Upah yang Diterima Orang yang Memenuhi Tugas

19 Juni 2020

Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Ketertundukan pada pekerjaan Tuhan harus nyata dan harus dihidupi. Ketertundukan yang dangkal tidak akan mendapat perkenanan Tuhan, dan menaati firman Tuhan hanya pada aspek-aspek yang dangkal, tanpa mengupayakan perubahan watak seseorang, tidak akan bisa menyenangkan hati Tuhan. Ketaatan kepada Tuhan dan ketertundukan pada pekerjaan Tuhan adalah hal yang sama. Orang yang hanya tunduk kepada Tuhan, tetapi tidak tunduk pada pekerjaan-Nya tidak bisa dianggap taat, apalagi orang yang tidak benar-benar tunduk, hanya kepura-puraan lahiriah belaka. Semua orang yang benar-benar tunduk kepada Tuhan dapat mengambil manfaat dari pekerjaan ini dan meraih pengertian akan watak dan pekerjaan Tuhan. Hanya orang-orang seperti inilah yang benar-benar tunduk kepada Tuhan. Orang-orang seperti ini dapat memperoleh pengetahuan baru dari pekerjaan yang baru dan mengalami perubahan baru dari pekerjaan baru itu. Hanya orang-orang seperti ini yang mendapat perkenanan Tuhan. Hanya jenis manusia seperti inilah orang yang disempurnakan, yakni orang yang telah mengalami perubahan watak. Orang-orang yang mendapat perkenanan Tuhan adalah orang-orang yang dengan gembira tunduk kepada Tuhan, dan juga pada firman dan pekerjaan-Nya. Hanya jenis manusia seperti inilah yang berada di jalur yang benar. Hanya jenis manusia seperti inilah yang sungguh-sungguh mencari Tuhan" ("Orang-Orang yang Menaati Tuhan dengan Hati yang Benar Pasti Akan Didapatkan oleh Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Aku ingin membagikan pengalaman dan pemahamanku tentang ketundukan kepada Tuhan dalam terang firman ini.

Semuanya dimulai pada bulan Maret 2016 ketika aku melarikan diri dari Tiongkok demi lolos dari penangkapan dan penganiayaan PKT, agar aku dapat menerapkan kepercayaanku dengan bebas. Beberapa waktu kemudian, pemimpin gereja, Saudari Zhang, menemuiku dan bertanya, "Apakah kau mau mengambil tugas penyiraman?" Dengan sangat gembira, aku menjawab, "Tentu saja aku mau! Aku akan dapat membantu saudara-saudari memahami kebenaran dan membangun dasar dengan jalan yang benar. Aku akan melakukan perbuatan yang sangat baik!" Jika saudara-saudari yang mengenalku mengetahui aku melakukan tugas penyiraman, mereka pasti akan sangat mengagumiku. Itu akan membuatku terlihat sangat baik. Namun, saat aku telah bersemangat, pemimpin datang untuk kembali berbicara denganku. Dia mengatakan beberapa saudari harus pindah karena keadaan darurat, tetapi mereka belum menemukan tempat yang cocok. Pemimpin mengatakan rumahku akan cocok untuk mereka, dan bertanya apakah aku bisa melakukan tugas menjadi tuan rumah. Aku merasakan pergolakan batin ketika dia mengatakan itu. Kupikir aku akan melakukan tugas penyiraman, tapi sekarang menjadi tuan rumah? Bukankah itu berarti aku hanya akan menghabiskan seluruh waktuku di dapur? Ini akan melelahkan, tetapi terlebih lagi, itu akan memalukan! Di dunia sekuler, aku berkiprah dalam bisnis besar dan memiliki pabrik sendiri. Semua teman dan kerabat menyebutku wanita super. Di rumah, aku punya pembantu untuk mencuci, memasak, dan membersihkan rumah. Sekarang aku harus mengambil peran itu dan memasak untuk orang lain. Aku benar-benar tidak mau melakukannya. Namun aku berpikir bahwa para saudari itu tidak punya tempat tinggal dan tidak bisa melakukan tugas mereka dengan tenang, selain itu rumahku cocok untuk tugas menjadi tuan rumah, jadi dengan enggan aku setuju.

Selama beberapa hari selanjutnya, aku melakukan tugasku secara lahiriah, tetapi di hatiku, aku bergumul, dan aku mulai merasa curiga. Apakah saudara-saudariku berpikir aku tidak cocok untuk tugas penyiraman? Kalau tidak, mengapa mereka memintaku untuk menjadi tuan rumah? Jika saudara-saudari yang mengenalku tahu, akankah mereka berkata bahwa aku tidak memiliki kenyataan kebenaran, dan bahwa aku tidak mampu melakukan tugas lain, tetapi hanya bisa menjadi tuan rumah? Pemikiran ini membuatku semakin kesal. Kemudian aku teringat dengan tekad yang kubuat di hadapan Tuhan, bahwa tugas apa pun yang diberikan kepadaku, selama itu menguntungkan pekerjaan gereja, aku akan melakukannya 100%, dan bahkan jika aku tidak menyukainya, aku akan tetap tunduk demi memuaskan Tuhan. Jadi mengapa sekarang aku tak mampu tunduk saat diminta melakukan tugas menjadi tuan rumah? Aku menaikkan doa dalam hati kepada Tuhan. Aku berkata, "Ya Tuhan, Engkau telah memerintahkan dan mengatur agar aku melakukan tugas menjadi tuan rumah, tapi aku selalu merasa ingin memberontak dan tidak pernah mampu untuk tunduk. Ya Tuhan, kumohon berilah aku pencerahan dan bimbinglah diriku agar aku bisa mengerti kehendak-Mu."

Setelah itu, aku membaca dua bagian firman Tuhan: "Dalam mengukur apakah orang dapat menaati Tuhan atau tidak, hal utama yang harus dilihat adalah apakah mereka menginginkan sesuatu yang berlebihan dari Tuhan, dan apakah mereka memiliki niat terselubung atau tidak. Jika orang selalu mengajukan tuntutan kepada Tuhan, itu membuktikan bahwa mereka tidak taat kepada-Nya. Apa pun yang terjadi pada dirimu, jika engkau tidak bisa menerima hal itu dari Tuhan, tidak bisa mencari kebenaran, selalu berbicara berdasarkan penalaranmu sendiri yang subjektif dan selalu merasa bahwa hanya engkaulah yang benar, dan bahkan masih mampu meragukan Tuhan, maka engkau akan berada dalam kesulitan. Orang-orang seperti itu adalah yang paling congkak dan pemberontak terhadap Tuhan. Orang yang selalu mengajukan tuntutan kepada Tuhan tidak pernah bisa dengan tulus menaati-Nya. Jika engkau mengajukan tuntutan kepada Tuhan, ini membuktikan bahwa engkau sedang membuat kesepakatan dengan Tuhan, bahwa engkau sedang memilih pemikiranmu sendiri, dan bertindak menurut pemikiranmu sendiri. Dalam hal ini, engkau mengkhianati Tuhan dan tidak taat." ("Manusia Mengajukan Terlalu Banyak Tuntutan Kepada Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). "Apakah arti ketundukan yang sejati? Setiap kali Tuhan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginanmu, dan engkau merasa bahwa segalanya memuaskan dan pantas, dan engkau diizinkan untuk unggul, engkau merasa bahwa ini sungguh mulia, dan engkau berkata, 'Terima kasih, Tuhan,' dan dapat tunduk pada pengelolaan dan pengaturan-Nya. Namun, setiap kali engkau ditugaskan di tempat yang biasa-biasa saja, di mana engkau tidak pernah dapat menjadi unggul, dan di mana tak seorang pun pernah mengakuimu, engkau tidak lagi merasa bahagia, dan mengalami kesulitan untuk tunduk. ... Tunduk ketika situasinya menguntungkan biasanya mudah. Jika engkau juga bisa tunduk dalam keadaan yang tidak menguntungkan—keadaan di mana segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginanmu dan perasaanmu menjadi terluka, keadaan yang membuatmu lemah, yang membuatmu menderita secara fisik dan memukul reputasimu, yang tidak dapat memuaskan keangkuhan dan kebanggaan dirimu, dan yang membuatmu menderita secara psikologis—maka engkau benar-benar memiliki tingkat pertumbuhan." ("persekutuan Tuhan"). Firman Tuhan menunjukkan kepadaku bahwa ketundukan sejati bukanlah transaksi, dan bahwa pilihan pribadi tidak boleh ada di dalamnya. Entah aku suka atau tidak, entah itu menguntungkanku atau tidak, selama itu berasal dari Tuhan dan membantu pekerjaan gereja, aku harus tunduk sepenuhnya. Namun apa yang justru kulakukan? Ketika aku diminta untuk melakukan tugas menjadi tuan rumah, memikirkan kehendak Tuhan atau menjunjung tinggi pekerjaan gereja tidak ada dalam pikiranku, melainkan aku hanya memikirkan apakah aku bisa pamer, membuat orang lain mengagumiku, dan apakah keangkuhanku akan terpuaskan. Bagaimana itu bisa dikatakan tunduk kepada Tuhan? Aku teringat ketika dahulu menjadi pemimpin kelompok. Pemimpin gereja selalu bersekutu denganku terlebih dahulu tentang pekerjaan di gereja. Dahulu aku berpikir bahwa pemimpin sangat menghargaiku, dan saudara-saudariku mengagumiku. Tak ada yang terlalu berat dalam tugasku, dan betapapun sulit atau melelahkan, aku senang melakukannya. Namun diperhadapkan dengan tugas menjadi tuan rumah, aku menjadi negatif, menganggapnya tugas yang rendah. Lebih penting lagi, betapapun kerasnya aku berusaha, upaya itu tidak akan terlihat oleh orang lain. Itu sebabnya aku merasa enggan melakukannya, dan tidak mau melakukannya. Baru pada saat itulah aku menyadari bahwa aku mengerahkan upaya yang begitu besar dalam tugas lamaku karena aku bisa pamer dan membuat orang lain mengagumiku. Namun, tugas menjadi tuan rumah, sama sekali tidak bisa memuaskan ambisiku, jadi aku tidak mampu untuk tunduk. Aku kemudian menyadari bahwa aku selalu memiliki pilihan pribadi dalam tugasku, dan yang selalu kupikirkan hanyalah reputasi, status, dan manfaatnya bagiku. Aku sama sekali tidak mengejar kebenaran atau tunduk kepada Tuhan!

Kemudian aku membaca firman Tuhan ini: "Mereka yang mampu mengamalkan kebenaran dapat menerima pengawasan Tuhan dalam tindakan mereka. Ketika engkau menerima pengawasan Tuhan, hatimu telah diperbaiki. Jika engkau hanya melakukan hal-hal agar dilihat orang lain dan tidak menerima pengawasan Tuhan, apakah ada Tuhan di dalam hatimu? Orang-orang seperti ini tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Jangan selalu melakukan hal-hal demi kepentinganmu sendiri. Jangan selalu mempertimbangkan kepentinganmu sendiri, dan jangan mempertimbangkan status, nama baik atau reputasimu sendiri. Jangan mempertimbangkan kepentingan orang lain. Engkau pertama-tama harus mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan dan menjadikannya prioritas utamamu; engkau harus mempertimbangkan kehendak Tuhan. Mulailah dengan merenungkan apakah engkau murni ataukah tidak dalam memenuhi tugasmu, apakah engkau telah berusaha sekuatmu untuk setia dalam menyelesaikan tanggung jawabmu dan memberikan seluruh dirimu, dan apakah engkau dengan sepenuh hati memikirkan tugasmu dan pekerjaan rumah Tuhan. Engkau perlu memikirkan hal-hal ini. Pertimbangkan hal-hal ini sesering mungkin, dan engkau akan mudah melaksanakan tugasmu dengan baik" ("Engkau Dapat Memperoleh Kebenaran Setelah Menyerahkan Hatimu yang Sejati kepada Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Aku menemukan jalan penerapan dalam firman Tuhan. Aku harus menerima pemeriksaan Tuhan dalam tugasku, memiliki hati yang takut akan Tuhan, mampu melepaskan keuntungan pribadi dan melakukan apa saja yang bermanfaat bagi gereja. Setelah memahami kehendak Tuhan, aku menaikkan doa ini: "Ya Tuhan, aku bersedia menerima pemeriksaan-Mu. Aku tidak akan lagi berfokus pada apa yang orang lain pikirkan tentang diriku. Aku hanya ingin mampu tunduk pada pengaturan-Mu dan melakukan tugasku menjadi tuan rumah dengan baik." Selama hari-hari selanjutnya, saudari-saudari di gerejaku tahu aku baru saja tiba di negara asing ini dan membeli barang-barang sangatlah sulit bagiku, jadi mereka meluangkan waktu untuk berbelanja barang kebutuhan pokok bersamaku. Mereka benar-benar sibuk dalam tugas mereka, tetapi mereka selalu membantuku dengan pekerjaan rumah saat mereka bisa. Setiap kali aku memiliki masalah, mereka selalu mempersekutukan firman Tuhan kepadaku, dan mempersekutukan pengalaman mereka sendiri untuk membantu dan mendukungku. Tak ada satu pun saudari yang memandang rendah diriku atau menjauhiku karena aku adalah tuan rumah. Aku mulai memahami bahwa tak ada istilah tinggi atau rendah dalam hal melakukan tugas bersama saudara-saudari. Kita hanya melaksanakan tugas dan kewajiban kita di hadapan Tuhan. Setelah pengalaman ini, kupikir aku mampu sedikit tunduk dalam tugasku, tetapi karena aku tidak memiliki pemahaman yang nyata tentang natur dan esensiku, aku masih belum sepenuhnya melepaskan pengejaran akan ketenaran dan status. Naturku kembali tersingkap pada saat keadaan yang tidak kusukai muncul.

Beberapa waktu kemudian, pemimpin gereja meneleponku mengatakan bahwa Saudari Zhou sangat sibuk memberitakan Injil, dan dia bertanya apakah aku bisa menyisihkan setengah hari setiap hari Sabtu untuk mengasuh putri Saudari Zhou. Aku segera menentang gagasan mengurus anak ini. Dahulu aku sangat sibuk dengan bisnisku sehingga aku bahkan tidak mengurus anak-anakku sendiri. Mengurus anak orang lain benar-benar akan membuatku seperti seorang pengasuh. Apa yang akan dipikirkan oleh saudara-saudari yang mengenalku jika mereka mengetahui hal ini? Mukaku mau ditaruh di mana? Namun aku memikirkan kesulitan yang dialami Saudari Zhou, dan aku tahu bahwa jika aku tidak membantu, hati nuraniku akan terganggu. Aku memikirkannya sejenak dan kemudian menyanggupinya. Sabtu siang itu, aku pergi ke rumah Saudari Zhou. Aku hampir tidak berhasil bertahan sampai malam hari ketika anak itu tiba-tiba mulai menangis dan berteriak mencari ibunya, dan aku sama sekali tidak bisa membujuknya. Aku bergegas mencari makanan enak untuk membuatnya senang, aku mendongeng dan mengajaknya menonton film kartun, dan akhirnya dia berhenti menangis. Dalam perjalanan pulang, aku berjalan dan berpikir: "Mengurus anak sangat sulit. Ini tidak hanya melelahkan, tetapi benar-benar pekerjaan rendah dan tidak kelihatan." Semakin aku berpikir, semakin aku merasa sedih. Ketika aku sampai di rumah, aku melihat para saudari di sana dengan sukacita membahas hasil dan pengalaman yang mereka dapatkan dari tugas mereka. Aku merasa iri dan frustrasi. Kupikir, "Kapan aku bisa melakukan tugas penyiraman seperti saudari-saudariku? Dalam tugas yang sedang kulakukan sekarang, aku menggosok panci dan wajan atau mengurus anak kecil. Kebenaran apa yang dapat kuperoleh dengan melakukan tugas ini? Akankah orang-orang mengatakan aku tidak memiliki kenyataan kebenaran, sehingga aku hanya mampu melakukan pekerjaan rendah seperti ini?" Pemikiran ini malah membuatku semakin gelisah. Malam itu, aku terjaga dan gelisah di tempat tidur, tidak bisa tidur, jadi aku datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa. Aku berkata, "Ya Tuhan, aku merasa sangat kecewa sekarang. Aku selalu ingin melakukan tugas yang membuatku menonjol, yang membuat orang lain mengagumiku. Ya Tuhan, aku tahu pengejaran ini bertentangan dengan kehendak-Mu, tetapi aku merasa sangat sulit untuk tunduk. Tuhan, kumohon bimbinglah aku dan tuntun diriku, dan tolong aku untuk mengenal diriku sendiri sehingga aku mampu keluar dari keadaan yang salah ini."

Kemudian aku membaca beberapa bagian firman Tuhan: "Watak manusia yang rusak tersembunyi di dalam setiap pemikiran dan gagasan mereka, dalam motif di balik setiap tindakan mereka; watak itu tersembunyi dalam setiap pendapat, pemahaman, sudut pandang dan keinginan mereka dalam menghadapi segala sesuatu yang Tuhan lakukan. Itu tersembunyi dalam hal-hal ini" ("Hanya Benar-benar Taat yang Merupakan Kepercayaan yang Sesungguhnya" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). "Watak Iblis yang rusak sangat dalam berakar dalam diri manusia; itu menjadi hidup mereka. Apa yang sebenarnya dicari dan diinginkan manusia? Di bawah pengaruh kuat watak jahat yang rusak, apa cita-cita, harapan, ambisi, dan tujuan serta arah hidup manusia? Bukankah semua itu bertentangan dengan hal-hal positif? Yang terutama, manusia selalu ingin terkenal atau menjadi selebriti; mereka ingin mendapatkan ketenaran dan martabat yang besar, dan ingin membawa kehormatan bagi leluhur mereka. Apakah ini hal-hal positif? Ini sama sekali tidak sejalan dengan hal-hal positif; selain itu, semua ini bertentangan dengan hukum Tuhan yang berkuasa atas nasib manusia. Mengapa Aku mengatakan itu? Orang macam apa yang Tuhan inginkan? Apakah Dia menginginkan orang yang hebat, selebriti, bangsawan, atau orang yang menggoncangkan dunia? (Tidak.) Jadi, orang macam apa yang Tuhan inginkan? Dia menginginkan orang yang rendah hati yang berusaha menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang memenuhi syarat, yang dapat memenuhi tugas makhluk ciptaan, dan yang dapat memenuhi standar sebagai manusia. ... Lalu apa yang diakibatkan oleh sebuah watak jahat yang rusak terhadap manusia? (Penentangan terhadap Tuhan.) Apa yang terjadi dengan orang yang menentang Tuhan? (Penderitaan.) Penderitaan? Yang terjadi adalah kebinasaan! Ini jauh lebih buruk daripada penderitaan. Yang engkau lihat tepat di depan matamu adalah penderitaan, kenegatifan, dan kelemahan, dan itu merupakan penentangan dan keluhan— akibat apa yang akan dihasilkan semua ini? Kebinasaan! Ini bukan masalah kecil dan ini bukan lelucon" ("Hanya Mencari Kebenaran dan Mengandalkan Tuhan yang Dapat Mengatasi Watak yang Rusak" in Records of Christ's Talks). Setelah aku membaca firman Tuhan tentang penghakiman dan penyingkapan, aku merasa sangat malu. Aku mulai merenungkan diriku sendiri: "Mengapa aku tidak pernah mampu tunduk pada keadaan yang Tuhan atur? Mengapa aku tidak pernah rela melakukan tugas yang tampaknya tidak penting ini? Aku merasa sepertinya orang lain memandang rendah diriku karena melakukannya, seolah-olah aku lebih rendah. Aku tak bisa percaya diri, dan aku merasa tidak berharga. Aku merasa bahwa tugas-tugas yang layak dilakukan hanyalah tugas-tugas penting di mana aku bisa menonjol dan menerima kekaguman dan penghormatan dari orang lain." Saat aku merenungkan pemikiran-pemikiran ini, aku mendapati bahwa aku masih dikendalikan oleh keinginanku akan ketenaran dan status. Aku hidup berdasarkan racun iblis seperti "Seperti pohon hidup untuk kulitnya, manusia hidup untuk wajahnya," "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang," dan "Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah." Racun-racun ini telah lama mengakar kuat di dalam diriku dan menjadi hidupku. Semua ini membuatku sangat congkak dan sombong. Aku senang orang lain mengagumiku. Aku senang memiliki ketenaran dan status, dan aku memandang hal-hal ini sebagai tujuan hidup yang harus dikejar. Aku menyadari bahwa hal-hal ini adalah tujuan yang sama persis dengan hal-hal yang orang dunia kejar. Sebelum aku mulai percaya kepada Tuhan, aku dahulu sangat kompetitif. Aku bekerja dari fajar hingga petang dan menyibukkan diriku dengan pekerjaan dalam upaya untuk menjaga pabrikku tetap berjalan dengan baik. Setiap kali aku mengunjungi kampung halamanku, dan teman serta kerabat menyambutku dengan hangat serta memanggilku wanita super, keangkuhanku akan terpuaskan, dan aku bersedia membayar berapa pun harganya. Aku masih hidup dengan pandangan-pandangan ini setelah percaya kepada Tuhan. Melakukan tugasku demi reputasi dan kedudukan membuatku khawatir tentang keuntungan dan kerugianku. Dengan punya kedudukan yang dikagumi orang lain, aku senang. Tanpa kedudukan itu, ketika aku tidak bisa menonjol, aku menjadi negatif dan tidak bahagia, aku menentang Tuhan, dan aku menentang keadaan yang telah Tuhan atur. Semakin aku merenungkannya, semakin aku menyadari bahwa semua yang didatangkan racun iblis ini atasku adalah penderitaan dan semua itu membuatku memberontak terhadap Tuhan dan menentang-Nya walau tidak mau. Jika aku melanjutkan pengejaran semacam itu, aku pasti akan mendatangkan kebencian Tuhan, dan Dia akan menyingkirkanku. Semakin aku merenungkannya, semakin aku merasa takut akan jalan yang kutempuh. Aku bergegas berdoa dan bertobat kepada Tuhan. Aku tidak mau lagi mengejar ketenaran dan status atau menginginkan orang lain mengagumiku, tetapi aku ingin berusaha menjadi makhluk ciptaan yang sejati yang sesuai dengan firman Tuhan. Setelah berdoa, hatiku menjadi semakin tenang.

Keesokan harinya, selama saat teduhku, aku membaca firman Tuhan ini: "Engkau percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan, jadi dalam hatimu, engkau harus mengasihi Tuhan. Engkau harus menyingkirkan watakmu yang rusak, harus berusaha memenuhi keinginan Tuhan, dan harus melaksanakan tugas seorang ciptaan Tuhan. Karena engkau percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan, engkau harus memberikan segalanya kepada Tuhan, dan tidak boleh membuat pilihan atau tuntutan pribadi, dan engkau harus memenuhi keinginan Tuhan. Karena engkau diciptakan, engkau harus menaati Tuhan yang menciptakanmu, sebab dari dirimu sendiri, engkau tak memiliki kuasa atas dirimu, dan engkau tak memiliki kemampuan untuk mengendalikan nasibmu. Karena engkau seorang yang percaya kepada Tuhan, engkau harus mengejar kekudusan dan perubahan. Karena engkau ciptaan Tuhan, engkau harus mematuhi tugasmu, dan mempertahankan posisimu, dan tidak boleh melangkahi tugasmu. Hal ini bukan untuk membatasimu, atau untuk menekanmu melalui doktrin, melainkan inilah jalan agar engkau dapat melakukan tugasmu, jalan yang dapat dicapai—dan yang seharusnya dicapai—oleh semua orang yang melakukan kebenaran" ("Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Dijalani Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Membaca firman Tuhan membuatku memahami bahwa sebagai makhluk ciptaan, aku harus tunduk pada aturan dan pengaturan Tuhan. Aku harus mengejar kebenaran dan mengejar perubahan dalam watakku. Inilah tugasku dan itulah yang seharusnya kukejar. Aku tidak menyukai keadaan yang Tuhan atur, tetapi maksud baik Tuhan ada di baliknya. Dia dengan hati-hati mengatur semua itu untuk menyucikan dan mengubahku. Aku tidak boleh lagi mengejar reputasi dan kedudukan, atau pilih-pilih tugas. Aku harus berfokus mengejar kebenaran, dan menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan untuk menyelesaikan masalah watakku yang rusak. Aku harus dengan sekuat tenaga melakukan tugasku dengan baik.

Selama hari-hari selanjutnya, aku berhenti berfokus pada apa yang orang lain pikirkan tentang diriku tetapi melakukan tugasku di hadapan Tuhan. Terkadang ketika saudara-saudari sibuk dengan tugas mereka dan tidak punya waktu untuk mengurus anak-anak mereka, aku akan menawarkan bantuan. Saat aku melihat saudara-saudari memberitakan Injil dan membawa lebih banyak orang ke hadapan Tuhan, hatiku merasa senang. Meskipun aku tidak bisa menonjol dalam tugasku, aku bisa menenangkan pikiran saudara-saudari dan dengan diam-diam melakukan bagianku untuk perluasan Injil kerajaan. Ini juga sesuatu yang bermakna. Sementara aku melakukan tugas menjadi tuan rumah dan membantu dengan pengasuhan anak, meskipun keangkuhan dan keinginanku akan status tidak terpuaskan, aku merasa tugas itu sangat memuaskanku. Aku tahu bahwa mengejar reputasi dan kedudukan bukanlah jalan yang benar. Tunduk pada aturan dan pengaturan Tuhan dan melakukan yang terbaik dalam tugasku itulah yang seharusnya kukejar. Aku benar-benar mulai memahami bahwa tidak ada istilah tinggi atau rendah dalam tugas-tugas di rumah Tuhan. Apa pun tugas yang kulakukan, selalu ada pelajaran untuk dipelajari dan kebenaran yang harus kuterapkan dan kumasuki. Asalkan aku tunduk dan mengejar kebenaran, aku akan mendapatkan kepuasan. Ini menunjukkan kepadaku betapa Tuhan itu adil dan Dia tidak memihak siapa pun. Mendapatkan sedikit pemahaman dan perubahan ini adalah karunia yang dianugerahkan Tuhan atas hidupku. Syukur kepada Tuhan!

Selanjutnya: Hidup di Hadapan Tuhan

Alkitab menubuatkan bahwa Tuhan akan datang sebelum bencana. Sekarang ini, bencana sedang terjadi silih berganti. Bagaimana kita dapat menyambut Tuhan dan mendapatkan perlindungan Tuhan? Silakan hubungi kami untuk membahas hal ini dan menemukan jalannya.

Konten Terkait