Bagaimana Aku Dibebaskan dari Kecongkakan
Oleh Saudara Qi Chen, Myanmar Pada Juni 2019, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Setahun kemudian, aku memulai...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Aku bertanggung jawab atas pekerjaan penyiraman di beberapa gereja. Aku tahu bahwa mampu melaksanakan tugas ini merupakan pengangkatan dan kasih karunia dari Tuhan, dan aku ingin melaksanakan tugas ini dengan baik untuk membalas kasih Tuhan. Namun, karena aku merasa tidak memikul beban, aku menunda pekerjaan itu. Aku pun tidak merenungkan diriku sendiri dan berbohong untuk melindungi reputasi dan statusku. Melihat kenyataan ini, aku menyadari bahwa aku licik dan bukan orang yang dapat dipercaya.
Beberapa waktu lalu, situasinya sangat buruk, dan banyak saudara-saudari yang ditangkap. Pemimpin tingkat atas menulis surat kepadaku, mendesakku untuk lebih banyak bersekutu tentang kebenaran visi kepada para petobat baru agar mereka dapat memahami pekerjaan Tuhan dan tetap teguh di tengah situasi yang mengerikan ini. Ketika menerima surat itu, aku langsung bersekutu dengan para penyiram tentang pelaksanaan pekerjaan, tetapi aku tidak menindaklanjuti detail pekerjaan itu di kemudian hari. Kupikir karena aku telah bersekutu dengan para penyiram, mereka akan bersekutu dengan para petobat baru, dan juga, karena tidak seorang pun dari gereja-gereja yang menjadi tanggung jawabku telah ditangkap, seharusnya tidak ada masalah besar. Namun, tanpa disangka, tidak lama setelah itu, tiga gereja yang menjadi tanggung jawabku dilanda penangkapan besar-besaran. Pemimpin kembali menulis surat kepadaku, menanyakan berapa banyak petobat baru di setiap gereja yang rutin menghadiri pertemuan, berapa banyak yang tidak rutin menghadiri pertemuan akibat situasi yang mengerikan itu, berapa banyak petobat baru yang telah ditangkap, dan berapa banyak yang tidak memiliki orang yang akan menyirami mereka, dan aku diminta untuk segera menjawab dengan rincian tersebut. Menerima surat itu membuatku sadar, "Meskipun aku telah melaksanakan tugas ini, aku tidak menindaklanjutinya secara mendetail. Aku tidak tahu tentang detail yang diminta pemimpin, bagaimana aku harus menjawabnya? Apa yang akan dia pikirkan tentangku jika aku mengatakan yang sebenarnya? Apakah dia akan mengatakan bahwa aku tidak melakukan pekerjaan nyata? Bagaimana aku bisa menunjukkan wajahku jika dia memangkasku? Tidak, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya." Aku duduk di depan komputerku, memikirkan berbagai pilihan, tidak tahu harus menjawab apa, sampai akhirnya aku mendapat ide. Aku menulis kepada pemimpin, mengatakan, "Penyiraman para petobat baru tentang kebenaran visi telah dilaksanakan dan sedang ditindaklanjuti." Setelah itu, aku buru-buru menindaklanjuti pekerjaan tersebut, berpikir, "Ketika pemimpin bertanya lagi, aku akan memberikan laporan tentang situasi yang baru saja kutindaklanjuti. Dengan cara itu, dia tidak akan tahu bahwa aku telah bertindak tidak bertanggung jawab dan tidak menindaklanjuti pekerjaan tersebut." Kemudian, ketika aku benar-benar menemui para penyiram untuk mengetahui detail situasinya, aku mendapati bahwa meskipun mereka telah bersekutu dengan para petobat baru, tidak ada hasil yang dicapai, dan mereka juga tidak memahami situasi para petobat baru. Ketika mencari tahu hal-hal ini, aku akhirnya menyadari bahwa semua ini terjadi karena aku tidak memikul beban dan tidak benar-benar menindaklanjuti pekerjaan, dan jalan masuk kehidupan para petobat baru telah tertunda. Namun, aku tetap tidak mencari kebenaran atau merenungkan diriku sendiri, sehingga situasinya tetap sama.
Tak lama setelah itu, pemimpin tingkat atas mengatur sebuah pertemuan dengan kami untuk mengetahui detail pekerjaan penyiraman, berapa banyak petobat baru yang menjadi tanggung jawab setiap penyiram, bagaimana mereka menyelesaikan kesulitan dan gagasan yang dimiliki para petobat baru, apakah mereka penuh perhatian dalam membimbing para petobat baru, dan sebagainya. Aku pun mulai merasa cemas, berpikir, "Semoga pemimpin itu tidak bertanya kepadaku terlebih dahulu, karena ada beberapa pekerjaan yang belum sepenuhnya kulaksanakan dan beberapa detail yang akan sangat memalukan jika tidak bisa kujelaskan!" Namun, segala sesuatu berjalan seperti yang kukhawatirkan, dan pemimpin menanyaiku terlebih dahulu. Tanpa punya pilihan lain, aku terpaksa memasang wajah tenang, tetapi di dalam hati, aku ingin lari saja. Aku berpikir, "Bagaimana kalau dia menanyakan terlalu banyak detail yang tidak bisa kujelaskan, bukankah aku akan terlihat seperti belum melakukan pekerjaan nyata? Itu akan sangat memalukan! Apakah pemimpin dan rekan kerja lainnya akan memandang rendah diriku?" Pemimpin mulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan, yang dengan susah payah kucoba jawab satu per satu, tetapi ketika pemimpin bertanya tentang pekerjaan penyiraman petobat baru oleh Saudari Yang Fan, aku panik, dan berpikir, "Aku tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan Yang Fan dengan para petobat baru, celakalah sudah, apa yang harus aku katakan? Jika aku jujur kepada pemimpin dan berkata aku tidak tahu, apakah dia akan berkata, 'Kau sudah bertanggung jawab atas pekerjaan penyiraman begitu lama, dan kau bahkan tidak tahu hal-hal dasar seperti ini, bagaimana kau menjalankan pekerjaanmu?' Bukankah ini akan mengecewakan pemimpin dan membuat dia memandang rendah diriku?" Dengan segala hal ini di benakku, kulaporkan saja beberapa pekerjaan penyiraman Yang Fan yang sebelumnya kepada pemimpin. Rasa bersalah dan cemas setelah mengatakan hal itu membuat jantungku berdebar kencang, dan wajahku terasa panas. Meskipun aku berhasil berpura-pura serta melindungi reputasi dan statusku, aku dipenuhi dengan rasa tertuduh dan kepedihan yang sulit kujelaskan, "Bukankah aku jelas-jelas berbohong? Aku sungguh munafik!" Malam itu, aku berbaring di tempat tidur, bergolek-golek, tak bisa tidur, penuh dengan penyesalan atas kebohongan yang telah kuucapkan. Namun, semua sudah terlanjur dikatakan, dan seperti air yang tumpah, itu tidak bisa ditarik kembali, dan sudah terlambat untuk berterus terang dan bicara apa adanya. Jika pemimpin mengetahui, apakah dia akan menyebutku orang yang licik? Pikiran-pikiran ini terus terlintas di kepalaku, dan aku tidak mampu mengumpulkan keberanian untuk berterus terang. Aku merasa tidak memiliki integritas dan martabat, dan seperti seorang munafik sejati. Jantungku berdebar kencang karena cemas, perutku serasa tegang, dan aku terus bertanya pada diriku sendiri, "Mengapa aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada pemimpin? Apa gunanya ketidakjujuran ini?" Makin aku memikirkannya, makin aku merasa bersalah, maka aku berdoa kepada Tuhan dalam hati, "Ya Tuhan! Ketika pemimpin bertanya tentang detail pekerjaan hari ini, aku jelas tidak tahu, tetapi karena takut dipandang rendah dan kehilangan muka, aku malah terang-terangan berbohong untuk menipu pemimpin. Ya Tuhan! Aku begitu licik, tolong berikan aku keberanian agar aku dapat menjadi bersih dan terbuka, serta hidup sebagai orang yang jujur."
Suatu hari, aku menonton sebuah video kesaksian pengalaman berjudul "Penderitaan karena Berbohong", ada sebuah bagian firman Tuhan dalam video itu yang sangat menyentuh hatiku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Dalam kehidupan mereka sehari-hari, orang sering kali berbicara omong kosong, berbohong, dan mengatakan hal-hal yang dungu, bodoh, dan membela diri. Kebanyakan dari hal-hal tersebut diucapkan demi kesombongan dan harga diri, untuk memuaskan ego mereka sendiri. Mengatakan kebohongan seperti itu memperlihatkan watak rusak mereka. ... Kebohonganmu sudah terlalu banyak. Setiap perkataan yang kauucapkan ditambah dan dikurangi serta tidak tulus, dan tak sepatah kata pun dapat dianggap benar atau jujur. Meskipun saat berbohong engkau tidak merasa telah kehilangan muka, jauh di lubuk hatimu, engkau merasa malu. Hati nuranimu menegurmu, dan engkau merasa betapa hinanya dirimu, berpikir, 'Mengapa aku menjalani kehidupan yang begitu menyedihkan? Apakah begitu sulit untuk mengatakan yang sebenarnya? Haruskah aku berbohong demi harga diriku? Mengapa hidupku begitu melelahkan?' Engkau tidak perlu menjalani kehidupan yang melelahkan. Jika engkau mampu melakukan penerapan menjadi orang yang jujur, engkau akan dapat menjalani kehidupan yang santai, bebas, dan merdeka. Namun, engkau memilih untuk melindungi harga diri dan kesombonganmu dengan berbohong. Akibatnya, engkau menjalani kehidupan yang melelahkan dan menyedihkan, yang disebabkan oleh perbuatanmu sendiri. Orang mungkin merasa bangga dengan berbohong, tetapi untuk apa perasaan bangga tersebut? Itu hanyalah sesuatu yang kosong, sesuatu yang sama sekali tidak berharga. Ketika orang berbohong, orang itu sedang merusak karakter dan martabatnya sendiri. Berbohong membuat orang kehilangan martabat dan karakternya; berbohong membuat Tuhan tidak senang, dan Dia membenci itu. Apakah ini bermanfaat? Tidak. Apakah ini jalan yang benar? Tidak. Orang yang sering berbohong hidup berdasarkan watak Iblis dalam diri mereka; mereka hidup di bawah kuasa Iblis. Mereka tidak hidup dalam terang, juga tidak hidup dalam hadirat Tuhan. Engkau selalu memikirkan cara berbohong dan kemudian setelah berbohong, engkau harus memikirkan cara menutupi kebohongan tersebut. Dan ketika engkau tidak menutupinya dengan cukup baik dan kebohongan itu tersingkap, engkau harus memutar otak untuk berusaha meluruskan perkataanmu yang bertolak belakang dan menjadikannya terdengar masuk akal. Bukankah hidup dengan cara seperti ini melelahkan? Melelahkan. Apakah itu sepadan? Tidak, itu tidak sepadan. Memutar otak untuk berbohong lalu menutupinya, semua demi harga diri, kesombongan, dan status, apa gunanya semua itu? Akhirnya, engkau merenung dan berpikir, 'Apa gunanya? Terlalu melelahkan untuk berbohong dan harus menutupinya. Berperilaku dengan cara seperti ini sangat melelahkan; akan lebih mudah jika aku menjadi orang yang jujur.' Engkau ingin menjadi orang yang jujur, tetapi engkau tidak mampu melepaskan harga diri, kesombongan, dan kepentingan pribadimu. Jadi, engkau hanya bisa berbohong untuk melindungi hal-hal ini. Jika engkau adalah orang yang mencintai kebenaran, engkau akan menanggung berbagai kesukaran agar dapat menerapkan kebenaran. Sekalipun itu berarti mengorbankan reputasi, status, dan menanggung cemoohan serta penghinaan dari orang lain, engkau tidak akan keberatan—asalkan engkau mampu menerapkan kebenaran dan memuaskan Tuhan, itu sudah cukup. Mereka yang mencintai kebenaran memilih untuk menerapkan kebenaran dan bersikap jujur. Inilah jalan yang benar dan diberkati oleh Tuhan. Jika orang tidak mencintai kebenaran, apa yang mereka pilih? Mereka memilih menggunakan kebohongan untuk melindungi reputasi, status, martabat, dan karakter mereka. Mereka lebih suka menjadi penipu, dibenci dan ditolak oleh Tuhan. Orang-orang semacam itu menolak kebenaran dan menolak Tuhan. Mereka memilih reputasi dan status mereka sendiri; mereka ingin menjadi penipu. Mereka tidak peduli apakah Tuhan berkenan atau apakah Dia akan menyelamatkan mereka atau tidak. Apakah orang semacam itu masih dapat diselamatkan oleh Tuhan? Tentu saja tidak, karena mereka telah memilih jalan yang salah. Mereka hanya bisa hidup dengan berbohong dan menipu; mereka hanya bisa menjalani kehidupan yang menyakitkan dengan berbohong dan menutupinya serta memeras otak untuk membela diri mereka sendiri setiap hari. Jika engkau mengira bahwa kebohongan dapat melindungi reputasi, status, kesombongan, dan harga diri yang kaudambakan, engkau salah besar. Sebenarnya, dengan berbohong, engkau bukan saja tidak melindungi kesombongan dan harga diri, serta martabat dan karaktermu, yang lebih parah lagi, engkau kehilangan kesempatan untuk menerapkan kebenaran dan menjadi orang yang jujur. Sekalipun engkau berhasil melindungi reputasi, status, kesombongan, dan harga dirimu pada saat itu, engkau telah mengorbankan kebenaran dan mengkhianati Tuhan. Ini berarti engkau telah benar-benar kehilangan kesempatanmu untuk diselamatkan dan disempurnakan oleh-Nya, yang merupakan kerugian terbesar dan penyesalan seumur hidup. Mereka yang suka menipu tidak akan pernah memahami hal ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya Orang Jujur yang Mampu Hidup dalam Keserupaan dengan Manusia Sejati"). Firman Tuhan menyingkapkan keadaanku yang sebenarnya. Demi melindungi keangkuhan dan harga diri, serta mencegah orang lain memandang rendah diriku, aku memilih untuk berbohong dan menipu, mengorbankan integritas dan martabatku, daripada mengatakan yang sebenarnya. Sehubungan dengan rangkaian penangkapan baru-baru ini, pemimpin menulis surat kepadaku untuk menanyakan tentang berapa banyak petobat baru di wilayah tanggung jawabku yang rutin menghadiri pertemuan dan berapa banyak yang tidak, serta tentang hasil terbaru dalam menyirami dan membantu petobat baru. Aku jelas-jelas tidak menindaklanjuti tugas-tugas tersebut, dan seharusnya aku jujur dalam laporanku kepada pemimpin, tetapi demi melindungi harga diri dan statusku, aku berbohong dan mengatakan bahwa aku sudah menindaklanjutinya. Selama rapat, pemimpin menanyaiku tentang penyiraman petobat baru oleh Yang Fan. Aku tidak mengetahui detailnya, jadi aku terang-terangan berbohong saja, melaporkan informasi lama seolah-olah itu informasi terbaru dalam upaya untuk lolos dari situasi tersebut. Meskipun aku sadar telah berbohong dan merasa tertuduh, aku tetap tidak mau berterus terang. Untuk mencegah orang lain memandang rendah diriku, aku berulang kali berbohong. Aku begitu licin dan licik! Aku terus bertanya pada diriku sendiri, "Bukankah kau orang yang percaya?" Orang percaya sejati mampu mengatakan kebenaran, bersikap jujur, serta memiliki integritas dan martabat, dan dalam situasi apa pun, mereka memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran serta mengatakan sesuatu apa adanya, dan meskipun dengan cara ini orang lain mungkin dapat melihat kekurangan dan ketidakmampuannya, menerapkan kebenaran dan hidup secara terbuka menyenangkan Tuhan dan membuat orang lain dapat memercayainya. Namun, aku telah berbohong demi melindungi reputasi dan statusku, tidak memiliki integritas dan martabat, serta gagal memenuhi tuntutan dasar dalam perilaku manusia. Tuhan telah memberikan kasih karunia dan memberiku kesempatan untuk melaksanakan tugas penyiraman, berharap agar aku mampu tulus bekerja sama dengan-Nya dan dengan benar menyirami para petobat baru yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Ini juga merupakan kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku untuk menerapkan dan mendapatkan kebenaran, tetapi aku telah gagal memenuhi maksud tulus Tuhan. Selain tidak memikul beban apa pun dalam tugasku, aku juga memilih berbohong daripada menerapkan kebenaran ketika menghadapi masalah. Aku benar-benar mengecewakan Tuhan. Makin aku memikirkannya, makin aku kesal dan membenci diriku sendiri karena aku begitu licik.
Kemudian, aku mencari dalam firman Tuhan untuk menemukan akar kebohongan dan kelicikanku. Aku membaca sebuah bagian firman Tuhan: "Ketika antikristus disingkapkan dan dipangkas, hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari berbagai alasan untuk membela diri, mencari berbagai macam alasan untuk berusaha membuat diri mereka terlepas dari masalah sehingga mencapai tujuan mereka untuk melalaikan tanggung jawab mereka dan mencapai tujuan mereka untuk diampuni kesalahannya. Yang paling antikristus takutkan adalah bahwa umat pilihan Tuhan akan mengetahui karakter mereka yang sebenarnya, mengetahui kelemahan dan kekurangan mereka, mengetahui kelemahan utama mereka mengetahui kualitas dan kemampuan kerja mereka yang sebenarnya—karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk mengemas diri mereka sendiri untuk menutupi kekurangan, masalah, dan watak mereka yang rusak. Ketika perbuatan jahat mereka terbongkar dan tersingkap, hal pertama yang mereka lakukan bukanlah mengakui atau menerima fakta ini, ataupun berusaha sekuat tenaga untuk menebus dan memperbaiki kesalahan mereka, melainkan berusaha menemukan berbagai cara untuk menyembunyikannya, membingungkan, dan menipu orang-orang yang mengetahui rahasia di balik tindakan mereka, tidak membiarkan umat pilihan Tuhan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi, tidak membiarkan umat pilihan tahu betapa merugikannya tindakan mereka terhadap rumah Tuhan, betapa mereka telah mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja. Tentu saja, yang paling mereka takutkan adalah ketahuan oleh Yang di Atas, karena begitu Yang di Atas mengetahuinya, mereka akan ditangani berdasarkan prinsip, dan tamatlah riwayat mereka, dan mereka pasti akan diberhentikan dan disingkirkan. Oleh karena itu, ketika perbuatan jahat antikristus disingkapkan, hal pertama yang mereka lakukan bukanlah merenungkan kesalahan mereka, prinsip-prinsip apa yang mereka langgar, mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan, watak apa yang mengendalikan mereka, apa niat mereka, apa keadaan mereka pada waktu itu, apakah itu karena ketidakpatuhan atau karena niat mereka yang tidak benar. Alih-alih menganalisis hal-hal ini, apalagi merenungkannya, mereka malah memeras otak untuk mencari cara apa pun untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Pada saat yang sama, mereka berusaha keras untuk menjelaskan dan membenarkan diri mereka di hadapan umat pilihan Tuhan, untuk menipu mereka, membuat masalah besar tampak seperti masalah kecil, dan masalah kecil tampak tidak bermasalah, serta menggertak agar keluar dari masalah tersebut, sehingga mereka dapat tetap tinggal di rumah Tuhan, dengan ceroboh melakukan kesalahan dan menyalahgunakan kekuasaan mereka, dan terus menyesatkan serta mengendalikan orang, dan membuat orang mengagumi dan melakukan apa yang mereka katakan untuk memuaskan ambisi dan keinginan mereka" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sebelas). Dari penyingkapan firman Tuhan, aku menyadari bahwa ketika ada penyimpangan atau kesalahan dalam pekerjaan antikristus, alih-alih memetik pelajaran dan segera memperbaiki masalah serta penyimpangan dalam pekerjaan mereka, mereka mencoba segala cara untuk berbohong, menutupi kebenaran, dan mencegah para pemimpin mengetahui masalah dan kesalahan dalam pekerjaan mereka, serta menggunakan muslihat dan tipu daya untuk mendapatkan kepercayaan orang lain. Ini adalah watak jahat antikristus. Bukankah apa yang aku telah kuperlihatkan adalah watak seorang antikristus? Ketika pemimpin datang untuk mengawasi dan menindaklanjuti pekerjaanku, ada banyak tugas yang belum aku kerjakan, tetapi selain tidak melaporkan situasi sebenarnya kepadanya, aku juga menyembunyikan kebenaran dan menipunya, berusaha keras untuk menutupi kebenaran bahwa aku tidak melakukan pekerjaan nyata. Kemudian, ketika pemimpin menyelidiki pekerjaan penyiraman petobat baru yang dilakukan oleh setiap penyiram, karena aku belum melakukan pekerjaan nyata dan tidak mengetahui detail spesifiknya, aku kembali berbohong dan melaporkan pekerjaan penyiraman sebelumnya sebagai pekerjaan yang baru saja dilakukan untuk mengelabui pemimpin. Aku sangat menyadari bahwa melakukan hal itu adalah tindakan menipu dan tidak jujur, tetapi demi menjaga kesan baik yang dimiliki pemimpin terhadapku, aku terang-terangan berbohong untuk menipunya. Aku melihat bahwa watak yang kuperlihatkan sama dengan watak jahat dan tercela dari seorang antikristus. Penyelidikan pemimpin terhadap pekerjaanku menunjukkan bahwa dia bertanggung jawab, dan hal ini akan memungkinkan dia untuk menemukan penyimpangan serta masalah dalam pekerjaanku dengan cepat. Aku tetap diam mengenai masalah dalam pekerjaanku dan berpura-pura di hadapan pemimpin untuk memberikan kesan palsu bahwa aku telah melakukan pekerjaan nyata. Akibatnya, pemimpin tidak dapat mengetahui kebenaran, dan masalah dalam pekerjaanku tetap tidak terselesaikan. Dengan melakukan hal ini, aku menghalangi pekerjaan gereja. Aku menyadari bahwa menutupi kebenaran untuk mencegah pemimpin mengawasi pekerjaan pada dasarnya jauh lebih buruk daripada tidak melakukan pekerjaan nyata. Menyadari hal ini, aku merasa seperti berada dalam bahaya. Aku tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan dan telah menempuh jalan seorang antikristus. Dalam hati, aku berdoa kepada Tuhan dan bertobat, "Ya Tuhan, melalui penyingkapan firman-Mu, aku menyadari bahwa watakku jahat dan tercela, dan hatiku dipenuhi dengan rasa takut. Tolong bimbing aku untuk membuang watak rusak ini dan menerima pengawasan dari orang lain."
Kemudian, aku membaca sebuah bagian firman Tuhan: "Bahwa Tuhan meminta manusia untuk bersikap jujur membuktikan bahwa Dia benar-benar membenci dan tidak menyukai orang yang licik dan suka menipu. Ketidaksukaan Tuhan terhadap orang yang licik dan suka menipu adalah ketidaksukaan terhadap cara mereka melakukan segala sesuatu, watak mereka, niat mereka, dan cara-cara mereka yang penuh tipu muslihat; Tuhan tidak menyukai semua hal ini. Jika orang yang licik dan suka menipu mampu menerima kebenaran, mengakui watak mereka yang licik dan suka menipu, dan bersedia menerima keselamatan Tuhan, maka mereka juga memiliki harapan untuk diselamatkan—karena Tuhan, sebagaimana juga kebenaran, memperlakukan semua orang secara sama. Karena itu, jika kita ingin menjadi orang-orang yang menyenangkan hati Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengubah prinsip kita dalam berperilaku. Kita tidak boleh lagi hidup berdasarkan falsafah Iblis, tidak boleh lagi hidup dengan kebohongan dan tipu muslihat. Kita harus membuang semua kebohongan kita dan menjadi orang yang jujur. Dengan demikian, pandangan Tuhan tentang kita akan berubah. Sebelumnya, orang selalu mengandalkan kebohongan, kepura-puraan, dan tipu muslihat ketika hidup di antara orang-orang, dan menggunakan falsafah Iblis sebagai dasar keberadaan mereka, hidup mereka, dan landasan bagi cara mereka berperilaku. Ini adalah sesuatu yang Tuhan benci. Di antara orang tidak percaya, jika engkau berbicara terus terang, mengatakan yang sebenarnya, dan menjadi orang yang jujur, engkau akan difitnah, dihakimi, dan ditinggalkan. Jadi, engkau mengikuti tren duniawi dan hidup berdasarkan falsafah Iblis; engkau menjadi makin ahli dalam berbohong, dan makin licik dan suka menipu. Engkau juga belajar menggunakan cara-cara jahat untuk mencapai tujuanmu dan melindungi dirimu sendiri. Engkau menjadi makin makmur di dunia Iblis, dan sebagai akibatnya, engkau jatuh makin dalam ke dalam dosa sampai engkau tak mampu melepaskan dirimu sendiri. Di rumah Tuhan justru sebaliknya. Makin banyak engkau berbohong dan melakukan tipu muslihat, makin umat pilihan Tuhan akan menjadi muak terhadapmu dan meninggalkanmu. Jika engkau tidak mau bertobat dan tetap berpaut pada falsafah dan logika Iblis, jika engkau menggunakan taktik dan rencana licik untuk menyamar dan menyembunyikan dirimu yang sebenarnya, maka sangatlah mungkin engkau akan disingkapkan dan disingkirkan. Ini karena Tuhan membenci orang yang licik dan suka menipu. Hanya orang jujur yang mampu sejahtera di rumah Tuhan, dan orang yang licik dan suka menipu pada akhirnya akan ditinggalkan dan disingkirkan. Semua ini sudah ditentukan Tuhan dari semula. Hanya orang-orang jujur yang dapat memperoleh bagian dalam kerajaan surga. Jika engkau tidak berusaha menjadi orang yang jujur, dan jika engkau tidak mengalami dan melakukan penerapan ke arah mengejar kebenaran, jika engkau tidak menyingkapkan keburukanmu sendiri, dan jika engkau tidak memberitahukan tentang dirimu yang sebenarnya, engkau tidak akan pernah mampu menerima pekerjaan Roh Kudus dan mendapatkan perkenanan Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Penerapan Paling Mendasar untuk Menjadi Orang Jujur"). Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa Tuhan menyukai orang-orang yang jujur, bahwa orang-orang jujur memiliki keberanian untuk menghadapi kekurangan dan kelemahan mereka, bahwa mereka mampu berkata jujur, tidak menipu manusia maupun Tuhan, dan ketika menghadapi masalah, mereka dapat mencari serta menerapkan kebenaran. Orang seperti ini dibawa oleh Tuhan ke dalam kerajaan-Nya untuk hidup di sana selamanya. Tuhan membenci pembohong, penipu, dan orang-orang yang melakukan muslihat. Orang-orang seperti itu licik dan jahat. Sebagaimana dikatakan dalam Alkitab: "Engkau adalah anak bapamu yang jahat dan keinginan bapamu itu yang engkau lakukan. Ia adalah pembunuh sejak awal, dan tidak hidup dalam kebenaran, karena tidak ada kebenaran di dalamnya. Ketika ia berbohong, ia berbicara dari dirinya sendiri: karena ia adalah pendusta, dan bapa dari segala dusta" (Yohanes 8:44). Aku menyadari bahwa semua pembohong adalah iblis. Iblis adalah musuh Tuhan dan dibenci oleh Tuhan. Tuhan pasti tidak akan menyelamatkan orang-orang seperti itu. Hal ini ditentukan oleh esensi Tuhan yang benar dan setia. Dalam tugasku, aku telah berbohong demi melindungi harga diri dan statusku, berusaha menutup-nutupi kekurangan dalam pekerjaanku. Dengan melakukan hal itu, aku mengkhianati kebenaran, berpihak pada Iblis, dan menentang Tuhan. Lagi pula, dengan mengandalkan penyembunyian serta kepura-puraan dalam melaksanakan tugas di gereja, aku hanya dapat menutupi kebenaran untuk sementara waktu, dan dalam jangka panjang, banyak penyimpangan dalam pekerjaanku akan tersingkap, dan begitu semua orang mengetahui kebenarannya, mereka akan mampu menilai dan menolakku, yang berarti aku akan menghancurkan segala bentuk integritas serta martabat yang mungkin kumiliki, dan kesempatanku untuk bertobat akan lenyap. Merenungkan tentang para antikristus, tidak peduli seberapa banyak hal buruk yang mereka lakukan atau seberapa besar kerusakan yang mereka sebabkan terhadap pekerjaan di rumah Tuhan, mereka tidak pernah merenungkan diri atau bertobat, dan jika ada orang yang mengawasi atau memeriksa pekerjaan mereka, mereka menggunakan berbagai macam muslihat untuk menipunya dan menutupi kebenaran, menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak menerima kebenaran. Pada akhirnya, karena segala kejahatan yang mereka lakukan, mereka diusir dari gereja. Mereka yang memiliki keberanian untuk terbuka dan dapat menerapkan kebenaran adalah orang-orang yang jujur di mata Tuhan dan merekalah yang akan diselamatkan dan bertahan hidup. Sebaliknya, mereka yang mencoba menipu Tuhan demi keuntungan pribadi adalah orang-orang yang sangat bodoh dan licik, dan pada akhirnya, mereka akan disingkirkan oleh Tuhan.
Selanjutnya, aku membaca lebih banyak firman Tuhan: "Ketika orang melaksanakan tugas atau pekerjaan apa pun di hadapan Tuhan, hati mereka harus murni: hati mereka harus seperti semangkuk air bersih—jernih, tanpa ketidakmurnian. Jadi, sikap seperti apa yang benar? Apa pun yang sedang kaulakukan, engkau harus mampu mempersekutukan apa pun yang ada dalam hatimu dengan orang lain, apa pun ide yang mungkin kaumiliki. Jika seseorang mengatakan bahwa caramu melakukan sesuatu tidak akan berhasil, dan mereka mengajukan ide yang lain, dan jika engkau merasa bahwa ide mereka sangat baik, engkau harus melepaskan caramu sendiri, dan melakukannya sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Dengan melakukannya, semua orang akan melihat bahwa engkau mampu menerima saran orang lain, memilih jalan yang benar, bertindak berdasarkan prinsip, dan melakukannya dengan transparan dan kejelasan. Tidak ada kegelapan di dalam hatimu, dan engkau bertindak dan berbicara dengan tulus, mengandalkan sikap yang jujur. Engkau mengatakan yang sebenarnya. Jika ya, engkau mengatakan ya; jika tidak, engkau mengatakan tidak. Tidak ada tipu muslihat, tidak ada rahasia, hanya seseorang yang sangat transparan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Tuhan berharap agar kita melaksanakan tugas dengan hati yang tulus, berbicara sesuai dengan fakta, dan menerima pemeriksaan-Nya dalam segala hal. Ketika pemimpin kembali bertanya tentang pekerjaanku, aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya jika aku belum melakukan pekerjaan nyata, untuk memiliki keberanian menghadapi masalahku, untuk berhenti berbohong demi melindungi reputasi dan statusku, dan untuk berlatih menjadi orang yang jujur. Kemudian, aku berinisiatif untuk berterus terang kepada pemimpin tentang kebohongan yang kututurkan demi reputasi dan statusku. Setelah aku berterus terang kepadanya, pemimpin kemudian bersekutu tentang pengalaman dirinya sendiri untuk membantuku. Dengan menerapkan hal ini, aku merasa jauh lebih lega. Selanjutnya, aku mengikuti nasihat pemimpin untuk segera memperbaiki penyimpangan dalam pekerjaanku, seperti dengan cepat memberhentikan penyiram yang tidak sesuai, bersekutu secara mendetail dengan para penyiram tentang tugas mereka, dan kemudian menindaklanjuti serta mengawasi kemajuan mereka dalam pekerjaan. Ketika aku melibatkan diriku dalam detail pekerjaan dengan cara itu, pekerjaan menunjukkan peningkatan yang jelas.
Seminggu kemudian, pemimpin mengirim surat yang menanyakan tentang pembinaanku terhadap para penyiram. Setelah menerima surat ini, aku menyadari bahwa aku begitu sibuk menindaklanjuti pekerjaan lain, sehingga aku telah mengabaikan tugas membina personel, dan aku tidak mengetahui berapa banyak orang yang dapat dibina. Bagaimana aku harus menjawabnya? Apa yang akan dipikirkan pemimpin tentangku jika dia tahu bahwa aku telah mengabaikan pekerjaan yang sangat penting ini? Apakah dia akan mengatakan bahwa aku tidak melakukan pekerjaan nyata? Aku berpikir, "Mengapa aku tidak menjawabnya dengan mengatakan bahwa aku sedang dalam proses menindaklanjuti pekerjaan itu, dengan cara ini, dia tidak akan mengetahui kebenarannya." Berpikir seperti itu, tiba-tiba aku menyadari, "Bukankah aku kembali ingin berbohong saja untuk melindungi reputasi dan statusku?" Jadi, aku berdoa dalam hati kepada Tuhan, "Ya Tuhan! Aku tidak ingin lagi berbohong atau menipu. Aku tidak melakukan tugas ini, dan itu karena aku tidak bertanggung jawab. Aku mau melaporkannya dengan jujur kepada pemimpin." Setelah berdoa, aku merasakan kedamaian yang mendalam. Aku memikirkan bagaimana Tuhan menyukai orang jujur yang mampu berkata apa adanya, bahwa aku harus menghadapi segala sesuatu dengan tenang, tidak menyembunyikan kebenaran, dan apa pun yang pemimpin pikirkan tentang diriku, aku harus berlatih menjadi orang yang jujur. Jadi, aku mengatakan yang sebenarnya kepada pemimpin, "Aku belum memberikan perhatian yang cukup untuk membina bakat, tetapi aku bersedia mengubah hal ini nantinya." Kemudian, aku mulai benar-benar bekerja sama, dan beberapa hari kemudian aku menemukan dua orang yang dapat dibina. Setelah itu, ketika pemimpin kembali menulis surat kepadaku untuk memeriksa dan menindaklanjuti pekerjaan lain, bahkan ketika beberapa pekerjaan tidak mendapatkan hasil yang baik, aku bersedia menghadapinya dengan tenang dan melaporkan hal-hal ini dengan jujur. Meskipun aku masih belum mampu memenuhi standar sebagai orang yang jujur, aku mau mengejar kebenaran, menerapkan sesuai firman Tuhan, dan perlahan membuang watak licikku.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudara Qi Chen, Myanmar Pada Juni 2019, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Setahun kemudian, aku memulai...
Pada tahun 2016, aku membuat video di gereja. Aku menyadari bahwa Saudari Xin Cheng menghasilkan lebih banyak video, dan selama diskusi...
Oleh Saudari Mi Hui, TiongkokPada tahun 2021, aku memimpin pekerjaan penyiraman di gereja. Selama waktu itu, pemimpin kami sering...
Oleh Saudari Li Zhi, TiongkokBulan April tahun ini, tiba-tiba seorang pemimpin memberitahuku bahwa seorang pendeta tua, yang telah beriman...