Laporan yang Keliru

28 Juni 2022

Oleh Jeffrey, Australia

Selama lebih dari satu tahun, Tuhan telah mempersekutukan kebenaran tentang mengenali pemimpin palsu. Di pertemuan, aku sering mempersekutukan pemahaman dan pengetahuanku sendiri tentang hal itu, tetapi dalam kehidupan nyata, aku tidak mampu mengenali pemimpin palsu. Ketika melihat sedikit saja perwujudan seorang pemimpin yang tidak melakukan pekerjaan nyata, aku secara membabi buta menggolongkannya sebagai pemimpin palsu. Akibatnya, aku bukan saja gagal melindungi pekerjaan gereja, aku juga hampir menimbulkan kekacauan pada pekerjaan. Kegagalan ini memberiku pelajaran yang membuatku mulai mampu sedikit membedakan pemimpin palsu.

Aku menangani urusan umum di gereja. Aku bertanggung jawab mengelola barang dan peralatan tertentu di gereja. Selama melaksanakan tugasku, aku mendapati ada saudara-saudari yang memperlakukan barang-barang itu dengan tidak semestinya. Ini menyebabkan kesulitan dalam pengelolaan. Aku menemui pemimpin, Saudari Megan, dan melaporkan masalah ini kepadanya. Aku juga mengingatkannya bahwa dia bisa mengutarakan masalah ini kepada yang lain dan mempersekutukannya di pertemuan. Setelah paham, dia setuju untuk melakukannya. Setelah itu, kutunggu Megan datang ke pertemuan, tetapi setelah menunggu lama, aku tidak pernah melihatnya di pertemuan dan dia tidak pernah menindaklanjuti masalah tersebut, jadi aku mulai terus mengamati pemimpin itu. Kupikir, "Ini sudah lama. Mengapa dia tidak menindaklanjuti tugas ini? Aku sudah lebih dari sekali memberitahunya tentang masalah ini, tetapi belum pernah diselesaikannya. Tuhan telah mempersekutukan aspek kebenaran tentang cara mengenali pemimpin palsu. Jika kau tidak menindaklanjuti dan menyelesaikan masalah, berarti kau adalah pemimpin palsu. Aku harus melaporkan masalah ini kepada atasanmu. Dengan demikian, pemimpin di atasmu akan merasa bahwa aku memiliki rasa keadilan. Mereka bahkan akan mengagumiku!" Namun pada saat itu, aku hanya memikirkannya dan tidak bertindak. Beberapa waktu kemudian, kontrak sewa tempat penyimpanan buku-buku firman Tuhan kami akan berakhir sebulan lagi, sehingga buku-buku itu perlu dipindahkan ke tempat lain sesegera mungkin. Karena ada begitu banyak buku dan setiap kotaknya berat, akan sulit bagiku untuk memindahkannya seorang diri, dan akan memakan waktu lama. Aku merasa sedikit cemas, jadi kutanya pemimpin itu apakah dia bisa mencari beberapa orang untuk membantu. Pemimpin itu selalu berkata bahwa dia sedang mencari orang-orangnya, tetapi setelah waktu yang lama, tak seorang pun datang. Akhirnya, dua saudara datang dan sekali membantuku, tetapi mereka lalu tergesa-gesa pergi. Situasi ini membuatku sangat frustrasi. Kupikir, "Mengapa pemimpin tidak bisa menemukan lebih banyak orang untuk membantu? Mengapa dia tidak menindaklanjuti pekerjaan ini? Mengapa dia tidak datang ke sini, melihat betapa banyaknya pekerjaan yang harus kulakukan?" Makin memikirkannya, makin aku marah, dan aku tidak mau lagi melaporkan masalah kepada pemimpin itu, karena sepertinya tidak ada gunanya. Selama waktu itu, aku tidak ingin bertemu pemimpin itu dan tidak ingin bicara dengannya ketika bertemu dengannya. Kupikir, "Jika kau tidak mau mencarikan orang, ya sudah. Aku akan menyelesaikan semuanya seorang diri. Bagaimanapun juga, aku akan mengingat semua perilakumu ini, dan ketika saatnya tiba, aku akan laporkan hal ini kepada atasanmu." Kemudian, aku teringat satu bagian firman Tuhan tentang cara mengenali pemimpin palsu: "Adapun masalah dan kesulitan yang muncul dalam pekerjaan gereja, pemimpin palsu juga tidak peduli atau hanya melontarkan sedikit doktrin dan mengulang beberapa slogan untuk mengabaikan. Dalam semua bagian pekerjaan, pemimpin palsu tidak pernah terlihat datang langsung ke lokasi pekerjaan, juga tidak berusaha memahami dan menindaklanjuti pekerjaan. Mereka juga tidak pernah mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah di sana, apalagi secara langsung mengarahkan dan mengawasi pekerjaan untuk mencegah terjadinya kesalahan dan penyimpangan di dalamnya. Ini adalah perwujudan paling jelas dari cara kerja pemimpin palsu yang asal-asalan" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (4)"). Kupikir, "Perilaku pemimpinku sama seperti yang firman Tuhan jelaskan. Jika dia tidak mau menyelidiki atau menyelesaikan masalah dalam pekerjaanku, bukankah dia adalah pemimpin palsu?" Namun, aku juga teringat bahwa aku tidak mengomunikasikan masalah yang kulihat ini dengan pemimpin, dan aku juga tidak meminta beberapa orang yang memahami kebenaran untuk memastikannya, jadi mungkin aku tidak boleh dengan begitu gegabah menggolongkannya sebagai pemimpin palsu. Kupikir, "Bagaimana jika aku terlebih dahulu mencari lebih banyak prinsip kebenaran mengenai hal ini, lalu mendiskusikannya dengan beberapa saudara-saudari yang memahami kebenaran sebelum mengambil keputusan?" Namun, perilaku pemimpin itu persis seperti yang firman Tuhan jelaskan, jadi masih adakah yang harus dicari mengenai hal ini? Aku tidak yakin apakah pandanganku benar dan tidak ingin salah menuduhnya jadi aku bingung harus melakukan apa. Pikiranku penuh dengan gambaran tentang bagaimana pemimpin itu tidak menyelesaikan masalahku. Jadi demikianlah, aku tidak lagi mencari kebenaran, tidak memikirkan latar belakang persekutuan yang Tuhan sampaikan, dan tidak akurat dalam memahami firman Tuhan. Aku memakai satu kalimat, satu perilaku, sebagai bukti untuk menuduh Megan, dan yakin bahwa dia adalah pemimpin palsu. Setelah itu, aku mendengar beberapa saudari yang menangani urusan umum berkata bahwa Megan juga sangat sering tidak menindaklanjuti pekerjaan mereka, dan bahwa pekerjaan mereka terkadang menjadi tertunda. Saat mendengar ini, aku merasa makin yakin, "Megan tidak melakukan pekerjaan nyata dan tidak menindaklanjuti pekerjaan, jadi bukankah itu memperlihatkan bahwa dia adalah pemimpin palsu? Baru-baru ini di pertemuan, kami telah mempersekutukan aspek-aspek kebenaran tentang cara mengenali pemimpin palsu. Tak terbayangkan aku menemukan seorang pemimpin palsu. Aku harus memiliki rasa keadilan, menjunjung tinggi pekerjaan gereja, dan menyingkapkan pemimpin palsu ini." Namun, saat hendak melaporkan masalah ini kepada atasan Megan, aku merasa gelisah. Aku belum mendiskusikan masalah ini dengannya, dan aku juga tidak mencari atau mendiskusikan hal ini dengan mereka yang memahami kebenaran, jadi bukankah ini terlalu membabi buta dan sembarangan? Namun, pada saat ini aku mendengar bahwa atasan Megan telah menemuinya untuk berbicara dengannya, dan telah bertanya tentang pelaksanaan tugasnya kepada semua pemimpin tim. Saat mendengar hal ini, aku tidak bisa menenangkan diri, "Siapa sangka atasan Megan sudah tahu bahwa ada masalah dengannya? Sekarang hampir dapat dipastikan bahwa dia adalah pemimpin palsu." Kupikir, "Aku harus langsung melaporkan masalah Megan kepada atasannya. Aku tidak perlu mencari lebih banyak lagi. Jika tidak, setelah atasan Megan menyelesaikan penyelidikan mereka dan memberhentikannya, ketika mereka membicarakan siapa yang mampu mengenali dirinya, siapa yang menemukan masalahnya, dan siapa yang memiliki rasa keadilan, dan melaporkannya, namaku tidak akan disebut. Lalu bagaimana aku dapat menunjukkan bahwa aku memiliki pengenalan? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!" Dengan penuh semangat, aku membuat janji dengan atasan Megan, yaitu Saudara Sean, dan melaporkan masalah Megan kepadanya. Aku berkata, "Sebagai pemimpin, Megan tidak menindaklanjuti pekerjaanku, dan dia juga tidak bertanya tentang masalahku dalam pekerjaan. Setiap kali kuberitahukan suatu masalah kepadanya, dia tidak menyelesaikannya." Aku juga menunjukkan bagian firman Tuhan tentang cara mengenali pemimpin palsu. Kukatakan bahwa perilaku pemimpin palsu yang firman Tuhan singkapkan sama seperti perilakunya, dan bahwa kupikir dia adalah pemimpin palsu. Setelah aku selesai, dia berkata, "Kami sudah menyelidikinya, dan Megan memang memiliki beberapa masalah. Ada pekerjaan tertentu yang tidak ditindaklanjuti dengan semestinya, dan dia bersikap asal-asalan dalam tugasnya. Dia perlu dipangkas dan dibantu untuk merenungkan dirinya serta memetik pelajaran dari hal ini. Namun, kami juga mendapati bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini, Megan kebanyakan menindaklanjuti pekerjaan penyiraman karena ada banyak anggota baru yang bergabung dengan gereja baru-baru ini. Ada beberapa pendeta agamawi yang telah menyebabkan gangguan serius, dan para anggota baru ini sangat membutuhkan penyiraman agar mereka mampu membangun dasar yang kuat di jalan yang benar. Saat ini, ini adalah pekerjaan yang paling penting dan paling mendesak. Megan telah mengerahkan seluruh energinya untuk melakukan pekerjaan ini. Urusan umum tidak semendesak pekerjaan ini. Selama itu tak menghambat segala sesuatunya, bukan masalah besar jika dia agak lambat dalam menindaklanjutinya untuk saat ini. Karena semua pekerjaan ini datang pada waktu bersamaan, dan kita kekurangan staf, dia harus membuat prioritas, jadi urusan umum harus ditangguhkan untuk saat ini. Inilah alasan Megan tidak menindaklanjuti pekerjaanmu tepat pada waktunya, tetapi dia hanya memutuskan untuk bertindak seperti ini setelah mendiskusikannya dengan para rekan sekerjanya. Selain itu, Megan terbiasa hanya bertanggung jawab atas satu pekerjaan sebelumnya. Dia pemimpin baru, jadi sulit baginya untuk bertanggung jawab atas begitu banyak pekerjaan. Ada beberapa hal yang tak bisa dia tindaklanjuti, jadi dia butuh bantuan dan komunikasi kita." Sean bahkan membagikan prinsip-prinsip yang relevan mengenai hal ini. Setelah membaca prinsip-prinsip ini, barulah aku menyadari bahwa pekerjaan penting haruslah diprioritaskan terlebih dahulu. Pada saat ini, pekerjaan penyiraman adalah prioritas. Mereka bisa melakukan pekerjaan lain asalkan pekerjaan penyiraman tidak terpengaruh. Jika pekerjaan penyiraman tertunda, bukankah itu berarti mengorbankan hal yang penting untuk hal yang tidak penting? Meskipun Megan tidak menindaklanjuti beberapa pekerjaan dengan semestinya, dia memprioritaskan pekerjaan yang lebih penting, bukannya tidak melakukan pekerjaan nyata. Namun, aku tidak pernah berusaha memahami mengapa dia tidak menindaklanjuti pekerjaan, atau mengapa dia tidak menyelesaikan masalah yang kusampaikan. Sebaliknya, aku malah makin berprasangka terhadapnya, terus mengamatinya, menganggapnya tidak melakukan pekerjaan nyata, dan langsung menggolongkannya sebagai pemimpin palsu. Bukankah aku terlalu sembarangan? Saat inilah, Sean bertanya kepadaku, "Jika kita memberhentikan Megan sekarang, bisakah gereja menemukan seseorang untuk segera menggantikan dia? Bisakah pekerjaan berlanjut?" Aku memikirkannya dan merasa Megan masih sesuai untuk terus menjadi pemimpin. Setelah berbicara dengan Sean, aku merasa sangat sedih. Awalnya, kupikir aku memiliki rasa keadilan, dan bahkan menemukan firman Tuhan yang sesuai dengan situasinya, serta melaporkan masalah Megan hanya setelah mencari kebenaran. Namun ternyata aku tidak memahami kebenaran dan kemampuanku untuk mengenali orang ternyata keliru. Di mana letak kesalahanku?

Saat mencari, aku membaca satu bagian firman Tuhan: "Penggolongan seseorang sebagai pemimpin palsu atau pekerja palsu harus didasarkan pada fakta yang cukup. Itu tidak boleh didasarkan pada satu atau dua peristiwa atau pelanggaran, apalagi didasarkan pada perwujudan kerusakan yang sementara. Satu-satunya standar akurat yang dapat kaugunakan untuk menggolongkan seseorang adalah apakah mereka mampu melakukan pekerjaan nyata dan menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, serta apakah mereka adalah orang yang tepat, apakah mereka adalah orang yang mencintai kebenaran dan mampu tunduk kepada Tuhan, dan apakah mereka memiliki pekerjaan dan pencerahan Roh Kudus atau tidak. Seseorang hanya dapat digolongkan dengan benar sebagai pemimpin palsu atau pekerja palsu berdasarkan faktor-faktor ini. Faktor-faktor ini adalah standar dan prinsip untuk mengevaluasi dan menentukan apakah seseorang adalah pemimpin palsu atau pekerja palsu" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (20)"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa untuk mengenali pemimpin palsu, kita terutama perlu melihat apakah mereka mampu melakukan pekerjaan nyata dan apakah mereka menerima kebenaran atau tidak. Sama sekali tidak seperti yang kubayangkan yaitu bahwa pemimpin haruslah menyelesaikan setiap masalah dalam tugasku, dan jika mereka melakukannya, berarti mereka adalah pemimpin sejati, tetapi jika tidak, berarti mereka adalah pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata. Pandangan ini salah dan tidak sesuai dengan kebenaran. Untuk menentukan apakah seorang pemimpin adalah pemimpin palsu atau bukan, yang terpenting adalah apakah mereka bisa segera menindaklanjuti, mengerti dan memahami kemajuan dan status setiap tugas yang berada dalam lingkup tanggung jawab mereka; apakah mereka mampu dengan segera menemukan dan bertanya tentang masalah, kesulitan dan penyimpangan yang saudara-saudari temui dalam tugas mereka; dan apakah mereka bekerja sama dengan saudara-saudari untuk mencari prinsip kebenaran guna menyelesaikan masalah tersebut. Berdasarkan hal ini, kita bisa menilai apa seorang pemimpin sedang melakukan pekerjaan nyata atau tidak. Selain itu, itu tergantung pada apakah mereka mampu menerima kebenaran dan merupakan orang yang tepat. Jika ada pertanyaan yang tidak dipahami oleh pemimpin, mereka bisa meminta bimbingan pada orang-orang di atas mereka. Ketika orang lain memberi saran atau menunjukkan kekurangan mereka, pemimpin harus mampu taat, mencari kebenaran, dan merenungkan diri mereka sendiri. Ketika mengalami pemangkasan, kemunduran, dan kegagalan, mereka harus mampu memetik pelajaran darinya dan berubah sesudahnya. Ini berarti mereka adalah orang-orang yang menerima kebenaran. Selain itu, ketika pemimpin bertanggung jawab atas beberapa tugas sekaligus, mereka tidak perlu melakukan semuanya seorang diri. Peran utama mereka adalah memeriksa setiap tugas, sehingga pekerjaan gereja berjalan normal. Orang yang melakukan hal ini adalah pemimpin yang memenuhi syarat. Di luarnya, pemimpin palsu selalu terlihat sibuk, padahal mereka hanya melakukan pekerjaan dangkal atau tidak penting. Mereka tidak pernah melakukan pekerjaan paling penting tepat pada waktunya; mereka membabi buta ke sana kemari dan menyibukkan diri, tetapi tidak efisien. Karena mereka tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran, mereka tidak mampu mengenali atau melihat masalah dalam pekerjaan mereka dengan jelas, dan mereka tidak tahu cara merencanakan atau mengatur segala sesuatu. Mereka hanya mampu melontarkan kata-kata dan doktrin kosong yang tidak menawarkan jalan penerapan ataupun menyelesaikan masalah nyata yang saudara-saudari hadapi dalam tugas mereka. Selain itu, pemimpin palsu tidak mencari kebenaran ketika menghadapi sesuatu, tidak menerima bimbingan dan bantuan orang lain, dan pada akhirnya menghambat kelancaran banyak tugas, dan bahkan menyebabkannya terhenti. Ini adalah kelalaian tugas yang serius; seperti inilah pemimpin palsu itu. Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa mengenali apakah seseorang itu pemimpin palsu atau bukan mengharuskan orang untuk melihatnya dari berbagai aspek dan melakukan penyelidikan secara menyeluruh. Jika kita hanya melihat perilaku orang yang bersifat sementara dan kerusakan yang diperlihatkannya, mengabaikan latar belakang dan alasannya, apakah mereka telah bertobat dan berubah atau belum, dan dengan sembarangan menggolongkan mereka, akan terlalu mudah untuk salah menuduh orang. Setiap orang memiliki kerusakan dan kekurangan, tetapi asalkan mereka mampu mengenal diri mereka sendiri, bertobat, dan berubah, gereja akan memberi mereka kesempatan untuk terus berlatih. Setelah membandingkan prinsip-prinsip kebenaran terhadap perilaku Megan, aku melihat bahwa dia menindaklanjuti tugas-tugas yang paling penting, dan ketika menghadapi masalah, dia mendiskusikannya dengan orang lain dan menemukan solusinya. Secara keseluruhan, dia sedang melakukan pekerjaan nyata dan membuahkan hasil dalam tugasnya. Hanya saja semua pekerjaan itu datang secara bersamaan, sehingga dia belum menemukan keseimbangan, dan beberapa hal menjadi tidak tertangani. Ini adalah kekurangan dalam tugasnya, dia membutuhkan pengingat dan bantuan. Setelah menyadari hal-hal ini, akhirnya aku tahu bahwa aku belum memahami prinsip-prinsip kebenaran dan tidak mampu memperlakukan orang dengan adil. Aku melihat pemimpinku menghadapi masalah, tetapi aku tidak berkomunikasi dengannya tentangnya; aku gagal mempertimbangkan semua aspek, dan secara membabi buta menggolongkannya sebagai pemimpin palsu. Di dalam hatiku, aku sama sekali tidak memiliki rasa takut akan Tuhan.

Setelah ini, aku membaca satu bagian firman Tuhan: "Ketika seseorang dipilih untuk menjadi pemimpin oleh saudara-saudari, atau dipromosikan oleh rumah Tuhan untuk melakukan pekerjaan tertentu atau melaksanakan tugas tertentu, ini bukan berarti bahwa mereka memiliki status atau jabatan khusus, atau bahwa kebenaran yang mereka pahami lebih dalam dan lebih banyak daripada kebenaran yang dipahami orang lain—terlebih lagi, bukan berarti bahwa orang ini mampu tunduk kepada Tuhan dan tidak akan mengkhianati-Nya. Tentu saja, itu juga bukan berarti bahwa mereka mengenal Tuhan dan merupakan orang yang takut akan Tuhan. Sebenarnya, mereka belum mencapai semua ini. Promosi dan pembinaan hanya merupakan promosi dan pembinaan dalam arti yang sederhana, dan tidak berarti mereka telah ditakdirkan dan dianggap layak oleh Tuhan. Promosi dan pembinaan mereka hanya berarti mereka telah dipromosikan dan menunggu pembinaan. Dan hasil akhir dari pembinaan ini tergantung pada apakah orang ini mengejar kebenaran atau tidak, dan apakah mereka mampu memilih jalan mengejar kebenaran atau tidak. Jadi, ketika seseorang di gereja dipromosikan dan dibina untuk menjadi pemimpin, mereka hanya dipromosikan dan dibina dalam arti yang sederhana; itu bukan berarti bahwa mereka telah memenuhi standar dan kompeten sebagai pemimpin, bukan berarti bahwa mereka sudah mampu menjalankan pekerjaan kepemimpinan, dan dapat melakukan pekerjaan nyata—bukan seperti itu situasinya. Kebanyakan orang tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang hal-hal ini, dan berdasarkan imajinasi mereka sendiri, mereka mengagumi orang-orang yang telah dipromosikan. Ini adalah kesalahan. Sekalipun orang sudah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, apakah mereka yang dipromosikan benar-benar memiliki kenyataan kebenaran? Belum tentu. Mampukah mereka menerapkan pengaturan kerja rumah Tuhan? Belum tentu. Apakah mereka memiliki rasa tanggung jawab? Apakah mereka setia? Apakah mereka mampu tunduk? Ketika menghadapi masalah, apakah mereka mampu mencari kebenaran? Semua ini tidak diketahui. Apakah orang-orang ini memiliki hati yang takut akan Tuhan? Dan seberapa besarkah hati yang takut akan Tuhan yang mereka miliki? Apakah mereka mampu untuk tidak mengikuti keinginan mereka sendiri ketika mereka melakukan sesuatu? Apakah mereka mampu mencari Tuhan? Selama mereka melakukan pekerjaan kepemimpinan, apakah mereka mampu sering datang ke hadapan Tuhan untuk mencari maksud Tuhan? Apakah mereka mampu memimpin orang-orang untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran? Mereka tentu saja tidak mampu melakukan hal-hal semacam itu. Mereka belum menerima pelatihan dan mereka belum memiliki cukup pengalaman sehingga mereka tidak mampu melakukan hal-hal ini. Inilah sebabnya mengapa mempromosikan dan membina orang bukan berarti mereka telah memahami kebenaran, juga tidak bisa dikatakan bahwa mereka sudah mampu untuk melaksanakan tugasnya dengan cara yang memenuhi standar. Jadi apa tujuan dan makna mempromosikan dan membina seseorang? Itu berarti bahwa orang ini, sebagai individu, dipromosikan agar dia dapat berlatih, dan agar dia dapat disiram dan dilatih secara khusus, dengan demikian memungkinkannya memahami prinsip-prinsip kebenaran, dan prinsip, cara, dan metode-metode untuk melakukan berbagai hal dan memecahkan berbagai masalah, serta bagaimana menghadapi dan menangani berbagai jenis lingkungan dan orang-orang yang dia jumpai sesuai dengan maksud-maksud Tuhan, dan dengan cara yang melindungi kepentingan rumah Tuhan. Dengan menilai berdasarkan poin-poin ini, apakah orang-orang berbakat yang dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan cukup mampu melakukan pekerjaan dan melaksanakan tugasnya dengan baik selama masa promosi dan pembinaan atau sebelum promosi dan pembinaan? Tentu saja tidak. Dengan demikian, tidak dapat dihindari bahwa selama masa pembinaan, orang-orang ini akan mengalami pemangkasan, penghakiman dan hajaran, penyingkapan dan bahkan pemberhentian; ini adalah hal yang normal, dan ini adalah pelatihan dan pembinaan" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (5)"). Dari firman Tuhan, aku memahami jika seseorang terpilih menjadi pemimpin atau pekerja, bukan berarti mereka memahami kebenaran dan akan sepenuhnya kompeten dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Ini juga bukan berarti mereka memahami segalanya dan mampu melakukan setiap tugas dengan sempurna. Mereka hanya memiliki sedikit kualitas dan kemampuan kerja, serta mampu menerima dan mengejar kebenaran, sehingga gereja memberi mereka kesempatan untuk dibina dan dilatih. Dengan terus menemukan dan memecahkan masalah dalam pekerjaan mereka, mereka pada akhirnya akan memahami beberapa kebenaran dan belajar untuk bertindak berdasarkan prinsip. Namun, selama periode ini, pemimpin dan pekerja masih dalam tahap latihan, sehingga penyimpangan, ketidaksempurnaan, dan kekurangan dalam pekerjaan mereka tak bisa dihindari, dan kita harus memperlakukan hal ini dengan benar. Ketika kita menghadapi masalah atau kesulitan, kita harus mencari, bersekutu, dan memecahkan masalah bersama dengan pemimpin kita. Hanya dengan cara ini, barulah pekerjaan bisa efektif. Jika kita menuntut terlalu banyak dari pemimpin dan pekerja, jika kita melemparkan semua masalah yang kita temukan kepada mereka untuk mereka selesaikan, lalu menggolongkan mereka sebagai pemimpin palsu ketika mereka lambat untuk menemukan solusinya, ini tidak berprinsip dan tidak sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. Dengan membaca firman Tuhan, aku melihat bahwa perlakuanku terhadap pemimpin dan pekerja tidaklah berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, melainkan berdasarkan gagasan dan imajinasiku. Tuntutanku terhadap pemimpin terlalu tinggi dan keras. Ketika kulihat pemimpinku tidak menindaklanjuti pekerjaanku dengan semestinya dan tidak menyelesaikan masalah dan kesulitanku dengan cepat, aku melabelinya pemimpin palsu. Aku tidak mempertimbangkan latar belakang masalahnya atau pekerjaannya secara keseluruhan, juga tidak mempertimbangkan apakah dia mampu menerima kebenaran dan memperbaiki keadaan atau tidak. Aku secara membabi buta menggolongkannya sebagai pemimpin palsu berdasarkan informasi tidak lengkap yang kulihat. Ini bukanlah rasa keadilan, ini adalah gangguan, dan ini melanggar prinsip kebenaran. Aku tidak memahami kebenaran dan tidak berprinsip dalam caraku memperlakukan pemimpin dan pekerja. Yang lebih serius lagi, aku tidak memiliki rasa takut akan Tuhan di dalam hatiku. Saat melihat sedikit saja masalah pada pemimpinku, aku membesar-besarkannya, dengan sembarangan mengutuknya, dan terus mempermasalahkannya. Aku tidak memperlakukan dia berdasarkan esensi natur dirinya atau latar belakang situasinya yang sebenarnya, sebaliknya aku telah menyakitinya. Saat memikirkan hal ini, rasa takut tiba-tiba mencengkeramku. Aku menyadari bahwa natur masalah ini serius. Jika Sean tidak mengetahui situasinya, dan hanya mendengarkanku dan memberhentikan Megan, pekerjaan gereja akan terpengaruh, jadi bukankah aku telah melakukan kejahatan? Itu akan menjadi pelanggaran besar! Jika sesuatu seperti ini terjadi lagi kepadaku, aku tidak boleh mengandalkan imajinasiku untuk mengevaluasi orang lain. Aku harus lebih banyak mencari prinsip kebenaran, memperlakukan orang dengan adil berdasarkan tuntutan Tuhan, dan melakukan segala sesuatu dengan cara berprinsip.

Setelah itu, Megan menemuiku dan berbicara tentang keadaan dan masalah pekerjaannya baru-baru ini. Dia berkata dia ingin berubah, dan dia tahu tentang masalah dan kesulitan dalam pekerjaanku, dan kami bekerja bersama-sama untuk menyampaikan persekutuan kepada saudara-saudari di setiap tim. Aku sadar bahwa dia bukanlah orang yang tidak menerima kebenaran. Meskipun ada kelalaian dalam pekerjaannya dan ada area-area yang tidak dia tindaklanjuti, begitu tahu ada masalah, dia dapat melakukan perubahan dengan cepat. Kulihat dia sebenarnya bukanlah pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata.

Awalnya, kupikir aku memiliki sedikit pemahaman tentang masalah ini—bahwa aku tidak memahami kebenaran dan tidak mampu mengenali pemimpin palsu, yang menyebabkanku melakukan kesalahan. Namun, suatu kali di sebuah pertemuan, kudengar saudara-saudariku berkata bahwa terkadang kesalahan bukanlah sekadar karena kurangnya kemampuan untuk mengenali atau kurangnya pemahaman tentang kebenaran. Kita juga harus memeriksa apakah tindakan kita dicemari oleh niat atau watak yang rusak. Aku membaca satu bagian firman Tuhan yang berkata: "Jangan anggap pelanggaranmu sekadar kesalahan yang dilakukan orang yang belum dewasa atau bodoh; jangan gunakan alasan engkau tidak menerapkan kebenaran karena kualitasmu yang rendah membuatmu tidak mungkin dapat menerapkannya. Terlebih dari itu, jangan menganggap pelanggaran yang telah engkau lakukan sebagai tindakan seseorang yang tidak tahu apa-apa. Jika engkau mudah mengampuni dirimu dan memperlakukan dirimu dengan kemurahan, maka Aku katakan engkau adalah pengecut yang tidak akan pernah mendapatkan kebenaran, dan pelanggaranmu tidak akan pernah berhenti menghantuimu; pelanggaranmu akan selalu menghalangimu untuk memenuhi tuntutan kebenaran dan membuatmu selamanya menjadi sahabat setia Iblis" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pelanggaran akan Menuntun Manusia ke Neraka"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa ketika situasi tertentu muncul, kita tidak boleh hanya memperlakukannya sebagai hal yang sederhana dan hanya itu saja. Kita harus mencari kebenaran dan mengetahui watak rusak kita sendiri. Hanya dengan demikian, barulah akan terjadi perubahan dan pertumbuhan sejati dalam hidup kita. Jika kita selalu memperlakukan pelanggaran kita sebagai kesalahan sementara, merasa itu tidak penting, berkata kita akan lebih memperhatikannya lain kali, dan selalu memaafkan pelanggaran kita sendiri, maka kita tidak akan pernah memahami masalah kita sendiri, tidak akan pernah memperoleh kebenaran, dan pada akhirnya, saat pelanggaran kita meningkat dan kita sama sekali tidak melakukan perubahan, Tuhan akan membenci dan menolak serta menyingkirkan kita. Melalui apa yang firman Tuhan singkapkan, aku mulai merenungkan apa tepatnya pemikiranku ketika situasi ini kualami, niat apa yang mencemariku, atau watak rusak apa yang kuperlihatkan. Melalui perenungan ini, kudapati bahwa saat kulihat masalah pemimpin, aku sebenarnya tidak yakin apakah pandanganku benar dan aku ingin membaca lebih banyak firman Tuhan. Namun, saat kudengar Megan tidak menindaklanjuti pekerjaan orang lain yang menangani urusan umum, dan bahwa atasannya sedang memeriksa kinerjanya, aku yakin bahwa kemungkinan besar dia adalah pemimpin palsu, dan merasa aku perlu segera melapor kepada atasan Megan agar saudara-saudariku melihat bahwa aku memiliki rasa keadilan dan kemampuan untuk mengenali. Jadi, tanpa memahami prinsip kebenaran atau tanpa terus mencari, dan tanpa tahu latar belakang atau alasannya, aku dengan membabi buta menggolongkan Megan sebagai pemimpin palsu berdasarkan sedikit informasi yang kudengar. Kupikir pandanganku akurat dan seharusnya tidak ada masalah. Namun kini aku sadar bahwa aku telah ceroboh dan memiliki niat yang salah. Aku merenungkan diriku, "Mengapa aku melaporkan pemimpinku tanpa memahami prinsip-prinsip kebenaran? Apa sumber masalah ini?" Aku membaca ini dalam firman Tuhan: "Ada banyak orang yang tidak mencari prinsip kebenaran, apa pun yang sedang mereka lakukan, dan justru selalu bertindak berdasarkan ide-ide mereka sendiri. Mereka memikirkan hal-hal dengan cara yang sangat sederhana, dan tidak pernah mempertimbangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan, atau bagaimana bertindak agar mereka dapat memuaskan Tuhan. Mereka hanya tahu mengikuti kehendak mereka sendiri dengan tegar tengkuk saat melakukan segala sesuatu. Orang-orang semacam itu sama sekali tidak memiliki tempat bagi Tuhan di hati mereka, ataupun hati yang takut akan Tuhan sedikit pun. Ada orang yang berkata, 'Aku hanya berdoa kepada Tuhan ketika aku menghadapi kesulitan, tetapi aku merasa ini tidak menghasilkan apa pun. Jadi, ketika aku menghadapi hal-hal biasa, aku tidak berdoa kepada Tuhan karena itu tidak ada gunanya.' Tuhan sama sekali tidak ada di dalam hati orang-orang semacam itu. Mereka tidak mencari kebenaran, apa pun yang mereka lakukan dalam keseharian mereka. Mereka hanya mengikuti ide-ide mereka sendiri. Jadi, apakah ada prinsip dalam tindakan mereka? Pasti tidak ada. Mereka memandang segala sesuatu dengan cara yang sederhana. Bahkan ketika orang mempersekutukan prinsip kebenaran, mereka tidak mau menerimanya. Karena tidak pernah ada prinsip apa pun dalam tindakan mereka, dan tidak ada tempat bagi Tuhan di hati mereka, hanya ada tempat bagi diri mereka sendiri. Mereka merasa bahwa ide-ide mereka bagus, bahwa ide-ide itu bukanlah ide untuk melakukan kejahatan atau menentang kebenaran. Mereka berpikir bahwa bertindak berdasarkan ide-ide mereka sendiri adalah menerapkan kebenaran, dan bahwa melakukan hal itu adalah tunduk kepada Tuhan. Sebenarnya, mereka tidak sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran dalam hal-hal yang mereka hadapi, tetapi bertindak sesuai dengan kehendak dan ide mereka sendiri. Mereka tidak melaksanakan tugas mereka sesuai dengan tuntutan Tuhan, mereka tidak memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan, dan terlebih lagi, mereka tidak memiliki keinginan untuk memuaskan Tuhan. Ini adalah kesalahan terbesar yang orang lakukan dalam penerapan mereka. Jika engkau percaya kepada Tuhan tetapi Dia tidak ada di hatimu, bukankah engkau sedang menipu Tuhan? Lalu hasil apa yang bisa diberikan oleh iman semacam itu? Apa tepatnya yang bisa kauperoleh darinya? Apa arti dari iman semacam itu?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Lewat pengungkapan firman Tuhan, aku melihat bahwa ketika sesuatu terjadi, aku jarang mencari kebenaran atau melakukan penerapan berdasarkan prinsip. Sebaliknya, aku mengikuti ide-ideku sendiri. Di dalam hatiku, tidak ada tempat untuk Tuhan, juga tidak ada rasa takut akan Dia. Ketika sesuatu terjadi, orang yang takut akan Tuhan akan terlebih dahulu mencari prinsip kebenaran dan apa yang firman Tuhan katakan tentang hal tersebut, lalu memandang orang dan segala hal berdasarkan firman Tuhan dan kebenaran. Karena aku tidak mampu mengenali pemimpin palsu, seharusnya aku mencari kebenaran, memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan pemimpin palsu, apa perwujudan mereka dan bagaimana menentukan siapa yang merupakan pemimpin palsu, tetapi aku malah dengan sembarangan menilai berdasarkan imajinasiku sendiri. Kupikir jika seorang pemimpin tidak menindaklanjuti pekerjaanku atau tidak memecahkan masalahku, itu berarti dia adalah pemimpin palsu. Meskipun aku membaca dan merenungkan firman Tuhan selama periode waktu ini, aku tidak memahaminya. Ketika membaca sebaris firman Tuhan tentang pemimpin palsu yang secara harfiah sesuai dengan perilaku Megan, aku menyimpulkan bahwa dia adalah pemimpin palsu, dan mengira aku memandang situasinya dengan sangat akurat. Sebenarnya, aku sedang memahami sesuatu di luar konteks dan secara membabi buta menerapkan aturan. Aku pun merasa gelisah selama proses ini. Aku ingin mencari lebih banyak dan berkomunikasi dengan Megan sebelum melaporkannya, tetapi aku merasa perilakunya sudah sangat jelas sehingga aku tidak mau repot-repot mencari lebih jauh, dan bertindak hanya berdasarkan ide-ideku sendiri. Aku sangat congkak dan merasa diri benar! Aku juga menyadari bahwa aku memiliki kemanusiaan yang buruk. Aku tidak benar-benar memikirkan maksud-maksud Tuhan, juga tidak melindungi pekerjaan gereja. Ketika melihat masalah dalam pekerjaan pemimpinku, aku tidak menunjukkannya kepadanya; sebaliknya aku mencari kesempatan untuk melaporkannya kepada atasannya, sehingga aku bisa memamerkan kemampuan pengenalanku. Aku bisa melihat betapa tercelanya aku ini, dan ini adalah kesadaran yang menyayat hatiku. Tak pernah kubayangkan aku adalah orang seperti ini. Aku jelas tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran, tetapi aku begitu congkak dan tidak bernalar. Aku puas dengan diriku setelah melaporkan pemimpinku karena merasa telah melihat sesuatu yang tak seorang pun dapat mengenalinya, dan memahami prinsip-prinsip kebenaran. Padahal sebenarnya aku tidak memahami apa pun; satu-satunya yang kupahami adalah kata-kata dan doktrin, dan aku secara membabi buta menerapkan aturan. Aku dengan sembarangan melaporkan seseorang tanpa prinsip. Bukankah ini mengganggu pekerjaan gereja? Aku tidak sedang mempersiapkan perbuatan baik, aku sedang melakukan kejahatan!

Kemudian, aku membaca firman Tuhan dan mempelajari prinsip tentang cara memperlakukan para pemimpin dan pekerja. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang tidak boleh memiliki harapan apa pun yang tinggi atau tuntutan yang tidak realistis terhadap orang yang dipromosikan dan dibina tersebut; itu tidak masuk akal dan tidak adil bagi mereka. Engkau semua dapat mengawasi pekerjaan mereka. Jika engkau menemukan masalah atau hal-hal yang melanggar prinsip dalam proses pekerjaan mereka, engkau dapat mengangkat masalah itu dan mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. Yang tidak boleh kaulakukan adalah menghakimi, menghukum, menyerang, atau mengucilkan mereka, karena mereka hanya berada dalam masa pembinaan dan tidak boleh dipandang sebagai orang yang telah disempurnakan, apalagi sebagai orang yang tidak bercela, atau sebagai orang yang memiliki kenyataan kebenaran. Sama seperti engkau semua, mereka hanya dalam masa pelatihan. Perbedaannya adalah mereka melakukan lebih banyak pekerjaan dan tanggung jawab daripada orang biasa. Mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk melakukan lebih banyak pekerjaan; mereka harus membayar harga yang lebih mahal, menderita lebih banyak kesulitan, lebih banyak mencurahkan pikiran dan hati, memecahkan lebih banyak masalah, menoleransi lebih banyak celaan dari orang-orang, dan tentu saja mereka juga harus mengerahkan upaya yang lebih besar, dan—dibandingkan dengan orang-orang biasa yang melaksanakan tugasnya—mereka harus tidur lebih sedikit, menikmati lebih sedikit hal-hal yang baik, dan tidak banyak bergosip. Inilah apa yang khusus tentang mereka; selain dari ini, mereka sama dengan orang lain. ... Jadi, apa cara paling masuk akal untuk memperlakukan mereka? Anggaplah mereka sebagai orang biasa dan, ketika engkau perlu mencari seseorang untuk menyelesaikan masalah, bersekutulah dengan mereka dan belajarlah dari kekuatan satu sama lain serta saling melengkapi. Selain itu, merupakan tanggung jawab semua orang untuk mengawasi apakah para pemimpin dan pekerja sedang melakukan pekerjaan nyata atau tidak, apakah mereka mampu menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah atau tidak; ini adalah standar dan prinsip untuk menilai apakah seorang pemimpin atau pekerja memenuhi standar. Jika pemimpin atau pekerja mampu menangani dan menyelesaikan masalah umum, artinya mereka cakap. Namun, jika mereka bahkan tak mampu menangani dan menyelesaikan masalah biasa, mereka tidak layak untuk menjadi pemimpin atau pekerja, dan harus segera disingkirkan dari jabatan mereka. Orang lain haruslah dipilih, dan pekerjaan rumah Tuhan tidak boleh ditunda. Menunda pekerjaan rumah Tuhan berarti sedang merugikan diri sendiri dan orang lain, itu tidak baik untuk siapa pun" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (5)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bagaimana cara memperlakukan pemimpin dan pekerja. Pemimpin yang dipilih oleh gereja tidak sepenuhnya memahami kebenaran, tidak sepenuhnya memenuhi syarat, dan tidak memahami semua aspek pekerjaan atau tidak tahu cara melaksanakan semuanya itu dengan baik. Mereka juga sedang dalam masa berlatih, dan mungkin memperlihatkan kerusakan, penyimpangan, atau melakukan kesalahan. Kita harus memperlakukan orang-orang dengan adil dan tidak menuntut mereka terlalu banyak; kita tidak boleh bersikap tak bernalar dengan meminta mereka melakukan semua pekerjaan dengan sempurna tanpa penyimpangan atau kelalaian apa pun. Sebaliknya, kita harus memahami, bersikap toleran, dan bekerja sama dengan mereka secara harmonis untuk melakukan pekerjaan gereja dengan baik. Inilah yang dimaksud dengan memikirkan maksud-maksud Tuhan, dan memperlakukan pemimpin dan pekerja dengan cara yang sesuai dengan prinsip. Kita juga memiliki tanggung jawab untuk mengawasi pekerjaan para pemimpin. Kita harus menerima dan taat ketika tindakan pemimpin sesuai dengan kebenaran, tetapi ketika tindakan mereka tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, kita harus mengutarakan masalahnya, mempersekutukan hal itu, dan membantu mereka tepat pada waktunya, agar mereka bisa menyadari penyimpangan dalam tugas mereka dan segera memperbaikinya. Ini bermanfaat bagi jalan masuk kehidupan mereka dan bagi pekerjaan gereja. Jika prinsip mengonfirmasi bahwa seseorang adalah pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata, maka mereka harus disingkapkan dan dilaporkan. Setelah menyadari hal ini, hatiku dicerahkan, dan aku tahu bagaimana kelak akan memperlakukan pemimpin dan pekerja.

Meskipun kali ini aku telah keliru mengenali dan melaporkan pemimpinku, aku belajar beberapa prinsip kebenaran tentang cara mengenali pemimpin palsu. Aku juga belajar cara memperlakukan pemimpin dan pekerja, memperoleh pengenalan akan watak rusakku sendiri, dan memetik beberapa pelajaran. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Menyebarkan Injil Kepada Ayahku

Aku menjadi orang percaya sejak kecil dan bertekad melayani Tuhan sepanjang hidupku. Tiga tahun aku mengikuti sekolah agama di mana aku...

Hubungi kami via WhatsApp