Konsekuensi Menjadi Penyenang Orang
Pada Oktober 2022, aku dan Zhang Qiang menerima surat dari pemimpin yang meminta kami untuk bekerja sama dalam mengawasi pekerjaan video....
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada bulan September 2021, aku menulis surat kepada para pemimpin Gereja Wenzhuang, ingin mengatur pertemuan dengan Saudari Li Jing untuk merevisi sebuah khotbah. Tak disangka, beberapa hari kemudian, para pemimpin membalas suratku dan mengatakan bahwa pemahaman Li Jing keliru. Gereja sedang mengumpulkan dan menyusun bahan-bahan tentang dirinya sebagai persiapan untuk mengeluarkannya, dan mereka menyuruhku agar tidak menemuinya. Aku terkejut dengan balasan para pemimpin itu. Kupikir, "Dulu, aku dan Li Jing ada di gereja yang sama. Saat itu, kulihat dia suka membaca firman Tuhan. Dia sangat bersemangat dan mau membayar harga dalam tugasnya, dan kemanusiaannya cukup baik. Dia adalah orang percaya yang tulus. Hanya saja kualitasnya tidak terlalu bagus, dan dia kurang memiliki kemampuan membedakan. Mungkinkah para pemimpin telah salah menggolongkannya sebagai orang yang pemahamannya keliru?" Surat para pemimpin itu menyebutkan bahwa Li Jing cukup congkak dan merasa dirinya benar, dia bertindak berdasarkan idenya sendiri dan berbuat sesuka hatinya, serta selalu gagal bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip dalam hal-hal yang diatur oleh para pemimpin. Surat itu juga mencantumkan beberapa contoh bagaimana dia mengekang orang lain dalam kesehariannya. Sebagian besar dari perwujudan yang disebutkan oleh para pemimpin ini tampaknya hanyalah perwujudan kerusakan dan kekurangan dalam kemanusiaannya. Hal-hal itu tidak menunjukkan bahwa pemahaman Li Jing itu keliru. Apakah para pemimpin telah salah menggolongkannya? Jika mereka keliru mengeluarkannya, itu sama saja menghancurkan hidupnya! Pada saat itu, aku berpikir untuk menulis surat kepada para pemimpin gereja untuk membagikan perspektifku. Namun, terpikir olehku bahwa meskipun aku dulu pernah mengenal Li Jing, itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku tidak tahu bagaimana situasinya beberapa tahun terakhir ini. Aku khawatir pandanganku berat sebelah, jadi aku tidak menulis surat itu. Rekan kerjaku, Saudari Yang Yi, baru-baru ini berhubungan dengan Li Jing, jadi aku menanyakan pendapatnya. Yang Yi berkata bahwa saat dia mendengar para pemimpin sedang menyusun bahan-bahan tentang Li Jing atas alasan "pemahaman yang keliru", dia juga terkejut, dan dia tidak merasa Li Jing memenuhi syarat untuk dikeluarkan. Mendengar bahwa pandangan Yang Yi sama denganku, aku merasa kemungkinan besar penggolongan para pemimpin itu memang salah. Jadi, berdasarkan prinsip-prinsip rumah Tuhan tentang mengeluarkan dan mengusir orang, aku menulis tentang penyimpangan para pemimpin dalam penanganan kasus Li Jing dan menyatakan pandanganku sendiri. Namun, begitu selesai menulis surat itu dan hendak mengirimkannya, aku ragu-ragu, "Tugasku adalah pekerjaan tulis-menulis. Mengeluarkan dan mengusir orang bukanlah bidang tanggung jawabku. Itu adalah tugas para pemimpin gereja. Selain itu, aku bukan anggota gereja mereka. Jika aku menulis surat kepada mereka untuk menunjukkan masalah ini, tidakkah mereka akan menganggapku melampaui batas dan ikut campur? Watakku sudah cukup congkak, semua saudara-saudari tahu itu. Jika aku memberikan pendapatku kepada para pemimpin, bukankah mereka akan makin yakin bahwa aku ini congkak?" Lalu aku berpikir, "Rumah Tuhan saat ini sedang melakukan pekerjaan pembersihan gereja. Jika sekarang aku berkata bahwa Li Jing tidak memenuhi syarat untuk dikeluarkan, tidakkah mereka akan mengira aku sedang melindunginya dan menghalangi pekerjaan pembersihan gereja? Itu akan jadi tuduhan serius! Aku bahkan mungkin akan dikucilkan dan dikeluarkan juga, itu tidak sepadan! Lebih baik kubiarkan saja. Kalaupun mereka melakukan kesalahan, itu adalah tanggung jawab mereka, bukan tanggung jawabku. Seperti kata pepatah, 'Burung yang menjulurkan lehernya adalah burung yang tertembak,' jadi lebih baik aku tidak ikut campur. Selain itu, para pemimpin tingkat atas melakukan pemeriksaan akhir saat gereja mengeluarkan dan mengusir orang. Aku tidak perlu khawatir." Setelah memikirkan ini, aku pun menghapus surat yang telah kutulis.
Setelah itu, setiap kali teringat masalah ini, aku menyalahkan diri dan terus gelisah. Aku jelas melihat bahwa perwujudan Li Jing hanyalah perwujudan kerusakan dan dia tidak memenuhi syarat untuk dikeluarkan, tetapi aku bahkan tidak berani melaporkan ini kepada para pemimpin. Jika Li Jing benar-benar dikeluarkan, hidupnya akan hancur! Bukankah aku juga akan ikut bertanggung jawab? Namun, aku takut jika mengangkat masalah ini akan berakibat buruk bagiku. Aku merasa terjebak dalam dilema, tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, aku berdoa kepada Tuhan, memohon kepada-Nya untuk mencerahkanku agar aku dapat memahami kebenaran, mengenal diriku sendiri, dan tidak hidup berdasarkan watak rusakku. Setelah berdoa, aku teringat akan firman Tuhan: "Kebanyakan orang bersedia mengejar kebenaran dan ingin menerapkan kebenaran, tetapi sering kali mereka hanya memiliki tekad dan keinginan untuk melakukannya; tetapi di dalam dirinya, kebenaran belum menjadi hidup mereka. Jadi, ketika engkau menghadapi kekuatan jahat yang mengganggu dan merusak pekerjaan gereja—misalnya, ketika engkau dihadapkan dengan pemimpin palsu yang menangani masalah dengan cara melanggar prinsip dan tidak melakukan pekerjaan nyata, atau orang jahat dan antikristus yang berbuat jahat dan mengganggu pekerjaan gereja dan dengan demikian menyebabkan umat pilihan Tuhan tersakiti—engkau tidak memiliki keberanian untuk bangkit dan angkat bicara. Mengapa engkau tidak memiliki keberanian ini? Apakah karena engkau penakut atau tidak pandai bicara, atau apakah engkau tidak berani angkat bicara karena engkau tidak bisa melihat segala sesuatu dengan jelas? Bukan karena hal-hal ini; itu terutama akibat terkekangnya dirimu oleh watakmu yang rusak. Salah satu watak rusak yang kauperlihatkan adalah watak licik: Ketika sesuatu terjadi, hal pertama yang kaupertimbangkan adalah kepentinganmu sendiri, konsekuensi dari tindakanmu, dan apakah itu akan menguntungkan bagimu. Ini adalah watak licik, bukan? Watak lainnya adalah watak egois dan hina. Engkau berpikir, 'Apa hubungannya kerugian yang mereka timbulkan terhadap kepentingan rumah Tuhan denganku? Aku bukan pemimpin, jadi mengapa aku harus terlibat? Itu tidak ada hubungannya denganku, dan itu bukan tanggung jawabku.' Pemikiran dan perkataan semacam itu bukanlah sesuatu yang sengaja kaupikirkan, melainkan dihasilkan olehmu tanpa kausadari—inilah watak rusak yang orang perlihatkan ketika mereka menghadapi masalah" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku merasa seolah-olah Dia sedang menyingkapkan dan menghakimiku secara langsung. Aku sangat tahu bahwa Li Jing tidak memenuhi syarat untuk dikeluarkan dan bahwa ada penyimpangan dalam penggolongan para pemimpin terhadapnya. Aku juga tahu konsekuensi dari keliru mengeluarkan seseorang. Entahkah yang kulihat itu sepenuhnya akurat atau tidak, aku seharusnya menyampaikannya untuk menjadi pertimbangan agar mereka tidak keliru mengeluarkannya, yang dapat membahayakan kesempatannya untuk memperoleh keselamatan. Namun, aku hanya memikirkan kepentinganku sendiri. Aku takut jika aku menyatakan pendapatku kepada para pemimpin, saudara-saudari akan menganggapku congkak dan melampaui batas. Aku juga takut mereka akan mengira aku sedang melindungi Li Jing. Jika aku digolongkan sebagai orang yang menghalangi pekerjaan pembersihan gereja, itu akan menjadi bencana bagi kesudahan dan tempat tujuanku. Demi melindungi diriku, aku pun tidak menulis surat kepada para pemimpin. Aku hidup mengikuti aturan bertahan hidup Iblis seperti "Biarkan hal-hal berlalu jika tidak memengaruhi seseorang secara pribadi", "Semakin sedikit masalah, semakin baik", dan "Orang yang bijaksana pandai melindungi diri, hanya berusaha untuk tidak membuat kesalahan". Apa pun yang kulakukan, prinsip yang kupegang adalah melindungi diri sendiri. Aku hanya selalu memikirkan masa depan dan kepentinganku sendiri, sama sekali tidak menunjukkan kepedulian terhadap pekerjaan gereja atau kehidupan saudara-saudariku. Aku begitu egois dan tercela, sama sekali tidak memiliki kemanusiaan! Menyadari hal ini, rasa benci terhadap diri sendiri muncul dalam hatiku, aku pun menjadi tidak mau terus hidup berdasarkan watak rusakku.
Kemudian, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang sangat menyentuhku. Tuhan berfirman: "Jika engkau tidak benar-benar berusaha dalam imanmu kepada Tuhan dan pelaksanaan tugasmu; jika engkau selalu ingin sekadar menjalani rutinitas, bersikap asal-asalan dalam bertindak, seperti orang tidak percaya yang bekerja untuk bos mereka; jika engkau hanya asal berupaya, tidak menggunakan pikiranmu, menjalani hidupmu dengan acuh tak acuh, tidak melaporkan persoalan ketika engkau melihatnya, malas dan tidak peduli, dan tanpa pandang bulu mengabaikan segala sesuatu yang tidak memberi keuntungan bagi dirimu sendiri—bukankah ini berarti masalah? Bagaimana orang seperti ini bisa menjadi anggota rumah Tuhan? Orang-orang seperti itu adalah orang-orang tidak percaya; mereka bukan anggota rumah Tuhan. Tak seorang pun dari mereka diakui oleh Tuhan. Mengenai apakah engkau bersikap jujur dan apakah engkau berusaha ketika melaksanakan tugasmu, Tuhan mencatatnya, dan engkau juga tahu betul akan hal ini. Jadi, pernahkah engkau semua benar-benar berusaha dalam melaksanakan tugasmu? Pernahkah engkau menganggapnya serius? Sudahkah engkau memperlakukannya sebagai tanggung jawabmu, kewajibanmu? Sudahkah engkau menganggapnya sebagai milikmu sendiri? Engkau harus merenungkan dan memahami hal-hal ini dengan benar, sehingga akan memudahkanmu untuk mengatasi masalah yang ada dalam pelaksanaan tugasmu, dan akan bermanfaat bagi jalan masuk kehidupanmu. Jika engkau selalu tidak bertanggung jawab saat melaksanakan tugasmu, dan tidak melaporkan masalah kepada para pemimpin dan pekerja ketika engkau menemukannya, juga tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikannya sendiri, selalu berpikir 'semakin sedikit masalah, semakin baik', selalu hidup berdasarkan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, selalu asal-asalan ketika melaksanakan tugasmu, tidak pernah sepenuh hati, dan tidak menerima kebenaran sama sekali ketika dipangkas—jika engkau melaksanakan tugasmu dengan cara ini, engkau berada dalam bahaya; engkau adalah salah satu orang yang berjerih payah. Orang yang berjerih payah bukanlah anggota rumah Tuhan, melainkan karyawan, pekerja upahan. Ketika pekerjaan berakhir, mereka akan disingkirkan, dan tentu saja akan jatuh ke dalam malapetaka. Orang-orang dalam rumah Tuhan berbeda; ketika mereka melaksanakan tugas, tujuannya bukan untuk uang, atau mengerahkan upaya, atau mendapatkan berkat. Mereka berpikir, 'Aku adalah anggota rumah Tuhan. Hal-hal yang berkaitan dengan rumah Tuhan berkaitan denganku. Urusan rumah Tuhan adalah urusanku. Aku harus mengerahkan segenap hatiku untuk rumah Tuhan.' Karena itu, mereka mengerahkan segenap hati mereka untuk setiap hal yang berkaitan dengan rumah Tuhan, dan bertanggung jawab untuk itu. Mereka bertanggung jawab atas semua yang dapat mereka pikirkan dan lihat. Mereka mengawasi hal-hal yang membutuhkan penanganan, dan mereka memikirkan dengan serius hal-hal ini. Seperti inilah orang-orang di rumah Tuhan. Apakah engkau semua seperti ini? (Tidak.) Jika engkau hanya menikmati kenyamanan daging, tidak peduli ketika engkau melihat adanya hal-hal yang perlu ditangani di rumah Tuhan, tidak memungut sebotol minyak yang telah jatuh, dan hatimu tahu ada masalah tetapi engkau tak ingin menyelesaikannya, artinya engkau tidak memperlakukan rumah Tuhan sebagai rumahmu. Apakah engkau semua seperti ini? Jika ya, artinya engkau telah jatuh begitu jauh sehingga tidak ada perbedaan antara dirimu dengan orang-orang tidak percaya. Jika engkau tidak bertobat, engkau semua termasuk orang yang berada di luar rumah Tuhan; engkau harus ditangguhkan dan disingkirkan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Untuk Melaksanakan Tugas dengan Baik, Orang Setidaknya Harus Memiliki Hati Nurani dan Nalar"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa dalam percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas, sikap seseorang terhadap Tuhan sangatlah penting. Hanya jika mereka memiliki hati yang tulus kepada-Nya, jika hati mereka berpaling kepada-Nya dalam segala hal, dan jika mereka melindungi kepentingan rumah Tuhan, barulah Tuhan memandang mereka sebagai bagian dari rumah-Nya. Jika tidak, mereka akan dibenci dan ditolak serta disingkirkan oleh Tuhan. Aku merenungkan caraku menangani masalah penyusunan bahan-bahan untuk mengeluarkan Li Jing. Ini menyingkapkan bahwa hatiku sama sekali tidak berpaling kepada Tuhan. Meskipun aku melihat adanya penyimpangan dalam penggolongan para pemimpin terhadap Li Jing dan tahu bahwa salah mengeluarkan dia akan melukai dan menghancurkan hidupnya, aku pura-pura tidak tahu, semua demi melindungi diriku. Aku bahkan memakai alasan ada para pemimpin di setiap tingkatan yang akan melakukan pemeriksaan pekerjaan gereja, supaya aku bisa menghindar dari tanggung jawab dan menolak menerapkan kebenaran. Apa bedanya sikapku terhadap apa yang terjadi di gereja itu dengan sikap orang tidak percaya saat bekerja di dunia? Aku hanya melindungi kepentinganku sendiri dan mengabaikan yang lainnya. Aku memperlakukan diriku seperti orang luar di rumah Tuhan. Aku tidak memiliki hati yang tulus kepada Tuhan, dan benar-benar membuat Dia benci dan muak. Aku adalah anggota rumah Tuhan, tetapi ketika melihat seorang saudari akan dikeluarkan secara keliru, aku bahkan tidak berani melaporkannya kepada para pemimpin. Aku sama sekali tidak memiliki rasa keadilan. Aku benar-benar pengecut! Jika aku benar-benar memiliki hati yang tulus kepada Tuhan, aku pasti telah memenuhi tanggung jawabku dalam pekerjaan gereja. Sama seperti ketika anak-anak melihat orang tua mereka dalam kesulitan atau keluarga mereka menghadapi masalah. Mereka mengambil inisiatif untuk membantu, tanpa perlu diawasi atau didesak. Itu karena mereka memandang diri mereka sebagai bagian dari keluarga dan merasa bertanggung jawab untuk membantu setiap masalah keluarga. Namun, sebagai anggota rumah Tuhan, ketika aku melihat penyimpangan dalam cara para pemimpin menangani suatu masalah, seharusnya entah aku anggota gereja tersebut atau entah itu termasuk dalam lingkup tanggung jawabku atau bukan. Karena aku melihatnya, adalah tanggung jawabku untuk menyampaikannya kepada para pemimpin. Entah penilaianku terhadap masalah itu akurat atau tidak, setelah aku menyampaikannya, para pemimpin akan memastikan, menyelidiki, dan memeriksanya, dan itu akan bermanfaat bagi pekerjaan gereja. Menerapkan cara ini bukanlah ikut campur atau melampaui batas, juga bukan perwujudan watak congkak. Ini adalah memenuhi tanggung jawab dan tugasku, serta melindungi kepentingan gereja dan saudara-saudariku. Menyadari hal ini, hatiku menjadi sedikit lebih terang.
Setelah itu, aku merenung bahwa melaporkan masalah itu kepada para pemimpin jelas adalah tindakan menerapkan kebenaran dan melindungi kepentingan gereja. Namun, aku selalu takut aku akan dikutuk dan dipangkas karenanya. Artinya, aku telah bersikap waspada terhadap Tuhan, dan tidak percaya bahwa kebenaran berkuasa di rumah Tuhan. Aku teringat akan firman Tuhan: "Tuhan memiliki esensi kesetiaan, jadi firman-Nya selalu bisa dipercaya; terlebih lagi, tindakan-Nya tidak bercela dan tidak dapat diragukan. Inilah sebabnya Tuhan menyukai mereka yang sepenuhnya jujur kepada-Nya" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tiga Peringatan"). "Jika engkau orang yang sangat licik, engkau akan selalu bersikap waspada dan curiga terhadap semua orang dan segala hal, dan dengan demikian imanmu kepada-Ku akan dibangun di atas landasan kecurigaan. Aku tidak akan pernah mengakui iman seperti ini. Tanpa memiliki iman sejati, engkau, terlebih lagi, tidak memiliki kasih sejati. Jika engkau bahkan mampu meragukan Tuhan dan berspekulasi tentang-Nya sesuka hatimu, maka tidak diragukan lagi, engkau adalah orang yang paling licik di antara semua orang. Engkau berspekulasi apakah Tuhan dapat menjadi seperti manusia: penuh dosa yang tak terampuni, picik, tanpa keadilan dan tidak masuk akal, tidak memiliki rasa keadilan, menggunakan taktik-taktik kejam, bersifat licik dan culas, menyukai kejahatan dan kegelapan, dan sebagainya. Bukankah alasan orang memiliki pemikiran semacam itu adalah karena mereka sama sekali tidak memiliki pengenalan akan Tuhan? Iman semacam itu tidak ada bedanya dengan dosa! Bahkan ada orang-orang yang meyakini bahwa orang-orang yang Kusukai hanyalah mereka yang tahu cara menyanjung dan menjilat, dan bahwa mereka yang tidak tahu cara melakukannya tidak akan diterima di rumah Tuhan dan akan kehilangan tempat mereka di sana. Apakah hanya ini pengenalan yang telah engkau semua peroleh selama bertahun-tahun? Apakah ini yang telah engkau semua peroleh? Pengenalanmu akan Aku tidak berhenti pada kesalahpahaman ini; yang bahkan lebih buruk lagi adalah penghujatanmu terhadap Roh Tuhan dan fitnah terhadap Surga. Inilah sebabnya Kukatakan bahwa iman seperti imanmu itu hanya akan menyebabkanmu makin jauh dari-Ku dan makin memusuhi-Ku" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Cara untuk Benar-Benar Mengenal Tuhan yang di Bumi"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa esensi Tuhan adalah setia dan kudus. Dia itu benar kepada semua orang; Dia tidak akan berbuat tidak adil kepada orang baik, juga tidak akan melepaskan orang jahat. Rumah Tuhan menangani setiap orang menurut prinsip-prinsip. Pekerjaan pembersihan gereja dimaksudkan untuk mengeluarkan semua antikristus, orang jahat, dan para pengikut yang bukan orang percaya yang tersembunyi di sana untuk menyucikan gereja. Ini sepenuhnya ditentukan oleh watak benar Tuhan. Namun, aku bersikap waspada terhadap Tuhan, dan membayangkan pekerjaan pembersihan rumah Tuhan itu seperti salah satu kampanye politik si naga merah yang sangat besar, merasa aku seolah berada di tengah badai dan tidak boleh bicara sembarangan—jika tidak, aku akan disiksa. Pekerjaan pembersihan sedang berlangsung di rumah Tuhan. Aku khawatir jika aku memberi tahu para pemimpin bahwa Li Jing tidak memenuhi syarat untuk dikeluarkan, aku mungkin akan dihukum karena menghalangi pekerjaan pembersihan itu. Pandanganku sungguh konyol. Aku tidak percaya bahwa kebenaran berkuasa di rumah Tuhan—itu menjadikanku seorang pengikut yang bukan orang percaya! Kenyataannya, menghalangi pekerjaan pembersihan gereja yang sedang menangani antikristus, orang jahat, dan para pengikut yang bukan orang percaya berarti memihak pada mereka, mencari berbagai alasan dan dalih untuk mendukung serta melindungi mereka agar mereka tetap bertahan di gereja. Itu berarti mengganggu pekerjaan gereja dan melakukan kejahatan. Namun dalam kasus ini, Li Jing tidak memenuhi syarat untuk dikeluarkan. Tujuan melaporkan hal ini kepada para pemimpin gereja hanyalah agar mereka dapat memastikannya dan mendapatkan gambaran yang jelas, serta menghindari hancurnya kesempatan Li Jing untuk memperoleh keselamatan akibat dia keliru dikeluarkan. Menerapkan dengan cara seperti ini melindungi saudara-saudariku dan juga merupakan perwujudan dari menjaga kepentingan gereja. Itu bukan sengaja menghalangi pekerjaan pembersihan. Selain itu, kalaupun aku salah, karena niat awalku adalah untuk melindungi kepentingan gereja, gereja tidak akan menghukumku karenanya. Gereja akan menangani masalah tersebut secara adil sesuai dengan prinsip-prinsip. Jadi apa yang begitu kukhawatirkan dan kucemaskan? Setelah menyadari ini, aku merasa lega dan bertekad untuk menerapkan kebenaran.
Aku teringat akan firman Tuhan: "Hubungan yang normal dengan Tuhan berarti mampu untuk tidak meragukan ataupun mengingkari pekerjaan Tuhan dan tunduk pada pekerjaan Tuhan itu. Itu berarti memiliki niat yang benar di hadirat Tuhan dan tidak menyusun rencana bagi dirimu sendiri, dan itu juga berarti mengutamakan kepentingan rumah Tuhan, menerima pemeriksaan Tuhan, dan tunduk pada pengaturan-Nya, apa pun yang sedang kaulakukan. Engkau harus mampu menenangkan hatimu di hadirat Tuhan dalam segala hal yang engkau lakukan. Bahkan andaipun engkau tidak memahami maksud-maksud Tuhan, engkau harus tetap memenuhi tugas dan tanggung jawab dengan sebaik mungkin. Begitu maksud-maksud Tuhan telah diungkapkan kepadamu, bertindaklah, dan itu tidak akan terlambat. Apabila hubunganmu dengan Tuhan telah menjadi normal, engkau juga akan memiliki hubungan yang normal dengan orang-orang. Untuk membangun hubungan yang normal dengan Tuhan, semuanya harus dibangun di atas dasar firman Tuhan, engkau harus mampu melaksanakan tugasmu sesuai dengan firman Tuhan dan apa yang Tuhan tuntut, engkau harus memperbaiki sudut pandangmu, dan harus mencari kebenaran dalam segala sesuatu. Engkau harus menerapkan kebenaran setelah engkau memahaminya, dan apa pun yang terjadi pada dirimu, engkau harus berdoa kepada Tuhan dan mencari dengan hati yang tunduk kepada Tuhan. Dengan melakukan penerapan seperti itu, engkau akan mampu memelihara hubungan yang normal dengan Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Bagaimana Hubunganmu dengan Tuhan?"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa untuk percaya kepada Tuhan, kita harus membangun hubungan yang normal dengan-Nya dan memberikan hati kita kepada-Nya. Dalam semua yang kita katakan dan lakukan, kita harus memikirkan jalan masuk kehidupan saudara-saudari kita dan pekerjaan gereja, serta mampu menerima pemeriksaan Tuhan dalam segala hal. Hanya dengan demikianlah kita dapat menerapkan kebenaran. Karena aku dapat melihat bahwa para pemimpin telah membuat penggolongan yang tidak akurat dalam kasus Li Jing, aku seharusnya membagikan sudut pandangku. Sekalipun pandanganku tidak sepenuhnya benar, membicarakan hal itu akan memungkinkan para pemimpin untuk memastikan ulang situasinya dan menghindari hancurnya kesempatan Li Jing untuk memperoleh keselamatan akibat dia keliru dikeluarkan. Menerapkan seperti ini akan bermanfaat baik bagi jalan masuk kehidupan saudara-saudari maupun bagi pekerjaan gereja. Walaupun aku mengenal Li Jing, aku tidak melaporkan masalah tersebut untuk melindunginya atau untuk memamerkan diri. Hal itu didasarkan pada pemahamanku tentang dirinya, dan pada fakta bahwa perwujudan yang disebutkan oleh para pemimpin itu tidak sejalan dengan prinsip-prinsip gereja untuk mengeluarkan orang. Ini bukan tentang mempertahankan hubungan pribadi dengannya. Meskipun dari luarnya ini terlihat seperti masalah sepele, ini berkaitan dengan bisa tidaknya aku menerapkan kebenaran dan melindungi kepentingan gereja. Ini juga merupakan ujian dari Tuhan. Jadi aku berlutut dan berdoa kepada Tuhan, menyatakan kesediaanku untuk menerapkan sesuai dengan tuntutan-Nya. Setelah berdoa, aku meninjau perwujudan Li Jing sekali lagi. Lalu, berdasarkan masalah dalam penggolongan para pemimpin terhadapnya, aku mempersekutukan pemahaman dan sudut pandangku sendiri yang dikombinasikan dengan prinsip-prinsip yang relevan. Setelah menulis surat itu, aku mengirimkannya kepada para pemimpin. Dengan menerapkan seperti ini, aku merasa sangat tenang dan damai.
Kemudian, para pemimpin membalas suratku. Mereka berkata telah menyelidiki ulang dan, setelah mencari prinsip-prinsip yang relevan mengenai perwujudan Li Jing, mereka memastikan dia tidak memenuhi syarat untuk dikeluarkan, bahwa ada penyimpangan dalam penggolongan mereka sebelumnya terhadap dirinya, dan bahwa sekarang dia masih melaksanakan tugasnya di gereja. Aku sangat bahagia mengetahui hasil ini. Aku merasa bahwa menerapkan kebenaran itu sungguh luar biasa! Mulai sekarang, aku harus lebih sering lagi menerapkannya.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Pada Oktober 2022, aku dan Zhang Qiang menerima surat dari pemimpin yang meminta kami untuk bekerja sama dalam mengawasi pekerjaan video....
Oleh Saudari Su Jie, TiongkokPada Oktober 2020, aku terpilih untuk mengawasi pekerjaan video bersama Wang Li, yang pernah bekerja bersamaku...
Oleh Saudari Xun Qiu, JepangSaat kecil, aku diajari untuk tidak berterus terang kepada orang lain, dan jangan pernah "membuat masalah"....
Oleh Saudara Qu Cong, Yunani Tahun lalu, Saudara Xin, rekanku memberitakan Injil, diberhentikan. Saat kutanyakan tentang hal itu, dia...