Apa arti mengenal Tuhan, dan apakah pemahaman tentang pengetahuan alkitabiah dan teori teologis memenuhi syarat untuk dianggap sebagai pengetahuan tentang Tuhan?

10 Februari 2019

Firman Tuhan yang Relevan:

Apa artinya mengenal Tuhan? Itu berarti mampu memahami sukacita, kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan-Nya; inilah artinya mengenal Tuhan. Engkau berkata bahwa engkau telah melihat Dia, tetapi engkau tidak memahami sukacita, kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan-Nya dan engkau tidak memahami watak-Nya. Engkau juga tidak memahami kebenaran-Nya ataupun belas kasihan-Nya, dan engkau tidak tahu apa yang disukai atau dibenci-Nya. Ini bukanlah mengenal Tuhan. Oleh karena itu, beberapa orang dapat mengikuti Tuhan, tetapi mereka belum tentu mampu benar-benar percaya kepada-Nya; di sinilah terletak perbedaannya. Jika engkau mengenal Tuhan, memahami-Nya, dan mampu memahami sebagian kehendak-Nya, engkau pun dapat benar-benar percaya kepada-Nya, benar-benar tunduk kepada-Nya, benar-benar mengasihi-Nya, dan benar-benar menyembah-Nya. Jika engkau tidak memahami perkara-perkara ini, maka engkau adalah orang yang ikut-ikutan yang semata-mata berjalan dan mengikuti orang banyak. Itu tidak dapat disebut penyerahan diri atau penyembahan yang benar. Bagaimana penyembahan yang benar terjadi? Tanpa kecuali, semua orang yang benar-benar mengenal Tuhan, mereka menyembah dan menghormati Dia kapan pun mereka melihat-Nya; mereka semua terdorong untuk bersujud dan menyembah Dia. Sekarang ini, sementara Tuhan yang berinkarnasi sedang bekerja, semakin besar pemahaman yang manusia miliki tentang watak-Nya dan tentang apa yang dimiliki-Nya dan siapa Dia, semakin mereka akan menghargai hal-hal ini dan semakin mereka akan menghormati Dia. Secara umum, semakin kurang pemahaman yang manusia miliki, semakin ceroboh mereka, sehingga mereka memperlakukan Tuhan sebagai manusia. Jika manusia benar-benar mengenal dan melihat Tuhan, mereka akan gemetar ketakutan. "Itulah Dia, yang datang sesudah aku. Dia lebih utama daripadaku, aku pun tidak layak melepaskan tali kasutnya"—mengapa Yohanes mengatakan ini? Meskipun jauh di lubuk hatinya dia tidak memiliki pemahaman yang sangat mendalam, dia tahu bahwa Tuhan itu menakjubkan. Berapa banyak orang sekarang ini yang dapat menghormati Tuhan? Jika mereka tidak mengenal watak-Nya, lalu bagaimana mungkin mereka dapat menghormati Tuhan? Manusia tidak mengetahui esensi Kristus ataupun memahami watak Tuhan, apalagi dapat sungguh-sungguh menyembah Tuhan. Jika mereka hanya melihat penampilan lahiriah Kristus yang biasa dan normal, tetapi tidak mengetahui esensi-Nya, maka mudah bagi mereka untuk memperlakukan Kristus hanya sebagai manusia biasa. Mereka mungkin bersikap tidak hormat kepada-Nya dan dapat menipu-Nya, menentang-Nya, tidak menaati-Nya, dan menghakimi-Nya. Mereka dapat bersikap merasa diri benar dan tidak memperlakukan firman-Nya secara serius; mereka bahkan dapat memunculkan gagasan, kutukan, dan hujatan terhadap Tuhan. Untuk menyelesaikan masalah-masalah ini, manusia harus mengetahui esensi dan keilahian Kristus. Inilah aspek utama dari mengenal Tuhan; inilah hal yang harus dimasuki dan dicapai oleh semua orang yang percaya kepada Tuhan yang nyata.

Dikutip dari "Cara Mengenal Tuhan yang Berinkarnasi" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"

Apa yang harus engkau ketahui tentang Tuhan yang praktis? Roh, Pribadi, dan Firman adalah Tuhan yang praktis itu sendiri, dan ini adalah makna sejati dari Tuhan yang praktis. Jika engkau hanya mengenal Pribadi-Nya—jika engkau mengetahui kebiasaan dan kepribadian-Nya—tetapi tidak mengenal pekerjaan Roh, atau apa yang dilakukan Roh dalam daging, dan jika engkau hanya memperhatikan Roh, dan Firman, dan hanya berdoa di hadapan Roh, tetapi tidak mengetahui pekerjaan Roh Tuhan di dalam Tuhan yang praktis, ini membuktikan bahwa engkau tidak mengenal Tuhan yang praktis. Pengetahuan tentang Tuhan yang praktis meliputi pengenalan dan pengalaman akan firman-Nya, serta pemahaman akan peraturan-peraturan dan prinsip-prinsip pekerjaan Roh Kudus, dan cara Roh Tuhan bekerja di dalam daging. Ini juga termasuk mengetahui bahwa setiap tindakan Tuhan di dalam daging dipimpin oleh Roh, dan bahwa firman yang diucapkan-Nya adalah ungkapan langsung Roh. Dengan demikian, untuk mengenal Tuhan yang praktis, hal yang terpenting adalah mengetahui cara Tuhan bekerja dalam kemanusiaan dan keilahian; hal ini, pada gilirannya, berkaitan dengan ungkapan-ungkapan Roh, yang dengannya semua orang terlibat.

Dikutip dari "Engkau Harus Tahu Bahwa Tuhan yang Praktis adalah Tuhan itu Sendiri" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Proses mengenal firman Tuhan adalah proses mengenal Tuhan dan pekerjaan-Nya. Jadi, mengetahui penglihatan tidak hanya mengacu pada mengenal kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi, tetapi juga termasuk mengenal firman dan pekerjaan Tuhan. Dari firman Tuhan-lah manusia memahami kehendak Tuhan, dan dari pekerjaan Tuhan-lah mereka mengenal watak Tuhan dan siapa Dia. Percaya kepada Tuhan adalah langkah awal untuk mengenal Tuhan. Proses maju dari kepercayaan awal kepada Tuhan ini kepada kepercayaan yang paling mendalam kepada-Nya adalah proses untuk mengenal Tuhan, proses mengalami pekerjaan Tuhan. Jika engkau hanya percaya kepada Tuhan demi memercayai Tuhan, dan bukan demi mengenal-Nya, artinya tidak ada kenyataan pada imanmu, dan imanmu tidak bisa menjadi murni—dalam hal ini tidak ada keraguan. Jika, selama proses mengalami pekerjaan Tuhan, manusia secara berangsur-angsur mulai mengenal Tuhan, wataknya akan sedikit demi sedikit berubah, dan kepercayaannya akan menjadi semakin benar. Dengan cara ini, ketika manusia mencapai keberhasilan dalam kepercayaannya kepada Tuhan, dia akan sepenuhnya mendapatkan Tuhan. Alasan mengapa Tuhan mengerahkan upaya-Nya yang sedemikian besar untuk menjadi manusia kedua kalinya untuk melakukan pekerjaan-Nya secara pribadi adalah agar manusia dapat mengenal Dia dan melihat-Nya. Mengenal Tuhan[a] adalah dampak akhir yang harus dicapai pada akhir dari pekerjaan Tuhan; inilah persyaratan terakhir yang Tuhan tuntut dari umat manusia. Alasan mengapa Dia melakukan ini adalah demi kesaksian terakhir-Nya; Dia melakukan pekerjaan ini agar manusia akhirnya dapat sepenuhnya berbalik kepada-Nya. Manusia hanya bisa mengasihi Tuhan dengan mengenal Dia, dan untuk mengasihi Tuhan, dia harus mengenal Tuhan. Bagaimanapun dia mencari, atau apa yang ingin dia dapatkan, dia harus mampu mencapai pengetahuan tentang Tuhan. Hanya dengan cara inilah manusia dapat memuaskan hati Tuhan. Dengan mengenal Tuhan barulah manusia dapat memiliki iman yang sejati kepada Tuhan, dan dengan mengenal Tuhan barulah dia dapat benar-benar menghormati dan menaati Tuhan. Mereka yang tidak mengenal Tuhan tidak akan pernah sampai pada ketaatan dan penghormatan yang sejati kepada Tuhan. Mengenal Tuhan mencakup mengenal watak-Nya, memahami kehendak-Nya, dan mengetahui siapa Dia. Namun, aspek mana pun yang mulai diketahui orang, setiap aspek mengharuskan manusia untuk membayar harga dan menuntut kerelaan untuk taat, sebab tanpanya tak seorang pun akan mampu terus mengikuti sampai akhir.

Dikutip dari "Hanya Mereka yang Mengenal Tuhan yang Bisa Menjadi Kesaksian bagi Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Ketiga tahap pekerjaan adalah inti keseluruhan pengelolaan Tuhan, dan di dalam ketiganya terungkap watak Tuhan dan siapa diri-Nya. Mereka yang tidak mengetahui ketiga tahap pekerjaan Tuhan ini, tidaklah mampu untuk menyadari bagaimana Tuhan mengungkapkan watak-Nya, mereka juga tidak mengetahui hikmat dari pekerjaan Tuhan. Mereka juga tetap tidak tahu tentang berbagai cara Tuhan menyelamatkan manusia, dan tentang kehendak-Nya bagi seluruh umat manusia. Ketiga tahap pekerjaan adalah pengungkapan penuh dari pekerjaan menyelamatkan manusia. Mereka yang tidak mengetahui ketiga tahap pekerjaan ini tidak akan mengetahui berbagai metode dan prinsip dari pekerjaan Roh Kudus, dan mereka yang hanya secara kaku mematuhi doktrin yang tersisa dari satu tahap pekerjaan tertentu adalah orang-orang yang membatasi Tuhan dengan doktrin, dan yang kepercayaannya kepada Tuhan sangatlah samar dan tidak pasti. Orang-orang seperti itu tidak akan pernah menerima penyelamatan Tuhan. Hanya ketiga tahap pekerjaan Tuhan-lah yang dapat sepenuhnya mengungkapkan seluruh watak Tuhan dan sepenuhnya mengungkapkan maksud Tuhan dalam menyelamatkan seluruh umat manusia, dan seluruh proses penyelamatan manusia. Ini adalah bukti bahwa Dia telah mengalahkan Iblis dan mendapatkan manusia; ini adalah bukti kemenangan Tuhan, dan merupakan pengungkapan seluruh watak Tuhan. Mereka yang memahami hanya salah satu dari ketiga tahap pekerjaan Tuhan hanyalah mengetahui sebagian dari watak Tuhan. Dalam gagasan manusia, akan mudah bagi satu tahap pekerjaan ini untuk menjadi doktrin, dan menjadi besar kemungkinannya bagi manusia untuk menetapkan aturan baku tentang Tuhan, dan menggunakan satu bagian dari watak Tuhan ini sebagai representasi dari keseluruhan watak Tuhan. Lebih jauh lagi, banyak dari imajinasi manusia yang tercampur di dalamnya, sampai sedemikian rupa hingga manusia dengan kaku membatasi watak, keberadaan, dan hikmat Tuhan, juga prinsip-prinsip pekerjaan Tuhan, di dalam tolok ukur yang terbatas, meyakini bahwa jika Tuhan pernah seperti ini, berarti Dia akan tetap sama sepanjang waktu dan tidak akan pernah berubah. Hanya mereka yang mengetahui dan menghargai ketiga tahap pekerjaan Tuhan yang bisa mengenal Tuhan dengan lengkap dan akurat. Setidaknya mereka tidak akan mendefinisikan Tuhan sebagai Tuhan atas orang Israel, atau orang Yahudi, dan tidak akan memandang-Nya sebagai Tuhan yang akan selamanya terpaku di kayu salib demi manusia. Jika orang hanya mengenal Tuhan dari satu tahap pekerjaan-Nya, pengetahuan mereka itu terlalu kecil, dan jumlahnya tidak lebih dari setetes air di tengah samudra. Jika tidak demikian, mengapa banyak pengawal tua yang agamawi memakukan Tuhan hidup-hidup di kayu salib? Bukankah itu karena manusia membatasi Tuhan dalam tolok ukur tertentu? Bukankah banyak orang menentang Tuhan dan merintangi pekerjaan Roh Kudus karena mereka tidak mengetahui berbagai dan beragam pekerjaan Tuhan, dan lebih jauh lagi, karena mereka memiliki sedikit sekali pengetahuan dan doktrin yang mereka gunakan untuk mengukur pekerjaan Roh Kudus? Meskipun pengalaman orang-orang seperti ini dangkal, pada dasarnya, mereka congkak dan berpuas diri dan mereka memandang rendah pekerjaan Roh Kudus, mengabaikan pendisiplinan Roh Kudus, dan lebih dari itu, menggunakan argumen mereka yang usang dan remeh untuk "menegaskan" pekerjaan Roh Kudus. Mereka juga berlagak, dan sepenuhnya yakin akan pembelajaran dan pendidikan rohani mereka sendiri, dan yakin bahwa mereka bisa menjelajahi dunia. Bukankah orang-orang seperti ini adalah mereka yang dipandang hina dan ditolak oleh Roh Kudus, dan bukankah mereka akan disingkirkan oleh zaman yang baru? Bukankah mereka yang datang ke hadapan Tuhan dan menentang-Nya secara terbuka adalah orang-orang kecil yang bodoh dan tidak tahu apa-apa, yang hanya mencoba menunjukkan betapa pintarnya mereka? Dengan hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Alkitab, mereka berusaha menguasai "ilmu" dunia; dengan hanya memiliki doktrin yang dangkal untuk mengajar orang, mereka berusaha memutarbalikkan pekerjaan Roh Kudus, dan berupaya membuat pekerjaan Roh Kudus itu hanya berkisar di sekitar proses berpikir mereka sendiri. Dengan pandangan mereka yang sempit, mereka berusaha melihat 6.000 tahun pekerjaan Tuhan dalam sekilas pandang saja. Orang-orang ini tidak punya akal sehat apa pun yang layak untuk disebutkan! Sebenarnya, semakin besar pengetahuan orang tentang Tuhan, semakin lambat mereka menghakimi pekerjaan-Nya. Selain itu, mereka hanya akan berbicara sedikit tentang pengetahuannya mengenai pekerjaan Tuhan pada zaman sekarang, tetapi mereka tidak terburu-buru dalam menghakimi. Semakin sedikit pengetahuan orang tentang Tuhan, semakin mereka congkak dan terlalu percaya diri, dan semakin sembarangan mereka membuat pernyataan tentang wujud Tuhan—tetapi mereka hanya membicarakan teori, dan tidak menawarkan bukti nyata. Orang-orang seperti ini sama sekali tidak ada nilainya. Mereka yang memandang pekerjaan Roh Kudus sebagai permainan adalah orang yang sembrono! Mereka yang tidak berhati-hati ketika menghadapi pekerjaan baru Roh Kudus, yang terlalu banyak bicara, yang terlalu cepat menghakimi, yang memberi kebebasan pada naluri alami mereka untuk menyangkal kebenaran pekerjaan Roh Kudus, dan yang juga menghina dan menghujatnya—bukankah orang-orang yang tidak hormat ini tidak tahu apa pun tentang pekerjaan Roh Kudus? Bukankah, lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang sangat congkak, yang pada dasarnya sombong dan tak dapat diatur? Bahkan jika tiba saatnya di mana orang-orang seperti ini menerima pekerjaan baru dari Roh Kudus, Tuhan tetap tidak akan menoleransi mereka. Mereka bukan saja memandang rendah orang-orang yang bekerja untuk Tuhan, tetapi mereka juga menghujat Tuhan itu sendiri. Orang-orang dungu seperti ini tidak akan diampuni, baik di zaman ini maupun di zaman yang akan datang, dan mereka akan selamanya binasa di neraka! Orang-orang yang tidak hormat dan manja ini berpura-pura percaya kepada Tuhan, dan semakin orang-orang bersikap seperti ini, semakin besar kemungkinan mereka untuk melanggar ketetapan administratif Tuhan. Bukankah semua orang congkak yang pada dasarnya tak terkendali, dan yang tidak pernah mematuhi siapa pun itu, semuanya berjalan di jalan seperti ini? Bukankah mereka menentang Tuhan hari demi hari, Tuhan yang selalu baru dan tidak pernah usang?

Dikutip dari "Mengenal Tiga Tahap Pekerjaan Tuhan adalah Jalan untuk Mengenal Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Seberapa pun banyaknya pemahaman tentang Tuhan dalam hati orang, sebesar itu pula posisi yang Dia miliki dalam hati mereka. Seberapa pun besarnya pengenalan akan Tuhan dalam hati mereka, sebesar itulah Tuhan dalam hati mereka. Jika Tuhan yang engkau kenal itu kosong dan samar, Tuhan yang engkau percayai juga kosong dan samar. Tuhan yang engkau kenal terbatas pada ruang lingkup kehidupan pribadimu sendiri, dan tidak ada urusannya dengan Tuhan yang sejati itu sendiri. Dengan demikian, mengenal tindakan praktis Tuhan, mengenal kenyataan Tuhan dan kemahakuasaan-Nya, mengenal identitas sejati Tuhan itu sendiri, mengenal apa yang Dia miliki dan siapa Dia, mengenal tindakan-tindakan yang telah Dia tunjukkan di antara segala sesuatu yang Dia ciptakan—semua ini sangat penting bagi setiap orang yang mengejar pengenalan akan Tuhan. Semua itu memiliki pengaruh langsung pada apakah orang dapat memasuki kebenaran kenyataan. Jika engkau membatasi pemahamanmu akan Tuhan hanya pada firman, jika engkau membatasinya dengan pengalaman kecilmu sendiri, dengan apa yang engkau anggap sebagai kasih karunia Tuhan, atau sedikit kesaksianmu tentang Tuhan, maka Aku mengatakan bahwa Tuhan yang engkau percayai sama sekali bukanlah Tuhan yang sejati itu sendiri. Bukan hanya itu, tetapi bisa juga dikatakan bahwa Tuhan yang engkau percayai adalah Tuhan yang imajiner, bukan Tuhan yang sejati. Ini karena Tuhan yang sejati adalah Pribadi yang berkuasa atas segala sesuatu, yang berjalan di antara segala sesuatu, yang mengelola segala sesuatu. Dialah Pribadi yang memegang nasib seluruh umat manusia dan segala sesuatu di tangan-Nya. Pekerjaan dan tindakan Tuhan yang Aku bicarakan tidak hanya terbatas pada sebagian kecil orang. Yang berarti, pekerjaan dan tindakan-Nya tidak terbatas hanya pada orang-orang yang saat ini mengikuti-Nya. Tindakan-Nya ditunjukkan di antara segala sesuatu, dalam kelangsungan hidup segala sesuatu, dan dalam hukum perubahan segala sesuatu.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik IX" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Semua orang Kristen yang mempelajari teologi, Kitab Suci, dan bahkan sejarah pekerjaan Tuhan —apakah mereka orang-orang percaya yang sejati? Apakah mereka berbeda dari orang-orang percaya dan para pengikut Tuhan yang Tuhan bicarakan? Di mata Tuhan, apakah mereka percaya kepada Tuhan? (Tidak.) Mereka mempelajari teologi, mereka mempelajari tentang Tuhan. Adakah perbedaan antara orang-orang yang mempelajari tentang Tuhan ini dan mereka yang mempelajari hal-hal lainnya? Tidak ada. Mereka sama saja dengan orang-orang yang mempelajari sejarah, filsafat, hukum, biologi, atau astronomi—hanya saja mereka tidak menyukai sains, atau biologi, atau mata pelajaran lainnya; mereka hanya menyukai teologi. Orang-orang ini mempelajari tentang Tuhan dengan mencari petunjuk-petunjuk dan informasi yang menyingkapkan pekerjaan Tuhan—dan apa hasil dari penelitian mereka? Dapatkah mereka menentukan apakah Tuhan itu ada atau tidak? Tidak akan pernah. Dapatkah mereka menentukan kehendak Tuhan? (Tidak). Mengapa? Karena mereka hidup di tengah-tengah kata-kata dan frasa, mereka hidup di tengah-tengah pengetahuan, mereka hidup di tengah-tengah filsafat, mereka hidup di tengah-tengah pikiran dan pemikiran manusia. Mereka tidak akan pernah bisa melihat Tuhan, mereka tidak akan pernah mendapatkan pencerahan Roh Kudus. Sebagai apa Tuhan mendefinisikan mereka? Sebagai orang-orang tidak percaya, sebagai orang-orang yang tidak beriman. Orang-orang yang tidak percaya dan tidak beriman ini berbaur dengan apa yang disebut sebagai komunitas Kristen, bertingkah seperti orang-orang yang percaya kepada Tuhan, bertingkah seperti orang-orang Kristen—tetapi apakah mereka sebenarnya sungguh-sungguh menyembah Tuhan? Apakah mereka sungguh-sungguh menaati-Nya? Tidak. Mengapa? Satu hal yang pasti: itu karena, di dalam hati mereka, mereka tidak percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia, bahwa Dia berkuasa atas segala sesuatu, bahwa Dia dapat menjadi daging, apalagi percaya bahwa Tuhan itu ada. Apa yang ditunjukkan oleh ketidakpercayaan ini? Keraguan, penyangkalan, dan bahkan sikap mengharapkan nubuat-nubuat yang diucapkan oleh Tuhan—terutama nubuat-nubuat mengenai bencana—tidak menjadi kenyataan dan tidak digenapi. Dengan sikap inilah mereka memperlakukan kepercayaan kepada Tuhan, dan inilah juga esensi dan wajah yang sesungguhnya dari apa yang mereka sebut iman. Orang-orang ini mempelajari tentang Tuhan karena mereka memiliki minat khusus pada ilmu dan pengetahuan teologi, dan tertarik pada fakta-fakta sejarah mengenai pekerjaan Tuhan. Mereka tidak lebih daripada sekelompok intelektual yang sedang mempelajari teologi. Para "intelektual" ini tidak percaya akan keberadaan Tuhan, jadi apa yang mereka lakukan ketika Tuhan datang untuk melakukan pekerjaan dan firman-Nya digenapi? Apa reaksi pertama mereka ketika mendengar bahwa Tuhan telah menjadi daging, dan sedang melakukan pekerjaan yang baru? "Mustahil!" Mereka mengutuk siapa pun yang memberitakan pekerjaan Tuhan yang baru, dan bahkan ingin membunuhnya. Perwujudan dari apakah ini? Bukankah ini perwujudan mereka sebagai antikristus yang sejati? Mereka memusuhi pekerjaan Tuhan dan penggenapan firman-Nya, terlebih lagi daging inkarnasi-Nya: "Jika Engkau tidak berinkarnasi dan firman-Mu tidak digenapi, Engkau adalah Tuhan. Jika firman-Mu telah digenapi dan Engkau berinkarnasi, Engkau bukanlah Tuhan." Apa makna yang tersembunyi dari hal ini? Maknanya adalah bahwa mereka tidak mengizinkan inkarnasi Tuhan selama mereka masih ada. Bukankah ini adalah antikristus yang sejati? Ini adalah antikristus yang sejati. Adakah pernyataan-pernyataan tegas seperti itu dalam masyarakat beragama? Pernyataan-pernyataan tegas seperti itu didengungkan dengan sangat keras, dan juga dengan sangat tegas: "Adalah keliru bahwa Tuhan telah berinkarnasi, itu mustahil! Inkarnasi dalam bentuk apa pun adalah tipuan!" Beberapa orang bertanya, "Apakah orang-orang ini telah disesatkan?" Tentu saja tidak. Mereka hanya tidak memiliki iman yang sejati kepada Tuhan. Mereka tidak percaya pada keberadaan Tuhan, mereka tidak percaya pada inkarnasi Tuhan, mereka tidak percaya pada pekerjaan Tuhan menciptakan dunia, apalagi percaya pada pekerjaan Tuhan yang disalibkan dan menebus seluruh umat manusia. Bagi mereka, teologi yang mereka pelajari adalah serangkaian peristiwa sejarah, itu adalah semacam doktrin atau teori.

Dikutip dari "Untuk Pemimpin dan Pekerja, Memilih Jalan adalah yang Paling Penting (7)" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"

Apa perwujudan utama dari kemunafikan orang-orang Farisi? Mereka hanya mempelajari Kitab Suci dengan teliti dan tidak mencari kebenaran. Ketika mereka membaca firman Tuhan, mereka tidak berdoa atau mencari; sebaliknya, mereka mempelajari firman Tuhan itu, mereka mempelajari apa yang Tuhan katakan dan lakukan, sehingga mereka mengubah firman-Nya menjadi semacam teori, menjadi doktrin yang mereka ajarkan kepada orang lain. Inilah arti dari mempelajari firman Tuhan dengan teliti. Jadi mengapa mereka melakukan hal itu? Apa yang mereka pelajari dengan teliti? Di mata mereka, ini bukanlah firman Tuhan, ini bukanlah pengungkapan Tuhan, apalagi kebenaran, melainkan sebuah bentuk ilmu. Ilmu seperti itu, di mata mereka, harus diteruskan, harus disebarkan, dan hanya inilah yang akan menyebarkan jalan Tuhan dan Injil. Inilah yang mereka sebut "berkhotbah", dan khotbah yang mereka sampaikan itu adalah teologi.

... Orang-orang Farisi menganggap teologi dan teori yang telah mereka kuasai sebagai semacam pengetahuan, sebagai alat untuk menghukum orang dan menilai apakah mereka benar atau salah. Mereka bahkan menerapkan hal itu pada Tuhan Yesus—begitulah cara Tuhan Yesus dihukum. Penilaian orang Farisi terhadap orang lain, dan cara mereka memperlakukan orang lain, tidak pernah didasarkan pada esensi mereka, atau pada apakah yang mereka katakan itu benar atau salah, apalagi didasarkan pada sumber atau asal usul perkataan itu. Mereka hanya menghukum dan menilai orang berdasarkan perkataan-perkataan dan doktrin-doktrin yang dengan kukuh telah mereka kuasai. Jadi, meskipun orang-orang Farisi ini mengetahui bahwa yang dilakukan Tuhan Yesus bukanlah dosa, dan tidak melanggar hukum, mereka tetap menghukum-Nya, karena apa yang dikatakan Tuhan Yesus tampaknya bertentangan dengan pengetahuan dan ilmu yang telah mereka kuasai dan teori teologi yang mereka uraikan. Orang-orang Farisi sama sekali tidak mau melonggarkan cengkeraman mereka terhadap perkataan-perkataan dan ungkapan-ungkapan ini, mereka berpegang teguh pada pengetahuan ini dan tidak mau melepaskannya. Pada akhirnya, apa satu-satunya akibat yang mungkin? Mereka tidak mau mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang akan datang, atau bahwa ada kebenaran dalam apa yang dikatakan Tuhan Yesus, apalagi mengakui bahwa yang dilakukan Tuhan Yesus adalah sesuai dengan kebenaran. Mereka menemukan beberapa tuduhan yang tidak berdasar untuk menghukum Tuhan Yesus—tetapi sebenarnya, di dalam hati mereka, tahukah mereka apakah dosa-dosa yang mereka tuduhkan kepada-Nya ini benar atau tidak? Mereka tahu. Jadi mengapa mereka tetap menghukum-Nya? (Mereka tidak mau memercayai bahwa Tuhan yang agung dan perkasa dalam pikiran mereka adalah Tuhan Yesus, gambar seorang Anak Manusia yang biasa-biasa saja ini.) Mereka tidak mau menerima kenyataan ini. Dan apa dasar dari penolakan mereka untuk menerima hal ini? Bukankah ada usaha untuk bernalar dengan Tuhan dalam hal ini? Yang mereka maksudkan adalah, "Mungkinkah Tuhan melakukan hal itu? Jika Tuhan berinkarnasi, Dia pasti dilahirkan dari garis keturunan yang terhormat. Terlebih lagi, Dia harus menerima bimbingan dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, mempelajari pengetahuan ini, dan banyak membaca Kitab Suci. Setelah memiliki pengetahuan ini barulah Dia dapat menggunakan label 'inkarnasi' ini." Mereka yakin bahwa, pertama, Engkau tidak memenuhi syarat, jadi Engkau bukan Tuhan; kedua, tanpa pengetahuan ini Engkau tidak bisa melakukan pekerjaan Tuhan, apalagi bisa menjadi Tuhan; ketiga, Engkau tidak bisa bekerja di luar bait suci—Engkau tidak berada dalam bait suci sekarang, Engkau selalu berada di antara orang-orang berdosa, jadi pekerjaan yang Engkau lakukan berada di luar lingkup pekerjaan Tuhan. Berasal dari mana dasar penghukuman mereka? Dari Kitab Suci, dari pikiran manusia, dan dari pendidikan teologi yang telah mereka terima. Karena mereka dibanjiri dengan gagasan, imajinasi, dan pengetahuan, mereka yakin bahwa pengetahuan ini benar, adalah kebenaran, adalah dasar, dan Tuhan tidak akan pernah bisa ikut campur terhadap hal-hal ini. Apakah mereka mencari kebenaran? Tidak. Yang mereka cari adalah gagasan dan imajinasi mereka sendiri, serta pengalaman mereka sendiri, dan mereka mencoba menggunakan hal-hal ini untuk membatasi Tuhan dan menentukan apakah Dia benar atau salah. Apa hasil akhir dari hal ini? Mereka mengutuk pekerjaan Tuhan dan memakukan Dia ke kayu salib.

Dikutip dari "Untuk Pemimpin dan Pekerja, Memilih Jalan adalah yang Paling Penting (7)" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"

Manusia telah dirusak dan hidup dalam perangkap Iblis. Semua manusia hidup dalam daging, hidup dalam keinginan yang egois, dan tak seorang pun dari antara mereka yang sesuai dengan-Ku. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka sesuai dengan-Ku, tetapi orang-orang semacam itu semuanya menyembah berhala yang samar-samar. Meskipun mereka mengakui bahwa nama-Ku kudus, mereka menapaki jalan yang bertentangan dengan-Ku, dan perkataan mereka penuh dengan kecongkakan dan keyakinan diri. Ini karena, pada dasarnya, mereka semua menentang-Ku dan tidak sesuai dengan-Ku. Setiap hari mereka mencari jejak-Ku di dalam Alkitab dan menemukan perikop-perikop yang "cocok" secara acak yang tak habis-habisnya mereka baca ucapkan sebagai Kitab Suci. Mereka tidak tahu bagaimana menjadi sesuai dengan-Ku ataupun apa arti melawan-Ku. Mereka sekadar membaca Kitab Suci secara membabi buta. Di dalam Alkitab, mereka membatasi Tuhan yang samar yang belum pernah mereka lihat, dan yang tidak dapat mereka lihat, dan mengeluarkan Alkitab untuk dilihat di waktu senggang mereka. Mereka percaya kepada keberadaan-Ku hanya dalam ruang lingkup Alkitab, dan mereka menyamakan-Ku dengan Alkitab; tanpa Alkitab, Aku tidak ada, dan tanpa Aku, Alkitab tidak ada. Mereka tidak mengindahkan keberadaan atau tindakan-Ku, melainkan mencurahkan perhatian yang berlebihan dan khusus pada setiap kata dalam Kitab Suci. Lebih banyak lagi bahkan meyakini bahwa Aku tidak boleh melakukan apa pun yang Kuinginkan kecuali jika hal itu telah dinubuatkan dalam Kitab Suci. Mereka menganggap Kitab Suci terlalu penting. Dapat dikatakan bahwa mereka melihat kata-kata dan ungkapan sebagai sesuatu yang sangat penting, sampai-sampai mereka memakai ayat-ayat dari Alkitab untuk menilai setiap kata yang Kuucapkan dan untuk mengecam-Ku. Yang mereka cari bukanlah cara agar sesuai dengan-Ku atau cara agar sesuai dengan kebenaran, tetapi cara agar sesuai dengan perkataan Alkitab, dan mereka meyakini bahwa segala sesuatu yang tidak sesuai dengan Alkitab, tanpa terkecuali, bukanlah pekerjaan-Ku. Bukankah orang-orang semacam ini adalah keturunan orang Farisi yang berbakti? Orang Farisi Yahudi menggunakan hukum Musa untuk mengecam Yesus. Mereka tidak berupaya untuk sesuai dengan Yesus pada waktu itu, tetapi dengan giat mematuhi hukum Taurat hingga ke huruf-hurufnya, sampai—setelah menuduh-Nya tidak mematuhi hukum Taurat dalam Perjanjian Lama dan menuduh-Nya bukan Mesias—mereka akhirnya memakukan Yesus yang tak berdosa itu ke kayu salib. Apa esensi mereka? Bukankah itu berarti mereka tidak mencari cara agar dapat sesuai dengan kebenaran? Mereka terobsesi dengan setiap kata dalam Kitab Suci tetapi tidak mengindahkan kehendak-Ku ataupun langkah serta cara-Ku bekerja. Mereka bukanlah orang yang mencari kebenaran, melainkan orang yang dengan kaku berpegang pada kata-kata; mereka bukanlah orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi orang yang percaya pada Alkitab. Intinya, mereka adalah anjing-anjing penjaga Alkitab. Untuk menjaga kepentingan Alkitab, menjunjung tinggi martabat Alkitab, dan melindungi reputasi Alkitab, mereka bahkan sampai memakukan Yesus yang penuh belas kasihan itu ke kayu salib. Hal ini mereka lakukan hanya demi membela Alkitab, dan demi mempertahankan status setiap kata dalam Alkitab di hati manusia. Jadi mereka memilih meninggalkan masa depan dan korban penghapus dosa mereka untuk menghukum Yesus, yang tidak sesuai dengan doktrin Kitab Suci, sampai mati. Bukankah mereka semua adalah kacung-kacung bagi setiap kata dalam Kitab Suci?

Lalu, bagaimana dengan orang-orang di zaman sekarang ini? Kristus telah datang untuk mengabarkan kebenaran, tetapi mereka lebih suka mengusir-Nya dari dunia ini sehingga mereka bisa mendapatkan jalan masuk ke dalam surga dan menerima kasih karunia. Mereka lebih suka sepenuhnya menolak datangnya kebenaran demi melindungi kepentingan Alkitab, dan mereka lebih suka memakukan lagi Kristus yang sudah datang kembali dalam daging ke kayu salib demi memastikan keberadaan Alkitab untuk selamanya. Bagaimana mungkin manusia dapat menerima keselamatan-Ku jika hatinya begitu jahat, dan naturnya begitu berlawanan dengan-Ku? Aku hidup di tengah manusia, tetapi manusia tidak mengetahui keberadaan-Ku. Saat Kupancarkan terang-Ku ke atas manusia, mereka tetap tidak mengetahui keberadaan-Ku. Saat Kulepaskan murka-Ku ke atas manusia, dia menyangkali keberadaan-Ku bahkan dengan semangat yang lebih besar. Manusia mencari kesesuaian dengan firman dan kesesuaian dengan Alkitab, tetapi tak seorang pun datang ke hadapan-Ku untuk mencari cara agar sesuai dengan kebenaran. Manusia menengadah kepada-Ku di surga dan mencurahkan perhatian khusus pada keberadaan-Ku di surga, tetapi tak seorang pun memedulikan diri-Ku dalam rupa manusia, karena diri-Ku yang hidup di antara manusia sama sekali terlalu tak berarti. Orang-orang yang hanya mencari kesesuaian dengan firman di Alkitab dan yang hanya mencari kesesuaian dengan Tuhan yang samar-samar menjadi pemandangan yang menyedihkan bagi-Ku. Itu karena apa yang mereka sembah adalah kata-kata yang mati, dan sesosok Tuhan yang mampu memberi mereka kekayaan yang tak terkira; yang mereka sembah adalah sesosok Tuhan yang menyerahkan diri-Nya pada belas kasihan manusia—sesosok Tuhan yang tidak ada. Lalu, apakah yang dapat diperoleh orang-orang semacam ini dari-Ku? Manusia terlalu rendah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Orang-orang yang menentang-Ku, yang membuat tuntutan tanpa batas kepada-Ku, yang tidak mencintai kebenaran, yang memberontak terhadap-Ku—bagaimana mungkin mereka bisa sesuai dengan-Ku?

... Orang-orang yang hanya peduli pada perkataan Alkitab dan yang tidak peduli dengan kebenaran ataupun mencari jejak langkah-Ku—mereka menentang-Ku, karena mereka membatasi-Ku menurut Alkitab, dan mengekang-Ku di dalam Alkitab, dan karena itu sangat menghujat-Ku. Bagaimana mungkin orang-orang semacam itu datang ke hadapan-Ku? Mereka tidak mengindahkan perbuatan-perbuatan-Ku, atau kehendak-Ku, atau kebenaran, melainkan terobsesi dengan kata-kata—kata-kata yang membunuh. Bagaimana mungkin orang-orang semacam itu dapat sesuai dengan-Ku?

Dikutip dari "Engkau Harus Mencari Cara agar Sesuai dengan Kristus" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Catatan kaki:

a. Dalam naskah aslinya tertulis "Pekerjaan mengenal Tuhan."

Sekarang bencana terjadi di mana-mana, dan Tuhan Yesus telah datang kembali! Inginkah saudara-saudari menyambut Tuhan dan dilindungi oleh Tuhan di tengah-tengah bencana? Bergabung dalam pertemuan online. Membawa saudara-saudari menemukan cara-cara untuk menyambut Tuhan Yesus. Selamat datang untuk menghubungi kami.

Konten Terkait