Penyakitku Adalah Berkat Tuhan

14 September 2025

Oleh Xiaojin, Tiongkok

Pada April 2017, aku pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan fisik dan mendapati bahwa aku mengidap hepatitis B. Kadar enzim transaminaseku mencapai 220 U/L dan hepatitis B-ku sedang aktif. Gereja mempertimbangkan kondisiku dan mengatur agar aku pulang untuk berobat. Saat mengemasi barang-barangku, aku melihat kedua saudara yang bekerja sama denganku sedang mengobrol dan tertawa sambil membahas pekerjaan. Hatiku terasa hampa dan pilu. Aku berpikir, "Sekarang pekerjaan Tuhan hampir berakhir, ini saat yang sangat penting bagi kita untuk melaksanakan tugas dan mempersiapkan perbuatan baik. Namun, aku malah pulang untuk memulihkan diri. Kalau aku di rumah selama satu atau dua tahun dan tidak bisa melaksanakan tugas apa pun, bagaimana aku bisa mempersiapkan perbuatan baik? Saat malapetaka datang, aku pasti akan terjebak di dalamnya. Jika aku mati, bukankah kepercayaanku kepada Tuhan akan sia-sia? Kurang dari setahun setelah mulai percaya kepada Tuhan, aku sudah meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugas. Apa pun tugas yang gereja berikan kepadaku, aku tidak pernah pilih-pilih, dan selalu berusaha keras untuk melaksanakannya dengan lebih baik. Terutama, aku telah melaksanakan tugas penyuntingan dalam enam bulan terakhir. Aku sering bangun pagi dan bergadang. Aku tidak pernah mundur saat menghadapi kesulitan dan bekerja keras mempelajari keterampilan profesional yang diperlukan. Aku telah mencapai sejumlah hasil dalam tugasku. Aku begitu bersemangat dan aktif dalam melaksanakan tugasku, jadi mengapa Tuhan tidak melindungiku? Mengapa Dia malah mengizinkanku mengidap penyakit ini?" Aku benar-benar tidak bisa memahaminya. Aku menengadah menatap kedua saudara itu, aku iri pada mereka yang sehat dan bisa terus melaksanakan tugas di sini. Sementara aku, sebentar lagi harus meninggalkan tempat di mana selama ini aku melaksanakan tugas, untuk pulang. Aku merasa masa depanku sangat suram, dan aku sangat putus asa, merasa lumpuh dan lemas sekujur tubuh. Ketika aku berpikir bahwa ini adalah tahap akhir dari pekerjaan Tuhan dan satu-satunya kesempatan bagi umat manusia untuk memperoleh keselamatan, dan bahwa aku cukup beruntung untuk hidup di masa ini, aku sungguh tidak rela menyerah begitu saja. Sesampainya di rumah, aku harus segera berobat dan akan kembali melaksanakan tugasku secepatnya setelah penyakitku sembuh. Dengan begitu, aku akan mempersiapkan lebih banyak perbuatan baik dan memiliki harapan yang lebih besar untuk diselamatkan.

Setelah pulang, aku mendengar bahwa obat herbal Tiongkok untuk menangani hepatitis B sangat mujarab, jadi aku segera meminta ayahku untuk membelikannya untukku. Pada saat yang sama, aku juga tetap tekun mempelajari teknik-teknik yang relevan dengan tugas yang telah kulakukan, dengan pikiran bahwa setelah penyakitku sembuh, aku bisa kembali keluar dan melaksanakan tugasku lagi. Aku meminum obat itu tepat waktu sesuai petunjuk dokter, berharap agar aku cepat sembuh. Sebulan kemudian, aku pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan dengan penuh harap. Setelah mendapatkan hasil tes, aku mendapati bahwa kadar enzim transaminaseku tidak turun sama sekali. Aku benar-benar tidak percaya, dan berpikir, "Aku meminum obatku tepat waktu sepanjang bulan ini. Mengapa kondisiku tidak membaik sama sekali? Mengapa Tuhan tidak memberkatiku?" Setelah beberapa saat, sekitar Agustus, seorang saudari memberitahuku tentang tanaman bernama seledri liar yang digunakan orang untuk menyembuhkan hepatitis B. Aku sangat gembira setelah mendengar ini. Meskipun saudari itu berulang kali menekankan bahwa tanaman ini sangat beracun dan dapat mengancam jiwa jika tidak diolah dengan benar, aku tetap ingin mencobanya. Kupikir risikonya sepadan jika itu bisa menyembuhkan penyakitku. Tanpa diduga, meminumnya sama sekali tidak berefek, dan aku merasa sangat terpuruk. Aku tidak habis pikir mengapa ini terjadi. Setelah itu, aku tenggelam dalam kenegatifan. Aku kehilangan kata-kata dalam doaku, doaku terasa sangat kering; aku lebih sedikit makan dan minum firman Tuhan, aku enggan mempelajari teknik yang sebelumnya tekun kupelajari, dan selalu kekurangan motivasi.

Sekitar November, seorang saudara membawakanku resep yang katanya khusus untuk mengobati hepatitis B. Aku sangat ingin mencobanya, tetapi ketika aku teringat kegagalan pengobatan terakhirku dengan seledri liar, aku berpikir, "Apakah ini karena aku hanya fokus pada pengobatan dan jarang berdoa? Sepertinya selama pengobatan ini, aku perlu lebih banyak berdoa kepada Tuhan. Mungkin saat Tuhan melihat hatiku yang tulus, Dia akan memberkatiku dan menyembuhkan penyakitku." Aku segera mengambil resep itu dan pergi membeli obat. Sepahit apa pun obatnya, aku menahannya dan meminumnya. Selama waktu ini, aku berdoa kepada Tuhan berkali-kali, menyampaikan kepada-Nya bahwa aku ingin kembali pergi keluar untuk melaksanakan tugasku dan dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran. Aku berharap dapat menyentuh hati Tuhan dengan sikap yang "tulus" seperti itu, agar Dia memberkatiku sehingga aku sembuh dari penyakitku. Sebulan kemudian, ketika aku pergi mengambil hasil tes, dokter berkata, "Kami sudah memeriksamu dua kali. Jumlah virus dalam darahmu sangat tinggi. Kadar enzim transaminase bahkan di atas 1.200 U/L!" Aku berpikir, "Kadar enzim transaminase di atas 200 saja sudah sangat serius. Apa artinya kadar di atas seribu?" Aku berdiri terpaku. Aku teringat seseorang yang berkata bahwa jika hepatitis B tidak terkontrol dengan baik, itu bisa menyebabkan sirosis atau bahkan kanker hati. Apakah aku juga akan terkena kanker hati? Ketika memikirkannya, aku merasa sangat takut dan tidak berdaya. Aku teringat betapa seringnya selama sebulan terakhir aku berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkan penyakitku, tetapi sekarang, kondisiku bukannya membaik, malah makin parah. Sudah pasti bukan kebetulan aku terus-menerus menemui jalan buntu. Selama ini, aku hanya ingin sembuh, dan berpikir keinginanku itu wajar karena aku ingin sembuh untuk melaksanakan tugas. Namun, aku tidak pernah berpikir apakah ini sesuai dengan maksud Tuhan. Aku mulai berpikir, "Mungkin ada maksud Tuhan dalam memburuknya kondisiku secara tiba-tiba. Aku tidak bisa terus keras kepala dan tidak mau bertobat. Aku harus berdoa, mencari maksud Tuhan, dan memetik pelajaran dari hal ini." Oleh karena itu, aku berseru dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan di dalam hatiku, "Tuhan, memburuknya kondisiku adalah atas izin-Mu. Meskipun aku masih tidak mengerti mengapa ini terjadi, aku tahu di dalam hatiku bahwa apa yang kukejar pasti tidak sesuai dengan maksud-Mu. Kiranya Engkau menuntunku untuk memahami maksud-Mu dan tidak memberontak terhadap-Mu." Aku duduk tertegun di sebuah anak tangga di rumah sakit, terus-menerus berseru kepada Tuhan di dalam hatiku. Tiba-tiba aku teringat beberapa firman Tuhan yang pernah kubaca sebelumnya: "Segala sesuatu yang Tuhan lakukan itu benar-benar perlu dan memiliki makna penting yang luar biasa, karena semua yang Dia lakukan dalam diri manusia berkaitan dengan pengelolaan-Nya dan keselamatan umat manusia. Tentu saja, pekerjaan yang Tuhan lakukan dalam diri Ayub juga demikian, meskipun Ayub sempurna dan berintegritas di mata Tuhan" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"). Ayub kehilangan semua harta benda serta anak-anaknya, dan penyakit menimpa dirinya, sehingga dagingnya juga menderita rasa sakit yang luar biasa. Dari sudut pandang orang duniawi, apa yang terjadi pada Ayub bukanlah hal yang baik melainkan hal yang buruk. Namun, Ayub takut akan Tuhan. Dia tidak mengeluh tentang-Nya, tetap tunduk kepada-Nya dan memuji nama Tuhan. Setelah Ayub mengalami ujian, dia memperoleh pemahaman tentang Tuhan, iman serta rasa takutnya akan Tuhan pun meningkat, lalu Tuhan menampakkan diri kepadanya. Betapa besar berkat ini! Saat merenungkan ini, aku menyadari bahwa sebesar apa pun penyakit atau kesukaran yang terjadi padamu, atau seberat apa pun penderitaan yang harus kau tanggung, jika engkau dapat mengejar kebenaran dan mencari maksud Tuhan, pada akhirnya engkau akan memperoleh kebenaran dan mendapatkan sejumlah manfaat darinya. Maksud Tuhan itu baik dan Dia tidak ingin mempermainkan siapa pun. Setelah memahami maksud Tuhan, perasaan hangat muncul dari lubuk hatiku, hatiku yang tadinya tak berdaya dan takut itu pun terasa hangat dan perlahan-lahan tenang. Aku harus meneladani Ayub, memiliki sikap tunduk, dan berdoa untuk mencari maksud Tuhan. Aku percaya Tuhan akan menuntunku.

Karena suasana rumah sakit terlalu bising, aku beranjak menuju hutan di dekatnya. Saat aku berjalan di hutan, kekhawatiran tentang kondisiku kembali menyeruak. Aku berpikir, "Bulan ini, kadar enzim transaminaseku melonjak hingga lebih dari 1.000 U/L. Jika terus berkembang seperti ini dan itu benar-benar menjadi kanker hati, bukankah habislah riwayatku? Apakah Tuhan benar-benar akan mengambil nyawaku kali ini?" Ketika memikirkan kematian, tanpa kusadari hatiku menentang, sambil berpikir, "Mengapa Tuhan ingin aku mati? Aku masih muda! Apakah hidupku benar-benar akan berakhir padahal baru saja dimulai? Jika aku tidak percaya kepada Tuhan, apakah aku akan terhindar dari ujian semacam ini? Apakah aku akan terhindar dari penyakit ini? Meskipun aku tidak bisa diselamatkan, setidaknya aku mungkin bisa hidup beberapa tahun lagi!" Saat itu jantungku seakan berhenti berdetak. Aku berpikir, "Bukankah aku sedang mengeluh tentang Tuhan?" Aku segera berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku tidak ingin mengeluh tentang-Mu, tetapi hatiku terus-menerus dikekang oleh kematian. Kiranya Engkau menuntunku untuk menyikapi masalah ini dengan benar." Setelah berdoa, aku teringat sebuah lagu pujian yang sering kunyanyikan sebelumnya berjudul "Makhluk Ciptaan Seharusnya Tunduk pada Pengaturan Tuhan":

1  Apa pun yang Tuhan minta darimu, engkau hanya perlu mengerahkan segenap kekuatanmu ke dalamnya, dan Kuharap engkau akan menunjukkan pengabdianmu kepada Tuhan di hadapan-Nya pada hari-hari terakhir ini. Asalkan engkau dapat melihat senyuman puas Tuhan saat Dia duduk di atas takhta-Nya, sekalipun saat ini adalah waktu yang ditentukan untuk kematianmu, engkau seharusnya tertawa dan tersenyum saat engkau menutup matamu. Engkau harus melaksanakan tugas terakhirmu bagi Tuhan selagi engkau hidup.

2  Di masa lalu, Petrus disalibkan terbalik demi Tuhan; tetapi engkau harus memuaskan Tuhan di hari-hari terakhir ini, dan menghabiskan seluruh tenagamu demi Tuhan. Apa yang bisa dilakukan seorang makhluk ciptaan demi Tuhan? Engkau harus menyerahkan dirimu kepada Tuhan terlebih dahulu, membiarkan Dia mengaturmu sekehendak hati-Nya. Asalkan Tuhan bahagia dan senang, biarkan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki denganmu. Hak apa yang manusia miliki untuk mengucapkan kata-kata keluhan?

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pewahyuan dari Misteri 'Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta', Bab 41"

Aku menyenandungkan lagu pujian itu dengan lirih dan tanpa terasa air mataku mengalir. Tuhan menganugerahkan kasih karunia dengan membawaku ke dalam rumah-Nya. Aku telah membaca banyak firman-Nya dan aku tahu bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan, bagaimana umat manusia dirusak oleh Iblis, bagaimana Tuhan telah menyelamatkan mereka selangkah demi selangkah, dan bagaimana Tuhan menyucikan serta mengubah manusia di akhir zaman. Dalam melaksanakan tugas, aku juga mengalami pencerahan dan pimpinan Roh Kudus serta memahami beberapa kebenaran. Aku telah menerima begitu banyak dari Tuhan, tetapi aku sama sekali tidak bersyukur kepada-Nya. Sekarang setelah kondisiku memburuk, aku mengeluh tentang Tuhan dan bahkan sempat menyesali telah percaya kepada-Nya. Bukankah itu benar-benar melukai hati Tuhan? Bukankah itu pengkhianatan? Setiap orang yang hidup di dunia ini akan sakit, dan begitu banyak orang yang tidak percaya kepada Tuhan menderita penyakit serius dan kanker. Namun, aku masih mengeluh dengan berpikir bahwa jika aku tidak percaya kepada Tuhan, aku mungkin tidak akan mengidap penyakit ini. Aku benar-benar tidak masuk akal! Meskipun aku mengidap penyakit ini, aku berdoa kepada Tuhan, dan melalui firman-Nya, Dia mencerahkan serta menuntunku, memberiku penghiburan dan dukungan. Dengan Tuhan sebagai dukunganku, aku merasa jauh lebih bahagia daripada orang-orang tidak percaya. Selain itu, aku adalah makhluk ciptaan. Tuhan menciptakanku, dan bahkan jika Dia mengambil kembali nyawaku, aku tidak boleh mengeluh tentang-Nya, apalagi menyesal telah percaya kepada Tuhan. Aku harus tunduk. Aku kemudian mengucapkan doa ketundukan kepada Tuhan dan aku merasa sangat tenang. Aku tidak lagi takut mati.

Di sebuah pertemuan, aku membaca bagian dari firman Tuhan, yang memberiku pemahaman tentang watak rusakku. Tuhan berfirman: "Karena orang zaman sekarang tidak memiliki kemanusiaan yang sama seperti Ayub, apa esensi natur mereka, dan sikap mereka terhadap Tuhan? Apakah mereka takut akan Tuhan? Apakah mereka menjauhi kejahatan? Mereka yang tidak takut akan Tuhan atau tidak menjauhi kejahatan hanya bisa disimpulkan dengan dua kata: 'musuh Tuhan'. Engkau semua sering mengatakan dua kata ini, tetapi engkau semua tidak pernah tahu makna yang sebenarnya. Frasa 'musuh Tuhan' memiliki sisi substantif di dalamnya: Frasa tersebut tidak mengatakan bahwa Tuhan memandang manusia sebagai musuh, tetapi manusia memandang Tuhan sebagai musuh. Pertama, ketika orang mulai percaya kepada Tuhan, siapa di antara mereka yang tidak memiliki tujuan, motivasi, dan ambisi mereka sendiri? Meskipun sebagian dari diri mereka percaya akan keberadaan Tuhan, dan telah melihat keberadaan Tuhan, kepercayaan mereka kepada Tuhan masih mengandung motivasi tersebut, dan tujuan utama mereka percaya kepada Tuhan adalah untuk menerima berkat dan hal-hal yang mereka inginkan dari-Nya. Dalam pengalaman hidup manusia, di dalam hatinya, mereka sering berpikir: 'Aku telah meninggalkan keluarga dan karierku untuk Tuhan, dan apa yang telah Dia berikan kepadaku? Aku harus menghitungnya, dan memastikan—sudahkah aku menerima berkat apa pun baru-baru ini? Aku telah mengorbankan banyak hal selama waktu ini, aku telah berlari dan berlari, dan telah banyak menderita—sudahkah Tuhan memberiku janji apa pun sebagai imbalan atas kinerjaku selama waktu ini? Apakah Dia mengingat perbuatan baikku? Akan seperti apa kesudahanku? Dapatkah aku menerima berkat? ...' Di dalam hatinya, setiap orang sering kali dan terus-menerus membuat perhitungan semacam ini, menyimpan motivasi, ambisi, dan mentalitas bertransaksi saat mereka meminta hal-hal dari Tuhan. Ini berarti, di dalam hatinya, manusia terus-menerus mencobai Tuhan, terus-menerus merancang rencana tentang Tuhan, terus-menerus 'memperdebatkan perkara' demi kesudahannya sendiri dengan Tuhan, serta berusaha memperoleh pernyataan dari Tuhan dan melihat apakah Tuhan akan memberikan kepadanya apa yang dia inginkan atau tidak. Pada saat yang sama mengejar Tuhan, manusia tidak memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan. Manusia selalu berusaha membuat kesepakatan dengan Tuhan, tanpa henti meminta hal-hal dari-Nya, dan bahkan menekan-Nya di setiap langkah, berusaha meminta lebih banyak setelah diberi sedikit. Pada saat yang sama membuat kesepakatan dengan Tuhan, manusia juga berdebat dengan-Nya, dan bahkan ada orang-orang yang, ketika ujian datang kepada mereka atau mereka mendapati diri mereka berada dalam situasi tertentu, sering kali menjadi lemah, negatif serta kendur dalam pekerjaan mereka, dan penuh keluhan terhadap Tuhan. Dari waktu saat manusia pertama kali mulai percaya kepada Tuhan, dia telah menganggap Tuhan sumber kelimpahan, alat serba guna, dan dia menganggap dirinya sendiri sebagai kreditor terbesar Tuhan, seolah-olah meminta berkat dan janji dari Tuhan adalah hak dan kewajiban yang melekat pada dirinya, sementara melindungi, memelihara, dan membekali manusia adalah tanggung jawab yang sudah seharusnya Tuhan penuhi. Seperti inilah pemahaman dasar tentang tiga kata 'percaya kepada Tuhan' dari semua orang yang percaya kepada Tuhan, dan seperti inilah pemahaman terdalam mereka tentang konsep kepercayaan kepada Tuhan. Dari esensi natur manusia hingga pengejaran subjektifnya, tidak ada satu pun yang berhubungan dengan takut akan Tuhan. Tujuan manusia percaya kepada Tuhan tidak mungkin ada kaitannya dengan penyembahan kepada Tuhan. Dengan kata lain, manusia tidak pernah berniat untuk takut akan Tuhan dan menyembah Tuhan dalam kepercayaannya kepada Tuhan, dan tidak pernah memahami bahwa hal-hal seperti itu diperlukan dalam kepercayaan kepada Tuhan. Dalam keadaan ini, esensi manusia terlihat jelas. Apakah esensi ini? Yaitu bahwa hati manusia berniat jahat, berbahaya dan licik, tidak mencintai keadilan dan kebenaran serta hal-hal positif, dan itu tercela serta serakah. Hati manusia benar-benar tertutup bagi Tuhan; manusia sama sekali tidak memberikan hatinya kepada Tuhan. Tuhan tidak pernah melihat hati manusia yang sejati, dan Dia juga tidak pernah disembah oleh manusia. Betapa pun besarnya harga yang Tuhan bayar, atau sebanyak apa pun pekerjaan yang Dia lakukan, atau sebanyak apa pun Dia membekali manusia, manusia tetap buta dan tidak peduli akan semua itu, manusia tidak pernah memberikan hatinya kepada Tuhan, dia hanya ingin memikirkan hatinya sendiri, membuat keputusannya sendiri—yang menyiratkan bahwa manusia tidak mau menempuh jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, ataupun tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan dia juga tidak mau menyembah Tuhan sebagai Tuhan. Seperti itulah keadaan manusia saat ini" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"). Tuhan menyingkapkan niat dan cara orang-orang yang percaya kepada Tuhan untuk mencoba membuat kesepakatan dengan-Nya. Tuhan berkata bahwa orang-orang ini memiliki esensi yang tercela, serakah, suka berkhianat, dan licik. Nada dan susunan kata-kata Tuhan memancarkan kebencian dan rasa muak terhadap orang-orang semacam ini, dan aku merasakan kebenaran serta kekudusan Tuhan. Ketika kubandingkan bagaimana mereka memperlakukan Tuhan dengan diriku sendiri, aku menyadari bahwa aku telah memperlakukan-Nya dengan cara yang sama. Ketika aku mengetahui bahwa di akhir zaman, Tuhan telah datang bekerja untuk mengakhiri zaman ini, dan bahwa mereka yang diselamatkan oleh Tuhan akan dapat bertahan hidup dan masuk ke dalam kerajaan untuk menikmati berkat abadi, aku sangat ingin memperoleh berkat yang akan Tuhan berikan kepada manusia, jadi aku memilih untuk percaya kepada Tuhan. Setelah mulai percaya kepada Tuhan, aku mengejar dengan semangat dan dalam setahun mulai melaksanakan tugas penuh waktu. Aku tidak gentar melaksanakan tugas penyuntingan meskipun banyak kesulitan, dan berinisiatif untuk mempelajari keterampilan profesional, dengan mengerahkan banyak upaya. Aku berpikir bahwa karena aku begitu proaktif dalam melaksanakan tugasku, Tuhan pasti menyukaiku serta berkenan kepadaku, dan aku memiliki harapan baik untuk diberkati di masa depan. Ketika aku didiagnosis mengidap Hepatitis B aktif, aku mengeluh tentang Tuhan di dalam hatiku, dan berpikir bahwa Tuhan seharusnya tidak membiarkanku sakit karena aku begitu proaktif dalam melaksanakan tugasku. Aku berpikir bahwa jika aku pulang untuk memulihkan diri, aku tidak akan bisa melaksanakan tugasku dan aku tidak akan menerima berkat di masa depan, jadi aku merasa sangat terpuruk. Setelah pulang, aku mencoba segala cara untuk menyembuhkan penyakitku, dan berharap Tuhan akan segera menyembuhkanku. Ketika kondisiku tidak kunjung membaik, sebaliknya malah memburuk, aku merasa sangat tertekan dan putus asa. Aku tidak mau lagi berdoa, makan dan minum firman Tuhan, atau mempelajari teknik penyuntingan, dan hidup dalam kenegatifan. Kemudian, aku mengucapkan doa yang tidak tulus kepada Tuhan, mengatakan bahwa kemajuan hidupku lambat karena aku tidak melaksanakan tugasku. Maksudku yang tak terucapkan adalah meminta Tuhan untuk menyingkirkan penyakitku agar aku bisa terus melaksanakan tugasku. Sebenarnya, keinginanku untuk pergi dan melaksanakan tugasku bukanlah untuk memuaskan Tuhan, tetapi demi tempat tujuanku di masa depan. Aku takut jika tidak bisa melaksanakan tugas, aku tidak akan memiliki tempat tujuan yang baik, tetapi ketika berdoa kepada Tuhan, aku berkata ingin melaksanakan tugas untuk mengejar kebenaran dan memuaskan-Nya. Bukankah aku secara terang-terangan mencoba menipu Tuhan? Aku menyadari bahwa niatku dalam percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas hanyalah untuk mendapatkan berkat dan keuntungan dari-Nya. Yang kucoba lakukan hanyalah membuat kesepakatan serta menuntut kepada Tuhan, tanpa ketulusan sedikit pun. Aku diciptakan oleh Tuhan dan semua yang kumiliki berasal dari Tuhan. Aku cukup beruntung telah menerima keselamatan Tuhan—ini semua adalah kasih Tuhan—tetapi aku sama sekali tidak bersyukur kepada-Nya. Aku bahkan mencoba membuat kesepakatan dengan Tuhan, menipu-Nya, dan memanfaatkan-Nya. Aku sama sekali tidak punya hati nurani atau nalar. Aku begitu tercela! Aku sama sekali tidak punya kemanusiaan! Jika kepercayaanku kepada Tuhan selalu dicemari dengan upaya untuk membuat kesepakatan dengan-Nya, Dia tidak akan pernah berkenan kepadaku sebanyak apa pun tugas yang kulakukan. Watak rusakku yang mementingkan diri belum berubah sama sekali, dan aku masih menjadi orang yang egois, hina, jahat, dan licik. Bagaimana aku bisa diselamatkan jika aku seperti itu? Aku memikirkan Paulus yang telah melakukan banyak pekerjaan dan menderita banyak hal. Namun, dia sama sekali tidak mengejar kebenaran dan watak rusaknya tidak berubah sedikit pun. Dia bahkan menggunakan pekerjaan dan pengorbanannya sebagai modal untuk menuntut mahkota dari Tuhan, mengatakan, "Sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:8). Implikasinya adalah bahwa Tuhan akan dianggap tidak benar jika Dia tidak menganugerahkan mahkota kepada Paulus. Dia secara terbuka berseru menentang Tuhan, yang menyinggung watak-Nya sehingga dia dikutuk dan dihukum oleh Tuhan. Saat aku merenungkan hal ini, aku merasa takut, dan menyadari bahwa percaya kepada Tuhan hanya untuk mengejar berkat memiliki konsekuensi yang serius. Baru saat itulah aku memahami maksud baik Tuhan dalam diriku di balik penyakit ini. Aku telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun, tetapi tidak pernah mengejar kebenaran; aku hanya mengejar berkat dan mencoba membuat kesepakatan dengan Tuhan. Tuhan tidak ingin aku terus berada di jalan yang salah, dan karena itu Dia menggunakan penyakit untuk menghentikan langkahku, menyingkapkan niatku yang tidak murni untuk mengejar berkat, memaksaku untuk tenang dan merenungkan diriku dengan saksama agar aku dapat segera mengubah perspektif yang keliru di balik pengejaranku. Jika aku tidak mengidap penyakit ini, aku sama sekali tidak akan bisa memahami diriku sendiri. Baru saat itulah aku memahami niat Tuhan yang tekun, dan seketika kesalahpahaman serta keluhanku sebelumnya tentang Tuhan lenyap. Sebaliknya, hatiku dipenuhi rasa syukur kepada-Nya. Aku menyadari bahwa di masa depan aku tidak bisa lagi menuntut Tuhan, entah penyakitku sembuh atau tidak. Sebaliknya, aku harus percaya dan tunduk kepada Tuhan dengan benar. Beberapa hari kemudian, ayahku membawaku ke rumah sakit untuk berobat. Aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi saat pergi ke rumah sakit hari ini. Namun, aku percaya ada maksud baik-Mu dalam segala hal. Apa pun kondisiku, aku bersedia tunduk kepada-Mu." Dokter terkejut ketika melihat hasil tesku dan mengatakan bahwa kondisiku cukup serius. Hatiku sudah rusak dan jumlah virus hepatitis B dalam tubuhku sangat tinggi sehingga aku segera memerlukan pengobatan. Setelah mendengar ini, aku sedikit khawatir, tetapi aku segera menyadari bahwa apakah penyakitku bisa disembuhkan atau tidak ada di tangan Tuhan. Yang dapat kulakukan hanyalah menghadapinya dengan membiarkan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya dan menjalani pengobatan. Mengenai apa yang akan terjadi di masa depan, aku bersedia menyerahkannya kepada Tuhan. Ketika aku memikirkan ini, aku merasa tenang.

Kemudian, hatiku sering gelisah dan kupikir, "Aku hanya tinggal di rumah setiap hari dan tidak bisa melaksanakan tugasku. Bukankah aku hanya akan menjadi tak berguna? Tuhan tidak akan berkenan kepadaku jika aku gagal melaksanakan tugasku." Aku berdoa kepada Tuhan dan mencari-Nya. Suatu hari, aku membaca firman Tuhan dan menemukan jalan penerapan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tidak ada hubungan antara tugas manusia dan apakah dia menerima berkat atau mengalami celaka. Tugas adalah sesuatu yang harus dilaksanakan dengan baik oleh manusia; itu adalah panggilan surgawinya, dan dia seharusnya melakukannya tanpa mencari imbalan, dan tanpa syarat atau tanpa berdalih. Hanya inilah yang dapat disebut melaksanakan tugas. Menerima berkat mengacu pada berkat yang orang nikmati ketika mereka disempurnakan setelah mengalami penghakiman. Mengalami celaka mengacu pada hukuman yang orang terima ketika watak mereka tidak berubah setelah mereka menjalani hajaran dan penghakiman—yaitu ketika mereka tidak disempurnakan. Namun, entah mereka menerima berkat atau mengalami celaka, makhluk ciptaan haruslah melaksanakan tugas mereka, melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dan melakukan apa yang mampu dilakukannya; inilah yang setidaknya harus dilakukan seseorang, seseorang yang mengejar Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perbedaan antara Pelayanan Tuhan yang Berinkarnasi dan Tugas Manusia"). "Jika, dalam imanmu kepada Tuhan dan pengejaran akan kebenaran, engkau dapat berkata, 'Entah Tuhan mengizinkan penyakit atau kejadian tidak menyenangkan datang atasku atau tidak—apa pun yang Tuhan lakukan—aku harus tunduk dan tetap pada posisiku sebagai makhluk ciptaan. Yang penting, aku harus menerapkan aspek kebenaran—ketundukan—ini, aku harus menerapkannya dan hidup dalam kenyataan ketundukan kepada Tuhan. Terlebih lagi, aku tidak boleh meninggalkan apa yang telah Tuhan amanatkan kepadaku dan tugas yang harus kulaksanakan. Bahkan di akhir napasku, aku harus memegang teguh tugasku,' bukankah ini memberi kesaksian? Ketika engkau memiliki tekad semacam ini dan keadaan semacam ini, akankah engkau tetap mengeluh tentang Tuhan? Tidak. Pada saat seperti itu, engkau akan berpikir, 'Tuhan memberiku napas ini, Dia telah membekali dan melindungiku selama ini, Dia telah menyelamatkanku dari banyak penderitaan, memberiku banyak kasih karunia dan banyak kebenaran. Aku telah memahami kebenaran dan misteri yang tidak dipahami orang dari generasi ke generasi. Aku telah memperoleh sangat banyak dari Tuhan, jadi aku harus membalas kasih Tuhan! Sebelumnya, tingkat pertumbuhanku kecil, aku tidak mengerti, dan aku selalu melakukan hal-hal yang menyakiti Tuhan. Mungkin di masa depan, tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk membalas kasih Tuhan. Sebanyak apa pun waktu yang tersisa bagiku untuk hidup, aku harus mempersembahkan sedikit kekuatan yang kumiliki, dan mempersembahkan kepada Tuhan semua yang mampu kulakukan, agar Tuhan bisa melihat bahwa penyediaan-Nya bagiku selama bertahun-tahun ini tidak sia-sia, melainkan telah membuahkan hasil, dan agar aku bisa memberi penghiburan kepada Tuhan, dan tidak lagi menyakiti atau mengecewakan-Nya.' Bagaimana pikiran ini menurutmu? Jangan berpikir tentang bagaimana menyelamatkan dirimu sendiri atau melarikan diri, berpikir, 'Kapan penyakit ini akan sembuh? Jika aku sembuh, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan tugasku dan menunjukkan pengabdian. Bagaimana aku bisa menunjukkan pengabdian jika aku sakit? Bagaimana aku bisa melaksanakan tugas makhluk ciptaan?' Selama engkau masih bernapas, bukankah engkau mampu melaksanakan tugasmu? Selama engkau masih bernapas, mampukah engkau untuk tidak membawa cela bagi Tuhan? Selama engkau masih bernapas, selama pikiranmu jernih, mampukah engkau untuk tidak mengeluh tentang Tuhan? (Ya.)" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Sering Membaca Firman Tuhan dan Merenungkan Kebenaran, Barulah Ada Jalan untuk Diikuti"). Setelah membaca firman Tuhan, hatiku menjadi tercerahkan, dan aku memahami bahwa tugas kita tidak ada kaitannya dengan apakah kita diberkati atau mengalami kemalangan. Melaksanakan tugas kita adalah tanggung jawab dan misi kita sebagai makhluk ciptaan; itulah yang seharusnya kita lakukan. Dalam gagasanku, aku percaya bahwa asalkan aku melaksanakan lebih banyak tugas, pada akhirnya aku akan menerima berkat dari Tuhan. Kupikir itu sama seperti ketika orang tidak percaya bekerja untuk bos mereka: makin banyak pekerjaan yang mereka lakukan, makin banyak upah yang mereka dapatkan. Faktanya, Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa asalkan kita memperbanyak tugas yang kita laksanakan, Dia akan berkenan dan memberkati kita. Ini sepenuhnya didasarkan pada gagasan serta imajinasiku, dan sama sekali tidak sejalan dengan kebenaran. Melaksanakan tugas adalah cara kita untuk mengejar kebenaran dan menerima keselamatan melalui kepercayaan kita kepada Tuhan. Jika kita melaksanakan tugas, tetapi tidak mengejar kebenaran, malah menempuh jalan yang salah, dan watak rusak kita tidak berubah, sebanyak apa pun tugas yang kita laksanakan, Tuhan tetap tidak akan berkenan kepada kita. Misalnya, aku telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun terakhir dan melaksanakan tugas di gereja selama ini. Namun, aku sama sekali tidak berfokus pada makan dan minum firman Tuhan untuk mengatasi watak rusakku. Niatku dalam melaksanakan tugas selalu untuk menerima berkat dari Tuhan, dan watak rusakku yang egois dan serakah tidak berubah sama sekali. Ketika penyakit terjadi padaku dan mengancam hidupku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bersungut-sungut dan mengeluh tentang Tuhan. Bukankah ini memberontak dan menentang Tuhan? Jika aku tetap tidak mengejar kebenaran, pada akhirnya watakku tidak akan berubah, aku tidak akan menunjukkan ketundukan atau rasa takut yang sejati kepada Tuhan sama sekali dan aku tidak akan memberikan kesaksian apa pun. Jika demikian, sebanyak apa pun usaha yang kuberikan atau tugas yang kelaksanakan, semuanya akan sia-sia dan aku tidak akan bisa diselamatkan. Aku teringat Ayub. Di zamannya, Tuhan tidak melakukan banyak pekerjaan dan juga tidak banyak memercayakan tugas kepada manusia. Kehidupan Ayub sebagian besar dihabiskan dengan menggembala, tetapi ada tempat bagi Tuhan di dalam hatinya; dia memiliki hati yang takut akan Tuhan. Dalam hidupnya, dia sering mencari maksud Tuhan dan tidak pernah melakukan apa pun yang menyinggung Tuhan. Bahkan ketika ujian terjadi padanya, harta benda dan anak-anaknya lenyap, dan bahkan ketika tubuhnya dipenuhi bisul yang sangat menyakitkan, dia tidak pernah mengeluh tentang Tuhan. Dia tetap mampu tunduk kepada Tuhan dan memuji nama-Nya. Kehidupan nyata Ayub menjadi kesaksian kemenangan Tuhan atas Iblis, dan dia menerima perkenanan Tuhan. Aku selalu takut bahwa aku tidak akan bisa melaksankan tugas lagi dan akan disingkirkan. Ini adalah gagasanku. Tugas-tugas yang bisa kulaksanakan terbatas karena penyakitku. Tuhan sepenuhnya menyadari situasiku. Misalnya, ada saudara-saudari yang tidak dapat melaksanakan tugas karena di penjara, tetapi Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa Dia tidak berkenan kepada mereka. Tuhan tidak mengukur orang berdasarkan seberapa banyak tugas yang mereka laksanakan; sebaliknya, Dia menilai dari jalan yang mereka tempuh dan apakah watak rusak mereka berubah. Sekarang, yang harus kulakukan adalah menerima serta tunduk, berfokus pada makan-minum firman Tuhan, dan mengejar kebenaran. Aku membaca bagian khusus dari firman Tuhan ini: "Jangan berpikir tentang bagaimana menyelamatkan dirimu sendiri atau melarikan diri, berpikir, 'Kapan penyakit ini akan sembuh? Jika aku sembuh, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan tugasku dan menunjukkan pengabdian. Bagaimana aku bisa menunjukkan pengabdian jika aku sakit? Bagaimana aku bisa melaksanakan tugas makhluk ciptaan?' Selama engkau masih bernapas, bukankah engkau mampu melaksanakan tugasmu? Selama engkau masih bernapas, mampukah engkau untuk tidak membawa cela bagi Tuhan? Selama engkau masih bernapas, selama pikiranmu jernih, mampukah engkau untuk tidak mengeluh tentang Tuhan?" Dari firman Tuhan aku memahami bahwa ketika Tuhan menuntut kita untuk melaksanakan tugas, itu mengacu pada menerapkan kebenaran dan memberi kesaksian tentang Dia. Dia tidak ingin membuat orang bekerja keras untuk-Nya. Bahkan jika aku tidak pernah sembuh dari penyakitku dan aku tidak bisa lagi pergi untuk melaksanakan tugasku, jika aku bisa melepaskan niatku untuk mendapatkan berkat, berhenti mencoba membuat kesepakatan dengan Tuhan, dan dengan rela tunduk kepada-Nya terlepas dari apakah aku menerima berkat atau kemalangan, ini juga merupakan tugas yang harus kulaksanakan di hadapan Tuhan. Bagaimana pun perkembangan penyakitku kelak, aku harus dengan sungguh-sungguh terus percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran. Ketika aku memahami ini, hatiku benar-benar tercerahkan dan aku tidak lagi khawatir apakah aku akan sembuh dari penyakitku. Perasaan lega dan ringan itu bagaikan melepaskan belenggu berat!

Setelah itu, aku membuat rencana harian untuk diriku. Aku melakukan saat teduhku, makan dan minum firman Tuhan, menyanyikan lagu pujian, dan mempelajari teknik penyuntingan, menjalani kehidupan yang sangat bermakna. Kemudian, aku juga berlatih menulis khotbah untuk memberitakan Injil. Tanpa kusadari, aku telah melupakan penyakitku dan bahkan kadang lupa minum obat saat bangun pagi. Tak terasa, sebulan telah berlalu dan tibalah waktunya untuk pemeriksaan lagi. Aku tidak lagi gugup dan tidak lagi berharap penyakitku sembuh; aku tahu ada pelajaran yang harus kupetik, baik itu sembuh atau tidak. Aku berdoa kepada Tuhan dalam hati dan menjalani pemeriksaan dengan tenang. Ketika aku mengambil hasil tes, aku melihat kadar enzim transaminaseku turun menjadi 34 U/L! Aku takut salah baca, jadi kubaca sekali lagi dengan saksama. Benar-benar 34 U/L! Fungsi hatiku telah kembali normal dan kadar virus hepatitis B-ku juga masuk ke rentang normal. Aku tidak bisa memercayainya sampai aku keluar dari rumah sakit; rasanya seperti mimpi. Padahal bulan ini justru paling tidak teratur aku minum obat. Terkadang aku bahkan lupa minum obat selama dua hari berturut-turut, tetapi penyakitku telah sembuh tanpa kusadari. Aku yakin di dalam hatiku bahwa ini adalah perbuatan Tuhan. Aku teringat firman Tuhan: "Hati dan roh manusia berada dalam genggaman Tuhan, dan segala sesuatu dalam hidupnya di bawah tatapan mata Tuhan. Entah engkau memercayai semua ini atau tidak, setiap dan segala sesuatu, baik hidup atau mati, akan bergeser, berubah, diperbarui, dan lenyap sesuai dengan pemikiran Tuhan. Dengan cara inilah Tuhan berdaulat atas segala sesuatu" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia"). Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa segala sesuatu, baik hidup maupun mati, ada di tangan Tuhan, dan semuanya berubah sesuai dengan pikiran Tuhan. Mereka tidak dipengaruhi oleh faktor lain apa pun. Inilah otoritas Tuhan. Contohnya, entah penyakitku dapat sembuh atau tidak, itu ada di tangan Tuhan. Ketika aku hidup dalam keadaan yang tidak benar, bagaimanapun aku mengobati penyakitku, itu hanya memburuk, tidak pernah membaik. Namun, ketika aku memperoleh pemahaman tentang diriku dan keadaanku sedikit membaik, aku pulih dengan cepat meskipun minum obat tidak teratur. Tuhan begitu mahakuasa dan perbuatan-Nya sungguh ajaib! Aku memuji Tuhan dari lubuk hatiku. Penyakit ini berlangsung selama hampir setahun dan aku sangat menderita selama waktu itu. Namun, melalui pengalaman ini, aku memperoleh pemahaman tentang otoritas Tuhan dan imanku kepada-Nya meningkat, jadi aku merasa bahwa mengidap penyakit ini sepadan!

Melalui penyakit ini, aku memahami niatku yang tidak murni untuk mengejar berkat dalam imanku kepada Tuhan, dan juga melihat dengan jelas sisi burukku sendiri: egois dan hina. Aku menyadari bahwa semua yang Tuhan lakukan adalah untuk menyucikanku, menuntunku ke jalan iman yang benar kepada Tuhan, dan membuatku hidup dengan kemanusiaan serta nalar. Penyakit ini membawa titik balik dalam jalan imanku kepada-Nya. Aku benar-benar mengalami bahwa penyakit yang terjadi padaku ini adalah berkat Tuhan, dan aku bersyukur kepada Tuhan dari lubuk hatiku!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Ujian Penyakit

Oleh Saudari Zhong Xin, TiongkokTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Perbuatan-perbuatan-Ku lebih banyak daripada butiran pasir di pantai, dan...

Hubungi kami via WhatsApp