Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Mengapa Tuhan Mengizinkan Orang Kristen Menderita?

366

Oleh Saudari Li Tong

Banyak orang Kristen merasa bingung: Tuhan adalah kasih dan Dia mahakuasa, jadi mengapa Dia mengizinkan kita menderita? Mungkinkah Dia telah meninggalkan kita? Dulu pertanyaan ini selalu membingungkanku, tetapi akhir-akhir ini, melalui doa dan pencarian, aku mendapatkan sedikit pencerahan dan penerangan. Hal ini telah menyelesaikan kesalahpahamanku akan Tuhan, dan aku menjadi paham bahwa penderitaan bukan berarti bahwa Tuhan membuang kita, tetapi sebaliknya penderitaan diatur oleh Tuhan dengan sangat saksama untuk menyucikan dan menyelamatkan kita. Ujian dan pemurnian ini adalah kasih karunia Tuhan yang terbesar bagi kita!

Ujian dan Pemurnian Merupakan Kasih Karunia Tuhan yang Terbesar

Tuhan berfirman: “Dan Aku akan membawa bagian ketiga itu melewati api, dan akan memurnikan mereka seperti perak dimurnikan, dan akan mengujinya seperti emas diuji: mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan mendengar mereka: Aku akan berkata, Ini adalah umat-Ku: dan mereka akan berkata, Yahweh adalah Tuhanku” (Zakharia 13:9). “Lihatlah, Aku telah memurnikan engkau, tetapi tidak dengan perak; Aku telah memilih engkau dalam tungku penderitaan” (Yesaya 48:10). Dan dalam 1 Petrus 5:10 dikatakan, “Tetapi Tuhan, sumber segala kasih karunia, yang sudah memanggil engkau kepada kemuliaan kekal-Nya dalam Kristus Yesus, setelah engkau menderita sebentar, menjadikanmu sempurna, menegakkan, menguatkan, membuatmu kokoh.”

Kita dapat melihat dari firman Tuhan dan kitab suci bahwa terdapat kehendak Tuhan pada saat Dia mengizinkan kita untuk menderita, dan hal itu sepenuhnya untuk menyucikan dan menyelamatkan kita; itu adalah harta berharga yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Sebelum ujian dan pemurnian datang kepada kita, kita semua menganggap diri kita sebagai orang yang menjunjung tinggi jalan Tuhan, dan beberapa dari kita bahkan merasa bahwa dengan meninggalkan, mengorbankan diri, bersusah payah, dan bekerja untuk Tuhan, dengan menderita dan membayar harga, kita sepenuhnya memperhatikan kehendak Tuhan, bahwa kita adalah orang yang paling mengasihi-Nya, dan bahwa kita adalah orang yang paling berbakti kepada-Nya. Kita percaya bahwa walaupun orang lain mungkin menjadi negatif dan lemah atau mengkhianati Tuhan, kita tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti itu. Namun kenyataannya adalah bahwa ketika kita dihadapkan dengan kesulitan seperti kehilangan pekerjaan, atau kesulitan keuangan, kita mengeluh kepada Tuhan, kehilangan iman kita, dan bahkan menjadi tidak bersedia mengorbankan diri untuk-Nya lagi. Ketika kemalangan menimpa keluarga kita atau musibah terjadi, kita mungkin masih mengeluh tentang Tuhan karena sesuatu berbenturan dengan kepentingan pribadi kita. Kita memperdebatkan kasus kita dan melakukan perlawanan, dan dalam kasus-kasus serius, mengkhianati Tuhan dan meninggalkan iman kita. Tuhan telah menyatakan dalam banyak kesempatan bahwa Dia menghendaki kita untuk mengikuti jalan-Nya, dan telah menuntut kita: “Engkau harus mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap pikiranmu” (Matius 22:37). Namun demikian, kita selalu memperhitungkan kepentingan daging kita, dan menghargainya lebih daripada kasih kita kepada Tuhan. Ketika Tuhan bertindak sesuai dengan gagasan kita, kita berterima kasih dan memuji-Nya, tetapi ketika Dia tidak melakukannya, kita mengembangkan kesalahpahaman dan keluhan tentang Tuhan, atau bahkan mengkhianati Dia. Ini menunjukkan kepada kita seberapa dalam Iblis telah merusak kita. Kita selalu mengejar berkat dalam iman kita, yang pada dasarnya berusaha untuk bertransaksi dengan Tuhan—hal ini benar-benar egois, tercela, dan sama sekali tak beralasan! Pada titik ini, kita dapat memperoleh sebagian pemahaman yang benar tentang watak Iblis yang memberontak dan melawan Tuhan di dalam diri kita, serta sedikit pemahaman akan motif dan gagasan yang keliru dalam iman kita. Kita dapat melihat bahwa apa yang kita hidupi jauh sekali dari apa yang Tuhan kehendaki dari kita, dan bahwa kita sama sekali tidak layak menerima berkat dan perkenanan Tuhan. Demikian juga, melalui ujian dan pemurnian seperti itu, kita dapat mengalami kekudusan dan kebenaran Tuhan, dan merasakan betapa banyak pemalsuan yang ada dalam iman kita kepada-Nya. Jika kita terus percaya kepada-Nya dengan niat untuk mencari berkat, kita hanya akan membuat Tuhan merasa jijik dengan kita dan membenci kita. Setelah disingkapkan melalui ujian, kita mampu melihat bahwa kerusakan kita terlalu besar dan kekurangan kita terlalu banyak, dan dengan demikian kita dapat mulai datang ke hadirat Tuhan dalam doa, membaca firman-Nya, dan kemudian merenungkan dan mengetahui di bagian manakah dalam diri kita yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita dapat mencari cara untuk memuaskan Tuhan dan memberikan kesaksian bagi-Nya, dan tanpa sadar, kita mengembangkan hubungan yang jauh lebih dekat dengan Tuhan. Setelah memiliki pengalaman seperti itu, kita tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang diri kita sendiri dan sedikit pemahaman tentang watak Tuhan, kita juga menjadi lebih stabil dan dewasa. Watak impulsif, congkak, egois, dan curang kita dilumpuhkan, dan hanya dengan begitu kita dapat benar-benar memahami bahwa sementara ujian dan pemurnian menyebabkan kita menderita secara daging, buah yang dihasilkannya di dalam diri kita adalah keselamatan dan penyucian, yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita dan sangat mendidik kerohanian kita.

Kita juga dapat melihat hal ini dari pengalaman orang-orang kudus sepanjang zaman. Sebelum Tuhan memakai Musa, Dia pertama-tama melembutkan Musa di padang gurun selama 40 tahun. Pada saat itu, Musa mengalami segala macam kesulitan, tidak ada seorang pun baginya untuk diajak bicara, dan dia sering berhadapan dengan binatang buas dan cuaca yang keras. Hidupnya selalu berada dalam bahaya. Dia tentu sangat menderita dalam lingkungan yang keras seperti itu. Beberapa orang mungkin bertanya, “Tidak dapatkah Tuhan langsung memakai Musa? Mengapa Dia pertama-tama harus mengirimkannya ke padang gurun selama 40 tahun?” Dalam hal ini kita menemukan kebajikan Tuhan. Kita tahu bahwa Musa adalah orang jujur yang memiliki rasa keadilan, tetapi dia bertabiat pemarah dan memiliki kecenderungan untuk bertindak secara impulsif berdasarkan gagasannya akan kebenaran. Ketika dia melihat seorang tentara Mesir mencambuki seorang Israel, dia memukul kepala orang Mesir itu dengan batu dan membunuhnya. Tabiat bawaan Musa dan semangat kepahlawanannya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, jadi jika Tuhan secara langsung memakainya, Musa akan terus mengandalkan sifat-sifat ini dalam tindakannya dan tidak akan pernah bisa menyelesaikan apa yang dipercayakan Tuhan kepadanya—memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Inilah sebabnya Tuhan membiarkan Musa tinggal di padang gurun selama 40 tahun, agar Musa menjadi lebih layak untuk dipakai Tuhan. Dalam lingkungan yang berat dan bermusuhan seperti itu, Musa tidak hanya terus-menerus berdoa dan berseru kepada Tuhan, tetapi dia juga melihat kemahakuasaan dan dominasi Tuhan, dan mengandalkan Tuhan demi kelangsungan hidupnya. Unsur pemarah dan tabiat alami dalam dirinya semakin berkurang, dan dia mengembangkan iman yang sejati dan ketundukan kepada Tuhan. Jadi, ketika Tuhan memanggil Musa untuk melaksanakan tugas-Nya memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, Musa dapat menerima dan menaatinya tanpa perlawanan, dan dengan bimbingan Tuhan, dia dengan lancar melaksanakan tugas dari Tuhan.

Ada juga kisah Ayub di dalam Alkitab. Ayub menjalani ujian ketika harta miliknya diambil darinya, anak-anaknya mati, dan dia sendiri menderita bisul di sekujur tubuhnya, tetapi meskipun dia menderita, dia tidak pernah berdosa dengan perkataannya; dia tidak mengeluh tentang Tuhan, tetapi menerima segala sesuatu dari Tuhan di dalam hatinya. Dia juga dapat mencari kehendak Tuhan, dan akhirnya berkata: “Yahweh yang memberi, dan Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh” (Ayub 1:21) dan “Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?” (Ayub 2:10). Dia mengandalkan iman, rasa takut, dan ketundukannya kepada Tuhan untuk mengatakan hal-hal ini, dan dengan demikian dia menjadi kesaksian bagi Tuhan. Alasan Ayub mampu menjadi kesaksian melalui ujian yang begitu besar adalah karena dia percaya bahwa Tuhan menguasai segala sesuatu, dan bahwa semua harta milik maupun anak-anaknya merupakan pemberian Tuhan kepadanya, jadi adalah hak Tuhan untuk mengambilnya kembali. Sebagai makhluk ciptaan, dia harus menerima dan tunduk. Kemampuan Ayub untuk berdiri dalam posisi sebagai makhluk ciptaan dan dengan tanpa syarat menaati Sang Pencipta menjadi kesaksian bagi Tuhan. Tuhan kemudian menampakkan diri kepada Ayub dalam badai, dan Ayub melihat punggung Tuhan dan mendengarkan Tuhan berbicara kepadanya dengan mulut-Nya sendiri; dia mendapatkan pemahaman yang sejati tentang Tuhan. Ayub menuai karunia yang tidak akan pernah dapat diperolehnya di lingkungan yang nyaman, dan ini adalah berkat terbesar yang diberikan kepada Ayub melalui ujian dan pemurnian. Sebagaimana Ayub memberi tahu teman-temannya setelah ujiannya: “Setelah Dia menguji aku, aku akan tampil seperti emas” (Ayub 23:10).

Ini menunjukkan kepada kita bahwa ujian dan pemurnian sebenarnya merupakan kasih Tuhan yang sejati dan nyata bagi kita. Hanya melalui ujian dan pemurnian kita dapat disucikan dan diselamatkan oleh Tuhan, dan dengan demikian menjadi orang yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Inilah alasannya Tuhan mengizinkan hal-hal ini menimpa kita.

Dapatkah Karunia Materi Membantu Kita Bertumbuh dalam Hidup Kita?

Sering kali, kita kurang memahami maksud baik Tuhan, dan berharap segala sesuatu berjalan seperti yang kita inginkan. Kita khususnya tidak bersedia menjalani ujian dan pemurnian. Sebaliknya, kita berharap untuk memiliki kehidupan yang sepenuhnya damai tanpa adanya malapetaka dalam hidup kita atau dalam hidup orang-orang yang kita kasihi. Kita ingin semuanya berjalan lancar, dan menikmati berkat dan kasih karunia Tuhan. Namun pernahkah kita mempertimbangkan apakah lingkungan yang nyaman dapat membuat kita membuang watak-watak kita yang rusak? Dapatkah berkat materi benar-benar membantu kita mengetahui watak dan keberadaan Tuhan? Jika kita hanya menikmati belas kasih dan kasih karunia-Nya, dapatkah hal itu meningkatkan iman kita kepada-Nya dan mengizinkan kita untuk mengembangkan kasih sejati dan ketundukan kepada Tuhan? Firman Tuhan berkata: “Jika engkau hanya menikmati kasih karunia Tuhan, dengan kehidupan keluarga yang penuh damai atau berkat secara materi, maka engkau belum memperoleh Tuhan, dan keyakinanmu kepada Tuhan telah gagal. Tuhan telah menjalankan tahap pekerjaan kasih karunia dalam daging, dan telah memberikan berkat-berkat materi kepada manusia—tetapi manusia tidak bisa disempurnakan dengan kasih karunia, kasih, dan kemurahan saja. Dalam pengalaman-pengalamannya, manusia menjumpai sejumlah kasih Tuhan, dan melihat kasih dan kemurahan Tuhan. Namun setelah mengalaminya selama beberapa waktu, ia melihat bahwa kasih karunia dan kasih dan kemurahan-Nya tidak mampu membuat manusia sempurna. Serta tidak mampu menyingkapkan apa yang rusak dalam diri manusia, tidak mampu menghilangkan watak manusia yang rusak, maupun menyempurnakan kasih dan imannya. Karya kasih karunia Tuhan adalah karya satu periode, dan untuk mengenal Tuhan, manusia tidak dapat mengandalkan pada menikmati kasih karunia Tuhan” (“Hanya Dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Kasih Tuhan”).

Firman Tuhan sangat jelas. Jika kita hanya berfokus untuk menikmati belas kasih dan kasih karunia Tuhan, kita tidak hanya tidak akan dapat terbebas dari watak-watak kita yang rusak, tetapi kita tidak akan bertumbuh dalam hidup kita, juga iman, kasih, dan ketaatan kita “Kemakmuran orang bebal akan membinasakan mereka” (Amsal 1:32). Jika kita hidup terus-menerus dalam lingkungan yang nyaman tanpa ujian atau pemurnian, hati kita akan berangsur-angsur menjauh dari Tuhan dan kita akan cenderung menjadi bejat sebagai akibat dari keserakahan kita akan kenyamanan hidup. Kita akan hidup dalam watak-watak kita yang rusak dengan perut kenyang dan pikiran yang bebas dari kekhawatiran, dan pada akhirnya tidak akan mencapai apa-apa, membuang-buang hidup kita. Ini seperti menjadi orangtua—jika engkau selalu memanjakan anakmu dan bersikap pemaaf dan toleran tanpa peduli kesalahan apa pun yang mereka lakukan, pada titik manakah anak itu akan dapat mengubah sifat-sifat negatifnya dan menjadi dewasa? Jadi, lingkungan yang nyaman sama sekali tidak bermanfaat bagi pertumbuhan kita dalam kehidupan; sebaliknya, itu akan membuat kita semakin lama semakin rakus akan kenikmatan daging dan kita hanya akan terus-menerus menuntut kasih karunia dan berkat Tuhan, menjadi semakin egois, serakah, jahat, dan curang. Jika kita ingin melepaskan diri dari watak kita yang rusak dan menjadi manusia yang sesuai dengan kehendak Tuhan, kita tidak bisa puas dengan hanya bersantai dalam kasih karunia dan berkat Tuhan dan percaya kepada Tuhan dalam lingkungan yang nyaman, tetapi kita juga harus melalui lebih banyak ujian dan pemurnian. Itulah satu-satunya cara kita dapat menyingkirkan watak kita yang rusak dan ditahirkan oleh Tuhan.

media terkait

  • Bagaimana Memiliki Iman yang Sejati kepada Tuhan

    Apa yang Tuhan kehendaki dari masing-masing kita sebagai orang Kristen adalah untuk kita memiliki iman yang sejati. Jadi, apa artinya iman yang sejati dan apakah engkau memilikinya?

  • Pencerahan dari Perumpamaan Sepuluh Gadis

    Kita semua ingin menjadi gadis bijaksana yang boleh menyambut kedatangan-Nya dan menghadiri perjamuan kerajaan surga bersama-Nya—tidak seorang pun ingin menjadi gadis bodoh yang dibuang oleh Tuhan, namun penerapan seperti apa sebenarnya yang harus kita lakukan agar dapat menjadi gadis bijaksana?

  • Kesaksian Kristen: Cara Menjaga Pertemanan dalam Menghadapi Upaya Mencari Keuntungan

    Keterangan: Sebaik apa pun hubungan antar teman di tempat kerja, mereka tetap bisa menjadi musuh bila menyangkut keuntungan. Nah, lalu bagaimana pertemanan yang rusak bisa diperbaiki? Mari kita baca bersama bagaimana seorang Kristen bernama Ye Qing melewati pengalaman semacam itu!

  • Apa yang Dimaksud dengan Kehidupan Rohani yang Sejati?

    Apa yang merupakan devosi rohani sejati? Bagaimana seseorang dapat memperoleh hasil yang baik dari devosi rohaninya? Dengan mengklik dan membaca artikel ini, Anda akan menemukan jalan untuk menerapkannya.