Aku Tidak Lagi Meringkuk dalam Ketakutan

30 Agustus 2023

Oleh Mu Yu, Tiongkok

Pada 2 September, 2022, aku pergi ke rumah seorang pemimpin untuk suatu urusan, tetapi tak seorang pun berada di sana. Saudari Xiao Hong, yang tinggal di seberangnya, kebetulan melihatku. Dia memanggilku ke rumahnya dan berkata dengan gugup, "Telah terjadi sesuatu! Zhou Ling ditangkap polisi. Itu dua hari yang lalu dan sejak itu kami belum mendengar kabar apa pun. Pemimpin pergi untuk memberi tahu semua orang—dia akan segera kembali." Saat mendengar kabar ini, aku merasa gugup dan takut. Sebelumnya Zhou Ling adalah pemimpin, aku tidak tahu siksaan macam apa yang akan polisi gunakan terhadapnya. Apakah dia akan menyerah karena disiksa dan menjadi Yudas? Aku baru saja dari rumahnya. Jika polisi mengintai, mereka mungkin telah melihatku. Aku pindah ke sini karena melarikan diri. Polisi telah mengejarku tanpa henti selama bertahun-tahun. Jika mereka menangkapku, mereka pasti akan menggunakan siksaan yang jauh lebih kejam terhadapku. Aku mungkin akan dipukuli sampai mati. Aku sangat takut dan ingin sesegera mungkin keluar dari daerah itu setelah menyelesaikan semua yang perlu kulakukan. Tak lama kemudian, pemimpin tiba di rumah Xiao Hong, lalu pulang ke rumahnya setelah kami selesai berdiskusi. Selang dua atau tiga menit, Xiao Hong bergegas kembali dengan panik dan berkata, "Pemimpin itu baru saja pulang, dan tujuh atau delapan polisi datang untuk menangkapnya lalu pergi. Zhou Ling juga ada di mobil mereka. Dia pasti telah memberi tahu tempat tinggal pemimpin. Apa pun yang kau lakukan, jangan keluar." Aku terkejut setengah mati. Xiao Hong dan pemimpin tinggal berseberangan. Polisi mungkin berada tidak jauh dari rumah mereka. Jika mereka menangkapku, aku yakin aku tidak akan selamat tanpa cedera. Aku bersembunyi di rumah dan tidak berani melihat ke luar jendela, dan tanpa henti berseru kepada Tuhan di dalam hatiku, berharap polisi akan segera pergi. Mobil polisi pergi sekitar sejam kemudian dan hatiku akhirnya tenang. Namun, Zhou Ling berada di rumahku beberapa hari sebelumnya—apakah dia juga telah mengkhianatiku? Rumahku sudah tidak aman lagi. Ke mana aku harus pergi? Aku ingat ada sebuah buku catatan di rumahku dengan nomor telepon saudara-saudari tertulis di dalamnya yang harus kuhapus sesegera mungkin. Ada tiga rumah singgah lain yang terletak dekat dengan rumahku. Jika mereka tidak langsung diberi tahu, begitu buku catatan itu ditemukan polisi, akan ada lebih banyak saudara-saudari yang terkena imbasnya. Namun, jika aku kembali ke sana saat ini, aku akan jatuh ke dalam perangkap yang mereka rencanakan. Selama bertahun-tahun aku melaksanakan tugasku di luar kota, dan aku adalah sasaran utama penangkapan polisi. Aku pasti akan disiksa dengan sangat kejam jika tertangkap. Kupikir, "Tidak, lebih baik aku melarikan diri dan mencari tempat aman sekarang juga!" Namun saat berpikir seperti ini, aku tidak merasa damai di dalam hatiku, jadi aku berseru kepada Tuhan tanpa henti. Lalu aku teringat satu bagian firman Tuhan: "Janganlah engkau takut akan ini dan itu; sebanyak apa pun kesulitan dan bahaya yang mungkin kauhadapi, engkau harus mampu tetap teguh di hadapan-Ku, tidak terhalang oleh hambatan apa pun, agar kehendak-Ku akan dapat terlaksana tanpa rintangan. Ini adalah tugasmu; kalau tidak, Aku akan menimpakan kemarahan-Ku kepadamu dan dengan tangan-Ku, Aku akan .... Dengan demikian engkau akan menanggung penderitaan tanpa akhir di dalam hatimu. Engkau harus menanggung semuanya; bagi-Ku, engkau harus bersedia meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti-Ku dengan segenap kekuatanmu, dan bersedia membayar harga berapa pun. Sekaranglah saatnya Aku mengujimu: Akankah engkau memberikan kesetiaanmu kepada-Ku? Dapatkah engkau mengikuti-Ku sampai akhir perjalanan dengan setia? Janganlah takut; dengan-Ku sebagai topanganmu, siapa yang mampu menghalangi jalanmu? Ingatlah ini! Ingatlah! Segala sesuatu mengandung maksud baik-Ku dan berada dalam pemeriksaan-Ku. Apakah setiap perkataan dan perbuatanmu mengikuti firman-Ku? Ketika ujian api datang atasmu, akankah engkau berlutut dan berseru? Ataukah engkau akan meringkuk ketakutan, tidak mampu maju?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 10"). Melalui firman Tuhan, aku sadar bahwa tingkat pertumbuhanku masih sangat kecil dan aku tidak memiliki iman yang sejati. Ketika melihat orang-orang di sekitarku ditangkap satu per satu, aku takut dan ingin mencari tempat aman untuk bersembunyi. Aku mengabaikan kepentingan gereja demi melindungi keselamatanku sendiri—betapa egoisnya aku ini! Dengan ditangkapnya pemimpin, banyak saudara-saudari yang harus diberi tahu, dan banyak salinan firman Tuhan yang harus dipindahkan. Jika itu tidak dilakukan dengan benar sesegera mungkin, itu akan menyebabkan lebih banyak saudara-saudari yang akan tertangkap. Sebagai diaken gereja, melindungi saudara-saudari dan buku-buku firman Tuhan adalah tugas dan tanggung jawabku. Jika aku memilih untuk menjadi pengecut dan menjalani kehidupan dalam kehinaan karena gentar dan takut, itu sangat tidak bertanggung jawab. Tuhan sedang memeriksa diriku di saat kritis ini untuk melihat apakah aku akan memikirkan maksud-Nya dan melindungi pekerjaan gereja. Aku harus bersandar kepada Tuhan dan segera mengurus dampak setelahnya. Apakah aku akan ditangkap atau tidak, itu ditentukan oleh kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Aku siap menyerahkan diriku dalam tangan Tuhan. Setelah menyadari hal ini, aku tidak lagi gugup dan takut. Sesampainya di dekat rumahku, aku melihat ada mobil polisi berhenti di pintu masuk. Jantungku mulai berdebar. Kupikir, "Rupanya si Yudas benar-benar mengkhianatiku. Aku tidak tahu apakah tiga rumah singgah lain juga telah digeledah. Aku harus segera melaporkan situasi gereja kepada para pimpinan tingkat atas sesegera mungkin, sehingga mereka dapat melakukan tindakan pencegahan dan membuat pengaturan tepat pada waktunya untuk menghindarkan pekerjaan gereja dari kerugian yang jauh lebih besar."

Aku tahu Saudari Su Hua bisa menghubungi para pimpinan tingkat atas, jadi aku pergi mencarinya. Setibanya di sana, suaminya, yang bukan orang percaya, berkata dengan gugup, "Beberapa polisi baru saja datang. Su Hua sedang tidak di rumah, jadi mereka tidak menangkapnya. Mereka baru saja pergi ke rumahmu untuk melakukan lebih banyak penangkapan." Aku bergegas pergi, tidak berani berlama-lama. Dalam perjalanan pulang, aku berpikir betapa jahatnya si naga merah yang sangat besar. Dia berusaha sekeras itu hanya untuk menangkap orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Saudara-saudari ditangkap satu per satu, dan setiap saat aku berada dalam bahaya penangkapan. Jika aku tidak sanggup menerima siksaan dan menjadi Yudas, bukankah jalan imanku akan berakhir? Makin memikirkannya, makin aku menjadi lemah dan takut, dan merasa menjadi orang percaya di Tiongkok terlalu sulit, terlalu berbahaya. Jadi, aku berulang kali berseru kepada Tuhan di dalam hatiku, "Tuhan! Apa yang harus kulakukan?" Lalu aku teringat bagian firman Tuhan ini: "Iman itu seperti jembatan titian: Mereka yang sayang akan nyawa dan takut mati akan sulit menyeberanginya, tetapi mereka yang siap menyerahkan nyawanya dapat menyeberang dengan mantap, tanpa rasa khawatir. Jika orang menyimpan pikiran yang takut dan gentar, itu karena mereka telah diperdaya Iblis; Iblis takut kita akan menyeberangi jembatan iman untuk masuk ke dalam Tuhan. Iblis berusaha dengan segala cara untuk mengirimkan pikiran-pikirannya kepada kita. Kita harus senantiasa berdoa agar Tuhan menerangi dan mencerahkan kita, senantiasa mengandalkan Tuhan untuk membersihkan racun Iblis dari dalam diri kita, berlatih mendekatkan diri kepada Tuhan dalam roh kita setiap saat, membiarkan Tuhan berkuasa atas seluruh keberadaan kita dan memenuhi seluruh keberadaan kita" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 6"). Firman Tuhan memberiku iman dan kekuatan. Aku sadar aku sedang hidup dalam ketakutan dan kegentaran, takut ditangkap dan dihajar sampai mati. Aku jatuh ke dalam tipu muslihat Iblis. Iblis menggunakan kelemahanku untuk mengekangku, membuatku kehilangan imanku kepada Tuhan sehingga tidak berani melaksanakan tugasku, lalu perlahan-lahan menjauh dari Tuhan dan mengkhianati-Nya. Aku harus tahu yang sebenarnya tentang tipu muslihat Iblis. Makin aku menghadapi situasi seperti ini, makin aku harus mendekat kepada Tuhan, mengandalkan Tuhan, hidup berdasarkan firman-Nya. Sekalipun ditangkap, aku akan tunduk, tidak pernah mengeluh. Aku akan tetap teguh dalam kesaksianku dan memuaskan Tuhan.

Aku tidak dapat menghubungi para pemimpin tingkat atas dan memutuskan untuk terlebih dahulu mengurus dampak setelahnya. Hal pertama yang harus kulakukan adalah memikirkan cara untuk mengambil buku catatan berisi nomor telepon yang masih tertinggal di rumah; karena kalau tidak, jika polisi menemukannya, beberapa saudara-saudari akan tertangkap. Namun, polisi bisa saja mengintai rumahku—bukankah aku bisa jatuh ke dalam perangkap yang mereka rencanakan? Saat hatiku bimbang, aku teringat firman Tuhan: "Setiap orang di antaramu yakin bahwa engkau semua sangat sesuai dengan-Ku, tetapi jika memang demikian adanya, lalu kepada siapakah bukti yang tak terbantahkan itu ditujukan? Engkau semua yakin dirimu memiliki ketulusan dan kesetiaan paling besar kepada-Ku. Engkau semua menganggap dirimu begitu baik hati, penuh belas kasihan, dan telah sangat pengabdian kepada-Ku. Engkau semua berpikir bahwa engkau telah berbuat cukup banyak untuk-Ku. Namun pernahkah engkau semua membandingkan keyakinan ini dengan perilakumu sendiri? ... Engkau semua mengucilkan-Ku demi anak-anakmu, atau suamimu, atau melindungi dirimu sendiri. Yang kaupedulikan bukan Aku—melainkan keluargamu, anak-anakmu, statusmu, masa depanmu, dan kesenanganmu sendiri. Kapan engkau pernah memikirkan-Ku ketika engkau berbicara atau bertindak? Pada hari-hari yang dingin, pikiran engkau semua tertuju kepada anak-anak, suami, istri, atau orang tuamu. Pada hari-hari yang panas, Aku juga tidak mendapat tempat dalam pikiranmu. Ketika engkau melaksanakan tugasmu, engkau memikirkan kepentinganmu sendiri, keselamatanmu sendiri, anggota keluargamu. Apa yang pernah kaulakukan untuk-Ku? Kapan engkau pernah memikirkan-Ku? Kapan engkau pernah berusaha semaksimal mungkin demi diri-Ku dan pekerjaan-Ku? Mana bukti kesesuaianmu dengan-Ku? Mana kenyataan kesetiaanmu kepada-Ku? Mana kenyataan ketundukanmu kepada-Ku? Kapan niatmu pernah bukan demi mendapatkan berkat-Ku? Engkau semua berusaha mengelabui Aku. Engkau semua sedang menipu-Ku. Engkau semua mempermainkan kebenaran, menutupi keberadaan kebenaran, dan mengkhianati esensi kebenaran. Mengingat engkau semua menentang-Ku dengan cara ini, apa yang menantikanmu di masa depan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Engkau Harus Mencari Jalan yang Sesuai dengan Kristus"). Setiap pertanyaan terasa seperti tuduhan dari Tuhan di dalam hatiku. Dahulu, aku merasa mampu meninggalkan keluarga dan pekerjaanku demi tugasku, sehingga aku setia kepada Tuhan. Namun, ketika aku benar-benar menghadapi penangkapan si naga merah yang sangat besar, aku sadar betapa kecilnya tingkat pertumbuhanku. Sebelumnya, aku hanya meneriakkan slogan dan doktrin kosong. Krisis nyata mengungkapkan tingkat pertumbuhanku yang sebenarnya. Aku hanya memikirkan cara melindungi kepentinganku sendiri. Aku sama sekali tidak melindungi pekerjaan gereja. Aku bukanlah orang yang memedulikan maksud Tuhan. Orang yang benar-benar memikirkan maksud Tuhan mampu menyerahkan segalanya, bahkan nyawa mereka sendiri, untuk memuaskan Tuhan, ketika ada sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan gereja. Aku teringat bagaimana saudara-saudari mempertaruhkan nyawa mereka untuk mengantarkan buku-buku firman Tuhan, dan sangat banyak dari mereka yang ditangkap oleh si naga merah yang sangat besar selama proses pengangkutan buku-buku tersebut. Beberapa dari mereka bahkan dihajar sampai mati. Mereka mengesampingkan kekhawatiran akan hidup dan mati mereka hanya demi melaksanakan tugas dan memuaskan Tuhan agar saudara-saudari bisa membaca firman Tuhan. Sedangkan aku, aku sama sekali tidak memikirkan kepentingan gereja. Aku hanya memikirkan keselamatanku sendiri ketika menghadapi bahaya, takut ditangkap dan disiksa sampai mati. Biasanya, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan sesuatu yang menguntungkanku, tetapi kini aku tidak bisa berkorban sedikit pun demi kepentingan gereja. Dibandingkan dengan saudara-saudari itu, aku sangat egois. Aku sama sekali tidak memikirkan maksud Tuhan. Kini setelah seorang pemimpin gereja telah ditangkap, sebagai pekerja gereja yang bersembunyi dan bukannya bangkit untuk melindungi pekerjaan gereja, aku aman tetapi aku kehilangan tugas dan kesaksianku. Lalu apa gunanya aku hidup? Bukankah aku hanyalah mayat hidup? Ketika memikirkan hal ini, aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, apakah hari ini aku akan tertangkap atau tidak, itu sepenuhnya berada di tangan-Mu. Kumohon berilah aku iman dan hikmat agar bisa bersandar kepada-Mu dan melaksanakan tugasku."

Sekitar jam 2 pagi, aku tiba di rumah saudari yang tinggal tidak jauh dariku. Ternyata polisi telah mengunjungi beberapa rumah singgah lain yang dekat dengan rumahku. Sebagian saudara-saudari melarikan diri dan lolos dari penangkapan. Mereka memberitahuku bahwa polisi pasti akan kembali, dan menyuruhku segera pergi. Aku tidak berani berlama-lama di sana. Kulihat tidak ada orang yang menunggu di pintu masuk rumah, jadi aku bergegas pulang dan mengambil buku catatan dengan nomor telepon tersebut. Ini membuatku bisa menarik napas lega. Lalu aku pergi ke tempat Saudara Yang Guang. Begitu melihatku, dia berkata dengan penuh ketakutan, "Kemarin aku dan istriku ditangkap. Mereka melepaskan kami tadi malam. Beberapa saudara-saudari lain yang tinggal di sekitar sini juga telah ditangkap." Karena itu, aku bergegas pergi dari sana. Dalam perjalanan pulang aku berpikir bahwa lingkungan telah menjadi makin buruk, dan penangkapan terhadap saudara-saudari terjadi di mana-mana. Aku juga telah dikhianati oleh Yudas itu. Polisi pasti mengetahui ciri-ciriku, dan dengan begitu banyak pengawasan, aku bisa ditangkap kapan saja. Bagaimana jika aku tak bisa menahan siksaan mereka? Pikiran ini membuatku takut. Kupikir aku akan sedikit lebih aman jika bersembunyi, tetapi penanganan dampak setelah peristiwa itu masih belum dituntaskan. Jika bersembunyi sekarang, bukankah itu membuatku menjadi pembelot? Aku telah menjadi orang percaya selama bertahun-tahun ini dan menikmati begitu banyak penyiraman dari firman Tuhan. Jika aku melarikan diri pada saat kritis, bahkan tidak melaksanakan tugas atau tanggung jawabku, berarti aku sama sekali tidak memiliki hati nurani atau kemanusiaan. Akankah aku masih terhitung orang percaya? Aku sama saja seperti Yudas yang mengkhianati Tuhan. Setelah memikirkan hal ini, aku diam-diam memutuskan bahwa lebih baik aku ditangkap dan mati di tangan si naga merah yang sangat besar daripada melarikan diri dan menjalani kehidupan dalam kehinaan. Aku harus tetap teguh dalam kesaksianku, memuaskan Tuhan, dan melaksanakan tugasku sebaik mungkin. Malam itu, aku membaca firman Tuhan ini: "Dalam rencana-Ku, Iblis, selama ini, telah menguntit setiap langkah dan, sebagai kontras dari hikmat-Ku, telah selalu berusaha mencari cara dan sarana untuk mengganggu rencana-Ku yang semula. Namun, mungkinkah Aku menyerah pada rencananya yang licik? Adakah sesuatu di surga maupun di bumi yang tidak bertindak sebagai objek pelayanan-Ku? Mungkinkah rencana licik Iblis adalah pengecualian? Inilah justru titik temu hikmat-Ku; inilah justru yang menakjubkan tentang perbuatan-Ku, dan inilah prinsip kerja seluruh rencana pengelolaan-Ku. Selama era pembangunan kerajaan, Aku tetap tidak menghindari rencana licik Iblis, tetapi terus melakukan pekerjaan yang harus Kulakukan. Di antara alam semesta dan segala sesuatu, Aku telah memilih perbuatan Iblis sebagai kontras-Ku. Bukankah ini adalah perwujudan dari hikmat-Ku? Bukankah justru ini yang menakjubkan tentang pekerjaan-Ku?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta, Bab 8"). Aku bisa melihat kemahakuasaan dan hikmat Tuhan di dalam firman-Nya. Si naga merah yang sangat besar adalah musuh Tuhan. Dia dengan gila-gilaan menangkap dan menganiaya umat Kristen dan mengganggu pekerjaan Tuhan, dengan sia-sia berharap untuk menghancurkan pekerjaan yang Tuhan lakukan untuk menyelamatkan manusia. Namun, penangkapan dan penganiayaan si naga merah yang sangat besar memungkinkan kita untuk memiliki kemampuan mengenali esensi jahatnya yang menyakiti manusia dan menentang Tuhan, untuk kemudian membencinya dari lubuk hati kita dan memutuskan hubungan dengannya. Penangkapan dan penganiayaannya juga menyingkapkan siapa yang adalah orang percaya sejati, siapa yang palsu, serta membedakan siapa domba dan siapa kambing, dan siapa gandum dan siapa lalang. Pada masa-masa kesengsaraan, ada orang-orang yang tidak melaksanakan tugas mereka karena gentar dan takut, atau meninggalkan iman mereka, dan ada yang mengkhianati Tuhan dan menjadi Yudas saat mereka ditangkap dan tidak sanggup menanggung siksaan. Mereka adalah orang-orang yang tersingkap sebagai lalang, yang tertiup angin. Bukankah ini memperlihatkan hikmat dan kebenaran Tuhan? Ini mengingatkanku pada ucapan Tuhan Yesus, "Karena barangsiapa ingin menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangannya, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan mendapatkannya" (Matius 16:25). Aku teringat orang-orang kudus dari segala zaman yang menjadi martir karena menyebarluaskan Injil Tuhan. Sebagian dari mereka disalib terbalik; sebagian diseret dan tubuhnya dipotong-potong. Meskipun mereka mati, kematian mereka bermakna. Sedangkan mereka yang mengkhianati Tuhan dan menjadi Yudas, di luarnya mereka terlihat masih hidup, tetapi hati mereka menderita. Mereka seperti mayat hidup, berada dalam kesengsaraan yang luar biasa. Setelah mereka mati, jiwa mereka akan masuk neraka dan dihukum. Sebelumnya aku tidak memahami hal ini dengan jelas, bahkan ingin melalaikan tugasku dan bersembunyi. Jika aku menyebabkan pekerjaan gereja dirugikan karena melalaikan tugasku, itu akan menjadi suatu pelanggaran—noda yang kekal. Jika aku mampu mengorbankan nyawaku dan setia dalam tugasku, sekalipun ditangkap dan dihajar sampai mati, aku mampu bersaksi bagi Tuhan dan mempermalukan Iblis. Kematianku akan bernilai dan bermakna.

Lalu, aku membaca lebih banyak firman Tuhan: "Betapa pun 'sangat berkuasanya' Iblis, betapa pun lancang dan ambisiusnya dia, betapa pun besarnya kemampuannya untuk menimbulkan kerusakan, betapa pun luasnya kemampuannya untuk merusak dan memikat manusia, betapa pun cerdiknya tipu muslihat dan rencana jahat yang digunakannya untuk mengintimidasi manusia, atau betapa pun beragamnya wujud keberadaannya, dia tidak pernah mampu menciptakan satu pun makhluk hidup, menetapkan hukum atau aturan bagi keberadaan segala sesuatu, ataupun memerintah atau berdaulat atas objek apa pun, baik yang hidup maupun yang mati. Di dalam alam semesta dan cakrawala, tidak ada satu orang atau benda pun yang dijadikan olehnya atau yang ada karenanya; tidak ada satu orang atau benda pun yang berada di bawah kedaulatannya atau diperintah olehnya. Sebaliknya, dia tidak hanya harus ada di bawah kekuasaan Tuhan, tetapi juga harus taat pada semua perintah dan titah Tuhan. Tanpa seizin Tuhan, Iblis tidak dapat dengan mudahnya menyentuh bahkan setetes air pun atau sebutir pasir di tanah pun; tanpa seizin Tuhan, Iblis bahkan tidak bisa sembarangan mengganggu semut di atas tanah, apalagi umat manusia, yang diciptakan oleh Tuhan. Di mata Tuhan, Iblis lebih rendah daripada bunga bakung di gunung, daripada burung-burung yang terbang di udara, daripada ikan di laut, dan daripada belatung di tanah. Perannya di antara segala sesuatu adalah melayani segala sesuatu, melayani umat manusia, dan melayani pekerjaan Tuhan serta rencana pengelolaan-Nya. Betapa pun berniat jahat naturnya, dan betapa pun jahatnya esensinya, satu-satunya hal yang dapat dilakukannya adalah dengan patuh menjalankan fungsinya: melakukan pelayanan bagi Tuhan—melayani dengan baik sebagai kontras. Seperti itulah hakikat dan posisi semula Iblis. Esensinya tidak ada hubungannya dengan kehidupan, kuasa, atau otoritas; dia hanyalah mainan di tangan Tuhan, hanya mesin yang Tuhan gunakan untuk melayani!" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik I"). Aku bisa melihat kuasa dan otoritas Tuhan melalui firman-Nya. Segala sesuatu, baik hidup maupun mati, sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Iblis memberikan pelayanannya bagi pekerjaan Tuhan—dia berfungsi sebagai kontras. Selicik apa pun si naga merah yang sangat besar itu, dan sebanyak apa pun dia memanfaatkan kekuatan banyak orang dan hal-hal, tanpa seizin Tuhan, dia tidak akan dapat menyentuh sehelai rambut pun di kepala kita. Aku teringat pengalaman Ayub: Iblis menyerang dan menyakitinya, berusaha membuatnya menyangkal dan menolak Tuhan. Tuhan membiarkan Iblis memperlakukan Ayub dengan buruk, tetapi tidak membiarkannya membahayakan nyawanya, dan Iblis tidak berani melawan perintah Tuhan. Ketika aku menangani dampak setelahnya, aku bisa keluar dari setiap situasi berbahaya tanpa cedera. Itu sepenuhnya karena pemeliharaan dan perlindungan Tuhan. Semua pengalaman ini telah menunjukkan kepadaku kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan. Jika Tuhan tidak mengizinkan si naga merah yang sangat besar menangkapku, dia tidak akan bisa menangkapku. Jika Dia mengizinkanku ditangkap, aku tidak akan bisa menghindarinya sekalipun aku ingin. Setelah memahami hal ini, imanku makin kuat. Aku merasa siap menyerahkan hidupku di tangan Tuhan dan tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya.

Beberapa hari kemudian, datanglah surat dari para pemimpin yang mengatakan bahwa dalam penangkapan yang polisi lakukan di wilayah kami, dua rumah yang digunakan untuk mengamankan buku-buku telah digerebek. Hanya tersisa satu rumah, dan buku-buku di sana harus segera dipindahkan. Karena semua orang yang mengetahui orang-orang yang menyimpan buku-buku itu, telah ditangkap kecuali aku, dan aku cukup mengenal daerah dan anggota gereja itu, mereka ingin aku membantu memindahkan buku-buku itu. Aku tahu betul bahwa dalam keadaan itu, aku adalah pilihan terbaik untuk melakukannya, dan itu tanggung jawab yang tidak boleh kuabaikan. Namun, lingkungannya sedang sangat buruk sekarang dan si naga merah yang sangat besar masih mengejar orang-orang. Jika aku pergi pada saat seperti ini, bukankah akan membahayakan diriku sendiri? Aku merasa sedikit takut. Namun, kupikir situasi ini berada di tangan Tuhan, dan jika Tuhan tak mengizinkannya, si naga merah yang sangat besar tak bisa berbuat apa-apa terhadapku. Jadi kuputuskan untuk mengambil risiko untuk pergi dan memindahkan buku-buku tersebut. Aku berdoa, "Ya Tuhan! Tugas ini telah datang kepadaku, dan aku siap memenuhi tanggung jawabku. Apa pun yang terjadi selanjutnya, aku bersedia untuk tunduk pada pengaturan dan penataan-Mu. Meskipun aku ditangkap, meskipun aku disiksa, aku tidak akan pernah lagi menjadi pembelot. Aku akan mempersembahkan kesetiaanku, dan tetap teguh dalam kesaksianku untuk mempermalukan Iblis!" Jadi, aku bertanya-tanya, dan menemukan rumah yang menyimpan buku-buku itu. Saudara di sana berkata bahwa tujuh atau delapan petugas telah datang ke rumahnya dan melakukan penangkapan. Mereka menahan istrinya tanpa mengatakan apa pun, dan mendenda mereka 2.000 yuan, tetapi mereka tidak menemukan buku-buku yang disimpan di sana—jadi buku-buku itu harus dipindahkan sesegera mungkin. Kami bergegas memasukkan buku-buku itu ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, hatiku tidak sesaat pun berani menjauh dari Tuhan. Akhirnya kami berhasil membawa buku-buku itu ke tempat aman tanpa hambatan. Aku berulang kali bersyukur kepada Tuhan!

Saat memikirkan kembali seluruh pengalaman ini, aku melihat hikmat dan kemahakuasaan Tuhan, serta betapa dangkalnya imanku. Tanpa penangkapan si naga merah yang sangat besar, aku tidak akan melihat tingkat pertumbuhanku sendiri dengan jelas, dan aku terutama tidak akan mengakui betapa egois, tercela, dan betapa takutnya aku akan kematian, dan aku tidak akan memahami kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan. Aku juga telah mengalami bahwa Tuhan benar-benar berada di sisi kita, dan selama kita bersandar kepada Tuhan, Dia akan membimbing kita dan membukakan jalan bagi kita. Pemahaman ini adalah sesuatu yang tidak dapat kuperoleh di tengah lingkungan yang damai.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Di Tengah Bahaya

Oleh Saudari Li Xin, TiongkokPada Desember 2011, saudara-saudari dari beberapa gereja ditangkap satu per satu. Gereja kami mengatur agar...

Hubungi kami via WhatsApp