Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Apa Makna Kehidupan Sejati? Perkataan Terakhir Seorang Raja Memberikan Inspirasi

98

Oleh Mo Yan

Suatu hari aku kebetulan menemukan sebuah kisah sejarah di ponselku—kisah ini benar-benar menginspirasiku, jadi aku ingin membagikannya dengan orang lain. Kisahnya seperti ini: Alexander Agung adalah salah satu komandan militer yang paling sukses dalam sejarah. Dia jatuh sakit amat parah dalam perjalanan kembali dari operasi militernya yang penuh kemenangan, dan ketika dia hampir meninggal dunia, dia membagikan tiga harapan terakhirnya dengan para jenderalnya. Pertama, dia ingin dokter-dokternya membawa peti matinya pulang kembali, dan dia ingin agar di sepanjang jalan ke kuburan di mana peti matinya akan dibawa ditaburi dengan emas, perak, dan batu-batu berharga. Terakhir, dia ingin agar kedua tangannya diposisikan agar berada di luar peti mati. Alexander menjelaskan bahwa dengan melakukan hal-hal ini, dia ingin memberikan tiga pelajaran kepada orang-orang yang masih hidup. Pertama, tidak peduli seberapa hebat keterampilan seorang dokter, dia tidak bisa menyelamatkan nyawa manusia; mereka tidak dapat menentukan hidup dan mati seseorang. Kedua, tidak layak menghabiskan seluruh hidup untuk mengejar kekayaan; hal ini membuang-buang waktu yang berharga. Dan akhirnya, kita masing-masing datang ke dunia ini dengan tangan kosong, dan kita akan kembali dengan tangan kosong. Kita tidak dapat membawa satu hal pun bersama kita.

Alexander Agung meninggal dunia dengan penyesalan yang luar biasa, dan sementara berada di ranjang kematiannya dia menggunakan pengalaman-pengalaman pribadinya untuk memperingatkan orang lain: mencurahkan seumur hidup untuk mengumpulkan kekayaan tidak ada gunanya, karena tidak peduli seberapa kayanya engkau, kekayaan itu tidak dapat membeli kehidupanmu kembali, dan tentunya tidak bisa memperpanjang hidupmu satu detik pun. Sedihnya, dia tidak memiliki penyingkapan ini sampai dia berada di ambang kematian. Sesuatu yang dikatakan Tuhan Yesus muncul di kepalaku: “Karena apa untungnya jika seseorang mampu mendapatkan seluruh dunia, dan kehilangan jiwanya sendiri? Atau apa yang bisa diberikan seseorang sebagai ganti jiwanya?” (Matius 16:26). Ini benar sekali. Karena bagi kita manusia, hidup adalah lebih besar daripada segalanya, dan jika kita kehilangan nyawa kita, tidak peduli berapa banyak uang yang kita miliki, ini mungkin hanya menjadi tumpukan sampah. Sama sekali tidak ada gunanya. Meskipun Alexander Agung menggunakan pengalaman pribadinya untuk membagikan pelajaran ini dengan generasi selanjutnya agar mereka tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dia lakukan, sayangnya, hal ini tidak membawa kesadaran bagi manusia. Dalam upaya-upaya mereka, sebagian besar manusia masih menempuh jalan salah yang ditempuh Alexander—mereka sibuk dari fajar hingga petang setiap hari, bergegas ke sana kemari, bekerja keras, dan beberapa bahkan menggunakan segala macam taktik lainnya hanya demi memperoleh lebih banyak uang dan menikmati gaya hidup kelas tinggi. Kemudian aku merasa terdorong untuk berpikir tentang ayahku sendiri …

Sejak aku cukup umur untuk memperhatikan, satu-satunya kesanku terhadap ayahku adalah melihatnya dari belakang ketika dia berusaha keras untuk menghasilkan uang, bangun pagi-pagi dan bekerja hingga larut malam. Suatu hari dia tiba-tiba pingsan karena kelelahan dan tidak pernah bangun lagi. Kematiannya yang tiba-tiba merupakan tragedi besar bagi keluarga kami, dan orang-orang yang kami kenal semuanya berseru, “Dia kelihatannya sangat baik-baik saja, tetapi dia meninggal dunia begitu saja! Tidak peduli berapa banyak uang yang dia hasilkan, apa gunanya uang tersebut tanpa menjalani kehidupan? Bukankah kita semuanya hanya akan berakhir dengan tangan kosong?” Kematian ayahku membuatku merasa sakit, menderita, dan menyesal baginya. Aku memikirkan bagaimana dia telah bekerja sangat keras demi mengurus keluarga kami dan menyediakan makanan di atas meja, betapa berhematnya dia dan betapa dia hampir tidak pernah beristirahat sepanjang hidupnya, tetapi akhirnya dia benar-benar hanya bertangan kosong, meninggalkan dunia ini dengan begitu banyak penyesalan …. Aku merasa terdorong untuk menghela napas, dan bertanya-tanya: Mengapa orang hidup seperti itu? Sebenarnya apa nilai dan tujuan hidup manusia?

media terkait