Aku Tak Lagi Mengandalkan Putraku untuk Mengurusku di Hari Tuaku

12 Januari 2026

Oleh Qingsong, Tiongkok

Pada tahun 2001, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Pada tahun 2020, aku didiagnosis mengidap penyakit jantung dan strok infark. Aku sangat memerlukan uang untuk perawatan medis pada saat itu, dan kebetulan, putraku mengirimiku uang 5.000 yuan. Aku berpikir, "Putrakulah yang selalu bisa kuandalkan. Saat sudah tua, aku masih harus bergantung pada putraku." Pada tahun 2022, putraku menikah, dan dia membeli rumah juga mobilnya sendiri. Kemudian, menantuku membelikanku cincin emas seharga lebih dari seribu yuan. Dia juga berkata padaku, "Kami tidak meminta apa-apa lagi dari Ibu, tetapi nanti saat kami memiliki anak, alangkah baiknya jika Ibu bisa membantu merawat mereka." Saat melihat betapa baiknya putra dan menantuku kepadaku, aku berpikir, "Dia putraku satu-satunya. Aku harus akur dengan putra dan menantuku, karena saat sudah tua nanti, aku harus mengandalkan mereka untuk merawatku. Kondisi kesehatanku memburuk setiap tahunnya. Jika aku membantu merawat anak-anak mereka selagi aku bisa, mereka akan merawatku saat aku sudah tua nanti." Setelah memikirkan ini, aku setuju, dan berkata, "Oke. Saat kalian punya anak nanti, aku akan membantu merawat mereka." Kemudian, karena ada risiko terhadap keselamatanku, aku tak punya pilihan selain pergi dari rumah untuk melaksanakan tugasku di gereja agar tidak ditangkap oleh PKT.

Suatu hari di bulan April 2024, aku mendengar bahwa menantuku hamil, dan keluargaku memintaku kembali untuk merawatnya. Aku pun bergegas pulang. Namun, begitu aku sampai di rumah, aparat desa datang untuk memeriksa data kependudukanku. Saat teringat bahwa PKT memiliki fotoku dan telah mencariku selama bertahun-tahun ini, aku tak berani tinggal di rumah dan segera pergi. Setelah kembali ke gereja, aku merasa sangat sedih dan berpikir, "Putraku bekerja di luar kota dan tidak punya waktu untuk mengurus menantuku. Kalau aku, sebagai mertuanya, tidak merawatnya, bagaimana anggapan keluarganya tentangku? Aku bahkan tak tahu bagaimana keadaan menantuku sekarang." Setelah memikirkan ini, aku terus merasa berutang pada mereka. Karena hatiku tersiksa, strok infark yang kuderita kambuh lagi. Aku menjadi makin khawatir, dan berpikir, "Aku makin menua, dan kesehatanku makin memburuk. Bukankah aku membutuhkan putra dan menantuku untuk merawatku di masa depan? Aku tidak merawat menantuku di saat dia paling membutuhkanku. Kalau suatu hari nanti aku sudah tua dan sakit dan harus kembali ke mereka, apakah mereka akan tetap menerimaku dan merawatku di masa tuaku?" Setiap kali memikirkan ini, keadaanku memburuk. Hari demi hari berlalu, dan cucuku akan segera lahir. Namun, aku masih belum bisa pulang untuk merawat menantuku, dan aku pun tanpa sadar menghela napas. Saat itu, aku melaksanakan tugas menyirami para anggota baru. Meski aku melaksanakan tugasku setiap hari, hatiku sering terganggu oleh hal ini, dan aku tidak menindaklanjuti pekerjaan atau menyelesaikan masalah para anggota baru dengan tepat waktu. Akibatnya, masalah beberapa anggota baru tidak terselesaikan tepat waktu, dan mereka hidup dalam kenegatifan dan kelemahan. Ketika menyadari bahwa aku tidak melaksanakan tugasku dengan baik, aku tidak memikirkan cara untuk mengatasi masalah dan memperbaikinya. Sebaliknya, aku justru berpikir, "Jika tidak ada hasil, ya sudah. Kalau aku diberhentikan, mungkin aku bisa kembali ke putraku dan membantunya merawat cucuku." Karena aku hidup dalam keadaan yang salah, aku melaksanakan tugasku tanpa bimbingan Roh Kudus, dan aku menjadi negatif serta sengsara. Kemudian, aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku selalu ingin pulang dan merawat menantu serta cucu laki-lakiku. Aku takut jika aku tidak pulang sekarang, tidak akan ada yang merawatku saat aku sudah tua nanti. Aku tahu bahwa hidup dalam keadaan ini salah. Kiranya Engkau mencerahkan dan membimbingku agar memahami kebenaran dan mengenali masalahku sendiri." Setelah berdoa, aku teringat akan firman Tuhan: "Mengapa anak-anak berbakti kepada orang tua mereka? Mengapa orang tua sangat menyayangi anak-anak mereka? Apa niat yang dimiliki semua orang? Bukankah untuk memenuhi rencana dan keinginan egois mereka sendiri? Apakah benar-benar bertindak demi rencana pengelolaan Tuhan? Apakah benar-benar bertindak demi pekerjaan Tuhan? Apakah untuk melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan baik?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan dan Manusia akan Memasuki Istirahat Bersama-sama"). Tuhan mengungkapkan bahwa sama sekali tidak ada kasih atau kepedulian yang nyata di antara manusia. Setiap orang menyimpan niatnya sendiri, mengejar keuntungan pribadinya sendiri. Aku sama persis seperti yang telah Tuhan singkapkan. Aku terus memikirkan kehamilan menantuku, bukan karena semata-mata aku ingin merawatnya, melainkan karena niat pribadiku. Aku merasa bahwa kesehatanku makin memburuk selama beberapa tahun ini, dan aku masih harus mengandalkan putraku untuk merawatku di usia tuaku. Karena itu, aku ingin membantu mereka merawat cucuku selagi aku bisa, agar mereka mau merawatku di masa tua. Namun, saat aku tak bisa pulang karena tugasku dan risiko keselamatanku, hatiku sangat menderita, dan aku tak lagi merasa terbeban terhadap tugasku. Aku menyadari bahwa aku hanya memikirkan kepentingan dagingku.

Kemudian, aku mencari kebenaran untuk mengatasi masalahku. Aku membaca firman Tuhan: "Ketika orang tidak mampu mengetahui yang sebenarnya, memahami, menerima, atau tunduk pada lingkungan yang Tuhan atur dan pada kedaulatan-Nya, dan ketika orang menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan mereka sehari-hari, atau ketika kesulitan tersebut melampaui yang mampu ditanggung oleh manusia normal, mereka tanpa sadar akan merasakan segala macam kekhawatiran dan kecemasan, dan bahkan perasaan sedih. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi besok, atau lusa, atau akan seperti apa masa depan mereka, sehingga mereka merasa sedih, cemas, dan khawatir tentang segala macam hal. Konteks apa yang memunculkan berbagai emosi negatif ini? Konteksnya adalah mereka tidak percaya akan kedaulatan Tuhan—yang berarti, mereka tidak mampu memercayai dan mengetahui yang sebenarnya tentang kedaulatan Tuhan dan tidak memiliki iman yang sejati kepada Tuhan di dalam hati mereka. Bahkan ketika mereka melihat fakta kedaulatan Tuhan dengan mata kepala mereka sendiri, mereka tidak memahaminya, ataupun memercayainya. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan berdaulat atas nasib mereka, mereka tidak percaya bahwa seluruh hidup mereka berada di tangan Tuhan, sehingga ketidakpercayaan muncul di hati mereka terhadap kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan kemudian keluhan pun muncul, dan mereka tidak mampu tunduk" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Yang diungkapkan Tuhan itu benar-benar keadaanku. Setelah pertama kali percaya kepada Tuhan dan ketika aku sehat, aku dapat fokus pada tugasku, tetapi seiring bertambahnya usia, masalah kesehatanku perlahan-lahan bertambah. Aku mengidap strok infark, dan kondisi jantungku tidak baik. Tanpa kusadari, aku mulai hidup dalam kesesakan hati dan kecemasan, khawatir harus bagaimana jika kesehatanku memburuk dan tidak ada yang merawatku. Ketika putra dan menantuku membutuhkanku, aku tidak pulang untuk merawat mereka, lalu apakah mereka akan tetap peduli padaku saat aku tua nanti dan membutuhkan perawatan? Saat memikirkan hal ini, aku mulai terpuruk dalam emosi negatif, kehilangan rasa terbeban dalam tugasku, dan bahkan menjadi enggan melaksanakan tugasku di gereja. Aku hanya ingin pulang untuk merawat menantuku. Meski aku sering berkata bahwa segalanya ada di tangan Tuhan, ketika terjadi sesuatu padaku, aku kehilangan iman pada kedaulatan Tuhan dan hanya ingin mengandalkan orang lain. Aku menyadari bahwa aku tidak memiliki iman kepada Tuhan sama sekali. Jika dipikir-pikir, untuk apa aku mengkhawatirkan semua ini? Tuhan telah mengatur seperti apa kehidupanku di masa depan, dan aku hanya perlu tunduk pada kedaulatan serta pengaturan-Nya dan mengalami berbagai hal dengan normal.

Setelah itu, aku membaca satu bagian firman Tuhan, dan sebagian kekhawatiran di hatiku pun sirna. Tuhan berfirman: "Orang tua telah memperoleh banyak kenikmatan dan pemahaman dari anak-anak mereka dalam proses membesarkan mereka, yang merupakan penghiburan dan keuntungan besar bagi mereka. Mengenai apakah anak-anakmu akan berbakti kepadamu, apakah engkau dapat mengandalkan mereka untuk apa pun, dan apa yang dapat engkau peroleh dari mereka, hal-hal ini bergantung pada apakah engkau semua ditakdirkan untuk hidup bersama, dan ini bergantung pada penetapan Tuhan sejak semula. Di sisi lain, lingkungan seperti apa yang anak-anakmu tinggali, kondisi kehidupan mereka, apakah mereka memiliki kondisi untuk merawatmu, apakah mereka nyaman secara finansial, dan apakah mereka mampu memberimu kenikmatan serta bantuan materi, itu juga bergantung pada penetapan Tuhan sejak semula. Selain itu, sebagai orang tua, apakah engkau dapat menikmati hal-hal materi, uang, atau kenyamanan emosional yang diberikan anak-anakmu atau tidak, itu juga bergantung pada penetapan Tuhan sejak semula. Bukankah demikian? (Ya.) Ini bukanlah hal-hal yang dapat diminta orang sekehendak hatinya. Engkau lihat, ada anak-anak yang tidak disukai oleh orang tua mereka, dan orang tua mereka tidak bersedia tinggal bersama mereka, tetapi Tuhan telah menetapkan sejak semula untuk mereka tinggal bersama orang tua mereka, sehingga mereka tidak bisa jauh dari orang tua mereka atau pergi dari sisi mereka. Mereka terikat erat dengan orang tua mereka sepanjang hidup mereka—orang tua mereka tidak dapat mengusir mereka sekalipun mereka mencobanya. Di sisi lain, ada anak-anak yang memiliki orang tua yang sangat bersedia tinggal bersama mereka; mereka tak terpisahkan, selalu saling merindukan setelah berpisah, tetapi karena berbagai alasan, seperti pergi ke luar negeri untuk bekerja atau tinggal di tempat lain setelah menikah, mereka terpisah dari orang tua mereka oleh jarak yang jauh. Tidak mudah untuk bertemu bahkan sekali saja, dan mereka harus mencari waktu yang tepat bahkan untuk melakukan panggilan telepon atau video; karena perbedaan waktu atau ketidaknyamanan lainnya, mereka tidak dapat sering berbicara dengan orang tua mereka. Bukankah semua keadaan khusus ini berkaitan dengan penetapan Tuhan sejak semula? (Ya.) Ini bukanlah sesuatu yang dapat diputuskan oleh keinginan subjektif orang tua ataupun anak; yang terpenting, itu tergantung pada penetapan Tuhan sejak semula" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa semua orang tua berharap untuk dirawat anak-anak mereka di masa tua. Namun, sesungguhnya ini bukanlah sesuatu yang dapat diusahakan orang-orang sendiri; sebaliknya, ini ditentukan oleh kedaulatan dan penetapan Tuhan. Aku teringat akan seorang saudari lansia yang kukenal. Setelah anak-anaknya memiliki keluarga sendiri, dia terus melaksanakan tugasnya di gereja, dan dia tidak punya waktu untuk membantu merawat cucu-cucunya. Namun, saat dia berusia enam puluhan, putrinya berinisiatif merawatnya, dan dia masih bisa melaksanakan tugasnya dari rumah putrinya. Aku juga pernah mengenal seseorang yang telah bekerja mencari uang demi keluarga putranya dan membantu merawat cucu-cucunya, tetapi pada akhirnya, dia diusir oleh menantunya. Aku juga ingat bahwa pada tahun 2020, aku pernah sakit dan sangat membutuhkan uang. Meski aku belum mengatakan apa pun pada putraku, kebetulan dia memberiku 5.000 yuan. Bukankah semua ini adalah hasil kedaulatan dan pengaturan Tuhan? Saat memahami hal ini, aku merasa sangat malu. Sudah bertahun-tahun aku percaya kepada Tuhan dan makan dan minum begitu banyak firman Tuhan, tetapi begitu jatuh sakit, aku tersingkap. Aku tidak mengandalkan Tuhan, aku berusaha memikirkan jalan keluar sendiri, dan aku selalu ingin lari ke putraku untuk mendapat sokongan. Mana mungkin aku adalah orang yang percaya kepada Tuhan? Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa jika Tuhan telah mentakdirkan bahwa anak seseorang tidak akan merawatnya di masa tua, sekeras apa pun dia berusaha menjaga hubungan dengan anak-anaknya, semuanya akan sia-sia. Jika Tuhan telah mentakdirkan bahwa anak-anakku akan merawatku, Tuhan akan mengatur berbagai hal untukku saat waktunya tiba. Kalau suatu hari nanti aku tak bisa lagi melaksanakan tugasku karena kesehatanku, aku akan mengalaminya dengan tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Aku percaya bahwa ada pelajaran yang harus dipetik dan kebenaran yang harus diperoleh. Setelah itu, aku tak lagi khawatir karena tak bisa merawat menantuku. Hatiku bisa tenang, dan aku dapat melaksanakan tugasku.

Kemudian, aku membaca bahwa Tuhan menyingkapkan bagaimana Iblis menggunakan budaya tradisional untuk merusak manusia, dan aku bisa sedikit membedakan pandangan keliru yang kumiliki dalam diriku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Melihat budaya tradisional Tiongkok, orang Tionghoa secara khusus menekankan bakti kepada orang tua. Dari zaman dahulu sampai sekarang, hal ini selalu dibahas, dan telah dianggap sebagai bagian dari kemanusiaan yang orang miliki dan sebagai standar untuk menilai apakah seseorang itu baik atau jahat. Tentu saja, di tengah masyarakat, suasana dan iklim sosial secara umum telah terbentuk. Jika anak-anak tidak berbakti, mereka dibenci dan ditolak serta dikutuk, dan orang tua mereka merasa malu, dan anak-anak merasa tidak mampu menanggung noda ini pada reputasi mereka. Di bawah pengaruh dari berbagai faktor, para orang tua juga telah diracuni sedemikian dalamnya oleh pemikiran tradisional ini, yang menuntut agar anak-anak mereka berbakti tanpa berpikir atau tanpa membedakan. Mengapa orang tua membesarkan anak-anak? Ini bukanlah agar mereka akan merawatmu ketika engkau sudah tua dan menyelenggarakan pemakaman yang layak bagimu ketika engkau meninggal, melainkan untuk memenuhi tanggung jawab dan kewajiban yang telah Tuhan berikan kepadamu. Di satu sisi, membesarkan anak adalah naluri manusia, sementara di sisi lain, itu adalah tanggung jawab manusia. Engkau melahirkan anak-anak karena naluri dan tanggung jawab, bukan demi mempersiapkan hari tua dan agar dirawat ketika engkau sudah tua. Bukankah sudut pandang ini benar? (Ya.) Apakah orang yang tidak memiliki anak pasti sengsara ketika mereka sudah tua? Belum tentu, bukan? Orang yang tidak memiliki anak tetap bisa hidup sampai tua, dan bahkan ada yang sehat, menikmati tahun-tahun terakhir mereka, dan mati dengan damai. Dapatkah dipastikan bahwa orang-orang yang memiliki anak akan menikmati tahun-tahun terakhir mereka dalam kebahagiaan dan kondisi sehat? (Belum tentu.) Oleh karena itu, kesehatan, kebahagiaan, situasi kehidupan, kualitas hidup, dan kondisi fisik orang tua di masa tua mereka sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan apakah anak-anak mereka berbakti atau tidak, melainkan berkaitan dengan penetapan Tuhan sejak semula dan dengan lingkungan hidup yang Dia atur bagi mereka. Anak-anak tidak berkewajiban untuk memikul tanggung jawab atas situasi kehidupan di masa tua orang tua mereka" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa tujuan membesarkan anak bukan agar mereka dapat merawat orang tuanya di masa tua, dan semua orang memiliki misi serta tanggung jawabnya sendiri. Namun, setelah dirusak oleh Iblis, aku menerima pemikiran dan pandangan yang ditanamkannya dalam diriku, seperti "Memiliki seseorang yang bisa kauandalkan di masa tua", "Memiliki seseorang yang merawatmu di masa tua", dan "Membesarkan anak-anak untuk merawatmu di hari tua". Aku meyakini bahwa manusia tak akan bisa bertahan tanpa ada anak yang bisa merawatnya di masa tua. Saat aku menua dan mulai memiliki berbagai masalah kesehatan, aku hanya ingin menjaga hubungan baik dengan putra dan menantuku agar kelak mereka mau merawatku. Saat situasinya berbahaya dan aku tak bisa pulang untuk merawat menantuku yang sedang hamil, aku bahkan tidak ingin melaksanakan tugasku. Artinya, masalah para anggota baru tidak pernah terselesaikan, dan jalan masuk kehidupan mereka tertunda. Namun, aku tetap tidak bertobat, dan bahkan aku berharap untuk dialihtugaskan agar bisa pulang dan merawat menantuku. Jika dipikir-pikir, sudah bertahun-tahun aku percaya kepada Tuhan dan menikmati begitu banyak kebenaran yang Dia sediakan. Aku tidak hanya gagal melaksanakan tugasku dengan baik untuk membalas kasih Tuhan, tetapi aku bahkan bisa melepaskan tugasku untuk menyenangkan putra dan menantuku. Saat terjadi sesuatu padaku, aku hanya memikirkan jalan keluarku sendiri. Aku sama sekali tidak menunjukkan pengabdian pada tugasku. Mana mungkin aku memiliki sedikit pun kemanusiaan? Aku menyadari bahwa pandangan seperti "Memiliki seseorang yang bisa kauandalkan di masa tua", "Memiliki seseorang yang merawatmu di masa tua", dan "Membesarkan anak-anak untuk merawatmu di hari tua" adalah trik yang Iblis gunakan untuk mengendalikan manusia. Karena hidup berdasarkan pandangan ini, aku tidak percaya pada kedaulatan Tuhan, memberontak terhadap Tuhan dan tidak tunduk kepada-Nya, serta tidak memiliki rasa terbeban sama sekali terhadap tugasku. Aku hampir kehilangan kesempatan untuk melaksanakan tugasku. Jika aku terus berpegang pada pandangan ini, aku akan kehilangan kesempatanku untuk diselamatkan, dan aku akan benar-benar menghancurkan diriku sendiri. Kemudian, aku teringat akan pengalamanku dengan penyakit beberapa tahun belakangan. Pada tahun 2018, aku tak bisa meluruskan lenganku karena saraf terjepit akibat spondilosis servikal. Saudari yang menjadi tuan rumahku membelikan beberapa obat, dan kemudian, akhirnya aku bisa meluruskan lenganku lagi. Selain itu, aku mengidap strok infark pada tahun 2020, dan menurut dokter, penyakitku sulit disembuhkan. Tak disangka, seorang saudari yang lebih tua memberiku empat kotak obat untuk strok infark. Setelah mengonsumsi obat itu, kesehatanku berangsur membaik. Tak satu pun dari penyakit yang kuderita selama beberapa tahun terakhir ini sembuh karena aku mengandalkan putraku: Tuhanlah yang berkali-kali mengatur orang, peristiwa, dan berbagai hal agar penyakitku dapat disembuhkan. Aku masih hidup hari ini karena perlindungan Tuhan! Aku harus melepaskan kekeliruan Iblis seperti "Memiliki seseorang yang bisa kauandalkan di masa tua" dan "Memiliki seseorang yang bisa menjadi sandaran ketika engkau sudah tua", dan memercayakan diriku kepada Tuhan, menggunakan sisa waktuku untuk melaksanakan tugasku dengan benar demi memuaskan-Nya.

Setelah itu, aku membaca satu bagian lain dari firman Tuhan, yang mengubah pandanganku yang selalu ingin mengandalkan anakku untuk merawatku di usia tuaku. Tuhan berfirman: "Orang tua tidak seharusnya menuntut anak-anak mereka untuk berbakti, dan merawat serta menafkahi mereka di hari tua—tidak perlu melakukan hal itu. Di satu sisi, ini adalah sikap yang harus dimiliki orang tua terhadap anak-anak mereka, dan di sisi lain, itu adalah martabat yang orang tua harus miliki. Tentu saja, ada juga aspek yang lebih penting: Itu adalah prinsip yang harus dipatuhi oleh makhluk ciptaan yang merupakan orang tua dalam memperlakukan anak-anak mereka. Jika anak-anakmu berbakti dan bersedia merawatmu, engkau tidak perlu menolak mereka; jika mereka tidak bersedia melakukannya, engkau tidak perlu berkeluh kesah sepanjang hari, merasa tidak nyaman atau kesal di dalam hatimu, atau menyimpan dendam terhadap anak-anakmu. Engkau seharusnya memikul tanggung jawab serta menanggung beban hidup dan kelangsungan hidupmu sendiri sebatas kemampuanmu, dan engkau tidak seharusnya membebankannya kepada orang lain, terutama anak-anakmu. Engkau harus menghadapi kehidupan secara proaktif dan benar tanpa didampingi atau tanpa bantuan anak-anakmu di sisimu, dan sekalipun engkau terpisah dari anak-anakmu, engkau seharusnya tetap mampu untuk menghadapi sendiri apa pun yang terjadi dalam hidupmu. Tentu saja, jika engkau membutuhkan bantuan yang esensial dari anak-anakmu, engkau boleh memintanya, tetapi itu tidak boleh didasarkan pada pemikiran dan sudut pandang yang keliru bahwa anak-anak harus berbakti pada orang tua mereka atau engkau mengandalkan mereka untuk merawatmu ketika engkau sudah tua. Sebaliknya, keduanya harus melakukan hal-hal untuk orang tua mereka atau anak-anak mereka dari perspektif memenuhi tanggung jawab mereka. Dengan demikian, hubungan antara orang tua dan anak-anak dapat ditangani secara rasional. Tentu saja, jika kedua belah pihak bersikap rasional, saling memberi ruang, dan saling menghormati, pada akhirnya, mereka pasti mampu hidup dengan lebih rukun dan harmonis, menghargai kasih sayang kekeluargaan ini, dan menghargai perhatian, kepedulian, serta kasih sayang mereka satu sama lain. Tentu saja, melakukan hal-hal ini berdasarkan saling menghormati dan memahami relatif sesuai dengan kemanusiaan dan relatif pantas" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). Tuhan berfirman: "Orang tua tidak seharusnya menuntut anak-anak mereka untuk berbakti, dan merawat serta menafkahi mereka di hari tua—tidak perlu melakukan hal itu. Di satu sisi, ini adalah sikap yang harus dimiliki orang tua terhadap anak-anak mereka, dan di sisi lain, itu adalah martabat yang orang tua harus miliki." Firman ini sungguh menyentuh hatiku. Tuhan sudah jelas memberi tahu kita bahwa hubungan antara orang tua dan anak harus dibangun di atas dasar saling peduli dan memahami, dan seharusnya tidak melibatkan transaksi. Setiap orang memiliki misi masing-masing, dan sebagai orang tua, kita tidak boleh meminta anak kita untuk menafkahi dan merawat kita. Orang lansia seharusnya juga hidup bermartabat dan tidak selalu berpikir untuk mengandalkan anak-anak untuk merawat mereka. Walaupun aku membesarkan putraku, sekarang dia sudah dewasa dan mandiri, dan dia sudah tidak terlalu berkaitan denganku lagi. Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing dan harus menghadapi apa yang terjadi dalam hidup dengan mandiri. Namun, aku selalu ingin dirawat putraku di masa tua dan tidak berani mengalami sendiri kehidupan yang telah Tuhan atur untukku. Mana mungkin aku hidup bermartabat? Dengan makan dan minum firman Tuhan, sudut pandangku agak berubah, dan aku merasa jauh lebih lepas.

Suatu hari, aku menerima surat dari rumah bahwa menantuku sudah melahirkan, dan aku diminta untuk pulang dan merawatnya. Aku merasa agak goyah, dan berpikir, "Sekarang aku sangat sibuk dengan tugasku. Kalau aku benar-benar pulang, entah berapa lama aku bisa kembali ke sini lagi. Ini akan menunda pekerjaan gereja. Selain itu, selama ini PKT terus mencoba menangkapku. Jika aku pulang, risikonya besar. Namun, jika aku tidak pulang, bagaimana jika putra dan menantuku memutuskan hubungan denganku? Aku masih harus mengandalkan mereka untuk merawatku di masa tuaku. Jika benar-benar tidak ada jalan lain, aku akan pulang saja." Saat memikirkan hal ini, aku menyadari bahwa aku masih ingin mengandalkan putraku di masa tua, dan aku mencari kebenaran yang relevan dengan masalahku. Aku membaca firman Tuhan: "Tuhan bukan hanya membayar harga untuk setiap orang selama beberapa dekade mulai dari kelahiran mereka sampai sekarang. Di mata Tuhan, engkau telah tak terhitung kali datang ke dunia ini, dan telah bereinkarnasi tak terhitung kali banyaknya. Siapa yang mengendalikan hal ini? Tuhanlah yang mengendalikan hal ini. Engkau sama sekali tidak bisa mengetahui hal-hal ini. ... Betapa banyaknya upaya yang Tuhan curahkan bagi seorang manusia! Ada orang yang berkata, 'Aku berumur enam puluh tahun. Selama enam puluh tahun, Tuhan telah menjaga, melindungi, dan menuntunku. Jika usiaku telah lanjut dan aku tak mampu lagi melaksanakan tugas atau melakukan apa pun—akankah Tuhan masih peduli kepadaku?' Bukankah ini hal yang konyol untuk dipertanyakan? Tuhan tidak hanya menjaga dan melindungi seseorang dan berdaulat atas nasibnya selama satu masa kehidupan. Jika hanya untuk satu masa kehidupan, untuk satu rentang hidup manusia, itu tidak akan bisa menunjukkan bahwa Tuhan itu mahakuasa dan berdaulat atas segala sesuatu. Dalam mengerahkan upaya dan membayar harga bagi seseorang, Tuhan tidak hanya mengatur apa yang akan mereka lakukan dalam kehidupan ini—Dia mengatur masa kehidupan yang tak terhitung banyaknya bagi mereka. Tuhan bertanggung jawab penuh atas setiap jiwa yang bereinkarnasi. Dia bekerja dengan hati-Nya, membayar harga dengan nyawa-Nya, membimbing setiap orang dan mengatur setiap kehidupan mereka. Mengingat bahwa Tuhan mengerahkan upaya semacam itu dan membayar harga semacam itu demi manusia, dan menganugerahkan kepada manusia semua kebenaran ini dan kehidupan ini, jika pada akhir zaman ini orang tidak melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dan kembali ke hadapan Sang Pencipta—jika sebanyak apa pun kehidupan dan generasi yang telah mereka lalui, mereka pada akhirnya gagal memenuhi tugas mereka dan gagal memenuhi tuntutan Tuhan—bukankah utang mereka kepada Tuhan akan menjadi terlalu besar? Bukankah mereka tidak layak atas semua harga yang telah Tuhan bayar? Mereka benar-benar tidak memiliki hati nurani, mereka tidak akan layak disebut manusia, karena utang mereka kepada Tuhan terlalu besar. ... Anugerah, kasih, dan belas kasihan yang Tuhan tunjukkan kepada manusia bukan sekadar sikap—melainkan juga fakta. Fakta apakah itu? Fakta bahwa Tuhanlah yang menaruh firman-Nya di dalam dirimu, mencerahkanmu, memungkinkanmu untuk melihat apa yang indah mengenai diri-Nya, dan apa sebenarnya dunia ini, memberimu kejelasan yang luar biasa di dalam hatimu, dan memungkinkanmu untuk memahami firman dan kebenaran-Nya. Dengan demikian, tanpa kausadari, engkau akan memperoleh kebenaran. Tuhan melakukan begitu banyak pekerjaan dalam dirimu dengan cara yang sangat nyata, memungkinkanmu untuk memperoleh kebenaran. Ketika engkau memperoleh kebenaran, ketika engkau memperoleh hal yang paling berharga, yaitu hidup yang kekal, maksud Tuhan pun terpenuhi. Ketika Tuhan melihat bahwa manusia sedang mengejar kebenaran dan bersedia bekerja sama dengan-Nya, Dia merasa senang dan puas. Tuhan kemudian memiliki sikap tertentu, dan pada saat Dia memiliki sikap tersebut, Dia bertindak, berkenan atas manusia dan memberkatinya. Dia berkata, 'Aku akan memberimu upah. Ini adalah berkat yang sepantasnya engkau terima.' Kemudian, engkau akan memperoleh kebenaran dan hidup. Jika engkau telah mengenal Sang Pencipta dan telah mendapatkan penghargaan-Nya, akankah engkau tetap merasakan kekosongan di dalam hatimu? Tidak akan. Engkau akan merasa dipenuhi dan merasakan kenikmatan. Bukankah itu berarti menjalani kehidupan yang bernilai? Inilah kehidupan yang paling berharga dan bermakna" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Membayar Harga untuk Memperoleh Kebenaran Sangatlah Bermakna"). Setelah membaca firman Tuhan, aku sangat tersentuh. Tuhan mengendalikan dan berdaulat atas nasib seluruh umat manusia, dan hanya Dialah sandaranku. Aku merenungkan bahwa selama bertahun-tahun aku mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugasku, Tuhan selalu memimpin serta melindungiku, dan aku telah melihat banyak perbuatan Tuhan. Dengan Tuhan di sisiku, apa lagi yang kukhawatirkan? Jika, di saat genting dalam pekerjaan Tuhan ini, aku terus hidup demi keluargaku dan daging, tidak melaksanakan tugasku demi mempertahankan hubunganku dengan putraku, dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk diselamatkan, itu benar-benar bodoh! Aku hanya ingin mencurahkan segala yang kubisa untuk melaksanakan tugasku dengan baik di sisa hidupku. Sekalipun putraku tidak merawatku di masa tuaku, aku tidak perlu khawatir. Aku hanya akan mengalaminya dengan mengandalkan Tuhan. Kini, aku sibuk melaksanakan tugasku setiap hari, dan aku merasa sangat tenang dan bebas.

Dari pengalaman ini, yang paling kusadari adalah bahwa Tuhan itu sandaranku yang sejati. Hanya Tuhanlah yang dapat mengungkapkan kebenaran, menunjukkan kepada kita jalan hidup yang benar, dan membimbing kita untuk menjalani hidup yang bermakna. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp