Bolehkah Percaya kepada Tuhan Hanya untuk Mendapatkan Kasih Karunia dan Berkat?
Pada bulan Juli 2008, bibiku memberitakan Injil Tuhan pada akhir zaman kepadaku. Melalui pembacaan firman Tuhan Yang Mahakuasa, aku jadi...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada tahun 2010, istriku memberitakan Injil Kerajaan Tuhan kepadaku. Dengan membaca firman Tuhan, aku pun mengetahui bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, dan Dia mengungkapkan kebenaran untuk menyucikan dan menyelamatkan umat manusia. Aku sangat gembira dan berpikir dalam hati, "Mulai sekarang, aku harus sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan mengikuti-Nya. Betapa diberkatinya aku jika kelak dapat menerima berkat dan keselamatan Tuhan!" Setelah beberapa waktu, aku mulai menyirami para anggota baru di gereja, dan kemudian, aku menjadi pemimpin gereja. Setiap hari aku sibuk mengurus berbagai bagian pekerjaan gereja, dan aku merasa sangat senang, berpikir bahwa selama aku terus melaksanakan tugasku dengan cara ini, aku pasti akan memperoleh keselamatan. Agar bisa mengabdikan diri sepenuh waktu pada tugasku, aku mengalihkan bisnis kayuku yang menguntungkan itu kepada seorang kerabat.
Pada bulan Januari 2017, aku menjalani operasi pada mata kiriku karena ablasi retina, tetapi operasinya tidak berjalan dengan baik, sehingga penglihatanku hanya 0,1. Aku bahkan tidak bisa melihat tulisan dengan jelas, dan hanya bisa menggunakan mata kananku untuk melihat. Awalnya aku berencana untuk menjalani operasi lagi beberapa waktu kemudian, tetapi pada bulan Juni, karena dikhianati oleh seorang Yudas, polisi PKT mulai berusaha menangkap kami di berbagai tempat, jadi aku dan istriku melarikan diri ke daerah lain, dan aku tidak berani pergi ke rumah sakit untuk berobat. Saat itu, yang bisa kulakukan hanyalah tinggal di rumah dan melaksanakan tugas tulis-menulis, tetapi ketika aku menatap komputer untuk waktu yang lama, penglihatanku menjadi kabur, dan aku merasa sangat sulit untuk melaksanakan tugasku. Ketika melihat saudara-saudari di sekitarku memiliki penglihatan yang cukup baik, aku berpikir, "Beberapa tahun terakhir ini, aku telah melepaskan bisnisku dan melaksanakan tugasku di gereja, jadi mengapa harus aku yang terkena penyakit mata? Mata kananku sebelumnya juga telah dioperasi, jadi jika ada masalah dengan mata itu juga, tugas apa yang bisa kulaksanakan? Jika aku tidak melaksanakan tugasku, bagaimana aku bisa diselamatkan?" Aku ingin mengambil risiko dengan pergi ke rumah sakit untuk dirawat, tetapi aku takut ditangkap oleh PKT, jadi aku tidak berani pergi. Aku teringat beberapa saudara-saudari yang tetap tekun melaksanakan tugasnya setelah jatuh sakit, dan kemudian pulih sepenuhnya. Jika aku tetap tekun dalam tugasku, bukankah Tuhan akan berbelas kasihan kepadaku dan menyembuhkanku juga? Mungkin mataku pada akhirnya akan membaik? Jadi, aku terus melaksanakan tugasku dengan cara ini.
Pada tanggal 1 Mei 2024, mata kananku tiba-tiba menjadi sangat bengkak dan sakit, dan aku merasa pusing dan mual. Dalam sekejap, aku tidak bisa melihat apa pun. Setelah beberapa saat, aku bisa melihat samar-samar sosok orang yang bergoyang di depanku, tetapi aku tidak bisa melihat dengan jelas ke mana aku berjalan. Aku seketika merasa bingung dan berpikir, "Apa yang terjadi? Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, aku sudah menjalani operasi ablasi retina pada mata kananku. Mungkinkah ini kambuhnya penyakit lama itu? Ini benar-benar gawat. Mata kiriku belum sembuh, dan sekarang aku tidak bisa melihat dengan mata kananku. Jika kedua mataku buta, aku tidak akan bisa melaksanakan tugas apa pun. Pekerjaan Tuhan akan segera berakhir, dan di saat kritis ini, jika aku tidak bisa melihat, bukankah aku akan menjadi tidak berguna? Apakah aku akan disingkirkan?" Aku sangat khawatir, dan tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian, mata kananku terasa perih seperti terbakar, kepalaku sangat sakit, dan aku terus merasa ingin muntah. Karena tidak ada pilihan lain, aku mengambil risiko pergi ke rumah sakit untuk diperiksa. Dokter mengatakan aku menderita glaukoma sudut tertutup akut, sehingga tekanan mataku tinggi, pupilku melebar, dan mataku kemerahan parah. Dia mengatakan mungkin penyebab penglihatanku kabur adalah karena kekeruhan badan kaca pada mata atau pergeseran lensa mata. Dia berkata bahwa aku perlu segera dirawat inap, jika tidak, mata kananku bisa buta. Ketika mendengar ini, aku berpikir, "Tamatlah aku. Penglihatan mata kiriku buruk, dan kalau mata kananku juga tidak bisa melihat, bukankah aku akan benar-benar buta? Jangankan melaksanakan tugas, mengurus kehidupan sehari-hari saja akan menjadi masalah. Apa yang akan kulakukan nanti? Aku sudah melaksanakan tugasku penuh waktu di gereja selama beberapa tahun terakhir, jadi bagaimana mungkin aku bisa terkena penyakit seperti ini? Kalau hanya sakit punggung atau sakit kaki, tidak apa-apa; setidaknya itu tidak akan menunda tugasku. Namun, jika mataku tidak bisa melihat dan aku tidak bisa melaksanakan tugas, bukankah aku akan menjadi tidak berguna? Bagaimana aku masih bisa diselamatkan seperti ini?" Makin kupikirkan, makin aku menjadi negatif. Aku dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Dokter mencoba berbagai perawatan, tetapi tekanan mataku terus berfluktuasi antara tinggi dan rendah. Pupil mataku tidak bisa kembali normal, dan aku melihat objek ganda, semuanya seakan kabur seperti memakai kacamata baca berlensa sangat tebal. Penglihatanku hanya 0,04. Dokter mengatakan bahwa untuk saat ini tidak ada pengobatan yang efektif, dan satu-satunya pilihan adalah melakukan tindakan pungsi dahulu. Dengan cara ini, dia bisa melihat apakah tekanan mata bisa diturunkan, lalu memeriksa kondisi lensa dan kemudian menentukan apakah akan melakukan operasi kedua. Hancur hatiku seketika saat mendengarnya. Saat terbaring di tempat tidur, pikiranku menjadi liar: "PKT telah memburuku selama bertahun-tahun, dan aku telah melepaskan bisnisku untuk melaksanakan tugasku. Bahkan dengan hanya satu mata yang berfungsi baik, aku tetap melaksanakan tugasku, dan tugasku membuahkan hasil, jadi mengapa Tuhan tidak melindungiku? Mungkinkah aku belum membayar harga yang cukup, atau belum cukup mengorbankan diri?" Menurut doktrin, aku harus tunduk pada penataan dan pengaturan Tuhan, tetapi dalam hatiku, aku masih berharap Tuhan akan menyembuhkan mataku. Alangkah indahnya jika terjadi mukjizat! Kemudian, aku melihat seorang pasien di ranjang sebelah, yang telah menjalani operasi ablasi retina tetapi tekanan matanya setelah itu masih tetap tinggi. Penglihatannya di kedua mata hampir hilang, dia perlu memegang bahu istrinya hanya untuk berjalan perlahan, dan sudah tidak ada harapan untuk sembuh baginya. Ini membuatku mulai kembali khawatir jika aku akan berakhir seperti dia. Anakku memberi tahu bahwa internet berkata bahwa kehilangan penglihatan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan dan penyakit ini tidak ada obatnya. Saat mendengar hal ini, aku makin sedih dan tertekan, aku pun mulai mengeluh, "Begitu banyak saudara-saudari yang telah disembuhkan oleh Tuhan ketika mereka menghadapi penyakit, jadi mengapa Tuhan tidak menunjukkan kasih karunia kepadaku?" Aku tidak bisa tunduk dalam hatiku, dan aku tidak mau berdoa lagi. Aku melewati hari-hariku dengan menghela napas, aku tidak mau makan, dan tidak bisa tidur nyenyak. Dalam beberapa hari, berat badanku turun beberapa kilogram. Setelah operasi kedua, dokter memasang lensa buatan di mataku. Ketika aku keluar dari ruang operasi, mataku terasa perih seperti terbakar, dan kepalaku juga sangat nyeri. Tekanan mataku begitu tinggi sehingga tidak bisa diukur. Dokter hanya bisa mengeluarkan humor akuos melalui sayatan bedah setiap setengah jam, dan menggunakan obat untuk menurunkan tekanan mata. Namun enam jam telah berlalu, dan tekanan mata masih belum turun. Dokter mengatakan ini sangat berbahaya, bahwa operasinya bisa jadi sia-sia, dan penglihatanku tidak dapat diselamatkan. Ketika memikirkan bahwa di masa mendatang mata kananku mungkin tidak bisa melihat sama sekali, aku merasakan sakit yang mendalam di dalam hati. Di saat itulah aku akhirnya mulai merenung. Sejak pertama kali aku terkena penyakit mata sampai saat ini, aku tidak memiliki sikap tunduk, hanya mengeluh dan salah paham terhadap Tuhan, dan aku tidak memiliki nalar yang seharusnya dimiliki oleh orang yang percaya kepada Tuhan. Jadi, aku berdoa dan memercayakan penyakit mataku ke tangan Tuhan, bersedia untuk tunduk pada penataan dan pengaturan Tuhan, tidak peduli apa yang terjadi pada mataku. Tanpa diduga, setelah beberapa saat, mataku bisa melihat sedikit dengan samar, dan tekanan mataku berangsur-angsur kembali normal. Keesokan harinya, meskipun penglihatanku masih kabur, penglihatanku telah membaik menjadi 0,2. Aku tiba-tiba dipenuhi sukacita, dan aku menyadari bahwa ini adalah belas kasihan Tuhan dan pengertian-Nya akan kelemahanku, aku terus bersyukur kepada Tuhan dalam hatiku.
Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku tinggal di rumah kerabat untuk sementara waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri. Selama waktu ini, para pemimpin, pengawas, dan saudara-saudari lainnya juga menulis surat untuk menunjukkan kepedulian kepadaku, menanyakan keadaanku dan menemukan firman Tuhan untuk membantu serta mendukungku. Istriku juga membacakan firman Tuhan untukku, di antaranya, ada dua bagian firman Tuhan yang sangat membantuku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Apakah engkau berdoa kepada Tuhan dan mencari dari-Nya ketika penyakit dan penderitaan datang kepadamu? Bagaimana Roh Kudus bekerja untuk membimbing dan memimpinmu? Apakah Dia hanya mencerahkan dan menerangimu? Itu bukan satu-satunya cara yang digunakan-Nya; Dia juga akan mengujimu dan memurnikanmu. Bagaimana Tuhan menguji manusia? Bukankah Dia menguji manusia dengan membuat mereka menderita? Penderitaan datang bersama ujian. Jika bukan karena ujian, bagaimana mungkin orang bisa menderita? Tanpa penderitaan dari ujian, bagaimana orang bisa berubah? Penderitaan datang bersama ujian—jika orang mampu tunduk kepada Tuhan, Roh Kudus akan bekerja" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Dalam Kepercayaan kepada Tuhan, Memperoleh Kebenaran adalah Hal yang Terpenting"). "Ketika penyakit datang atas manusia, jalan apa yang harus mereka ikuti? Bagaimana seharusnya mereka memilih? Orang tidak boleh tenggelam dalam kesedihan, kecemasan, dan kekhawatiran, memikirkan masa depan dan jalan keluar mereka sendiri. Sebaliknya, makin orang mendapati diri mereka berada di saat-saat seperti ini dan dalam situasi serta keadaan khusus seperti ini, dan makin mereka mendapati diri mereka berada dalam kesulitan pribadi semacam ini, makin mereka harus mencari kebenaran dan mengejar kebenaran. Hanya dengan melakukan hal ini, barulah khotbah-khotbah yang telah kaudengar dan kebenaran-kebenaran yang telah kaupahami di masa lalu akan membuahkan hasil dan tidak menjadi sia-sia. Makin engkau mendapati dirimu berada dalam kesulitan-kesulitan semacam ini, makin engkau harus melepaskan keinginanmu sendiri dan tunduk pada pengaturan Tuhan. Tujuan Tuhan menetapkan situasi seperti ini dan mengatur kondisi ini bagimu bukanlah untuk membuatmu tenggelam dalam kesedihan, kecemasan, dan kekhawatiran, dan bukan agar engkau mencobai Tuhan untuk melihat apakah Dia akan benar-benar menyembuhkanmu ketika penyakit datang atasmu, dan dengan demikian mencari tahu kebenaran tentang masalah ini; Tuhan mengatur situasi dan keadaan khusus ini bagimu agar engkau dapat memetik pelajaran nyata dalam situasi dan keadaan seperti itu, agar engkau memperoleh jalan masuk yang lebih dalam ke dalam kebenaran dan ketundukan kepada Tuhan, dan agar engkau tahu dengan lebih jelas dan akurat tentang bagaimana Tuhan mengatur semua orang, peristiwa dan hal-hal. Nasib orang berada di tangan Tuhan; entah manusia mampu merasakannya atau tidak, entah mereka benar-benar menyadarinya atau tidak, mereka harus tunduk dan tidak menentang, tidak menolak, dan tentu saja tidak mencobai Tuhan. Bagaimanapun juga engkau akan mati, dan jika engkau menentang, menolak, dan mencobai Tuhan, maka sudah jelas seperti apa kesudahan akhirmu kelak. Sebaliknya, misalkan ketika engkau menghadapi penyakit, engkau mampu mencari bagaimana seharusnya makhluk ciptaan tunduk pada pengaturan Sang Pencipta, mencari pelajaran apa yang Tuhan ingin kaupetik dan watak rusakmu yang mana yang Tuhan ingin kauketahui dalam situasi yang telah terjadi padamu ini, dan dengan demikian memahami maksud-maksud Tuhan, serta memberikan kesaksian yang baik untuk memenuhi tuntutan Tuhan. Jika engkau menerapkan dengan cara seperti ini, engkau akan mampu mencapai ketundukan sejati kepada Tuhan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku merasakan niat yang tekun dari Tuhan. Maksud Tuhan bukanlah agar aku hidup dalam emosi negatif seperti kesedihan dan kecemasan, melainkan agar aku bisa berdoa, mengandalkan-Nya, dan tunduk pada penataan serta pengaturan-Nya, sehingga dari masalah ini, aku bisa mencari kebenaran, merenungkan dan mulai mengenal diriku sendiri. Tuhan menggunakan penyakitku untuk membersihkan kerusakanku, dan ini adalah kasih-Nya. Begitu aku memahami maksud Tuhan, aku mulai berdoa setiap hari, memohon agar Tuhan membimbingku untuk memetik pelajaran. Istriku juga sering membacakan firman Tuhan untukku. Perlahan-lahan, aku tidak lagi merasa begitu putus asa, dan keadaanku sangat membaik. Setelah beberapa waktu, aku kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan lagi, dan yang mengejutkan, penglihatanku telah mencapai 0,3. Aku mendapat kacamata lain lagi, dan aku bisa melihat sedikit lebih jelas tulisan di komputer, dan aku pun tidak terlalu terpengaruh lagi saat mengetik.
Setelah itu, aku mulai merenung, "Melalui penyakit ini, aku menyingkapkan begitu banyak keluhan dan kesalahpahaman—aspek mana dari watak rusakku yang harus kurenungkan?" Suatu hari, aku membaca firman Tuhan: "Semua orang percaya kepada Tuhan untuk memperoleh berkat, upah, dan mahkota. Bukankah setiap orang memiliki niat ini di dalam hati mereka? Sebenarnya, setiap orang memilikinya. Ini adalah fakta. Meskipun orang tidak sering membicarakannya, dan bahkan menutupi niat dan keinginan mereka untuk memperoleh berkat, keinginan ini, niat dan motif ini yang ada di lubuk hati orang tidak pernah goyah. Sebanyak apa pun teori rohani yang orang pahami, pengetahuan berdasarkan pengalaman apa pun yang mereka miliki, tugas apa pun yang mampu mereka laksanakan, sebanyak apa pun penderitaan yang mereka tanggung, atau sebesar apa pun harga yang mereka bayar, mereka tidak pernah melepaskan niat untuk memperoleh berkat yang tersembunyi di lubuk hati mereka, dan selalu secara diam-diam bekerja keras dan sibuk ke sana kemari untuk niat tersebut. Bukankah ini adalah hal yang terkubur di lubuk hati orang? Tanpa niat untuk memperoleh berkat ini, bagaimana perasaan engkau semua? Dengan sikap apa engkau akan melaksanakan tugasmu dan mengikut Tuhan? Akan jadi apa orang-orang jika niat untuk memperoleh berkat yang tersembunyi di dalam hati mereka ini dihilangkan sepenuhnya? Mungkin saja banyak orang akan menjadi negatif, dan sebagian akan kehilangan motivasi dalam tugas mereka, dan kehilangan minat dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Mereka akan tampak seperti telah kehilangan jiwa mereka, dan seolah-olah hati mereka telah diambil. Inilah sebabnya Kukatakan bahwa niat untuk memperoleh berkat adalah sesuatu yang tersembunyi di lubuk hati orang" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Enam Indikator Pertumbuhan dalam Hidup"). "Tujuan orang-orang ini mengikuti Tuhan sangat sederhana, dan itu untuk satu tujuan: diberkati. Orang-orang ini tidak mau repot-repot memperhatikan hal lain apa pun yang tidak ada hubungannya dengan tujuan ini. Bagi mereka, memperoleh berkat adalah tujuan yang paling dibenarkan dalam kepercayaan kepada Tuhan. Inilah nilai sebenarnya dari iman mereka. Jika sesuatu tidak memenuhi tujuan ini, apa pun itu, mereka tetap tidak tergerak olehnya. Inilah yang terjadi dengan kebanyakan orang yang percaya kepada Tuhan pada masa kini. Tujuan dan niat mereka kelihatannya dapat dibenarkan, karena bersamaan dengan percaya kepada Tuhan, mereka juga mengorbankan diri untuk Tuhan, mengabdikan diri mereka kepada Tuhan, dan melaksanakan tugas mereka. Mereka mengorbankan masa muda mereka, meninggalkan keluarga dan karier, dan bahkan menghabiskan bertahun-tahun jauh dari rumah sibuk ke sana kemari. Demi tujuan akhir mereka, mereka mengubah minat mereka, pandangan hidup mereka, dan bahkan mengubah arah yang mereka kejar, tetapi mereka tidak dapat mengubah tujuan kepercayaan mereka kepada Tuhan. ... Selain dari keuntungan yang berhubungan sangat erat dengan mereka, mungkinkah ada alasan lain mengapa orang-orang yang tidak pernah memahami Tuhan akan membayar harga yang begitu mahal bagi-Nya? Di sini, kita menemukan masalah yang sebelumnya tidak teridentifikasi oleh manusia: Hubungan manusia dengan Tuhan hanyalah hubungan yang didasarkan pada kepentingan pribadi yang terang-terangan. Hubungan ini adalah hubungan antara penerima dan pemberi berkat. Sederhananya, ini adalah hubungan antara pekerja dan majikan. Pekerja bekerja keras hanya untuk menerima upah yang diberikan oleh majikannya. Tidak ada kasih sayang kekeluargaan dalam hubungan yang didasarkan pada kepentingan pribadi semacam ini, hanya ada transaksi. Tidak ada mengasihi dan dikasihi, hanya derma dan belas kasihan. Tidak ada pengertian, hanya keterpaksaan menahan amarah dan penipuan. Tidak ada keintiman, hanya jurang yang tak terjembatani. Sekarang setelah segala sesuatunya telah sampai pada titik ini, siapa yang mampu membalikkan tendensi semacam ini? Dan berapa banyakkah orang yang benar-benar mampu memahami betapa gentingnya hubungan ini? Aku yakin bahwa ketika orang membenamkan diri dalam suasana penuh sukacita karena diberkati, tak seorang pun yang dapat membayangkan betapa canggung dan buruknya hubungan dengan Tuhan yang seperti ini" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 3: Manusia Hanya Dapat Diselamatkan di Tengah Pengelolaan Tuhan"). Firman Tuhan menyingkapkan apa persisnya keadaanku. Selama bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, aku telah meninggalkan rumah dan karierku, menanggung kesukaran, dan mengorbankan diriku, dan semua ini kulakukan agar aku bisa mendapatkan berkat, diselamatkan, dan masuk ke dalam kerajaan surga. Jika mengingat saat pertama kali menemukan Tuhan, aku percaya bahwa selama aku melaksanakan tugasku, meninggalkan banyak hal dan mengorbankan diriku, aku pasti akan menerima berkat Tuhan. Untuk alasan inilah, aku aktif melaksanakan tugasku, dan agar tugasku tidak tertunda, aku bahkan melepaskan bisnisku. Aku merasa tenagaku seolah tak ada habisnya, dan satu-satunya tujuanku adalah mengejar berkat. Kemudian, mata kiriku mulai terkena penyakit dan penglihatanku memburuk, tetapi aku tetap tekun dalam tugasku. Kupikir Tuhan akan memperhitungkan ketekunanku dalam melaksanakan tugas dan ketundukanku kepada-Nya, lalu menyembuhkan mataku, dan memberiku tempat tujuan yang baik di masa depan. Di luar dugaanku, bukan hanya mata kiriku tidak membaik, tetapi mata kananku juga terkena glaukoma. Aku tidak bisa melihat apa-apa sama sekali, dan tidak bisa melaksanakan tugas apa pun. Ketika aku melihat bahwa tidak ada harapan untuk mendapatkan berkat, aku merasa sangat sakit dan tertekan, dan aku dipenuhi dengan kesalahpahaman dan keluhan terhadap Tuhan. Dalam hati, aku terus berdebat dengan Tuhan dan menuntut agar Dia menyembuhkanku. Melalui penghakiman dan penyingkapan firman Tuhan, akhirnya aku melihat bahwa selama ini, aku berusaha menukar tugasku demi mendapatkan berkat kerajaan surga, dan bahwa hubunganku dengan Tuhan hanyalah hubungan yang secara gamblang dilandasi kepentingan pribadi semata. Selama bertahun-tahun melaksanakan tugasku, aku tidak mengejar kebenaran, dan watak rusakku tidak banyak berubah. Di balik penderitaan dan harga yang kubayar, tersembunyi upaya untuk bertransaksi dengan Tuhan. Aku penuh dengan tuntutan dan tipu daya terhadap Tuhan dan aku tidak memiliki sedikit pun ketulusan. Kemudian, aku mulai mencari, "Apa akar keinginanku yang tak henti-hentinya akan berkat dalam imanku?"
Dalam pencarianku, aku membaca firman Tuhan: "Dalam segala hal yang orang lakukan—entah mereka sedang berdoa atau bersekutu atau menyampaikan khotbah—hal yang mereka pikirkan, dan hal yang mereka kejar serta dambakan, tidak lain hanyalah menuntut dan memohon sesuatu dari Tuhan, berharap mereka mungkin memperoleh sesuatu dari-Nya. Ada orang-orang yang berkata bahwa 'ini bermuara pada natur manusia', dan itu benar. Selain itu, orang mengajukan terlalu banyak tuntutan terhadap Tuhan dan memiliki terlalu banyak keinginan berlebihan, itu membuktikan bahwa orang sama sekali tidak memiliki hati nurani dan nalar. Mereka semua menuntut dan memohon sesuatu demi kepentingan mereka sendiri, atau mencoba membenarkan dan mencari alasan untuk diri mereka sendiri—mereka melakukan semua ini demi diri mereka sendiri. Dalam banyak hal, dapat dilihat bahwa hal yang orang lakukan sama sekali tidak bernalar, dan ini sepenuhnya membuktikan bahwa logika Iblis 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya' sudah menjadi natur manusia. Menunjukkan masalah apa ketika manusia mengajukan terlalu banyak tuntutan terhadap Tuhan? Ini menunjukkan bahwa manusia telah dirusak Iblis sampai titik tertentu, dan bahwa dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, mereka sama sekali tidak memperlakukan Dia sebagai Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Manusia Mengajukan Terlalu Banyak Tuntutan Terhadap Tuhan"). "Dengan cara apa pun mereka diuji, kesetiaan mereka yang memiliki Tuhan di dalam hatinya tetap tidak berubah; tetapi bagi mereka yang tidak memiliki Tuhan di dalam hatinya, begitu pekerjaan Tuhan tidak menguntungkan bagi dagingnya, mereka berubah pandangan tentang Tuhan dan bahkan meninggalkan Tuhan. Orang-orang semacam itu adalah mereka yang pada akhirnya tidak akan tetap teguh, yang hanya mencari berkat Tuhan dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengorbankan diri mereka bagi Tuhan dan mengabdikan diri mereka kepada-Nya. Orang-orang hina semacam itu semuanya akan 'diusir' ketika pekerjaan Tuhan berakhir, dan sama sekali tidak akan ada belas kasihan yang ditunjukkan kepada mereka. Mereka yang tidak memiliki kemanusiaan sama sekali tidak memiliki kasih sejati kepada Tuhan. Ketika lingkungan nyaman, atau ada sesuatu yang bisa mereka dapatkan, mereka sepenuhnya taat kepada Tuhan, tetapi begitu keinginan mereka terancam atau pada akhirnya pupus, mereka segera bangkit untuk memberontak. Bahkan hanya dalam waktu satu malam, mereka berubah dari orang yang tersenyum dan 'baik hati' menjadi algojo yang berwajah buas, secara tak terduga memperlakukan orang yang memberi kebaikan kepada mereka kemarin sebagai musuh bebuyutan mereka, tanpa sebab atau alasan. Jika setan-setan jahat yang membunuh tanpa berkedip ini tidak disingkirkan, bukankah mereka akan menjadi ancaman tersembunyi yang serius?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan Tuhan dan Penerapan Manusia"). Firman Tuhan menyadarkanku bahwa pengejaranku yang terus-menerus akan berkat berasal dari caraku hidup yang berdasarkan racun-racun Iblis seperti "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya", "Manusia mati demi mendapatkan kekayaan sama seperti burung mati demi mendapatkan makanan", dan "Jangan pernah bangun pagi kecuali ada untungnya". Semua yang kulakukan tujuannya adalah untuk menguntungkan diriku sendiri, dan naturku sangat serakah dan egois. Ketika aku pertama kali menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, aku mengetahui bahwa Tuhan sedang melaksanakan tahap akhir pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia, dan bahwa hanya dengan percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku, aku bisa memiliki kesempatan untuk diselamatkan dan bertahan. Aku melihat ini sebagai kesempatan sekali seumur hidup, jadi aku tanpa ragu melepaskan bisnisku dan memilih untuk melaksanakan tugasku penuh waktu. Kalau bukan demi berkat dan keuntungan, aku sama sekali tidak akan punya semangat sebesar itu. Selama bertahun-tahun, meskipun aku hanya bisa melihat jelas dengan satu mata, aku masih teguh melaksanakan tugasku, berpikir bahwa dengan melakukannya, aku akan diselamatkan dan memiliki tempat tujuan yang baik. Aku memperlakukan Tuhan seperti seorang majikan, dan setelah melaksanakan sedikit tugas, dengan tak tahu malunya aku menuntut berkat dan janji dari Tuhan, memikirkan bagaimana aku bisa mendapat keuntungan dari Tuhan. Ketika mata kananku sakit dan aku menghadapi kemungkinan menjadi buta dan tidak bisa melaksanakan tugas apa pun, kupikir aku akan menjadi orang yang tidak berguna dan disingkirkan. Aku merasa semua usaha dan pengorbanan diriku selama bertahun-tahun bisa berakhir sia-sia, dan harapanku untuk mendapatkan berkat bisa pupus. Jadi, aku tidak bisa menerimanya dan begitu penuh kesalahpahaman dan keluhan terhadap Tuhan. Aku bahkan mempertanyakan mengapa Dia mengizinkan penyakit seperti itu datang atasku. Semua perilakuku ini persis seperti yang disingkapkan Tuhan: "Mereka yang tidak memiliki kemanusiaan sama sekali tidak memiliki kasih sejati kepada Tuhan. Ketika lingkungan nyaman, atau ada sesuatu yang bisa mereka dapatkan, mereka sepenuhnya taat kepada Tuhan, tetapi begitu keinginan mereka terancam atau pada akhirnya pupus, mereka segera bangkit untuk memberontak. Bahkan hanya dalam waktu satu malam, mereka berubah dari orang yang tersenyum dan 'baik hati' menjadi algojo yang berwajah buas, secara tak terduga memperlakukan orang yang memberi kebaikan kepada mereka kemarin sebagai musuh bebuyutan mereka, tanpa sebab atau alasan." Dalam imanku, aku sama sekali tidak memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan. Aku memperlakukan tugasku sebagai alat tawar-menawar untuk kutukarkan dengan berkat dan masuk ke dalam kerajaan surga. Pada dasarnya, aku sedang mencoba memanfaatkan dan berintrik terhadap Tuhan, berpikir bahwa aku bisa menggunakan harga yang kubayar dan kerja kerasku untuk ditukar dengan berkat yang besar. Bagaimana mungkin aku punya kemanusiaan atau nalar? Ketika ujian ini datang, aku tidak memikirkan bagaimana memuaskan Tuhan, dan yang kukhawatirkan hanyalah masa depan dan tempat tujuanku sendiri. Aku benar-benar egois dan tercela! Sejak aku menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, aku telah menerima penyiraman dan pembekalan firman Tuhan. Tuhan juga memberiku kesempatan untuk melaksanakan tugasku, yang membuatku dapat perlahan-lahan memahami dan memperoleh berbagai aspek kebenaran dalam melaksanakan tugasku. Ini semua adalah kasih dan keselamatan Tuhan bagiku, tetapi aku memperlakukan tugasku sebagai batu loncatan untuk mendapatkan berkat. Ini benar-benar memuakkan dan dibenci oleh Tuhan! Aku teringat apa yang dikatakan Paulus, "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik. Aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Paulus menggunakan kerja kerasnya dan harga yang telah dibayarnya untuk menuntut mahkota kebenaran dari Tuhan, mengeklaim bahwa Tuhan itu tidak benar jika Dia tidak memberikan hal itu kepadanya, dan dia secara terbuka menantang dan melawan Tuhan. Ini menyinggung watak Tuhan sehingga Paulus dihukum oleh Tuhan. Bukankah aku sekarang berjalan di jalan yang sama seperti Paulus? Jika aku tidak bertobat, pada akhirnya, aku akan dihukum di neraka!
Kemudian, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan menyadari bahwa melaksanakan tugas tidak ada hubungannya dengan menerima berkat atau mengalami kemalangan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tidak ada hubungan antara tugas manusia dan apakah dia menerima berkat atau mengalami celaka. Tugas adalah sesuatu yang harus dilaksanakan dengan baik oleh manusia; itu adalah panggilan surgawinya, dan dia seharusnya melakukannya tanpa mencari imbalan, dan tanpa syarat atau tanpa berdalih. Hanya inilah yang dapat disebut melaksanakan tugas. Menerima berkat mengacu pada berkat yang orang nikmati ketika mereka disempurnakan setelah mengalami penghakiman. Mengalami celaka mengacu pada hukuman yang orang terima ketika watak mereka tidak berubah setelah mereka menjalani hajaran dan penghakiman—yaitu ketika mereka tidak disempurnakan. Namun, entah mereka menerima berkat atau mengalami celaka, makhluk ciptaan haruslah melaksanakan tugas mereka, melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dan melakukan apa yang mampu dilakukannya; inilah yang setidaknya harus dilakukan seseorang, seseorang yang mengejar Tuhan. Engkau tidak seharusnya melaksanakan tugasmu demi menerima berkat, dan engkau tidak seharusnya menolak untuk melaksanakan tugasmu karena takut mengalami celaka" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perbedaan antara Pelayanan Tuhan yang Berinkarnasi dan Tugas Manusia"). Firman Tuhan sangat jelas! Tugas adalah amanat Tuhan bagi manusia, dan merupakan tanggung jawab yang tidak bisa dihindari sebagai makhluk ciptaan. Seharusnya tidak ada niat tersembunyi atau motif yang tidak murni di dalamnya. Sama seperti anak-anak berbakti kepada orang tua itu sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan, seharusnya tidak ada pamrih di dalamnya. Selain itu, bisa atau tidaknya seseorang diselamatkan bergantung pada apakah dalam melaksanakan tugasnya, dia mengejar kebenaran, memandang orang dan segala sesuatu menurut firman Tuhan, dan apakah watak rusaknya bisa disucikan dan diubahkan. Jika seseorang bisa berperilaku dengan benar dan melaksanakan tugasnya dengan patuh sesuai dengan tuntutan Tuhan, berdiri di posisi sebagai makhluk ciptaan dan melaksanakan tugasnya, dan tidak peduli seberapa besar ujian atau pemurnian yang datang atasnya, dia tidak memendam kesalahpahaman atau keluhan, dan bisa tunduk tanpa syarat pada penataan dan pengaturan Tuhan, dan pada akhirnya mencapai ketundukan dan takut akan Tuhan, orang seperti itu dapat diselamatkan dan pada akhirnya akan bertahan. Bukan berarti selama seseorang bisa melaksanakan tugasnya, dia akan diselamatkan meskipun watak rusaknya tidak berubah sama sekali—pandangan itu sepenuhnya adalah gagasan dan khayalanku sendiri, dan benar-benar tidak masuk akal. Sejak saat itu, aku bersedia mencari maksud Tuhan dan mengejar kebenaran dalam segala hal yang datang atasku dan melaksanakan tugasku untuk membalas keselamatan dari Tuhan. Setelah itu, keadaanku pun agak berbalik. Terkadang mataku masih kabur setelah membaca khotbah beberapa saat dan aku harus beristirahat, tetapi aku tidak merasakan kesengsaraan batin seperti sebelumnya.
Selama saat teduhku, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana menerapkan ketika mengalami penyakit. Tuhan berfirman: "Mari kita ... membahas tentang penyakit; ini adalah sesuatu yang akan dialami kebanyakan orang selama masa hidup mereka. Oleh karena itu, jenis penyakit apa yang akan orang alami, dan akan seperti apa kondisi kesehatan mereka, pada waktu tertentu atau usia tertentu, semua itu adalah hal yang diatur oleh Tuhan dan orang tidak dapat menentukan sendiri hal-hal ini; sama seperti kapan orang dilahirkan, mereka tidak dapat menentukannya sendiri. Jadi, bukankah bodoh merasa sedih, cemas, dan khawatir tentang hal-hal yang tidak dapat kautentukan sendiri? (Ya.) Orang seharusnya mulai mengatasi hal-hal yang mampu mereka atasi sendiri, sedangkan untuk hal-hal yang tak mampu mereka lakukan sendiri, mereka harus menunggu Tuhan; orang harus tunduk di dalam hatinya dan memohon kepada Tuhan untuk melindungi mereka—inilah pola pikir yang harus orang miliki. Ketika penyakit benar-benar menyerang dan kematian sudah dekat, orang harus tunduk, dan tidak mengeluh, tidak memberontak terhadap Tuhan, atau mengatakan hal-hal yang menghujat atau menyerang Tuhan. Sebaliknya, orang harus menempatkan diri pada posisi mereka yang semestinya sebagai makhluk ciptaan dan mengalami serta menghayati semua yang berasal dari Tuhan—mereka tidak boleh mencoba membuat pilihan bagi diri mereka sendiri. Ini dapat menjadi pengalaman istimewa yang memperkaya hidupmu, dan ini belum tentu hal yang buruk, bukan? Oleh karena itu, dalam hal penyakit, ketika pemikiran dan pandangan orang yang keliru tentang asal usul penyakit diluruskan terlebih dahulu, mereka tidak akan lagi mengkhawatirkan hal ini. Terlebih lagi, orang tidak memiliki kuasa untuk mengendalikan hal-hal yang mereka ketahui dan tidak mereka ketahui, mereka juga tidak mampu mengendalikan semua ini, karena semua hal ini berada di bawah kedaulatan Tuhan. Sikap dan prinsip penerapan yang harus orang miliki adalah menunggu dan tunduk. Dari memahami hingga menerapkan, semuanya harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran—inilah yang dimaksud dengan mengejar kebenaran" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (4)"). "Jadi, bagaimana seharusnya engkau memilih, bagaimana seharusnya engkau bersikap dalam hal jatuh sakit ini? Sangat sederhana, dan hanya ada satu jalan yang harus kauikuti: kejarlah kebenaran. Mengejar kebenaran dan memandang masalah ini berdasarkan firman Tuhan dan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran—inilah pemahaman yang harus orang miliki. Bagaimana engkau harus menerapkannya? Di satu sisi, engkau harus menerapkan pemahaman yang telah kauperoleh dan prinsip-prinsip kebenaran yang telah kaupahami berdasarkan kebenaran dan firman Tuhan ke dalam hal-hal yang kaualami, dan engkau harus menjadikannya sebagai kenyataanmu dan hidupmu. Di sisi lain, engkau tidak boleh meninggalkan tugasmu. Entah engkau sakit atau merasa kesakitan, selama masih ada satu embusan napas yang tersisa, selama engkau masih hidup, selama engkau masih bisa berbicara dan berjalan, engkau masih punya tenaga untuk melaksanakan tugasmu, dan engkau harus bersungguh-sungguh serta praktis dan realistis dalam pelaksanaan tugasmu. Engkau tidak boleh melepaskan tugasmu sebagai makhluk ciptaan ataupun tanggung jawab yang diberikan kepadamu oleh Sang Pencipta. Selama engkau belum mati, engkau harus menyelesaikan tugasmu dan melaksanakannya dengan baik. Ada orang-orang yang berkata, 'Hal-hal yang Kaukatakan ini begitu tidak berperasaan. Aku sedang sakit dan merasa sengsara!' Ketika engkau merasa sengsara, engkau dapat beristirahat, dan engkau dapat merawat dirimu sendiri dan menerima pengobatan. Jika engkau masih ingin terus melaksanakan tugasmu, engkau dapat mengurangi beban kerjamu dan melaksanakan tugas yang cocok untukmu, tugas yang tidak memengaruhi pemulihanmu. Ini akan membuktikan bahwa di hatimu, engkau tidak melepaskan tugasmu, bahwa hatimu tidak menjauh dari Tuhan, bahwa di hatimu, engkau tidak menyangkal nama Tuhan, dan engkau tidak melepaskan keinginanmu untuk menjadi makhluk ciptaan yang layak. Ada orang-orang yang berkata, 'Jika aku sudah melakukan semua itu, akankah Tuhan mengangkat penyakit ini dariku?' Akankah Dia melakukannya? (Belum tentu.) Entah Tuhan mengangkat penyakitmu atau tidak, entah Tuhan menyembuhkanmu atau tidak, yang kaulakukan adalah apa yang sudah seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan. Entah kondisi fisikmu membuatmu mampu memikul pekerjaan apa pun dan memungkinkanmu untuk melaksanakan tugasmu atau tidak, hatimu tidak boleh menjauh dari Tuhan, dan di dalam hatimu, engkau tidak boleh melepaskan tugasmu. Dengan cara ini, engkau akan melaksanakan tanggung jawabmu, kewajibanmu, dan tugasmu dengan baik—inilah kesetiaan yang harus kaupertahankan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Dari firman Tuhan, aku melihat bahwa tidak soal di tahap kehidupan mana seseorang menghadapi penyakit atau kesulitan, semuanya berada di bawah kedaulatan Tuhan dan diatur oleh Tuhan, dan semuanya memiliki makna. Sama seperti aku—jika bukan karena penyakit mata yang hampir membuatku buta ini, aku tidak akan pernah tahu niat tercelaku untuk bertransaksi dengan Tuhan, apalagi bahwa selama ini aku telah berjalan di jalan Paulus, dan pada akhirnya aku akan dihukum karena menentang Tuhan. Meskipun pada saat itu aku dipenuhi dengan kesedihan dan penderitaan, hal itu menuntunku untuk merenung dan mengenal diriku sendiri, dan aku memperoleh pertumbuhan dalam hidup. Ini semua adalah kasih karunia Tuhan. Aku tidak akan pernah menyadari hal-hal ini dalam lingkungan yang nyaman. Aku juga teringat pada Ayub—dia takut akan Tuhan. Ketika dia menghadapi ujian dan pemurnian yang sangat besar, semua hartanya dirampas oleh perampok, anak-anaknya meninggal, dan dia dipenuhi borok yang menyakitkan. Dia duduk di atas abu sambil menggaruk boroknya dengan pecahan tembikar untuk meredakan rasa sakitnya, tetapi dia tidak berdosa dengan mulutnya. Bahkan ketika istrinya menyuruhnya untuk meninggalkan nama Tuhan, dan ketiga temannya menghakiminya, dia tidak mengeluh tentang Tuhan. Dia bahkan berkata, "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21). "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima kesukaran?" (Ayub 2:10). Ayub lebih memilih mengutuk dirinya sendiri daripada berhenti tunduk kepada Tuhan atau berhenti berserah pada penataan Tuhan. Dengan begitu, dia mempermalukan Iblis. Lalu ada Petrus—dia mengalami ratusan ujian dan pemurnian hanya dalam tujuh tahun, dan dia terus menempuh jalan untuk mengejar kebenaran. Dia berfokus merenungkan dan mengenal dirinya sendiri dan berusaha memenuhi maksud Tuhan dalam segala hal. Pada akhirnya, dia mencapai kasih yang tertinggi kepada Tuhan, dan dia tunduk bahkan sampai mati. Baik Ayub maupun Petrus tidak membuat tuntutan atau permintaan apa pun kepada Tuhan, apalagi mengkhawatirkan kesudahan seperti apa yang akan mereka miliki. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana caranya tunduk dan memuaskan Tuhan, dan pada akhirnya, mereka tetap teguh dalam kesaksian mereka bagi Tuhan dan benar-benar mempermalukan Iblis. Orang-orang ini adalah teladan yang harus kutiru. Aku pun bertekad dalam hati: "Selama aku masih memiliki kesempatan untuk melaksanakan tugasku, dan selama aku masih bisa melihat tulisan, tanganku masih bisa mengetik, dan pikiranku jernih, maka aku akan melakukan yang terbaik dalam tugasku. Bahkan jika suatu hari nanti aku kehilangan penglihatanku dan tidak bisa lagi melaksanakan tugasku, aku akan tetap bersedia untuk tunduk. Bahkan jika aku tidak bisa melihat, aku bisa mendengarkan pembacaan firman Tuhan dan merenungkan firman-Nya dalam hatiku, dan aku bisa membagikan kesaksian pengalamanku secara lisan kepada istri dan anak-anakku, sehingga mereka bisa membantuku menulis artikel kesaksian pengalaman. Aku juga akan berfokus untuk menenangkan diriku di hadapan Tuhan untuk mendengarkan persekutuan-Nya, dan menggunakan firman Tuhan untuk merenung dan mengenal diriku sendiri serta mengatasi watak rusakku." Pada waktu-waktu selanjutnya, aku memakai kacamata baca saat menghadiri pertemuan dan membaca firman Tuhan bersama istriku. Aku terus menulis khotbah setiap hari, dan ketika ada waktu, aku juga menulis artikel kesaksian pengalaman. Ketika mataku menjadi kabur setelah lama menatap komputer, aku meneteskan obat mata dan mengistirahatkan mataku sejenak, dan begitu rasa tidak nyaman itu mereda, aku melanjutkan tugasku. Sekitar dua bulan setelah operasi mataku, aku pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan, dan dokter merawatku dengan terapi laser. Ini membersihkan sebagian kekeruhan pada badan kaca di mataku, dan aku bisa melihat benda-benda di dekatku jauh lebih jelas dari sebelumnya. Aku tidak lagi membutuhkan kacamata baca untuk melihat tulisan di komputer, dan aku bahkan bisa melihat huruf-huruf yang lebih kecil dengan jelas. Aku sangat gembira dan berterima kasih kepada Tuhan dari lubuk hatiku atas kasih karunia-Nya.
Melalui pengalaman ini, aku menyadari betapa egois dan tercelanya diriku karena mencoba bertransaksi dengan Tuhan dalam imanku. Firman Tuhanlah yang memberiku sedikit pemahaman tentang diriku dan membawa sejumlah perubahan dalam diriku. Aku dengan tulus bersyukur kepada Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Pada bulan Juli 2008, bibiku memberitakan Injil Tuhan pada akhir zaman kepadaku. Melalui pembacaan firman Tuhan Yang Mahakuasa, aku jadi...
Oleh Saudari Jiang Ping, TiongkokBeberapa tahun terakhir ini, karena pandemi virus corona menyebar ke seluruh dunia, makin banyak orang...
Pada tahun 2003, aku menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, dan tidak lama sesudahnya, aku menerima tugas sebagai seorang pemimpin....
Pada tahun 2005, usiaku genap enam puluh delapan tahun. Suatu hari di awal bulan Oktober tahun itu, seorang teman memberitakan Injil Tuhan...