Benarkah Hanya Nasib Buruk Ketika Segala Sesuatu Menjadi Kacau?

25 Juli 2026

Pada bulan April 2023, aku bertanggung jawab atas pekerjaan injil di gereja. Setelah beberapa waktu, pemimpin mengadakan pertemuan dengan kami dan mempersekutukan beberapa kebenaran tentang memberitakan injil. Kupikir hal itu luar biasa. Jika aku benar-benar mempersekutukan kebenaran-kebenaran itu dengan para pengkhotbah injil, akan lebih mudah untuk menyelesaikan gagasan orang-orang religius, yang akan sangat bermanfaat bagi pekerjaan injil. Setelah itu, aku segera merencanakan pertemuan untuk bersekutu dengan para pengkhotbah injil. Namun, pada saat itu, banyak saudara-saudari dari gereja yang menjadi tanggung jawabku ditangkap. Di antara saudara-saudari yang perlu kutemui, beberapa hilang kontak, sementara beberapa tidak dapat datang karena masalah keamanan. Dengan berat hati, aku harus mengatur pertemuan dengan saudara-saudari dari gereja lain. Ketika aku mencoba mengaturnya dengan seorang saudara, dia menjawab bahwa dia sedang menangani keadaan darurat dan tidak dapat menghadiri pertemuan dalam dua hari ke depan. Aku berpikir, "Mengapa aku begitu kurang beruntung? Bahkan mengatur orang untuk menghadiri pertemuan pun sangat sulit. Setiap kali ada momen kritis, berbagai masalah bermunculan. Mengapa segala sesuatunya tidak dapat berjalan dengan lancar?" Tak lama kemudian, aku menerima surat dari pimpinan, yang mengatakan bahwa gereja-gereja di tempat lain telah menyelesaikan persekutuan dan mulai melaksanakannya. Dia menanyakan tentang kemajuanku. Aku merasa iri dn khawatir, serta berpikir, "Mengapa mereka begitu beruntung? Pekerjaan mereka berjalan sangat lancar, sementara gereja-gereja di lingkupku belum mengalami kemajuan apa pun. Apakah pemimpin akan berpikir bahwa aku tidak mampu dan lamban dalam bekerja?" Dengan semua pikiran ini, aku menjadi sangat kesal dan berpikir, "Aku juga ingin melaksanakan tugasku dengan baik. Mengapa Tuhan tidak membiarkanku bekerja dengan lancar? Jika bukan orang ini yang memiliki masalah keamanan, maka orang lain yang terlalu sibuk untuk meluangkan waktu. Semua permasalahan muncul sekaligus!" Menghadapi situasi ini, aku merasa tak berdaya dan kehilangan motivasi dalam melaksanakan tugasku. Setelah itu, aku menulis surat untuk seorang saudari dari gereja lain, memintanya untuk mengatur pertemuan dan memberitahukan waktunya. Namun, tak disangka utusan itu tertunda dalam perjalanan. Pada saat aku menerima balasannya, aku telah melewatkan waktu pertemuan yang dijadwalkan. Aku berpikir, "Mengapa aku begitu kurang beruntung? Tepat ketika aku berhasil mengatur agar orang-orang menghadiri pertemuan tersebut, aku melewatkan waktu pertemuan itu. Pertemuan akan ditunda selama beberapa hari lagi." Dalam dua hari itu, aku merasa sangat cemas dan berpikir, "Aku telah membuat komitmen kuat untuk sebuah rencana kerja. Namun, sekarang, setelah sekian lama, aku bahkan belum bertemu dengan siapa pun. Bagaimana aku akan menanggapi pemimpin ketika dia bertanya mengenai kemajuan pekerjaanku? Apakah dia akan berpikir aku menunda-nunda pekerjaan jika dia tahu bahwa aku belum memulai pelaksanaannya?" Tanpa diduga, dua hari kemudian, pimpinan mengirimiku surat yang menyatakan bahwa PKT telah memulai babak baru operasi penggerebekan di seluruh negeri, yang mengakibatkan banyak penangkapan gterhadap para pemimpin dan pekerja gereja. Aku diberitahu untuk tidak mengadakan pertemuan dengan siapa pun untuks aat ini. Aku mengeluh dalam hati, "Aku baru saja berhasil mengatur agar beberapa orang bisa datang, dan sekarang aku tidak dapat mengadakan pertemuan. Ini membuat pekerjaan menjadi lebih sulit untuk dilaksanakan!" Menghadapi semua ini, aku merasa sangat frustasi dan berpikir, "Aku juga ingin melakukan sebuah pekerjaan dengan baik, tetapi mengapa semua menjadi kacau ketika aku melaksanakan pekerjaan? Mengapa Tuhan tidak memberikan perlindungan? Sepertinya peruntunganku memang tidak baik." Semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa kurang beruntung, dengan segala sesuatu yang menjadi kacau. Malam itu, aku berguling-guling di tempat tidur dan tidak bisa tidur. Aku berdoa kepada Tuhan dan mencari maksud-Nya. Aku memikirkan firman-firman Tuhan tentang penyingkapan orang-orang yang mengejar keberuntungan, sehingga aku menemukan dan membaca bab firman Tuhan itu.

Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Apa masalahnya dengan orang yang selalu menganggap diri mereka tidak beruntung? Mereka selalu menggunakan keberuntungan sebagai standar untuk mengukur apakah tindakan mereka benar atau salah, untuk mempertimbangkan jalan mana yang harus mereka tempuh, hal-hal apa yang harus mereka alami, dan masalah apa pun yang harus mereka hadapi. Apakah itu benar atau salah? (Salah.) Mereka menggambarkan hal-hal buruk sebagai ketidakberuntungan dan hal-hal baik sebagai keberuntungan atau keuntungan. Apakah sudut pandang ini benar atau salah? (Salah.) Mengukur segala sesuatu dari sudut pandang seperti ini adalah salah. Ini adalah cara dan standar yang tidak benar dan ekstrem untuk mengukur segala sesuatu. Cara seperti ini sering kali membuat orang tenggelam dalam depresi, dan sering kali membuat mereka merasa gelisah, dan merasa semua hal tidak berjalan sesuai keinginan mereka, dan merasa mereka tak pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan, yang pada akhirnya membuat mereka selalu merasa cemas, mudah tersinggung, dan gelisah. Jika emosi-emosi negatif ini tidak dibereskan, orang-orang ini akan selalu tenggelam dalam perasaan depresi dan merasa Tuhan tidak berkenan akan mereka. Mereka menganggap Tuhan memperlakukan orang lain dengan kasih karunia tetapi tidak kepada mereka, dan Tuhan memedulikan orang lain tetapi tidak memedulikan mereka. 'Mengapa aku selalu merasa gelisah dan cemas? Mengapa hal-hal buruk selalu menimpaku? Mengapa hal-hal baik tak pernah terjadi pada diriku? Aku hanya minta satu kali saja mengalami hal yang baik!' Jika engkau memandang segala sesuatu dengan cara berpikir dan sudut pandang yang keliru seperti ini, engkau akan terjerumus ke dalam perangkap beruntung dan tidak beruntung. Jika engkau terus-menerus terjerumus ke dalam perangkap ini, engkau akan selalu merasa depresi. Di tengah perasaan depresi ini, engkau akan sangat sensitif terhadap apakah hal-hal yang menimpamu adalah keberuntungan atau ketidakberuntungan. Ketika hal ini terjadi, ini membuktikan bahwa sudut pandang dan gagasan tentang beruntung dan tidak beruntung ini telah mengendalikan dirimu. Ketika engkau dikendalikan oleh sudut pandang seperti ini, pandangan dan sikapmu terhadap orang, peristiwa dan hal-hal tidak lagi berada dalam lingkup hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, melainkan telah jatuh ke dalam keadaan ekstrem. Ketika engkau telah jatuh ke dalam keadaan ekstrem seperti ini, engkau tidak akan terbebas dari perasaan depresimu. Engkau akan terus merasa depresi berulang kali, dan meskipun engkau biasanya tidak merasa depresi, begitu sesuatu tidak berjalan lancar, begitu engkau merasa ketidakberuntungan telah terjadi, engkau akan langsung tenggelam dalam depresi. Perasaan depresi akan memengaruhi penilaian normalmu dan pengambilan keputusanmu, dan bahkan memengaruhi kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan sukacitamu. Ketika perasaan depresi memengaruhi kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan sukacitamu, itu akan mengganggu dan menghancurkan pelaksanaan tugasmu, serta kemauan dan keinginanmu untuk mengikut Tuhan. Setelah hal-hal positif ini hancur, sedikit kebenaran yang telah kaupahami akan hilang begitu saja dan menjadi sama sekali tidak berguna bagimu. Itulah sebabnya, jika engkau terjerumus ke dalam lingkaran setan ini, akan sulit bagimu untuk menerapkan sedikit prinsip kebenaran yang telah kaupahami" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa perasaan gelisah dan frustasiku baru-baru ini disebabkan oleh sudut pandangku yang salah mengenai berbagai hal. Aku telah mengukur dan menangani segala sesuatu yang menimpaku dengan mempertimbangkan apakah peruntunganku baik atau buruk. Setiap kali berbagai gangguan terus-menerus terjadi selama melaksanakan pekerjaan, dan setiap kali upaya mengatur pertemuan dengan orang-orang tidak berjalan lancar dan menemui kendala, aku merasa sangat tidak beruntung dan peruntunganku buruk. Terutama ketika aku mengetahui bahwa pekerjaan di gereja-gereja lain berjalan dengan lancar, sementara di pihakku, tidak ada yang berjalan dengan baik dalam mengatur orang-orang untuk menghadiri pertemuan—entah saudara-saudari memiliki masalah keamanan, atau terlalu sibuk untuk meluangkan waktu, dan aku melewatkan pertemuan bahkan ketika aku akhirnya berhasil mengaturnya—semua kejadian ini semakin membuatku berpikir bahwa aku kurang beruntung, dan peruntunganku buruk, sehingga aku merasa frustrasi dan tertekan. Aku bahkan mengeluh bahwa Tuhan tidak melindungiku, sehingga aku kehilangan motivasi untuk melaksanakan tugasku. Sekarang aku mengerti bahwa Tuhan telah mengizinkan terjadinya berbagai situasi yang tidak menguntungkan agar aku dapat mencari kebenaran dan mengambil pelajaran yang bermanfaat bagi hidupku. Aku tidak dapat hidup dalam emosi negatif. Menyadari hal ini, hatiku menjadi tenang. Aku ingin mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalahku dan menghadapi keadaan yang telah diatur oleh Tuhan dengan benar.

Selama waktu teduhku, aku membaca firman Tuhan ini: "Sebenarnya, apakah seseorang merasa baik atau buruk tentang sesuatu, itu didasarkan pada motif, keinginan, dan kepentingan mereka sendiri, dan bukan didasarkan pada esensi dari hal itu sendiri. Jadi, dasar yang orang gunakan untuk mengukur apakah sesuatu itu baik atau buruk tidaklah tepat. Karena dasarnya tidak tepat, kesimpulan yang mereka tarik pun tidak tepat. Kembali ke topik tentang keberuntungan dan ketidakberuntungan, sekarang semua orang sudah mengerti bahwa perkataan tentang keberuntungan ini tidak masuk akal, dan tidak ada yang namanya beruntung atau tidak beruntung. Orang, peristiwa, dan hal-hal yang kautemui, entah baik atau buruk, semuanya ditentukan oleh kedaulatan dan pengaturan Tuhan, jadi engkau harus menghadapi semua itu dengan benar. Terimalah apa yang baik sebagai sesuatu dari Tuhan, dan terimalah juga apa yang buruk sebagai sesuatu dari Tuhan. Jangan berkata engkau beruntung ketika hal-hal baik terjadi, dan engkau tidak beruntung ketika hal-hal buruk terjadi. Engkau hanya dapat berkata bahwa ada pelajaran yang dapat orang petik dalam semua hal ini, dan mereka tidak boleh menolak atau menghindarinya. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk hal-hal baik, tetapi bersyukurlah juga kepada Tuhan untuk hal-hal buruk, karena semua itu diatur oleh-Nya. Orang, peristiwa, hal-hal, dan lingkungan yang baik menyediakan pelajaran yang harus mereka petik, tetapi ada jauh lebih banyak pelajaran yang dapat dipetik dari orang, peristiwa, hal-hal, dan lingkungan yang buruk. Semua ini adalah pengalaman dan peristiwa yang harus menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Orang tidak boleh menggunakan gagasan tentang keberuntungan untuk mengukur semua itu. Jadi, seperti apakah pemikiran dan sudut pandang orang yang menggunakan keberuntungan untuk mengukur apakah sesuatu itu baik atau buruk? Apakah esensi orang-orang semacam itu? Mengapa mereka sangat memperhatikan keberuntungan dan ketidakberuntungan? Apakah orang yang sangat berfokus pada keberuntungan berharap mereka beruntung atau berharap mereka tidak beruntung? (Mereka berharap mereka beruntung.) Benar. Sebenarnya, mereka berusaha agar mereka beruntung dan agar hal-hal baik terjadi pada diri mereka, dan mereka hanya ingin mendapatkan manfaat dan mengambil keuntungan dari keberuntungan dan hal-hal baik tersebut. Mereka tidak peduli seberapa banyak orang lain menderita atau seberapa banyak kesukaran dan kesulitan yang harus orang lain alami. Mereka tidak ingin apa pun yang mereka anggap sebagai ketidakberuntungan menimpa mereka. Dengan kata lain, mereka tidak mau hal-hal buruk terjadi pada diri mereka: tidak mau mengalami kemunduran, kegagalan atau rasa malu, tidak mau mengalami pemangkasan, kehilangan, dan kerugian, dan tidak mau tertipu. Jika salah satu hal tersebut terjadi, mereka menganggapnya sebagai ketidakberuntungan. Siapa pun yang mengaturnya, jika terjadi hal yang buruk, itu berarti ketidakberuntungan. Mereka berharap semua hal yang baik—mulai dari dipromosikan, terlihat paling menonjol, dan mendapatkan manfaat sekalipun mengorbankan orang lain, mendapatkan keuntungan dari sesuatu, menghasilkan banyak uang, atau menjadi pejabat tinggi—terjadi pada diri mereka, dan mereka menganggap itulah keberuntungan. Mereka selalu mengukur orang, peristiwa, dan hal-hal yang mereka temui berdasarkan keberuntungan. Mereka berusaha menjadi orang yang beruntung, bukan orang yang tidak beruntung. Begitu terjadi kesalahan sekecil apa pun, mereka menjadi marah, kesal dan tidak puas. Bahasa kasarnya, jenis orang seperti ini egois. Mereka berusaha memperoleh keuntungan bagi diri mereka sendiri sekalipun mengorbankan orang lain, menjadi unggul dari yang lain, dan terlihat paling menonjol. Mereka akan merasa puas jika semua hal baik terjadi hanya pada diri mereka. Inilah natur dan esensi mereka; seperti inilah diri mereka yang sebenarnya" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa segala sesuatu tidak dapat digambarkan sebagi baik atau buruk berdsarkan apakah itu berjalan dengan lancar atau tidak. Itu tidak ada hubungannya dengan peruntungan. Kondisi yang kita hadapi setiap hari berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Semuanya bermanffat bagi kehidupan kita. Berpikir mengenai orang yang tidak percaya kepada Tuhan, apa pun yang terjadi pada mereka, mereka tidak akan menerimanya dari Tuhan, hanya mempertimbangan kepentingan dan kerugian mereka sendiri. Ketika dihadapkan pada kesulitan, mereka mengeluh tentang surga dan menyalahkan orang lain, berpikir bahwa mereka kurang beruntung dan peruntungan mereka buruk. Bukankah aku juga demikian? Di masa lalu, setiap kali aku melihat seseorang yang segala sesuatunya tampak berjalan lancar di tempat kerja—terus-menerus dipromosikan, disukai atasan, atau sangat dihormati oleh orang lain—Aku mau tidak mau merasa bahwa peruntungan mereka luar biasa baik, dan mereka selalu terlihat menghadapi situasi yang menguntungkan, sedangkan aku tidak seberuntung mereka, meskipun bekerja sama kerasnya, dan sering kali menghadapi berbagai kesulitan, dan tidak dapat menonjol atau diperhatikan, serta sering menghadapi teguran dari atasan. Jadi aku percaya bahwa semua hal yang kurang beruntung sedang terjadi pada diriku, dan mengeluh tentang surga serta menyalahkan orang lain. Bahkan setelah aku percaya kepada Tuhan, aku masih tetap sama. Setiap kali aku melihat saudara-saudari yang memiliki kualitas baik dan efektif dalam tugas mereka, dan yang dihargai oleh para pemimpin serta sangat dihormati oleh orang lain, aku merasa iri dalam hatiku, merasa bahwa mereka sangat beruntung sementara aku sangat kurang beruntung, sering kali menghadapi rintangan dan kesulitan dalam tugasku. Aku percaya itu karena peruntunganku yang buruk. Sekarang aku paham bahwa perspektifku tidak masuk akal. Apa yang kuanggap sebagai kesulitan dan peruntungan buruk, aku menentukannya seperti itu berdasarkan kepentinganku sendiri. Aku merenungkan bahwa jika pelaksanaan pekerjaanku berjalan lancar sejak awal, dan hasilnya membaik, serta aku bisa membuat diriku diperhatikan, aku pasti akan bahagia. Aku telah menyatakan dengan bibirku bahwa aku mempertimbangkan maksud Tuhan, dan aku akan berupaya keras dalam tugasku untuk meningkatkan efektifitas pekerjaanku. Akan tetapi, pada kenyataannya, aku hanya peduli dengan reputasi dan statusku sendiri, dan bagaimana pemimpin memandangku. Aku tidak benar-benar memiliki tempat di hatiku untuk Tuhan. Aku benar-benar terlalu egois! Setiap kali kepentingan pribadiku dipertaruhkan, aku mengeluh tentang surga dan menyalahkan orang lain, serta sama sekali tidak menerimanya dari Tuhan. Bukankah ini sudut pandang yang sama dengan orang-orang yang tidak percaya?

Kemudian, aku membaca lebih banyak firman Tuhan: "Setiap orang pasti mengalami kemunduran dan kegagalan dalam hidupnya. Siapa yang hidupnya hanya dipenuhi kepuasan? Siapa yang tidak pernah mengalami kegagalan atau kemunduran? Ketika terkadang segala sesuatu tidak berjalan lancar bagimu, atau engkau mengalami kemunduran dan kegagalan, ini bukanlah ketidakberuntungan, ini adalah sesuatu yang harus kaualami. Seperti halnya makan—engkau harus makan yang asam, manis, pahit, dan pedas. Orang tidak bisa hidup tanpa garam dan harus makan makanan asin, tetapi jika engkau makan terlalu banyak garam, itu akan membahayakan ginjalmu. Engkau harus makan sedikit makanan asam pada musim-musim tertentu, tetapi makan terlalu banyak asam tidak ada gunanya, karena itu tidak baik untuk gigi dan perutmu. Semuanya harus dimakan secukupnya. Engkau harus makan makanan asam, makanan asin, dan makanan manis, dan engkau juga harus makan sedikit makanan pahit. Makanan pahit baik untuk beberapa organ dalam, jadi engkau harus memakannya sedikit. Demikian pula dengan kehidupan manusia. Sebagian besar orang, peristiwa, dan hal-hal yang kautemui di setiap tahap kehidupanmu tidak akan sesuai dengan keinginanmu. Mengapa? Karena orang mengejar hal-hal yang berbeda. Jika engkau mengejar ketenaran dan keberuntungan, status dan kekayaan, ingin menjadi lebih unggul daripada orang lain dan mencapai keberhasilan luar biasa, dan seterusnya, maka 99 persen dari apa yang kaualami tidak akan sesuai dengan keinginanmu. Sebagaimana orang katakan: semua itu adalah ketidakberuntungan dan kemalangan. Namun, jika engkau melepaskan gagasan tentang beruntung atau tidak beruntungnya dirimu, dan memperlakukan hal-hal ini dengan tenang dan benar, engkau akan mendapati bahwa sebagian besar hal yang terjadi tidaklah terlalu buruk atau terlalu sulit untuk ditangani. Jika engkau melepaskan ambisi dan keinginanmu, jika engkau tidak lagi menolak atau menghindari kemalangan apa pun yang menimpamu, dan engkau tidak lagi mengukur hal-hal semacam itu berdasarkan beruntung atau tidak beruntungnya dirimu, maka banyak hal yang sebelumnya kauanggap tidak beruntung dan buruk, sekarang akan kauanggap baik—hal-hal buruk itu akan berubah menjadi hal-hal baik. Mentalitas dan caramu dalam memandang segala sesuatu akan berubah, dan ini akan memampukanmu merasakan hal yang berbeda tentang pengalaman hidupmu, dan engkau juga akan sekaligus menuai hasil yang berbeda. Ini adalah pengalaman yang luar biasa, pengalaman yang akan membuahkan hasil yang tak pernah kaubayangkan. Ini adalah hal yang baik, bukan hal yang buruk" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa setiap orang harus mengalami banyak hal dalam hidup, mengalami banyak kemunduran dan kegagalan, serta saat-saat suka maupun duka. Dengan demikian, pengalaman hidup kita diperkaya. Sering kali kita mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita dan meskipun hal ini membuat kita sedih dan kesal, hanya dengan cara inilah kita dapat menjadi lebih kuat dan kemanusian kita secara bertahap menjadi lebih dewasa serta lebih mantap. Seperti halnya ketika kita mengalami beberapa kegagalan dan disingkapkan dalam tugas-tugas kita, dengan kemudian merenungkan diri sendiri dan mencari kebenaran, kita dapat memahami kerusakan dan kekurangan kita sendiri. Ini bermanfaat bagi jalan masuk kehidupan kita. Tanpa pengalaman-pengalaman ini, kita bagaikan bunga-bunga di rumah kaca, tidak mampu menahan badai sekecil apa pun karena sangat rapuh. Aku merenungkan beberapa saudara-saudari yang pernah berinteraksi denganku di masa lalu, beberapa di antaranya memiliki kualitas yang baik dan efektif dalam tugas mereka, serta sangat dihormati oleh orang lain. Dari luar, tampaknya semua berjalan lancar bagi mereka, dan mereka tidak mengalami kemunduran atau kegagalan apa pun. Namun, mereka tidak mengejar kebenaran. Mereka membanggakan diri dan memamerkan senioritas mereka setiap kali pekerjaan mereka cukup efektif. Mereka telah bertindak atas kemauan sendiri dalam melaksanakan tugas mereka, yang telah menyebabkan gangguan dan kekacauan serius dalam pekerjaan gereja. Pada akhirnya, mereka diusir karena mengikuti jalan antikristus dan tidak bertobat. Dari sini aku menyadari bahwa melaksanakan tugas dengan lancar dan menerima penghormatan tinggi dari orang lain belum tentu merupakan hal yang baik atau tanda-tanda keberuntungan. Yang paling penting adalah apakah seseorang berada di jalan untuk mengejar kebenaran dan apakah mereka fokus mencari kebenaran untuk menyelesaikan watak mereka yang rusak dalam menhadapai berbagai hal. Aku juga memahami bahwa setiap kondisi yang bertentangan dengan gagasan manusia bermanfaat bagi kehidupan manusia, selama mereka mencari kebenaran dan memetik pelajaran darinya. Mengambil contoh dari diriku, jika aku tidak menghadapi hambatan dan kemunduran dalam tugasku baru-baru ini, aku tidak akan menyadari bahwa dalam melaksanakan tugasku, aku hanya melakukannya demi pamer di depan orang lain, bekerja demi reputasi dan status, serta aku berada di jalan yang salah. Meskipun aku menyelesaikan tugasku dengan cara ini pada akhirnya, aku tidak akan menerapkan kebenaran atau melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan. Pada akhirnya, aku akan dibenci dan disingkirkan oleh Tuhan karena tidak adanya perubahan dalam watakku yang rusak. Aku menyadari bahwa di balik situasi yang tidak menguntungkakn ini, ada maksud baik Tuhan, yaitu untuk memungkinkanku mengenali diriku sendiri, dan ini adalah kasih Tuhan.

Setelah itu, aku membaca bagian lain dari firman Tuhan dan memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai diriku sendiri. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang-orang hidup dan mengejar di tengah gagasan dan imajinasi yang mereka miliki, sehingga mereka tentu saja memandang segala sesuatu, menilai, dan menentukan segala sesuatu, berdasarkan gagasan dan imajinasi tersebut. Jadi, dengan cara apa pun Tuhan membekali orang dengan kebenaran dan memberi tahu mereka pandangan apa yang seharusnya mereka pegang dan jalan apa yang seharusnya mereka tempuh, selama orang tidak melepaskan gagasan dan imajinasi yang mereka miliki, mereka akan terus hidup berdasarkannya, dan gagasan serta imajinasi ini akan dengan sendirinya menjadi hidup yang orang miliki dan hukum yang mereka gunakan untuk bertahan hidup, dan itu tentu saja akan menjadi cara dan metode yang orang gunakan dalam menghadapi berbagai macam peristiwa dan hal-hal. Setelah gagasan dan imajinasi yang orang miliki menjadi prinsip dan kriteria yang mereka gunakan dalam memandang orang dan hal-hal, dalam berperilaku dan bertindak, maka dengan cara apa pun mereka percaya kepada Tuhan, atau dengan cara apa pun mereka mengejar, dan sebanyak apa pun kesukaran yang mereka derita atau sebesar apa pun harga yang mereka bayar, semuanya itu akan sia-sia. Selama orang hidup berdasarkan gagasan dan imajinasi yang mereka miliki, orang ini sedang menentang Tuhan dan memusuhi-Nya; mereka tidak benar-benar tunduk pada lingkungan yang Tuhan atur atau pada tuntutan-Nya. Pada akhirnya, kesudahan mereka akan sangat tragis" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa gagasan dan imajinasi manusia adalah hambatan dan batu sandungan yang menghalangi orang untuk menerapkan dan mendapatkan kebenaran. Selama periode ini, aku hidup dalam gagasan dan imajinasiku. Aku berpikir bahwa ketika melaksanakan pekerjaan, aku juga ingin meningkatkan efektivitas dan mempertimbangkan pekerjaan itu. Aku berpikir bahwa ketika melaksanakan pekerjaan, aku juga ingin meningkatkan efektivitas dan mempertimbangkan pekerjaan itu. Jadi aku percaya bahwa Tuhan seharusnya melindungiku dan memastikan semuanya berjalan lancar. Sekarang aku paham bahwa pikiranku sangat tidak logis. Di balik kondisi-kondisi yang diatur oleh Tuhan, terdapat pengaturan Tuhan yang cermat dan maksud baik Tuhan. Semua itu juga disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Meskipun beberapa kondisi mungkin tampak bertentangan dengan gagasan manusia, semuanya mengandung niat baik Tuhan. Kita seharusnya tidak menilai segala sesuatu hanya dari penampilannya. Aku harus berdiri di posisi makhluk ciptaan dan tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Aku merenungkan bahwa kali ini, kegagalanku dalam mengatur pertemuan dan melaksanakan pekerjaan sebenarnya mengandung perlindungan Tuhan. Ini karena belakangan aku mengetahui bahwa rumah yang kurencanakan untuk dijadikan tempat pertemuan ternyata berada di bawah pengawasan polisi. Untungnya, kami tidak jadi pergi ke sana. Kalau tidak, mungkin kami akan ditangkap atau diawasi, yang dapat melibatkanlebih banyak orang dan menyebabkan konsekuensi yang lebih serius. Setelah merenungkan hal ini dengan saksama, aku paham bahwa situasi ini tidak hanya memungkinkanku untuk melihat kedaulatan dan pengaturan Tuhan, tetapi juga membantuku untuk memahami diriku sendiri. Aku paham bahwa motivasiku dalam melaksanakan tugasku adalah untuk keuntunganku sendiri, bukan untuk menerapkan kebenaran demi memuaskan Tuhan. Ketika Tuhan mengatur kondisi yang tidak sesuai dengan gagasanku, aku menuntut dan mengeluh mengenai Tuhan tanpa alasan, menyingkapkan pemberontakan dan penentanganku terhadap Tuhan. Jika bukan karena keadaan seperti itu, aku tidak akan memiliki pemahaman tentang diriku sendiri, apalagi bertobat dan berubah. Aku menyadari bahwa semua ini adalah keselamatan Tuhan untukku. Mengingat bahwa saat ini banyak gereja di berbagai tempat sedang menghadapi penggerebekan polisi, dalam kondisi seperti itu, aku hanya bisa menindaklanjuti pekerjaan secara diam-diam. Meskipun pekerjaan yang dapat kulakukan terbatas, aku harus melakukan yang terbaik dengan segenap kekuatanku, mencari cara untuk mencapai hasil kerja yang lebih baik, dan memenuhi tanggung jawabku dalam konteks ini. Seperti yang Tuhan katakan: "Ada orang-orang yang berkata, 'Di tempat tertentu dengan lingkungan yang keras, kami tidak bisa berinteraksi dengan orang secara langsung. Bagaimana kami bisa melakukan pemeriksaan terhadap mereka?' Betapapun kerasnya lingkungan tersebut, tetap ada metode dan pendekatan untuk menangani masalah ini. Itu tergantung pada apakah engkau bertanggung jawab dan berkomitmen dengan tulus atau tidak. Bukankah demikian? (Ya.) Jika engkau memberikan loyalitas dan tanggung jawabmu, sekalipun hasilnya tidak ideal, Tuhan akan memeriksa dan mengetahuinya, dan engkau tidak harus mempertanggungjawabkannya. Namun, jika engkau tidak memberikan loyalitas dan tanggung jawabmu, sekalipun tidak terjadi hal buruk dan pada akhirnya tidak menimbulkan konsekuensi apa pun, Tuhan akan memeriksanya. Natur kedua cara ini berbeda, dan Tuhan akan memperlakukan keduanya secara berbeda" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Dua)). Mengingat bahwa saat ini saudara-saudari pada umumnya tidak dapat memberikan jawaban yang jelas mengenai gagasan keagamaan tertentu, aku berfokus pada beberapa gagasan utama dan mencari firman Tuhan yang relevan, kemudian menulis surat kepada mereka, berkomunikasi dengan mereka secara terperinci berdasarkan pemahamanku sendiri. Ketika saudara-saudari menghadapi masalah dan kesulitan dalam memberitakan injil, aku segera berkorespondensi untuk bersekutu dengan mereka. Melalui kerja sama selama beberapa waktu, efektivitas pemberitaan injil kami meningkat dibandingkan sebelumnya. Meskipun masih ada banyak masalah dalam pekerjaan, aku memiliki iman untuk bekerja sama. Puji Tuhan atas bimbingan-Nya!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Ujian melalui Keadaan yang Sulit

Oleh Saudara Junior, ZimbabweSejak kecil, aku selalu dipengaruhi oleh masyarakat. Aku senang mengikuti tindakan orang lain dalam semua yang...

Belajar Melalui Kerja Sama

Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Jika engkau ingin memenuhi tugasmu dengan benar dan memenuhi kehendak Tuhan, engkau harus terlebih dahulu...

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp