Apa yang Kudapatkan dari Mengejar Pernikahan yang Sempurna?

24 Desember 2025

Oleh Zhou Xiaoou, Tiongkok

Pada tahun 2012, aku dan istriku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Kami sering berkumpul dan membaca firman Tuhan bersama, dan setiap hari terasa bahagia dan memuaskan. Dua tahun kemudian, aku terpilih sebagai pemimpin gereja. Karena aku sibuk dengan tugasku dan sedikit waktu di rumah, istriku menjadi agak tidak puas, mengatakan bahwa aku tidak mengurus keluarga dan tidak peduli padanya. Meskipun tahu bahwa melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan itu sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan, aku juga merasa apa yang dikatakan istriku masuk akal, bahwa aku harus memenuhi tanggung jawabku sebagai suami dan merawat istri serta anakku dengan baik agar kami dapat memiliki pernikahan yang bahagia dan keluarga yang sempurna. Jadi, saat berada di rumah, aku selalu melakukan banyak pekerjaan rumah tangga dan memasakkan makanan yang lezat untuk istriku, berusaha keras menjadi suami yang baik. Terkadang aku tidak bisa merawat istriku karena aku sangat sibuk dengan tugasku, dan setelah itu, aku akan berupaya sebaik mungkin untuk menebusnya, karena aku takut ketidakpuasannya akan memengaruhi hubungan kami. Kemudian, aku menjadi pengkhotbah, dan waktu untuk bersama istriku di rumah menjadi makin sedikit. Terkadang, aku pergi selama beberapa hari berturut-turut karena padatnya tugasku, dan istriku akan mengeluh padaku. Meskipun aku tidak menunda tugasku karena ini, dalam hatiku, aku selalu merasa bersalah terhadap istriku. Jadi sebelum pergi, aku akan menyiapkan makanan untuknya lebih awal, dan ketika pulang, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi permintaannya atau membawanya keluar. Aku berpikir bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami yang baik dan untuk membuat pernikahan kami bahagia.

Kemudian, istriku menjadi sepenuhnya berfokus pada mengejar uang dan kesenangan jasmani, dan dia menghabiskan hari-harinya dengan makan, minum, dan bersenang-senang dengan teman-teman. Dia bukan hanya mengabaikan keluarga, tetapi juga sering pergi ke bar. Saat melihat istriku makin lama makin bejat, aku mulai khawatir bahwa istriku menghabiskan begitu banyak waktu dengan orang-orang ini sehingga dia tidak akan mampu menahan godaan dan mengkhianatiku. Bukankah keluarga yang telah kubangun dengan susah payah akan hancur berantakan? Aku sering berbicara dari hati ke hati dengan istriku dan membacakan firman Tuhan kepadanya, berharap dia akan menjauhi tempat-tempat bermasalah itu. Istriku hanya setuju di mulut saja, tetapi kemudian tidak berubah sama sekali. Lambat laun, aku dan istriku makin jarang mengobrol, dan ketika aku pulang ke rumah, dia mengabaikanku. Aku sering mengkhawatirkan apakah istriku telah mengkhianatiku. Khususnya, ketika aku pulang dan melihat rumah dalam keadaan kosong, aku selalu merasakan kesepian di hatiku. Aku berpikir bahwa ikatan antara aku dan istriku, yang dibangun selama bertahun-tahun, bisa hancur, dan hatiku dipenuhi dengan rasa sakit dan penderitaan. Tepat ketika aku sangat terperangkap dalam penderitaan, tidak mampu melepaskan diri, suatu hari pada Agustus 2020, aku menerima surat dari pemimpin, mengatakan bahwa rekan kerjaku, Saudara Wang Qiang, telah ditangkap oleh polisi, yang telah memperoleh rekaman CCTV dan sedang menyelidiki orang-orang yang telah berkontak dengannya, dan bahwa aku harus segera meninggalkan rumah lalu bersembunyi. Ketika dihadapkan pada berita mendadak ini, awalnya aku tidak tahu harus berbuat apa. Kupikir jika aku pergi, aku tidak akan dapat merawat istri dan anakku lagi, dan bahwa keluarga ini bisa hancur berantakan. Ini membuat hatiku sangat pedih. Namun, jika tidak pergi, aku akan menghadapi penangkapan dan penyiksaan. Akhirnya, aku tetap memutuskan untuk meninggalkan rumah. Dua bulan kemudian, aku menerima surat dari keluargaku, mengabarkan bahwa beberapa hari yang lalu, tujuh petugas polisi telah menggerebek rumahku untuk menangkapku, dan karena mereka tidak menemukanku, mereka menangkap kakak perempuan istriku. Dengan mempertimbangkan keselamatanku, aku harus pergi ke tempat lain untuk bersembunyi.

Suatu hari pada Juli 2023, aku menerima surat dari rumah, mengabarkan bahwa istriku melihatku sudah pergi selama tiga tahun, jadi dia sedang bersiap untuk mengajukan gugatan cerai dan menikah dengan orang lain. Meskipun sudah berkali-kali aku berpikir bahwa istriku mungkin tidak akan menungguku lagi, ketika itu benar-benar terjadi padaku, aku tetap tidak punya keberanian untuk menghadapinya. Aku berpikir, "Begitu pernikahan kami bubar, bukankah rumah tangga yang telah kubangun dengan susah payah selama bertahun-tahun ini akan lenyap? Aku sudah menikah dengan istriku selama sebelas tahun, dan kami memiliki seorang putri yang cantik. Kami telah menjalani begitu banyak masa bahagia dan menyenangkan bersama. Jika kami bercerai, bagaimana aku akan menjalani hidupku seorang diri?" Malam itu, aku berbaring di tempat tidur tidak bisa tidur, memikirkan bagaimana anakku nantinya juga akan menderita. Hatiku dipenuhi dengan rasa sakit dan penderitaan, dan muncul pemikiran untuk pulang ke rumah demi menyelamatkan pernikahanku. Namun, aku sedang diburu oleh polisi, dan hampir tiga tahun aku telah jauh dari rumah, polisi telah datang untuk mengintai rumahku beberapa kali, dan ponsel istriku juga sedang dipantau oleh polisi. Jika aku dengan gegabah pulang, bukan saja aku akan ditangkap, melainkan aku juga akan menyebabkan masalah bagi gereja. Terlebih lagi, aku sedang melaksanakan tugasku, jadi jika aku pergi, aku akan meninggalkan tugas dan mengkhianati Tuhan. Atas pertimbangan nalar, aku tahu aku tidak bisa pulang, tetapi tidak pulang berarti bubarnya pernikahanku. Dalam kepedihanku, aku menulis surat kepada istriku memohon kepadanya untuk tetap bersama, berharap dia bisa memahami kesulitanku. Bahkan setelah menulis surat itu, aku tahu bahwa mungkin kata-kataku yang tulus tidak akan berpengaruh pada istriku. Dalam hatiku, aku merasa sangat menderita, jadi aku berdoa kepada Tuhan.

Kemudian, aku membaca firman Tuhan, dan memahami cara memperlakukan pernikahan dan keluarga. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Jangan pernah kaulupakan bahwa engkau adalah makhluk ciptaan, bahwa Tuhanlah yang telah menuntunmu menjalani hidup hingga saat ini, bahwa Tuhanlah yang telah memberikan pernikahan kepadamu, yang telah memberimu keluarga, dan bahwa Tuhanlah yang telah memberimu tanggung jawab yang harus kaupenuhi dalam kerangka pernikahan, dan bahwa bukan engkau yang memilih pernikahan, bukan berarti pernikahanmu terjadi begitu saja, atau bahwa engkau mampu mempertahankan kebahagiaan pernikahanmu dengan mengandalkan kemampuan atau kekuatanmu sendiri. Sekarang, sudahkah Aku menjelaskan hal ini dengan gamblang? (Ya.) Apakah engkau mengerti apa yang harus kaulakukan? Apakah sekarang jalannya sudah jelas bagimu? (Ya.) Jika tidak ada konflik atau pertentangan antara tanggung jawab dan kewajiban yang harus kaupenuhi dalam pernikahan dan tugas serta misimu sebagai makhluk ciptaan, maka dalam keadaan seperti itu, engkau harus memenuhi tanggung jawabmu dalam kerangka pernikahan sebagaimana mestinya, dan engkau harus memenuhi tanggung jawabmu dengan baik, memikul tanggung jawab yang seharusnya kaupikul, dan tidak berusaha menghindarinya. Engkau harus bertanggung jawab bagi pasanganmu—bagi kehidupannya, perasaannya, dan segala sesuatu tentangnya. Namun, jika ada pertentangan antara tanggung jawab dan kewajiban yang kaupikul dalam kerangka pernikahan dengan misi dan tugasmu sebagai makhluk ciptaan, maka yang harus kaulepaskan bukanlah tugas atau misimu, melainkan tanggung jawabmu dalam kerangka pernikahan. Inilah yang Tuhan harapkan darimu, ini adalah amanat Tuhan untukmu dan, tentu saja, inilah yang Tuhan tuntut dari setiap laki-laki dan perempuan. Hanya jika engkau mampu melakukan hal ini, barulah engkau akan mengejar kebenaran dan mengikuti Tuhan. Jika engkau tidak mampu melakukan hal ini dan tidak mampu menerapkan dengan cara seperti ini, maka engkau hanyalah orang yang percaya di bibir saja, engkau tidak mengikuti Tuhan dengan hati yang tulus, dan engkau bukanlah orang yang mengejar kebenaran. ... Ada orang yang berkata, 'Jika aku pergi ke luar negeri untuk melaksanakan tugasku, maka aku harus meninggalkan keluargaku. Apakah aku tidak akan pernah lagi bisa bertemu dengan suamiku (atau istriku)? Bukankah kami harus hidup terpisah di tempat yang berbeda? Apakah pernikahan kami akan hancur? Lalu, bagaimana aku akan hidup tanpa suamiku (atau istriku)?' Haruskah engkau berpikir tentang akan seperti apa masa depanmu? Apa hal yang seharusnya paling kaupikirkan? Jika engkau ingin menjadi orang yang mengejar kebenaran, maka yang seharusnya paling kaupikirkan adalah bagaimana melepaskan hal-hal yang Tuhan minta untuk kaulepaskan dan bagaimana menyelesaikan hal-hal yang Tuhan minta untuk kauselesaikan. Sekalipun di masa depan engkau harus hidup tanpa pernikahan dan tanpa pasangan di sisimu, engkau tetap bisa hidup hingga lanjut usia dan hidup dengan baik. Namun, jika engkau meninggalkan kesempatan ini untuk melaksanakan tugasmu, itu sama saja dengan engkau meninggalkan tugas yang seharusnya kaulaksanakan dan misi yang telah Tuhan percayakan kepadamu. Bagi Tuhan, engkau bukan orang yang mengejar kebenaran, bukan orang yang sungguh-sungguh menginginkan Tuhan, atau orang yang mengejar keselamatan. Jika engkau secara aktif meninggalkan kesempatan dan hakmu untuk memperoleh keselamatan, meninggalkan misimu, dan sebaliknya memilih pernikahan, memilih untuk hidup bersama pasanganmu, memilih untuk menemani dan memuaskannya, serta memilih untuk mempertahankan keutuhan pernikahanmu, maka pada akhirnya engkau pasti akan kehilangan sesuatu selagi mendapatkan sesuatu. Engkau mengerti kehilangan apa yang akan kaualami, bukan?" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (10)"). "Tuhan telah memberimu kehidupan yang stabil dan pasangan hidup hanya agar engkau dapat hidup lebih baik dan memiliki seseorang untuk menjagamu, memiliki seseorang di sisimu, bukan agar engkau dapat melupakan Tuhan dan melupakan firman-Nya atau meninggalkan kewajibanmu untuk melaksanakan tugasmu dan meninggalkan tujuan hidupmu untuk mengejar keselamatan setelah engkau memiliki pasangan, dan kemudian hidup bagi pasanganmu. Jika engkau benar-benar bertindak seperti ini, jika engkau benar-benar hidup dengan cara seperti ini, Kuharap engkau akan mengubah arah sesegera mungkin. Sepenting apa pun seseorang bagimu, atau sepenting apa pun dia bagi hidupmu, kehidupanmu sehari-hari, atau bahkan bagi jalan hidupmu, dia bukanlah tempat tujuanmu karena dia hanyalah manusia yang rusak. Tuhan telah mengatur pasanganmu yang sekarang untukmu, dan engkau dapat hidup bersama dengannya. Jika Tuhan mengatur orang lain untukmu, engkau tetap bisa menjalani hidup dengan baik. Jadi, pasanganmu saat ini bukanlah satu-satunya bagimu, juga bukan tempat tujuanmu. Hanya Tuhanlah yang kepada-Nya dapat kaupercayakan tempat tujuanmu, dan hanya Tuhanlah yang kepada-Nya tempat tujuan manusia dapat dipercayakan. Engkau tetap mampu bertahan dan hidup jika engkau meninggalkan orang tuamu, dan tentu saja engkau tetap mampu menjalani hidup dengan baik jika engkau meninggalkan pasanganmu. Orang tuamu bukanlah tempat tujuanmu, demikian pula pasanganmu. Jangan lupakan hal terpenting dalam hidup, tentang amanat Tuhan kepadamu untuk melaksanakan tugasmu, hanya karena engkau menikah, punya pasangan: tempatmu menaungkan hati dan dagingmu. Jika engkau melupakan Tuhan, melupakan apa yang telah Dia percayakan kepadamu, melupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh makhluk ciptaan, dan melupakan identitasmu, maka engkau akan sepenuhnya kehilangan hati nurani dan nalar" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (11)"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa pernikahan, keluarga, dan anak-anak, semuanya adalah karunia dari Tuhan, dan bahwa Tuhan memberikan ini kepada manusia agar mereka tidak merasa kesepian, juga supaya suami istri dapat saling merawat dan menemani agar kehidupan mereka lebih baik, tetapi bukan agar manusia memperlakukan pasangan mereka sebagai tempat tujuan hidup mereka, atau mempertahankan rumah tangga atau pernikahan sebagai tujuan hidupnya. Namun, aku tidak memahami kebenaran, dan menganggap bahwa pasangan hidupku adalah tempat tujuanku, dan tujuan hidup yang harus kukejar adalah pernikahan yang bahagia. Karena aku kekurangan kasih sayang orang tua dan kehangatan keluarga ketika aku masih kecil, ketika aku dewasa, aku mendambakan kehangatan dan kebahagiaan sebuah keluarga. Setelah menikahi istriku, aku merasakan kasih sayang istriku kepadaku dan merasakan kebahagiaan serta sukacita dari anakku, dan aku menjadi makin yakin bahwa memiliki keluarga yang sempurna adalah hal yang luar biasa. Jadi, ketika aku mendengar bahwa istriku ingin mengajukan gugatan cerai, hatiku hancur, dan aku merasa seolah-olah tidak bisa melanjutkan hidup tanpa pernikahan dan keluargaku. Aku bahkan berpikir untuk meninggalkan tugasku dan pulang ke rumah untuk menyelamatkan pernikahanku. Baru pada saat itulah aku menyadari bahwa pernikahan memiliki arti yang lebih penting di hatiku daripada Tuhan dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan. Kenyataannya, Tuhan telah memberiku pernikahan dan keluarga, serta memberiku tanggung jawab keluarga, tetapi maksud Tuhan bukanlah agar aku meninggalkan tugasku setelah menikah. Setiap saat, mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan adalah hal-hal yang seharusnya kulakukan, dan merupakan hal-hal yang paling penting. Aku teringat betapa banyak misionaris Barat, yang demi menyebarluaskan Injil Tuhan, secara aktif melepaskan pernikahan, pekerjaan, dan kehidupan mereka yang nyaman, dan melakukan perjalanan ribuan kilometer ke Tiongkok untuk memberitakan Injil, dan bagaimana karena merekalah Injil Tuhan Yesus menyebar ke seluruh Tiongkok. Aku telah menikmati penyiraman dan perbekalan dari begitu banyak firman Tuhan, tetapi apa yang telah kulakukan untuk Tuhan? Ketika istriku mengatakan dia ingin bercerai, pemikiran pertamaku adalah bahwa setelah perceraian, tanpa keluarga, anakku akan menderita, dan aku tidak akan lagi menikmati kehangatan dan kebahagiaan yang dibawa oleh keluarga. Hatiku kemudian dipenuhi dengan rasa sakit dan kesedihan, dan aku berpikir untuk meninggalkan tugasku untuk pulang ke rumah dan menyelamatkan pernikahanku. Yang kupertimbangkan hanyalah kepentinganku sendiri, dan aku sama sekali tidak memedulikan maksud Tuhan. Dibandingkan dengan para misionaris Barat itu, aku benar-benar tidak memiliki hati nurani dan penuh keegoisan, dan aku tidak layak atas semua bimbingan dan perbekalan Tuhan yang telah kuterima selama bertahun-tahun. Memikirkan hal ini, aku merasa sangat bersalah, dan bahwa aku tidak seharusnya khawatir atau merasa cemas tentang kehidupanku di masa depan. Yang terpenting pada saat ini adalah memikirkan tentang bagaimana melaksanakan tugasku dengan baik. Kemudian, aku berfokus pada tugasku.

Sebulan kemudian, ibu mertuaku mengirim surat yang mengatakan bahwa saudara iparku telah mengetahui melalui jalur internal bahwa aku mungkin tidak ada dalam daftar buronan, dan polisi hanya sedang berusaha menangkapku. Selama aku meninggalkan daerah setempat, aku tidak perlu terus bersembunyi. Istri, anak, dan ibu mertuaku semuanya berada di provinsi lain, dan ibu mertuaku bertanya apakah aku bersedia pergi ke sana. Aku berpikir dalam hati, "Jika aku bisa kembali kepada istri dan anakku, keluargaku tidak akan hancur, dan anakku akan bisa menikmati kehangatan keluarga." Namun, tiba-tiba aku teringat bahwa aku telah berdoa kepada Tuhan bahwa aku akan mempertahankan tugasku. Melepaskan tugasku dan kembali untuk menyelamatkan pernikahanku sekarang sama saja dengan menipu Tuhan! Selain itu, tidak ada orang yang lebih cocok untuk melaksanakan tugas ini selain diriku. Jika aku pergi, pekerjaan itu pasti akan terpengaruh. Pada saat ini, aku menyadari bahwa menerima surat dari ibu mertuaku hari itu adalah ujian bagiku, untuk melihat apa yang akan kupilih. Aku harus memilih untuk memuaskan Tuhan dan memprioritaskan tugasku. Jadi, aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku merasa sedikit lemah di hatiku, dan aku ingin kembali untuk menyelamatkan pernikahanku, tetapi aku tahu aku tidak bisa meninggalkan tugasku, apalagi mengkhianati-Mu. Tuhan, kumohon tuntunlah aku untuk tetap teguh dalam kesaksianku."

Kemudian, aku membaca satu bagian firman Tuhan dan menemukan cara penerapan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Manusia hidup dalam dunia materi, dan meskipun engkau mengikuti Tuhan, engkau tidak pernah melihat atau mengapresiasi bagaimana Tuhan menyediakan bagimu, mengasihimu, dan memperhatikanmu. Jadi, apa yang kaulihat? Engkau melihat saudara sedarahmu yang mengasihimu atau yang sangat memedulikanmu, engkau melihat hal-hal yang bermanfaat bagi dagingmu, dan engkau memedulikan orang-orang dan hal-hal yang kaukasihi. Inilah yang disebut 'ketidakegoisan' manusia. Namun, orang-orang yang 'tidak egois' semacam itu, tidak pernah peduli tentang Tuhan yang menganugerahkan hidup kepada mereka. Berbeda dengan ketidakegoisan Tuhan, 'ketidakegoisan' manusia ternyata egois dan tercela. 'Ketidakegoisan' yang manusia percayai hampa dan tidak realistis, tercemar, tidak sesuai dengan ketidakegoisan Tuhan, dan tidak ada kaitannya dengan Tuhan. 'Ketidakegoisan' manusia adalah untuk dirinya sendiri, sementara ketidakegoisan Tuhan adalah penyingkapan sejati dari esensi-Nya. Justru karena ketidakegoisan Tuhan-lah manusia terus menerima penyediaan yang terus-menerus dari-Nya. Engkau semua mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh topik yang Aku bahas pada hari ini dan sekadar mengangguk setuju, tetapi ketika engkau mencoba untuk menghargai hati Tuhan dalam hatimu, tanpa disadari engkau akan menemukan hal ini: Di antara semua orang, peristiwa, dan hal-hal yang dapat kaurasakan di dunia ini, hanya ketidakegoisan Tuhan yang nyata dan konkret, karena hanya kasih Tuhan kepadamu yang tidak bersyarat dan tidak bercacat. Selain Tuhan, ketidakegoisan orang lain yang disebut-sebut itu, semuanya palsu, dangkal, dan tidak autentik; itu mengandung tujuan tertentu, niat tertentu, mengandung transaksi, dan tidak dapat bertahan dalam ujian. Bahkan bisa kaukatakan bahwa itu kotor dan tercela. Apakah engkau semua setuju dengan perkataan ini?" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri I"). Setiap kalimat firman Tuhan menghunjam hatiku, terutama firman Tuhan ini: "Manusia hidup dalam dunia materi, dan meskipun engkau mengikuti Tuhan, engkau tidak pernah melihat atau mengapresiasi bagaimana Tuhan menyediakan bagimu, mengasihimu, dan memperhatikanmu. Jadi, apa yang kaulihat? Engkau melihat saudara sedarahmu yang mengasihimu ... dan engkau memedulikan orang-orang dan hal-hal yang kaukasihi." Yang Tuhan firmankan itu benar. Sejak aku diburu oleh pasukan polisi PKT, saudara-saudari telah selalu menerimaku di rumah mereka, dan bahkan dengan risiko bahaya, mereka memindahkanku ke tempat lain. Ini semua adalah kasih Tuhan. Khususnya ketika aku baru saja meninggalkan rumah, aku sering memikirkan istri dan anakku, dan hatiku dipenuhi dengan rasa sakit dan kelemahan. Firman Tuhanlah yang terus-menerus menyirami dan mencerahkanku, memungkinkanku untuk memahami kebenaran dan memiliki iman untuk terus berjalan. Selama beberapa tahun terakhir saat melaksanakan tugasku, Tuhan mengatur berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal bagiku, memungkinkanku untuk mengalami firman Tuhan dan membuat kemajuan hidup. Aku telah menerima begitu banyak dari Tuhan! Namun, ketika aku menerima surat dari rumah yang mengatakan bahwa aku bukan buronan dan aku bisa pergi ke tempat lain untuk berkumpul kembali dengan mereka, hal pertama yang kupikirkan adalah istri dan putriku. Aku berpikir bahwa selama aku kembali kepada istriku, aku bisa menyelamatkan pernikahan kami. Jadi, aku tidak bisa menahan rasa gembira, dan aku sangat ingin segera kembali ke keluargaku. Ini membuktikan bahwa hanya istri dan putriku yang ada di hatiku: Tidak ada tempat bagi Tuhan di hatiku. Ketika memikirkan betapa besarnya kasih Tuhan bagiku, dan betapa aku hampir tidak memberikan apa pun kepada Tuhan sebagai balasan, aku merasa sangat bersalah dan menyesal di dalam hatiku. Rasa berutang budi menyebabkan aku menangis tak terkendali, dan aku membenci diriku sendiri karena begitu egois dan tidak memiliki kemanusiaan. Kasih Tuhan bagi umat manusia itu tulus, tanpa pamrih, dan kudus, tanpa cela atau meminta imbalan apa pun. Namun, kasih manusia itu sepenuhnya transaksional dan tidak murni, penuh kepura-puraan, dan keegoisan. Sama seperti ketika aku ingin pulang untuk menyelamatkan pernikahanku, ada niat pribadi di balik ini. Aku khawatir akan hidup kesepian setelah pernikahanku kandas, dan bahwa aku tidak akan pernah lagi menikmati kehangatan serta sukacita yang diberikan keluarga kepadaku. Istriku ingin bercerai juga didasari kepedulian akan masa depannya. Ketika aku di rumah, istriku sering berkata, "Jika bukan karena kau perhatian padaku dan memperlakukanku dengan baik, aku pasti sudah meninggalkanmu sejak lama." Ini telah menjadi kenyataan. Karena aku tidak selalu bisa berada di sisinya, dia akhirnya akan meninggalkanku. Cinta istriku padaku tidak pernah nyata. Cintanya bersyarat. Pada saat yang sama, aku juga berpikir, "Istriku tidak mengejar kebenaran dan malah berfokus pada tren duniawi. Dia sering berbicara negatif di depanku, menghalangiku, dan meminta kehidupan materiel yang baik dariku. Sebenarnya, istriku adalah pengikut yang bukan orang percaya. Dia mengejar kekayaan dan kesenangan serta menempuh jalan orang dunia. Sementara itu, aku ingin mengikut Tuhan dan menempuh jalan pengejaran kebenaran. Kami ditakdirkan tidak cocok, dan jika kami memaksakan diri untuk bersama, bukan hanya tidak akan ada kebahagiaan, melainkan juga akan memberikan penderitaan tanpa akhir bagiku." Masih jelas teringat perdebatan dan pertengkaran dengan istriku sebelum aku meninggalkan rumah. Jika aku memilih untuk pulang sekarang, pernikahan kami mungkin akan terselamatkan, tetapi aku akan berakhir sama seperti tiga tahun sebelumnya, terperangkap dalam perasaan-perasaan daging, tidak berniat untuk mengejar kebenaran atau melaksanakan tugasku, apalagi diselamatkan. Selain itu, aku selalu khawatir tentang bagaimana putriku akan terluka oleh perceraian, atau bagaimana dia akan menderita lebih banyak kesulitan di masa mendatang. Namun, sebenarnya, hal-hal ini bukan aku yang menentukan, karena orang tua hanya dapat menawarkan bantuan dan perhatian kepada anak-anaknya secara jasmani dan materi, tetapi bagaimana nasib seorang anak nantinya, penderitaan apa yang akan mereka alami, dan berkat apa yang akan mereka terima, telah ditakdirkan dan diatur oleh Tuhan. Dahulu aku selalu mengkhawatirkan putriku—ini juga merupakan kurangnya imanku pada kedaulatan Tuhan. Setelah memahami semua ini, aku menjadi bersedia untuk memercayakan putriku ke dalam tangan Tuhan. Kemudian, ibu mertuaku mengirimiku surat yang mengatakan bahwa putriku baik-baik saja, dan bahwa dia telah mempelajari lebih dari selusin lagu pujian gereja dan bahkan bisa menari untuk memuji Tuhan. Aku menyadari bahwa kekhawatiranku itu tidak perlu. Aku berdoa kepada Tuhan, berjanji bahwa aku tidak akan terkekang oleh pernikahanku, dan akan mengejar kebenaran serta melaksanakan tugasku dengan benar. Pada Oktober 2023, aku mengetahui bahwa istriku telah digolongkan pengikut yang bukan orang percaya dan dikeluarkan dari gereja, tetapi aku merasa cukup tenang, dan aku bersyukur kepada Tuhan karena telah menjagaku dari meninggalkan tugas-tugasku karena dia.

Setelah itu, mau tak mau aku pun merenung, "Mengapa aku selalu menjadikan memiliki sebuah pernikahan dan keluarga bahagia sebagai tujuan hidupku, dan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan hal-hal ini? Apa akar masalah ini?" Aku membaca satu bagian firman Tuhan: "Pengaruh berbahaya dan pemikiran feodal yang tertanam secara mendalam di hati manusia melalui ribuan tahun 'semangat nasional' telah mengikat dan membelenggu orang, membuat mereka tidak memiliki sedikit pun kebebasan, tanpa ambisi ataupun ketekunan, dan tanpa keinginan untuk maju, sebaliknya membuat mereka tetap negatif dan mundur, terjerat dalam mentalitas budak, dan sebagainya. Faktor-faktor objektif ini telah menciptakan rupa yang kotor dan jelek yang tak terhapuskan pada pandangan ideologis, aspirasi, moralitas, dan watak manusia. Tampaknya, manusia sedang hidup di dunia gelap terorisme, dan tak seorang pun di antara mereka berpikir untuk melampauinya, atau berpikir untuk beralih ke dunia yang ideal; sebaliknya, mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan perasaan puas akan nasib hidup mereka: melahirkan dan membesarkan anak, berjuang, berkeringat, bekerja keras, dan bermimpi memiliki keluarga yang nyaman dan bahagia, kasih sayang suami-istri, anak-anak yang berbakti, sukacita di masa tua mereka, dan menjalani kehidupan mereka dengan damai .... Selama puluhan, ribuan, dan puluhan ribu tahun sampai sekarang, orang telah membuang-buang waktu mereka dengan cara ini, tanpa ada seorang pun yang menciptakan kehidupan manusia yang paling cemerlang, hanya berniat untuk saling membantai, memperebutkan ketenaran dan keuntungan, dan saling berintrik di dunia yang gelap ini. Siapakah yang pernah mencari maksud-maksud Tuhan? Adakah yang pernah mengindahkan pekerjaan Tuhan? Semua bagian dari orang yang dikuasai oleh pengaruh kegelapan telah lama menjadi natur manusia, sehingga cukup sulit untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan, dan orang-orang bahkan kurang punya hati untuk memperhatikan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka sekarang ini" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan dan Jalan Masuk (3)"). Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa aku telah dipengaruhi dan diracuni oleh budaya tradisional dan pemikiran yang ditanamkan oleh Iblis, seperti "bergandengan tangan dan menjadi tua bersama" dan "pasangan yang penuh kasih saling mendukung melalui suka dan duka", memperlakukan pernikahan yang bahagia dan keluarga yang harmonis sebagai tujuan yang kukejar, tidak tahu mengapa orang hidup atau bagaimana hidup dengan cara yang bermakna dan berharga. Aku ingat ketika masih muda, karena orang tuaku tidak memberiku lingkungan keluarga yang hangat, aku merasa diriku menyedihkan, dan menganggap kebersamaan keluarga sebagai simbol kebahagiaan. Setelah menikah, aku menikmati perhatian dan kepedulian istriku, serta kebahagiaan yang dibawa oleh rumah tangga dan putriku, jadi aku ingin mencurahkan seluruh hidupku untuk melestarikan kebahagiaan pernikahanku. Setelah menemukan Tuhan, aku melaksanakan tugasku di gereja, tetapi hatiku ada di rumah, dan aku merindukan segera pulang untuk bersatu kembali dengan istri dan anakku, lalu melaksanakan tugas sekadar untuk formalitas. Terkadang, aku sangat sibuk dengan tugasku sehingga mengabaikan istriku, dan kemudian ketika pulang, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menebusnya. Apa pun yang istriku ingin makan, beli, atau kunjungi, bahkan jika permintaannya tidak masuk akal, aku berusaha sebaik mungkin untuk memenuhinya. Aku mencoba segala macam cara untuk menyenangkannya. Kemudian, karena penangkapan polisi, aku tidak bisa pulang selama tiga tahun, dan istriku ingin mengajukan gugatan cerai. Aku khawatir jika kami bercerai, rumah tangga yang telah kubangun dengan susah payah akan hilang, jadi aku ingin pulang untuk menyelamatkan pernikahanku. Aku bahkan dua kali hampir meninggalkan tugasku dan mengkhianati Tuhan. Ketika kuingat-ingat lagi, aku memang benar-benar dalam bahaya. Sekarang akhirnya aku bisa melihat dengan jelas bahwa pemikiran dan pandangan untuk mengejar pernikahan yang bahagia dan keluarga yang harmonis telah membelengguku, membuatku memandang pernikahan dan keluarga lebih penting daripada tugas sebagai makhluk ciptaan, yang menyebabkanku tidak banyak masuk ke dalam kenyataan kebenaran selama tujuh atau delapan tahun aku percaya kepada Tuhan, membuang-buang banyak waktu. Di masa lalu, aku selalu percaya bahwa selama aku bersikap baik kepada istriku dan mengerahkan upaya untuk keluarga ini, maka pernikahanku akan bahagia. Oleh karena itu, aku telah mencoba segala cara yang mungkin untuk menyenangkan istriku, berharap untuk menyelamatkan pernikahanku dengan melakukannya, tetapi pada akhirnya, istriku tetap meninggalkanku. Kebaikan istriku kepadaku sepenuhnya karena usaha yang kucurahkan dan harga yang kubayar untuknya, juga karena aku bahkan sampai merendahkan integritas dan martabatku demi menyenangkannya. Namun sekarang, karena istriku tidak bisa menikmati kebaikan yang kutunjukkan padanya, dia menjadi sangat ingin bercerai agar bisa menemukan orang lain. Pernikahan kami sepenuhnya transaksional. Ketika ada sesuatu yang bisa didapatkan, ada kasih sayang dan hal-hal manis di antara kami, tetapi ketika tidak ada lagi nilai yang bisa dieksploitasi, aku disingkirkan. Di mana kebahagiaan dalam hal ini? Saat mengingat kembali hal-hal ini, aku menyadari bahwa semua kerja keras dan pengorbananku selama bertahun-tahun tidak dapat memberiku cinta sejati atau kebahagiaan; malah sebagai balasannya, aku hanya mendapatkan sakit hati dan penderitaan. Baru pada saat itulah aku menyadari bahwa pemikiran cinta antara suami dan istri serta kebahagiaan pernikahan hanyalah peluru salut gula yang digunakan Iblis untuk menyesatkan manusia, yang tidak lain hanyalah kebohongan dan penipuan. Harga yang kubayar selama bertahun-tahun mengejar kebahagiaan pernikahan begitu besar dan sama sekali tidak sepadan! Aku percaya kepada Tuhan tetapi tidak mengejar kebenaran, dan sebaliknya, aku hanya mencari kebahagiaan pernikahan. Dalam hal ini, aku jatuh ke dalam tipu daya Iblis. Aku menghabiskan seluruh waktu dan energiku untuk berusaha menyenangkan istriku serta mempertahankan pernikahan kami, yang menyebabkan aku tidak memperoleh kebenaran yang seharusnya kudapatkan atau melaksanakan tugasku sebagaimana mestinya. Ini bukan hanya menunda pertumbuhan kehidupanku tetapi juga mengecewakan harapan Tuhan. Aku benar-benar bodoh!

Kemudian, aku membaca firman Tuhan, dan aku mulai memperoleh beberapa pemahaman tentang apa yang seharusnya manusia kejar dalam hidup. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Engkau adalah makhluk ciptaan—engkau tentu saja harus menyembah Tuhan dan mengejar kehidupan yang bermakna. Jika engkau tidak menyembah Tuhan tetapi hidup dalam dagingmu yang kotor, lalu bukankah engkau hanyalah binatang buas yang mengenakan pakaian manusia? Karena engkau adalah manusia, engkau harus mengorbankan dirimu bagi Tuhan dan menanggung semua penderitaan! Engkau harus dengan senang hati dan tanpa ragu-ragu menerima sedikit penderitaan yang engkau alami sekarang dan menjalani kehidupan yang bermakna, seperti Ayub dan Petrus" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Penerapan (2)"). "Semua orang harus berusaha menjalani kehidupan yang bermakna dan tidak boleh puas dengan keadaan mereka saat ini. Mereka harus menghidupi citra Petrus, dan mereka harus memiliki pengetahuan dan pengalaman Petrus. Mereka harus mengejar hal-hal yang lebih tinggi dan lebih mendalam. Mereka harus mengejar kasih kepada Tuhan yang lebih dalam dan lebih murni, dan kehidupan yang bernilai dan bermakna. Hanya inilah kehidupan; hanya dengan begitu, barulah mereka akan sama seperti Petrus. Engkau harus berfokus untuk memasuki sisi positif secara proaktif, dan tidak boleh negatif serta membiarkan dirimu mundur karena engkau merasa puas dengan kenyamanan sesaat, sembari mengabaikan kebenaran yang lebih mendalam, lebih terperinci, dan lebih nyata. Engkau harus memiliki kasih yang nyata, dan engkau harus menemukan segala cara yang mungkin untuk membebaskan dirimu dari kehidupan yang bejat dan tanpa beban ini, yang tidak ada bedanya dengan kehidupan binatang. Engkau harus menjalani kehidupan yang bermakna, kehidupan yang bernilai, dan engkau tidak boleh membodohi dirimu sendiri, atau memperlakukan hidupmu seperti mainan untuk dipermainkan. Bagi semua orang yang memiliki tekad dan yang mengasihi Tuhan, tidak ada kebenaran yang tidak dapat dicapai, dan tidak ada keadilan yang tidak dapat mereka tegakkan. Bagaimana seharusnya engkau menjalani hidupmu? Bagaimana seharusnya engkau mengasihi Tuhan dan menjadikan kasih ini sebagai sarana untuk memenuhi maksud-Nya? Tidak ada hal yang lebih besar dalam hidupmu. Di atas segalanya, engkau harus memiliki tekad dan ketekunan seperti ini, dan janganlah menjadi pengecut yang lemah. Engkau harus belajar bagaimana mengalami kehidupan yang bermakna dan mengalami kebenaran yang bermakna, dan tidak boleh memperlakukan dirimu dengan sikap asal-asalan seperti itu. Tanpa kausadari, hidupmu akan berlalu; setelah itu, masih akan adakah kesempatan seperti ini bagimu untuk mengasihi Tuhan? Bisakah manusia mengasihi Tuhan setelah dia mati? Engkau harus memiliki tekad dan hati nurani yang sama seperti Petrus; engkau harus menjalani kehidupan yang bermakna, dan janganlah bermain-main dengan dirimu sendiri. Sebagai manusia, dan sebagai orang yang mengejar Tuhan, engkau harus mampu memikirkan dan menyikapi hidupmu dengan saksama—memikirkan bagaimana engkau seharusnya mempersembahkan diri bagi Tuhan, bagaimana engkau harus memiliki iman yang lebih bermakna kepada Tuhan, dan karena engkau mengasihi Tuhan, bagaimana engkau harus mengasihi-Nya dengan cara yang lebih murni, lebih indah, dan lebih baik" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). Firman Tuhan sangat jelas. Sebagai orang percaya, kita harus berusaha mengasihi dan menyembah Tuhan. Hanya dengan hidup seperti Ayub dan Petrus maka hidup kita akan bermakna. Aku teringat bagaimana Petrus, di masa mudanya, dengan sepenuh hati mengikut Tuhan, tetapi orang tuanya berharap dia akan berprestasi dan menjadi pejabat. Namun, dia tidak menjadikan harapan orang tuanya sebagai tujuannya, dia juga tidak peduli apakah pilihannya akan memengaruhi hubungannya dengan orang tuanya. Sebaliknya, dia mengabdikan dirinya untuk berusaha mengenal dan mengasihi Tuhan, dan pada akhirnya, dia disalib terbalik demi Tuhan, menjadi teladan dalam mengasihi Tuhan. Lalu ada Ayub. Dalam ujian, dia kehilangan semua lembu, domba, dan anak-anaknya, serta tubuhnya menjadi penuh barah, dan istrinya berkata, "Tinggalkan tuhan dan matilah!" (Ayub 2:9). Ketika Ayub mendengar istrinya mengatakan ini, dia tetap berpegang pada imannya kepada Tuhan, dan dia menegur istrinya dengan keras, menyebutnya wanita bodoh. Dia tetap teguh dalam kesaksiannya bagi Tuhan dan mempermalukan Iblis. Dari pengalaman Petrus dan Ayub, aku melihat bahwa hanya dengan berusaha mengenal dan mengasihi Tuhan, dan dengan melaksanakan tugas kita dengan baik serta tetap teguh dalam kesaksian kita, kita dapat menerima perkenanan Tuhan. Inilah satu-satunya cara untuk menjalani hidup yang paling bermakna. Kemudian, aku menenangkan hatiku dan mencurahkan diriku pada tugasku, dan pada saat yang sama, aku berlatih menulis artikel kesaksian pengalaman. Kemudian, aku mengetahui bahwa salah satu artikel pengalamanku telah diubah menjadi video. Karena dapat menggunakan pengalamanku untuk memberi kesaksian bagi Tuhan, aku sangat tersentuh, dan aku makin merasakan bahwa yang paling bermakna hanyalah mengejar kebenaran serta memberi kesaksian bagi Tuhan, dan hanya ini yang dapat membawa kebahagiaan serta sukacita sejati.

Pada Februari 2024, aku menerima surat dari orang tuaku, yang mengatakan bahwa istriku telah mengajukan gugatan cerai di pengadilan. Setelah menerima berita ini, aku merasa cukup tenang, dan aku tidak merasa tertekan atau sedih tentang istriku yang menceraikanku. Sebaliknya, aku merasa terbebaskan. Sekarang aku bisa melepaskan beban-beban ini dan dengan sepenuh hati mengikut Tuhan. Ini adalah keselamatan Tuhan bagiku, dan aku bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa dari lubuk hatiku!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Aku menemukan kebahagiaan sejati

Sejak kecil, aku selalu suka menonton drama romantis, dan aku selalu merasa iri dengan hubungan penuh cinta antara karakter utamanya. Jadi,...

Persimpangan

Oleh Kara, Korea SelatanDahulu, aku memiliki keluarga yang bahagia, dan suamiku sangat baik kepadaku. Kami membuka restoran keluarga yang...

Hubungi kami via WhatsApp