Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Cara Bertobat dan Tidak Berbuat Dosa Lagi: Aku Menemukan Jalan

9026

Oleh Saudari Meng'ai, Taiwan

Catatan Editor: Saudari Meng'ai adalah orang Kristen generasi ketiga yang telah secara konsisten melayani di dalam gereja, tetapi dalam beberapa tahun terakhir dia mendapati bahwa walaupun iman dan pelayanannya teguh bagi Tuhan, dia masih terkungkung oleh ikatan dosa sampai pada titik di mana dia bahkan tidak mampu bersikap toleran atau mengampuni suaminya sendiri. Ketika dia membaca firman Tuhan yang mengatakan, "Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus" (Imamat 11:44), dia menyadari bahwa jika dia terus berbuat dosa, dia tidak akan memenuhi syarat untuk melihat wajah Tuhan. Ini benar-benar menyusahkan baginya. Namun, sekarang dia telah menemukan jalan untuk dibebaskan dari dosa, dan hubungannya dengan suaminya juga menjadi harmonis. Bagaimana Meng'ai menemukan jalan menuju kebebasan dari dosa? Marilah kita membaca pengalamannya.

Isi

Hidup dalam Dosa, dalam Penderitaan yang Mengerikan

Pendeta Tidak Dapat Menjawab Pertanyaan tentang Berbuat Dosa

Di mana Manusia Berakhir, Tuhan Memulai: Menemukan Akar Dosa

Penghakiman Tuhan Adalah Satu-Satunya Jalan Kita menuju Kebebasan Dari Dosa

Keharmonisan di Rumah Setelah Menerapkan Firman Tuhan

Hidup dalam Dosa, dalam Penderitaan yang Mengerikan

Aku sudah pergi ke gereja sejak aku masih kanak-kanak dan aku selalu senang bersekutu membahas firman Tuhan dengan saudara-saudari. Setelah menikah, aku dan suamiku masih menomorsatukan pekerjaan gereja, dan kami terlibat secara aktif dalam pelayanan untuk gereja, dalam hal-hal besar dan kecil.

Namun seiring berjalannya waktu aku mendapati bahwa saudara-saudariku semuanya sedang hidup dalam dosa dan tidak mampu menaati ajaran Tuhan. Contohnya, khotbah para pendeta sama sekali tidak mengandung terang, ditambah lagi mereka selalu berusaha membuat kami memberikan persembahan, dan kepedulian mereka terhadap uang jauh lebih besar daripada kepedulian mereka terhadap kehidupan kami; para pendeta dan penatua terus-menerus bertikai dan bertengkar demi status dan keuntungan pribadi mereka; saudara-saudari semakin jarang menghadiri ibadah di gereja, dan bahkan jika mereka datang, beberapa dari mereka hanya akan mengobrol atau membahas tentang hiburan, dan beberapa bahkan tertidur selama khotbah disampaikan. Begitulah cara mereka menghilangkan stres dari pekerjaan.

Aku sendiri juga tidak dapat merasakan bimbingan Tuhan; pergi bekerja dan terlibat dalam pelayanan bagi gereja selalu sangat melelahkan. Yang benar-benar menyiksa hatiku adalah aku hidup dalam lingkaran setan dari berbuat dosa dan kemudian mengaku dosa; setiap kali aku melihat suamiku pulang ke rumah dan disibukkan dengan gim daring dan mengabaikan hal-hal yang seharusnya dia kerjakan, aku tidak mampu menahan amarahku dan menyuruhnya melakukan ini atau itu dengan nada angkuh. Ketika aku melihat bahwa dia tampaknya tidak menghargai keberadaanku dan tidak menanggapi apa yang kukatakan dengan serius, aku menjadi semakin marah dan akan berteriak kepadanya dengan sangat kasar. Bahkan ada saat-saat ketika aku melihatnya mengerjakan sesuatu dengan sangat lamban dan aku tidak mampu bersikap toleran atau sabar terhadapnya, tetapi akan mengeluh tentang betapa tidak efisiennya dia mengerjakan segala sesuatu. Karena alasan ini, suamiku sering menegurku karena menjadi seorang percaya selama bertahun-tahun tetapi tidak mengalami perubahan apa pun.

Menghadapi penolakan suamiku, aku merasa bersalah dan aku merenungkan firman dari Tuhan Yesus ini: "Dan mengapa engkau melihat noda kecil di mata saudaramu, padahal engkau tidak tahu ada balok di matamu sendiri? Atau bagaimana engkau akan berkata kepada saudaramu: mari kukeluarkan noda kecil itu dari matamu, padahal engkau tidak melihat balok di matamu sendiri" (Matius 7:3–4). Tuhan mengajar kita untuk tidak selalu melihat kesalahan dan kekurangan orang lain, tetapi melihat lebih saksama ke dalam kekurangan kita sendiri. Namun setiap kali suamiku mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak kusukai, aku tidak mampu bersikap toleran terhadapnya, ditambah lagi aku akan sering kehilangan kesabaranku dan mengeluh tentang dia; ini menciptakan keretakan di antara kami. Memikirkan hal ini sangat menyakitkan bagiku. Tuhan berkata, "Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus" (Imamat 11:44). Tuhan itu kudus dan mereka yang tidak kudus tidak bisa melihat Tuhan. Namun, aku terus-menerus berbuat dosa dan tidak mampu menaati ajaran Tuhan. Bisakah orang berdosa sepertiku masuk ke dalam kerajaan surga? Aku terus-menerus merenungkan pertanyaan ini dan aku merasa sangat resah.

Dalam penderitaanku, aku berseru kepada Tuhan. "Ya Tuhan, aku tidak mau berbuat dosa, tetapi aku benar-benar tidak mampu mengendalikan diriku. Hidup dalam dosa benar-benar menyakitkan bagiku, tetapi aku tidak tahu cara melepaskan diri darinya. Tuhan, apa yang dapat kulakukan? Jika aku terus seperti ini, bukankah Engkau akan menyingkirkanku?"

Pendeta Tidak Dapat Menjawab Pertanyaan tentang Berbuat Dosa

Dalam penderitaan dan ketidakberdayaanku, aku meminta pertolongan kepada pendeta untuk mengejar jawaban atas pertanyaan ini, tetapi dia berkata, "Jangan khawatir. Meskipun sekarang kita banyak berbuat dosa, Tuhan Yesus telah mengampuni semua dosa kita, jadi setiap saat, yang perlu kita lakukan adalah berdoa dan mengaku dosa kepada Tuhan, saat Dia datang kembali, kita akan dapat memasuki kerajaan surga. Engkau sedang mengalami kesulitan dengan suamimu dan merasa bahwa dia memiliki terlalu banyak kesalahan—kita harus menerapkan lebih banyak toleransi dan kesabaran …." Jawaban pendeta itu sulit untuk kuterima. Jika kita tidak mampu menaati ajaran Tuhan dan terus-menerus berbuat dosa, dapatkah kita benar-benar memasuki kerajaan surga ketika Dia datang kembali? Aku kemudian membaca ayat-ayat Alkitab ini: "Usahakankah hidup damai dengan semua orang dan dalam kekudusan, karena tanpa kekudusan, tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan" (Ibrani 12:14). "Karena jika kita dengan sengaja berbuat dosa setelah menerima pengetahuan kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu" (Ibrani 10:26). Aku mengerti kehendak Tuhan dari dua ayat ini—semua orang yang memiliki natur berdosa tidak dapat memperoleh perkenanan Tuhan dan mereka sama sekali tidak layak untuk melihat wajah-Nya. Jika seseorang tahu bahwa sesuatu adalah dosa tetapi tetap melakukannya dengan sengaja, maka tidak akan ada korban untuk dosa. Berdasarkan apa yang dikatakan pendeta itu, dapatkah mereka yang sering berbuat dosa, yang mengkhianati Tuhan dan teman-teman mereka, mencuri persembahan, terlibat dalam percabulan, berkata bohong dan menipu, serta mengejar tren-tren jahat hanya berdoa dan mengaku kepada Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan surga? Keraguan ini tidak pernah meninggalkanku.

Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membebaskan diriku dari dosa, tetapi untuk memperbaiki hubunganku dengan suamiku, aku mencoba mengikuti apa yang dikatakan pendeta itu tentang bersikap toleran dan sabar, tetapi tidak ada yang berubah di antara kami. Dalam penderitaanku, aku sekali lagi meminta pertolongan pendeta itu, tetapi dia hanya menggelengkan kepalanya dalam kefrustrasian dan berkata, "Aku tidak punya solusi yang baik untuk masalah selalu berbuat dosa dan mengaku dosa. Alkitab berkata 'Karena aku tahu, bahwa di dalam aku (yaitu, di dalam dagingku), tidak ada hal yang baik, karena dalam diriku ada kehendak; tetapi aku tidak mendapati cara berbuat apa yang baik. Karena apa yang baik yang aku mau tidak aku lakukan: tetapi yang jahat yang aku tidak mau, itu yang aku lakukan' (Roma 7:18–19). Kita tidak mampu untuk tidak berbuat dosa, jadi bertobat saja dan mengaku dosa kepada Tuhan lebih sering dan aku juga akan berdoa untukmu." Mendengar dia mengatakan ini, aku benar-benar kehilangan harapan. Yang bisa kulakukan adalah berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk membimbingku ke jalan kebebasan dari dosa.

Di mana Manusia Berakhir, Tuhan Memulai: Menemukan Akar Dosa

Aku bertemu Saudari Susan secara daring pada 28 Mei 2018. Kami sering saling mempersekutukan ayat-ayat Alkitab dan dia memiliki wawasan yang sangat unik tentang Alkitab. Persekutuannya penuh dengan terang dan dia dapat menjelaskan akar ketandusan gereja. Itu adalah sesuatu yang belum pernah kudengar di dalam gereja. Kemudian aku menyampaikan pertanyaan yang telah membingungkanku selama bertahun-tahun kepada Saudari Susan. "Saudari, aku telah menjadi orang percaya selama beberapa tahun, tetapi aku masih selalu hidup dalam dosa. Aku bahkan tidak mampu menerapkan kesabaran dan toleransi. Alkitab berkata, "Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus" (Imamat 11:44). "Karena jika kita dengan sengaja berbuat dosa setelah menerima pengetahuan kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu" (Ibrani 10:26). Tuhan itu kudus, jadi bisakah orang-orang seperti kami yang selalu hidup dalam dosa dan belum ditahirkan memasuki kerajaan surga? Aku telah bertanya kepada pendeta tentang hal ini, tetapi dia hanya mengatakan bahwa meskipun kita sering berbuat dosa, Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita dan asalkan kita mengaku dan bertobat kepada Tuhan, ketika Dia datang, Dia akan membawa kita ke dalam kerajaan surga. Aku memiliki keraguan tentang hal ini. Saudari Susan, dapatkah engkau memberitahuku apa pendapatmu tentang ini?"

Saudari Susan membagikan persekutuan ini denganku: "Pertanyaan yang engkau ajukan ini adalah pertanyaan yang sangat penting dan secara langsung berkaitan dengan masalah kritis tentang kita yang diselamatkan sepenuhnya dan memasuki kerajaan surga. Para pendeta dan penatua di dunia keagamaan umumnya percaya bahwa Tuhan Yesus disalibkan untuk menebus semua dosa kita, jadi asalkan kita sering berdoa dan mengaku dosa kepada-Nya, ketika Dia datang, kita akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga seperti yang diharapkan. Namun, apakah pemahaman ini selaras dengan kebenaran? Sebagai orang yang percaya di dalam Tuhan, dosa-dosa kita telah diampuni, tetapi apakah ini berarti ketika Dia datang kita akan dapat langsung memasuki kerajaan surga? Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan bahwa kita dapat memasuki kerajaan surga hanya karena dosa-dosa kita telah diampuni. Sebaliknya, Dia memberi tahu kita: 'Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, siapa saja yang melakukan dosa adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tinggal di rumah selamanya: tetapi Anak tetap tinggal selama-selamanya' (Yohanes 8:34–35). Dan Tuhan Yahweh dengan jelas memberi tahu kita 'Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus' (Imamat 11:44). Tuhan itu adil dan kudus serta membenci segala hal yang kotor; Dia sama sekali tidak akan membawa orang yang sering berbuat dosa dan menentang Dia, yang benar-benar dinodai, masuk ke dalam kerajaan surga. Hanya jika kita sepenuhnya menyingkirkan kerusakan kita dan ditahirkan, dan menjadi orang yang benar-benar menyembah, tunduk kepada Tuhan, dan mengasihi Dia, barulah dapat memenuhi syarat untuk masuk ke dalam kerajaan Tuhan." Persekutuan ini sangat selaras denganku. Aku berpikir, "Benar. Bagaimana mungkin kita bisa masuk ke dalam kerajaan surga dalam keadaan yang kotor? Bagaimana mungkin kebenaran dan kekudusan Tuhan dimanifestasikan dengan cara itu?"

Saudari Susan melanjutkan dengan membagikan persekutuan ini: "Meskipun kita biasanya menaikkan doa dan pengakuan yang tulus kepada Tuhan dan melakukan yang terbaik untuk melakukan ajaran-Nya, seberapa keras pun kita berusaha, kita tetap tidak mampu lepas dari belenggu dosa. Kita hidup dalam lingkaran setan dari berbuat dosa di siang hari dan mengaku dosa di malam hari sehingga kita tidak mampu melepaskan diri darinya. Apa yang sedang terjadi di sini? Membaca beberapa bagian firman akan menjelaskan masalah ini untuk kita." Saudari Susan membuka sebuah buku dan membacakan dengan suara keras: "Meskipun manusia telah ditebus dan diampuni dosanya, itu hanya dapat dianggap bahwa Tuhan tidak lagi mengingat pelanggaran manusia dan tidak memperlakukan manusia sesuai dengan pelanggarannya. Namun, ketika manusia hidup dalam daging dan belum dibebaskan dari dosa, ia hanya bisa terus berbuat dosa, tanpa henti menyingkapkan watak rusak Iblis dalam dirinya. Inilah kehidupan yang manusia jalani, siklus tanpa henti berbuat dosa dan meminta pengampunan. Mayoritas manusia berbuat dosa di siang hari lalu mengakui dosa di malam hari. Dengan demikian, sekalipun korban penghapus dosa selamanya efektif bagi manusia, itu tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Hanya separuh dari pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan, karena watak manusia masih rusak" ("Misteri Inkarnasi (4)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Dosa manusia diampuni karena pekerjaan penyaliban Tuhan, tetapi manusia tetap hidup dalam watak lama Iblis yang rusak. Dengan demikian, manusia harus sepenuhnya diselamatkan dari watak rusak Iblis sehingga sifat dosa manusia sepenuhnya dibuang dan tidak akan pernah lagi berkembang, sehingga memungkinkan watak manusia berubah. Hal ini mengharuskan manusia memahami jalan pertumbuhan dalam kehidupan, jalan hidup, dan cara untuk mengubah wataknya. Hal ini juga mengharuskan manusia untuk bertindak sesuai dengan jalan ini sehingga watak manusia dapat secara bertahap diubahkan dan ia dapat hidup di bawah cahaya terang, sehingga segala sesuatu yang ia lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan, sehingga ia dapat membuang watak rusak Iblisnya, dan supaya dia dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kegelapan Iblis, sehingga ia pun benar-benar lepas dari dosa. Hanya dengan begitu, manusia akan menerima keselamatan yang lengkap" ("Misteri Inkarnasi (4)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Setelah membacakan firman ini, Saudari Susan melanjutkan dengan persekutuannya: "Sekarang setelah kita membaca dua bagian ini, bukankah alasan kita tidak pernah mampu melepaskan diri dari kungkungan belenggu dosa menjadi sedikit lebih jelas? Ini terutama karena kita telah sangat dirusak oleh Iblis, jadi meskipun kita telah ditebus oleh Tuhan Yesus, natur jahat kita yang membuat kita berbuat dosa masih berakar dengan kuat. Itulah sebabnya kita tidak mampu untuk tidak sering berbuat dosa dan menentang Tuhan. Kita semua tahu bahwa Tuhan Yesus menjadi manusia di Zaman Kasih Karunia dan telah melakukan tahap pekerjaan penebusan, menyelamatkan umat manusia dari dosa dan membuat kita terlepas dari penghukuman dan aturan-aturan hukum Taurat—dengan demikian kita dapat menjadi memenuhi syarat untuk datang ke hadapan Tuhan. Tuhan Yesus telah mengampuni dosa-dosa kita, tetapi Dia tidak menebus kita dari watak jahat kita seperti kecongkakan, keegoisan, kecurangan, dan kejahatan. Kita masih hidup dalam lingkaran setan dari berbuat dosa dan mengaku dosa, dan kita tidak dapat menemukan pembebasan. Contohnya, natur kita sangat penuh tipu daya, curang, egois, dan tercela, dan apa pun yang kita lakukan, kita melakukannya demi keuntungan kita sendiri. Dalam interaksi kita dengan orang lain, kita tidak mampu untuk tidak berkata bohong dan bersikap menipu untuk melindungi kepentingan, status, dan reputasi kita sendiri. Kita tidak mampu memenuhi apa yang dituntut Tuhan: menjadi sederhana dan jujur seperti anak kecil. Natur kita sangat congkak, dan dalam segala sesuatu yang kita hadapi, kita selalu ingin orang lain bertindak sesuai dengan keinginan kita sendiri. Segera setelah seseorang melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan kita, kita kehilangan kesabaran, memarahi dan mengendalikan mereka. Selain itu, meskipun kita percaya kepada Tuhan, kita tidak fokus dalam melakukan firman atau tuntutan-Nya. Sebaliknya, kita lebih suka mengikuti tren jahat dunia ini; kita mengejar kenyamanan dan kesenangan daging seperti uang, reputasi, dan status seperti yang dilakukan orang yang tidak percaya. Daftarnya terus berlanjut. Watak jahat kita benar-benar mengakar sangat dalam, jadi kita tidak mampu untuk tidak melanggar ajaran Tuhan, dan meskipun kita sangat sering mengaku dosa, natur alami kita masih bertentangan dengan Tuhan—kita tetap tidak bisa masuk ke dalam kerajaan surga. Tuhan sedang mengungkapkan lebih banyak kebenaran pada akhir zaman sehingga Dia dapat sepenuhnya menyelamatkan kita dari dosa; Dia menghakimi watak kita yang rusak untuk menyingkirkan motif dan percampuran kita yang salah untuk sepenuhnya mentahirkan dan mengubah kita. Hanya dengan menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman dan mendapatkan kebenaran yang Dia ungkapkan barulah kita mampu sepenuhnya membuang watak kita yang rusak dan memenuhi syarat untuk masuk ke dalam kerajaan Tuhan."

Setelah mendengar apa yang dibacakan Saudari Susan dan persekutuannya, aku mengerti bahwa penyebab aku tidak mampu menahan amarahku ketika suamiku melakukan sesuatu yang tidak kusukai, betapa pun kerasnya aku telah berusaha menahan diriku, adalah karena natur berdosaku. Tuhan Yesus melakukan pekerjaan penebusan dan itu hanya untuk mengampuni dosa-dosa kita, tetapi Dia tidak membebaskan kita dari natur kita yang berdosa. Kita masih dikendalikan oleh dosa, jadi kita sering berbuat dosa dan menentang Tuhan; kita tidak bisa sesuai dengan Tuhan sehingga kita masih tidak layak memasuki kerajaan-Nya. Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk menyingkirkan dosa kita? Ketika aku menyadari ini, aku menyampaikan kebingunganku kepadanya.

Penghakiman Tuhan Adalah Satu-Satunya Jalan Kita menuju Kebebasan Dari Dosa

Mendengar pertanyaanku, Saudari Susan tersenyum dan mempersekutukan lebih lagi. "Sebenarnya, ini adalah sesuatu yang telah dinubuatkan di Alkitab sejak lama. Tuhan Yesus berkata: 'Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu' (Yohanes 16: 12–13). 'Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya: firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya pada akhir zaman' (Yohanes 12:48). Dalam 1 Petrus 4:17 dikatakan, 'Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan,' dan kemudian dalam 1 Petrus 1:5 tertulis, 'Yang dijaga oleh kuasa Tuhan oleh iman kepada keselamatan yang siap untuk dinyatakan pada akhir zaman.' Ayat-ayat Alkitab ini menunjukkan kepada kita bahwa setelah menerima keselamatan Tuhan Yesus, meskipun kita telah dibebaskan dari penghukuman dan ikatan hukum Taurat, dan kita dapat datang ke hadapan Tuhan untuk mengaku dosa dan bertobat kapan saja, tingkat pertumbuhan kita masih terlalu kecil. Jika Tuhan telah memberikan kepada kita semua kebenaran untuk mengubah watak kita sehingga kita dapat ditahirkan dan diselamatkan sepenuhnya oleh Tuhan pada saat Tuhan Yesus sedang bekerja, kita tidak akan sepenuhnya mampu menerima atau memahaminya. Inilah sebabnya Tuhan telah mengungkapkan semua kebenaran pada akhir zaman sehingga kita dapat mengalami perubahan watak dan diselamatkan sepenuhnya, dan mengapa Dia sedang melakukan tahap penghakiman yang dimulai dari rumah Tuhan untuk menghakimi dan mentahirkan watak jahat kita sehingga kita bisa sepenuhnya didapatkan oleh Tuhan dan pada akhirnya dibawa masuk ke dalam kerajaan-Nya."

Saudari Susan kemudian berkata dengan antusias, "Saudari, kebenarannya adalah Tuhan Yesus, yang telah kita nantikan, telah datang kembali. Dia adalah Kristus akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa, dan Dia telah menampakkan diri dan sedang bekerja di antara kita. Dia telah datang untuk menghakimi dan mentahirkan watak kita yang rusak, dan pada akhirnya membuat kita menjadi orang yang benar-benar menaati dan mengasihi Tuhan untuk membawa kita ke dalam kerajaan Tuhan. Jika kita hanya menerima pekerjaan penebusan Tuhan Yesus tetapi tidak mengikuti pekerjaan penghakiman Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, kita tidak akan pernah terbebas dari ikatan dosa dan tidak akan mampu mencapai perubahan watak. Dan terlebih lagi, kita tidak akan memenuhi syarat untuk memasuki kerajaan Tuhan."

Persekutuan Saudari Susan sangat masuk akal dan aku setuju sepenuhnya. Ketika aku mendengar dia berkata bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali dan sedang melakukan pekerjaan menghakimi dan mentahirkan umat manusia, aku merasa sangat gembira. Pada saat yang sama, aku menyadari bahwa aku dan suamiku sedang hidup dalam dosa karena kami belum menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman, melainkan aku terus mencari pendeta dengan berpikir bahwa dia telah percaya kepada Tuhan untuk waktu lama, jadi pasti memiliki pemahaman yang lebih banyak, jadi dia seharusnya mampu menyelesaikan masalahku. Namun yang mengejutkanku, pendeta itu sendiri sedang hidup dalam dosa, jadi bagaimana mungkin dia bisa mempersekutukan jalan menuju kebebasan dari dosa kepadaku? Aku sangat bodoh! Hanya Kristuslah jalan, kebenaran, dan hidup, dan hanya Tuhan yang bisa menunjukkan jalan dan arah kepada kita. Saat aku merenungkan hal ini, aku merasa seperti baru saja memegang sebuah tali penyelamat—aku melimpah dengan sukacita dan sangat bersyukur bahwa Tuhan tidak menyingkirkanku. Akhirnya aku mampu melepaskan diri dari belenggu dosa dan melepaskan diri dari kehidupan yang begitu menyakitkan! Aku segera bertanya kepada Saudari Susan bagaimana Tuhan Yang Mahakuasa melakukan pekerjaan penghakiman-Nya pada akhir zaman.

Dia kemudian membaca bagian lain dari firman Tuhan Yang Mahakuasa untukku. "Di akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan hakikat manusia, dan membedah kata-kata dan perbuatan-perbuatannya. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia harus menaati Tuhan, bagaimana setia kepada Tuhan, bagaimana hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan lain-lain. Firman ini semuanya ditujukan pada hakikat manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan karena manusia merupakan perwujudan Iblis dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan bukannya begitu saja menjelaskan tentang sifat manusia hanya dengan beberapa kata. Dia menyingkapkannya, menanganinya, dan memangkasnya sekian lama. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan kata-kata biasa, tetapi dengan kebenaran yang tidak dimiliki oleh manusia sama sekali. Hanya cara-cara seperti ini yang dianggap penghakiman, hanya melalui penghakiman jenis ini manusia bisa ditundukkan dan diyakinkan sepenuhnya untuk tunduk kepada Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan. Tujuan pekerjaan penghakiman agar manusia mengetahui wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkan manusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami manusia. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua hasil ini dicapai melalui pekerjaan penghakiman, karena substansi pekerjaan ini adalah pekerjaan membukakan kebenaran, jalan, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan" ("Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Setelah membaca ini, Saudari Susan melanjutkan persekutuannya. "Pada akhir zaman, Tuhan telah mengungkapkan berbagai aspek kebenaran sesuai dengan kebutuhan umat manusia yang rusak, menyingkapkan serta membedah natur dan watak jahat kita. Dia juga telah mengungkapkan watak Tuhan sendiri sehingga kita dapat memahaminya, dan Dia menunjukkan jalan untuk membebaskan diri kita dari segala macam watak yang rusak dan memperoleh keselamatan penuh. Melalui penghakiman dan hajaran firman Tuhan, kita secara perlahan-lahan dapat memperoleh pemahaman yang benar tentang natur kita yang rusak dan kebenaran tentang cara kita telah dirusak oleh Iblis. Kita memahami betapa dalamnya kita telah dirusak oleh Iblis dan bahwa kita penuh dengan kecongkakan, penipuan. penuh tipu daya, egois, dan watak jahat yang tercela tanpa sedikit pun keserupaan dengan manusia. Meskipun kita percaya kepada Tuhan dan mengorbankan diri kita untuk-Nya, kita selalu memikirkan tentang anugerah dan berkat yang bisa kita dapatkan dari-Nya tanpa hati nurani atau nalar apa pun yang seharusnya dimiliki manusia. Ketika pekerjaan Tuhan tidak sejalan dengan gagasan kita, ketika masalah menimpa keluarga kita atau hal-hal lain yang tidak diinginkan terjadi, kita membangun gagasan tentang Tuhan dan menghakimi pekerjaan-Nya. Kita sama sekali tidak memiliki rasa hormat kepada Tuhan. Melalui penyingkapan kebenaran, kita membangun rasa yang benar-benar jijik terhadap natur jahat kita sendiri sementara juga mendapatkan beberapa pemahaman yang benar tentang watak Tuhan yang benar dan esensi kudus-Nya. Kita juga tahu bahwa kita harus berusaha menjadi orang yang jujur, bekerja tanpa pamrih, dan mengorbankan diri kita untuk Tuhan, dan bahwa kita harus berdiri dalam posisi sebagai makhluk ciptaan, tunduk kepada Tuhan dan menaati pengaturan-Nya apakah pekerjaan dan firman-Nya sejalan atau tidak dengan gagasan kita. Kemudian dengan berjalannya waktu, kita mendapatkan semakin banyak pemahaman tentang watak Tuhan, dan kita mendapatkan semakin banyak kejelasan tentang kerusakan, kekurangan kita sendiri, dan jalan penerapan yang harus kita masuki. Kemudian hati yang hormat kepada Tuhan secara perlahan-lahan tumbuh di dalam diri kita dan kita mulai menganggap penting untuk bertobat, mencari kebenaran, dan secara sadar meninggalkan daging dan melakukan kebenaran. Dengan selalu mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhan, dan melakukan serta masuk ke dalam firman-Nya, watak kita yang rusak akan berubah sampai pada tingkat yang berbeda-beda dan kita akan mendapatkan rasa hormat dan ketaatan yang tulus kepada Tuhan—kita akan mulai memiliki sedikit keserupaan dengan manusia. Semua saudara-saudari yang telah mengalami beberapa tahun pekerjaan penghakiman Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman telah mengetahui bahwa kita, manusia yang rusak, harus menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman jika kita ingin ditahirkan. Ini adalah satu-satunya jalan kita menuju kebebasan dari dosa dan diselamatkan sepenuhnya oleh Tuhan dalam iman kita! "

Syukur kepada Tuhan! Setelah mendengar firman Tuhan Yang Mahakuasa dan persekutuan Saudari Susan, hatiku benar-benar terang. Aku memahami bahwa Tuhan mengucapkan firman untuk menghakimi kerusakan kita sehingga kita dapat memahami watak rusak kita sendiri—itu sangat praktis! Aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tetapi tidak pernah mampu lepas dari ikatan dosa; aku telah hidup dalam begitu banyak penderitaan, tetapi aku akhirnya menemukan sebuah jalan! Aku datang ke hadapan Tuhan dan menaikkan doa yang tulus kepada-Nya, bersedia fokus untuk mengalami penghakiman firman-Nya dalam hidupku sejak saat itu sehingga watakku yang rusak dapat ditahirkan dan diubahkan suatu hari nanti.

Pada hari-hari selanjutnya, aku membaca firman yang diungkapkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa, ditambah menonton film-film Injil dan mendengarkan nyanyian pujian oleh Gereja Tuhan Yang Mahakuasa setiap hari di aplikasi Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Aku juga mulai menghadiri pertemuan secara teratur dengan saudara-saudari lainnya, saling mempersekutukan firman Tuhan Yang Mahakuasa. Aku dapat merasakan tuntunan Roh Kudus—aku mengalami banyak kenikmatan rohani. Dengan membaca firman Tuhan, aku mengerti cara Iblis merusak umat manusia, cara Tuhan bekerja untuk menyelamatkan umat manusia, dan aku mendapatkan beberapa pemahaman tentang esensi penentangan manusia terhadap Tuhan dan pengkhianatan terhadap Dia. Firman Tuhan Yang Mahakuasa benar-benar memiliki otoritas dan kuasa serta menyingkapkan semua kerusakan dan pemikiran internal kita. Tidak ada manusia yang mampu mengucapkan firman ini; ini karena hanya Tuhan yang dapat menyelidiki hati dan pikiran kita secara mendalam. Aku menjadi yakin dari hati bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali!

Keharmonisan di Rumah Setelah Menerapkan Firman Tuhan

Tiba di rumah sekitar jam 11:00 malam di suatu malam setelah bekerja, aku melihat suamiku bermain video gim lagi. Kemarahan meluap dalam diriku dan aku berpikir, "Aku bekerja sangat keras, tetapi kau bersantai saja, hanya duduk-duduk bermain video gim di rumah sepanjang hari!" Aku ingin memarahinya, tetapi saat perkataan itu sudah di ujung lidahku, tiba-tiba aku teringat satu bagian dari firman Tuhan yang telah kubaca beberapa hari sebelumnya. "Begitu manusia memiliki status, ia akan kesulitan mengendalikan suasana hatinya, dan ia akan menikmati bila ada kesempatan untuk mengungkapkan ketidakpuasan dan melampiaskan emosinya; ia akan sering terbakar amarah tanpa alasan jelas, untuk menunjukkan kemampuannya dan membiarkan orang lain tahu bahwa status dan identitasnya berbeda dengan orang biasa. Tentu saja, orang yang rusak tanpa status juga akan sering kehilangan kendali. Amarah mereka sering kali timbul karena keuntungan pribadi mereka disinggung. Untuk melindungi status dan harga diri mereka, umat manusia yang sudah rusak akan sering melampiaskan emosinya dan menyatakan naturnya yang sombong. Manusia akan terbakar amarah dan menyalurkan emosinya untuk mempertahankan keberadaan dosa, dan tindakan ini adalah cara manusia mengungkapkan ketidakpuasannya" ("Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan dengan sangat tajam menyingkapkan watakku yang rusak; aku menyadari bahwa ingin kehilangan ketenanganku dan memarahi suamiku ketika aku melihat dia tidak berperilaku seperti yang kuinginkan adalah sepenuhnya disebabkan oleh natur congkakku sendiri. Aku dan suamiku sama-sama adalah orang yang rusak, jadi aku seharusnya tidak boleh memarahinya seakan-akan posisiku ada di atas dia. Kemarahanku adalah sesuatu yang menyingkapkan watak jahatku; itu adalah sebuah cara bagiku untuk menyuarakan keluhanku, dan itu adalah hal yang negatif. Aku tidak seharusnya membiarkan watak rusakku mendikte tindakanku seperti sebelumnya, jika tidak, watak rusakku tidak akan pernah bisa diubah. Saat aku merenungkan diriku sendiri, secara berangsur-angsur aku menjadi lebih tenang dan tidak kembali menumpahkan amarahku kepada suamiku.

Pengalaman itu menunjukkan kepadaku betapa pentingnya pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman! Jika bukan karena penyingkapan dan penghakiman dari firman Tuhan, kita tidak akan pernah mengenali watak kita yang rusak, dan betapa pun toleran, sabar, atau terkendalinya kita, itu hanya akan menjadi tindakan dangkal yang tidak pernah bisa menyelesaikan masalah mendasar dari dosa. Baru sekarang setelah aku benar-benar mengalami penghakiman firman Tuhan, aku telah melihat betapa parahnya watakku yang congkak. Itu adalah sesuatu yang ada di dalam jiwaku yang terdalam, dan hanya dengan menjalani penghakiman dan hajaran, watakku yang jahat dapat ditahirkan dan diubah.

Setelah beberapa waktu, aku mulai mendapatkan pemahaman yang sederhana tentang watakku yang rusak. Aku tidak lagi mengandalkan watakku yang rusak dalam interaksiku dengan suamiku, selalu memusatkan pandanganku kepadanya. Ketika aku menghadapi situasi seperti itu, aku pertama-tama akan menenangkan diriku dan berdoa kepada Tuhan, mencari bimbingan-Nya dan mencari jalan dari firman Tuhan untuk secara sadar meninggalkan daging dan melakukan kebenaran. Suatu hari suamiku tiba-tiba berkata kepadaku, "Engkau benar-benar telah berubah! Sejak percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, engkau seperti orang yang berbeda. Engkau tidak lagi mudah kesal; engkau berkomunikasi untuk mencari solusi setiap kali ada masalah." Dalam hatiku, aku bersyukur kepada Tuhan berulang kali—aku tahu bahwa ini telah dicapai dalam diriku melalui penghakiman dan hajaran firman Tuhan. Yang lebih mengejutkan bagiku adalah, suamiku berinisiatif untuk menyelidiki pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, dan dia menerimanya. Kemudian dia menyadari dari firman Tuhan bahwa video gim berasal dari tren jahat yang dimunculkan oleh Iblis, bahwa itu adalah satu cara Iblis memikat dan merusak manusia; dia mendapatkan beberapa pemahaman tentang esensi gim daring dan bahaya yang ditimbulkan olehnya. Melalui doa, bersandar kepada Tuhan, dan membaca firman Tuhan, dia perlahan-lahan mulai merasa bahwa bermain gim adalah pengejaran yang kosong dan membosankan, dan dia tidak lagi terhilang di dalamnya seperti sebelumnya.

Firman Tuhan adalah prinsip untuk semua interaksi kami sekarang. Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, kami mencari jalan untuk menyelesaikannya dengan firman Tuhan, dan akhirnya rumah tangga kami dipenuhi dengan suara tawa dan sukacita. Meskipun perubahan yang kucapai melalui penghakiman dan hajaran firman Tuhan masih terbatas, melalui pengalamanku, aku benar-benar merasa bahwa satu-satunya jalan untuk mentahirkan dan mengubah watak yang rusak adalah melalui penghakiman dan hajaran firman Tuhan. Pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman sepenuhnya diperlukan bagi kita untuk ditahirkan dan diselamatkan sepenuhnya. Sekarang setelah akhirnya aku telah menemukan jalan untuk disucikan, aku memiliki ketenangan dan kedamaian di dalam hatiku. Aku bersyukur kepada Tuhan!

MediaTerkait