Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Bagaimana seseorang dapat mengetahui watak dan esensi Tuhan?

1

2. Bagaimana seseorang dapat mengetahui watak dan esensi Tuhan?

Firman Tuhan yang Relevan:

Manusia sering mengatakan tidak mudah mengenal Tuhan. Namun, Aku katakan bahwa mengenal Tuhan tidaklah sulit sama sekali, karena Tuhan sering membiarkan manusia menyaksikan perbuatan-Nya. Tuhan tidak pernah berhenti berdialog dengan umat manusia; Dia tidak pernah menyembunyikan diri-Nya dari manusia, atau menyembunyikan diri-Nya sendiri. Pikiran, gagasan, firman, dan perbuatan-Nya, semua dinyatakan kepada umat manusia. Oleh karena itu, selama manusia ingin mengenal Tuhan, ia bisa memahami dan mengenal Dia lewat segala macam cara dan metode. Alasan mengapa manusia dengan buta berpikir bahwa Tuhan dengan sengaja menghindarinya, bahwa Tuhan dengan sengaja menyembunyikan diri-Nya dari umat manusia, bahwa Tuhan tidak berniat membiarkan manusia memahami dan mengenal-Nya, adalah karena ia tidak tahu siapa Tuhan itu, juga karena ia tidak ingin memahami Tuhan, bahkan ia tidak peduli dengan pikiran, perbuatan, firman Sang Pencipta … Sejujurnya, jika seseorang hanya menggunakan waktu luangnya untuk berfokus dan memahami firman dan perbuatan Sang Pencipta dan mencurahkan sedikit perhatian pada pikiran Sang Pencipta dan suara hati-Nya, tidak akan sulit bagi mereka untuk menyadari bahwa pikiran, perkataan, dan tindakan Sang Pencipta terlihat dan transparan. Begitu juga, akan dibutuhkan sedikit usaha untuk menyadari bahwa Sang Pencipta ada di antara manusia selama ini, bahwa Dia selalu berbicara dengan manusia dan seluruh ciptaan dan Dia melakukan perbuatan yang baru setiap harinya. Hakikat dan watak-Nya diungkapkan dalam dialog-Nya dengan manusia; pikiran dan gagasan-Nya dinyatakan sepenuhnya dalam perbuatan-Nya; Dia menemani dan menyelidiki umat manusia sepanjang waktu. Dia berbicara diam-diam kepada umat manusia dan seluruh ciptaan dengan firman-Nya yang lembut dan tenang: Aku ada di surga dan Aku berada di antara ciptaan-Ku. Aku mengawasi; Aku menunggu, Aku ada di sisi-Mu …

dari “Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Mengenal substansi Tuhan bukanlah urusan yang remeh. Engkau sekalian harus memahami watak-Nya. Dengan cara ini, engkau sekalian akan, secara bertahap dan tanpa sadar, belajar mengenal substansi Tuhan.

dari “Sangatlah Penting untuk Memahami Watak Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Watak Tuhan adalah topik yang sepertinya sangat abstrak bagi setiap orang dan bahkan topik yang tidak mudah diterima oleh setiap orang, karena watak-Nya tidaklah seperti kepribadian manusia. Tuhan juga memiliki perasaan sukacita, marah, kesedihan, dan kebahagiaan-Nya sendiri, tetapi perasaan-perasaan ini berbeda dengan emosi-emosi manusia. Tuhan adalah siapa Ia sendiri dan Dia memiliki apa yang dimiliki-Nya sendiri. Segala sesuatu yang diungkapkan-Nya dan dinyatakan-Nya merupakan perwujudan dari substansi-Nya dan identitas-Nya. Siapa Ia dan apa yang dimiliki-Nya, serta substansi-Nya dan identitas-Nya, adalah hal-hal yang tak tergantikan oleh manusia mana pun. Watak-Nya meliputi kasih-Nya kepada manusia, penghiburan bagi manusia, kebencian kepada manusia, dan yang lebih lagi, pemahaman yang menyeluruh mengenai umat manusia. … Watak Tuhan adalah watak yang dimiliki oleh Sang Penguasa seluruh makhluk hidup di antara segala sesuatu, oleh Tuhan Sang Pencipta Segalanya. Watak-Nya mencerminkan kehormatan, kuasa, kemuliaan, kebesaran, dan yang terutama, kedaulatan. Watak-Nya adalah lambang otoritas, lambang segala sesuatu yang benar, simbol segala sesuatu yang indah dan baik. Bahkan, ini adalah lambang bahwa Tuhan tidak bisa[a]

dikalahkan atau dijajah oleh kekuatan kegelapan dan musuh mana pun, selain juga lambang diri-Nya sendiri yang tidak bisa disinggung (serta tidak membiarkan diri-Nya disinggung)[a]

oleh makhluk ciptaan mana pun. Watak Tuhan adalah lambang kekuasaan yang tertinggi. Tak ada orang, atau orang-orang, yang bisa atau boleh mengganggu pekerjaan Tuhan maupun watak-Nya.

dari “Sangatlah Penting untuk Memahami Watak Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Sukacita Tuhan terletak pada keberadaan dan kebangkitan kebenaran dan terang; karena hancurnya kegelapan dan kejahatan. Tuhan bersukacita karena Dia telah membawa terang dan kehidupan yang baik bagi umat manusia; sukacita-Nya adalah sukacita benar, lambang keberadaan segala sesuatu yang positif dan lebih jauh lagi, lambang keberuntungan. Murka Tuhan bangkit karena ketidakadilan dan gangguan yang diakibatkannya, yang mencelakai umat manusia milik-Nya; karena keberadaan kejahatan dan kegelapan, karena keberadaan hal-hal yang menyingkirkan kebenaran, dan lebih jauh lagi, karena keberadaan hal-hal yang melawan semua yang baik dan indah. Murka-Nya adalah lambang yang menunjukkan bahwa segala sesuatu yang negatif tidak ada lagi dan bahkan, itulah lambang kekudusan-Nya. Kesedihan Tuhan disebabkan oleh umat manusia, yang kepadanya Dia telah memiliki pengharapan, tetapi yang telah jatuh ke dalam kegelapan, karena pekerjaan yang dilakukan-Nya bagi manusia tidak memberikan hasil sesuai dengan harapan-Nya, dan karena umat manusia yang dikasihi-Nya itu tidak semuanya bisa hidup dalam terang. Tuhan merasa sedih karena umat manusia yang tak berdosa, yang jujur tetapi bebal, dan yang baik tetapi kurang memiliki pandangan. Kesedihan-Nya adalah lambang kebaikan-Nya dan belas kasihan-Nya, lambang keindahan dan kebaikan hati. Sukacita-Nya, tentu saja, timbul karena menaklukkan musuh-musuh-Nya dan mendapatkan iman yang baik dari manusia. Lebih jauh lagi, sukacita Tuhan muncul dari lenyapnya dan hancurnya seluruh kekuatan musuh, dan karena umat manusia menerima kehidupan yang baik dan damai. Sukacita Tuhan tidak sama dengan sukacita manusia; sebaliknya, ini adalah perasaan mengumpulkan buah yang baik, perasaan yang bahkan lebih besar daripada sukacita biasa. Sukacita Tuhan adalah simbol terbebasnya umat manusia dari penderitaan sejak saat ini sampai selamanya, dan lambang masuknya umat manusia ke dalam dunia terang.

dari “Sangatlah Penting untuk Memahami Watak Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Apakah kebenaran Tuhan adalah kekudusan-Nya? Apakah kesetiaan Tuhan adalah kekudusan-Nya? Apakah ketidakegoisan Tuhan adalah kekudusan-Nya? Apakah kerendahan hati Tuhan adalah kekudusan-Nya? Apakah kasih Tuhan bagi manusia adalah kekudusan-Nya? Tuhan menganugerahkan kebenaran dan kehidupan kepada manusia secara cuma-cuma—apakah ini adalah kekudusan-Nya? (Ya.) Semua kekudusan yang dinyatakan oleh Tuhan itu unik; kekudusan itu tidak ada pada manusia yang telah rusak, juga tidak dapat terlihat di sana. Tidak sedikit pun jejaknya dapat terlihat selama proses perusakan manusia oleh Iblis, tidak juga dalam watak Iblis yang rusak maupun dalam hakikat atau sifat Iblis. Pribadi Tuhan dan segala yang dimiliki Tuhan itu unik dan hanya Tuhan sendiri yang memiliki hakikat semacam ini, hanya Tuhan sendiri yang memiliki esensi semacam ini.

dari “Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Kepunyaan dan wujudTuhan, hakikat Tuhan, watak Tuhan—semuanya telah diberitahukan kepada umat manusia dalam firman-Nya. Ketika ia mengalami firman Tuhan, manusia dalam proses melaksanakannya akan mengerti tujuan di balik firman yang dinyatakan Tuhan, dan mengerti sumber dan latar belakang firman Tuhan, dan mengerti dan menghargai dampak yang dikehendaki dari firman Tuhan. Bagi umat manusia, inilah hal-hal yang harus dialami, dipahami, dan dimasuki manusia supaya bisa terhubung dengan kebenaran dan kehidupan, memahami maksud Tuhan, diubahkan wataknya, dan bisa tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Pada saat yang sama manusia mengalami, memahami, dan memasuki hal-hal tersebut, secara bertahap ia akan mendapatkan pemahaman akan Tuhan, dan pada saat itu ia juga akan mendapatkan pengenalan akan-Nya dalam tingkatan yang berbeda. Pengertian dan pengenalan ini tidak datang dari hal yang dibayangkan atau dibuat manusia, melainkan dari apa yang ia hargai, alami, rasakan, dan bangun dalam dirinya sendiri. Hanya ketika ia telah menghargai, mengalami, merasakan, dan membangun hal-hal tersebutlah pengenalan manusia tentang Tuhan menjadi memiliki bobot, hanya pengetahuan yang ia dapatkan pada saat inilah yang aktual, nyata, dan akurat, dan proses ini—mendapatkan pengertian dan pemahaman sejati akan Tuhan melalui penghargaan, pengalaman, perasaan, dan pembangunan firman-Nya—tidak lain merupakan persekutuan sejati antara manusia dan Tuhan. Di tengah persekutuan seperti ini, manusia sungguh-sungguh mengerti dan paham niat Tuhan, sungguh-sungguh mengerti dan mengetahui kepunyaan dan keberadaan Tuhan, benar-benar mengerti dan mengetahui hakikat Tuhan, perlahan-lahan mengerti dan mengetahui watak Tuhan, mencapai kepastian yang nyata, dan definisi yang benar akan fakta mengenai kekuasaan Tuhan di atas segala ciptaan, dasar yang benar dan pengenalan akan jati diri dan kedudukan Tuhan. Di tengah persekutuan seperti ini, manusia sedikit demi sedikit mengubah pemikirannya tentang Tuhan, tidak lagi membayangkan-Nya dari ketiadaan, atau berprasangka terhadap-Nya, atau menyalahpahami-Nya, atau mengutuki-Nya, atau menghakimi-Nya, atau meragukan-Nya. Akibatnya, manusia tidak akan sering berdebat dengan Tuhan, ia tidak akan sering berkonflik dengan Tuhan, dan tidak akan sering terjadi kejadian di mana ia membangkang terhadap Tuhan. Sebaliknya, kepedulian dan ketundukan manusia terhadap Tuhan akan semakin bertumbuh, dan pemujaan-Nya terhadap Tuhan akan semakin nyata sekaligus semakin dalam. Di tengah persekutuan yang seperti ini, manusia tidak hanya akan memeroleh kebenaran dan baptisan kehidupan, tetapi di saat yang sama juga mendapatkan pengenalan yang benar akan Tuhan. Di tengah persekutuan yang seperti ini, manusia tidak akan hanya diubahkan wataknya dan memperoleh keselamatan, di waktu yang sama ia juga akan mendapatkan pemujaan dan penyembahan yang sejati terhadap Tuhan sebagai makhluk ciptaan. Dengan memiliki persekutuan yang seperti ini, iman manusia tidak lagi serupa kertas kosong, atau janji manis belaka, atau berupa pengejaran dan pemberhalaan buta; hanya dengan persekutuan yang seperti inilah kehidupan manusia akan bertumbuh hari demi hari menuju kedewasaan, dan hanya pada saat itulah wataknya akan perlahan-lahan diubahkan, dan imannya kepada Tuhan akan perlahan-lahan berubah dari kepercayaan yang samar dan tidak pasti menjadi ketundukan dan kepedulian sejati, menjadi pemujaan yang nyata; manusia juga akan, dalam pengejarannya terhadap Tuhan, secara bertahap berubah dari pasif menjadi aktif, dari orang yang menerima tindakan menjadi orang yang mengambil tindakan positif; hanya dengan persekutuan yang seperti inilah manusia bisa mencapai pengertian dan pemahaman sejati akan Tuhan, pengenalan sejati akan Tuhan.

dari “Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut Akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Tidak peduli berada pada tahapan mana pengalamanmu, engkau tidak bisa dipisahkan dari firman Tuhan atau kebenaran, dan apa yang engkau pahami akan watak Tuhan dan apa yang engkau ketahui tentang apa yang Ia punya dan siapa Ia, semuanya dinyatakan dalam firman Tuhan. Semua itu tidak dapat dipisahkan dan terhubung dengan kebenaran. Watak Tuhan, lalu apa yang Ia punya dan siapa Ia dengan sendirinya adalah kebenaran. Kebenaran merupakan perwujudan yang autentik dari watak Tuhan juga apa yang Ia punya dan siapa Ia. Ini menjadikan apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu suatu hal yang konkret dan secara terbuka mengungkapkannya. Secara langsung hal itu memberitahumu tentang apa yang Tuhan sukai, apa yang tidak Ia sukai, apa yang Ia ingin engkau lakukan dan apa yang tidak Ia izinkan untuk engkau lakukan, orang-orang seperti apa yang Ia benci dan orang-orang seperti apa yang Ia kasihi. Di balik kebenaran yang Tuhan ungkapkan orang dapat melihat kepuasan-Nya, kemarahan-Nya, kesedihan-Nya, dan kebahagian-Nya, juga hakikat-Nya—ini adalah pengungkapan dari watak-Nya. Selain mengetahui apa yang Tuhan miliki dan siapa Tuhan itu, dan selain mengetahui watak-Nya dari firman-Nya, yang paling penting adalah perlunya mencapai pemahaman ini melalui pengalaman nyata. Jika seseorang menjauhkan diri mereka dari kehidupan nyata demi mengenal Tuhan, mereka tidak akan bisa mencapai itu. Bahkan jika ada orang-orang yang dapat memperoleh sebagian pemahaman dari firman Tuhan, pengertian ini terbatas pada teori dan ucapan, dan akan berbeda dengan bagaimana Tuhan itu sebenarnya.

dari “Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Catatan kaki:

a. Teks aslinya berbunyi “ini adalah simbol ketidakmampuan untuk …”

b. Teks aslinya berbunyi “juga merupakan simbol ketidakmampuan untuk disinggung (dan tidak membiarkan diri disinggung).”

media terkait