Menunjukkan Masalah itu Beda dengan Menyingkapkan Kekurangan
Oleh Florence, ItaliaSejak kecil, ibuku memberitahuku, “Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada bulan Desember 2023, para pemimpin mengatur agar aku bertanggung jawab atas pekerjaan penyiraman di beberapa gereja. Saudara Lin Hai adalah pengawasnya. Selain mengawasi dan menindaklanjuti pekerjaan kami, dia juga bertanggung jawab atas pekerjaan penyiraman di beberapa gereja lain. Saat pertama kali bekerja sama dengan Lin Hai, aku melihat bahwa dia cukup memikul beban dalam tugasnya; dia segera menindaklanjuti dan menyelesaikan masalah apa pun yang dialami pendatang baru. Pada akhir Februari 2024, kami mengirimkan surat persekutuan kepada gereja-gereja untuk menangani masalah umum di antara pendatang baru, dan kami juga menindaklanjuti untuk memastikan gereja-gereja segera menyesuaikan penugasan personel yang tidak cocok menjadi penyiram. Setelah itu, aku mendapati bahwa Lin Hai tidak hanya gagal menindaklanjuti pelaksanaan pekerjaan kami, tetapi dia juga tidak menindaklanjuti gereja-gereja yang menjadi tanggung jawabnya, dan penyesuaian penugasan para penyiram itu tidak dilakukan tepat waktu. Aku berpikir, "Mungkin dia sedang tidak enak badan akhir-akhir ini? Apa tekanan darahnya naik lagi? Mungkin dia hidup dalam keadaan sakit dan tidak memikul beban dalam tugasnya? Mungkin aku harus mengingatkannya. Namun, jika aku langsung mengatakannya, apakah dia akan bilang aku tidak pengertian padanya? Lagi pula, aku cuma anggota tim. Jika aku menunjukkan masalahnya secara langsung, apakah dia akan kehilangan muka dan menyimpan dendam padaku? Bagaimana jika itu menciptakan ketegangan di antara kami? Akan canggung sekali rasanya bekerja sama setelah itu!" Namun, kemudian aku ingat Tuhan pernah bersekutu bahwa rekan kerja seharusnya saling mengawasi dan mengingatkan. Tidak benar rasanya jika aku melihat masalahnya dan tidak mengatakan apa-apa. Jadi, aku memberinya daftar pekerjaan yang perlu dia tindak lanjuti dan gereja-gereja yang kekurangan penyiram, dan mengingatkannya untuk menindaklanjutinya. Awalnya aku ingin berbicara dengannya tentang natur dan konsekuensi dari bersikap asal-asalan dan tidak bertanggung jawab dalam tugas, tetapi aku khawatir mengatakan itu akan menyinggung perasaannya dan membuat kami makin sulit berinteraksi di masa depan. Jadi aku hanya bertanya tentang kesehatannya akhir-akhir ini dan mencarikan beberapa bagian firman Tuhan tentang saling mengawasi dan mengingatkan antar rekan kerja untuk ditunjukkan kepadanya. Dengan begini, dia akan tahu aku hanya mencoba menerapkan sesuai firman Tuhan, bukan sengaja mencari-cari kesalahannya, jadi dia tidak akan berprasangka buruk padaku. Yang mengejutkanku, Lin Hai hanya membalas singkat, "Baiklah kalau begitu." Dia tidak mengatakan apa pun tentang menyadari masalahnya sendiri. Setelah itu, dia tetap tidak menindaklanjuti penyesuaian penugasan penyiram di gereja-gereja, dia juga tidak menindaklanjuti atau mengawasi pekerjaan kami. Aku berpikir untuk membahasnya lagi, tetapi kemudian aku teringat betapa asal-asalannya balasannya yang terakhir. Dia mungkin kesal. Jika aku mengatakan sesuatu lagi, dia pasti akan lebih kesal. Tidak ada orang lain yang angkat bicara, jadi jika hanya aku yang menunjukkan masalahnya, seakan-akan aku yang selalu mencari-cari kesalahannya. Aku tidak ingin menjadi orang yang menyinggung perasaannya, jadi aku membiarkannya saja.
Kemudian, karena penangkapan orang-orang Kristen oleh PKT, beberapa penyiram di gereja-gereja yang menjadi tanggung jawabku harus bersembunyi karena risiko keamanan, dan yang lainnya yang tidak cocok perlu disesuaikan penugasannya. Namun, kami tidak dapat menemukan orang yang cocok untuk mengambil alih, yang berdampak pada pekerjaan. Dengan merenung dan merangkum, aku menyadari bahwa ini karena kami biasanya tidak fokus membina orang. Jadi, aku menulis surat persekutuan kepada gereja-gereja tentang masalah ini, meminta para pemimpin dan pekerja untuk fokus membina orang-orang agar mereka dapat memperbaiki penyimpangan ini tepat waktu. Kemudian aku meneruskannya kepada Lin Hai dan rekan kami, Saudari Wang Dan, untuk mereka tinjau apakah ada masalah atau kekurangan, sehingga mereka dapat menambah dan memperbaikinya sebelum mengirimkannya ke gereja-gereja. Aku juga mengingatkan mereka untuk segera membalas agar tidak menunda pekerjaan. Namun, beberapa hari berlalu, dan Lin Hai masih belum membalas. Aku berpikir, "Ada apa dengannya? Dia tidak menindaklanjuti pekerjaan membina orang, dan sekarang surat itu sudah ditulis, tetapi dia bahkan tidak mau memberikan pendapatnya. Haruskah kami mengirim surat ini atau tidak? Jika tidak, pekerjaan akan tertunda. Namun, jika kami mengirimnya, bagaimana jika ada bagian yang tidak pantas dan menyebabkan kekacauan?" Aku ingin menulis surat dan bertanya apa yang dia pikirkan dan mengapa dia masih belum membalas, tetapi aku ingat dia tidak terlalu menerima saranku terakhir kali. Aku khawatir jika aku menunjukkan masalahnya lagi, dia akan makin kesal, dan hubungan kami di masa depan akan menjadi sulit, jadi aku tidak bertanya. Kemudian, Wang Dan membalas bahwa surat itu sudah bagus, jadi agar pekerjaan tidak tertunda, kami mengirimkannya.
Tidak lama kemudian, penangkapan PKT makin gencar. Mereka menggunakan berbagai metode untuk melacak dan menangkap orang-orang percaya dan bahkan mulai menyebarkan rumor lama yang dibuat-buat untuk menyesatkan orang. Kami bersekutu dengan para pendatang baru tentang kebenaran dalam aspek kemampuan membedakan dan kebenaran tentang visi, dan sebagian besar dari mereka memperoleh kemampuan untuk membedakan beberapa rumor yang tidak berdasar itu. Aku berpikir, "Aku bertanya-tanya apakah penyiram di gereja lain telah bersekutu dengan pendatang baru tentang kebenaran dalam aspek kemampuan membedakan rumor yang tidak berdasar ini. Apakah pendatang baru mampu membedakan hal-hal itu?" Jadi aku menulis surat kepada Lin Hai, menyarankan agar dia menyuruh penyiram di bawah pengawasannya memeriksa kemampuan pendatang baru untuk membedakan rumor yang tidak berdasar itu. Jika ada di antara mereka yang tidak mengerti, mereka harus segera mempersekutukan kebenaran tentang visi agar mereka tidak disesatkan oleh rumor yang tidak berdasar dan menderita kerugian dalam kehidupan mereka. Sepuluh hari berlalu setelah aku mengirim surat itu, dan masih belum ada balasan dari Lin Hai. Aku agak marah. Pikirku, "Pekerjaan ini sangat penting. Bagaimana bisa dia tidak menganggapnya serius?" Aku benar-benar ingin menunjukkan bahwa dia tidak memikul beban dalam tugasnya, tetapi sekali lagi, aku takut membuatnya kesal, jadi aku tidak mengatakannya secara langsung. Sebaliknya, aku bertanya dengan lembut apakah dia sudah menerima suratku dan bersekutu tentang pentingnya menindaklanjuti pekerjaan ini. Tak kusangka, Lin Hai membalas, "Kami sudah meminta para penyiram mempersekutukan hal ini sebelumnya. Para pendatang baru mungkin sudah memahami semuanya. Tidak perlu menindaklanjuti lagi." Saat aku melihat bahwa dia hanya menilai berdasarkan imajinasinya tanpa benar-benar mencoba memahami situasi pendatang baru, aku merasa dia sangat tidak bertanggung jawab. Aku ingin mempersekutukan masalah ini dengannya, tetapi kemudian aku khawatir jika aku terus menunjukkan masalahnya, dia akan menilaiku buruk. Bagaimana jika hubungan kami menjadi canggung? Namun, hati nuraniku menegurku karena melihat masalahnya tetapi tidak mengatakan apa-apa. Sesaat kemudian, aku berpikir, "Kau pengawasnya, jadi jika terjadi kesalahan, itu tanggung jawabmu. Aku sudah mengingatkanmu, dan kaulah yang tidak mau mendengarkan." Namun kemudian, aku merasa bahwa berpikir seperti ini tidak bertanggung jawab .... Aku sangat gelisah dan resah, dan aku tidak bisa menenangkan hatiku untuk melaksanakan tugasku.
Dalam penderitaanku, aku berdoa kepada Tuhan dan mencari bimbingan-Nya. Aku teringat akan firman Tuhan: "Apa pun tugas yang engkau laksanakan, entah tugas penting atau tugas biasa, jika engkau tidak melaksanakan pekerjaan yang dipercayakan kepadamu dengan sepenuh hati atau memenuhi tanggung jawabmu, dan jika engkau tidak memandang tugas ini sebagai amanat dari Tuhan, atau melaksanakannya sebagai tugas dan kewajibanmu sendiri, selalu melakukan tugas dengan cara asal-asalan, maka ini akan menjadi masalah" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Sering Membaca Firman Tuhan dan Merenungkan Kebenaran, Barulah Ada Jalan untuk Diikuti"). Saat aku merenungkan firman Tuhan, aku menyadari bahwa aku harus memiliki rasa tanggung jawab dalam tugasku. Terlepas dari apakah aku seorang pengawas atau bukan, selama aku melihat masalah dalam pekerjaan gereja, aku harus memenuhi tanggung jawabku untuk menjaga pekerjaan gereja. Jika aku melihat masalah dan mengabaikannya, serta bersikap asal-asalan dan tidak bertanggung jawab, itu berarti melalaikan tugas. Si naga merah yang sangat besar dengan gila-gilaan menangkap orang Kristen dan menyebarkan rumor yang tidak berdasar, sehingga para pendatang baru kemungkinan besar akan disesatkan dan pergi. Mengingatkan Lin Hai untuk lebih banyak bersekutu dengan mereka tentang cara membedakan adalah tanggung jawabku. Saat aku melihat bahwa dia sama sekali tidak menganggapnya serius, aku seharusnya segera menunjukkannya dan membantunya. Namun, aku takut dia akan memiliki kesan buruk tentangku, dan takut menyinggung perasaannya serta membuat hubungan kami menjadi sulit, jadi aku hanya bersikap seperti penyenang orang. Aku melihat masalahnya tetapi tidak berani menunjukkannya secara langsung. Aku tidak memiliki rasa tanggung jawab dan tidak menjaga kepentingan gereja. Aku benar-benar tidak layak melaksanakan tugas sepenting itu! Aku merasa sangat bersalah dalam hatiku, jadi aku menulis surat kepada Lin Hai untuk mendiskusikan pandanganku dengannya. Kemudian aku berpikir bahwa karena pandangan kami berbeda, aku juga harus mendiskusikannya dengan saudara-saudari lain yang bekerja sama dengan kami. Namun aku ragu lagi, khawatir, "Jika Lin Hai mengetahuinya, apakah dia akan berpikir bahwa aku mencoba mempermalukannya? Apakah dia akan memiliki kesan buruk tentangku?" Aku teringat akan firman Tuhan: "'Aku sama sekali tidak akan takut, aku sama sekali tidak akan mundur, dan aku sama sekali tidak akan putus asa!' Apakah engkau semua memiliki tekad seperti ini?" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (13)"). Jika menyangkut kepentingan gereja dan jalan masuk kehidupan saudara-saudari, aku tidak boleh berkompromi atau mundur hanya karena aku takut akan pandangan orang lain tentangku. Entah Lin Hai menerimanya atau tidak, aku harus mengambil sikap dan menjaga kepentingan gereja. Karena itu, aku meneruskan surat tersebut. Setelah itu, rekan-rekanku yang lain dan Lin Hai semuanya membalas, setuju dengan pandanganku. Hatiku terasa lega.
Namun setelah itu, aku masih belum bersekutu dengan Lin Hai tentang sikapnya yang asal-asalan terhadap tugasnya. Aku mulai merenungkan diriku: Aku sudah melihat masalah Lin Hai dengan jelas, tetapi aku tidak berani menunjukkannya secara langsung. Watak rusak apa yang tersembunyi di balik ini? Aku berdoa agar Tuhan membimbingku dalam memahami masalahku sendiri. Kemudian, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang sangat relevan dengan keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Kebanyakan orang bersedia mengejar kebenaran dan ingin menerapkan kebenaran, tetapi sering kali mereka hanya memiliki tekad dan keinginan untuk melakukannya; tetapi di dalam hatinya, kebenaran belum menjadi hidup mereka. Jadi, ketika engkau menghadapi kekuatan jahat yang mengganggu dan merusak pekerjaan gereja—misalnya, ketika engkau dihadapkan dengan pemimpin palsu yang menangani masalah dengan cara melanggar prinsip dan tidak melakukan pekerjaan nyata, atau orang jahat dan antikristus yang berbuat jahat dan mengganggu pekerjaan gereja dan dengan demikian menyebabkan umat pilihan Tuhan mengalami kerugian—engkau tidak memiliki keberanian untuk bangkit dan angkat bicara. Mengapa engkau tidak memiliki keberanian ini? Apakah karena engkau penakut atau tidak pandai bicara, atau apakah engkau tidak berani angkat bicara karena engkau tidak bisa melihat segala sesuatu dengan jelas? Bukan karena hal-hal ini; inilah terutama akibatnya jika engkau dikekang oleh watak rusakmu. Salah satu watak rusak yang kauperlihatkan adalah watak licik: Ketika sesuatu terjadi, hal pertama yang kaupertimbangkan adalah kepentinganmu sendiri, konsekuensi dari tindakanmu, dan apakah itu akan menguntungkan bagimu. Ini adalah watak licik, bukan? Watak lainnya adalah watak egois dan hina. Engkau berpikir, 'Apa hubungannya kerugian yang mereka timbulkan terhadap kepentingan rumah Tuhan denganku? Aku bukan pemimpin, jadi mengapa aku harus terlibat? Itu tidak ada hubungannya denganku, dan itu bukan tanggung jawabku.' Pemikiran dan perkataan semacam itu bukanlah sesuatu yang sengaja kaupikirkan, melainkan dihasilkan olehmu tanpa kausadari—inilah watak rusak yang orang perlihatkan ketika mereka menghadapi masalah. Watak rusak ini menguasai pikiranmu, mengikat tangan dan kakimu, serta mengendalikan apa yang kaukatakan. Di dalam hatimu, engkau ingin bangkit dan angkat bicara, tetapi engkau memiliki kekhawatiran, dan sekalipun engkau angkat bicara, engkau berbelit-belit dan menyisakan ruang untuk berkelit, atau engkau berdalih dan sama sekali tidak mengatakan yang sebenarnya. Orang yang mampu membedakan dapat melihat hal ini, dan sebenarnya, engkau juga tahu di dalam hatimu bahwa engkau belum mengatakan semua yang seharusnya kaukatakan, bahwa engkau belum mencapai hasil, bahwa engkau hanya bersikap asal-asalan, dan bahwa masalahnya belum terselesaikan. Engkau belum memenuhi tanggung jawabmu, tetapi dengan merasa diri benar, kaukatakan bahwa engkau sudah memenuhinya, atau mengklaim bahwa engkau tidak melihat segala sesuatu dengan jelas pada saat itu. Apakah klaim-klaim ini sesuai fakta? Apakah itu yang sebenarnya kaupikirkan? Bukankah engkau sepenuhnya berada di bawah kendali watak Iblismu?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Tuhan menyingkapkan bahwa orang-orang hidup berdasarkan watak rusak mereka yang egois dan licik. Ketika mereka melihat seseorang melakukan sesuatu yang melanggar prinsip, mereka tidak berani menunjukkannya, hanya mempertimbangkan kepentingan mereka sendiri dan sama sekali tidak menjaga pekerjaan gereja. Ada orang yang, bahkan ketika mereka menunjukkan masalah orang lain, berbicara berbelit-belit dan memperhalusnya agar tidak menyinggung perasaan. Mereka tidak menyentuh inti masalahnya, jadi sekalipun mereka mengatakan sesuatu, itu tidak ada dampaknya. Apa yang disingkapkan firman Tuhan persis seperti keadaanku. Selama waktu itu, aku melihat dengan jelas bahwa Lin Hai tidak menindaklanjuti atau mengawasi pekerjaan, dan bahwa dia tidak bertanggung jawab serta tidak memikul beban dalam tugasnya. Hal ini telah menunda pekerjaan penyiraman dan jalan masuk kehidupan para pendatang baru. Aku seharusnya menunjukkan itu untuk membantunya memperbaiki situasi sesegera mungkin, tetapi aku takut melukai harga dirinya dan merusak hubungan kami, sehingga kami menjadi canggung setelahnya. Jadi, aku hanya merinci tugas-tugas yang perlu dia tindak lanjuti, tetapi aku tidak pernah mempersekutukan atau menelaah natur dan konsekuensi dari bersikap asal-asalan dalam tugasnya. Kemudian, aku mendapati bahwa Lin Hai tidak berfokus pada pembinaan orang, dia juga tidak benar-benar memeriksa apakah para pendatang baru dapat membedakan rumor yang tidak berdasar yang disebarkan oleh si naga merah yang sangat besar. Dia hanya bertindak berdasarkan gagasan dan imajinasinya sendiri, dan sama sekali tidak melakukan pekerjaan nyata. Aku ingin menyingkapkannya karena tidak bertanggung jawab dan tidak memikul beban dalam tugasnya, tetapi lagi-lagi aku khawatir, jika aku berulang kali menunjukkan masalahnya, itu akan melukai harga dirinya dan mempermalukannya. Jika dia berprasangka terhadapku, betapa canggungnya keadaan di antara kami nanti! Agar tidak menyinggung perasaannya, aku memilih untuk diam lagi, bahkan menghibur diri sendiri dengan berpikir, "Aku sudah mengatakan apa yang perlu dikatakan. Salahnya sendiri karena tidak menerima saranku. Jika timbul masalah, itu tanggung jawabnya, bukan tanggung jawabku." Namun kenyataannya, meskipun aku telah menyampaikan beberapa masalah dalam pekerjaan kepadanya, aku tidak pernah menunjukkan natur dan konsekuensi dari melaksanakan tugas dengan cara seperti itu. Akibatnya, Lin Hai tidak memahami masalahnya sendiri, tidak melakukan perubahan, dan masalah dalam pekerjaan penyiraman tetap tidak terselesaikan. Aku sekadar melakukannya formalitas, tanpa membuahkan hasil nyata sama sekali. Saat aku melihat bahwa pekerjaan penyiraman tidak efektif, bukannya berpikir tentang cara menyelesaikan masalah dan menjaga pekerjaan gereja, aku berulang kali berkompromi dan mengalah demi menjaga hubunganku dengan Lin Hai. Aku tidak mau mengungkapkan masalahnya dengan jelas, bahkan jika itu berarti menunda pekerjaan gereja lagi dan lagi. Aku menjaga hubunganku dengannya dengan mengorbankan kepentingan gereja. Pada hakikatnya, aku berpihak kepada Iblis dan mengacaukan pekerjaan gereja. Aku begitu egois, tercela, licin, dan licik!
Kemudian, aku membaca satu bagian firman Tuhan, dan aku makin memahami masalahku sendiri. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada prinsip dalam falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang berbunyi, 'Lindungi pertemananmu dengan tak pernah menunjukkan kesalahan orang lain.' Itu berarti untuk menjaga pertemanan yang baik ini, orang harus tutup mulut tentang masalah teman mereka, sekalipun mereka melihatnya dengan jelas. Mereka menaati prinsip tersebut untuk tidak mempermalukan orang atau menyingkapkan kekurangan mereka. Mereka saling menipu, saling menyembunyikan, dan saling berintrik. Meskipun mereka tahu betul orang macam apa orang lain itu, mereka tidak mengatakannya secara langsung, tetapi menggunakan cara-cara licik untuk menjaga hubungan mereka. Mengapa orang ingin menjaga hubungan seperti itu? Ini karena orang tidak mau menciptakan musuh di tengah masyarakat atau di dalam kelompoknya, karena melakukan ini berarti dia akan sering menempatkan dirinya dalam situasi berbahaya. Karena engkau tahu seseorang akan menjadi musuhmu dan menyakitimu setelah engkau menyingkapkan kekurangannya atau menyakiti hatinya, dan engkau tidak ingin menempatkan dirimu dalam situasi seperti itu, engkau menggunakan prinsip falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang berbunyi, 'Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka.' Dilihat dari sudut pandang ini, jika dua orang berada dalam hubungan seperti itu, dapatkah mereka dianggap sebagai sahabat sejati? (Tidak.) Mereka bukan sahabat sejati, apalagi orang kepercayaan dari masing-masing mereka. Jadi, sebenarnya hubungan macam apakah ini? Bukankah ini adalah hubungan sosial yang mendasar? (Ya.) Dalam hubungan sosial semacam itu, orang tidak bisa berbicara dari hati ke hati, juga tidak memiliki hubungan yang mendalam, juga tidak dapat mengatakan apa pun yang ingin mereka katakan. Mereka tidak dapat menyampaikan apa yang ada dalam hati mereka, atau masalah yang mereka lihat dalam diri orang lain, atau perkataan yang akan bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya, mereka memilih mengucapkan perkataan yang menyenangkan, untuk menyenangkan hati orang lain. Mereka tidak berani mengatakan yang sebenarnya ataupun menjunjung tinggi prinsip, dan dengan cara itu mereka mencegah orang lain agar tidak memiliki pemikiran yang memusuhi mereka. Ketika tak seorang pun mengancam seseorang, bukankah orang tersebut akan hidup relatif tenang dan damai? Bukankah inilah tujuan orang dalam menganjurkan pepatah ini, 'Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka'? (Ya.) Jelas, ini adalah cara bertahan hidup yang bengkok dan licik yang mengandung unsur kewaspadaan, yang tujuannya adalah untuk melindungi diri sendiri. Karena hidup dengan cara seperti ini, orang tidak memiliki orang kepercayaan, tidak memiliki sahabat yang dengannya mereka dapat mengatakan apa pun yang mereka inginkan. Di antara orang-orang, yang ada hanyalah sikap saling berwaspada, saling memanfaatkan, dan saling bersiasat, di mana setiap orang mengambil apa yang mereka butuhkan dari hubungan tersebut. Bukankah begitu? Pada dasarnya, tujuan dari 'Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka' adalah untuk menjaga agar tidak menyinggung orang lain maupun menciptakan musuh, untuk melindungi diri sendiri dengan tidak menyakiti siapa pun. Ini adalah teknik dan metode yang orang gunakan untuk menjaga dirinya agar tidak disakiti. Melihat pada beberapa aspek dari esensi pernyataan ini, apakah tuntutan di balik perilaku moral 'Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka' adalah prinsip yang mulia? Apakah ini positif? (Tidak.) Lalu, apa yang pepatah ini ajarkan kepada orang? Pepatah ini mengajarkan bahwa engkau tidak boleh menyinggung atau melukai perasaan siapa pun, jika tidak, engkaulah yang pada akhirnya akan disakiti; dan selain itu, pepatah ini mengajarkan bahwa engkau tidak boleh memercayai siapa pun. Jika engkau melukai perasaan salah satu dari teman baikmu, persahabatan itu akan mulai berubah secara diam-diam. Mereka akan berubah dari yang tadinya teman baik atau teman dekatmu, menjadi orang asing atau musuhmu. Masalah apa yang dapat diselesaikan dengan mengajari orang bertindak seperti itu? Meskipun, dengan bertindak seperti ini, engkau tidak menciptakan musuh dan bahkan mengurangi beberapa musuh, apakah ini akan membuat orang mengagumi dan menyetujuimu, dan selalu mempertahankan pertemanan denganmu? Apakah ini sepenuhnya memenuhi standar perilaku moral? Paling-paling, ini tak lebih dari sekadar falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (8)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa aku telah menjadikan falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain, seperti "Lindungi pertemananmu dengan tak pernah menunjukkan kesalahan orang lain", "Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka" sebagai prinsipku tentang cara berperilaku. Aku percaya bahwa dalam bergaul dengan orang lain, aku harus belajar melindungi diri sendiri. Kupikir menunjukkan masalah seseorang dapat dengan mudah menyinggung perasaan mereka, menciptakan musuh bagi diriku sendiri, jadi sekalipun aku melihat masalah, aku tidak akan mengungkapkannya. Dengan begitu, aku tidak akan merusak hubungan kami atau menimbulkan masalah bagi diriku sendiri. Ternyata yang aku ikuti adalah falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain dan cara bertahan hidup yang licin dan licik yang Iblis tanamkan dalam diri manusia. Dengan hidup berdasarkan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain ini, orang tidak bisa terbuka satu sama lain; mereka selalu waspada, menjadi makin palsu, licin, dan licik. Aku tahu betul bahwa Lin Hai telah menunda pekerjaan gereja dengan bersikap asal-asalan dan tidak melakukan pekerjaan nyata, dan bahwa aku seharusnya menunjukkan masalahnya dengan jelas untuk membantunya mengenal dirinya sendiri. Namun, aku takut melukai harga dirinya, mempermalukannya, menyinggung perasaannya, dan merusak hubungan kami, jadi aku memilih untuk berkompromi dan mundur. Dari luar, aku tampak membantunya menjaga muka dan menjaga hubungan kami tetap baik, tetapi aku tidak tulus dan sungguh-sungguh membantunya. Hal ini bukan hanya tidak bermanfaat bagi jalan masuk kehidupannya, melainkan justru menunda pekerjaan penyiraman. Tuhan menuntut kita untuk terbuka dan jujur dalam memperlakukan saudara-saudari. Ketika kita menemukan masalah pada seseorang, kita harus menunjukkannya dan bersekutu untuk membantunya dengan hati yang penuh kasih. Sekalipun dia tidak dapat menerimanya saat itu, selama dia adalah orang yang menerima kebenaran, nanti dia akan mencari dan merenungkan dirinya sendiri. Jika orang itu terus menolaknya setelah ditunjukkan, kita harus melaporkannya kepada para pemimpin sesegera mungkin untuk mencegah kerugian pada pekerjaan gereja. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh orang yang memiliki hati nurani dan nalar, dan inilah rasa keadilan yang seharusnya dimiliki seseorang. Tuhan menyukai orang yang jujur dan lurus hati serta membenci orang yang licik. Jika aku terus menjadi penyenang orang, mengambil jalan tengah, aku akan dibenci dan disingkirkan oleh Tuhan. Setelah menyadari hal ini, hatiku dipenuhi rasa takut. Aku juga berdoa kepada Tuhan, bersedia untuk bertobat dan tidak lagi hidup berdasarkan watakku yang rusak.
Kemudian, aku menemukan jalan penerapan dari firman Tuhan, dan hatiku tercerahkan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Terkadang, harmonis berarti bersikap sabar dan bertoleransi, tetapi harmonis juga berarti engkau memiliki pendirian dan mematuhi prinsip. Harmonis bukan berarti mengkompromikan prinsip untuk memuluskan segalanya, atau berusaha menjadi 'penyenang orang', atau bersikeras untuk mencari jalan tengah—dan tentu saja, harmonis bukan berarti menjilat orang lain. Inilah prinsip-prinsipnya. Setelah engkau memahami prinsip-prinsip ini, tanpa kausadari, engkau akan berbicara dan bertindak sesuai dengan maksud Tuhan, dan hidup dalam kenyataan kebenaran, dan dengan cara ini, akan mudah bagimu untuk mencapai kesatuan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Tentang Kerja Sama yang Harmonis"). "Jika engkau memiliki niat dan perspektif penyenang orang, maka dalam segala hal, engkau tidak akan menerapkan kebenaran ataupun menjunjung tinggi prinsip, sehingga engkau akan selalu gagal dan jatuh. Jika engkau tidak sadar dan tidak pernah mencari kebenaran, berarti engkau adalah pengikut yang bukan orang percaya, dan engkau tidak akan pernah memperoleh kebenaran dan hidup. Lalu, apa yang harus kaulakukan? Ketika menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan rumah Tuhan, engkau harus berdoa kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya, memohon agar Dia memberimu iman dan kekuatan, sehingga engkau mampu menjunjung tinggi prinsip, melakukan apa yang seharusnya kaulakukan, menangani segala sesuatu berdasarkan prinsip, berpegang teguh pada pendirian yang seharusnya kaupegang, melindungi kepentingan rumah Tuhan, dan mencegah agar pekerjaan rumah Tuhan tidak mengalami kerugian apa pun. Jika engkau mampu memberontak terhadap kepentingan diri sendiri, gengsimu, dan sudut pandangmu sebagai penyenang orang, dan jika engkau melakukan apa yang harus kaulakukan dengan hati yang jujur dan seutuhnya, engkau akan mengalahkan Iblis dan memperoleh aspek kebenaran ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Aku memahami bahwa kerja sama yang harmonis bukan berarti menjadi penyenang orang atau mengambil jalan tengah, juga bukan menjaga keharmonisan lahiriah dan tidak menyinggung siapa pun. Sebaliknya, ini berarti mampu menjunjung tinggi prinsip dan menjaga kepentingan gereja dalam hal-hal yang melibatkan pekerjaan gereja dan jalan masuk kehidupan saudara-saudari kita. Melihat bahwa kegagalan Lin Hai melakukan pekerjaan nyata sudah menunda pekerjaan gereja, aku harus bersekutu dengannya dan membantunya dengan kasih. Jika perlu, dia juga bisa dipangkas, dan jika dia tetap tidak menerimanya, aku harus melaporkannya kepada para pemimpin agar dapat segera dilakukan penyesuaian penugasan atau penghentian. Inilah menerapkan kebenaran; inilah kasih sejati. Namun aku memegang keyakinan yang menyimpang bahwa menunjukkan masalah pengawas berarti menyingkapkan kekurangannya dan mempermalukannya. Pemahamanku sangat konyol! Dari firman Tuhan, aku juga memahami bahwa ketika hal-hal menimpaku dan aku bersedia memberontak terhadap dagingku tetapi tidak dapat mengatasinya, aku harus berdoa kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya untuk memberiku kekuatan. Aku harus menunjukkan dan menyingkapkan kegagalan Lin Hai melakukan pekerjaan nyata. Aku tidak boleh lagi menjadi penyenang orang atau mengambil jalan tengah. Sekalipun menunjukkan masalahnya akan menyinggung perasaannya, aku harus menerapkan kebenaran. Jadi, aku menulis surat kepada Lin Hai dan mengundangnya untuk berjumpa dalam pertemuan. Sebelum aku pergi menemuinya, aku berdoa agar Tuhan membimbingku supaya aku bisa menerapkan kebenaran.
Saat pertemuan, aku menunjukkan masalah Lin Hai. Awalnya, dia tidak mau menerimanya dan mencoba membantah serta membela diri, dan seorang saudara lain juga menimpali untuk membelanya. Aku menyadari saudara ini sedang melindungi Lin Hai, jadi aku memotong pembicaraannya dan secara terus terang menyingkapkan bahwa dia berusaha menutupi masalah. Suasana menjadi agak canggung, dan raut wajah Lin Hai berubah masam. Aku takut jika aku bicara lebih banyak, hubungan kami akan menjadi canggung, jadi aku ingin berkompromi dan membiarkan masalah itu. Namun kemudian, aku berpikir bahwa Lin Hai telah merugikan pekerjaan dengan bersikap asal-asalan dan tidak melakukan pekerjaan nyata. Dia bahkan tidak mau menerimanya saat masalahnya ditunjukkan. Jika terus berlanjut, ini akan menyebabkan kerugian yang lebih besar pada pekerjaan gereja. Aku teringat akan beberapa baris lagu pujian: "Di gereja, tetaplah teguh dalam kesaksianmu tentang-Ku dan tegakkan kebenaran. Benar adalah benar dan salah adalah salah; jangan mencampuradukkan hitam dan putih. Engkau harus berperang melawan Iblis dan sepenuhnya mengalahkannya sehingga Iblis tidak pernah bangkit lagi" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 41"). Firman Tuhan memberiku iman dan kekuatan. Aku tidak boleh menjadi penyenang orang lagi; aku harus menjunjung tinggi prinsip. Jadi, berdasarkan firman Tuhan, aku menunjukkan masalah Lin Hai dan mempersekutukan konsekuensi dari tidak mengawasi atau menindaklanjuti pekerjaan, serta tidak berfokus pada pembinaan orang. Setelah mendengar ini, sikap Lin Hai sedikit berubah, dan dia menyatakan kesediaannya untuk menerimanya. Hanya dengan menerapkan cara ini, hatiku terasa tenang.
Kemudian, aku melihat bahwa Lin Hai masih belum banyak berubah, jadi aku merinci masalahnya satu per satu dan melaporkannya kepada para pemimpin. Setelah mengumpulkan evaluasi tentang Lin Hai, para pemimpin melihat bahwa dia memiliki kualitas yang buruk, tidak memiliki kemampuan kerja, dan tidak memikul beban dalam tugasnya. Dia adalah pekerja palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata dan seharusnya diberhentikan. Para pemimpin kemudian mengangkat aku menjadi pengawas dan memintaku untuk pergi bersekutu dengan Lin Hai dan memberhentikannya. Aku merasa agak ragu. "Jika aku menyingkapkan masalahnya secara langsung di hadapannya, apakah dia akan menyimpan dendam padaku dan berprasangka terhadapku?" Aku menyadari mentalitasku untuk menyenangkan orang muncul lagi, dan aku teringat akan firman Tuhan: "... maka sekalipun ketika engkau melakukannya, itu menyinggung perasaan orang atau membuatmu dicaci maki di belakangmu, itu konsekuensi yang kecil." Aku segera mencari bagian itu untuk dibaca. Tuhan berfirman: "Jika suatu tindakan sesuai dengan prinsip, maka sekalipun ketika engkau melakukannya, itu menyinggung perasaan orang atau membuatmu dicaci maki di belakangmu, itu konsekuensi yang kecil; tetapi jika suatu tindakan tidak sesuai dengan prinsip, maka sekalipun dengan melakukannya engkau memperoleh persetujuan dan dukungan dari semua orang dan membuatmu hidup rukun dengan semua orang—tetapi di satu sisi engkau tidak dapat dipertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan—engkau telah mengalami kerugian. Jika engkau menjaga hubungan dengan mayoritas orang, membuat mereka senang dan puas dan memperoleh pujian mereka, tetapi engkau menyinggung Tuhan, Sang Pencipta, engkau adalah orang yang paling bodoh. Oleh karena itu, apa pun yang kaulakukan, engkau harus memahami dengan jelas apakah tindakanmu sesuai dengan prinsip atau tidak, apakah itu menyenangkan Tuhan atau tidak, bagaimana sikap Tuhan terhadapnya, pendirian apa yang harus orang miliki, prinsip apa yang harus kautaati, bagaimana Tuhan telah mengajarkanmu, dan bagaimana engkau harus melakukannya—engkau harus terlebih dahulu jelas mengenai hal ini" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (24)"). Setelah membaca firman Tuhan, hatiku tiba-tiba menjadi terang. Dalam melaksanakan tugasku, aku harus memiliki hati yang takut akan Tuhan dan mencari maksud Tuhan serta prinsip-prinsip dalam melakukan segala sesuatu. Selama sesuatu sejalan dengan prinsip kebenaran, aku harus mempertahankannya. Selama aku bisa memuaskan Tuhan, tidak masalah jika aku menyinggung perasaan orang atau dijelek-jelekkan. Jika aku mengetahui kebenaran tetapi tidak menerapkannya hanya demi menjaga hubunganku dengan orang lain, sekalipun aku tidak menyinggung siapa pun, aku akan dikutuk oleh Tuhan karena melakukan pelanggaran dengan tidak menjaga pekerjaan gereja. Itu akan sangat bodoh! Jadi, aku pergi bersekutu dengan Lin Hai, menyingkapkan perilakunya yang tidak melakukan pekerjaan nyata, dan memberhentikannya. Lin Hai berkata bahwa dia akan merenungkan dirinya sendiri secara menyeluruh. Melalui pengalaman ini, aku menyadari bahwa hanya dengan menerapkan kebenaran dan berinteraksi dengan orang lain sesuai prinsip kebenaran, seseorang dapat hidup dalam keserupaan dengan manusia. Mulai sekarang, aku tidak boleh lagi menjadi penyenang orang, yang merugikan orang lain dan diri sendiri.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Florence, ItaliaSejak kecil, ibuku memberitahuku, “Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau...
Oleh Saudari Xun Qiu, Belanda Bulan Mei tahun lalu, aku ditugaskan menyiram petobat baru. Aku sebelumnya berpikir ini pekerjaan yang cukup...
Oleh Saudari Jing Wei, TiongkokPada bulan September 2020, aku adalah seorang pengkhotbah di gereja, yang bertanggung jawab atas pekerjaan...
Oleh Saudara Fang Gang, KoreaBeberapa bulan lalu, seorang pemimpin menugaskanku dan Saudara Connor untuk bertanggung jawab atas pekerjaan...