Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Apa yang Dimaksud dengan Kehidupan Rohani yang Sejati?

207

Oleh Li Cheng

Aku Percaya Bahwa Devosi Rohani Terdiri dari Membaca Alkitab, Berdoa dan Menyanyikan Lagu Pujian Secara Terus-menerus

Aku ingat saat pertama kalinya aku pergi ke gereja dan mendengarkan pendeta menyampaikan khotbah, dan setelah itu aku beroleh pengetahuan tentang keselamatan dari Tuhan Yesus dan aku menyatakan keinginanku untuk percaya kepada Tuhan di gereja tersebut. Sebelum aku pulang, pendeta mengingatkanku:”Untuk hidup sebagai seorang Kristen, orang harus melakukan devosi rohani.” Aku bertanya kepada pendeta: “Apa itu devosi rohani? Bagaimana kita melakukannya?” Pendeta kemudian memberi tahu aku, “Devosi rohani adalah membaca Alkitab, berdoa dan menyanyikan lagu pujian setiap hari. Ketika kita berdoa, kita harus berdoa untuk keluarga kita, berdoa untuk saudara-saudari yang lemah di gereja kita, dan berdoa untuk para hamba Tuhan. Kita harus terus membaca Alkitab dan menyanyikan lagu pujian setiap hari, dan kita harus terus melakukannya tanpa henti. Selama engkau rajin menerapkan devosi rohani ini setiap hari, kerohanianmu akan terus berkembang dan engkau akan menjadi semakin dekat dengan Tuhan, dan hal ini akan menyenangkan hati Tuhan.”

Karena itu aku mulai melakukan seperti apa yang dikatakan pendeta. Setiap hari tepat jam 5 pagi aku bangun dari tempat tidur dan memulai devosi rohaniku. Pertama, aku akan membaca dua pasal dari Alkitab, lalu aku menyanyikan lagu-lagu pujian, dan kemudian aku berdoa seperti yang dinasihatkan pendeta kepadaku. Musim datang silih berganti dan aku tetap melakukan rutinitas ini, dan aku tetap berdoa meskipun kadang-kadang kakiku kram karena berlutut begitu lama. Beberapa tahun telah berlalu, dan aku percaya bahwa aku telah memperoleh lebih banyak pencerahan melalui praktik devosi rohaniku, bahwa aku semakin lama semakin memahami firman Tuhan, dan bahwa aku telah menjadi jauh lebih dekat dengan Tuhan. Namun kenyataannya, meskipun mampu melafalkan beberapa ayat klasik dari Alkitab dan mengingat beberapa kata yang sering kugunakan dalam doa, aku masih tidak mengerti sama sekali tentang firman Tuhan, kehendak Tuhan ataupun tuntutan-tuntutan-Nya. Hal ini mencapai titik di mana aku bahkan jatuh tertidur selama melakukan devosi rohaniku, dan aku tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan sedikit pun.

Aku bertanya kepada sejumlah pengkhotbah juga kepada banyak saudara-saudari tentang cara melakukan devosi rohani agar seseorang bisa hidup dekat dengan Tuhan, tetapi cara mereka melakukan devosi rohani ternyata hampir sama dengan caraku melakukannya. Mereka juga bangun pagi-pagi untuk berdoa, membaca Alkitab dan menyanyikan lagu-lagu pujian untuk Tuhan, tanpa mencapai hasil yang jelas. Beberapa orang bahkan tertidur ketika berdoa. Hal ini menyebabkan aku merasa sangat cemas: Aku telah melakukan devosi rohani selama beberapa tahun terakhir seperti yang diajarkan oleh pendeta kepadaku, namun mengapa aku tidak mencapai hasil yang baik? Apakah cara melakukan devosi rohani ini tidak terpuji di mata Tuhan? Apa sebenarnya kehendak Tuhan?

Apa yang Merupakan Devosi Rohani Sejati?

Suatu hari, aku mengunjungi Saudari Song di rumahnya untuk belajar Alkitab. Ketika aku bertanya bagaimana melakukan devosi rohani yang berkenan di hati Tuhan, Saudari Song mengeluarkan sebuah buku berjudul Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba, dan membacakan sebuah petikan darinya: “Kehidupan rohani yang normal tidak terbatas pada doa, nyanyian, kehidupan bergereja, makan dan minum firman Tuhan, serta praktik lainnya, namun berarti menjalani kehidupan rohani yang baru dan semarak. Ini bukan tentang metode, namun tentang hasil. Sebagian besar orang berpikir bahwa untuk memiliki kehidupan rohani yang normal, seseorang harus berdoa, bernyanyi, makan dan minum firman Tuhan, atau mencoba memahami firman Tuhan. Tidak peduli apakah ada hasilnya, atau apakah ada pemahaman sejati, orang-orang ini hanya berfokus pada rutinitas, dan tidak berfokus pada hasil—mereka adalah orang yang hidup di dalam ritual keagamaan, bukan orang yang hidup di dalam gereja, lebih lagi mereka bukanlah umat kerajaan Surga. Doa, nyanyian, makan dan minum firman Tuhan yang dilakukan orang ini, semuanya ditetapkan oleh aturan, mereka terpaksa melakukannya, dan semua itu dilakukan karena mengikuti tren; semua itu bukan dilakukan dengan sukarela atau dari hati. Seberapa pun seringnya orang-orang ini berdoa atau bernyanyi, tidak akan ada hasilnya sama sekali, karena mereka hanya menjalankan aturan dan ritual keagamaan; bukan melakukan firman Tuhan. Hanya dengan berfokus pada metode, dan memandang firman Tuhan sebagai aturan untuk ditegakkan, orang jenis ini tidak melakukan firman Tuhan, namun memuaskan daging, dan melakukan banyak hal untuk pamer kepada orang lain. Ritual dan aturan keagamaan jenis ini datang dari manusia, bukan dari Tuhan. Tuhan tidak menegakkan aturan, tidak terikat oleh hukum apa pun; Ia melakukan hal baru setiap hari dan Ia melakukan pekerjaan yang praktis. … Jika jemaat hidup dalam aturan, dengan hati yang tertuju pada ibadah, maka Roh Kudus tidak dapat bekerja, karena hati jemaat diambil alih oleh aturan-aturan, dipenuhi oleh pemahaman manusia; maka dari itu, Tuhan tidak memiliki cara untuk dapat bekerja; jemaat hanya akan senantiasa tinggal di bawah kendali hukum, dan orang jenis ini tidak akan pernah bisa mendapatkan pujian dari Tuhan” (“Mengenai Kehidupan Spiritual yang Normal”).

Kutipan yang dibacakan oleh Saudari Song itu mengguncang hatiku. Aku sebelumnya telah mempelajari teologi dan membaca banyak buku rohani, baik yang kuno maupun modern, yang berasal dari Tiongkok maupun negara lainnya, dan aku telah mendengarkan banyak rekaman khotbah dari para pengkhotbah terkenal, namun aku belum pernah melihat atau mendengar ada orang yang bisa menjelaskan sejelas itu—sejernih kristal–tentang apa yang merupakan devosi rohani sejati dan hasil yang dapat kita capai jika melakukan devosi rohani. Selain itu, bacaan tersebut mengungkapkan situasi devosi rohani kita selama ini— ternyata selama ini ada beberapa aturan dan penyimpangan dalam devosi rohani kita!

Setelah itu, aku mulai memahami melalui penjelasan Saudari Song bahwa devosi rohani bukan berarti terus-menerus membaca Alkitab, menyanyikan lagu-lagu pujian dan berdoa setiap hari, karena devosi rohani sejati bukanlah tergantung pada pengamalan seseorang yang terlihat dari luar atau seberapa baik seseorang melaksanakan ritual keagamaannya, atau berapa lama seseorang melakukannya setiap hari. Sebaliknya, hasilnyalah yang penting; yaitu, tergantung apakah devosi rohani kita berhasil memampukan kita untuk memperoleh lebih banyak pencerahan dan penerangan dari Roh Kudus atau tidak, apakah devosi itu memungkinkan kita untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kehendak Tuhan dan apakah devosi itu memampukan kita untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan atau tidak. Sebagai contoh, kita tidak menyanyikan lagu-lagu pujian sekadarnya, tetapi melakukannya untuk berlatih menenangkan hati kita di hadapan Tuhan. Ketika kita menyanyikan lagu-lagu pujian, kita dapat memperoleh pencerahan dan bimbingan Roh Kudus, dan dengan demikian memahami kehendak Tuhan. Doa tidak hanya melafalkan kata-kata yang sama berulang-ulang hari demi hari, tahun demi tahun, atau meyakini bahwa semakin lama seseorang berdoa dan semakin banyak yang dia doakan maka hal itu akan semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, doa adalah membuka hati kita dan memercayai Tuhan tentang semua hal yang ada di hati kita dan semua kesulitan yang dialami oleh kita. Doa adalah datang ke hadapan Tuhan, mencari kehendak-Nya, dan mencari jalan untuk menerapkannya. Membaca firman Tuhan tidak dilakukan untuk sekadar memahami arti harfiah dari firman itu dan mempersenjatai diri kita dengan pengetahuan dan doktrin rohani sehingga kita dapat mengkhotbahkannya kepada orang lain atau menyelesaikan masalah saudara-saudari kita. Sebaliknya, kita membaca firman Tuhan untuk merenungkannya, untuk memahami kehendak dan tuntutan Tuhan bagi kita, agar dapat menerapkan firman Tuhan dengan lebih baik lagi dan melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Aku tidak pernah mencari hasil dari devosi rohaniku, tetapi sebaliknya aku melakukannya setiap hari seolah-olah hanya untuk menyelesaikan suatu tugas. Ketika aku menyanyikan lagu-lagu pujian, aku bernyanyi tanpa tujuan; ketika aku berdoa, aku seperti kaset rusak yang mengucapkan hal yang sama berulang-ulang; ketika aku membaca Alkitab, aku hanya mengerti arti harfiah dari firman itu dan mempersenjatai diriku dengan sedikit teori rohani. Aku tidak pernah merenungkan mengapa Tuhan mengucapkan apa yang Dia katakan, apa kehendak dan tuntutan-Nya di balik hal-hal yang Dia katakan, kebenaran apa yang aku pahami dari firman-Nya, dan seterusnya. Ketika membandingkan diriku dengan kutipan yang dibacakan oleh Saudari Song, aku akhirnya melihat bahwa devosi rohaniku tidak lain hanyalah untuk sekadar mengikuti aturan dan terlibat dalam ritual keagamaan—itu bukanlah devosi rohani yang benar dan sama sekali tidak akan diperkenan oleh Tuhan. Aku sungguh-sungguh merenungkan kutipan tersebut dan aku melihat bahwa kutipan itu tidak hanya mengungkapkan akar penyebab mengapa kita tidak bisa mencapai apa-apa dengan devosi rohani kita, tetapi juga menunjukkan kepada kita jalan untuk menerapkannya. Kutipan tersebut benar-benar telah sangat membantu dan bermanfaat bagiku! Aku ingin membacanya lebih lanjut, jadi aku meminjam buku tersebut dari Saudari Song.

Cara Melakukan Devosi Rohani yang Benar

Setelah aku pulang, aku membaca beberapa bagian dari buku tersebut satu persatu. Salah satu bagian mengatakan: “Orang percaya kepada Tuhan, mengasihi Dia, dan memuaskan Dia dengan cara menyentuh Roh Tuhan dengan hati mereka, sehingga memperoleh kepuasan-Nya. Ketika mencerna Firman Tuhan dengan hati mereka, dengan demikian mereka digerakkan oleh Roh Tuhan. Jika ingin mencapai kehidupan rohani yang benar dan membangun hubungan yang benar dengan Tuhan, engkau harus terlebih dahulu memberikan hatimu kepada-Nya dan menenangkan hatimu di hadapan-Nya. Hanya setelah engkau menyerahkan segenap hatimu kepada Tuhan, engkau dapat secara bertahap mengembangkan kehidupan rohani yang benar. … Jika hatimu dapat dicurahkan kepada Tuhan dan tetap tenang di hadapan-Nya, engkau akan memiliki kesempatan dan kualifikasi yang dapat dipakai oleh Roh Kudus, untuk menerima pencerahan dan penerangan Roh Kudus, dan bahkan terlebih lagi, engkau akan memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memperbaiki kelemahanmu. Ketika engkau memberi hatimu kepada Tuhan, engkau dapat memasuki aspek positif lebih dalam dan berada di tataran wawasan yang lebih tinggi; dalam aspek negatif, engkau akan memiliki lebih banyak pemahaman atas kesalahan dan kelemahanmu sendiri, akan lebih bersemangat dalam upayamu memenuhi kehendak Tuhan; engkau tidak akan pasif, dan akan masuk secara aktif. Ini berarti engkau adalah orang yang tepat” (“Membangun Hubungan yang Benar Dengan Tuhan Sangatlah Penting”).

Ketika aku merenungkan bagian tersebut, aku mengerti bahwa jika aku ingin memiliki kehidupan rohani yang normal, maka pertama-tama aku harus melepaskan semua aturan dan praktik lamaku di masa lalu, menarik hatiku dari semua orang, peristiwa dan hal-hal lainnya yang ada di dunia luar dan menenangkan diri di hadapan Tuhan, dan berdoa kepada Tuhan, membaca firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan dengan hati yang jujur. Jika menemukan hal-hal yang tidak kumengerti, aku tahu aku harus lebih banyak berdoa dan mencari Tuhan lebih banyak—aku tidak bisa hanya melihat firman Tuhan sepintas lalu dan melewatinya begitu saja. Hanya berlatih dengan cara inilah aku akan dapat memperoleh pencerahan dan penerangan dari Roh Kudus dan membangun hubungan yang normal dengan Tuhan. Ketika kita mencurahkan hati ke dalam firman Tuhan, kita akhirnya menemukan apakah kita telah bertindak sesuai dengan keinginan kita sendiri atas hal-hal yang kita temui dalam hidup atau apakah kita telah bertindak sesuai dengan firman Tuhan. Kita menemukan bahwa ada beberapa hal di mana kita tidak sepenuhnya bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan kita menemukan bahwa masih ada dalam diri kita beberapa penyimpangan dan kekurangan, dan sebagainya. Ketika kita merenungkan hal-hal ini, kita mencari jalan untuk menerapkan firman Tuhan, kemudian kita memperkenalkannya ke dalam hidup kita, menerapkannya dan masuk ke dalamnya untuk menyelesaikan masalah kita yang nyata. Hanya kehidupan rohani yang dapat mencapai hasil seperti inilah yang merupakan devosi rohani yang benar. Begitu aku memahami hal ini, aku mulai berlatih dan masuk ke dalamnya: Ketika aku melakukan devosi rohani, aku akan berdoa kepada Tuhan tentang semua masalah dan kesulitan yang aku temui setiap hari dan mencari jalan keluarnya berdasarkan firman Tuhan. Ketika aku berdoa, aku memberi tahu Tuhan segala yang ada di hatiku dan berbicara jujur kepada-Nya, dan aku memercayakan kepada Tuhan semua kesulitanku dan meminta bantuan-Nya; doa-doaku tidak lagi mengikuti aturan dan sekadar melakukan ritual keagamaan atau mengucapkan kata-kata yang sama berulang-ulang. Ketika aku membaca firman Tuhan, tidak penting lagi seberapa banyak yang kubaca atau berapa banyak yang bisa kuhafal. Alih-alih, aku berfokus pada merenungkan dan mencari kehendak dan perintah Tuhan, aku merenungkan apakah aku telah menerapkan firman Tuhan ketika menghadapi masalah, jika tidak menerapkannya mengapa, dan apa yang harus aku lakukan jika berikutnya aku menghadapi masalah seperti itu lagi, dan seterusnya. Setelah menerapkan dengan cara ini selama beberapa waktu, aku merasa hubunganku dengan Tuhan menjadi semakin normal, aku sering merasakan pencerahan dan bimbingan Roh Kudus ketika membaca firman Tuhan, dan ketika aku berdoa, aku akan merasa tergerak dan dengan jelas merasakan bahwa Tuhan sedang mendengarkan doa-doaku. Terima kasih, Tuhan!

Buku yang berjudul Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba, tersebut juga membahas tentang apa yang membentuk kehidupan rohani yang sejati, bagaimana membangun hubungan normal dengan Tuhan, apa yang membentuk kehidupan bergereja yang sejati, dan sebagainya. Semakin banyak aku membaca, semakin jelas semua itu bagiku dan semakin aku menikmatinya. Selain itu, buku ini menjelaskan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kumengerti dalam Alkitab. Melalui membaca buku ini, banyak masalah yang sebelumnya membingungkan aku dapat diselesaikan, dan aku tiba-tiba melihat cahaya, seolah-olah awan telah melayang pergi dan menyingkapkan cahaya matahari. Aku merasa seolah-olah buku ini tidak mungkin ditulis oleh orang biasa, karena terlalu meneguhkan, terlalu bermanfaat, dan aku tidak bisa tidak memikirkan firman yang dikatakan Tuhan Yesus: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16: 12-13). Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa ketika Dia datang kembali, Dia akan memberi tahu kita semua kebenaran yang belum kita pahami. Buku ini mampu menjelaskan semuanya dengan sangat jelas—mungkinkah kata-kata yang ada dalam buku ini berasal dari perkataan Roh Kudus? Aku mempelajari buku ini dengan saksama dan membaca judulnya, Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba. Hatiku berdetak kencang ketika aku tiba-tiba berpikir: Mungkinkah buku ini adalah gulungan kecil yang dinubuatkan berulang kali dalam kitab Wahyu? Namun gulungan kecil yang disegel itu hanya bisa dibuka oleh Anak Domba…. Memikirkan hal-hal ini, aku tidak bisa duduk diam lebih lama, dan setelah berdoa kepada Tuhan, aku mengambil buku tersebut dan bergegas ke rumah Saudari Song …

media terkait