Mengapa Tuhan Yesus Bertanya Kepada Petrus Tiga Kali, "Apakah Engkau Mengasihi Aku?"

02 November 2021

Oleh Chun Zhen

Dalan Alkitab perjanjian baru mencatat: "Yesus berkata kepada Simon Petrus: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka?' Petrus berkata: 'Ya, Tuhan, Engkau tahu aku mengasihi-Mu.' Yesus berkata kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku.' Yesus berkata kepadanya lagi untuk kedua kalinya: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?' Petrus menjawab: 'Ya, Tuhan, Engkau tahu aku mengasihi-Mu.' Yesus berkata kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku.' Yesus berkata kepadanya lagi untuk tiga kalinya: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?' Maka Petrus bersedih hati karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: 'Apakah engkau mengasihi Aku?' Dan ia berkata kepada-Nya: 'Tuhan, Engkau tahu segala hal; engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu.' Yesus berkata kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku'" (Yohanes 21:15-17). Setiap kali aku melihat ayat-ayat ini, aku akan bertanya-tanya dalam hatiku: Tuhan Yesus tahu pikiran Petrus begitu baik, mengapa Dia bertanya kepada Petrus tiga kali, "Apakah engkau mengasihi Aku"? Apa kehendak Tuhan? Aku telah mencari jawaban dari seorang pendeta yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan akrab dengan Alkitab, dan mencari jawabannya di beberapa buku rohani, tetapi aku tidak pernah menemukan jawabannya.

Suatu hari, aku pergi ke rumah rekan kerja Saudara Wang untuk membahas pekerjaan gereja. Sepupu Saudara Wang, Saudari Zheng, kebetulan ada di sana. Setelah kami mengobrol sebentar, aku menceritakan kebingungan di hatiku, berharap mendapat jawaban dari mereka. Setelah Saudari Zheng mendengar ini, dia tersenyum dan berkata, "Terima kasih Tuhan! aku memiliki sebuah buku yang dapat memecahkan masalah kita. Mari kita lihat bersama." Dengan segera, Saudari Zheng mengeluarkan sebuah buku dari tasnya, dan membaca: "Dalam percakapan ini, Tuhan Yesus berulang kali menanyakan satu hal kepada Petrus: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?' Ini adalah standar lebih tinggi yang dituntut Tuhan Yesus dari orang-orang seperti Petrus setelah kebangkitan-Nya, dari mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus dan berusaha untuk mengasihi Tuhan. Pertanyaan ini adalah semacam investigasi, dan interogasi, tetapi lebih dari itu, merupakan sebuah tuntutan dan harapan terhadap orang-orang seperti Petrus. Tuhan Yesus menggunakan cara bertanya seperti ini agar orang-orang bisa merenungkan diri mereka dan melihat ke dalam diri mereka sendiri dan menanyakan: apakah yang Tuhan Yesus tuntut dari manusia? Apakah aku mengasihi Tuhan? Apakah aku orang yang mengasihi Tuhan? Bagaimanakah seharusnya aku mengasihi Tuhan? Meskipun Tuhan Yesus hanya menanyakan pertanyaan ini kepada Petrus, sebenarnya di dalam hati-Nya, dengan menanyakan pertanyaan ini kepada Petrus, Dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk menanyakan pertanyaan yang sama jenisnya kepada lebih banyak orang yang ingin mengasihi Tuhan. Hanya saja Petrus diberkati karena bertindak sebagai perwakilan orang-orang sejenis ini, untuk menerima pertanyaan dari mulut Tuhan Yesus sendiri.

............

Pertanyaan yang menyebabkan orang berpikir dan penuh makna, pertanyaan yang mau tak mau menyebabkan setiap pengikut Kristus merasakan penyesalan, dan rasa takut, tetapi juga merasakan suasana hati Tuhan Yesus yang cemas dan sedih. Dan ketika mereka berada dalam penderitaan dan kepedihan yang hebat, mereka lebih mampu untuk memahami perhatian Tuhan Yesus Kristus dan kepedulian-Nya; mereka menyadari ajaran-Nya yang bersungguh-sungguh dan tuntutan-Nya yang tegas terhadap orang-orang yang murni dan jujur. Pertanyaan Tuhan Yesus memungkinkan orang merasakan bahwa pengharapan Tuhan akan orang-orang yang diungkapkan lewat kalimat sederhana ini bukan hanya agar mereka percaya atau mengikuti Dia, melainkan agar mereka memiliki kasih, agar engkau mengasihi Tuhanmu. Kasih semacam ini bersifat peduli dan taat. Kasih ini adalah soal manusia yang hidup demi Tuhan, mati demi Tuhan, mendedikasikan segalanya bagi Tuhan, dan mengorbankan serta memberikan segalanya bagi Tuhan. Kasih semacam ini juga memberi kepada Tuhan penghiburan, memungkinkan diri-Nya untuk menikmati kesaksian, dan merasakan ketenangan. Inilah balas budi manusia kepada Tuhan, inilah tanggung jawab, kewajiban dan tugas manusia, dan inilah jalan yang harus manusia ikuti di sepanjang hidup mereka. Ketiga pertanyaan ini merupakan tuntutan dan dorongan yang Tuhan Yesus berikan kepada Petrus dan semua orang yang hendak disempurnakan. Tiga pertanyaan inilah yang memimpin dan mendorong Petrus untuk menempuh jalan hidupnya hingga akhir, dan pertanyaan perpisahan Tuhan Yesus inilah yang menuntun Petrus untuk mulai menapaki jalan dirinya disempurnakan, yang menuntunnya, oleh karena kasihnya kepada Tuhan, untuk memedulikan hati Tuhan, untuk menaati Tuhan, untuk mempersembahkan penghiburan bagi Tuhan, dan memberikan seluruh hidupnya dan seluruh dirinya karena kasih ini" ("Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III" dalam Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).

Setelah mendengarkan paragraf ini, tiba-tiba hatiku menjadi jernih, ternyata Tuhan bertanya kepada Petrus tiga kali, "Apakah engkau mengasihi Aku?" Kata-kata ini penuh dengan tuntutan dan harapan Tuhan bagi kita yang mengikuti Tuhan! Tuhan berharap agar kita semua dapat merenungkan dari pertanyaan Tuhan apakah tindakan kita memenuhi tuntutan Tuhan, dan apakah kita adalah orang yang mengasihi Tuhan. Karena Tuhan tidak ingin kita hanya percaya dan mengikuti-Nya, tetapi berharap agar kita memiliki kasih yang sejati kepada Tuhan, menaati Tuhan dalam segala hal, dan memperhatikan kehendak Tuhan.

Saat ini, Saudari Zheng berkata: "Kita yang percaya kepada Tuhan dapat memiliki hati yang mengasihi Tuhan, yang paling dihargai oleh Tuhan. Karena dalam pekerjaan Tuhan selama ribuan tahun, meskipun ada banyak orang yang percaya dan mengikuti Tuhan, sangat sedikit orang yang benar-benar mengasihi Tuhan, jadi Tuhan bertanya kepada Petrus tiga kali, 'Apakah engkau mengasihi Aku?', berharap Petrus dapat menjadi orang yang mengasihi Tuhan, dan juga mengingatkan orang-orang seperti Petrus, agar dapat menjadi orang yang mengikuti jalan Tuhan, dan orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap pikiran, dan segenap jiwanya."

Rekan kerja Saudara Wang melanjutkan dengan berkata: "Ya, Tuhan datang bekerja di bumi dengan berinkarnasi untuk menyelamatkan kita, memberi kita berkat yang berlimpah, dan dipakukan di kayu salib untuk menebus seluruh umat manusia dari dosa, juga memberi kita banyak kebenaran. Setelah menikmati keselamatan besar dari Tuhan, kita harus berusaha untuk mengasihi Tuhan dan membalas kasih Tuhan! Namun, dari paragraf ini dapat terlihat bahwa mengasihi Tuhan tidak sesederhana yang kita bayangkan! Dulu, aku selalu berpikir bahwa jika kita dapat bekerja untuk Tuhan dan berkhotbah, mendirikan gereja, menanggung banyak penganiayaan dan kesengsaraan, dan menjaga ajaran Tuhan, ini artinya kita mengasihi Tuhan. Tetapi ketika melihat Petrus, dia telah mengikuti Tuhan selama periode pekerjaan Tuhan Yesus, kesulitan dan penganiayaan yang dia alami jauh lebih besar dari kita, tetapi Tuhan juga menuntut Petrus untuk terus berusaha mengasihi Tuhan. Dapat dilihat bahwa mengasihi Tuhan memiliki makna yang lebih dalam."

Setelah merenungkan apa yang dikatakan Saudari Zheng dan rekan kerja Saudara Wang, aku berpikir perkataan mereka sangat masuk akal dan mengangguk setuju, dengan mengatakan: "Dari sudut pandang ini, pemahaman kita tentang mengasihi Tuhan mungkin sangat dangkal, tidak cukup mencapai kehendak Tuhan dan persyaratan Tuhan!"

Saudari Zheng memandang kami dan tersenyum, lalu berkata, "Aku dulu sama seperti apa yang telah Anda pahami sebelumnya. Aku berpikir bahwa dapat bekerja keras dan meninggalkan segalanya adalah orang yang mengasihi Tuhan. Kemudian aku membaca paragraf ini yang berkata: 'Kasih semacam ini bersifat peduli dan taat. Kasih ini adalah soal manusia yang hidup demi Tuhan, mati demi Tuhan, mendedikasikan segalanya bagi Tuhan, dan mengorbankan serta memberikan segalanya bagi Tuhan. Kasih semacam ini juga memberi kepada Tuhan penghiburan, memungkinkan diri-Nya untuk menikmati kesaksian, dan merasakan ketenangan. Inilah balas budi manusia kepada Tuhan, inilah tanggung jawab, kewajiban dan tugas manusia, dan inilah jalan yang harus manusia ikuti di sepanjang hidup mereka.' Dan terpikir apa yang Tuhan Yesus katakan: 'Engkau harus mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap pikiranmu. Inilah perintah pertama dan yang terutama' (Matius 22:37-38). Aku mengerti bahwa orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan mampu memuliakan Tuhan sebagai Tuhan yang agung di dalam hatinya, peduli kepada Tuhan, taat, memenuhi tanggung jawab dan tugas makhluk ciptaan untuk membalas kasih Tuhan, tidak merencanakan keuntungan diri sendiri tidak peduli apa pun yang Tuhan minta, dapat mengorbankan segalanya untuk melakukan kehendak Tuhan, dan apa yang dilakukan dapat memuaskan Tuhan serta memberikan penghiburan kepada Tuhan. Setelah memahami ini, aku merenungkan diri sendiri: Apakah aku memiliki kasih terhadap Tuhan? Apakah aku seseorang yang benar-benar mengasihi Tuhan? Meskipun berkali-kali aku secara lisan mengatakan bahwa aku ingin mengejar untuk mengasihi Tuhan, dalam kehidupan nyata aku telah menyumbangkan uang atau melakukan sesuatu untuk gereja dan melakukan pelayanan, dan karenanya aku berpikir Tuhan harus menjaga keluargaku agar aman, hidup nyaman, atau membuat karir suamiku berjalan lancar, dll. Ketika Tuhan tidak memenuhi persyaratanku, aku mengeluh dalam hati, dan semangatku untuk bekerja demi Tuhan berkurang. Saat ini, aku menyadari bahwa aku meminta berkat dari Tuhan dengan sedikit pengorbanan. Bukankah ini bertransaksi dengan Tuhan, memanfaatkan Tuhan dan menipu Tuhan? Dalam pengorbananku untuk Tuhan, terdapat banyak transaksi dan permintaan, sudut pandang iman seperti ini sangat dibenci oleh Tuhan, bagaimana bisa dikatakan bahwa kita adalah orang yang mengasihi Tuhan? Dapat dilihat apakah kita orang yang mengasihi Tuhan atau tidak, tidak bisa dinilai dari berapa banyak pengorbanan dan pekerjaan yang kita lakukan untuk Tuhan. Yang terpenting tergantung apakah kita memiliki hati yang benar-benar mengasihi Tuhan."

Mendengarkan penjelasan Saudari Zheng yang begitu gamblang tentang "Apa itu orang yang mengasihi Tuhan", aku tidak bisa menahan diri untuk merenungkan diri sendiri. Aku berpikir bahwa kepercayaanku kepada Tuhan adalah demi kedamaian, dan demi mendapatkan berkat di masa depan untuk memasuki kerajaan surga. Aku bekerja untuk gereja tahun-tahun ini, aku telah menerobos angin dan hujan, telah diejek dan difitnah oleh dunia, dan juga mengalami beberapa penganiayaan dan kesulitan. Tetapi setiap kali aku memikirkan berkat-berkat surga, aku merasa bahwa penderitaan itu sepadan, bukankah aku sedang membuat kesepakatan dengan Tuhan? Ini bukan untuk mengasihi Tuhan! Memikirkan hal ini, aku tidak bisa menahan suasana hati yang berat di dalam hatiku, dan berkata, "Saudari Zheng benar! Kita secara lahiriah bekerja dan mengorbankan diri untuk Tuhan, tetapi hati kita tidak murni, dan kita tidak benar-benar mempertimbangkan kehendak Tuhan. Pengorbanan seperti itu tidak dapat menghibur hati Tuhan dan hanya menyakiti hati Tuhan!"

Saudari Zheng melanjutkan dengan berkata, "Ya, Tuhan memperlakukan kita dengan sepenuh hati dan berharap kita dapat mengasihi-Nya dengan hati yang tulus. Tuhan sangat berharap hidup kita dapat tumbuh secepat mungkin, dan melepaskan iman yang hanya mencari roti dan kenyang, tidak lagi membuat kesepakatan dengan Tuhan, benar-benar berdiri dalam posisi makhluk ciptaan untuk menyembah Tuhan, menjadi orang yang berhati nurani, yang dapat mengasihi Tuhan, menaati Tuhan, dan takut akan Tuhan, sehingga hati Tuhan akan terhibur."

Perkataan Saudari Zheng menyentuh hatiku, aku mengerti kehendak Tuhan dan mengangguk dengan tegas. Pada saat ini, aku tiba-tiba berpikir bahwa buku Saudari Zheng mengomunikasikan dengan sangat jelas apa itu kasih sejati terhadap Tuhan, jadi aku dengan penasaran bertanya kepada saudari apa nama buku ini. Saudari Zheng tersenyum lembut. Dia mengambil buku di tangannya dan berkata kepada aku: "Nama buku ini adalah 'Firman yang Esensial Dari Tuhan Yang Mahakuasa Kristus Akhir Zaman'. Apa itu kasih sejati terhadap Tuhan dan bagaimana caranya memiliki kasih sejati kepada Tuhan, bagaimana Petrus menempuh jalan mengasihi Tuhan, dll., semuanya dijelaskan dalam buku ini. Kita hanya perlu lebih banyak membaca buku ini, lebih banyak berdoa dan mencari Tuhan, mendapatkan pencerahan dan penerangan dari Roh Kudus, dan kemudian kita bisa lebih banyak bersekutu bersama sehingga dapat memahami kebenaran tentang mengasihi Tuhan."

Mendengar sampai di sini, rekan kerja Saudara Wang dan aku sedikit bersemangat. Rekan kerja Saudara Wang berkata, "Benarkah? Itu bagus!" aku juga mengangguk cepat dan berkata, "Mari kita membaca buku ini bersama di masa depan, dan melakukan pencarian dengan sungguh-sungguh, sehingga semua masalah kita ini akan dapat diselesaikan!" Setelah itu, kami menentukan waktu untuk pertemuan berikutnya ...

Pada tahun 2021 bencana semakin parah, apakah Anda ingin menemukan cara untuk dilindungi oleh Tuhan dan memasuki bahtera akhir zaman? Silakan hubungi kami sekarang.

Konten Terkait

Penderitaan adalah Berkat Tuhan

Oleh Saudara Wang Gang, Tiongkok Suatu sore di musim dingin tahun 2008, saat aku dan dua orang saudari sedang bersaksi mengenai pekerjaan...

Hubungi kami via WhatsApp