Di Balik Menghindari Tugas
Pada Maret 2023, aku sedang melaksanakan tugas sebagai pengkhotbah di gereja. Karena aku memperoleh beberapa hasil dari tugas-tugasku, aku...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada April 2023, pengawas pekerjaan tulis-menulis diberhentikan karena mengejar ketenaran dan status, serta mengacaukan dan mengganggu pekerjaan tulis-menulis. Aku pun terpilih sebagai pengawas yang baru. Aku teringat bahwa bertahun-tahun yang lalu, aku pernah ditangkap oleh PKT karena percaya kepada Tuhan. Polisi mengurungku di sebuah wisma dan menginterogasiku secara rahasia selama sepuluh hari. Untuk menyelamatkan diriku sendiri, aku mengkhianati dua saudari yang ditangkap bersamaku, sehingga melakukan pelanggaran. Aku merasa tidak pantas melaksanakan tugas sepenting itu, jadi aku mengungkapkan keraguanku. Pemimpin bersekutu denganku bahwa Tuhan tidak melihat pelanggaran sesaat seseorang, tetapi menilainya secara menyeluruh berdasarkan konteks dan natur tindakannya. Kuncinya adalah apakah orang itu benar-benar telah bertobat. Dia memintaku untuk menyikapi pelanggaranku dengan benar. Aku sangat tersentuh, dan aku juga bersedia menghargai kesempatan untuk berlatih ini. Tak disangka, hanya beberapa hari setelah aku memulai tugas ini, pengawas lain, Sun Jia, juga diberhentikan karena mengejar ketenaran dan status, serta tidak melaksanakan tugasnya sesuai prinsip. Selama beberapa hari berikutnya, hatiku terasa seolah tertindih batu raksasa. "Aku baru saja memulai tugas ini dan belum terbiasa dengan pekerjaannya. Kami kekurangan pekerja tulis-menulis, beberapa saudara-saudari berada dalam keadaan yang buruk, dan pekerjaan tidak mengalami kemajuan. Dengan begitu banyak masalah dalam pekerjaan, sanggupkah orang dengan kualitas sepertiku memikul pekerjaan ini? Meskipun aku telah melaksanakan tugas tulis-menulis selama beberapa tahun terakhir, menjadi seorang pengawas itu berbeda. Seseorang harus memiliki kualitas dan kemampuan kerja yang baik, dan juga memahami prinsip. Namun, kualitas dan kemampuan kerjaku biasa-biasa saja, dan aku juga kurang pengetahuan profesional. Bagaimana aku bisa mengemban pekerjaan sepenting ini? Aku sudah pernah melakukan pelanggaran serius, dan jika aku menyebabkan hambatan atau kerugian lebih lanjut pada pekerjaan, aku tidak akan sanggup menanggung tanggung jawab ini. Jika masalahnya serius, aku mungkin tidak akan memiliki kesudahan atau tempat tujuan yang baik." Setelah memikirkan hal ini, aku merasa tidak bisa bernapas, dan aku begitu khawatir hingga tidak bisa tidur di malam hari. Selama beberapa hari berikutnya, aku bahkan tidak bisa mengumpulkan semangat sedikit pun untuk melaksanakan tugasku, dan hanya melakukan pekerjaan yang ada secara pasif. Melihatku terus menghela napas setiap hari, pemimpin bertanya tentang keadaanku. Aku menceritakan keadaan dan kesulitanku, lalu dia bersekutu denganku berdasarkan firman Tuhan. Keadaanku pun sedikit membaik.
Selama saat teduhku, aku mencari firman Tuhan yang menangani keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ketika Nuh melakukan seperti yang Tuhan perintahkan, ia tidak tahu apa maksud Tuhan. Dia tidak tahu apa yang ingin Tuhan capai. Tuhan hanya memberinya perintah dan memerintahkannya untuk melakukan sesuatu, dan tanpa banyak penjelasan, Nuh langsung melakukannya. Dia tidak mencoba untuk diam-diam mencari tahu keinginan Tuhan, ia juga tidak menentang Tuhan ataupun menunjukkan ketidaktulusan. Dia hanya pergi dan melakukannya sesuai perintah dengan hati yang murni dan sederhana. Apa pun yang diperintahkan Tuhan kepadanya, dia lakukan, ketundukan serta mendengarkan firman Tuhan menjadi dasar dari tindakannya. Dia tak banyak berpikir, dan sesederhana itulah dia menangani apa yang Tuhan percayakan. Esensinya—esensi tindakannya adalah ketundukan, tidak menebak-nebak, tidak menentang, dan terlebih lagi tidak memikirkan kepentingan pribadinya sendiri dan untung ruginya. Lebih jauh lagi, ketika Tuhan berkata Dia akan menghancurkan dunia dengan air bah, Nuh tidak bertanya kapan atau bertanya apa yang akan terjadi dengan segalanya, dan yang pasti dia tidak menanyakan kepada Tuhan bagaimana Dia akan menghancurkan dunia. Nuh hanya melakukan seperti yang Tuhan perintahkan. Seperti apa pun Tuhan ingin itu dibuat dan dibuat dengan apa, dia melakukan persis seperti yang Tuhan minta dan juga mulai bertindak segera setelah diperintahkan. Nuh bertindak sesuai dengan instruksi Tuhan dengan sikap yang ingin memuaskan Tuhan. Apakah dia melakukannya untuk membantunya menghindarkan diri dari bencana? Tidak. Apakah ia bertanya kepada Tuhan berapa lama lagi dunia akan dihancurkan? Tidak. Apakah dia bertanya kepada Tuhan atau apakah dia tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun bahtera? Dia juga tidak mengetahuinya. Dia hanya tunduk, mendengarkan, dan melakukan sesuai perintah" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri I"). Saat merenungkan pengalaman Nuh, aku merasa terharu sekaligus malu. Ketika Nuh menerima amanat Tuhan untuk membangun bahtera, dia bahkan belum pernah melihat seperti apa rupa bahtera itu. Dia tahu bahwa akan ada banyak kesulitan dalam proses membangun bahtera, tetapi dengan amanat Tuhan di hadapannya, Nuh tidak memikirkan semua itu, dia juga tidak terpuruk dalam kesulitan atau berhenti di tempat. Sebaliknya, dia tunduk dan taat, serta mempersiapkan bahan-bahan untuk membangun bahtera sesuai dengan tuntutan Tuhan. Nuh tidak memikirkan keuntungan atau kerugian pribadinya; dia hanya memikirkan bagaimana membangun bahtera secepat mungkin sesuai tuntutan Tuhan agar hati Tuhan dapat terhibur. Karakter Nuh benar-benar baik! Sikap Nuh yang tunduk dengan tulus pada amanat Tuhan membuatku merasa malu dan menyesal atas kegagalanku. Aku memikirkan sikapku ketika menghadapi kesulitan dalam tugasku, dan sikapku itu sama sekali tidak sebanding dengan Nuh. Meskipun ada beberapa kesulitan nyata dalam pekerjaan, semua itu bukanlah hal yang tidak dapat diatasi. Misalnya, kekurangan pekerja tulis-menulis bisa diatasi dengan berkoordinasi dengan gereja lain; keadaan para pekerja yang buruk bisa diatasi dengan bersekutu bersama mereka tentang firman Tuhan; dan kaliberku yang biasa-biasa saja serta kurangnya kemampuan kerja bisa diatasi dengan bekerja sama dengan pemimpin dan saudara-saudariku. Semua kesulitan ini bisa diatasi. Namun, ketika dihadapkan pada kesulitan-kesulitan ini, aku tidak menghadapinya secara langsung dan mengatasinya secara praktis demi memajukan pekerjaan. Sebaliknya, aku khawatir akan menunda pekerjaan dan akhirnya dimintai pertanggungjawaban. Aku hanya memikirkan keuntungan dan kerugian pribadiku. Aku sama sekali tidak memikirkan maksud Tuhan, juga tidak memikirkan apa tugas dan tanggung jawabku. Kemanusiaanku benar-benar buruk! Dengan kemanusiaan sepertiku, aku sama sekali tidak layak mengemban pekerjaan sepenting ini. Aku merasa sangat tertegur, dan aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, hatiku lemah saat aku dihadapkan pada kesulitan-kesulitan dalam tugasku ini. Tolong bimbing aku, dan berilah aku iman serta ketetapan hati. Aku bersedia mengandalkan-Mu dalam mengalami hal ini." Setelah berdoa, aku segera mencari pekerja tulis-menulis dari berbagai gereja. Beberapa waktu kemudian, para pekerja tulis-menulis pada dasarnya sudah dialihtugaskan, dan para pemimpin telah memilih seorang pengawas baru untuk bekerja sama denganku. Dengan kerja sama yang nyata dari semua orang, pekerjaan tulis-menulis berangsur-angsur membaik.
Namun, masa-masa indah itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa waktu, hasil pekerjaan mulai menurun. Tepat pada saat itu, aku menerima surat dari para pemimpin, yang menunjukkan bahwa kami tidak berfokus pada pembinaan orang, dan kualitas khotbah yang baru diedit belakangan ini kurang baik. Kami diminta untuk menganalisis sumber masalahnya. Setelah melihat surat dari para pemimpin, hatiku tiba-tiba menjadi tegang. "Sekarang begitu banyak masalah telah terungkap dalam pekerjaan. Ini karena aku, sebagai pengawas, tidak memimpin dengan baik atau melakukan pemeriksaan akhir dengan benar. Sepertinya kualitasku masih terlalu buruk untuk mengemban pekerjaan ini!" Lalu aku teringat akan pengawas sebelumnya, yang telah diberhentikan karena mengejar ketenaran dan status serta menyebabkan kekacauan dan gangguan pada pekerjaan. Meskipun aku tidak sengaja menyebabkan kekacauan dan gangguan, jika kualitasku yang buruk melumpuhkan pekerjaan, bukankah itu juga pelanggaran? Makin aku berpikir, makin negatif perasaanku, dan seluruh tubuhku terasa lemas. Aku yakin bahwa aku benar-benar tidak cocok menjadi pengawas, dan sebaiknya aku mundur dan membiarkan orang yang lebih mampu mengambil alih. Setidaknya itu akan menunjukkan sedikit kesadaran diri. Aku merindukan masa-masa ketika aku hanya menjadi anggota tim, saat semuanya diurus pengawas dan aku tidak perlu memikul tanggung jawab apa pun. Meskipun aku tahu pemikiran seperti itu salah, aku tidak bisa mengendalikan pikiranku. Saat itu, ada sebuah surat yang perlu segera dibalas, tetapi aku hanya menatap komputer, tidak bisa menenangkan hatiku. Melihat waktu terus berjalan, aku menyadari bahwa hidup dalam keadaan seperti itu akan memengaruhi pekerjaan, jadi aku segera berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, melihat begitu banyak masalah dan penyimpangan dalam pekerjaan, aku terus-menerus ingin mundur. Aku tahu ini tidak sesuai dengan maksud-Mu. Tolong bimbing aku untuk memahami diriku sendiri dan keluar dari keadaan yang salah ini."
Setelah berdoa, aku membaca firman Tuhan: "Pelaksanaan tugas manusia sebenarnya adalah pencapaian dari semua yang melekat di dalam diri manusia, yaitu, apa yang dapat dilakukan manusia. Saat itulah tugasnya terpenuhi. Kekurangan manusia selama pelayanannya secara berangsur-angsur berkurang melalui pengalaman yang progresif dan proses pengalaman penghakiman yang dialaminya; hal-hal ini tidak menghalangi atau memengaruhi tugas manusia. Mereka yang berhenti melayani atau menyerah dan mundur karena takut ada kekurangan dalam pelayanan mereka adalah orang yang paling pengecut di antara umat manusia. Jika manusia tidak dapat mengungkapkan apa yang seharusnya mereka ungkapkan selama pelayanan atau mencapai apa yang secara mendasar dapat mereka capai, dan malah bersikap asal-asalan, mereka telah kehilangan fungsi yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan. Orang-orang semacam ini dikenal sebagai 'orang yang biasa-biasa saja'; mereka adalah sampah yang tidak berguna. Bagaimana orang-orang semacam ini dapat disebut makhluk ciptaan dalam arti yang sebenarnya? Bukankah mereka adalah makhluk rusak yang bersinar di luar tetapi busuk di dalam? ... Mereka yang tidak memenuhi tugasnya telah sangat memberontak kepada Tuhan, dan berutang banyak kepada-Nya, tetapi mereka berbalik dan mencaci maki bahwa Tuhan salah. Bagaimana mungkin orang semacam itu layak untuk disempurnakan? Bukankah ini adalah pertanda akan disingkirkan dan dihukum? Manusia yang tidak melakukan tugasnya di hadapan Tuhan sudah bersalah karena melakukan kejahatan paling keji, yang bahkan hukuman mati pun tidak cukup, tetapi mereka malah berani berbantah dengan Tuhan dan menyamakan diri dengan-Nya. Apa gunanya menyempurnakan orang semacam ini? Jika manusia gagal melakukan tugasnya, mereka seharusnya merasa bersalah dan berutang; mereka seharusnya membenci kelemahan dan ketidakbergunaan mereka, pemberontakan serta kerusakan mereka, dan terlebih lagi, seharusnya memberikan hidup mereka kepada Tuhan. Baru setelah itulah mereka adalah makhluk ciptaan yang benar-benar mengasihi Tuhan, dan hanya orang-orang semacam itulah yang layak menikmati berkat dan janji Tuhan, dan disempurnakan oleh-Nya" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perbedaan antara Pelayanan Tuhan yang Berinkarnasi dan Tugas Manusia"). Tuhan berfirman bahwa normal jika ada penyimpangan dan kekurangan dalam tugas orang-orang, dan selama mereka menyadarinya serta dapat segera memperbaikinya, Dia tidak akan menghukum mereka karena hal itu. Namun, jika seseorang menjadi pengecut dan lari ketika muncul penyimpangan dan kekurangan dalam tugasnya, atau bahkan mengatakan banyak alasan yang diputarbalikkan dan berhenti melaksanakan tugasnya, orang seperti itu tidak memiliki kemanusiaan dan nalar serta dibenci oleh Tuhan. Jika mereka tidak bertobat, pada akhirnya mereka akan disingkirkan oleh Tuhan. Firman penghakiman Tuhan menusuk hatiku. Aku sudah merugikan pekerjaan karena tidak melakukannya dengan baik, dan sekarang setelah masalahnya terungkap, aku tidak bergegas menyelesaikannya dan memperbaiki penyimpangan. Sebaliknya, hatiku hanya memikirkan kepentingan pribadiku, takut dimintai pertanggungjawaban karena telah melumpuhkan pekerjaan, sehingga aku ingin melempar tugasku bagaikan kentang panas. Aku terlalu egois dan hina! Sebenarnya, hasil pekerjaan tulis-menulis telah menurun, dan ketika para pemimpin menunjukkan masalah serta penyimpangan dalam pekerjaan, mereka pada dasarnya sedang mengajariku cara melakukan pekerjaan itu. Seharusnya aku merenungkan dan merangkum masalah serta penyimpangan ini bersama semua orang untuk memajukan pekerjaan. Namun, aku bukan hanya tidak merenung dan merangkum, atau merasa bersalah dan tertegur karena tidak melaksanakan tugasku dengan baik, aku malah membantah dalam hati, berpikir bahwa Tuhan tidak memberiku kualitas yang baik. Dengan dalih mundur demi orang yang lebih mampu, aku mencoba menghindari tugasku. Aku bahkan berpikir bahwa aku memiliki kesadaran diri. Namun, sekarang aku sadar bahwa ini sama sekali bukan kesadaran diri. Aku hanya bersikap licik dan meninggalkan tugasku! Aku teringat bagaimana para pemimpin menunjukkan bahwa kami tidak fokus pada pembinaan orang, dan itu adalah fakta. Saudara-saudari baru saja mulai berlatih dan belum memahami prinsip, jadi kami seharusnya belajar dan berkomunikasi bersama, belajar dari kelebihan satu sama lain untuk melengkapi kekurangan kami. Para pemimpin menunjukkan bahwa kualitas khotbah yang kami edit tidak baik, dan itu juga fakta. Pemahamanku sendiri akan kebenaran masih dangkal, dan aku tidak bisa melihat esensi masalahnya dengan jelas, jadi aku kurang kuat dalam menyelesaikannya. Apa yang ditunjukkan para pemimpin ini adalah sebuah pengingat bagiku! Jadi, aku segera berkomunikasi dengan saudara-saudariku tentang masalah yang telah ditunjukkan oleh pemimpin. Semua orang juga menyadari penyimpangan dan kekurangan dalam tugas mereka dan bersedia untuk memperbaikinya. Sejak saat itu, kami memiliki arah dan tujuan dalam tugas kami.
Selama saat teduh, aku terus merenung, "Mengapa setiap kali aku menghadapi kesulitan dan masalah dalam pekerjaanku, hatiku begitu bergejolak, dan aku bahkan ingin lari dari tugasku?" Aku membaca firman Tuhan: "Ada orang-orang yang takut bertanggung jawab saat melaksanakan tugas mereka. Jika gereja memberi mereka tugas, pertama-tama mereka akan mempertimbangkan apakah pekerjaan itu menuntut mereka untuk bertanggung jawab atau tidak, dan jika ya, mereka tidak akan menerima tugas itu. Syarat mereka untuk melaksanakan tugas adalah, pertama, tugas itu harus ringan; kedua, tugas itu tidak menyibukkan atau melelahkan; dan ketiga, apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak perlu bertanggung jawab. Hanya tugas semacam itulah yang mau mereka lakukan. Orang macam apakah ini? Bukankah ini orang yang licin dan licik? Mereka tidak mau memikul tanggung jawab sekecil apa pun. Mereka bahkan takut daun yang jatuh dari pohon bisa mencelakakan mereka. Tugas apa yang mampu dilaksanakan oleh orang semacam ini? Apa gunanya mereka berada di rumah Tuhan? Pekerjaan rumah Tuhan ada kaitannya dengan pekerjaan melawan Iblis dan penyebaran Injil Kerajaan. Tugas apa yang tidak memerlukan tanggung jawab? Apakah menurutmu menjadi seorang pemimpin memikul tanggung jawab? Bukankah tanggung jawab mereka lebih besar, dan bukankah mereka harus lebih bertanggung jawab? Terlepas dari apakah engkau memberitakan Injil, bersaksi, membuat video, dan sebagainya—pekerjaan apa pun yang kaulakukan—selama itu berkaitan dengan prinsip kebenaran, itu mengandung tanggung jawab. Jika engkau melaksanakan tugasmu tanpa prinsip, itu akan memengaruhi pekerjaan rumah Tuhan, dan jika engkau takut bertanggung jawab, engkau tidak mampu melaksanakan tugas apa pun. Apakah orang yang takut bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya adalah pengecut, atau apakah ada masalah dengan watak mereka? Engkau harus bisa membedakannya. Sebenarnya ini bukan masalah kepengecutan. Jika orang itu mengejar kekayaan atau melakukan sesuatu untuk kepentingannya sendiri, mengapa dia bisa begitu berani? Dia mau mengambil risiko apa pun. Namun, ketika dia melakukan sesuatu untuk gereja, untuk rumah Tuhan, dia sama sekali tak mau mengambil risiko. Orang-orang semacam itu egois dan tercela, yang paling licik dari semuanya. Siapa pun yang tidak bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya berarti tidak sedikit pun tulus kepada Tuhan, apalagi memiliki kesetiaan. Orang macam apa yang berani bertanggung jawab? Orang macam apa yang memiliki keberanian untuk menanggung beban yang berat? Orang yang berinisiatif untuk memimpin dan maju dengan berani pada saat paling genting dalam pekerjaan rumah Tuhan, yang tidak takut memikul tanggung jawab yang berat dan menanggung kesukaran besar, ketika mereka melihat pekerjaan yang paling penting dan krusial. Seperti itulah orang yang setia kepada Tuhan, prajurit Kristus yang baik. Apakah benar bahwa semua orang yang takut bertanggung jawab dalam tugas mereka merasa takut karena mereka tidak memahami kebenaran? Tidak; itu adalah masalah dalam kemanusiaan mereka. Mereka tidak memiliki rasa keadilan atau rasa tanggung jawab, mereka adalah orang-orang yang egois dan tercela, bukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dengan hati yang tulus, dan mereka tidak menerima kebenaran sedikit pun. Karena alasan inilah, mereka tidak dapat diselamatkan. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan harus banyak membayar harga untuk memperoleh kebenaran, dan mereka akan menemui banyak rintangan ketika menerapkan kebenaran. Mereka harus meninggalkan sesuatu, meninggalkan keuntungan daging mereka dan menanggung sedikit penderitaan. Hanya dengan cara demikian, mereka akan mampu menerapkan kebenaran. Jadi, dapatkah orang yang takut bertanggung jawab menerapkan kebenaran? Mereka pasti tidak mampu menerapkan kebenaran, apalagi memperolehnya. Mereka takut menerapkan kebenaran, takut menimbulkan kerugian bagi kepentingan mereka; mereka takut dihina, difitnah, dan dihakimi, dan mereka tidak berani menerapkan kebenaran. Akibatnya, mereka tidak mampu memperolehnya, dan seberapa pun lamanya mereka percaya kepada Tuhan, mereka tidak dapat memperoleh keselamatan-Nya. Mereka yang mampu melaksanakan tugas di rumah Tuhan haruslah orang yang memiliki rasa terbebani ketika menyangkut pekerjaan gereja, yang bertanggung jawab, yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebenaran, dan yang mampu menderita dan membayar harga. Jika orang kurang dalam area-area ini, berarti mereka tidak layak untuk melaksanakan tugas, dan mereka tidak memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas. ... Jika engkau melindungi dirimu sendiri setiap kali sesuatu menimpamu dan menyediakan jalan keluar, atau pintu belakang bagimu sendiri, apakah engkau sedang menerapkan kebenaran? Ini bukanlah menerapkan kebenaran—ini berarti bersikap licik. Sekarang ini engkau sedang melaksanakan tugasmu di rumah Tuhan. Apa prinsip pertama melaksanakan tugas? Pertama-tama, engkau harus melaksanakan tugas dengan segenap hatimu, mengerahkan segenap upayamu, dan melindungi kepentingan rumah Tuhan. Ini adalah prinsip kebenaran, prinsip yang harus kauterapkan. Melindungi diri dengan menyediakan jalan keluar, pintu belakang bagi dirinya sendiri adalah prinsip penerapan yang diikuti orang-orang tidak percaya, dan merupakan falsafah tertinggi mereka. Mengutamakan diri sendiri dalam segala hal dan mendahulukan kepentingan sendiri di atas segalanya, tidak memikirkan orang lain, tidak ada kaitannya dengan kepentingan rumah Tuhan dan kepentingan orang lain, mengutamakan kepentingan sendiri dan kemudian memikirkan jalan keluar—bukankah seperti inilah orang tidak percaya itu? Seperti inilah tepatnya orang tidak percaya itu. Orang semacam ini tidak layak untuk melaksanakan tugas" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Delapan (Bagian Satu)). Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa hatiku begitu bergejolak setiap kali muncul penyimpangan atau kesulitan dalam pekerjaanku terutama karena aku selalu takut memikul tanggung jawab dalam tugasku; watakku yang egois dan liciklah penyebabnya. Saat dihadapkan pada penugasan personel serta kesulitan dan masalah dalam pekerjaan, yang pertama kupikirkan adalah bahwa pekerjaan tulis-menulis adalah pekerjaan penting di rumah Tuhan, dan jika aku tidak dapat mengemban tugas sebagai seorang pengawas dan menunda pekerjaan, aku akan dimintai pertanggungjawaban. Meskipun aku tidak berani meninggalkan tugasku, hatiku selalu merasa bahwa tugas ini terlalu berisiko. Selain kekhawatiran dan penderitaannya, jika hasil pekerjaan itu buruk atau jika ada penyimpangan atau kekurangan, paling tidak aku akan diberhentikan; jika aku melakukan terlalu banyak pelanggaran, aku tidak akan memiliki kesudahan dan tempat tujuan yang baik. Setelah memikirkan hal ini, aku memandang tugas ini sebagai beban, tanggungan, dan ingin menghindarinya. Aku juga tidak punya keinginan untuk mengatasi masalah dan kesulitan dalam pekerjaan. Sebagai seorang pengawas, seharusnya aku secara proaktif memikul tanggung jawabku, dan meminta bimbingan dari pemimpin tentang apa yang tidak kupahami. Selama aku meluruskan niatku dan melakukan yang terbaik, bahkan jika apa yang kulakukan tidak seberapa dan hasilnya pada akhirnya tidak terlalu baik, setidaknya aku tidak akan menyesal. Namun, ketika aku melaksanakan tugas ini, yang kupikirkan adalah bagaimana cara menghindari tanggung jawab. Hatiku sama sekali tidak tertuju pada tugasku. Aku tidak menunjukkan ketulusan terhadap tugasku, apalagi pengabdian. Aku benar-benar sangat egois dan hina! Rumah Tuhan membina orang agar mereka dapat mencari untuk memahami berbagai aspek kebenaran saat melaksanakan tugas dan melaksanakannya dengan baik. Bagi orang-orang, ini adalah pelatihan yang nyata. Siapa pun yang memiliki pemahaman yang murni akan menghargai tugasnya. Namun, sudut pandang di balik pengejaranku salah. Aku tidak mau memikul tanggung jawab apa pun dalam tugasku, dan hanya ingin menjadi anggota tim biasa yang melaksanakan tugas sesuai aturan, menunggu pengawas mengatur segalanya. Padahal, meskipun melaksanakan tugas dengan cara itu berarti tidak memikul tanggung jawab, aku akan mendapatkan lebih sedikit pelatihan dan lebih sedikit kebenaran, dan pertumbuhan hidupku akan lambat. Dengan berlatih menjadi seorang pengawas, meskipun aku menghadapi lebih banyak masalah serta kesulitan, dan tekanannya lebih besar, aku juga memperoleh lebih banyak. Aku memperoleh beberapa keuntungan dalam memahami prinsip, dan dalam memandang orang dan berbagai hal. Selain itu, dalam menindaklanjuti pekerjaan, ada beberapa masalah di mana aku hanya melihat fenomena di permukaannya dan tidak dapat memahami inti masalahnya, sehingga aku selalu tidak dapat menyelesaikan masalahnya. Melalui bimbingan para pemimpinlah aku menemukan kekuranganku. Dengan mencari kebenaran, aku mengenali natur dan konsekuensi dari masalah-masalah tersebut, dan menemukan prinsip-prinsip penerapan, sehingga dapat menyelesaikan masalah sampai ke akarnya. Semua ini adalah hal-hal yang kuperoleh dari melaksanakan tugas sebagai seorang pengawas. Aku juga memahami bahwa tugas apa pun yang dilaksanakan seseorang di rumah Tuhan, dia harus memikul bagian tanggung jawabnya. Tanggung jawab ini bukan diberikan oleh orang mana pun, melainkan datang dari Tuhan. Setelah memahami ini, aku bertekad kepada Tuhan bahwa sebanyak apa pun kesulitan yang ada dalam pekerjaan, aku bersedia mengandalkan Tuhan dan memikul tanggung jawabku sendiri. Aku tidak akan lagi bersikap negatif, aku juga tidak akan lari dari tugasku.
Suatu kali, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang dikutip dalam sebuah artikel kesaksian pengalaman yang sangat sesuai dengan keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada orang-orang yang tidak yakin bahwa rumah Tuhan mampu memperlakukan orang dengan adil. Mereka tidak yakin bahwa Tuhanlah yang berkuasa di rumah-Nya, bahwa kebenaranlah berkuasa di sana. Mereka yakin bahwa tugas apa pun yang orang laksanakan, jika muncul masalah dalam tugas itu, rumah Tuhan akan segera menangani orang itu, mencabut kelayakan mereka untuk melaksanakan tugas, mengusir mereka, atau bahkan mengeluarkan mereka dari gereja. Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Rumah Tuhan memperlakukan setiap orang berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Tuhan itu adil dalam memperlakukan setiap orang. Dia tidak hanya melihat bagaimana orang berperilaku dalam satu peristiwa saja; Dia melihat esensi natur orang itu, melihat niatnya, dan sikapnya. Terutama, Dia melihat apakah, ketika orang melakukan kesalahan, mereka mampu merenungkan dirinya, apakah mereka menyesal, dan apakah mereka mampu memahami esensi masalahnya berdasarkan firman-Nya, sehingga mereka memahami kebenaran, membenci dirinya sendiri, dan sungguh-sungguh bertobat. Jika orang tidak memiliki sikap yang benar ini, dan sepenuhnya dicemari oleh niat pribadi, jika mereka dipenuhi dengan siasat yang picik dan hanya memperlihatkan watak yang rusak, dan jika, ketika masalah muncul, mereka bahkan mengucapkan perkataan yang menyesatkan, berpura-pura, dan membenarkan dirinya sendiri, serta bersikeras menolak untuk mengakui apa yang telah dilakukannya, itu berarti orang tersebut tidak dapat diselamatkan. Mereka sama sekali tidak menerima kebenaran dan telah tersingkap sepenuhnya. Mereka yang bukan orang yang tepat, yang tidak mampu menerima kebenaran sedikit pun, pada esensinya adalah pengikut yang bukan orang percaya dan hanya bisa disingkirkan. ... Katakan kepada-Ku, jika seseorang melakukan kesalahan, tetapi akhirnya memiliki pemahaman yang sejati dan bersedia untuk bertobat, apakah rumah Tuhan tidak akan memberi mereka kesempatan? Saat rencana pengelolaan Tuhan selama 6.000 tahun akan segera berakhir, ada begitu banyak tugas yang harus dilaksanakan. Namun, jika engkau tidak memiliki hati nurani atau nalar, dan tidak melaksanakan tugasmu yang semestinya, jika engkau telah memperoleh kesempatan untuk melaksanakan tugas tetapi tidak tahu cara menghargainya, tidak sedikit pun mengejar kebenaran, membiarkan waktu yang terbaik berlalu begitu saja, maka engkau akan disingkapkan. Jika engkau terus-menerus bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasmu, dan engkau sama sekali tidak tunduk ketika menghadapi pemangkasan, dapatkah rumah Tuhan tetap memakaimu untuk melaksanakan tugas? Di rumah Tuhan, kebenaranlah yang berkuasa, bukan Iblis, dan Tuhanlah penentu keputusan atas segalanya. Dialah yang melakukan pekerjaan menyelamatkan manusia, Dialah yang berdaulat atas segala sesuatu. Tidak perlu bagimu untuk menganalisis apa yang benar dan yang salah; engkau hanya perlu mendengarkan dan tunduk. Ketika menghadapi pemangkasan, engkau harus menerima kebenaran dan memperbaiki kesalahanmu. Jika engkau melakukannya, rumah Tuhan tidak akan mencabut kelayakanmu untuk melaksanakan tugas. Jika engkau selalu takut disingkirkan, selalu membenarkan dirimu, selalu menggunakan perkataan yang menyesatkan untuk membela diri, itu berarti masalah. Orang lain akan melihat bahwa engkau tidak sedikit pun menerima kebenaran, dan bahwa engkau sama sekali tidak masuk akal. Ini berarti masalah, dan gereja harus menanganimu. Engkau sama sekali tidak menerima kebenaran dalam pelaksanaan tugasmu dan selalu takut dirimu disingkapkan dan disingkirkan. Ketakutanmu ini dinodai oleh niat manusia; di dalam ketakutan ini, terdapat watak rusak Iblis, serta kecurigaan, sikap waspada, dan kesalahpahaman. Orang tidak boleh memiliki satu pun dari sikap-sikap ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku teringat bahwa aku selalu bersikap waspada kepada Tuhan dan salah memahami-Nya ketika berbagai hal menimpaku, takut disingkapkan dan disingkirkan. Ini karena aku tidak memiliki pengetahuan tentang watak benar Tuhan. Aku berpikir bahwa aku telah melakukan pelanggaran serius di masa lalu, dan jika aku tidak melaksanakan tugasku dengan baik serta menimbulkan gangguan dan kerugian pada pekerjaan gereja, pelanggaranku akan bertambah banyak, dan jika itu adalah pelanggaran serius, aku akan disingkirkan. Sebenarnya, jika aku melaksanakan tugasku dengan segenap hati dan tenaga, tetapi tidak mampu karena kualitasku yang buruk, rumah Tuhan akan mengalihkanku ke tugas yang sesuai dengan kualitasku, dan tidak akan menyingkirkanku karena alasan ini. Hanya mereka yang dengan sengaja mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja dan tidak mau bertobat, tidak peduli bagaimana orang lain bersekutu dengan mereka, yang akan disingkirkan. Sama seperti pengawas sebelumnya. Dia dengan sengaja melanggar prinsip dan menyebabkan kekacauan dan gangguan demi ketenaran dan statusnya sendiri. Selama waktu itu, pemimpin bersekutu dengannya dan membantunya, tetapi dia tidak bertobat, dan akhirnya diberhentikan dan disingkirkan. Rumah Tuhan memiliki prinsip dalam memperlakukan orang. Rumah Tuhan menangani pelanggaran orang sesuai dengan latar belakang dan situasi masing-masing, dan tidak menerapkan pendekatan pukul rata. Banyaknya masalah yang terungkap saat aku melaksanakan tugas, yang memengaruhi kemajuan pekerjaan, terutama karena aku belum lama berlatih. Aku tidak punya arah atau jalan tentang bagaimana melakukan pekerjaan dengan baik, dan terkadang aku tidak bisa memahami poin-poin kuncinya. Aku tidak bermaksud untuk mengacaukan atau mengganggu. Ketika aku menyadari penyimpanganku dan memperbaikinya tepat waktu, rumah Tuhan masih memberiku kesempatan untuk berlatih, dan para pemimpin juga membimbingku tentang bagaimana melakukan pekerjaan yang nyata. Seharusnya aku tidak bersikap waspada kepada Tuhan atau salah memahami-Nya. Aku tidak memiliki pengetahuan tentang watak benar Tuhan dan hidup dalam kewaspadaan terhadap-Nya serta kesalahpahaman terhadap-Nya. Jalan masuk kehidupanku sendiri mengalami kerugian, dan itu juga memengaruhi tugasku. Semua ini akibat aku yang tidak mencari kebenaran.
Tak terasa, sudah bulan Oktober. Karena penangkapan oleh PKT, berbagai item pekerjaan di gereja terhambat, dan hasil pekerjaan menurun lagi. Saudara-saudariku juga pada umumnya hidup di tengah kesulitan. Kali ini, aku tidak bermalas-malasan atau menjadi negatif seperti sebelumnya, tetapi berdiskusi dengan saudari yang bekerja sama denganku tentang bagaimana menyelesaikan masalah yang ada. Pada saat ini, para pemimpin juga menunjukkan beberapa penyimpangan dalam pekerjaan kami, dan mempersekutukan beberapa jalan penerapan. Saat melihat surat dari para pemimpin, tanpa sadar aku berpikir, "Bagaimana jika pekerjaan ini tetap tidak berjalan setelah ini? Jika pekerjaan tertunda, aku tidak akan sanggup memikul tanggung jawab ini!" Aku menyadari bahwa aku kembali berpikir untuk melindungi diriku sendiri, jadi aku berdoa dan mencari. Aku membaca firman Tuhan: "Apa sajakah perwujudan orang jujur itu? Pertama, mereka tidak meragukan firman Tuhan. Itu adalah salah satu perwujudan orang yang jujur. Selain ini, perwujudan yang terpenting dari orang jujur adalah mencari dan menerapkan kebenaran dalam segala hal—inilah hal yang paling krusial. Engkau berkata bahwa engkau orang yang jujur, tetapi engkau selalu mengesampingkan firman Tuhan dan hanya berbuat sekehendak hatimu. Seperti itukah perwujudan orang yang jujur? Engkau berkata, 'Meskipun kualitas kemampuanku buruk, aku memiliki hati yang jujur.' Namun, ketika sebuah tugas diberikan kepadamu, engkau takut menderita dan memikul pertanggungjawaban jika tidak melaksanakannya dengan baik, sehingga engkau membuat alasan untuk melalaikan tugasmu atau menyarankan agar orang lain saja yang melakukannya. Seperti inikah perwujudan orang yang jujur? Jelas bukan. Jadi, bagaimanakah seharusnya perilaku orang jujur? Mereka harus tunduk pada pengaturan Tuhan, sepenuh hati dalam melaksanakan tugas yang seharusnya mereka laksanakan, dan berusaha keras memenuhi maksud Tuhan. Ini terwujud dengan sendirinya dalam beberapa tindakan: Pertama, engkau menerima tugasmu dengan hati yang jujur, tidak memikirkan kepentingan dagingmu, tidak setengah hati dalam melakukannya, dan tidak berencana licik demi keuntunganmu sendiri. Tindakan-tindakan tersebut adalah perwujudan kejujuran. Tindakan lainnya adalah engkau mengerahkan segenap hati dan kekuatanmu agar dapat melaksanakan tugasmu dengan baik, melakukan segala sesuatu dengan benar, dan mengerahkan hati dan kasihmu pada tugasmu agar dapat memuaskan Tuhan. Perwujudan inilah yang seharusnya ditunjukkan oleh orang jujur dalam melaksanakan tugas mereka" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa dalam melaksanakan tugasnya, orang yang jujur tidak bersiasat untuk dirinya sendiri atau memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi memikirkan maksud Tuhan dan melaksanakan tugasnya dengan segenap hati dan tenaga. Aku harus menerapkan sesuai dengan firman Tuhan dan menjadi orang yang jujur. Sekarang si naga merah yang sangat besar sedang berjuang mati-matian, menangkap saudara-saudari dengan gila-gilaan. Tujuannya adalah untuk mengganggu pekerjaan gereja. Justru pada saat inilah aku harus lebih giat bekerja sama, dan bekerja dengan semua orang untuk melaksanakan tugas kami dengan baik. Jadi, aku makan dan minum firman Tuhan bersama saudari yang bekerja sama denganku, mencari cara untuk mengatasi kesulitan yang ada saat ini. Kami juga melaporkan rencana kerja kami yang akan datang kepada para pemimpin, dan kemudian bersekutu dengan saudara-saudari kami secara terpisah, secara nyata mengatasi kesulitan dan masalah dalam pekerjaan. Setelah beberapa waktu, pekerjaan tulis-menulis berangsur-angsur membaik. Dalam proses kerja sama yang nyata oleh semua orang, kami melihat berkat dan bimbingan Tuhan. Hasil pekerjaan tulis-menulis menjadi makin baik, dan kami semua sangat bersyukur kepada Tuhan.
Sebelumnya, aku selalu merasa bahwa kualitasku tidak baik dan aku tidak bisa melaksanakan tugas sebagai seorang pengawas, dan bahwa hanya mereka yang berkualitas baik yang bisa melakukan pekerjaan ini. Fakta membuktikan bahwa sudut pandangku salah. Aku membaca firman Tuhan: "Tanpa pekerjaan Roh Kudus dan tanpa perlindungan Tuhan, siapakah yang masih bisa mencapai posisi mereka saat ini? Jenis pekerjaan apa yang masih dapat dipertahankan hingga saat ini? Apakah orang-orang ini mengira bahwa mereka berada di dunia sekuler? Tidak ada kelompok mana pun di dunia ini yang mampu menyelesaikan pekerjaannya jika kehilangan perlindungan dari tim yang terdiri dari orang-orang berbakat atau berkarunia. Namun, tidak demikian halnya dengan pekerjaan rumah Tuhan. Tuhan-lah yang melindungi, memimpin, dan membimbing pekerjaan di rumah Tuhan. Jangan mengira bahwa pekerjaan rumah Tuhan bergantung pada dukungan siapa pun. Hal ini tidaklah benar, dan ini adalah sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (18)"). "Entah kualitasmu tinggi atau rendah dan sebanyak apa pun bakatmu, jika watak rusakmu tidak dibereskan, maka di posisi apa pun engkau ditempatkan, engkau tidak akan layak untuk dipakai. Sebaliknya, jika kualitas dan kemampuanmu terbatas, tetapi engkau memahami berbagai prinsip kebenaran, termasuk prinsip kebenaran yang harus kaumengerti dan kaupahami dalam lingkup pekerjaanmu, dan watak rusakmu telah dibereskan, engkau akan menjadi orang yang layak untuk dipakai" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Dengan membandingkan diriku dengan firman Tuhan, aku menyadari bahwa aku ini buta dan bodoh, dan apa yang telah kuperlihatkan adalah sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya. Sebenarnya, pekerjaan rumah Tuhan bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan baik dengan mengandalkan kualitas atau karunia satu orang pun. Dari luarnya, orang-oranglah yang melakukan pekerjaan rumah Tuhan, tetapi sebenarnya, Tuhanlah yang melakukannya. Roh Kuduslah yang memimpin dan menopangnya. Tidak peduli apakah kualitas seseorang baik atau buruk, selama dia memiliki hati yang sederhana dan jujur, bersedia mencari prinsip-prinsip kebenaran ketika berbagai hal menimpanya, bukan hidup menurut watak rusaknya, dan sepenuh hati dalam tugasnya, Tuhan akan memberkati serta membimbingnya, dan dia dapat mencapai beberapa hasil dalam tugasnya. Aku juga menyadari bahwa meskipun kualitasku biasa-biasa saja, ketika semua orang bekerja sama dan melaksanakan tugas kami dengan sehati sepikir, kami mencapai hasil yang baik. Semua ini adalah bimbingan Tuhan; Tuhanlah yang menopang pekerjaan-Nya sendiri. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Pada Maret 2023, aku sedang melaksanakan tugas sebagai pengkhotbah di gereja. Karena aku memperoleh beberapa hasil dari tugas-tugasku, aku...
Pada tahun 2011, aku menerima Tuhan Yang Mahakuasa bersama ibuku. Karena saat itu aku masih sekolah, aku hanya menghadiri pertemuan pada...
Oleh Saudari Suxing, TiongkokBeberapa waktu lalu, pemimpin gereja kami kehilangan kedudukannya karena dia tidak mengejar kebenaran atau...
Oleh Saudari Lorraine, Korea SelatanBeberapa tahun yang lalu, aku membuat video di gereja. Ada kalanya aku tidak melakukan tugasku dengan...