Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Cara Menjadi Bebas Dari Dosa: Akhirnya Aku Menemukan Jalan

881

Oleh Saudari Maru, Filipina

Cara Menjadi Bebas Dari Dosa: Akhirnya Aku Menemukan Jalan

Namaku adalah Maru dan aku berasal dari Filipina, dan seluruh keluargaku adalah orang Kristen. Aku mulai percaya kepada Tuhan ketika aku masih kanak-kanak, dan setiap minggu aku akan pergi ke gereja untuk mendengar khotbah dan menghadiri ibadah. Aku ingat di ibadah-ibadah gereja, pendeta sering menjelaskan kepada kami kitab Yakobus, pasal 4 ayat 4: "Hai kamu para penzinah, tidak tahukah engkau bahwa persahabatan dengan dunia artinya permusuhan dengan Tuhan? Karena itu, siapa pun yang mau menjadi sahabat dunia ini adalah musuh Tuhan." Meskipun aku mengetahui ayat ini dengan baik, dan aku tahu bahwa Tuhan tidak suka ketika kita mengejar tren duniawi, aku masih hidup sama seperti orang yang tidak percaya. Yang kupikirkan setiap hari hanyalah tugas sekolahku dan berbagai kegiatan lainnya di sekolah, dan ketika aku sedang bersama teman sekelasku, aku akan bolos dari kelas dan pergi ke pusat perbelanjaan bersama mereka, mengejar mode dan mengikuti tren. Aku tidak pernah punya cukup waktu untuk membaca Alkitab atau berdoa kepada Tuhan, dan aku sama sekali tidak memiliki tempat untuk Tuhan di hatiku. Setiap kali aku pergi ke gereja untuk mendengarkan pendeta berkhotbah, aku selalu merasa sepertinya aku ingin mengubah diriku sendiri. Namun, setelah itu, aku hanya akan melanjutkan hidup seperti sebelumnya. Karena aku sering tidak mampu melakukan ajaran Tuhan dan aku tidak mampu untuk tidak berbuat dosa setiap kali sesuatu terjadi, aku merasa sedih.

Aku adalah orang yang merasa dirinya benar, dan sering kali aku sama sekali memandang rendah orang tuaku dan para orang tua lainnya di keluargaku. Aku tidak menghormati mereka, apalagi melakukan apa yang mereka katakan, melainkan sering menunjukkan kesalahan dan kekurangan mereka, dan aku tidak suka berada di dekat mereka. Terkadang, aku akan merenungkan firman Tuhan Yesus: "Dan mengapa engkau melihat noda kecil di mata saudaramu, padahal engkau tidak tahu ada balok di matamu sendiri? Atau bagaimana engkau akan berkata kepada saudaramu: mari biar kukeluarkan noda kecil itu dari matamu, padahal engkau tidak melihat balok di matamu sendiri" (Matius 7:3–4). Tuhan memperingatkan kita untuk tidak selalu melihat kelemahan dan kekurangan orang lain, tetapi memeriksa masalah kita sendiri terlebih dahulu, namun aku selalu terpaku pada kesalahan orang lain, aku tidak mampu memberikan toleransi atau kesabaran kepada mereka, dan tidak ada apa pun yang kulakukan atau katakan yang pernah sesuai dengan ajaran Tuhan. Setiap kali aku memikirkan hal ini, aku akan merasakan penyesalan, dan aku mengaku dosa dan bertobat kepada Tuhan berkali-kali, memohon kepada-Nya untuk mengampuniku. Namun ketika sesuatu terjadi lagi, aku masih tidak mampu menerapkan toleransi atau kesabaran, dan akan selalu terpaku pada kesalahan dan kekurangan orang lain. Ini sangat membuatku tertekan, dan aku tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk dapat melakukan ajaran Tuhan.

Selain itu, setiap kali aku pergi ke gereja untuk membantu membersihkan atau mempersiapkan bahan-bahan untuk Sekolah Minggu, aku selalu berharap agar saudara-saudariku memperhatikan dan memujiku. Firman Tuhan Yesus muncul di benakku: "Perhatikanlah agar kamu tidak bersedekah di hadapan manusia, untuk dilihat oleh mereka: karena jika demikian, kamu tidak akan mendapatkan upah dari Bapamu yang ada di surga. Karena itu, saat engkau bersedekah, jangan engkau menceritakannya ke mana-mana seperti yang diperbuat oleh orang-orang munafik di rumah-rumah ibadah atau di jalan-jalan, agar mereka mendapatkan pujian dari manusia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, mereka telah menerima upahnya. Tetapi ketika engkau bersedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang dilakukan tangan kananmu: Supaya sedekahmu itu tersembunyi: dan Bapamu yang melihat secara tersembunyi akan memberikan upah kepadamu secara terbuka" (Matius 6:1–4). Tuhan senang kepada mereka yang bekerja diam-diam dan tidak terlihat, dan Dia tidak suka dengan orang-orang yang memamerkan diri mereka kepada orang lain atau yang melakukan sedikit pekerjaan dan kemudian ingin mengambil semua pujian. Namun semua yang kulakukan hanyalah untuk mendapatkan pujian dan penghargaan dari orang lain—aku tidak sedang melakukannya untuk memuaskan Tuhan. Pada waktu itu, aku sering merenungkan pasal 11 ayat 9 dalam kitab Pengkhotbah: "Bersukacitalah, hai anak muda, di masa mudamu; dan biarlah hatimu bersukaria di masa mudamu, dan berjalanlah menurut kehendak hatimu, dan dalam pemandangan matamu: tetapi ketahuilah, bahwa untuk semua hal ini Tuhan akan membawamu ke dalam penghakiman." Setiap kali ajaran ini muncul di benakku, aku akan selalu merasakan rasa bersalah, dan aku akan merasa kesal karena aku tidak pernah mampu membebaskan diriku dari ikatan dosa.

Kemudian, aku sering berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Maafkan aku. Aku tahu firman-Mu berkuasa dan dapat mengubahku, tetapi aku selalu memuaskan dagingku sendiri, aku hidup dalam dosa dan tidak mampu melakukan ajaran-Mu. Ya Tuhan! Kumohon selamatkan aku." Pada saat yang sama, aku juga merasa agak cemas dan takut bahwa, ketika Tuhan Yesus datang kembali, Dia akan meninggalkanku, karena Tuhan telah berfirman: "Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus" (Imamat 11:44). Meskipun Tuhan Yesus disalibkan di kayu salib dan dengan demikian membebaskan kita dari dosa-dosa kita, aku masih tidak mampu melakukan ajaran-Nya dan aku hidup dalam keadaan berdosa yang darinya aku tidak mampu melepaskan diri. "Tuhan itu kudus," pikirku." Jika aku hidup dalam dosa, bukankah Tuhan akan meninggalkanku?" Aku sering terganggu oleh pemikiran ini dan aku tidak mengerti mengapa aku selalu hidup dalam dosa. Selain itu, aku tidak dapat menemukan jalan untuk membersihkan diriku dari kerusakan dan ditahirkan. Aku tahu bahwa aku tidak bisa meninggalkan Tuhan Yesus, jadi yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti Dia dengan caraku yang selama ini kulakukan.

Suatu malam di bulan Juli 2016, tanteku yang bernama Wassi yang telah kembali dari Manila memberi tahu kami dengan penuh semangat, "Tuhan Yesus yang telah kita rindukan telah datang kembali sebagai Tuhan Yang Mahakuasa, Kristus akhir zaman! Tuhan sudah lama datang kembali dalam daging untuk melakukan pekerjaan penghakiman-Nya yang dimulai dalam rumah Tuhan, dan Dia melakukan pekerjaan ini untuk menghakimi dan menyucikan umat manusia dan untuk sepenuhnya menyingkirkan natur dosa kita. Pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman sepenuhnya menggenapi nubuat Tuhan Yesus: 'Dan kalau ada orang yang mendengar perkataan-Ku, dan tidak percaya, Aku tidak menghakiminya: karena Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan dunia. Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya: firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya pada akhir zaman' (Yohanes 12:47–48). Ketika kami mendengar Tante Massi mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali, seluruh keluarga kami sangat gembira dan senang, dan kami semua mulai membahasnya. Namun, aku teringat tentang bagaimana aku hidup dalam dosa setiap hari, dan aku bertanya dengan sedikit gugup, "Tante Massi, aku masih tidak mampu untuk tidak berbuat dosa dan aku tidak mampu melakukan firman Tuhan. Akankah Tuhan menginginkanku, sekarang setelah Dia datang kembali?" Ketika dia mendengarku menanyakan hal ini, dia memberikan persekutuan dengan sungguh-sungguh: "Tuhan Yesus berkata: 'Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga' (Matius 7:21). Tuhan memberi tahu kita bahwa hanya dengan mengikuti jalan-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya, dan dengan menjadi orang yang benar-benar menaati Tuhan, mengasihi Tuhan dan memuaskan Tuhan, kita dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Jika kita selalu berbuat dosa dan kemudian mengaku dosa dan tidak mampu menerapkan ajaran Tuhan, kita pasti tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga. Namun kita tidak boleh kehilangan harapan atau menjadi putus asa. Karena pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan selama Zaman Kasih Karunia adalah pekerjaan penebusan dan itu hanya membebaskan kita dari dosa-dosa kita, tetapi tidak membebaskan kita dari natur dosa kita, kita masih tidak mampu untuk tidak berbuat dosa dan kita tidak dapat menerapkan ajaran Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa telah datang pada akhir zaman, dan di atas dasar pekerjaan penebusan Tuhan Yesus, Dia melakukan pekerjaan menghakimi dan menyucikan manusia dengan firman untuk menyucikan dan mengubah watak rusak di dalam diri kita, untuk menyelamatkan kita sekali untuk selamanya dari wilayah kekuasaan Iblis dan membawa kita ke dalam keselamatan Tuhan. Pertama-tama mari kita membaca beberapa bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa: Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Dosa manusia dapat diampuni melalui korban penghapusan dosa, tetapi manusia belum mampu menyelesaikan masalah bagaimana ia dapat untuk tidak lagi berbuat dosa dan bagaimana agar sifat dosanya dapat dibuang sepenuhnya dan diubahkan. Dosa manusia diampuni karena pekerjaan penyaliban Tuhan, tetapi manusia tetap hidup dalam watak lama Iblis yang rusak. Dengan demikian, manusia harus sepenuhnya diselamatkan dari watak rusak Iblis sehingga sifat dosa manusia sepenuhnya dibuang dan tidak akan pernah lagi berkembang, sehingga memungkinkan watak manusia berubah. Hal ini mengharuskan manusia memahami jalan pertumbuhan dalam kehidupan, jalan hidup, dan cara untuk mengubah wataknya. Hal ini juga mengharuskan manusia untuk bertindak sesuai dengan jalan ini sehingga watak manusia dapat secara bertahap diubahkan dan ia dapat hidup di bawah cahaya terang, sehingga segala sesuatu yang ia lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan, sehingga ia dapat membuang watak rusak Iblisnya, dan supaya dia dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kegelapan Iblis, sehingga ia pun benar-benar lepas dari dosa. Hanya dengan begitu, manusia akan menerima keselamatan yang lengkap" ("Misteri Inkarnasi (4)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Di akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan hakikat manusia, dan membedah kata-kata dan perbuatan-perbuatannya. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia harus menaati Tuhan, bagaimana setia kepada Tuhan, bagaimana hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan lain-lain. Firman ini semuanya ditujukan pada hakikat manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan karena manusia merupakan perwujudan Iblis dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan bukannya begitu saja menjelaskan tentang sifat manusia hanya dengan beberapa kata. Dia menyingkapkannya, menanganinya, dan memangkasnya sekian lama. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan kata-kata biasa, tetapi dengan kebenaran yang tidak dimiliki oleh manusia sama sekali. Hanya cara-cara seperti ini yang dianggap penghakiman, hanya melalui penghakiman jenis ini manusia bisa ditundukkan dan diyakinkan sepenuhnya untuk tunduk kepada Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan. Tujuan pekerjaan penghakiman agar manusia mengetahui wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkan manusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami manusia. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua hasil ini dicapai melalui pekerjaan penghakiman, karena substansi pekerjaan ini adalah pekerjaan membukakan kebenaran, jalan, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan" ("Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Tante Massi melanjutkan, "Di Zaman Kasih Karunia, Tuhan Yesus melakukan pekerjaan penebusan dan membebaskan kita dari dosa-dosa kita. Namun karena kita manusia telah sangat dirusak oleh Iblis, natur kita menentang dan tidak taat kepada Tuhan; meskipun dosa-dosa kita telah diampuni, kita masih sering dapat berbuat dosa di bawah kekuasaan dari natur dosa kita, kita tidak mampu melakukan firman Tuhan, dan kita hidup dalam keadaan tersiksa dan menderita di bawah perbudakan dan kendali natur jahat kita. Misalnya, ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita selalu berbicara dan bertindak demi harga diri dan posisi kita sendiri, kita membuat rencana demi kepentingan kita sendiri, dan kita tidak mampu menjadi orang jujur seperti yang dituntut Tuhan. Ketika kita melihat orang lain dengan kekurangan atau kelemahan, kita tidak menyukai mereka dan menghindarinya, dan kita memandang rendah mereka, berpikir bahwa kita lebih baik daripada mereka. Ini hanyalah beberapa contoh dari apa yang kita lakukan ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, dalam hati kita sering bingung tentang apakah kita dapat selaras atau tidak dengan kehendak Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan surga sedangkan kita begitu rentan untuk berbuat dosa. Ini adalah masalah yang dikhawatirkan oleh mayoritas orang percaya sejati. Tuhan mengetahui situasi kita saat ini, dan pada akhir zaman Dia mengungkapkan firman-Nya dan melakukan pekerjaan menghakimi dan menyucikan manusia sesuai dengan kebutuhan kita. Tuhan Yang Mahakuasa menghakimi dan menyingkapkan kebenaran tentang seberapa dalamnya kita manusia dirusak oleh Iblis, serta akar penyebab dosa kita dan penentangan kita terhadap Tuhan, dan Tuhan Yang Mahakuasa juga menunjukkan kepada kita jalan untuk mencapai keselamatan sejati. Melalui dihakimi dan dihajar oleh firman Tuhan Yang Mahakuasa dan dari penyingkapan fakta-fakta oleh-Nya, kita melihat bahwa watak kita begitu congkak, curang, egois, jahat, dan membenci kebenaran. Di bawah kekuasaan watak-watak jahat ini, kita tidak mampu untuk tidak berbuat dosa dan menentang Tuhan; meskipun kita mengetahui tuntutan Tuhan dengan sangat baik, kita masih belum bisa melakukannya. Kita melihat bahwa kita telah sangat dirusak oleh Iblis, bahwa kita memang adalah keturunan Iblis, bahwa kita hidup tanpa keserupaan dengan manusia, dan bahwa kita sama sekali tidak layak untuk menerima keselamatan Tuhan, dan dengan demikian, kita tidak bisa tidak jatuh tersungkur di hadapan Tuhan, merenungkan dan jadi mengenal diri kita sendiri, dan merasakan penyesalan. Melalui penghakiman dan penyingkapan firman Tuhan, kita sampai pada suatu pemahaman tentang watak adil Tuhan yang tidak menoleransi pelanggaran, pertobatan sejati muncul dari lubuk hati kita, kita menjadi rela meninggalkan daging kita dan menerapkan kebenaran, dan kita rindu untuk tidak pernah lagi hidup di bawah watak jahat kita yang dibenci Tuhan. Ketika kita menerapkan sesuai dengan firman Tuhan, watak hidup kita mulai berubah, hati nurani dan nalar kita bertumbuh semakin kuat, ketika kita menghadapi masalah, kita dapat menunjukkan ketaatan dan penghormatan sejati kepada Tuhan, dan kita dapat mulai menjalani kehidupan yang serupa dengan manusia sejati—ini semua adalah segala sesuatu yang kita pahami dengan sungguh-sungguh melalui mengalami pekerjaan Tuhan. Pekerjaan penghakiman yang dilakukan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman menyelesaikan masalah dosa dan penentangan kita terhadap Tuhan dari akar ke atas, itu mengakhiri kehidupan manusia yang berbuat dosa dan mengaku dosa, dan itu memungkinkan kita untuk menyingkirkan pengaruh kegelapan dari Iblis sekali untuk selamanya sehingga kita bisa memperoleh keselamatan Tuhan. Hanya melalui mengalami penghakiman dan hajaran Tuhan dan disucikan kita dapat dipimpin oleh Tuhan ke dalam kerajaan-Nya. Karena itu, adalah sangat penting bagi kita untuk menerima pekerjaan penghakiman Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman!" Dari firman Tuhan Yang Mahakuasa dan persekutuan tanteku, aku sepenuhnya memahami bahwa, dengan percaya kepada Tuhan Yesus, kita hanya ditebus, tetapi natur dosa kita tetap ada, yang berarti bahwa kita masih mampu berbuat dosa dan menentang Tuhan—tidak heran aku tidak pernah mampu melakukan ajaran Tuhan. Pada akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa mengungkapkan firman-Nya untuk menghakimi dan mentahirkan manusia, dan selama aku menerima dan mengalami pekerjaan penghakiman Tuhan, aku akan dapat menyingkirkan natur dosaku, dan dengan melakukan itu, aku kemudian akan memiliki kesempatan untuk memasuki kerajaan surga. Aku melihat bahwa pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa adalah pekerjaan yang kubutuhkan dalam hidupku dan dalam rohku, dan aku tersentuh hingga menangis. Aku kemudian membuat keputusan bahwa aku akan memastikan untuk mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh, menyingkirkan watakku yang rusak dan menjalani kehidupan yang serupa dengan seorang Kristen.

Kemudian aku melihat bahwa firman Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Meskipun banyak orang percaya kepada Tuhan, hanya sedikit yang mengerti apa arti beriman kepada Tuhan, dan apa yang harus mereka lakukan agar berkenan di hati Tuhan. Hal ini terjadi karena walaupun orang terbiasa mendengar kata 'Tuhan' dan kata-kata seperti 'pekerjaan Tuhan,' mereka tidak mengenal Tuhan, apalagi pekerjaan-Nya. Maka tak heran jika semua orang yang tidak mengenal Tuhan mempunyai kepercayaan yang kacau. … 'Percaya kepada Tuhan' berarti percaya bahwa Tuhan itu ada. Inilah konsep paling sederhana tentang beriman kepada Tuhan. Selanjutnya, percaya bahwa Tuhan itu ada tidak sama dengan sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, ini seperti iman yang biasa dengan konotasi agamawi yang kuat. Iman yang sejati kepada Tuhan berarti mengalami perkataan dan pekerjaan Tuhan berdasarkan keyakinan bahwa Tuhan berdaulat atas segala hal. Jadi, engkau akan dibebaskan dari watakmu yang rusak, memenuhi keinginan Tuhan, dan mengenal Tuhan. Hanya setelah melewati perjalanan ini engkau dapat dikatakan percaya kepada Tuhan" (Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Firman Tuhan mendorongku untuk menaruh seluruh energiku pada imanku kepada Tuhan. Sebelumnya, aku berkata aku percaya kepada Tuhan dan aku mengakui secara lisan bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamatku, tetapi hidupku masih dipenuhi dengan pengaruh orang-orang yang tidak percaya; aku telah mengikuti tren duniawi, aku sangat jarang berdoa atau membaca Alkitab, aku tidak mampu menerapkan ajaran Tuhan, dan aku tidak memiliki iman yang benar kepada Tuhan. Berkat pencerahan dan bimbingan firman Tuhan, aku menyadari bahwa aku tidak seharusnya membiarkan imanku kepada Tuhan bertumpu pada penghargaan secara lisan, sebaliknya aku harus bertindak dan menerapkan imanku. Aku jadi bertekad untuk percaya bahwa Tuhan adalah yang berdaulat atas segala sesuatu, mengalami dan menerapkan firman Tuhan dalam segala sesuatu yang kuhadapi agar dapat mengubah diriku sendiri, menyingkirkan watak jahatku dan menaati Tuhan, dan memiliki iman sejati di dalam Tuhan dan pengetahuan tentang Tuhan.

Seiring berjalannya waktu dan setelah aku mengalami pekerjaan Tuhan, aku mulai mencari kebenaran, dan aku memohon kepada Tuhan untuk menyucikan dan mengubahku. Suatu waktu, ketika aku sedang sibuk mengerjakan sesuatu, salah seorang orang tua di keluargaku memintaku untuk pergi keluar dan mengambilkan sesuatu untuk mereka. Aku tidak mau karena aku merasa belum menyelesaikan apa yang sedang kukerjakan, dan aku mulai marah kepada mereka. Tepat saat aku akan meledak dalam kemarahan, sebuah suara kecil yang mencela diri sendiri berkata dalam hatiku: "Apakah baik untuk bersikap seperti ini? Apakah benar bertindak seperti ini di hadapan Tuhan? Bukankah aku ingin disucikan?" Pertanyaan-pertanyaan ini terus mengingatkanku untuk tidak kehilangan kesabaran dan sebaliknya berpikir tentang bagaimana menerapkan kebenaran. Setelah itu, aku membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa ini: "Tentu saja, orang yang rusak tanpa status juga akan sering kehilangan kendali. Amarah mereka sering kali timbul karena keuntungan pribadi mereka disinggung. Untuk melindungi status dan harga diri mereka, umat manusia yang sudah rusak akan sering melampiaskan emosinya dan menyatakan naturnya yang sombong. Manusia akan terbakar amarah dan menyalurkan emosinya untuk mempertahankan keberadaan dosa, dan tindakan ini adalah cara manusia mengungkapkan ketidakpuasannya. Tindakan-tindakan ini penuh dengan kekotoran, dengan rencana licik dan intrik, dengan kerusakan dan kejahatan manusia, dan lebih dari semuanya, penuh dengan ambisi liar dan keinginan manusia" ("Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Entah besar ataupun kecil, ketika sesuatu terjadi kepadamu, engkau harus mengesampingkan dirimu terlebih dahulu dan menganggap kedagingan sebagai sesuatu yang paling hina dari semuanya. Semakin engkau memuaskan daging, semakin tak terkendali kedaginganmu. Jika engkau memuaskannya pada saat ini, di kali berikut ia akan menuntut lebih banyak, dan dengan berlanjutnya hal ini, engkau akan semakin mengasihi daging. Daging selalu memiliki keinginan yang berlebihan, dan selalu menuntutmu untuk memuaskannya dan menuntutmu untuk menyenangkannya dari dalam, entah itu dengan makanan yang kau makan, pakaian yang kau pakai, dalam hal engkau kehilangan kesabaran, atau menuruti kelemahan dan kemalasanmu sendiri …. Semakin engkau memuaskan daging, semakin besar keinginan dagingmu, dan semakin bobrok daging, sampai ke satu titik, keinginan daging itu membuat orang menyimpan gagasan yang semakin dalam, tidak mau menaati Tuhan …" ("Hanya Mengasihi Tuhan-lah yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan membuatku sadar bahwa aku selalu ingin orang melakukan apa yang kuinginkan dan aku tidak ingin ada orang yang memintaku melakukan apa pun. Saat seseorang ingin membuatku melakukan sesuatu atau mereka tidak melakukan apa yang kuinginkan, aku akan marah. Ternyata ini karena mereka telah mengganggu kepentinganku, dan perilaku ini juga merupakan ekspresi dari naturku yang congkak. Tindakan seperti ini adalah bertindak seperti yang diperintah oleh dagingku, dan jika aku meneruskannya seperti itu, aku hanya akan menjadi semakin rentan untuk kehilangan kesabaran, dan watakku yang congkak akan menjadi terlalu mendarah daging untuk berubah. Sekarang, aku ingin menerapkan kebenaran dan mengejar perubahan, jadi aku tahu aku harus melepaskan kepentinganku sendiri, tenang, mencari kehendak Tuhan dan belajar bagaimana menjadi taat. Ketika aku merenungkan semua hal ini, aku berhasil mengendalikan emosiku, dan aku tidak kehilangan kesabaran. Kemudian aku membaca dalam sebuah bab dari sebuah khotbah yang berjudul "Sikap yang Benar dari Seorang Percaya" di mana kami harus "Ikuti etika, patuhi aturan, hormati orang yang lebih tua, serta pedulilah terhadap yang lebih muda." Ini memungkinkanku untuk menyadari bahwa aku harus menghormati orang tuaku dan belajar bagaimana bisa hidup rukun dengan mereka. Pada saat itu, api amarah di hatiku padam. Dari peristiwa sepele ini, aku mulai memiliki sedikit penghargaan terhadap penghakiman dan hajaran Tuhan. Aku merasa bahwa Tuhan menggunakan contoh-contoh nyata dari orang-orang, peristiwa dan segala sesuatu untuk membuatku mengenal diriku sendiri dan mencari kebenaran, sehingga aku dapat, sedikit demi sedikit, membebaskan diriku dari ikatan watak rusakku yang jahat.

Kemudian, aku membaca dalam bab firman Tuhan yang berjudul "Memandang Penampakan Tuhan dalam Penghakiman dan Hajaran-Nya" that "Kasih Tuhan memancar keluar seperti air di mata air dan diberikan kepada engkau, dan aku, dan dia, dan semua orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan menantikan penampakan Tuhan" (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Tuhan memang mengasihi manusia, dan kasih Tuhanlah yang memberiku kesempatan untuk menerima keselamatan-Nya pada akhir zaman. Ternyata Tuhan tidak pernah sekali pun meninggalkanku, tetapi selalu berada di sisiku, membimbingku. Hidupku sekarang diubahkan. Pada akhir pekan, aku mengambil bagian dalam menghadiri pertemuan dan biasanya aku melakukan semua yang kubisa untuk melaksanakan tugasku di gereja; Aku tidak lagi seperti diriku yang sebelumnya, mengejar tren duniawi. Selain itu, setiap kali aku menjumpai sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanku sendiri, aku belajar untuk datang ke hadapan Tuhan dan pertama-tama taat, dan kemudian aku mencari cara untuk menyesuaikan dengan kehendak Tuhan. Aku percaya bahwa, selama aku mencari kebenaran dan berusaha mengenal Tuhan dalam segala sesuatu, Tuhan akan mengubahku sedikit demi sedikit dan memampukanku untuk menyingkirkan watakku yang rusak sekali untuk selamanya dan didapatkan oleh Tuhan.

MediaTerkait