Bersikap Asal-asalan dalam Tugas Sungguh Berbahaya

15 Maret 2026

Pada bulan Oktober 2024, aku sedang melaksanakan tugasku mengedit video kesaksian pengalaman berbahasa asing. Suatu kali, saat sedang mengedit sebuah video, aku mendapati bahwa banyak adegan tidak tersambung dengan baik. Untuk memilih rekaman yang tepat, dibutuhkan waktu tiga kali lebih lama dari biasanya, dan aku harus terus mencoba adegan-adegan yang berbeda agar sesuai dengan audionya. Awalnya, aku cukup sabar untuk mengedit dengan teliti, tetapi menjelang siang, aku bahkan belum menyelesaikan setengah dari yang biasanya kuselesaikan. Aku mulai merasa tidak sabar, dan berpikir, "Video ini punya banyak sekali adegan yang rumit. Kalau aku mengedit setiap bagian sedetail ini, akan sangat membosankan dan memakan waktu. Ini melelahkan sekali! Mungkin kali ini aku ambil jalan pintas saja. Yang penting lolos standar saja. Penonton mungkin tidak akan memperhatikan masalah-masalah kecil ini begitu videonya diunggah secara daring. Beberapa transisi yang tidak terlalu mulus bukanlah masalah besar." Dengan pemikiran itu, setiap kali kutemukan potongan adegan yang sulit disambungkan, tanpa pikir panjang aku langsung mengambil beberapa rekaman lalu menggabungkannya. Meskipun aku bisa melihat transisinya tidak terlalu mulus, aku menghibur diri sendiri, berpikir, "Tidak apa-apa. Yang penting lolos standar. Orang lain mungkin tidak akan memperhatikan masalah-masalah sepele ini." Tak disangka, setelah aku menyerahkan video yang sudah jadi, Saudara Brian, yang memeriksanya, menunjukkan lebih dari tiga puluh masalah yang perlu direvisi. Awalnya, aku tidak bisa memercayainya. Aku tahu aku telah bersikap asal-asalan dalam mengedit video ini, tetapi aku tidak menyangka akan ada begitu banyak masalah. Dengan saksama, aku memeriksa masalah-masalah yang dia tunjukkan dan menyadari bahwa semua masukannya benar. Butuh waktu setengah hari bagiku untuk memperbaiki semuanya. Saat hendak menyerahkannya kembali, aku mulai khawatir lagi, pikirku, "Aku sudah memperbaiki masalah-masalah itu sesuai saran Saudara Brian, tetapi mungkinkah masih ada masalah lain? Mungkin aku harus satu kali lagi memeriksanya secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada yang terlewat." Namun, kemudian aku berpikir, "Ini sudah hampir jam selesai kerja. Jika kuperiksa secara menyeluruh sekarang, selesainya akan sangat larut, dan waktu istirahatku akan berkurang. Sudahlah. Lagipula, Saudara Brian sudah memeriksanya, jadi memperbaiki masalah yang dia temukan saja sudah cukup." Jadi, setelah membuat perubahan yang disarankan, aku langsung menyerahkannya. Di luar dugaan, kali ini video itu diperiksa oleh orang yang berbeda, Saudara Kirk, dan dia menunjukkan tujuh atau delapan masalah lagi yang harus diperbaiki. Melihat hasil ini, aku sadar bahwa aku telah menghambat jadwal pengunggahan video tersebut. Aku berpikir dalam hati, "Seandainya saja kemarin aku meluangkan waktu ekstra dan melakukan pemeriksaan menyeluruh, aku mungkin akan menemukan masalah-masalah ini, dan videonya bisa tayang hari ini sesuai jadwal. Fakta bahwa video itu tidak bisa diunggah tepat waktu, semuanya karena aku bersikap asal-asalan dan tidak mengerjakannya dengan serius." Ketika memikirkan hal ini, aku agak menyesali diri dan berkata pada diriku bahwa kali ini aku harus rajin dalam merevisi dan tidak boleh bersikap asal-asalan lagi. Jadi, setelah memperbaiki masalah-masalah itu, aku memeriksa kembali seluruh video tersebut. Aku menemukan beberapa bagian lain di mana transisinya tidak mulus, dan memperbaikinya. Meskipun butuh waktu dan tenaga ekstra, aku merasa tenang. Kali ini, setelah videonya kuserahkan, video itu bisa diunggah ke situs web dengan lancar.

Setelah itu, ketika mengingat bagaimana sikap asal-asalanku telah menunda pengunggahan, aku merasa agak bersalah. Ketika bersaat teduh, aku membaca satu bagian firman Tuhan, yang memberiku pemahaman tentang keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Menangani segala sesuatu dengan sembrono dan tidak bertanggung jawab adalah sebuah unsur dari watak yang rusak: Itu adalah sesuatu yang sering orang sebut sebagai keberengsekan. Dalam semua yang mereka lakukan, mereka melakukannya sampai mencapai titik 'itu sepertinya sudah benar' dan 'seperti ini sudah cukup'; ini adalah sikap 'mungkin', 'boleh jadi', dan 'tidak 100%'; mereka melakukan sesuatu dengan sikap asal-asalan, puas dengan melakukan hal yang minimal, dan puas dengan menggertak; mereka merasa bahwa menanggapi segala sesuatu dengan serius atau dengan teliti itu tidak ada gunanya, apalagi mencari prinsip-prinsip kebenaran. Bukankah ini sesuatu yang ada di dalam watak yang rusak? Apakah itu perwujudan dari kemanusiaan yang normal? Tidak. Jika menyebutnya kecongkakan, itu benar, dan menyebutnya tidak bermoral juga sepenuhnya tepat, tetapi kata yang paling sempurna untuk menyebutnya adalah 'berengsek'. Kebanyakan orang memiliki keberengsekan dalam diri mereka, hanya tarafnya saja yang berbeda. Dalam segala hal, mereka ingin melakukan segala sesuatu dengan sikap yang asal-asalan serta ceroboh, dan ada aroma kelicikan dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Mereka menipu orang lain saat ada kesempatan, sebisa mungkin mengambil jalan pintas, dan sebisa mungkin menghemat waktu. Di dalam hatinya, mereka berpikir, 'Selama aku tidak tersingkap, tidak menyebabkan masalah, dan selama aku tidak dimintai pertanggungjawaban, aku akan melaksanakannya dengan asal-asalan. Aku tidak perlu melaksanakan tugas dengan sangat baik, itu terlalu merepotkan!' Orang-orang semacam itu tidak pernah ahli dalam hal apa pun, dan mereka tidak bersedia berupaya keras atau menderita serta membayar harga dalam pembelajaran mereka. Mereka hanya ingin mendapatkan pemahaman yang dangkal tentang suatu keterampilan dan kemudian menyebut diri mereka ahli dalam keterampilan tersebut, meyakini bahwa mereka telah berhasil dalam mempelajarinya, lalu mengandalkan ini untuk melakukan apa pun dengan ala kadarnya. Bukankah ini sikap yang orang miliki terhadap orang lain, peristiwa dan hal-hal? Apakah ini sikap yang baik? Tidak. Sederhananya, itu adalah sikap yang 'asal-asalan'. Keberengsekan semacam ini ada dalam diri seluruh umat manusia yang rusak. Orang yang memiliki keberengsekan dalam kemanusiaan mereka menganut sudut pandang dan sikap yang 'asal-asalan' dalam semua yang mereka lakukan. Apakah orang-orang seperti itu mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik? Tidak. Apakah mereka mampu melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip? Bahkan lebih tidak mungkin lagi" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Delapan (Bagian Dua)). Setelah membaca firman Tuhan, barulah aku mengerti. Ketika orang selalu menyikapi segala sesuatu dengan sikap sembrono dan tidak bertanggung jawab, menggunakan cara-cara yang asal-asalan dan menipu hanya demi menghindari kesulitan, itu karena ada sifat berengsek di dalam diri mereka. Tuhan muak dengan sikap yang selalu asal-asalan dalam melaksanakan tugas ini. Firman Tuhan menyingkapkan keadaanku yang sesungguhnya. Ketika aku perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk memilih rekaman bagi video yang sedang kuedit, aku merasa itu terlalu merepotkan dan demi ingin menghemat tenaga, aku mengambil sembarang adegan dan menggabungkannya. Bahkan ketika melihat transisinya tidak mulus, aku tidak mau memperbaikinya. Aku bahkan berharap bisa lolos begitu saja jika saudara yang memeriksanya tidak menyadarinya. Pada akhirnya, video itu memiliki banyak masalah dan revisi yang berulang-ulang menunda pengunggahannya. Aku sedang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan video gereja! Sebenarnya, tugas mendasar seorang editor adalah memilih rekaman yang paling sesuai dan kemudian menggunakan teknik tertentu untuk membuat videonya mengalir dengan lancar. Ini adalah sikap dan rasa tanggung jawab yang setidaknya harus dimiliki seorang editor. Namun, aku selalu berusaha menghindari kesulitan, mengambil jalan pintas dan bersikap licin, dan aku melaksanakan tugasku dengan keberengsekanku, puas dengan editan kasar yang hanya "lumayan". Jika dalam jangka panjang aku terus seperti ini, aku tidak hanya akan gagal dalam tugasku sebagai editor, tetapi juga akan disingkapkan dan disingkirkan karena menunda pekerjaan video. Konsekuensinya akan terlalu serius! Menyadari hal ini, aku merasa bersalah dan sangat menyesali diri. Aku kemudian berdoa kepada Tuhan, bersedia untuk berubah dan tidak lagi memperlakukan tugasku berdasarkan keberengsekanku.

Setelah itu, aku menjadi sedikit lebih rajin dalam tugasku. Suatu kali, aku sedang mengedit video berbahasa Slovakia, dan setelah kuserahkan, saudari yang memeriksanya menunjukkan masalah pada jeda di antara baris dialognya. Kemudian, aku menemukan metode yang bisa mengatasi masalah ini, jadi aku mencoba menerapkannya dalam pengeditanku. Tak disangka, ketika aku menyerahkan kembali video itu, saudari tersebut berkata bahwa videonya diedit dengan baik dan mengalir dengan lancar. Aku sangat senang mendengarnya, dan sepertinya metode ini memang bisa sedikit meningkatkan hasil tugasku. Namun, menggunakan metode itu agak merepotkan; butuh beberapa langkah tambahan. Jika aku mengedit setiap video dengan cara tersebut, itu akan terlalu merepotkan dan lebih menyusahkanku. Jadi, aku kembali ke metode pengeditanku yang lama, dan alhasil, banyak masalah muncul lagi. Aku sangat sadar bahwa jika aku mengerahkan lebih banyak usaha dan meluangkan sedikit waktu lagi, masalah-masalah ini bisa dihindari. Saat memikirkan ini, aku merasa sangat menyesali diri "Mengapa aku tidak bisa lebih mengerahkan usaha dan membayar harga dalam tugasku? Mengapa aku bersikap asal-asalan lagi?" Aku teringat bahwa Tuhan menyingkapkan bahwa orang yang tidak memiliki kebajikan tidak dapat melaksanakan tugas apa pun dengan baik, jadi aku mencari pasal firman Tuhan tersebut untuk dibaca. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang macam apa yang Tuhan selamatkan? Engkau bisa mengatakan mereka yang Tuhan selamatkan adalah semua orang yang memiliki hati nurani dan nalar serta mampu menerima kebenaran, karena hanya mereka yang memiliki hati nurani dan nalar yang mampu menerima dan menghargai kebenaran, dan selama mereka memahami kebenaran, mereka mampu menerapkannya. Mereka yang tidak memiliki hati nurani dan nalar adalah orang-orang yang tidak memiliki kemanusiaan; sederhananya, mereka tidak memiliki kebajikan. Apa natur dari tidak memiliki kebajikan? Itu artinya tidak memiliki kemanusiaan, tidak layak disebut manusia. ... Mereka yang tidak memiliki kebajikan tidak memiliki kemanusiaan; bagaimana mungkin mereka melaksanakan tugas mereka dengan baik? Mereka tidak layak melaksanakan tugas, dan mereka tidak mampu melaksanakan tugas apa pun dengan baik. Orang-orang semacam itu tidak layak disebut manusia. Mereka adalah binatang, binatang berwujud manusia. Hanya mereka yang memiliki hati nurani dan nalar yang mampu menangani urusan manusia, dapat dipegang perkataannya, dapat dipercaya, dan memenuhi syarat sebagai 'orang yang lurus'. Istilah 'orang yang lurus' tidak digunakan di rumah Tuhan. Sebagai gantinya, rumah Tuhan menuntut orang untuk bersikap jujur—inilah kebenarannya. Hanya orang jujur yang dapat dipercaya, memiliki hati nurani dan nalar, serta layak disebut manusia. Jika orang mampu menerima kebenaran dan bertindak berdasarkan prinsip saat melaksanakan tugas mereka, dan akhirnya melaksanakan tugas mereka hingga memenuhi standar, itu berarti orang ini jujur dan dapat dipercaya. Mereka yang dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan adalah orang-orang yang jujur. Menjadi orang jujur yang tepercaya bukanlah soal kemampuan atau penampilanmu, apalagi soal kualitas, kompetensi, ataupun karunia-karuniamu. Selama engkau menerima kebenaran, bertindak dengan penuh tanggung jawab, memiliki hati nurani dan nalar, serta mampu tunduk kepada Tuhan, itu sudah cukup. Sebesar apa pun kemampuan yang orang miliki, hal yang paling ditakutkan adalah bahwa mereka tidak memiliki kebajikan. Seseorang yang tidak memiliki kebajikan bukanlah manusia tetapi binatang. Mereka yang disingkirkan dari rumah Tuhan mengalami hal itu karena mereka tidak memiliki kemanusiaan dan sama sekali tidak memiliki kebajikan. Oleh karena itu, mereka yang percaya kepada Tuhan harus mampu menerima kebenaran, dan mereka harus menjadi orang yang jujur, setidaknya berhati nurani dan bernalar, mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, serta mampu menuntaskan amanat Tuhan. Hanya orang semacam inilah yang dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan; merekalah orang-orang yang secara tulus percaya kepada-Nya dan mengorbankan diri mereka untuk-Nya. Merekalah orang yang Tuhan selamatkan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti. Tuhan menyelamatkan mereka yang memiliki hati nurani dan nalar, karena hanya orang dengan hati nurani dan nalar yang dapat menerima kebenaran, menerapkan kebenaran, dan melaksanakan tugas mereka dengan baik. Mereka yang tidak memiliki kemanusiaan, hati nurani, dan nalar tidak dapat menerima kebenaran; sekalipun mereka memahaminya, mereka tidak dapat menerapkannya. Di mata Tuhan, orang-orang seperti itu bukanlah manusia melainkan binatang, dan mereka hanya akan disingkirkan oleh Tuhan. Penyingkapan firman Tuhan menusuk hatiku. Aku persis seperti orang yang Tuhan singkapkan, seseorang tanpa hati nurani dan nalar. Aku telah percaya kepada Tuhan selama lebih dari satu dekade dan telah membaca banyak firman-Nya tentang melaksanakan tugas dengan sepenuh hati dan tidak bersikap asal-asalan. Namun sekarang, hanya demi sedikit menghindari penderitaan bagi dagingku, aku masih mengambil jalan pintas dan bersikap licin, membuat pekerjaan tertunda. Aku sama sekali bukan orang yang menerima kebenaran, juga bukan orang yang memiliki hati nurani dan nalar. Faktanya adalah, ketika aku menjumpai video yang sulit, aku bisa saja mengeditnya dengan baik jika aku mengerahkan lebih banyak usaha dan waktu. Namun, aku tidak mau repot. Demi kenyamanan fisikku sendiri, aku hanya sembarangan memilih beberapa adegan dan menggabungkannya. Bahkan ketika melihat transisinya tidak mulus, aku tidak mau memperbaikinya, yang menyebabkan video itu dikembalikan untuk direvisi berkali-kali, sehingga menunda kemajuannya. Aku jelas tahu ada cara yang lebih baik untuk menangani masalah dalam video itu supaya hasilnya lebih baik, tetapi karena takut dagingku menderita, aku memilih metode yang paling sedikit membutuhkan usaha, yang menyebabkan masalah pada video dan menunda prosesnya dengan revisi bolak-balik. Sebenarnya, mengedit video dengan baik tidak memerlukan keterampilan teknis yang canggih; itu bisa dilakukan dengan kehati-hatian, ketekunan, dan sedikit lebih berusaha. Namun, aku bahkan tidak bisa melakukan itu. Aku benar-benar tidak punya hati nurani sama sekali! Aku hanya peduli pada kenyamanan fisikku sendiri, sama sekali tidak memedulikan pekerjaan gereja, dan tidak menjaga kepentingan gereja sama sekali. Aku begitu tidak dapat dipercaya, sangat tidak memiliki kebajikan dan kemanusiaan! Jika video itu diedit oleh orang yang bertanggung jawab, video itu bisa diunggah dengan cepat dan akan sehari lebih awal dalam memainkan perannya di pekerjaan penyebaran Injil. Akulah yang menunda pengunggahan video itu. Aku sedang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan video; aku sedang menentang Tuhan! Jika aku tidak berubah, pada akhirnya aku akan dibenci dan ditolak, disingkapkan, dan disingkirkan oleh Tuhan. Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus menerapkan sesuai firman Tuhan, mengejar untuk menjadi orang yang jujur, memenuhi tanggung jawabku, dan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki setiap masalah yang kutemukan. Aku juga berdoa kepada Tuhan dalam hatiku, "Ya Tuhan, aku telah bersikap asal-asalan dan tidak bertanggung jawab dalam tugasku. Aku gagal melakukan hal-hal yang mampu kulakukan dengan baik, dan aku telah menunda pengunggahan video. Aku benar-benar tidak memiliki hati nurani dan nalar, serta tidak dapat dipercaya. Ya Tuhan, aku bersedia bertobat. Sekalipun itu berarti menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga, lebih menderita, dan lebih membayar harga, selama itu bisa mencapai hasil yang baik, aku bersedia melakukannya. Jika aku bersikap asal-asalan lagi, kiranya Engkau mendisiplinkan dan mendidikku."

Setelah itu, aku mengubah sikap lamaku yang salah terhadap tugasku. Meskipun aku menghabiskan waktu dan tenaga ekstra untuk mengedit video, video yang diedit terlihat jauh lebih mulus, dan proses pengunggahan menjadi sedikit lebih cepat. Ketika melaksanakan tugasku dengan cara ini, aku merasa lebih tenang. Setelah beberapa waktu, pengawas mengirimiku pesan yang mengatakan bahwa beberapa saudara dan saudari berkomentar bahwa video yang kuedit cukup mulus, dan dia bertanya apakah aku punya metode bagus untuk dibagikan kepada semua orang. Aku merasa sangat terharu dan merenung ketika mendengar ini. Aku hanya mengikuti apa yang Tuhan firmankan, mengerahkan lebih banyak usaha dalam tugasku dan lebih membayar harga. Aku tidak menyangka hasil tugasku akan meningkat begitu banyak. Kemudian, aku membagikan pengalamanku dan metode pengeditan itu kepada saudara-saudari, dan mereka semua merasa itu sangat membantu.

Dalam salah satu saat teduhku, aku membaca satu bagian firman Tuhan dan mendapatkan pemahaman tentang konsekuensi dari bersikap asal-asalan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik, sangatlah penting bagi orang untuk melakukan bagian mereka; pola pikir mereka sangat penting, dan ke mana mereka mencurahkan pemikiran dan ide mereka sangatlah penting. Tuhan memeriksa dan dapat melihat bagaimana keadaan pikiran orang serta seberapa besar upaya yang mereka kerahkan dari dalam diri saat melaksanakan tugas mereka. Sangatlah penting bagi orang untuk mencurahkan segenap hati dan segenap kekuatan mereka dalam apa yang mereka lakukan. Melakukan bagian mereka merupakan unsur yang sangat penting. Jika orang berusaha untuk tidak menyesali tugas yang telah mereka selesaikan dan hal-hal yang telah mereka lakukan, dan tidak berutang kepada Tuhan, barulah mereka akan bertindak dengan segenap hati dan kekuatan mereka. Jika engkau selalu gagal mengerahkan segenap hati dan kekuatanmu untuk melaksanakan tugasmu, jika sikapmu selalu asal-asalan, dan menyebabkan pekerjaan menjadi sangat dirugikan, dan jauh dari hasil yang Tuhan tuntut darimu, maka hanya satu hal yang dapat terjadi pada dirimu: Engkau akan disingkirkan. Dan masih adakah waktu bagimu untuk menyesal? Tidak. Tindakan-tindakan ini akan menjadi penyesalan abadi, suatu noda! Selalu bersikap asal-asalan adalah suatu noda, itu adalah pelanggaran serius—benar atau tidak? (Benar.) Engkau harus berusaha keras untuk melaksanakan kewajibanmu dan semua yang harus kaulakukan, dengan segenap hati dan kekuatanmu, engkau tidak boleh bersikap asal-asalan, atau meninggalkan penyesalan. Jika engkau mampu melakukan itu, tugas yang kaulaksanakan akan diingat oleh Tuhan. Hal-hal yang diingat oleh Tuhan itu adalah perbuatan baik. Lalu, apa saja hal-hal yang tidak diingat oleh Tuhan? (Pelanggaran dan perbuatan yang jahat.) Engkau mungkin tidak menerima bahwa itu adalah perbuatan jahat jika dijelaskan sekarang, tetapi, bila saatnya tiba ketika hal itu menimbulkan akibat yang serius, dan menimbulkan pengaruh negatif, engkau akan merasakan bahwa hal itu bukan hanya pelanggaran dalam perilaku, tetapi perbuatan yang jahat. Ketika engkau menyadari hal ini, engkau akan menyesal, dan berpikir dalam hatimu: 'Andai tahu begini, seharusnya aku tidak melakukannya! Dengan pemikiran dan upaya yang sedikit lebih banyak di awal, akibat ini seharusnya bisa dihindari.' Tidak ada yang akan menghapus noda abadi ini dari hatimu, dan jika itu membuatmu berada dalam utang yang permanen, engkau berada dalam masalah. Jadi sekarang ini, engkau semua harus berusaha keras untuk mencurahkan segenap hati dan kekuatanmu untuk melaksanakan amanat yang Tuhan berikan kepadamu, melaksanakan setiap tugas dengan hati nurani yang murni, tanpa penyesalan, dan dengan cara yang diingat oleh Tuhan. Apa pun yang kaulakukan, janganlah bersikap asal-asalan. Jika engkau terdorong melakukan kesalahan dan itu merupakan pelanggaran yang serius, ini akan menjadi noda abadi. Sekali engkau memiliki penyesalan, engkau tidak akan mampu menebusnya, dan itu akan menjadi penyesalan yang permanen. Kedua jalan ini seharusnya dilihat dengan jelas. Manakah yang harus kaupilih untuk mendapatkan perkenan Tuhan? Melaksanakan tugasmu dengan segenap hati dan kekuatanmu, serta mempersiapkan dan mengumpulkan perbuatan baik, tanpa penyesalan apa pun. Apa pun yang kaulakukan, jangan melakukan kejahatan yang akan mengganggu orang lain dalam pelaksanaan tugas mereka, jangan lakukan apa pun yang bertentangan dengan kebenaran dan yang menentang Tuhan, dan jangan menimbulkan penyesalan seumur hidup. Apa yang terjadi jika orang telah melakukan terlalu banyak pelanggaran? Pelanggaran itu menimbun kemarahan Tuhan terhadap mereka di hadirat-Nya! Jika engkau makin banyak melanggar, dan murka Tuhan terhadapmu menjadi jauh lebih besar, maka, pada akhirnya, engkau akan dihukum" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Aku sangat terharu setelah membaca firman Tuhan. Aku merenungkan firman ini berulang kali, "Selalu bersikap asal-asalan adalah suatu noda, itu adalah pelanggaran serius," dan menyadari bahwa dengan selalu bersikap asal-asalan dalam tugasku, aku bukan saja gagal mempersiapkan perbuatan baik, tetapi sebenarnya aku sedang menumpuk perbuatan jahat. Jika suatu hari hal ini menyebabkan konsekuensi serius, aku akan sepenuhnya disingkapkan dan disingkirkan. Jika video yang kuedit langsung diunggah tanpa ada yang memeriksanya, semua masalah di dalamnya akan sangat mempermalukan Tuhan! Aku telah menikmati begitu banyak penyiraman dan pembekalan kebenaran dari Tuhan, jadi sudah seharusnya aku melaksanakan tugasku dan mengedit video-video itu dengan baik. Namun, aku bersikap asal-asalan dan tidak bertanggung jawab. Adakah bedanya antara aku dan orang-orang di Zaman Hukum Taurat yang mempersembahkan sapi, domba, dan merpati yang timpang dan buta kepada Tuhan? Aku menikmati kasih karunia dan berkat Tuhan tanpa berpikir untuk membalas kasih-Nya, dan yang kupersembahkan adalah persembahan yang paling buruk. Ini sama saja dengan secara terang-terangan membodohi dan menipu Tuhan; ini menimbun murka Tuhan! Jika aku terus begini tanpa bertobat, paling tidak kesempatanku untuk melakukan tugas akan diambil, dan jika serius, aku akan menghadapi hukuman Tuhan. Aku teringat seseorang bernama Matias, yang selalu bersikap asal-asalan dalam tugasnya. Dalam segala hal yang dilakukannya, dia hanya ingin asal selesai, dan orang lain harus terus-menerus memperbaiki kesalahannya serta membereskan kekacauan yang dibuatnya, yang menyebabkan kekacauan dan gangguan serius pada pekerjaan gereja. Setelah dipangkas berkali-kali, dia tetap tidak bertobat dan dikirim ke gereja biasa. Belakangan aku mendengar bahwa di sana dia masih tidak berubah; dia bahkan berhenti melaksanakan tugas, dan pada akhirnya dikeluarkan dari gereja. Ketika memikirkan kegagalan orang lain, aku tak bisa untuk tidak takut. Aku juga jadi menyadari bahwa watak Tuhan yang benar tidak dapat disinggung. Fakta bahwa aku masih bisa melaksanakan tugas di gereja adalah belas kasihan Tuhan dan kesempatan bagiku untuk bertobat. Aku harus segera mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah sikap asal-asalanku dalam tugas.

Kemudian, aku menemukan jalan untuk mengatasi sikap asal-asalanku dalam firman Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ketika engkau melaksanakan tugasmu, engkau sebenarnya sedang melakukan apa yang seharusnya kaulakukan. Jika engkau melakukannya di hadapan Tuhan, jika engkau melaksanakan tugasmu dan tunduk kepada Tuhan dengan sikap yang jujur dan sepenuh hati, bukankah sikap ini jauh lebih tepat? Jadi, bagaimana engkau dapat menerapkan sikap ini dalam kehidupan nyata? Engkau harus membuat 'menyembah Tuhan dengan sepenuh hati dan kejujuran' menjadi kenyataanmu. Setiap kali engkau ingin bersikap asal-asalan, setiap kali engkau ingin bertindak dengan cara yang licik dan malas, dan setiap kali engkau teralihkan atau ingin bersenang-senang, engkau harus berpikir: 'Dengan berperilaku seperti ini, apakah aku tidak dapat dipercaya? Apakah aku sedang sungguh-sungguh dalam melakukan tugasku? Dengan melakukan hal ini, apakah aku gagal sepenuh hati? Apakah aku gagal memenuhi amanat yang telah Tuhan percayakan kepadaku?' Beginilah caranya engkau harus merenungkan dirimu sendiri. Jika engkau tahu bahwa engkau selalu bersikap asal-asalan dalam tugasmu, bahwa engkau tidak sepenuh hati, dan bahwa engkau telah menyakiti hati Tuhan, apa yang harus kaulakukan? Engkau harus berkata, 'Pada saat itu, aku merasa ada sesuatu yang salah di sini, tetapi aku tidak menganggapnya masalah; aku mengabaikannya saja dengan ceroboh. Baru sekarang kusadari bahwa aku sebenarnya telah bersikap asal-asalan, bahwa aku belum memenuhi tanggung jawabku. Aku benar-benar tidak memiliki hati nurani dan nalar!' Engkau telah menemukan masalahnya dan mulai sedikit mengenal dirimu sendiri—jadi sekarang, engkau harus berbalik! Sikapmu dalam melakukan tugasmu salah. Engkau memperlakukan tugasmu seperti pekerjaan tambahan dan hanya berupaya sepintas lalu, dan engkau tidak mengerahkan segenap hatimu ke dalamnya. Jika engkau kembali bersikap asal-asalan seperti ini, engkau harus berdoa kepada Tuhan dan membiarkan Dia mendisiplinkan dan mendidik dirimu. Hanya jika engkau memiliki tekad seperti itu dalam melaksanakan tugasmu, barulah engkau dapat sungguh-sungguh bertobat. Engkau hanya akan berbalik ketika hati nuranimu jernih dan sikapmu terhadap pelaksanaan tugasmu berubah" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Sering Membaca Firman Tuhan dan Merenungkan Kebenaran, Barulah Ada Jalan untuk Diikuti"). "Karena orang memiliki watak yang rusak, mereka sering bersikap asal-asalan saat melaksanakan tugas mereka. Ini adalah salah satu masalah yang paling serius. Jika orang ingin melaksanakan tugas mereka dengan benar, mereka harus terlebih dahulu menangani masalah sikap yang asal-asalan ini. Selama mereka memiliki sikap yang asal-asalan, mereka tidak akan mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik, yang berarti bahwa membereskan masalah sikap yang asal-asalan sangat penting. Jadi, bagaimana mereka harus menerapkannya? Pertama, mereka harus menyelesaikan masalah keadaan pikiran mereka; mereka harus memperlakukan tugas mereka dengan benar, dan melakukan segala sesuatu dengan serius dan dengan rasa tanggung jawab. Mereka tidak boleh bermaksud untuk bersikap licik atau asal-asalan. Orang melaksanakan tugas mereka adalah untuk Tuhan, bukan untuk seorang manusia pun; jika orang mampu menerima pemeriksaan Tuhan, mereka akan memiliki keadaan pikiran yang benar. Selain itu, setelah melakukan sesuatu, orang harus memeriksanya dan merenungkannya, dan jika mereka merasa sedikit gelisah di dalam hati mereka, dan setelah pemeriksaan yang saksama, mereka mendapati bahwa memang ada masalah, mereka harus melakukan perubahan; setelah perubahan ini dilakukan, hati mereka akan merasa tenang. Ketika orang merasa gelisah, ini membuktikan ada masalah, dan mereka harus dengan tekun memeriksa apa yang telah mereka lakukan, terutama pada tahap-tahap penting. Ini adalah sikap yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas. Jika orang mampu bersikap serius, bertanggung jawab, dan mencurahkan segenap hati dan kekuatan mereka, pekerjaan akan terlaksana dengan baik" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Firman Tuhan menerangi hatiku. Aku tahu aku harus menghargai kesempatan untuk melaksanakan tugasku dan menerima pemeriksaan Tuhan saat melaksanakannya. Setiap kali muncul pikiran untuk bersikap asal-asalan, aku harus berdoa kepada Tuhan dan memberontak terhadap diriku sendiri, berusaha mencapai hasil terbaik dalam tugasku. Selain itu, aku harus mengerahkan usaha dan bersungguh-sungguh dalam segala hal yang kulakukan, serta tidak takut repot atau menderita demi mencapai hasil yang baik. Setelah itu, dalam tugasku, aku menerapkannya sesuai dengan firman Tuhan dan mengedit setiap video dengan berhati-hati. Ketika aku menjumpai video sulit yang membutuhkan banyak waktu untuk memilih rekaman, dan aku merasa itu terlalu merepotkan, aku akan secara sadar berdoa kepada Tuhan untuk memberontak terhadap dagingku, berusaha sebaik mungkin untuk menemukan rekaman yang cocok. Setelah selesai mengedit, aku akan memeriksanya dua kali, memperbaiki dan menyempurnakan setiap masalah yang bisa kutemukan. Aku juga sering merangkum masalah-masalah yang muncul dalam tugasku, dan jika ada yang tidak bisa kutangani, aku akan bertanya kepada saudara yang menjadi rekan kerjaku. Seiring berjalannya waktu, keterampilan teknisku sedikit meningkat, lebih sedikit masalah yang ditunjukkan oleh saudara yang memeriksa videoku, dan banyak video langsung diunggah setelah hanya satu kali pemeriksaan. Melihat hasil ini, aku merasa sangat senang dan tenang.

Kemudian, terjadi sesuatu yang kurasa merupakan ujian bagiku. Aku sudah menyerahkan video yang telah kuedit, tetapi tak disangka, dua hari kemudian, seorang saudari tiba-tiba mengirimiku file audio yang direkam ulang. Dia berkata ada beberapa masalah teknis dengan rekaman sebelumnya, jadi kualitas suaranya kurang bagus, dan itu sudah direkam ulang. Aku perlu mengedit ulang video itu agar sesuai dengan audio yang baru. Awalnya aku tidak bisa menerima kabar ini, pikirku, "Yang benar saja, diedit ulang? Bukankah itu berarti sebagian besar pekerjaanku sebelumnya sia-sia?" Membayangkan harus menghabiskan setengah hari lagi untuk merevisi membuatku enggan melakukannya; rasanya terlalu merepotkan. Aku kemudian pergi bertanya kepada pengawas, dan dia berkata bahwa meskipun kualitas audio sebelumnya tidak terlalu bagus, itu masih dalam batas yang dapat diterima, jadi tidak masalah jika tidak diganti. Mendengar perkataannya, aku berpikir dalam hati, "Baguslah! Dengan begini aku tidak perlu repot-repot mengedit ulang." Setelah itu, aku membandingkan audio baru yang dikirim saudari itu dengan yang lama dan mendapati bahwa audio yang baru memang jauh lebih baik. Saat itu, aku ragu, "Haruskah aku mengganti audionya atau tidak? Jika tidak, aku tidak perlu repot, dan videonya masih bisa diunggah secara normal, tetapi kualitasnya akan berkurang. Saudari itu sudah merekam ulang audionya, dan jika aku mengganti audio yang lama dengan yang baru, hasil videonya akan lebih baik. Bukankah seharusnya aku meluangkan waktu untuk mengganti audio dan mengedit ulang videonya?" Tepat saat itu, satu bagian firman Tuhan terlintas di benakku: "Engkau harus berusaha keras untuk melaksanakan kewajibanmu dan semua yang harus kaulakukan, dengan segenap hati dan kekuatanmu, engkau tidak boleh bersikap asal-asalan, atau meninggalkan penyesalan. Jika engkau mampu melakukan itu, tugas yang kaulaksanakan akan diingat oleh Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Firman Tuhan menjadi pengingat yang tepat waktu bagiku. Meluangkan waktu ekstra untuk merevisi video ini akan membuatnya mencapai hasil yang lebih baik, dan itu adalah sesuatu yang bermakna dan berharga. Terlebih lagi, video-video kesaksian pengalaman ini akan disimpan untuk selamanya. Jika saat ini aku bisa meluangkan sedikit waktu lagi untuk membuat video ini lebih baik, maka aku harus berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya sebagus mungkin. Itulah artinya memenuhi tanggung jawabku dan tidak meninggalkan penyesalan. Setelah memikirkan hal ini, aku berkata kepada pengawas, "Audio yang direkam ulang memang lebih baik. Mengganti audionya akan meningkatkan hasil videonya, jadi layak untuk meluangkan waktu ekstra untuk mengeditnya." Pengawas setuju. Ketika aku menyerahkan video itu setelah mengeditnya ulang dengan audio yang baru, aku merasakan ketenangan dan sukacita tersendiri. Meskipun mengganti audio dan mengedit ulang memakan waktu dan tenaga, meningkatkan hasil video kesaksian pengalaman itu membuat semuanya sepadan dan bermakna.

Aku mengenang kembali saat-saat aku bersikap asal-asalan dalam tugasku, bagaimana demi mendambakan kenyamanan fisik sesaat, aku telah menunda pengunggahan begitu banyak video dan melakukan banyak pelanggaran. Aku merasa menyesal dan berutang. Mulai sekarang, aku tidak boleh lagi bersikap asal-asalan dalam menyikapi tugasku; aku harus mencurahkan segenap hati dan seluruh kekuatanku. Kemudian, aku mulai berfokus memeriksa sikapku dalam melaksanakan tugasku. Ketika menjumpai video yang sulit, kadang masih muncul pemikiran bahwa itu terlalu merepotkan dan aku enggan untuk menderita. Namun, kemudian aku akan berpikir bahwa ini adalah tugasku, tanggung jawabku, dan aku harus memprioritaskan hasilnya serta tidak takut repot. Lambat laun, aku mampu memberontak terhadap pemikiran-pemikiran ini dan menerapkan sesuai dengan firman Tuhan. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp