak mampu bekerja karena kualitas mereka buruk, melainkan karena kemanusiaan mereka buruk, dan mereka tidak berhati nurani serta tidak bernalar, sehingga mereka tidak melakukan pekerjaan nyata. Dalam hal apa pemimpin palsu itu palsu? Mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan; oleh karena itu, selama masa mereka bekerja sebagai pemimpin, masalah orang-orang jahat dan antikristus yang mengacaukan serta mengganggu pekerjaan gereja sama sekali tidak terselesaikan. Beberapa saudara-saudari sangat dirugikan, dan pekerjaan gereja juga mengalami kerugian yang sangat besar. Ketika pemimpin palsu semacam ini menyadari adanya masalah, ketika mereka melihat satu orang jahat atau seorang antikristus yang sedang menimbulkan kekacauan atau gangguan, mereka tahu apa tanggung jawab mereka, apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana harus melakukannya, tetapi mereka tidak melakukan apa pun, dan bahkan berpura-pura bodoh, sepenuhnya mengabaikannya, serta tidak melaporkan masalah itu kepada atasan mereka. Mereka berpura-pura tidak tahu apa pun dan tidak melihat apa pun, sehingga membiarkan orang-orang jahat dan antikristus mengacaukan serta mengganggu pekerjaan gereja. Bukankah ada masalah dengan kemanusiaan mereka? Bukankah mereka termasuk golongan yang sama dengan orang-orang jahat dan antikristus? Prinsip apa yang mereka terapkan sebagai pemimpin? 'Aku tidak menyebabkan gangguan atau kekacauan, tetapi aku tidak akan melakukan apa pun yang menyinggung orang, atau apa pun yang melukai martabat orang lain. Meskipun aku digolongkan sebagai pemimpin palsu, aku tetap tidak akan melakukan apa pun yang menyinggung orang lain. Aku harus memiliki jalan keluarku sendiri.' Cara berpikir macam apa ini? Ini adalah cara berpikir Iblis. Dan watak macam apa ini? Bukankah ini watak orang yang sangat licik dan suka menipu? Orang seperti itu tidak sedikit pun tulus dalam memperlakukan amanat Tuhan; mereka selalu licik dan curang dalam melaksanakan tugasnya, dengan begitu banyak perhitungan yang keji, memikirkan diri sendiri dalam segala hal. Mereka sama sekali tidak memikirkan pekerjaan gereja dan sama sekali tidak memiliki hati nurani atau nalar. Mereka pada dasarnya tidak layak untuk melayani sebagai pemimpin gereja. Orang-orang semacam itu tidak terbeban sedikit pun akan pekerjaan gereja atau jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan. Mereka hanya memedulikan kepentingan dan kenikmatan mereka sendiri; mereka hanya fokus menikmati manfaat dari status mereka, tanpa memedulikan kondisi umat pilihan Tuhan. Bukankah mereka adalah orang yang paling egois dan tercela? Bahkan ketika menemukan orang-orang jahat dan antikristus yang sedang mengganggu pekerjaan gereja, mereka tidak memperhatikannya, seolah-olah masalah ini tidak ada hubungannya dengan mereka. ... Akhirnya, Aku mendefinisikan orang semacam ini sebagai berikut: Mereka mungkin tidak melakukan kesalahan besar, tetapi mereka sangat licik dan penuh tipu daya; mereka sama sekali tidak memikul tanggung jawab, dan juga sama sekali tidak menjunjung tinggi pekerjaan gereja—mereka tidak memiliki kemanusiaan. Kurasa mereka seperti sejenis binatang—dalam kelicikan mereka, mereka agak mirip dengan rubah. Orang-orang beranggapan bahwa rubah itu licik, tetapi sebenarnya, orang-orang ini jauh lebih licik daripada rubah" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (20)"). Dengan membandingkan diri dengan firman Tuhan, aku memperoleh beberapa pengenalan tentang diriku. Mengapa aku menulis dalam evaluasi itu bahwa aku tidak bisa melihat Wang Yu dengan jelas? Benarkah karena memang aku tidak bisa? Tidak, bukan itu. Aku telah melihat dengan jelas bahwa ada penyimpangan dalam cara Li Jing menyelidiki orang, dan aku juga melihat bahwa Wang Yu hanya memperlihatkan beberapa kerusakan dan seharusnya tidak menjadi target untuk dibersihkan. Namun, aku sendiri takut dilibatkan dan diselidiki, jadi aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak berani mengatakan sepatah kata pun saat menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip. Aku tidak memiliki rasa keadilan. Aku melihat bahwa naturku memang egois dan tercela, licin dan licik, dan aku tidak memiliki hati nurani atau nalar sedikit pun. Aku merenungkan mengapa Tuhan menyukai orang jujur. Itu karena orang jujur itu baik hati dan lurus. Mereka adil dan tidak berat sebelah dalam ucapan dan tindakan mereka, mereka memiliki rasa keadilan, mereka tidak memikirkan kepentingannya sendiri, serta tidak takut pada kekuasaan atau status. Di masa-masa genting, mereka bisa tetap teguh menjaga prinsip dan membela yang benar. Orang-orang seperti itu memiliki kemanusiaan dan hati yang takut akan Tuhan. Namun, tidak ada sedikit pun keserupaan dengan orang jujur dalam tindakan dan perilakuku. Aku hanya berpikir untuk melindungi kepentinganku sendiri, tanpa mempedulikan orang lain. Aku melihat Wang Yu diberhentikan dari tugasnya dan hidup dalam penderitaan, tetapi aku tetap acuh tak acuh, tak punya sedikit pun kebaikan atau simpati. Aku teringat akan firman Tuhan: "Engkau harus tahu bahwa yang Kuperoleh adalah emas murni yang telah dimurnikan, bukan pasir. Mana mungkin orang jahat tetap tinggal di rumah-Ku? Mana mungkin Kubiarkan rubah-rubah hidup sebagai parasit di dalam firdaus-Ku?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Deru Tujuh Guruh—Menubuatkan bahwa Injil Kerajaan akan Tersebar ke Seluruh Alam Semesta"). Tuhan itu kudus, dan Dia sama sekali tidak akan membiarkan siapa pun yang berwatak licik dan suka menipu tetap berada di rumah-Nya. Dahulu, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan "rubah" dalam firman Tuhan. Namun hari ini, melalui penyingkapan fakta-fakta, aku melihat bahwa naturku sendiri licik dan licin, dan bahwa aku persis seperti jenis orang yang Tuhan singkapkan sebagai "rubah". Saat itulah baru kulihat jiwaku yang buruk, yang tidak sedikit pun memiliki nalar manusia. Aku merasa sangat malu sampai ingin ditelan bumi. Aku kemudian berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku percaya kepada-Mu, tetapi aku gagal menerapkan firman-Mu. Tindakanku telah mempermalukan nama-Mu. Ya Tuhan, aku bersedia bertobat dan menghidupi keserupaan dengan manusia yang sejati. Mohon tuntunlah aku."
Kemudian, aku membaca bagian lain dari firman Tuhan dan memahami bagaimana aku harus memperlakukan pemimpin dan pekerja. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Apa sikap yang harus dimiliki orang dalam hal bagaimana memperlakukan seorang pemimpin atau pekerja? Jika apa yang pemimpin atau pekerja lakukan benar dan sesuai dengan kebenaran, engkau bisa menaati mereka; jika apa yang mereka lakukan salah dan tidak sesuai dengan kebenaran, engkau tidak boleh menaati mereka dan engkau dapat menyingkapkan mereka, menentang mereka serta mengajukan pendapat yang berbeda. Jika mereka tidak mampu melakukan pekerjaan yang nyata atau melakukan perbuatan jahat yang menyebabkan gangguan terhadap pekerjaan gereja, dan disingkapkan sebagai pemimpin palsu, pekerja palsu atau antikristus, maka engkau dapat mengidentifikasi, menyingkapkan dan melaporkan mereka. Namun, beberapa umat pilihan Tuhan tidak memahami kebenaran dan sangat pengecut; mereka takut ditindas dan disiksa oleh pemimpin palsu dan antikristus sehingga mereka tidak berani menjunjung tinggi prinsip. Mereka berkata, 'Jika pemimpin mengusirku, tamatlah riwayatku; jika dia membuat semua orang menyingkapkan atau meninggalkanku, aku tidak akan bisa lagi percaya kepada Tuhan. Jika aku diusir dari gereja, berarti Tuhan tidak akan menginginkanku dan tidak akan menyelamatkanku. Dan bukankah imanku selama ini menjadi sia-sia?' Bukankah pemikiran seperti itu tidak masuk akal? Apakah orang-orang semacam itu memiliki iman yang sejati kepada Tuhan? Apakah pemimpin palsu atau antikristus merepresentasikan Tuhan ketika mereka mengusirmu? Ketika pemimpin palsu atau antikristus menyiksa dan mengusirmu, ini adalah pekerjaan Iblis, dan tidak ada kaitannya dengan Tuhan; ketika orang dikeluarkan atau diusir dari gereja, hal ini hanya sesuai dengan maksud Tuhan jika ada keputusan bersama antara gereja dan semua umat pilihan Tuhan, dan jika pengeluaran atau pengusiran itu sepenuhnya sesuai dengan pengaturan kerja rumah Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan. Bagaimana mungkin diusir oleh pemimpin palsu atau antikristus berarti engkau tidak dapat diselamatkan? Ini adalah penganiayaan yang dilakukan Iblis dan antikristus, dan bukan berarti engkau tidak akan diselamatkan oleh Tuhan. Apakah engkau dapat diselamatkan atau tidak, itu tergantung pada Tuhan. Tidak ada manusia yang memenuhi syarat untuk memutuskan apakah engkau dapat diselamatkan oleh Tuhan atau tidak. Engkau harus jelas tentang hal ini. Dan memperlakukan pengusiranmu oleh seorang pemimpin palsu atau antikristus sebagai pengusiran oleh Tuhan—bukankah ini artinya engkau salah memahami Tuhan? Ya. Dan engkau bukan saja salah memahami Tuhan, tetapi juga pemberontakan terhadap Tuhan. Ini juga adalah semacam penghujatan terhadap Tuhan. ... Ini membuktikan bahwa engkau tidak percaya bahwa kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan, ini memperlihatkan bahwa engkau tidak memiliki iman yang sejati kepada Tuhan, bahwa engkau bukanlah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Jika engkau percaya akan kemahakuasaan Tuhan, mengapa engkau takut akan pembalasan dari pemimpin palsu atau antikristus? Dapatkah mereka menentukan nasibmu? Jika engkau mampu mengenali dan mendeteksi bahwa tindakan mereka bertentangan dengan kebenaran, mengapa tidak bersekutu dengan umat pilihan Tuhan yang memahami kebenaran? Engkau punya mulut, jadi mengapa engkau tidak berani angkat bicara? Mengapa engkau begitu takut kepada pemimpin palsu atau antikristus? Ini membuktikan bahwa engkau seorang pengecut, orang tidak berguna, antek Iblis" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, "Bab Tiga: Mereka Mengucilkan dan Menyerang Orang yang Mengejar Kebenaran"). Firman Tuhan mengatakannya dengan begitu jelas! Di rumah Tuhan, kebenaranlah yang berkuasa; pemimpin tingkat mana pun bukanlah yang memiliki keputusan akhir. Jika tindakan seorang pemimpin sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran, kita harus menerima dan tunduk. Namun, jika seorang pemimpin tidak bertindak sesuai dengan prinsip dan malah melanggar kebenaran, kita harus menjaga prinsip-prinsip kebenaran, menyingkapkan dan menghentikan mereka, serta memenuhi tanggung jawab kita. Aku adalah anggota rumah Tuhan, dan tanggung jawab serta tugasku adalah untuk melindungi kepentingannya. Ketika aku melihat seorang pemimpin bertindak bertentangan dengan prinsip, aku tidak boleh menjadi penonton. Aku harus menjaga kebenaran dan keadilan, memiliki keberanian untuk menerapkan kebenaran, dan memenuhi tanggung jawabku. Jika tidak, aku hanyalah seorang pengecut dan orang yang tidak berguna. Setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, aku masih tidak percaya bahwa kebenaran berkuasa di rumah Tuhan. Aku tidak memiliki iman sejati di dalam Tuhan. Ketika melihat saudara-saudari dikeluarkan karena pelanggaran sesaat atau perwujudan kerusakan, aku secara keliru percaya bahwa pemimpin dapat memutuskan masa depan, nasib, kesudahan, dan tempat tujuan seseorang. Aku sangat takut jika sedikit saja aku ceroboh, Li Jing akan menggunakan beberapa perwujudan kerusakanku untuk mengeluarkanku, menghancurkan harapanku akan keselamatan. Aku hanya percaya kepada Tuhan di bibir, tetapi tidak memiliki tempat bagi Tuhan di hatiku. Aku secara keliru memperlakukan seorang pemimpin sebagai yang berdaulat yang memutuskan nasibku, aku juga memandang kekuasaan dan status sebagai lebih tinggi dari segalanya. Aku tidak bisa membuat diriku percaya pada watak Tuhan yang benar serta kemahakuasaan dan kedaulatan-Nya. Aku begitu bodoh dan buta, benar-benar orang yang bingung! Faktanya, tidak ada pelaku kejahatan yang dapat tetap teguh di rumah Tuhan; cepat atau lambat, mereka akan disingkapkan dan disingkirkan. Kebenaran berkuasa di rumah Tuhan. Tuhan itu benar; Dia tidak akan salah memperlakukan orang yang baik, Dia juga tidak akan membiarkan orang jahat lolos. Di rumah Tuhan, siapa pun yang banyak berbuat jahat dan menolak untuk menerima kebenaran, baik mereka seorang pemimpin maupun orang percaya biasa, pada akhirnya akan disingkapkan dan disingkirkan. Namun, bagi mereka yang mengejar kebenaran, sekalipun mereka untuk sementara waktu dikeluarkan secara keliru oleh pemimpin palsu dan antikristus, itu bukan berarti hilangnya harapan mereka akan keselamatan. Ini karena orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran tidak akan pernah menyangkal atau menjauh dari Tuhan, apa pun keadaan mereka. Sekalipun mereka dikeluarkan, mereka akan terus percaya kepada Tuhan, melaksanakan tugas mereka, dan mencari kebenaran untuk memetik pelajaran. Pada akhirnya, mereka akan tetap diterima kembali ke dalam gereja. Sekalipun bencana menimpa, mereka akan mendapatkan perlindungan Tuhan. Aku melihat bahwa kesudahan dan tempat tujuan setiap orang ada di tangan Tuhan dan sama sekali tidak bergantung pada keputusan pemimpin mana pun. Pengalaman ini memberiku pemahaman dan pengenalan yang sejati akan watak Tuhan yang benar. Lebih dari itu, aku melihat betapa miskin dan menyedihkannya aku, tidak memiliki kenyataan kebenaran sedikit pun. Satu kejadian kecil telah menyingkapkan kemanusiaanku yang sepenuhnya tercela, menunjukkan kepadaku betapa rendahnya karakterku, bahwa aku bisa melakukan hal yang begitu tercela demi kepentinganku sendiri. Aku membenci diriku sendiri karena tidak mengejar kebenaran, dan karena hidup berdasarkan racun Iblis tanpa keserupaan dengan manusia sedikit pun. Dalam pertobatan, aku berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, sejak itu bertekad untuk mencari kebenaran serta memiliki prinsip tentang cara berperilaku dan bertindak yang sesuai tuntutan Tuhan.
Kemudian, aku membaca bagian lain dari firman Tuhan dan memperoleh beberapa pemahaman tentang bagaimana Tuhan menentukan kesudahan orang-orang. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Dalam pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, Tuhan menentukan kesudahan manusia berdasarkan perwujudan mereka. Tahukah engkau semua, perwujudan di sini merujuk pada apa? Engkau semua mungkin menganggap bahwa itu mengacu pada watak rusak yang orang perlihatkan ketika melakukan sesuatu, tetapi sebenarnya bukan itu yang dirujuk. Perwujudan di sini merujuk pada apakah engkau menerapkan kebenaran atau tidak; apakah engkau sepenuh hati atau tidak ketika melaksanakan tugasmu; sudut pandangmu di balik kepercayaan kepada Tuhan, sikapmu terhadap Tuhan, tekadmu untuk menderita kesukaran; sikapmu terhadap menerima penghakiman, hajaran dan pemangkasan; jumlah pelanggaran serius yang telah kaulakukan; dan sejauh mana engkau pada akhirnya mencapai pertobatan dan perubahan. Gabungan semua hal ini membentuk perwujudanmu. Perwujudan di sini bukan mengacu pada seberapa banyak watak rusak yang telah kauperlihatkan atau pada seberapa banyak hal buruk yang telah kaulakukan, melainkan mengacu pada seberapa banyak hasil yang telah kauperoleh dan pada seberapa besar perubahan nyata yang telah kaualami dalam imanmu. Jika kesudahan manusia ditentukan oleh seberapa banyak kerusakan dalam natur mereka yang terlihat, tak ada seorang pun yang dapat memperoleh keselamatan, karena semua manusia sangat rusak, memiliki natur Iblis, dan menentang Tuhan. Tuhan ingin menyelamatkan orang-orang yang mampu menerima kebenaran dan tunduk pada pekerjaan-Nya. Sebesar apa pun kerusakan yang mereka perlihatkan, asalkan mereka pada akhirnya dapat menerima kebenaran, mencapai pertobatan sejati, dan mengalami perubahan sejati, mereka adalah orang-orang yang diselamatkan oleh Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Tuhan menentukan kesudahan dan tempat tujuan seseorang bukan dengan melihat seberapa banyak kerusakan yang mereka perlihatkan, melainkan dengan melihat apakah setelah disingkapkan mereka memiliki pertobatan sejati dan berubah. Seberapa banyak pun kerusakan yang seseorang perlihatkan, selama mereka bisa menerima kebenaran dan benar-benar bertobat, mereka akan diselamatkan. Tuhan menyelamatkan manusia semaksimal mungkin. Saat mengikuti Tuhan, setiap dari kita akan memperlihatkan banyak kerusakan. Jika Tuhan menentukan kesudahan kita berdasarkan jumlah kerusakan yang kita perlihatkan, tak seorang pun dari kita bisa diselamatkan. Aku tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran ketika aku menghadapi berbagai hal. Saat menulis evaluasi itu, aku tahu bahwa perilaku Wang Yu adalah perwujudan kerusakan dan bahwa dia seharusnya tidak menjadi target penyelidikan. Namun, aku takut menyinggung pemimpin dan tidak berani menyatakan pandanganku. Demi kesudahan dan tempat tujuan yang baik bagi diriku sendiri, aku tidak peduli apakah orang lain hidup atau mati, meninggalkan pelanggaran dan noda di hadapan Tuhan. Saat merenungkan hal-hal ini, dalam hati aku bertekad untuk tidak lagi hidup berdasarkan naturku yang licik.
Selama waktu itu, aku merenungkan bagaimana aku bisa membuang watak rusakku yang licin dan licik. Aku berdoa kepada Tuhan, meminta Dia menuntunku untuk menemukan jalan penerapan. Suatu hari, aku melihat satu bagian firman Tuhan: "Untuk percaya kepada Tuhan dan menempuh jalan hidup yang benar, setidak-tidaknya engkau harus hidup dengan martabat dan keserupaan dengan manusia, serta layak dipercaya oleh sesama manusia dan dianggap berharga. Selain itu, orang harus merasa bahwa karakter dan integritasmu memiliki substansi, bahwa engkau melaksanakan segala hal yang kaukatakan, dan memegang perkataanmu. ... Semua orang yang bermartabat memiliki sedikit kepribadian. Terkadang mereka tidak akur dengan orang lain, tetapi mereka jujur dan tidak ada kebohongan atau tipu daya pada diri mereka. Akhirnya, orang lain akan sangat menghormati mereka karena mereka mampu menerapkan kebenaran, jujur, memiliki martabat, integritas, dan karakter, tidak pernah memanfaatkan orang lain, menolong orang yang sedang mengalami kesulitan, memperlakukan orang dengan hati nurani dan nalar, serta tidak pernah menghakimi orang secara sembrono. Ketika menilai atau membahas orang lain, semua perkataan mereka akurat. Mereka mengatakan hal yang mereka ketahui dan tidak berceloteh tentang hal yang mereka tidak ketahui. Mereka tidak membumbui ujarannya, dan perkataan mereka dapat dijadikan bukti atau referensi. Ketika berbicara dan bertindak, orang-orang yang memiliki karakter cukup praktis dan terpercaya. Tidak ada yang menganggap bahwa orang-orang yang tidak memiliki karakter itu bernilai; tidak ada yang memperhatikan perkataan dan perbuatan mereka atau menganggapnya penting; tidak ada yang memercayai mereka. Itu karena mereka terlalu banyak berbohong dan terlalu sedikit berkata jujur. Itu karena mereka tidak tulus ketika berinteraksi dengan orang lain atau melakukan apa pun untuk orang lain. Mereka mencoba untuk menipu dan membodohi semua orang, dan tidak ada yang menyukai mereka. Pernahkah engkau semua menemukan seseorang yang, menurutmu, tepercaya? Apakah, menurutmu, engkau semua layak dipercaya oleh orang lain? Dapatkah orang lain memercayaimu? Jika seseorang bertanya kepadamu tentang keadaan orang lain, engkau tidak boleh menilai dan menghakimi orang itu berdasarkan kehendakmu sendiri. Perkataanmu haruslah objektif, akurat, dan sesuai dengan fakta. Engkau harus berbicara tentang hal-hal yang engkau mengerti, dan janganlah berbicara tentang hal-hal yang tidak kaupahami secara mendalam. Engkau harus bersikap adil dan berimbang terhadap orang itu. Itu adalah cara yang bertanggung jawab dalam bertindak" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Menjadi Orang Jujur, Seseorang Dapat Hidup dalam Keserupaan dengan Manusia Sejati"). Saat merenungkan firman-Nya, aku menjadi mengerti bahwa kemanusiaan normal yang Tuhan tuntut untuk kita hidupi adalah kemanusiaan di mana kita memiliki integritas, martabat, berbicara berdasarkan fakta, tidak melebih-lebihkan maupun mengurangi, dan bertanggung jawab dalam tindakan kita. Orang-orang seperti itu jujur dan baik hati, mereka tidak pernah memanipulasi pikiran atau menggunakan tipu daya, mereka memiliki sikap yang tulus terhadap orang dan hal-hal, dan mereka dapat dipercaya. Dari firman Tuhan, aku menemukan arah dalam caraku berperilaku. Aku tahu aku harus berbicara dan bertindak dengan jujur sesuai dengan tuntutan Tuhan, untuk dapat dipercaya oleh orang lain dan menenangkan hati Tuhan. Ketika aku perlu mengungkapkan pandanganku, aku harus mengatakan yang sebenarnya dan membiarkan orang lain mengetahui pendapat dan pemikiranku yang sebenarnya.
Setelah itu, aku mulai berfokus untuk memasuki kebenaran dalam hal menjadi orang yang jujur dalam tugasku. Suatu kali, pengawas bertanya kepadaku tentang situasi dua anggota timku, dan berkata bahwa jika mereka tidak cocok, mereka perlu segera dialihtugaskan. Aku berpikir dalam hati, "Pengawas juga punya gambaran tentang bagaimana kedua orang ini melaksanakan tugas mereka akhir-akhir ini. Jika pandanganku berbeda darinya, tidakkah dia akan berkata aku kurang memiliki kemampuan membedakan dan tidak tahu cara melihat orang atau hal-hal? Mungkinkah dia akan berkata aku memiliki kualitas yang buruk dan tidak cocok menjadi pemimpin tim? Sudahlah. Lebih baik tidak mengatakan apa-apa. Atau mungkin aku akan bilang saja aku belum bisa menilainya." Saat itu, aku sadar sedang mencoba bersikap licik lagi. Aku teringat akan firman Tuhan: "Kejujuran berarti memberikan hatimu kepada Tuhan, tidak bersikap palsu terhadap Tuhan dalam hal apa pun, terbuka kepada-Nya dalam segala hal, tidak pernah menyembunyikan fakta, tidak berusaha menipu orang-orang di atasmu dan menyembunyikan sesuatu dari orang-orang di bawahmu, dan tidak melakukan sesuatu hanya demi menjilat Tuhan. Singkatnya, jujur berarti murni dalam tindakan dan perkataanmu, dan tidak menipu Tuhan maupun manusia" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tiga Peringatan"). Aku berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, aku tidak ingin menjadi licik lagi. Aku harus menjadi orang jujur, menuliskan apa yang sebenarnya telah kulihat, dan menyatakan pandanganku sendiri." Setelah menulisnya, aku mengirimkannya kepada pengawas, dan hatiku merasa damai sepenuhnya. Sejak saat itu, kapan pun aku harus menulis evaluasi, aku akan mengatakan yang sebenarnya, dengan setia menuliskan masalah-masalah yang telah kulihat dan pendapatku sendiri. Bahwa aku bisa memiliki sedikit perubahan dan perolehan ini adalah hasil yang dicapai oleh firman Tuhan. Syukur kepada Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudari Wei Chen, KoreaPada Desember 2019, aku bekerja sebagai diaken penginjilan di gereja. Setelah beberapa waktu, aku sadar ketika...
Pada awal September 2022, aku menjadi pemimpin tim penyiraman di gereja. Saat itu, dua pendatang baru, Saudari Qiu Zhen dan Saudari Yang...
Oleh Saudari Jing Wei, TiongkokPada bulan September 2020, aku adalah seorang pengkhotbah di gereja, yang bertanggung jawab atas pekerjaan...
Pada bulan Desember 2023, para pemimpin mengatur agar aku bertanggung jawab atas pekerjaan penyiraman di beberapa gereja. Saudara Lin Hai...