Pernikahan Bukanlah Tempat Tujuanku

15 Maret 2026

Aku lahir pada pertengahan tahun 80-an. Ketika beranjak besar, aku sangat suka menonton drama TV. Setiap kali melihat pemeran utama wanita mengenakan gaun pengantin putih berjalan menuju altar bersama pria yang dicintainya, dan pria itu berkata kepadanya, "Aku akan melindungimu seumur hidup dan membahagiakanmu," aku merasa sangat iri. Aku yakin bahwa bersama orang yang kau cintai, memiliki anak yang manis, dan hidup bersama sebagai keluarga yang harmonis—itulah kehidupan yang paling bahagia. Ketika beranjak dewasa, aku bertemu seorang pemuda matang dan berkepribadian tenang. Dia sangat perhatian kepadaku, toleran terhadap sifatku yang keras kepala, dan selalu melakukan hal-hal romantis untukku, seperti membelikanku hadiah-hadiah kecil. Dia berjanji akan selalu memperlakukanku dengan baik dan tak akan membiarkanku disakiti sedikit pun Meskipun keluarganya sangat miskin dan orang tuaku sangat menentang pernikahan kami, aku menikahinya tanpa berpikir dua kali. Setelah menikah, kami memiliki seorang putra yang manis, dan suamiku masih tetap penuh perhatian. Dia mengurus semua urusan keluarga kami, besar dan kecil, jadi aku hampir tidak perlu khawatir tentang apa pun. Aku tinggal di rumah untuk menjaga anak kami dan melakukan pekerjaan rumah tangga, menyiapkan makanan lezat untuk suamiku setiap hari sebelum dia pulang, dan berusaha semaksimal mungkin menjadi istri yang baik. Kehidupan pernikahan ini membuatku merasa sangat senang, dan kupikir aku adalah wanita paling bahagia di dunia.

Ketika anak kami berusia tujuh bulan, aku menerima Injil Tuhan Yang Mahakuasa tentang akhir zaman. Dengan membaca firman Tuhan, aku jadi tahu asal-usul kejatuhan umat manusia, bagaimana Iblis merusak manusia, dan bagaimana Tuhan bekerja selangkah demi selangkah untuk menyelamatkan manusia. Aku memahami banyak kebenaran yang belum kupahami sebelumnya. Aku merasa bahwa percaya kepada Tuhan itu luar biasa, Aku berharap suamiku turut percaya kepada Tuhan. Namun yang mengejutkanku, ketika suamiku tahu aku percaya kepada Tuhan, dia menjadi sangat marah. Dia benar-benar melarangku untuk percaya, dan bahkan menuntut agar aku memberitahu siapa yang telah memberitakan Injil kepadaku, menyatakan bahwa dia akan membuat perhitungan dengan orang itu. Melihat sikap suamiku, hatiku hancur. Aku takut dia akan mendebatku setiap hari karena imanku, hubungan kami akan hancur, dan aku akan kehilangan pernikahanku. Aku merasa agak lemah, dan aku tidak lagi memiliki motivasi yang besar dalam imanku. Beberapa hari kemudian, seorang saudari mengetahui keadaanku dan membacakan satu bagian firman Tuhan untukku: "Dari luar, setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada manusia tampak sebagai interaksi antara manusia, seolah-olah timbul dari pengaturan manusia atau dari gangguan manusia. Namun di balik setiap langkah pekerjaan, dan semua yang terjadi, adalah pertaruhan yang Iblis buat di hadapan Tuhan, dan hal ini menuntut orang-orang untuk tetap teguh dalam kesaksian mereka bagi Tuhan. Misalnya, ketika Ayub diuji: Di balik layar, Iblis bertaruh dengan Tuhan, dan yang terjadi kepada Ayub adalah perbuatan manusia, dan gangguan manusia. Di balik setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada engkau semua adalah pertaruhan antara Iblis dengan Tuhan—di balik itu ada peperangan. ... Ketika Tuhan dan Iblis berperang di alam roh, bagaimana seharusnya engkau memuaskan Tuhan, dan bagaimana engkau harus tetap teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya? Engkau harus tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirimu adalah ujian yang besar dan itulah saatnya Tuhan membutuhkanmu untuk memberi kesaksian" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"). Saudari itu bersekutu denganku, berkata, "Suamimu menghalangi kepercayaanmu kepada Tuhan, tetapi di balik ini sebenarnya adalah gangguan Iblis. Kau baru saja menerima Injil Tuhan tentang akhir zaman dan ingin mengejar kebenaran untuk memperoleh keselamatan. Iblis tidak ingin orang mengikuti Tuhan, jadi dia menggunakan suamimu untuk menghalangi dan menganiayamu, agar kau melepaskan imanmu. Ini adalah rencana licik Iblis! Lihatlah, pada mulanya, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa. Mereka hidup di Taman Eden dengan kehadiran dan pemeliharaan Tuhan, dan mereka sangat bahagia. Iblis ingin merebut manusia dari tangan Tuhan, jadi dia menggunakan kebohongan untuk menipu dan mencobai Hawa agar memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Tanpa memiliki kemampuan membedakan, Adam dan Hawa meragukan dan menyangkal firman Tuhan. Mereka mendengarkan Iblis, memakan buah itu, dan mengkhianati Tuhan. Akibatnya, mereka diusir dari Taman Eden dan jatuh ke dalam kuasa Iblis, untuk diinjak-injak dan disiksa olehnya. Iblis sedang menggunakan suamimu untuk menganiaya dan menghalangimu. Kita harus melihat dengan jelas rencana licik Iblis dan tetap teguh dalam kesaksian kita bagi Tuhan." Setelah mendengarkan persekutuan saudari itu, aku mengerti. Karena aku ingin percaya dan mengikuti Tuhan, Iblis akan melakukan segala yang dia mampu untuk menghalangiku. Dia mencoba menggunakan penganiayaan suamiku untuk membuatku melepaskan imanku. Jika aku menuruti suamiku dan berhenti percaya, aku akan mengkhianati Tuhan. Aku tidak boleh terjebak tipu muslihat Iblis. Tidak peduli bagaimana suamiku menganiayaku, aku tidak bisa melepaskan imanku kepada Tuhan. Setelah itu, setiap kali suamiku tidak ada di rumah, aku akan diam-diam membaca firman Tuhan dan pergi ke pertemuan. Setahun kemudian, aku dipilih menjadi diaken penyiraman. Dengan menghadiri pertemuan, membaca firman Tuhan, dan mendengarkan saudara-saudari bersekutu tentang pemahaman berdasarkan pengalaman mereka akan firman-Nya, aku makin yakin bahwa percaya kepada Tuhan adalah jalan yang benar dalam hidup, dan aku menjadi lebih aktif dalam melaksanakan tugasku. Namun, aku masih terkekang oleh suamiku. Terkadang, jika pertemuan berakhir agak larut, aku menjadi gelisah, khawatir suamiku akan marah dan memarahiku ketika dia pulang dan tidak melihatku. Jadi, begitu pertemuan selesai, aku akan bergegas pulang secepat mungkin. Sesampainya di rumah, aku akan buru-buru memasak dan merapikan segala sesuatu di rumah. Untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan bersama suamiku, aku tidak pernah melakukan saat teduh ketika dia berada di rumah. Aku selalu menunggu sampai dia pergi barulah aku berani mengeluarkan buku-buku firman Tuhan, dan begitu aku mendengar suara di luar pintu, aku segera menyembunyikannya.

Kemudian, pekerjaan gereja menjadi makin sibuk, dan terkadang aku pulang terlambat. Suatu kali, pertemuan selesai terlambat, dan aku tidak bisa menjemput anak kami dari TK tepat waktu, jadi gurunya menelepon suamiku. Ketika aku sampai di rumah, dengan marah dia bertanya dari mana saja aku. Aku tidak ingin membohonginya, dan aku juga ingin mengambil kesempatan untuk memberitahunya apa yang telah kudapatkan sejak aku mulai percaya kepada Tuhan. Namun yang mengejutkanku, setelah mendengarkanku, dia berkata dengan geram, "Apakah ayahmu yang memberitakan hal-hal tentang Tuhan ini kepadamu?" sambil dia mulai menekan nomor telepon ayahku. Aku ingin bicara baik-baik dengannya, tetapi dia sangat marah. Aku bertanya kepadanya, "Sebagai orang percaya kepada Tuhan, aku tidak merokok, minum alkohol, atau main mahyong, dan aku tentu tidak melakukan hal yang tidak pantas. Mengapa kau sangat membenci kepercayaan kepada Tuhan?" Dia tertawa mengejek dan menanyaiku, "Bukankah kau belajar di sekolah bahwa manusia berevolusi dari kera? Bagaimana mungkin Tuhan ada? Di mana Tuhan? Jika Tuhan ada, biarkan Dia menghantamku mati sekarang juga!" Aku sangat terkejut dengan perkataan suamiku, dan aku segera memperingatkannya untuk tidak terlalu sembarangan bicara. Namun, dia malah tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Kepercayaanmu telah membuatmu gila! Bagaimana mungkin Tuhan ada? Kau boleh merokok, minum, main mahyong, dan melakukan apa pun yang kau mau, tetapi kau tidak boleh percaya kepada Tuhan! Aku tanya sekali lagi: Kau mau Tuhan atau keluarga ini?" Aku berkata, "Imanku kepada Tuhan sudah teguh!" Ketika dia melihat aku bertekad untuk percaya kepada Tuhan, dia berkata, "Kalau begitu, pergi! Kau boleh percaya kepada Tuhan dan pergi ke surgamu, dan aku akan pergi ke nerakaku!" Melihat ekspresinya yang garang, aku sungguh tidak percaya ini adalah suami yang sama, yang pernah berjanji untuk mencintaiku seumur hidup dan memberiku kebahagiaan sepanjang hayat. Dia begitu membenci Tuhan; dia adalah seorang ateis sejati. Aku sangat sedih. Jauh di lubuk hatiku, aku tidak ingin menerima kenyataan bahwa dia menentang Tuhan, dan aku tidak bisa melepaskan pernikahan kami. Aku terus menghibur diri, berpikir bahwa dia mungkin hanya mengatakan hal-hal itu karena marah dan semuanya akan baik-baik saja setelah dia tenang. Jadi, aku memutuskan untuk sementara waktu tinggal di rumah ibuku. Dengan begitu, aku juga bisa melaksanakan tugasku dengan normal. Namun tanpa diduga, beberapa hari kemudian suamiku datang ke rumah ibuku bersama sekelompok temannya. Mereka semua bicara bersamaan, berusaha membujukku agar meninggalkan imanku. Aku takut mereka akan menarik perhatian komite lingkungan atau polisi, jadi aku tidak punya pilihan selain pulang bersama suamiku untuk sementara waktu.

Setelah kami kembali ke rumah, suamiku mengawasiku setiap hari, membawaku bersamanya ke mana pun dia pergi, dan tidak membiarkanku tinggal sendirian di rumah. Dia juga membelikanku makanan enak setiap hari, serta mengajak aku dan anak kami ke taman dan pusat perbelanjaan, dan selalu memberitahuku bagaimana menjadi istri yang baik serta bagaimana keluarga kami yang bertiga ini bisa bahagia. Lambat laun, aku berhenti memahami perkataannya. Aku hanya berpikir, "Suamiku sangat baik kepadaku, dan anak kami berperilaku sangat baik; alangkah baiknya jika terus hidup seperti ini." Karena aku makin menyukai kehidupan seperti ini, aku tidak lagi menanggung beban dalam tugasku. Aku tidak menghadiri pertemuan kelompok selama sebulan, dan setelah itu, pemimpin memberhentikanku dengan mempertimbangkan keadaanku.

Pada hari-hari berikutnya, meskipun suamiku tidak marah lagi kepadaku, aku tidak bisa mengusir kehampaan dalam jiwaku. Aku menjalani hari-hari dengan linglung. Aku sering bertanya pada diri sendiri, "Apakah aku akan menjalani seluruh hidupku seperti ini? Apa arti hidup ini?" Kemudian, beberapa baris firman Tuhan muncul di benakku: "Di manakah tekadmu? Di manakah ambisimu? Di manakah harga dirimu? Di manakah integritasmu?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)"). Menghadapi pertanyaan-pertanyaan Tuhan, satu demi satu, aku merasa tersiksa. Aku bertanya pada diri sendiri dalam hati, "Di mana tekadku? Mengapa aku tidak bisa melepaskan diri dari kekangan suamiku?" Setelah itu, aku menemukan bagian firman Tuhan itu untuk dibaca. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tuhan sudah mengucapkan begitu banyak firman, tetapi siapa yang pernah menganggapnya serius? Manusia tidak memahami firman Tuhan, tetapi ia tetap tidak merasa gelisah, dan tidak pernah punya kerinduan, dan tidak pernah benar-benar mengenal hakikat si iblis tua. Orang-orang hidup di dunia orang mati, di neraka, tetapi percaya bahwa mereka hidup di istana di dasar laut; mereka dianiaya oleh si naga merah yang sangat besar, tetapi mengira diri mereka disayang oleh negara; mereka dicemooh oleh Iblis tetapi mengira mereka menikmati karya seni daging yang luar biasa. Benar-benar segerombolan manusia yang kotor dan hina! Manusia telah mengalami kemalangan, tetapi ia tidak mengetahuinya dan dalam masyarakat yang gelap ini, ia menderita kecelakaan demi kecelakaan, tetapi ia tidak pernah terbangun karena hal ini. Kapankah ia akan menyingkirkan watak yang seperti budak dan menyayangi diri sendiri ini? Mengapa ia begitu tidak peduli dengan hati Tuhan? Apakah diam-diam ia memaafkan penindasan dan kesulitan ini? Tidakkah ia mengharapkan datangnya hari di mana ia bisa mengubah kegelapan menjadi terang? Tidakkah ia berharap untuk sekali lagi menyelesaikan keluhan terhadap keadilan dan kebenaran? Apakah ia rela memperhatikan dan tidak melakukan apa pun ketika orang-orang meninggalkan kebenaran dan memutarbalikkan fakta? Apakah ia dengan senang hati terus menanggung perlakuan yang salah ini? Apakah ia bersedia menjadi budak? Apakah ia bersedia binasa di tangan Tuhan bersama dengan para budak dari negari yang gagal ini? Di manakah tekadmu? Di manakah ambisimu? Di manakah harga dirimu? Di manakah integritasmu? Di manakah kebebasanmu? ... Karena tanpa tujuan ditindas dan ditekan, seluruh hidupnya pada akhirnya dihabiskan dalam kesia-siaan; mengapa ia begitu terburu-buru datang dan begitu buru-buru untuk pergi? Mengapa ia tidak menyimpan sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada Tuhan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)"). Ketika membaca penyingkapan Tuhan tentang keadaan kehidupan manusia saat ini, aku merasa seolah-olah terbangun dari mimpi. Dahulu, aku berpikir bahwa keluarga bertiga yang hidup bersama dalam keharmonisan adalah kehidupan yang paling indah, tetapi benarkah demikian? Percaya kepada Tuhan adalah hal yang sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan. Namun, agar tidak membuat suamiku marah, aku bahkan tidak berani membaca firman Tuhan di rumah, apalagi menghadiri pertemuan atau melaksanakan tugasku. Aku menghabiskan setiap hari hanya untuk mengurus kebutuhan sehari-hari suami dan anakku, hidup tanpa tujuan atau arah, seperti mayat hidup. Menjalani kehidupan yang tidak bermakna dan tanpa jati diri ini sama sekali bukanlah kebahagiaan. Persis seperti yang Tuhan katakan: "Engkau sekalian hidup di dunia seperti kuda dan ternak tetapi tidak merasa gelisah; engkau penuh dengan sukacita dan hidup bebas dan mudah. Engkau berenang di air kotor ini tetapi sebenarnya tidak tahu kalau engkau sekalian telah jatuh ke dalam situasi seperti ini. Setiap hari engkau bergaul dengan roh-roh najis dan berurusan dengan 'kotoran'. Hidupmu sangat hina, tetapi engkau benar-benar tidak tahu kalau engkau sama sekali tidak berada di dunia manusia dan engkau tidak berkuasa atas dirimu sendiri. Tidak tahukah engkau bahwa hidupmu telah lama diinjak-injak oleh roh-roh najis, atau bahwa akhlakmu telah lama tercemar oleh air kotor? Apakah pikirmu engkau tinggal di surga duniawi, bahwa engkau berada di tengah-tengah kebahagiaan? Tidak tahukah engkau bahwa engkau telah menjalani hidup dengan roh-roh najis, dan bahwa engkau telah menjalani hidup dengan segala yang telah dipersiapkan mereka bagimu? Bagaimana mungkin hidupmu punya arti? Bagaimana mungkin hidupmu memiliki nilai?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Engkau Sekalian Begitu Rendah dalam Karaktermu!"). Makin kurenungkan firman Tuhan, makin kurasakan betapa menyedihkannya hidupku. Tanpa membuang waktu, semua saudara-saudariku makan dan minum firman Tuhan serta mengejar kebenaran, dan kehidupan mereka terus bertumbuh. Namun hari-hariku berputar di sekitar suami dan anakku, dan aku menyia-nyiakan hidupku dalam pernikahanku. Tuhan telah menjadi daging untuk mengungkapkan kebenaran demi menyucikan dan menyelamatkan manusia, sehingga mereka dapat membuang watak mereka yang rusak, memperoleh keselamatan dari Tuhan, dan menjalani kehidupan yang bermakna. Jika hari-hariku seleuruhnya berputar di sekitar suami dan anakku, aku pasti akan kehilangan kesempatan yang sangat langka ini untuk memperoleh keselamatan dari Tuhan, dan pada akhirnya, aku akan binasa bersama setan-setan. Itu akan menjadi penyesalan seumur hidup! Aku kemudian berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku tidak bisa lagi terus menjalani hidup begitu saja dalam keadaan linglung. Aku ingin mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku, tetapi di dalam hatiku, aku tidak bisa merelakan suamiku. Semoga Engkau membimbingku untuk melihat dengan jelas rencana licik Iblis, agar aku tidak lagi dikekang olehnya dan dapat percaya kepada-Mu dengan sepenuh hati serta melaksanakan tugasku dengan benar."

Setelah itu, aku membaca firman Tuhan dan melihat esensi suamiku dengan lebih jelas. Tuhan berfirman: "Mengapa suami mengasihi istrinya? Dan mengapa istri mengasihi suaminya? Mengapa anak-anak berbakti kepada orang tuanya? Mengapa orang tua menyayangi anak-anak mereka? Niat macam apa yang sebenarnya dimiliki orang? Bukankah niat mereka adalah untuk memuaskan rencana dan keinginan egois mereka sendiri?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan dan Manusia akan Memasuki Istirahat Bersama-sama"). "Misalkan seorang manusia menjadi gusar dan meledak kemarahannya ketika membahas tentang Tuhan: Apakah orang tersebut sudah melihat Tuhan? Apakah dia mengenal siapa Tuhan? Dia tidak mengenal siapa Tuhan, tidak percaya kepada-Nya, dan Tuhan tidak pernah berbicara kepadanya. Tuhan tidak pernah mengganggu dirinya, jadi mengapa dia marah? Dapatkah kita katakan bahwa orang seperti ini jahat? Tren duniawi, makan, minum, berfoya-foya, dan mengejar-ngejar selebriti—tak satu pun dari hal-hal ini mengganggu orang semacam itu. Akan tetapi, begitu kata 'Tuhan' atau kebenaran firman Tuhan disebut-sebut, amarahnya langsung meledak. Bukankah ini merupakan natur yang jahat? Ini cukup membuktikan bahwa inilah natur jahat manusia" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik V"). Firman Tuhan menyadarkanku. Suamiku sama sekali tidak benar-benar mencintaiku; apa yang disebutnya cinta itu bersyarat. Aku memikirkan mengapa suamiku dahulu begitu menuruti kemauanku. Itu karena keluarganya sangat miskin, dan dia tidak memberiku hantaran pertunangan saat kami menikah, sementara penampilan dan latar belakang keluargaku lebih baik darinya. Dia merasa bangga bisa bersanding denganku. Ditambah lagi, setelah kami menikah, aku mencuci, memasak untuknya, dan memberinya seorang anak, dan aku bersikap penuh perhatian serta mengurusnya dalam segala aspek kehidupan. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, karena PKT menangkap orang-orang Kristen, dia takut bahwa jika aku ditangkap, dia akan kehilangan muka, maka dia menjadi dingin terhadapku, sering marah kepadaku, dan bahkan mencoba segala cara untuk membuatku berhenti percaya kepada Tuhan. Mana mungkin itu disebut cinta padaku? Itu jelas-jelas hanya mengendalikan dan memanfaatkanku. Aku telah dibutakan oleh apa yang disebut cinta, berpikir suamiku benar-benar mencintaiku. Aku begitu bodoh! Begitu Tuhan disebutkan, suamiku langsung naik pitam dan sangat marah, bahkan melontarkan kata-kata yang menyangkal dan mencemoohTuhan. Dia adalah setan yang membenci dan menentang Tuhan! Untuk membuatku meninggalkan imanku, dia menggunakan taktik keras maupun lunak, dan bahkan berkata aku boleh makan, minum, bersenang-senang, dan main mahyong—apa saja kecuali percaya kepada Tuhan dan menempuh jalan yang benar. Setan memang sesesat itu! Dahulu, aku melihatnya sebagai orang yang dewasa, tenang, dan toleran terhadapku dalam segala hal, dan kupikir dialah pria tempat aku dapat mempercayakan seluruh hidupku. Namun, sekarang aku melihatnya dengan jelas: Itu semua hanyalah ilusi. Aku tidak memiliki kebenaran dan tidak mampu membedakan orang. Aku telah ditipu oleh kata-kata manisnya selama ini. Aku begitu buta! Kemudian, aku teringat akan firman Tuhan: "Orang percaya dan orang tidak percaya secara inheren tidak sesuai; sebaliknya mereka saling bertentangan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan dan Manusia akan Memasuki Istirahat Bersama-sama"). Suamiku adalah seorang ateis yang mengejar tren duniawi dan menikmati makan, minum, dan bersenang-senang. Aku percaya kepada Tuhan serta mengejar kebenaran dan keselamatan. Kami tidak menempuh jalan yang sama. Dia tidak bisa mengubah imanku, dan aku tidak bisa mengubah esensinya. Bahkan jika kami tetap bersama, kami tidak akan bahagia. Suamiku terus mengawasiku, membujukku setiap hari untuk ikut dengannya mengejar tren-tren jahat, serta membuatku berhenti percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku. Itu bukan cinta; itu menyeretku ke neraka bersamanya. Aku tidak bisa berkompromi dengan setan ini lagi. Aku harus percaya kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan melaksanakan tugasku dengan baik.

Setelah itu, aku pergi keluar dan melaksanakan tugasku seperti biasa. Ketika suamiku melihat bahwa dia tidak bisa mengendalikanku, dia mendiamkanku. Meskipun kehidupan pernikahan seperti ini membuatku lelah secara fisik dan mental, di dalam hatiku, aku masih berharap suatu hari suamiku akan berhenti merintangi imanku, dan keluarga kami dapat hidup bersama dengan harmonis seperti sebelumnya Kemudian, aku merenung, "Mengapa hatiku tidak bisa melepaskan pernikahan ini?" Kemudian aku membaca firman Tuhan: "Pengaruh buruk dan pemikiran feodal yang tertanam secara mendalam di lubuk hati manusia melalui ribuan tahun 'semangat nasionalisme yang luhur' telah mengikat dan membelenggu orang, membuat mereka tidak memiliki sedikit pun kebebasan, tanpa ambisi atau ketekunan, dan tanpa keinginan untuk maju, sebaliknya membuat mereka tetap negatif dan mundur, terjerat dalam mentalitas budak, dan sebagainya. Faktor-faktor objektif ini telah menciptakan rupa yang kotor dan jelek yang tak terhapuskan pada pandangan ideologis, aspirasi, moralitas, dan watak manusia. Tampaknya, manusia sedang hidup di dunia gelap terorisme, dan tak seorang pun di antara mereka berpikir untuk melampauinya, atau berpikir untuk beralih ke dunia yang ideal; sebaliknya, mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan perasaan puas akan nasib hidup mereka: melahirkan dan membesarkan anak, berjuang, berkeringat, bekerja keras, dan bermimpi memiliki keluarga yang nyaman dan bahagia, kasih sayang suami-istri, anak-anak yang berbakti, sukacita di masa tua mereka, dan menjalani kehidupan mereka dengan damai .... Selama puluhan, ribuan, dan puluhan ribu tahun sampai sekarang, orang telah membuang-buang waktu mereka dengan cara ini, tanpa ada seorang pun yang menciptakan kehidupan manusia yang paling cemerlang, hanya berniat untuk saling membantai, memperebutkan ketenaran dan keuntungan, dan saling berintrik di dunia yang gelap ini. Siapakah yang pernah mencari maksud-maksud Tuhan? Adakah yang pernah mengindahkan pekerjaan Tuhan? Semua bagian dari orang yang dikuasai oleh pengaruh kegelapan telah lama menjadi natur manusia, sehingga cukup sulit untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan, dan orang-orang bahkan kurang punya hati untuk memperhatikan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka sekarang ini" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan dan Jalan Masuk (3)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku pun mengerti. Setelah dirusak oleh Iblis, orang-orang diikat dan dibelenggu oleh berbagai gagasan budaya tradisional dan pemikiran feodal. Mereka menjadikan pernikahan yang penuh kasih dan membesarkan anak sebagai tujuan pengejaran seumur hidup mereka, dan ini telah diturunkan dari generasi ke generasi. Selain itu, berbagai acara TV, film, dan karya sastra mempromosikan ide-ide seperti "Cinta adalah yang terutama" dan "bergandengan tangan dan menjadi tua bersama". Akibatnya, orang percaya bahwa mengejar pernikahan yang bahagia adalah hal yang paling penting. Aku pun sempat menghayati ide-ide ini dan menjadikan pernikahan yang bahagia sebagai tujuan hidupku. Setelah kami menikah, suamiku selalu menciptakan momen-momen romantis kecil dan bersikap penuh perhatian serta peduli kepadaku, sehingga aku merasa sangat senang. Aku berpikir bahwa bisa menghabiskan seluruh hidupku bersamanya membuat hidup ini berharga. Untuk mempertahankan pernikahan kami yang bahagia, aku belajar memasak, tinggal di rumah untuk membesarkan anak kami, dan berusaha semaksimal mungkin menjadi istri dan ibu yang baik, mencurahkan seluruh waktu dan tenagaku untuk pernikahan dan keluarga kami. Aku melihat pernikahan sebagai tempat tujuanku dalam hidup dan merasa bahwa memberikan segalanya untuk itu adalah apa yang seharusnya kulakukan. Setelah menemukan Tuhan, aku memahami banyak kebenaran dan misteri melalui firman-Nya. Aku juga tahu bahwa sebagai makhluk ciptaan, aku harus menyembah Sang Pencipta dan melaksanakan tugasku. Namun, aku takut percaya kepada Tuhan akan membuat suamiku marah dan aku akan kehilangan pernikahan kami, sehingga aku sering tidak fokus selama pertemuan dan tidak berani membaca firman Tuhan atau mendengarkan lagu pujian di rumah. Untuk mempertahankan hubunganku dengan suamiku, aku mengesampingkan tugasku dan bahkan menyesal telah melaksanakan tugas itu. Aku terikat erat oleh ide-ide Iblis seperti "Pernikahan wanita adalah tempat tujuan seumur hidupnya," "Pernikahan yang bahagia adalah kebahagiaan terbesar," dan "bergandengan tangan dan menjadi tua bersama". Aku tidak bisa membedakan antara hal-hal positif dan negatif, dan aku dengan mudah meninggalkan tugasku demi mengejar pernikahan yang bahagia. Jika aku terus seperti ini, pada akhirnya aku akan binasa bersama Iblis. Kalau dipikir-pikir, sekalipun aku bisa menjalani kehidupan yang harmonis dengan suamiku, apa arti semua itu? Aku tidak akan melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan, juga tidak akan memahami kebenaran yang seharusnya kupahami. Bukankah menjalani seluruh hidupku dalam kebingungan hanya akan membuang-buang waktu? Kemudian aku teringat akan firman Tuhan: "Selama puluhan, ribuan, dan puluhan ribu tahun sampai sekarang, orang telah membuang-buang waktu mereka dengan cara ini, tanpa ada seorang pun yang menciptakan kehidupan manusia yang paling cemerlang." Kehidupan yang kukejar adalah kehidupan yang tidak berarti, dan mau tak mau aku merenung: Apa kehidupan yang paling indah? Bagaimana seharusnya seseorang benar-benar menjalani hidupnya agar hidup itu bermakna?

Kemudian, aku membaca dua bagian firman Tuhan dan menemukan arah hidupku di dalamnya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Namun, ada orang-orang yang secara keliru menjadikan pengejaran akan kebahagiaan pernikahan, atau hal memenuhi tanggung jawab mereka terhadap pasangannya, dan menjaga, mengurus, dan menyayangi serta melindungi pasangan mereka sebagai misi hidup mereka, dan mereka menganggap pasangan mereka sebagai surganya, hidupnya—ini salah. Nasibmu berada di bawah kedaulatan Tuhan dan tidak dikendalikan oleh pasanganmu. Pernikahan tidak dapat mengubah nasibmu, juga tidak dapat mengubah fakta bahwa Tuhan berdaulat atas nasibmu. Mengenai pandangan hidup seperti apa yang harus kaumiliki dan jalan yang harus kautempuh, engkau harus mencarinya di dalam firman yang Tuhan ajarkan dan tuntutan Tuhan. Hal-hal ini tidak bergantung pada pasanganmu dan bukan mereka yang memutuskan. Selain memenuhi tanggung jawab mereka terhadapmu, mereka tidak boleh memiliki kendali atas nasibmu, mereka juga tidak boleh menuntut agar engkau mengubah arah hidupmu, dan juga tidak boleh memutuskan jalan mana yang kautempuh, ataupun memutuskan pandangan hidup apa yang seharusnya kaumiliki, dan terlebih lagi, mereka tidak boleh mengekang atau menghalangimu agar tidak mengejar keselamatan. Dalam hal pernikahan, yang bisa orang lakukan hanyalah menerima bahwa itu adalah dari Tuhan dan mematuhi definisi pernikahan yang telah Tuhan tetapkan bagi manusia, baik suami maupun istri memenuhi tanggung jawab dan kewajiban mereka satu sama lain. Yang tidak dapat mereka lakukan adalah menentukan nasib, kehidupan sebelumnya, kehidupan sekarang, atau kehidupan selanjutnya, apalagi menentukan kekekalan pasangan mereka. Tempat tujuanmu, nasibmu, dan jalan yang kautempuh hanya dapat ditentukan oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu, sebagai makhluk ciptaan, entah peranmu sebagai istri atau suami, kebahagiaan yang seharusnya kaukejar dalam kehidupan ini berasal dari pelaksanaan tugasmu sebagai makhluk ciptaan dan penyelesaian misi sebagai makhluk ciptaan. Kebahagiaan tidak berasal dari pernikahan itu sendiri, apalagi dari pemenuhan tanggung jawabmu sebagai istri atau suami di dalam kerangka pernikahan. Tentu saja, jalan yang kaupilih untuk ditempuh dan pandangan hidup yang kaumiliki tidak boleh dibangun di atas kebahagiaan pernikahan, apalagi ditentukan oleh pasangan—ini adalah sesuatu yang harus kaupahami. Jadi, orang-orang yang memasuki pernikahan yang hanya mengejar kebahagiaan pernikahan dan menganggap pengejaran ini sebagai misi mereka, harus melepaskan pemikiran dan pandangan seperti itu, mengubah cara penerapan mereka, dan mengubah arah hidup mereka" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (11)"). "Semua orang harus berusaha menjalani kehidupan yang bermakna dan tidak boleh puas dengan keadaan mereka saat ini. Mereka harus menghidupi citra Petrus, dan mereka harus memiliki pengetahuan dan pengalaman Petrus. Mereka harus mengejar hal-hal yang lebih tinggi dan lebih mendalam. Mereka harus mengejar kasih kepada Tuhan yang lebih dalam dan lebih murni, dan kehidupan yang bernilai dan bermakna. Hanya inilah kehidupan; hanya dengan begitu, barulah mereka akan sama seperti Petrus. Engkau harus berfokus untuk memasuki sisi positif dengan proaktif, dan tidak boleh pasif serta membiarkan dirimu mundur karena engkau merasa puas dengan kenyamanan sesaat, sembari mengabaikan kebenaran yang lebih mendalam, lebih terperinci, dan lebih nyata. Engkau harus memiliki kasih yang nyata, dan engkau harus menemukan segala cara yang mungkin untuk membebaskan dirimu dari kehidupan yang bejat dan tanpa beban ini, yang tidak ada bedanya dengan kehidupan binatang. Engkau harus menjalani kehidupan yang bermakna, kehidupan yang bernilai, dan engkau tidak boleh membodohi dirimu sendiri, atau memperlakukan hidupmu seperti mainan untuk dipermainkan. Bagi semua orang yang memiliki tekad dan yang mengasihi Tuhan, tidak ada kebenaran yang tidak dapat dicapai, dan tidak ada keadilan yang tidak dapat mereka tegakkan. Bagaimana seharusnya engkau menjalani hidupmu? Bagaimana seharusnya engkau mengasihi Tuhan dan menjadikan kasih ini sebagai sarana untuk memenuhi maksud-Nya? Tidak ada hal yang lebih besar dalam hidupmu. Di atas segalanya, engkau harus memiliki tekad dan ketekunan seperti ini, dan janganlah menjadi pengecut yang lemah. Engkau harus belajar bagaimana mengalami kehidupan yang bermakna dan mengalami kebenaran yang bermakna, dan tidak boleh memperlakukan dirimu dengan sikap asal-asalan seperti itu. Tanpa kausadari, hidupmu akan berlalu; setelah itu, masih akan adakah kesempatan seperti ini bagimu untuk mengasihi Tuhan? Bisakah manusia mengasihi Tuhan setelah dia mati? Engkau harus memiliki tekad dan hati nurani yang sama seperti Petrus; engkau harus menjalani kehidupan yang bermakna, dan janganlah bermain-main dengan dirimu sendiri. Sebagai manusia, dan sebagai orang yang mengejar Tuhan, engkau harus mampu memikirkan dan menyikapi hidupmu dengan saksama—memikirkan bagaimana engkau seharusnya mempersembahkan diri bagi Tuhan, bagaimana engkau harus memiliki iman yang lebih bermakna kepada Tuhan, dan karena engkau mengasihi Tuhan, bagaimana engkau harus mengasihi-Nya dengan cara yang lebih murni, lebih indah, dan lebih baik. ... Engkau harus menderita demi kebenaran, engkau harus mengorbankan diri demi kebenaran, engkau harus menanggung penghinaan demi kebenaran, dan engkau harus mengalami lebih banyak penderitaan demi memperoleh lebih banyak kebenaran. Inilah yang harus kaulakukan. Jangan membuang kebenaran demi nikmatnya keharmonisan keluarga, dan jangan kehilangan martabat dan integritas seumur hidupmu demi kenikmatan sesaat. Engkau harus mengejar segala sesuatu yang indah dan baik, dan engkau harus mengejar jalan hidup yang lebih bermakna. Jika engkau menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja dan duniawi, serta tidak memiliki tujuan apa pun untuk dikejar, bukankah artinya engkau menyia-nyiakan hidupmu? Apa yang dapat kauperoleh dari kehidupan semacam itu? Engkau harus meninggalkan seluruh kenikmatan daging demi satu kebenaran, dan jangan membuang seluruh kebenaran demi sedikit kenikmatan. Orang-orang seperti ini tidak memiliki integritas atau martabat; keberadaan mereka tidak ada artinya!" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). Setelah membaca firman Tuhan, hatiku tiba-tiba dipenuhi terang, dan aku merasa seolah-olah Tuhan sendiri sedang menuntunku ke arah yang seharusnya kutempuh dalam hidup. Aku mengerti bahwa pernikahan bukanlah tempat tujuanku, dan bahwa dalam kerangka pernikahan, suami dan istri hanya memenuhi tanggung jawab mereka satu sama lain serta memberikan pendampingan dan perhatian. Dalam kehidupan pernikahan kami, aku telah mencuci pakaian, memasak, dan melahirkan seorang anak; aku telah memenuhi tanggung jawabku dan tidak berutang apa pun kepada suamiku. Jika dia tidak mencampuri imanku, kami bisa terus hidup bersama, selama hal itu tidak menghalangi tugasku Namun, jika dia merintangi imanku, aku harus memilih untuk melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan. Aku tidak seharusnya menjadikan pernikahan sebagai tempat tujuanku atau menggantungkan kebahagiaan seumur hidup padanya. Itu adalah sudut pandang yang salah. Selama bertahun-tahun, aku menjadikan suamiku segalanya bagiku. Ketika dia menentang imanku, aku berkompromi tanpa pertimbangan dan mengalah, meninggalkan pertemuan dan bahkan tugasku. Aku sepenuhnya jatuh ke dalam kegelapan, merasa hampa dan menderita. Aku telah menghabiskan seluruh waktu dan tenagaku untuk mempertahankan pernikahan yang bahagia, sehingga aku tidak banyak membaca firman Tuhan dan tidak memahami banyak kebenaran. Aku bahkan telah melakukan pelanggaran saat melaksanakan tugasku dan menyia-nyiakan beberapa tahun hidupku. Sekarang, saat aku melaksanakan tugasku, menghadiri pertemuan, dan bersekutu tentang firman Tuhan dengan saudara-saudariku, aku merasakan kedamaian dan ketenangan di hatiku. Aku juga mengerti bahwa sebagai makhluk ciptaan, aku harus mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku. Inilah kehidupan yang harus kukejar. Aku teringat bagaimana Petrus menghadapi penganiayaan dari orang tuanya karena imannya, tetapi dia menolak untuk dikekang oleh keluarganya dan dengan teguh memilih untuk mengikuti Tuhan. Pada akhirnya, dia menyelesaikan amanat Tuhan dan memperoleh perkenanan Tuhan. Banyak pula orang Kristen yang meninggalkan segalanya untuk mengikuti Tuhan, menyebarluaskan Injil-Nya, dan mengorbankan seluruh hidup mereka untuk-Nya. Hatiku sungguh tergerak, dan aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku juga ingin meninggalkan rumahku untuk melaksanakan tugasku dan mengorbankan seluruh hidupku untuk-Mu. Aku memohon agar Engkau mempersiapkan kesempatan bagiku."

Setahun kemudian, ketika suamiku melihat bahwa aku tetap bertekad untuk percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku, tidak peduli bagaimana dia mencoba menghentikanku, dia meminta cerai. Aku berkata dengan tenang, "Kalau begitu mari kita menempuh jalan masing-masing dan berpisah secara baik-baik." Ketika suamiku melihat bahwa aku serius, dia pun mengalah. Dia setuju membiarkanku meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasku, tetapi tidak mau menceraikanku. Ketika meninggalkan rumah, aku merasa seperti burung yang dilepaskan dari sangkarnya, akhirnya bebas terbang. Aku bisa menyanyikan lagu pujian kapan pun aku mau, makan dan minum firman Tuhan kapan pun aku mau, dan aku tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa, meskipun aku pulang terlambat setelah menyelesaikan tugasku. Setiap hari, hatiku dipenuhi sukacita yang besar saat menghadiri pertemuan dan melaksanakan tugasku bersama saudara-saudariku. Kehidupan semacam ini terasa sangat memuaskan dan membahagiakan.

Sekarang, aku melaksanakan tugasku sepenuh waktu setiap hari, aku berlatih dalam berbagai tugas, dan aku memiliki pemahaman yang lebih mendalam dan lebih nyata tentang prinsip-prinsip kebenaran dibandingkan sebelumnya. Aku juga telah memperoleh beberapa hasil dalam jalan masuk kehidupanku. Aku benar-benar menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari pernikahan yang bahagia. Sebaliknya, mengenal Sang Pencipta, melaksanakan tugas makhluk ciptaan untuk menyelesaikan misi dan tanggung jawab, dan memahami kebenaran untuk menempuh jalan menuju keselamatan—itulah kebahagiaan sejati. Pada saat yang sama, aku merasa sangat beruntung karena di tengah lautan manusia yang luas ini, Tuhan telah menganugerahkan kasih karunia-Nya dengan membawaku kembali ke rumah-Nya, membimbingku untuk memahami kebenaran, dan menyelamatkanku dari pusaran pernikahan. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku bersyukur kepada Tuhan atas keselamatan-Nya, dan mulai sekarang, aku bertekad untuk dengan sungguh-sungguh mengorbankan diri untuk Tuhan dan menjalani kehidupan yang bermakna!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Persimpangan

Oleh Saudari Wang Xin, KoreaDahulu aku memiliki keluarga yang bahagia, dan suamiku sangat baik kepadaku. Kami membuka restoran keluarga...

Pilihan yang Tak Kusesali

Aku lahir pada tahun 90-an, dan saat SMP, aku kecanduan film drama romantis. Setiap kali aku melihat cinta yang tak tergoyahkan antara...

Hubungi kami via WhatsApp