Bagaimana Aku Menghadapi Kanker Tulangku
Suatu hari di bulan Oktober 2019, kakiku terasa sangat sakit, bahkan obat pereda nyeri pun tidak mempan. Aku teringat seorang saudari yang...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada tahun 1999, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan dapat menyambut Tuhan di akhir zaman. Rasanya sangat senang hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku merasa bahwa kali ini akhirnya ada harapan untuk memasuki kerajaan surga dan memperoleh hidup kekal. Saat itu, aku berusia 50-an dan masih sangat bertenaga. Baik saat melayani sebagai pemimpin gereja, memberitakan Injil, atau menyirami orang percaya baru, aku bekerja dengan sangat aktif, dan setiap hari sangatlah memuaskan. Pada akhir tahun 2018, tiba-tiba aku merasa pusing, kakiku terasa berat, dan aku tak bisa mengangkat kakiku untuk berjalan. Aku selalu tersandung bahkan saat berjalan di tanah yang datar. Lutut dan sikuku sering tergores hingga berdarah. Putriku membawaku ke rumah sakit untuk diperiksa. Dokter berkata bahwa aku terkena strok lakunar dan memperingatkanku dengan serius, "Anda harus sangat berhati-hati dengan penyakit ini! Jika Anda jatuh lagi, kemungkinan besar itu akan menyebabkan pendarahan otak." Aku sangat takut saat mendengar dokter mengatakan itu. "Jika aku mengalami pendarahan otak, mana mungkin aku masih bisa melaksanakan tugas? Bagaimana aku bisa diselamatkan jika tidak bisa melaksanakan tugasku? Bukankah sia-sia aku percaya selama bertahun-tahun ini?" Setelah itu, aku mengonsumsi obat untuk menyembuhkannya, lalu perlahan-lahan, kondisiku mulai stabil, dan aku merasa lebih baik. Aku tahu bahwa ini adalah perlindungan Tuhan, dan aku tetap teguh melaksanakan tugasku selama masa ini. Setelah memasuki usia 70 tahun, aku jelas merasa bahwa tubuhku mulai melemah di berbagai aspek. Aku bahkan sudah merasa lelah setelah sedikit bekerja, dan ingatanku memburuk. Saat berusia 73 tahun, aku menyaring khotbah di gereja. Suatu hari, pengawas mengadakan pertemuan dengan kami. Aku melihat beberapa saudara-saudari masih cukup muda, dan ketika pengawas bersekutu tentang prinsip, jari-jari mereka mengetik di keyboard komputer dengan lincah, menghasilkan bunyi ketikan yang cepat. Aku sangat iri pada mereka, dan berpikir, "Kami sama-sama percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas. Mengapa perbedaannya begitu besar? Orang-orang muda melakukan semuanya dengan cepat serta cepat dalam memahami dan menguasai prinsip-prinsip. Namun, bagaimana denganku? Penglihatanku tidak sebaik dahulu, dan otakku lambat dalam merespons. Aku tertinggal beberapa langkah dari orang-orang muda itu. Kini aku sudah tua, dan apa pun yang berusaha kulakukan, tubuhku tak sanggup melakukannya. Dapatkah aku melaksanakan tugas ini dengan baik?" Makin kupikirkan, makin aku merasa putus asa. Perlahan-lahan, aku mulai merasa seperti balon yang kempis, dan tak tertarik untuk melakukan apa pun. Aku tak tahu harus berkata apa saat berdoa, dan aku tak memperoleh pencerahan atau terang sama sekali setelah membaca firman Tuhan. Aku bertanya-tanya apakah aku telah ditinggalkan dan disingkirkan Tuhan. Kemudian, aku merenung, "Aku sudah tua, dan kualitasku buruk. Jika aku tidak aktif berusaha maju, bukankah aku akan makin jauh tertinggal? Seperti kata pepatah, 'Jangan takut berjalan pelan, tetapi takutlah berhenti. Sekali berhenti, kau akan tertinggal jauh, seakan sudah sangat jauh di belakang.' Tidak, aku harus berusaha maju!" Selama berhari-hari itu, aku terus berdoa, memohon kepada Tuhan agar mencerahkan dan membimbingku untuk mengatasi keadaanku yang negatif.
Kemudian, aku teringat akan firman Tuhan: "Aku tidak rela meninggalkan atau menyingkirkan seorang pun di antaramu, tetapi jika engkau tidak berusaha untuk mencapai pengejaran ini, engkau hanya merugikan dirimu sendiri; bukan Aku yang menyingkirkanmu, tetapi engkau sendiri." Aku mencari bagian firman Tuhan ini untuk kubaca. Tuhan berfirman: "Aku tidak rela meninggalkan atau menyingkirkan seorang pun di antaramu, tetapi jika engkau tidak berusaha untuk mencapai pengejaran ini, engkau hanya merugikan dirimu sendiri; bukan Aku yang menyingkirkanmu, tetapi engkau sendiri. ... Maksud-Ku adalah agar engkau semua disempurnakan, dan setidaknya ditaklukkan, sehingga tahap pekerjaan ini berhasil diselesaikan. Keinginan Tuhan adalah agar setiap orang disempurnakan, agar akhirnya didapatkan oleh-Nya, untuk sepenuhnya ditahirkan oleh-Nya, dan untuk menjadi orang-orang yang Dia kasihi. Tidak soal apakah Aku mengatakan engkau semua terbelakang atau kualitasmu rendah, semua ini adalah fakta. Namun, Aku mengatakan hal ini tidak membuktikan bahwa Aku bermaksud meninggalkanmu, bahwa Aku telah kehilangan harapan atas dirimu, apalagi bahwa Aku tidak bersedia menyelamatkanmu. Sekarang ini, Aku telah datang untuk melakukan pekerjaan keselamatanmu, yang berarti bahwa pekerjaan yang Kulakukan adalah kelanjutan dari pekerjaan penyelamatan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk disempurnakan: Asalkan engkau bersedia, asalkan engkau mengejar, pada akhirnya engkau akan dapat mencapai hasilnya, dan tak seorang pun di antaramu akan ditinggalkan. Jika kualitasmu rendah, tuntutan-Ku terhadapmu akan sesuai dengan kualitasmu yang rendah; jika kualitasmu tinggi, tuntutan-Ku terhadapmu akan sesuai dengan kualitasmu yang tinggi; jika engkau bodoh dan buta huruf, tuntutan-Ku terhadapmu akan sesuai dengan hal ini; jika engkau melek huruf, tuntutan-Ku terhadapmu akan sesuai dengan fakta bahwa engkau melek huruf; jika engkau sudah tua, tuntutan-Ku terhadapmu akan sesuai dengan usiamu; jika engkau mampu melaksanakan tugas menjadi tuan rumah, tuntutan-Ku terhadapmu akan sesuai dengan hal ini; jika engkau mengatakan engkau tidak mampu melaksanakan tugas menjadi tuan rumah, dan hanya mampu melaksanakan fungsi tertentu, entah itu memberitakan Injil, atau mengurus gereja, atau menangani urusan umum lainnya, Aku akan menyempurnakanmu sesuai dengan fungsi yang kaulaksanakan. Setia, tunduk sampai akhir, dan berusaha untuk mengasihi Tuhan semaksimal mungkin—inilah yang harus kaucapai, hanya ketiga hal ini, dan inilah penerapan yang terbaik. Pada akhirnya, orang dituntut untuk mencapai ketiga hal ini, dan mereka yang dapat mencapainya akan disempurnakan. Namun, yang terpenting, engkau harus benar-benar mengejar, engkau harus terus maju dengan aktif, dan tidak bersikap pasif dalam hal ini" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Memulihkan Kehidupan Normal Manusia dan Membawanya ke Tempat Tujuan yang Indah"). Setelah membaca firman Tuhan, hatiku sangat tercerahkan. Tuhan ingin semua orang diselamatkan dan disempurnakan. Selama kita mengejar kebenaran, Tuhan tidak akan menyingkirkan kita, dan kita akan didapatkan oleh Tuhan pada akhirnya. Tuhan memberi tuntutan pada manusia berdasarkan kualitas mereka yang berbeda-beda, dan tidak menuntut semua orang dengan standar yang sama. Tuhan tidak menuntut orang yang sudah tua dengan standar yang bisa dicapai orang-orang muda, juga tidak berkata bahwa Dia tidak akan menyelamatkan orang yang sudah tua. Asalkan kau bersedia mengejar kebenaran, kau memiliki kesempatan untuk diselamatkan. Tuhan itu sungguh benar! Namun, aku tak memahami maksud Tuhan. Aku meyakini bahwa karena orang-orang muda cepat memahami prinsip dan efisien dalam melaksanakan tugasnya, kesempatan mereka untuk diselamatkan lebih besar; dan karena aku sudah tua, responsku lambat, serta efisiensiku dalam melaksanakan tugas jauh lebih rendah dari orang-orang muda. Aku pasti menjadi sasaran yang akan disingkirkan Tuhan. Inilah kesalahpahamanku terhadap Tuhan. Melaksanakan tugas di gereja tidak seperti bekerja untuk seorang bos di dunia, di mana tak ada yang akan mempekerjakanmu saat kau sudah tua. Tuhan tidak memperlakukan manusia seperti ini. Sebelumnya, aku buta terhadap maksud Tuhan, dan bahkan salah paham, mengira Tuhan tidak akan menyelamatkan orang yang sudah tua, sehingga aku merasa putus asa serta kecewa. Seharusnya aku tidak berpikir seperti itu! Setelah membaca firman Tuhan, pikiranku terasa sangat tenang, seolah ada gelombang ketenangan yang membasuh pikiranku. Aku harus mengejar dengan sungguh-sungguh dan berusaha aktif meraih kebenaran.
Pada awal bulan Februari 2022, Saudari Liu Yi, yang berusia 80 tahun, meninggal karena penyakit. Ini sangat berdampak besar bagiku. Hari demi hari, aku makin menua, aku juga menderita strok lakunar. Jika aku terjatuh dan kepalaku terbentur, aku bisa mengalami pendarahan otak. Khususnya, pada suatu hari, tiba-tiba aku merasa pusing, tak bisa berdiri, dan tak berani membuka mata. Aku merasa sangat takut, takut tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal. Aku berpikir, "Usiaku hampir 80 tahun. Apa yang terjadi pada Saudari Liu hari ini bisa terjadi padaku besok. Aku ingin memanfaatkan waktu yang kumiliki sekarang untuk melaksanakan tugasku dengan benar, tetapi sekarang aku sudah tua. Apa pun pekerjaan yang kulakukan, tubuhku tak sanggup melakukan apa yang kuinginkan, dan aku selalu lupa akan berbagai hal. Bagaimana aku bisa diselamatkan jika tidak bisa melaksanakan tugasku? Andai saja aku beberapa tahun lebih muda!" Saat melihat pandemi makin memburuk, aku khawatir bahwa suatu hari aku akan terinfeksi, strok lakunar yang kuderita memburuk, dan aku bisa meninggal kapan saja. Selama hari-hari itu, aku terus hidup di tengah penderitaan dan kegelisahan. Hatiku sangat sedih juga tersiksa, dan aku tidak sanggup mengerahkan tenaga sedikit pun untuk melaksanakan tugasku. Namun, aku tahu bahwa apa pun yang terjadi, aku tak boleh melalaikan tugasku. Jika aku meninggalkan tugasku, itu bahkan lebih berbahaya. Aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, sekarang setelah menua, aku merasa umurku seperti sudah mulai dihitung mundur, dan aku selalu takut akan kematian. Ya Tuhan, kiranya Engkau menuntunku untuk memahami kebenaran dan keluar dari kecemasan serta penderitaan ini."
Suatu ketika, di saat teduhku, aku membaca firman Tuhan dan mendapatkan beberapa pemahaman tentang kedaulatan-Nya. Hatiku pun tidak lagi tertekan dan gelisah, Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Jika Tuhan mengizinkanmu untuk hidup, engkau tidak akan mati separah apa pun penyakitmu. Jika Tuhan tidak mengizinkanmu untuk hidup, meskipun engkau tidak sakit, engkau akan tetap mati jika itu yang harus terjadi. Masa hidupmu ditakdirkan oleh Tuhan. Jika engkau dapat melihat hal ini dengan jelas, itu membuktikan engkau memahami kebenaran dan memiliki iman yang sejati. Jadi, apakah Tuhan membiarkan orang jatuh sakit secara kebetulan? Ini bukan sesuatu yang kebetulan; ini adalah sebuah cara untuk memurnikan iman mereka. Orang harus menanggung penderitaan ini. Jika Dia membiarkanmu jatuh sakit, jangan mencoba untuk menghindarinya; jika Dia tidak membiarkanmu jatuh sakit, maka jangan memintanya. Semuanya berada di tangan Sang Pencipta, dan manusia harus belajar untuk membiarkan segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya. Apa artinya berjalan sebagaimana mestinya? Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan; semua berasal dari Tuhan. Ini benar adanya. Di antara orang-orang yang menderita penyakit yang sama, sebagian ada yang mati dan yang lainnya hidup; semua ini telah ditakdirkan oleh Tuhan. Jika engkau bisa hidup, itu membuktikan bahwa engkau belum menyelesaikan misi yang Tuhan berikan kepadamu. Engkau harus bekerja keras untuk menyelesaikannya dan menghargai waktu yang ada; jangan menyia-nyiakannya. Demikianlah kenyataan yang sebenarnya. Jika engkau sakit, jangan mencoba melarikan diri darinya, dan jika engkau tidak sakit, jangan memintanya. Engkau tidak dapat memperoleh sesuatu hanya dengan memintanya, engkau juga tidak dapat menghindari sesuatu hanya dengan mencoba melarikan diri darinya. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah apa yang telah Tuhan tetapkan akan Dia lakukan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa masa hidup manusia telah ditakdirkan oleh Tuhan. Saudari Liu meninggal di usia 80 tahun karena masa hidupnya sudah habis. Semua orang mengalami lahir, menua, sakit, dan meninggal dunia—ini adalah hukum alam dalam kehidupan. Aku teringat akan tetanggaku, Xiaoshi. Dia meninggal saat masih berusia 34 tahun, padahal selama ini kesehatannya selalu baik. Tak kusangka, dia meninggal karena menabrak tiang listrik. Aku menyadari bahwa hidup semua orang ada di tangan Tuhan, dan kita tak bisa mengendalikan nasib kita sendiri. Saat masa hidup kita berakhir, kita akan mati sekalipun tidak sedang sakit. Contohnya adalah aku. Waktu aku didiagnosis mengidap strok lakunar, dokter berkata bahwa dengan mengidap penyakit ini di usiaku, jika aku sampai terjatuh, aku akan berisiko tinggi mengalami pendarahan otak. Namun, beberapa tahun terakhir ini, aku telah jatuh berulang kali, dan aku tidak mengalami pendarahan otak. Aku juga pernah tiba-tiba merasa pusing dan linglung, seolah-olah bisa mati kapan saja. Namun, setelah sehari merasa tidak nyaman, aku kemudian pulih. Jika misiku belum selesai, aku tak akan meninggal sekalipun sudah tua dan sakit. Kalau satu hari nanti penyakitku benar-benar memburuk, ini adalah penderitaan yang harus kutanggung. Saat tiba waktunya aku meninggal dunia, aku akan tunduk pada kedaulatan dan penataan Tuhan. Inilah nalar yang seharusnya kumiliki. Selagi masih bisa bernapas, aku harus memanfaatkan kesempatan yang kupunya saat ini, dan menghabiskan waktu serta tenagaku untuk melaksanakan tugasku dan mengejar kebenaran, berusaha keras untuk memperoleh sesuatu di setiap hariku. Aku tak boleh lagi menghabiskan waktuku dalam kekhawatiran dan kegelisahan, yang membuang waktuku yang berharga. Saat memahami hal ini, aku merasa jauh lebih tenang, dan lebih bersemangat untuk melaksanakan tugasku.
Kemudian, aku terinfeksi COVID-19, kesehatanku melemah, dan ingatanku memburuk. Suatu kali, pengawas mengadakan pertemuan dengan kami dan membacakan firman Tuhan. Saat itu, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang sangat cocok dengan keadaanku, dan aku ingin mempersekutukan bagian ini nanti. Namun, saat terus membacanya, aku tak bisa mengingat poin utama dari bagian sebelumnya, dan ketika setelah selesai membaca, aku kembali mencari bagian itu lagi, aku tidak bisa menemukannya. Aku sangat cemas hingga ujung hidungku mulai berkeringat. Pada akhirnya, aku berhasil bersekutu sedikit, tetapi ucapanku tidak jelas dan tidak teratur. Aku merasa sangat malu, sedikit putus asa, dan kecewa. Aku berpikir, "Sekarang aku sudah tua, aku sungguh tak berguna. Otakku lambat bereaksi, dan sekeras apa pun aku mencoba, aku tak bisa mengimbangi orang-orang muda!" Makin kupikirkan, makin aku menjadi negatif. Aku merasa seakan kesempatanku untuk diselamatkan menjadi makin kecil, dan harapanku untuk diberkati pun makin tipis. Di lain waktu, seorang saudari menyalin satu video pembacaan firman Tuhan untukku. Aku melihat dengan mataku sendiri bahwa saudari itu mengopikannya untukku, tetapi begitu tiba di rumah dan menyalakan komputerku, aku tak bisa menemukannya. Aku berpikir, "Sepertinya aku harus menerima fakta bahwa aku sudah tua. Mengapa ingatanku begitu buruk? Jika terjadi sesuatu yang mendesak, bukankah akhirnya aku akan menundanya?" Tepat saat aku mulai gelisah, saudariku datang, dan aku pun mengeluh padanya, berkata, "Kini aku sudah sangat tua hingga tak bisa mengingat apa pun. Bukankah semuanya sudah berakhir bagiku? Masih bisakah aku mengejar kebenaran dan diselamatkan?" Saat melihat bahwa aku sedikit negatif, saudariku menghiburku dan memintaku untuk membaca bab firman Tuhan "Cara Mengejar Kebenaran (3)". Aku membaca firman Tuhan: "Orang lanjut usia selalu memiliki kesalahpahaman, menganggap diri mereka linglung, ingatan mereka buruk, sehingga mereka tidak mampu memahami kebenaran. Apakah ini fakta? (Tidak.) Meskipun orang muda jauh lebih bertenaga dibandingkan orang lanjut usia, dan secara fisik mereka lebih kuat, tetapi sebenarnya kemampuan mereka untuk mengerti, memahami, dan mengetahui sama saja dengan kemampuan orang lanjut usia. Bukankah orang lanjut usia juga pernah muda? Mereka tidak terlahir dalam keadaan tua, dan orang-orang muda, suatu hari juga akan menjadi tua. Orang lanjut usia tidak seharusnya selalu berpikir karena mereka sudah tua, lemah secara fisik, kurang sehat, dan memiliki ingatan yang buruk, itu berarti mereka berbeda dengan orang muda. Sebenarnya, tidak ada perbedaan. Apa maksud-Ku mengatakan tidak ada perbedaan? Entah seseorang itu sudah tua atau masih muda, mereka sama saja dalam hal watak rusak mereka, dalam hal sikap dan pandangan mereka, dan dalam hal perspektif dan pendirian mereka ketika memandang segala sesuatu. ... Jadi, bukan berarti orang lanjut usia tidak memiliki apa pun untuk dikerjakan, bukan juga berarti mereka tidak mampu melaksanakan tugas mereka, apalagi tidak mampu mengejar kebenaran. Ada banyak hal yang seharusnya mereka lakukan. Dalam seumur hidupmu, engkau telah mengumpulkan segala macam ajaran sesat dan kekeliruan, serta berbagai ide dan gagasan tradisional, hal-hal yang bodoh dan keras kepala, hal-hal yang kolot, hal-hal yang tidak rasional, dan hal-hal yang menyimpang. Semua ini telah menumpuk terlalu banyak di dalam hatimu. Engkau harus menghabiskan lebih banyak waktu daripada orang muda untuk menggali, menelaah, dan mengetahui hal-hal ini. Bukan berarti tidak ada yang harus kaukerjakan. Ketika engkau tidak sedang mengerjakan apa pun, engkau menjadi sedih, cemas, dan khawatir, padahal itu bukanlah tugasmu ataupun tanggung jawabmu. Pertama-tama, orang lanjut usia harus memiliki pola pikir yang benar. Meskipun usiamu terus bertambah dan secara fisik engkau agak menua, engkau harus memiliki pola pikir yang muda. Meskipun engkau makin tua, kemampuan berpikirmu melambat, dan daya ingatmu buruk, jika engkau masih mampu mengenal dirimu sendiri, masih memahami perkataan yang Kuucapkan, dan masih memahami kebenaran, maka itu membuktikan bahwa engkau belum tua dan kualitasmu tidak buruk. Jika orang sudah berusia 70-an atau 80-an tetapi tidak mampu memahami kebenaran, ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan mereka terlalu rendah dan mereka tidak mencapai pemahaman akan kebenaran. Jadi, usia tidak ada kaitannya dengan kebenaran .... Di rumah Tuhan, dan di hadapan kebenaran, apakah orang-orang lanjut usia merupakan kelompok khusus? Tidak. Usia tidak relevan di hadapan kebenaran, demikian pula halnya dengan watak yang rusak, kedalaman kerusakan seseorang, apakah seseorang memenuhi syarat untuk mengejar kebenaran, apakah seseorang dapat memperoleh keselamatan, atau seberapa besar kemungkinan seseorang untuk diselamatkan. Bukankah benar demikian? (Ya.)" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran). Firman Tuhan benar-benar menyentuh hatiku, terutama firman ini: "Meskipun engkau makin tua, kemampuan berpikirmu melambat, dan daya ingatmu buruk, jika engkau masih mampu mengenal dirimu sendiri, masih memahami perkataan yang Kuucapkan, dan masih memahami kebenaran, maka itu membuktikan bahwa engkau belum tua dan kualitasmu tidak buruk." Tuhan sangat mengenal kami, kaum lansia. Dia tidak menolak kaum lansia, tetapi Dia mendorong kami agar memiliki pola pikir yang positif, tidak hidup dalam tekanan dan kecemasan karena usia kami, dan melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kami demi melaksanakan tugas. Firman Tuhan memberiku jalan penerapan, dan aku melihat sedikit harapan. Aku selalu percaya bahwa orang-orang muda itu berkualitas baik, cepat memahami kebenaran, efisien dalam melaksanakan tugas mereka, sehingga memiliki harapan yang lebih besar untuk diselamatkan. Di sisi lain, semua fungsi tubuhku menurun seiring bertambahnya usiaku. Ingatanku buruk, aku lambat memahami kebenaran, dan tak bisa mengimbangi kecepatan dalam hal apa pun. Khususnya, ingatanku memburuk setelah aku terinfeksi COVID-19, dan merasa diriku tidak berguna, tanpa ada harapan untuk memperoleh berkat. Aku hidup dalam emosi negatif yang penuh tekanan dan kegelisahan, yang tidak hanya menghalangi jalan masuk kehidupanku sendiri, tetapi juga menghambat tugasku. Aku menyadari bahwa sangatlah berbahaya hidup dalam emosi negatif itu, dan aku harus secara positif dan aktif berusaha untuk maju menuju kebenaran. Meski aku sudah tua, pemahamanku lambat, dan ingatanku buruk, bukan berarti aku tak bisa memahami kebenaran sama sekali. Aku juga belum terlalu tua sampai tak bisa memahami firman Tuhan. Aku harus menghargai waktuku yang terbatas dan mengejar kebenaran untuk mengubah watak rusakku. Masih banyak watak rusak yang belum kusingkirkan, dan masih banyak sudut pandang yang harus diubah. Selama aku tidak menyerah dalam mengejar kebenaran, aku masih punya kesempatan untuk diselamatkan. Kebenaran tidak memihak siapa pun. Saat memahami hal ini, hatiku terasa tenang.
Di hari-hari berikutnya, aku terus merenungkan alasanku selalu takut bahwa aku tidak akan bisa diselamatkan karena sudah terlalu tua untuk melaksanakan tugas. Watak rusak apa yang menguasaiku? Aku membaca firman Tuhan: "Semua orang percaya kepada Tuhan untuk memperoleh berkat, upah, dan mahkota. Bukankah setiap orang memiliki niat ini di dalam hati mereka? Sebenarnya, setiap orang memilikinya. Ini adalah fakta. ... Tanpa niat untuk memperoleh berkat ini, bagaimana perasaan engkau semua? Dengan sikap apa engkau akan melaksanakan tugasmu dan mengikut Tuhan? Akan jadi apa orang-orang jika niat untuk memperoleh berkat yang tersembunyi di dalam hati mereka ini dihilangkan sepenuhnya? Mungkin saja banyak orang akan menjadi negatif, dan sebagian akan kehilangan motivasi dalam tugas mereka, dan kehilangan minat dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Mereka akan tampak seperti telah kehilangan jiwa mereka, dan seolah-olah hati mereka telah diambil. Inilah sebabnya Kukatakan bahwa niat untuk memperoleh berkat adalah sesuatu yang tersembunyi di lubuk hati orang. Mungkin, saat melaksanakan tugas mereka atau menjalani kehidupan bergereja, mereka merasa bahwa mereka telah memahami beberapa kebenaran dan mampu meninggalkan keluarga dan dengan senang hati mengorbankan diri mereka untuk Tuhan, dan bahwa sekarang mereka memiliki pengenalan tentang niat mereka untuk memperoleh berkat, dan telah meninggalkan niat ini, dan tidak lagi dikuasai atau dikekang olehnya. Kemudian, mereka berpikir bahwa mereka tidak lagi memiliki niat untuk memperoleh berkat, padahal menurut Tuhan justru sebaliknya. Orang-orang hanya melihat hal-hal yang terlihat di luarnya. Tanpa ujian, mereka merasa baik tentang diri mereka sendiri. Selama mereka tidak meninggalkan gereja atau menyangkal nama Tuhan, dan mereka bertekun dalam mengorbankan diri mereka bagi Tuhan, mereka yakin bahwa mereka telah berubah. Mereka merasa tidak lagi didorong oleh semangat mereka atau dorongan sesaat dalam melaksanakan tugas mereka. Sebaliknya, mereka yakin bahwa mereka mampu mengejar kebenaran, dan mereka mampu untuk terus mencari dan menerapkan kebenaran saat melaksanakan tugas mereka sehingga watak rusak mereka ditahirkan dan mereka mencapai sedikit perubahan sejati. Namun, ketika sesuatu terjadi yang berkaitan langsung dengan tempat tujuan dan kesudahan mereka, apa perwujudan mereka? Situasi mereka yang sebenarnya disingkapkan sepenuhnya. Jadi, pada akhirnya, bagi manusia, apakah keadaan ini merupakan penyelamatan dan penyempurnaan, ataukah penyingkapan dan penyingkiran? Apakah ini hal yang baik atau buruk? Bagi mereka yang mengejar kebenaran, itu berarti penyelamatan dan penyempurnaan, yaitu sesuatu yang baik; bagi mereka yang tidak mengejar kebenaran, itu berarti disingkapkan dan disingkirkan, yaitu sesuatu yang buruk" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Enam Indikator Pertumbuhan dalam Hidup"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku mengaitkannya dengan diriku sendiri: Aku percaya kepada Tuhan karena ingin diberkati. Setelah menerima tahap pekerjaan ini, aku mengorbankan diri dengan antusias dan melaksanakan dengan semaksimal mungkin tugas apa pun yang diberikan gereja padaku, tidak pernah merasa menderita atau lelah. Terkadang, aku memindahkan buku-buku firman Tuhan di situasi yang sangat berbahaya, tetapi aku tidak takut. Bahkan saat menderita strok lakunar di tahun 2018, aku tidak berhenti melaksanakan tugasku. Aku pikir selama aku aktif melaksanakan tugasku dengan cara ini, aku akan diberkati dan memiliki tempat tujuan yang baik di masa depan. Namun, sejak berusia 70 tahun, semua fungsi fisikku mulai menurun, dan ingatanku tak sebagus sebelumnya, ditambah lagi strok lakunar yang kuderita. Aku takut jika meninggal, maka aku tak akan bisa melaksanakan tugasku, dan tidak akan diselamatkan, jadi aku hidup dalam keadaan putus asa. Dengan enggan, aku melaksanakan tugasku, tetapi tidak bersemangat. Terutama setelah terinfeksi COVID-19 dan melihat bahwa kesehatan serta ingatanku makin buruk dari sebelumnya, aku merasa tak punya harapan untuk diberkati dan tak bisa memperoleh tempat tujuan yang baik, jadi aku hidup dalam kenegatifan dan penderitaan, juga tidak tertarik untuk melakukan apa pun. Aku tak mau membaca firman Tuhan atau berdoa kepada-Nya, dan tak punya tenaga sama sekali untuk melaksanakan tugasku; hatiku pun makin jauh dari Tuhan. Dahulu, saat aku punya harapan untuk menerima berkat, aku mampu menanggung penderitaan dan membayar harga dalam tugasku, terlihat tulus kepada Tuhan. Padahal sebenarnya, aku menganggap pelaksanaan tugasku sebagai modal untuk mendapatkan berkat, dan aku terus berusaha tawar-menawar dengan Tuhan dan menipu-Nya. Aku sangat egois dan hina, tidak memiliki kemanusiaan sama sekali! Mana mungkin aku adalah orang yang percaya dengan tulus kepada Tuhan? Tuhan itu kudus, dan watak-Nya tak dapat dilanggar. Bagaimana Dia bisa menoleransi orang yang berusaha menipu-Nya? Meskipun aku bertindak seperti ini, aku masih meminta berkat dari Tuhan. Aku sungguh tak tahu malu! Selama bertahun-tahun itu, aku tidak fokus mengejar kebenaran, dan watakku tidak berubah. Aku percaya kepada Tuhan demi mendapat berkat. Selama ini, aku menempuh jalan Paulus! Jika Tuhan tidak menyingkapkanku, aku akan tetap mengejar berkat, dan pada akhirnya, aku akan sepenuhnya disingkirkan dan dikirim ke neraka. Hari ini, aku dapat memahami jalan salah yang telah kutempuh. Ini adalah keselamatan besar dari Tuhan untukku! Saat memahami hal ini, aku sangat menyesal karena tidak mengejar kebenaran selama bertahun-tahun ini. Kemudian, aku harus melepaskan niatku untuk mendapat berkat dan mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh. Aku tak boleh mengecewakan Tuhan lagi.
Aku meneruskan merenungkan diriku dan teringat akan satu bagian firman Tuhan: "Aku menentukan tempat tujuan setiap orang bukan berdasarkan usia, senioritas, ataupun jumlah penderitaan, dan terlebih lagi, bukan berdasarkan betapa menyedihkannya mereka, melainkan berdasarkan apakah mereka memiliki kebenaran. Tidak ada pilihan lain selain ini" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Persiapkan Perbuatan Baik yang Cukup demi Tempat Tujuanmu"). Tuhan telah menyatakan dengan jelas standar-standar untuk menentukan kesudahan manusia. Tuhan menentukan kesudahan manusia berdasarkan apakah mereka mengejar kebenaran, menerapkan kebenaran, dan pada akhirnya, apakah mereka mencapai perubahan dalam watak mereka. Inilah kebenaran Tuhan. Dulu, aku berpikir bahwa Tuhan menentukan kesudahan manusia berdasarkan usia dan seberapa banyak tugas yang mereka laksanakan. Jika dilihat dari sudut pandangku, semua orang yang sudah tua akan disingkirkan, dan orang-orang muda akan diselamatkan. Kalau begitu, watak benar Tuhan tidak akan tersingkap. Aku teringat akan orang-orang muda yang telah dikeluarkan dari gereja. Mereka cerdas dan berbakat, tetapi mereka sama sekali tidak mengejar kebenaran, tamak akan kenikmatan duniawi, serta tidak membaca firman Tuhan atau melaksanakan tugas mereka. Pada akhirnya, mereka digolongkan sebagai pengikut yang bukan orang percaya dan disingkirkan. Aku melihat bahwa entah seseorang muda atau tua, jika mereka tidak mengejar kebenaran dan watak mereka tidak berubah, pada akhirnya mereka akan disingkirkan.
Aku membaca beberapa firman Tuhan lainnya, dan hatiku makin tercerahkan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada orang yang berkata, 'Aku berumur enam puluh tahun. Selama enam puluh tahun, Tuhan telah menjaga, melindungi, dan menuntunku. Jika usiaku telah lanjut dan aku tak mampu lagi melaksanakan tugas atau melakukan apa pun—akankah Tuhan masih peduli kepadaku?' Bukankah ini hal yang konyol untuk dipertanyakan? Tuhan tidak hanya menjaga dan melindungi seseorang dan berdaulat atas nasibnya selama satu masa kehidupan. Jika hanya untuk satu masa kehidupan, untuk satu rentang hidup manusia, itu tidak akan bisa menunjukkan bahwa Tuhan itu mahakuasa dan berdaulat atas segala sesuatu. Dalam mengerahkan upaya dan membayar harga bagi seseorang, Tuhan tidak hanya mengatur apa yang akan mereka lakukan dalam kehidupan ini—Dia mengatur masa kehidupan yang tak terhitung banyaknya bagi mereka. Tuhan bertanggung jawab penuh atas setiap jiwa yang bereinkarnasi. Dia bekerja dengan hati-Nya, membayar harga dengan nyawa-Nya, membimbing setiap orang dan mengatur setiap kehidupan mereka. Mengingat bahwa Tuhan mengerahkan upaya semacam itu dan membayar harga semacam itu demi manusia, dan menganugerahkan kepada manusia semua kebenaran ini dan kehidupan ini, jika pada akhir zaman ini orang tidak melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dan kembali ke hadapan Sang Pencipta—jika sebanyak apa pun kehidupan dan generasi yang telah mereka lalui, mereka pada akhirnya gagal memenuhi tugas mereka dan gagal memenuhi tuntutan Tuhan—bukankah utang mereka kepada Tuhan akan menjadi terlalu besar? Bukankah mereka tidak layak atas semua harga yang telah Tuhan bayar? Mereka benar-benar tidak memiliki hati nurani, mereka tidak akan layak disebut manusia, karena utang mereka kepada Tuhan terlalu besar" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Membayar Harga untuk Memperoleh Kebenaran Sangatlah Bermakna"). "Apa yang harus engkau semua lakukan sekarang? Sementara hati Tuhan masih bersusah payah bagi umat manusia, sementara Dia masih membuat rencana bagi umat manusia, sementara Dia masih merasa sedih dan khawatir atas setiap gerak-gerik umat manusia, engkau harus membuat pilihanmu dan menentukan tujuan serta arah pengejaranmu sesegera mungkin. Jangan menunggu sampai hari perhentian Tuhan telah tiba untuk membuat rencanamu, atau baru benar-benar merasa menyesal, bersedih, dan sangat berduka serta menyesali diri pada saat itu—karena pada saat itu, semuanya sudah terlambat, tak ada seorang pun yang akan mampu menyelamatkanmu, dan Tuhan pun tidak" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Mengapa Manusia Harus Mengejar Kebenaran"). Setelah membaca firman Tuhan, aku sangat tersentuh. Tuhan selalu menjaga dan melindungi manusia, juga selalu memimpin mereka. Harga yang telah dibayar Tuhan untuk keselamatan manusia sangatlah mahal. Contohnya adalah aku. Aku hanya ibu rumah tangga biasa. Aku tumbuh di keluarga miskin dan tidak ada yang menghormatiku, sehingga aku hidup dengan perasaan rendah diri. Tuhan telah memberiku kasih karunia dengan mengizinkanku menerima pekerjaan-Nya di akhir zaman dan melaksanakan tugasku di gereja, memperoleh kesempatan untuk diselamatkan. Tuhan juga terus mengatur lingkungan untuk menyingkapkan kerusakanku, menggunakan firman-Nya untuk mencerahkanku dan membantuku mengenal diriku sendiri serta memahami beberapa kebenaran. Setelah menua, aku percaya bahwa karena responsku terlalu lambat dan aku tidak dapat melaksanakan tugas apa pun, aku tidak dapat diselamatkan, sehingga aku hidup dalam keadaan negatif. Namun, Tuhan tetap mencerahkanku agar aku dapat memahami kebenaran dan membantuku keluar dari emosi negatif yang penuh penderitaan dan kegelisahan, sedikit demi sedikit membimbingku ke jalan mengejar kebenaran. Tuhan telah mencurahkan begitu banyak hati dan usaha-Nya kepadaku! Aku merenungkan firman Tuhan sambil menangis, merasa tidak memiliki hati nurani dan nalar sama sekali! Aku sudah sangat mengecewakan Tuhan dengan tidak sungguh-sungguh mengejar kebenaran selama sekian tahun ini, dan meninggalkan begitu banyak penyesalan. Kini pekerjaan Tuhan belum berakhir, dan Dia masih bekerja untuk menyelamatkan orang-orang. Aku harus mencurahkan segenap tenaga dan waktuku untuk mengejar kebenaran, mengatasi watak rusakku, dan melaksanakan tugasku. Aku harus melaksanakan tugasku dengan baik dan sebatas kemampuanku, juga tidak lagi membuat Tuhan cemas dan khawatir terhadap diriku.
Sekarang aku bertanggung jawab atas pertemuan dua kelompok. Saat melihat saudara atau saudari yang keadaannya buruk atau mengalami kesulitan, aku mencari firman Tuhan yang relevan untuk membantu menyelesaikan masalah mereka. Ketika melihat masalah mereka sudah agak teratasi, aku merasa sangat senang. Ketika ada waktu, aku juga berlatih menulis artikel kesaksian pengalaman dan memberitakan Injil, serta melaksanakan tugasku dengan segenap kemampuanku. Dengan hidup seperti ini, aku merasa sangat puas dan tenang setiap hari. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas keselamatan-Nya!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Suatu hari di bulan Oktober 2019, kakiku terasa sangat sakit, bahkan obat pereda nyeri pun tidak mempan. Aku teringat seorang saudari yang...
Sejak menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman, aku selalu bersemangat untuk memberitakan Injil dan melaksanakan tugasku,...
Pada tahun 1997, aku mulai percaya pada Tuhan Yesus karena aku tidak bisa menyembuhkan radang usus yang telah kuderita bertahun-tahun, dan...
Oleh Saudari Jin Xin, TiongkokIbuku mengidap kanker dan meninggal sebelum aku menikah dan ayahku menderita tekanan darah tinggi ketika...