Kisah Joy

27 Juli 2022

Oleh Saudari Joy, Filipina

Sang tokoh utama dalam kisah hari ini bernama Joy. Dia seorang saudari dari Filipina. Dahulu, dia selalu memperlakukan orang berdasarkan emosi. Selama orang bersikap baik kepadanya, dia pasti bersikap baik kepada siapa pun. Perlakuannya terhadap orang sama, dan tak punya prinsip. Sampai dia mengalami sesuatu yang membuatnya mengerti bahwa prinsip yang digunakannya untuk bergaul dengan orang dan memandang orang lain keduanya keliru. Suatu pengalaman istimewa, beberapa hal tertentu membuatnya memahami, kita harus memandang orang dan segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan untuk memperlakukan orang lain dengan prinsip. Joy memiliki teman kuliah bernama Emma, dan mereka bersahabat. Setiap kali mengalami kesulitan, Joy selalu mencari bantuan Emma, dan Joy menghargai persahabatan mereka.

Pada Februari 2021, Emma mengundang Joy ke pertemuan Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Dengan membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa dan mendengarkan persekutuan dalam pertemuan, Joy meyakini bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan dengan senang hati menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Beberapa bulan kemudian, Joy terpilih sebagai diaken penyiraman gereja.

Namun suatu hari, Joy tiba-tiba melihat dalam kelompok pertemuan, Emma menyebarkan kekeliruan yang mempertanyakan Tuhan dan menyerang gereja, serta berprasangka terhadap para pemimpin dan diaken. Ada ketidakpuasan dan sarkasme dalam perkataannya. Dia juga berkata bahwa hal-hal ini bukanlah pemikirannya sendiri, melainkan gagasan orang lain, dan dia berharap para pemimpin dapat mengadakan pertemuan untuk menjawab semua pertanyaan ini. Joy terkejut setelah melihat omong kosong dan kekeliruan Emma. Dia juga sekaligus khawatir, karena semua orang dalam kelompok pertemuan adalah saudara-saudari yang baru saja menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Mengirimkan pesan-pesan itu ke kelompok pasti akan menyebabkan gangguan, dan bahkan dapat menyandung beberapa orang dengan dasar yang dangkal dan tak memiliki kearifan. Joy tidak tahu alasan Emma melakukan ini. Jika Emma benar-benar menginginkan jawaban atas pertanyaannya, dia bisa saja langsung mengirimkan semua pertanyaan ini kepada para pemimpin. Untuk apa menyebarkan hal-hal ini di antara petobat baru? Joy benar-benar bingung. Segera, sebagaimana yang dikhawatirkan Joy, pernyataan Emma menyebabkan kebingungan dan gangguan di gereja, dan itu memengaruhi beberapa saudara-saudari, menyebabkan mereka berprasangka buruk terhadap para pemimpin dan diaken dan merasa konflik batin. Salah satu pemimpin kelompok bertanya kepada Joy, "Apakah yang dikatakan Emma itu benar?" Melihat keadaan ini, Joy makin khawatir. Jadi, dia dengan segera menemui Emma untuk menanyakan apa yang sedang terjadi dan mengapa dia mengatakan hal-hal ini. "Aku telah mendengar kabar bohong yang kausebarkan, dan itu telah menyebabkan kekacauan di gereja. Beberapa orang bahkan berprasangka terhadap para pemimpin dan pekerja. Emma, mengapa kau membuat pernyataan ini? Dari mana asalnya perkataan ini?" "Bukan aku yang telah mengatakan hal-hal ini. Aku hanya ingin para pemimpin mengadakan pertemuan untuk menjawab semua pertanyaan ini." "Kalau begitu, kau seharusnya langsung mengirimkan semua pertanyaan ini kepada pemimpin dan meminta mereka bersekutu denganmu. Emma, benarkah bukan kau yang membuat pernyataan ini?" "Tentu saja bukan aku! Aku tak punya gagasan tentang pekerjaan Tuhan." "Lalu mengapa kau tidak katakan siapa yang mengajukan semua pertanyaan itu? Emma, katakan saja dari mana asalnya kabar bohong ini." Joy tidak mendapatkan jawaban apa pun saat bertanya kepada Emma tentang pernyataan itu. Apa pun yang Joy tanyakan, Emma tidak mau menjawab. Joy melaporkan masalah ini kepada seorang pemimpin, yang juga ingin tahu siapa yang mengajukan semua pertanyaan ini untuk segera menyelesaikan masalah itu sampai tuntas. Namun, Emma tak mau bicara, dan tidak memberi tahu mereka. Kemudian, setelah diselidiki, tak satu pun saudara-saudari lainnya mengajukan semua pertanyaan ini. Emma sendirilah yang memiliki gagasan tentang pekerjaan Tuhan. Dia mengumpulkan beberapa kabar bohong dari internet dan mengubahnya menjadi pertanyaan, tapi dia tidak mau mengakuinya. Setelah mengetahui kebenaran masalah ini, pemimpin dengan segera mengatur pertemuan, dan bersekutu untuk menjawab setiap kekeliruan Emma, sehingga saudara-saudari dapat memahami hal-hal yang Emma katakan. Namun, Emma sendiri tidak punya kesadaran atau pertobatan atas tindakannya sendiri.

Setelah kejadian ini, pemimpin bertanya kepada Joy, "Apa yang akan kaulakukan jika Emma bukan orang yang benar? Akankah kau mampu memperlakukannya sesuai prinsip kebenaran?" Menghadapi semua pertanyaan dari pemimpin ini, Joy tidak tahu bagaimana menjawabnya. Kemudian, pemimpin dan Joy membaca satu bagian firman Tuhan bersama-sama, dan hati Joy menjadi cerah. Dia sudah tahu bagaimana memperlakukan Emma, dan memiliki jalan penerapan. "Dengan prinsip apa firman Tuhan menuntut orang memperlakukan orang lain? Kasihilah apa yang Tuhan kasihi, dan bencilah apa yang Tuhan benci: inilah prinsip yang harus dipatuhi. Tuhan mengasihi orang yang mengejar kebenaran dan mampu mengikuti kehendak-Nya. Mereka juga adalah orang-orang yang harus kita kasihi. Orang yang tidak mampu mengikuti kehendak Tuhan, yang membenci Tuhan, dan memberontak terhadap Tuhan—orang-orang ini dibenci oleh Tuhan, dan kita juga harus membenci mereka. Inilah yang Tuhan tuntut dari manusia. ... Selama Zaman Kasih Karunia, Tuhan Yesus berkata, 'Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara laki-laki-Ku?' 'Karena siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dan saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku' (Matius 12:48, 50). Perkataan ini sudah ada sejak Zaman Kasih Karunia dan sekarang firman Tuhan bahkan lebih jelas: 'Kasihilah apa yang Tuhan kasihi, bencilah apa yang Tuhan benci.' Firman ini sangat terus terang, tetapi orang sering tidak mampu memahami makna yang sesungguhnya" ("Hanya dengan Mengenali Pandanganmu yang Salah Engkau Dapat Mengenal Dirimu Sendiri" dalam "Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"). Setelah mendengarkan firman Tuhan, Joy sedikit mengerti tentang kehendak Tuhan. Tuhan menuntut kita memperlakukan orang sesuai prinsip, sebagaimana firman Tuhan katakan, "Kasihilah apa yang Tuhan kasihi, bencilah apa yang Tuhan benci." Dalam masalah prinsip apa pun, dan siapa pun itu, kita harus memperlakukan mereka berdasarkan apa yang Tuhan katakan, "Kasihilah apa yang Tuhan kasihi, bencilah apa yang Tuhan benci." Emma dengan sengaja menyebarkan kekeliruan yang absurd, yang membuat orang memiliki gagasan dan salah paham tentang Tuhan, dan kebingungan tentang pekerjaan Tuhan. Ini mengganggu kehidupan bergereja, yang pada dasarnya jahat. Tuhan membenci pelaku kejahatan, jadi orang harus berdiri di pihak Tuhan, menolak pelaku kejahatan, dan menghentikan perbuatan jahat mereka untuk mencegah gangguan mereka yang terus-menerus terhadap orang lain yang mengikuti pertemuan dan membaca firman Tuhan. Begitu dia memahami hal ini, Joy memberi tahu pemimpin, "Meskipun sulit bagiku menerima kenyataan Emma melakukan kejahatan, bagaimanapun juga itulah yang sebenarnya. Aku tidak mau diganggu atau dikendalikan olehnya, aku akan memperlakukannya sesuai prinsip yang diberikan Tuhan. Jika gereja mengisolasi dia, aku juga akan melepaskan perasaanku padanya, dan takkan menyalahkan Tuhan." Pemimpin memberi tahu Joy, "Sekarang, untuk melindungi saudara-saudari agar tidak tertipu oleh Emma, gereja telah memutuskan untuk mengatur agar Emma mengisolasi diri." Meskipun Joy khawatir tentang keadaan Emma, dia juga sadar bahwa Emma telah bertindak sebagai hamba Iblis, mengganggu kehidupan bergereja, dan pengaturan pemimpin bertujuan untuk melindungi saudara-saudari agar tidak ditipu atau diganggu oleh kekeliruan, jadi Joy tidak mengatakan apa pun. Namun dalam beberapa hari, Emma kembali menemukan Joy ... "Joy, mereka telah mengatur agar aku mengisolasi diri! Pemimpin tidak mengeluarkanku dari kelompok pertemuan kita, tapi aku tak diperbolehkan berkumpul dengan orang lain. Aku merasa ditinggalkan." "Kau menyebarkan kekeliruan dan kabar bohong di kelompok pertemuan, dan melakukan sesuatu yang salah. Kau harus merenungkan diri sendiri. Setelah kau benar-benar bertobat, kau dapat kembali ke pertemuan." "Aku khawatir pemimpin akan mengeluarkanku dari kelompok pertemuan. Namun, meskipun dia mengeluarkanku dari kelompok, tidak masalah. Aku akan menggunakan akun lain untuk bergabung dengan Gereja Tuhan Yang Mahakuasa di wilayah lain. Lagipula aku tidak diterima di sini!" "Apakah kau akan bergabung dengan gereja memakai identitas palsu? Bukankah ini menipu saudara-saudari?" "Memangnya kenapa?" Mendengar perkataan Emma, Joy terkejut. Emma tak berniat untuk bertobat. Dia bahkan mau membuat akun palsu untuk menyusup ke gereja untuk mengganggu dan menyabotase. Bukankah dia itu hamba Iblis? Dan perkataan Emma juga memperlihatkan bahwa dia bukan orang yang jujur. Dia berencana menipu saudara-saudarinya dan rumah Tuhan. Pada saat ini, Joy teringat tanggung jawab diaken penyiraman, "Setelah menemukan suatu masalah, mereka sebaiknya segera mengatasinya dengan mencari kebenaran; masalah-masalah besar harus diselesaikan dengan persekutuan bersama para pemimpin gereja. Tidak boleh ada penyembunyian fakta-fakta yang sebenarnya" (170 Prinsip untuk Melakukan Kebenaran). Joy merasa bahwa sebagai diaken penyiraman, dia harus mematuhi prinsip kebenaran dan melindungi saudara-saudaranya dari gangguan dan penipuan. Jadi, dia memberi tahu pemimpin tentang hal ini. "Maksudmu Emma akan membuat akun palsu?" "Ini tangkapan layar obrolan kami, akan kutunjukkan kepadamu." "Emma akan dikeluarkan karena terus mengganggu gereja seperti ini! Namun, dia temanku dan telah memberitakan Injil kepadaku. Bagaimana jika ..." "Saudari, apakah menurutmu kita bisa mempertahankannya di kelompok pertemuan? Dengan begitu, dia takkan membuat akun palsu untuk mengganggu gereja lain." "Jika dia tidak melakukan kejahatan atau menyebabkan gangguan, dia boleh tinggal. Namun saat ini, dia tak memahami perbuatan jahatnya dan gangguan yang dia timbulkan. Dia masih ingin berbohong, menipu, dan menyusup ke gereja lain. Ini memperlihatkan dia belum bertobat. Jika dia benar-benar memiliki esensi pelaku kejahatan, dia takkan bertobat dan berubah, dan dia takkan berhenti melakukan kejahatan." Perkataan pemimpin mengingatkan Joy, dan baru saat itulah dia sadar telah bertindak dari emosi untuk mempertahankan Emma di gereja. Emma tak mengenal dirinya sendiri. Pada satu titik, dia dapat melakukan kejahatan dan mengganggu gereja. Jika dia kembali memohon demi Emma, tidak akan ada prinsip dalam perkataan seperti itu.

Kemudian, pemimpin menyelidiki dan mendapati bahwa Emma memiliki gagasan dan tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya, dia dengan sengaja memanfaatkan hal-hal untuk menyerang Tuhan, tak mampu membedakan benar dan salah, menyebarkan kekeliruan, dan menipu saudara-saudarinya untuk membuat mereka memiliki gagasan tentang pekerjaan Tuhan. Dia juga sering berkata di pertemuan bahwa para pemimpin kelompok tak punya kemampuan melakukan tugas mereka untuk merusak kepositifan mereka, menyebabkan mereka menjadi negatif, yang memengaruhi hasil tugas mereka. Tindakan Emma menyebabkan gangguan serius di gereja, dan dia tidak bertobat, jadi dia memang pelaku kejahatan. Pada akhirnya, gereja mengeluarkan Emma sesuai prinsip pembersihan, dan Joy tidak lagi melindungi Emma. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat Joy terperosok dalam penderitaan.

"Mengapa kau mengirim tangkapan layar obrolan kita kepada orang lain! Aku takkan pernah mau lagi bicara denganmu. Joy, aku tak pernah menyangka kau akan melakukan hal ini. Kau merusak kepercayaanku padamu. Kau telah membuat segalanya menjadi buruk!" Joy menangis tersedu-sedu. Dia merasa persahabatannya dengan Emma akan segera berakhir. Dia mulai mengingat saat-saat yang dia habiskan bersama Emma. Emma membantunya menemukan ide ketika dia mengalami kesulitan, dan mereka sering berbagi pemikiran satu sama lain ... Namun kini, Joy tak tahu bagaimana menghadapi Emma. Apa pun yang dia lakukan, dia tak mampu menenangkan hatinya. Dia bahkan tak mampu berkonsentrasi cukup lama untuk memimpin pertemuan. Dalam benaknya, dia terus menyalahkan dirinya sendiri, "Apakah aku benar-benar membuat semuanya menjadi buruk? Mungkin ada cara yang lebih baik untuk menghentikannya agar tidak membuat akun palsu dan mengganggu gereja ...." Joy mulai bertanya-tanya apakah keputusannya benar. Dia merasa sedih. Dia bahkan ingin menonaktifkan akunnya, menghindari saudara-saudarinya, dan meninggalkan segalanya, tapi dia tahu di dalam hatinya bahwa dia tak boleh melepaskan tugasnya, bahwa dia tak boleh menghindari masalah dan harus secara proaktif mencari solusi. Jadi, dia memberi tahu pemimpin tentang keadaannya. Pemimpin mengirimkan satu bagian firman Tuhan untuk Joy. "Engkau harus masuk dari sudut pandang positif; bersikaplah aktif, dan jangan pasif. Engkau harus tidak tergoyahkan oleh siapa pun atau apa pun, dalam segala situasi, dan engkau tidak boleh dipengaruhi oleh perkataan siapa pun. Engkau harus memiliki watak yang stabil; apa pun yang orang katakan, engkau harus segera menerapkan apa yang kauketahui sebagai kebenaran. Engkau harus selalu memiliki firman-Ku yang bekerja di dalammu, siapa pun yang kauhadapi; engkau harus mampu berdiri teguh dalam kesaksianmu tentang-Ku dan menunjukkan perhatian terhadap beban-Ku. Engkau tidak boleh menyetujui orang lain secara membabi buta tanpa memiliki gagasanmu sendiri; sebaliknya, engkau harus memiliki keberanian untuk berdiri dan menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran. Jika engkau tahu dengan jelas bahwa ada sesuatu yang salah, tetapi tak punya keberanian untuk mengungkapkannya, itu berarti engkau bukan orang yang menerapkan kebenaran. Engkau ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak berani mengatakannya, jadi engkau bicara bertele-tele lalu mengubah topik pembicaraanmu; Iblis ada di dalam dirimu menahanmu, menyebabkanmu berbicara tanpa efek apa pun dan membuatmu tak mampu bertahan sampai akhir. Engkau masih membawa ketakutan di dalam hatimu, dan bukankah ini karena hatimu masih dipenuhi dengan gagasan-gagasan Iblis?" ("Bab 12, Perkataan Kristus pada Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Firman Tuhan sangat jelas. Jika kau menemukan sesuatu yang merugikan pekerjaan rumah Tuhan dan menyakiti saudara-saudaramu, atau jika ada gangguan dari Iblis, kau harus bangkit dan punya keberanian untuk menyingkapkannya, menghentikannya, dan membela pekerjaan gereja. Inilah orang yang menerapkan kebenaran. Jika kita tahu ada sesuatu yang salah, tapi tetap dikendalikan oleh emosi kita, takut putus hubungan dengan orang lain, dan tak mampu mematuhi prinsip kebenaran, artinya kita berada di pihak Iblis, dan ini bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kau mendapati temanmu menyebarkan kekeliruan, lalu menyingkapkan dan menghentikannya, melindungi saudara-saudarimu dari bahaya. Kau membuat pilihan yang tepat, dan tak perlu menyalahkan diri sendiri atau merasa sedih." "Tingkat pertumbuhanku masih terlalu rendah, dan aku tak punya kearifan. Aku bertindak sesuai prinsip, tapi ketika Emma mengeluh dan menuduhku, itu mengguncangku, dan kupikir aku salah. Kini aku tahu pilihan dan penerapanku benar. Dalam hal-hal yang menyangkut pekerjaan gereja dan kehidupan saudara-saudariku, aku harus punya prinsip dan berdiri teguh. Aku harus belajar membedakan yang benar dari yang salah dan tidak dikendalikan emosi."

Setelah memahami kehendak Tuhan, Joy menenangkan dirinya dan berfokus pada tugasnya. Namun, segala sesuatunya tidak berakhir di sana. Emma tiba-tiba mengirim pesan lagi kepada Joy, berkata, "Aku dikeluarkan dari kelompok. Apa kau senang sekarang? Semua ini salahmu." Ada ironi dan sarkasme dalam perkataan itu. Selama beberapa waktu, Joy tak tahu bagaimana membalas Emma. Dia tahu pada saat itu persahabatan mereka telah berakhir, dan dia sangat sedih. Joy berpikir, "Hubungan kami sangat baik, dan dialah yang memberitakan Injil kepadaku. Namun kini, aku sudah melaporkan masalahnya kepada pemimpin. Bukankah aku telah mengkhianatinya? Apa pendapatnya tentang diriku? Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku minta maaf padanya? Aku merusak kepercayaannya padaku. Apa aku gagal menghargai persahabatan kami? Benarkah aku telah melakukan hal yang tepat?" Saat Joy merasa kebingungan dan menderita, dia membaca satu bagian firman Tuhan. "Perilaku yang tidak dapat menaati-Ku sepenuhnya adalah pengkhianatan. Perilaku yang tidak bisa setia kepada-Ku adalah pengkhianatan. Menipu-Ku dan menggunakan kebohongan untuk menipu-Ku adalah pengkhianatan. Memendam banyak gagasan dan menyebarkannya ke mana-mana adalah pengkhianatan. Tidak mampu menjunjung tinggi kesaksian-Ku dan kepentingan-Ku adalah pengkhianatan. Mempersembahkan senyuman palsu padahal hatinya jauh dari-Ku adalah pengkhianatan. Semua ini adalah tindakan pengkhianatan yang selalu mampu engkau semua lakukan, dan semua ini adalah hal yang lazim di antaramu. Mungkin tak seorang pun di antaramu menganggap ini sebagai masalah, tetapi bukan itu yang Kupikirkan. Aku tidak bisa menganggap pengkhianatan orang terhadap-Ku sebagai persoalan yang sepele, dan Aku tentu saja tidak bisa mengabaikannya" ("Masalah yang Sangat Serius: Pengkhianatan (1)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Setelah membaca firman Tuhan, Joy tercerahkan. Dia berpikir, "Ya, aku selalu berpikir apakah aku telah mengkhianati temanku. Mengapa aku tak memikirkan apakah pendapat dan perilakuku sejalan dengan kebenaran atau mengkhianati Tuhan. Aku tak boleh hanya mengkhawatirkan perasaan temanku dan mengabaikan sikap Tuhan. Firman Tuhan sangat jelas. 'Tidak mampu menjunjung tinggi kesaksian-Ku dan kepentingan-Ku adalah pengkhianatan.'" Joy berpikir, "Emma menyebarkan gagasan tentang pekerjaan Tuhan, menipu saudara-saudari, dan mengganggu kehidupan bergereja. Dia juga ingin membuat akun palsu untuk menipu orang lain. Semua ini perbuatan Iblis, dan semua itu menghancurkan pekerjaan rumah Tuhan. Jika aku memilih berdiri di pihak Emma dan tidak menerapkan kebenaran, itu artinya berdiri di pihak Iblis dan mengkhianati Tuhan!" Joy juga teringat firman Tuhan, "Setialah kepada-Ku apa pun yang terjadi, dan majulah dengan berani; Aku adalah batu karangmu yang teguh, jadi andalkanlah diri-Ku!" ("Bab 10, Perkataan Kristus pada Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Joy merasa dia harus berdoa dengan sungguh-sungguh dan percaya kepada Tuhan. Dia yakin Tuhan akan membimbingnya untuk mengetahui yang benar dan yang salah, belajar membedakan orang, dan menjaganya agar tidak kehilangan prinsip dan pendiriannya dalam hal ini.

Kemudian, Joy bertanya-tanya, "Ketika aku mengetahui bahwa Emma melakukan sesuatu yang salah, aku melaporkannya kepada pemimpin. Ini jelas untuk melindungi pekerjaan rumah Tuhan. Mengapa aku selalu merasa kasihan kepada Emma?" Firman Tuhan memberikan jawaban atas pertanyaannya. Firman Tuhan katakan: "Jika engkau tidak memiliki hubungan yang normal dengan Tuhan, maka apa pun yang engkau lakukan untuk mempertahankan hubunganmu dengan orang lain, sekeras apa pun engkau bekerja, atau sebanyak apa pun energi yang engkau kerahkan, semua itu hanya berkaitan dengan falsafah hidup manusia. Engkau sedang mempertahankan posisimu di tengah khalayak melalui sudut pandang manusia dan falsafah manusia sehingga orang akan memujimu, tetapi engkau tidak sedang mengikuti firman Tuhan untuk membangun hubungan yang normal dengan orang lain. Jika engkau tidak berfokus pada hubunganmu dengan orang lain tetapi mempertahankan hubungan yang normal dengan Tuhan, jika engkau bersedia memberikan hatimu kepada Tuhan dan belajar menaati-Nya, maka secara alami hubunganmu dengan semua orang akan menjadi normal. ... Hubungan yang normal di antara manusia dibangun di atas dasar penyerahan hati mereka kepada Tuhan, dan bukan melalui upaya manusia. Tanpa Tuhan di dalam hati mereka, hubungan antarpribadi di antara manusia hanyalah hubungan daging. Hubungan itu tidak normal, melainkan menuruti hawa nafsu. Semua itu adalah hubungan yang dibenci Tuhan dan menjijikkan bagi Dia" ("Sangatlah Penting untuk Membangun Hubungan yang Normal dengan Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Dalam segala hal yang engkau lakukan dan katakan, engkau harus mampu menetapkan hati yang lurus dan bertindak benar, dan tidak dituntun oleh emosi, maupun bertindak sesuai dengan kehendakmu sendiri. Inilah prinsip yang harus dimiliki orang-orang yang percaya kepada Tuhan dalam menjaga perilakunya" ("Bagaimana Hubunganmu dengan Tuhan?" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Dari firman Tuhan, Joy mengerti bahwa dia terlalu peduli tentang hubungannya dengan orang lain dan berusaha terlalu keras untuk mempertahankannya. Dia mengabaikan hubungan normalnya dengan Tuhan dan hidup dalam emosi daging. Sebenarnya, menjaga hubungan dengan orang lain adalah hanya untuk melindungi kepentingan, citra, dan status diri sendiri. Itu berasal dari kebutuhan daging. Itu juga dinodai dengan emosi dan niat pribadi, dan tidak sesuai prinsip kebenaran. Joy juga sadar, dia terombang-ambing dalam masalah Emma dan tak punya pendirian, karena dia dikendalikan emosi, yang menghalanginya melakukan hal yang benar. Dia hanya berpikir untuk mempertahankan persahabatannya dan citranya serta tempatnya di hati orang, dan akibatnya, dia terjebak dalam emosi. Jadi, dia tak mampu memperlakukan orang sesuai prinsip kebenaran dan tak bisa memikirkan kepentingan rumah Tuhan. Dia bahkan ingin melepaskan tugasnya, menjauh dari saudara-saudari, dan mengkhianati Tuhan. Baru pada saat itulah Joy sadar bahwa emosi itu egois, Iblis menggunakan emosi untuk mengendalikan orang, membuat mereka mengkhianati kebenaran dan Tuhan. Joy juga sadar, sebenarnya, ketika Emma memberitakan Injil kepadanya dan mengundangnya ke pertemuan, ini pengaturan Tuhan yang berdaulat. Tuhan memakai Emma untuk membawa Joy ke hadapan-Nya, dan dia seharusnya bersyukur kepada Tuhan, bukan kepada Emma. Begitu dia memahami hal-hal ini, Joy merasa sangat lega dan tidak lagi terlalu tersiksa.

Kemudian, dalam sebuah pertemuan, beberapa saudari dan Joy menonton video pembacaan firman Tuhan, yang membuatnya melihat natur Emma dengan jelas. Firman Tuhan katakan: "Mereka di antara saudara-saudari yang selalu menyebarkan kenegatifan mereka adalah kaki tangan Iblis dan mereka mengacaukan gereja. Orang-orang seperti ini suatu hari kelak harus diusir dan disingkirkan. Dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, jika orang tidak memiliki hati yang menghormati Tuhan, jika mereka tidak memiliki hati yang taat kepada Tuhan, mereka bukan saja tidak akan mampu melakukan pekerjaan apa pun bagi-Nya, tetapi justru sebaliknya, mereka akan menjadi orang-orang yang mengganggu pekerjaan Tuhan dan yang menentang Dia. Percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menaati ataupun menghormati-Nya, dan malah menentang Dia, adalah hal paling memalukan sebagai orang percaya. Apabila orang-orang percaya hanya asal-asalan dan tidak menjaga perkataan dan tingkah laku mereka, sama seperti orang tidak percaya, maka mereka bahkan lebih jahat daripada orang tidak percaya; mereka tipikal setan. Mereka yang menyebarkan omongan beracun dan jahat di dalam gereja, mereka yang menyebarkan rumor, menimbulkan ketidakharmonisan, dan membentuk kelompok-kelompok ekslusif di antara saudara-saudari—mereka haruslah diusir dari gereja. Namun, karena saat ini adalah masa pekerjaan Tuhan yang berbeda, orang-orang ini dibatasi, sebab mereka pasti menghadapi penyisihan. Semua orang yang telah dirusak oleh Iblis memiliki watak yang rusak. Beberapa orang semata-mata memiliki watak yang rusak, sementara beberapa orang lainnya berbeda: mereka bukan saja memiliki watak Iblis yang rusak, tetapi natur mereka juga luar biasa jahat. Bukan saja perkataan dan perbuatan mereka menyingkapkan watak Iblis dan rusak mereka; lebih dari itu, orang-orang ini adalah Iblis si setan yang asli. Perilaku mereka mengganggu dan mengacaukan pekerjaan Tuhan, menghalangi jalan masuk saudara-saudari ke dalam kehidupan, dan menghancurkan kehidupan bergereja yang normal. Cepat atau lambat, serigala-serigala berbulu domba ini harus disingkirkan; sikap yang tak kenal ampun, sikap penolakan, harus diterapkan atas para kaki tangan Iblis ini. Hanya inilah artinya berdiri di pihak Tuhan, dan mereka yang gagal melakukannya sedang berkubang dalam lumpur bersama Iblis" ("Peringatan Bagi Orang yang Tidak Melakukan Kebenaran" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Bagian ini adalah peringatan Tuhan. Aku mengerti, mereka yang tidak menerapkan kebenaran, menyebarkan kabar bohong, dan menabur perselisihan adalah orang yang memberontak dan menentang Tuhan. Orang semacam itu bukanlah umat pilihan Tuhan, mereka hamba Iblis dan pelaku kejahatan. Yang mereka lakukan hanyalah memusuhi Tuhan, dan menurut peraturan gereja, orang semacam itu harus dikeluarkan. Syukur kepada Tuhan! Kini hatiku cerah, dan aku memiliki kearifan. Berdasarkan perbuatan Emma, aku yakin dia pelaku kejahatan. Joy teringat bahwa "Prinsip-prinsip untuk Memperlakukan Orang Lain Sesuai dengan Esensi Mereka" berkata, "Selama seseorang sudah dapat dipastikan bahwa pada dasarnya ia adalah orang jahat, roh jahat, antikristus, atau orang tidak percaya, orang tersebut harus disingkirkan atau dikeluarkan, sebagaimana ditetapkan oleh gereja; Orang curang yang terus-menerus mengungkapkan pandangan yang keliru, yang sering memendam gagasan tentang Tuhan atau bersikap defensif terhadap Dia, dianggap sebagai orang tidak percaya. Mereka harus disingkirkan atau dikeluarkan" (170 Prinsip untuk Melakukan Kebenaran). Menurut prinsip, pelaku kejahatan harus dikeluarkan dari gereja untuk mencegah mereka agar tidak menyebabkan gangguan di gereja, sehingga orang lain tidak akan terganggu ketika mereka berkumpul atau melaksanakan tugas. Joy juga memahami, Tuhan mengizinkan pelaku kejahatan mengganggu gereja agar umat pilihan Tuhan dapat memahami kebenaran, belajar membedakan orang, dan memperlakukan orang sesuai firman Tuhan. Ini sekaligus memungkinkan kita mengetahui tingkat pertumbuhan kita yang sebenarnya, dan belajar menerapkan kebenaran dan melindungi kepentingan rumah Tuhan. Setelah menyadari hal ini, Joy bersyukur kepada Tuhan. Tanpa perlindungan dan bimbingan firman Tuhan, dia pasti masih dikendalikan emosi, berbicara mewakili pelaku kejahatan, dan ditipu Emma. Ini hal yang sangat berbahaya! Begitu dia mengenali hal ini, Joy tak lagi terganggu oleh masalah ini, dan dia merasakan kelegaan yang luar biasa.

Setelah itu, Emma mendekati Joy beberapa kali, tapi Joy tak lagi terpengaruh atau terganggu olehnya. Setelah pengalaman ini, Joy sangat bersyukur kepada Tuhan. Tuhanlah yang menuntunnya untuk memahami beberapa kebenaran, mendapatkan sedikit kearifan dan membebaskannya dari kendali emosi. Dia memahami bahwa kebenaran sangat penting bagi orang-orang. Hanya ketika memandang orang dan perkara berdasarkan kebenaran barulah kita dapat memiliki prinsip dan tidak tertipu dan dimanfaatkan Iblis. Syukur kepada Tuhan!

Lonceng Alarm Akhir Zaman telah berbunyi, dan bencana besar telah melanda. Apakah Anda ingin menyambut Tuhan dan mendapatkan kesempatan untuk dilindungi Tuhan bersama keluarga?

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp