Dipindahtugaskan Menyingkapkanku
Pada tahun 2018, aku membuat video-video di gereja. Karena keterampilan profesionalku meningkat dengan cepat, dan biasanya aku membantu...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada tahun 2019, aku terpilih sebagai pemimpin tim video. Aku berpikir, "Sepertinya aku cukup mampu, kalau tidak, mereka tak akan memilihku." Pada saat yang sama, aku bertekad untuk melaksanakan tugasku dengan baik dan sepenuh hati. Waktu itu, keterampilan 3D Saudari Xiao Ya sangat menonjol, dan setiap kali ada masalah teknis, semua orang mendatanginya. Melihat semua orang terus mengerumuni Xiao Ya untuk bertanya, aku merasa sedikit iri, tetapi aku berhasil menyikapinya dengan benar. Lagi pula, keahlianku adalah animasi 2D, dan aku tidak tahu banyak tentang teknologi 3D, jadi wajar saja jika orang-orang meminta bantuannya. Selain itu, Saudari Su Jie sering menanyakan beberapa masalah teknis kepadaku, yang membuat situasinya lebih seimbang bagiku. Namun kemudian, para saudari mulai mendatangi Xiao Ya tidak hanya untuk masalah teknis, tetapi juga untuk bersekutu tentang masalah dan kesulitan di jalan masuk kehidupan mereka. Saat itulah aku mulai merasa sangat iri. "Aku ini pemimpin tim, kenapa tidak ada yang datang kepadaku? Apa mereka pikir aku tidak sebaik Xiao Ya? Lalu, kenapa mereka memilihku sebagai pemimpin tim sejak awal? Bukankah ini hanya mempermalukanku?" Setiap kali melihat para saudari bersekutu bersama, aku ingin bergabung, tetapi begitu melihat mereka semua mengerumuni Xiao Ya, aku langsung berubah pikiran. "Kau sudah menjadi pusat perhatian. Jika aku, sebagai pemimpin tim, ikut bergabung, bukankah itu hanya akan membuatmu makin menonjol dan tampak lebih kompeten, sementara aku akan terlihat makin tidak berarti?" Jadi, aku berbalik dan pergi ke ruangan lain untuk bersaat teduh sendirian. Dari luar, sesekali aku mendengar tawa Xiao Ya, dan itu terdengar sangat mengganggu bagiku, seolah-olah dia sengaja memamerkan "gengsinya". Setelah itu, aku makin tidak puas dengannya. "Jelas-jelas aku pemimpin timnya, tetapi semua orang berpusat padamu. Mau ditaruh di mana mukaku? Kau bahkan tidak memikirkan perasaanku. Setidaknya kau bisa mengajakku bergabung, sekadar untuk menyelamatkan mukaku! Aku bisa melihat bahwa kau sama sekali tidak menghargaiku sebagai pemimpin timmu." Kemudian, aku mulai berpikir, jika persekutuanku dalam pertemuan memiliki lebih banyak terang, apakah orang-orang akan mulai datang kepadaku untuk bersekutu tentang masalah mereka? Dengan begitu, aku bisa menyelamatkan mukaku. Jadi, selama pertemuan, aku memeras otak, mencoba mencari cara agar persekutuanku menonjol, tetapi makin aku berusaha, pikiranku makin buntu. Persekutuanku terasa kering dan hambar, dan setelahnya, tetap saja tidak ada yang datang untuk bersekutu denganku. Lama-kelamaan, aku mulai memiliki pandangan negatif terhadap saudari-saudari lain. Aku tidak mau bicara dengan mereka, dan aku terutama tidak mau mengakui Xiao Ya. Aku hanya berbicara dengannya jika benar-benar perlu membahas pekerjaan, itu pun dengan enggan dan itu pun dengan raut wajah datar dan nada yang sangat kaku. Melihatku seperti itu, Xiao Ya tidak berani bicara denganku.
Suatu malam, semua orang kembali mengerumuni Xiao Ya untuk bertanya, bahkan Su Jie pun bergabung dengan mereka. Melihat mereka mengobrol dan tertawa saat membahas berbagai hal, tiba-tiba aku merasa tersisih dan berpikir Xiao Ya sengaja melakukannya untuk memanas-manasiku. Makin aku memikirkannya, makin aku merasa marah. Tak lama kemudian, Xiao Ya bertanya kepadaku. Aku tidak ingin menjawabnya, jadi aku pura-pura tidak dengar. Dia bertanya lagi, dan aku menjawabnya dengan sangat ketus. Xiao Ya agak terkejut dan bertanya, "Ada apa?" Aku membalas dengan marah, "Tidak ada apa-apa!" Melihatku seperti itu, Xiao Ya pun hanya bisa duduk kembali di kursinya. Aku merasa sangat sakit hati dan tertekan, jadi aku pergi ke ruangan lain dan mulai menangis Xiao Ya datang untuk melihat keadaanku, tetapi aku mengabaikannya, merasa bahwa semua penderitaanku adalah salahnya. Setelah itu, dalam hatiku, diam-diam aku mulai bersaing dengannya. Setiap pagi selama saat teduh kami, aku menimpali setelah saudari-saudari lain selesai bersekutu, tetapi ketika Xiao Ya selesai bersekutu, aku diam seribu bahasa. Aku berpikir, "Aku akan mendiamkanmu, dan biar kau rasakan bagaimana rasanya dipermalukan." Saat kami membahas pekerjaan, aku segera menambahkan pendapatku setelah orang lain berbicara, tetapi ketika Xiao Ya selesai bicara, aku berpura-pura tidak mendengar apa-apa, dan bersikap dingin padanya. Karena perbedaan sikapku yang sangat mencolok terhadap Xiao Ya dan saudari-saudari lain, saudari-saudari lain juga mulai merasa agak terkekang. Mereka tidak berani mengutarakan pikiran mereka dengan bebas selama diskusi pekerjaan, sehingga efisiensi pertemuan kami menjadi rendah dan hasilnya buruk. Kupikir bertindak seperti ini bisa sedikit menekan Xiao Ya, tetapi ternyata dia tidak terlalu terpengaruh. Hubungannya dengan semua orang masih sangat baik, dan mereka masih meminta bantuannya ketika memiliki masalah. Ini membuatku sangat marah. Kemudian, aku berhenti berinisiatif untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan tugas kami. Aku tidak mau bicara dengan Xiao Ya, dan aku juga tidak mau memedulikan saudari-saudari lain. Aku menyendiri setiap hari, merasa sangat tertekan dan menderita di dalam hati.
Selama beberapa waktu setelah itu, perutku mulai kembung setelah makan malam setiap hari, dan rasanya sangat tidak nyaman. Aku mencoba segala macam obat, tetapi tidak ada yang manjur. Suatu malam, Xiao Ya dan saudari tuan rumah mengingatkanku bahwa ketika aku menghadapi penyakit seperti ini, aku perlu merenungkan diri dan memetik pelajaran. Baru saat itulah aku berdoa kepada Tuhan, meminta Dia mencerahkan dan membimbingku untuk mengenal diriku sendiri. Saat aku berdoa, momen-momen saat aku iri terhadap Xiao Ya melintas di benakku, satu demi satu, dan aku menyadari bahwa aku perlu merenungkan masalah ini.
Selama saat teduhku, aku membaca beberapa firman Tuhan dan memperoleh sedikit pemahaman tentang keadaanku sendiri. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada orang-orang yang selalu takut orang lain lebih baik daripada mereka atau mengungguli mereka, takut orang lain akan diakui sedangkan mereka diabaikan, dan ini membuat mereka menyerang dan mengucilkan orang lain. Bukankah ini contoh perasaan iri terhadap orang-orang yang berbakat? Bukankah itu egois dan hina? Watak macam apa ini? Ini adalah watak kejam. Orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri, yang hanya memuaskan keinginan egois mereka sendiri, tanpa memikirkan orang lain atau tanpa memikirkan kepentingan rumah Tuhan, memiliki watak yang buruk, dan Tuhan tidak menyukai mereka. Jika engkau benar-benar mampu memikirkan maksud-maksud Tuhan, engkau akan mampu memperlakukan orang lain dengan adil. Jika engkau merekomendasikan orang yang baik dan membiarkan mereka berlatih dan melaksanakan suatu tugas, dengan demikian menambahkan seorang yang berbakat ke dalam rumah Tuhan, bukankah itu akan mempermudah pekerjaanmu? Bukankah dengan demikian engkau akan penuh pengabdian dalam tugasmu? Itu adalah sebuah perbuatan baik di hadapan Tuhan; inilah hati nurani dan nalar yang minimal harus dimiliki oleh orang yang melayani sebagai pemimpin. Mereka yang mampu menerapkan kebenaran mampu menerima pemeriksaan Tuhan dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Ketika engkau menerima pemeriksaan Tuhan, hatimu akan menjadi lurus. Jika engkau selalu hanya melakukan sesuatu supaya dilihat orang lain, dan selalu ingin mendapatkan pujian dan kekaguman orang lain, dan engkau tidak mau menerima pemeriksaan Tuhan, apakah Tuhan masih ada di dalam hatimu? Orang-orang semacam itu tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Jangan selalu melakukan segala sesuatu demi dirimu sendiri dan jangan selalu memikirkan kepentinganmu sendiri; jangan memikirkan harga diri, reputasi, dan statusmu sendiri, dan jangan memikirkan kepentingan pribadimu. Engkau terutama harus memikirkan kepentingan rumah Tuhan, dan menjadikannya prioritasmu. Engkau harus memperhatikan maksud-maksud Tuhan dan terutama merenungkan apakah ada ketidakmurnian dalam pelaksanaan tugasmu, apakah engkau selama ini sepenuh hati, memenuhi tanggung jawabmu, dan mengerahkan segenap kemampuanmu atau tidak, dan apakah engkau selama ini memikirkan tugasmu dan pekerjaan gereja dengan segenap hatimu atau tidak. Engkau harus memikirkan hal-hal ini. Jika engkau sering memikirkannya dan bisa memahaminya dengan jelas, akan menjadi lebih mudah bagimu untuk melaksanakan tugasmu dengan baik" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kelepasan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa aku telah hidup dalam keadaan iri. Sejak Xiao Ya datang, ketika aku melihat semua orang datang kepadanya untuk membicarakan masalah mereka, alih-alih kepadaku sebagai pemimpin tim, hatiku menjadi tidak tenang. Aku merasa dia telah mencuri perhatian dariku, dan aku pun iri serta kesal. Demi menyelamatkan "martabatku" sebagai pemimpin tim, aku memeras otak selama pertemuan, mencoba mencari cara agar persekutuanku memberi pencerahan sehingga saudari-saudari menghormatiku. Dengan begitu, mereka akan datang kepadaku untuk bersekutu dan mengatasi masalah atau kesulitan apa pun yang mereka miliki di jalan masuk kehidupan mereka. Namun, makin aku mencoba, makin aku tidak bisa mempersekutukan apa pun. Setelah itu, aku tidak merenungkan diri; sebaliknya, kekesalanku terhadap Xiao Ya makin kuat. Baik dalam pertemuan maupun diskusi pekerjaan, aku menanggapi dengan antusias apa pun yang dikatakan orang lain, tetapi setiap kali Xiao Ya bicara, aku bersikap dingin padanya, sengaja menciptakan keheningan yang canggung untuk mempermalukannya. Itu adalah caraku menyerang dan mengucilkannya secara tidak langsung. Namun, tak kusangka, hubungan semua orang dengan Xiao Ya tetap sangat baik. Aku menjadi sangat marah sampai-sampai aku tidak mau bicara dengan siapa pun, dan aku bahkan melampiaskan kekesalanku pada tugasku. Iri pada orang yang lebih mampu dariku telah membuatku berpikiran sempit dan picik; aku tidak tahan melihat orang lain lebih baik dariku. Begitu aku melihat seseorang yang lebih kuat dariku, aku mencoba segala cara untuk menyerang dan mengucilkannya. Ketika aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan, aku menjadi negatif dan mulai bermalas-malasan, melalaikan tugasku. Aku benar-benar mengabaikan pekerjaan yang semestinya kulakukan! Kenyataannya, Xiao Ya memiliki keterampilan profesional yang baik, dan dia bisa mempersekutukan kebenaran untuk memecahkan masalah. Ketika para saudari meminta bantuannya untuk mengatasi masalah mereka, itu bermanfaat bagi tugas kami maupun jalan masuk kehidupan mereka. Tuhan mengatur orang-orang yang lebih baik dariku untuk berada di sisiku agar kami dapat belajar dari kelebihan masing-masing untuk melengkapi kekurangan kami sendiri, saling membantu untuk melaksanakan tugas kami dengan baik, dan pada saat yang sama, aku dapat terus bertumbuh. Aku seharusnya bekerja sama dengan Xiao Ya, bukan iri padanya atau mengucilkannya. Setelah itu, aku terbuka kepada semua orang dan bersekutu tentang keadaanku yang iri terhadap Xiao Ya selama waktu itu. Xiao Ya bukan hanya tidak menyimpan dendam padaku, melainkan dia juga menemukan beberapa firman Tuhan untuk membantuku. Aku merasa sangat malu dan sedikit menyesal, dan aku berpikir bahwa aku harus mulai bekerja sama dengan baik dengannya untuk melaksanakan tugas kami dengan baik. Tanpa diduga, sejak hari itu, perutku tidak kembung lagi. Setelah itu, ketika aku melihat semua orang mengerumuni Xiao Ya untuk bertanya, aku tidak merasa terlalu kesal lagi, dan aku bisa bekerja sama secara harmonis dengan saudari-saudariku.
Karena pemahamanku tentang watak rusakku terlalu dangkal, setelah beberapa saat, kebiasaan lamaku kembali. Ketika aku melihat beberapa saudari selalu mengerumuni Xiao Ya untuk bertanya, keinginanku akan status mulai berulah lagi. Pada waktu itu, An Jie memiliki prasangka terhadap Xiao Ya karena beberapa masalah. Aku seharusnya membantu menyelesaikan masalah itu dan menghilangkan penghalang di antara mereka. Namun, meskipun aku tampak sedang bersekutu dengan An Jie, aku sebenarnya menggunakan persekutuan kami sebagai kesempatan untuk dengan sengaja menunjukkan kesalahan Xiao Ya. Hal ini menyebabkan prasangka An Jie terhadap Xiao Ya makin kuat, dan setelah itu, An Jie tidak lagi meminta bantuan Xiao Ya untuk mengatasi masalahnya, dan mulai datang kepadaku. Namun, selalu ada dua saudari yang berkumpul di sekitar Xiao Ya, jadi jika dibandingkan, aku masih kalah. Kemudian aku menemukan sebuah taktik: "Jika aku pura-pura menurunkan gengsiku di depannya, dan kami 'berdamai', dia akan mendukung pekerjaanku. Bukankah statusku sebagai pemimpin tim akan aman?" Jadi aku berkata kepada Xiao Ya, "Dengar, meskipun aku pemimpin tim, aku tidak sebaik kau dalam banyak hal. Kau pada dasarnya sama dengan pemimpin tim, hanya tanpa gelar. Mulai sekarang, mari kita bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan tim dengan baik." Setelah itu, aku berinisiatif untuk mendiskusikan segala hal terkait tugas kami dengan Xiao Ya. Setiap kali dia punya ide atau saran tentang tugas kami, dia juga secara proaktif meminta pendapatku terlebih dahulu, dan kemudian aku berkomunikasi dengan saudari-saudari lain. Melihat Xiao Ya secara proaktif berkonsultasi denganku tentang segala hal, aku merasa sangat puas dalam hati. "Akhirnya aku mengubah sainganku menjadi bawahanku dan mengambil status dominan sebagaimana mestinya." Begitulah kami "bekerja sama secara harmonis" untuk waktu yang lama. Kemudian, aku dipisahkan dari Xiao Ya karena peralihan tugasku.
Tidak lama kemudian, aku kebetulan membaca satu bagian firman Tuhan yang menyingkapkan bagaimana antikristus menyerang dan mengucilkan orang yang berbeda pendapat, dan itu langsung membuatku teringat bagaimana aku bertindak sebelumnya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Antikristus memiliki banyak siasat dan metode untuk menyerang dan mengucilkan para pembangkang. Di samping penentangan dan penolakan publik, siasat mereka yang paling ampuh adalah dengan menarik dan merekrut para pembangkang dan membuat semuanya mendengarkan mereka. Jika para pembangkang tidak mau mendengar, antikristus akan menekan, menindas, dan mempermalukan mereka, seperti halnya orang tidak percaya yang berurusan dengan lawan politik. Begitulah jahat dan kejamnya antikristus. Namun, terkadang antikristus akan menggunakan pendekatan yang halus untuk menarik orang. Misalnya, jika ada pembangkang yang pendapatnya tidak sesuai dengan pendapat antikristus, mereka akan melihat apa yang pembangkang sukai dan mencari titik kelemahannya, menggunakan segala cara yang nista untuk menaklukannya, atau mereka akan berpura-pura tunduk dan mengakui kesalahan mereka di depan pembangkang, berupaya keras untuk memberi keuntungan dan kepuasan kepada pembangkang, atau mungkin meminta sahabat dekatnya untuk membujuk mereka; kemudian, mereka berpura-pura menyekutukan kebenaran dengan pembangkang, dan berkata: 'Kerjasama kita untuk pekerjaan gereja sangatlah sempurna; kelak kita dapat berbagi tanggung jawab secara merata. Meskipun aku pemimpinnya, aku akan mendengarkan saran apa pun darimu. Kenyataannya, akulah yang akan bekerjasama denganmu.' Jika si pembangkang adalah orang yang tidak memahami kebenaran, maka akan mudah bagi antikristus untuk merekrut mereka. Orang-orang yang memahami kebenaran akan mengetahui hal ini dengan tepat dan berkata, 'Orang ini benar-benar pandai bersiasat; dia tidak menyerang secara terang-terangan, melainkan menggunakan tipu daya—alih-alih strategi yang keras, dia menggunakan cara yang lunak.' Bagi seorang antikristus, pembangkang adalah ancaman bagi status dan kekuasaan mereka. Siapa pun yang mengancam status dan kekuasaan mereka, siapa pun itu, para antikristus akan melakukan segala macam cara untuk 'menangani' mereka. Jika orang-orang ini benar-benar tidak dapat ditundukkan atau dijadikan sekutu mereka, maka para antikristus akan menjatuhkan atau mengeluarkan mereka. Pada akhirnya, antikristus akan mencapai tujuan mereka untuk memiliki kekuasaan mutlak dan bertindak sewenang-wenang. Inilah salah satu teknik yang biasa digunakan antikristus untuk mempertahankan status dan kekuasaan mereka—mereka menyerang dan mengucilkan para pembangkang" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, "Bab Dua: Mereka Menyerang dan Mengucilkan Para Pembangkang"). Setelah membaca firman Tuhan, aku terkejut. Bukankah itu sama seperti trik yang kugunakan pada Xiao Ya waktu itu? Aku menyadari bahwa ketika aku pura-pura menurunkan gengsiku di depannya, aku sebenarnya mencoba merekrutnya, yang merupakan metode menyerang dan mengucilkan orang yang berbeda pendapat. Jika kuingat kembali masa itu, aku melihat bahwa selalu ada saudari yang mengelilingi Xiao Ya, dan semua orang, entah mereka punya masalah pekerjaan atau kesulitan dalam jalan masuk kehidupan mereka, suka mendatanginya. Aku merasa tidak akan pernah bisa menang melawannya. Jadi, untuk mengamankan statusku sebagai pemimpin tim, aku menggunakan pendekatan yang lebih lunak. Aku sengaja berpura-pura merendah di depannya, mengatakan hal-hal seperti "Aku tidak sebaik kau" dan "Pada dasarnya kau sama dengan pemimpin tim". Dari luar, aku tampak sangat rendah hati, tetapi kenyataannya, aku ingin menariknya ke pihakku, menjadikannya asistenku, dan membuatnya bekerja sama dengan pekerjaanku. Dengan begitu, semua orang akan berpusat padaku. Dari luar, tampaknya kami "harmonis", tetapi motifku di baliknya sangat tercela dan kotor, dan itu menjijikkan bagi Tuhan. Aku memikirkan para politisi di dunia orang tidak percaya yang menggunakan segala macam cara untuk bersaing dengan lawan mereka demi kekuasaan. Mereka menjelek-jelekkan lawan mereka atau menggunakan tipu muslihat untuk merekrutnya demi kepentingan mereka sendiri. Untuk melindungi statusku sendiri, aku juga memeras otak, bersedia menggunakan segala cara yang tercela dan kotor. Bagaimana itu bisa disebut perilaku orang percaya? Aku tidak ada bedanya dengan orang tidak percaya! Aku benar-benar menjijikkan!
Aku mulai merenungkan mengapa aku selalu harus bersaing dengan Xiao Ya. Alasan utamanya adalah karena aku merasa bahwa sebagai pemimpin tim, aku harus menjadi nomor satu di antara semua orang, dan bahwa tidak ada anggota tim yang boleh lebih baik atau melampauiku. Kemudian aku melihat satu bagian firman Tuhan: "Apa pun yang kaulakukan, entah itu penting atau tidak, engkau akan selalu membutuhkan seseorang untuk membantumu, memberimu petunjuk dan nasihat, atau melakukan sesuatu dengan bekerja sama denganmu. Inilah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa engkau akan melakukan segala sesuatu dengan lebih tepat, melakukan lebih sedikit kesalahan, sehingga makin kecil kemungkinanmu untuk menyimpang—ini adalah hal yang baik. Melayani Tuhan, khususnya, bukanlah hal kecil, dan tidak membereskan watak rusakmu dapat menempatkanmu dalam bahaya! Orang memiliki watak Iblis, dan dapat memberontak terhadap Tuhan dan melawan-Nya kapan pun dan di mana pun. Orang yang hidup berdasarkan watak Iblis dalam diri mereka, mampu menolak, menentang, dan mengkhianati Tuhan setiap saat. Antikristus sangat bodoh, mereka tidak menyadari hal ini, mereka berpikir, 'Aku sudah cukup kesulitan mendapatkan kekuasaanku, mengapa aku harus membaginya dengan orang lain? Memberikan otoritasku kepada orang lain berarti aku sama sekali tidak memilikinya, bukan? Bagaimana aku bisa menunjukkan bakat dan kemampuanku tanpa kekuasaan?' Mereka tidak tahu bahwa apa yang telah Tuhan percayakan kepada manusia bukanlah kekuasaan atau status, melainkan tugas. Antikristus hanya mau menerima kekuasaan dan status, mereka mengesampingkan tugas mereka, dan mereka tidak melakukan pekerjaan nyata. Sebaliknya, mereka hanya mengejar ketenaran, keuntungan serta status, dan hanya ingin berkuasa, mengendalikan umat pilihan Tuhan, serta menikmati manfaat dari status. Melakukan segala sesuatu dengan cara ini sangat berbahaya—ini menentang Tuhan! Siapa pun yang hanya mengejar ketenaran, keuntungan dan status, alih-alih melaksanakan tugas mereka dengan semestinya, sedang melakukan hal yang berbahaya dan bermain-main dengan hidup mereka. Orang yang melakukan hal berbahaya dan bermain-main dengan hidup mereka dapat menghancurkan diri mereka sendiri setiap saat. Sekarang ini, sebagai pemimpin atau pekerja, engkau sedang melayani Tuhan, dan ini bukan hal yang biasa. Engkau tidak sedang melakukan sesuatu untuk manusia mana pun, apalagi bekerja agar mampu membeli makanan dan memperoleh penghasilan; melainkan, engkau sedang melaksanakan tugasmu di gereja. Khususnya, tugas ini berasal dari amanat Tuhan. Jadi, apa artinya melaksanakan tugas ini? Itu berarti engkau harus mempertanggungjawabkan tugasmu kepada Tuhan, entah engkau melaksanakannya dengan baik atau tidak; pada akhirnya, pertanggungjawaban harus diberikan kepada Tuhan, harus ada hasilnya. Ini karena yang telah kauterima ini adalah amanat Tuhan, tanggung jawab yang kudus, dan sepenting atau sekecil apa pun tanggung jawab ini, ini adalah sesuatu yang serius. Seberapa seriuskah tanggung jawab ini? Dalam skala kecil, ini berkaitan dengan apakah engkau dapat memperoleh kebenaran dalam kehidupanmu ini dan berkaitan dengan bagaimana Tuhan akan memandangmu. Dalam skala besar, ini berkaitan langsung dengan masa depanmu, nasibmu, dan kesudahanmu; jika engkau melakukan kejahatan dan menentang Tuhan, engkau akan dikutuk dan dihukum. Segala sesuatu yang kaulakukan ketika engkau melaksanakan tugasmu dicatat oleh Tuhan, dan Tuhan memiliki prinsip dan standar-Nya sendiri tentang bagaimana itu dinilai dan dievaluasi; Tuhan menentukan kesudahanmu berdasarkan seluruh kinerjamu dalam tugasmu. Apakah ini masalah serius? Memang benar! Jadi, jika engkau diberi suatu tugas, apakah itu urusanmu sendiri untuk kautangani? (Tidak.) Pekerjaan itu bukanlah sesuatu yang dapat kauselesaikan sendiri, melainkan pekerjaan itu mengharuskanmu memikul tanggung jawab atasnya. Tanggung jawab ada di tanganmu; engkau harus menyelesaikan amanat itu. Hal ini berkaitan dengan apa? Ini berkaitan dengan kerja sama, dengan cara bekerja sama dalam pelayanan, dengan cara bekerja sama untuk melaksanakan tugasmu, dengan cara bekerja sama untuk menyelesaikan amanatmu, dengan cara bekerja sama sedemikian rupa sehingga engkau mengikuti kehendak Tuhan. Itu berkaitan dengan hal-hal ini" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Delapan (Bagian Satu)). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa ketika saudara-saudariku memilihku sebagai pemimpin tim, mereka bukan memberiku status, melainkan tanggung jawab. Aku seharusnya bekerja sama secara harmonis dengan semua orang, dan siapa pun yang memiliki kelebihan, aku seharusnya membiarkan mereka memanfaatkan kelebihan itu sepenuhnya. Hanya dengan belajar dari kelebihan masing-masing untuk melengkapi kekurangan kami, kami dapat melaksanakan tugas dengan baik. Misalnya, Xiao Ya terampil secara teknis dan juga serius tentang jalan masuk kehidupannya. Aku seharusnya membiarkan dia lebih memanfaatkan kelebihannya. Ini tidak hanya bermanfaat bagi pekerjaan gereja, tetapi juga akan membantuku dalam melaksanakan tugasku sendiri dengan baik. Namun, sejak aku menjadi pemimpin tim, aku telah menempatkan diriku di posisi pemimpin tim. Sepanjang hari, yang kupikirkan bukanlah cara bekerja sama secara harmonis dengan semua orang untuk melakukan tugas kami dengan baik; sebaliknya, aku terobsesi dengan status dan citraku sendiri. Aku memandang siapa pun yang melampauiku sebagai saingan dan mencoba segala cara untuk menekan mereka, tanpa memedulikan apakah tindakanku akan merugikan mereka atau memengaruhi kemajuan pekerjaan kami. Bagaimana itu bisa disebut melaksanakan tugasku? Aku jelas-jelas mengganggu pekerjaan gereja! Aku memikirkan bagaimana para pejabat di negara si naga merah yang sangat besar tidak pernah membiarkan bawahan mereka lebih menonjol dari mereka atau mencuri perhatian dari mereka. Begitu mereka merasa bahwa seseorang adalah ancaman bagi status mereka, mereka menekan dan menyiksa orang itu, dan tidak akan berhenti sampai orang itu dijatuhkan. Lalu, ada antikristus di gereja yang bersaing demi status. Mereka menganggap siapa pun yang lebih baik dari mereka sebagai duri dalam daging, menekan dan mengucilkan orang itu, mengganggu pekerjaan rumah Tuhan dengan serius tanpa pertobatan apa pun, dan akhirnya diusir dari gereja. Aku melihat bahwa konsekuensi dari mengejar status sangatlah menakutkan! Selama aku menjadi pemimpin tim, aku terus-menerus bersaing demi ketenaran dan keuntungan. Meskipun aku mempertahankan statusku sebagai pemimpin tim, aku tidak melaksanakan tugasku dengan baik. Aku bahkan menyerang dan mengucilkan mereka yang lebih baik dariku serta mengganggu pekerjaan gereja. Yang kulakukan hanyalah pelanggaran yang menjijikkan bagi Tuhan. Aku benar-benar menyesalinya. Jika waktu bisa diputar kembali, aku benar-benar berharap bisa bekerja sama secara harmonis dengan Xiao Ya dan yang lainnya untuk melaksanakan tugas kami dengan baik.
Kemudian, aku menonton video kesaksian pengalaman, dan satu bagian firman Tuhan yang dikutip di dalamnya sangat cocok dengan keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Agar dapat memperoleh kuasa dan status, hal pertama yang dilakukan para antikristus di gereja adalah berusaha memenangkan kepercayaan dan penghormatan dari orang lain, agar mereka dapat meyakinkan lebih banyak orang, dan membuat lebih banyak orang memandang tinggi mereka dan memuja mereka, dan dengan demikian mencapai tujuan mereka untuk menjadi penentu keputusan, dan berkuasa di gereja. Dalam hal memperoleh kuasa, mereka paling ahli dalam bersaing dan bertarung melawan orang lain. Mereka yang mengejar kebenaran, mereka yang memiliki pengaruh di dalam gereja, dan mereka yang dikasihi oleh saudara-saudari, adalah lawan utama mereka. Siapa pun yang mengancam status mereka adalah lawan mereka. Mereka tanpa gentar bersaing dengan orang-orang yang lebih kuat dari mereka; dan mereka bersaing melawan orang-orang yang lebih lemah dari mereka, tanpa sama sekali merasa kasihan. Hati mereka dipenuhi dengan falsafah tentang bersaing dan bertarung. Mereka yakin bahwa jika orang tidak bersaing dan bertarung, mereka tidak akan mampu memperoleh manfaat apa pun, dan mereka hanya bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan bersaing dan bertarung. Agar dapat memperoleh status, dan agar menduduki posisi terkemuka di tengah sekelompok orang, mereka melakukan apa pun untuk bersaing dengan siapa pun, dan mereka tidak akan melepaskan satu orang pun yang mengancam status mereka. Dengan siapa pun mereka berinteraksi, interaksi ini dipenuhi dengan persaingan serta pertentangan, dan mereka terus bersaing dan bertarung hingga berusia lanjut. Mereka sering kali berkata, 'Dapatkah aku mengalahkan orang itu jika aku bertarung melawannya?' Siapa pun yang fasih berbicara dan mampu berbicara dengan cara yang logis, terstruktur, dan metodis, menjadi sasaran iri hati dan peniruan mereka. Terlebih dari itu, orang-orang itu menjadi lawan mereka. Siapa pun yang mengejar kebenaran serta memiliki iman, dan sering kali mampu membantu serta mendukung saudara-saudari, dan memungkinkan mereka untuk keluar dari kenegatifan dan kelemahan, juga menjadi lawan mereka, demikian pula siapa pun yang ahli dalam keterampilan profesional tertentu dan cukup dihargai oleh saudara-saudari. Siapa pun yang memperoleh hasil dalam pekerjaan mereka, dan memperoleh pengakuan dari Yang di Atas, tentu saja menjadi target yang makin besar bagi mereka. ... Para antikristus belum tentu ingin menempati kedudukan yang tertinggi di mana pun mereka berada. Setiap kali mereka pergi ke suatu tempat, mereka memiliki suatu watak dan suatu mentalitas yang memaksa mereka untuk bertindak. Apakah mentalitas ini? Mentalitas ini adalah 'Aku harus bersaing! Bersaing! Bersaing!' Mengapa ada tiga kata 'bersaing,' mengapa tidak satu kata? (Persaingan telah menjadi hidup mereka, berdasarkan itulah mereka hidup.) Ini adalah watak mereka. Mereka dilahirkan dengan watak yang sangat congkak dan yang sulit untuk dikendalikan, yaitu menganggap diri mereka paling hebat, dan bersikap sangat egoistis. Tak seorang pun mampu membatasi watak mereka yang sangat congkak ini; mereka sendiri pun tak mampu mengendalikannya. Jadi, hidup mereka hanyalah tentang bertarung dan bersaing. Untuk apa mereka bertarung dan bersaing? Tentu saja, mereka bersaing untuk ketenaran, keuntungan, status, reputasi, dan kepentingan mereka sendiri. Apa pun metode yang mereka gunakan, asalkan semua orang tunduk kepada mereka, dan selama mereka memperoleh manfaat dan status untuk diri mereka sendiri, mereka telah mencapai tujuan mereka. Keinginan mereka untuk bersaing bukanlah kesenangan sementara; itu adalah sejenis watak yang berasal dari natur Iblis. Itu seperti watak si naga merah yang sangat besar yang bertarung melawan Surga, bertarung melawan bumi, dan bertarung melawan orang-orang. Jadi, ketika para antikristus bertarung dan bersaing dengan orang lain di gereja, apa yang mereka inginkan? Tidak diragukan lagi, mereka bersaing untuk memperoleh reputasi dan status. Namun, jika mereka memperoleh status, apa gunanya itu bagi mereka? Apa untungnya bagi mereka jika orang lain mendengarkan, mengagumi, dan memuja mereka? Antikristus itu sendiri bahkan tidak dapat menjelaskan hal ini. Sebenarnya, mereka suka menikmati reputasi dan status, mereka suka menikmati saat semua orang tersenyum kepada mereka dan saat mereka disambut dengan sanjungan dan pemujaan. Jadi, setiap kali para antikristus pergi ke sebuah gereja, mereka melakukan satu hal: bertarung dan bersaing dengan orang lain. Sekalipun mereka mendapatkan kekuasaan dan status, mereka belum selesai. Untuk melindungi status dan mengamankan kekuasaan mereka, mereka terus bertarung dan bersaing dengan orang lain. Mereka akan melakukan ini sampai mereka mati. Jadi, falsafah para antikristus adalah, 'Selama kau masih hidup, jangan berhenti bertarung.' Jika orang jahat seperti ini ada di dalam gereja, akankah itu mengganggu saudara-saudari? Sebagai contoh, katakanlah semua orang dengan tenang makan dan minum firman Tuhan serta mempersekutukan kebenaran, suasananya damai, dengan perasaan yang tenang dan nyaman. Pada saat ini, seorang antikristus akan membara dalam ketidakpuasan. Dia akan menjadi iri kepada mereka yang mempersekutukan kebenaran dan membenci mereka. Dia akan mulai menyerang dan mengkritik mereka. Bukankah ini akan mengganggu suasana yang tenang tersebut? Dia adalah orang jahat yang telah datang untuk mengganggu dan membuat orang lain merasa jijik. Seperti itulah antikristus. Terkadang, para antikristus tidak berusaha menghancurkan atau mengalahkan orang-orang yang mereka saingi dan tindas; asalkan mereka mendapatkan reputasi, status, kesombongan, dan harga diri, dan membuat orang mengagumi mereka, mereka telah mencapai tujuan mereka. Saat mereka sedang bersaing, mereka memperlihatkan semacam watak Iblis yang jelas. Watak macam apa ini? Bahwa, di gereja mana pun mereka berada, mereka selalu ingin bersaing dan bertarung melawan orang lain, mereka selalu ingin bersaing untuk mengejar ketenaran, keuntungan, dan status, serta baru merasa bahwa mereka telah mencapai tujuan mereka ketika gereja mengalami kekacauan dan keributan, ketika mereka telah memperoleh status dan semua orang tunduk kepada mereka. Inilah natur para antikristus, yaitu mereka menggunakan persaingan dan pertarungan untuk mencapai tujuan mereka" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tiga)). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa terus-menerus bertarung dengan orang lain demi reputasi dan status, dan membuat gereja menjadi kacau balau, adalah menempuh jalan antikristus, yang dikutuk dan disingkirkan oleh Tuhan. Jika kuingat kembali, dulu aku selalu percaya bahwa sebagai pemimpin tim, statusku di tim seharusnya adalah yang tertinggi dan semua orang seharusnya berpusat padaku. Ketika aku melihat semua orang mengerumuni Xiao Ya untuk bertanya, aku yakin dia telah mencuri statusku. Aku dikendalikan oleh racun Iblis "Tidak boleh ada matahari kembar". Aku mengincar Xiao Ya di setiap kesempatan dan bahkan mengadu domba An Jie dan dia di belakang mereka. Ketika akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak bisa menang, aku menarik Xiao Ya ke pihakku. Dari luar, aku menyebutnya kerja sama, tetapi kenyataannya, aku ingin dia mendengarkanku dan kumanfaatkan, supaya semua orang berpusat padaku. Dengan begitu, aku bisa mengamankan posisiku sebagai pemimpin tim. Dalam pertarunganku mengejar ketenaran dan keuntungan, aku tidak hanya menyakiti Xiao Ya, tetapi juga menyebabkan saudari-saudari lain merasa terkekang dan tidak bisa bicara bebas saat mendiskusikan pekerjaan, yang memengaruhi kemajuan pekerjaan. Satu-satunya alasan aku dipilih sebagai pemimpin tim adalah untuk memimpin semua orang dalam melaksanakan tugas kami dengan baik, tetapi sebaliknya, aku sangat sibuk bersaing demi status, memicu rasa iri dan konflik, menghakimi orang lain di belakang mereka, dan memprovokasi perselisihan di antara saudari-saudariku. Aku membuat tim menjadi kacau balau. Bukankah aku hanya bertindak sebagai hamba Iblis? Aku merasa seperti lalat yang menjijikkan yang mengganggu hati orang-orang, membuat semua orang kesal. Aku telah meninggalkan keluarga dan karierku untuk melaksanakan tugasku demi mengejar kebenaran dan memperoleh keselamatan. Namun, aku menganggap pengejaran akan status sebagai hal terpenting, terus-menerus bertarung demi ketenaran dan keuntungan. Akibatnya, aku mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja dan menempuh jalan antikristus tanpa sedikit pun menyadarinya. Makin aku memikirkannya, makin aku merasa tidak enak. Aku teringat akan Paulus. Waktu itu, ketika dia melihat wibawa Petrus yang tinggi di antara orang-orang percaya, dia menjadi iri. Meskipun dia tahu betul bahwa Petruslah yang ditunjuk oleh Tuhan Yesus untuk menggembalakan gereja, dia melakukan segala cara untuk merendahkan Petrus dan meninggikan dirinya sendiri, mengatakan bahwa dia adalah kepala para rasul, supaya semua orang menghormati dan mengaguminya. Kemudian, dia tetap keras kepala tidak mau bertobat dan bahkan mencoba bersaing dengan Tuhan demi status, tanpa malu mengatakan bahwa baginya hidup adalah kristus. Dia secara serius menyinggung watak Tuhan dan dihukum oleh Tuhan. Aku menempuh jalan yang sama dengan Paulus. Jika aku tidak bertobat, aku akan dibenci dan disingkirkan oleh Tuhan, sama seperti dia.
Kemudian, aku menemukan jalan penerapan dalam firman Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Engkau harus belajar untuk meninggalkan dan melepaskan hal-hal ini, belajar untuk merekomendasikan orang lain, dan membiarkan orang lain menonjol ketika ada kesempatan yang baik. Jangan bersaing atau memperebutkan kesempatan untuk menonjol dan bersinar setiap kali engkau menemukannya. Engkau harus mampu melepaskan kepentingan pribadimu, tetapi juga tidak boleh menghambat pelaksanaan tugasmu. Jadilah orang yang bekerja tanpa ingin dikenal, tidak pamer, dan juga melaksanakan tugas dengan penuh pengabdian. Makin engkau meninggalkan harga diri dan statusmu, dan makin engkau melepaskan kepentinganmu, makin engkau akan merasa damai, akan ada makin banyak terang di dalam hatimu, dan keadaanmu akan menjadi makin baik. Makin engkau bersaing dan memperebutkan, akan menjadi makin gelap keadaanmu. Jika engkau tidak percaya kepada-Ku, coba saja dan lihatlah! Jika engkau ingin membalikkan keadaan rusak semacam ini, dan tidak dikendalikan oleh ketenaran, keuntungan, dan status, engkau harus mencari kebenaran, melihat dengan jelas esensi dari ketenaran, keuntungan, serta status, dan kemudian melepaskan dan meninggalkannya" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kelepasan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). "Apa prinsip-prinsip dalam caramu berperilaku? Engkau haruslah berperilaku dengan cara yang sesuai dengan posisimu, menemukan tempatmu yang semestinya, dan melaksanakan tugas yang seharusnya kaulaksanakan dengan baik; hanya dengan demikian, engkau adalah orang yang bernalar. Sebagai contoh, jika engkau mahir dalam keterampilan profesional tertentu dan memahami prinsip-prinsipnya, engkau haruslah memikul tanggung jawabmu dan melakukan pemeriksaan yang semestinya di area tersebut; jika engkau mampu memberikan ide dan pencerahan, menginspirasi orang lain agar mereka mampu melaksanakan tugas mereka dengan lebih baik, engkau haruslah menyampaikan ide. Jika engkau mampu menemukan tempatmu yang tepat dan bekerja sama secara harmonis dengan saudara-saudarimu, engkau akan melaksanakan tugasmu dengan baik—inilah yang dimaksud dengan cara engkau berperilaku sesuai dengan posisimu" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Prinsip-Prinsip yang Seharusnya Menuntun Cara Berperilaku Orang"). Setelah membaca firman-Nya, aku memahami bahwa jika aku ingin bebas dari kekangan dan ikatan gengsi serta status, aku harus belajar meninggalkan dan melepaskan hal-hal ini, serta mengutamakan tugasku. Siapa pun yang punya kelebihan, aku seharusnya membiarkan mereka memanfaatkan kelebihan itu sepenuhnya, supaya kami bisa saling belajar untuk melengkapi kekurangan kami dan melaksanakan tugas kami dengan baik. Ini akan bermanfaat bagi pekerjaan gereja dan juga jalan masuk kehidupan saudara-saudari, dan aku juga bisa belajar dari kelebihan orang lain untuk melengkapi kekuranganku sendiri. Setelah memahami hal ini, aku berkata pada diriku sendiri: Mulai sekarang, apa pun tugas yang kulaksanakan, setiap kali aku bertemu saudara atau saudari yang lebih baik dariku, aku harus lebih banyak belajar dari mereka dan bekerja sama secara harmonis dengan mereka.
Pada tahun 2025, aku bekerja sama dengan Li Bing dan Su Ting dalam tugas tulis-menulis. Ketika aku melihat Li Bing sering bertanya kepada Su Ting tentang prinsip-prinsip penyaringan artikel, aku merasa sedikit tidak nyaman. "Aku juga tahu prinsip-prinsip itu. Apa Li Bing pikir aku tidak sebaik Su Ting, makanya dia bahkan tidak terpikir untuk bertanya padaku?" Aku menyadari bahwa rasa iriku berulah lagi, dan aku teringat akan firman Tuhan: "Jangan selalu melakukan segala sesuatu demi dirimu sendiri dan jangan selalu memikirkan kepentinganmu sendiri; jangan memikirkan harga diri, reputasi, dan statusmu sendiri, dan jangan memikirkan kepentingan pribadimu. Engkau terutama harus memikirkan kepentingan rumah Tuhan, dan menjadikannya prioritasmu. Engkau harus memperhatikan maksud-maksud Tuhan dan terutama merenungkan apakah ada ketidakmurnian dalam pelaksanaan tugasmu, apakah engkau selama ini sepenuh hati, memenuhi tanggung jawabmu, dan mengerahkan segenap kemampuanmu atau tidak, dan apakah engkau selama ini memikirkan tugasmu dan pekerjaan gereja dengan segenap hatimu atau tidak. Engkau harus memikirkan hal-hal ini. Jika engkau sering memikirkannya dan bisa memahaminya dengan jelas, akan menjadi lebih mudah bagimu untuk melaksanakan tugasmu dengan baik" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kelepasan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Su Ting sudah melaksanakan tugas ini paling lama di antara kami dan lebih memahami prinsip-prinsip itu. Jika dia lebih banyak bersekutu, kami semua bisa memperoleh lebih banyak, yang akan bermanfaat bagi kami dalam melaksanakan tugas kami dengan baik. Lagi pula, tidak masalah siapa yang ditanya oleh saudara-saudari, asalkan masalahnya terpecahkan. Tidak perlu bersaing demi status yang tidak berharga itu; aku harus mengutamakan tugasku. Saat aku berpikir begini, aku tidak merasa terlalu buruk lagi. Kemudian, aku fokus menerapkan sesuai firman Tuhan. Setiap kali aku melihat saudara atau saudari yang lebih baik dariku dalam hal tertentu, aku berusaha belajar dari mereka, supaya kami bisa saling melengkapi kelebihan dan bekerja sama untuk melaksanakan tugas kami dengan baik. Lambat laun, aku merasa bahwa pikiranku lebih luas, dan aku tidak lagi terlalu terkekang oleh gengsi dan status. Keadaanku menjadi makin baik. Aku makin menyadari bahwa bersaing demi ketenaran dan keuntungan tidak ada artinya dan hanya membuat orang hidup dalam penderitaan dan rasa tertekan. Hanya mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas dengan baiklah yang memiliki nilai dan makna yang nyata.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Pada tahun 2018, aku membuat video-video di gereja. Karena keterampilan profesionalku meningkat dengan cepat, dan biasanya aku membantu...
Aku membuat video di gereja dan biasanya, video-video yang kubuat memiliki beberapa sorotan baru. Saudara-saudari sangat mendukung saat...
Oleh Saudari Rebecca, Amerika Serikat Firman Tuhan katakan: “Kesaksian apa yang akhirnya diberikan manusia kepada Tuhan? Ia bersaksi bahwa...
Oleh Saudara Novo, FilipinaPada tahun 2012, saat bekerja di Taiwan, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Kemudian,...