Renungan tentang Pemikiran “Setia dalam Melaksanakan Apa yang Telah Dipercayakan Kepadamu”

15 Maret 2026

Oleh Cheng Zhi, Tiongkok

Waktu aku kecil, aku sering melihat ayahku membantu keluarga lain melakukan pekerjaan mereka. Siapa pun yang datang meminta bantuannya, dia pasti akan setuju. Terkadang, meskipun sedang sibuk dengan urusan keluarga, dia merasa tidak enak untuk menolak, sehingga akhirnya dia sangat disukai orang. Aku berpikir, "Membantu orang yang kesusahan itu membuat kita dikagumi dan dihargai. Kalau sudah besar nanti, aku ingin menjadi orang baik seperti ayahku." Setelah dewasa, karena aku suka mengutak-atik peralatan listrik, setiap kali radio, TV, atau lampu tetangga rusak, mereka datang meminta bantuanku, dan aku tidak pernah menolaknya begitu saja. Aku berpikir bahwa ketika orang lain meminta bantuanku, itu berarti mereka memercayaiku dan menghargaiku, dan aku tidak boleh mengecewakan mereka. Setelah percaya kepada Tuhan, aku mulai melaksanakan tugas di gereja. Karena aku sedikit mengerti tentang komputer, aku bisa menangani sebagian besar masalah umum. Ke mana pun aku pergi, saudara-saudari memintaku membantu mengatasi masalah komputer mereka. Aku selalu menyanggupi setiap permintaan, karena merasa jika saudara-saudari datang kepadaku, itu artinya mereka memercayaiku, jadi aku harus berusaha sebaik mungkin untuk membantu dan tidak mengecewakan mereka. Kemudian aku diutus untuk melaksanakan tugas di tempat lain. Terkadang saat aku pulang, istriku memberitahuku bahwa ada beberapa saudara-saudari yang ingin aku membantu memperbaiki komputer mereka. Katanya, karena keterampilanku bagus, mereka menungguku pulang untuk memperbaikinya. Setelah mendengar ini, aku makin merasa bahwa saudara-saudari memercayaiku. Bahkan jika aku sedang sibuk dengan tugasku, aku memprioritaskan untuk membantu mengatasi masalah komputer mereka.

Pada bulan Maret 2024, aku kembali ke kampung halamanku untuk menyiram para anggota baru. Namun, karena aku baru mulai berlatih, aku tidak tahu cara menyelesaikan beberapa masalah dan kesulitan yang mereka hadapi, dan aku perlu lebih memperlengkapi diri dengan kebenaran mengenai visi. Saudara-saudari tahu aku sudah kembali, jadi ketika komputer mereka bermasalah, mereka semua terus datang kepadaku untuk meminta solusi. Suatu hari, saat aku sedang mencari untuk memahami masalah para anggota baru dan memperlengkapi diriku dengan kebenaran, sambil bersiap untuk bersekutu dengan mereka di pertemuan berikutnya, seorang saudara datang dan berkata bahwa komputernya bermasalah. Dia memintaku untuk memperbaikinya. Aku merasa agak bimbang, dan berpikir, "Masalah para anggota baru ini harus segera diselesaikan, dan aku masih perlu memperlengkapi diriku dengan kebenaran tentang visi. Waktunya mepet, tetapi kalau aku langsung menolak, bukankah ini akan mengecewakan saudara itu? Apa dia akan berpikir buruk tentangku dan menganggapku tidak punya kasih?" Jadi, aku mengesampingkan tugasku dan pergi bersama saudara itu untuk menangani masalah komputernya, yang baru selesai diperbaiki pada pukul sebelas atau dua belas malam. Siang keesokan harinya, dia bergegas datang lagi, mengatakan bahwa komputernya bermasalah lagi dan memintaku untuk memeriksanya sekali lagi. Tadinya aku ingin berkata bahwa aku tidak punya waktu dan menyuruhnya mencari orang lain, tetapi aku tidak sanggup mengatakannya. Aku berpikir, "Dia memercayaiku untuk memperbaiki komputernya. Bagaimana bisa aku membiarkannya pulang dengan kecewa?" Jadi, aku sekali lagi mengesampingkan tugasku untuk memperbaiki komputer itu. Setelah pemeriksaan dan perbaikan yang menyeluruh, komputer itu bisa digunakan secara normal. Saudara itu dengan gembira berkata, "Dengan adanya engkau di sini, hatiku terasa tenang." Mendengar ini membuatku merasa sangat senang. Aku merasa bahwa saudara-saudari sangat menghargaiku dan bahwa aku adalah orang yang dapat dipercaya di hati mereka. Namun, karena telah membantu saudara itu memperbaiki komputer, aku belum memperlengkapi diriku dengan kebenaran visi yang seharusnya kumiliki, dan masalah para anggota baru tidak terselesaikan tepat waktu. Aku merasa agak bersalah, dan berpikir, "Meskipun aku memenuhi kebutuhan saudara itu, aku menunda tugasku sendiri. Apakah yang kulakukan ini sejalan dengan maksud Tuhan?" Di lain waktu, seorang saudari datang ke rumahku pagi-pagi sekali, berkata bahwa komputernya tidak bisa terhubung ke internet dengan baik, dan dia memintaku untuk memeriksanya. Dia juga berkata bahwa sekarang setelah aku kembali, jauh lebih mudah untuk memintaku memperbaiki komputernya. Aku merasa agak bimbang, dan berpikir, "Baru-baru ini para pemimpin memeriksa pekerjaan dan menemukan bahwa beberapa orang percaya baru yang menjadi tanggung jawabku dalam pekerjaan penyiraman memiliki beberapa gagasan dan masalah yang belum teratasi. Mereka mendesakku untuk segera memperlengkapi diri dengan kebenaran tentang visi, dan masalah para orang percaya baru ini harus segera diselesaikan. Bagaimana mungkin aku sempat memperbaiki komputer saudari ini? Lagi pula, komputer saudari ini tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, dan masalah ini bisa dialihkan ke saudara-saudari yang khusus menangani perbaikan komputer." Aku ingin menolak saudari itu, tetapi aku tidak sanggup mengatakannya. Aku berpikir, "Saudari ini datang dengan gembira untuk menemuiku. Kalau aku menolak, bukankah itu akan sangat mengecewakannya? Apa yang akan dia pikirkan tentangku nanti?" Jadi, aku pergi untuk membantu memperbaiki komputernya, dan baru selesai lewat dari pukul sepuluh malam. Karena membantu saudari itu memperbaiki komputernya, aku tidak sempat merenungkan masalah para orang percaya baru, sehingga hasil pertemuan itu tidak begitu baik. Dengan demikian, setiap kali saudara-saudari datang meminta bantuan, aku selalu mengesampingkan pekerjaan utamaku untuk memperbaiki komputer mereka. Meskipun aku tahu ini sangat menunda tugasku sendiri, setiap kali mereka datang, aku selalu merasa sangat tidak enak untuk menolak.

Aku membuka diri dan mempersekutukan keadaanku dengan istriku, dan dia menyuruhku menonton sebuah video kesaksian pengalaman. Di video itu, aku membaca sebuah bagian dari firman Tuhan: "'Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu'—ini adalah bentuk esensial dari perilaku moral yang ditanamkan dalam diri setiap orang oleh keluarga mereka atau oleh masyarakat. Jika engkau memiliki perilaku moral ini, orang akan mengatakan engkau mulia, terhormat, dan berintegritas, dan engkau akan dihargai dan sangat dihormati di tengah masyarakat. Karena ungkapan 'Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu' berasal dari manusia, dari Iblis, maka ungkapan ini adalah objek yang harus kita telaah dan kita ketahui yang sebenarnya, dan lebih jauh lagi, objek yang harus kita tinggalkan. Mengapa kita harus mengetahui yang sebenarnya tentang ungkapan ini dan meninggalkannya? Mari kita periksa terlebih dahulu apakah ungkapan ini benar dan apakah benar menjadi jenis orang yang mewujudkan ungkapan ini. Apakah benar-benar mulia menjadi orang yang mampu mewujudkan ungkapan 'Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu', dan memiliki karakter moral semacam ini? Apakah orang seperti ini memiliki kenyataan kebenaran? Apakah mereka memiliki kemanusiaan yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan, dan prinsip-prinsip tentang cara berperilaku yang harus mereka patuhi, seperti yang difirmankan oleh Tuhan? Apakah engkau semua memahami ungkapan 'Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu'? Pertama-tama jelaskan dengan kata-katamu sendiri apa arti ungkapan ini. (Itu berarti bahwa ketika seseorang memercayakan suatu tugas kepadamu, engkau harus mengerahkan segenap upaya untuk menyelesaikannya.) Jadi, apakah engkau benar-benar harus bertindak dengan cara seperti itu? Arti dari ungkapan 'Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu' adalah bahwa jika seseorang memercayakan suatu tugas kepadamu, ini berarti mereka sangat menghargaimu, percaya kepadamu, serta menganggapmu dapat dipercaya, dan karenanya, apa pun yang orang itu minta untuk kaulakukan, engkau harus setuju, dan melakukannya dengan baik dan benar sesuai dengan tuntutan mereka, dan membuat mereka senang serta memuaskan mereka—maka engkau adalah orang baik. Maksud sebenarnya adalah bahwa standar untuk menentukan apakah engkau adalah orang baik atau tidak adalah apakah orang yang memercayakan tugas itu kepadamu merasa puas atau tidak. Dapatkah itu dijelaskan dengan cara seperti ini? (Ya.) Jadi, bukankah mudah untuk menjadi orang baik di mata orang lain dan diakui seperti itu oleh masyarakat? (Ya.) Apa artinya bahwa itu 'mudah'? Itu berarti standarnya sangat rendah dan sama sekali tidak luhur" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (14)"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku teringat bagaimana aku telah dipengaruhi oleh ayahku sejak kecil. Aku melihat bahwa ketika penduduk desa datang meminta bantuan ayahku, dia lebih memilih mengesampingkan urusan keluarganya sendiri demi menangani urusan orang lain dengan baik, sehingga pada akhirnya dia mendapatkan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya. Jadi, aku berpikir bahwa berperilaku menurut prinsip "Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu" inilah yang membuat seseorang menjadi baik dan dapat dipercaya. Karena aku suka mengutak-atik peralatan listrik, setiap kali lampu, radio, TV, atau peralatan lain milik siapa pun rusak, jika mereka datang kepadaku, aku akan selalu berusaha sebaik mungkin untuk membantu memperbaikinya. Aku percaya bahwa inilah satu-satunya cara untuk menjaga kepercayaan orang lain kepadaku. Setiap kali aku berhasil memperbaiki barang orang lain dan mendengar pujian serta ucapan terima kasih mereka, aku merasa sangat senang, dan merasa bahwa di hati mereka, aku adalah orang yang baik dan dapat dipercaya. Setelah percaya kepada Tuhan, aku tetap hidup menurut pandangan ini. Tugasku saat itu adalah menyiram para orang percaya baru, dan karena aku baru mulai berlatih, aku punya banyak kekurangan dan tidak dapat mempersekutukan beberapa kebenaran dengan jelas, jadi, aku perlu lebih memperlengkapi diri dengan kebenaran mengenai visi, karena hanya dengan begitu, aku dapat melaksanakan tugasku dengan baik. Namun, aku tidak mencurahkan upaya dalam pekerjaan utamaku. Ketika saudara-saudari datang meminta bantuanku untuk mengatasi masalah komputer, agar tidak mengecewakan mereka dan untuk menjaga citra baikku di hati mereka, aku langsung mengesampingkan tugasku untuk membantu mengatasi masalah komputer mereka. Akibatnya, aku tidak mencari atau memperlengkapi diriku dengan kebenaran yang relevan dengan masalah para orang percaya baru, dan pertemuan-pertemuan itu tidak mencapai hasil yang baik. Aku dikendalikan oleh pandangan "Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu", selalu memikirkan apa yang akan dipikirkan saudara-saudari tentangku, dan menganggap apa yang dipercayakan orang kepadaku lebih penting daripada tugasku sendiri. Aku telah gagal melaksanakan tugasku dengan baik. Mana bisa aku menyebut diriku orang baik?

Kemudian aku merenung, "Mengapa aku lebih memilih menunda tugasku daripada menolak permintaan orang lain? Masalah macam apa ini?" Lalu aku membaca firman Tuhan: "Ada orang-orang yang berkata, 'Di antara mereka yang "setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu", ada juga banyak orang yang tidak mencari keuntungan dengan mengorbankan orang lain. Mereka hanya bertujuan untuk setia dalam melaksanakan apa yang telah orang lain percayakan kepada mereka, orang-orang ini benar-benar memiliki perilaku moral tersebut.' Pernyataan ini keliru. Sekalipun mereka tidak mencari kekayaan, harta benda, atau keuntungan apa pun, mereka mencari ketenaran. Apakah 'ketenaran' ini? Itu berarti, 'Aku telah menerima tugas yang orang itu percayakan kepadaku. Entah orang itu hadir atau tidak, asalkan aku melakukannya dengan baik dan menangani dengan setia apa yang telah dia percayakan kepadaku, aku akan memiliki reputasi yang baik. Setidaknya beberapa orang akan tahu bahwa aku adalah orang baik, orang dengan karakter moral yang tinggi, dan orang yang layak diteladani. Aku dapat menempati suatu kedudukan di antara orang-orang dan meninggalkan reputasi yang baik di tengah sekelompok orang. Itu sepadan!' Orang lain berkata, '"Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu," dan karena orang lain telah memercayakan sesuatu kepada kami, entah mereka hadir atau tidak, kami harus menanganinya dengan baik dan tetap melakukannya sampai akhir. Sekalipun kami tidak dapat meninggalkan nama baik bagi generasi penerus, setidaknya orang tidak akan mengkritik kami di belakang kami dengan mengatakan bahwa kami tidak memiliki kredibilitas. Kami tidak bisa membiarkan generasi mendatang didiskriminasi dan menderita ketidakadilan semacam ini.' Apa yang mereka cari? Mereka tetap mencari ketenaran. Ada orang yang sangat mementingkan kekayaan dan harta benda, sementara yang lain menghargai ketenaran dan keuntungan. Apa arti 'ketenaran'? Apa gambaran spesifik tentang 'ketenaran' di antara manusia? Disebut sebagai orang baik, seseorang dengan karakter moral yang tinggi, teladan, orang yang berbudi luhur, atau orang kudus. Bahkan karena berhasil 'setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu' dan memiliki karakter moral semacam ini hanya dalam satu peristiwa, ada beberapa orang yang terus-menerus dipuji, dan keturunan mereka mendapat manfaat dari kemuliaan mereka. Engkau lihat, manfaat-manfaat ini jauh lebih banyak daripada sedikit manfaat yang bisa mereka dapatkan pada saat ini. Oleh karena itu, motivasi bagi siapa pun yang mematuhi apa yang disebut standar moral 'setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu' tidaklah sesederhana itu. Mereka tidak hanya berusaha untuk memenuhi kewajiban dan tanggung jawab mereka masing-masing, tetapi mereka mematuhinya baik untuk keuntungan pribadi maupun ketenaran, baik untuk kehidupan ini maupun kehidupan selanjutnya. Tentu saja, ada juga orang-orang yang ingin menghindari dikritik di belakang mereka dan menghindari nama buruk. Singkatnya, motivasi orang dalam melakukan hal semacam ini tidaklah sederhana; itu bukanlah tindakan yang benar-benar berasal dari perspektif kemanusiaan, bukan pula dari tanggung jawab sosial umat manusia" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (14)"). "Di tengah komunitas atau kelompok sosial mana pun, orang ingin orang lain mengatakan mereka adalah orang dengan karakter moral yang tinggi, orang baik, orang yang bereputasi baik, orang yang dapat dipercaya dan yang layak diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas. Mereka semua ingin membangun citra semacam itu untuk membuat orang lain menghargai mereka, dan membuat orang lain percaya bahwa mereka adalah individu yang bermartabat, dan merupakan manusia biasa yang memiliki perasaan dan kesetiaan, bukan orang yang berdarah dingin atau aneh. Jika engkau ingin berbaur dengan masyarakat dan diterima serta diakui oleh mereka, engkau harus terlebih dahulu membuat mereka mengakuimu sebagai orang dengan karakter moral yang tinggi, orang yang berintegritas, dan memiliki kredibilitas. Jadi, permintaan macam apa pun yang mereka ajukan kepadamu, engkau berusaha sebaik mungkin untuk membuat mereka puas dan senang—dengan demikian, engkau menerima pujian dari mereka sebagai orang yang dapat dipercaya dengan karakter moral yang tinggi, dan semua orang bersedia bergaul denganmu. Dengan cara ini engkau merasa bernilai dalam hidupmu. Jika engkau dapat diakui oleh masyarakat, oleh orang banyak, dan oleh rekan kerja serta teman-teman di sekitarmu, engkau akan menjalani kehidupan yang sangat tenteram dan memuaskan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (14)"). Firman Tuhan menyingkapkan akar masalahnya. Ketika orang bisa setia dalam menangani urusan orang lain, ini bukan karena mereka ingin melaksanakan tanggung jawab mereka, tetapi karena mereka ingin mendapatkan reputasi yang baik. Saat merenungkan diriku, aku menyadari bahwa sejak kecil, aku telah dipengaruhi oleh ayahku. Setiap kali peralatan milik siapa pun rusak dan mereka meminta bantuanku, aku selalu setuju. Aku melakukan semua ini agar aku memiliki reputasi yang baik di desa, dan agar orang lain memujiku. Setelah mulai melaksanakan tugas, setiap kali saudara-saudari memintaku membantu mengatasi masalah komputer, aku merasa tidak enak untuk menolak, betapa pun sibuknya aku dengan tugasku. Terutama, ketika saudara-saudari mengatakan bahwa keahlian perbaikanku bagus, aku merasa sangat puas, berpikir bahwa inilah wujud kepercayaan mereka kepadaku. Untuk menjaga citra yang baik di hati saudara-saudari, meskipun aku tahu betul bahwa masalah para orang percaya baru masih belum terselesaikan dan aku perlu lebih memperlengkapi diriku karena aku belum memahami kebenaran mengenai visi dengan jelas, ketika saudara-saudari datang memintaku mengatasi masalah komputer, meskipun aku ingin menolak, aku tidak sanggup mengatakannya. Aku takut mengecewakan mereka, membuat mereka berpikir aku tidak peduli, dan memberi mereka kesan buruk tentangku. Padahal, jika mereka sangat membutuhkan komputer mereka, aku bisa membantu mengatasinya sesekali, tetapi beberapa dari mereka tidak terlalu membutuhkannya dan bisa saja menyerahkannya kepada saudara-saudari yang bertugas memperbaiki komputer. Namun, karena aku tidak ingin mengecewakan mereka, aku selalu setuju, tanpa memedulikan apakah itu memengaruhi tugasku. Akibatnya, tugasku pun terhambat. Aku begitu mementingkan ketenaran dan keuntunganku sendiri, lebih memilih menunda tugasku hanya untuk menjaga citra baik di hati orang lain, dan membuat orang lain menganggapku orang baik yang dapat dipercaya dan penuh kasih. Aku benar-benar egois dan tercela! Tugas adalah amanat yang Tuhan berikan kepada orang. Itu adalah tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh makhluk ciptaan di atas segalanya, tetapi aku menganggap hal-hal yang dipercayakan kepadaku oleh orang lain lebih penting daripada tugasku. Tidak peduli seberapa sulit urusan yang dipercayakan orang lain kepadaku, atau berapa lama waktu yang kuhabiskan, aku berusaha sebaik mungkin untuk melakukannya dengan baik, tanpa memikirkan bagaimana cara melaksanakan tugasku sendiri agar dapat memuaskan Tuhan. Aku berhasil menjaga citra baik di hati orang-orang, tetapi di mata Tuhan, aku telah menjadi orang yang menganggap enteng tugasnya, tidak dapat dipercaya dan tidak setia dalam melaksanakannya. Aku benar-benar tidak bisa menentukan prioritas dan mendahulukan hal yang sekunder di atas hal yang utama. Tuhan menganugerahiku kesempatan untuk menyiram para orang percaya baru, berharap agar aku mencari kebenaran untuk mengatasi berbagai gagasan dan masalah mereka, sehingga mereka dapat mengenal pekerjaan Tuhan dan berakar di jalan yang benar sejak dini. Aku seharusnya memikirkan maksud Tuhan, dan melaksanakan tugasku dengan baik dalam situasi apa pun.

Kemudian aku merenung lagi, "Bagaimana seharusnya aku menyikapi hal-hal yang dipercayakan orang lain kepadaku?" Dalam pencarianku, aku membaca firman Tuhan: "Jika tugas yang dipercayakan kepadamu tidak menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenagamu, dan berada dalam batas kualitasmu, atau jika engkau memiliki lingkungan dan kondisi yang tepat, maka berdasarkan hati nurani dan nalar manusia, engkau dapat melakukan beberapa hal untuk orang lain dan berusaha memenuhi beberapa permintaan yang masuk akal dan pantas dari mereka, dalam batas kemampuanmu. Namun, jika tugas yang dipercayakan kepadamu menyita banyak waktu dan tenagamu, dan merampas banyak waktumu, sampai-sampai membuatmu mengorbankan hidupmu, serta tanggung jawab dan kewajibanmu dalam hidup ini—dan tugas-tugas yang seharusnya kaulaksanakan sebagai makhluk ciptaan—akan menjadi hilang sama sekali dan ditiadakan serta digantikan, apa yang harus kaulakukan? Engkau harus menolaknya karena ini bukanlah tanggung jawab atau kewajibanmu. Mengenai tanggung jawab dan kewajiban hidup seseorang, selain merawat orang tua dan membesarkan anak, serta memenuhi tanggung jawab sosial di tengah masyarakat dan di bawah kerangka hukum, hal yang paling penting adalah bahwa tenaga dan waktu, serta kehidupan seseorang haruslah dihabiskan untuk melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, bukannya membiarkan waktu dan tenaga mereka disita oleh tugas yang dipercayakan kepada mereka oleh individu mana pun. Ini karena Tuhan menciptakan seseorang, memberi mereka kehidupan, dan membawa mereka ke dunia ini bukan agar mereka melakukan hal-hal atau memenuhi tanggung jawab demi manusia lain mana pun. Apa yang seharusnya diterima orang di atas segalanya adalah amanat Tuhan. Hanya amanat Tuhan yang merupakan amanat sejati; menerima tugas yang dipercayakan kepadamu oleh manusia lain berarti mengabaikan tugasmu yang semestinya. Tak seorang pun berhak memintamu untuk mengabdikan kesetiaan, tenaga, waktu, atau bahkan masa muda dan seluruh hidupmu untuk tugas yang mereka percayakan kepadamu. Hanya Tuhan yang berhak meminta orang untuk melaksanakan tugas mereka sebagai makhluk ciptaan. Mengapa demikian? Jika suatu tugas yang dipercayakan kepadamu oleh siapa pun membutuhkan banyak waktu dan tenagamu, itu akan menghalangimu untuk melaksanakan tugasmu sebagai makhluk ciptaan, dan itu bahkan mungkin menghalangimu untuk mengikuti jalan yang benar dalam hidup, dan mengubah arah serta tujuan hidupmu. Ini bukanlah hal yang baik, ini adalah sebuah bencana" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (14)"). Firman Tuhan menunjukkan jalan penerapan kepadaku. Dalam hidup ini, hal yang paling harus kita terima adalah amanat Tuhan, yang harus kita penuhi dengan segenap hati dan pikiran. Adapun urusan yang dipercayakan orang lain kepada kita, kita harus mempertimbangkan apakah itu akan menyita terlalu banyak waktu kita, dan apakah itu akan menghambat tugas pokok kita. Jika itu tidak memakan terlalu banyak waktu dan kita tidak terlalu sibuk dengan tugas kita, maka atas dasar hati nurani dan nalar manusia, kita boleh membantu menyelesaikannya. Namun, jika membantu orang lain akan memengaruhi tugas utama kita, maka kita harus menolaknya, dan tidak boleh terikat oleh pandangan budaya tradisional "Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu". Namun, di masa lalu, aku sama sekali tidak punya prinsip dalam menyikapi apa yang dipercayakan orang lain kepadaku. Siapa pun yang meminta bantuanku, aku tidak pernah menolak, dan akibatnya, tugasku sendiri tertunda. Meskipun tidak ada yang salah dengan membantu saudara-saudariku memperbaiki komputer, jika itu memakan banyak waktu dan menunda tugasku, aku harus menolak dan menjelaskan situasinya kepada mereka; mereka akan mengerti. Aku seharusnya tidak selalu memikirkan bagaimana orang lain memandangku, tetapi justru menerapkan sesuai firman Tuhan dan prinsip.

Suatu malam, dua orang saudara datang ke rumahku, mengatakan bahwa ada komputer baru yang tidak mau menyala, dan mereka memintaku untuk memeriksanya. Aku merasa bimbang, dan berpikir, "Aku masih punya beberapa pekerjaan mendesak yang belum selesai. Kalau aku setuju membantu memperbaiki komputer mereka, pasti akan memakan banyak waktu. Namun, kalau aku langsung menolak, apa yang akan mereka pikirkan tentangku? Mereka datang dengan gembira, tetapi pulang dengan kecewa. Bukankah aku akan meninggalkan kesan buruk pada mereka?" Aku sadar bahwa aku kembali memikirkan status dan citraku di hati orang lain, jadi aku berdoa kepada Tuhan dalam hati, memohon agar Dia membimbingku untuk menerapkan sesuai dengan prinsip dan memprioritaskan tugasku. Aku teringat sebuah bagian dari firman Tuhan yang pernah kubaca: "Jika tugas yang dipercayakan kepadamu tidak menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenagamu, dan berada dalam batas kualitasmu, atau jika engkau memiliki lingkungan dan kondisi yang tepat, maka berdasarkan hati nurani dan nalar manusia, engkau dapat melakukan beberapa hal untuk orang lain dan berusaha memenuhi beberapa permintaan yang masuk akal dan pantas dari mereka, dalam batas kemampuanmu. Namun, jika tugas yang dipercayakan kepadamu menyita banyak waktu dan tenagamu, dan merampas banyak waktumu, sampai-sampai membuatmu mengorbankan hidupmu, serta tanggung jawab dan kewajibanmu dalam hidup ini—dan tugas-tugas yang seharusnya kaulaksanakan sebagai makhluk ciptaan—akan menjadi hilang sama sekali dan ditiadakan serta digantikan, apa yang harus kaulakukan? Engkau harus menolaknya karena ini bukanlah tanggung jawab atau kewajibanmu" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (14)"). Dengan bimbingan firman Tuhan, aku menemukan jalan penerapan. Aku harus terlebih dahulu melihat apa masalah komputernya. Jika itu tidak memakan terlalu banyak waktu dan merupakan masalah sederhana, aku akan membantu mengatasinya. Namun, jika itu masalah besar yang akan memakan waktu lama untuk diperbaiki, aku akan menyuruh mereka untuk menemui saudara-saudari yang bertugas memperbaiki komputer. Jadi, aku menyalakan komputer itu untuk memeriksa masalahnya, dan aku menemukan bahwa sistemnya bermasalah. Ini bukan sesuatu yang bisa diperbaiki dengan cepat. Aku pun memberi tahu saudara-saudara itu bahwa aku sedang sibuk dengan tugasku dan tidak punya waktu untuk memperbaikinya, dan aku meminta mereka untuk mencari bantuan dari saudara-saudari yang lain. Mereka pun setuju setelah mendengar penjelasanku. Ketika aku menerapkan sesuai dengan firman Tuhan, saudara-saudara itu tidak berpikir negatif tentangku seperti yang kubayangkan, dan aku merasa sangat malu.

Melalui pengalaman ini, aku dapat membedakan pandangan budaya tradisional "Setia dalam melaksanakan apa yang telah dipercayakan kepadamu", dan aku juga memahami bahwa sekadar melakukan dengan benar apa yang dipercayakan orang lain tidak membuat seseorang menjadi orang yang benar-benar baik. Hanya dengan melaksanakan tugas dengan baik, segenap hati dan tenaga untuk memuaskan Tuhan, barulah seseorang menjadi orang yang benar-benar baik. Aku juga tidak lagi menunda tugasku demi menjaga reputasi sehingga merasa bahwa aku harus selalu menuruti permintaan orang lain. Perubahan dan pemahaman ini adalah hasil dari bimbingan firman Tuhan. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp