Apakah Pandangan “Orang Tua Selalu Benar” Itu Benar?

13 Juni 2026

Oleh Anxin, Tiongkok

Ibuku telah banyak menderita saat membesarkan aku dan adik laki-lakiku. Dia sering berkata asalkan aku dan adikku hidup dengan baik, penderitaan seberat apa pun akan sepadan. Aku yakin ibukulah orang yang paling menyayangiku di dunia ini, dan semua yang dia lakukan adalah demi kebaikanku. Saat aku beranjak dewasa, pernikahanku menjadi kekhawatiran terbesar orang tuaku. Saat aku berumur dua puluh tiga, ibuku sering mengomel kepadaku, "Kau sudah jadi wanita dewasa sekarang. Sudah waktunya mencari pasangan yang cocok. Kalau kau menunggu lebih lama lagi, semua pria yang baik akan diambil orang." Aku merasa pernikahan itu komitmen seumur hidup yang harus dipikirkan matang-matang; aku tidak mau menikah sembarangan. Lagi pula, usiaku belum terlalu tua saat itu, jadi aku hanya menjawab, "Tidak usah buru-buru. Nanti kalau sudah ketemu orang yang tepat, aku akan mulai berpacaran." Kebetulan pada tahun itulah aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Dengan membaca firman Tuhan, aku mengetahui bahwa ini adalah tahap akhir pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, dan merupakan kesempatan yang sangat langka untuk disempurnakan oleh Tuhan. Aku harus segera melaksanakan tugasku dan bersungguh-sungguh mengejar kebenaran. Menikah di saat seperti ini bisa dengan mudah menghancurkan kesempatanku untuk diselamatkan. Karena itu, aku menjadi lebih berhati-hati soal pernikahan dan terus menunda untuk mencari pasangan. Ibuku sangat cemas. Setiap kali ada yang mencoba menjodohkanku dengan seorang pria, ibuku selalu mendesakku untuk menemuinya. Aku membenci hal itu. Rasanya seolah dia sedang mencoba menjualku seperti barang dagangan. Ditambah lagi, aku orangnya cukup tertutup dan benci cara perjodohan seperti itu, jadi aku benar-benar tidak mau pergi ke kencan buta itu. Namun, aku merasa tak berdaya saat ibuku terus mendesakku untuk menikah. Dia telah banyak menderita saat membesarkan aku dan adikku, dan dia sering menceritakan kepada kami betapa sulitnya semua itu. Karena pepatah, "Kasih sayang orang tua itu sungguh mulia" dan "Orang tua selalu benar", aku pun merasa bahwa apa pun yang dia lakukan adalah demi kebaikanku. Agar tidak menyakiti perasaannya, aku menurutinya dan pergi ke pertemuan yang dia atur, meski sebenarnya aku sangat enggan. Namun, aku tahu ini adalah saat yang genting dalam pekerjaan Tuhan, dan bahwa berpacaran serta pernikahan akan mengganggu kepercayaanku kepada Tuhan. Jadi biasanya, aku datang ke kencan perjodohan itu, lalu nanti mencari alasan dan berkata bahwa kami tidak cocok. Begitulah caraku menepisnya. Kemudian pada tahun 2013, saat aku berusia dua puluh lima tahun, aku bertemu dengan seorang pria lewat kencan buta yang sangat sesuai dengan tipeku. Dia orang yang tenang dan baik kepada orang tuanya, dan ibuku sangat menyukainya. Aku berpikir, "Aku bisa coba menjalin hubungan dengannya. Aku akan memberitakan Injil kepadanya, lalu kami bisa percaya kepada Tuhan bersama-sama." Aku berbicara dengannya tentang percaya kepada Tuhan tiga kali, tetapi dia hanya mendengarkan dengan setengah hati, dan berkata sambil tersenyum, "Percaya kepada Tuhan itu hal yang baik. Aku tidak akan melarangmu melakukannya." Aku sangat kecewa, dan itu membuatku khawatir jika kami benar-benar bersama, dia mungkin akan menentang dan menganiayaku sama seperti yang dialami saudari-saudari lain dari suami mereka. Kami berpacaran selama lebih dari empat bulan, dan makin lama kami menghabiskan waktu bersama, aku makin menyukainya. Aku berpikir, "Kami baru bersama selama beberapa bulan, tetapi pikiranku sudah dipenuhi dengan hal-hal ini. Aku tidak bisa melaksanakan tugasku dengan baik, aku hanya bersikap asal-asalan dalam pertemuan, dan aku tidak sepenuh hati saat membaca firman Tuhan. Kalau kami benar-benar menikah, bukankah setiap hari aku akan disibukkan dengan urusan keluarga yang sepele ini dan tidak bisa sepenuhnya fokus pada tugasku? Aku tidak bisa terburu-buru menikah begitu saja." Namun, orang tuaku ingin kami menikah hanya dalam waktu empat bulan kemudian. Aku sangat takut bahwa pernikahan akan benar-benar menghancurkan kesempatanku untuk diselamatkan dalam kepercayaanku kepada Tuhan. Namun, aku tak rela untuk putus dengannya. Jarang sekali aku bisa menemukan seseorang yang kusukai, dan aku tidak ingin melepaskannya. Lagi pula, orang tua dan nenekku semuanya menyukai dia. Kalau aku tidak menikah dengannya, orang tuaku akan sangat kecewa dan akan terus mengkhawatirkan pernikahanku. Pergumulan terus berkecamuk di dalam hatiku, dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kepedihanku, aku berdoa kepada Tuhan, memohon agar Dia membimbingku untuk membuat pilihan yang tepat. Kemudian, aku membaca firman Tuhan Yesus ini: "Celakalah mereka yang sedang mengandung dan mereka yang sedang menyusui" (Matius 24:19). Aku juga membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa ini: "Beberapa orang ditindas oleh keluarganya sehingga mereka tidak dapat percaya kepada Tuhan kecuali mereka menikah. Dengan demikian, pernikahan, sebaliknya, menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Bagi yang lain, pernikahan bukan saja tidak bermanfaat, tetapi malah membuat mereka kehilangan apa yang pernah mereka miliki. Soal hidupmu haruslah ditentukan oleh keadaanmu yang sebenarnya dan keputusanmu sendiri. Aku di sini bukan untuk menciptakan aturan dan peraturan yang Kugunakan untuk menuntutmu" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Penerapan (7)"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa melepaskan pernikahan demi kebenaran adalah hal yang berharga. Dengan melakukan ini, aku akan punya lebih banyak waktu dan tenaga untuk melaksanakan tugasku dan mengejar kebenaran. Jika aku kehilangan kesempatan untuk melaksanakan tugasku karena pernikahan, dan akhirnya gagal mendapatkan kebenaran atau diselamatkan, aku akan kehilangan jauh lebih banyak daripada apa yang kuperoleh. Malapetaka dahsyat sudah dimulai, dan waktu yang tersisa tidak banyak. Aku harus memanfaatkan waktu ini untuk memperlengkapi diriku dengan kebenaran. Saat ini, aku belum menikah dan tidak punya tanggungan keluarga, jadi aku bisa melaksanakan tugasku penuh waktu. Kalau aku menikah, aku pasti akan terjebak di rumah sepanjang hari. Aku juga orang yang sangat sentimental, jadi kalau aku benar-benar berkeluarga di masa depan, aku pasti akan mengabaikan tugasku karena perasaanku, dan itu akan menghancurkan kesempatanku untuk diselamatkan. Setelah memikirkannya berulang kali, aku akhirnya memutuskan untuk putus dengannya. Ketika ibuku tahu, dia cemas dan marah. Dia mencoba membujukku, dengan berkata, "Aku dan ayahmu makin tua, dan kondisi kesehatanku tidak bagus. Kami tidak bisa merawatmu selamanya! Kami sangat mengenal keluarga ini. Kalau kau segera menikah, aku dan ayahmu akhirnya bisa melepaskan beban pikiran ini." Mendengar ibuku berkata begini membuatku sangat sedih. Orang tuaku begitu mengkhawatirkan pernikahanku setiap harinya sehingga itu menjadi beban pikiran bagi mereka. Mereka cukup banyak khawatir saat membesarkanku. Alih-alih berbagi beban dan meringankan tekanan pada mereka, aku malah menjadi beban terbesar mereka. Aku sangat menyalahkan diriku sendiri, seolah aku ini anak perempuan yang tidak berbakti. Meskipun pria ini tipeku, dia tidak tertarik untuk percaya kepada Tuhan. Kami punya pandangan berbeda dan berada di jalan yang berbeda. Kami tidak akan bahagia hidup bersama. Dan selama beberapa bulan kami berpacaran, aku tidak merasakan kebahagiaan dari suatu hubungan, tetapi justru siksaan batin yang terus-menerus. Aku selalu khawatir setelah menikah, keluargaku akan menjadi belenggu dan rintangan yang menghalangiku dalam mengejar kebenaran dan menghancurkan kesempatanku untuk diselamatkan. Saat memikirkan hal ini, pendirianku menjadi teguh dan aku memilih untuk putus dengannya. Setelah itu, sikap ibuku kepadaku berubah. Terkadang dia marah dan membentakku dengan geram, "Siapa yang percaya kepada Tuhan seserius itu? Seorang wanita itu seharusnya menikah dengan pria dari keluarga yang baik dan mengurus semua orang, baik tua maupun muda!" Terkadang dia juga mengucapkan kata-kata yang menyakitkan untuk memancing emosiku. Aku merasa sangat sedih, tetapi aku tidak menyalahkannya. Seperti kata pepatah, "Orang tua selalu benar." Aku merasa bahwa apa pun yang dia lakukan, itu demi kebaikanku sendiri. Lagi pula, "Makin dalam kasih sayangnya, makin keras tegurannya." Dia hanya mengkhawatirkan pernikahanku, dan dia membentakku karena dia sangat mencemaskanku. Jadi aku hanya menahannya dalam diam.

Pada Tahun Baru Imlek dan hari raya lainnya, orang tuaku melihat anak perempuan dari keluarga lain datang mengunjungi orang tua mereka dengan bahagia bersama suami dan anak-anak mereka, sementara aku selalu pulang sendirian. Mereka terlihat sangat khawatir dan terus-menerus menghela napas. Setiap kali, ibuku mencoba menasihatiku, dengan berkata, "Lihatlah si anu. Dia sudah menikah dan mertuanya memperlakukannya dengan sangat baik. Alangkah baiknya jika kau menikah dengan pria dari keluarga yang baik, sehingga ada lebih banyak orang yang memedulikanmu. Dengan begitu, aku dan ayahmu akhirnya bisa tenang. Kalau kau tidak cepat-cepat dan menganggap ini serius, apa yang akan kau lakukan kalau nanti kau tidak bisa menemukan pria yang baik? Aku ibumu. Mana mungkin aku mencelakaimu? Aku hanya melakukan ini demi kebaikanmu sendiri." Melihat orang tuaku begitu cemas, khawatir, dan terus-menerus menghela napas karena sedih memikirkan pernikahanku sepanjang hari, aku merasa sangat sedih dan penuh rasa bersalah. Aku sudah dewasa, tetapi aku masih membuat mereka sangat khawatir. Aku benar-benar anak yang tidak berbakti! Belakangan, aku mengalami sesuatu yang menyadarkanku bahwa apa yang disebut "kebaikan" orang tuaku kepadaku sebenarnya sama sekali bukan demi kebaikanku.

Suatu hari di tahun 2017, ayahku jatuh dari tangga dan punggungnya cedera. Saat aku pulang malam itu, ibuku berkata kepadaku dengan marah, "Kau tahu kenapa ayahmu jatuh? Itu karena dia sangat mencemaskanmu! Dia begitu khawatir sampai tidak bisa tidur atau makan, dan rambutnya memutih karena khawatir. Seluruh keluarga ini sangat khawatir memikirkan pernikahanmu. Bagaimana kau bisa begitu egois? Kau hanya memikirkan dirimu sendiri dan sama sekali tidak tahu rasanya menjadi orang tua!" Mendengar perkataannya itu, aku merasa sangat bersalah. Melihatku menunduk diam, ibuku melanjutkan, "Apa kau tidak tahu? Karena kau belum menikah, aku dan ayahmu tidak bisa menegakkan kepala di depan orang-orang. Semua tetangga membicarakanmu, yang sudah berumur tiga puluh tetapi belum menikah juga. Kau benar-benar membuat aku dan ayahmu malu!" Mendengar ibuku berkata seperti ini, aku benar-benar terkejut dan sakit hati. Aku tidak mengerti. Aku hanya belum menikah; bukannya aku telah melakukan hal yang memalukan. Bagaimana bisa hal itu membuat mereka tidak bisa menegakkan kepala? Jadi aku bertanya kepadanya, "Bagaimana bisa statusku yang belum menikah membuat Ibu malu? Aku tidak melakukan hal buruk apa pun. Bukankah belum menikah lebih baik daripada menjadi orang yang sembarangan menjalin hubungan? Pernikahan itu seumur hidup. Aku tidak bisa asal menikah dengan siapa saja hanya agar Ibu tidak kehilangan muka! Lagi pula, kalau aku menikah lalu hubungannya tidak berhasil dan aku bercerai, bukankah itu akan membuat Ibu jauh lebih malu?" Dengan nada meremehkan dan sinis, ibuku berkata, "Memangnya kenapa kalau kau bercerai? Kau tinggal cari pria lain! Zaman sekarang, semua orang melakukannya. Kalau bisa mendapatkan pria, itu baru namanya keahlian! Lihat sepupumu. Dia baru bercerai enam bulan tetapi sudah dapat penggantinya. Itu baru namanya wanita hebat! Nah, kalau kau bisa apa? Bisa dapat pria cacat saja sudah bagus untukmu." Perkataan ibuku sangat menusuk hatiku. Aku tak percaya ibu kandungku sendiri bisa mengatakan hal semacam itu. Tiba-tiba, dia terasa seperti orang yang sama sekali asing. Aku kembali ke kamarku dan menangis sejadi-jadinya. Tak pernah kubayangkan ibu yang selama ini selalu memanjakanku bisa mengatakan hal yang begitu tidak berperasaan. Apakah dia benar-benar melakukan ini demi kebaikanku sendiri? Apakah ini kasih sayang yang sesungguhnya? Dalam kepedihanku, aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku tahu bahwa tanpa perkataan yang menusuk itu, hatiku tidak akan pernah benar-benar tersentak. Namun, aku masih merasa bahwa ibukulah orang yang paling baik kepadaku. Tuhan, aku tidak tahu bagaimana harus mengalami situasi ini. Mohon cerahkan dan bimbing aku agar aku bisa memahami maksud-Mu."

Kemudian, aku teringat akan firman Tuhan: "Mengapa anak-anak berbakti kepada orang tua mereka? Mengapa orang tua sangat menyayangi anak-anak mereka? Apa niat yang dimiliki semua orang? Bukankah untuk memenuhi rencana dan keinginan egois mereka sendiri? Apakah benar-benar bertindak demi rencana pengelolaan Tuhan? Apakah benar-benar bertindak demi pekerjaan Tuhan? Apakah untuk melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan baik?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan dan Manusia akan Memasuki Istirahat Bersama-sama"). "Siapakah yang menanggung beban terbesar atas hidup seseorang? (Tuhan.) Hanya Tuhanlah yang paling mengasihi manusia. Apakah orang tua dan kerabat benar-benar mengasihi mereka? Apakah kasih yang mereka berikan itu kasih sejati? Dapatkah itu menyelamatkan orang dari pengaruh Iblis? Tidak bisa. Orang-orang mati rasa dan dungu, tidak mampu melihat hal-hal ini dengan jelas, dan selalu berkata, 'Aku tidak bisa merasakan bagaimana Tuhan mengasihiku. Bagaimanapun juga, ayah dan ibuku yang paling mengasihiku. Mereka membiayai pendidikanku dan menyuruhku mempelajari keterampilan teknis, agar aku bisa menjadi orang sukses saat aku dewasa, lebih unggul daripada orang lain, dan menjadi bintang, seorang selebritas. Orang tuaku menghabiskan begitu banyak uang untuk membinaku dan mendukung pendidikanku, berhemat dan mengirit dalam hal makanan. Betapa besarnya kasih tersebut! Aku tidak akan pernah bisa membalas budi kepada mereka!' Apakah menurutmu itu adalah kasih? Apa akibat dorongan orang tua terhadapmu untuk menjadi lebih unggul daripada orang lain, menjadi selebritas di dunia, memiliki pekerjaan yang baik, dan membaur dengan dunia? Mereka tanpa henti membuatmu berusaha untuk lebih unggul daripada orang lain, membawa kehormatan bagi keluargamu, dan menyatu dengan tren-tren jahat dunia. Akibatnya, engkau jatuh ke dalam pusaran dosa, mengalami kebinasaan, dan hancur, ditelan oleh Iblis. Apakah itu kasih? Itu bukanlah mengasihimu, itu merugikanmu, menghancurkanmu. Jika suatu hari engkau terjatuh begitu dalam hingga melampaui titik di mana engkau tidak dapat berbalik kembali, begitu dalam hingga engkau tidak akan mampu melepaskan dirimu sendiri, dan engkau masuk ke dalam neraka, baru pada saat itulah engkau akan menyadari, 'Oh, kasih orang tua adalah kasih kedagingan, dan kasih seperti itu tidak bermanfaat dalam kepercayaanku kepada Tuhan atau dalam memperoleh kebenaran—itu bukanlah kasih yang sejati!' Engkau semua mungkin belum menyadari hal ini. Ada orang-orang yang berkata, 'Aku tidak dapat merasakan bagaimana Tuhan mengasihiku. Aku tetap merasa bahwa ibuku adalah yang paling menyayangiku. Dia adalah orang yang paling dekat denganku di dunia ini. Ada sebuah lagu yang berjudul "Ibu adalah yang Terbaik di Dunia ini". Ini mencerminkan kenyataan; pernyataan ini benar sekali!' Suatu hari, ketika engkau benar-benar memiliki jalan masuk kehidupan, dan ketika engkau telah memperoleh kebenaran, engkau akan berkata, 'Ibuku bukanlah orang yang paling mengasihiku, ayahku juga bukan. Tuhanlah yang paling mengasihiku, dan Dia adalah Kekasihku yang terkasih, karena Dia memberiku hidup, dan Dia selalu memimpinku, membekaliku, dan telah menyelamatkanku dari pengaruh Iblis. Tuhanlah satu-satunya Pribadi yang membekali manusia dengan kehidupan, yang memimpin manusia, dan yang berdaulat atas segala sesuatu.' Hanya setelah engkau memahami kebenaran dan telah sepenuhnya memperoleh kebenaran, barulah engkau akan mampu menghayati firman ini secara mendalam" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Untuk Memperoleh Kebenaran, Orang Harus Memetik Pelajaran dari Orang-Orang, Peristiwa dan Hal-Hal di Sekitar Mereka"). Sebelumnya, aku tidak bisa benar-benar menerima kedua bagian firman Tuhan ini. Aku merasa bahwa orang tuaku adalah orang yang paling menyayangiku di dunia ini, terutama ibuku, yang telah begitu banyak menderita saat membesarkan aku dan adikku. Ketika dia memarahiku karena belum menikah, bukankah itu yang dimaksud dalam pepatah, "Makin besar kasih sayangnya, makin keras tegurannya"? Kupikir ibuku hanya ingin aku mendapatkan keluarga mertua yang baik dan hidup bahagia, dan bahwa di dunia ini, hanya mereka orang yang tidak akan pernah menipu atau mencelakaiku. Namun, ketika aku membaca firman Tuhan ini lagi setelah mengalami hal tersebut, akhirnya aku bisa menerimanya. Ibuku berkata itu semua demi kebaikanku sendiri, agar aku bisa mendapatkan keluarga mertua yang baik dan hidup bahagia. Namun sebenarnya, dia hanya memikirkan gengsinya sendiri, agar orang-orang tidak menggosipkannya dari belakang, dan dia bisa menegakkan kepala di depan orang-orang. Itulah sebabnya dia ingin aku cepat-cepat menikah dengan siapa pun yang mau menerimaku—bahkan mengatakan bahwa pria cacat pun tidak apa-apa. Dia sama sekali tidak memikirkan kebahagiaanku! Kasih sayang ibuku mengandung ketidakmurnian. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak benar-benar menyayangiku. Terlebih lagi, dia sangat ingin aku menikah agar dia bisa menggunakan pernikahan sebagai jebakan, membuatku hidup hanya untuk melayani suami dan membesarkan anak-anak di rumah, serta menghentikanku agar tidak lagi percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku. Akhirnya aku menyadari bahwa ibuku tidak benar-benar memikirkan kepentinganku; dia mencoba menjauhkanku dari Tuhan, menyeretku ke dalam sarang Iblis! Seandainya aku benar-benar mendengarkannya, dagingku akan terpuaskan, tetapi aku akan punya lebih sedikit waktu dan tenaga untuk melaksanakan tugasku dan mengejar kebenaran. Pada akhirnya, aku akan menghancurkan kesempatanku untuk diselamatkan. Pandangan tentang pernikahan yang diajarkan ibuku kepadaku itu salah. Itu membuatku tidak menghargai pernikahan, dan menganggap pernikahan serta perceraian seperti permainan. Dia tidak bisa menunjukkan kepadaku jalan hidup yang benar. Kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhanlah yang memberiku pengejaran yang benar dalam hidup. Misalnya, Tuhan menyuruh kita untuk menghargai pernikahan dan tidak melakukan percabulan; ini adalah perwujudan dari kemanusiaan yang normal. Selain itu, melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dengan baik adalah kehidupan yang paling bermakna, dan hanya dengan mengejar kebenaran dan perubahan watak, kita bisa diselamatkan dan bertahan hidup. Melalui firman Tuhan, aku melihat dengan jelas bahwa kasih sayang ibuku kepadaku bukanlah kasih sayang yang sejati. Tuhanlah yang paling mengasihiku.

Selama ini aku selalu menganggap orang tuaku sebagai orang yang paling dekat denganku. Aku tidak pernah membedakan mana tindakan mereka yang benar dan mana yang salah, dan aku tidak tahu bagaimana harus memperlakukan mereka dengan benar. Baru setelah membaca firman Tuhan, aku mulai memiliki pemahaman yang sesungguhnya tentang mereka. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Suatu hari, ketika engkau memahami beberapa kebenaran, engkau tidak akan lagi berpikir bahwa ibumu adalah orang yang terbaik, atau orang tuamu adalah orang yang terbaik. Engkau akan menyadari bahwa mereka juga adalah salah satu dari antara umat manusia yang rusak, bahwa watak rusak mereka semuanya sama, bahwa satu-satunya yang membedakan mereka adalah ikatan darah di antaramu, dan jika mereka tidak percaya kepada Tuhan, mereka sama saja dengan orang tidak percaya. Engkau tidak akan lagi memandang mereka dari perspektif anggota keluarga, atau dari perspektif hubungan dagingmu, tetapi dari sisi kebenaran. Apa aspek utama yang harus kaulihat? Engkau harus melihat pandangan mereka tentang kepercayaan kepada Tuhan, pandangan mereka tentang dunia, pandangan mereka ketika menangani hal-hal, dan yang terpenting, sikap mereka terhadap Tuhan. Jika engkau memandang aspek-aspek ini dengan akurat, engkau akan mampu melihat dengan jelas apakah mereka orang baik atau orang jahat. Suatu hari engkau mungkin melihat dengan jelas bahwa mereka adalah orang yang memiliki watak rusak sama sepertimu, dan bahwa mereka bukanlah orang yang baik hati yang memiliki kasih sejati terhadapmu seperti yang kaubayangkan, mereka juga sama sekali tidak mampu menuntunmu kepada kebenaran atau ke jalan yang benar dalam hidup. Engkau mungkin melihat dengan jelas bahwa apa yang telah mereka lakukan bagimu tidak memberikan manfaat yang besar bagimu, dan bahwa itu tidak membantumu dalam menempuh jalan yang benar dalam hidup. Engkau juga mungkin mendapati bahwa banyak dari tindakan dan pendapat mereka bertentangan dengan kebenaran, berasal dari daging, dan membuatmu memandang rendah, merasa jijik, dan benci. Jika engkau menyadari hal-hal ini, di dalam hatimu, engkau akan mampu memperlakukan orang tuamu dengan benar, dan engkau tidak akan lagi merindukan mereka, mengkhawatirkan mereka, atau tak mampu hidup terpisah dari mereka; mereka telah menyelesaikan misi mereka sebagai orang tua. Engkau tidak akan lagi memperlakukan mereka sebagai orang terdekatmu ataupun mengidolakan mereka. Sebaliknya, engkau akan memperlakukan mereka sebagai orang biasa, dan pada waktu itulah, engkau akan sepenuhnya melepaskan diri dari belenggu kasih sayang dan benar-benar keluar dari kasih sayang dan cinta keluarga. Setelah engkau meninggalkan kasih sayang dan cinta keluarga, engkau akan menyadari bahwa hal-hal itu tidak pantas untuk kauhargai. Pada saat itu, engkau akan melihat bahwa kerabat, keluarga, dan hubungan daging adalah batu sandungan dalam memahami kebenaran dan dalam membebaskan dirimu dari kasih sayang. Engkau akan melihat bahwa karena engkau memiliki hubungan keluarga tersebut, hubungan daging dengan orang tuamu itulah yang melumpuhkanmu dan menyesatkanmu, engkau percaya bahwa mereka adalah orang yang paling dekat denganmu, yang lebih memedulikanmu daripada siapa pun, dan paling mengasihimu, dan menjadi tidak mampu untuk membedakan dengan jelas apakah mereka adalah orang baik atau orang jahat. Setelah engkau benar-benar melepaskan diri dari kasih sayang ini, apakah engkau masih akan merindukan mereka dengan sepenuh hatimu, terus memikirkan mereka, dan mengkhawatirkan mereka seperti yang kaulakukan sekarang ketika engkau memikirkan mereka dari waktu ke waktu? Tidak. Engkau tidak akan berkata: 'Orang yang benar-benar tidak dapat kutinggalkan adalah ibuku; dialah yang paling mengasihiku, merawatku, dan memperhatikanku.' Ketika engkau telah mencapai taraf pemahaman ini, apakah engkau masih akan sangat merindukan mereka hingga menangis? Tidak. Masalah ini akan terselesaikan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya Membereskan Watak Rusak yang Dapat Membawa Perubahan Sejati"). Dahulu, aku memperlakukan ibuku sebagai orang yang paling dekat denganku. Aku merasa karena dia ibuku, apa pun yang dia lakukan adalah demi kebaikanku sendiri. Dia selalu mendesakku untuk pergi kencan perjodohan dan menikah. Meskipun aku membenci dan muak dengan hal itu, aku tetap pergi ke kencan perjodohan tersebut demi menuruti keinginannya. Melihat orang tuaku terus-menerus cemas dan khawatir tentang pernikahanku membuatku merasa bersalah, dan aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak menjadi putri yang berbakti dan penurut. Kenyataannya, ibuku menanamkan pandangan yang keliru tentang pernikahan kepadaku, tetapi karena hubungan darah kami, aku sama sekali tidak memiliki pemahaman yang sesungguhnya tentangnya. Tuhan menyuruh kita untuk menghargai pernikahan dan tidak melakukan percabulan, tetapi ibuku menganggap pernikahan seperti permainan. Dia menganggap kemampuan mendapatkan lebih banyak pasangan sebagai tanda kehebatan. Sepupu-sepupuku, misalnya, tidak menghargai pernikahan dan menganggapnya seperti permainan, menikah dan bercerai sesuka hati. Sepupu perempuanku yang lebih tua sudah menikah, tetapi menjadi wanita simpanan dari pria beristri, melakukan percabulan. Ibuku tidak melihat ini sebagai hal yang memalukan atau aib; dia justru menganggapnya sebagai kehebatan. Aku sangat berhati-hati soal pernikahan. Aku tidak ingin buru-buru menikah lalu bercerai atau berpacaran sembarangan seperti orang lain. Karena hal ini, ibuku memarahiku dan menyebutku tidak becus, serta mengatakan bahwa dengan belum menikah, aku membuat mereka kehilangan muka dan tidak bisa menegakkan kepala. Ibuku telah menerima pemikiran dari tren jahat dan tidak bisa lagi membedakan yang benar dan yang salah; dia telah memutarbalikkan yang benar dan yang salah. Sudut pandangnya terhadap segala sesuatu telah sepenuhnya menyimpang. Selama ini, aku telah dibutakan oleh ikatan keluarga kami, selalu berpikir bahwa apa pun yang ibuku lakukan adalah demi kebaikanku sendiri. Namun kenyataannya, dia hidup berdasarkan hukum bertahan hidup Iblis, dan tak berdaya dibodohi dan dirugikan oleh Iblis. Bagaimana mungkin dia bisa menuntunku ke jalan hidup yang benar? Baru pada saat itulah aku mulai memahami yang sebenarnya tentang ibuku dan berhenti menyalahkan diriku sendiri karena tidak memenuhi tuntutan mereka.

Pada tahun 2018, aku dikhianati oleh seorang Yudas karena imanku kepada Tuhan. Orang-orang dari Brigade Keamanan Nasional datang ke rumahku untuk menangkapku, tetapi karena aku sedang melaksanakan tugasku di tempat lain, aku lolos dari bencana. Aku tidak berani pulang sejak saat itu. Terbebas dari desakan orang tuaku untuk menikah, aku bisa lebih mencurahkan hatiku pada tugasku, dan lebih banyak memahami kebenaran dibandingkan sebelumnya.

Pada tahun 2024, Tuhan mempersekutukan dan menelaah pandangan keliru bahwa "Orang tua selalu benar". Aku sangat tersentuh ketika membacanya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "'Orang tua selalu benar.' Lalu, apa maksud pepatah ini? Maksudnya, entah orang tuamu benar atau salah, pada dasarnya karena orang tuamu melahirkanmu dan membesarkanmu, engkau harus berpendapat bahwa semua yang orang tuamu lakukan adalah benar. Engkau tidak boleh menilai apakah semua itu benar atau salah, engkau juga tidak boleh menolaknya, apalagi menentangnya. Inilah yang disebut berbakti. Sekalipun orang tuamu melakukan kesalahan, dan sekalipun beberapa gagasan dan pandangan mereka sudah ketinggalan zaman atau keliru, atau cara mereka mendidikmu serta gagasan dan pandangan yang mereka gunakan dalam mendidikmu tidak benar ataupun positif, engkau tidak boleh meragukannya atau menolaknya karena ada pepatah tentang hal ini, yaitu 'Orang tua selalu benar'. Berkenaan dengan orang tua, engkau tidak boleh membedakan atau menilai apakah mereka benar atau salah, karena anak-anak harus berpendapat bahwa hidup mereka dan segala sesuatu yang mereka miliki berasal dari orang tua mereka. Tak seorang pun lebih tinggi daripada orang tuamu, jadi jika engkau berhati nurani, engkau tidak boleh mengkritik mereka. Betapa pun keliru, tidak benar, atau tidak sempurnanya orang tuamu, mereka tetaplah orang tuamu. Mereka adalah orang-orang yang paling dekat denganmu, yang membesarkanmu, orang-orang yang memperlakukanmu dengan paling baik, dan orang-orang yang memberimu kehidupan. Bukankah semua orang menerima pepatah ini? Dan justru karena memiliki mentalitas seperti ini, orang tuamu menganggap bahwa mereka dapat memperlakukanmu dengan tidak bermoral, dan menggunakan segala macam cara untuk mengarahkanmu melakukan segala macam hal, serta menanamkan berbagai gagasan dalam dirimu. Dari sudut pandang mereka, mereka berpikir, 'Motifku benar, ini adalah untuk kebaikanmu sendiri. Semua yang kaumiliki diberikan kepadamu olehku. Kau dilahirkan dan dibesarkan olehku, jadi seperti apa pun caraku memperlakukanmu, aku tidak mungkin salah, karena semua yang kulakukan adalah untuk kebaikanmu sendiri dan aku tidak akan melukai atau mencelakakanmu.' Dari sudut pandang anak, apakah benar bahwa sikap mereka terhadap orang tua mereka haruslah didasarkan pada pepatah 'Orang tua selalu benar'? (Salah.) Tentu saja salah. ... Bagaimana seharusnya kita memandang hal ini berdasarkan kebenaran? Bagaimana cara yang benar untuk menjelaskan hal ini? Apakah tubuh dan kehidupan anak diberikan kepada mereka oleh orang tua mereka? (Tidak.) Tubuh jasmani seseorang dilahirkan dari orang tuanya, tetapi berasal dari manakah kemampuan orang tua untuk melahirkan anak? (Kemampuan itu diberikan oleh Tuhan dan berasal dari Tuhan.) Bagaimana dengan jiwa seseorang? Dari manakah jiwa berasal? Jiwa juga berasal dari Tuhan. Jadi pada dasarnya, manusia diciptakan oleh Tuhan, dan semua ini ditetapkan sejak semula oleh-Nya. Tuhanlah yang menetapkanmu sejak semula untuk dilahirkan di keluarga ini. Tuhan mengirimkan satu jiwa ke keluarga ini, dan kemudian dilahirkan di keluarga ini, dan engkau telah ditentukan sejak semula untuk memiliki hubungan ini dengan orang tuamu. Ini telah ditetapkan sejak semula oleh Tuhan. Karena kedaulatan dan penetapan Tuhan sejak semula, orang tuamu mampu melahirkanmu, dan engkau terlahir di keluarga ini. Ini adalah melihatnya dari sumbernya" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (13)"). "Setiap orang yang hidup di tengah umat manusia yang jahat ini menerima berbagai gagasan dan pandangan yang berlimpah di dunia yang jahat ini, entah dalam bentuk perkataan ataupun pemikiran, atau dalam bentuk ideologi, dan menerima segala macam gagasan dari Iblis, baik melalui pendidikan negara ataupun dari pembelajaran dan pembiasaan dari norma-norma sosial. Hal-hal ini sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran. Tidak ada kebenaran dalam hal-hal ini, dan orang tentunya tidak memahami apa yang dimaksud dengan kebenaran. Dari sudut pandang ini, orang tua dan anak-anak mereka adalah setara dan memiliki gagasan serta pandangan yang sama. Hanya saja, orang tuamu menerima gagasan dan pandangan ini 20 atau 30 tahun sebelumnya, sedangkan engkau menerimanya tidak lama kemudian. Artinya, karena latar belakang sosial yang sama, selama engkau adalah manusia yang normal, baik engkau maupun orang tuamu telah menerima kerusakan yang sama dari Iblis, pembelajaran dan pembiasaan dari norma sosial, serta gagasan dan pandangan yang sama yang berasal dari berbagai tren jahat di tengah masyarakat. Dari sudut pandang ini, anak-anak adalah tipe yang sama dengan orang tua mereka. ... Dan karena status istimewa orang tua, anak harus berbakti dan memenuhi kewajibannya kepada orang tuanya. Ini adalah satu-satunya tanggung jawab yang orang miliki terhadap orang tuanya. Namun, karena anak-anak dan orang tua semuanya adalah bagian dari umat manusia yang sama-sama rusak, orang tua bukanlah teladan moral bagi anak-anak mereka, juga bukan tolok ukur dan contoh bagi anak-anak mereka dalam mengejar kebenaran, juga bukan teladan bagi anak mereka dalam hal menyembah dan tunduk kepada Tuhan. Tentu saja, orang tua bukanlah inkarnasi kebenaran. Orang tidak memiliki kewajiban atau tanggung jawab untuk menganggap orang tua mereka sebagai teladan moral atau sebagai orang-orang yang harus ditaati tanpa syarat. Anak tidak boleh takut untuk mengetahui yang sebenarnya tentang esensi dari perilaku, tindakan, dan watak orang tua mereka. Artinya, dalam hal memperlakukan orang tua, orang tidak boleh berpaut pada gagasan dan pandangan seperti 'Orang tua selalu benar'. Pandangan ini didasarkan pada fakta bahwa orang tua memiliki status istimewa, yaitu mereka melahirkan dirimu di bawah penetapan Tuhan sejak semula, dan mereka 20, 30, atau bahkan 40 atau 50 tahun lebih tua daripadamu. Hanya dari perspektif hubungan darah dan daging ini, dalam hal status dan kedudukan mereka dalam hierarki keluarga, mereka berbeda dengan anak-anak mereka. Namun, karena perbedaan ini, orang menganggap orang tua mereka tidak memiliki kesalahan sama sekali. Apakah benar demikian? Ini keliru, tidak masuk akal, dan tidak sesuai dengan kebenaran" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (13)").

Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa "Orang tua selalu benar" adalah pemikiran keliru yang Iblis tanamkan dalam diri kita melalui pendidikan keluarga dan pembelajaran serta pembiasaan dari masyarakat. Itu membuat kita merasa bahwa orang tua kita adalah orang yang paling dekat dengan kita dan yang paling menyayangi kita, jadi kita seharusnya menerima tanpa syarat semua yang mereka ajarkan kepada kita. Kita tidak pernah mempertimbangkan apakah perkataan mereka benar, hanya percaya bahwa apa pun yang dilakukan orang tua adalah demi kebaikan kita sendiri. Kita merasa bahwa anak-anak tidak seharusnya menilai apakah orang tua mereka benar atau salah, tetapi seharusnya patuh tanpa syarat. Pemikiran dan ide ini membuat kita mendengarkan dan menaati orang tua kita tanpa prinsip sama sekali. Ini adalah sikap berbakti yang membabi buta, dan itu menuntun kita ke jalan yang salah. Selama ini aku hidup berdasarkan pandangan bahwa "Orang tua selalu benar". Aku percaya bahwa apa pun yang dilakukan orang tuaku, itu demi kebaikanku sendiri—bahwa mereka menyayangiku lebih dari siapa pun di dunia ini dan tidak akan pernah mencelakaiku. Aku menerima apa pun yang mereka katakan tanpa syarat dan tanpa prinsip. Aku tidak pernah mencoba membedakan apakah standar mereka dalam berperilaku dan bertindak itu benar atau salah; aku hanya memercayai dan menaati mereka secara membabi buta. Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa orang tuaku, sama sepertiku, adalah orang-orang yang telah dirusak oleh Iblis. Pemikiran dan sudut pandang mereka juga berasal dari Iblis. Apa yang mereka katakan bukanlah kebenaran dan tidak selalu benar. Aku tidak seharusnya menaati secara membabi buta semua yang dikatakan orang tuaku atau memperlakukan dan tunduk pada perkataan mereka seolah-olah itu adalah kebenaran. Aku memikirkan bagaimana ibuku percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi hanya sebatas nama. Dalam pemikiran dan pandangannya, dia percaya bahwa "Pria yang sudah cukup umur seharusnya menikah; wanita yang sudah cukup umur seharusnya bersuami". Dia percaya bahwa seorang wanita dewasa seharusnya menikah, berkeluarga, dan menjalani kehidupan yang berpusat pada keluarga, suami, dan anak-anaknya—bahwa inilah satu-satunya cara untuk menjalani kehidupan yang normal. Dia menganggap iman kepada Tuhan hanyalah sebuah keyakinan, sesuatu yang tidak seharusnya mengganggu kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya dia terus mendesakku untuk cepat-cepat menikah dan tidak ingin aku percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku. Dia tidak peduli dengan karakter atau kemanusiaan pria yang mungkin akan kunikahi. Sikapnya terhadap pernikahanku sangatlah tidak bertanggung jawab. Dia bahkan rela jika aku menikah dengan pria cacat, atau berkali-kali menikah dan bercerai, hanya untuk melindungi gengsinya sendiri dan agar orang-orang tidak lagi mengatakan bahwa dia punya anak perempuan yang sudah berumur tetapi belum menikah. Ibuku juga ingin menggunakan pernikahan untuk menghalangi imanku kepada Tuhan. Seandainya aku menuruti perkataannya, aku hanya akan makin menjauh dari Tuhan dan pada akhirnya menghancurkan hidupku. Pekerjaan Tuhan di akhir zaman untuk menyelamatkan orang-orang adalah kesempatan yang sangat langka. Fakta bahwa aku belum menikah dan tidak memiliki tanggungan keluarga, yang memungkinkanku dengan mudah menempuh jalan iman, adalah hal yang baik. Bisa mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugas makhluk ciptaan adalah hal yang paling berharga dan bermakna. Ini adalah pilihan paling tepat untuk kuambil.

Kemudian, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan belajar bagaimana seharusnya aku memperlakukan orang tuaku. Tuhan berfirman: "Dalam memperlakukan orang tuamu, engkau harus terlebih dahulu keluar dari hubungan darah ini secara rasional dan mengenali yang sebenarnya tentang orang tuamu dengan menggunakan kebenaran yang telah kauterima dan pahami. Ketahuilah yang sebenarnya tentang orang tuamu berdasarkan pemikiran, pandangan, dan motif mereka dalam cara mereka berperilaku, serta berdasarkan prinsip dan cara mereka dalam bertindak dan berperilaku, yang akan menegaskan bahwa mereka juga adalah orang-orang yang telah dirusak oleh Iblis. Pandanglah mereka dan kenalilah mereka dari sudut pandang kebenaran, bukan dari sudut pandang yang selalu menganggap orang tuamu luhur, tanpa pamrih, dan baik kepadamu, karena jika engkau memandang mereka dengan cara seperti itu, engkau tidak akan pernah menemukan masalah apa yang mereka miliki. Jangan pandang orang tuamu dari sudut pandang ikatan keluargamu, atau dari peranmu sebagai anak. Keluarlah dari lingkup ini dan lihatlah bagaimana cara mereka berinteraksi dengan orang lain, cara mereka memperlakukan kebenaran, orang, peristiwa, dan berbagai hal. Selain itu, yang lebih spesifik, lihatlah ide-ide dan pandangan yang telah orang tuamu tanamkan dalam dirimu tentang bagaimana engkau harus memandang orang serta berbagai hal, dan bagaimana seharusnya caramu dalam berperilaku dan bertindak. Dengan cara inilah engkau harus mengenali dan mengetahui yang sebenarnya tentang mereka. Dengan cara ini, karakter mereka dan fakta bahwa mereka telah dirusak oleh Iblis akan menjadi jelas sedikit demi sedikit. Orang macam apa mereka? Jika mereka bukan orang percaya, bagaimana sikap mereka terhadap orang yang percaya kepada Tuhan? Jika mereka adalah orang percaya, bagaimana sikap mereka terhadap kebenaran? Apakah mereka orang-orang yang mengejar kebenaran? Apakah mereka mencintai kebenaran? Apakah mereka menyukai hal-hal positif? Apa pandangan mereka terhadap kehidupan dan dunia? Dan sebagainya. Jika engkau dapat mengenali orang tuamu berdasarkan hal-hal ini, engkau akan memiliki pemahaman yang jelas. Setelah hal-hal ini jelas, status orang tuamu yang luhur, mulia, dan tak tergoyahkan di benakmu akan berubah. Dan setelah itu berubah, kasih sayang keibuan dan kebapakan yang diperlihatkan oleh orang tuamu—beserta dengan perkataan dan tindakan spesifik mereka, dan citra luhur yang kaumiliki tentang mereka—tidak akan lagi terpatri sedemikian dalamnya di benakmu" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (13)"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa aku harus memiliki prinsip dalam memperlakukan orang tuaku dan membedakan apa yang mereka katakan. Mereka juga manusia yang rusak, dan pemikiran serta sudut pandang mereka penuh dengan berbagai racun Iblis. Jika apa yang dikatakan orang tuaku selaras dengan kebenaran, aku bisa mendengarkan mereka. Jika tidak, aku tidak boleh menaatinya. Cara yang paling akurat adalah memandang orang dan berbagai hal serta berperilaku dan bertindak berdasarkan firman Tuhan. Pandangan ibuku adalah jika pernikahanmu rukun, kau akan tetap bersama, dan jika tidak, kau akan bercerai. Dia menganggap kemampuan mendapatkan lebih banyak pasangan sebagai tanda kehebatan. Pandangannya tentang pernikahan menyimpang dan bertentangan dengan tuntutan Tuhan. Aku tidak seharusnya mematuhinya secara membabi buta. Di saat yang sama, aku juga memahami bahwa pernikahan berada dalam kedaulatan dan pengaturan Tuhan; itu telah ditakdirkan oleh-Nya. Hal itu tidak ada hubungannya dengan preferensi pribadi atau harapan orang tua. Aku tidak seharusnya hidup untuk memenuhi harapan orang tuaku atau menganggap ekspektasi mereka sebagai bebanku. Sikap yang benar terhadap pernikahanku sendiri adalah tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan.

Jika kupikir kembali, aku telah dipengaruhi oleh pemikiran bahwa "Orang tua selalu benar" selama bertahun-tahun ini. Aku selalu berpikir bahwa apa pun yang dilakukan orang tuaku itu benar dan demi kebaikanku sendiri, dan aku mematuhi mereka secara membabi buta. Bahkan jika cara mereka bertindak bertentangan dengan keinginanku, aku tetap dengan berat hati bertindak sesuai tuntutan mereka, dan ketika aku tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka, aku akan merasa berutang kepada mereka. Melalui firman Tuhanlah aku secara bertahap mulai membedakan pemikiran keliru bahwa "Orang tua selalu benar", menemukan cara yang tepat untuk memperlakukan orang tuaku, dan merasa terbebas dalam rohku. Sekarang aku bisa mencurahkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk tugasku dan menghabiskan tahun-tahun terbaik dalam hidupku untuk mengejar kebenaran. Ini semua berkat bimbingan Tuhan. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Setelah Pengusiran Ayahku

Oleh Saudari Isabella, PrancisBeberapa tahun yang lalu, aku sedang melaksanakan tugasku jauh dari rumah saat tiba-tiba mendengar kabar...

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp