Mendapatkan berkat melalui kemalangan
Oleh Saudari Du Juan, Jepang Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Ketika orang melihat ke belakang ke jalan yang telah ia jalani, saat ia...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Aku lahir di sebuah keluarga di pedesaan Nepal. Kedua orang tuaku adalah petani. Karena kondisi ekonomi keluarga mereka tidak baik, mereka tidak punya kesempatan untuk bersekolah, jadi mereka bekerja keras untuk membinaku. Mereka sering berkata kepadaku, "Kau harus rajin dan belajar dengan giat." Mereka tahu kalau aku tidak belajar dengan baik, aku tidak akan bisa mendapat pekerjaan yang layak di masa depan, dan pada akhirnya hidupku akan susah seperti mereka. Setiap kali melihat orang tuaku bekerja begitu keras, aku merasa harus berusaha lebih keras lagi, supaya nanti aku bisa mendapat pekerjaan yang bagus, menghasilkan banyak uang, dan membangun rumah yang besar untuk keluargaku, agar mereka bisa hidup bahagia. Awalnya, aku belajar di sekolah negeri biasa. Fasilitas mengajarnya tidak bagus, dan nilai murid-muridnya umumnya jelek. Melihat teman-temanku belajar di sekolah berbahasa Inggris, aku juga sangat ingin bersekolah di sana. Orang tuaku juga berpikir bahwa meskipun biaya sekolah berbahasa Inggris sangat mahal, jika aku bisa belajar di sekolah yang bagus, akan lebih mudah bagiku untuk mendapat pekerjaan yang bagus di masa depan. Akhirnya, sesuai keinginanku, aku masuk ke sekolah negeri berbahasa Inggris. Awalnya, nilaiku tidak terlalu bagus, jadi aku berusaha dua kali lebih keras. Aku bangun pagi setiap hari untuk mengulang pelajaran hari sebelumnya, aku membuat target, menyusun rencana belajar, dan bertanya kepada guru tentang hal-hal yang tidak kupahami. Berkat usaha yang terus-menerus, nilaiku meningkat pesat.
Di sekolah, para guru sering mengajari kami bahwa hanya dengan memperoleh ilmu pengetahuan, kami bisa memiliki masa depan yang lebih baik dan cerah, dan mendapatkan pekerjaan yang dihormati orang lain. Aku ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kehormatan dan meraih kesuksesan, dan juga menghasilkan uang agar keluargaku bisa hidup bahagia, jadi aku belajar lebih giat lagi. Setiap hari, aku masuk kelas tepat waktu dan tidak pernah absen sekali pun. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian di kelas, dan setelah pulang, aku membaca ulang catatanku berkali-kali, dan juga membaca buku serta materi lainnya. Aku sibuk belajar setiap hari dan hampir tidak punya waktu untuk bermain dengan teman-teman. Aku merasa tidak boleh menyia-nyiakan waktu semenit pun. Nilaiku makin bagus, bahkan melampaui nilai teman-temanku. Aku sangat senang, dan yakin bahwa selama aku bekerja keras, aku bisa mendapatkan semua yang kuinginkan: menjadi dokter, memperoleh status dan kehormatan, serta mendapatkan kekayaan yang berlimpah. Jadi, aku berencana mengikuti ujian masuk sekolah kedokteran. Namun, karena pandemi, aku tidak bisa pergi ke sekolah untuk mempersiapkan ujian masuk. Aku hanya bisa belajar secara daring di rumah. Nilaiku di tes daring tidak bagus. Aku khawatir kalau terus begini, aku tidak akan bisa mendapat nilai yang bagus, dan aku tidak akan bisa mendapat beasiswa. Karena kondisi keuangan keluargaku, kami sama sekali tidak mampu membayar biaya kuliah yang begitu mahal. Beberapa bulan kemudian, aku mengikuti ujian masuk. Meskipun aku lulus, nilaiku tidak cukup tinggi untuk mendapatkan beasiswa. Hatiku hancur, merasa bahwa kerja kerasku selama setahun ini sia-sia. Namun, aku tidak menyerah dan mulai bersiap untuk ujian masuk tahun depan. Namun, karena pandemi kembali merebak, aku hanya bisa bersiap-siap secara daring di rumah lagi. Aku berpikir bahwa kali ini, apa pun yang terjadi, aku harus mendapat beasiswa. Jadi, aku berusaha lebih keras dari tahun pertama, belajar dari jam 6 pagi sampai jam 12 malam. Terkadang kepalaku terasa berat karena kurang tidur, tetapi aku tidak beristirahat. Namun, melihat nilaiku di beberapa tes daring selalu jelek, perlahan-lahan aku mulai merasa cemas. Aku berpikir, "Kalau aku tidak mencapai tujuanku, apa kata teman-teman dan tetanggaku nanti? Kalau aku tidak bisa menjadi dokter, masa depanku akan suram. Aku selalu bermimpi untuk menjadi orang yang menonjol, membangun rumah besar, dan membuat keluargaku hidup bahagia, tetapi semua impian ini akan hancur." Pemikiran negatif ini membuatku makin cemas, menyebabkan keadaan mentalku perlahan-lahan memburuk, dan akhirnya, aku menderita depresi ringan. Saat aku merasa sedih, aku tidak bisa tidur semalaman dan tidak nafsu makan. Terkadang aku bahkan menangis semalaman. Selama tiga bulan itu, aku hidup dalam penderitaan karena depresi, tetapi aku tidak tahu bagaimana cara keluar darinya. Aku sudah menonton banyak video motivasi di YouTube, tetapi kondisiku tidak membaik sama sekali.
Tiga bulan kemudian, aku menemukan lagu-lagu pujian untuk Tuhan dan video tentang doa di YouTube. Setelah mendengarkan lagu-lagu pujian dan doa itu, hatiku perlahan-lahan menjadi tenang. Aku mulai berdoa setiap pagi dan malam. Setelah berdoa, beberapa pikiran negatif di kepalaku perlahan menghilang, dan suasana hatiku menjadi lebih baik. Selama sekitar dua bulan, aku membaca Alkitab dan mendengarkan lagu-lagu pujian setiap hari. Aku membaca firman Tuhan Yesus: "Datanglah kepada-Ku, hai semua yang berjerih lelah dan berbeban berat, dan Aku akan memberimu kelegaan. Pikullah kuk-Ku atasmu, dan belajarlah dari-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati, dan engkau akan mendapatkan kelegaan bagi jiwamu. Karena kuk-Ku itu mudah dan beban-Ku pun ringan" (Matius 11:28-30). Firman ini memberiku penghiburan yang luar biasa. Aku merasa Tuhan Yesus ada tepat di sampingku, menolongku agar terbebas dari penderitaan. Tekanan di hatiku jauh berkurang, dan aku percaya kepada Tuhan. Tiga bulan berlalu dalam sekejap, dan aku mengikuti ujian masuk untuk kedua kalinya. Nilaiku masih belum cukup tinggi untuk mendapatkan beasiswa, tetapi kali ini, aku tidak merasa sesakit sebelumnya. Beberapa hari kemudian, aku tahu bahwa seorang temanku sedang mempersiapkan ujian IELTS dan berencana untuk belajar di Australia. Aku sadar bahwa menjadi dokter bukanlah satu-satunya pilihanku, dan aku juga bisa pergi ke Australia untuk belajar dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Jadi, aku mulai mempersiapkan ujian IELTS.
Saat sedang bersiap untuk ujian, aku membaca sebuah bagian di Facebook: "Sejak engkau lahir sambil menangis ke dunia ini, engkau mulai memenuhi tanggung jawabmu. Demi rencana Tuhan dan penetapan-Nya, engkau memainkan peranmu dan memulai perjalanan hidupmu. Apa pun latar belakangmu, dan apa pun perjalanan yang akan kautempuh, bagaimanapun juga, tak seorang pun dapat lolos dari pengaturan dan penataan Surga, dan tak seorang pun dapat mengendalikan nasibnya sendiri, karena hanya Dia yang berdaulat atas segala sesuatu yang mampu melakukan pekerjaan semacam itu" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia"). Firman ini terasa sangat benar. Segala sesuatu tentang kita ada di tangan Tuhan. Nasib kita juga berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan; kita tidak bisa mengendalikan nasib kita sendiri. Aku teringat akan pengalamanku sendiri: aku tidak mengenal kedaulatan Tuhan, dan kupikir aku bisa menjadi kaya melalui usahaku sendiri dan hidup bahagia. Namun, sekeras apa pun aku berusaha dan berencana, pada akhirnya aku gagal, dan bahkan menderita depresi. Setelah membaca bagian ini, aku memahami bahwa keluarga tempatku dilahirkan, lingkungan tempatku dibesarkan, dan seperti apa masa depanku kelak, semuanya telah diatur oleh Tuhan, dan sekeras apa pun aku berusaha, aku tidak bisa mengubah nasibku. Beberapa saat kemudian, seorang saudari mengundangku untuk menghadiri pertemuan daring. Namun, keesokan harinya, aku harus mengikuti ujian IELTS dan aku sedikit khawatir dengan hasilnya. Jika nilai ujianku tidak bagus, mimpiku untuk pergi ke Australia tidak akan terwujud, dan masa depanku akan suram. Ini bisa jadi kesempatan terakhirku, dan jika aku gagal, aku akan jadi orang yang paling gagal di antara teman-temanku. Orang tua dan teman-temanku juga pasti akan menganggapku sangat mengecewakan. Tepat saat aku sedang berpikir begitu, aku melihat bahwa topik khotbah pada persekutuan hari itu adalah "Aku Menjalani Hidup yang Menyedihkan—Apa yang Harus Kulakukan?" Aku langsung tertarik. Seorang saudara membagikan beberapa bagian: "Karena orang tidak mengetahui pengaturan Tuhan dan kedaulatan Tuhan, mereka selalu menghadapi nasib dengan suasana hati yang menentang dan sikap yang memberontak, dan mereka selalu ingin melepaskan diri dari otoritas dan kedaulatan Tuhan serta dari pengaturan nasib, berharap dengan sia-sia untuk mengubah keadaan mereka saat ini dan mengubah nasib mereka. Namun, mereka tidak pernah bisa berhasil dan selalu menemui jalan buntu. Pergumulan ini, yang terjadi jauh di dalam jiwa mereka, menyebabkan mereka menderita, dan penderitaan ini terukir ke dalam tulang-tulang mereka, dan pada saat yang sama membuat mereka menyia-nyiakan hidup mereka. Apa penyebab penderitaan ini? Apakah karena kedaulatan Tuhan, atau karena memiliki nasib yang buruk? Jelaslah bahwa keduanya tidak benar. Kesimpulannya, ini disebabkan oleh jalan yang orang tempuh dan cara-cara yang mereka pilih untuk menjalani hidup mereka" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). "Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pemikiran orang-orang, membuat mereka hanya memikirkan kedua hal ini, dan membuat mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan serta memikul beban berat demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan segala yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan membuat setiap penilaian atau keputusan demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara inilah, Iblis mengenakan belenggu tak kasatmata pada orang-orang, dan dengan belenggu-belenggu ini, mereka tidak punya kemampuan ataupun keberanian untuk melepaskan diri. Tanpa sadar, mereka mengenakan belenggu ini sementara berjalan selangkah demi selangkah, dengan begitu susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi serta mengkhianati Tuhan dan menjadi makin jahat. Dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). Setelah selesai membacakannya, saudara itu bersekutu, "Selama ribuan tahun, Iblis telah menggunakan ateisme, materialisme, dan evolusionisme untuk menyesatkan dan merusak orang-orang, membuat mereka menyangkal keberadaan Tuhan dan menyangkal bahwa Tuhan menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu. Akibatnya, orang-orang menjauh dari Tuhan dan tidak lagi menyembah-Nya. Bukan hanya itu, Iblis juga menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk merusak orang-orang, dengan mengatakan hal-hal seperti, 'Jika engkau lebih menonjol dari orang lain, engkau akan membawa kehormatan bagi nenek moyangmu' dan 'Nasib seseorang ada di tangannya sendiri.' Karena dipengaruhi dan didoktrin oleh pemikiran dan pandangan ini, kita percaya bahwa hanya dengan memiliki uang, ketenaran, dan keuntungan, kita bisa dihormati orang lain dan hidup bahagia. Karena itu, banyak orang berjuang dan berusaha keras setiap hari demi hidup kaya. Mereka bekerja lembur dan akhirnya menderita berbagai penyakit di usia muda. Demi karier yang sukses, sebagian orang menggunakan segala macam muslihat dan siasat, memanfaatkan dan menipu orang lain, dengan kejam menginjak-injak mereka untuk maju. Bahkan jika mereka berhasil, hati mereka tidak tenang, dan mereka tetap hidup dalam penderitaan. Ada juga banyak orang yang sudah berusaha keras tetapi tetap tidak bisa menjadi orang yang menonjol. Akibatnya, mereka merasa pesimis dan putus asa, bahkan sangat lelah akan dunia, dan ada yang memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Semua ini terjadi karena orang-orang disengsarakan oleh Iblis." Persekutuan saudara itu meninggalkan kesan yang mendalam pada diriku, dan aku teringat akan kesulitan yang telah kualami. Karena melihat orang tuaku bekerja keras sejak aku kecil, aku ingin menjadi dokter dengan giat belajar untuk mendapatkan status dan kehormatan, agar keluargaku bisa hidup bahagia. Untuk itu, aku berusaha sangat keras. Terutama setelah aku pindah ke sekolah berbahasa Inggris, aku belajar lebih giat lagi. Aku tak lagi bermain dengan teman-teman, dan bahkan saat melakukan pekerjaan rumah, aku memikirkan apa yang harus kupelajari. Aku juga sering belajar hingga larut malam. Untuk menjadi orang yang menonjol di antara teman-teman sekelasku, aku belajar 12 hingga 15 jam sehari. Namun, pada akhirnya aku tetap gagal. Aku juga menderita depresi dan terpaksa menghentikan rencanaku untuk masuk sekolah kedokteran. Setiap kali aku berpikir akan tertinggal jauh dari teman-temanku, hatiku terasa sakit, seolah ada batu besar yang menekan dadaku. Aku merasa masa depanku benar-benar gelap, dan aku sering tidak bisa tidur semalaman, khawatir tentang masa depanku. Aku mulai berpikir, "Mengapa hidupku jatuh ke dalam kesulitan seperti ini? Sebenarnya untuk apa aku berjuang begitu keras? Aku mendambakan kehidupan yang bahagia, lalu mengapa hidupku terus memburuk?" Namun, kini aku mengerti. Akar penderitaanku adalah kerusakan Iblis. Aku telah sepenuhnya menjadi budak uang, ketenaran, dan keuntungan. Tanpa penyingkapan firman Tuhan, aku tidak akan tahu bahwa Iblis menggunakan uang, ketenaran, keuntungan, dan status untuk merusak orang-orang. Status, ketenaran, dan keuntungan adalah belenggu tak terlihat yang Iblis pasang pada orang-orang, membuat mereka sangat sulit untuk melepaskan diri. Untuk mendapatkan reputasi dan status, aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada Iblis dan menanggung kesulitan yang tak ada habisnya. Aku bisa memahami kebenaran ini dan menyadari hal ini adalah kasih dan keselamatan dari Tuhan!
Kemudian, saudara itu mengirimkan pertanyaan lain: "Jadi, bagaimana kita bisa lepas dari penderitaan ini?" Dia lalu mengirimkan beberapa bagian lagi: "Apa pun perbedaan dalam kemampuan dan kecerdasan mereka, dan apakah mereka memiliki tekad atau tidak, semua orang adalah setara di hadapan nasib, yang tidak membedakan antara yang besar dan yang kecil, yang tinggi dan yang rendah, yang terpandang dan yang hina. Pekerjaan apa yang ditekuni seseorang, apa yang dilakukannya untuk mencari nafkah, dan seberapa banyak kekayaan yang dimilikinya dalam hidup, tidaklah ditentukan oleh orang tua mereka, bakat mereka, atau upaya dan ambisi mereka—melainkan bergantung pada penetapan Sang Pencipta" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). "Ketika orang tidak tahu apa yang dimaksud dengan nasib atau tidak memahami kedaulatan Tuhan, mereka hanya berjuang dengan keras kepala dan tersandung-sandung di tengah kabut, dan bahwa perjalanan itu terlalu sulit, serta menyebabkan begitu banyak kepedihan. Jadi, ketika orang menyadari bahwa Tuhan berdaulat atas nasib manusia, orang yang pintar memilih untuk mengenal dan menerima kedaulatan Tuhan, dan mengucapkan selamat tinggal pada hari-hari pedih yakni 'berusaha untuk membangun kehidupan yang baik dengan kedua tangan mereka sendiri', daripada terus bergumul melawan nasib dan mengejar apa yang mereka sebut sebagai tujuan hidup dengan cara mereka sendiri. Ketika orang hidup tanpa Tuhan, ketika mereka tidak bisa melihat-Nya, ketika mereka tidak bisa benar-benar dan dengan jelas mengetahui kedaulatan Tuhan, setiap harinya menjadi tidak berarti, tidak bernilai, dan penuh penderitaan yang tak terkatakan. Di mana pun orang berada, apa pun pekerjaan mereka, cara bertahan hidup dan tujuan yang mereka kejar tidak mendatangkan apa pun selain kepedihan yang tak berkesudahan dan penderitaan yang sulit untuk diatasi, yang merupakan pengalaman yang tak sanggup mereka ingat kembali. Hanya dengan menerima kedaulatan Sang Pencipta, tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya, serta mengejar untuk memperoleh kehidupan yang sejati, barulah orang dapat berangsur-angsur melepaskan diri dari segala kepedihan dan penderitaan, dan lambat laun membebaskan diri dari semua kekosongan hidup manusia" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III"). "Bagaimanapun juga, manusia adalah manusia, dan status serta kehidupan Tuhan tidak dapat digantikan oleh manusia mana pun. Yang umat manusia butuhkan bukan hanya masyarakat yang adil di mana setiap orang tercukupi makanannya, setara, dan bebas; yang umat manusia butuhkan adalah keselamatan dari Tuhan dan perbekalan hidup dari-Nya bagi manusia" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 2: Tuhan Berdaulat Atas Nasib Seluruh Umat Manusia"). Setelah membacakan bagian-bagian ini, saudara itu bersekutu, "Tuhan berdaulat atas nasib umat manusia. Sebelum segala zaman, Tuhan telah menentukan sebelumnya kita akan dilahirkan di keluarga seperti apa, pekerjaan apa yang akan kita tekuni, dan berapa banyak kekayaan yang akan kita miliki. Sebagai makhluk ciptaan, kita tidak seharusnya berjuang melawan takdir, dan kita seharusnya tunduk pada pengaturan serta penataan Tuhan, dan menerima segala sesuatu yang telah disiapkan Sang Pencipta untuk kita. Hanya dengan begitu, hati kita bisa merasakan damai dan sukacita, dan hanya dengan begitu, kita bisa hidup dengan tenang tanpa kekhawatiran." Setelah saudara itu selesai bersekutu, aku berpikir tentang bagaimana aku telah berusaha dan bekerja begitu keras untuk mencapai tujuanku menjadi seorang dokter. Namun, pada akhirnya semua itu gagal, dan aku tidak mengerti mengapa semua ini terjadi padaku. Apakah karena aku terlahir sial, atau karena aku kurang bekerja keras? Sekarang barulah aku mengerti bahwa aku sangat menderita karena aku tidak mengenal kedaulatan Tuhan. Tuhan berdaulat atas nasib manusia. Hal-hal seperti di keluarga macam apa aku dilahirkan, pekerjaan apa yang akan kutekuni, berapa banyak kekayaan yang akan kumiliki seumur hidupku, dan di usia berapa aku akan mati, semuanya telah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan. Jika aku ingin lepas dari kecemasan dan penderitaan, aku harus menerima kedaulatan Tuhan dan tunduk pada situasi yang Dia atur. Seperti ujian IELTS yang akan datang, apa pun hasilnya, aku bersedia menerima dan tunduk. Setelah pertemuan selesai, aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, terima kasih banyak karena Engkau mengizinkanku menghadiri pertemuan ini. Baru hari ini aku sadar bahwa semua penderitaan dan kesulitan orang disebabkan oleh Iblis. Iblis menggunakan status, ketenaran, dan keuntungan untuk menyesatkan dan merusakku, membuatku tidak mengenal kedaulatan-Mu. Karena itu, aku ingin menggenggam takdir di tanganku sendiri sehingga aku hidup dalam kegelapan. Terima kasih telah mencerahkanku dan membuatku bisa memahami siasat Iblis yang sebenarnya. Apa pun hasil ujian besok, aku akan dengan senang hati menerimanya." Keesokan harinya, saat aku mengikuti ujian, hatiku sangat tenang. Setelah menyelesaikan ujian dengan lancar, aku pun pulang. Kemudian, aku mengetahui bahwa aku lulus ujian, dan hatiku senang sekali. Pada hari-hari berikutnya, selagi aku bersiap untuk pergi ke Australia, aku juga menghadiri pertemuan-pertemuan Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Selama waktu itu, aku membaca banyak firman Tuhan Yang Mahakuasa. Aku pun memahami tiga tahap pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, misteri nama Tuhan, misteri inkarnasi, kisah di balik Alkitab, pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman, dan lain-lain. Dari lubuk hatiku, aku menerima bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali.
Setelah beberapa waktu, aku mulai memberitakan Injil kepada orang tua dan saudara-saudaraku, dan mereka semua menerima pekerjaan baru Tuhan. Melihat pecahnya perang Rusia-Ukraina, dan seringnya terjadi bencana di mana-mana, aku sadar bahwa pekerjaan Tuhan mendekati akhirnya. Namun, banyak orang masih belum menerima keselamatan dari Tuhan, dan aku sadar bahwa memberitakan Injil sekarang ini sangatlah penting. Jika aku pergi ke Australia, waktuku untuk melaksanakan tugas akan sangat terbatas. Namun, kesempatan untuk pergi ke Australia ini sangat sulit didapat, dan jika aku tidak pergi, semua usahaku sebelumnya akan sia-sia. Akan jadi seperti apa masa depanku nanti? Aku tidak ingin melewatkan kesempatan baik ini. Keluargaku, tetangga, dan teman-temanku semua tahu aku akan segera pergi ke Australia, jadi jika aku tidak pergi, apa yang akan mereka pikirkan tentangku? Yang lebih penting, aku ingin menghasilkan lebih banyak uang dan menjalani kehidupan yang kaya, dan jika aku tidak pergi kuliah, keinginanku tidak akan terwujud. Di satu sisi ada studiku, dan di sisi lain ada tugasku. Aku merasa sangat bimbang harus memilih yang mana.
Suatu hari, aku menonton sebuah film di situs web Gereja Tuhan Yang Mahakuasa berjudul Cinta Seorang Ibu. Ada beberapa bagian firman Tuhan di dalamnya yang sangat menyentuh hatiku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Pengetahuan manusia tidak hanya terdiri dari pernyataan-pernyataan dan prinsip-prinsip sederhana, tetapi juga mengandung beberapa pemikiran dan pandangan, serta kekeliruan, prasangka manusia, dan racun Iblis, serta beberapa pengetahuan bahkan mampu menyesatkan dan merusak manusia. Itu adalah racun Iblis. Begitu seseorang menerima racun ini dan menguasainya, itu akan menjadi tumor di dalam hatinya. Tumor ini akan menyebar ke seluruh tubuhnya, yang pasti akan mengakibatkan kematian jika mereka tidak disembuhkan oleh firman Tuhan dan kebenaran. Jadi, makin banyak pengetahuan yang orang peroleh dan pahami, makin kecil kemungkinan mereka akan percaya pada keberadaan Tuhan, dan sebaliknya, mereka akan menyangkal dan menentang-Nya. Ini karena pengetahuan adalah sesuatu yang bisa mereka lihat dan akses, dan itu berkaitan langsung dengan kehidupan, prospek, dan takdir mereka. Orang bisa memperoleh banyak pengetahuan di sekolah, tetapi mereka buta terhadap sumber pengetahuan dan hubungannya dengan alam roh. Sebagian besar pengetahuan yang orang pelajari dan pahami bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. Khususnya, materialisme filosofis dan evolusi termasuk ajaran sesat dan kekeliruan ateisme, dan tidak diragukan lagi merupakan kekeliruan yang menentang Tuhan. ... Bagaimanapun juga, hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan ini menyesatkan dan merusak manusia, membuat mereka menjauh dari Tuhan, menyangkal Tuhan, menentang Tuhan, dan bahkan memusuhi-Nya. Tidak peduli apakah engkau semua memercayainya atau tidak, atau entah engkau semua dapat menerimanya sekarang ini—akan tiba harinya ketika engkau semua akan mengakui fakta ini. Pengetahuan dapat membawa orang pada kehancuran, ke neraka—dapatkah engkau semua mengetahui yang sebenarnya tentang hal ini?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Jalan Penerapan Menuju Perubahan Watak Orang"). "Pengetahuan apakah ini sebenarnya—dapatkah engkau semua mengatakannya kepada-Ku? Bukankah ini adalah aturan dan falsafah hidup yang Iblis tanamkan dalam diri manusia, seperti 'Cintailah Partai, cintailah negara, dan cintailah agamamu' dan 'Orang bijak mengalah pada keadaan'? Bukankah ini adalah 'aspirasi luhur' dalam hidup yang ditanamkan Iblis dalam diri manusia, seperti pemikiran para orang hebat, integritas orang terkenal, atau semangat keberanian tokoh heroik, atau sikap kesatria dan kebaikan para kesatria dan pendekar pedang dalam novel seni bela diri? Ide-ide dan pernyataan-pernyataan ini memengaruhi generasi demi generasi; banyak orang menerima ide-ide ini, dan mereka mengejar, berjuang, dan bahkan bersedia mengorbankan hidup mereka demi memenuhi 'aspirasi luhur' ini. Inilah cara dan metode yang digunakan Iblis dalam memakai pengetahuan untuk merusak manusia. Jadi, setelah Iblis menuntun orang di jalan ini, apakah mereka mampu tunduk dan menyembah Tuhan? Apakah mereka mampu menerima firman Tuhan dan mengejar kebenaran? Sama sekali tidak—karena mereka telah disesatkan oleh Iblis" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). Setelah membaca bagian-bagian firman Tuhan ini, aku memahami bagaimana Iblis menggunakan pengetahuan untuk merusak manusia. Sama seperti di film ini, ibu dari tokoh utama tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang baik karena dia tidak memiliki pendidikan tinggi, dan dia tidak memiliki kesempatan untuk dipromosikan di perusahaannya. Jadi, dia berharap anaknya bisa masuk ke universitas yang bagus, agar anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi, dan mencapai ketenaran serta keuntungan. Iblis menggunakan pengetahuan untuk merusak orang-orang, membuat mereka berpikir bahwa hanya dengan pengetahuan dan gelar, mereka bisa memiliki masa depan yang baik, dan bahwa dengan pengetahuan, seseorang bisa memiliki segalanya. Mereka tidak percaya Tuhan menciptakan segalanya, dan mereka tidak percaya pada kedaulatan Tuhan. Pikiran seperti itu memusuhi Tuhan. Iblis juga menggunakan pengetahuan dan sains untuk menanamkan segala macam racun Iblis pada orang-orang, dan makin banyak pengetahuan yang orang peroleh, makin mereka menjadi rusak dan congkak. Makin terpelajar orang, makin mereka mengejar status serta ketenaran, dan mendambakan kehidupan yang mewah. Mereka saling bersaing demi ketenaran dan keuntungan, bahkan sampai menggunakan cara apa pun yang diperlukan. Jika keinginan ini tidak terpenuhi, mereka menjadi putus asa, dan beberapa bahkan menderita sampai memilih untuk bunuh diri. Makin orang-orang mengejar pengetahuan, makin jauh mereka dari Tuhan. Aku adalah salah satu dari mereka yang diracuni oleh Iblis. Sejak aku kecil, aku ingin mengubah nasibku melalui usahaku sendiri, dan dengan menuntut ilmu. Aku bekerja sangat keras untuk ini dan sangat menderita. Akhirnya aku menderita depresi, dan hidupku menjadi makin buruk. Sekarang aku memahami bahwa Iblis menggunakan pengetahuan untuk memikatku ke jalan yang tidak bisa kembali. Jika aku terus menempuh jalan ini, aku pasti akan dirusak makin dalam oleh Iblis, dan akhirnya masuk neraka bersamanya. Nasib seseorang ada di tangan Tuhan, tetapi aku selalu ingin mengubah nasibku melalui pengetahuan. Bukankah aku menentang penetapan Tuhan? Kalau dipikir-pikir, bisakah pengetahuan benar-benar mengubah nasibku? Bisakah aku benar-benar mendapatkan uang dan reputasi melalui pengetahuan? Bisakah ini membuat orang tua dan keluargaku hidup bahagia? Ada orang-orang yang sangat berpengetahuan dan memiliki kualifikasi pendidikan yang tinggi, tetapi mereka gagal menemukan pekerjaan ideal mereka atau menghasilkan banyak uang. Sementara itu, orang lain yang tidak berpendidikan atau tidak memiliki banyak pengetahuan malah memiliki harta yang berlimpah. Dari sini, kita bisa melihat bahwa nasib seseorang telah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan sejak lama. Itu tidak ada hubungannya dengan seberapa banyak pengetahuan yang mereka miliki. Aku merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini sambil menonton film.
Setelah itu, aku membaca beberapa bagian firman Tuhan dan menemukan jawaban di dalamnya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ketika orang sungguh-sungguh mengenal Tuhan, memahami kebenaran dan memperoleh kebenaran, pandangan hidupnya dan pandangannya terhadap dunia pun mengalami perubahan nyata, yang diikuti dengan perubahan nyata pula dalam watak hidup mereka. Ketika orang memiliki tujuan hidup yang benar, mampu mengejar kebenaran, dan berperilaku sesuai dengan kebenaran, ketika mereka sepenuhnya tunduk kepada Tuhan dan hidup berdasarkan firman-Nya, ketika hatinya yang terdalam merasa mantap dan diterangi, ketika hatinya bebas dari kegelapan, dan ketika mereka mampu hidup benar-benar bebas dan merdeka di hadirat Tuhan, barulah saat itu mereka mendapatkan kehidupan manusia sejati, dan hanya orang-orang semacam itulah yang memiliki kebenaran dan kemanusiaan. Selain itu, semua kebenaran yang telah kauperoleh dan pahami berasal dari firman Tuhan dan dari Tuhan sendiri. Hanya ketika engkau memperoleh perkenan Tuhan Yang Maha Tinggi—Sang Pencipta, dan Dia berkata bahwa engkau adalah makhluk ciptaan yang memenuhi standar, dan bahwa engkau hidup dalam keserupaan dengan manusia, barulah hidupmu akan menjadi yang paling berarti" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Mengenal Natur Manusia"). "Fokuslah untuk bekerja keras dalam mengejar kebenaran, dan engkau semua akan mampu menyelesaikan semua masalahmu. Ketika engkau dapat menyelesaikan masalahmu sendiri, engkau akan membuat kemajuan dan menjadi bertumbuh. Ketika orang mengalami sampai hari di mana pandangan mereka terhadap kehidupan dan makna serta dasar dari keberadaan mereka telah berubah sepenuhnya, artinya, mereka telah diubahkan sepenuhnya dan telah menjadi orang lain, bukankah ini luar biasa? Ini adalah perubahan besar, perubahan yang mengguncangkan bumi. Engkau mencapai titik di mana tidak masalah bagimu apakah engkau memiliki ketenaran, status, kekayaan, kenikmatan, atau kuasa dan kemuliaan dunia atau tidak—engkau dapat melepaskan semuanya dengan mudah. Baru pada saat itulah engkau dapat dianggap memiliki keserupaan dengan manusia. Mereka yang pada akhirnya akan dilengkapi oleh Tuhan adalah kelompok orang seperti ini; mereka hidup demi kebenaran, hidup demi Tuhan, dan hidup demi keadilan. Inilah keserupaan dengan manusia yang sejati" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Dulu, aku berpikir bahwa hanya dengan mendapatkan pengetahuan dan menghasilkan lebih banyak uang, aku bisa memiliki masa depan yang baik, tetapi pada kenyataannya, hal-hal ini semuanya hampa. Pengetahuan tidak bisa mengubah nasibku. Bahkan jika aku mendapatkan pengetahuan dan menghasilkan uang, ini tidak bisa membawa kedamaian di hatiku. Setelah membaca firman Tuhan, aku sadar bahwa pengetahuan tidak bisa mengubah nasibku, dan bahwa hanya dengan mengejar kebenaran dan hidup berdasarkan firman Tuhan, seseorang dapat diperkenan oleh Tuhan dan memiliki nasib yang baik. Percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran adalah satu-satunya cara untuk menjalani kehidupan yang berharga dan bermakna. Di dunia ini, banyak orang bersaing satu sama lain untuk menghasilkan uang dan mendapatkan lebih banyak kenikmatan materi, melakukan segala macam hal buruk. Orang-orang ini memanfaatkan dan menipu orang lain untuk mencapai kesuksesan dalam karier mereka, tetapi mereka merasa tidak tenang dan dilanda pergumulan batin. Hidup seperti itu sangat menyakitkan! Hanya dengan percaya kepada Tuhan, makan dan minum firman-Nya, melepaskan falsafah-falsafah Iblis ini, dan hidup berdasarkan firman Tuhan, seseorang dapat terhindar dari siksaan Iblis dan menjalani hidup yang bermakna. Firman Tuhan membuka hatiku. Aku sadar bahwa orang bisa hidup tanpa kekayaan, reputasi, atau status, tetapi tanpa perlindungan dan bimbingan Tuhan, sulit untuk bertahan hidup. Sekarang, aku makan dan minum firman Tuhan serta melaksanakan tugasku setiap hari, dan meskipun aku belum mendapatkan ketenaran atau status yang dihargai oleh dunia, dengan membaca firman Tuhan, perlahan-lahan aku hidup dalam kemanusiaan yang normal, mengenal kerusakanku dan natur Iblisku, dan berlatih untuk memandang segala sesuatu dengan kebenaran. Inilah kehidupan yang benar-benar bermakna! Jika aku pergi belajar ke Australia, bahkan jika aku mendapatkan kekayaan, reputasi, dan kesuksesan, aku tidak akan mendapatkan kebenaran dan hidup. Lalu, bukankah hidupku sia-sia? Aku harus mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku tidak akan lagi mengejar kekayaan, status, atau gengsi duniawi, dan sebaliknya, aku akan berjuang untuk melaksanakan tugasku dengan baik dan mengejar kebenaran. Hanya dengan hidup seperti ini, hidup memiliki nilai dan makna.
Suatu hari saat pertemuan, saudara-saudari membaca satu bagian firman Tuhan yang sangat menyentuh hatiku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Sadarkah engkau akan beban yang kaupikul, amanatmu, dan tanggung jawabmu? Di manakah kesadaran akan misi historismu? Bagaimana engkau akan menjadi tuan yang baik di zaman berikutnya? Apakah kesadaranmu sebagai tuan cukup kuat? Bagaimana menjelaskan tentang tuan atas segala sesuatu? Apakah itu benar-benar berarti tuan atas semua makhluk hidup dan atas semua hal materi di dunia? Rencana apa yang kaumiliki bagi kemajuan tahap pekerjaan berikutnya? Berapa banyak orang yang menantikanmu untuk menggembalakan mereka? Apakah tugasmu berat? Mereka miskin, patut dikasihani, buta, dan kebingungan, meratap dalam kegelapan—di mana jalannya? Betapa mereka merindukan terang, seperti bintang jatuh, yang tiba-tiba turun dan mengusir kekuatan kegelapan yang telah menindas manusia bertahun-tahun lamanya. Siang dan malam mereka berharap dengan cemas dan mendambakannya—siapa yang dapat memahami ini sepenuhnya? Bahkan di hari ketika terang itu melintas, orang-orang yang sangat menderita ini tetap terkurung di penjara gelap, tanpa harapan untuk bebas; kapankah mereka akan berhenti menangis? Betapa malangnya nasib roh-roh yang rapuh ini, yang tidak pernah diberi istirahat, dan telah lama dibelenggu dalam keadaan ini oleh ikatan yang tak kenal ampun dan sejarah yang membeku. Lalu siapa yang pernah mendengar suara ratapan mereka? Siapa yang pernah melihat keadaan mereka yang menyedihkan? Pernahkah terlintas dalam benakmu betapa sedih dan cemasnya hati Tuhan? Bagaimana Dia sanggup menyaksikan umat manusia yang tidak bersalah yang telah Dia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, menderita siksaan seperti itu? Bagaimana pun juga, manusia adalah korban yang telah diracuni. Dan walaupun manusia bertahan hingga sekarang, siapa yang tahu bahwa umat manusia telah lama diracuni oleh si jahat? Sudah lupakah engkau bahwa engkau adalah salah satu dari korban-korban itu? Tidak bersediakah engkau berjuang, demi kasihmu kepada Tuhan, untuk menyelamatkan semua orang yang bertahan ini? Tidak bersediakah engkau mengabdikan segenap kekuatanmu untuk membalas kebaikan Tuhan yang mengasihi manusia seperti darah dan daging-Nya sendiri? Bagaimana tepatnya pemahamanmu tentang dipakai oleh Tuhan untuk menjalani kehidupan yang luar biasa? Apakah engkau sungguh-sungguh memiliki tekad dan iman untuk menjalani hidup yang penuh makna sebagai orang saleh yang melayani Tuhan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Bagaimana Seharusnya Engkau Memperlakukan Misimu yang akan Datang?"). Setelah membaca bagian firman Tuhan ini, aku merasa malu. Masih ada banyak orang di negaraku, Nepal, yang belum menerima keselamatan dari Tuhan. Mereka hidup di bawah kuasa Iblis dalam penderitaan yang luar biasa, tidak dapat melihat harapan apa pun. Di akhir zaman, Tuhan menjadi daging untuk menyelamatkan umat manusia, dan Tuhan berharap agar orang-orang dapat mendengar suara-Nya dan kembali ke sisi Sang Pencipta untuk menerima keselamatan dari Sang Pencipta. Tuhan memberiku kasih karunia dengan membawaku dari kegelapan ke dalam terang, memungkinkanku untuk mendengar suara-Nya, dan karena itu, aku memiliki tanggung jawab untuk memberitakan Injil Tuhan kepada lebih banyak orang. Jika aku pergi belajar ke Australia, tekanan akademik di sana tinggi, dan apakah aku akan bisa menghadiri pertemuan dan melaksanakan tugasku, itu masih dipertanyakan. Haruskah aku melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kebenaran dan diselamatkan hanya demi mengejar masa depan duniawi? Terlebih lagi, malapetaka dahsyat telah dimulai, dan perang dunia bisa pecah kapan saja, tetapi banyak orang masih belum tahu tentang pekerjaan baru Tuhan. Jika aku hanya mengkhawatirkan masa depanku sendiri, aku benar-benar tidak punya hati nurani! Setelah memikirkan hal ini, aku memutuskan untuk melepaskan kesempatan belajar di Australia, dan justru mengejar kebenaran serta melaksanakan tugasku dengan baik.
Sekarang sudah dua tahun aku melaksanakan tugasku di gereja, dan dalam pelaksanaan tugasku, aku memahami banyak kebenaran yang tidak kupahami sebelumnya. Setiap hari, aku makan dan minum firman Tuhan serta melaksanakan tugasku, dan aku menjalani kehidupan yang sangat memuaskan. Aku telah merasakan bahwa mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan adalah satu-satunya cara untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudari Du Juan, Jepang Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Ketika orang melihat ke belakang ke jalan yang telah ia jalani, saat ia...
Aku lahir di keluarga petani, di mana kami mencari nafkah dengan menggarap lahan. Sejak kecil, ayah dan kakekku mengajariku untuk belajar...
Oleh Chen Zhan, TiongkokWaktu aku masih sekolah, setiap kali aku bermalas-malasan dalam belajar, ibuku mengomeliku, “Lihat bibi tertuamu;...
Oleh Shipo, Korea Mencari Uang, Kelelahan Fisik dan Mental Ketika aku masih muda, keluarga kami miskin, dan karena itu, tidak hanya...