Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Pulangnya Sebuah Hati yang Mengembara

235

Oleh Novo, Filipina

Namaku Novo, dan aku dari Filipina. Aku telah mengikuti ibuku dalam kepercayaannya kepada Tuhan sejak aku kecil, dan mendengarkan khotbah di gereja dengan saudara-saudari kandungku. Walaupun aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, aku merasa bahwa aku belum mengalami perubahan apa pun dan bahwa aku sama seperti seorang yang tidak percaya. Dalam hati, aku terus-menerus berpikir tentang bagaimana menghasilkan lebih banyak uang, dan bagaimana menghabiskan hari-hariku dalam kenyamanan dan menikmati hidup yang menyenangkan. Selain itu, aku juga minum dengan teman-temanku sepanjang waktu, dan ketika aku punya uang lebih aku akan berjudi. Aku tahu bahwa melakukan hal-hal ini bertentangan dengan kehendak Tuhan—aku sering berdoa kepada Tuhan dan mengakui dosa-dosaku, dan menyatakan tekad kuatku kepada-Nya bahwa aku akan menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk itu dan tidak akan pernah berdosa lagi sejak hari itu. Namun, karena bujukan dan godaan teman-temanku, aku sama sekali tidak dapat mengendalikan diriku sendiri. Maka, aku menjadi semakin rusak, dan hatiku semakin menjauh dari Tuhan, tidak ada lagi ketulusan dalam doa-doaku. Setiap minggu aku berdoa sambil lalu agar cepat selesai saja. Kadang, aku merasa benar-benar putus asa karena aku tahu bahwa saat Tuhan datang kembali Dia akan menghakimi masing-masing dan setiap orang berdasarkan tindakan dan perilaku mereka, dan lalu menentukan apakah mereka akan naik ke surga atau jatuh ke neraka. Aku merasa begitu bobrok hingga Tuhan tidak akan mengampuniku lagi. Aku kemudian menikah dan punya anak, dan satu-satunya yang kupikirkan adalah istri dan anak-anakku. Aku telah mengesampingkan imanku untuk waktu yang lama. Guna memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anakku dan guna mewujudkan hasratku untuk menjadi kaya, aku memutuskan untuk bekerja di luar negeri, yang menjadi alasanku pergi ke Taiwan. Setelah mendapat pekerjaan, gaya hidupku tetap tidak berubah. Di waktu senggangku, aku pergi dengan rekan-rekan sekerjaku untuk minum dan bernyanyi karaoke, menjalani hidup yang penuh dengan foya-foya; sudah sejak lama aku mengabaikan keyakinanku kepada Tuhan.

Pada tahun 2011, aku bekerja sebagai seorang tukang las di sebuah pabrik di Taiwan. Pada suatu hari di tahun 2012, seorang rekan di Taiwan mengetahui bahwa aku seorang Katolik, sehingga dia mengundangku ikut Misa di gerejanya. Suatu hari Minggu pagi, dia datang untuk menjemputku dari pabrik dan mengajakku ke rumah temannya. Di sanalah, aku bertemu dengan Saudara Joseph. Dia bertanya kepadaku: “Saudara, apakah engkau percaya pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya?” Aku menjawab bahwa aku percaya. Dia kemudian bertanya kepadaku: “Tahukah engkau pekerjaan yang akan Tuhan Yesus lakukan ketika Dia datang kembali?” Aku menjawab: “Aku percaya bahwa ketika Tuhan Yesus datang kembali, Dia akan duduk di atas takhta putih yang sangat besar dan menghakimi umat manusia. Setiap orang akan memberi pertanggungjawaban atas dosa-dosa mereka sembari berlutut di hadapan kursi penghakiman, dan kemudian Tuhan akan memutuskan apakah mereka akan naik ke surga atau turun ke neraka berdasarkan tindakan dan perbuatan mereka.” Saudara Joseph kemudian bertanya kepadaku: “Bagaimana jika kukatakan kepadamu bahwa Tuhan Yesus sudah datang dan saat ini sedang melakukan pekerjaan penghakiman-Nya pada akhir zaman, sehingga menggenapi nubuat bahwa ‘penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan,’ apakah engkau akan memercayainya?” Aku sangat terkejut saat mendengarnya mengatakan ini. Aku berpikir: “Apakah Tuhan Yesus sudah datang kembali? Bagaimana mungkin? Aku belum melihat takhta putih yang sangat besar muncul di langit, dan aku belum melihat Tuhan turun di atas awan putih. Namun, dia mengatakan bahwa Tuhan telah datang kembali untuk melakukan pekerjaan penghakiman-Nya, sehingga menggenapi nubuat bahwa ‘penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan.‘ Hal itu masuk akal. Hikmat Tuhan tak terselami bagi manusia, jadi aku lebih baik terus mencari.” Aku kemudian menjawab, “Saudara, aku tidak berani mengatakan apakah Tuhan Yesus sudah datang kembali atau belum, maka tolong jelaskan hal ini kepadaku.” Mereka kemudian membuka sejumlah perikop dalam Alkitab terkait dengan nubuat tentang kembalinya Tuhan dan bagaimana Dia melakukan pekerjaan penghakiman-Nya yang mereka bacakan kepadaku. Misalnya, bacaan dari pasal 4, ayat 17 dalam Surat Rasul Petrus yang Pertama yang mengatakan: “Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan” Dan juga pasal 16, ayat 12-13 dalam Injil Yohanes: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu.” Saudara Joseph mengatakan “Roh Kebenaran” ini merujuk pada kembalinya Tuhan dan pengungkapan kebenaran-Nya serta pekerjaan penghakiman-Nya. Tuhan akhir zaman telah datang kembali dalam daging sebagai Anak Manusia. Di atas fondasi pekerjaan penebusan-Nya pada Zaman Kasih Karunia, Dia mengungkapkan kebenaran dan melakukan tahap pekerjaan penghakiman-Nya yang dimulai dari rumah Tuhan. Pada kenyataannya, pekerjaan penghakiman ini adalah pekerjaan untuk menyucikan dan menyelamatkan manusia seutuhnya. Hal ini dengan tepat menggenapi nubuat Tuhan Yesus: “Dan kalau ada orang yang mendengar perkataan-Ku, dan tidak percaya, Aku tidak menghakiminya: karena Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan dunia. Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya: firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya di akhir zaman” (Yohanes 12:47,48). “Karena Bapa tidak menghakimi siapa pun, tetapi telah menyerahkan seluruh penghakiman itu kepada Anak” (Yohanes 5:22). “Dan Dia juga sudah memberikan kepada-Nya otoritas untuk mengadakan penghakiman, karena Dia adalah Anak Manusia” (Yohanes 5:27). Dengan penuh perhatian, aku mendengarkan persekutuan saudara Joseph, dan aku percaya bahwa semua pesan yang dibagikannya kepadaku benar karena aku percaya bahwa semua nubuat Tuhan harus digenapi, bahwa nubuat-nubuat itu pasti menjadi kenyataan.

Setelah itu, Saudara Joseph membacakan bagiku dua perikop lagi dari firman Tuhan Yang Mahakuasa: “Pekerjaan penghakiman adalah pekerjaan Tuhan sendiri, jadi sewajarnya harus dilakukan oleh Tuhan sendiri; Pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh manusia atas nama-Nya. Karena penghakiman adalah penaklukan ras manusia melalui kebenaran, tidak diragukan lagi bahwa Tuhan tetap muncul sebagai gambar inkarnasi untuk melakukan pekerjaan-Nya di antara manusia. Dengan kata lain, di akhir zaman, Kristus akan menggunakan kebenaran untuk mengajar manusia di seluruh bumi dan mengungkapkan semua kebenaran kepada mereka. Inilah pekerjaan penghakiman Tuhan.” “Di akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan hakikat manusia, dan membedah kata-kata dan perbuatan-perbuatannya. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia harus menaati Tuhan, bagaimana setia kepada Tuhan, bagaimana menghidupi kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan lain-lain. Firman ini semuanya ditujukan pada hakikat manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan karena manusia merupakan perwujudan Iblis dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan bukannya begitu saja menjelaskan tentang sifat manusia hanya dengan beberapa kata. Dia menyingkapkannya, menanganinya, dan memangkasnya sekian lama. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan kata-kata biasa, tetapi dengan kebenaran yang tidak dimiliki oleh manusia sama sekali. Hanya cara-cara seperti ini yang dianggap penghakiman, hanya melalui penghakiman jenis ini manusia bisa ditundukkan dan diyakinkan sepenuhnya untuk tunduk kepada Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan. Tujuan pekerjaan penghakiman agar manusia mengetahui wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkan manusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami manusia. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua hasil ini dicapai melalui pekerjaan penghakiman, karena substansi pekerjaan ini adalah pekerjaan membukakan kebenaran, jalan, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan” (“Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Setelah membaca firman ini, Saudara Joseph membagikan kepadaku banyak kebenaran mengenai pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman. Aku jadi mengerti bahwa pekerjaan Tuhan sangat praktis dan sama sekali tidak supernatural, bahwa pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman sama sekali tidak seperti pernah kubayangkan. Aku sebelumnya membayangkan Tuhan menaruh sebuah meja raksasa di angkasa, dengan Tuhan duduk di atas takhta putih yang sangat besar dan semua umat manusia berlutut di hadapan-Nya. Kemudian, Tuhan akan menyebutkan dosa-dosa kita satu per satu untuk menentukan apakah kita baik atau jahat, dan memutuskan apakah kita akan naik ke surga atau dilemparkan ke neraka. Sebaliknya, Tuhan telah menjadi daging dan telah datang ke dunia untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang praktis, untuk menghakimi dosa-dosa manusia, dan untuk menyingkapkan kebenaran terkait kerusakan manusia, dan juga natur dan esensinya. Saudara Joseph melanjutkan persekutuannya dengan memberi tahu kami bahwa watak jahat kami, seperti kecongkakan dan sikap merasa diri penting, kebengkokan dan kelicikan kami, serta keegoisan dan kehinaan kami, semuanya mesti menjalani penghakiman Tuhan sebelum kami dapat disucikan. Hasil utama dari pekerjaan penghakiman Tuhan adalah agar kami bisa menyadari kenajisan dan kerusakan kami sendiri, keburukan dan kejahatan kami, dan melihat esensi kami yang menentang dan mengkhianati Tuhan, agar kami bisa mengetahui bahwa kami telah dirusak begitu dalam oleh Iblis, bahwa kami dipenuhi oleh watak yang jahat, bahwa kami adalah perwujudan Iblis, dan bahwa kami seharusnya binasa. Hanya dengan cara ini kami dapat membenci dan mengutuk diri kami sendiri, dan meninggalkan Iblis untuk selamanya. Tambahan pula, hal itu terjadi sehingga, di dalam penghakiman dan hajaran firman Tuhan, kami jadi mengenal watak Tuhan yang benar, kudus dan tak bisa disinggung. Kami kemudian dapat secara tidak sadar mengembangkan sebuah hati yang takut akan Tuhan, tidak pernah lagi berani untuk sembrono tidak mematuhi dan menentang Tuhan, dan mampu meninggalkan daging kami, dan melakukan kebenaran. Begitu watak hidup kami telah mengalami perubahan, kami akan mampu untuk sungguh-sungguh menaati dan menyembah Tuhan. Dan begitu kami memperoleh berbagai aspek kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan pada akhir zaman, kami akan sepenuhnya disucikan dan diselamatkan oleh Tuhan, dan layak untuk dibawaTuhan masuk ke dalam kerajaan-Nya. Mereka yang menolak untuk menerima pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman tidak akan mampu mendapatkan penyucian Tuhan—pada akhirnya, mereka hanya akan disingkirkan oleh pekerjaan Tuhan, dan akan kehilangan kesempatan untuk diselamatkan dan masuk ke dalam kerajaan surga. Setelah mendengar persekutuan Saudara Joseph, aku merasa bahwa pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan manusia begitu benar dan praktis!

Aku terpikir tentang bagaimana aku telah percaya pada Tuhan selama bertahun-tahun dan walaupun aku sering mengakui dosa-dosaku kepada Tuhan dan bertobat, aku kemudian tetap berdosa, berbohong, berbuat curang, berlaku bengkok dan licik, dan bahkan sering menyingkapkan watak jahatku yang sangat menganggap diri penting, congkak, dan merasa diri benar. Aku terus-menerus hidup dalam lingkaran berdosa dan mengaku, mengaku dan berdosa—aku hidup dalam rasa sakit yang luar biasa. Kini, Tuhan sudah datang untuk melakukan pekerjaan penghakiman dan penyucian-Nya pada akhir zaman, dan dan ini sangat dibutuhkan oleh umat manusia yang rusak. Mereka yang percaya kepada Tuhan dan yang dosa-dosanya telah diampuni masih membutuhkan penyucian oleh pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman. Alkitab menyatakan, “karena tanpa kekudusan, tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Tuhan itu kudus. Jika hanya dosa-dosa kita yang diampuni, tetapi natur berdosa kita dan watak jahat kita tidak dimurnikan, maka setiap saat kita masih sanggup untuk berbuat dosa dan menentang Tuhan, untuk seringkali mengeluh atau bahkan mengkhianati Tuhan. Bagaimana bisa kita, yang dipenuhi oleh kenajisan dan kerusakan seperti itu, layak memandang wajah Tuhan? Baru pada saat itulah aku merasakan di dalam hatiku betapa amat pentingnya pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman! Akan jadi begitu tidak realistis, begitu tidak praktis jika Tuhan datang dan mengangkat setiap orang ke angkasa untuk bertemu dengan-Nya sesuai dengan gagasan dan khayalan manusia! Saudara Joseph kemudian menceritakan kepadaku pengalaman dan kesaksiannya tentang bagaimana dia menerima penghakiman dan dan hajaran Tuhan. Aku sungguh merasa bahwa persekutuannya mengandung pencerahan dan penerangan Roh Kudus. Mendengarkan uraiannya sangatlah mendidik, dan aku percaya bahwa Tuhan Yesus pasti benar-benar telah datang kembali. Karenanya, aku memutuskan untuk mencari dan menyelidiki pekerjaan Tuhan pada akhir zaman sehingga aku tidak akan kehilangan kesempatan untuk menyambut kedatangan Tuhan.

Setelah itu, Saudara Joseph memberiku sebuah salinan Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia, dan aku sangat gembira. Ketika aku kembali ke asramaku malam itu, aku mulai membaca firman Tuhan dan aku membacanya sepanjang malam. Aku membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa berikut ini: “Mulutmu penuh dengan kata-kata tipuan dan kekejian, pengkhianatan dan kesombongan. Belum pernah engkau ucapkan kata-kata tulus kepada-Ku, tak ada kata-kata kudus, tak ada kata-kata penyerahan diri kepada-Ku saat engkau mengalami firman-Ku. Jadi, seperti apakah imanmu itu? Hatimu dipenuhi dengan hasrat dan kekayaan, pikiranmu dipenuhi dengan harta benda. Setiap hari engkau memperhitungkan bagaimana mendapatkan sesuatu dari-Ku, berapa banyak kekayaan dan harta benda yang telah kau peroleh dari-Ku. Setiap hari engkau semua menantikan lebih banyak berkat diturunkan kepadamu, sehingga engkau semua bisa menikmati, lebih banyak dan lebih baik lagi, hal-hal yang bisa dinikmati. Bukan Aku yang berada dalam pikiranmu di setiap waktu, juga bukan kebenaran yang bersumber dari-Ku, melainkan suami (istri)mu, putra dan putrimu, atau apa yang engkau makan dan pakai, dan bagaimana kenikmatanmu bisa lebih banyak dan lebih baik lagi. Bukankah pada saat kenyang pun engkau semua tidak jauh beda dengan mayat? Bahkan saat engkau semua berdandan dengan elok, bukankah engkau semua tetap seperti mayat hidup yang tidak memiliki kehidupan? Engkau semua bersusah-payah demi mengisi perut hingga rambutmu dipenuhi uban, tetapi tak seorang pun darimu yang mengorbankan sehelai rambut pun demi pekerjaan-Ku. Engkau semua selalu sibuk, menempa tubuh dan mengasah otakmu demi kepentingan dagingmu dan demi putra-putrimu, tetapi tak seorang pun yang menunjukkan kekhawatiran ataupun kepedulian terhadap kehendak-Ku. Apa lagi yang masih engkau semua inginkan dari-Ku?” (“Banyak yang Dipanggil, tetapi Sedikit yang Dipilih” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Yang dinyatakan oleh firman ini tepat sekali dengan situasi dalam hidupku, dan memang begitulah yang sungguh kurasakan dalam hatiku. Firman ini seperti pedang bermata dua yang menembus ke dalam hatiku yang mati rasa. Aku tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat menyelidiki lubuk terdalam hati manusia, dan hanya Tuhan yang dapat menyatakan kebenaran tentang kerusakan umat manusia dan apa yang tersembunyi di kedalaman hati manusia. Aku merasa bahwa firman ini adalah perkataan Roh Kudus, dan firman ini ialah suara Tuhan. Dari firman Tuhan, aku menjadi tahu bahwa walaupun aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan aku seringkali mengaku dosa dan bertobat kepada Tuhan, sifatku yang penuh dosa dan watakku yang jahat belum disucikan dan belum berubah sama sekali. Aku sekadar mengakui nama Tuhan, tetapi tidak ada tempat bagi Tuhan di hatiku, dan aku pun tidak mengorbankan diriku sendiri atau bekerja bagi Tuhan. Aku terus-menerus terperangkap dalam bagaimana menghasilkan lebih banyak uang, bagaimana meningkatkan kenikmatan dagingku, dan bagaimana aku bisa membuat keluargaku hidup dengan lebih makmur, tidak pernah sekali pun mengarahkan diriku sendiri untuk sesuai dengan kehendak Tuhan. Aku bahkan tahu bahwa aku sering berdusta dan berdosa tetapi aku tidak memikirkannya. Aku selalu percaya bahwa Tuhan selamanya adalah Tuhan yang penyayang, selamanya berbelas kasih, dan bahkan jika aku berdosa, Dia akan mengampuni dosa-dosaku, berbelas kasih kepadaku dan memberkatiku. Baru setelah membaca perkataan-perkataan yang diungkapkan Tuhan pada akhir zaman ini, aku melihat watak Tuhan yang benar dan kudus, dan aku sadar bahwa watak Tuhan adalah sesuatu yang tidak boleh ditentang oleh siapa pun. Penghakiman dan hajaran firman Tuhan membangkitkan rasa hormat bagi-Nya di dalam diriku dan aku meratapi masa laluku sendiri. Aku tersungkur di hadapan Tuhan dan menangis pilu: “Ya Tuhan, aku telah memberontak terhadap-Mu, membohongi-Mu dan menentang-Mu dalam banyak hal, dan aku tidak layak untuk datang ke hadapan-Mu. Semua yang kulakukan layak diganjar dengan hukuman belaka. Ya Tuhan, syukur kepada-Mu karena memberiku kesempatan untuk bertobat dan diselamatkan. Mulai dari sekarang, aku akan melakukan sekuat kemampuanku untuk mencari kebenaran, menjalankan tugasku dengan baik dan membalas kasih-Mu.” Setelah aku berdoa, aku meneguhkan tekadku: Aku harus menerima penghakiman Tuhan dan mengubah hidupku yang terdiri dari berdosa dan mengaku dosa; aku harus lebih banyak membaca firman Tuhan dan lebih banyak merenungkannya sehingga aku bisa lebih mengerti kebenaran serta memiliki kekuatan untuk meninggalkan dagingku, melakukan kebenaran, dan memenuhi kehendak Tuhan.

Sejak saat itu, aku membawa Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia denganku ke tempat kerja sehingga aku dapat membaca dan merenungkan firman Tuhan selama istirahat. Dari firman Tuhan Yang Mahakuasa, aku menyadari betapa rusak dan memberontaknya perilaku dan pemikiranku. Kemudian, aku membaca firman Tuhan berikut yang mengatakan: “Engkau harus berdoa, secara bertahap, sesuai dengan keadaanmu yang sebenarnya dan apa yang harus dilakukan oleh Roh Kudus, dan engkau harus bersekutu dengan Tuhan supaya bisa melakukan kehendak Tuhan dan tuntutan-Nya terhadap manusia. Ketika engkau memulai kebiasaan berdoa, pertama-tama berikanlah hatimu kepada Tuhan. Jangan berusaha memahami kehendak Tuhan; coba saja mengucapkan kata-kata dalam hatimu kepada Tuhan. Ketika engkau datang ke hadapan Tuhan, katakan: ‘Ya Tuhan! Baru hari ini aku sadar bahwa aku dahulu tidak taat pada-Mu. Aku benar-benar rusak dan penuh cela. Sebelumnya, aku hanya membuang-buang waktuku; mulai hari ini aku akan hidup untuk-Mu, aku akan menjalani kehidupan yang bermakna, dan memenuhi kehendak-Mu. Aku ingin agar Roh-Mu selalu bekerja di dalam diriku, dan selalu menerangi dan mencerahkan aku, sehingga aku dapat memberikan kesaksian yang kuat dan agungdi hadapan-Mu, sehingga Iblis dapat melihat kemuliaan-Mu, kesaksian-Mu, dan bukti kemenangan-Mu di dalam diri kami.’ Ketika engkau berdoa dengan cara demikian, hatimu akan sepenuhnya dibebaskan, setelah berdoa dengan cara demikian, hatimu akan lebih dekat dengan Tuhan” (“Tentang Penerapan Doa” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Di dalam firman Tuhan, aku menemukan jalan penerapan untuk memperbaiki watakku yang rusak, dan aku mulai dengan sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan dengan hati yang tulus, membuka diri kepada Tuhan mengenai watakku yang rusak dan mengatakan kepada Tuhan di dalam hatiku mengenai apa yang kuharapkan akan kucapai. Aku memohon kepada-Nya untuk membimbingku sehingga aku dapat hidup menurut firman-Nya. Melalui doa-doa semacam ini, aku merasa bahwa Tuhan memimpinku dan memberiku pencerahan, dan hatiku jadi dipenuhi dengan iman dan kekuatan. Aku tidak lagi hidup seperti cara hidupku sebelumnya, dan aku pun tidak lagi bertindak sesuai dengan pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan yang rusak yang ada dalam hatiku. Hidupku telah berubah; hidupku bukan lagi hidup bobrok yang kujalani sebelumnya yang terdiri dari berbuat dosa dan mengaku dosa, tetapi sebaliknya aku benar-benar hidup di hadapan Tuhan, dan aku telah memperoleh pemeliharaan dan perlindungan Tuhan.

Pada bulan Juli 2014, aku kembali ke Filipina, dan baru saat itulah aku menyadari bahwa Tuhan juga telah memilih banyak saudara-saudari di Filipina. Aku begitu bahagia. Kini, aku mempersekutukan firman Tuhan dengan saudara-saudariku di gereja, kami menghayati kehidupan gereja, dan kami membantu dan menyokong satu sama lain. Kami semua mengupayakan kebenaran; kami berusaha untuk mengubah watak kami dan diselamatkan oleh Tuhan. Kami juga menjadi saksi tentang pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman kepada orang-orang di negara kami sendiri dan juga di negara-negara lain sehingga mereka mengetahui bahwa Tuhan Yesus sudah datang kembali dan mereka bisa, seperti kami, beroleh keselamatan Tuhan di akhir zaman. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa! Aku kini memiliki hidup yang diperkaya dan bahagia. Aku telah sepenuhnya membebaskan diriku sendiri dari kehidupan bobrok dan bejat yang kujalani sebelumnya. Tuhan Yang Mahakuasalah yang telah memimpinku untuk menemukan tujuan dan arah hidupku. Aku merasa bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menjalani hidup yang bermakna!

 

 

media terkait