Harapan Sepenuh Hati Seorang Kristen: Bebas dari Dosa dan Masuk ke dalam Kerajaan Surga Bukan Lagi sebuah Impian

01 Februari 2020

Oleh Saudari Zhenyi

Kata Pengantar

Aku percaya bahwa setiap saudara-saudari di dalam Tuhan akan mengalami situasi seperti ini: ketika kita berhubungan dengan orang lain dan perkataan serta tindakan mereka tidak sesuai dengan gagasan kita sendiri, kita dapat dengan mudah kehilangan kesabaran dan mulai menegur mereka, dan kita tidak mampu mempraktikkan toleransi dan kesabaran. Contoh lainnya adalah ketika kepentingan kita sendiri terganggu, dan kita kemudian mampu berkata bohong dan menipu, dan bahkan tidak mampu mengatakan sepatah kata pun yang jujur. Dosa adalah seperti sebuah rantai tidak terlihat yang mengikat kita dengan erat, dan itu membuat kita merasa sangat berutang kepada Tuhan namun tidak berdaya untuk membebaskan diri kita darinya! Apakah engkau juga tertekan dengan pertanyaan tentang bagaimana caranya bebas dari dosa? Saudari Zhenyi akan menggunakan pengalamannya untuk memberi tahu kita cara untuk bisa bebas dari dosa, jadi marilah kita baca bersama-sama.

Pada tahun 2002, aku menikah dan pindah dari Vietnam ke Taiwan. Karena perbedaan bahasa dan budaya di antara kami, ditambah fakta bahwa aku dan suamiku memiliki karakter yang sangat berbeda, kami sering bertengkar dan selama pertengkaran tak seorang pun dari kami yang mau mengalah, dan kami berdua merasa sangat sedih.

Pada tahun 2011, aku mulai percaya kepada Tuhan Yesus, dan dari firman-Nya aku memahami bahwa Tuhan menuntut kita untuk bersikap toleran, sabar, dan mengasihi orang lain. Karena itu aku mulai berperilaku sesuai dengan ajaran Tuhan terhadap orang lain. Awalnya, aku mampu bersikap toleran dan sabar terhadap suamiku, dan kami jarang sekali bertengkar. Namun, itu tidak bertahan lama, dan kami kembali memulai kehidupan kami yang terus-menerus bertengkar.. Ketika aku berada di tempat kerja sepanjang hari dan "menyeret" diriku yang kelelahan pulang ke rumah hanya untuk melihat suamiku cuma duduk di sana menonton TV, sama sekali tidak menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga perlu dikerjakan, aku tidak tahan lagi dan akan kehilangan kesabaran terhadapnya; setiap kali aku membeli beberapa perabot untuk rumah dan disalahkan oleh suamiku karena membuang-buang uang, aku akan merasa tidak setuju dan akan merasa bahwa aku tidak melakukan kesalahan apa pun dan dia tidak boleh mengkritikku. Pertengkaran antara aku dan suamiku juga berdampak kepada kedua anak kami. Akhirnya, ketika anak-anak kami melihatku pulang, mereka bersembunyi di kamar mereka dan tidak mau keluar; aku dan suamiku sama sekali tidak berbicara satu sama lain sepanjang minggu demi minggu. Kami semakin jauh satu sama lain, dan aku merasa sangat tertekan.

Aku kemudian pergi menemui seorang pengkhotbah dan menceritakan kepadanya tentang penderitaanku dengan harapan dia akan dapat menolongku. Setelah mendengarkan kesusahanku, pengkhotbah itu membacakan kepadaku ayat Alkitab: "Lalu datanglah Petrus kepada-Nya dan berkata: 'Tuhan, berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia bersalah kepadaku dan aku mengampuninya? Sampai tujuh kali?' Yesus berkata kepadanya, Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, tapi tujuh puluh kali tujuh kali" (Matius 18:21-22). Dia kemudian mengatakan kepadaku bahwa orang yang percaya kepada Tuhan harus menaati ajaran-ajaran Tuhan, bahwa kita harus penuh kasih, toleran, dan sabar terhadap orang lain, dan kita harus memiliki roh yang mengampuni. Dia berkata agar tidak berbuat dosa, kita juga harus berpuasa dan berdoa, serta mengakui dosa-dosa kita dan bertobat kepada Tuhan.

Jadi, aku mulai berpuasa dan berdoa, serta mengakui dosa dan bertobat kepada Tuhan, dan aku bertekad untuk mengubah diriku sendiri. Namun, beberapa saat kemudian, bukan saja tabiatku tidak berubah menjadi lebih baik, tetapi malah semakin buruk. Suamiku juga menegurku dan berkata bahwa, meskipun membaca Alkitab dan berdoa setiap hari, aku masih belum berubah sama sekali. Diperhadapkan dengan celaan dari suamiku ini, aku merasakan rasa bersalah yang sangat besar, dan aku bertanya-tanya: "Aku telah berpuasa dan berdoa, aku telah memberikan persembahan, aku melakukan saat teduhku secara teratur dan menghadiri ibadah gereja. Jadi mengapa aku tidak mampu menghentikan diriku dari berbuat dosa?" Aku adalah seorang Kristen, tetapi dalam kenyataannya, aku sama sekali tak mampu untuk memuliakan Tuhan dalam hidupku. Sebaliknya, aku hanya mempermalukan Tuhan, dan ini sangat menyakitkanku. Setiap hari, aku tidak bisa makan atau tidur, dan aku tidak dapat berkonsentrasi di tempat kerja. Khususnya, saat aku membaca dalam Alkitab, "Usahakankah hidup damai dengan semua orang dan dalam kekudusan, karena tanpa kekudusan, tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan" (Ibrani 12:14), aku bahkan akan merasa lebih gelisah. Tuhan itu kudus, dan Dia menuntut agar kita mencapai penyucian, namun aku terus-menerus berbuat dosa dan bahkan tidak mampu bersikap toleran atau sabar terhadap keluargaku sendiri—bagaimana aku bisa layak bertemu dengan Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan surga? Dan bagaimana aku dapat berhenti berbuat dosa? Aku sering berlutut di lantai dan berdoa kepada Tuhan, air mata mengalir di wajahku: "Ya Tuhan! Aku tidak pernah mampu menghentikan diriku dari kehilangan kesabaran dan aku telah mengatakan banyak hal yang menyakitkan. Aku hidup dalam keadaan berbuat dosa dan mengaku dosa, dan aku tidak berdaya untuk membebaskan diri darinya. Ya Tuhan! Kumohon tolong aku untuk bebas dari keadaan yang sulit ini."

Pada tahun 2017, aku bertemu Saudari Zhang secara daring, dan kami sering membaca Alkitab bersama dan mempersekutukan tentang pengalaman kami sendiri. Persekutuan Saudari Zhang selalu sangat mencerahkan, dan itu banyak membantuku. Karena itu aku memberi tahu dia semua tentang penderitaanku hidup dalam dosa. Setelah mendengarkanku, Saudari Zhang berkata, "Saudari, sebenarnya ada banyak saudara-saudari yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan yang sama sepertimu, yang bingung tentang mengapa, setelah mereka menerima penebusan Tuhan Yesus, mereka masih dapat sering melakukan dosa. Mereka juga bertanya-tanya, apakah mereka tidak akan pernah mampu membebaskan diri mereka dari ikatan dosa, apakah pada akhirnya mereka akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga atau tidak, dan mereka bertanya bagaimana sebenarnya mereka dapat membebaskan diri dari ikatan dosa. Aku telah melihat beberapa bagian dalam sebuah buku yang menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas. Kita akan mengerti begitu kita mendengarkan bagian-bagian ini."

Mendengarnya mengatakan ini, aku sangat ingin mendengar bagian-bagian yang disebutkannya tersebut. Dia kemudian mengirimkan kepadaku bagian-bagian itu secara daring dan mulai membacakannya: "Meskipun manusia telah ditebus dan diampuni dosanya, itu hanya dapat dianggap bahwa Tuhan tidak lagi mengingat pelanggaran manusia dan tidak memperlakukan manusia sesuai dengan pelanggarannya. Namun, ketika manusia hidup dalam daging dan belum dibebaskan dari dosa, ia hanya bisa terus berbuat dosa, tanpa henti menyingkapkan watak rusak Iblis dalam dirinya. Inilah kehidupan yang manusia jalani, siklus tanpa henti berbuat dosa dan meminta pengampunan. Mayoritas manusia berbuat dosa di siang hari lalu mengakui dosa di malam hari. Dengan demikian, sekalipun korban penghapus dosa selamanya efektif bagi manusia, itu tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Hanya separuh dari pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan, karena watak manusia masih rusak" ("Misteri Inkarnasi (4)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Orang berdosa sepertimu, yang baru saja ditebus, yang belum diubahkan atau disempurnakan Tuhan, dapatkah engkau berkenan di hati Tuhan? Bagimu, engkau yang masih dirimu yang lama, memang benar bahwa engkau diselamatkan oleh Yesus, dan engkau tidak terhitung sebagai orang berdosa karena penyelamatan Tuhan, tetapi hal ini tidak membuktikan bahwa engkau tidak berdosa dan tidak najis. Bagaimana mungkin engkau bisa kudus jika engkau belum diubahkan? Di dalam dirimu, engkau dipenuhi dengan kenajisan, egois dan kasar, tetapi engkau masih berharap untuk dapat turun bersama Yesus—enak betul! Engkau melewatkan satu tahap dalam kepercayaanmu kepada Tuhan: engkau hanya ditebus, tetapi belum diubahkan. Agar engkau dapat berkenan di hati Tuhan, Tuhan harus secara pribadi melakukan pekerjaan untuk mengubahkan dan menahirkanmu; jika engkau hanya ditebus, engkau tidak akan dapat mencapai kekudusan. Dengan begini, engkau tidak akan layak mendapat bagian dalam berkat-berkat yang baik dari Tuhan, sebab engkau telah melewatkan satu tahap dalam pekerjaan Tuhan mengelola manusia, yaitu tahap kunci berupa pengubahan dan penyempurnaan. Dengan demikian, engkau, seorang berdosa yang baru saja ditebus, tidak dapat langsung menerima warisan Tuhan" ("Mengenai Sebutan dan Identitas" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Meskipun Yesus melakukan banyak pekerjaan di antara manusia, Dia hanya menyelesaikan penebusan seluruh umat manusia dan menjadi korban penghapus dosa manusia; Dia tidak membebaskan manusia dari wataknya yang rusak. Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menjadi korban penghapus dosa dan menanggung dosa manusia, tetapi juga membuat Tuhan harus melakukan pekerjaan yang jauh lebih besar untuk membebaskan manusia sepenuhnya dari wataknya rusaknya yang jahat" (Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).

Saudari Zhang kemudian memberikan persekutuannya, "Kita dapat melihat dari bagian-bagian ini bahwa pekerjaan penebusan yang dilakukan Tuhan Yesus membebaskan kita dari dosa-dosa kita tetapi tidak membebaskan kita dari natur dosa kita. Kita telah sangat dirusak oleh Iblis sehingga, meskipun dosa kita telah diampuni dan kita tidak lagi berada di bawah penghukuman oleh hukum Taurat, watak jahat seperti bersikap congkak dan merasa diri penting, egois dan jahat, bengkok dan curang, dan sebagainya, masih sangat mengakar dalam di dalam diri kita dan telah menjadi kehidupan kita. Di bawah kekuasaan watak jahat ini, kita tidak berdaya selain berbuat dosa dan menentang Tuhan, dan aku percaya bahwa kita berdua memiliki pemahaman yang mendalam mengenai hal ini. Contohnya, Tuhan menuntut kita agar kita bersikap toleran dan sabar terhadap orang lain dan kita mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Namun, dalam kehidupan, ketika kita melihat orang lain berperilaku dengan cara yang bertentangan dengan gagasan kita sendiri, kita kehilangan kesabaran dan mulai menegur mereka. Ketika ucapan atau tindakan orang lain melanggar kepentingan kita sendiri, kita dapat berselisih dan bertengkar dengan mereka, dan bahkan bisa membenci mereka dan menjadi tidak bisa bergaul secara damai dengan mereka. Tuhan menuntut agar kita menjadi orang yang jujur, tetapi agar dapat melindungi gengsi dan kedudukan kita sendiri, kita sering berkata bohong dan melakukan penipuan. Tuhan menuntut agar kita mengasihi Dia dengan segenap hati dan pikiran kita, tetapi ketika suatu kemalangan terjadi pada keluarga kita atau kita menghadapi sebuah masalah di tempat kerja, kita selalu menyalahkan Tuhan, dan bahkan sampai menjauhi dan mengkhianati Tuhan. Ini hanyalah beberapa contoh dari perilaku kita di bawah kekuasaan watak kita yang jahat. Meskipun kita mungkin sering datang ke hadapan Tuhan untuk mengakui dan bertobat dari dosa-dosa kita, atau kita berusaha menahan diri atau berpuasa dan berdoa, itu semua sia-sia. Ini menunjukkan kepada kita bahwa natur jahat kita belum dicabut dan bahwa, meskipun dosa-dosa kita telah diampuni, kita sama sekali tidak mungkin dapat memastikan bahwa kita tidak akan terus berbuat dosa dan menentang Tuhan!

"Tuhan Yesus berkata: 'Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga' (Matius 7:21). 'Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, siapa saja yang melakukan dosa adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tinggal di rumah selamanya: tetapi Anak tetap tinggal selama-lamanya' (Yohanes 8:34-35). Tuhan Yesus memberi tahu kita dengan jelas bahwa orang yang berbuat dosa dan menentang Tuhan tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Hanya dengan melakukan kehendak Bapa yang di surga, yaitu, membuang watak jahat kita dan disucikan, dan mencapai ketaatan sejati kepada Tuhan serta kasih kepada Tuhan, barulah kita dapat memenuhi syarat untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Jika kita ingin membebaskan diri kita dari ikatan dan kekangan dosa, kita perlu Tuhan datang kembali untuk melakukan pekerjaan menyingkirkan dosa agar memampukan kita untuk membebaskan diri dari watak rusak kita sekali untuk selamanya dan disucikan. Hanya dengan cara inilah kita dapat memperoleh keselamatan Tuhan yang sempurna dan dibawa Tuhan ke dalam kerajaan surga."

Setelah mendengarkan bagian-bagian ini dan persekutuan saudari itu, aku mengerti bahwa alasan mengapa aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tetapi masih dapat sering kehilangan kesabaranku dan menegur orang, alasan aku tidak bisa mengasihi orang lain dan menunjukkan toleransi kepada orang lain sesuai dengan ajaran Tuhan, dan alasan aku sering hidup dalam keadaan memberontak terhadap Tuhan, selalu mendukakan Tuhan, adalah karena naturku yang berdosa masih ada di dalam diriku. Jika aku ingin bebas dari ikatan dan kekangan dosa sekali untuk selamanya, aku harus menerima pekerjaan penyucian yang dilakukan oleh kedatangan Tuhan yang kedua kali, karena baru pada saat itulah aku jadi memenuhi syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Saat aku merenungkan firman yang Saudari Zhang telah bacakan kepadaku yang telah menjelaskan dengan sangat jelas keadaan kita yang sebenarnya dan pekerjaan Tuhan Yesus, aku mulai merasa sangat penasaran, dan kemudian aku bertanya kepada Saudara Zhang, "Siapa yang menulis apa yang baru saja kau bacakan kepadaku? Mengapa sebelumnya aku tidak pernah mendengarnya?"

Saudari Zhang menjawab dengan gembira, "Saudari, firman yang baru saja kubaca adalah firman yang diungkapkan oleh kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Tuhan Yesus telah datang kembali!" Aku heran mendengar berita ini, dan aku dengan bersemangat bertanya, "Apakah itu benar? Apakah Tuhan Yesus benar-benar telah datang kembali?" Dengan kepastian, Saudari Zhang berkata kepadaku, "Ya, Kristus akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Tuhan Yang Mahakuasa mengungkapkan semua kebenaran untuk menyucikan dan menyelamatkan umat manusia dan Dia melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai di rumah Tuhan untuk menyingkirkan natur dosa kita dan menyelamatkan kita sepenuhnya dari wilayah kekuasaan Iblis dan, pada akhirnya, Dia akan membawa mereka yang watak rusaknya telah disucikan ke dalam kerajaan Tuhan!" Aku sangat senang mendengar bahwa Tuhan telah datang kembali, dan dalam hati aku menaikkan doa kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Jika Tuhan Yang Mahakuasa benar-benar adalah kedatangan-Mu yang kedua kalinya, aku mohon kepada-Mu untuk membimbingku dan memampukanku untuk mendengar dan memahami firman-Mu." Saudari Zhang kemudian mempersekutukan kepadaku banyak kebenaran yang berhubungan dengan pekerjaan penebusan Tuhan Yesus. Saat aku mendengarkan, hatiku dipenuhi dengan terang, dan aku memutuskan untuk menyelidiki pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman dengan sungguh-sungguh.

Oleh Saudari Zhenyi

Belakangan, Saudari Zhang memperlihatkan kepadaku banyak film, video, dan video musik tentang kedatangan Tuhan kembali, dan itu sangat membantuku. Dalam film-film itu, beberapa nubuat dari Alkitab disebutkan, "Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu" (Yohanes 16:12-13). "Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya: firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya di akhir zaman" (Yohanes 12:48). "Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan" (1 Petrus 4:17). Saudari Zhang kemudian menggunakan ayat-ayat Alkitab ini ke dalam persekutuannya, dengan berkata, "Kita dapat melihat dari ayat-ayat ini bahwa, karena ketika Tuhan Yesus melakukan pekerjaan-Nya, orang-orang pada masa itu baru saja ditebus dari kutuk hukum Taurat dan berada pada tingkat pertumbuhan yang rendah, yang bisa mereka lakukan adalah menyadari dosa-dosa mereka dan kemudian mengaku dosa serta bertobat, dan kebenaran apa pun yang lebih mendalam berkenaan dengan mengubah watak mereka yang rusak semata-mata berada di luar jangkauan pemahaman mereka. Karena itu, Tuhan Yesus mengungkapkan kebenaran tentang penebusan umat manusia sesuai kebutuhan kita, dan Dia berjanji kepada kita bahwa Dia akan datang kembali pada akhir zaman dan menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran. Tuhan Yesus sekarang telah datang kembali, Dia telah mengungkapkan semua kebenaran yang diperlukan bagi kita manusia yang rusak untuk memperoleh keselamatan sejati, dan Dia telah menunjukkan kepada kita jalan untuk bebas dari dosa. Hanya dengan menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman dan mengalami penghakiman dan hajaran Tuhan kita akan memiliki kesempatan untuk memperoleh keselamatan sejati Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan surga!"

Kemudian Saudari Zhang menunjukkan kepadaku sebuah adegan dalam film Terang yang Sejati Muncul, dan orang yang mengkhotbahkan Injil dalam film itu memberikan persekutuannya dengan berkata: "Melakukan pekerjaan penghakiman akhir zaman-Nya, Tuhan menyampaikan banyak aspek kebenaran untuk menghakimi serta mengungkap sifat jahat manusia yang menentang dan mengkhianati Tuhan. Dia menyingkapkan watak Tuhan yang benar, kudus, dan tak bisa diganggu gugat, memungkinkan umat manusia untuk dengan jelas melihat kebenaran tentang kerusakannya sendiri yang parah oleh Iblis melalui penghakiman dan hajaran firman Tuhan, untuk sungguh-sungguh mengenal watak Tuhan yang benar yang tidak membiarkan pelanggaran manusia, untuk mengembangkan suatu hati yang takut akan Tuhan, dan dengan demikian mengubah dan menyucikan watak jahat manusia serta menyelamatkan manusia dari pengaruh Iblis. Dalam penghakiman dan hajaran Tuhan yang megah dan penuh murka, kita melihat Tuhan seakan-akan bertatap muka—kita melihat cahaya yang amat benderang memancar dari langit. Seperti pedang bermata dua, firman Tuhan menembus hati kita, menyingkapkan sifat jahat kita yang menentang dan mengkhianati Tuhan dan bahkan watak rusak kita di lubuk hati kita yang terdalam yang kita sendiri tidak mungkin menemukannya. Firman Tuhan membuat kita menyadari bahwa esensi sifat kita dipenuhi dengan watak-watak jahat seperti keangkuhan, kesombongan, keegoisan, kehinaan, kelicinan, dan kelicikan, bahwa kita benar-benar tidak memiliki keserupaan sedikit pun dengan manusia, dan sepenuhnya merupakan penjelmaan Iblis. Baru saat itulah kita tersungkur di hadapan Tuhan, mulai membenci dan mengutuk diri kita sendiri. Pada waktu yang sama, kita juga menyadari secara mendalam bahwa semua firman Tuhan adalah kebenaran, semuanya adalah pernyataan watak Tuhan serta apakah kehidupan Tuhan itu. Kita melihat bahwa watak Tuhan yang benar tidak membiarkan pelanggaran, dan bahwa esensi Tuhan yang kudus tidak bisa dinodai. Hasilnya adalah berkembangnya suatu hati yang penuh hormat kepada Tuhan; kita mulai mencari kebenaran dengan segenap kemampuan kita dan berperilaku menurut firman Tuhan. Seiring dengan semakin bertambahnya pemahaman kita akan kebenaran, kita akan semakin mengerti tentang sifat dan watak jahat kita, dan memperoleh ketajaman yang semakin besar. Pengetahuan kita akan Tuhan juga akan meningkat. Watak-watak batin kita yang rusak akan secara pelan-pelan ditahirkan dan kita akan dibebaskan dari belenggu dosa. Kita akan memperoleh kebebasan sejati dan hidup dengan bebas di hadapan Tuhan. Inilah persisnya hasil yang dicapai dalam diri umat manusia melalui pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman. Karenanya, bisa dilihat bahwa pekerjaan 'penebusan' pada Zaman Kasih Karunia dan pekerjaan 'pembersihan manusia dari dosa' pada akhir zaman adalah dua tahapan pekerjaan yang berbeda. 'Penebusan' semata-mata adalah Tuhan Yesus memikul dosa sebagai pengganti manusia dan memungkinkan manusia terbebas dari hukuman yang semestinya mereka tanggung karena dosa-dosa mereka. Namun, itu tidak berarti bahwa manusia tanpa dosa, apalagi bahwa mereka tidak akan pernah berbuat dosa lagi atau bahwa mereka akan sepenuhnya disucikan. Sementara 'pembersihan manusia dari dosa' berarti sepenuhnya mengungkap sifat umat manusia yang penuh dosa sehingga kita dapat hidup dengan tidak mengandalkan sifat rusak kita lagi, sehingga kita dapat mencapai suatu perubahan dalam watak kehidupan kita dan menjadi disucikan sepenuhnya. Karena itu, hanya dengan menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman watak-watak kita yang rusak dapat sepenuhnya diperbaiki, kita dapat membersihkan diri kita sendiri dari pengaruh Iblis dan diselamatkan, dituntun ke dalam kerajaan Tuhan dan memperoleh janji dan berkat Tuhan."

Kemudian di film ini aku melihat firman yang diucapkan Tuhan Yang Mahakuasa: "Pada akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan esensi manusia, dan membedah perkataan dan perbuatan manusia. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia seharusnya menaati Tuhan, bagaimana seharusnya manusia setia kepada Tuhan, bagaimana manusia seharusnya hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan sebagainya. Firman ini semuanya ditujukan pada esensi manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan berkaitan dengan bagaimana manusia merupakan perwujudan Iblis, dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan tidak hanya menjelaskan natur manusia dengan beberapa kata; Dia menyingkapkan, menangani, dan memangkasnya dalam jangka panjang. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan perkataan biasa, tetapi dengan kebenaran yang sama sekali tidak dimiliki manusia. Hanya cara-cara seperti inilah yang dapat disebut penghakiman; hanya melalui penghakiman jenis inilah manusia bisa ditundukkan dan diyakinkan sepenuhnya untuk tunduk kepada Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan. Yang dihasilkan oleh pekerjaan penghakiman adalah pemahaman manusia tentang wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkan manusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami olehnya. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar penyebab dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua efek ini dihasilkan oleh pekerjaan penghakiman, karena hakikat pekerjaan ini sebenarnya adalah pekerjaan membukakan jalan, kebenaran, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan" ("Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Aku merasakan firman ini berbicara langsung ke hatiku—pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman sungguh adalah pekerjaan yang dibutuhkan oleh kita, manusia yang rusak! Sebelumnya, aku terperangkap dalam dosa, tidak mampu membebaskan diriku sendiri, selalu kehilangan kesabaran dan menegur suamiku, dan tidak mampu akur dengan damai bersamanya. Sekarang, akhirnya aku menyadari bahwa ini semua disebabkan oleh watakku sendiri yang rusak, dan watak yang rusak ini tidak mungkin diselesaikan dengan mengandalkan penguasaan diriku sendiri. Hanya dengan menerima pekerjaan penghakiman Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman dan mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhanlah seseorang dapat terbebas dari wataknya yang rusak sekali untuk selamanya. Aku sangat beruntung mendapat kesempatan pada hari ini untuk mendengar suara Tuhan dan menerima pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh kedatangan Yesus yang kedua kali!

Setelah itu, aku mengunduh aplikasi Gereja Tuhan Yang Mahakuasa dan melihat bahwa aplikasi tersebut berisi banyak buku, lagu pujian, film, video musik, dan video paduan suara. Konten dari aplikasi ini sangat kaya dan berlimpah sehingga aku tidak bisa langsung membuka semuanya. Aku mendapatkan penyiraman dan pembekalan firman Tuhan dan aku merasa seakan-akan aku telah memasuki tanah Kanaan yang indah, dan rohku yang kering dipuaskan. Saat aku semakin banyak membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, lambat laun aku jadi memahami kebenaran, seperti misteri tiga tahap pekerjaan Tuhan, misteri inkarnasi Tuhan, makna nama Tuhan, dan kebenaran dasar tentang Alkitab. Dari lubuk hatiku, aku menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, dan aku dengan senang hati menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman.

Suatu hari, aku pulang ke rumah dari tempat kerja untuk sekali lagi mendapati suamiku sedang menonton TV, anak-anak kami belum menyelesaikan pekerjaan rumah mereka, dan rumah sangat berantakan. Kemarahan meletus secara spontan di benakku, tetapi tepat saat aku akan kehilangan kesabaran dan menegur suamiku, tiba-tiba aku menyadari bahwa ini tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, jadi aku dengan segera berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk menenangkan hatiku. Lalu aku membuka Internet dan memberi tahu Saudari Zhang tentang keadaanku saat itu, dan dia membacakan kepadaku satu bagian dari firman Tuhan: "Begitu seorang manusia memiliki status, ia akan sering kesulitan mengendalikan suasana hatinya, jadi, ia akan menikmati menggunakan kesempatan untuk mengungkapkan ketidakpuasannya dan melampiaskan emosinya; ia akan sering terbakar amarah tanpa alasan jelas, untuk menunjukkan kemampuannya dan membiarkan orang lain tahu bahwa status dan identitasnya berbeda dengan orang biasa. Tentu saja, orang yang rusak tanpa status apa pun juga sering kehilangan kendali. Amarah mereka sering kali disebabkan oleh rusaknya kepentingan pribadi mereka. Untuk melindungi status dan martabat mereka, umat manusia yang rusak akan sering kali melampiaskan emosinya dan menyatakan naturnya yang congkak" ("Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Saudari Zhang kemudian memberikan persekutuannya dengan mengatakan, "Firman Tuhan berbicara dengan sangat jelas. Yang mendorong kita kehilangan kesabaran terutama adalah natur jahat kita yang congkak dan merasa diri penting. Setelah kita manusia dirusak oleh Iblis, natur kita menjadi sangat congkak, merasa diri penting dan merasa diri benar. Kita selalu ingin orang lain melakukan apa yang kita katakan, dan ketika orang lain mengatakan atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan gagasan kita sendiri, kita tidak mampu menahan diri untuk marah dan menegur mereka. Ini membuat orang lain merasa dikekang oleh kita, sementara kita juga hidup dalam penderitaan, sama sekali tidak tahu cara bergaul dengan orang lain. Tuhan adalah Sang Pencipta dan Dia memerintah seluruh alam semesta. Namun, ketika Tuhan datang ke bumi untuk bekerja dan menyelamatkan manusia, Dia tidak pernah berperilaku seperti Tuhan, dengan paksa menuntut kita agar melakukan apa yang Dia katakan. Sebaliknya, Dia mengungkapkan firman-Nya untuk menyirami dan membekali kita secara diam-diam dan dalam ketersembunyian, sehingga memungkinkan hidup kita untuk bertumbuh. Namun, kita manusia yang rusak, apa pun identitas atau kedudukan kita, dan keahlian khusus apa pun yang kita miliki, semuanya hanyalah makhluk ciptaan yang kecil. Namun kita selalu melihat diri kita lebih cerdas atau lebih baik daripada orang lain, dan kita selalu ingin orang lain melakukan apa yang kita katakan—bukankah perilaku ini sama sekali congkak dan tidak masuk akal? Ini bukan cara berperilaku orang yang percaya kepada Tuhan! Ketika kita hidup dengan watak kita yang congkak, orang-orang tidak mau berhubungan dengan kita, dan Tuhan membenci kita! Karena itu, kita harus mencari kebenaran, berdoa dan bersandar kepada Tuhan untuk menyelesaikan watak kita yang congkak. Ketika sesuatu terjadi dan kita ingin marah lagi, pertama-tama kita harus menenangkan hati kita di hadapan Tuhan, berdoa kepada Tuhan, belajar cara melepaskan ego kita dan menyangkali diri kita sendiri, dan tidak menangani orang-orang dengan mengandalkan watak kita yang congkak. Hanya dengan melakukan ini kita akan bisa hidup rukun dengan orang lain."

Setelah mendengarkan firman Tuhan dan persekutuan Saudari Zhang, aku merasa malu. Jadi, ternyata alasan aku selalu marah adalah karena aku terlalu congkak dan merasa diri penting, karena aku selalu ingin merendahkan dan membuat orang lain melakukan apa yang aku katakan. Saat seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan gagasanku sendiri, aku akan kehilangan kesabaran dan menegur mereka—aku benar-benar tidak memiliki keserupaan dengan seorang Kristen. Syukur kepada Tuhan! Firman Tuhan memampukanku untuk melihat akar penyebab penderitaanku, dan aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku harus lebih banyak berdoa kepada Tuhan di masa depan, mencari kebenaran untuk menyelesaikan kerusakanku, dan tidak menegur orang lagi dengan mengandalkan watakku yang congkak.

Selama hari-hari selanjutnya, setiap kali aku melihat suamiku melakukan sesuatu yang bertentangan dengan gagasanku sendiri dan aku ingin marah, aku secara sadar akan berdoa kepada Tuhan, menerapkan firman Tuhan, melepaskan egoku, dan berkomunikasi dengan suamiku secara tenang dan lembut. Seiring berjalannya waktu, ledakan amarahku menjadi semakin jarang. Suatu kali, suamiku berkata kepadaku, "Kau benar-benar telah berubah banyak sejak kau mulai percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa." Anak-anakku juga berkata, "Ibu, kau tidak sama dengan yang dulu. Kau tidak kehilangan kesabaranmu dan kau sekarang sangat lembut." Karena adanya sedikit perubahan dalam diriku ini, hubunganku dengan suamiku mengalami peningkatan besar. Suamiku juga tidak lagi terpikat pada TV, dan dia mulai bekerja keras. Ini membuatku merasakan sukacita yang dihasilkan dari melakukan firman Tuhan.

Untuk membalas kasih Tuhan, sekarang aku melaksanakan tugasku di gereja dan, bersama dengan saudara-saudariku, aku menyebarkan Injil kerajaan Tuhan sehingga semakin banyak orang dapat mendengar perkataan Tuhan yang datang kembali dan kembali ke hadapan takhta Tuhan! Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa!

Selanjutnya: Aku Telah Pulang

Alkitab menubuatkan bahwa Tuhan akan datang sebelum bencana. Sekarang ini, bencana sedang terjadi silih berganti. Bagaimana kita dapat menyambut Tuhan dan mendapatkan perlindungan Tuhan? Silakan hubungi kami untuk membahas hal ini dan menemukan jalannya.

Konten Terkait