Memperlakukan Pemimpin Sesuai Prinsip
Oleh Saudari Xiao Qing, Tiongkok Pada musim panas 2016, aku masih cukup baru dalam posisi kepemimpinan di gereja. Suatu hari Saudari Wang,...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Waktu aku masih kecil, karena orang tuaku sibuk mencari nafkah dan tidak punya waktu untuk merawatku, aku dititipkan di rumah Nenek dan dibesarkan di sana. Saat itu sedang ada sensus keluarga berencana, dan karena aku tidak terdaftar di kartu keluarga Nenek, untuk menghindari denda, setiap kali ada pemeriksaan keluarga berencana di desa, Nenek menggendong dan menyembunyikanku. Para tetangga mengejekku karena tidak punya status kependudukan, menyebutku "Anak Tanpa Identitas", dan berkata bahwa aku adalah anak tanpa ibu. Meskipun aku masih kecil, aku tahu mereka sedang mengejekku. Aku sangat terluka. Aku tidak mau bertemu mereka atau bermain dengan anak-anak lain. Sering kali, aku hanya mengurung diri di dalam rumah sendirian sambil menonton TV, atau bermain dengan Nenek. Masa kecilku cukup tertekan dan monoton. Kemudian, ketika aku mencapai usia sekolah, orang tuaku membawaku pulang. Karena aku orang yang tertutup, tidak suka bicara, dan tidak menyapa orang, ibuku berkata bahwa aku lamban dan tidak secerdas adik perempuanku. Aku juga merasa diriku punya banyak kekurangan, jadi aku makin tidak mau berkomunikasi dengan orang lain. Lambat laun, aku merasa sulit berkomunikasi dengan orang lain. Saat mengobrol, aku tidak tahu harus berkata apa atau bagaimana cara memulai percakapan. Terkadang ada sesuatu dalam benakku, dan ada pandangan yang ingin kuungkapkan, tetapi saat berbicara, aku hanya bergumam tidak jelas karena gugup dan takut. Terutama saat berbicara dengan orang yang tidak kukenal di tengah keramaian, aku sangat gugup sampai wajahku memerah. Jadi, setiap kali ada kerabat yang datang atau aku harus menghadiri pesta makan malam, aku selalu berusaha menghindarinya jika memungkinkan. Jika tidak bisa menolak, aku hanya akan duduk diam di pojokan, melihat orang lain mengobrol dan tertawa.
Setelah percaya kepada Tuhan pun aku masih seperti ini. Aku ingat suatu kali di sebuah pertemuan, aku melihat ada 50 atau 60 orang yang hadir. Aku langsung merasa terintimidasi. Melihat begitu banyak orang, aku tidak berani bicara. Kemampuan bicaraku kurang baik, jadi aku merasa kalau aku bicara tidak jelas atau orang lain tidak mengerti, itu akan sangat canggung dan memalukan. Jadi, setiap kali pengawas memintaku untuk bersekutu, aku memilih untuk tetap diam dan hanya mendengarkan. Terkadang, saat aku mempelajari keterampilan profesional dengan saudara-saudari, pengawas meminta kami untuk menyampaikan pemikiran kami. Aku pun gugup dan tidak berani bersekutu, takut tidak bisa berbicara dengan jelas. Beberapa kali, aku terpaksa bersekutu setelah dipanggil oleh pengawas. Saat bersekutu, aku sangat gugup sampai suaraku berubah, dan wajahku makin panas saat aku bicara. Pada akhirnya, aku tidak bisa berbicara dengan jelas dan merasa sangat malu. Aku berpikir, "Kenapa aku begitu tidak berguna? Aku hanya mengungkapkan pandanganku, kenapa ini begitu sulit dan menegangkan? Aku bahkan tidak bisa bicara dengan jelas, aku bodoh sekali!" Saat melihat saudari-saudari yang bekerja sama denganku bersekutu secara begitu alami dan lancar, aku merasa sangat iri, "Kenapa aku tidak punya kepercayaan diri dan keberanian seperti itu? Kenapa begitu sulit bagiku untuk berbicara atau mengungkapkan pikiranku?" Kemudian, pengawas mengatur agar aku menjadi pemimpin tim. Aku berpikir, "Aku ini tertutup dan tidak pandai bicara, dan saat ada terlalu banyak orang, aku tidak berani bicara. Bagaimana jika saudara-saudari punya pertanyaan dan aku tidak bisa menjawabnya dengan jelas? Bukankah itu akan canggung?" Aku hanya ingin pengawas mencari orang lain, dan aku lebih memilih menjadi anggota tim biasa saja. Namun, jika aku menolak tugas itu, aku takut pengawas akan memiliki kesan buruk tentangku, jadi aku membuang pikiran itu. Saat menindaklanjuti pekerjaan saudara-saudari setelahnya, aku masih merasa terintimidasi. Ketika mereka bertanya kepadaku, aku selalu ingin orang lain yang menjawab, karena aku takut tidak bisa menerangkan dengan jelas atau tidak bisa menyelesaikan masalah mereka. Ketika tidak bisa menghindar, aku memaksakan diri untuk mengucapkan beberapa patah kata, tetapi aku masih sangat gugup. Aku merasa sangat frustrasi melihat diriku seperti ini. Aku menyadari bahwa keadaan ini sangat memengaruhi komunikasi normalku dengan orang lain dan kemampuanku untuk melaksanakan tugas. Jika aku tidak segera mengubah keadaan ini, aku akan menjadi makin pasif dalam tugasku, dan ini pasti akan menunda pekerjaan. Maka dari itu, dengan sadar aku mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalahku.
Suatu hari, aku membaca sebuah bagian firman Tuhan yang sangat sesuai dengan keadaanku. Tuhan berfirman: "Apa pun situasinya, ketika orang yang pengecut menghadapi kesulitan, mereka mundur. Mengapa mereka mundur? Salah satu alasannya adalah karena ini disebabkan oleh emosi perasaan rendah diri mereka. Karena mereka merasa rendah diri dan tidak berani tampil di depan orang-orang, mereka bahkan tidak mampu mengemban kewajiban dan tanggung jawab yang seharusnya mereka emban, mereka juga tidak dapat memikul beban dari apa yang sebenarnya mampu mereka capai dalam lingkup kemampuan dan kualitas mereka sendiri, serta dalam lingkup pengalaman mereka sebagai orang normal. Emosi perasaan rendah diri ini memengaruhi setiap aspek kemanusiaan mereka, memengaruhi karakter mereka dan, tentu saja, itu juga memengaruhi kepribadian mereka. Dalam sekelompok orang, mereka jarang mengungkapkan pandangan mereka sendiri, dan engkau hampir tidak pernah mendengar mereka mengungkapkan sudut pandang atau pendapat mereka sendiri. Ketika mereka menghadapi suatu masalah, mereka tidak berani berbicara, tetapi terus-menerus menarik diri dan mundur. Ketika hanya ada sedikit orang di sana, mereka dapat mengumpulkan keberanian untuk duduk di antara mereka, tetapi ketika ada banyak orang di sana, mereka pergi ke mana pun ada sudut dan pencahayaan yang redup, tidak berani berada di depan orang lain. Kapan pun mereka merasa ingin secara aktif mengatakan sesuatu dan mengungkapkan pandangan serta pendapat mereka sendiri untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka pikirkan itu benar, mereka bahkan tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Setiap kali memiliki ide semacam itu, emosi perasaan rendah diri mereka langsung muncul dan mengendalikan mereka, menahan mereka, mengatakan kepada mereka, 'Jangan katakan apa pun, engkau tidak mampu. Jangan ungkapkan pandanganmu, simpan saja idemu untuk dirimu sendiri. Jika ada sesuatu dalam hatimu yang benar-benar ingin kaukatakan, catat saja di komputer dan renungkan sendiri hal itu. Jangan biarkan orang lain mengetahuinya. Bagaimana jika kau mengatakan sesuatu yang keliru? Itu akan sangat memalukan!' Suara ini terus memberitahumu agar tidak melakukan ini dan itu, tidak mengatakan ini dan itu, menyebabkanmu menelan kembali setiap kata yang ingin kauucapkan. Mungkin ada sesuatu yang telah lama kaupikirkan berulang kali di dalam hatimu, tetapi ketika tiba saatnya untuk berbicara, engkau mundur, tidak berani mengatakannya, merasa malu untuk berbicara, dan merasa ini adalah sesuatu yang tidak boleh kaulakukan, bahwa melakukannya akan seperti melanggar suatu aturan atau melanggar hukum. Ketika suatu hari engkau secara aktif mengungkapkan pandanganmu sendiri, di lubuk hatimu engkau merasa sangat gelisah dan tidak tenang. Sekalipun perasaan tidak tenang yang luar biasa ini berangsur memudar, emosi perasaan rendah dirimu secara perlahan memadamkan ide, niat dan rencana yang kaumiliki untuk ingin berbicara, ingin mengungkapkan pandanganmu sendiri, ingin menjadi orang normal, dan ingin menjadi sama seperti orang lain. Orang-orang yang tidak benar-benar mengenalmu menganggap bahwa engkau adalah orang yang sedikit bicara, bahwa engkau pendiam, bahwa engkau memiliki kepribadian yang pemalu, bahwa engkau adalah seseorang yang tidak suka menonjol, bahwa engkau merasa malu dan wajahmu memerah ketika berbicara di depan banyak orang, dan bahwa engkau relatif tertutup. Sebenarnya, hanya engkau yang tahu bahwa engkau merasa rendah diri. ... Meskipun emosi ini tidak dapat dikatakan sebagai watak yang rusak, emosi ini telah menyebabkan pengaruh negatif yang parah pada orang-orang; emosi ini menindas kemanusiaan mereka dengan kejam dan memiliki dampak negatif yang besar pada berbagai emosi serta perkataan dan tindakan dari kemanusiaan normal mereka. Konsekuensi-konsekuensi ini sangat serius. Dalam skala kecil, itu memengaruhi kepribadian, preferensi, dan ambisi mereka; dalam skala besar, itu memengaruhi tujuan dan arah hidup mereka. Dari penyebab emosi perasaan rendah diri ini, dari perkembangannya dan dari konsekuensi yang dibawanya kepada orang, dari aspek mana pun engkau memandangnya, bukankah itu adalah sesuatu yang harus orang lepaskan? (Ya.)" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (1)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa aku merasa sangat rendah diri. Keadaan dan perwujudan perasaan rendah diri yang Tuhan ungkapkan ada padaku. Hatiku terbelenggu oleh perasaan rendah diri, dan aku selalu merasa diriku tidak cukup baik dalam berbagai hal. Saat berinteraksi dengan orang, aku menjadi takut untuk bicara ketika ada terlalu banyak orang, atau aku bersembunyi di sudut dan tetap diam. Dalam tugasku, setiap kali aku perlu mengungkapkan pikiranku, tanpa sadar aku menjadi gugup. Aku tidak memikirkan cara bekerja sama dengan semua orang untuk melaksanakan tugasku dengan baik, tetapi aku justru merasa bahwa kemampuan bicaraku tidak memadai, ucapanku tidak tepat sasaran, dan aku lebih suka orang lain yang bersekutu. Ketika aku memiliki pendapat atau pemikiran tentang masalah tertentu, aku terus ragu-ragu, berpikir, "Haruskah aku bicara? Apakah pendapatku benar? Akankah orang lain setuju denganku? Lupakan saja, lebih baik aku tidak mengatakannya. Lebih baik aku dengarkan saja pandangan orang lain." Aku sering terpengaruh oleh pemikiran ini, seolah-olah mulutku dibungkam dan tenggorokanku tercekat, yang membuatku tidak dapat mengungkapkan pandangan dan pendirianku dalam banyak situasi. Pengawas memintaku menjadi pemimpin tim, dan aku tahu setelah menerima tugas ini, aku harus memenuhi tanggung jawabku. Namun, setiap kali aku harus menindaklanjuti pekerjaan, kata-kataku seolah tercekat di tenggorokan, dan aku takut tidak akan bisa menerangkan dengan jelas dan yang lain tidak akan mengerti. Itu akan sangat memalukan! Jadi, aku selalu ingin seseorang dengan kemampuan komunikasi yang lebih baik untuk menjawab pertanyaan dari saudara-saudari, dan aku hanya mendengarkan dan mengiyakan. Akibatnya, aku tidak dapat memenuhi tanggung jawab yang seharusnya kupenuhi, dan aku menjadi makin pasif dalam tugasku. Perasaan rendah diri yang negatif ini benar-benar berdampak besar padaku, membuatku makin penakut dan pasif, bahkan sampai tidak dapat berkomunikasi secara normal dengan orang lain. Aku kehilangan rasa tanggung jawab dan motivasiku, aku makin sering menilai diriku secara negatif serta menetapkan diriku sendiri, dan keinginanku untuk mundur terus tumbuh makin kuat. Aku melihat betapa sakitnya terikat dan terkekang oleh perasaan rendah diri ini.
Setelah itu, aku mencari solusi untuk masalah ini. Aku membaca firman Tuhan: "Di luarnya, perasaan rendah diri adalah emosi yang terwujud dalam diri orang; tetapi sebenarnya, akar penyebabnya adalah kerusakan oleh Iblis, dan lingkungan tempat orang tinggal, serta alasan objektif orang itu sendiri. Seluruh umat manusia berada di bawah kuasa si jahat, dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis, dan tak seorang pun yang mendidik anak-anak mereka berdasarkan kebenaran dan firman Tuhan; sebaliknya, mereka mendidik anak-anak mereka berdasarkan hal-hal yang berasal dari Iblis. Oleh karena itu, selain merusak watak dan esensi orang, akibat dari mengajar generasi berikutnya dan seluruh umat manusia menggunakan hal-hal dari Iblis adalah menyebabkan emosi-emosi negatif muncul dalam diri orang-orang. Jika emosi-emosi negatif yang muncul itu bersifat sementara, maka itu tidak akan memiliki pengaruh besar pada kehidupan seseorang. Namun, jika sebuah emosi negatif berakar begitu dalam di lubuk hati dan jiwa orang serta melekat tak terhapuskan di sana, dan mereka sama sekali tidak mampu melupakannya atau menyingkirkannya, itu pasti akan memengaruhi segala macam pilihan yang dibuat orang tersebut, cara mereka menyikapi berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal, apa yang mereka pilih ketika dihadapkan pada masalah prinsip yang besar, dan jalan yang mereka tempuh dalam hidup mereka—inilah pengaruh nyata masyarakat manusia terhadap setiap orang. Aspek lainnya adalah alasan objektif orang itu sendiri. Artinya, pendidikan dan didikan yang orang terima saat mereka tumbuh dewasa, semua pemikiran dan ide serta cara berperilaku yang mereka terima, serta berbagai perkataan manusia, semuanya berasal dari Iblis, sehingga orang tidak memiliki kemampuan untuk menangani dan mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi ini dari perspektif dan sudut pandang yang benar. Oleh karena itu, tanpa disadari, di bawah pengaruh lingkungan yang keras ini, dan ditindas serta dikendalikan olehnya, manusia dengan sendirinya mengembangkan berbagai emosi negatif, seperti emosi perasaan rendah diri, dan menggunakannya untuk berusaha melawan masalah-masalah yang tidak mampu diselesaikan, diubah, atau diatasi olehnya. Misalkan orang tuamu, guru-gurumu, orang-orang yang lebih tua darimu, dan orang-orang lain di sekitarmu semuanya memiliki penilaian yang tidak realistis tentang kualitas, kemanusiaan, dan karaktermu, dan pada akhirnya apa yang dilakukannya terhadapmu adalah menyerang, menindas, menekan, mengekang, dan mengikatmu. Akhirnya, ketika engkau tidak memiliki kemampuan apa pun untuk menentang, engkau tidak punya pilihan selain memilih kehidupan di mana engkau menelan kepahitanmu dalam diam, dan memilih untuk menerima dengan enggan serta menanggung kenyataan yang tidak adil dan tidak berkeadilan semacam ini dalam diam. Ketika engkau menerima kenyataan ini, emosi yang pada akhirnya muncul dalam dirimu bukanlah kebahagiaan, kepuasan, atau sesuatu yang positif atau membangkitkan semangat; engkau tidak hidup dengan lebih banyak motivasi dan arah yang lebih jelas, apalagi mengejar tujuan hidup manusia yang akurat dan benar, tetapi yang muncul dalam dirimu adalah emosi perasaan rendah diri yang mendalam. Ketika emosi ini muncul dalam dirimu, engkau merasa tidak berdaya. Ketika engkau menghadapi suatu masalah yang mengharuskanmu untuk mengungkapkan pandangan, engkau akan mempertimbangkan apa yang ingin kaukatakan dan pandangan yang ingin kauungkapkan di lubuk hatimu entah berapa kali, tetapi engkau tetap tidak akan berani mengatakannya dengan lantang. Ketika seseorang mengungkapkan pandangan yang sama dengan yang kaupegang, engkau hanya merasakan penegasan di dalam hatimu—sebuah penegasan bahwa engkau tidak lebih buruk daripada orang lain. Namun, ketika situasi yang sama terjadi lagi, engkau tetap berkata pada dirimu sendiri, 'Aku tidak boleh berbicara sembarangan, menonjol, atau membuat diriku menjadi bahan tertawaan. Aku tidak berguna, aku bodoh, aku tolol, aku dungu. Aku harus belajar bersembunyi; aku hanya perlu mendengarkan dan tidak berbicara.' Dari sini kita dapat melihat bahwa, dari titik ketika emosi perasaan rendah diri muncul hingga ketika itu menjadi berakar begitu dalam di lubuk hati orang, kehendak bebas mereka dan hak-hak sah yang dianugerahkan kepada mereka oleh Tuhan kemudian dirampas, bukankah begitu? (Ya.) Dengan cara inilah hal-hal ini dirampas dari mereka" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (1)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mulai merenungkan mengapa aku begitu penakut dan memiliki perasaan rendah diri seperti itu, dan aku pun teringat akan masa laluku. Waktu aku kecil, untuk menghindari sensus keluarga berencana, aku dibesarkan di rumah Nenek, dan sering kali aku harus lari dan bersembunyi bersamanya. Hal ini meninggalkan bayangan di hatiku, dan aku menjadi sangat penakut. Karena orang tuaku tidak bersamaku, seorang bibi tetanggaku mengejekku sebagai "Anak Tanpa Identitas", dan anak-anak seusiaku juga mengejekku sebagai anak tanpa ibu. Rasanya seolah aku hidup di bawah langit kelabu tanpa matahari. Aku merasa sangat kesepian dan tertekan, berpikir bahwa aku berbeda dari anak-anak lain. Mereka punya dua orang tua di sisi mereka, tetapi aku tidak. Setelah semua ini, aku tidak suka keluar rumah, aku takut bertemu orang, dan aku menjadi makin pendiam. Setelah mulai sekolah, karena aku penakut dan merasa kurang aman, aku jarang berbicara dengan teman sekelasku saat istirahat. Aku melihat mereka mengobrol, tertawa, dan bermain setelah kelas, tetapi aku hanya bisa melihat dan iri pada mereka, selalu merasa bahwa aku berbeda dari mereka. Satu pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam padaku terjadi saat pelajaran bahasa Mandarin. Karena aku menjawab pertanyaan dengan suara yang sangat pelan, guruku berkata dengan sinis, "Seharusnya aku memberimu megafon," dan begitu beliau mengatakan itu, seluruh kelas tertawa terbahak-bahak. Saat itu, aku merasa seperti bahan tertawaan seluruh kelas, dan aku ingin menyembunyikan wajahku saja. Karena nilaiku rata-rata dan guru meremehkanku, setelah diejek seperti itu, harga diriku sangat terluka. Setelah kembali ke rumah orang tuaku, aku melihat mereka sering bertengkar, dan aku merasa makin tertekan dan kesepian. Karena aku terjebak dalam keadaan emosional ini untuk waktu yang lama, aku harus memendam banyak pikiran dan perasaan sendirian di dalam hatiku. Karena aku selalu diam dan terlihat canggung saat menghadapi orang atau situasi, orang tuaku menjadi marah dan kehabisan akal menghadapiku, dan mereka berkata kepadaku, "Apa kau bodoh? Kau bahkan tidak bisa bicara dengan baik, kau sangat tidak pandai berbicara!" Seiring waktu, aku mulai menerima bahwa aku tidak berguna dan tidak pandai bicara. Penilaian-penilaian ini melekat dalam diriku seperti stiker, meninggalkan perasaan rendah diri yang berkepanjangan. Bahkan sampai saat ini, ketika aku perlu mengungkapkan pandanganku dalam tugasku, jelas-jelas aku punya pendapat dan ide, tetapi aku terlalu takut untuk bicara, selalu takut bahwa kata-kataku mungkin tidak sesuai, ditolak, membuatku tampak lebih buruk. Namun, pada kenyataannya, banyak pandangan dan saranku kemudian terbukti cocok dan layak dipertimbangkan. Setelah merenungkan hal-hal ini, aku mulai memahami alasan perasaan rendah diriku dengan lebih jelas. Karena pengaruh situasi eksternal, aku terus-menerus menilai diriku secara negatif dan menetapkan diriku sendiri, dan seiring waktu, aku kehilangan inisiatifku. Baik dalam komunikasiku dengan orang lain maupun dalam pelaksanaan tugasku, aku menjadi makin pasif dan penakut.
Aku terus mencari, dan aku pun membaca firman Tuhan: "Situasi apa pun yang menyebabkan emosi perasaan rendah dirimu muncul atau siapa pun atau peristiwa apa pun yang menyebabkannya muncul, engkau harus memiliki pemahaman yang benar tentang kualitas, kelebihan, bakat, dan karaktermu sendiri. Tidaklah benar untuk merasa rendah diri, juga tidaklah benar untuk merasa lebih unggul—keduanya adalah emosi negatif. Perasaan rendah diri dapat mengikat tindakanmu, mengikat pemikiranmu, dan memengaruhi pandangan dan sudut pandangmu. Demikian pula, perasaan unggul juga memiliki dampak negatif ini. Oleh karena itu, entah itu adalah perasaan rendah diri atau emosi negatif lainnya, engkau harus memiliki pemahaman yang benar tentang komentar-komentar dari orang-orang yang menyebabkan munculnya emosi ini. Engkau harus terlebih dahulu memahami bahwa komentar-komentar itu tidak akurat, dan entah itu adalah tentang kualitasmu, bakatmu, atau karaktermu, penilaian dan kesimpulan yang mereka buat tentang dirimu semuanya tidak akurat. Jadi, bagaimana engkau dapat secara akurat menilai dan mengenal dirimu sendiri, serta melepaskan diri dari emosi perasaan rendah diri? Engkau harus menjadikan firman Tuhan sebagai landasan untuk mengenal dirimu sendiri—berusaha mengetahui seperti apa kemanusiaanmu, seperti apa sebetulnya kualitas dan bakatmu, dan apa kelebihan yang kaumiliki. ... Dalam situasi seperti ini, engkau harus membuat penilaian yang benar dan mengukur dirimu dengan benar berdasarkan firman Tuhan. Engkau harus memastikan apa yang telah kaupelajari dan di mana letak kelebihanmu, dan melakukan apa pun yang mampu kaulakukan; mengenai hal-hal yang tidak dapat kaulakukan, kekurangan dan keterbatasanmu, engkau harus merenungkan dan mengetahuinya, dan engkau juga harus memiliki evaluasi dan pengetahuan yang akurat tentang seperti apa kualitasmu, apakah itu baik atau buruk. Jika engkau tidak dapat memahami atau tidak memiliki pengetahuan yang jelas tentang masalahmu sendiri, mintalah orang-orang di sekitarmu yang memiliki pemahaman untuk memberikan penilaian tentang dirimu. Terlepas dari apakah apa yang mereka katakan itu akurat atau tidak, setidaknya itu akan memberimu sesuatu untuk dijadikan referensi dan akan memungkinkanmu untuk memiliki penilaian atau penggolongan dasar tentang dirimu sendiri. Engkau kemudian dapat menyelesaikan masalah esensial dari emosi negatif ini—emosi perasaan rendah dirimu—dan secara berangsur keluar darinya. Emosi perasaan rendah diri mudah diatasi jika seseorang dapat mengenalinya, sadar darinya, dan mencari kebenaran" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (1)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menemukan cara untuk melepaskan perasaan rendah diriku, yaitu dengan menilai diriku secara objektif dan adil berdasarkan firman Tuhan. Aku tidak boleh terus-menerus tenggelam dalam kenangan lama ini, terkekang oleh bayang-bayang masa lalu dan penilaian keliru orang lain tentangku, bahkan sampai membiarkan hal-hal ini mengendalikan pikiran dan hidupku. Aku harus mengukur dan menilai diriku sesuai dengan firman Tuhan, serta memandang kelebihan dan kekuranganku dengan benar. Aku juga bisa mempertimbangkan penilaian orang-orang di sekitarku untuk menilai diriku secara objektif. Aku teringat bagaimana saudara-saudari yang bekerja sama denganku menilaiku. Mereka berkata bahwa kualitasku biasa-biasa saja, pemahamanku tidak menyimpang, aku punya pemikiran sendiri saat menghadapi situasi, dan aku punya rasa terbeban dan tanggung jawab dalam tugasku. Aku menyadari bahwa meskipun aku tidak terlalu cakap dan cerdik, dan kualitasku tidak terlalu tinggi, aku bukanlah seseorang yang berkualitas buruk atau tidak memiliki pemikiran. Terlebih lagi, saudara-saudariku tidak mempermasalahkanku yang tertutup dan tidak pandai bicara. Sebaliknya, saat aku gugup dan tidak bisa bicara dengan jelas, mereka membantu menjelaskan dan menambahkan apa yang ingin kukatakan. Dari situ, aku merasakan bantuan yang tulus di antara saudara-saudari, tanpa ada yang meremehkan atau menghina.
Suatu hari, aku membaca sebuah bagian firman Tuhan yang dikutip dalam sebuah artikel kesaksian pengalaman, dan hal itu sedikit mencerahkan hatiku, membebaskanku dari kekangan kepribadianku yang tertutup. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang yang hidup dalam kemanusiaan yang normal juga dibatasi oleh banyak naluri jasmani dan kebutuhan jasmani. ... Terkadang orang mungkin dikekang oleh perasaan dan kebutuhan jasmani, dan terkadang mereka mungkin dibatasi oleh naluri jasmani, atau dibatasi oleh waktu dan kepribadian—ini normal dan alami. Misalnya, ada orang-orang yang cukup introver sejak kecil; mereka tidak suka berbicara dan kesulitan dalam bergaul dengan orang lain. Bahkan sebagai orang dewasa yang sudah berusia tiga puluhan atau empat puluhan, mereka masih tidak mampu mengatasi kepribadian ini: Mereka masih tidak mahir dalam berbicara atau tidak pandai dalam bertutur kata, juga tidak pandai dalam bergaul dengan orang lain. Setelah menjadi pemimpin, sifat kepribadian ini membatasi dan menghambat pekerjaan mereka hingga taraf tertentu, dan sering menyebabkan mereka merasa sedih dan frustrasi, membuat mereka merasa sangat terkekang. Sifat introver dan tidak suka berbicara ini adalah perwujudan dari kemanusiaan yang normal. Karena semua ini adalah perwujudan dari kemanusiaan yang normal, apakah semua ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap Tuhan? Tidak, semua ini bukan pelanggaran, dan Tuhan akan memperlakukannya dengan benar. Apa pun masalah, kekurangan, atau kelemahanmu, tak satu pun dari semua ini merupakan masalah di mata Tuhan. Tuhan hanya melihat bagaimana engkau mencari kebenaran, menerapkan kebenaran, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan mengikuti jalan Tuhan di bawah kondisi bawaan dari kemanusiaan yang normal—hal-hal inilah yang Tuhan lihat" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Aku selalu tidak menyukai diriku sendiri karena tertutup dan tidak pandai bicara. Aku juga sering diremehkan dan direndahkan oleh teman sekelas dan rekan kerja, tetapi Tuhan mengatakan bahwa hal-hal ini adalah perwujudan dari kemanusiaan yang normal. Akhirnya aku menyadari bahwa menjadi orang yang tertutup dan tidak pandai bicara itu bukanlah kesalahan, dan itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Kepribadian bawaan seseorang tidak dapat diubah, dan pekerjaan Tuhan bukan dimaksudkan untuk mengubah kepribadian seseorang, untuk mengubah orang yang tertutup menjadi terbuka, atau orang yang tidak pandai bicara menjadi pembicara yang fasih. Sebaliknya, pekerjaan Tuhan fokus menyucikan dan mengubah watak rusak seseorang, dan Tuhan tidak mengutuk kekurangan dan kelemahan dalam kemanusiaan yang normal. Yang Tuhan lihat adalah apakah seseorang dapat mengejar kebenaran, dan apakah dia dapat mendengarkan dan menerapkan sesuai dengan firman-Nya. Setelah memahami hal ini, aku tidak lagi merasa terganggu oleh kepribadianku yang tertutup atau kemampuan bicaraku yang buruk, dan aku tidak lagi membenci diriku sendiri. Aku harus memperlakukan kekuranganku dengan benar. Ketika aku harus mengungkapkan pendapatku, aku tidak boleh selalu berpikir, "Aku tidak bisa melakukannya. Aku tertutup dan tidak pandai bicara." Sebaliknya, aku harus memenuhi tanggung jawabku dan bertindak sesuai dengan prinsip. Ke depannya, dalam melaksanakan tugasku, aku secara sadar menerapkan sesuai dengan firman Tuhan.
Kemudian, saat aku menindaklanjuti pekerjaan, aku melihat beberapa saudara-saudari bersikap pasif dalam tugas mereka. Aku berpikir untuk mendorong mereka, tetapi saat aku hendak mengirim pesan, aku menjadi khawatir, dan berpikir, "Bagaimana seharusnya aku mengatakannya? Akankah mereka merespons pesan ini secara aktif? Jika mereka mengajukan beberapa pertanyaan dan aku tidak bisa menjawab dengan jelas, itu akan sangat canggung!" Setelah berpikir seperti ini, aku tidak berani mengirim pesan itu. Aku sadar bahwa aku telah terbelenggu oleh perasaan rendah diriku lagi. Aku teringat akan firman Tuhan yang kubaca beberapa hari sebelumnya: "Apa pun masalah, kekurangan, atau kelemahanmu, tak satu pun dari semua ini merupakan masalah di mata Tuhan. Tuhan hanya melihat bagaimana engkau mencari kebenaran, menerapkan kebenaran, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan mengikuti jalan Tuhan di bawah kondisi bawaan dari kemanusiaan yang normal—hal-hal inilah yang Tuhan lihat" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Saat itu, aku merasa punya arah dan jalan. Entah saudara-saudariku merespons secara aktif atau tidak, aku tetap harus memenuhi tanggung jawabku. Jadi, aku mengirim pesan untuk mendorong mereka dalam pekerjaan mereka. Ketika mereka mengajukan beberapa pertanyaan, aku menjawab sejauh yang aku tahu. Menerapkan dengan cara ini membuatku merasa tenang. Aku merasakan bahwa firman Tuhan benar-benar arah dan kriteria dalam bertindak.
Kemudian, seorang saudari mengingatkanku untuk merenung: Selain dipengaruhi oleh perasaan rendah diri, watak rusak apa yang mengekangku saat aku selalu pasif dan mundur dalam tugasku? Kemudian, saudari itu mengirim sebuah bagian firman Tuhan kepadaku, baru saat itulah aku menyadari akar penyebab di balik rasa rendah diriku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Keluarga menanamkan pembelajaran dan pembiasaan dalam diri orang bukan hanya dengan menggunakan satu atau dua pepatah, melainkan dengan menggunakan sejumlah kutipan dan pepatah terkenal. Sebagai contoh, apakah orang-orang yang lebih tua di keluargamu dan orang tuamu sering menyebutkan pepatah 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang'? (Ya.) Mereka mengatakan kepadamu: 'Orang harus hidup demi reputasi mereka. Seumur hidupnya, orang seharusnya tidak mengejar apa pun selain membangun reputasi yang baik dan meninggalkan kesan yang baik di benak orang lain. Kepada siapa pun engkau berbicara, ucapkanlah kata-kata yang enak didengar pada mereka, ucapkanlah kata-kata yang menyanjung dan kebaikan saja, dan jangan menyinggung mereka. Sebaliknya, lakukanlah lebih banyak hal baik dan tindakan baik.' Pengaruh pembelajaran dan pembiasaan tertentu yang keluarga tanamkan ini memiliki dampak tertentu pada perilaku atau prinsip orang dalam berperilaku, dengan akibat yang tak terhindarkan, yaitu mereka akan sangat mementingkan ketenaran dan keuntungan. Artinya, mereka sangat mementingkan reputasi mereka sendiri, ketenaran, kesan yang mereka ciptakan di benak orang lain, dan penilaian orang lain atas segala sesuatu yang mereka lakukan serta setiap pendapat yang mereka ungkapkan. Orang sangat mementingkan ketenaran dan keuntungan, sehingga perkataan dari pepatah-pepatah terkenal dan prinsip-prinsip untuk menangani berbagai hal dalam budaya tradisional menduduki posisi yang dominan di hati mereka, bahkan menguasai mereka sepenuhnya. Tanpa disadari, mereka pun tidak menganggap penting apakah mereka melaksanakan tugas sesuai dengan kebenaran serta prinsip, dan bahkan mungkin meninggalkan pertimbangan itu sama sekali. Di dalam hati mereka, falsafah Iblis dan pepatah terkenal dari budaya tradisional seperti 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang', menjadi sangat penting. ... Segala sesuatu yang kaulakukan bukanlah demi menerapkan kebenaran, juga bukan demi memuaskan Tuhan, melainkan demi reputasimu sendiri. Dengan demikian, tanpa sengaja, telah menjadi apakah semua yang kaulakukan? Semua yang kaulakukan telah menjadi tindakan keagamaan. Esensi dirimu telah menjadi apa? Engkau telah menjadi tipe khas orang Farisi. Telah menjadi apakah jalan yang kautempuh? Itu telah menjadi jalan antikristus. Seperti itulah cara Tuhan menggolongkannya. Jadi, esensi dari semua yang kaulakukan telah berubah, itu sekarang berbeda; engkau bukan sedang menerapkan kebenaran atau mengejarnya, melainkan sedang mengejar ketenaran dan keuntungan. Pada akhirnya, di mata Tuhan, pelaksanaan tugasmu—singkatnya—tidak memenuhi standar. Mengapa? Karena engkau mengabdikan dirimu hanya untuk reputasimu sendiri, bukan untuk apa yang telah Tuhan percayakan kepadamu, atau untuk tugasmu sebagai makhluk ciptaan. ... Ini karena esensi dari semua yang kaulakukan hanyalah demi reputasimu, dan hanyalah demi menerapkan pepatah 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang'—bukan mengejar kebenaran. Namun, engkau sendiri tidak mengetahuinya. Engkau mengira bahwa tidak ada yang salah dengan pepatah ini, karena bukankah orang hidup demi reputasi mereka? Seperti kata pepatah, 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.' Pepatah ini terdengar sangat positif dan dapat dibenarkan, jadi engkau tanpa sadar menerima pengaruh pembelajaran dan pembiasaan dari pepatah ini dan menganggapnya sebagai hal yang positif. Setelah engkau menganggap pepatah ini sebagai hal yang positif, engkau tanpa sadar mengejarnya dan menerapkannya. Pada saat yang sama, engkau tanpa sadar dan dengan bingung menganggapnya sebagai kriteria kebenaran. Ketika engkau menganggapnya sebagai kriteria kebenaran, engkau tidak dapat lagi menerima apa yang Tuhan firmankan, engkau juga tidak memahaminya. Engkau dengan membabi buta menerapkan semboyan 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang', dan bertindak berdasarkannya, dan pada akhirnya yang kaudapatkan dari menerapkannya adalah reputasi yang baik. Engkau telah mendapatkan apa yang ingin kaudapatkan, tetapi dengan melakukannya, engkau telah melanggar serta meninggalkan kebenaran, dan engkau telah kehilangan kesempatan untuk diselamatkan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (12)"). Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa aku selalu sangat dipengaruhi oleh pemikiran "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang", dan aku selalu mementingkan reputasiku, sangat peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentangku. Aku seperti boneka, terikat oleh harga diri dan status. Aku berpikir, saat pengawas menugaskanku sebagai pemimpin tim, ini sebenarnya adalah kesempatan besar bagiku untuk berlatih. Saat berkomunikasi dan belajar bersama saudara-saudari, ini juga merupakan kesempatan baik bagiku untuk mengisi kekuranganku. Jika pandanganku salah, saudara-saudari dapat membantuku memperbaiki penyimpangan apa pun. Namun, aku selalu terkekang oleh harga diri. Ketika aku melihat ada banyak orang dan aku harus membagikan pandanganku, reaksi pertamaku selalu, "Aku tidak bisa melakukan ini." Aku takut menyingkapkan kekuranganku, dan takut saudara-saudari akan memiliki kesan buruk tentangku dan memandang rendah diriku. Akibatnya, aku tidak mengatakan apa yang seharusnya dikatakan atau memenuhi tanggung jawab yang seharusnya kupenuhi, yang membuatku sangat pasif dalam melaksanakan tugasku. Aku terlalu mementingkan harga diri dan statusku sendiri. Untuk melindungi reputasi dan statusku, aku kehilangan banyak kesempatan untuk menerapkan kebenaran dan memenuhi tanggung jawabku, dan aku kehilangan begitu banyak kesempatan untuk menerima pekerjaan Roh Kudus. Aku harus secara sadar menerapkan kebenaran dan tidak lagi hidup untuk harga diri atau status.
Kemudian, karena kebutuhan pekerjaan, aku harus melaksanakan tugasku di tim lain, dan pemimpin tim memintaku untuk menindaklanjuti pekerjaan saudara-saudari dan memimpin pertemuan kelompok. Aku berpikir, "Aku tidak pandai bicara. Jika aku tidak menerangkan sesuatu dengan jelas, dan saudara-saudari tidak mengerti, bukankah itu akan membuat orang-orang memandang rendah diriku?" Aku merasa sedikit gugup dan gelisah. Namun, aku menyadari bahwa Tuhan telah mengizinkan tugas ini datang kepadaku untuk memberiku beban, dan agar aku bisa lebih banyak berlatih. Oleh karena itu, aku menerima tugas ini. Awalnya, saat aku berkumpul dengan saudara-saudari, aku dan rekan kerjaku memandu pertemuan itu bersama-sama. Sebelum bersekutu, aku masih gugup, khawatir jika aku tidak bersekutu dengan baik, saudara-saudari akan memandang rendah diriku. Namun, ketika aku berpikir bahwa ini adalah tugasku, aku merasakan tanggung jawab, dan aku mampu bersekutu dengan berani. Meskipun aku masih gugup selama bersekutu, setelah beberapa pertemuan, aku mendapati bahwa setelah aku merenungkan firman Tuhan dengan saksama, aku tidak segugup itu saat bersekutu. Aku tidak terlalu peduli apakah persekutuanku baik atau buruk, dan aku merasa jauh lebih tenang. Aku bisa mengalami sedikit perubahan ini, semua itu adalah hasil dari bimbingan firman Tuhan. Syukur kepada Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudari Xiao Qing, Tiongkok Pada musim panas 2016, aku masih cukup baru dalam posisi kepemimpinan di gereja. Suatu hari Saudari Wang,...
Oleh Nathan, Korea SelatanPada tahun 2022, aku menerima sepucuk surat dari gereja kampung halamanku yang meminta evaluasi atas salah...
Pada bulan April 2023, aku kembali melaksanakan tugasku sebagai seorang aktris. Aku terutama terlibat dalam pembuatan video kesaksian...
Oleh Li Rui, TiongkokTubuhku selalu sakit-sakitan. Setelah menikah, aku menjadi sibuk mengurus keluarga dan bisnis, dan aku tidak bisa...