Setelah Mengetahui Kematian Orang Tuaku
Orang tuaku selalu menyayangiku dengan sepenuh hati, sejak aku masih kecil, dan mereka bekerja keras untuk menyekolahkanku dan adik...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Di daerah kami, ayahku sangat dikenal sebagai anak yang sangat berbakti. Sejak kecil, saat di meja makan, aku sering mendengarnya berkata: "Bakti anak kepada orang tua adalah kebajikan yang harus diutamakan di atas segalanya. Dalam caramu berperilaku, kau harus mengutamakan berbakti kepada orang tua; ini hal mendasar. Lihatlah, anak domba yang baru lahir saja tahu harus berlutut saat menyusu, jadi siapa pun yang tidak berbakti kepada orang tuanya itu lebih rendah dari binatang! Waktu nenekmu sakit, malam demi malam, ayah selalu begadang menjaganya. Bahkan, demi merawat kakek dan nenekmu, ayah sama sekali tidak memikirkan untuk menikah sampai mereka berdua meninggal." Sejak kecil, hal itu telah menanamkan benih berbakti di hatiku, dan kuputuskan bahwa saat besar nanti, aku harus bersikap baik kepada orang tuaku, jika tidak, aku akan menjadi orang yang tidak berhati nurani. Ketika aku berusia tujuh belas tahun, ayahku ditangkap oleh PKT dan dijatuhi hukuman dua tahun kerja paksa karena imannya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Waktu itu, aku bekerja jauh dari rumah. Sesekali, aku mengunjungi ayahku di kamp kerja paksa dan membawakannya makanan, serta mengirimkan sisa gajiku ke rumah untuk membantu. Setelah menikah, setiap Tahun Baru Imlek, aku selalu membelikan orang tuaku pakaian, makanan istimewa, dan sebagainya. Kemudian, aku mulai percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku jauh dari rumah. Orang tuaku sangat mendukung, bahkan mereka memberiku uang. Aku merasa sangat tidak enak, dan berpikir, "Orang tuaku sudah membesarkanku, jadi seharusnya akulah yang merawat mereka sekarang. Mereka justru masih saja merawatku ...." Saat itu, aku selalu berharap PKT akan runtuh, supaya aku bisa pulang dan merawat orang tuaku dengan baik di masa tua mereka. Namun, penganiayaan PKT terhadap orang Kristen menjadi makin parah. Di daerah kami, keluarga kami sangat dikenal karena beriman kepada Tuhan, dan ayahku punya catatan kepolisian, jadi keluarga kami menjadi target utama PKT. Pada tahun 2016, aku melarikan diri ke negara demokrasi di luar negeri untuk percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku. Setiap kali ada waktu tenang, aku membayangkan orang tuaku mengantarku pergi saat aku meninggalkan Tiongkok. Ingatan itu selalu membuat hatiku perih. Aku merasa sangat bersalah karena tidak bisa berada di sana untuk merawat mereka dengan baik, apalagi mereka makin tua.
Pada musim panas tahun 2019, aku menulis surat kepada pemimpin gereja di kampung halamanku untuk menanyakan kabar keluargaku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima balasan yang mengatakan bahwa ayahku telah meninggal karena sakit beberapa tahun yang lalu. Aku benar-benar tidak bisa memercayainya. Air mataku mengalir deras tak tertahankan. Pemimpin tim membacakan beberapa bagian firman Tuhan tentang kedaulatan-Nya kepadaku, tetapi pikiranku dipenuhi kenangan akan perhatian ayahku yang penuh kasih di rumah, dan aku sama sekali tidak bisa mencerna persekutuannya. Saat aku keluar dari ruangan itu, langit tampak mendung, dan seolah-olah semua warna telah sirna dari dunia ini. Aku kembali ke tempatku dengan merasa seakan jiwaku telah meninggalkanku. Pikiranku dipenuhi dengan wajah ayahku yang penuh kasih, saat dia bertanya kepadaku, "Kau ingin makan apa? Bagaimana kabarmu di luar sana?" Namun, aku tidak akan pernah mendengar suaranya lagi. Makin kupikirkan, makin aku merasa menderita, dan aku tak kuasa menahan air mata lalu menangis tersedu-sedu. Pada hari-hari itu, kenangan akan kebaikan ayahku kepadaku terus membanjiri pikiranku. Waktu aku masih SD, Ayah sering memberiku uang saku untuk jajan, dan dia tidak pernah membiarkanku melakukan pekerjaan rumah. Setelah aku menikah, Ayah memberitakan Injil Tuhan Yang Mahakuasa kepadaku. Kami menyanyikan lagu pujian dan mempersekutukan pemahaman berdasarkan pengalaman kami bersama-sama. Setelah aku pergi dari rumah untuk melaksanakan tugasku, orang tuaku sangat mendukung dan sering membantuku secara finansial. Setiap kali aku pulang, mereka selalu membuatkan berbagai macam makanan baru yang lezat untukku dan sangat memanjakanku. Ayahku sangat baik kepadaku, dan dia telah tiada sebelum aku sempat membalas budinya. Aku merasa sangat bersalah dan terus menyalahkan diriku sendiri. Aku bahkan menyesal menikah terlalu awal, dan terlalu sibuk dengan tugasku sehingga tidak bersamanya untuk berbakti kepadanya. Sekarang dia telah tiada, dan hilang sudah kesempatanku untuk menebusnya. Hatiku dipenuhi dengan penyesalan, rasa bersalah, dan menyalahkan diri sendiri, dan aku tidak punya hati untuk melaksanakan tugasku. Waktu itu, kami sedang berlatih untuk sebuah sketsa. Seharusnya aku membuka pintu dan berteriak, "Paman, aku datang!" Namun, saat latihan, aku membuka pintu dan berteriak, "Ayah, aku pulang!" Seketika air mataku mengalir deras, dan kami tidak bisa melanjutkan latihan. Selama masa itu, meskipun aku melaksanakan tugasku setiap hari, hatiku terasa hampa. Aku tidak fokus dalam melakukan apa pun dan sama sekali tidak punya tenaga untuk berlatih. Aku menyadari keadaanku salah, jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, ayahku telah meninggal, dan aku merasa seolah-olah kehilangan pijakan. Hatiku sangat sedih. Aku tidak tahu bagaimana harus mengalami hal ini. Kumohon bimbinglah aku untuk memahami maksud-Mu."
Saat sedang mencari, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang membantuku lebih jelas dalam memandang kematian ayahku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Jika kelahiran seseorang ditentukan oleh kehidupannya sebelumnya, maka kematiannya menandakan akhir dari nasib tersebut. Jika kelahiran seseorang adalah permulaan misinya dalam hidup ini, maka kematiannya menandakan akhir dari misi tersebut. Karena Sang Pencipta telah menentukan serangkaian keadaan tertentu bagi kelahiran setiap orang, tentunya Dia juga telah mengatur serangkaian keadaan tertentu untuk kematiannya. Dengan kata lain, tak seorang pun dilahirkan secara kebetulan, tidak ada kematian seseorang yang tiba-tiba, dan baik kelahiran maupun kematian pasti berkaitan dengan kehidupan seseorang yang sebelumnya dan yang sekarang. Seperti apa keadaan kelahiran dan keadaan kematian mereka, itu berkaitan dengan penakdiran Sang Pencipta; ini adalah nasib seseorang, takdir seseorang. Karena ada banyak penjelasan bagi kelahiran seseorang, pasti juga ada berbagai keadaan khusus bagi kematian seseorang. Dengan demikian, muncullah di antara umat manusia berbagai rentang masa hidup serta cara dan waktu kematian yang berbeda-beda. Ada orang yang sehat dan kuat, tetapi mati di usia muda; ada yang lemah dan sakit-sakitan, tetapi hidup sampai berusia lanjut dan meninggal dunia dengan damai. Ada yang mengalami kematian yang tidak wajar, ada yang meninggal dengan wajar. Ada yang meninggal saat berada jauh dari rumah, ada juga yang menutup mata untuk terakhir kalinya dengan orang-orang terkasih di samping mereka. Ada orang yang mati selagi berada di udara, ada yang selagi di bawah bumi. Ada yang mati tenggelam, ada pula yang binasa di tengah bencana. Ada orang yang meninggal di kala pagi, ada yang di malam hari. ... Setiap orang menginginkan kelahiran yang termasyhur, kehidupan yang cemerlang, dan kematian yang megah, tetapi tak seorang pun mampu melampaui nasib mereka sendiri, tak seorang pun mampu lepas dari kedaulatan Sang Pencipta. Inilah nasib manusia" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa hidup dan mati setiap orang telah ditakdirkan Tuhan sejak lama; setiap orang memiliki nasibnya sendiri. Kepergian ayahku tidaklah mendadak. Waktunya sudah tiba. Ketika waktunya tiba, dia pun pergi. Ini adalah hukum yang ditakdirkan Tuhan yang tak bisa diubah siapa pun, dan aku takkan bisa mengubah fakta itu, sekalipun aku selalu berada di sisinya. Sebenarnya, bukan hanya ayahku. Sejak kita lahir, kita semua ditentukan untuk satu hari nanti meninggalkan dunia ini. Hanya saja waktu dan cara kepergian setiap orang itu berbeda. Ada yang meninggal karena usia tua, ada yang tenggelam, dan ada pula yang meninggal karena penyakit mendadak. Ini adalah hal-hal yang tak bisa diprediksi atau dicegah siapa pun. Semuanya adalah takdir Tuhan. Kita harus tunduk pada kedaulatan Tuhan dan menyikapi hidup dan mati dengan benar. Menyadari hal ini membuat hatiku sedikit lebih damai, dan aku bisa berangsur-angsur menenangkan hati serta melaksanakan tugasku.
Pada bulan Oktober 2022, aku mendengar dari seorang saudari di kampung halaman bahwa ibuku juga telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Hatiku hancur. Aku teringat pertanyaan ibuku saat aku pergi ke luar negeri, "Putriku sayang, mungkinkah Ibu takkan pernah melihatmu lagi sebelum Ibu meninggal?" Aku tak pernah menyangka kata-kata itu akan menjadi kenyataan. Meskipun aku telah membaca beberapa firman Tuhan tentang cara menyikapi kematian saat ayahku meninggal, dan aku bisa menerima kepergian mereka, perasaan bahwa "Anak ingin berbakti, tetapi orang tua telah tiada" menjadi makin kuat. Rasa bersalahku terhadap orang tuaku bagaikan simpul di hatiku yang tak bisa kuurai. Terutama, ketika mengingat bagaimana diriku tidak hadir untuk merawat mereka saat sakit, aku merasa sangat bersalah, meskipun aku tak bisa berbuat banyak. Mungkin hanya dengan menemani dan membacakan firman Tuhan saja sudah bisa sedikit meringankan kesepian dan rasa sakit mereka. Namun, mereka telah tiada sebelum aku sempat benar-benar merawat mereka dengan baik, dan sebelum meninggal, mereka tidak bisa melihatku untuk terakhir kalinya. Aku tidak bersama orang tuaku saat mereka meninggal, jadi kerabatku pasti akan menyebutku anak yang tak tahu diuntung dan mengatakan bahwa sia-sia saja kasih sayang orang tuaku padaku. Makin kupikirkan, makin aku merasa menderita. Satu demi satu kenangan terus terbayang di benakku seperti sebuah film. Waktu itu, kami sedang syuting sebuah film. Ada dua adegan sederhana di mana aku sama sekali tidak bisa mendalami karakterku, dan pada akhirnya, kami harus menghentikan syuting. Saudara-saudari melihat keadaanku salah dan mengingatkanku, "Adegan seperti ini seharusnya tidak sulit bagimu. Luangkan waktu untuk menyesuaikan keadaanmu, dan kita akan coba lagi nanti." Selama masa itu, kepergian orang tuaku menjadi hal yang paling menyakiti hatiku. Terkadang, melihat saudara-saudari yang seumuran dengan orang tuaku membuatku teringat pada mereka. Hatiku terasa perih, dan tanpa sadar, aku pun menangis. Aku bahkan memimpikan mereka dan terbangun di tengah malam sambil menangis. Lalu aku terjaga selama berjam-jam, wajah dan suara mereka terus bermunculan di benakku, dan aku merasa sangat berutang pada mereka. Penyesalan ini seperti batu berat yang membebani hatiku, sampai suatu hari, Tuhan mempersekutukan kebenaran tentang berbakti kepada orang tua, dan hatiku akhirnya menjadi terang.
Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada orang tua yang memiliki berkat itu dan ditakdirkan untuk dapat menikmati kebahagiaan keluarga dan rumah yang dipenuhi anak dan cucu. Ini adalah kedaulatan Tuhan dan berkat yang Tuhan berikan kepada mereka. Ada orang tua yang tidak memiliki takdir ini; Tuhan tidak mengatur hal ini bagi mereka. Mereka tidak diberkati dengan kenikmatan memiliki keluarga bahagia atau dikelilingi anak-anak mereka. Ini adalah penataan Tuhan, dan orang tidak dapat memaksakan hal ini. Apa pun yang terjadi, pada akhirnya dalam hal berbakti, setidaknya, orang harus memiliki pola pikir ketundukan. Jika lingkungan mengizinkan, dan engkau memiliki sarana untuk melakukannya, engkau dapat menunjukkan baktimu kepada orang tuamu. Jika lingkungan tidak mengizinkan dan engkau tidak memiliki sarananya, jangan berusaha memaksakannya. Inilah ketundukan itu. Bagaimana engkau dapat memiliki ketundukan ini? Didasarkan pada apakah ketundukan ini? Ini didasarkan pada fakta bahwa semua hal ini diatur oleh Tuhan dan berada di bawah kedaulatan Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Apa yang Dimaksud dengan Kenyataan Kebenaran?"). "Jika engkau benar-benar percaya bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan, maka engkau harus percaya bahwa masalah tentang seberapa banyak kesukaran yang akan mereka alami dan seberapa banyak kebahagiaan yang akan mereka nikmati seumur hidup mereka, itu pun berada di tangan Tuhan. Apakah engkau berbakti atau tidak, itu tidak akan mengubah apa pun. Penderitaan orang tuamu tidak akan berkurang karena engkau berbakti, dan penderitaan mereka tidak bertambah karena engkau tidak berbakti. Tuhan telah menentukan nasib mereka sejak lama, dan tak satupun dari hal ini akan berubah karena sikapmu terhadap mereka atau karena dalamnya perasaan di antaramu. Mereka memiliki nasib mereka sendiri. Mengenai apakah mereka miskin atau kaya di sepanjang hidup mereka, apakah segala sesuatunya berjalan dengan lancar bagi mereka atau tidak, atau seperti apakah kualitas hidup, manfaat materiel, status sosial, dan kondisi kehidupan yang akan mereka nikmati, tak ada satu pun dari hal-hal ini yang ada kaitannya denganmu. ... kebanyakan orang memilih meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugas mereka, di satu sisi, itu karena keadaan objektif yang lebih luas, yang mengharuskan mereka untuk meninggalkan orang tua mereka dan membuat mereka tidak bisa tinggal di sisi orang tua mereka untuk merawat dan menemani mereka. Itu bukanlah karena mereka dengan sukarela memilih untuk meninggalkan orang tua mereka. Ini adalah satu alasan objektif. Di sisi lain, secara subjektif, engkau pergi untuk melaksanakan tugasmu bukan untuk menghindari tanggung jawabmu terhadap orang tuamu, melainkan karena panggilan Tuhan. Demi bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan, menerima panggilan-Nya, dan melaksanakan tugas makhluk ciptaan, engkau tidak punya pilihan selain meninggalkan orang tuamu; engkau tidak bisa tinggal di sisi mereka untuk menemani dan merawat mereka. Engkau meninggalkan mereka bukan untuk menghindari tanggung jawab, bukan? Meninggalkan mereka untuk menghindari tanggung jawabmu dan harus meninggalkan mereka untuk menerima panggilan Tuhan serta melaksanakan tugasmu—bukankah natur kedua hal ini berbeda? (Ya.) Di dalam hatimu, engkau benar-benar memiliki kepedulian terhadap orang tuamu dan merindukan mereka; perasaanmu tidak kosong. Jika keadaan objektif memungkinkan, dan engkau dapat tinggal di sisi mereka sambil tetap melaksanakan tugasmu, engkau akan bersedia menemani mereka, merawat mereka secara teratur, dan memenuhi tanggung jawabmu. Namun, karena keadaan objektif, engkau harus meninggalkan mereka dan tidak bisa tinggal di sisi mereka. Bukan berarti engkau tidak mau memenuhi tanggung jawabmu sebagai anak mereka, melainkan karena engkau tidak bisa. Bukankah hal ini pada dasarnya berbeda? (Ya.) Jika engkau meninggalkan rumah agar tidak perlu berbakti dan memenuhi tanggung jawabmu, itu berarti engkau tidak berbakti dan tidak memiliki kemanusiaan. Orang tuamu telah membesarkanmu, tetapi engkau ingin secepat mungkin melebarkan sayapmu dan hidup mandiri. Engkau tidak ingin bertemu dengan orang tuamu dan sama sekali tidak peduli saat mendengar orang tuamu mengalami kesulitan. Sekalipun engkau memiliki sarana untuk membantu mereka, engkau tidak melakukannya. Engkau hanya berpura-pura tidak mendengar dan membiarkan orang lain mengatakan apa pun yang ingin mereka katakan tentangmu—engkau sama sekali tidak mau memenuhi tanggung jawabmu. Ini berarti engkau tidak berbakti. Namun, hal inikah yang terjadi saat ini? (Tidak.) Banyak orang telah meninggalkan kabupaten, kota, provinsi, atau bahkan negara mereka untuk melaksanakan tugas mereka; mereka sudah berada jauh dari kampung halaman mereka. Selain itu, tidaklah nyaman bagi mereka untuk menghubungi keluarga mereka karena berbagai alasan. Sesekali, mereka menanyakan keadaan terkini orang tua mereka dari orang-orang yang berasal dari kampung halaman yang sama dan merasa lega setelah mendengar orang tua mereka sehat dan baik-baik saja. Sebenarnya, engkau bukannya tidak berbakti. Engkau bukannya telah mencapai titik tidak memiliki kemanusiaan, di mana engkau bahkan tidak ingin memedulikan orang tuamu atau memenuhi tanggung jawabmu terhadap mereka. Karena berbagai alasan objektiflah, maka engkau tidak mampu memenuhi tanggung jawabmu—ini bukan berarti engkau tidak berbakti" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (16)"). Firman Tuhan membantuku memahami bahwa bisa tidaknya orang tua menikmati bakti anak-anaknya, itu semua adalah takdir Tuhan. Setiap orang berharap anak-anak mereka ada di sisi mereka dan menikmati masa tua mereka dikelilingi oleh anak dan cucu. Namun, ada orang tua yang memang dapat menikmati kebersamaan dan perhatian anak-anaknya, serta didampingi mereka saat meninggal, sementara yang lain, anak-anaknya tidak bisa hadir untuk merawat mereka karena berbagai alasan seperti pekerjaan atau pernikahan, dan orang tua itu menjalani masa tua mereka sendirian. Ini adalah takdir yang Tuhan atur untuk setiap orang. Tak seorang pun dapat memaksakannya, dan tak seorang pun dapat mengubahnya. Sudah menjadi takdir orang tuaku bahwa aku tidak dapat hadir untuk merawat mereka sebelum mereka meninggal, dan aku harus tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Namun, karena aku tidak memahami kebenaran tentang hal ini, aku terus-menerus dipenuhi dengan penyesalan dan kesedihan karena tidak berada di sisi mereka. Aku bahkan membayangkan andai bisa memutar waktu, aku akan tetap berada di sisi mereka dan tidak pernah pergi. Dahulu kukira jika aku hadir untuk merawat saat mereka sakit parah dan meninggal, aku mungkin bisa mengurangi rasa sakit mereka. Betapa bodohnya aku! Aku hanyalah makhluk ciptaan; aku sama sekali tidak punya kuasa untuk mengubah takdir orang tuaku. Ada orang tua yang menikmati perhatian anak-anak mereka tetapi masih menderita penyakit yang berkepanjangan, minum obat setiap hari, dan hidup dalam penderitaan. Orang tua lain sehat, dapat merawat diri sendiri, dan hidup cukup baik meskipun tidak bersama anak-anak mereka. Aku teringat nenekku. Ayahku merawatnya dengan penuh perhatian, tetapi itu sama sekali tidak mengurangi rasa sakit akibat penyakitnya, dan pada akhirnya dia tetap meninggal karena penyakitnya. Lalu aku teringat pada penyakit yang diderita orang tuaku dan cara mereka meninggal—semuanya telah ditakdirkan Tuhan sejak lama. Sekalipun aku berada di sisi mereka, penderitaan mereka tidak akan berkurang sedikit pun, dan perawatanku tidak akan memperpanjang hidup mereka sedetik pun. Pada saat yang sama, aku juga memahami perbedaan antara berbakti dan tidak berbakti: Jika keadaan memungkinkan, tetapi anak-anak menghindari tanggung jawab dan mengabaikan orang tuanya saat mereka sakit atau dalam kesulitan, itulah yang disebut tidak berbakti. Namun, jika kau tidak dapat merawat orang tuamu karena keadaan yang memang di luar kendalimu, itu bukan berarti tidak memiliki kemanusiaan atau tidak berbakti. Saat aku di rumah, aku melakukan apa yang kubisa untuk meringankan beban orang tuaku. Bukannya aku tidak ingin berbakti; aku harus melarikan diri ke luar negeri karena penganiayaan PKT. Ini karena keadaan yang memang memaksa; bukan karena aku tidak berbakti. Memahami hal ini membuat hatiku menjadi jauh lebih terang, aku pun berhenti menyalahkan diriku dan merasa sedih karena tidak merawat orang tuaku.
Kemudian, aku merenung, "Mengapa aku selalu merasa sangat berutang pada orang tuaku?" Dalam pencarianku, aku membaca firman Tuhan: "Dari luar, tampaknya orang tuamulah yang melahirkanmu, dan orang tuamulah yang memberi kehidupan jasmanimu. Namun, dari sudut pandang Tuhan, dan dari esensi hal ini, kehidupan jasmanimu tidak diberikan kepadamu oleh orang tuamu, karena manusia tidak dapat menciptakan nyawa. Sederhananya, tak seorang pun mampu menciptakan napas manusia. Alasan mengapa daging setiap manusia dapat menjadi manusia adalah karena mereka memiliki napas tersebut. Nyawa manusia terletak pada napasnya, dan napas menandakan bahwa orang itu hidup. Manusia memiliki napas dan nyawa ini, dan sumber serta asal mula mereka bukanlah orang tua mereka. Hanya saja, cara manusia dihasilkan adalah dengan orang tua yang melahirkan mereka—pada dasarnya, ini adalah pengaturan Tuhan, penetapan Tuhan. Oleh karena itu, orang tuamu bukanlah penguasa atas hidupmu, Penguasa atas hidupmu adalah Tuhan. Tuhan menciptakan umat manusia, Dia menciptakan nyawa umat manusia, dan Dia memberikan napas kehidupan kepada umat manusia, yang merupakan asal mula nyawa manusia. Oleh karena itu, bukankah kalimat 'Orang tuamu bukanlah penguasa atas hidupmu' mudah dipahami? Napasmu tidak diberikan oleh orang tuamu, terlebih lagi keberlangsungannya bukanlah diberikan oleh orang tuamu. Tuhan memelihara dan berdaulat atas setiap hari dalam hidupmu. Orang tuamu tidak dapat memutuskan bagaimana kehidupanmu setiap harinya, apakah setiap harinya bahagia dan berjalan lancar, siapa yang kautemui setiap harinya, atau di lingkungan apa engkau hidup setiap harinya. Hanya saja Tuhan menjagamu melalui orang tuamu—orang tuamu hanyalah orang-orang yang Tuhan utus untuk menjagamu. Ketika engkau dilahirkan, bukan orang tua yang memberimu nyawamu, jadi apakah kehidupanmu sampai sekarang diberikan oleh orang tuamu? Tetap saja bukan. Asal mula nyawamu tetaplah dari Tuhan, bukan orang tuamu" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (17)"). "Tuhan memilih sebuah keluarga untukmu; latar belakang keluargamu, orang tuamu, leluhurmu—semua ini, Tuhan memutuskannya sebelumnya. Oleh karena itu, Tuhan tidak mengambil keputusan-keputusan ini secara mendadak; sebaliknya, Dia memulai pekerjaan ini sejak lama. Setelah Tuhan memilih sebuah keluarga untukmu, Dia kemudian memilih tanggal engkau akan dilahirkan. Kemudian, Tuhan mengawasimu saat engkau dilahirkan dan datang ke dunia dengan menangis. Dia mengawasi kedatanganmu, mengawasi saat engkau belajar mengoceh, mengawasi ketika engkau tersandung saat belajar berjalan, selangkah demi selangkah. Sekarang engkau dapat berlari, melompat, berbicara, dan mengungkapkan perasaanmu .... Sementara manusia bertumbuh dewasa, Iblis menatap mereka masing-masing lekat-lekat, bagaikan harimau yang mengintai mangsanya. Namun, dalam melakukan pekerjaan-Nya, Tuhan tidak pernah tunduk pada batasan yang timbul dari orang, peristiwa atau hal apa pun, dari ruang atau waktu; Dia melakukan apa yang harus Dia lakukan dan apa yang Dia maksudkan. Selama proses bertumbuh dewasa, engkau mungkin mengalami banyak hal yang tidak diinginkan, termasuk penyakit dan rintangan di jalan. Namun, saat engkau menempuh jalan ini, hidupmu dan masa depanmu berada dalam pemeliharaan ketat Tuhan. Tuhan memberi jaminan sejati untuk seluruh hidupmu, karena Dia berada tepat di sisimu, melindungimu dan menjagamu" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). "Semua yang Tuhan lakukan bagi setiap individu tidak diragukan lagi; Dia memimpin setiap orang dengan menggandengnya, menjagamu setiap saat dan tidak pernah sekali pun meninggalkan sisimu. Ketika orang bertumbuh dalam lingkungan semacam ini dan dengan latar belakang semacam ini, dapatkah kita mengatakan bahwa orang-orang sebenarnya bertumbuh di telapak tangan Tuhan? (Ya.)" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). Alasan utama aku merasa berutang pada orang tuaku adalah karena aku percaya mereka memberiku kehidupan, membesarkanku, dan merawatku, jadi aku harus berbakti kepada mereka. Aku mengira jika tidak melakukannya, artinya aku menyia-nyiakan kebaikan mereka dalam membesarkanku dan menjadi anak yang tak tahu diuntung. Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa hidupku berasal dari Tuhan. Tuhan menyediakan sinar matahari, hujan, udara, dan napas kehidupan bagi setiap orang. Jika Tuhan mengambil salah satu di antaranya, aku tidak akan bisa bertahan hidup. Dan bahkan sebelum aku lahir ke dunia ini, Tuhan telah memilihkan orang tua dan keluargaku, serta menakdirkan lingkungan tempatku akan bertumbuh. Dari masa kanak-kanak hingga dewasa, sampai aku menikah dan memiliki anak, Tuhan selalu ada di sisiku, menjagaku di setiap langkah. Orang tuaku hanya melahirkanku dan memenuhi tanggung jawab mereka untuk merawatku, tetapi mereka tidak punya kendali atas hidupku. Misalnya, waktu aku berumur delapan belas tahun, akibat tidak tahu cara membakar batu bara, aku keracunan karbon monoksida dan pingsan. Orang tuaku sedang tidak ada di rumah. Seorang tetanggalah yang membawaku keluar, dan saat ambulans tiba, aku sudah mulai sadar. Jika bukan karena pemeliharaan dan perlindungan Tuhan, aku pasti sudah lama mati. Menyadari hal ini membuat hatiku menjadi terang. Semua yang kumiliki berasal dari Tuhan, dan kasih Tuhanlah yang paling harus kubalas. Aku juga menyadari akar penyebab penderitaanku adalah karena aku belum bisa melihat dengan jelas hakikat kasih sayang keluarga daging. Sebenarnya, di alam roh, orang tua dan anak adalah individu yang terpisah dan tidak memiliki hubungan. Hanya saja Tuhan tidak ingin manusia hidup kesepian di dunia ini, jadi Dia mengatur keluarga, orang tua, dan anak-anak untuk kita. Ketika seseorang meninggal, hubungan daging itu pun hilang. Dan aku bukan sekadar putri orang tuaku; aku adalah makhluk ciptaan. Melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan adalah tanggung jawab dan misiku. Memahami kebenaran ini membuat hatiku merasa jauh lebih lega.
Kemudian, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan memperoleh beberapa kemampuan membedakan pemikiran budaya tradisional bahwa "Bakti anak kepada orang tua adalah kebajikan yang harus diutamakan di atas segalanyaa". Tuhan berfirman: "Karena dipengaruhi oleh budaya tradisional Tiongkok, gagasan tradisional di benak orang Tionghoa adalah mereka yakin bahwa orang haruslah berbakti kepada orang tua mereka, dan siapa pun yang tidak berbakti adalah anak yang memberontak. Ide-ide ini telah ditanamkan dalam diri orang sejak masa kanak-kanak, dan diajarkan di hampir setiap rumah tangga, serta di setiap sekolah dan masyarakat pada umumnya. Orang yang pikirannya dipenuhi hal-hal seperti itu akan beranggapan, 'Berbakti kepada orang tua lebih penting dari apa pun. Jika aku tidak berbakti, aku tidak akan menjadi orang yang baik; aku akan menjadi anak yang memberontak, aku akan dikutuk oleh opini publik. Aku akan menjadi orang yang tak punya hati nurani.' Benarkah pandangan ini? Orang-orang telah melihat begitu banyak kebenaran yang Tuhan ungkapkan—pernahkah Tuhan menuntut orang untuk berbakti kepada orang tua mereka? Apakah ini adalah salah satu kebenaran yang harus dipahami oleh orang yang percaya kepada Tuhan? Tidak. Tuhan hanya telah mempersekutukan beberapa prinsip. ... Iblis menggunakan budaya tradisional ini dan gagasan moralitas ini untuk mengikat hati dan pikiranmu, membuat pandanganmu tentang segala sesuatu menjadi tak masuk akal dan membuatmu menyangkal serta melawan Tuhan di dalam hatimu, sehingga membuatmu tidak mampu menerima firman Tuhan; engkau telah dirasuki oleh hal-hal dari Iblis ini, dan dibuat tidak mampu menerima firman Tuhan. Jika engkau ingin menerapkan firman Tuhan, hal-hal ini akan bergejolak dan menyebabkan gangguan di dalam dirimu, dan membuatmu menentang kebenaran dan tuntutan Tuhan. Sekalipun engkau ingin membebaskan dirimu dari kuk budaya tradisional, engkau tidak akan berdaya untuk melakukannya. Setelah berjuang untuk sementara waktu, engkau akan berkompromi. Engkau akan percaya bahwa gagasan moralitas tradisional itu benar dan sesuai dengan kebenaran, dan dengan demikian engkau akan menolak atau meragukan firman Tuhan, tidak menerima firman Tuhan sebagai kebenaran, dan tidak peduli apakah engkau dapat memperoleh keselamatan, merasa bahwa, bagaimanapun juga, engkau masih hidup di dunia ini, dan hanya dapat memiliki jalan ke depan dalam hidup dengan mengandalkan hal-hal ini. Karena tidak mampu menanggung kecaman dari opini publik, engkau akan memilih untuk melepaskan kebenaran dan firman Tuhan, dan sebaliknya berpaut pada gagasan moralitas dari budaya tradisional, beralih ke sisi Iblis dan berpihak pada Iblis, lebih memilih untuk menyinggung Tuhan daripada menerima kebenaran. Katakan kepada-Ku, bukankah manusia itu menyedihkan? Bukankah manusia membutuhkan keselamatan dari Tuhan? Ada orang-orang yang telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, tetapi masih tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang hal berbakti kepada orang tua. Dengan cara apa pun kebenaran dipersekutukan, mereka tidak dapat memahaminya. Mereka tidak pernah bisa mengatasi hubungan duniawi ini; mereka tidak memiliki keberanian ataupun iman, apalagi tekad, jadi mereka tidak mampu mengasihi Tuhan dan tunduk kepada-Nya" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengenali Pandangannya Sendiri yang Salah, Barulah Orang Dapat Benar-Benar Berubah"). Melalui penyingkapan firman Tuhan, aku menyadari bahwa alasan lain aku selalu merasa berutang pada orang tuaku adalah karena aku telah menjadikan pemikiran seperti "Bakti anak kepada orang tua adalah kebajikan yang harus diutamakan di atas segalanya" dan "Orang yang tidak berbakti lebih rendah dari binatang" sebagai prinsip tentang cara berperilakuku. Kukira hanya mereka yang berbakti kepada orang tuanyalah yang memiliki hati nurani dan kemanusiaan, tetapi pandangan ini sama sekali tidak sejalan dengan kebenaran. Aku teringat pada para orang kudus sepanjang sejarah yang meninggalkan orang tua dan keluarga mereka untuk mengikut Tuhan dan menyebarluaskan Injil-Nya. Apa yang mereka lakukan adalah perbuatan manusia yang paling benar, dan diperkenan serta diingat oleh Tuhan. Namun, aku telah dirusak dan dibentuk oleh budaya tradisional, dan menganggap berbakti kepada orang tua sebagai yang terpenting di atas segalanya. Pergi ke luar negeri untuk melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan dan mengambil bagian dalam menyebarkan Injil Kerajaan jelas merupakan hal yang positif, tetapi karena tidak merawat orang tuaku, aku menganggap diriku anak tak tahu diuntung dan tidak berbakti. Hati nuraniku sering menegurku, dan aku bahkan menyesal meninggalkan rumah terlalu awal untuk melaksanakan tugasku. Aku melihat bagaimana gagasan budaya tradisional itu telah sepenuhnya memutarbalikkan pemahamanku tentang yang benar dan yang salah. Aku adalah makhluk ciptaan, dan bagiku, melaksanakan tugas dengan baik adalah sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan. Namun, setelah mendengar orang tuaku meninggal, aku terjebak oleh rasa bersalah. Aku tidak fokus dalam tugasku, tidak bisa mendalami karakter saat berakting, dan sama sekali tidak menyalahkan diri sendiri karena telah menunda kemajuan film tersebut. Itulah yang benar-benar disebut tidak punya hati nurani! Sebenarnya, kepergian orang tuaku adalah hal yang sangat wajar. Semua orang mengalami kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian. Namun, aku terjebak dalam keadaan putus asa dan tidak bisa melepaskan diri, yang merupakan keluhan diam-diam terhadap Tuhan. Baru pada saat itulah aku melihat dengan jelas bahwa budaya tradisional adalah musuh Tuhan. Itu adalah racun. Hidup berdasarkan hal itu hanya akan membuatku makin memberontak dan menentang Tuhan. Menyadari hal ini, aku melihat betapa berharganya kebenaran-kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan ini. Hanya kebenaran yang dapat membebaskanku dari belenggu dan bahaya Iblis. Setelah itu, aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku telah dirusak begitu dalam oleh Iblis. Aku telah diikat dan dibelenggu oleh pemikiran salah bahwa 'Bakti anak kepada orang tua adalah kebajikan yang harus diutamakan di atas segalanya'. Aku telah terjebak dalam keadaan merasa bersalah terhadap orang tuaku, sehingga tidak mampu melaksanakan tugasku dengan sungguh-sungguh. Sekarang aku mengerti bahwa ini adalah salah satu tipu muslihat Iblis untuk merusak manusia. Mulai sekarang, aku ingin memandang orang dan segala sesuatu menurut firman-Mu, mencari kebenaran dalam segala hal, dan berpegang teguh pada tugasku."
Sekarang, kepergian orang tuaku tidak memengaruhiku lagi. Aku mencurahkan seluruh waktu dan tenagaku ke dalam tugasku. Aku merenungkan setiap peran yang kumainkan dengan saksama dan tidak lagi membiarkan keadaan pribadiku atau perasaanku menghalangi tugasku. Meskipun mengalami kepergian orang tuaku sangatlah menyakitkan, aku akhirnya memahami beberapa kebenaran. Bagiku, ini adalah kasih karunia dan keselamatan Tuhan. Syukur kepada Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Orang tuaku selalu menyayangiku dengan sepenuh hati, sejak aku masih kecil, dan mereka bekerja keras untuk menyekolahkanku dan adik...
Oleh Yang Chen, TiongkokPada Juni 2023, aku harus meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasku karena kebutuhan pekerjaan penginjilan....
Oleh Saudari Cheng Xin, TiongkokPada tahun 2012, aku ditangkap polisi karena melaksanakan tugasku dan dihukum lima tahun penjara. Saat itu,...
Oleh Maude, Amerika SerikatAku lahir di keluarga pedesaan biasa; ayahku bekerja di luar sepanjang tahun, dan jarang pulang. Mamaku...