Pilihan yang Tak Kusesali

14 September 2025

Oleh Jinxin, Tiongkok

Aku lahir pada tahun 90-an, dan saat SMP, aku kecanduan film drama romantis. Setiap kali aku melihat cinta yang tak tergoyahkan antara tokoh utama pria dan wanita, terutama saat si pria menjaga si wanita, aku ingin sekali seperti itu, dan aku berharap suatu hari nanti juga bisa memiliki cinta seperti itu. Kupikir menemukan seseorang yang mencintaiku, dan tetap bersama dalam suka dan duka, akan menjadi cara hidup yang paling bahagia dan bermakna untuk dijalani.

Pada bulan April 2009, tak lama setelah aku menemukan Tuhan, aku bertemu Wenbin. Dia empat tahun lebih tua dariku, dan dia orang yang polos, tulus, dewasa, dan stabil, dia juga begitu penuh perhatian serta peduli padaku. Setiap kali aku sedang kesal padanya, dia selalu sabar menghadapiku. Biasanya, jika terjadi sesuatu, dia akan menanyakan pendapatku terlebih dahulu, dan dia akan selalu setuju denganku serta menghormati pilihanku. Aku merasa nyaman bersamanya. Kerabat dan teman-teman kami juga iri padaku, mereka juga bilang Wenbin selalu mengalah padaku, dan orang seperti itu sulit ditemukan zaman sekarang. Aku tenggelam dalam manisnya cinta, dan aku sering merasa beruntung memiliki pacar yang begitu pengertian.

Seiring aku makin banyak membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa pekerjaan Tuhan di akhir zaman melalui inkarnasi-Nya adalah untuk menyelamatkan dan menyempurnakan umat manusia, membawa mereka yang tulus percaya kepada Tuhan dan dapat menerima penghakiman-Nya serta disucikan ke zaman berikutnya, dan bahwa ini adalah langkah terakhir dalam pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Orang tuaku juga sering bersekutu denganku tentang pentingnya percaya kepada Tuhan, mengingatkanku untuk menghargai kesempatan yang sangat langka ini. Aku ingin memberitakan Injil kepada Wenbin. Alangkah bahagianya jika kami berdua bisa percaya kepada Tuhan, mengejar kebenaran bersama, dan pada akhirnya sama-sama diselamatkan serta masuk ke kerajaan! Jadi, aku secara halus mencoba mencari tahu sikapnya terhadap iman. Dia tidak percaya pada Tuhan, dan dia percaya bahwa takdir seseorang ada di tangan mereka sendiri. Dia berkata, "Kita masih muda, dan segalanya harus tentang uang." Dia juga menyuruhku untuk tidak mendengarkan orang tuaku ketika mereka berbicara tentang percaya kepada Tuhan, dan bahwa tidak ada Tuhan di dunia ini. Ketika mendengar dia berkata begitu, aku menjadi merasakan ketidaknyamanan yang sulit kugambarkan. Awalnya aku mengira kami berdua bisa percaya kepada Tuhan, tetapi aku tidak pernah menyangka dia seorang ateis. Apa yang harus kulakukan? Aku melihat beberapa saudara-saudari, yang keluarganya tidak percaya Tuhan, dihalangi dan dianiaya oleh mereka, itu sangat menyakitkan! Sama seperti sepupuku—sebelum menikah, dia aktif melaksanakan tugasnya dan memberitakan Injil di berbagai tempat, tetapi suaminya, seorang ateis, menganiaya dan menghalangi imannya setelah mereka menikah. Dan setiap hari, mereka bertengkar atau berkelahi. Kemudian, sepupuku bahkan tidak bisa menghadiri pertemuan, dan pada akhirnya, dia terpaksa bercerai, dan anak itu diberikan kepada ayahnya. Dia merasa sangat sedih setiap kali memikirkan anaknya. Aku tidak ingin menanggung pernikahan atau penderitaan seperti itu. Wenbin tidak percaya Tuhan, jadi jika dia menganiayaku setelah kami menikah, apakah aku bisa tetap teguh? Selama beberapa waktu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kepedihanku, aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku tidak menyangka Wenbin seorang ateis. Setelah bersama begitu lama, aku sudah menaruh perasaan yang terlalu dalam. Aku tidak sanggup melepaskan hubungan ini. Namun, jika aku tetap bersamanya, dan dia menghalangi imanku karena jalan kami yang berbeda, apa yang akan kulakukan? Tuhan, tingkat pertumbuhanku terlalu kecil, tolong bimbing aku untuk membuat pilihan yang benar." Pada hari-hari berikutnya, aku terus membaca firman Tuhan tentang bagaimana menyikapi pernikahan, dan aku jadi mengerti bahwa ada prinsip-prinsip dalam memilih pasangan. Penting untuk menemukan seseorang yang sepemikiran, dengan kemanusiaan yang baik, dan yang tidak akan menghalangi imanku. Wenbin tidak percaya pada Tuhan, kami tidak sepemikiran atau berada di jalan yang sama, dan cepat atau lambat, kami akan putus. Makin banyak perasaan yang kucurahkan, makin menyakitkan pula rasanya nanti. Selama waktu itu, setiap kali aku memikirkan hal ini, hatiku sakit. Aku tidak tahan membayangkan harus putus, tetapi jika kami tetap bersama, kami akan menempuh jalan yang berbeda. Hatiku sangat bimbang, jadi aku menceritakan penderitaan dan kesulitanku kepada Tuhan serta memohon pertolongan-Nya.

Tanpa kusadari, waktu sudah menunjukkan bulan Maret 2011, dan keluarga Wenbin meminta kami untuk bertunangan. Aku harus membuat pilihan. Dalam hati, aku jelas tahu bahwa Wenbin tidak percaya pada Tuhan, dan kami tidak akan berjalan bersama hingga akhir, tetapi aku masih menyimpan sedikit harapan, pikirku, "Aku belum pernah benar-benar bersaksi kepadanya tentang pekerjaan Tuhan, dan aku tidak yakin dengan sikapnya terhadap kebenaran. Jika dia tidak percaya Tuhan tetapi tidak menghalangi imanku, kami masih bisa bersama." Jadi aku memutuskan bicara padanya tentang imanku kepada Tuhan dan melihat reaksinya. Aku tidak pernah menyangka begitu dia mendengar bahwa aku percaya Tuhan, dia dengan marah mengepalkan tinjunya dan meninju dinding. Tindakannya mengejutkanku, dan saat aku tersadar, tangannya sudah berdarah. Saat kulihat dia hendak memukul dinding lagi, aku cepat-cepat memegang tangannya, tetapi dia melepaskannya dengan kasar. Saat melihat perilakunya yang tidak normal, ekspresinya yang sangat dingin, dan kebencian di matanya, dia terasa seperti orang asing, dan aku takut, pikirku, "Apakah ini masih pacar yang dahulu setuju dengan semua perkataanku? Mengapa dia bersikap seperti ini saat mendengarku percaya Tuhan? Aku hanya percaya kepada Tuhan, dan tidak melakukan kesalahan apa pun. Mengapa dia bereaksi seperti ini?" Dalam hati, aku terus berdoa, "Tuhan, jika dia benar-benar menghalangi imanku, aku bersedia putus dengannya. Namun, tingkat pertumbuhanku terlalu kecil, dan aku tidak bisa merelakan dua tahun hubungan yang telah kami jalani ini. Tolong beri aku kekuatan untuk membuat pilihan yang benar." Setelah berdoa, aku menceritakan pengalamanku dilindungi oleh Tuhan, dan aku tegas menyatakan pendirianku. Dia terdiam sejenak, lalu setuju untuk tidak menghalangi imanku. Kami sepakat bahwa jika suatu saat dia menghalangi imanku, kami akan putus. Awalnya dia tertegun mendengarnya, tetapi dia tetap setuju.

Kakak Wenbin dan istrinya memiliki kemanusiaan yang baik dan percaya akan adanya Tuhan, jadi aku bersaksi kepada mereka tentang pekerjaan Tuhan di akhir zaman. Ketika Wenbin tahu, dia meledak dalam amarah, dan di depan keluarganya, dia menyuruhku pergi dari hadapannya, dan berkata tidak mau melihatku lagi. Dia membanting ponselnya dengan keras di depanku. Aku belum pernah melihatnya semarah ini sebelumnya. Dengan nada penuh kebencian, dia berkata, "Aku tidak akan menghalangi imanmu, tetapi jangan coba-coba memberitakan Injil kepada keluargaku!" Ketika melihat sikapnya yang begitu menentang imanku, aku menjadi khawatir, pikirku, "Dia bilang tidak akan menghalangi imanku, tetapi itu karena dia tidak tahu bahwa aku menghadiri pertemuan dan melaksanakan tugas. Jika dia tahu, akankah dia berusaha menghalangiku? Jika dia melakukannya, kami pasti akan bertengkar, dan pernikahan kami mungkin akan hancur. Apa yang harus kulakukan?" Hatiku terasa terbelah. Jika kami putus, aku mungkin tidak akan pernah bertemu orang lain yang mencintaiku seperti ini lagi, lalu apa gunanya aku hidup? Namun, jika kami tidak putus, kami pasti akan terus bertengkar, lalu kebahagiaan apa yang bisa ada dalam kehidupan seperti itu? Memikirkan hal ini saja sudah membuat hatiku sakit karena pedih, dan aku terjebak dalam dilema. Kemudian, aku menyadari kami memiliki perbedaan yang jelas dalam beberapa pandangan kami terhadap berbagai hal. Misalnya, dia berkata bahwa setelah kami menikah, kami harus membuka restoran, menghasilkan uang untuk membeli mobil, rumah, dan sebagainya. Aku berkata, "Berapa banyak uang yang bisa dihasilkan seseorang sudah ditetapkan oleh Surga, dan kita hanya butuh cukup untuk hidup. Uang bukanlah hal terpenting dalam hidup. Memercayai dan menyembah Tuhanlah jalan yang benar dalam hidup." Dia berkata dengan tidak senang, "Apa gunanya hidup jika kau tidak menghasilkan uang? Bagaimana kau akan makan atau minum tanpa uang? Kau tidak punya ambisi!" Pertengkaran seperti itu sering terjadi, dan aku merasa lelah. Setiap kali kami berselisih paham yang menyebabkan ketidakbahagiaan, aku akan bertanya-tanya, "Apakah ini kebahagiaan yang kuinginkan? Mengapa aku tidak bisa merasa bahagia? Apa hal yang paling berarti untuk dikejar dalam hidup? Bagaimana aku bisa menghindari menyia-nyiakan hidupku ini?" Aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, awalnya kupikir hidup bersama Wenbin akan membawa kebahagiaan, dan bahwa inilah kehidupan yang selalu kuimpikan, tetapi semua tidak seperti yang kubayangkan. Kami menempuh jalan yang berbeda dan tidak punya kesamaan, jadi hatiku tidak pernah merasa terbebas. Setiap hari aku harus diam-diam membaca firman-Mu dan menghadiri pertemuan karena aku takut bertengkar karena hal-hal ini. Tuhan, aku sangat menderita, dan aku ingin melepaskan diri dari kasih sayang ini, tetapi jauh di lubuk hati, aku tidak sanggup melepaskan hubungan ini. Tolonglah aku."

Kemudian, Wenbin sepertinya merasakan sesuatu. Beberapa kali, ketika aku pulang dari bepergian, dia akan menanyakan berbagai macam pertanyaan. Awalnya, aku tidak terlalu memikirkannya, sampai suatu hari, aku bersiap-siap lebih awal dan hendak berangkat ke pertemuan. Nada bicaranya yang biasanya lembut berubah dan dia tampak sangat serius, berkata, "Katakan sejujurnya, apakah kau pergi ke pertemuan lagi?" Aku berkata, "Ya. Memangnya kenapa? Bukankah kau bilang tidak akan melarangku percaya kepada Tuhan?" Dia berkata, "Waktu itu jika aku tidak setuju, kau pasti sudah putus denganku. Bagaimana mungkin aku tidak mengatakan itu? Kupikir seiring waktu, keinginanmu untuk percaya kepada Tuhan akan melemah, dan kau akan berhenti percaya. Aku tidak pernah menyangka kau malah menjadi makin obsesif selama enam bulan terakhir ini! Aku tidak tahan lagi. Kau harus memilih antara aku dan imanmu. Jika kau memilihku, kau harus melepaskan imanmu!" Aku tahu jika kami tetap bersama, akan ada pertengkaran terus-menerus, dan perselisihan ini hanyalah permulaan. Namun, jika kami benar-benar putus, aku masih begitu berat hati dan tidak ingin melepaskan hubungan ini. Namun, jika aku memilih untuk bersama Wenbin, aku harus melepaskan imanku. Inilah saat kunci bagi Tuhan untuk menyempurnakan orang, dan aku juga menjadi sangat percaya bahwa firman Tuhan Yang Mahakuasa adalah kebenaran, jalan, dan hidup, dan melalui pengalaman akan pekerjaan Tuhan, aku telah mengalami bagaimana firman Tuhan dapat menyucikan orang, menyelesaikan watak rusak mereka, dan menunjukkan kepada orang-orang arah serta jalan yang benar dalam tindak-tanduk maupun cara berperilaku mereka. Kebenaran yang Tuhan berikan kepada manusia sungguh berharga, jadi jika aku melewatkan kesempatan ini, itu akan menjadi penyesalan seumur hidup! Bagaimana aku harus memilih antara imanku dan pernikahan? Hatiku berkecamuk, dan aku diam-diam berdoa kepada Tuhan. Aku teringat satu bagian firman Tuhan yang telah kubaca dalam sebuah pertemuan: "Di balik setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada engkau semua adalah pertaruhan antara Iblis dengan Tuhan—di balik itu ada peperangan. ... Ketika Tuhan dan Iblis berperang di alam roh, bagaimana seharusnya engkau memuaskan Tuhan, dan bagaimana seharusnya engkau tetap teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya? Engkau seharusnya tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi padamu adalah ujian yang besar dan merupakan saat ketika Tuhan membutuhkanmu untuk memberi kesaksian" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"). Firman Tuhan membuatku mengerti bahwa dari luarnya, kelihatannya Wenbin menghentikanku untuk mengikuti Tuhan, tetapi pada kenyataannya, di baliknya ada Iblis yang membuat gangguan itu. Baik Tuhan maupun Iblis sedang mengamati bagaimana aku akan memilih, dan aku harus bersaksi bagi Tuhan. Aku mengendalikan emosiku dan dengan tenang berkata, "Aku memilih untuk percaya kepada Tuhan!" Wenbin menegaskan pendiriannya: Dia lebih baik putus daripada mengizinkanku percaya kepada Tuhan. Aku merasa sangat terpuruk, dan setelah itu, aku tidak bisa menahan tangis. Aku tidak menyangka setelah bertahun-tahun, hubungan kami benar-benar sampai pada titik ini. Dalam penderitaanku, aku berdoa kepada Tuhan, memohon Dia untuk membantuku memahami maksud-Nya dalam masalah ini serta tetap teguh dalam kesaksianku.

Kemudian, aku membaca firman Tuhan dan mengerti apa yang harus kukejar dalam imanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Engkau harus menderita demi kebenaran, engkau harus mengorbankan diri demi kebenaran, engkau harus menanggung penghinaan demi kebenaran, dan engkau harus menanggung lebih banyak penderitaan demi memperoleh lebih banyak kebenaran. Inilah yang harus kaulakukan. Jangan membuang kebenaran demi nikmatnya keharmonisan keluarga, dan jangan kehilangan martabat dan integritas seumur hidupmu demi kenikmatan sesaat. Engkau harus mengejar segala sesuatu yang indah dan baik, dan engkau harus mengejar jalan hidup yang lebih bermakna. Jika engkau menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja dan duniawi, serta tidak memiliki tujuan apa pun untuk dikejar, bukankah artinya engkau menyia-nyiakan hidupmu? Apa yang dapat kauperoleh dari kehidupan semacam itu? Engkau harus meninggalkan seluruh kenikmatan daging demi satu kebenaran, dan jangan membuang seluruh kebenaran demi sedikit kenikmatan. Orang-orang seperti ini tidak memiliki integritas atau martabat; keberadaan mereka tidak ada artinya!" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pengalaman Petrus: Pengetahuannya tentang Hajaran dan Penghakiman"). Ketika merenungkan firman Tuhan, aku mengerti bahwa pernikahan bukanlah hal terpenting dalam hidup, dan bahwa percaya kepada Tuhan, mendapatkan kebenaran, dan mengenal Tuhan adalah hal yang membuat hidup berarti. Di akhir zaman, Tuhan yang berinkarnasi telah datang di antara manusia untuk mengungkapkan kebenaran serta menghakimi dan menyucikan orang, demi menyelamatkan mereka dari kuasa Iblis dan menganugerahkan hidup kekal kepada mereka. Namun, aku hanya berfokus pada kenikmatan fisik yang sementara. Aku tidak bersedia menderita dan membayar harga untuk memperoleh kebenaran dan hidup. Apa yang akhirnya bisa kudapatkan dengan hidup seperti ini? Saat malapetaka dahsyat tiba, siapa yang akan mampu menyelamatkanku? Dahulu, aku mengira pernikahan itu indah, dan bahwa menghabiskan hidupmu bersama seseorang yang mencintaimu membuat hidup bermakna, tetapi sekarang aku sadar bahwa aku terlalu naif. Aku dan Wenbin menempuh jalan yang berbeda. Wenbin tidak percaya Tuhan, dia memuja sains, dan dia mengejar untuk menghasilkan uang dan menjalani kehidupan yang unggul. Sedangkan aku percaya pada merasa puas hanya dengan memiliki makanan dan pakaian, dan bahwa dalam hidup orang harus mengejar kebenaran dan berusaha menghidupi keserupaan dengan manusia yang sebenarnya, melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, dan mendapatkan perkenanan Sang Pencipta. Pandangan kami terhadap berbagai hal dan tujuan pengejaran kami benar-benar berbeda, jadi kami tidak memiliki kesamaan. Meskipun dia sangat perhatian dan peduli padaku, aku tetap merasakan kepedihan serta tekanan dalam hatiku. Saat bersamanya, aku harus sembunyi-sembunyi saat menghadiri pertemuan dan membaca firman Tuhan, karena takut dia akan bertengkar denganku, dan aku merasa sangat terkekang dan lelah di dalam batinku. Jika aku harus hidup seperti itu di sepanjang hidupku, itu akan sangat menyakitkan. Firman Tuhan membuatku mengerti bahwa hal terpenting dalam hidup seseorang adalah mengejar kebenaran, untuk melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, dan untuk menyelesaikan misi yang diberikan oleh Sang Pencipta. Orang seperti itu dipandang berharga di mata Sang Pencipta, dan menjalani kehidupan yang berarti dan berharga. Sama seperti Petrus, dia menghabiskan hidupnya berfokus pada mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasnya untuk memuaskan Tuhan, dan pada akhirnya, dia menerima perkenanan Tuhan. Setelah memahami ini, aku makin yakin bahwa memilih untuk menempuh jalan iman kepada Tuhan adalah pilihan yang benar. Aku kemudian secara aktif mengabdikan diri ke dalam barisan orang-orang yang melaksanakan tugas.

Beberapa waktu kemudian, Wenbin dan orang tuanya tiba-tiba datang ke rumahku. Wenbin, dengan air mata bercucuran, berkata, "Aku tidak bisa melepaskan hubungan ini, tetapi aku tidak bisa menerima imanmu. Demi aku, tidak bisakah kau melepaskan imanmu? Mari kita jalani hidup yang baik bersama." Orang tuanya juga mendesakku untuk melepaskan imanku. Aku sadar bahwa ini adalah pilihan lain yang harus kubuat. Aku menenangkan diri dan berpikir, "Jika Wenbin benar-benar mencintaiku, dia seharusnya mendukung imanku. Dia sangat menentang imanku—apakah ini cinta sejati? Tidak, aku tidak bisa berkompromi." Jadi, dengan tenang aku menyatakan pendirianku, "Aku memilih percaya kepada Tuhan, dan aku tidak akan menyesali pilihanku." Sebelum pergi, Wenbin bertanya mengapa aku tidak memilihnya, dan dia bertanya-tanya apakah dia kurang baik padaku. Aku berkata, "Tidak, kau sudah baik padaku. Dahulu, kupikir pernikahan itu satu bagian besar dari kehidupan, tetapi setelah menemukan Tuhan, aku mengerti bahwa menikah bukanlah hal terpenting dalam hidup. Jika aku melepaskan imanku demi bersamamu, meskipun di permukaan, hidup mungkin tampak mudah dan penuh kebahagiaan, dengan kenikmatan fisik, apa artinya menjalani hidup dengan cara ini? Bukankah aku akan hidup seperti mayat hidup? Apakah hidup hanya tentang makan, minum, dan bersenang-senang, hidup asal-asalan serta menunggu mati? Nilai apa yang akan dimiliki kehidupan seperti itu? Kau mengejar kenikmatan fisik dan kehidupan yang terpandang, tetapi bukan itu yang kuinginkan. Aku mengejar untuk menjalani kehidupan sejati, untuk menghidupi keserupaan dengan manusia yang sejati, dan untuk menerima perkenanan Sang Pencipta. Kita menempuh jalan yang berbeda, dan kita tidak akan pernah mencapai tujuan yang sama." Wenbin terdiam setelah mendengar ini, dan hubungan kami berakhir.

Kemudian, aku merenungkan mengapa aku begitu tertekan ketika memilih antara pernikahan dan iman. Aku menemukan satu bagian firman Tuhan: "Pengaruh berbahaya dan pemikiran feodal yang tertanam secara mendalam di hati manusia melalui ribuan tahun 'semangat nasional' telah mengikat dan membelenggu orang, membuat mereka tidak memiliki sedikit pun kebebasan, tanpa ambisi ataupun ketekunan, dan tanpa keinginan untuk maju, sebaliknya membuat mereka tetap negatif dan mundur, terjerat dalam mentalitas budak, dan sebagainya. Faktor-faktor objektif ini telah menciptakan rupa yang kotor dan jelek yang tak terhapuskan pada pandangan ideologis, aspirasi, moralitas, dan watak manusia. Tampaknya, manusia sedang hidup di dunia gelap terorisme, dan tak seorang pun di antara mereka berpikir untuk melampauinya, atau berpikir untuk beralih ke dunia yang ideal; sebaliknya, mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan perasaan puas akan nasib hidup mereka: melahirkan dan membesarkan anak, berjuang, berkeringat, bekerja keras, dan bermimpi memiliki keluarga yang nyaman dan bahagia, kasih sayang suami-istri, anak-anak yang berbakti, sukacita di masa tua mereka, dan menjalani kehidupan mereka dengan damai .... Selama puluhan, ribuan, dan puluhan ribu tahun sampai sekarang, orang telah membuang-buang waktu mereka dengan cara ini, tanpa ada seorang pun yang menciptakan kehidupan manusia yang paling cemerlang, hanya berniat untuk saling membantai, memperebutkan ketenaran dan keuntungan, dan saling berintrik di dunia yang gelap ini. Siapakah yang pernah mencari maksud-maksud Tuhan? Adakah yang pernah mengindahkan pekerjaan Tuhan? Semua bagian dari orang yang dikuasai oleh pengaruh kegelapan telah lama menjadi natur manusia, sehingga cukup sulit untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan, dan orang-orang bahkan kurang punya hati untuk memperhatikan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka sekarang ini" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan dan Jalan Masuk (3)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti mengapa begitu sulit bagiku untuk memilih antara pernikahan dan iman. Aku telah didoktrin sejak usia muda oleh drama TV yang telah mengajariku, "Hidup itu berharga, kasih lebih berharga lagi," dan "Cinta di atas segalanya." Gagasan-gagasan ini telah memengaruhi dan meracuni pikiranku. Kupikir hal paling bahagia dalam hidup adalah menemukan seseorang yang mencintaimu dan kalian berdua menjadi tua bersama dan saling mendukung. Terutama ketika kulihat tokoh utama wanita diperhatikan oleh tokoh utama pria dalam segala hal, kubayangkan betapa mereka sangat bahagia, dan secara keliru aku percaya bahwa menemukan seseorang yang mencintaimu berarti hidupmu tidak sia-sia. Melihat Wenbin begitu keras menentang imanku dan memintaku memilih imanku atau dirinya, membuatku dipenuhi rasa pedih dan bimbang, dan aku mengira jika aku tidak bisa menghabiskan hidupku bersama seseorang yang mencintaiku, maka hidupku tidak akan bermakna. Dengan makan dan minum firman Tuhan, akhirnya aku mengerti bahwa memiliki cinta bukanlah hal yang membuat hidup bermakna. Sama seperti meskipun Wenbin selalu penuh perhatian dan peduli padaku, aku masih sering merasa hampa dan tidak berdaya, dan hanya dengan membaca firman Tuhan hatiku menemukan penghiburan. Aku menyadari bahwa kehampaan hati tidak dapat diisi oleh kenikmatan materi atau perhatian pasangan. Gagasan seperti "Cinta di atas segalanya" dan "Hidup itu berharga, kasih lebih berharga lagi" semuanya adalah perkataan setan untuk menipu orang, dan Iblis mencoba menggunakan ini untuk mencobai dan menipu kita, membuat kita secara buta mengejar cinta dan pernikahan, serta menganggap hal-hal ini sebagai pengejaran yang benar, yang pada akhirnya menyebabkan kita menyimpang dari Tuhan, mengkhianati Tuhan, dan kehilangan kesempatan kita untuk diselamatkan. Jika bukan karena pencerahan dan bimbingan firman Tuhan, aku akan memilih pernikahan dan kehilangan kesempatan untuk mengejar kebenaran dan diselamatkan Tuhan. Ketika memikirkan ini, tekadku untuk mengikuti dan percaya kepada Tuhan menjadi makin teguh.

Melalui Wenbin yang berulang kali menghalangi imanku, aku berangsur-angsur memahami esensinya yang sebenarnya. Wenbin tampak lembut, mudah didekati, dan ramah, tetapi dia seorang ateis, dan setiap kali mendengar tentang imanku, dia akan marah, dan matanya memerah. Penyingkapannya dipenuhi sikap permusuhan, dan dia memiliki esensi setan. Seperti difirmankan Tuhan: "Semua orang yang tidak percaya, serta mereka yang tidak menerapkan kebenaran, adalah setan-setan!" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan dan Manusia akan Memasuki Istirahat Bersama-sama"). Orang normal, bahkan jika mereka tidak menerima iman, tidak akan memusuhi. Hanya setan yang membenci Tuhan, dan Wenbin benar-benar memiliki esensi setan. Aku kemudian membaca firman Tuhan: "Mengapa suami mengasihi istrinya? Mengapa istri mengasihi suaminya? Mengapa anak-anak berbakti kepada orang tua mereka? Mengapa orang tua sangat menyayangi anak-anak mereka? Apa niat yang dimiliki semua orang? Bukankah untuk memenuhi rencana dan keinginan egois mereka sendiri?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan dan Manusia akan Memasuki Istirahat Bersama-sama"). Aku teringat bagaimana Wenbin baik padaku karena aku tidak menghabiskan uang sembarangan seperti gadis-gadis lain, juga tidak punya kebiasaan buruk. Aku juga baik kepada orang tuanya, aku bekerja keras untuk keluarganya, dan tidak segan mengotori tangan atau mencucurkan keringat. Hal-hal ini menguntungkannya. Namun ketika dia tahu bahwa aku percaya kepada Tuhan, dia khawatir aku tidak akan mencari uang bersamanya, dan karena ini mempengaruhi kepentingannya, dia menjadi sangat kesal dan menentang. Setiap kali aku menyebut soal iman, dia akan memarahi dan meremehkanku, tanpa memikirkan perasaanku sama sekali. Aku belum menikah dengannya, dan aku belum benar-benar memengaruhi kepentingannya, tetapi dia sudah memperlakukanku seperti ini. Setelah kami menikah, begitu aku mulai mencurahkan diri pada tugasku, dia pasti akan lebih menghalangi dan menganiayaku, bahkan mungkin menceraikanku. Bagaimana bisa ada kebahagiaan dengan seseorang yang memprioritaskan kepentingan pribadi dan membenci Tuhan?

Setelah putus dengan Wenbin, hatiku terasa jauh lebih lega, dan aku bisa membaca firman Tuhan, menghadiri pertemuan, serta melaksanakan tugasku tanpa terkekang. Aku teringat tentang bisa menyaksikan penampakan Tuhan di akhir zaman ini, menerima untuk disucikan dan disempurnakan oleh firman Tuhan, serta melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan adalah berkat yang sungguh besar, dan hatiku terasa dipenuhi rasa manis serta sukacita. Sekarang aku bisa sepenuhnya mencurahkan diri pada iman dan tugasku. Ini adalah kasih dan keselamatan Tuhan bagiku, dan aku bersyukur kepada Tuhan dari lubuk hatiku!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Pilihan yang Benar

Oleh Saudara Shunyi, TiongkokAku dilahirkan di desa pegunungan terpencil, di tengah keluarga yang dari generasi ke generasi berprofesi...

Hubungi kami via WhatsApp