Aku Jadi Mengetahui Bagaimana Memperlakukan Kebaikan Orang Tuaku
Ketika usiaku tiga tahun, orang tuaku bercerai karena ketidakcocokan perasaan, dan ketika usiaku empat tahun, aku memiliki ibu tiri. Di...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada Juni 2019, aku pergi ke daerah lain untuk melaksanakan tugas-tugasku. Aku tidak pulang ke rumah selama lebih dari setahun, jadi suamiku yang tidak percaya melaporkanku dan ibuku. Agar tidak ditangkap polisi, aku tidak berani pulang ke rumah sejak itu. Aku juga tidak berani mengunjungi ibuku. Aku sering memikirkannya, "Ibuku makin tua, ayahku telah lebih dahulu meninggal, dan dia tidak punya kerabat yang bisa merawatnya. Karena kini dia telah dilaporkan oleh suamiku, dia tidak berani berinteraksi dengan saudara-saudari. Aku tidak tahu keadaannya atau bagaimana kondisinya saat ini." Ibu bekerja keras membesarkanku, dan kini dia sudah tua dan memerlukan seseorang untuk merawatnya. Aku bukan hanya tidak dapat berada di sisinya untuk melakukan tugasku sebagai anak, tetapi aku juga telah melibatkannya dan membuatnya hidup dalam ketakutan. Setiap kali memikirkannya, aku merasa sangat tertekan dan berutang pada ibuku, dan aku mendambakan hari ketika aku dapat pulang untuk mengunjunginya dan melaksanakan tanggung jawabku sebagai anaknya. Namun, aku takut ditangkap polisi jika pulang ke rumah, aku pun sedang sibuk melaksanakan tugasku, sehingga aku tidak dapat pulang untuk menengoknya.
Pada bulan Juli 2023, dalam sebuah pertemuan, aku mendengar dari seorang saudari bahwa ibuku mulai terkena demensia, dan bahwa dia tidak bisa lagi mengurus dirinya sendiri dan kini tinggal di sebuah panti wreda. Aku nyaris tidak memercayai yang kudengar. Bagaimana bisa ibuku terkena demensia? Dia tidak dapat mengurus dirinya sendiri, dan tidak mempunyai kerabat untuk mengurusnya. Tak dapat kubayangkan betapa besar penderitaan yang pasti telah dia alami! Kutahan perasaanku selama pertemuan itu. Belakangan, ketika sudah tenang di malam hari, aku berpikir, "Bagaimana bisa ibuku terkena demensia? Jika dia terkena penyakit lain, setidaknya pikirannya tetap jernih, dan dalam sakitnya, dia mampu untuk merenung, memahami diri sendiri, dan memetik pelajaran. Mungkin saja dia akan sembuh dari penyakit itu. Namun, mengingat bahwa dia tidak dapat beraktivitas secara normal, bagaimana mungkin ada harapan baginya untuk diselamatkan?" Aku juga merasa bahwa dia mungkin terkena demensia karena suamiku melaporkan ibuku dan aku. Hal itu membuatnya tidak dapat menghadiri pertemuan dan melaksanakan tugasnya, dan dia juga pasti mengkhawatirkanku. Mungkin karena itulah pikirannya jadi terdampak. Seandainya aku dapat melaksanakan tugas-tugasku di daerah asalku, aku mungkin dapat merawatnya sekaligus mempersekutukan firman Tuhan dengannya dan mendukungnya, dan mungkin dia tidak akan terkena penyakit itu. Di saat seperti ini, ketika ibuku sangat memerlukan perhatianku, aku malah tidak bisa berada di sisinya. Apa artinya dia membesarkan seorang putri seperti diriku? Aku merasa teramat berutang pada ibuku. Aku tidak bersemangat lagi untuk melaksanakan tugas-tugasku dan bahkan menyesal telah pergi ke daerah lain untuk melaksanakannya.
Setelah pengawas mengetahui keadaanku, dia membacakanku sebuah kutipan firman Tuhan: "Orang tuamu sakit parah atau mengalami kemalangan besar adalah hal yang memang seharusnya mereka alami. Dalam kehidupan manusia, mengalami lahir, tua, sakit, dan mati, serta menghadapi berbagai hal, baik besar maupun kecil, adalah hal yang sangat normal. Jika engkau sudah dewasa, engkau seharusnya menyikapi hal-hal ini dengan tenang dan benar. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri atau merasa terlalu berutang budi karena engkau tidak mampu merawat orang tuamu, dan terlebih lagi, jangan mencurahkan terlalu banyak tenaga untuk hal ini, sehingga memengaruhi pengejaranmu akan kebenaran dan pelaksanaan tugasmu dengan baik. Beberapa orang berpikir bahwa orang tua sakit karena mereka merindukan anak-anaknya. Benarkah demikian? Sebagian orang memiliki anak-anak yang mendampingi mereka sepanjang tahun, tetapi bukankah mereka tetap jatuh sakit? Kapan orang jatuh sakit dan penyakit apa yang mereka derita dalam hidup mereka, semuanya diatur oleh tangan Tuhan, dan tidak ada hubungannya dengan apakah anak-anak mereka berada di sisi mereka atau tidak. Jika Tuhan tidak mengatur bahwa dalam perjalanan nasibnya, orang tuamu akan jatuh sakit, maka tidak akan terjadi apa-apa pada mereka, sekalipun engkau tidak bersama mereka. Jika mereka ditakdirkan untuk menghadapi penyakit atau kemalangan besar dalam hidup mereka, bagaimana engkau dapat mengubahnya sekalipun engkau berada di sisi mereka? Mereka tetap tidak akan bisa menghindarinya, bukan? (Benar.) Hanya saja, sebagai anak mereka, karena engkau memiliki ikatan darah dengan orang tuamu, engkau akan merasa sedih ketika mendengar mereka sakit. Ini sangat normal. Namun, engkau tidak perlu merenungkan cara membantu orang tuamu lepas dari rasa sakit mereka atau menyelesaikan kesulitan mereka karena mereka menghadapi penyakit atau kemalangan besar. Orang tuamu sudah sering mengalami hal-hal semacam ini. Jika Tuhan mengatur lingkungan untuk menyingkirkan masalah-masalah ini dari mereka, maka, cepat atau lambat, masalah-masalah itu akan lenyap sepenuhnya. Jika masalah-masalah ini adalah rintangan hidup bagi mereka, dan itu adalah hal-hal yang harus mereka alami, maka mereka tidak bisa menghindarinya, dan berapa lama mereka harus mengalaminya adalah terserah Tuhan; orang-orang tidak bisa mengubah hal ini. Jika engkau ingin mengandalkan kekuatanmu sendiri untuk menyelesaikan masalah-masalah ini, dan ingin menganalisis serta menyelidiki sebab dan akibatnya, itu adalah pemikiran yang bodoh, dan itu tidak perlu" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (17)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian manusia adalah hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Segala kesukaran dan penderitaan yang harus dilewati oleh seseorang dalam hidup telah ditentukan oleh Tuhan, dan aku tidak boleh menelaah atau mengkaji hal-hal ini dari sudut pandang manusia. Yang harus kulakukan adalah menerimanya dari Tuhan dan belajar untuk tunduk pada penataan dan pengaturan-Nya. Ibuku telah terkena demensia, dan itu adalah penderitaan yang harus dia tanggung, dan itu berkaitan dengan nasibnya sendiri. Hal itu tidak timbul karena dia mengkhawatirkanku atau karena aku tidak ada di sana untuk merawatnya. Namun, aku secara keliru berpikir bahwa, seandainya aku ada di sana untuk merawat dan menolongnya di jalan masuk kehidupannya, dia tidak akan terkena penyakit itu. Ini adalah kesalahpahaman tentang kedaulatan dan penataan Tuhan serta pikiran yang menyimpang. Aku berpikir tentang beberapa orang tua di dunia ini yang anak-anaknya ada di sisi mereka untuk menemani dan merawat mereka. Pada akhirnya, mereka tetap menderita penyakit-penyakit yang menimpa mereka dan meninggal pada waktu yang telah ditetapkan. Anak-anak mereka ada di sisi mereka untuk merawat mereka, tetapi itu tidak lantas berarti mereka terhindar dari penderitaan besar. Penyakit ibuku dan tingkat keparahannya, semuanya telah ditetapkan oleh Tuhan. Aku hanya mampu merawatnya jika aku pulang, tetapi aku tidak mungkin bisa meringankan penderitaannya. Aku harus tunduk dan memercayakan penyakit ibuku kepada Tuhan, membiarkan-Nya menata dan mengatur segalanya, dan mencurahkan hatiku pada tugas-tugasku.
Pada bulan Januari 2024, aku tiba-tiba mendapat kabar bahwa ibuku telah meninggal karena penyakitnya sebulan lalu. Berita ini betul-betul membuatku terpukul. Aku tidak pernah berpikir bahwa ibuku akan meninggal secepat itu. Beberapa tahun belakangan, aku terus berharap bisa memperoleh kesempatan untuk pulang dan bertemu ibuku. Namun, sebelum aku dapat memenuhi baktiku sebagai anak, dia telanjur meninggalkan dunia ini selamanya. Aku tidak lagi memiliki kesempatan untuk menjadi anak yang berbakti baginya. Aku merasa sangat sedih dan kesulitan untuk menahan air mata. Aku terus memanggil Tuhan, memohon kepada-Nya agar aku jangan sampai mengeluh kepada-Nya atau salah memahami-Nya. Aku duduk terpekur di depan komputer di sepanjang siang, tanpa semangat untuk melaksanakan tugas-tugasku. Aku memikirkan bahwa aku tidak merawat ibuku ketika sakit, dan aku bahkan tidak dapat bertemu dengannya untuk terakhir kalinya sebelum dia meninggal. Aku merasa sangat menyesal dan berutang. Aku tahu bahwa kerabat dan kenalanku pasti mencelaku sebagai orang yang tidak berhati nurani dan menyebutku putri yang tidak tahu terima kasih dan tidak berbakti. Beberapa hari berikutnya, meskipun aku melaksanakan tugas-tugasku, aku betul-betul tidak bersemangat. Pikiranku dipenuhi oleh bayangan ibuku yang menderita penyakit. Kubayangkan bahwa dia pasti mendambakan diriku pulang ke rumah untuk melihatnya terakhir kali sebelum dia meninggal. Makin aku memikirkannya, makin aku merasa berutang kepada ibuku, dan aku pun menangis. Dalam beberapa hari itu, aku betul-betul linglung. Belakangan, aku menyadari bahayanya jika aku terus begini, jadi aku berdoa kepada Tuhan, meminta Tuhan untuk menuntunku untuk lepas dari belenggu perasaanku dan tidak lagi terganggu. Kutemukan sebuah bagian firman Tuhan yang cukup menolong bagiku. Tuhan berfirman: "Sakitnya orang tuamu sudah sangat mengejutkan bagimu, apalagi meninggalnya orang tuamu, itu akan jauh lebih mengejutkan bagimu. Jadi, sebelum ini terjadi, bagaimana seharusnya engkau mengatasi pukulan tak terduga yang akan disebabkannya terhadapmu, agar itu tidak akan berdampak, mengganggu, atau memengaruhi pelaksanaan tugasmu atau jalan yang kautempuh? Pertama-tama, mari kita melihat apa sebenarnya arti kematian, dan apa sebenarnya arti meninggal. Bukankah itu berarti orang meninggalkan dunia ini? (Ya.) Itu berarti nyawa yang seseorang miliki, yang hadir dalam bentuk fisik, dihapuskan dari dunia materiel yang dapat dilihat manusia, lalu menghilang. Orang itu kemudian terus hidup di dunia lain, dalam wujud lain. Meninggalnya orang tuamu berarti hubungan yang kaumiliki dengan mereka di dunia ini telah terputus, hilang, dan berakhir. Mereka sedang hidup di dunia lain, dalam wujud lain. Mengenai bagaimana kehidupan mereka di dunia lain, apakah mereka akan kembali ke dunia ini, bertemu kembali denganmu, atau memiliki semacam hubungan daging atau keterikatan emosional denganmu, ini telah ditetapkan oleh Tuhan, dan hal ini tidak ada kaitannya denganmu. Singkatnya, meninggalnya mereka berarti bahwa misi mereka di dunia ini telah berakhir, dan tanda titik telah dibubuhkan pada misi mereka. Ketika misi mereka dalam kehidupan ini dan di dunia ini telah berakhir, hubunganmu dengan mereka juga telah berakhir. ... Meninggalnya orang tuamu hanya akan menjadi kabar terakhir yang kaudengar tentang mereka di dunia ini, dan tahap terakhir yang kaulihat atau kaudengar dalam hal pengalaman mereka dilahirkan, menua, jatuh sakit, dan meninggal dalam hidup mereka, hanya itu saja. Kematian mereka tidak akan mengambil apa pun darimu atau memberimu apa pun, mereka hanya akan meninggal, dan perjalanan mereka sebagai manusia kali ini telah berakhir. Jadi, dalam hal meninggalnya mereka, entah itu kematian karena kecelakaan, kematian biasa, kematian karena penyakit, dan sebagainya; apa pun yang terjadi, jika bukan karena kedaulatan dan pengaturan Tuhan, tak ada seorang pun atau kekuatan apa pun yang dapat merenggut nyawa mereka. Kematian mereka hanya berarti akhir dari kehidupan jasmani mereka. Jika engkau merindukan mereka dan mengenang mereka, atau merasa bersalah terhadap mereka karena perasaanmu, itu tidak seharusnya, semua ini tidak perlu. Mereka telah meninggalkan dunia ini, jadi tidak ada gunanya memikirkan hal ini lebih jauh, bukan? Engkau mungkin berpikir, 'Apakah orang tuaku merindukanku selama bertahun-tahun ini? Seberapa besarkah penderitaan mereka karena aku tidak berada di sisi mereka untuk memenuhi kewajibanku dalam berbakti kepada mereka? Selama bertahun-tahun ini, aku selalu ingin menghabiskan beberapa hari bersama mereka, aku tidak pernah menyangka mereka akan meninggal begitu cepat. Aku merasa sedih dan bersalah.' Ini tidak perlu; hal-hal itu tidak ada hubungannya denganmu. Mengapa hal-hal itu tidak ada hubungannya denganmu? Karena baik memenuhi kewajibanmu dalam berbakti maupun menemani mereka bukanlah kewajiban atau tugas yang telah Tuhan berikan kepadamu. Tuhan telah menakdirkan seberapa banyak berkat dan seberapa banyak penderitaan yang akan dialami orang tuamu karenamu—ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Mereka tidak akan hidup lebih lama karena engkau menemani mereka, dan mereka tidak akan hidup lebih singkat karena engkau jauh dari mereka dan tidak bisa sering bersama mereka. Tuhan telah menakdirkan berapa lama mereka akan hidup, dan itu tidak ada kaitannya denganmu. Oleh karena itu, jika engkau mendengar kabar bahwa orang tuamu telah meninggal selama masa hidupmu, engkau tidak perlu merasa bersalah. Engkau harus menyikapi hal ini dengan cara yang benar dan menerimanya" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (17)"). Firman Tuhan sangatlah jelas: Kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian manusia telah ditetapkan oleh Tuhan. Tidak peduli seberapa tua usia seseorang atau bagaimana dia meninggal, entah kematiannya normal atau karena kecelakaan, semua hal itu telah ditentukan oleh Tuhan, dan tidak ada yang dapat mengubahnya. Cara meninggalnya ibuku juga bagian dari kedaulatan dan pengaturan Tuhan, yang telah Tuhan tentukan bahkan sebelum kelahirannya, dan kini, karena waktunya telah tiba, kepergiannya adalah sesuatu yang wajar. Bahkan sekalipun aku berada di sisinya untuk merawatnya, aku tidak akan dapat menjaganya agar tetap hidup. Kuingat ketika ayahku sakit, kubawa dia ke rumah sakit untuk dirawat, dan aku berada di sisinya untuk merawatnya dengan hati-hati selama beberapa bulan. Namun, aku tidak dapat mengangkat penderitaannya, dan akhirnya, dia meninggal juga karena penyakitnya. Kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian manusia, semuanya telah ditentukan oleh Tuhan. Aku tidak dapat mengangkat penderitaan orang tuaku ataupun memperpanjang usia mereka. Jadi, aku harus tetap bersikap rasional dan tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Aku juga teringat bahwa ibuku telah menderita berbagai penyakit lain sebelum dia menemukan Tuhan. Semua dokter berkata bahwa dia tidak akan hidup lama. Namun, sejak dia menemukan Tuhan, berbagai penyakitnya membaik. Ibuku dapat hidup hingga usia tujuh puluhan saja sudah merupakan kasih karunia dan berkat dari Tuhan. Ketika menyadari itu, aku merasa agak lega, dan aku tidak lagi merasa terlalu bersalah dan menyalahkan diri sendiri atas kematian ibuku.
Lalu, aku membaca sebuah bagian dari firman Tuhan: "Ada pepatah di dunia orang tidak percaya yang berbunyi: 'Gagak membalas budi kepada induknya dengan memberi mereka makan, dan domba berlutut untuk menerima susu dari induknya'. Ada juga pepatah yang ini: 'Orang yang tidak berbakti lebih rendah daripada binatang buas'. Betapa terdengar muluk-muluknya semua pepatah ini! Sebenarnya, fenomena yang disebutkan dalam pepatah pertama, bahwa gagak membalas budi kepada induknya dengan memberi mereka makan, dan domba berlutut untuk menerima susu dari induknya, memang benar-benar ada, ini adalah fakta. Namun, hal tersebut hanyalah fenomena di dunia makhluk hidup. Itu semacam hukum yang telah Tuhan tetapkan bagi berbagai makhluk hidup. Semua makhluk hidup, termasuk manusia, menaati hukum ini, dan hal ini makin menunjukkan bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan. Tidak ada makhluk hidup yang dapat melanggar hukum ini, dan tidak ada makhluk hidup yang mampu melampauinya. Bahkan karnivor yang relatif ganas seperti singa dan harimau pun mengasuh keturunan mereka dan tidak menggigit mereka sebelum mereka menjadi dewasa. Ini adalah naluri binatang. Apa pun spesies mereka, baik mereka ganas maupun jinak dan lembut, semua binatang memiliki naluri ini. Segala jenis makhluk, termasuk manusia, hanya dapat terus berkembang biak dan bertahan hidup dengan mematuhi naluri dan hukum ini. Jika mereka tidak mematuhi hukum ini, atau tidak memiliki hukum dan naluri ini, tidak mungkin mereka dapat berkembang biak dan bertahan hidup. Rantai biologis tidak akan ada, dan dunia ini pun tidak akan ada. Bukankah benar demikian? (Benar.) Gagak membalas budi kepada induknya dengan memberi mereka makan, dan domba berlutut untuk menerima susu dari induknya memperlihatkan dengan tepat bahwa dunia makhluk hidup mematuhi hukum semacam ini. Semua jenis makhluk hidup memiliki naluri ini. Begitu keturunan dilahirkan, mereka dirawat dan diasuh oleh betina atau jantan dari spesies tersebut sampai mereka menjadi dewasa. Semua jenis makhluk hidup mampu memenuhi tanggung jawab dan kewajiban mereka kepada keturunan mereka, dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab membesarkan generasi berikutnya. Inilah yang terlebih lagi harus manusia lakukan. Manusia sendiri menyebut dirinya binatang yang lebih tinggi. Jika mereka tidak mampu mematuhi hukum ini, dan tidak memiliki naluri ini, berarti manusia lebih buruk daripada binatang, bukan? Oleh karena itu, tidak peduli seberapa banyak orang tuamu merawatmu atau seberapa banyak mereka memenuhi tanggung jawab mereka kepadamu saat mereka membesarkanmu, mereka hanya melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan makhluk ciptaan—ini adalah naluri mereka. ... Semua jenis makhluk hidup dan binatang memiliki naluri dan hukum ini, dan mereka mematuhinya dengan sangat baik, melaksanakannya dengan sempurna. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun. Ada juga beberapa binatang khusus, seperti harimau dan singa. Ketika binatang-binatang ini sudah dewasa, mereka meninggalkan orang tua mereka, dan beberapa binatang jantan bahkan menjadi saingan, menggigit, bersaing, dan bertarung jika perlu. Ini adalah hal yang normal, ini adalah hukum. Mereka tidak memperhatikan perasaan, dan mereka tidak hidup di tengah perasaan seperti manusia, yang selalu ingin membalas kebaikan orang tua karena telah membesarkan mereka, selalu khawatir jika tidak menunjukkan bakti kepada orang tua, orang lain akan mengutuk, mencaci maki, dan mengkritik mereka di belakang. Ide-ide ini tidak ada dalam dunia binatang. Mengapa orang mengatakan hal-hal seperti itu? Karena di tengah masyarakat dan di dalam kelompok masyarakat, ada berbagai ide dan pandangan umum yang keliru. Setelah orang dipengaruhi, dirusak, dan dibusukkan dengan hal seperti ini, muncullah berbagai cara dalam menafsirkan dan menangani hubungan orang tua dan anak dalam diri mereka. Pada akhirnya, mereka memperlakukan orang tua mereka sebagai kreditur yang tidak akan pernah mampu mereka bayar seumur hidup. Bahkan ada orang-orang yang merasa bersalah seumur hidup setelah orang tua mereka meninggal, merasa bersalah karena gagal membalas kebaikan orang tua, sebab mereka pernah melakukan sesuatu yang tidak membuat orang tua mereka senang atau tidak sesuai dengan keinginan orang tua mereka. Katakan kepada-Ku, bukankah ini berlebihan? Manusia hidup di tengah perasaan mereka sehingga mereka hanya dapat disusupi dan diganggu oleh berbagai gagasan yang berasal dari perasaan tersebut" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (17)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa aku merasa begitu pedih karena aku telah dicekoki budaya tradisional beracun seperti "Orang yang tidak berbakti lebih rendah daripada binatang buas" dan "Membesarkan anak-anakmu untuk merawatmu di masa tua." Aku memercayainya karena orang tuaku bekerja keras untuk membesarkanku, menyediakan makanan, pakaian, dan pendidikan untukku. Karena aku belum berkesempatan untuk membalas kebaikan ayahku yang telah mengasuhku sebelum dia meninggal, dan jika aku tidak membalas kebaikan ibuku, aku akan benar-benar menjadi anak durhaka, dan bahkan lebih rendah daripada binatang buas. Aku memandang nilai-nilai tradisional ini sebagai hal-hal dan prinsip-prinsip positif yang harus dijalankan, tanpa menyadari bahwa hidupku berasal dari Tuhan. Ibuku hanya melahirkan dan membesarkanku, dan orang tuaku hanya memenuhi tanggung jawab dan kewajiban mereka lewat segala hal yang mereka lakukan untukku. Itu tidak dapat dianggap sebagai kebaikan. Ketika merenungkannya, jika Tuhan tidak memperhatikan dan melindungiku selama aku bertumbuh dewasa, aku mungkin tidak akan hidup saat ini. Ketika masih muda, aku pergi berperahu bersama seorang teman, dan perahu itu terbalik. Kami berdua jatuh ke sungai dan nyaris tenggelam. Namun, untungnya, ada dua orang dewasa yang sedang memancing di pinggir sungai dan menyelamatkan kami. Waktu itu, kupikir aku hanya beruntung. Namun, belakangan, setelah membaca firman Tuhan dan mengetahui bahwa Tuhan mengawasi umat manusia siang-malam, aku menyadari bahwa sesungguhnya kejadian itu adalah wujud perhatian dan perlindungan Tuhan. Selain itu, orang tuaku yang merawat dan membesarkanku juga adalah ketetapan Tuhan. Namun, aku tidak berterima kasih kepada Tuhan atas perhatian dan perlindungan-Nya ataupun melaksanakan tugas-tugasku dengan sepatutnya. Aku malah merasa berutang kepada ibuku karena tidak dapat merawatnya, dan hal itu bahkan memengaruhi tugas-tugasku. Khuusnya setelah mengetahui meninggalnya ibuku, aku bahkan merasa lebih bersalah dan tersiksa karena tidak dapat merawatnya di masa tua dan mengantar kepergiannya dengan layak. Aku bahkan menyesal meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugas-tugasku. Bukankah itu berarti aku sama sekali tidak berhati nurani? Aku telah terpengaruh dan dirusak oleh gagasan-gagasan budaya tradisional, dan aku benar-benar tidak dapat membedakan benar dan salah!
Belakangan, aku membaca dua bagian firman Tuhan yang mengajariku cara memperlakukan orang tuaku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ketika memperlakukan orang tuamu, apakah engkau memenuhi kewajibanmu sebagai anak untuk merawat mereka atau tidak, itu harus sepenuhnya didasarkan pada keadaan pribadimu dan pengaturan Tuhan. Bukankah ini menjelaskan masalahnya dengan sempurna? Ada beberapa orang yang ketika meninggalkan orang tuanya, merasa sangat berutang kepada mereka dan merasa tidak melakukan apa pun bagi orang tuanya. Namun, ketika dia kemudian tinggal bersama orang tuanya, dia sama sekali tidak berbakti kepada mereka, dan tidak memenuhi kewajiban apa pun. Apakah dia orang yang benar-benar berbakti? Ini hanyalah kata-kata kosong. Apa pun yang engkau lakukan, apa pun yang engkau pikirkan, atau apa pun yang engkau rencanakan, semua itu tidak penting. Hal yang penting adalah apakah engkau mampu memahami dan sungguh-sungguh percaya bahwa semua makhluk ciptaan berada di tangan Tuhan. Beberapa orang tua memiliki berkat itu dan ditakdirkan untuk dapat menikmati kebahagiaan keluarga dan kebahagiaan memiliki keluarga besar yang sejahtera. Ini adalah kedaulatan Tuhan dan berkat yang Tuhan berikan kepada mereka. Beberapa orang tua tidak ditakdirkan seperti ini; Tuhan tidak mengatur hal ini bagi mereka. Mereka tidak diberkati dengan kebahagiaan memiliki keluarga yang bahagia, atau dengan kebahagiaan memiliki anak-anak yang tinggal bersama mereka. Ini adalah pengaturan Tuhan dan manusia tidak dapat memaksakan hal ini. Apa pun yang terjadi, pada akhirnya dalam hal berbakti, setidaknya, orang harus memiliki pola pikir yang mau tunduk. Jika lingkungan mengizinkan, dan engkau memiliki sarana untuk melakukannya, engkau dapat menunjukkan baktimu kepada orang tuamu. Jika lingkungan tidak mengizinkan dan engkau tidak memiliki sarananya, jangan berusaha memaksakannya—disebut apakah sikap seperti ini? (Ketundukan.) Ini disebut ketundukan. Bagaimana engkau dapat memiliki ketundukan seperti ini? Atas dasar apa engkau harus tunduk? Engkau harus tunduk atas dasar bahwa semua hal ini diatur oleh Tuhan dan dikendalikan oleh Tuhan. Meskipun manusia mungkin ingin memilih, mereka tidak bisa, mereka tidak berhak untuk memilih, dan mereka harus tunduk. Setelah engkau merasa bahwa manusia sudah seharusnya tunduk dan bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Tuhan, bukankah hatimu akan merasa lebih tenang? (Ya.) Lalu, akankah hati nuranimu tetap merasa tertegur? Hati nuranimu tidak akan lagi terus-menerus tertegur, dan ide bahwa engkau belum berbakti kepada orang tuamu tidak akan lagi menguasai dirimu. Kadang kala, engkau mungkin masih memikirkannya karena hal ini adalah pemikiran atau naluri normal dalam kemanusiaan, dan tak seorang pun mampu menghindarinya" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Apa yang Dimaksud dengan Kenyataan Kebenaran?"). "Sebagai anak, engkau harus mengerti bahwa orang tuamu bukanlah krediturmu. Jika yang kaupedulikan hanyalah membalas kebaikan orang tuamu, ini akan menghalangi banyak tugas yang harus kaulaksanakan. Ada banyak hal yang harus kaulakukan dalam kehidupanmu, dan tugas-tugas yang harus kaulaksanakan ini adalah hal-hal yang harus dilakukan makhluk ciptaan serta telah dipercayakan kepadamu oleh Sang Pencipta, dan tidak ada kaitannya dengan membalas kebaikan orang tuamu. Menunjukkan bakti kepada orang tuamu, membalas budi dan kebaikan mereka. Semua ini tidak ada kaitannya dengan misi hidupmu. Dapat juga dikatakan bahwa tidaklah wajib bagimu untuk menunjukkan baktimu kepada orang tuamu, membalas budi, atau memenuhi tanggung jawabmu kepada mereka. Sederhananya, engkau dapat melakukannya dan memenuhi sedikit tanggung jawabmu jika keadaanmu memungkinkan; apabila tidak memungkinkan, engkau tidak perlu memaksakan diri untuk melakukannya. Jika engkau tidak dapat memenuhi tanggung jawabmu untuk berbakti kepada orang tuamu, itu bukanlah kesalahan yang sangat serius, ini hanya sedikit bertentangan dengan hati nurani serta keadilan moralmu, dan engkau akan dikecam beberapa orang; itu saja. Namun setidaknya, hal ini tidak bertentangan dengan kebenaran. Jika ini demi melaksanakan tugasmu dan mengikuti kehendak Tuhan, engkau bahkan akan diperkenan oleh Tuhan. Oleh karena itu, mengenai berbakti kepada orang tuamu, selama engkau memahami kebenaran dan memahami tuntutan Tuhan terhadap manusia, sekalipun kondisimu tidak memungkinkanmu untuk berbakti kepada orang tuamu, hati nuranimu tidak akan merasa tertuduh" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (17)"). Firman Tuhan secara jelas memaparkan cara untuk memperlakukan orang tua kita. Itu terutama bergantung pada kondisi dan kemampuan kita. Jika kondisi memungkinkan dan kemampuan kita memadai, kita dapat memenuhi tanggung jawab kita dan berbakti kepada orang tua kita. Namun, jika keadaan tidak memungkinkan, kita tidak perlu bersikeras melakukannya, dan kita harus tunduk kepada penataan dan pengaturan Tuhan. Ketidakmampuanku untuk merawat ibuku sejak dia sakit sampai meninggal tidak berarti bahwa aku tidak berperasaan atau tidak tahu berterima kasih. Aku ingin berbakti pada ibuku, tetapi, karena aku dianiaya dan diburu oleh Partai Komunis karena percaya kepada Tuhan di sebuah negara ateis, aku tidak dapat pulang ke rumah. Itu tidak menunjukkan bahwa aku tidak berhati nurani. Selain itu, aku mempunyai misiku sendiri dalam percaya kepada Tuhan, yakni dengan melaksanakan tugas-tugas makhluk ciptaan. Jika aku menyebabkan diriku sendiri tidak mampu melaksanakan tugas-tugasku karena hanya berfokus untuk menjadi anak berbakti bagi ibuku, itu berarti bahwa aku benar-benar tidak berhati nurani. Ketika menyadari ini, aku tidak lagi merasa dihukum oleh hati nurani sendiri, dan aku mampu melaksanakan tugas-tugasku dengan hati yang tenang. Firman Tuhanlah yang membalikkan cara pandangku yang keliru sehingga aku dapat memandang peristiwa meninggalnya ibuku secara tepat dan menemukan rasa kebebasan dalam hatiku.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Ketika usiaku tiga tahun, orang tuaku bercerai karena ketidakcocokan perasaan, dan ketika usiaku empat tahun, aku memiliki ibu tiri. Di...
Saat aku masih kecil, aku sering mendengar nenekku berkata, “Lihatlah anak dari keluarga si anu, sungguh orang yang tidak tahu berterima...
Aku dibesarkan dalam keluarga petani yang miskin. Orang tuaku mengadopsiku ketika mereka hampir berusia 40 tahun. Sejak aku cukup besar...
Oleh Saudari Cheng Xin, TiongkokPada tahun 2012, aku ditangkap polisi karena melaksanakan tugasku dan dihukum lima tahun penjara. Saat itu,...