Bagaimana Aku Belajar untuk Bersaksi tentang Tuhan
Oleh Saudari Moran, TiongkokPada bulan Juni 2020, aku terpilih sebagai diaken penyiraman, dan bertanggung jawab untuk menyirami mereka yang...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Tak lama setelah menerima Injil Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, aku belajar dari firman Tuhan bahwa ketika Tuhan sedang menyelesaikan pekerjaan-Nya pada akhir zaman, malapetaka dahsyat akan datang atas manusia untuk memberi upah kepada orang yang baik dan menghukum orang yang jahat. Mereka yang berbuat jahat dan menentang Tuhan akan dihancurkan dalam malapetaka, sedangkan mereka yang menerima penghakiman firman Tuhan dan ditahirkan akan dilindungi oleh Tuhan dan bertahan hidup. Mereka akan dibawa oleh-Nya ke dalam kerajaan-Nya untuk menikmati berkat-berkat kekal. Saat itu kupikir masuk ke dalam kerajaan dan memperoleh hidup kekal akan menjadi berkat yang luar biasa. Aku tahu aku harus menghargai kesempatan sekali seumur hidup ini, melaksanakan tugasku dengan baik, dan mengorbankan diri bagi Tuhan agar ketika pekerjaan Tuhan berakhir, aku akan memenuhi syarat untuk bertahan. Jadi, aku berhenti dari pekerjaanku dan memulai tugasku untuk memberitakan Injil. Pada waktu yang kritis ini, saat bencana menjadi makin dahsyat, aku harus mempersiapkan lebih banyak perbuatan baik dan memberitakan Injil Tuhan pada akhir zaman kepada lebih banyak orang. Dengan demikian, aku dapat berkontribusi dalam menyebarkan Injil Kerajaan. Jadi, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk memberitakan Injil, dan sibuk dari pagi sampai malam setiap harinya. Ada makin banyak orang menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman di daerahku, dan gereja-gereja didirikan satu demi satu. Ketika melihat hasil ini, aku merasa sangat senang akan diriku sendiri. Aku merasa kontribusiku pada pekerjaan Injil tidak dapat diabaikan. Ketika pandemi merebak, dengan jumlah orang yang terinfeksi terus bertambah di seluruh dunia, aku merasa sepenuhnya tenang. Kupikir karena aku telah mengorbankan diriku bagi Tuhan dalam tugasku, pandemi tidak akan memengaruhiku, seluas apa pun penyebarannya. Namun, terinfeksi virus secara tiba-tiba telah memaksaku untuk merenungkan motif dan ketidakmurnian yang mendasari pelaksanaan tugasku selama bertahun-tahun.
Suatu hari pada Mei 2021, aku tiba-tiba mulai batuk, lalu mengalami demam dan sekujur tubuhku terasa lemah. Awalnya kukira aku terkena flu dan tidak terlalu memedulikannya, tetapi gejalanya berlanjut selama seminggu dan tidak membaik. Seorang saudari memperhatikan bahwa gejalaku sangat mirip dengan Covid dan khawatir aku telah terinfeksi penyakit ini, jadi dia menyarankanku untuk memeriksakannya di rumah sakit. Aku tidak terlalu ambil pusing, dan berpikir, "Aku setiap hari bekerja keras dari pagi sampai malam, menderita dan berkorban demi tugasku, dan aku telah melaksanakannya dengan cukup baik. Selain itu, aku tidak melakukan kejahatan dan tidak mengacaukan pekerjaan gereja. Jadi, bagaimana mungkin aku terinfeksi?" Namun, hasil tesnya ternyata positif, yang sama sekali di luar dugaanku. Di sepanjang perjalanan pulang, aku berjalan dalam keadaan linglung, tak mampu memahami hal ini. "Aku telah bertahun-tahun melaksanakan tugasku," kupikir, "lalu bagaimana aku bisa terjangkit Covid? Apa yang akan saudara-saudari pikirkan tentangku kalau mereka tahu? Akankah mereka menganggapku sedang dihukum karena melakukan sesuatu yang menyinggung Tuhan? Padahal aku tidak pernah melakukan kejahatan dan tidak mengacaukan pekerjaan gereja." Jutaan orang di seluruh dunia telah meninggal sejak tahun lalu ketika pandemi merebak, jadi apakah aku juga akan mati, karena kini aku telah terinfeksi? Bukankah pengorbanan dan pengabdianku selama beberapa tahun terakhir ini akan sia-sia jika aku mati saat pekerjaan Tuhan hampir berakhir? Itu berarti aku tidak akan mendapat bagian dalam berkat-berkat kerajaan di masa mendatang. Makin kupikirkan, makin buruk perasaanku. Bagaimana aku harus mengalami situasi ini? Aku berdoa, berseru kepada Tuhan, "Tuhan, ada maksud baik-Mu sehingga Engkau telah mengizinkanku terjangkit penyakit ini. Engkau tidak pernah melakukan kesalahan, jadi apakah ini karena aku telah memberontak terhadap-Mu dan menentang-Mu dengan cara tertentu? Bukan suatu kebetulan bahwa aku telah terinfeksi, dan semua ini berada dalam kedaulatan dan pengaturan-Mu, jadi aku ingin mencari maksud-Mu dan merenungkan diriku. Namun, yang tidak kuketahui adalah bagaimana aku telah menyinggung watak-Mu. Kumohon cerahkan dan bimbinglah aku agar aku tahu di mana letak kesalahanku. Aku siap untuk bertobat." Setelah itu aku merenungkan satu bagian firman Tuhan: "Apa yang harus kaulakukan saat penyakit menyerangmu? Engkau harus datang ke hadirat Tuhan dan berdoa, mencari dan berusaha memahami maksud Tuhan; engkau harus memeriksa dirimu sendiri untuk mengetahui apa yang telah kaulakukan yang bertentangan dengan kebenaran, dan watak rusak apa dalam dirimu yang belum dibereskan. Watak rusakmu tidak dapat dibereskan tanpa mengalami penderitaan. Hanya dengan dimurnikan oleh penderitaan, barulah orang tidak lagi bersikap tidak bermoral, dan mampu hidup di hadirat Tuhan sepanjang waktu. Ketika orang menderita, mereka selalu berdoa. Mereka tidak berminat untuk berfokus pada makanan, pakaian, dan kenikmatan lainnya; mereka berdoa terus-menerus di dalam hati, memeriksa diri mereka sendiri untuk melihat apakah mereka baru-baru ini telah melakukan kesalahan atau menentang kebenaran dengan cara tertentu. Biasanya, ketika engkau menghadapi penyakit serius atau penyakit aneh yang menyebabkanmu sangat menderita, ini tidak terjadi secara kebetulan. Ada maksud Tuhan, baik ketika engkau sakit maupun ketika engkau sehat" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Dalam Kepercayaan kepada Tuhan, Memperoleh Kebenaran adalah Hal yang Terpenting"). Pencerahan firman Tuhan yang tepat waktu memperlihatkan kepadaku bahwa aku tidak terinfeksi secara kebetulan, dan bahwa ini sepenuhnya berada dalam kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Aku harus mencari maksud Tuhan dan merenungkan diriku dengan benar. Aku tidak boleh mengeluh tentang Tuhan apa pun yang terjadi. Sembari menjalani karantina di rumah selama beberapa hari selanjutnya, aku membuka diri kepada saudara-saudari tentang kerusakan apa pun yang telah kuperlihatkan. Aku menelaah kerusakanku dan mengenal diriku sendiri, serta mencari jalan penerapan dan jalan masuk di dalam firman Tuhan. Selain itu, bagaimanapun keadaan tubuhku, aku terus melaksanakan tugasku dengan memberitakan Injil secara daring. Setelah beberapa hari, aku merasa jauh lebih baik. Aku hampir tidak batuk lagi, suhu tubuhku normal, energi dan kekuatanku juga pulih. Aku sangat senang akan hal ini, dan merasa Tuhan telah menjaga dan melindungiku saat melihat ketaatan dan pertobatanku. Kecemasanku berkurang saat berpikir seperti ini.
Namun keesokan harinya, dadaku tiba-tiba sesak dan tidak nyaman dan aku tidak bisa berhenti batuk. Kemudian aku demam dan sekujur tubuhku lemah. Aku dilanda kepanikan. Sejak didiagnosis, aku tidak mengeluh tentang Tuhan dan terus melaksanakan tugasku. Mengapa sakitku malah makin parah? Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan Covid, jadi jika Tuhan tidak menyelamatkanku, aku pasti mati. Berpikir tentang kematian benar-benar menakutkan—aku tidak bisa menerimanya. Aku berpikir bagaimana aku telah mengikuti Tuhan selama lebih dari 10 tahun, meninggalkan rumah dan pekerjaanku, serta bekerja keras sepanjang hari demi tugasku. Aku telah banyak menderita dan membayar harga. Apakah tak satu pun darinya diingat oleh Tuhan? Jika aku mati, aku tak akan pernah melihat keindahan kerajaan ataupun menikmati berkat-berkat kerajaan surga. Makin kupikirkan, makin aku menjadi negatif. Aku masih melaksanakan tugasku, tetapi tidak ada dorongan dari dalam hatiku. Setiap kali ada banyak pekerjaan dalam tugasku, aku menjadi sangat kesal dan hanya buru-buru menyelesaikannya agar bisa beristirahat. Sebelumnya, aku biasa mengerjakan tugasku dari pagi sampai malam, dan kupikir Tuhan akan melindungiku, tetapi karena kini Tuhan tidak melakukannya, aku harus memikirkan kesejahteraanku sendiri dan menjaga kesehatanku. Terlalu stres dan capek tidak akan membantu pemulihanku. Di pertemuan, saudara-saudari lain sangat berstamina saat berbicara. Sedangkan aku, aku mulai batuk setiap kali berbicara, dan napasku tersengal-sengal setelah membaca beberapa baris firman Tuhan. Aku merasa tidak adil dan mau tak mau berusaha bernalar, "Aku selalu sangat tekun dalam tugasku, dan aku serius dan bertanggung jawab. Beberapa orang tidak sebanding denganku dalam tugas mereka. Orang lain semuanya sehat dan melaksanakan tugas mereka, lalu mengapa aku yang terjangkit virus? Jika ini adalah ujian dari Tuhan, lalu mengapa hal yang sama tidak terjadi pada orang lain di gereja yang mengejar kebenaran lebih banyak daripadaku? Dan jika ini hukuman dari Tuhan, lalu mengapa demikian, padahal aku belum pernah melakukan kejahatan atau mengacaukan pekerjaan gereja, atau menyinggung watak-Nya? Tuhan, aku masih ingin melaksanakan tugasku. Aku menyukainya dan aku belum puas melaksanakannya. Aku ingin tetap hidup dan melaksanakan tugasku dengan baik. Tuhan, aku sedang melaksanakan tugas penting sekarang dan masih bisa berjerih payah bagi-Mu. Kumohon lindungi aku agar aku bisa terus hidup dan berjerih payah bagi-Mu ...." Saat berpikir seperti ini, satu bagian firman Tuhan terlintas di benakku dengan sangat jelas: "Atas dasar apa engkau—makhluk ciptaan—mengajukan tuntutan terhadap Tuhan? Manusia tidak memenuhi syarat untuk mengajukan tuntutan terhadap Tuhan. Tidak ada yang lebih tak masuk akal selain manusia mengajukan tuntutan terhadap Tuhan. Dia akan melakukan apa yang harus Dia lakukan, dan watak-Nya adalah benar. Kebenaran itu bukan berarti adil atau masuk akal; kebenaran bukanlah egalitarianisme, juga bukan memberi kepadamu apa yang pantas kauterima untuk pekerjaanmu, atau memberimu upah untuk pekerjaan apa pun yang telah kaukerjakan, atau memberi kepadamu hakmu sesuai dengan upaya yang telah kaukeluarkan. Ini bukanlah kebenaran. Itu hanyalah adil dan masuk akal. Sangat sedikit orang yang mampu mengenal watak Tuhan yang benar. Seandainya Tuhan memusnahkan Ayub setelah Ayub memberi kesaksian bagi Dia: Apakah ini benar? Sebenarnya, ini benar. Mengapa ini disebut benar? Bagaimana manusia memandang kebenaran? Jika sesuatu selaras dengan gagasan manusia, maka sangat mudah bagi mereka untuk mengatakan bahwa Tuhan itu benar; tetapi, jika mereka tidak melihat bahwa sesuatu itu selaras dengan gagasan mereka—jika itu adalah sesuatu yang tak mampu mereka mengerti—maka menjadi sulit bagi mereka untuk mengatakan bahwa Tuhan itu benar. Jika Tuhan memusnahkan Ayub pada waktu itu, orang tidak akan mengatakan bahwa Dia benar. Sebenarnya, entah manusia telah dirusak atau tidak, dan entah mereka telah dirusak sedemikian dalam atau tidak, apakah Tuhan harus membenarkan diri-Nya ketika Dia memusnahkan mereka? Haruskah Dia menjelaskan kepada manusia atas dasar apa Dia melakukannya? Haruskah Tuhan memberi tahu manusia hukum-hukum yang telah Dia tetapkan? Tidak perlu. Di mata Tuhan, orang yang rusak dan yang cenderung menentang Tuhan sama sekali tidak berharga; bagaimanapun cara Tuhan menangani mereka, itu akan tepat, dan semua itu berdasarkan pengaturan Tuhan. Jika engkau tidak berkenan di mata Tuhan, dan jika Dia berkata bahwa engkau tidak lagi berguna bagi-Nya setelah kesaksianmu dan karena itu memusnahkanmu, apakah ini merupakan kebenaran-Nya? Ini juga adalah kebenaran-Nya. ... Segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah benar. Walaupun manusia mungkin tidak mampu memahami hal ini, mereka tak boleh menghakimi sesuka hati mereka. Jika sesuatu yang Dia lakukan tampak tidak masuk akal bagi manusia, atau jika mereka memiliki gagasan apa pun tentang hal itu, lalu mereka berkata bahwa Dia tidak benar, itu berarti mereka sedang bersikap sangat tidak masuk akal" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Saat aku merenungkan firman Tuhan, aku merasa seperti Dia sedang meminta pertanggungjawabanku dengan berhadapan muka. Bukankah aku baru saja mengeluh bahwa Tuhan tidak adil dan tidak benar? Dan bukankah itu berarti aku tawar-menawar dengan Tuhan, berusaha membenarkan diriku dan menegosiasikan persyaratan? Aku merasa telah mencapai beberapa hasil selama bertahun-tahun aku menderita dan membayar harga dalam tugasku, jadi Tuhan seharusnya melindungiku dari bencana. Tentunya seperti itulah kebenaran-Nya. Namun sebenarnya, semua itu adalah gagasan dan imajinasiku, dan sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran. Tuhan adalah Sang Pencipta dan aku adalah makhluk ciptaan. Semua yang kunikmati berasal dari Tuhan, dan hidupku juga dianugerahkan oleh Tuhan. Bagaimana Tuhan mengatur takdirku dan berapa lama Dia membiarkanku hidup, semua itu terserah Dia. Sebagai makhluk ciptaan, aku harus tunduk dan menerimanya. Siapa aku berani berdebat dengan Tuhan dan menetapkan syarat? Aku sudah percaya selama bertahun-tahun dan menikmati begitu banyak penyiraman dan perbekalan kebenaran dari Tuhan, tetapi aku masih tidak bersyukur. Kini setelah terjangkit virus dan menghadapi ancaman kematian, aku berdebat dengan Tuhan, menentang-Nya dan mengeluh bahwa Dia tidak adil. Di manakah hati nurani dan nalarku? Saat memikirkan ini, aku makin merasa bersalah dan malu, lalu berdoa dengan berlutut di hadapan Tuhan, "Tuhan, aku sangat tidak bernalar! Aku diciptakan oleh-Mu; aku adalah makhluk ciptaan. Aku seharusnya tunduk pada semua pengaturan dan penataan-Mu. Hal ini sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan. Engkau telah mengizinkanku terjangkit virus yang berpotensi mematikan ini. Aku tidak mau tunduk, dan aku berdebat dengan-Mu, mengeluh bahwa Engkau tidak melakukan hal yang benar dan meminta-Mu untuk membiarkanku terus hidup. Aku sama sekali tidak bernalar. Aku sangat memberontak! Tuhan, aku ingin merenungkan diri dengan benar dan bertobat kepada-Mu."
Selama beberapa hari berikutnya, aku merasa sangat bersalah setiap kali memikirkan keluhan dan kesalahpahamanku terhadap Tuhan. Terutama ketika memikirkan bagaimana saat kondisiku makin parah, aku berdebat dengan Tuhan, bersikap negatif, bermalas-malasan, bersikap asal-asalan dalam tugasku serta menunda-nunda, aku merasa makin bersalah dan gelisah. Ketika aku tidak sakit dan tidak terjadi krisis, aku menyerukan kebenaran Tuhan dan berkata bahwa makhluk ciptaan harus tunduk pada pengaturan dan penataan Sang Pencipta. Mengapa aku memperlihatkan begitu banyak pemberontakan dan penentangan ketika aku sakit? Aku membaca firman Tuhan berikut selama saat teduhku: "Hubungan manusia dengan Tuhan hanyalah hubungan yang didasarkan pada kepentingan pribadi yang terang-terangan. Hubungan ini adalah hubungan antara penerima dan pemberi berkat. Sederhananya, ini adalah hubungan antara pekerja dan majikan. Pekerja bekerja keras hanya untuk menerima upah yang diberikan oleh majikannya. Tidak ada kasih sayang kekeluargaan dalam hubungan yang didasarkan pada kepentingan pribadi semacam ini, hanya ada transaksi. Tidak ada mengasihi dan dikasihi, hanya derma dan belas kasihan. Tidak ada pengertian, hanya keterpaksaan menahan amarah dan penipuan. Tidak ada keintiman, hanya jurang yang tak terjembatani" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 3: Manusia Hanya Dapat Diselamatkan di Tengah Pengelolaan Tuhan"). "Di benak antikristus, asalkan seseorang mampu melaksanakan tugas, membayar harga, dan menderita beberapa kesulitan, sudah seharusnya mereka diberkati oleh Tuhan. Jadi, setelah melakukan pekerjaan gereja selama beberapa waktu, mereka mulai mencatat pekerjaan yang telah mereka lakukan untuk gereja, kontribusi yang telah mereka berikan untuk rumah Tuhan, dan apa saja yang telah mereka lakukan untuk saudara-saudari. Mereka menyimpan semua ini rapat-rapat dalam benak mereka, menunggu untuk melihat kasih karunia dan berkat apa yang akan mereka peroleh dari Tuhan, sehingga mereka dapat menentukan apakah yang mereka lakukan itu sepadan atau tidak. Mengapa mereka selalu menyibukkan diri mereka dengan hal-hal seperti itu? Apa yang mereka kejar di lubuk hati mereka? Apa tujuan mereka percaya kepada Tuhan? Sejak awal, kepercayaan mereka kepada Tuhan adalah tentang memperoleh berkat. Dan, meskipun sudah bertahun-tahun mereka mendengarkan khotbah, sebanyak apa pun firman Tuhan yang mereka makan dan minum, sebanyak apa pun doktrin yang mereka pahami, mereka tidak akan pernah melepaskan keinginan dan niat mereka untuk diberkati. Jika engkau meminta mereka untuk menjadi makhluk ciptaan yang taat serta menerima kedaulatan dan pengaturan Tuhan, mereka akan berkata, 'Itu tidak ada hubungannya denganku. Itu bukan hal yang harus kukejar. Yang harus kukejar adalah: setelah aku berjuang, setelah aku melakukan upaya yang diperlukan dan menderita kesulitan yang diperlukan—setelah aku melakukannya sesuai dengan apa yang tuhan tuntut—tuhan haruslah memberiku upah dan mengizinkanku untuk tetap tinggal, dan dimahkotai di dalam kerajaan, serta memegang kedudukan yang lebih tinggi daripada umat tuhan. Setidaknya aku harus memimpin dua atau tiga kota.' Inilah yang paling dipedulikan oleh antikristus. Bagaimanapun cara rumah Tuhan mempersekutukan kebenaran, niat dan keinginan mereka untuk memperoleh berkat tidak bisa dilepaskan; mereka sejenis dengan Paulus. Bukankah transaksi yang sepenuhnya seperti ini mengandung semacam watak yang jahat dan kejam? Ada orang-orang beragama yang berkata, 'Generasi kita mengikuti tuhan di jalan salib. Tuhan memilih kita, jadi kita berhak untuk diberkati. Kita telah menderita dan membayar harga, dan kita telah minum anggur dari cawan yang pahit. Sebagian dari kita bahkan telah ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara. Setelah mengalami semua penderitaan ini, setelah mendengar begitu banyak khotbah, dan belajar banyak tentang Alkitab, jika suatu hari kita tidak diberkati, kita akan pergi ke tingkat yang ketiga dari surga dan berdebat dengan tuhan.' Pernahkah engkau mendengar hal seperti ini? Mereka berkata akan pergi ke tingkat yang ketiga dari surga dan berdebat dengan Tuhan—betapa beraninya mereka? Bukankah mendengarnya saja membuatmu merasa takut? Siapa yang berani mencoba dan berdebat dengan Tuhan? ... Bukankah orang-orang seperti itu adalah para penghulu malaikat? Bukankah mereka adalah para Iblis? Engkau bisa berdebat dengan siapa saja tetapi tidak dengan Tuhan. Engkau tidak boleh melakukan hal seperti itu, atau bahkan berpikir untuk melakukannya pun tidak boleh. Berkat itu berasal dari Tuhan: Dia memberikannya kepada siapa pun yang Dia inginkan. Sekalipun engkau memenuhi persyaratan untuk menerima berkat dan Tuhan tidak memberikannya kepadamu, engkau tetap tidak boleh berdebat dengan Tuhan. Seluruh alam semesta dan semua manusia berada di bawah kekuasaan Tuhan; Tuhan adalah penentu keputusan. Bagaimana mungkin engkau, seorang manusia kecil, berani berdebat dengan Tuhan? Bagaimana engkau bisa begitu melebih-lebihkan kemampuanmu sendiri? Mengapa engkau tidak becermin untuk melihat siapa dirimu? Dengan berani menentang dan melawan Sang Pencipta dengan cara seperti ini, bukankah engkau sedang mencari mati? 'Jika suatu hari kita tidak diberkati, kita akan pergi ke tingkat yang ketiga dari surga dan berdebat dengan tuhan' adalah pernyataan yang secara terbuka menentang Tuhan. Tempat seperti apakah tingkat yang ketiga dari surga itu? Itu adalah tempat Tuhan bersemayam. Berani pergi ke tingkat yang ketiga dari surga untuk berdebat dengan Tuhan sama saja dengan berusaha untuk 'menggulingkan' Tuhan! Bukankah demikian? Ada orang-orang yang mungkin bertanya, 'Apa hubungannya ini dengan antikristus?' Ini banyak hubungannya dengan mereka, karena semua orang yang ingin pergi ke tingkat yang ketiga dari surga untuk berdebat dengan Tuhan adalah antikristus. Hanya antikristus yang mampu mengatakan hal-hal seperti itu. Perkataan seperti ini adalah suara yang antikristus pendam di lubuk hati mereka. Inilah kejahatan mereka" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, "Bab Tujuh: Mereka Jahat, Berbahaya, dan Licik (Bagian Dua)"). Aku malu di hadapan penyingkapan firman Tuhan dan menyadari bahwa selama bertahun-tahun aku menderita dan berkorban dalam pelaksanaan tugasku, itu bukanlah untuk memperhatikan maksud-maksud Tuhan dan melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan untuk membalas kasih Tuhan. Semua itu kulakukan agar aku masuk ke dalam kerajaan dan menikmati berkat-berkat kekal. Aku memperlakukan pelaksanaan tugas sebagai cara untuk menghindari bencana, sebagai alat tawar-menawar dan modal untuk bertransaksi dengan Tuhan. Itulah sebabnya aku selalu menghitung berapa banyak pekerjaan yang telah kulakukan, berapa banyak orang yang telah aku berhasil menginjili, dan seberapa banyak aku telah menderita dan berkorban. Aku merasa makin banyak melakukannya, makin banyak jasa yang kuperoleh dan makin aku memenuhi syarat untuk dilindungi Tuhan dan selamat dari bencana. Namun, saat tiba-tiba aku jatuh sakit karena Covid, aku mengeluh tentang Tuhan dan salah paham terhadap-Nya, tanpa mencari bagaimana tunduk kepada-Nya. Sebaliknya, aku berpikir tentang bagaimana aku bisa berperilaku dengan baik untuk menyenangkan hati Tuhan sehingga Dia akan melindungiku dan aku akan segera sembuh. Ketika kulihat kondisiku makin memburuk, aku berputus asa kepada Tuhan. Aku mengeluh tentang Dia dengan menganggap-Nya tidak adil dan tidak melindungiku. Fakta memperlihatkan bahwa iman dan tugasku hanyalah bertujuan agar aku diberkati. Aku hanya memanfaatkan Tuhan untuk mencapai tujuanku sendiri yaitu untuk mendapatkan berkat, seperti bertransaksi dengan Tuhan dan berusaha menipu-Nya. Betapa egois dan liciknya aku! Aku teringat Paulus yang pada Zaman Kasih Karunia melintasi Eropa untuk memberitakan Injil. Dia banyak menderita dan berkorban, tetapi semua yang dia korbankan hanyalah agar dia masuk ke dalam kerajaan surga dan mendapatkan upah. Pada akhirnya, dia berkata, "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik. Aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Yang sebenarnya dia maksudkan adalah bahwa jika Tuhan tidak memberinya mahkota, berarti Tuhan tidak adil. Orang-orang di dunia keagamaan sangat terpengaruh oleh perkataan Paulus ini. Semua orang yang bekerja dan menderita dalam nama Tuhan, melakukannya agar masuk surga dan diberkati. Mereka berdebat dengan Tuhan jika mereka tidak diberkati. Aku pun persis sama seperti mereka, bukan? Setelah itu, aku merasa takut. Tak pernah kubayangkan aku, seperti seorang antikristus, akan berdebat dengan Tuhan dan menentang-Nya jika aku tidak diberkati. Jika bukan karena disingkapkan oleh fakta-fakta ini, aku tidak akan menyadari bahwa aku memiliki watak antikristus yang begitu parah. Aku memikirkan beberapa bagian firman Tuhan: "Selama ini Aku telah menuntut standar yang ketat terhadap manusia. Jika kesetiaanmu disertai dengan niat dan dengan persyaratan, maka lebih baik Aku tidak menginginkan apa yang kausebut sebagai kesetiaan, karena Aku membenci orang yang menipu-Ku dengan niat mereka dan memeras-Ku dengan persyaratan. Aku hanya berharap agar manusia sepenuhnya setia kepada-Ku, dan melakukan segala hal demi dan untuk membuktikan satu kata: iman. Aku membenci penggunaan kata-kata manis engkau semua untuk mencoba membuat-Ku bersukacita, karena Aku selalu memperlakukan engkau semua dengan ketulusan, jadi Aku ingin engkau semua juga bertindak dengan iman yang sejati terhadap-Ku" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Apakah Engkau Benar-Benar Orang yang Percaya kepada Tuhan?"). Aku bisa merasakan dari firman Tuhan bahwa watak-Nya itu benar, kudus, dan tidak bisa disinggung. Tuhan bekerja untuk menyelamatkan manusia dan Dia ingin mendapatkan ketulusan dan kesetiaan manusia. Jika pengorbanan dan pengabdian manusia mengandung motif dan ketidakmurnian tersembunyi, dan mengandung transaksi dan penipuan, mereka tidak akan memperoleh perkenanan Tuhan dan sebenarnya itu akan memuakkan dan menjijikkan bagi Tuhan, dan akan dikutuk oleh-Nya. Sama halnya dengan Paulus, bukannya diberkati oleh Tuhan, dia pada akhirnya dihukum berat di neraka. Bukankah Tuhan juga pasti merasa muak dan jijik akan caraku yang transaksional dan tercemar yang kupakai dalam melaksanakan tugasku? Hari ini, jatuh sakit telah memperlihatkan niat tercela yang mendasari imanku dan membuatku melihat kebenaran dan kekudusan Tuhan. Setelah menyadari hal ini, dari lubuk hatiku aku dapat benar-benar menerima dan tunduk untuk menderita penyakit ini.
Beberapa waktu kemudian, aku membaca bagian lain firman Tuhan: "Sebagai makhluk ciptaan, ketika menghadap Sang Pencipta, mereka harus melaksanakan tugas mereka. Ini adalah tindakan yang sangat benar, dan mereka harus memenuhi tanggung jawab ini. Atas dasar makhluk ciptaan melaksanakan tugas mereka, Sang Pencipta telah melakukan pekerjaan yang jauh lebih besar di antara manusia, Dia telah melakukan tahap pekerjaan lebih lanjut dalam diri manusia. Pekerjaan apakah itu? Dia membekali manusia dengan kebenaran, memungkinkan mereka untuk memperoleh kebenaran dari Tuhan saat mereka melaksanakan tugas mereka dan dengan demikian membuang watak rusak mereka dan disucikan, mulai memenuhi maksud-maksud Tuhan dan mulai menempuh jalan yang benar dalam hidup, serta pada akhirnya, mampu takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, memperoleh keselamatan penuh, serta tidak lagi mengalami siksaan Iblis. Inilah hasil akhir yang ingin Tuhan capai dengan membuat manusia melaksanakan tugas-tugas mereka. Oleh karena itu, selama proses pelaksanaan tugasmu, Tuhan tidak hanya membuatmu melihat satu hal dengan jelas dan memahami sedikit kebenaran, dan Dia juga tidak hanya membiarkanmu menikmati kasih karunia serta berkat yang kauterima dengan melaksanakan tugasmu sebagai makhluk ciptaan. Sebaliknya, Dia memungkinkanmu untuk disucikan dan diselamatkan, dan, pada akhirnya, hidup dalam terang wajah Sang Pencipta" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tujuh)). Firman Tuhan membuatku sangat terharu. Bagi makhluk ciptaan, melaksanakan tugas adalah tanggung jawab dan kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Terlebih dari itu, ini juga adalah jalan untuk memperoleh kebenaran dan mencapai perubahan watak. Selama pelaksanaan tugas kita, Tuhan mengatur segala macam situasi untuk memperlihatkan watak rusak manusia. Kemudian melalui penghakiman dan penyingkapan firman-Nya, serta melalui pemangkasan dan pendisiplinan-Nya, Dia memungkinkan kita untuk memahami watak rusak kita dan berubah, tidak lagi takluk pada kerusakan dan kesengsaraan dari Iblis. Ini adalah niat Tuhan yang tekun. Selama bertahun-tahun melaksanakan tugasku, aku telah memperlihatkan banyak kerusakan di lingkungan yang diatur oleh Tuhan. Aku telah memperoleh beberapa pemahaman tentang watak rusakku. Kemudian, aku mulai membenci diriku sendiri, bertobat dan berubah, hidup dengan sedikit keserupaan dengan manusia. Aku telah memperoleh begitu banyak melalui tugasku, tetapi aku tidak tahu bersyukur. Sebaliknya, aku menggunakan pelaksanaan tugasku sebagai alat tawar-menawar dan modal untuk terhindar dari bencana, dan memperlakukan Tuhan seolah-olah Dia dapat ditipu dan dimanfaatkan. Betapa tercelanya! Tuhan telah mengungkapkan begitu banyak kebenaran, tetapi bukannya menghargainya, aku malah hanya berpikir bagaimana caranya aku dapat diberkati, terhindar dari bencana, masuk ke dalam kerajaan surga dan mendapatkan upah. Aku sangat keji! Aku berdoa dan bertekad kepada Tuhan bahwa aku tidak akan melaksanakan tugasku hanya agar aku diberkati, dan aku akan mengejar kebenaran dengan tekun dalam tugasku untuk membalas kasih Tuhan. Aku membaca bagian lain firman Tuhan yang memberiku jalan penerapan. Firman Tuhan berkata: "Jika, dalam imanmu kepada Tuhan dan pengejaran akan kebenaran, engkau dapat berkata, 'Entah Tuhan mengizinkan penyakit atau kejadian tidak menyenangkan datang atasku atau tidak—apa pun yang Tuhan lakukan—aku harus tunduk dan tetap pada posisiku sebagai makhluk ciptaan. Yang penting, aku harus menerapkan aspek kebenaran—ketundukan—ini, aku harus menerapkannya dan hidup dalam kenyataan ketundukan kepada Tuhan. Terlebih lagi, aku tidak boleh meninggalkan apa yang telah Tuhan amanatkan kepadaku dan tugas yang harus kulaksanakan. Bahkan di akhir napasku, aku harus memegang teguh tugasku,' bukankah ini memberi kesaksian? Ketika engkau memiliki tekad semacam ini dan keadaan semacam ini, akankah engkau tetap mengeluh tentang Tuhan? Tidak. Pada saat seperti itu, engkau akan berpikir, 'Tuhan memberiku napas ini, Dia telah membekali dan melindungiku selama ini, Dia telah menyelamatkanku dari banyak penderitaan, memberiku banyak kasih karunia dan banyak kebenaran. Aku telah memahami kebenaran dan misteri yang tidak dipahami orang dari generasi ke generasi. Aku telah memperoleh sangat banyak dari Tuhan, jadi aku harus membalas kasih Tuhan! Sebelumnya, tingkat pertumbuhanku kecil, aku tidak mengerti, dan aku selalu melakukan hal-hal yang menyakiti Tuhan. Mungkin di masa depan, tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk membalas kasih Tuhan. Sebanyak apa pun waktu yang tersisa bagiku untuk hidup, aku harus mempersembahkan sedikit kekuatan yang kumiliki, dan mempersembahkan kepada Tuhan semua yang mampu kulakukan, agar Tuhan bisa melihat bahwa penyediaan-Nya bagiku selama bertahun-tahun ini tidak sia-sia, melainkan telah membuahkan hasil, dan agar aku bisa memberi penghiburan kepada Tuhan, dan tidak lagi menyakiti atau mengecewakan-Nya.' Bagaimana pikiran ini menurutmu? Jangan berpikir tentang bagaimana menyelamatkan dirimu sendiri atau melarikan diri, berpikir, 'Kapan penyakit ini akan sembuh? Jika aku sembuh, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan tugasku dan menunjukkan pengabdian. Bagaimana aku bisa menunjukkan pengabdian jika aku sakit? Bagaimana aku bisa melaksanakan tugas makhluk ciptaan?' Selama engkau masih bernapas, bukankah engkau mampu melaksanakan tugasmu? Selama engkau masih bernapas, mampukah engkau untuk tidak membawa cela bagi Tuhan? Selama engkau masih bernapas, selama pikiranmu jernih, mampukah engkau untuk tidak mengeluh tentang Tuhan? (Ya.) Mudah untuk berkata 'Ya' sekarang, tetapi ketika engkau benar-benar jatuh sakit, engkau akan berkata 'Itu tidak mudah'. Jadi, engkau semua harus mengejar kebenaran, sering mengerahkan upaya pada kebenaran, dan lebih banyak merenungkan bagaimana engkau dapat memenuhi maksud-maksud Tuhan, bagaimana engkau dapat membalas kasih Tuhan, dan bagaimana engkau dapat melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dengan baik. Apa itu makhluk ciptaan? Apakah tanggung jawab makhluk ciptaan hanyalah mendengarkan firman Tuhan? Tidak—makhluk ciptaan juga harus menghidupi firman Tuhan. Tuhan telah memberimu begitu banyak kebenaran, begitu banyak jalan, dan begitu banyak hidup, agar engkau dapat menghidupi hal-hal ini dan bersaksi bagi-Nya. Inilah yang harus dilakukan oleh makhluk ciptaan, dan inilah tanggung jawab dan kewajibanmu" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Sering Membaca Firman Tuhan dan Merenungkan Kebenaran, Barulah Ada Jalan untuk Diikuti"). Firman Tuhan membuatku sangat terharu. Tuhan adalah Sang Pencipta dan aku adalah makhluk ciptaan, jadi nasibku berada di tangan-Nya. Dia mengizinkan penyakit ini menimpaku, jadi entah aku akan hidup atau mati, aku harus tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Itu adalah nalar yang seharusnya dimiliki sebagai makhluk ciptaan. Sementara itu, tugas adalah sesuatu yang harus dipegang teguh oleh makhluk ciptaan. Kapan pun itu, apa pun yang terjadi, selama aku masih bisa bernapas, aku harus melaksanakan tugasku. Aku telah menikmati begitu banyak kasih Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi aku selalu memberontak terhadap-Nya dan menyakiti-Nya karena aku tidak mengejar kebenaran. Aku sangat berutang kepada Tuhan. Selagi aku masih hidup, aku harus melaksanakan tugasku dengan baik untuk membalas kasih Tuhan. Selama hari-hari selanjutnya, setiap hari aku merenungkan bagaimana aku dapat melaksanakan tugasku dengan baik untuk memuaskan Tuhan. Saudari yang bekerja sama denganku masih baru dalam hal memberitakan Injil dan tidak memahami banyak prinsip, jadi masalah terus bermunculan. Aku membantu dan membimbingnya secara daring. Aku juga sering menenangkan hatiku di hadapan Tuhan, membaca firman-Nya dan menyanyikan lagu pujian untuk memuji-Nya. Aku masih terus batuk dan demam, tetapi tidak lagi dikekang oleh sakitku, dan aku tidak lagi berpikir apakah aku akan mati. Aku tahu hidupku berada di tangan Tuhan dan bahwa kedaulatan dan pentakdiran Tuhanlah yang akan menentukan berapa lama aku hidup. Setiap hari yang Tuhan berikan kepadaku adalah hari ketika aku berusaha untuk melaksanakan tugasku dengan baik untuk membalas kasih Tuhan. Ketika tiba saatnya Tuhan mengizinkan kematian menghampiriku, aku akan tunduk dan tidak akan mengeluh.
Suatu malam, aku tidak bisa berhenti batuk dan tenggorokanku dipenuhi dahak. Aku mengalami demam tinggi dan sekujur tubuhku terasa sakit. Aku berguling-guling di tempat tidur, merasa sangat tidak nyaman dan tidak bisa tidur. Aku bertanya-tanya: "Apakah aku akan mati? Setelah tertidur, apakah aku akan bangun lagi?" Pikiran tentang kematian membuatku sangat sedih, dan aku tidak bisa berhenti menangis saat memikirkan bahwa aku mungkin tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk membaca firman Tuhan. Aku bangun, menyalakan komputerku, dan membaca bagian firman Tuhan ini: "Masa hidup setiap orang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Suatu penyakit mungkin mematikan dari sudut pandang medis, tetapi dari sudut pandang Tuhan, jika masa hidupmu belum berakhir dan waktumu belum tiba, maka engkau tidak akan mati sekalipun engkau menginginkannya. Jika engkau memiliki amanat dari Tuhan dan misimu belum diselesaikan, maka engkau tidak akan mati, sekalipun engkau terkena penyakit yang seharusnya mematikan—Tuhan belum akan mengambilmu. Sekalipun engkau tidak berdoa, tidak mencari kebenaran, dan tidak memperhatikan perawatan penyakitmu, atau sekalipun pengobatanmu tertunda, engkau tidak akan mati. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang menerima amanat penting dari Tuhan. Jika misi mereka belum selesai, penyakit apa pun yang menimpa mereka, mereka tidak akan langsung mati; mereka akan hidup sampai saat terakhir misi tersebut diselesaikan. Apakah engkau memiliki iman ini? ... Sebenarnya, entah engkau bertransaksi agar sembuh dari penyakitmu atau agar engkau tidak mati, atau engkau memiliki niat atau tujuan lain, dari sudut pandang Tuhan, selama engkau mampu melaksanakan tugasmu, selama engkau masih berguna, dan selama Tuhan telah memutuskan bahwa Dia masih akan memakaimu, ini berarti engkau seharusnya tidak akan mati. Engkau tidak dapat mati sekalipun engkau menginginkannya. Bahaya nyata adalah jika engkau menimbulkan masalah dengan gegabah, melakukan segala macam perbuatan jahat, dan sangat menyinggung watak Tuhan, engkau akan mati lebih cepat—umurmu akan dipersingkat. Masa hidup setiap orang ditakdirkan oleh Tuhan sebelum penciptaan dunia ini. Jika mereka mampu tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, maka entah mereka menderita penyakit atau tidak, dan entah kesehatan mereka baik atau buruk, mereka akan hidup sesuai jumlah tahun yang ditakdirkan oleh Tuhan. Apakah engkau memiliki iman seperti ini?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Saat membaca firman Tuhan, aku bisa merasakan kasih dan belas kasih-Nya. Ini memberi kehangatan di hatiku. Aku sedikit lebih mampu memahami maksud Tuhan. Bahwa aku bisa dilahirkan pada akhir zaman, percaya kepada Tuhan dan melaksanakan suatu tugas, semua itu ditentukan oleh Tuhan. Entah aku sakit atau tidak, aku pasti mati jika Tuhan menentukan bahwa hari-hariku telah berakhir. Namun, jika Tuhan menentukan yang sebaliknya, maka aku tidak akan mati meskipun aku menderita penyakit mematikan. Aku tidak tahu apa yang menantiku, tetapi aku harus memasrahkan hidupku dalam tangan Tuhan dan mengikuti pengaturan dan penataan-Nya. Ketika memikirkan bahwa aku bisa mati kapan pun, aku sangat ingin berbicara lagi kepada Tuhan dengan segenap hatiku. Aku berlutut dan berdoa kepada-Nya, "Ya Tuhan! Terima kasih telah mengizinkanku mendengar suara-Mu dan memperoleh penyiraman dan perbekalan dari begitu banyak firman-Mu, dan telah membiarkanku memahami kebenaran dan membuatku belajar tentang cara berperilaku dengan semestinya. Aku merasa hidupku tidak sia-sia. Semua ini adalah belas kasih dan keselamatan dari-Mu! Hanya saja aku telah dirusak sedemikian dalamnya, dan aku selalu memberontak terhadap-Mu dan menyakiti-Mu. Aku belum mengejar kebenaran dengan baik atau belum melaksanakan tugasku dengan sungguh-sungguh untuk membalas kasih-Mu. Aku juga tidak pernah sedikit pun menghibur hati-Mu. Aku sangat berutang kepada-Mu. Aku tidak tahu apakah masih ada kesempatan bagiku untuk membalas kasih-Mu. Jika aku hidup, aku ingin benar-benar mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku dengan baik untuk memuaskan-Mu ...." Malam itu, aku tiba-tiba tertidur. Begitu bangun keesokan harinya, aku merasa tubuhku sangat ringan, seperti tidak pernah jatuh sakit. Tenggorokanku terasa nyaman dan semua dahak telah lenyap. Aku bergegas mengukur suhu tubuhku dan mendapati suhunya sudah kembali normal. Aku sangat terharu, dan tahu bahwa ini adalah belas kasih dan perlindungan Tuhan. Meskipun aku memperlihatkan banyak pemberontakan dan penentangan ketika terjangkit Covid, Tuhan tetap mengawasi dan melindungiku. Aku tidak bisa menahan air mataku, dan aku mengucap syukur dan memuji Tuhan.
Dua bulan berlalu, dan suhu tubuhku selalu normal selama waktu itu. Penyakitnya tidak kambuh dan tanpa kusadari aku sudah sembuh total. Terjangkit Covid memperlihatkan niat tersembunyi dan ketidakmurnian dalam iman dan tugasku, memungkinkan aku untuk melihat motifku yang keji untuk berusaha bertransaksi dengan Tuhan demi mendapatkan berkat. Melalui hal ini, aku memperoleh beberapa pengenalan akan diriku dan membenci diriku sendiri. Selain itu, aku juga mendapat beberapa pengalaman dan pemahaman nyata tentang watak Tuhan yang benar dan kudus, dan memiliki ketundukan pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Selama mengalami pemurnian dan penderitaan melalui pengalamanku jatuh sakit, aku juga memperoleh begitu banyak—hal-hal yang tidak bisa kudapatkan jika berada dalam situasi yang nyaman. Setiap kali merenungkan kembali apa yang kupetik dari pengalaman ini, aku dipenuhi rasa syukur dan pujian kepada Tuhan. Aku bersyukur kepada Tuhan atas penyelamatan-Nya.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudari Moran, TiongkokPada bulan Juni 2020, aku terpilih sebagai diaken penyiraman, dan bertanggung jawab untuk menyirami mereka yang...
Oleh Saudari Wang Li, Tiongkok Suatu hari pada Juni 2014, putriku tiba-tiba menelepon dan mengatakan putraku tersengat listrik saat...
Oleh Saudari Su Wan, TiongkokPada November 2020, aku terpilih sebagai pemimpin tim yang bertanggung jawab atas pekerjaan penyiraman. Pada...
Oleh Saudari Jane, Filipina Pada Juli 2019, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Kemudian, aku banyak membaca...