Mengidentifikasi dengan Menggunakan Firman Tuhan Tidak Mungkin Gagal

27 Juli 2022

Oleh Christina, Amerika Serikat

Pada April 2021, aku tinggal di sebuah rumah bersama Harlow dan beberapa saudari lainnya. Awalnya, aku sering melihatnya berbicara kepada orang lain tentang keadaan dirinya, dan terkadang membicarakan hal itu saat makan. Aku memikirkan bagaimana dia bahkan bisa memanfaatkan waktu makan; dia sangat berfokus pada jalan masuk kehidupan dan merupakan orang yang mencari kebenaran. Kemudian suatu kali, ketika kami sedang mengobrol, Harlow memberitahuku bahwa dia sangat memedulikan ekspresi wajah serta pendapat orang lain, dan jika seseorang berbicara kepadanya dengan intonasi yang buruk, dia biasanya akan menganggap orang itu sedang merendahkannya, dan dia memberitahuku bahwa dia itu licik. Dia juga berkata bahwa dia selalu bersaing dengan orang lain untuk mendapatkan ketenaran serta keuntungan, dan sangat mementingkan reputasi juga status dirinya. Kupikir, kami belum lama saling mengenal, jadi dia mampu memberitahuku kekurangannya yang fatal serta kelemahannya, dan berarti dia adalah orang yang sederhana dan terbuka. Kuperhatikan dalam interaksi kami selanjutnya bahwa dia benar-benar memiliki pola pikir yang rumit. Dia sangat memedulikan ekspresi wajah dan pendapat orang-orang, serta curiga terhadap orang lain. Terkadang ketika saudara-saudari menunjukkan kepadanya masalah yang ada pada dirinya, dia akan bertanya-tanya apakah mereka sedang merendahkan dirinya, lalu setelah itu dia membuka diri tentang dirinya, berkata bahwa dia selalu curiga kepada orang lain, bahwa dia sangat licik, dan sebagainya. Awalnya, kukira dia hanya agak sensitif dan rapuh. Aku merasa bahwa setiap orang memiliki kesalahan dan masalah, dan sebagai saudara-saudari, kita harus lebih saling menoleransi serta saling memaafkan. Selain itu, dia mampu membuka diri dan memahami dirinya setelah memperlihatkan kerusakan, jadi dia seharusnya adalah orang yang mampu menerima kebenaran. Jadi, aku tidak terlalu memikirkannya. Biasanya, ketika dia memberitahuku tentang keadaannya, aku dengan sabar mendengarkan dia mencurahkan isi hatinya. Dalam percakapan, aku juga dengan hati-hati memperhatikan suasana hatinya, khawatir aku ceroboh dan mengatakan sesuatu yang menyakitinya. Karena alasan itu, dia senang berbicara denganku. Terlihat dari perkataan dan apa yang tersirat di dalamnya bahwa dia merasa aku memiliki temperamen dan kepribadian yang baik, serta murah hati, dan bahwa dia menyukai orang-orang sepertiku. Namun, setiap kali kami berbincang, itu selalu tentang keadaan dirinya yang curiga dan memedulikan harga diri. Terkadang perbincangan singkat bisa menjadi satu jam, dan ini benar-benar menghambat tugas-tugasku. Namun, melihat betapa dia memercayaiku, aku khawatir dia akan terluka jika aku tidak mendengarkannya, sehingga aku sungkan untuk menyela pembicaraannya. Beberapa waktu kemudian, terjadi beberapa hal yang berangsur-angsur mengubah caraku dalam memandang dirinya.

Suatu waktu, Saudari Kay tidak terlalu menganggap serius ketika Harlow mengkritiknya karena tidak melipat selimut dengan baik. Harlow marah dan tidak mau melepaskan kemarahannya, bersikeras agar Kay menuruti perkataannya. Kay melihat bahwa Harlow selalu saja membuat orang lain harus membujuk dirinya dan menuruti keinginannya untuk menyenangkan hatinya. Kay berkata kepadanya bahwa dia terlalu berfokus pada status dan selalu ingin orang-orang mengelilinginya, yang pada esensinya berarti bahwa dia ingin mengendalikan mereka. Setelah itu, Harlow membuka dirinya kepada Kay, menangis serta menjelaskan bahwa dia tidak seperti yang Kay katakan, dan bahwa Kay telah salah paham terhadapnya. Kay meminta maaf, tetapi Harlow masih tidak dapat melepaskannya, dan tidak bicara lagi dengan Kay. Setelah itu, dia sering menyendiri dan tidak banyak berbicara kepada kami. Suatu kali, ketika dia berbicara tentang keadaan dirinya kepadaku, dia berkata bahwa dia melihat saudari-saudari lain berbicara banyak dengan Kay, jadi dia curiga bahwa semua orang menyukai Kay, dan bahwa mereka sedang memandang rendah dan mengucilkannya. Lalu dengan sengaja dia menghindari semua orang, dan menganggap Kay tidak tulus ketika berbicara kepadanya. Setelahnya, dia berkata bahwa kemanusiaannya buruk dan bahwa menduga-duga Kay seperti itu sangatlah licik. Namun, dia tidak berubah setelah itu. Dia merajuk terhadap kami selama setengah bulan karena hal itu, dan semua orang merasa sangat terkekang. Aku sangat terkejut dan tidak bisa memahaminya. Mengapa dia tidak mencari kebenaran dan tidak memetik pelajaran ketika dihadapkan dengan masalah? Setelah itu, aku berpikir bahwa dia hanya cenderung suka marah dan merajuk, dan bahwa kami semua adalah saudara-saudari, dan kami hanya perlu membantunya dengan kasih. Suatu waktu, muncul masalah di video yang dia produksi. Di pertemuan, pemimpin tim berkata bahwa para produser harus yang terutama bertanggung jawab atas masalah dalam video. Harlow berasumsi bahwa perkataan itu diarahkan kepadanya, bahwa pemimpin tim menganggapnya berkualitas buruk dan memandang rendah dirinya. Dia cemberut dan murung selama berhari-hari. Seorang pemimpin bersekutu dengannya setelah itu, dan berkata bahwa dia tidak menerima kebenaran serta terlalu sensitif, dan bahwa akan berbahaya baginya jika terus seperti itu. Harlow mulai menangis saat mendengarnya. Dia berkata dirinya terlalu rusak dan tidak akan diselamatkan oleh Tuhan. Melihatnya begitu sedih, pemimpin mempersekutukan maksud Tuhan kepadanya agar dia tidak salah paham terhadap Tuhan dan mampu merenungkan lebih jauh tentang masalahnya dan memiliki jalan masuk. Dia tidak mengatakan apa pun pada saat itu, dan pemimpin mengira dia akan mampu berubah. Namun yang mengejutkan, dia berkata di suatu pertemuan bahwa dia tidak bisa menerima apa yang pemimpin katakan tentang dirinya dan telah menjadi negatif selama berhari-hari. Kemudian, dia memberi tahu beberapa saudara-saudari bahwa pemimpin tim itu tidak menyukainya karena kualitasnya yang rendah, yang telah membuatnya merasa terkekang. Dia tidak tahu bagaimana melewati hal ini, dan dia menangis saat mengatakannya. Saudara-saudari merasa simpati terhadapnya. Hal seperti ini selalu terjadi. Setelah seseorang bersekutu dengannya, dia selalu "mengenal" dirinya dan mengakui masalahnya. Namun beberapa hari kemudian, dia kembali merajuk, ketika terjadi lagi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Aku sangat bingung melihatnya bertindak seperti itu. Karena dia selalu terlihat mengenal dirinya sendiri, mengapa dia tidak pernah berubah? Jika orang lain mengatakan sesuatu yang memengaruhi harga dirinya, dia akan berasumsi bahwa orang itu sedang merendahkannya, lalu menyalahartikan semuanya. Apakah ada masalah dengan kemanusiaan dan pemahamannya? Aku tidak bisa sepenuhnya memahami hal ini, jadi aku berdoa kepada Tuhan dalam pencarianku, dan mencari serta bersekutu dengan orang lain yang memahami kebenaran. Seorang saudari memberitahuku bahwa Harlow memahami semua hal setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi dia tidak menerapkan kebenaran dan sering kali bersikap negatif. Artinya, dia tidak benar-benar mengenal dirinya sendiri. Saudari itu mengirimkan satu bagian firman Tuhan kepadaku: "Ketika beberapa orang mempersekutukan pengenalan diri mereka, mereka langsung berkata, 'Aku adalah setan, Iblis yang hidup, seseorang yang menentang Tuhan. Aku memberontak terhadap-Nya dan mengkhianati-Nya; aku adalah ular berbisa, orang jahat. Aku pantas dikutuk.' Apakah ini pengenalan diri yang sejati? Mereka hanya berbicara secara umum. Mengapa mereka tidak memberikan contoh? Mengapa mereka tidak mengungkapkan hal-hal memalukan yang mereka lakukan serta menelaah dan menyingkapkannya? Ada orang yang tidak memiliki kemampuan membedakan, mendengar mereka dan berpikir, 'Itu baru pengenalan diri yang sejati! Mereka bahkan mengenal diri mereka sendiri sebagai setan, dan mengutuk diri mereka sendiri. Betapa tingginya tingkat yang telah mereka capai!' Banyak orang, khususnya orang yang baru percaya, cenderung disesatkan oleh perkataan ini. Mereka mengira pembicara ini murni dan memiliki pemahaman rohani, bahwa ini adalah orang yang mencintai kebenaran, dan mampu menjadi pemimpin. Namun, begitu mereka berinteraksi dengan orang tersebut selama beberapa waktu, mereka mendapati bahwa orang itu tidak seperti yang mereka bayangkan, melainkan sangat palsu dan licik, ahli dalam menyamar dan berpura-pura, yang mana ini menjadi hal yang sangat mengecewakan. Atas dasar apa orang dapat dianggap benar-benar mengenal dirinya sendiri? Engkau tidak bisa hanya mempertimbangkan apa yang mereka katakan—kuncinya adalah melihat apakah mereka mampu menerima kebenaran, dan apakah mereka mampu menerapkannya setelah memahaminya. Bagi mereka yang benar-benar memahami kebenaran, mereka tidak hanya mampu memiliki pengenalan yang sejati akan diri mereka sendiri, yang terpenting, mereka mampu menerapkan kebenaran. Mereka tidak hanya berbicara tentang pemahaman sejati mereka, tetapi juga mampu benar-benar melakukan apa yang mereka katakan. Itu berarti, perkataan dan tindakan mereka sepenuhnya selaras. Jika apa yang mereka katakan terdengar bagus dan masuk akal, tetapi mereka tidak melakukannya, tidak menghidupinya, maka dalam hal ini mereka telah menjadi orang Farisi, mereka adalah orang munafik, dan sama sekali bukan orang yang benar-benar mengenal dirinya sendiri. Banyak orang terdengar sangat masuk akal ketika mempersekutukan kebenaran, tetapi tidak menyadari ketika mereka memperlihatkan watak yang rusak. Apakah orang-orang ini mengenal dirinya sendiri? Jika orang tidak mengenal dirinya sendiri, apakah mereka orang yang memahami kebenaran? Semua orang yang tidak mengenal dirinya sendiri adalah orang yang tidak memahami kebenaran, dan semua orang yang mengucapkan kata-kata kosong tentang pengenalan diri sendiri memiliki kerohanian yang palsu, mereka adalah para pembohong. Ada orang-orang yang terdengar sangat masuk akal ketika mengucapkan kata-kata dan doktrin, tetapi dalam hal keadaan dalam roh mereka, mereka mati rasa dan bebal, mereka tidak peka, mereka juga tidak tanggap terhadap masalah apa pun. Dapat dikatakan mereka mati rasa, tetapi terkadang mereka terdengar sepertinya roh mereka cukup tajam. Misalnya, tepat sesudah sesuatu terjadi, mereka langsung mampu mengenal diri sendiri, dengan berkata: 'Ada satu pemikiran yang baru saja muncul di benakku. Aku memikirkannya dan menyadari bahwa itu sesuatu yang licik, bahwa aku menipu Tuhan.' Sebagian orang yang tidak memiliki kemampuan membedakan merasa iri saat mendengar ini, dan berkata: 'Orang ini segera menyadari saat memperlihatkan kerusakan, dan mampu membuka diri serta bersekutu tentang hal itu. Mereka begitu cepat bereaksi, rohnya tajam, jauh lebih baik daripada kita. Inilah orang yang benar-benar mengejar kebenaran.' Apakah ini cara yang tepat untuk menilai orang? (Tidak.) Jadi apakah yang seharusnya menjadi dasar untuk mengevaluasi apakah seseorang itu benar-benar mengenal dirinya sendiri? Bukan hanya apa yang keluar dari mulutnya. Engkau juga harus melihat apa yang sebenarnya terwujud dalam diri mereka. Metode yang paling sederhana adalah dengan melihat apakah mereka mampu menerapkan kebenaran—inilah yang paling penting. Jika mereka mampu menerapkan kebenaran, itu membuktikan bahwa mereka benar-benar mengenal dirinya sendiri, karena mereka yang benar-benar mengenal dirinya sendiri memperlihatkan pertobatan, dan hanya ketika orang memperlihatkan pertobatan, barulah mereka benar-benar mengenal dirinya sendiri" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Mengenal Diri Sendiri Sangat Penting untuk Mengejar Kebenaran"). Aku belajar dari firman Tuhan bahwa ketika mengukur apakah seseorang itu mencintai dan menerima kebenaran, apakah mereka benar-benar mengenal diri mereka, jangan melihatnya dari seberapa baik mereka mampu mengenal diri mereka secara lisan, atau seberapa baik mereka mampu mengucapkan kata-kata dan doktrin. Sebaliknya, lihatlah apa yang benar-benar mereka jalani ketika menghadapi berbagai peristiwa, apakah mereka mampu menerapkan kebenaran, apakah mereka benar-benar bertobat serta berubah, dan apakah pemahaman yang mereka bicarakan sesuai dengan jalan masuk mereka yang sebenarnya. Ada orang-orang yang melontarkan kata-kata dan doktrin yang semuanya benar, tetapi ketika menghadapi sesuatu, mereka sama sekali tidak menerapkan kebenaran, dan malah bertindak berdasarkan watak Iblis mereka. Orang seperti itu bukanlah orang yang menerima kebenaran. Ada orang-orang yang mampu membuka diri tentang pemikiran apa pun yang mereka singkapkan, dan mengenali kerusakan mereka, membuat orang mengira bahwa mereka bersikap sederhana. Namun, mereka tidak mengatakan apa pun tentang motif mereka yang sebenarnya di baliknya, dan mereka sama sekali tidak menelaah esensi dari watak rusak mereka. Mereka tampaknya bersikap sederhana dan terbuka, tetapi mereka sebenarnya sedang menyesatkan dan berbohong kepada orang-orang dan mereka sangat licik. Pengenalan diri beberapa orang hanyalah ilusi; mereka akan mengakui kesalahan mereka secara lisan, berkata bahwa mereka adalah setan dan Iblis, mengutuk serta melaknat diri sendiri, dan mereka mengenal diri sendiri dengan sangat kacau; tetapi tentang hal-hal jahat spesifik yang telah mereka lakukan, motif dan tujuan tersembunyi di baliknya, atau akibat dari apa yang mereka lakukan, mereka tidak mengatakan apa pun. Melihat Harlow, dia senang menceritakan keadaan dirinya kepada orang-orang, dan tampaknya dia benar-benar mengejar dan mencari kebenaran. Dia selalu mengatakan hal-hal seperti, "Kemanusiaanku buruk, aku licik, aku berniat jahat." Dari luarnya, dia terlihat benar-benar mampu mengenal dirinya, tetapi dia sama sekali tidak menerapkan kebenaran ataupun memiliki jalan masuk ketika diperhadapkan dengan berbagai peristiwa. Dia sama sekali tidak membereskan watak rusaknya sendiri. Dua tahun yang lalu, orang lain telah mengevaluasi dirinya bahwa dia suka bersikap curiga terhadap orang lain dan berfokus pada reputasi dan status, tetapi dia masih belum berubah sama sekali. Jelaslah bahwa dia selalu hanya mengatakan doktrin. Ini membuat orang memiliki kesan yang salah tentang dirinya, dan dia sedang mengelabui orang-orang. Pengenalan yang dia bicarakan dan hal yang sebenarnya dia jalani sama sekali tidak selaras.

Kemudian, aku membaca persekutuan dari Tuhan tentang orang seperti apa yang merupakan saudara-saudari sejati, dan orang seperti apa yang bukan, dan aku akhirnya memperoleh sedikit kemampuan untuk membedakan Harlow. Firman Tuhan berkata: "Hanya mereka yang mencintai kebenaran yang adalah orang-orang rumah Tuhan; mereka adalah saudara-saudari sejati. Apakah menurutmu semua orang yang sering menghadiri pertemuan di rumah Tuhan adalah saudara-saudari? Belum tentu. Siapakah orang yang bukan saudara-saudari? (Mereka yang muak akan kebenaran, dan mereka yang tidak menerima kebenaran.) Mereka yang tidak menerima kebenaran dan mereka yang muak akan kebenaran semuanya adalah orang-orang jahat. Mereka semua adalah orang-orang yang tidak memiliki hati nurani atau nalar. Tak seorang pun dari mereka adalah orang-orang yang Tuhan selamatkan. Orang-orang ini tidak memiliki kemanusiaan, mereka tidak melakukan pekerjaan mereka yang semestinya dan mereka melakukan hal-hal buruk dengan sekehendak hatinya. Mereka hidup sepenuhnya berdasarkan falsafah Iblis. Yang mereka lakukan hanyalah menggunakan taktik licik, serta memanfaatkan, membujuk, dan menipu orang lain. Mereka sama sekali tidak menerima kebenaran, dan mereka menyusup ke rumah Tuhan hanya demi mendapatkan berkat; mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Mengapa Kukatakan mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya? Itu karena mereka percaya kepada Tuhan hanya demi mendapatkan berkat tetapi sama sekali tidak menerima kebenaran, dan apa pun yang terjadi pada mereka, mereka tidak pernah mencari kebenaran, dan setiap kali kebenaran dipersekutukan, mereka tidak tertarik, merasa muak akan hal itu dan tidak mau menerimanya, serta merasa bahwa itu membosankan dan tidak bisa duduk tenang. Orang-orang ini jelas adalah pengikut yang bukan orang percaya dan orang tidak percaya. Engkau sama sekali tidak boleh memperlakukan mereka sebagai saudara-saudari. ... Jadi, selalu berdasarkan apa mereka hidup? Tentu saja berdasarkan falsafah Iblis; mereka selalu menggunakan kelihaian picik dan siasat licik, tidak hidup seperti orang yang memiliki kemanusiaan yang normal. Mereka tidak pernah berdoa kepada Tuhan ataupun mencari kebenaran, tetapi menangani segala sesuatu dengan menggunakan siasat manusia, taktik manusia, dan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain; oleh karena itu, kehidupan mereka melelahkan dan penuh penderitaan. Mereka berinteraksi dengan saudara-saudari dengan cara yang sama seperti mereka berinteraksi dengan orang tidak percaya. Mereka selalu mengandalkan falsafah Iblis untuk berbohong dan menipu, dan mereka suka mengadu domba dengan gosip dan meributkan hal-hal sepele. Di kelompok mana pun mereka berada, mereka selalu mengamati siapa memihak siapa, siapa bekerja sama dengan siapa. Ketika berbicara, mereka selalu membaca situasi dan bertindak hati-hati, berusaha untuk tidak menyinggung siapa pun. Mereka selalu mengikuti falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain ini untuk menangani segala sesuatu di sekitar mereka dan hubungan mereka. Akibatnya, kehidupan mereka sangat melelahkan. Meskipun mereka mungkin tampak ceria dan penuh semangat di antara orang-orang, sebenarnya, kesulitan mereka hanya diketahui oleh diri mereka sendiri. Sekadar mengamati kehidupan mereka dari dekat sudah akan membuatmu merasa lelah: Untuk hal yang berkaitan dengan ketenaran dan keuntungan atau harga diri mereka, mereka bersikeras memperdebatkan siapa yang tepat, siapa yang benar atau salah, atau siapa yang lebih unggul, dan benar-benar harus memenangkan perdebatan tersebut. Orang lain tidak ingin mendengarnya, dan berkata, 'Tidak bisakah engkau menyederhanakan saja hal ini? Bisakah engkau langsung pada intinya? Mengapa engkau harus membahas begitu banyak detail sepele dan membuatnya menjadi begitu rumit?' Cara berpikir mereka sangat rumit dan berbelit-belit, dan mereka menjalani kehidupan yang begitu melelahkan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa ada masalah dengan hidup seperti ini. Mengapa mereka tidak mampu mencari kebenaran dan menjadi orang yang jujur? Karena mereka muak akan kebenaran dan tidak ingin menjadi orang yang jujur. Jadi, berdasarkan apa mereka hidup? (Falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain dan cara-cara manusia.) Mengandalkan cara-cara manusia untuk melakukan sesuatu adalah cara termudah untuk mempermalukan diri sendiri dan terlihat konyol. Jadi, jika engkau mengamati dari dekat hal-hal yang mereka lakukan dan aktivitas yang terus-menerus mereka kerjakan, engkau akan melihat bahwa semuanya itu berkaitan dengan harga diri, ketenaran dan keuntungan, serta kesombongan mereka sendiri. Seolah-olah mereka hidup dalam jaring, terus-menerus membela diri untuk hal ini atau membenarkan diri untuk hal tersebut, berbicara hanya demi diri mereka sendiri. Pemikiran mereka rumit dan kacau balau, dan mereka terlalu banyak berbicara omong kosong. Mereka selalu terjerat dalam perselisihan tentang benar dan salah, tidak pernah melepaskannya; jika mereka tidak berjuang untuk melindungi citra mereka, mereka berjuang demi reputasi atau status—mereka selalu hidup untuk hal-hal ini. Lalu, apa akibat akhirnya? Mereka mungkin tampak telah melindungi citra mereka, tetapi semua orang menjadi muak dengan mereka dan mengetahui diri mereka yang sebenarnya, mampu dengan jelas mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kenyataan kebenaran, dan bahwa mereka bukanlah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Ketika pemimpin dan pekerja atau saudara-saudari lainnya memberi mereka beberapa perkataan pemangkasan, mereka, bagaimanapun juga, tidak bisa menerimanya; mereka terus berusaha membela dan membenarkan diri mereka sendiri, dan berusaha melemparkan tanggung jawab. Mereka bahkan berdebat, berusaha membela diri, dan menabur perselisihan dengan gosip selama pertemuan, menyebabkan keributan besar di antara umat pilihan Tuhan, sambil berpikir di dalam hatinya, 'Apakah benar-benar tidak ada tempat bagiku untuk membela diri?' Orang macam apa ini? Inikah orang yang mencintai kebenaran? Inikah orang yang percaya kepada Tuhan? Ketika mendengar siapa pun mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan cara berpikir mereka sendiri, mereka selalu menuntut penjelasan, dan terjerat dalam perselisihan tentang benar dan salah; mereka sama sekali tidak mencari kebenaran dan tidak memperlakukan hal ini berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Masalah sesederhana apa pun, mereka harus menjadikannya sangat rumit—mereka benar-benar cari masalah, mereka pantas menjadi sangat kelelahan!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Firman Tuhan mengungkapkan bahwa ada orang-orang yang suka memperdebatkan apa yang benar dan apa yang salah. Mereka tidak menerima kebenaran; sebaliknya, mereka muak akan kebenaran. Mereka tidak mencari kebenaran ketika menghadapi sesuatu, dan mereka juga tidak merenungkan atau mengenal diri mereka sendiri. Mereka selalu membela dan membenarkan diri sendiri demi martabat serta status mereka. Orang seperti itu memiliki pola pikir yang rumit dan natur yang licik. Itu bukan hanya melelahkan bagi mereka sendiri, melainkan itu juga membuat orang lain menderita dan berantipati. Orang seperti ini bukanlah saudara-saudari sejati. Aku kembali berpikir tentang Harlow. Ketika ucapan seseorang yang tidak disengaja menyinggung harga dirinya dan menyakitinya, dia akan curiga orang itu tidak menyukainya dan menjadi berprasangka terhadapnya. Lalu, dia dengan penuh kepalsuan membuka diri untuk membenarkan dan membela dirinya sendiri, atau dia berbicara tentang mengenal dirinya sendiri sebagai cara untuk mengungkit masalah orang itu. Dia selalu memperdebatkan apa yang benar dan apa yang salah. Contohnya, ketika pemimpin tim memberinya beberapa saran tentang pekerjaan, dia curiga bahwa pemimpin tim itu tidak menyukainya dan kehilangan kesabarannya. Setelah itu, di pertemuan, dengan dalih "membuka diri" dia menyebarkan pendapatnya bahwa pemimpin tim merendahkannya agar semua orang bersimpati kepadanya dan memiliki pendapat yang mengkritik pemimpin tim tersebut. Orang-orang biasanya harus sangat berhati-hati saat berinteraksi dengannya, memperhatikan raut wajahnya, mempertimbangkan harga dirinya, takut sepatah kata yang tidak pada tempatnya akan memengaruhi keadaan dirinya. Berinteraksi dengannya benar-benar membuat orang merasa sangat tertekan, dan tidak bebas. Selain itu, fakta bahwa dia selalu mudah menjadi negatif dan berpikir berlebihan telah sangat memengaruhi kemajuan pekerjaan. Sebelumnya, kupikir dia hanya sensitif dan rapuh, bahwa dia hanya cenderung cepat marah dan merajuk ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Kupikir ini adalah kekurangan dalam kemanusiaan yang normal, dan bukan merupakan gangguan atau kekacauan nyata bagi saudara-saudari atau bagi pekerjaan gereja. Namun berdasarkan fakta, aku melihat bahwa dia memang telah mengganggu kondisi saudara-saudari serta kehidupan bergereja. Dia juga telah memengaruhi kemajuan normal pekerjaan gereja. Berdasarkan perilakunya yang konsisten, dia sama sekali tidak menerima kebenaran, dan sangat licik. Dia telah menjadi gangguan bagi saudara-saudari dan sama sekali tidak berperan positif—dia adalah pengikut yang bukan orang percaya. Pada akhirnya, pemimpin mengetahui perilakunya secara umum, memberhentikan dia dari tugasnya, dan mengisolasi dirinya untuk melakukan perenungan.

Setelah itu, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang menyingkapkan watak rusak manusia. Melalui ini, aku lebih mampu untuk mengidentifikasi watak yang tersembunyi di balik perkataan Harlow. Firman Tuhan berkata: "Kelicikan biasanya dapat dilihat dari luar: Seseorang bertele-tele atau menggunakan perkataan yang muluk-muluk, dan tak seorang pun dapat membaca apa yang sedang mereka pikirkan. Itulah kelicikan. Apa karakteristik utama dari kejahatan? Karakteristik utamanya adalah kata-katanya terdengar sangat menyenangkan dan di luarnya, segalanya tampak benar. Tidak tampak adanya masalah, dan segala sesuatu terlihat baik-baik saja dari berbagai sudut. Ketika mereka melakukan sesuatu, engkau tidak melihat mereka menggunakan cara tertentu, dan secara lahiriah, tidak ada tanda-tanda kelemahan atau kekurangan, tetapi mereka tetap berhasil mencapai tujuannya. Mereka melakukan segala sesuatu dengan cara yang sangat rahasia. Beginilah cara antikristus menyesatkan orang lain. Orang-orang dan hal-hal seperti inilah yang paling sulit dikenali. Ada orang-orang yang kerap mengatakan hal-hal yang benar, menggunakan alasan-alasan yang terdengar bagus, menggunakan doktrin, ungkapan, atau tindakan tertentu yang sesuai dengan kasih sayang manusia untuk mengelabui orang lain. Mereka berpura-pura melakukan satu hal sembari melakukan hal lain untuk mencapai tujuannya yang tersembunyi. Ini adalah kejahatan, tetapi kebanyakan orang menganggapnya sebagai perilaku yang licik. Orang-orang memiliki pemahaman dan analisis yang relatif terbatas tentang kejahatan. Sebenarnya, kejahatan lebih sulit dikenali dibandingkan kelicikan karena lebih tersembunyi, cara serta tindakannya juga lebih cerdik" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, "Bab Lima: Mereka Menyesatkan, Membujuk, Mengancam, dan Mengendalikan Orang"). Firman Tuhan menyingkapkan bahwa orang-orang yang memiliki watak jahat akan mengatakan beberapa hal yang terdengar baik dan benar, yang terdengar menyenangkan, tetapi di balik itu, terdapat motif tersembunyi yang tidak dapat dengan mudah diidentifikasi. Mau tak mau, aku memikirkan perilaku Harlow. Dia selalu senang membicarakan keadaannya kepada orang lain agar mereka menganggapnya sangat berfokus pada jalan masuk kehidupan, dan menganggapnya mencari serta mengejar kebenaran. Padahal sebenarnya, dia sengaja menciptakan penampilan rohani yang palsu ini untuk menipu orang lain agar bersikap baik kepadanya dan memandang tinggi dirinya. Dia bertindak seolah-olah sedang menceritakan keadaan dirinya, tetapi sebenarnya dia sedang mengomel, ingin dihibur, melampiaskan ketidakpuasannya, dan memenangkan hati orang lain agar mereka bersimpati kepadanya. Dia bahkan menyita waktu orang-orang yang sedang melaksanakan tugas mereka. Namun pada waktu itu, aku tidak mampu mengetahui motifnya yang sebenarnya atau belum mampu mengidentifikasi esensi dirinya termasuk jenis orang seperti apa dia sebenarnya. Aku malah selalu bersekutu dengannya dengan baik, menolong dan mendukungnya. Aku menolongnya dengan penuh semangat setiap kali melihat dia sedang mengalami kesulitan dalam hidupnya, dan aku mempertimbangkan dirinya terlebih dahulu untuk apa pun yang bermanfaat. Akhirnya, sekarang aku melihat dari penyingkapan firman Tuhan bahwa dia memiliki natur yang jahat, bahwa dia menyesatkan, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatannya, dan bahwa dia sedang mengelabui serta menipu semua orang.

Aku merenungkan diriku setelah itu. Mengapa aku tidak mampu mengidentifikasi Harlow? Saat merenungkannya, aku melihat perspektifku yang salah. Aku menganggap kemampuannya untuk membicarakan keadaan dirinya sebagai sikap yang sederhana dan terbuka, menganggapnya menerapkan kebenaran, dan aku tidak memperhatikan untuk membedakan perkataannya. Hanya melalui firman Tuhan, barulah aku mengerti apa sebenarnya yang dimaksud dengan bersikap sederhana dan terbuka. Firman Tuhan berkata: "Kejujuran berarti memberikan hatimu kepada Tuhan, tidak bersikap palsu terhadap Tuhan dalam hal apa pun, terbuka kepada-Nya dalam segala hal, tidak pernah menyembunyikan fakta, tidak berusaha menipu orang-orang di atasmu dan menyembunyikan sesuatu dari orang-orang di bawahmu, dan tidak melakukan sesuatu hanya demi menjilat Tuhan. Singkatnya, jujur berarti murni dalam tindakan dan perkataanmu, dan tidak menipu Tuhan maupun manusia. ... Jika kata-katamu dipenuhi dengan alasan dan pembenaran diri yang tidak ada nilainya, Aku berkata bahwa engkau adalah orang yang enggan menerapkan kebenaran. Jika engkau memiliki banyak hal pribadi yang sulit untuk kaubicarakan, jika engkau sangat enggan untuk menyingkapkan rahasiamu—kesulitan-kesulitanmu—di depan orang lain untuk mencari jalan terang, Aku berkata bahwa engkau adalah orang yang akan sangat sulit untuk memperoleh keselamatan, dan yang akan sulit keluar dari kegelapan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tiga Peringatan"). Aku melihat dari firman Tuhan bahwa bersikap sederhana dan terbuka pada dasarnya berarti membuka diri dalam persekutuan ketika menghadapi masalah atau kesulitan, atau ketika memperlihatkan kerusakan, tidak menyamarkan diri sendiri atau tidak menyembunyikan fakta apa pun. Membuka diri pada dasarnya berarti mencari kebenaran agar dapat dengan cepat menyelesaikan masalah dan kesulitan. Dengan membuka diri dan membiarkan orang lain melihat esensi dari kerusakan mereka, saudara-saudari dapat saling mencurahkan isi hati mereka yang sebenarnya. Membuka diri dengan cara seperti ini mendidik kerohanian dan bermanfaat. Bersikap sederhana dan terbuka terutama tergantung pada niat dan motif seseorang, serta hasil yang dicapai. Jika mereka berbicara tentang prasangka, masalah-masalah kecil rumah tangga, dan gosip, tanpa benar-benar merenungkan atau mengenal diri sendiri, mereka tidak benar-benar bersikap sederhana dan terbuka. Mereka hanya sedang melampiaskan apa yang tidak mereka sukai dan secara diam-diam mengkritik orang lain atas masalah mereka. Membuka diri seperti itu tidak mendidik kerohanian orang atau tidak membantu orang. Ada orang-orang yang bahkan bertindak seolah-olah membuka diri, berpura-pura bahwa mereka adalah orang jujur yang menerima kebenaran, agar orang lain menghormati mereka. Dengan membuka diri seperti itu, mereka sedang meninggikan diri dan pamer secara terselubung; mereka sedang menyesatkan orang-orang. Mengenai bagaimana Harlow membuka diri tentang pengenalan akan dirinya sendiri, yang paling banyak dibicarakannya adalah kecurigaannya yang tidak berdasar kepada orang lain, serta pemikiran dan ide-ide yang dia ungkapkan. Dia tidak pernah berbicara tentang watak-watak rusaknya, niat atau motif tersembunyi yang dimilikinya. Dia tidak membuka diri untuk mencari kebenaran dan membereskan kerusakannya, tetapi untuk mencurahkan keluhannya sehingga orang-orang akan kasihan kepadanya, menghiburnya, dan bersimpati terhadapnya. Dia juga selalu menggunakan cara itu untuk membenarkan dan membela dirinya agar tidak disalahpahami. Dengan demikian, dia dapat melindungi citra dirinya di mata orang lain. Keterbukaannya tidak membereskan watak rusaknya, dan itu sama sekali tidak mendidik kerohanian saudara-saudari ataupun bermanfaat bagi mereka. Jadi, dia tidak sedang bersikap sederhana dan terbuka; dia sedang memainkan trik dan bersikap licik. Aku memperoleh kejelasan di dalam hatiku setelah menyadari hal ini. Aku melihat dengan jelas bahwa Harlow bukanlah orang yang mengejar kebenaran, dan dia tidak bersikap sederhana dan terbuka. Dia sebenarnya sangat licik dan jahat.

Aku merenungkan diriku setelah itu. Aku telah berinteraksi dengan Harlow selama hampir setahun dan biasanya dapat menyadari beberapa masalah yang ada pada dirinya. Lalu, mengapa aku baru bisa sedikit mengidentifikasi dirinya sampai sekarang? Saat merenungkannya, aku sadar bahwa aku tidak melihat orang dan peristiwa berdasarkan firman Tuhan. Sebaliknya, aku melihat penampilan luar orang-orang melalui gagasan dan imajinasiku sendiri. Aku memandang keterbukaannya yang dangkal dan keinginannya untuk menceritakan keadaannya kepada orang lain sebagai kecintaan dan pencariannya akan kebenaran. Aku tidak melihat motifnya dalam segala sesuatu, atau apa yang benar-benar telah dicapainya. Aku juga tidak melihat cara dan pendekatannya yang konsisten dalam berbicara dan bertindak, dan aku tidak mengidentifikasi segala sesuatunya berdasarkan firman Tuhan. Oleh karena itu, aku tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang esensi dirinya atau tidak mampu mengidentifikasi dirinya dan bahkan memperlakukannya seperti saudari, selalu memberinya kelonggaran, menolong, dan mendukungnya dengan kasih. Aku sangat bodoh! Melalui pengalaman ini, aku mengerti bahwa mengidentifikasi apakah seseorang benar-benar mencintai dan mengejar kebenaran bukanlah dengan melihat seberapa banyak mereka suka mencari orang untuk bersekutu atau seberapa baik mereka berbicara tentang pengenalan diri mereka. Sebaliknya, lihatlah apakah mereka mampu mencari kebenaran dan menerapkan firman Tuhan ketika menghadapi sesuatu, dan apakah mereka memiliki jalan masuk yang nyata dan kemudian berubah. Aku juga menyadari betapa pentingnya mengidentifikasi esensi seseorang berdasarkan firman Tuhan. Kita akan disesatkan jika tidak mampu mengidentifikasi berbagai macam orang. Kita akan mengasihi orang secara membabi buta, serta menolong dan mendukung orang yang tidak tepat sebagai saudara-saudari. Hal ini pada akhirnya akan mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Hanya melihat orang dan hal-hal berdasarkan firman Tuhan sajalah yang akurat; ini adalah satu-satunya cara untuk mengidentifikasi berbagai macam orang, dan satu-satunya cara untuk memperlakukan orang serta berinteraksi dengan orang lain dengan semestinya. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Beban Adalah Berkat Tuhan

Oleh Saudari Yong Sui, Korea Dalam pemilihan di gereja belum lama ini, aku terpilih sebagai pemimpin. Aku terkejut saat mendengar ini dan...

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp