Aku Menemukan Jalan untuk Mengatasi Perasaan Rendah Diriku

01 April 2026

Waktu aku masih kecil, karena orang tuaku sibuk mencari nafkah dan tidak punya waktu untuk merawatku, aku dititipkan di rumah Nenek dan dibesarkan di sana. Saat itu sedang ada sensus keluarga berencana, dan karena aku tidak terdaftar di kartu keluarga Nenek, untuk menghindari denda, setiap kali ada pemeriksaan keluarga berencana di desa, Nenek menggendongku dan bersembunyi. Para tetangga mengejekku karena tidak punya status kependudukan, menyebutku "Anak Tanpa Identitas", dan berkata bahwa aku adalah anak tanpa ibu. Meskipun aku masih kecil, aku tahu mereka sedang mengejekku. Aku sangat terluka. Aku tidak mau bertemu mereka atau bermain dengan anak-anak lain. Sering kali, aku hanya mengurung diri di dalam rumah sendirian sambil menonton TV, atau bermain dengan Nenek. Masa kecilku cukup tertekan dan monoton. Kemudian, ketika aku mencapai usia sekolah, orang tuaku membawaku pulang. Karena aku orang yang tertutup, tidak suka bicara, dan tidak menyapa orang, ibuku berkata bahwa aku lamban dan tidak secerdas adik perempuanku. Aku juga merasa diriku punya banyak kekurangan, jadi aku makin tidak mau berkomunikasi dengan orang lain. Lambat laun, aku merasa sulit berkomunikasi dengan orang lain. Saat mengobrol, aku tidak tahu harus berkata apa atau bagaimana cara memulai percakapan. Terkadang ada sesuatu dalam benakku, dan ada pandangan yang ingin kuungkapkan, tetapi saat berbicara, aku hanya bergumam tidak jelas karena gugup dan takut. Terutama saat berbicara dengan orang yang tidak kukenal di tengah keramaian, aku sangat gugup sampai wajahku memerah. Jadi, setiap kali ada kerabat yang datang atau aku harus menghadiri pesta makan malam, aku selalu berusaha menghindarinya jika memungkinkan. Jika tidak bisa menolak, aku hanya akan duduk diam di pojokan, melihat orang lain mengobrol dan tertawa.

Setelah percaya kepada Tuhan pun aku masih seperti ini. Aku ingat suatu kali di sebuah pertemuan, aku melihat ada 50 atau 60 orang yang hadir. Aku langsung merasa terintimidasi. Melihat begitu banyak orang, aku tidak berani bicara. Kemampuan bicaraku kurang baik, jadi aku merasa kalau aku bicara tidak jelas atau orang lain tidak mengerti, itu akan sangat canggung dan memalukan. Jadi, setiap kali pengawas memintaku untuk bersekutu, aku memilih untuk tetap diam dan hanya mendengarkan. Terkadang, saat aku mempelajari keterampilan profesional dengan saudara-saudari, pengawas meminta kami untuk menyampaikan pemikiran kami. Aku pun gugup dan tidak berani bersekutu, takut tidak bisa berbicara dengan jelas. Beberapa kali, aku terpaksa bersekutu setelah dipanggil oleh pengawas. Saat bersekutu, aku sangat gugup sampai suaraku berubah, dan wajahku makin panas saat aku bicara. Pada akhirnya, aku tidak bisa berbicara dengan jelas dan merasa sangat malu. Aku berpikir, "Kenapa aku begitu tidak berguna? Aku hanya mengungkapkan pandanganku, kenapa ini begitu sulit dan menegangkan? Aku bahkan tidak bisa bicara dengan jelas, aku bodoh sekali!" Saat melihat saudari-saudari yang bekerja sama denganku bersekutu secara begitu alami dan lancar, aku merasa sangat iri, "Kenapa aku tidak punya kepercayaan diri dan keberanian seperti itu? Kenapa begitu sulit bagiku untuk berbicara atau mengungkapkan pikiranku?" Kemudian, pengawas mengatur agar aku menjadi pemimpin tim. Aku berpikir, "Aku ini tertutup dan tidak pandai bicara, dan saat ada terlalu banyak orang, aku tidak berani bicara. Bagaimana jika saudara-saudari punya pertanyaan dan aku tidak bisa menjawabnya dengan jelas? Bukankah itu akan canggung?" Aku hanya ingin pengawas mencari orang lain, dan aku lebih memilih menjadi anggota tim biasa saja. Namun, jika aku menolak tugas itu, aku takut pengawas akan memiliki kesan buruk tentangku, jadi aku membuang pikiran itu. Saat menindaklanjuti pekerjaan saudara-saudari setelahnya, aku masih merasa terintimidasi. Ketika mereka bertanya kepadaku, aku selalu ingin orang lain yang menjawab, karena aku takut tidak bisa menerangkan dengan jelas atau tidak bisa menyelesaikan masalah mereka. Ketika tidak bisa menghindar, aku memaksakan diri untuk mengucapkan beberapa patah kata, tetapi aku masih sangat gugup. Aku merasa sangat frustrasi melihat diriku seperti ini. Aku menyadari bahwa keadaan ini sangat memengaruhi komunikasi normalku dengan orang lain dan kemampuanku untuk melaksanakan tugas. Jika aku tidak segera mengubah keadaan ini, aku akan menjadi makin pasif dalam tugasku, dan ini pasti akan menunda pekerjaan. Maka dari itu, dengan sadar aku mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalahku.

Suatu hari, aku membaca sebuah bagian firman Tuhan yang sangat sesuai dengan keadaanku. Tuhan berfirman: "Apa pun yang terjadi pada mereka, ketika orang-orang pengecut menghadapi beberapa kesulitan, mereka akan mundur. Mengapa mereka melakukannya? Salah satu alasannya adalah hal ini disebabkan oleh emosi rendah diri mereka. Karena merasa rendah diri, mereka tidak berani tampil di depan orang lain, mereka bahkan tak mampu memenuhi kewajiban dan tanggung jawab yang seharusnya mereka penuhi, juga tak mampu memikul apa yang sebenarnya mampu mereka capai dalam lingkup kemampuan dan kualitas mereka sendiri, dan dalam lingkup pengalaman kemanusiaan mereka sendiri. Emosi rendah diri ini memengaruhi setiap aspek kemanusiaan mereka, memengaruhi integritas mereka, dan tentu saja, itu juga memengaruhi kepribadian mereka. Saat berada di sekitar orang lain, mereka jarang mengungkapkan pandangan mereka sendiri, dan engkau hampir tak pernah mendengar mereka menjelaskan sudut pandang dan pendapat mereka sendiri. Saat menghadapi suatu masalah, mereka tidak berani bicara, melainkan selalu menarik diri dan mundur. Ketika hanya ada sedikit orang, mereka merasa cukup berani untuk duduk di antara mereka, tetapi ketika ada banyak orang di sana, mereka mencari sebuah sudut dan menuju ke tempat yang penerangannya redup, tidak berani berada di antara orang lain. Setiap kali mereka merasa ingin secara positif dan aktif mengatakan sesuatu dan mengungkapkan pandangan dan pendapat mereka sendiri untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka pikirkan itu benar, mereka bahkan tak punya keberanian untuk melakukannya. Setiap kali memiliki ide semacam itu, emosi rendah diri mereka langsung muncul dan mengendalikan mereka, menahan mereka, mengatakan kepada mereka, 'Jangan katakan apa pun, engkau tidak mampu. Jangan ungkapkan pandanganmu, simpan saja idemu untuk dirimu sendiri. Jika ada sesuatu dalam hatimu yang benar-benar ingin kaukatakan, catat saja di komputer dan renungkan sendiri hal itu. Jangan biarkan orang lain mengetahuinya. Bagaimana jika kau mengatakan sesuatu yang keliru? Itu akan sangat memalukan!' Suara ini terus memberitahumu agar tidak melakukan ini dan itu, tidak mengatakan ini dan itu, menyebabkanmu menelan kembali setiap kata yang ingin kauucapkan. Ketika ada sesuatu yang ingin kaukatakan yang telah lama dan berulang kali kaupikirkan di dalam hatimu, engkau langsung mundur dan tak berani mengatakannya, atau engkau merasa malu untuk mengatakannya, yakin bahwa sudah seharusnya engkau tidak mengatakannya, dan jika engkau mengatakannya, engkau merasa seolah-olah engkau telah melanggar aturan atau hukum. Dan ketika suatu hari engkau secara aktif mengungkapkan pandanganmu sendiri, di lubuk hatimu engkau merasa sangat gelisah dan tidak tenang. Sekalipun perasaan tidak tenang yang kuat ini berangsur memudar, emosi rendah dirimu secara perlahan memadamkan ide, niat dan rencana yang kaumiliki untuk ingin berbicara, ingin mengungkapkan pandanganmu sendiri, ingin menjadi orang normal, dan ingin menjadi sama seperti orang lain. Mereka yang tidak memahamimu menganggapmu orang yang tak banyak bicara, pendiam, dengan kepribadian yang pemalu, orang yang tak suka menonjolkan diri. Ketika engkau berbicara di depan banyak orang, engkau merasa malu dan wajahmu memerah; engkau agak tertutup, dan hanya engkau sendirilah yang tahu bahwa engkau sebenarnya merasa rendah diri. ... Meskipun emosi ini tidak dapat dikatakan sebagai watak yang rusak, emosi ini telah menimbulkan dampak yang sangat negatif; perasaan ini sangat merusak kemanusiaan mereka dan menimbulkan dampak yang sangat negatif pada berbagai emosi, ucapan, dan tindakan kemanusiaan normal mereka, dengan konsekuensi yang sangat serius. Pengaruh kecilnya adalah memengaruhi kepribadian, kesukaan dan ambisi mereka; pengaruh utamanya adalah memengaruhi tujuan dan arah hidup mereka. Dari penyebab emosi rendah diri ini, dari prosesnya dan dari konsekuensi yang ditimbulkannya terhadap manusia, dari aspek apa pun engkau memandangnya, bukankah emosi ini adalah sesuatu yang harus orang lepaskan? (Ya.)" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (1)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa aku merasa sangat rendah diri. Keadaan dan perwujudan perasaan rendah diri yang Tuhan ungkapkan ada padaku. Hatiku terbelenggu oleh perasaan rendah diri, dan aku selalu merasa diriku tidak cukup baik dalam berbagai hal. Saat berinteraksi dengan orang, aku menjadi takut untuk bicara ketika ada terlalu banyak orang, atau aku bersembunyi di sudut dan tetap diam. Dalam tugasku, setiap kali aku perlu mengungkapkan pikiranku, tanpa sadar aku menjadi gugup. Aku tidak memikirkan cara bekerja sama dengan semua orang untuk melaksanakan tugasku dengan baik, tetapi aku justru merasa bahwa kemampuan bicaraku tidak memadai, pembicaraanku melenceng, dan aku lebih suka orang lain yang bersekutu. Ketika aku memiliki pendapat atau pemikiran tentang masalah tertentu, aku terus ragu-ragu, berpikir, "Haruskah aku bicara? Apakah pendapatku benar? Akankah orang lain setuju denganku? Lupakan saja, lebih baik aku tidak mengatakannya. Lebih baik aku dengarkan saja pandangan orang lain." Aku sering terpengaruh oleh pemikiran ini, seolah-olah mulutku dibungkam dan tenggorokanku tercekat, yang membuatku tidak dapat mengungkapkan pandangan dan pendirianku dalam banyak situasi. Pengawas memintaku menjadi pemimpin tim, dan aku tahu setelah menerima tugas ini, aku harus memenuhi tanggung jawabku. Namun, setiap kali aku harus menindaklanjuti pekerjaan, kata-kataku seolah tercekat di tenggorokan, dan aku takut tidak akan bisa menerangkan dengan jelas dan yang lain tidak akan mengerti. Itu akan sangat memalukan! Jadi, aku selalu ingin seseorang dengan kemampuan komunikasi yang lebih baik untuk menjawab pertanyaan dari saudara-saudari, dan aku hanya mendengarkan dan mengiyakan. Akibatnya, aku tidak dapat memenuhi tanggung jawab yang seharusnya kupenuhi, dan aku menjadi makin pasif dalam tugasku. Perasaan rendah diri yang negatif ini benar-benar berdampak besar padaku, membuatku makin penakut dan pasif, bahkan sampai tidak dapat berkomunikasi secara normal dengan orang lain. Aku kehilangan rasa tanggung jawab dan motivasiku, aku makin sering menilai diriku secara negatif serta menetapkan diriku sendiri, dan keinginanku untuk mundur terus tumbuh makin kuat. Aku melihat betapa sakitnya terikat dan terkekang oleh perasaan rendah diri ini.

Setelah itu, aku mencari solusi untuk masalah ini, Aku membaca firman Tuhan: "Di luarnya, perasaan rendah diri adalah emosi yang terwujud dalam diri orang; tetapi sebenarnya, akar penyebabnya adalah perusakan oleh Iblis, dan lingkungan tempat orang tinggal, serta alasan objektif orang itu sendiri. Semua manusia berada di bawah kuasa si jahat, dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis, dan tak seorang pun mengajar generasi berikutnya berdasarkan kebenaran, berdasarkan firman Tuhan, sebaliknya mereka mengajarnya berdasarkan hal-hal yang berasal dari Iblis. Oleh karena itu, konsekuensi mengajarkan hal-hal yang berasal dari Iblis kepada manusia dan generasi berikutnya, selain merusak watak dan esensi manusia, juga menyebabkan munculnya emosi negatif dalam diri orang-orang. Jika emosi negatif yang muncul bersifat sementara, itu tidak akan berpengaruh besar pada kehidupan seseorang. Namun, jika suatu emosi negatif telah berakar begitu dalam di lubuk hati dan jiwa seseorang dan itu menjadi hal yang melekat dan tak terhapuskan di sana, jika mereka sama sekali tak mampu melupakannya atau menyingkirkannya, maka emosi negatif itu pasti akan memengaruhi setiap keputusan orang tersebut, caranya memperlakukan segala macam orang, peristiwa, dan hal-hal, apa yang dipilihnya ketika menghadapi masalah penting dalam hal prinsip, dan jalan yang akan ditempuh dalam hidupnya—inilah dampak masyarakat manusia yang nyata terhadap setiap orang. Aspek lainnya adalah alasan objektif orang itu sendiri. Artinya, didikan dan ajaran yang orang terima saat mereka tumbuh dewasa, berbagai pemikiran dan ide-ide, serta cara berperilaku yang mereka terima, dan berbagai pepatah manusia, semuanya berasal dari Iblis, sampai pada taraf orang tidak memiliki kemampuan untuk menangani dan membereskan masalah yang mereka hadapi ini dari perspektif dan sudut pandang yang benar. Oleh karena itu, tanpa sadar, di bawah pengaruh lingkungan yang keras ini, dan di bawah tekanan dan kendalinya, manusia mau tak mau mulai memiliki berbagai emosi negatif dan menggunakan emosi negatif itu untuk berusaha menentang masalah yang tak mampu mereka selesaikan, ubah, atau singkirkan tersebut. Mari kita ambil emosi rendah diri sebagai contoh. Orang tua, guru, orang yang lebih tua, dan orang-orang di sekitarmu, semuanya memiliki penilaian yang tidak realistis terhadap kualitas, kemanusiaan, dan integritasmu, dan pada akhirnya apa yang mereka lakukan ini menyerang, menganiaya, menghambat, membelenggu, dan mengikatmu. Akhirnya, saat engkau tidak lagi memiliki kekuatan untuk menentangnya, engkau tak punya pilihan selain memilih kehidupan yang diam-diam menerima hinaan dan cemoohan ini, diam-diam menerima kenyataan yang tidak adil dan tidak benar ini, sekalipun engkau merasa itu salah. Saat engkau menerima kenyataan ini, emosi yang pada akhirnya muncul dalam dirimu bukanlah emosi yang bahagia, puas, positif atau semangat; hidupmu makin tidak memiliki motivasi dan arah, dan terlebih lagi, engkau tidak mengejar tujuan hidup manusia yang tepat dan benar, tetapi sebaliknya, emosi rendah diri yang mendalamlah yang muncul dalam dirimu. Ketika emosi ini muncul dalam dirimu, engkau merasa tak punya tempat untuk berpaling. Saat menghadapi masalah yang mengharuskanmu untuk mengungkapkan pandanganmu, engkau memikirkan apa yang ingin kaukatakan dan pandangan apa yang ingin kauungkapkan entah berapa kali di lubuk hatimu, tetapi engkau tetap tak mampu memaksa dirimu untuk mengucapkannya. Ketika seseorang mengungkapkan pandangan yang sama dengan pandanganmu, engkau membiarkan dirimu merasakan penegasan dalam hatimu, penegasan bahwa engkau tidak lebih buruk daripada orang lain. Namun, ketika situasi yang sama kembali terjadi, engkau tetap berkata pada dirimu sendiri, 'Aku tak boleh bicara sembarangan, tak boleh gegabah, atau menjadikan diriku bahan tertawaan. Aku ini tidak baik, aku bodoh, aku dungu, aku idiot. Aku harus belajar untuk bersembunyi dan hanya mendengarkan, jangan berbicara.' Dari sini kita dapat melihat bahwa, dari saat munculnya emosi rendah diri hingga itu tertanam sangat dalam di lubuk hatinya, bukankah orang itu kemudian kehilangan kehendak bebasnya, kehilangan hak sah yang dikaruniakan kepadanya oleh Tuhan? (Ya.) Dia telah kehilangan hal-hal ini" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (1)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mulai merenungkan mengapa aku begitu penakut dan memiliki perasaan rendah diri seperti itu, dan aku pun teringat akan masa laluku. Waktu aku kecil, untuk menghindari sensus keluarga berencana, aku dibesarkan di rumah Nenek, dan sering kali aku harus lari dan bersembunyi bersamanya. Hal ini meninggalkan bayangan di hatiku, dan aku menjadi sangat penakut. Karena orang tuaku tidak ada di sana, seorang bibi tetanggaku mengejekku sebagai "Anak Tanpa Identitas", dan anak-anak seusiaku juga mengejekku sebagai anak tanpa ibu. Rasanya seolah aku hidup di bawah langit kelabu tanpa matahari. Aku merasa sangat kesepian dan tertekan, berpikir bahwa aku berbeda dari anak-anak lain. Mereka punya dua orang tua di sisi mereka, tetapi aku tidak. Setelah semua ini, aku tidak suka keluar rumah, aku takut bertemu orang, dan aku menjadi makin pendiam. Setelah mulai sekolah, karena aku penakut dan merasa kurang aman, aku jarang berbicara dengan teman sekelasku saat istirahat. Aku melihat mereka mengobrol, tertawa, dan bermain setelah kelas, tetapi aku hanya bisa melihat dan iri pada mereka, selalu merasa bahwa aku berbeda dari mereka. Satu pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam padaku terjadi saat pelajaran bahasa Mandarin. Karena aku menjawab pertanyaan dengan suara yang sangat pelan, guruku berkata dengan sinis, "Seharusnya aku memberimu megafon," dan begitu beliau mengatakan itu, seluruh kelas tertawa terbahak-bahak. Saat itu, aku merasa seperti bahan tertawaan seluruh kelas, dan aku ingin menyembunyikan wajahku saja. Karena nilaiku rata-rata dan guru meremehkanku, setelah diejek seperti itu, harga diriku sangat terluka. Setelah kembali ke rumah orang tuaku, aku melihat mereka sering bertengkar, dan aku merasa makin tertekan dan kesepian. Karena aku terjebak dalam keadaan emosional ini untuk waktu yang lama, aku harus memendam banyak pikiran dan perasaan sendirian di dalam hatiku. Karena aku selalu diam dan terlihat canggung saat menghadapi orang atau situasi, orang tuaku menjadi marah dan putus asa terhadapku, dan mereka berkata kepadaku, "Apa kau bodoh? Kau bahkan tidak bisa bicara dengan baik, kau benar-benar tidak pandai mengungkapkan diri!" Seiring waktu, aku mulai menerima bahwa aku tidak berguna dan tidak pandai bicara. Penilaian-penilaian ini melekat dalam diriku seperti stiker, meninggalkan perasaan rendah diri yang abadi. Bahkan sampai saat ini, ketika aku perlu mengungkapkan pandanganku dalam tugasku, jelas-jelas aku punya pendapat dan ide, tetapi aku terlalu takut untuk bicara, selalu takut bahwa kata-kataku mungkin tidak sesuai, ditolak, membuatku tampak lebih buruk. Namun, pada kenyataannya, banyak pandangan dan saranku kemudian terbukti cocok dan layak dipertimbangkan. Setelah merenungkan hal-hal ini, aku mulai memahami alasan perasaan rendah diriku dengan lebih jelas. Karena pengaruh situasi eksternal, aku terus-menerus menilai diriku secara negatif dan menetapkan diriku sendiri, dan seiring waktu, aku kehilangan inisiatifku. Baik dalam komunikasiku dengan orang lain maupun dalam pelaksanaan tugasku, aku menjadi makin pasif dan penakut.

Aku terus mencari, dan aku pun membaca firman Tuhan: "Situasi apa pun yang menyebabkan emosi perasaan rendah dirimu muncul atau siapa pun atau peristiwa apa pun yang menyebabkannya muncul, engkau harus memiliki pemahaman yang benar tentang kualitasmu sendiri, kelebihanmu, bakatmu, dan karaktermu sendiri. Tidaklah benar untuk merasa rendah diri, juga tidaklah benar untuk merasa paling unggul—keduanya adalah emosi negatif. Perasaan rendah diri dapat mengikat tindakanmu, mengikat pemikiranmu, dan memengaruhi pandangan dan sudut pandangmu. Demikian pula, perasaan unggul juga memiliki dampak negatif ini. Oleh karena itu, entah itu adalah perasaan rendah diri atau emosi negatif lainnya, engkau harus memiliki pemahaman yang benar tentang pendapat-pendapat yang menyebabkan munculnya emosi ini. Engkau harus terlebih dahulu memahami bahwa pendapat itu tidak benar, dan entah itu adalah tentang kualitasmu, bakatmu, atau karaktermu, penilaian dan kesimpulan yang mereka buat tentang dirimu selalu keliru. Jadi, bagaimana engkau dapat secara akurat menilai dan mengenal dirimu sendiri, serta melepaskan diri dari emosi rendah diri? Engkau harus menjadikan firman Tuhan sebagai landasan untuk memperoleh pengenalan akan dirimu sendiri, untuk mengetahui seperti apa kemanusiaan, kualitas dan bakatmu, dan apa kelebihan yang kaumiliki. ... Dalam situasi seperti ini, engkau harus membuat penilaian yang benar dan mengukur dirimu dengan benar berdasarkan firman Tuhan. Engkau harus memastikan apa yang telah kaupelajari dan di mana letak kelebihanmu, dan lakukanlah apa pun yang mampu kaulakukan; sedangkan mengenai hal-hal yang tak mampu kaulakukan, kekurangan dan kelemahanmu, engkau harus merenungkannya dan mengenalinya, dan engkau harus menilai dan mengetahui secara tepat seperti apa kualitasmu, dan apakah kualitasmu itu baik atau buruk. Jika engkau tak mampu memahami atau memperoleh pengetahuan yang jelas tentang masalahmu sendiri, bertanyalah kepada orang-orang yang berpengertian di sekitarmu untuk menilai dirimu. Entah yang mereka katakan itu tepat atau tidak, setidaknya itu akan memberimu sesuatu untuk kaujadikan acuan dan akan memungkinkanmu memiliki penilaian dan penggolongan dasar mengenai dirimu sendiri. Dengan cara demikian, engkau mampu untuk menyelesaikan masalah esensial dari emosi negatif perasaan rendah diri, dan secara berangsur melepaskan dirimu darinya. Emosi perasaan rendah diri mudah untuk dibereskan jika orang mampu mengenalinya, menyadarinya, dan mencari kebenaran" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (1)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menemukan cara untuk melepaskan perasaan rendah diriku, yaitu dengan menilai diriku secara objektif dan adil berdasarkan firman Tuhan. Aku tidak boleh terus-menerus tenggelam dalam kenangan lama ini, terkekang oleh bayang-bayang masa lalu dan penilaian keliru orang lain tentangku, bahkan sampai membiarkan hal-hal ini mengendalikan pikiran dan hidupku. Aku harus mengukur dan menilai diriku sesuai dengan firman Tuhan, serta memandang kelebihan dan kekuranganku dengan benar. Aku juga bisa mempertimbangkan penilaian orang-orang di sekitarku untuk menilai diriku secara objektif. Aku teringat bagaimana saudara-saudari yang bekerja sama denganku menilaiku. Mereka berkata bahwa kualitasku biasa-biasa saja, pemahamanku tidak menyimpang, aku punya pemikiran sendiri saat menghadapi situasi, dan aku punya rasa terbeban dan tanggung jawab dalam tugasku. Aku menyadari bahwa meskipun aku tidak terlalu cakap dan cerdik, dan kualitasku tidak terlalu tinggi, aku bukanlah seseorang yang berkualitas buruk atau tidak memiliki pemikiran. Terlebih lagi, saudara-saudariku tidak membenciku karena tertutup dan tidak pandai bicara. Sebaliknya, saat aku gugup dan tidak bisa bicara dengan jelas, mereka membantu menjelaskan dan menambahkan apa yang ingin kukatakan. Dari situ, aku merasakan bantuan yang tulus di antara saudara-saudari, tanpa ada yang meremehkan atau menghina.

Suatu hari, aku membaca sebuah bagian firman Tuhan yang dikutip dalam sebuah artikel kesaksian pengalaman, dan hal itu sedikit mencerahkan hatiku, membebaskanku dari kekangan kepribadianku yang tertutup. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang yang hidup dalam kemanusiaan yang normal juga dibatasi oleh banyak naluri jasmani dan kebutuhan jasmani. ... Terkadang orang mungkin dikekang oleh perasaan dan kebutuhan jasmani, dan terkadang mereka mungkin dikekang oleh naluri jasmani, atau dibatasi oleh waktu dan kepribadian—ini normal dan alami. Misalnya, ada orang-orang yang cukup introver sejak kecil; mereka tidak suka berbicara dan kesulitan dalam bergaul dengan orang lain. Bahkan sebagai orang dewasa yang sudah berusia tiga puluhan atau empat puluhan, mereka masih tidak mampu mengatasi kepribadian berikut: Mereka masih tidak mahir dalam berbicara atau tidak pandai dalam bertutur kata, juga tidak pandai dalam bergaul dengan orang lain. Setelah menjadi pemimpin, sifat kepribadian ini membatasi dan menghambat pekerjaan mereka hingga taraf tertentu, dan sering menyebabkan mereka merasa sedih dan frustrasi, membuat mereka merasa sangat terkekang. Sifat introver dan tidak suka berbicara ini adalah perwujudan dari kemanusiaan yang normal. Karena semua ini adalah perwujudan dari kemanusiaan yang normal, apakah semua ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap Tuhan? Tidak, semua ini bukan pelanggaran, dan Tuhan akan memperlakukannya dengan benar. Apa pun masalah, cacat, atau kelemahanmu, tak satu pun dari semua ini merupakan masalah di mata Tuhan. Tuhan hanya melihat bagaimana engkau mencari kebenaran, menerapkan kebenaran, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan mengikuti jalan Tuhan di bawah kondisi bawaan dari kemanusiaan yang normal—hal-hal inilah yang Tuhan lihat" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Setelah membaca firman Tuhan, hatiku terasa lebih cerah. Aku selalu tidak menyukai diriku sendiri karena tertutup dan tidak pandai bicara. Aku juga sering diremehkan dan direndahkan oleh teman sekelas dan rekan kerja, tetapi Tuhan mengatakan bahwa hal-hal ini adalah perwujudan dari kemanusiaan yang normal. Akhirnya aku menyadari bahwa menjadi orang yang tertutup dan tidak pandai bicara itu bukanlah kesalahan, dan itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Kepribadian bawaan seseorang tidak dapat diubah, dan pekerjaan Tuhan bukan dimaksudkan untuk mengubah kepribadian seseorang, untuk mengubah orang yang tertutup menjadi terbuka, atau orang yang tidak pandai bicara menjadi pembicara yang fasih. Sebaliknya, pekerjaan Tuhan fokus menyucikan dan mengubah watak rusak seseorang, dan Tuhan tidak mengutuk kekurangan dan kelemahan dalam kemanusiaan yang normal. Yang Tuhan lihat adalah apakah seseorang dapat mengejar kebenaran, dan apakah dia dapat mendengarkan dan menerapkan sesuai dengan firman-Nya. Setelah memahami hal ini, aku tidak lagi merasa terganggu oleh kepribadianku yang tertutup atau kemampuan bicaraku yang buruk, dan aku tidak lagi membenci diriku sendiri. Aku harus memperlakukan kekuranganku dengan benar. Ketika aku harus mengungkapkan pendapatku, aku tidak boleh selalu berpikir, "Aku tidak bisa melakukannya. Aku tertutup dan tidak pandai bicara." Sebaliknya, aku harus memenuhi tanggung jawabku dan bertindak sesuai dengan prinsip. Ke depannya, dalam melaksanakan tugasku, aku secara sadar menerapkan sesuai dengan firman Tuhan.

Kemudian, saat aku menindaklanjuti pekerjaan, aku melihat beberapa saudara-saudari bersikap pasif dalam tugas mereka. Aku berpikir untuk mendorong mereka, tetapi saat aku hendak mengirim pesan, aku menjadi khawatir, dan berpikir, "Bagaimana seharusnya aku mengatakannya? Akankah mereka merespons pesan ini secara aktif? Jika mereka bertanya dan aku tidak bisa menjawab dengan jelas, itu akan sangat canggung!" Setelah berpikir seperti ini, aku tidak berani mengirim pesan itu. Aku sadar bahwa aku telah terbelenggu oleh perasaan rendah diriku lagi. Aku teringat akan firman Tuhan yang kubaca beberapa hari sebelumnya: "Apa pun masalah, cacat, atau kelemahanmu, tak satu pun dari semua ini merupakan masalah di mata Tuhan. Tuhan hanya melihat bagaimana engkau mencari kebenaran, menerapkan kebenaran, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan mengikuti jalan Tuhan di bawah kondisi bawaan dari kemanusiaan yang normal—hal-hal inilah yang Tuhan lihat" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Saat itu, aku merasa punya arah dan jalan. Entah saudara-saudariku merespons secara aktif atau tidak, aku tetap harus memenuhi tanggung jawabku. Jadi, aku mengirim pesan untuk mendorong mereka dalam pekerjaan mereka. Ketika mereka mengajukan beberapa pertanyaan, aku menjawab sejauh yang aku tahu. Menerapkan dengan cara ini membuatku merasa tenang. Aku merasakan bahwa firman Tuhan benar-benar arah dan kriteria dalam bertindak.

Kemudian, seorang saudari mengingatkanku untuk merenung: Selain dipengaruhi oleh perasaan rendah diri, watak rusak apa yang mengekangku saat aku selalu pasif dan mundur dalam tugasku? Kemudian, saudari itu mengirim sebuah bagian firman Tuhan kepadaku, baru saat itulah aku menyadari akar penyebab di balik rasa rendah diriku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Keluarga menanamkan pembelajaran dan pembiasaan dalam diri orang bukan hanya dengan menggunakan satu atau dua pepatah, melainkan dengan menggunakan sejumlah kutipan dan peribahasa terkenal. Sebagai contoh, apakah orang-orang yang lebih tua di keluargamu dan orang tuamu sering menyebutkan pepatah 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang'? (Ya.) Mereka mengatakan kepadamu: 'Orang harus hidup demi reputasi mereka. Seumur hidupnya, orang seharusnya tidak mengejar apa pun selain membangun reputasi yang baik dan meninggalkan kesan yang baik di benak orang lain. Kepada siapa pun engkau berbicara, ucapkanlah kata-kata yang enak didengar pada mereka, ucapkanlah kata-kata yang menyanjung dan kebaikan saja, dan jangan menyinggung mereka. Sebaliknya, lakukanlah lebih banyak hal baik dan tindakan baik.' Pengaruh pembelajaran dan pembiasaan tertentu yang keluarga tanamkan ini memiliki dampak tertentu pada perilaku atau prinsip orang dalam berperilaku, dengan akibat yang tak terhindarkan, yaitu mereka akan sangat mementingkan ketenaran dan keuntungan. Artinya, mereka akan sangat mementingkan reputasi dan gengsi mereka sendiri, kesan yang mereka ciptakan di benak orang lain, dan penilaian orang lain atas segala sesuatu yang mereka lakukan serta setiap pendapat yang mereka ungkapkan. Orang sangat mementingkan ketenaran dan keuntungan, sehingga perkataan dari pepatah-pepatah terkenal dan prinsip-prinsip untuk menangani berbagai hal dalam budaya tradisional menduduki posisi yang dominan di hati mereka, bahkan menguasai mereka sepenuhnya. Tanpa disadari, mereka pun tidak menganggap penting apakah mereka melaksanakan tugas sesuai dengan kebenaran serta prinsip, dan bahkan mungkin meninggalkan hal itu sama sekali. Di dalam hati mereka, falsafah Iblis dan pepatah terkenal dari budaya tradisional seperti 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang,' menjadi sangat penting. ... Segala sesuatu yang kaulakukan bukanlah demi menerapkan kebenaran, juga bukan demi memuaskan Tuhan, melainkan demi reputasimu sendiri. Dengan demikian, pada dasarnya, semua yang kaulakukan telah menjadi apa? Semua yang kaulakukan telah menjadi tindakan keagamaan. Esensi dirimu telah menjadi apa? Engkau telah menjadi tipe khas orang Farisi. Telah menjadi apakah jalan yang kautempuh? Jalanmu telah menjadi jalan antikristus. Seperti itulah cara Tuhan menggolongkannya. Jadi, esensi dari semua yang kaulakukan telah bernoda, tidak lagi sama; engkau bukan sedang menerapkan kebenaran atau mengejarnya, melainkan sedang mengejar ketenaran dan keuntungan. Pada akhirnya, di mata Tuhan, pelaksanaan tugasmu—singkatnya—tidak memenuhi standar. Mengapa? Karena engkau mengabdikan dirimu hanya untuk reputasimu sendiri, bukan untuk apa yang telah Tuhan percayakan kepadamu, atau untuk tugasmu sebagai makhluk ciptaan. ... Karena esensi dari semua yang kaulakukan hanya demi reputasimu, dan hanya demi menerapkan pepatah 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang'. Engkau tidak sedang mengejar kebenaran, tetapi engkau sendiri tidak mengetahuinya. Engkau mengira bahwa tidak ada yang salah dengan pepatah ini, karena bukankah orang sudah seharusnya hidup demi reputasi mereka? Seperti kata pepatah, 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.' Pepatah ini terdengar sangat positif dan dapat dibenarkan, jadi engkau tanpa sadar menerima pengaruh pembelajaran dan pembiasaan dari pepatah ini dan menganggapnya sebagai hal yang positif. Setelah engkau menganggap pepatah ini sebagai hal yang positif, engkau tanpa sadar mengejarnya dan menerapkannya. Pada saat yang sama, engkau tanpa sadar dan dengan bingung salah menafsirkannya sebagai kriteria kebenaran. Ketika engkau menganggapnya sebagai kriteria kebenaran, engkau tidak lagi mendengarkan apa yang Tuhan firmankan, engkau juga tidak memahaminya. Engkau dengan membabi buta menerapkan semboyan 'Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang', dan bertindak berdasarkannya, dan pada akhirnya yang kaudapatkan dari menerapkannya adalah reputasi yang baik. Engkau telah mendapatkan apa yang ingin kaudapatkan, tetapi dengan melakukannya, engkau telah melanggar serta mengabaikan kebenaran, dan engkau telah kehilangan kesempatan untuk diselamatkan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (12)"). Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa aku selalu sangat dipengaruhi oleh pemikiran "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang", dan aku selalu mementingkan reputasiku, sangat peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentangku. Aku seperti boneka, terikat oleh harga diri dan status. Aku berpikir, saat pengawas menugaskanku sebagai pemimpin tim, ini sebenarnya adalah kesempatan besar bagiku untuk berlatih. Saat berkomunikasi dan belajar bersama saudara-saudari, ini juga merupakan kesempatan baik bagiku untuk mengisi kekuranganku. Jika pandanganku salah, saudara-saudari dapat membantuku memperbaiki penyimpangan apa pun. Namun, aku selalu terkekang oleh reputasi. Ketika aku melihat ada banyak orang dan aku harus membagikan pandanganku, reaksi pertamaku selalu, "Aku tidak bisa melakukan ini." Aku takut menyingkapkan kekuranganku, dan takut saudara-saudari akan memiliki kesan buruk tentangku dan memandang rendah diriku. Akibatnya, aku tidak mengatakan apa yang seharusnya dikatakan atau memenuhi tanggung jawab yang seharusnya kupenuhi, yang membuatku sangat pasif dalam melaksanakan tugasku. Aku terlalu mementingkan reputasi dan statusku sendiri. Untuk melindungi reputasi dan statusku, aku kehilangan banyak kesempatan untuk menerapkan kebenaran dan memenuhi tanggung jawabku, dan aku kehilangan begitu banyak kesempatan untuk menerima pekerjaan Roh Kudus. Aku harus secara sadar menerapkan kebenaran dan tidak lagi hidup untuk reputasi atau status.

Kemudian, karena kebutuhan pekerjaan, aku harus melaksanakan tugasku di tim lain, dan pemimpin tim memintaku untuk menindaklanjuti pekerjaan saudara-saudari dan memimpin pertemuan kelompok. Aku berpikir, "Aku tidak pandai bicara. Jika aku tidak menerangkan segala sesuatu dengan jelas, dan saudara-saudari tidak mengerti, bukankah itu akan membuat orang-orang memandang rendah diriku?" Aku merasa sedikit gugup dan gelisah. Namun, aku menyadari bahwa Tuhan telah mengizinkan tugas ini datang kepadaku untuk memberiku beban, dan agar aku bisa lebih banyak berlatih. Oleh karena itu, aku menerima tugas ini. Awalnya, saat aku berkumpul dengan saudara-saudari, aku dan rekan kerjaku memandu pertemuan itu bersama-sama. Sebelum bersekutu, aku masih gugup, khawatir jika aku tidak bersekutu dengan baik, saudara-saudari akan memandang rendah diriku. Namun, ketika aku berpikir bahwa ini adalah tugasku, aku merasakan tanggung jawab, dan aku mampu bersekutu dengan berani. Meskipun aku masih gugup selama bersekutu, setelah beberapa pertemuan, aku mendapati bahwa setelah aku merenungkan firman Tuhan dengan saksama, aku tidak segugup itu saat bersekutu. Aku tidak terlalu peduli apakah persekutuanku baik atau buruk, dan aku merasa jauh lebih tenang. Aku bisa mengalami sedikit perubahan ini, semua itu adalah hasil dari bimbingan firman Tuhan. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp