Tugas Tidak dapat Membuahkan Hasil Tanpa Prinsip
Oleh Saudari Shu Qin, TiongkokPada tahun 2021, aku terpilih menjadi pemimpin. Beberapa waktu kemudian, karena tuntutan pekerjaan, aku harus...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Suatu hari pada November 2020, kudengar seorang pemimpin gereja bernama Zhao Jun telah ditangkap oleh polisi. Karena aku cukup paham dengan situasi di gereja Zhao Jun, atasanku memintaku untuk pergi mencari tahu apa yang telah terjadi, bagaimana Zhao Jun ditangkap, dan untuk menangani buntut peristiwa itu tepat waktu. Setelah menerima tugas ini, aku merasa sedikit terintimidasi, berpikir, "Mengingat Zhao Jun baru saja ditangkap, akan berbahaya sekali bagiku untuk pergi ke gereja itu sekarang. Jika aku ditangkap oleh petugas yang mengintai gereja kita, apa yang akan terjadi padaku? Bukankah itu sama saja dengan masuk perangkap?" Namun kemudian aku teringat tentang Zhao Jun yang telah berhubungan dengan banyak orang dan keluarga-keluarga tuan rumah dan mereka semua pasti berada dalam bahaya karena Zhao Jun telah ditangkap. Aku tahu bahwa aku harus memberi tahu semua orang untuk segera mengambil tindakan pencegahan. Setelah mengambil keputusan, aku segera pergi ke gereja untuk memberi tahu saudara-saudari. Keesokan harinya, aku mengetahui bahwa telah terjadi insiden dengan dua keluarga tuan rumah yang kukunjungi di malam sebelumnya. Tak lama setelah aku pergi, ada satu keluarga yang digerebek dan pasangan suami istri dari keluarga lainnya juga ditangkap. Seandainya sedikit saja aku terlambat pergi, pasti aku telah ikut ditangkap. Pada bulan Desember, terjadi serangkaian penangkapan besar-besaran di berbagai gereja. Saudari yang menjadi mitraku, serta lebih dari 30 saudara-saudari, ditangkap satu per satu, termasuk para pemimpin dan pekerja. Ini merupakan situasi yang sangat berbahaya dan sangat penting bagiku untuk memberi tahu saudara-saudari lainnya yang menjadi sasaran bahaya terselubung bahwa mereka harus pergi bersembunyi dan memindahkan buku-buku firman Tuhan kepada orang lain untuk diamankan. Pada saat itu, kami telah kehilangan kontak dengan beberapa gereja tertentu, tidak ada rumah yang cocok untuk menyimpan buku-buku firman Tuhan dan harta milik gereja, dan beberapa dari saudara-saudari kami tidak memiliki akses ke rumah penampungan yang aman. Menghadapi situasi yang sulit seperti ini, aku merasa sangat lemah, takut dan gelisah. Sepertinya aku dapat ditangkap kapan saja. Kupikir, "Bagaimana jika aku ditangkap dan dipukuli sampai mati di usia yang begitu muda?" Aku menjalani sepanjang hari itu dengan wajah cemas dan hari-hari terasa berjalan sangat lambat. Aku terus bertanya-tanya kapan situasi ini akan berakhir. Saat itu, kudengar beberapa puluh polisi khusus dari kepolisian daerah telah tiba dengan tujuan khusus untuk menangkap orang-orang percaya. Aku menjadi makin gugup dan takut, berpikir, "aku sudah diburu untuk ditangkap, jadi bukankah dengan memindahkan buku-buku itu aku sama saja dengan menyerahkan diri ke polisi? Jika mereka membuntuti dan menangkapku, polisi pasti tidak akan membiarkan aku pergi dengan mudah. PKT dapat membunuh orang percaya tanpa bisa dipidanakan—Jika mereka menangkapku, akankah mereka memukuliku sampai mati? Aku telah percaya kepada Tuhan, meninggalkan dan mengorbankan diriku selama bertahun-tahun, semuanya hanya untuk dipukuli sampai mati? Akankah aku tetap dapat diselamatkan? Jika tidak, bukankah seluruh penderitaanku selama bertahun-tahun akan sia-sia? Jika aku dijatuhi hukuman penjara bertahun-tahun, bagaimana aku bisa bertahan hidup di penjara?" Aku tak sanggup membayangkan kehidupan di penjara, di mana orang lebih baik mati daripada harus hidup dalam kondisi seperti itu. Aku hidup dalam ketakutan yang terus-menerus dan tidak berani memindahkan buku-buku itu. Jadi aku menulis surat kepada saudara Li Yi, memintanya untuk memindahkan buku-buku itu sesegera mungkin. Namun, aku tak pernah mendapat jawaban darinya setelah menulis beberapa surat. Beberapa hari berlalu dan buku-buku itu masih belum dipindahkan. Aku khawatir atasanku akan menyalahkanku karena tidak bertanggung jawab atas tugasku, jadi aku meminta agar pemimpin itu menugaskan orang lain untuk menangani buntut peristiwa tersebut. Untuk menutupi maksud dan motif pribadiku, aku berkata bahwa tingkat pertumbuhanku kecil, bahwa aku tidak punya pengalaman dalam situasi ini, dan untuk aspek-aspek pekerjaan tertentu, aku perlu berdiskusi dan berkonsultasi dengan orang lain. Hal ini akan membuat pemimpin itu berpikir bahwa aku telah berupaya sebaik mungkin untuk bekerja sama dan terbeban dalam pekerjaan gereja. Dengan demikian, sekalipun timbul masalah, pemimpin itu tidak akan menyalahkanku. Segera setelah itu, pemimpinku menugaskan Saudari Yun Qing untuk bekerja bersamaku dalam menangani buntut peristiwa itu.
Setelah itu, situasi semakin menegangkan dari hari ke hari—laporan-laporan mengenai penangkapan saudara-saudari datang silih berganti dan aku pun mendengar bahwa polisi telah mendapatkan banyak informasi tentang saudara-saudari. Aku menulis surat kepada para pemimpin kelompok mendorong mereka untuk memberi tahu semua saudara-saudari untuk segera bersembunyi, tetapi keadaanku sama sekali tidak memungkinkan untuk aku mengkhawatirkan keselamatan saudara-saudari. Aku merasa sangat cemas dan takut, khawatir bahwa suatu hari nanti, aku pun akan ditangkap, jadi aku gagal melaksanakan beberapa pekerjaan spesifik, tidak memberi tahu orang-orang yang harus bersembunyi sebagaimana yang seharusnya kulakukan dan akibatnya, seorang saudari bernama Wong Lan ditangkap. Kemudian, dia dipulangkan dan meninggal dalam waktu 10 jam. Aku merasa sangat bersalah—seandainya aku berupaya sedikit lebih keras dan memenuhi tanggung jawabku untuk memberi tahu Wang Lan tepat waktu bahwa dia harus bersembunyi, mungkin dia tidak akan tertangkap dan meninggal. Aku bertanggung jawab atas penangkapan Wang Lan dan tidak ada alasan untuk itu.
Tidak lama setelah itu, atasanku menemuiku dengan sebuah laporan yang ditulis oleh saudara-saudari tentang aku, yang menyingkapkan bagaimana pada saat yang paling genting, aku gagal melindungi saudara-saudariku, tidak memindahkan buku-buku firman Tuhan tepat pada waktunya, secara egois dan hina melindungi diriku sendiri, dan tidak melindungi dan menjaga pekerjaan gereja. Kemudian pemimpin memberhentikanku saat itu juga. Aku menyadari bahwa selama waktu itu aku telah hidup dalam kepengecutan dan gagal melakukan pekerjaan nyata. Aku pantas untuk diberhentikan. Selama saat teduh dan perenunganku, aku menemukan bagian firman Tuhan ini: "Hal mendasar pertama yang harus dilakukan oleh para pemimpin dan pekerja adalah mengawasi dengan baik berbagai barang milik rumah Tuhan, melakukan pemeriksaan dengan semestinya dan menjaga rumah Tuhan, tidak membiarkan ada barang-barang apa pun rusak, diboroskan, atau diambil alih oleh orang-orang jahat. Ini adalah hal minimum yang harus mereka lakukan. Begitu engkau dipilih sebagai seorang pemimpin atau pekerja, rumah Tuhan menganggapmu sebagai pengurusnya: engkau termasuk kelas manajerial, dan tugas yang kaupikul lebih berat daripada orang lain. Engkau memikul tanggung jawab yang besar. Itulah sebabnya setiap sikapmu, setiap tindakanmu, setiap rencanamu untuk menangani masalah, dan setiap metodemu untuk menyelesaikan masalah, semuanya melibatkan kepentingan rumah Tuhan. Jika engkau bahkan tidak mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan atau tidak menganggapnya serius, engkau tidak layak menjadi pengurus rumah-Nya. ... Jadi, dalam hal memilih para pemimpin dan pekerja, jika dilihat dari sudut pandang kemanusiaan, apa hal paling mendasar yang harus mereka miliki? Mereka harus memiliki hati nurani dan rasa keadilan, serta motif mereka harus benar. Kemanusiaan mereka harus terlebih dahulu memenuhi standar. Sebanyak apa pun kemampuan kerja yang mereka miliki, atau setinggi apa pun kualitas yang mereka miliki, orang-orang semacam itu akan menjadi pengurus yang memenuhi standar jika mereka melayani sebagai pengawas. Setidaknya, mereka akan mampu menjunjung tinggi kepentingan rumah Tuhan dan kepentingan bersama saudara-saudari. Mereka sama sekali tidak akan mengkhianati kepentingan saudara-saudari, ataupun kepentingan rumah Tuhan. Ketika kepentingan rumah Tuhan dan saudara-saudari akan dirugikan atau dirusak, mereka akan memikirkannya terlebih dahulu, dan mereka akan menjadi yang pertama melangkah maju dan melindunginya, sekalipun hal itu akan memengaruhi keselamatan mereka sendiri, atau mengharuskan mereka membayar harga atau menderita. Semua ini adalah hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar. Beberapa pemimpin dan pekerja palsu bergegas mencari tempat yang aman untuk bersembunyi saat mereka menghadapi situasi yang berbahaya, tetapi terhadap barang-barang penting di rumah Tuhan—buku-buku firman Tuhan, ponsel, komputer, dan sebagainya—mereka tidak memedulikannya atau menanyakannya. Jika mereka khawatir tentang bagaimana penangkapan mereka akan memengaruhi situasi keseluruhan dari pekerjaan gereja, mereka dapat mengutus orang lain untuk menangani hal-hal ini, tetapi para pemimpin palsu ini bersembunyi hanya demi keselamatan mereka sendiri. Mereka ketakutan setengah mati, dan untuk memastikan keselamatan mereka sendiri, mereka tidak melakukan semampunya. Oleh karena itu, ada banyak situasi di mana kelalaian, kelambanan, dan sikap tidak bertanggung jawab para pemimpin palsu menyebabkan berbagai barang milik rumah Tuhan dan persembahan kepada Tuhan dijarah dan dirampas oleh si naga merah yang sangat besar saat situasi yang berbahaya muncul, yang menyebabkan kerugian besar. Ketika situasi tersebut baru terjadi di gereja, pemikiran pertama para pemimpin dan pekerja seharusnya adalah menempatkan peralatan dan barang-barang milik rumah Tuhan di tempat yang sesuai, menyerahkannya kepada orang-orang yang sesuai untuk dikelola; si naga merah yang sangat besar sama sekali tidak boleh dibiarkan untuk mengambilnya. Namun, para pemimpin palsu tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu; mereka tidak pernah mengutamakan kepentingan rumah Tuhan, sebaliknya mereka mengutamakan keselamatan mereka sendiri. Kegagalan para pemimpin palsu untuk melakukan pekerjaan nyata sering kali menyebabkan berbagai barang penting di rumah Tuhan mengalami kerugian atau kerusakan. Bukankah ini merupakan kelalaian tanggung jawab yang serius dari para pemimpin palsu?" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (11)"). Firman-firman Tuhan dengan jelas menjelaskan tentang tanggung jawab seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus memiliki rasa kemanusian dan keadilan, serta dapat dipercaya. Pada saat-saat genting, para pemimpin harus selalu melindungi saudara-saudari dan menjaga kitab-kitab firman Tuhan, bahkan jika itu berarti mengalami penderitaan dan mengorbankan kepentingan pribadi mereka. Para pemimpin palsu sangat egois dan tercela, serta jika mereka melaksanakan pekerjaan dari waktu ke waktu, itu selalu menjadi pekerjaan yang mereka sukai. Dalam segala hal, mereka mempertimbangkan kepentingan mereka sendiri dan sama sekali tidak pernah mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan. Orang-orang seperti itu memiliki karakter yang buruk dan Tuhan membenci mereka. Sebagai perbandingan, aku menyadari bahwa aku tidak ada bedanya dengan para pemimpin palsu yang disingkapkan oleh firman-firman Tuhan. Ketika penangkapan-penangkapan mulai terjadi di bebeapa gereja, aku menyerahkan pekerjaan berbahaya ini kepada orang lain, meminta Li Yi untuk memindahkan kitab-kitab, dan ketika dia tidak menanggapi surat-suratku tepat pada waktunya, aku tidak segera memindahkan kitab-kitab itu, melainkan menulis sebuah surat kepada pemimpin tinggiku yang menjelaskan bahwa aku memiliki tubuh yang kecil dan meminta pemimpin untuk menugaskan orang lain untuk melaksanakan pekerjaan itu. Aku membuat alasan untuk melindungi diriku dan menyerahkan pekerjaan yang berbahaya kepada orang lain dengan tujuan agar tidak membahayakan diriku sendiri. Ketika lingkungan kami semakin memburuk, aku tidak merasa seperti terlibat dalam penanganan dampaknya, sebaliknya aku ingin mengikuti arus dan bertindak seolah-olah aku sedang bekerja, melimpahkan pekerjaan dari atas, dan menyerahkan seluruh pekerjaan penanganan dampaknya kepada kelompok pemimpin, sehingga mereka terpaksa muncul serta menyelesaikan pekerjaan oleh mereka sendiri. Ketika aku mendengar bahwa Wang Lan terancam ditangkap, seharusnya aku segera menulis surat untuk mengingatkannya agar bersembunyi. Jika aku melakukanya, mungkin dia tidak akan tertangkap dan kehilangan nyawanya. Namun, aku hidup dalam ketakutan dan kecanggungan serta tidak memberi tahu orang-orang sebagaimana mestinya. Beberapa saudara-saudari menjadi lemah dan bersikap negatif, tetapi aku tidak bersekutu dan mendukung mereka. Aku mempertimbangkan bagaimana melindungi kepentinganku agar tidak dirugikan dalam segala situasi dan tidak sedikit pun memperhatikan pekerjaan gereja. Betapa egois dan hinanya diriku! Sebagai seorang pemimpin gereja, hal itu merupakan tanggung jawabku untuk melindungi orang-orang pilihan Tuhan dan kepentingan rumah Tuhan, tetapi pada saat genting aku mengabaikan tugasku. Aku egois, hina, hanya peduli pada diriku sendiri dan tidak memiliki sedikit pun hati nurani atau akal sehat. Akibatnya, saudariku ditangkap dan disiksa sampai mati, pekerjaan gereja tertunda dan aku melakukan pelanggaran kekal.
Kemudian, aku menemukan bagian dari firman-firman Tuhan ini: "Melaksanakan tugas seseorang bukanlah perkara sepele; justru dalam melaksanakan tugasnya, seseorang paling banyak disingkapkan, dan Tuhan menentukan kesudahan seseorang berdasarkan kinerjanya yang konsisten ketika melaksanakan tugasnya. Apa artinya ketika seseorang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik? Itu berarti mereka tidak menerima kebenaran atau tidak sungguh-sungguh bertobat, dan akan disingkirkan oleh Tuhan. Ketika pemimpin palsu dan pekerja palsu diberhentikan, apa yang ditunjukkan oleh hal tersebut? Itu adalah sikap rumah Tuhan terhadap orang-orang seperti itu, yang tentunya juga mencerminkan sikap Tuhan terhadap orang-orang tersebut. Jadi, bagaimana sikap Tuhan terhadap orang-orang yang tidak berguna ini? Tuhan membenci, menolak, mengutuk, dan menyingkirkan mereka. Jadi, apakah engkau semua masih ingin menikmati keuntungan dari status dan menjadi pemimpin palsu?" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (8)"). Setelah membaca firman-firman Tuhan, air mata mengalir di wajahku. Aku memahami bahwa pemberhentianku adalah tanda dari murka Tuhan dan merasa bahwa watak benar Tuhan tidak boleh disinggung. Mengingat kembali bagaimana aku selalu memikirkan keselamatanku sendiri, tidak melindungi pekerjaan gereja, tidak memikirkan keselamatan saudara-saudariku, mengakibatkan konsekuensi yang tidak dapat diubah, aku sangat menyesal. Meskipun keluar dari situasi sulit dalam keadaan baik, aku tidak memenuhi tanggung jawabku, telah melakukan pelanggaran yang tidak akan pernah dapat kutembus dan menyebabkan Tuhan membenciku serta memandang rendah diriku. Kesalahanku sendirilah yang membuatku telah dilaporkan oleh saudara-saudariku. Selama waktu itu, aku akan sering menangis ketika memikirkan hal ini dan membenci diriku karena begitu mendambakan kehidupan dan takut akan kematian. Setiap kali hal ini disinggung, hatiku terasa sakit seperti ditusuk-tusuk dan merasa bahwa aku berutang kepada Tuhan dan saudara-saudariku. Aku membenci diriku sendiri karena tidak lebih baik daripada binatang buas dan mengira bahwa tidak ada hukuman dari Tuhan yang terlalu berat untukku.
Setelah itu, aku mulai memahami mengapa aku selalu melindungi diriku sendiri ketika dihadapkan dengan situasi sulit. Aku menemukan bagian firman Tuhan ini: "Sebelum manusia mengalami pekerjaan Tuhan dan memahami kebenaran, natur Iblislah yang mengendalikan dan menguasai mereka dari dalam. Secara spesifik, apa yang terkandung dalam natur tersebut? Misalnya, mengapa engkau egois? Mengapa engkau mempertahankan posisimu? Mengapa engkau memiliki perasaan yang begitu kuat? Mengapa engkau menikmati hal-hal yang tidak benar? Mengapa engkau menyukai kejahatan? Apakah dasar kesukaanmu akan hal-hal seperti itu? Dari manakah asal hal-hal ini? Mengapa engkau begitu senang menerimanya? Saat ini, engkau semua telah memahami bahwa alasan utama di balik semua hal ini adalah karena racun Iblis ada di dalam diri manusia. Jadi, apakah racun Iblis itu? Bagaimana racun Iblis dapat disingkapkan? Misalnya, jika engkau bertanya, 'Bagaimana seharusnya orang hidup? Untuk apa seharusnya orang hidup?' Orang akan menjawab: 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya.' Satu frasa ini mengungkapkan sumber penyebab masalahnya. Falsafah dan logika Iblis telah menjadi kehidupan manusia. Apa pun yang orang kejar, mereka melakukannya demi diri mereka sendiri—oleh karena itu, mereka hidup hanya demi diri mereka sendiri. 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya'—ini adalah falsafah hidup manusia dan ini juga mewakili natur manusia. Perkataan ini telah menjadi natur manusia yang rusak dan perkataan ini adalah gambaran sebenarnya dari natur Iblis manusia yang rusak. Natur Iblis ini telah menjadi dasar bagi keberadaan manusia yang rusak. Selama ribuan tahun, manusia yang rusak telah hidup berdasarkan racun Iblis ini, hingga hari ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Menempuh Jalan Petrus"). Dengan membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa racun iblis "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya" telah berakar dalam diriku dan menjadi standarku untuk bagaimana aku bertindak sebagai seorang manusia. Ketika dihadapkan dengan bahaya, aku terus-menerus melindungi diriku dan tidak peduli terhadap rumah Tuhan, hanya mengkhawatirkan mengenai bagaimana aku dapat terhindar dari penangkapan dan mengalihkan pekerjaan berbahaya kepada orang lain. Yang dapat kupikirkan hanyalah keselamatan diriku sendiri. Aku merasa tidak ingin melakukan pekerjaan menangani buntut peristiwa itu, dan tidak memenuhi tanggung jawabku. Hanya karena pada akhirnya saudara-saudari lain tidak terlambat memindahkan buku-buku firman Tuhan sehingga kepentingan gereja tidak dirugikan. Aku hidup berdasarkan racun Iblis dan telah menjadi sangat egois, hina, serta sama sekali tidak memiliki kemanusian. Berkali-kali, aku gagal untuk menerapkan kebenaran, tidak memiliki kesetiaan sedikit pun terhadap tugasku dan Tuhan membenci serta jijik terhadap prilakuku. Jika aku tetap tidak bertobat dan berubah, aku akan kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Saat itulah aku menyadari betapa sangat rusaknya watakku dan bahwa pemberhentian ini merupakan cara Tuhan menyelamatkanku.
Kemudian, aku menemukan bagian firman Tuhan ini: "Bagaimanakah kematian para murid Tuhan Yesus? Di antara para murid, ada yang dirajam, diseret di belakang kuda, disalibkan terbalik, dikoyak-koyakkan oleh lima ekor kuda—berbagai jenis kematian menimpa mereka. Apakah alasan kematian mereka? Apakah mereka dihukum mati secara sah karena kejahatan mereka? Tidak. Mereka dikutuk, dipukuli, dicaci, dan dibunuh karena mereka mengabarkan Injil Tuhan dan ditolak oleh orang-orang dunia—dengan cara seperti itulah mereka menjadi martir. ... Sesungguhnya, begitulah tubuh mereka mati dan berakhir; itu adalah cara mereka meninggalkan dunia manusia, tetapi bukan berarti kesudahan mereka sama. Bagaimanapun cara kematian dan kepergian mereka, bagaimanapun itu terjadi, itu bukanlah cara Tuhan mendefinisikan kesudahan akhir dari hidup mereka, kesudahan akhir dari makhluk ciptaan tersebut. Ini adalah sesuatu yang harus kaupahami dengan jelas. Sebaliknya, mereka justru menggunakan cara-cara itu untuk mengutuk dunia ini dan untuk bersaksi tentang perbuatan-perbuatan Tuhan. Makhluk ciptaan ini menggunakan hidup mereka yang paling berharga—mereka menggunakan saat-saat terakhir hidup mereka untuk bersaksi tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, untuk bersaksi tentang kuasa Tuhan yang besar, dan untuk menyatakan kepada Iblis dan dunia bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan benar, bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, bahwa Dia adalah Tuhan, dan daging inkarnasi Tuhan. Bahkan hingga di saat terakhir hidup mereka, mereka tidak pernah menyangkal nama Tuhan Yesus. Bukankah ini suatu bentuk penghakiman terhadap dunia ini? Mereka menggunakan nyawa mereka untuk menyatakan kepada dunia, untuk menegaskan kepada manusia bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus, bahwa Dia adalah daging inkarnasi Tuhan, bahwa pekerjaan penebusan seluruh umat manusia yang Dia lakukan memungkinkan manusia ini untuk terus hidup—fakta ini tidak akan berubah selamanya. Mengenai mereka yang menjadi martir karena mengabarkan Injil Tuhan Yesus, sampai sejauh mana mereka melaksanakan tugas mereka? Apakah sampai ke taraf tertinggi? Bagaimana taraf tertinggi itu diwujudkan? (Mereka mempersembahkan nyawa mereka.) Benar, mereka membayar harga dengan nyawa mereka" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menyebarkan Injil adalah Tugas yang Wajib Semua Orang Percaya Laksanakan"). Firman Tuhan dengan gamblang menjelaskan makna menjadi martir bagi Tuhan. Para rasul dan murid Tuhan Yesus setia kepada Tuhan sampai mati dan menyerahkan hidup mereka yang berharga untuk menyebarkan injil Tuhan. Mereka menggunakan hidup mereka untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan bersaksi tentang pekerjaan penebusan Tuhan bagi umat manusia. Atas nama menyebarkan injil Tuhan Yesus, Stefanus dirajam sampai mati dan Petrus disalib terbalik. Meskipun tubuh mereka binasa, kematian mereka sangat berarti dan terhormat. Tuhan memuji bagaimana mereka menggunakan hidup mereka untuk menjadi saksi bagi-Nya. Sekarang anggota gereja sedang dihadapkan dengan penganiayaan yang parah dan ditangkap serta beberapa saudara-saudari disiksa dan dianiaya setelah ditangkap, tetapi mereka tidak menyerah kepada Iblis dan lebih memilih masuk penjara daripada mengkhianati Tuhan. Adapun Wang Lan, dia memilih mati daripada menjadi Yudas. Sebaliknya, dalam situasi itu aku hanya memikirkan keselamatanku sendiri, mengutamakan hidupku di atas segalanya, tidak memiliki kesetiaan sedikit pun pada tugasku dan tidak memenuhi tanggung jawabku. Meskipun aku tidak ditangkap dan hidupku terselamatkan, aku tidak menjadi kesaksian sama sekali dan sungguh memalukan untuk tetap hidup. Aku merasa sangat bersalah dan tidak mau lagi menjalani kehidupan yang hina dan tanpa tujuan seperti ini. Aku juga menyadari bahwa Tuhan menggunakan si naga merah yang sangat besar untuk melayani dan mengenali siapa orang percaya sejati dan siapa orang percaya palsu, yang menjadi kesaksian dan yang tidak dan kemudian memisahkan masing-masing berdasarkan jenisnya. Inilah hikmat dari pekerjaan Tuhan. Setelah menyadari hal ini, aku bertekad untuk melaksanakan tugasku dengan baik dan tetap teguh dalam kesaksianku untuk Tuhan. Aku berdoa kepada Tuhan, berkata, "Ya Tuhan, selama ini aku sangat egois dan hina. Karena takut ditangkap dan disiksa, aku tidak melindungi pekerjaan gereja dan melakukan pelanggaran kekal. Kelak, apa pun situasi yang kuhadapi, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi kepentingan gereja. Aku tidak akan lagi menjalani kehidupan yang hina dan tanpa tujuan. Aku bersedia menyerahkan nyawaku ke dalam tangan-Mu dan tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Mu."
Beberapa bulan kemudian, aku terpilih lagi menjadi seorang pemimpin gereja. Setelah baru melaksanakan tugasku selama beberapa hari, aku menerima surat dari atasanku yang isinya menginformasikan bahwa PKT telah mendapatkan fotoku dari rekaman CCTV. Pemimpin menyarankanku untuk tidak memperlihatkan wajahku di depan umum kecuali benar-benar diperlukan. Setelah menerima surat itu, aku merasa sedikit khawatir, tetapi hal itu tidak mempengaruhi caraku melaksanakan tugas. Jika pekerjaan mengharuskanku keluar, aku hanya akan sedikit menyamarkan diriku, lalu keluar untuk melaksanakan tugas. Tak lama setelah itu, beberapa saudara-saudari di gerejaku ditangkap dan sekali lagi aku harus menangani buntut peristiwanya. Aku menyadari bahwa Tuhan sedang mengujiku. Meskipun merasa sedikit khawatir dan prihatin, aku teringat betapa egois dan hinanya aku di masa lalu, menyerahkan pekerjaan berbahaya kepada orang lain, meninggalkan noda permanen pada catatanku dengan Tuhan dan menjadi bahan tertawaan Iblis—dihadapkan dengan situasi saat ini, aku harus bertobat dan berhenti hidup seperti yang kulakukan di masa lalu. Aku berdoa kepada Tuhan di dalam hati, berkata bahwa aku bersedia mengandalkan-Nya untuk menangani buntut peristiwa tersebut sesegera mungkin. Setelah itu, aku segera membuat pengaturan terperinci dengan para pemimpin kelompok agar buku-buku firman Tuhan dipindahkan dan saudara-saudari segera berhasil memindahkan semua buku. Menerapkan dengan cara ini, aku merasa jauh lebih tenang dan tahu bahwa ketenangan ini berasal dari Tuhan. Dua bulan kemudian, lebih dari 10 saudara-saudari ditangkap, termasuk seorang mantan pemimpin gereja. Dihadapkan dengan situasi seperti ini, aku tidak fokus dalam menjaga keselamatanku sendiri seperti yang dahulu kulakukan, sebaliknya mengandalkan Tuhan untuk menangani buntut peristiwanya, melindungi saudara-saudariku dan mencegah agar kepentingan rumah Tuhan dirugikan. Aku berkonsultasi dengan rekan-rekan kerjaku mengenai cara terbaik untuk segera memberi tahu saudara-saudari untuk bersembunyi dan memindahkan buku-buku. Dengan kerja sama saudara-saudari, semua buku itu berhasil dipindahkan. Mendengar kabar baik itu, aku merasa sangat bahagia dan bersyukur kepada Tuhan atas bimbingan-Nya! Aku mengingat kembali bagaimana dahulu, aku selalu melindungi kepentinganku sendiri di setiap situasi, melalaikan tugasku dan tersingkap sebagai seorang pemimpin palsu. Kali ini, akhirnya aku tidak lagi dikekang oleh rasa takut akan kematian dan mampu menerapkan kebenaran serta memenuhi tanggung jawabku. Berkat firman Tuhan-lah aku mampu mengalami perubahan ini.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudari Shu Qin, TiongkokPada tahun 2021, aku terpilih menjadi pemimpin. Beberapa waktu kemudian, karena tuntutan pekerjaan, aku harus...
Pada awal November tahun 2022, kondisi pandemi di tempatku melaksanakan tugas menjadi makin serius, dan dalam waktu beberapa hari, beberapa...
Xiaocao Kota Changzhi, Provinsi Shanxi Suatu hari, aku melihat sepenggal kalimat berikut ini di dalam perikop firman Tuhan: "Selama...
Oleh Saudari Yong Sui, Korea Dalam pemilihan di gereja belum lama ini, aku terpilih sebagai pemimpin. Aku terkejut saat mendengar ini dan...