Aku Tidak Lagi Mengeluh Karena Memiliki Nasib Buruk

12 Januari 2026

Oleh Su Qing, Tiongkok

Aku dilahirkan dalam keluarga miskin di pedesaan. Saat duduk di bangku SMA, orang tuaku tidak mampu membayar uang sekolah, sehingga mereka mencoba meminjam uang dari pamanku. Namun, bibiku takut kami tidak akan bisa mengembalikannya, jadi dia enggan meminjamkan uang kepada kami. Aku pun berpikir dalam hati, "Aku harus berusaha masuk ke perguruan tinggi supaya orang-orang di sekitarku mengagumi keluargaku." Saat di bangku sekolah, aku hanya makan panekuk yang kubawa dari rumah demi menghemat uang. Aku terus-menerus merasa pusing dan pingsan karena suplai darah ke otakku tidak mencukupi akibat malnutrisi dalam jangka panjang, dan efisiensi belajarku pun terpengaruh. Pada akhirnya, aku gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi. Aku menangis tersedu-sedu dan mengeluh bahwa nasibku sangat malang. Namun, aku tidak rela menerima nasib ini begitu saja. Demi mendapatkan gelar tinggi dan menonjol di antara orang banyak, aku juga mendaftar ujian belajar mandiri untuk dewasa, kursus pelatihan akuntansi, dan bahkan mengikuti ujian pegawai negeri. Namun, meski telah berusaha keras, pada akhirnya aku tetap gagal. Oleh karena itu, aku pergi bekerja di sebuah pabrik. Agar bisa menjadi ahli statistik di bengkel dan dikagumi orang lain, ketika orang lain sedang beristirahat, aku lembur dan begadang untuk mempelajari pengetahuan profesional ahli statistik. Aku memaksakan diri bekerja lebih dari sepuluh jam setiap hari, ditambah lembur dan begadang setiap hari. Aku sering merasa pusing dan mengalami kelelahan akibat bekerja terlalu keras, bahkan ketiduran saat bekerja. Akibatnya, aku salah menghitung statistik jumlah produk, yang hampir menyebabkan kerugian besar bagi pabrik. Pemimpin tim menegurku di depan semua karyawan bengkel. Saat itu, rasanya aku ingin sekali masuk ke lubang di tanah untuk bersembunyi. Kepalaku berdengung, lalu aku pingsan di situ, saat itu juga. Sejak saat itu, saraf pendengaranku rusak dan aku tidak boleh terkena rangsangan apa pun. Setiap kali menghadapi tekanan kerja yang berat, aku merasa pusing dan telingaku berdenging. Suntikan dan obat tidak dapat menyembuhkannya, dan aku pun tidak bisa bekerja lagi. Pada waktu itu, aku merasa sangat menderita dalam hatiku, dan sepanjang hari aku mengeluhkan mengapa nasibku begitu buruk. Aku sering mengurung diri di kamar sambil menangis, bahkan terpikir untuk mengakhiri hidup. Karena terlalu lama hidup dalam tekanan dan penderitaan, gangguan pendengaranku makin parah.

Pada tahun 2013, mertuaku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman dan memberitakan Injil kepadaku. Aku merasa sangat bebas dan lega ketika membaca firman Tuhan serta menjalani kehidupan bergereja bersama saudara-saudari. Perlahan-lahan, suasana hatiku membaik dan harapan hidupku kembali muncul. Kemudian, aku dipilih menjadi pemimpin gereja. Aku berpikir di dalam hati, "Aku telah membayar harga begitu mahal di tengah masyarakat, tetapi semuanya sia-sia. Sekarang, meskipun baru saja bergabung dengan rumah Tuhan, aku sudah bisa melaksanakan tugas sebagai pemimpin. Percaya kepada Tuhan itu lebih baik. Aku harus bekerja keras, siapa tahu nanti aku bisa dipromosikan lagi dan dikagumi oleh lebih banyak orang di masa depan." Maka aku menjadi lebih giat dalam melaksanakan tugasku. Aku sibuk memimpin pertemuan kelompok sepanjang hari, baik saat hujan maupun panas. Saudara-saudari juga memujiku karena memiliki rasa terbeban dalam tugasku. Kemudian, aku dipilih menjadi pengkhotbah. Karena keinginanku akan status terpenuhi, aku makin bersemangat untuk melaksanakan tugasku. Tepat ketika aku sedang menikmati saat dikagumi saudara-saudari, sebuah insiden keracunan gas membuat gangguan pendengaranku makin parah. Ketika menghadiri pertemuan, aku tidak bisa mendengar saudara-saudari dengan jelas jika suara mereka pelan dan aku sering merasa terkekang oleh gangguan pendengaranku, serta hidup dalam keadaan negatif. Pada akhirnya, aku tidak bisa melakukan pekerjaan nyata dan tugasku disesuaikan. Ketika memikirkan bahwa aku tidak lagi melaksanakan tugas sebagai pemimpin dan tidak bisa dikagumi orang lain, aku makin mengeluh tentang betapa buruknya nasibku. Setelah itu, aku tidak bisa bangkit lagi dan kehilangan iman kepada Tuhan.

Kemudian, setelah menjalani pengobatan selama beberapa waktu, pendengaranku agak pulih, dan para pemimpin mengatur agar aku melaksanakan tugas penyiraman. Aku pun berpikir dalam hati, "Kalau aku bisa membuahkan hasil dalam tugas penyiraman, saudara-saudari akan tetap mengagumiku." Jadi, setiap hari aku membaca prinsip-prinsip yang berkaitan dan membekali diri dengan kebenaran, sering terjaga sampai jam 11 atau 12 malam. Perlahan-lahan, hasil yang kucapai dalam tugasku pun membaik, dan aku juga dipromosikan untuk bertanggung jawab atas lingkup kerja yang lebih luas. Ketika membayangkan bahwa aku akan kembali dikagumi saudara-saudari, aku sangat gembira. Aku berpikir, "Usaha keras tak akan mengkhianati hasil. Kalau aku bekerja lebih keras lagi, mungkin aku akan dipromosikan lebih tinggi lagi. Dengan begitu, akan ada lebih banyak orang yang mengagumiku." Namun kemudian, radang sendi leherku kambuh, dan gangguan pendengaranku menjadi sangat parah hingga aku tak bisa lagi berkomunikasi dengan orang lain secara normal. Para pemimpin pun mengaturku untuk kembali ke gereja setempat agar bisa menjalani pengobatan sambil tetap melaksanakan tugas semampuku. Aku merasa sangat putus asa. Aku memikirkan betapa mahal harga yang telah kubayar dengan susah payah demi dikagumi orang lain. Namun, karena penyakitku, aku tidak bisa lagi melaksanakan tugas itu. Mengapa nasibku begitu buruk? Kemudian, karena pendengaranku yang buruk, terlalu sulit bagiku untuk berkomunikasi dengan orang lain. Aku hanya bisa melakukan beberapa pekerjaan urusan umum. Hatiku sangat tersiksa karenanya, dan aku berpikir dalam hati, "Kalau saja aku tidak tuli, aku pasti sudah punya kesempatan untuk memberitakan Injil dan menyirami orang percaya baru. Namun, sekarang aku hanya bisa melakukan pekerjaan urusan umum. Jika aku tidak berada di posisi yang menonjol, siapa yang akan mengagumiku? Mengapa nasibku begitu buruk? Sudahlah, nasibku memang begini, jadi aku akan hidup ala kadarnya saja dan menjalani hari demi hari." Setelah itu, meskipun aku tidak meninggalkan tugasku, aku terus-menerus hidup dalam keadaan putus asa dan tidak fokus saat melaksanakan tugasku. Aku selalu lupa hal ini atau hal itu, dan sering melakukan kesalahan, menunda berbagai hal.

Kemudian, saudari yang bekerja sama denganku menasihatiku bahwa hidup dalam keadaan seperti ini sangat berbahaya, dan aku harus segera mencari kebenaran untuk mengatasi emosi negatifku. Berkat pengingat dari saudariku itu, barulah aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku tidak mau terus hidup dalam keputusasaan. Hidup seperti ini sangat menyedihkan. Kiranya Engkau menuntunku agar aku memahami masalahku sendiri dan keluar dari keadaan yang salah ini." Suatu hari, dalam saat teduhku, aku membaca dua bagian firman Tuhan yang langsung menyentuh hatiku. Tuhan berfirman: "Sumber penyebab munculnya emosi negatif perasaan putus asa berbeda pada setiap orang. Perasaan putus asa sejenis orang mungkin muncul karena keyakinan mereka yang terus-menerus akan nasib buruk mereka sendiri. Bukankah ini adalah salah satu penyebabnya? (Ya.) Sejak kecil, mereka tinggal di pedesaan atau di daerah miskin, keluarga mereka tidak makmur, dan selain beberapa perabotan sederhana, tidak ada apa pun yang berharga di rumah mereka. Mereka mungkin memiliki satu atau dua pasang pakaian, yang harus mereka kenakan bahkan sekalipun itu sudah usang, dan pada hari-hari biasa, mereka tidak pernah bisa makan makanan yang layak, melainkan harus menunggu Tahun Baru atau hari libur untuk makan daging. Terkadang mereka kelaparan atau pakaian mereka tidak bisa membuat mereka tetap hangat; menikmati makanan mewah tampaknya seperti aspirasi yang mustahil—bahkan untuk membeli sepotong buah pun sulit. Tinggal di lingkungan seperti itu, mereka merasa berbeda dari orang lain yang tinggal di kota besar, yang orang tuanya berkecukupan, yang dapat makan makanan apa pun yang mereka inginkan, dan mengenakan pakaian apa pun yang mereka inginkan, yang mendapatkan semua yang mereka inginkan pada saat itu juga, dan yang berpengetahuan luas dalam berbagai hal. Mereka berpikir, 'Nasib orang-orang itu begitu baik, mengapa nasibku begitu buruk?' Mereka selalu ingin terlihat menonjol dan mengubah nasib mereka. Namun, tidak mudah mengubah nasib yang orang miliki. Ketika orang dilahirkan dalam keadaan seperti itu, meskipun mereka berusaha, sebanyak apakah mereka dapat mengubah nasib mereka, dan sebaik apakah mereka dapat mengubahnya? Setelah mereka dewasa, mereka dihadang oleh rintangan di mana pun mereka berada di tengah masyarakat, mereka ditindas di mana pun mereka berada, sehingga mereka selalu merasa sangat tidak beruntung. Mereka berpikir, 'Mengapa aku sangat sial? Mengapa aku selalu bertemu dengan orang-orang jahat? Hidupku sulit ketika aku masih kecil, dan tidak ada yang bisa dilakukan mengenai hal itu. Kini, setelah aku dewasa, nasibku tetap sangat buruk. Aku selalu ingin menunjukkan apa yang mampu kulakukan, tetapi aku tak pernah mendapat kesempatan. ...' ... Setelah percaya kepada Tuhan, dia bertekad untuk melaksanakan tugasnya di rumah Tuhan dengan semestinya—menanggung kesukaran dan bekerja keras, menanggung lebih daripada siapa pun dalam hal apa pun, dan berusaha untuk memperoleh penerimaan dan penghargaan dari sebagian besar orang. Dia bahkan mengira bahwa dia mungkin akan dipilih menjadi pemimpin, pengawas, atau ketua tim, dan bukankah itu berarti dia membawa kehormatan bagi leluhur dan keluarganya? Bukankah dengan demikian dia telah mengubah nasibnya? Namun, kenyataan tidak sesuai dengan harapannya dan dia menjadi kecewa, dan berpikir, 'Aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan aku sangat akrab dengan saudara-saudariku, tetapi mengapa setiap kali tiba waktunya untuk memilih pemimpin, pengawas, atau ketua tim, aku tidak pernah mendapat giliran? Apakah karena penampilanku biasa-biasa saja, atau karena kinerjaku kurang baik, sehingga tak seorang pun melihatku? Setiap kali diadakan pemilihan, aku merasakan secercah harapan, dan aku bahkan akan merasa senang jika terpilih sebagai ketua tim. Aku begitu penuh semangat untuk membalas kasih Tuhan, tetapi akhirnya aku justru kecewa setiap kali diadakan pemilihan karena aku selalu tidak terpilih. Mengapa aku selalu tidak terpilih? Mungkinkah aku hanya mampu menjadi orang yang biasa-biasa saja, orang pada umumnya, orang yang tidak menonjol seumur hidupku? Jika kuingat kembali masa kecilku, masa mudaku, dan usia paruh bayaku, jalan yang selama ini kutempuh selalu sangat biasa-biasa saja dan aku belum pernah melakukan sesuatu yang signifikan. Bukannya aku tidak memiliki ambisi, atau kualitasku buruk, dan bukannya aku kurang berusaha atau tak sanggup menanggung banyak kesukaran. Aku memiliki tekad dan tujuan, dan bahkan aku dapat dikatakan memiliki ambisi. Jadi, mengapa aku tak pernah mampu menonjol dibandingkan yang lain? Kesimpulannya, aku benar-benar memiliki nasib yang buruk dan ditakdirkan untuk menderita, dan beginilah cara Tuhan mengatur segala sesuatu untukku.' Makin memikirkannya, makin dia menganggap dirinya bernasib buruk" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). "Orang-orang seperti ini, yang selalu menganggap diri mereka bernasib buruk, selalu merasa hati mereka seperti sedang diremukkan oleh batu raksasa. Mereka selalu percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada mereka terjadi karena nasib buruk mereka, dan karenanya apa pun yang terjadi, mereka berpikir bahwa mereka tidak dapat mengubahnya sedikit pun. Mereka hanya bisa bersikap negatif dan bermalas-malasan, serta pasrah pada nasib mereka" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Apa yang diungkapkan firman Tuhan persis menggambarkan keadaanku. Alasan mengapa aku terus hidup dalam emosi negatif berupa perasaan putus asa adalah karena aku selalu percaya bahwa nasibku buruk. Sejak kecil, keluargaku miskin dan orang-orang meremehkan kami, sehingga aku mengeluh bahwa nasibku buruk. Dulu aku percaya bahwa hanya dengan menjalani kehidupan yang unggul dan dikagumi orang lain, barulah itu disebut bernasib baik. Demi mengubah nasibku, aku belajar dengan giat. Namun, karena kurangnya suplai darah ke otak akibat gizi buruk, aku tidak bisa belajar dengan efisien, dan pada akhirnya aku gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi. Namun, aku tidak mau menerima nasibku begitu saja, jadi aku pergi bekerja di pabrik untuk mencari uang. Agar bisa menjadi petugas statistik, duduk di kantor, dan dikagumi orang lain, aku lembur untuk mempelajari keterampilan tersebut. Pada akhirnya, aku melakukan kesalahan statistik dan ditegur oleh pemimpin tim di depan semua orang, yang membuatku syok, hingga akibatnya mengalami kerusakan saraf pendengaran. Aku makin yakin bahwa semua ini terjadi karena nasibku yang buruk, aku pun hidup dalam penderitaan, kehilangan harapan hidup. Setelah mulai percaya kepada Tuhan, aku mengira dengan menjalankan tugasku dengan baik lalu dipromosikan menjadi pemimpin, aku akan dikagumi oleh saudara-saudari dan nasibku akan berubah. Namun, akibat keracunan gas gangguan pendengaranku makin parah, sehingga aku tidak bisa menjalankan tugasku dengan normal. Ini memengaruhi pekerjaan dan aku dialihtugaskan. Kemudian, ketika mulai melaksanakan tugas penyiraman, aku membayar harga dalam tugas itu, berharap aku bisa meraih hasil yang akan membuat orang lain mengagumiku. Ketika aku dipromosikan, kukira nasibku telah berubah menjadi lebih baik dan akhirnya aku memiliki kesempatan untuk bersinar. Namun, radang sendi leherku kambuh, dan gangguan pendengaranku pun makin parah. Aku tidak mampu lagi berkomunikasi dengan normal, yang memengaruhi tugasku. Aku pun tak punya pilihan selain kembali ke gereja setempat untuk melaksanakan tugas urusan umum di sana. Karena keinginanku akan reputasi dan status tidak terpenuhi, aku menyalahkan Tuhan karena telah mengatur nasib buruk untukku. Aku percaya bahwa nasibku di hidup ini hanyalah untuk bekerja keras dan bersusah payah, sehingga aku pun hidup dalam keadaan putus asa dan menyerah sepenuhnya. Aku tidak memikul beban dalam tugasku, terus-menerus melakukan kesalahan, menunda berbagai hal, dan tidak melaksanakan tugasku dengan baik. Aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan sudah membaca begitu banyak firman-Nya, tetapi ketika sesuatu terjadi padaku, aku tidak datang ke hadirat Tuhan untuk mencari kebenaran, dan ketika berbagai hal tidak berjalan sesuai dengan keinginanku, aku mengeluh bahwa Dia telah mengatur nasib buruk untukku. Bahkan aku menjadi negatif dan bersikap menentang. Ini adalah sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya, dan aku sama sekali tidak menunjukkan ketundukan kepada Tuhan.

Kemudian, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang konsep nasib baik dan nasib buruk. Tuhan berfirman: "Pengaturan Tuhan tentang bagaimana nasib seseorang, entah itu baik atau buruk, tidak boleh dipandang atau diukur dengan mata telanjang manusia atau mata seorang peramal, juga tidak boleh diukur berdasarkan seberapa banyak kekayaan dan kejayaan yang orang itu nikmati selama masa hidupnya, atau seberapa banyak penderitaan yang dia alami, atau apakah pengejarannya akan prospek, ketenaran, dan keuntungan berjalan lancar atau tidak. Namun, justru inilah kesalahan serius yang dilakukan oleh mereka yang menganggap dirinya bernasib buruk; tentu saja ini juga adalah cara mengukur apakah nasib mereka baik atau buruk yang digunakan oleh kebanyakan orang. Jadi, bagaimana seharusnya kita mengukur apakah nasib seseorang itu baik atau buruk? Bagaimana orang-orang duniawi mengukurnya? Mereka terutama mendasarkannya pada apakah kehidupan orang itu berjalan lancar atau tidak, apakah dia mampu menikmati kekayaan dan kejayaan atau tidak, apakah dia mampu menjalani kehidupan yang lebih baik daripada orang lain, seberapa banyak dia menderita dan seberapa banyak yang dia nikmati selama masa hidupnya, berapa lama dia hidup, karier apa yang dia miliki dan apakah kehidupannya dipenuhi kerja keras atau nyaman dan mudah—hal-hal ini dan banyak hal lain yang mereka gunakan untuk mengukur apakah nasib seseorang itu baik atau buruk. Bukankah engkau semua juga mengukurnya dengan cara seperti ini? (Ya.) Jadi, sebagian besar dari antaramu, ketika menghadapi sesuatu yang tidak berjalan lancar, ketika mengalami masa-masa sulit, atau ketika engkau tak mampu menjalani kehidupan yang lebih baik daripada orang lain, engkau semua juga akan menganggap dirimu bernasib buruk, dan engkau juga akan tenggelam dalam perasaan putus asa. Mereka yang menganggap dirinya bernasib buruk belum tentu benar-benar bernasib buruk, dan mereka yang menganggap dirinya bernasib baik belum tentu benar-benar bernasib baik. Bagaimana tepatnya mengukur apakah nasib itu baik atau buruk? ... Katakan kepada-Ku, apakah seorang janda bernasib baik? Dari perspektif duniawi, para janda bernasib buruk, dan jika mereka menjanda di usia tiga puluhan atau empat puluhan, mereka benar-benar bernasib buruk, ini sungguh berat bagi mereka! Namun, jika seorang janda menjadi percaya kepada Tuhan sebagai akibat dari penderitaan hebat yang dialaminya karena kehilangan suaminya, apakah itu berarti dia bernasib buruk? (Tidak.) Karena mereka yang bukan janda mungkin menjalani kehidupan yang lebih bahagia, dengan segala sesuatunya berjalan baik bagi mereka, dengan memiliki dukungan, makanan dan pakaian, keluarga yang dipenuhi anak dan cucu, kehidupan yang dijalani dengan nyaman, tanpa kesukaran apa pun atau tanpa kebutuhan rohani—mereka tidak percaya kepada Tuhan dan tidak akan percaya kepada-Nya dengan cara apa pun engkau berusaha memberitakan Injil kepada mereka. Jadi, yang mana dari kedua jenis orang ini yang bernasib baik? (Janda itu bernasib baik karena dia menjadi percaya kepada Tuhan.) Engkau lihat, karena orang-orang duniawi menganggap janda itu bernasib buruk, dan dia sangat menderita, dia kemudian mengubah arah hidupnya dan mulai mengikuti jalan yang berbeda, dan dia percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan—bukankah ini berarti dia sedang menikmati berkat? (Ya.) Apakah nasib buruknya telah berubah menjadi nasib baik? (Ya.) Benarkah demikian? Jika dia bernasib buruk, maka nasibnya dalam hidup ini seharusnya selalu buruk dan tidak dapat berubah; lalu, mengapa nasibnya bisa berubah? Apakah nasibnya berubah ketika dia mulai percaya kepada Tuhan? (Tidak, itu karena pandangannya tentang segala sesuatu telah berubah.) Caranya memandang segala sesuatu telah berubah; dengan demikian, apakah fakta objektif dari nasibnya sendiri telah berubah? (Tidak.) ... Sebenarnya, apakah nasibnya benar-benar menjadi baik karena dia percaya kepada Tuhan? Belum tentu. Hanya saja, sekarang dia percaya kepada Tuhan, dia memiliki harapan, dia merasakan suatu kepuasan di dalam hatinya, tujuan yang dikejarnya telah berubah, pandangannya tentang segala sesuatu berbeda, sehingga lingkungan hidupnya saat ini membuatnya merasa bahagia, puas, sukacita, dan damai. Dia merasa nasibnya sangat baik sekarang, jauh lebih baik daripada nasib mereka yang bukan janda. Baru sekaranglah dia sadar bahwa pandangannya sebelumnya, yakni meyakini dirinya bernasib buruk, adalah keliru. Apa yang dapat kaupahami dari hal ini? Apakah ada yang namanya 'nasib baik' dan 'nasib buruk'? (Tidak.) Tidak ada" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Firman Tuhan yang kubaca menerangi hatiku. Baik buruknya nasib seseorang tidak dapat diukur berdasarkan gagasan dan bayangan kita, juga tidak dapat dilihat dari perspektif duniawi. Orang-orang yang tidak percaya berpikir bahwa makan enak, berpakaian bagus, serta dikagumi dan didukung orang lain berarti bernasib baik. Sebaliknya, mereka berpikir bahwa jika seseorang melarat seumur hidupnya, hidup di lapisan bawah masyarakat dan direndahkan orang lain, atau jika dia tersiksa karena penyakit, atau menghadapi ujian dan kesukaran, berarti dia bernasib buruk. Nyatanya, di hadapan Tuhan, tidak ada yang namanya nasib baik atau nasib buruk. Ini sama seperti contoh yang diceritakan Tuhan tentang seorang janda. Janda itu awalnya berpikir bahwa nasibnya buruk, tetapi kemudian dia berpikir bahwa nasibnya baik. Meskipun lingkungan hidupnya tidak berubah, sudut pandangnya tentang segala sesuatu telah berubah. Dari firman Tuhan, dia mengerti bahwa meskipun orang yang keluarganya bahagia dan hidupnya nyaman menikmati hidupnya, jika dia tidak dapat datang ke hadirat Tuhan dan menerima keselamatan-Nya, pada akhirnya dia tetap akan masuk ke neraka. Karena penderitaan yang dialaminya, dia justru menerima pekerjaan Tuhan dan mendapat kesempatan untuk memahami kebenaran serta diselamatkan. Dialah sebenarnya orang yang paling diberkati. Karena perspektif janda itu terhadap berbagai hal telah berubah, pola pikirnya pun berubah. Namun, karena aku tidak memahami kebenaran, aku percaya bahwa memiliki ketenaran, keuntungan, dan kekaguman orang lain berarti bernasib baik, dan bahwa dipromosikan serta mampu melaksanakan tugas sebagai pemimpin berarti bernasib baik, jadi setiap kali tugasku disesuaikan, aku mengeluh bahwa nasibku buruk. Aku menyadari bahwa sudut pandangku terhadap berbagai hal begitu konyol dan tidak masuk akal. Sebenarnya, di rumah Tuhan, tugas disesuaikan berdasarkan kebutuhan pekerjaan, dan penyesuaian tugas itu dipertimbangkan secara menyeluruh sesuai dengan kualitas dan keterampilan orang. Tugas yang dilaksanakan seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan baik atau buruknya nasibnya. Bahkan jika tugasku tidak disesuaikan, seandainya aku tidak mengejar kebenaran, aku akan tetap disingkapkan dan disingkirkan. Meskipun aku melaksanakan tugas urusan umum, selama aku mengejar kebenaran dan perubahan watakku, aku masih bisa memiliki kesempatan untuk diselamatkan. Contohnya adalah seorang pengkhotbah yang melaksanakan tugasnya bersamaku. Dia memiliki beberapa karunia, dan kemudian dipilih sebagai pemimpin distrik. Namun, dia selalu mengejar reputasi dan status, serta melakukan banyak hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Pada akhirnya, dia dengan keras kepala menolak untuk bertobat, lalu diusir dari gereja, dan kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Dari sini, kita bisa melihat bahwa jika engkau percaya kepada Tuhan tanpa mengejar kebenaran dan mencari perubahan dalam watakmu, bahkan jika engkau menjadi pemimpin, engkau akan tetap disingkapkan dan disingkirkan oleh Tuhan. Dari contoh-contoh ini, jelas, aku percaya bahwa menikmati ketenaran, keuntungan, dan kekaguman dari semua orang berarti bernasib baik, dan bahwa jika engkau percaya kepada Tuhan lalu dipromosikan dan diberi posisi penting, engkau bernasib baik, sedangkan jika engkau melaksanakan tugas biasa di belakang layar, ini berarti engkau bernasib buruk. Pandangan ini sangat menyimpang dan sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran. Tuhan mengatur lingkungan hidup setiap orang berdasarkan kebutuhan mereka. Ada maksud baik Tuhan dalam segala hal yang orang alami dalam hidup mereka. Aku lahir di keluarga miskin dan meskipun aku belajar dengan giat, aku tetap tidak bisa menonjol di antara orang banyak. Meskipun dari luar aku tampak bernasib buruk, justru karena inilah aku bisa datang ke hadapan Tuhan dan menerima keselamatan dari-Nya. Aku memiliki keinginan yang kuat akan reputasi dan status, jadi jika aku menjalani kehidupan dengan kekayaan dan status, aku akan makin mengejar ketenaran dan keuntungan. Pada akhirnya, aku akan terseret oleh tren-tren jahat dan ditelan oleh Iblis. Hanya setelah mengalami begitu banyak kemunduran dan kegagalan, barulah aku bisa kembali kepada Tuhan, menerima penyiraman dan pembekalan firman Tuhan, serta memahami beberapa kebenaran. Ini adalah berkat terbesar. Ini jauh lebih bermakna daripada memperoleh ketenaran dan keuntungan, serta menikmati kekayaan dan kemegahan dunia. Setelah mulai percaya kepada Tuhan, aku diatur untuk melaksanakan tugas urusan umum karena gangguan pendengaranku. Ini juga merupakan perlindungan Tuhan atas diriku. Keinginanku akan reputasi dan status terlalu kuat; setiap kali ada kesempatan untuk memamerkan diri, aku tidak bisa menahan diri untuk bekerja demi reputasi dan status. Akan sangat mudah bagiku untuk menempuh jalan antikristus dan disingkapkan serta disingkirkan. Meskipun sekarang aku tuli, rumah Tuhan tidak mencabut kesempatanku untuk melaksanakan tugasku. Sebaliknya, aku diberi tugas-tugas yang sesuai berdasarkan kondisi fisikku. Meskipun tugas ini berada di belakang layar dan mungkin tidak terlalu dipandang oleh orang lain, hal itu tidak menghalangiku untuk mengejar kebenaran. Selama melaksanakan tugas ini, aku memperlihatkan banyak kerusakan. Terkadang aku bersikap asal-asalan dan tidak bersungguh-sungguh, dan terkadang aku menikmati kenyamanan daging serta enggan membayar harga. Dengan makan dan minum firman Tuhan, aku mendapatkan pemahaman tentang watak rusakku sendiri, dan setelah itu, ketika bertindak, aku bisa memberontak terhadap daging, mencurahkan hati dalam tugasku, dan bersungguh-sungguh. Pada saat yang sama, aku juga belajar mencari prinsip kebenaran dalam segala hal, untuk bersungguh-sungguh dan teliti bahkan dalam perkara kecil maupun yang tampak sepele. Dengan mengalami hal ini, aku sadar bahwa tidak soal apakah kau seorang pemimpin atau hanya melaksanakan tugas urusan umum di rumah Tuhan, selama kau mengejar kebenaran, kau akan memiliki jalan masuk kehidupan dan kesempatan untuk diselamatkan. Tuhan mengatur nasib hidupku sesuai dengan kebutuhanku, semua itu bermanfaat bagiku. Masalahnya adalah aku merasa tidak puas; selalu memiliki ambisi dan keinginan sendiri, serta tidak tunduk pada kedaulatan Tuhan. Akibatnya, bukan hanya aku sangat menderita, tetapi aku juga tidak melaksanakan tugasku dengan baik. Setelah sudut pandangku berubah, aku tidak lagi merasa begitu menderita.

Kemudian, aku membaca firman Tuhan dan sedikit lebih memahami perspektif di balik pengejaranku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Apakah pemikiran dan pandangan orang yang selalu menganggap dirinya bernasib buruk itu benar atau salah? (Salah.) Yang jelas, orang-orang ini mengalami perasaan putus asa karena terperosok dalam keekstreman. Karena mereka memiliki perasaan putus asa yang ekstrem ini akibat memiliki pemikiran dan pandangan yang ekstrem, mereka tidak mampu menghadapi hal-hal yang terjadi dalam hidup dengan benar, dan mereka tidak dapat menjalankan fungsi yang seharusnya orang miliki dengan cara yang normal, mereka juga tidak mampu melaksanakan tugas, tanggung jawab atau kewajiban sebagai makhluk ciptaan dengan cara yang normal. ... Mereka memandang masalah-masalah dan orang-orang dari sudut pandang yang ekstrem dan tidak benar ini, sehingga berulang kali menempatkan diri mereka di bawah efek dan pengaruh emosi negatif ini saat mereka menjalani hidup, memandang orang dan hal-hal, dan dalam cara mereka berperilaku dan bertindak. Pada akhirnya, mereka tampak begitu lelah dengan cara apa pun mereka menjalani hidup, dan mereka tidak mampu membangkitkan semangat apa pun bagi kepercayaan mereka kepada Tuhan dan pengejaran mereka akan kebenaran. Pilihan apa pun yang mereka ambil tentang cara mereka menjalani hidup, mereka tidak mampu melaksanakan tugas mereka dengan positif dan aktif, dan meskipun telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka tidak pernah berfokus melaksanakan tugas mereka dengan segenap hati dan pikiran mereka atau melaksanakan tugas mereka dengan cara yang memenuhi standar, dan tentu saja, mereka terlebih lagi tidak mengejar kebenaran, ataupun menerapkan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Mengapa? Kesimpulannya, itu karena mereka selalu menganggap diri mereka bernasib buruk, dan ini menyebabkan mereka menjadi sangat berputus asa. Mereka menjadi sepenuhnya tidak bersemangat, tidak bertenaga, bagaikan mayat hidup, tanpa daya hidup, tidak memperlihatkan perilaku yang positif atau optimistis, apalagi tekad atau ketabahan untuk mempersembahkan pengabdian yang seharusnya pada tugas mereka, tanggung jawab mereka, dan kewajiban mereka. Sebaliknya, mereka berjuang dengan enggan dari hari ke hari dengan sikap yang asal-asalan, dan melewati hari-hari mereka seperti ini dengan cara yang bingung, linglung, dan bahkan tanpa merasakan apa pun tentang hal ini. Mereka tidak tahu berapa lama mereka akan terus menjalani hidup tanpa tujuan yang jelas seperti itu. Pada akhirnya, tidak ada jalan lain bagi mereka selain menegur diri mereka sendiri, dengan berkata, 'Oh, aku hanya akan terus menjalani hidup tanpa tujuan yang jelas seperti ini selama aku bisa. Jika suatu hari aku tak sanggup lagi, dan gereja ingin mengusirku dan menyingkirkanku, biarlah mereka menyingkirkanku. Apa yang bisa kulakukan tentang nasib burukku?' Engkau lihat, mereka bahkan begitu lesu dalam ucapan mereka. Perasaan putus asa ini tidak hanya menimbulkan suasana hati yang sederhana, tetapi yang lebih penting, itu membawa dampak yang menghancurkan bagi pemikiran, hati, dan pengejaran mereka. Jika engkau tidak mampu membalikkan perasaan putus asamu dengan segera dan tepat waktu, itu bukan saja akan memengaruhi seluruh hidupmu, tetapi juga akan menghancurkan hidupmu dan membawamu menuju kematian. Sekalipun engkau benar-benar percaya kepada Tuhan, engkau tak akan mampu memperoleh kebenaran dan mencapai keselamatan, dan pada akhirnya, engkau akan binasa" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Usai membaca bagian firman Tuhan ini, aku menyadari bahwa keadaanku yang terus hidup dalam perasaan putus asa dan mengeluh tentang nasib burukku sangat berbahaya. Ini adalah pemikiran yang ekstrem, dan jika tidak kuatasi, aku akan kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Awalnya, kupikir ketika aku hidup dalam keputusasaan dan mengeluhkan nasib burukku, itu hanya karena aku sedang sedih, dan karena aku tidak meninggalkan tugasku, aku tidak menganggapnya sebagai perbuatan jahat. Baru sekarang aku menyadari bahwa esensi dari hidup dalam perasaan putus asa adalah ketidakpuasan terhadap kedaulatan Tuhan; itu adalah penentangan diam-diam terhadap Tuhan. Jika aku tidak pernah bertobat, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan kebenaran dan diselamatkan. Pada akhirnya, aku hanya bisa dimusnahkan. Konsekuensinya begitu mengerikan! Aku memikirkan bagaimana, sebelum aku percaya kepada Tuhan, aku tidak puas dengan nasib yang telah Tuhan atur bagiku karena aku selalu gagal di dunia. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, aku masih mengejar kekaguman dari orang lain. Ketika aku tidak bisa menonjol dalam tugasku, aku merasa sengsara. Aku mengeluh karena bernasib buruk dan hidup dalam keadaan negatif serta bobrok. Meskipun aku melaksanakan tugasku, aku kurang motivasi. Aku pasif dan bermalas-malasan dalam tugasku, dan aku bersikap asal-asalan. Aku sering melakukan kesalahan, menyebabkan masalah dan gangguan bagi saudara-saudariku, serta menghambat jalan masuk kehidupanku sendiri. Jika aku tidak mengubah keadaan ini, aku akan kehilangan pekerjaan Roh Kudus, tugasku, dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Setelah memahami hal ini, aku merasakan ketakutan yang tak kunjung hilang, maka aku dengan sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, selama bertahun-tahun aku sudah keras kepala dan muak terhadap kebenaran. Aku terus-menerus mengeluhkan nasibku yang buruk, dan tidak mampu melepaskan diri dari emosiku yang ekstrem. Baru sekarang aku menyadari bahwa sudut pandang di balik pengejaranku selama ini ternyata salah. Aku bersedia bertobat kepada-Mu, mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh, dan melaksanakan tugasku dengan baik."

Kemudian, aku merenung: Apa akar penyebab dari penderitaan dalam hidupku selama bertahun-tahun ini? Aku membaca firman Tuhan: "Apa yang Iblis gunakan untuk membuat manusia tetap berada dalam kendalinya? (Ketenaran dan keuntungan.) Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pemikiran orang-orang, membuat mereka hanya memikirkan kedua hal ini, dan membuat mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan serta memikul beban berat demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan segala yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan membuat setiap penilaian atau keputusan demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara inilah, Iblis mengenakan belenggu tak kasatmata pada orang-orang, dan dengan belenggu-belenggu ini, mereka tidak punya kemampuan ataupun keberanian untuk melepaskan diri. Tanpa sadar, mereka mengenakan belenggu ini sementara berjalan selangkah demi selangkah, dengan begitu susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi serta mengkhianati Tuhan dan menjadi makin jahat. Dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis. Melihat tindakan Iblis sekarang, bukankah motif licik dan jahat Iblis sepenuhnya patut untuk dibenci? Mungkin sekarang ini engkau semua masih belum mampu mengetahui yang sebenarnya tentang motif licik Iblis karena mengira bahwa tanpa ketenaran dan keuntungan, hidup itu tidak akan ada artinya, dan orang tidak akan mampu lagi melihat arah ke depan, tidak mampu lagi melihat tujuan mereka, serta masa depan mereka akan menjadi gelap, redup, dan suram. Namun, perlahan-lahan, suatu hari nanti engkau semua akan menyadari bahwa ketenaran dan keuntungan adalah belenggu besar yang Iblis kenakan pada manusia. Ketika hari itu tiba, engkau akan sepenuhnya menentang kendali Iblis dan sepenuhnya menentang belenggu yang dibawa kepadamu oleh Iblis. Ketika engkau ingin membebaskan diri dari semua hal yang telah Iblis tanamkan dalam dirimu ini, engkau kemudian akan sepenuhnya memutuskan hubungan dengan Iblis, dan engkau akan benar-benar membenci semua yang telah Iblis bawa kepadamu. Baru setelah itulah, engkau akan memiliki kasih dan kerinduan yang sejati kepada Tuhan" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). Setelah membaca firman Tuhan, aku tiba-tiba menyadari bahwa semua penderitaan yang kutanggung selama bertahun-tahun ini disebabkan oleh Iblis. Iblis memikat dan merusakku dengan ketenaran dan keuntungan, membuatku berusaha untuk menonjol dan mengubah nasibku sejak kecil. Saat di bangku sekolah, para guru mengajariku bahwa, "Kau harus menanggung penderitaan yang sangat besar agar bisa unggul dari yang lain," "Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah," dan "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang." Aku menerima aturan untuk bertahan hidup itu, dan dengan keliru percaya bahwa jika aku memiliki ketenaran dan keuntungan, aku akan memiliki segalanya, dan selama aku bekerja keras, lebih menderita, dan membayar harga lebih tinggi, masa depanku akan bagus dan aku bisa menikmati segala kekayaan serta kemakmuran di dunia. Aku giat belajar selama lebih dari sepuluh tahun demi mendapatkan ketenaran dan keuntungan serta dikagumi orang lain, tetapi pada akhirnya, aku tetap gagal. Aku tidak mau menerima nasibku begitu saja, jadi aku mengambil lembur demi belajar, untuk mempelajari cara menjadi petugas statistik. Akhirnya, bukan hanya aku gagal mengubah nasibku, tetapi juga membuat kesalahan dalam pekerjaan karena terlalu memaksakan tubuhku. Aku mengalami guncangan yang mengakibatkan kerusakan saraf pendengaran. Setelah mulai percaya kepada Tuhan, aku tidak sabar untuk cepat-cepat mendapatkan hasil dalam melaksanakan tugasku, begadang untuk bekerja, tidak memedulikan kesehatanku, agar tidak diremehkan orang lain. Pada akhirnya, gangguan pendengaranku makin parah dan aku tidak bisa berkomunikasi secara normal dengan saudara-saudariku. Aku hanya bisa melakukan pekerjaan urusan umum di balik layar, dan aku merasa sangat tersiksa karena tidak dikagumi orang lain. Ketenaran dan keuntungan bagaikan belenggu yang mengikat tubuhku, membuatku tidak dapat melepaskan diri. Aku memikirkan bagaimana orang-orang tidak percaya lebih mementingkan ketenaran dan keuntungan daripada hidup itu sendiri. Beberapa orang tidak tahan menerima kenyataan bahwa mereka gagal masuk perguruan tinggi atau gagal dalam karier, dan akhirnya mereka mengalami gangguan mental, bahkan bunuh diri dengan melompat dari gedung. Aku pun sama saja. Ketika tidak dapat meraih ambisi dan keinginanku untuk dikagumi orang lain, aku terus-menerus mengeluh bahwa Tuhan tidak mengatur nasib yang baik bagiku, hidup dalam keadaan putus asa, dan berhenti berusaha. Bahkan aku sempat terpikir untuk mengakhiri hidup. Jika bukan karena perlindungan Tuhan, mungkin aku sudah berakhir seperti orang-orang tidak percaya itu. Akhirnya aku benar-benar melihat dengan jelas bahwa aturan untuk bertahan hidup yang ditanamkan Iblis dalam diriku bukanlah hal yang positif. Aturan itu membuatku khawatir akan reputasi dan status, dan ketika aku tidak bisa mendapatkannya, aku menjauh dari Tuhan, mengkhianati-Nya, menentang-Nya, dan pada akhirnya terancam kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Ini adalah niat jahat Iblis untuk merusak manusia. Jika aku terus seperti ini, cepat atau lambat aku akan disingkirkan. Aku menyesal telah begitu buta dan bodoh serta dirusak Iblis selama bertahun-tahun. Mulai sekarang, aku bertekad untuk memberontak sepenuhnya terhadap Iblis dan hidup berdasarkan firman Tuhan, tidak lagi mengejar reputasi dan status.

Suatu hari, aku membaca firman Tuhan ini dan memahami maksud Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Bagaimana seharusnya sikap orang terhadap nasib? Engkau harus tunduk pada pengaturan Sang Pencipta, dan secara aktif dan tekun mencari tujuan dan makna di balik pengaturan segala sesuatu ini oleh Sang Pencipta, sehingga mencapai pemahaman akan kebenaran, menjalankan fungsi terbesarmu dalam kehidupan yang telah Tuhan atur bagimu ini, melaksanakan tugas, tanggung jawab, dan kewajiban sebagai makhluk ciptaan, serta membuat hidupmu lebih bermakna dan lebih berharga, sampai akhirnya Sang Pencipta menerimamu dan mengingatmu. Tentu saja, akan jauh lebih baik jika engkau dapat berusaha keras untuk memperoleh keselamatan dengan mencari dan menerima kebenaran—itulah yang terbaik. Bagaimanapun juga, sehubungan dengan nasib, sikap paling tepat yang harus dimiliki oleh manusia ciptaan bukanlah sikap yang menghakimi dan mendefinisikan secara sembarangan, atau menggunakan metode yang ekstrem untuk menanganinya. Terlebih lagi, orang tentu saja tidak boleh berusaha menentang, menolak, atau mengubah nasib mereka, melainkan mereka harus menggunakan hati mereka untuk menghayati, mencari, meraba-raba, dan tunduk padanya, lalu menghadapinya secara positif. Akhirnya, dalam lingkungan hidup dan perjalanan hidup yang diatur bagimu oleh Tuhan, engkau harus mencari prinsip tentang cara berperilaku yang Tuhan ajarkan kepadamu, mencari jalan yang Tuhan tuntut untuk kautempuh, dan mengalami nasib yang telah Tuhan atur bagimu dengan cara ini, dan pada akhirnya, engkau akan diberkati" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Aku menemukan sebuah jalan dari firman Tuhan. Tuhan menghendaki aku untuk tetap pada posisiku sebagai makhluk ciptaan dan melaksanakan tugasku dengan sikap yang membumi. Jika dipikirkan, ada maksud baik Tuhan di balik tugas apa pun yang kulaksanakan, dan aku harus menerima bahwa itu adalah dari Tuhan. Entah aku bisa dikagumi orang lain atau tidak, aku hanyalah makhluk ciptaan yang kecil, dan dengan memenuhi fungsiku sebagai makhluk ciptaan, itu sudah cukup bagiku. Dari lubuk hatiku, aku bersedia tunduk pada nasib yang telah Tuhan atur bagiku.

Sekarang, aku bisa tunduk dengan rela dan belajar untuk melaksanakan tugasku dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh. Aku berlatih untuk mencari prinsip-prinsip kebenaran dalam segala hal dan bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan. Jika aku tidak memahami sesuatu, aku lebih banyak mencari persekutuan dari saudara-saudariku. Jika aku melakukan kesalahan dalam tugasku, aku segera mencari dan merangkum penyebabnya, merenungkan watak rusakku, dan memperbaiki kesalahanku sesegera mungkin. Ketika aku menerapkan dengan cara ini, aku merasa damai dan tenang di hatiku. Perlahan-lahan, aku tidak lagi terbelenggu oleh pandangan bahwa nasibku buruk, dan keadaanku menjadi makin baik. Ini adalah hasil dari pencerahan dan tuntunan firman Tuhan dalam diriku. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp