Mengapa Saya Belum Berubah Setelah Bertahun-tahun Beriman?

26 September 2019

Jinru Kota Nanyang, Provinsi Henan

Saat seorang saudara atau saudari mengemukakan kegagalan saya atau tidak menggubris pendapat saya, saya merasa tidak yakin atau beradu mulut dengan mereka. Saya menyesali tindakan saya di kemudian hari, tetapi saat dihadapkan dengan hal-hal ini, saya tidak sanggup untuk tidak menyingkapkan watak saya yang rusak. Saya sangat gelisah karenanya, dan berpikir: Mengapa kata-kata orang lain dapat mempermalukan saya hingga marah? Dan mengapa saya belum berubah sedikit pun meski telah mengikuti Tuhan selama delapan tahun? Saya menjadi khawatir dan berulang kali bertanya kepada Tuhan, meminta-Nya untuk mencerahkan saya agar mampu memahami akar permasalahan yang membuat watak rusak saya tak kunjung berubah.

Suatu hari, saat sedang bersaat teduh, saya membaca cuplikan khotbah: "Semua orang membenci keangkuhan dan kesombongan mereka sendiri, kejahatan dan kelicikan mereka. Kebanyakan orang berubah hingga ke titik tertentu; orang-orang tertentu, yang angkuh dan sombong dan kurang nalar, dan yang pada dasarnya tidak jujur dan licik, hanya sedikit berubah sehingga ungkapan dan tingkah laku mereka hampir tidak berubah: keangkuhan, kesombongan, ketidakjujuran, dan kelicikan mereka dapat dilihat dengan jelas. Dan hal ini berkaitan dengan pengalaman mereka. Dari awal hingga akhir, mereka tidak mengejar perubahan dalam watak mereka, mereka hanya mengamati cara orang lain memasuki kehidupan. Akibatnya, mereka pun ketinggalan, karena hanya melihat keangkuhan dan kesombongan orang lain dan yakin bahwa hanya orang lain yang harus dihakimi dan dihajar oleh Tuhan. Mereka kira diri mereka sendiri tidak melawan Tuhan, dan penghakiman dan hajaran Tuhan hanya ditujukan kepada orang lain. Pemahaman mengenai Firman Tuhan yang seperti ini sungguh aneh, sehingga wajar kalau mereka tidak berubah" (Persekutuan dari Atas). Pada saat inilah saya tersadarkan. Saya menyadari bahwa alasan saya tidak berubah meskipun telah mengikuti Tuhan selama bertahun-tahun adalah karena saya percaya kepada Tuhan tetapi tidak berusaha mengubah watak saya; hanya memperhatikan cara orang lain memasuki kehidupan, bukan cara saya sendiri memasuki kehidupan. Pada saat itu saya mau tidak mau memikirkan bagaimana saya bergegas ke sana kemari untuk "bekerja" dengan terburu-buru: Saat makan dan minum firman Tuhan, saya tidak pernah menggunakan hal-hal ini untuk mempertimbangkan situasi saya sendiri. Saya selalu mengajari orang lain dan mengukur mereka berdasarkan firman Tuhan. Dalam kebaktian, ketika saya membicarakan kebenaran, itu hanyalah untuk memecahkan masalah dan kesulitan orang lain, dan saya tidak pernah mencari tahu apa yang seharusnya saya tekuni. Saat saya menyampaikan firman mengenai pengungkapan watak manusia yang rusak oleh Tuhan, saya menjadikan saudara-saudari lainnya sebagai contoh. Saya menggunakan mereka sebagai peringatan sementara saya sangat jarang menggunakan Firman Tuhan untuk memahami situasi diri sendiri dan menemukan jalan masuk. ... Dan demikianlah tahun demi tahun berlalu sementara jalan masuk saya ke dalam kehidupan tetap kosong. Namun, saya masih mengira diri sendiri sebagai orang yang penuh kasih, bahwa saya menanggung beban kehidupan saudara saudari saya. Khususnya sejak tahun lalu hingga sekarang, gereja telah mengatur agar saya bermitra dengan seorang saudari muda untuk memenuhi tugas kami bersama-sama, dan saya terus menanggung "beban" saya dan memperhatikan jalan masuknya ke dalam kehidupan. Ketika saudari tersebut menyingkapkan sifatnya yang angkuh dan berpendirian keras, saya langsung menggunakan firman Tuhan untuk berbicara dengannya, tetapi sambil berpikir: Kamu betul-betul angkuh. Saat saudari tersebut tidak dapat membebaskan dirinya dari kenegatifan karena terkekang oleh kekhawatirannya akan masa depan dan nasibnya, saya menemukan firman Tuhan yang cocok untuk dimakan dan diminum bersama dia dan berkata bahwa Tuhan ingin menyelamatkan kami, tetapi di dalam hati, saya menghina dia: Waktu tinggal sedikit dan kamu masih saja bertekad mencari berkat? Saat saudari tersebut membuka diri dan memberi tahu saya betapa ia sering mencurigai orang lain, saya mengatakan kebenaran tentang menjadi orang yang jujur, tetapi dalam hati, saya jengkel dengannya: Kamu terlalu merepotkan. Ketika saudari tersebut berada dalam situasi yang buruk tetapi tidak dapat menceritakan alasannya, saya menyuruhnya introspeksi dan membedah sifatnya, tetapi saya sendiri tidak memperhatikan cara menggunakan Firman Tuhan untuk memahami dan menganalisa diri saya sendiri berdasarkan apa yang saya ungkapkan. ... Bukankah itu berarti bahwa saya mengira hanya orang lain yang terlalu rusak dan harus dihakimi dan dihajar oleh Tuhan, sementara saya menempatkan diri sendiri di luar Firman Tuhan? Bukankah saya hanya memperhatikan cara orang lain memasuki kehidupan sementara saya sendiri ketinggalan? Baru saat itulah saya sadar bahwa saya sama miskin dan malangnya seperti seorang pengemis jalanan, dan hati saya pun dipenuhi dengan penyesalan.

Di bawah bimbingan Tuhan, saya melihat bahwa firmannya berkata: "Orang-orang berkata seperti ini: Singkirkan prospekmu, jadilah lebih realistis. Engkau meminta manusia membuang pemikiran akan diberkati—tetapi bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah engkau menyangkali gagasan orang lain tentang diberkati sementara dirimu sendiri mencari berkat? Engkau tidak membiarkan orang lain menerima berkat tetapi diam-diam memikirkan berkat—itu berarti engkau itu siapa? Penipu! Ketika engkau bertindak seperti itu, tidakkah hati nuranimu menuduhmu? Di dalam hatimu, tidakkah engkau merasa berutang? Bukankah engkau seorang tukang tipu? Engkau menggali kata-kata di dalam hati orang lain, tetapi tidak mengatakan apa-apa tentang yang ada di hatimu—engkau itu sampah yang tidak berharga!" ("Bab 42, Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan menusuk hati saya dan membuat saya benar-benar malu. Saya memikirkan semua hal yang telah saya lakukan. Bukankah saya seorang penipu, seperti yang telah Tuhan ungkapkan? Secara lahiriah, saya melakukan tugas saya, tetapi sebenarnya saya menggunakan antusiasme saya untuk mengelabui Tuhan hingga Ia tidak lagi mempercayai saya. Secara lahiriah, saya menolong saudara-saudari saya, tetapi sebenarnya saya memanfaatkan firman dan doktrin untuk mengelabui rasa hormat dan kekaguman mereka agar dapat memiliki tempat di hati mereka. Saya memberi tahu orang lain agar tidak mendambakan status, tidak angkuh, tetapi saya sering kali memandang hina orang lain dan tidak dapat menghargai kegagalan saudara saudari saya dengan layak dan bahkan menolak untuk tunduk kepada siapa pun. Saya memaksa orang lain untuk berhenti berusaha memperoleh berkat, untuk tidak dikendalikan oleh masa depan dan takdir mereka, sementara saya sering kali membuat rencana masa depan saya sendiri dan sangat khawatir mengenainya. Saya jengkel dengan kelicikan dan kecurigaan orang lain, sementara saya sering kali mengamati ekspresi mereka dan mencemaskan pendapat mereka tentang saya. Saya menyuruh orang lain untuk memahami diri mereka sendiri, untuk mendalami pikiran batin guna membedah sifat mereka, sementara saya menyembunyikan niat jahat saya, dan kata-kata serta tindakan saya tidak diawasi oleh Tuhan. ... Selama bertahun-tahun, saya sering berbicara muluk-muluk dan senang membualkan doktrin harfiah, tetapi saya tidak memusatkan perhatian pada memasuki realitas dan hidup dalam firman Tuhan. Akibatnya, saya tetap belum memperoleh pemahaman apa pun tentang diri sendiri maupun mengubah watak hidup saya sedikit pun. Sebaliknya, saya justru semakin lama semakin angkuh. Sebagaimana difirmankan Tuhan: "...Semakin mereka memahami doktrin, watak mereka menjadi semakin congkak" ("Manusia Mengajukan Terlalu Banyak Tuntutan Kepada Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Saya menganggap doktrin yang saya pegang sebagai modal saya sendiri, tetapi tidak memperhatikan cara memahami diri sendiri, mencari jalan masuk, atau memperoleh kebenaran. Jadi, bagaimana mungkin ada perubahan dalam watak hidup saya? Karya dan firman Tuhan yang nyata membekali kita dengan seluruh kebenaran yang kita butuhkan dan Ia ingin kita memahami kebenaran itu serta membawa terang dan pencerahan yang kita dapatkan ke dalam pengalaman sehari-hari dan jalan masuk kita lewat pemenuhan tugas kita, dan menyediakannya bagi saudara dan saudari kita. Namun, saya hanya berfokus mempersenjatai diri dengan doktrin, dan menganggap bahwa tugas saya adalah berbicara mengenai doktrin, menyediakan pencerahan Roh Kudus kepada orang lain tanpa memikirkan diri sendiri, menyuruh orang lain mengamalkan kebenaran, sementara saya sendiri tidak masuk. Akibatnya, saya sendiri ketinggalan, sekaligus merugikan saudara-saudari saya. Saya benar-benar Paulus zaman modern!

Ya Tuhan, terima kasih atas pencerahan dan penerangan-Mu yang memungkinkan saya melihat kegagalan mengubah watak saya sendiri meskipun telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun karena saya hanya memedulikan pekerjaan, mempersenjatai diri saya sendiri dengan doktrin, dan menyombongkan diri alih-alih memperhatikan cara saya bisa memasuki kehidupan. Saya benci dengan sifat saya yang terlalu angkuh dan bebal, tidak mencintai kebenaran, dan oleh karena itu telah kehilangan banyak kesempatan untuk memasuki kebenaran dan mencari perubahan. Saya sekarang bersedia memahami kebenaran dengan lebih baik melalui firman-Mu, mencari pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri, mengamalkan firman Tuhan serta memasuki kebenaran dengan sungguh-sungguh dan pragmatis, serta hidup dalam firman secara nyata untuk membalas kebaikan-Mu.

Ketika bencana melanda, bagaimana seharusnya kita orang Kristen menghadapinya? Anda diundang untuk bergabung dengan pertemuan online kami, di mana kita dapat menyelidiki bersama dan menemukan jalannya.
Hubungi kami via Messenger
Hubungi kami via WhatsApp

Konten Terkait